Saturday, March 10, 2012

Irene Holle, Menyulap Sampah Menjadi Omzet Puluhan Juta Perbulan

Tak pernah terpikir oleh Irene akan menjadi pemilik dan pendiri PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo), perusahaan yang menyediakan solusi menciptakan lingkungan hidup yang bersih. Recyclindo menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis zero waste management. “Kalaupun mimpi punya bisnis, saya ingin berbisnis kuliner atau restoran, karena bidang saya F&B,” ujar wanita kelahiran 29 April 1974 ini.

Lantas, apa yang membuatnya tertarik pada masalah sampah hingga mau nyemplung dan menjadikannya sebagai ladang bisnis? Sejak lama ia prihatin melihat perilaku masyarakat yang cenderung cuek pada sampah. Kepeduliannya ini kemudian diwujudkan dengan membeli sampah dari staf housekeeping hotel, berupa kertas, botol, dan kaleng aluminium, untuk kemudian dijual lagi.

Irene lalu mulai belajar cara mengolah sampah dengan mengambil kursus 3 hari intensif mengenai zero waste management di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). “Dari kursus itu, wawasan saya makin terbuka tentang apa yang bisa saya lakukan pada sampah.”

Saat mengambil kursus itu, ada pengalaman yang membekas, antara lain kunjungan ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi, dan rumah jagal DKI di Cakung. Di Bantar Gebang, Irene tertegun melihat berbukit-bukit sampah. “Saya sempat ‘mabuk’, mungkin karena tidak terbiasa mencium bau sampah. Apalagi, saya alergi terhadap debu,” kenangnya.

Lain lagi pengalaman yang ia peroleh saat mendatangi rumah jagal DKI, tempat pemotongan hewan. Di dekat situ ada tempat pengomposan dari bahan sisa daging. “Ya, ampun, baunya tajam dan menyengat! Setelah kunjungan itu, saya langsung jatuh sakit. Tapi, dalam 3 hari itu banyak sekali pelajaran berharga yang saya peroleh,” tutur Irene.
Usahanya berjalan setahap demi setahap. Dari awalnya berburu sampah kering, naik truk dengan membawa tas kresek ke mana-mana, sampai akhirnya ia punya langganan pemasok. Ia mendapat kontrak untuk mengangkut sampah non-organik. Sisanya masih
dibuang ke tempat pembuangan milik Pemda.

Ia tak segan merogoh kocek Rp100 jutaan sebagai modal awal, antara lain untuk membeli truk second-hand dan menyewa lahan sebagai gudang. “Mengolah sampah organik itu tidak mudah. Untuk itu, kami perlu lahan lebih luas. Kalau salah, nanti bisa-bisa dikomplain tetangga,” ujar Irene, yang mengambil lokasi di kawasan Cinangka, Sawangan, Depok.

Irene mulai mencari lahan baru di daerah Parung, Bogor. Ia ingin lebih memaksimalkan pengolahan sampah. Sejak akhir 2009, di tempat barunya itu ia mulai mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. “Learning by doing. Kami hire konsultan untuk memastikan proses yang kami lakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembapannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk.”

Semua Sampah Bernilai

Untuk jasa pengangkutan sampah, Irene memperkirakan omzetnya sekitar Rp15 juta per bulan. Belum lagi, pemasukan dari penjualan sampah daur ulang yang beratnya beratus-ratus kg, menghasilkan lebih dari Rp15 juta. Untuk pengolahan sampah organik, kisaran omzet per bulan bisa sekitar Rp5 juta. Banyaknya sampah berupa sisa makanan dari hotel dan resto membuat Irene terpikir untuk membuat peternakan ikan lele di Parung. Sisa makanan itu bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Omzet dari kolam lele kira-kira Rp10 juta. “Total pemasukan dalam sebulan paling sedikit Rp45 juta.”

Irene menerangkan, belakangan ia dipercaya perusahaan besar untuk menangani sampah mereka. Perusahaan itu tidak ingin sampahnya terbuang begitu saja. “Mulai banyak perusahaan yang sudah menerapkan konsep ramah lingkungan kemudian memilih kami. Mereka tidak mau sampahnya tidak diapa-apain. Hal itu rupanya sudah menjadi bagian dari komitmen CSR mereka,” tutur Irene.

Untuk sampah daur ulang, seperti kantong plastik, kertas, kardus, dan botol kaca, banyak sekali pabrik yang memerlukannya. Antara lain, pabrik di Tangerang, Parung, Cikarang. “Yang jelas, semua sampah bisa diolah lagi atau dijadikan bentuk lain. Alumunium dan kaleng bisa langsung dilebur, digunting, atau diolah menjadi handycraft. Botol gelas bisa dipakai lagi. Yang sudah tidak bisa terpakai, diolah oleh pabrik keramik. Kardus dan kertas diolah lagi oleh pabrik kertas. Botol soft drink yang terbuat dari bahan jenis polyethylene terephthalate, bisa diolah menjadi bahan kain yang stretch,” terang Irene.

Sampah yang datang dikumpulkan di Parung, lalu diseleksi. Irene mengelompokkan sampah ke dalam beberapa kategori. Sampah plastik saja masih dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya ada plastik yang berupa kemasan botol sampo, kemasan botol air mineral, kemasan soft drink, dan plastik hitam. Selain itu, dipisahkan mana yang bisa didaur ulang untuk dijual lagi. Sampah organik bisa dibuat pupuk kompos dan pupuk cair. Sampah dari sisa makanan untuk pakan ikan dan hewan ternak. Residunya, yang tidak bisa diapa-apakan, baru dibakar di oven pembakaran. “Yang tersisa Benar-benar tinggal debu,” kata Irene, senang.

Masih Banyak Peluang Lain

Di sisi lain, ada yang berpikir, sampah bernilai tinggi sehingga tidak perlu membayar jasa pelayananan. “Kan tetap ada biaya operasional. Untuk pengangkutannya saja perlu biaya. Mengangkut dan mengolah sampah adalah dua hal berbeda,” ujar lulusan D4 MTU (Manajemen Transportasi Udara) Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, ini.

Dulu Irene yang mencari-cari pabrik untuk dipasok sampah daur ulang, sekarang klien yang mencarinya. Kendati belum ada rencana untuk membesarkan bisnisnya, Irene masih terus memikirkan cara memberdayakan sampah, agar bisa digunakan kembali. Belum lama, Irene melakukan uji coba dengan menanam cabai dan papaya jenis california. Ia sedang mengeksplorasi bisnis nursery untuk memanfaatkan pupuk organiknya.

Sebenarnya, Irene melihat, masih banyak peluang lain yang bisa dijajaki dari limbah sampah. Misalnya, diolah menjadi kerajinan tangan, aksesori, barang fashion, dan manik-manik kaca. Ia akan menyambut positif, jika ada pihak yang ingin bekerja sama dalam pengolahan limbah untuk kerajinan.

“Kini saya sedang ingin mempelajari cara membuat pelet ikan dari sisa makanan. Saya dengar di Sumatra Barat ada orang yang mendapat penghargaan, karena sukses mengolah sampah pasar menjadi bahan makanan ikan. Saya sedang mencari infonya,” tutur Irene, bersemangat.

Irene punya kebiasaan unik setiap kali traveling ke luar negeri. Bukannya memotret tempat-tempat indah, ia mengamati tempat sampah dan pengolahan sampah di tiap kota yang disambanginya. Ia mengaku takjub dengan masalah manajemen persampahan di luar negeri. Kata Irene, tempat sampah di mana-mana sudah dipisah sesuai jenis. Di Australia, tempat sampah ditandai dengan warna kuning, biru, dan merah. Perusahaan yang menangani pengangkutan dan pengolahan sampah biasanya berdasarkan tender. Di sana, pemerintah punya plan pengolahan sampah dan menerapkan zero waste management.

Di Singapura, ada pusat daur ulang sampah kertas. “Sampah adalah proyek sangat mahal. Tapi, kalau kita tahu cara mengolahnya, bisa menjadi sumber pendapatan,” kata Irene, menirukan ucapan warga Singapura pengusaha distributor tempat sampah.
Irene bercerita Singapura juga punya tempat pembuangan sampah dengan teknologi maju. Sampah sudah dipisah-pisah, residunya langsung masuk ke tempat pembakaran sampah. Di Dubai, setiap beberapa unit rumah dan vila disediakan kontainer sampah tertutup. Truk sampah datang setiap hari pada saat gelap.

Irene merasa miris, jika bicara soal sampah di negeri ini. “Kesadaran masyarakat untuk tertib buang sampah pada tempatnya masih rendah. Dari pihak pemerintah, belum ada keseriusan dalam menangani sampah. Ada daerah yang warganya terpaksa patungan menyewa truk sampah, karena sampah mereka tak kunjung diangkut. Di pusat pembuangan sampah, limbah hanya dibiarkan tanpa diolah,” kata Irene, menyayangkan.

Agar tercipta lingkungan yang bersih, ia berharap pemerintah bersedia menyubsidi tempat-tempat sampah, di setiap beberapa titik disediakan tempat sampah besar atau kontainer. “Kalau melihat tumpukan sampah, saya geregetan ingin mengangkut. Tapi, kalau saya angkut hari ini, biasanya besok akan ada lagi. Hari ini ada satu, besoknya ada lagi yang melempar,” tutur Irene, yang akan menyambut baik para pemain baru di bisnis ini.

(Ficky Yusrini
Foto: Jennifer Antoinette)

sumber: http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=006&AR=53

No comments: