Sunday, March 11, 2012

Perjuangan Myrna Memulai Bisnis Tas Berbuah Omzet Puluhan Juta

Suatu kali, sekitar tahun 2001, Myrna mendapat informasi bahwa ada perusahaan multinasional berniat melelang proyek pengadaan bingkisan  tahun baru bagi para direktur. Yang diminta adalah buku agenda eksklusif dengan sampul berbahan kulit. Nilai proyek itu lumayan besar, Rp25 juta. Tentu saja Myrna tertantang, meski ia tak punya pengalaman apa pun mengenai produksi agenda. “Tapi, saya punya adik yang jago desain. Dia saya minta membuat desainnya,” katanya.

Tugas Myrna selanjutnya adalah mencari tukang yang bisa membuat contoh barangnya. “Setelah tanya sana-sini, saya akhirnya bertemu dengan pengusaha yang biasa membuat agenda. Saya berikan desain itu kepadanya. Ternyata, pengerjaannya sangat halus, rapi, dan sesuai dengan harapan,” kisah Myrna. Dengan yakin, Myrna maju ikut lelang. Dan, ia berhasil.

Sayang seribu sayang, Myrna yang saat itu masih awam tentang bisnis, harus menerima kenyataan pahit. Pihak yang ia kontrak untuk membuat agenda itu bermain curang. Mereka ternyata hanya bagus membuat sampel, tapi mereka asal-asalan ketika membuat barang yang beneran. Tidak hanya itu, pesanan juga tidak langsung dibuat, karena mereka banyak menerima pesanan dari berbagai pihak.

Hati Myrna pun mencelos. “Agar bisa selesai tepat waktu, saya terpaksa nongkrongin para tukang jahit agenda itu di bengkel kerja mereka yang mirip kandang. Melihat cara kerja mereka, saya punya perasaan pasti hasilnya tidak akan memuaskan,” katanya. Kekhawatiran itu terbukti. Karena jahitan yang tidak rapi (meski bahannya bagus karena bahan dipasok sendiri oleh Myrna), maka produknya ditolak mentah-mentah oleh pemesan. “Di depan saya, agenda-agenda itu dilempar begitu saja. Meskipun sedih, saya maklum akan kekecewaan mereka,” ceritanya lagi.

Bukan Myrna, bila menyerah begitu saja. Ia meminta maaf dan mohon sedikit perpanjangan waktu untuk membuat kembali agenda pesanan. Kali ini harus dengan kualitas baik. “Melihat niat saya, mereka memberi saya kesempatan lagi,” ungkap Myrna, yang mengeluarkan dana dan tenaga habis-habisan untuk menutup kerugian atas gagalnya produksi pertama.

“Saya datangi lagi para penjahit yang kemarin membuat agenda itu, dan bertanya, apakah ada penjahit bagus yang bisa membantu saya.” Usaha Myrna tak sia-sia. Ia akhirnya mendapatkan penjahit itu. “Gara-gara nongkrong di bengkel kerja itu tiap malam, saya jadi tahu banget langkah-langkah menjahit sebuah agenda.” Di balik kegagalan itu, satu lagi ilmu yang berhasil Myrna kuasai.

Batik, Buku,... Kambing

Sekali bertemu Myrna, sulit untuk tidak mengingat sosoknya. Karakternya yang rame dan terbuka membuatnya mudah akrab dengan siapa saja. Mungkin, karakter ini yang ikut membentuk jiwa kewirausahaan wanita kelahiran 6 April 1970 ini. Karena, ia tidak pernah malu dan selalu punya cara untuk meyakinkan orang agar mau melirik produk yang ia tawarkan.

“Sejak muda saya senang berdagang. Saya tidak malu menawarkan dagangan kepada teman-teman,” kata Myrna, yang siang itu tampak segar dengan blus hijaunya. Padahal, saat remaja dulu itu, sesungguhnya ia tak perlu berletih-letih mencari uang sendiri karena orang tuanya tak pernah terlambat memberinya uang saku.

Semasa kuliah di Jurusan Ekonomi Manajemen, Universitas Parahyangan, Bandung, Myrna berjualan baju-baju dan kerajinan berbahan batik. Konsumennya, ya, teman-temannya sendiri. Padahal, awal tahun ‘90-an kala itu, batik belum sepopuler sekarang. Toh, Myrna berhasil mengumpulkan sejumlah tabungan dari berjualan batik. Produk ia ambil dari pemasok yang datang dari Jawa Tengah.

Tak puas hanya berjualan batik, suatu hari ia mendapat tawaran beberapa teman untuk berjualan kambing. “Ya, saya jualan kambing!” katanya, meyakinkan. Myrna masih ingat benar peristiwa yang membuatnya harus mengejar-ngejar kambing di lapangan. Kala itu menjelang Idul Adha. Seorang teman membisikkan rahasia bahwa sebuah masjid membutuhkan sekitar 20 kambing kurban. Tak lupa teman tersebut meyakinkan bahwa pengurus masjid pasti akan membeli kambing darinya.

Jiwa bisnis Myrna bergejolak. Ia sudah membayangkan akan mendapatkan untung besar. Ia pun menguras tabungan untuk menanam modal. Apa daya, ketika kambing sudah dibeli, pihak masjid membatalkan pesanan. “Mau nggak mau, agar modal tidak hangus, kami harus mencari konsumen baru,” kenangnya.

Di sinilah jiwa bisnis Myrna tertantang. Bila batik ia jual kepada teman-teman yang sudah ia kenal baik, kini ia harus putar otak untuk mencari konsumen yang bisa membeli kambingnya. “Saya buang rasa malu, saya datangi dari rumah ke rumah, menawarkan apakah mereka perlu kambing kurban atau tidak,” tuturnya. Bila ada yang membeli, Myrna pun harus menangkap sendiri ternak kambing yang dipilih konsumen. Capek, sudah pasti. Tetapi, hasilnya memuaskan, karena hampir seluruh dari puluhan kambing itu terjual.

Lulus kuliah, Myrna ingin bekerja kantoran. Ia pun mengirimkan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. “Tak satu pun lamaran saya yang nyantol. Mungkin, karena IPK saya juga tidak terlalu tinggi, ya,” katanya, tertawa. Sampai akhirnya, Myrna dipanggil sebagai calon tenaga sales di sebuah penerbitan buku ensiklopedia. Ternyata, ia tidak bisa mengelak dari jalan hidupnya: berjualan.

Menjual buku –apalagi berharga jutaan rupiah-- bukan hal mudah. Namun, ibu dua anak ini bersyukur bahwa ia dibekali oleh perusahaannya bagaimana menaklukkan konsumen. Ia perlu meyakinkan penjaga rumah agar ia diperkenankan menemui si pemilik rumah. “Sulit sekali meyakinkan para ibu rumah tangga untuk mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli koleksi buku,” katanya.

Mengetuk pintu satu ke pintu lain, ia jalani. “Kadang-kadang saya berpikir, kenapa, sih, saya mau melakukan hal ini? Tapi, kemudian saya merasa, apa yang saya lakukan saat itu tidak akan sia-sia. Saya mengibaratkan masa-masa sulit berjualan buku itu bagaikan seorang anak yang masih duduk di bangku SD yang berjuang menempuh pendidikan dasar,” katanya.

Mengembangkan Online

Setelah itu, pintu bisnis Myrna terbuka. Ia mulai rajin menawarkan diri dari perusahaan satu ke perusahaan lain. Pesanan pun kian banyak, dan ia makin berani menerima pesanan dalam jumlah besar dan bernilai ratusan juta rupiah. “Tapi, ada sesuatu yang saya rasa masih mengganjal. Saya belum punya merek sendiri,” katanya.

Karena itu, untuk mematangkan langkah, Myrna pensiun sementara waktu. Ia gunakan waktu hampir setahun lamanya untuk belajar. Ia rajin membaca sumber informasi, termasuk company profile berbagai perusahaan besar. “Tapi, tiap kali melihat tumpukan agenda yang gagal itu, hati saya sedih. Saya berpikir, ini bisa dibuat apa?” tuturnya. Suatu kali ia membaca berita bahwa angka penggunaan ponsel di Indonesia sangat tinggi. Saat itulah ia terpikir untuk membuat sarung ponsel. “Bukan sarung biasa, tapi sarung yang didesain modis,” katanya.

Agenda-agenda itu dibongkar, dan kulitnya dipotong untuk dijadikan sarung ponsel. Di sinilah Myrna mengakui, bahwa ia mendapat berkah dan kemudahan untuk menekuni bisnisnya. Myrna yang tidak tahu apa-apa tentang desain, tiba-tiba saja   bisa membayangkan dengan jelas seperti apa bentuk sarung ponsel yang harus dibuatnya. “Ide itu bisa datang kapan saja. Dan, begitu ide itu datang, saya segera menggambarnya. Gambarnya, sih, jelek, tapi tukang saya berhasil menerjemahkan persis seperti apa yang saya bayangkan,” katanya, bangga.

Nama Taqilla ia dapatkan dari Alquran, yang artinya bertakwa kepada Allah. Dengan nama itu Myrna merasa  makin mantap. Ia kemudian menyewa sebuah push cart (kedai dorong) seharga Rp9 juta per bulan di sebuah mal besar di Jakarta. Karena unik, dan waktu itu belum banyak di pasaran, produk Taqilla banyak dicari orang. Setiap bulan, rata-rata ia mendapatkan omzet hingga Rp18 juta. “Sayang, push cart gampang digusur. Kami sering dipindah-pindah, sehingga omzet kami sangat fluktuatif. Begitu dipindah, langsung pendapatan kami drop,” kata Myrna, yang mematok harga produknya antara Rp50.000 sampai Rp120.000.

Berjualan sarung ponsel sudah cukup menguntungkan. Tapi, toh, Myrna tergugah ketika melihat makin banyaknya pengguna laptop. “Yang saya lihat, produk tas laptop di pasaran masih kurang bervariasi desainnya,” katanya. Maka, ia banting setir dengan membuat tas laptop berdesain modis.

Selain mencari desainer yang bagus, Myrna menyewa toko di mal. Ia menata sendiri interiornya. Sambutan konsumen cukup bagus. Kebanyakan orang datang untuk memesan dalam jumlah cukup banyak untuk gift. Namun, Myrna mengakui, berjualan tas di mal tidaklah mudah. Karenanya, untuk toko itu ia menargetkan hanya untuk branding. Setiap bulan, ia berhasil memproduksi antara 300-700 tas, yang dijual antara Rp250.000 hingga Rp490.000. Agar ‘dapur’ usaha tetap berjalan, Myrna memasok tas-tas tanpa merek ke berbagai perusahaan.

Ketika bisnis online makin marak, Myrna juga membawa Taqilla ke dunia digital. “Saya kembali belajar. Ikut kursus sana-sini, agar tahu cara membuat toko online,” katanya. Bila Anda masuk ke www.taqilla.net, Anda akan diajak untuk menyelami karakter Taqilla yang smart dan fun. “Terus terang, saya masih ingin menyempurnakan toko online itu. Karena, saya ingin Taqilla bisa dipakai oleh orang di seluruh dunia,” harap Myrna, yang juga meraih Unesco Award of Excellence for Handicraft 2010 untuk lingkup Indonesia.

YOSEPTIN PRATIWI
FOTO: PRISCILIIA

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=47

No comments: