Monday, April 9, 2012

Pantang Menyerah Kunci Sukses Budianto di Bisnis Resor Restauran 'Kampoeng Aer'

Kerja keras dan disiplin merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri sebagai rahasia sukses seseorang dalam meraih impiannya, tak terkecuali bagi Ericson Budianto Hendriansjah.

Kedua hal tersebut telah menempatkan namanya di jajaran papan atas pengusaha kuliner di Tangerang. Perjalanan panjang bisnisnya kian mematangkannya dalam mengelola resto Kampoeng Aer di bilangan Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Sebelum menempati lahan barunya di Gading Serpong, Kampoeng Aer telah berdiri sejak 2004 di kawasan Alam Sutera, Serpong.

Dari luas lahan yang hanya 1.000 meter persegi, Eric––begitu ia biasa disapa–– mengembangkan restonya menjadi 5 hektare dengan beragam fasilitas di dalamnya. Konsep pun berubah. Bila Kampoeng Aer versi lawas mengangkat tema kesederhanaan sebuah kampung,kali ini Kampoeng Aer menjelma menjadi restoran ala resor seperti banyak dijumpai di Bali.

Jebolan NHI Bandung ini mengawali bisnisnya dengan membuka Pit’s Grill and Resto pada 2002 di Serpong,Tangerang Selatan.Menu utama yang disajikannya adalah steak dan spaghetti. Sayangnya, pasar lokal belum siap menerima kehadiran resto dengan konsep Western yang kental ini. Di samping itu, daya beli pasar pun masih sangat terbatas serta menu yang masih belum sesuai dengan lidah kebanyakan masyarakat Indonesia.

Setelah berjalan dua tahun,ia pun mimilih menutup usahanya tersebut. Eric pun mulai melakukan eksplorasi dan serangkaian eksperimen demi mendapatkan resep steak yang sesuai dan digemari pasar lokal. Keinginan yang kuat serta semangat pantang menyerah yang tertanam di dalam dadanya untuk terus maju memberikan inspirasi dalam dirinya untuk terus-menerus berusaha menemukan cara tepat dalam berbisnis.

Hari demi hari dilaluinya dengan terus berinovasi mencari bumbu yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia pada umumnya. Berbagai cara dia tempuh, salah satunya dengan belajar mencicipi resto steak yang satu ke resto steak yang lain. Studi di resto lain dilakukan dengan mulai dari pemilihan daging serta bumbu yang cocok dengan selera pasar di Indonesia. Hingga saatnya pada akhir Januari 2003, dengan penuh keyakinan ia pun mendirikan warung steak dengan konsep tenda pinggir jalan.

DJ’s Steak & BBQ ia bangun dengan modal Rp20 juta dan hanya empat karyawan. “Saya sewa lahan di depan sebuah toko bangunan. Setelah toko tutup, baru saya dirikan tenda jualan,” ujar pria berkacamata ini. Meski ide tersebut sempat tak dianggap oleh beberapa rekannya, hanya dalam waktu dua bulan Eric mampu mengembangkan usahanya dari hanya lima meja menjadi 16 meja. “Melihat perkembangan usaha yang signifikan, pada November saya pindah ke resto permanen,” imbuhnya.

Usahanya ini bahkan berkembang hingga memiliki 17 cabang di seluruh Indonesia. Di tengah perjalanan DJ’s Steak, Eric melirik menu-menu Bumi Priyangan dengan mendirikan Kampoeng Aer. Meski sempat dua tahun Kampoeng Aer mengalami kevakuman, falsafah dalam hidupnya yang tak kenal menyerah membuatnya bangkit dari keterpurukan.

Perlahan namun pasti Eric mulai mengumpulkan serpihan-serpihan kejayaan yang dulu pernah dirasakan. Dia mencoba lagi untuk terus berinovasi terhadap masakan yang telah dia buat sebelumnya, sehingga lebih dari 100 resep masakan baik Nusantara maupun oriental dan Western, lagi-lagi kegigihan dalam hidupnya membuahkan hasil yang cukup baik. Tepat 2004 lalu ia membuka DJ’s Kampoeng Aer di kawasan Alam Sutera, Serpong. “Konsepnya bersantap di tengah suasana pedesaan yang asri dan gemericik air pancuran,” tuturnya.

Perkembangan restonya yang demikian pesat memaksa pria ini melakukan pengembangan usaha dan mencari lahan baru yang lebih luas. ”Pada 2010, kami memutuskan pindah ke tempat yang baru di daerah Gading Serpong,” paparnya.

Meski belum 100% rampung, medio 2011 ia sudah melakukan soft opening Kampoeng Aer. Di atas lahan seluas 5 hektare, Ericson mengusung tema resor restoran dengan target pasar keluarga dan kalangan pebisnis.Dengan investasi Rp10 miliar, dia menyulap tanah kosong menjadi sebuah resto berkelas yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti gazebo yang berkapasitas 10 hingga 100 orang. Selain itu, terdapat lobi utama serta VIP room berkapasitas hingga 200 orang, kamar mandi, serta dilengkapi trek berkuda dan fasilitas outbond.

Nama Kampung Aer ini berasal dari konsep Eric sendiri, di mana di tiap saung resto terdapat kolam ikan yang membuat suasana menjadi segar. ”Dengan kolam tersebut membuat suasana menjadi sejuk dan serasa berada di tengah air itu yang mendasari dinamakan Kampung Aer,” tuturnya. (*/Koran Sindo)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/12025-kampung-aer-resto-berkonsep-resor.html

No comments: