Friday, May 6, 2011

Modal Awal Rp500 Ribu, Kini Beromzet Rp100 Jt / Bulan

KERJA semata-mata untuk beribadah membuat rezeki berlimpah. Begitu prinsip hidup Syaifuddin Abdullah, 33, pengusaha batik tulis Madura asal Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Awalnya, pria yang akrab disapa dengan panggilan Iput ini mengawali bisnis batik yang diwariskan orang tuanya, almarhum H Abdullah. Saat itu, sekitar 1999 hanya diberi modal minim, Rp500 ribu. Praktis, dengan modal seret, usaha yang dirintis semenjak ditinggal orang tuanya menjadi kembang kempis.

Modal awal itu dinilai kurang untuk melebarkan sayap usaha yang telanjur diwariskan kedua orang tuanya. Akibat kondisi keuangan yang serba-apa adanya itu, Iput memutar otak dan menempuh berbagai cara. Salah satu yang dilakukannya adalah bekerja sambilan menjadi salah satu subkontraktor dalam bidang perbaikan jalan. Perlahan tapi pasti, hasil yang diperoleh dari bekerja sebagai kontraktor menjadi suntikan tersendiri. Dana yang diperoleh dari kerja sampingan itu banyak dialihkan untuk modal mengembangkan bisnis batik tulis khas Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

“Kini, kerja kontraktor mulai saya tinggalkan perlahan-lahan. Lebih banyak konsentrasi di bisnis batik,” ujar pria yang juga pemilik merek Cendana Batik tersebut.

Alumnus Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan ini bercerita, untuk menggapai kesuksesan dalam bisnis butuh totalitas. Apalagi yang digeluti adalah batik tulis khas Madura yang di dalamnya butuh kesabaran, ketelatenan, dan keuletan luar biasa. Di sisi lain, melaksanakan bisnis ini juga mengemban tanggung jawab mulia, khususnya melestarikan budaya batik lokal Madura. Totalitas yang dikedepankan olehnya kini berbuah hasil yang bisa dikatakan luar biasa. Di usia yang tergolong masih muda, dia sudah mampumengembangkan batik khas Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, hingga terkenal ke antero Nusantara.

Praktis, dengan semakin terkenalnya batik tulis yang diproduksi, dia mengalami banjir order. Saat ditemui harian Seputar Indonesia( SI) di rumah industri Desa Klampar, beberapa waktu lalu, suami Siti Hoti’ah ini mengaku baru mengirim 500 lembar batik ke Jakarta. “Semenjak bermitra dengan BRI, usaha kami cukup dikenal luas. Itu juga tidak lepas dari berbagai promosi yang difasilitasi BRI seperti ikut pameran dan event batik yang lain,” ungkap Iput.

Selain menyediakan ruang promosi yang luas, menurutnya, BRI juga memberikan kredit lunak untuk tambahan modal usaha batik sebesar Rp100 juta. Adanya pasokan berupa pinjaman modal dari BRI, disertai dengan kualitas batik yang bagus, membuat Iput semakin leluasa melebarkan sayap. Kini, dia tergolong sebagai pengusaha muda yang sukses dengan omzet mencapai Rp100 juta lebih dalam satu bulan.

Penghasilan yang besar tersebut diprediksi bakal terus bertambah seiring dengan banyaknya permintaan pasar batik tulis khas Madura. “Sekarang saja sudah kewalahan terima order. Itu belum terhitung ketika ikut pameran,barang (batik tulis) yang saya bawa laku seperti kacang goreng. Biasanya bawa ribuan potong batik, baliknya sekitar 10 persen saja,” imbuh Iput yang juga penggemar nasi bebek. Penghasilan sebanyak Rp100 juta tersebut bukan sekadar isapan jempol. Soalnya, harga jual batik cenderung stabil, sedangkan permintaan semakin meningkat. Itu terjadi setelah dunia mengakui batik sebagai hak paten bangsa Indonesia.

Untuk satu potong batik tulis, harga jual bergerak mulai dari Rp100  ribu sampai dengan Rp350. ribu, tergantung dari motif dan bahan baku yang disukai konsumen. Sejauh ini batik yang tergolong mahal adalah batik motif sekar jagat dengan dominasi warna merah hati.Untuk per lembarnya bisa menembus angka Rp2 juta lebih. Adapun untuk motif batik tulis Madura yang diproduksi oleh Iput, secara umum ada dua jenis, yakni klasik dan kontemporer. Untuk jenis klasik,selain ada nama motif sekar jagat, juga terdapat char cina, daun padi, cabi letek (cabai rawit), serta model bunga. Yang kedua berupa model kontemporer, yakni perpaduan antara motif klasik dengan motif terkini. Salah satunya Iput menunjuk baju batik dominasi warna hitam yang sedang dipakai dengan motif keramik pecah.

“Untuk motif yang kami buat cukup banyak. Soal harga, selain tergantung bahan (kain) juga ditunjang oleh motif yang ada.Yang pasti untuk harga cukup bersaing dengan kualitas yang tinggi,” tegasnya. Pria satu anak ini mengaku bangga dengan usahanya saat ini. Paling tidak, dia telah membuka lapangan kerja baru bagi warga Dusun Banyumas, Desa Klampar,Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Dengan awal yang hanya punya dua karyawan, kini dia sudah memilik ratusan karyawan yang siap berkreasi memasok batik tulis. Untuk karyawan tetap yang ada di home industry yang terletak tepat di belakang rumah, Iput sudah menggaji mereka lebih dari upah yang ditentukan pemerintah setempat.

Bagi karyawan rumahan sendiri,untuk bayaran dihitung dari banyaknya potongan batik tulis yang dihasilkan. “Kerja sambil beribadah, ya seperti ini yang saya maksud. Paling tidak bisa membantu tetangga kanan kiri yang tidak punya kerjaan. Kini mereka mulai mau membatik dan hasilnya disetor ke rumah,” ungkapnya.

Meski sudah sukses dan di ambang puncak karier usaha, Iput masih juga memiliki beberapa kendala,khususnya dalam rangka mengembangkan usaha batik tulis madura lebih maju. Kendala utama yang mereka hadapi berupa lokasi yang jauh. Iput sejauh ini masih memilih buka usaha di rumahnya yang terletak di arah utara kawasan Kota Pamekasan. Untuk bisa sampai ke rumah batik tulis miliknya dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan melintasi wilayah perbukitan yang di kanan kiri masih terhampar sawah cukup luas.

“Ada pikiran untuk buka di kawasan kota. Tapi sejauh ini masih pikir-pikir dulu karena harga beli stan di sana cukup mahal. Saya sempat ditawari stan harga Rp300 juta, tapi masih tahap negosiasi,” katanya.

Kendala lain berupa perubahan musim. Untuk kondisi musim hujan seperti saat ini, dia mengaku belum bisa maksimal untuk menghasilkan batik. Apalagi untuk bisa menghasilkan satu batik tulis, dibutuhkan waktu hingga sekitar satu minggu.Akibatnya, kalau musim hujan sering kewalahan melayani order yang semakin meningkat. Guna menyiasati kendala, khususnya musim kemarau, dia berencana mengembangkan batik cap, sama dengan stempel.

Tujuannya, selain cepat juga untuk menandingi batik printing yang sejauh ini mulai merusak pasaran serta mengancam budaya lokal bangsa berupa batik tulis. Bagi Iput, menjadi pengusaha batik tulis tidak hanya mengejar kepuasan harta saja.Dia,juga memikul tanggung jawab besar dalam melestarikan budaya batik tulis khas Pulau Madura.

“Sejauh ini, untuk motif dari batik tulis belum ada hak paten. Pandangan saya ke depan, paling tidak motif batik tulis segera dihakpatenkan sebelum diklaim negara lain,” ujarnya. (subairi)
(Koran SI/Koran SI/rhs) (sumber okezone.com)

No comments: