Friday, May 6, 2011

Pensiunan PNS Sukses di Bisnis Komunikasi

oleh : Yuyun Manopol
Cermat melihat peluang dan gigih menghadapi tantangan merupakan kunci suksesnya. Jadi, siapa bilang masa pensiun merupakan masa istirahat. Melalui Isopanel Dunia, Rochkita Effendi membuat prestasi.

Memulai berbisnis di usia tua ternyata bukan kendala untuk berhasil. Setidaknya itulah yang dilakukan Rochkita Effendi. Lelaki kelahiran Bandung 2 Juli 1941 ini membangun usaha sendiri ketika memasuki masa pensiun atau tepatnya tahun 1996. Saat itu ia berusia 55 tahun. Berkat kegigihannya, ia berhasil. Kini PT Isopanel Dunia (ID) tercatat sebagai pionir, sekaligus pembuat shelter panel telekomunikasi terbesar di Tanah Air. Total pelanggan perusahaan yang memiliki pabrik seluas 2,5 hektare di Sukabumi, Jawa Barat ini mencapai 250 perkantoran, pabrik, dan instalasi pribadi. Mereka antara lain, Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, Esia, Natrindo, Siemens, Nokia, Mobile8, Motorola, dan Huawei.



Pengalaman sebagai Kabag Teknik Perkebunan Aneka Usaha Perkebunan (BUMN di bawah Dirjen Perkebunan) rupanya memberi kontribusi amat besar dalam bisnisnya. Selama puluhan tahun berdinas di BUMN itu, ia banyak membangun berbagai macam pabrik, seperti pabrik gula dan kelapa sawit. Alhasil, ia tahu banyak seluk-beluk mendirikan pabrik.



Di sisi lain, memang sejak lama Rochkita ingin memiliki usaha sendiri. Namun, karena masih bekerja di BUMN, ia tak sempat mewujudkan mimpinya itu. Ketika pensiun pada 1995, ia teringat kembali dengan rencananya. Saat itu, salah seorang temannya dari Malaysia menceritakan tentang produk temuannya berupa shelter telekomunikasi (pelindung radio di setiap menara seluler) berbahan isolated panel (isopanel) dengan sistem completely knocked down. Penemuan ini menginspirasi Rochkita untuk membawa shelter telekomunikasi itu ke Tanah Air.



Untuk merealisasi rencananya, pada 1996 ia mendirikan ID di atas lahan seluas 3.000 m2 miliknya sendiri di kawasan Baros, Sukabumi. “Produk saya bukan untuk Jakarta saja, tapi seluruh Indonesia. Di Jakarta terlalu mahal, izin-izin pun sulit dan pajak sudah tertumpuk di Jakarta,” ujarnya mengenai alasan pendirian pabriknya di Sukabumi. “Saya ingin membangun daerah,” imbuhnya. Selain tanah, dari koceknya ia pun mengeluarkan modal sebesar Rp 1,2 miliar. Ia beruntung, sang teman tadi mengizinkan untuk membeli mesin secara mencicil dari perusahaannya, Cycleworld Corporation (CC).



Toh, memulai usaha ini tidak mudah. Saat itu ia harus mendatangkan 6 karyawan dari Malaysia. Sementara karyawannya sendiri (lokal) 8 orang. Karena belum bisa memproduksi sendiri, seperti seorang agen, awalnya ia membeli shelter telekomunikasi dari CC, lalu dipasarkan di Indonesia. Adapun pembeli perdananya adalah Satelindo sebanyak lima shelter. Menurutnya, Satelindo tertarik membeli shelter milik ID karena produknya memenuhi syarat tidak lembab alias tetap kering di dalam, suhunya bisa diatur, dan bisa dirakit di mana saja tanpa harus membawa bata, semen, batu dan pasir sekalipun ke atas tempat yang tinggi seperti bukit. Selain itu, bentuk dan ukuran shelter bisa disesuaikan dengan keinginan klien.



Kondisi pasar pada saat itu juga sangat kondusif. Perusahaan operator seluler di Tanah Air masih menggunakan cara tradisional untuk melindungi radio pemancar di menara BTS-nya seperti membuat gardu yang ditembok. Sementara itu, shelter yang ia jual jauh lebih praktis. Dengan sistem knock down, shelter tersedia dalam bentuk piece per piece (per potong), satu hari dijamin selesai dibangun. Kelebihan yang lain, produk bergaransi 15 tahun ini tidak butuh pemeliharaan, catnya pun tidak berubah karena memiliki bahan kimia yang antilumut dan antikorosi.



Sayangnya, tak lama setelah itu, krisis moneter datang. Hal ini membuat para operator seluler sementara waktu memutuskan menghentikan rencana pembuatan BTS. Akibatnya, order dari klien berhenti sama sekali. Namun, Rochkita percaya badai ini hendak berlalu. Situasi ini dimanfaatkan untuk melatih kemampuan karyawannya di pabrik, dan mencoba memproduksi shelter sendiri. Meski begitu, hak paten desain mesin tetap pada CC dan ID hanya mendapat lisensi. Itulah sebabnya, setelah 6 bulan beroperasi, 6 karyawan asingnya ia kembalikan ke Malaysia. Ternyata, ”Enggak sulit juga. Justru ada hikmahnya banyak kontrak terbengkalai, dan kami belajar,” ujar lulusan Jurusan Teknik Sipil Akademi Teknologi Nasional (sekarang bernama ITENAS) ini. Yang menggembirakannya, saat itu ID berhasil memproduksi tiga shelter per hari.



Pada 1999, keadaan mulai membaik. Order mulai datang lagi. ID mendapat pesanan untuk PT Mobisel dan PT NTS di Surabaya. Seiring dengan membaiknya situasi ekonomi dan maraknya dunia pertelekomunikasian di Indonesia, Rochkita berhasil mendekati semua operator seluler di Indonesia seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, Excelcom (XL), STI, serta vendor besar seperti Nokia Siemens Network, Alcatel, Huawei Tech Investment, Ericsson dan ZTE.



Bersamaan dengan itu atau dua tahun belakangan muncul pemain baru seperti PT Refconindo, PT Dawamiba, PT Bukaka, PT Basuki Graha, PT Saka Panel, PT Jalur Sejuk, PT Elite dan PT Intermas yang bermain di areal yang sama. Toh, pihaknya tak gentar menghadapi persaingan. Alasannya, harga shelter buatan ID relatif bersaing. “Kalau pendatang baru banting harga biasa, rebut pasar dulu, itu sudah saya antisipasi. Silakan saja. Kami punya hitungan sendiri, untung banyak enggak perlu, sedikit saja tapi kuantitasnya banyak,” ungkapnya. Di pasar shelter telko, market share ID sekitar 40%. Yang jelas, hingga sekarang ID sudah memasok tidak kurang dari 7 ribu shelter komunikasi. Tahun lalu, ID memasok 2.500 shelter untuk panel telko. Bandingkan dengan saat ini ID memproduksi 30 shelter/hari atau 10 kali lipat dibanding tahun pertama kali memproduksi shelter. Walaupun saat ini penjualan fokus di Tanah Air, tahun 2004 ID sempat mengekspor 200 shelter ke Nigeria.



Yang menarik, belakangan perusahaan yang satu-satunya mengantongi ISO 9001:2000 untuk Quality Management System di kategorinya ini melakukan banyak terobosan. Di luar shelter ID juga membuat sejumlah produk yang menggunakan bahan isopanel seperti gudang/lemari pendingin (cold storage) berpendingin hingga minus 40 derajat Celcius. Juga, pembersih ruangan buat perusahaan elektronik, base camp buat perusahaan minyak, dan chicken farm. Yang jelas, cold storage ini dipasok untuk sejumlah hypermarket, seperti Carrefour, Makro, Hypermart, Giant dan Hero. “Malah kami ekspor kontainer cold storage ke Malaysia,” ujarnya. Adapun kapasitas produksi ID untuk produk-produk ini mencapai 900 unit/bulan (full capacity).



Tak ingin cepat berpuas diri, pada 2007 ID meluncurkan varian baru yaitu modular housing berupa rumah knock down berkonsep nonmaterial kayu. “Kami berhasil membangun rumah dua lantai dengan menggunakan bahan baku 100% nonkayu untuk semua elemen rumah,” kata Rochkita yang menganggarkan biaya sekitar Rp 700 juta/tahun untuk keperluan riset dan pengembangan (R&D), yang pihaknya masih bekerja sama dengan CC. Alasan memproduksi modular housing ini, karena ke depan kayu diprediksi akan semakin sulit didapat. Kalau pun ada, harganya pasti melambung. Dari situlah ia berpikir untuk mengembangkan rumah tanpa kayu dengan menggunakan bahan isopanel. Diakuinya, harga produk ini lebih mahal dibanding produk kayu. Bayangkan. Harga per meternya sekitar Rp 1,4 juta atau Rp 40 jutaan untuk rumah seluas 6 x 6 meter. Yang membanggakannya, kini produk bergaransi 20 tahun ini mulai digunakan untuk rumah dan perkantoran. Toh, diakui Rochkita, tak mudah memasarkan modular housing ini. Itulah sebabnya, ia rajin ikut pameran properti, alias jemput bola.



Tantangan yang dihadapi ID adalah makin maraknya penggunaan BTS outdoor beberapa tahun ini. Tito Wicaksono, Spesialis Pengawasan Proyek Telkomsel Jabotabek dan Jawa Barat, misalnya, mengatakan mulai tahun 2007 pihaknya lebih banyak menggunakan perangkat BTS outdoor. ”Yang indoor hanya sekitar 30%,” ujarnya. Diakuinya, tidak semuanya bisa menggunakan BTS outdoor. Ada BTS khusus yang masih memerlukan shelter, misalnya BTS untuk BSC, Backbone atau Collector. Adapun kelebihan ID di mata Tito adalah jika Telkomsel menginginkan desain baru yang berbeda, pihak ID mau berkorban uji coba mendesainkan, kendati pihak Telkomsel belum tentu membeli. ”Ini nilai plus dari ID,” katanya. Baik Tito maupun Robert Supriadi, Head of Strategic Sourcing Ericsson Indonesia, menilai kualitas produk ID memang bagus.



Di sisi lain, Rochkita tak cepat pesimistis. Kendati kini para operator seluler mencoba menggunakan BTS outdoor tanpa memerlukan pelindung untuk perangkat radio, ia yakin akhirnya mereka akan kembali menggunakan shelter. Alasannya, lama-kelamaan banyak perangkat yang rusak karena terkena matahari dan hujan. Selain itu, baginya penurunan permintaan tidak terlalu signifikan, karena di gunung dan hutan tidak bisa menggunakan BTS outdoor, jadi tetap menggunakan shelter. Sementara itu Rinie Risdianie, Direktur Penjualan dan Pemasaran ID, mengantisipasi penurunan permintaan dengan memfokuskan produksi panel sandwich untuk shelter telepon, cold storage & insulated metal roofing dan light truss (struktur baja ringan).



Meskipun banyak menghadapi tantangan baru, ID tetap mempertahankan sejumlah prinsip yang ketat. Antara lain, Rochkita tidak pernah sekalipun meminjam uang dari bank. “Profit itu kan ada dividen, karena punya sendiri, tidak dibagikan, tapi dipakai buat beli mesin, untuk meningkatkan kemampuan produksi,” ungkapnya. Yang luar biasa, ketika krismon pun, ia tidak bergantung sama sekali pada bank.



Berikutnya, perhatiannya kepada karyawan. Setiap tahun ia memberangkatkan haji satu keluarga karyawan (suami-istri) ke Tanah Suci, memberi THR dua kali (menjelang Ramadan satu kali gaji dan menjelang Lebaran dua kali gaji), karyawan lepas pun mendapatkan THR (jumlahnya dihitung 28 hari kerja). Selain itu, ayah yang dikaruniai 8 anak ini juga sangat memperhatikan kesehatan karyawan dengan memberikan jaminan pengobatan.



Ke depan, perusahaan yang beraset Rp 120 miliar dan memiliki 300 karyawan ini akan fokus pada pendirian BTS di luar Pulau Jawa. Di samping itu, ID pun akan terus mengembangkan sayap di pasar properti, mengembangkan produk modular housing tanpa kayu. “Kami akan bekerja sama dengan partner di Singapura untuk masuk ke pasar Dubai, di sana kan uangnya banyak tapi sulit bahan bangunan,” ujarnya sambil menerangkan ketertarikannya bekerja sama dengan pihak di Australia untuk Pulau Fiji. Dan dalam waktu dekat, ID hendak menggunakan mesin yang lebih otomatis.



Hal yang paling disyukuri suami Supini ini adalah di usianya yang lanjut sekarang, dua anaknya (Rahadian dan Farida) sudah masuk ke ID untuk membantunya. Rahadian menjadi direktur operasional, dan Farida menempati kursi direktur keuangan. Toh, pria berusia 68 tahun ini tidak menutup kemungkinan mengambil profesional untuk menjalankan perusahaan jika anak-anaknya tidak mampu. Pengusaha yang merupakan satu dari 14 tokoh pengusaha, profesional, pendidik Indonesia yang mendapat penghargaan Bakti Utama dari Yayasan Anugerah Profesional Indonesia ini, mencanangkan hendak mundur dari ID pada usia 70 tahun. (sumber swa online)

No comments: