Wednesday, March 14, 2012

TK. Hong, Raih Kesuksesan Dari Berbisnis Kerajinan yang Aneh-aneh

Keanehan kadang mendatangkan uang. Simak pengalaman unik pengrajin asal Bali, TK Hong yang sungguh memiliki aliran berbisnis aneh ini, karena menjual produk-produk kerajinan yang sangat aneh. Keanehan pertama, ia mendirikan perusahaan dengan nama  United Arts of Aneh-aneh. Tentu anda akan membayangkan apa saja yang aneh-aneh di perusahaannya? Keanehan kedua, produk yang dijual memang sungguh sangat aneh karena bukan berupa kerajinan ukiran yang lazim seperti lainnya, tetapi malah menjual kerajinan yang apa adanya.  Berkat keanehannya ini, Hong dikenal sebagai seniman aneh yang sangat khusus, dan memiliki penggemar sendiri.

“Saya beda dengan seniman lainnya, karena karya saya sebagian besar dijual dalam bentuk yang apa adanya, dari proses alamiah, seperti akar-akar yang melengkung berbentuk seperti binatang ayam, ular, atau angsa,” ujarnya.

Alamiah Tapi Mahal

Bentuk akar pohon yang aneh, seperti yang kita lihat di hutan-hutan, atau pohon besar yang hidup di tepian tebing kadang memiliki bentuk akar yang aneh. Bentuknya menjulai memanjang dan bahkan menyerupai binatang tertentu. Ada yang menyerupai bentuk ular, ayam, bahkan juga ada yang memiliki serabut yang mirip bulu ayam atau sisik buaya atau ikan. “Kalau saya melihat ada bentuk akar seperti itu, niasanya saya tinggal membuat bentuk kepala saja, dan mengukir detailnya,” ujarnya. Keanehan ketiga, bentuk hewan yang terbuat dari akar-akaran yang diproduksi Hong bukan berasal dari sambungan atau tempelan, tetapi merupakan kerajinan yang berasal dari bentuk aslinya.

“Bentuk ayam, seperti yang ada dalam gambar itu merupakan bentuk asli dari akar, tanpa sambungan,”cetusnya. Keanehan keempat, kerajinan-kerajinan ini karena berasal dari bahan-bahan sisa atau akar-akar kayu dari hutan yang tidak banyak yang mencarinya, karena itu Hong tidak harus mengeluarkan anggaran besar untuk membeli bahan akar yang digunakan. Kalau ada orang yang menilai kayu atau akar bekas itu tidak ada nilainya, bagi Hong sebaliknya. Tetapi diakui Hong, untuk mencari kayu dan akar-akaran tersebut ia harus berburu ke Hutan Papua. Bahan-bahan akar yang diperoleh dari berbagai daerah tersebut kemudian dikumpulkan digudang yang dipersiapkan secara khusus. Ia tidak buru-buru membuatnya menjadi bentuk-bentuk yang diinginkannya, tetapi disimpan cukup lama, hingga 3 tahun lamanya. Mengapa harus menyimpan cukup lama, karena menurutnya, waktu 3 tahun tersebut akan membuat tekstur dan bentuk akar menemukan wajah aslinya.

“Selama 3 tahun itulah saya memperhatikan karakter akar untuk dijadikan kerajinan. Deatilnya saya perhatikan, kira-kira akar-akar ini menyerupai akar,” ujar pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini. Suatu hari ia mendapatkan sebuah potongan kayu dan akar  yang memanjang. Ia memikirkan kayu tersebut akan dibuat apa. Setelah direnungkan, cabang-cabangnya menyerupai kaki-kaki binatang Komodo, demikian juga dengan bentuk badan dan kepalanya. Tak ayal, pohon dan akar yang ditemukan  di kedalaman 1 meter dari permukaan tanah dari sebuah daerah di Luar Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi kerajinan Komodo yang mahal.

Tips Berbisnis

Jadilah Aneh, Pasti Banyak yang Membeli. Perjalanan T.K Hong sebagai seniman dan pebisnis berawal saat menjadi mahasiswa di Jerman. Saat itu ia sering diminta menjaga stand Indonesia jika ada pameran di Jerman. Karena sering menjaga stand serta memperhatikan barang seni, Hong mulai mencintai dunia seni  dan ukiran.   Setelah di tahun 2002 kembali ke Indonesia, dan menetap di Bali, Hong membuka rumahnya menjadi tempat usaha ukiran.

Soal modal jangan ditanya. Ketika itu, modalnya hanya dua koper kayu dan akar-akar pohon. Dari kayu dan akar-akaran yang dibentuk sedemikian rupa inilah akhirnya menjadi bisnis yang besar. Disebur bisnis besar karena dalam waktu singkat usahanya mampu menghasilkan kekayaan yang sangat berarti bagi Hong. “Modal kayu dan akar ukiran saya saat ini sudah mencapai 300 kubik di lahan dua hektar di Kawasan Sawung Kangin 28, Denpasar, Bali,” ujarnya. Keunikan lainnya, dalam menekuni dunia kerajinan ini Hong benar-benar belajar membuat kerajinan dan bisnisnya secara otodidak. Menurutnya, dunia seni memang tidak ada sekolahnya, semuanya bermodal ketekunan, imajinasi dan keuletan.

Bisnis Karena Hobby

Target Uang Menjadi Tidak Berarti Sebagai seniman yang hanya didasari oleh hobi, Hong tidak pernah menargetkan dengan target yang membebaninya. Target yang dimaksud adalah pencapaian-pencapaian finansial yang harus dikejar. “Bagi saya, bisnis ukiran seperti ini adalah kesenangan. Kalau ada yang mau membeli karyanya ya silahkan saja. Kalau tidak ada yang membeli ya tidak apa-apa. Saya tidak pernah menghitungi keuntungan. La wong itukan barang buangan, bisa di dapati di mana saja. Saya tidak beli, hanya membayar tenaga pencari saja”,cetusnya.

Namun karena keanehannya itulah banyak orang yang memiliki banyak uang untuk memilikinya.  Kerajinan dalam bentuk  ayam atau komodo yang terbuat dari akar pohon diberi harga Rp1,2 juta, dan Rp1,8juta. Bahkan ada kerajinan yang sepertinya sangat sederhana, dieri label Rp38 juga ada pembelinya. Ia yang aneh ini merasa aneh dengan perilaku pembelinya yang kadang aneh-aneh. Meski tidak mau berbicara tentang keuntungan, Hong mengakui dari hasil isengnya ini ia dapat mengantongi uang ratusan juta perbulannya. Ia bahkan telah memiliki 60 karyawan tetap, serta pekerja-pekerja lepas sebanyak 40 orang yang siap membantu usahanya.

sumber: http://www.majalahwk.com/artikel-artikel/teropong-usaha/297-edisi-majalah.html

No comments: