Monday, April 9, 2012

Sejak SMP Sudah Berbisnis, Kini Baru Umur 30 Tahun, Irfan Sukses Ekspor Biji Kopi Hingga Ke 40 Negara

Tak ada yang menyangkal, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Salah satu hasil bumi yang cukup terkenal dari Indonesia adalah biji kopi yang memiliki beragam varian, sesuai dengan daerah penghasil biji kopi tersebut. Kini, salah satu jenis kopi yang sedang populer dikalangan penikmat kopi adalah jenis kopi luwak, yang memiliki banyak sekali peminat, khususnya di luar negeri. Tak salah jika nilai jual kopi tersebut sangat tinggi dan menjadi salah satu potensi bisnis eksport yang sangat menjanjikan.

Peluang bisnis itulah yang dicium oleh seorang pengusaha muda asal Sumatra Utara, bernama Irfan Anwar. Disaat usianya baru menginjak angka 30 tahun, Irfan yang juga pemilik dan direktur utama PT. Coffindo telah sukses melakukan penetrasi pasar biji kopi, hingga ke 40 negara mulai dari Amerika, Eropa, hingga Negara-negara di Timur Tengah. Dengan mengandalkan perkebunan kopi Aceh, Sumatera Utara, Lampung hingga Sulawesi, PT. Coffindo kini mampu mempekerjakan 300 pekerja dan berencana meningkatkan pertumbuhan 20% kapasitas produksinya.

 

Atas pencapaian yang telah dicapainya, entrepreneur kelahiran 20 Juli 1980 ini, tercatat sebagai satu-satunya penerima penghargaan termuda dari 24 penerima penghargaan Ketahanan Pangan Indonesia 2010, dan didaulan untuk menerima penghargaan dalam Kategori Perusahaan Eksportir Hasil Perkebunan 2010 yang diserahkan oleh.

 

Irfan mengisahkan, keinginannya untuk terjun sebgai seorang entrepreneur bermula karena ia termotivasi dan rasa kagumnya melihat sukses seorang eksportir kopi teman almarhum ayahnya, Amir Syarifuddin. Dan didukung kebiasaannya yang  sudah akrab bermain saham sewaktu duduk di bangku SMP, ia memberanikan diri membuka perusahaan kopi pada tahun 1999. Pahit manisnya operasional bisnis dialami hingga 2001. Ia bahkan mengumpulkan biji kopi mulai dari Aceh, Sidikalang, Lintong Nihuta hingga Lampung. Pada fase itu, hampir tidak ada laba yang berhasil dicatatkan. Maklum, kapasitas produksinya masih terbatas di kisaran 1 ton- 4 ton per bulan. Namun bukan berarti semuanya hampa, dalam kurun waktu dua tahun itu, ia rupanya mengasah pemahaman berbisnis kopi.

 

Hasilnya, secercah harapan kebangkitan mulai nampak. Pada 2001-2006, kapasitas produksi yang disempurnakan dengan kualitas terbaik biji kopi hijau, biji kopi goreng dan bubuk kopi siap minum, meningkat menjadi rata-rata 220 ton per bulan, yang otomatis mendorong laju pertambahan laba.

 

Ia pun mulai merambah pasar internasional, antara lain sejumlah negara di Amerika, Eropa, Jepang, Timur Tengah dan negara lainnya. Hanya sekitar 5% dari hasil produksi yang dilempar ke pasar lokal. Sukses bermain di kancah internasional, membuat Irfan semakin tertantang.

 

PT Coffindo, lanjut Irfan, melihat dan memahami prilaku masyarakat dunia yang tidak lagi menjadikan kopi sebagai minuman pembuka di pagi hari atau teman di saat santai. Lebih dari itu, Kopi juga menjadi unsur penting dalam gaya hidup. PT Coffindo menjawab kebutuhan itu melalui produk kopi premium dengan brand original Luwak, 100% kopi arabika luwak liar dari Aceh yang tersedia dalam empat kemasan. Selain itu, Coffindo pun turut memproduksi kopi berkualitas tinggi dngan 9 macam varian yang tergabung dalam Indonesia Speciality Coffee yang tersedia untuk biji kopi hijau, kopi goreng maupun kopi bubuk siap minum.

 

"Perusahaan selalu berupaya menjaga mutu agar memberikan kepuasan bagi konsumen. Sebab, bisnis kopi dibangun aras dasar kepercayaan antara pembeli dan penjual," jelas Irfan, seperti dikutip dari Harian Ekonomi Neraca, (14/10/11).

 

Sejak Juli 2010, PT Coffindo melakukan ekspansi pasar secara nasional dengan membuka kantor perwakilan di Menara Kadin Lantai 24 Jakarta. Saat ini, sedang dalam proses tahap pembukaan kantor perwakilan di Surabaya dan menyusul kota besar lainnya di dalam dan di luar negeri. Rencana pengembangan ini, tambahnya, seiring dengan komitmennya menjadikan kopi Indonesia sebagai tuan rumah di negaranya dan di mata internasional, dimana Indonesia termasuk lima besar produsen kopi di dunia, yakni sebesar 2%, setelah Columbia 7%-8%, Vietnam 15% dan Brazil 65%.

 

"Saat ini kami sedang berupaya memperkuat pasar domestik dengan membuka kantor perwakilan di Jakarta dan Surabaya dan akan menyusul kota-kota lain. Saya harap produsen kopi nasional bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus berbicara di kancah global," tegas Irfan.(*/ Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/11952-irfan-anwar-tiupkan-aroma-kopi-indonesia-hingga-ke-mancanegara.html

No comments: