Monday, March 5, 2012

Ucok Durian dari Medan, Perjuangannya Membuahkan Hasil Omzet Puluhan Juta Perhari

Di kalangan pelancong muncul ungkapan, Anda belum ke Medan jika belum mampir ke Ucok Durian. Ucok Durian tak lain adalah nama kedai durian di Jalan Iskandar Muda, Medan. Nama Ucok Durian begitu tenar sehingga menjadi semacam syarat wajib mampir bagi pelancong di kota berjuluk Parijs van Sumatera ini.

Kedai Ucok Durian hanya berupa halaman toko beratap langit. Meja dan kursi tertata seadanya. Tetapi tempat ini tak pernah sepi pengunjung, apalagi saat malam Sabtu atau malam Minggu. Kadang pengunjung harus antre karena meja dan kursi penuh sesak pembeli.

Sebagian besar pembeli datang dari luar kota di sekitar Medan. Namun, tak sedikit pembeli yang datang dari Jakarta. Mereka berasal dari kelompok sosial beragam, mulai dari guru, politikus, pejabat, sampai artis.

Dalam sehari di akhir pekan, jumlah pengunjung bisa 500 sampai 600 orang. Pada hari biasa, hanya dua pertiga dari jumlah pengunjung di akhir pekan itu. Rata-rata seorang pembeli menghabiskan uang Rp 50.000 sampai Rp 100.000.

Dari hasil penjualan buah berduri itu, Ucok punya dua mobil bak terbuka, sebuah mobil Grand Vitara, dan rumah toko (ruko) senilai Rp 750 juta. Ruko ini sekaligus sebagai cabang Ucok Durian lantaran kedai di jalan Iskandar Muda tak lagi mampu menampung pelanggan. Tak kurang dari 15 karyawan membantunya.

”Ini hasil kerja keras dan doa kami,” kata Ucok (43), saat ditemui, pertengahan Desember lalu.

Putus sekolah

Ucok yang lahir dengan nama Zainal Abidin merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya, Agus Mali (82), bekerja serabutan, tetapi lebih sering sebagai kuli bangunan. Penghasilan Agus yang tak menentu memaksa Ucok kecil harus menghentikan sekolahnya ketika dia hendak masuk SMP.

Sebagai anak lelaki tertua, dia terdorong untuk mandiri. Hari-harinya diisi dengan bekerja sebagai tukang angkut di Pasar Pringgan yang hanya berjarak 500 meter dari rumahnya. Kadang dia menjadi juru parkir. Ucok mendapatkan upah Rp 2.000 per hari. Di pasar inilah dia kerap dipanggil ”Ucok” yang tenar sampai sekarang.

Merasa bosan dengan pekerjaan itu, Ucok menawarkan tenaganya kepada para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda. Pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an, puluhan petani menjual durian di Jalan Iskandar Muda setiap musim durian tiba. Mereka duduk berderet sampai 500 meter di kanan kiri jalan dengan hanya beralas tanah.

Ucok pun bekerja mengangkut durian dengan upah Rp 10.000 per hari. Juragannya kerap membawanya keliling kampung-kampung di pelosok Sumatera Utara mencari durian untuk dijual lagi. Dari sini, Ucok mulai hafal bulan musim durian di sejumlah daerah.

Merasa punya jaringan dan pengalaman, tahun 1995 Ucok mulai menjual sendiri durian yang dia ambil dari tengkulak dengan sistem konsinyasi. Awalnya dia menjual 200 buah dan ludes. Lalu meningkat hingga 1.000-an buah.

Tahun 1999, setelah menikahi Asni Koto, dia lebih semangat lagi bekerja. Dia merasa perlu membeli mobil bak terbuka untuk usahanya. Seorang rekannya meminjamkan modal untuk kredit mobil bak terbuka. Bersama seorang rekan lainnya yang dia kenal lama di dunia durian, Ucok berburu sendiri durian ke kampung-kampung di Sidikalang, salah satu sentra durian. ”Saat itu, saya untung Rp 100.000. Sudah besar kala itu,” ujarnya.

Ucok lazim membeli durian sedikit lebih mahal dari pembeli lain. Durian yang Rp 5.000, dia beli Rp 5.500 per buah. Dia pun mulai dikenal di kalangan petani durian di seantero Sumatera Utara. Biasanya, para petani menghubungi Ucok saat pohon duriannya baru berbunga. Berarti, lima bulan lagi Ucok harus datang membeli.

Selain berhubungan langsung dengan petani, Ucok menjalin hubungan baik dengan para tengkulak di sejumlah daerah, mulai dari Sidikalang, Karo, Pematang Siantar, Langkat, Padang Sidimpuan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Simalungun, sampai Pekan Baru (Riau). Mereka ikut membantu Ucok memetakan waktu dan tempat durian siap panen.

Bulan Maret sampai Mei bukanlah musim durian. Saat itulah Ucok mengandalkan tengkulak dan petani. ”Dari pengalaman, setiap hari ada durian matang, tinggal cari tempatnya. Itulah gunanya kawan di kampung-kampung,” ujarnya.

Dengan pola ini, kedai Ucok tak pernah kosong durian. Kedai-kedai lain mungkin tutup lantaran sedang tidak musim durian. Kedai Ucok Durian ibarat musim durian sepanjang tahun.

Mempertahankan pelanggan

Untuk menjaring dan mempertahankan pelanggan, Ucok menerapkan tips menarik: bila rasa buah tidak enak atau tak sesuai selera, pembeli dipersilakan menukarnya. Tips ini banyak ditiru oleh penjual durian di Medan.

Lantas, bagaimana nasib buah durian yang sudah telanjur dibuka? Ucok menjalin kerja sama dengan pengusaha kue, es, dan makanan kecil berbahan durian. Durian-durian tadi didistribusikan ke sana. Tidak ada yang terbuang percuma.

Pria berdarah campuran Padang dan Batak Mandailing ini pun memahami kesulitan pembeli saat hendak membawa durian ke Jakarta atau kota lainnya menggunakan pesawat terbang. Biasanya mereka membawanya dalam kondisi bulat-bulat dengan dibungkus kardus. Ucok menyiasatinya dengan membuka isi durian dan menaruhnya di dalam kotak plastik.

Untuk mengelabui aroma durian, dia membubuhinya dengan daun pandan atau kopi dan membungkus rapat. Cara ini kini juga banyak ditiru penjual durian lantaran lebih praktis. Pokoknya, di tangan Ucok buah durian sepertinya tidak mengenal musim. Selalu tersedia sepanjang tahun. (Mohammad Hilmi Faiq)

sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/03/03/07494451/Ucok.dan.durian.tanpa.musim

No comments: