Friday, March 23, 2012

Soegianto Pendiri Sedapur.com, Keluar Dari Zona Nyaman Sebagai Karyawan Demi Mengejar Impian Menjadi Social Entrepreneur

Berbekal keinginan untuk memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang di sekitarnya, Soegianto meninggalkan zona nyamannya sebagai seorang karyawan menuju ranah baru yang lebih sesuai panggilan hatinya: entrepreneurship sosial.

Saat Anda pertama kali menemui Soegianto, yang akrab disapa Soegia, tampak seseorang yang berperangai tenang, tipikal seseorang dengan kepribadian  pendiam. Namun jangan salah sangka, saat Anda terus berinteraksi dengannya, Anda akan tahu bahwa anak muda pendiam ini bisa berubah begitu antusias dan banyak bicara bahkan hingga menggebu-gebu saat diajak berbicara mengenai dunia entrepreneurship sosial dan bisnis barunya, Sedapur.com.

Sedapur merupakan bisnis baru yang digagas Soetrisno (kakak) dan Soegianto yang baru saja berdiri tahun lalu. Bisnis ini bergerak dalam bidang e-commerce dalam bidang makanan. Menurutnya, e-commerce dalam dunia kuliner memiliki kekhasan sendiri karena Indonesia menyimpan potensi kekayaan kuliner yang begitu tinggi.

Ditemui CiputraEntrepreneurship.com dalam sebuah wawancara kemarin siang (26/10/2011) di kawasan Casablanca, pendiri Sedapur.com ini tampak asyik dengan ponsel pintar dan tablet PC-nya. Tak heran karena selain memiliki passion dalam dunia kuliner, ia juga mengakrabi teknopreneurship. Berikut adalah cuplikan wawancara yang berlangsung hangat  kemarin.

Sedang sibuk dengan kegiatan apa sekarang?
Baru-baru ini kami mengikuti dan menang di Nokia Entrepreneur Fellowship. Kami sebagai pemenang akan mendapatkan peluang untuk berkunjung ke Inggris, untuk mengikuti semacam bootcamp yang diadakan bersamaan dengan “Entrepreneurs Day” di sana. Ini kesempatan bagus karena sejumlah peserta dari Silicon Valley juga akan hadir.

Entrepreneurship sosial (social entrepreneurship) adalah bidang yang Soegia geluti. Menurut Soegia apa itu entrepreneurship sosial?
Pertumbuhan bisnis yang juga membawa ekosistemnya bertumbuh. Jadi tidak hanya tumbuh sendiri menjulang tetapi ekosistemnya juga tumbuh bersamaan. Dan yang paling saya sukai dalam entrepreneurship sosial adalah bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) sudah menyatu dan menjadi urat nadi perusahaan, bukan hanya sebuah bagian kecil dari upaya pemenuhan kewajiban pemerintah dalam bidang sosial. Pertumbuhan bisnis dengan begitu tidak hanya diukur dari jumlah uang yang masuk saja tetapi juga seberapa besar perusahaan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

Apa yang membuat mas tertarik menekuni entrepreneurship sosial?
Awalnya saya membaca koran dan saya baca bahwa ada ratusan anak kurang gizi di Jakarta Utara. Saya yang tumbuh dan tinggal di Jakarta merasa hal ini merupakan sebuah tamparan. Bagaimana saya yang tinggal di Jakarta selama bertahun-tahun sejak lahir tidak mengetahui kenyataan menyedihkan yang terjadi di sekitar saya? Saya terpikir untuk memberi makanan pada mereka. Saya terinspirasi oleh ajaran dalam agama saya, bahwa untuk memberikan kontribusi yang nyata dalam masyarakat hanya perlu dilakukan dengan memberdayakan apa yang kita miliki semaksimal mungkin. Meskipun secara logika kita tidak mungkin membantu menyelesaikan masalah orang lain, dengan bantuan Tuhan semua bisa terjadi jika dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Bisa Soegia jelaskan apa yang harus dilakukan seorang ibu rumah tangga untuk bergabung dengan Sedapur.com?

Mereka bisa mendaftar di situs sedapur.com atau menghubungi kami via telepon. Kami juga bertindak sebagai konsultan yang berusaha memahami masalah-masalah yang mereka hadapi. Kebanyakan mereka merasa kesulitan dengan pengantaran, produk yang tidak terfoto dengan baik, dan sebagainya. Jika mereka memberikan foto produk yang seadanya, kami akan bantu dengan melakukan foto ulang dengan hasil yang lebih profesional sehingga akan lebih menarik konsumen.

Berapa orang yang ada dalam tim Sedapur.com sekarang ini?
Kami satu admin, 2 marketing consultant, 2 pengembang situs. Setiap industri rumah tangga akan memiliki toko/ gerai di Sedapur.com tetapi sebelum itu akan dibantu agar produknya lebih layak jual di Sedapur. Pendiri Sedapur adalah Soetrisno, saya, Hadiyanto, Jacky Lokan, Adam Jaya Putra dan Didik Wicakasono.

Tentang perpindahan dari fase karyawan menuju entrepreneur, bagaimana Soegia dulu menjalani transisi tersebut?
Sebelum saya menjalankan Sedapur, saya bekerja selama 6 tahun di perusahaan lain. Beberapa tahun lalu saat saya berusia 29 tahun, saya  merasa terpanggil untuk mewujudkan impian yang bisa membantu saya di luar dunia pekerjaan sebagai karyawan, saya tidak mau menyesal suatu hari nanti karena tidak sempat mengejar impian itu. Saya saat itu tertarik untuk mengerjakan sebuah proyek sosial, membuat SOP pipa air untuk sebuah daerah di Gunung Kidul. Di sana, di luar tembok kantor saya berusaha memahami apa yang ingin saya kejar dalam hidup.

Yang menarik adalah saya dulu menabung untuk biaya pendidikan S2 saya. Dan kemudian karena saya ingin menekuni usaha ini, saya curahkan semua tabungan itu ke Sedapur. Jadi bisa dikatakan dua tahun saya selama ini di Sedapur setara dengan dua tahun menempuh pendidikan di bangku kuliah formal. Bedanya, saya tidak memiliki gelar akademis layaknya lulusan S2 tetapi saya memiliki sebuah usaha dan saya berhak disebut entrepreneur.

Selain dalam bisnis kuliner, ada bidang lain yang ditekuni?
Selama ini saya suka dengan dunia teknologi bahkan sejak sekolah dasar. Sayang saya tidak bisa mengikuti pendidikan di bidang itu saat kuliah.
Tetapi  pada suatu hari kakak saya memberikan sebuah modal usaha. Saya pikir saya akan diberi modal uang, ternyata saya diberi sebuah blog. Kata kakak saya, “Kamu punya visi, tulis di blog agar tidak hilang, dan bisa tersampaikan dan tersebar ke orang lain.” Saya yang saat itu belum tahu apa itu blog dan Wordpress, akhirnya terpaksa belajar mengenai dunia blogging. Hal ini pada gilirannya mendorong saya untuk menjadi seorang teknopreneur.

Pesan untuk mereka yang ingin memulai usaha sendiri?
Yang selama ini saya telah pelajari, saya tahu bahwa ide itu murah. Yang mahal adalah eksekusinya. Teruslah bermimpi. Dan beranikan diri untuk menjadi pengeksekusi, bukan pemimpi.
Buktinya ide Sedapur ini saya pikir adalah ide yang localized, hanya ada di sini. Tetapi setelah saya  baca, di luar negeri juga ada usaha semacam ini. Hanya bedanya mereka lebih menjurus ke hasil pertanian, sementara Sedapur lebih fokus  ke masakan jadi.
Jadi meskipun kami dan mereka berada di tempat yang berbeda dan memiliki budaya yang berbeda, ide itu bisa sama persis. Yang membedakan hanyalah bagaimana realisasinya. Tidak ada ide yang 100% baru, yang ada hanyalah seberapa maksimal kita mampu mengeksekusinya.

Punyakah Soegia figur entrepreneur yang menginspirasi?
Sosok yang paling dekat yang paling menginspirasi saya adalah ayah dan kakak saya, Soetrisno. Ayah saya adalah wirausahawan yang tangguh, mengalami jatuh bangun beberapa kali dalam krisis-krisis, toh masih terus bangkit. “Kerja bagus saja tidak cukup!” begitu ayah saya selalu katakan. Meski bangga dengan apa yang saya kerjakan sekarang (menjadi entrepreneur), ayah saya awalnya kurang setuju dengan Sedapur karena terlalu idealis dan memikirkan orang lain. Kakak saya sendiri ialah orang yang mencetuskan dan mengajak saya untuk menggarap ide Sedapur ini. Figur entrepreneur inspiratif lainnya ialah Ir. Ciputra.

Apa yang membuat Anda menikmati dunia entrepreneurship?
Dahulu semasa menjadi karyawan, saya tidak pernah atau jarang sekali bertemu dan berbincang-bincang dengan banyak pebisnis hebat. Mereka kemungkinan kecil bisa saya temui karena kesibukan yang begitu menyita waktu. Tetapi justru setelah saya menjadi entrepreneur seperti sekarang, saya menyadari saya justru bisa berkomunikasi dengan mereka lebih leluasa. Saya seperti diantarkan menuju sebuah cakrawala baru dalam hidup. (*/Akhlis)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=4

No comments: