Wednesday, April 4, 2012

Rudik, Sejak Umur 17 Tahun Tekuni Bisnis Tahu Organik, Kini Omzetnya Puluhan Juta

Tahu merupakan salah satu jenis makanan yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tahu menjadi salah satu bagian yang tak bisa dipisahkan dari kekayaan menu kuliner tradisional khas nusantara. Sebagai makanan yang merakyat, tentunya tahu memiliki pasar yang cukup besar di masyarakat. Meskipun sangat dikenal, namun belum cukup untuk mendongkrak kepopuleran tahu dikalangan masyarakat menengah ke atas. Tak seperti di negara-negara maju seperti Eropa, dan Jepang, di Indonesia tahu masih menjadi jenis makanan kelas bawah dan hanya populer dijual di pasar-pasar tradisional.

Kondisi itulah yang coba diubah oleh Rudik Setiawan melalui produk tahu organik buatannya dengan merek Pelangi. Dengan kemasan yang menarik dan pemilihan bahan baku organik , Rudik yakin tahu miliknya bisa dilirik dan diterima oleh pasar menengah ke atas. Dengan menargetkan lokasi penjualan di pasar-pasar tradisional, Rudik berharap konsumennya bisa membedakan sendiri tahu miliknya dengan tahu lainnya yang masih diproduksi secara tradisional.

“Sejah tahun 2007, bahan baku pembuatan tahu kami dari bahan baku kedelai organik yang kami kembangkan. Semua hasil olahan kami kini memakai sistem organik. Dengan cara tersebut, saya rasa konsumen kami akan lebih menghargai produk kami, meskipun harga jualnya jadi lebih mahal dibading tahu yang dibuat secara tradisional. Namun tak mengapa, toh memang sasaran produk kami memang konsumen menengah ke atas,” ujar Rudik seperti dikutip jawapos.com.

Rudik mengaku sudah lama bergelut dibisnis tahu, tepatnya saat ia berumur 17 tahun. Saat itu, tahun 2001, Rudik yang masih minim pengalaman memilih peran sebagai investor dan menanamkan moda sebesar Rp 25 juta untuk diolah sejumlah rekannya. Saat itu ia melihat potensi alam di sekitar tempat tinggalnya di Desa Klampok, Singosari, Kabupaten Malang, sangat potensial untuk mengembangkan bisnis tahu. Dia menguraikan, di sekitar tempat tinggalnya, banyak ditemukan sumber air dengan produksi air yang relatif besar.

Setelah tiga tahun menjalani bisnis bersama, Rudik memutuskan untuk keluar dan menekuni bisnis sendiri. Namun, dia tetap serius berbisnis tahu. Dia menyatakan tidak susah memperkenalkan tahu. Sebab, sebagai makanan populer, sudah banyak yang mengonsumsi tahu. Tetapi, usaha yang dijalani itu tidak semulus yang dibayangkan. Rudik membuat berbagai inovasi untuk membuat kinerja industri rumah tangganya berjalan efisien. Mulai jam kerja karyawan, penataan ruangan pabrik, sampai peralatan yang dipakai. Kini pria yang berstatus sebagai mahasiswa S-2 agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang ini mempekerjakan 13 karyawan di bagian produksi, lima orang sales, dan 22 orang untuk memasarkan khusus di pasar tradisional.

''Sebab, kalau dibiarkan bekerja siang sampai malam, mereka malah kecapekan dan tidak memiliki waktu berkumpul dengan keluarga. Nah, karena itu, saya mengembangkan sistem setengah hari kerja, tapi tahu yang dijual tetap fresh karena dua kali kirim, yakni pagi dan sore,'' ucap Rudik menjelaskan kinerja timnya.

Selain itu, dia menata peralatan, seperti alat untuk menggiling kedelai, tungku untuk proses penguapan, sampai rak untuk tahu yang sudah jadi, secara berurutan. Dia juga memperluas ruangan tempat pembuatan tahu tersebut. Dengan mengandalkan ilmu yang dipelajari semasa kuliah, Rudik memodifikasi peralatan menggiling sehingga dapat menekan biaya produksi.

''Biasanya, masa kerja alat penggiling itu pendek karena memakai batu yang lama kelamaan bisa tergerus dan habis saat proses giling. Apalagi harga belinya relatif mahal mencapai Rp 1,5 juta. Lalu, saya pun memodifikasi sehingga cukup Rp 300 ribu, alat penggiling bisa dipakai 5-6 bulan,'' jelas pria yang meraih gelar sarjana di Jurusan Matematika Universitas Brawijaya, Malang.

Menurut dia, pemakaian bahan organik tersebut merupakan inovasi baru dan belum banyak yang mengembangkan. Apalagi, istilah organik bisa menggaet konsumen dari kalangan menengah ke atas. Dia mengatakan akan terus memakai kedelai organik, meski harganya relatif lebih mahal daripada kedelai lokal maupun impor. Rudik menyebutkan, harga kedelai organik bisa mencapai Rp 6.400 per kilo. Sementara itu, harga kedelai lokal dan impor hanya Rp 5.000 per kilo.

Hampir sebagian besar bahan baku kedelai organik diambil dari Malang dan Pasuruan. Akan tetapi, untuk tahun ini dia mencoba menerapkan pola kemitraan dengan Lembaga Insan Indonesia Sejahtera (LIIIS) Madani. Lahan penanaman kedelai organik direncanakan berlokasi di Madura.

Rudik menyatakan, setiap hari bisa menghabiskan empat kuintal kedelai untuk menghasilkan 2.000-2.500 potong tahu. Akan tetapi, ketika permintaan melonjak seperti momen Lebaran, jumlahnya bisa mencapai 6 kuintal. Dia membagi produksi tahunya itu dalam tahu iris besar, iris kecil, dan stik tahu. Rudik menambahkan, harga tahu iris besar Rp 1.700-2.000 per potong untuk industri makanan yang biasanya diolah kembali dan iris kecil Rp 2.000-Rp 2.500 per potong untuk konsumsi rumah tangga.

Peminat tahu buatan Rudik pun terus bertambah. Saat ini, rata-rata tiap hari bisa mengantongi Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari. Sementara itu, dua tahun lalu per hari hanya bisa mendapatkan Rp 1,5 juta. Sementara itu, untuk pemasaran, dia mengatakan, sebagian besar tahunya dijual ke sepuluh pasar tradisional di sekitar Malang, hingga Jakarta. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/12580-rudik-setiawan-tawarkan-kerenyahan-bisnis-tahu-organik.html

No comments: