Saturday, March 10, 2012

Chairul Tanjung: Bos CT Corp Yang Membangun Bisnisnya dari Nol

Alhamdulillah. Saya mencari uang dengan tidak merusak, tetapi dengan membangun...."

Begitulah gaya Chairul Tanjung. Putra wartawan, pemilik usaha Grup Para yang kini bermetamorfosa menjadi CT Corporation, itu bertutur kepada saya di kantornya yang megah, Menara Bank Mega, di suatu sore hingga menjelang maghrib tiba. Bank Mega adalah salah satu imperium bisnisnya yang tumbuh pesat, selain Trans TV dan Trans 7 serta sejumlah bisnis yang lain.

 

Sehari setelah itu, CT, begitu ia biasa disapa, menggelar konferensi pers dengan nuansa merah putih, mengumumkan pengambilalihan Carrefour, salah satu raksasa ritel asal Prancis. Ia mengambilalih 40% saham, yang berarti menjadi single majority di perusahaan itu. Pengambilalihan Carrefour dengan proses negosiasi yang hanya tiga bulan--dan dilakukan setelah ia mendirikan Trans Studio, pusat hiburan keluarga di Makassar--menambah perbendaharaan bisnisnya, yang mengukuhkan CT Corp sebagai pemain yang disegani di Indonesia.

 

Ia pun bercita-cita melebarkan sayap ke Singapura dan Malaysia. Karena itu, pengambilalihan tersebut diyakini bermakna strategis. "Akan survive bangsa kita, kalau kita kuasai jaringan distribusi di Asia. Karena pasar kita dari 200 juta langsung jadi 600 juta, tak ada hambatan tarrif, gak ada macam-macam. Kalau jaringan distribusi kita yang punya, semua yang bagus dari Indonesia kan bisa kita jual," tuturnya.

 

Semua orang terhenyak dengan langkah CT itu. Pasalnya, Carrefour tengah menghadapi banyak masalah kala itu. Tetapi ia tak gentar, dan akan menyelesaikan masalah-masalah itu dengan caranya, termasuk mengembangkan social responsibility, dan pendekatan baru dalam bisnis perusahaan itu. Ia akan "mengubah" Carrefour.

 

Karuan aksi korporasi itu mengukuhkan kiprahnya sebagai usahawan yang berpengaruh di Indonesia. Ia dikenal memiliki jaringan luas baik dengan komunitas pengusaha, birokrat, maupun politik.

 

Belakangan, Chairul ditugasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Komite Ekonomi Nasional. Ia memimpin sejumlah pengusaha lainnya serta sejumlah ekonom yang tergabung dalam think-tank Presiden SBY itu. Ia membawa visi 2030, di mana diyakini Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

 

"Bangsa ini harus bangkit, [termasuk] dunia usahanya. Jangan sampai bangsa ini dibeli terus, menjual [asset] terus, lama-lama habis [asset] kita," ujarnya.

 

Karena keyakinan itu, Chairul terus melaju. Kerja keras dan visi yang kuat menjadikan Para Grup, kini CT Corp, salah satu perusahaan yang disegani. Di bisnis media, Trans TV dan Trans 7 menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia saat ini. Tak berhenti sampai di situ, ia masih berniat masuk ke bisnis media online dan suratkabar, selain menambah stasiun TV lagi, "jika tiba saatnya."

 

Maka, mengalirlah cerita Chairul, soal jatuh-bangun bisnisnya, klarifikasi keterlibatan Grup Salim, hingga strategi dan filosofi bisnis dan kehidupannya. Berikut sebagian kutipan cerita pengusaha, yang sebenarnya berlatar belakang dokter gigi itu:

 

Kok mau masuk bisnis ritel, padahal margin ritel kabarnya sangat kecil, terlalu banyak main diskon?

 

Di ritel, net profit kira-kira 2%-3%. Memang kecil. Tapi jangan dilihat cuma jualan sembilan bahan pokok. Saya kan punya bisnis yang lain. Melihatnya justru dari situ. Kartu kreditnya nanti Bank Mega. Di setiap Carrefour nanti ada cabang Bank Mega, Baskin Robbins, Coffe Beans, trafel, semua bisnis clients ada di situ. Jadi kita integrasikan. Carrefour ini kan powerhouse. Orang punya tanah di ujung dunia sana, taruh saja Carrefor di tengah. Itu gak lama jadi perumahan, coba bayangin sekarang.

 

Jadi bukan cuma membeli Carrefour?

 

Bukan, ini beyond. Kita membeli jaringan bisnis dan jaringan distribusi. Begini, saya selalu menyandingkan bisnis dengan idealisme. Semua orang bilang ke saya, "gak bisa idealisme sama bisnis jadi satu". Saya bilang, "no way". Kenapa? Kalau you bisnis dengan idealisme, maka akan sustain. Kalau you cuma bisnis doang tanpa idealisme, dia nggak akan sustain. Ini bener, demi Allah, saya ambil Carrefour niatnya baik, yang pasti untuk bangsa ini. I will do everythings untuk make sure bahwa [Carrefour] ini bisa jadi alat saya untuk membuat bangsa ini lebih baik.

 

Model kepemilikan dan pendanaannya?

 

Ini PMA, tetapi perusahaan Indonesia. Ini the first in the world yang dilakukan Carrefour. Makanya, ini jadi titik balik dunia bisnis Indonesia. [Untuk membiayai pembelian itu] Kita dapat pinjaman US$350 juta dari Credit Suisse, Citibank, ING dan JP Morgan. Prosesnya kira-kira hanya satu bulan. Saya transparan, ini bukan transaksi hanky panky .

 

Ketika beli Carrefour, apakah usaha ritel ada dalam grand strategy bisnis dari awal?

 

Nggak ada. Jadi saya percaya bisnis saya ini melalui mekanisme Tuhan. Saya mulai dari nol, dari bisnis informal untuk biaya sekolah saya sendiri, mulai dari CV, PT, semua pernah saya kerjain. Tak ada yang by design. Semua itu mulai dari visi yang selalu berubah, berubah lagi, dan berubah lagi. Baru beberapa tahun terakhir ini mulai terlihat, ternyata kita bisa konsentrasi hanya pada bidang-bidang ini saja. Di mana kolaborasinya akan luar biasa dan satu sama lain akan bersinergi luar biasa juga.

 

Jadi proses itu by nature, bukan by design, ini [mekanisme] Tuhan saja. Tuhan punya skenario tertentu buat saya. Jadi filosofisnya, ketika saya ibadah di depan Ka'bah, saya nyatakan, saya declare, bahwa saya siap menjadi prajurit Anda [Tuhan]".Whatever you have to decide with me, whatever you instruct to me, saya akan laksanakan dengan keikhlasan saya"..

 

Di media, bagaimana ceritanya membangun bisnis dari Trans TV lalu mengembangkan Trans 7?

 

Semua rejeki itu dari Tuhan. Nggak usah ngotot, bahwa at all cost harus dapet, harus dapet. Saya nggak pernah begitu.

 

Bagaimana dengan pemberitaan?

 

Alhamdulillah. Saya mencari uang dengan tidak merusak, tetapi dengan membangun. Saya bilang begini ke teman-teman jurnalis, kalau kita tidak membuat bangsa ini menjadi lebih baik, kita ini berdosa.

 

Satu kali, di Palembang sama Hatta [Menko Perekonomian Hatta Radjasa], kita satu hotel, seberang-seberangan kamar. Ketika keluar hotel mau turun seminar malam [acara PWI], dia bilang, Rul, kebayang nggak ada investor datang ke Indonesia, datang sore, check-in, keluar sebentar makan, lalu kembali ke kamar lagi, sebelum tidur setel TV. Lalu lihat orang dibacok, kantor polisi dibakar, parlemen berantem. Saya yakin tuh, rapat investment besok pagi nggak jadi. Dia langsung pulang lagi, pakai pesawat pertama.

 

Kalau diminta pilih, idealisme atau bisnis?

 

Kalau ngomong idealisme, perut kosong, apa nggak jual idealisme untuk isi perut? Dan [untuk itu] saya nggak bisa sendirian. Membangun bangsa ini nggak bisa sendirian. Kita mesti bersama-sama, saling mendukung, tidak saling menjatuhkan.

 

Apakah visi CT Corp akan di bawa ke sana nanti?

 

Pasti. Kita kan punya CT Corp, sekarang sedang proses untuk pencitraan baru. Kan Para Group ini sudah terlalu kuno. Kita punya tiga holding company, Mega Corp untuk finansial, Trans Corp untuk media, lifestyle, retail dan entertainment, serta CT Natural Resources untuk agro dan lain-lain. Tiga itu saja. Kita nggak akan berkembang ke yang lain-lain.

 

Di natural resources termasuk pertambangan?

 

Nggak. Kita tidak akan masuk mining. Kita bukan mendahului Tuhan, tapi berupaya untuk tidak masuk ke sektor mining. Bukan apa-apa, sorry to say, saya berusaha untuk tidak merusak alam. Semua masuk mining karena benefit luar biasa. Saya bilang ke teman-teman, kita ini kurang apa sih. Udahlah, jangan serakah. Nanti 20-30 tahun lagi ada kejahatan baru, kejahatan lingkungan, yang sekarang kita lakukan tidak salah, nanti bisa jadi salah.

 

Jadi suburkanlah lahan, tanam tanaman. Lama memang. Tahu nggak, kelapa sawit itu butuh 10 tahun untuk sampai menghasilkan. Di TV, saya dua tahun sudah selesai urusan.

 

Wah, itu real? Di TV dua tahun sudah impas?

 

Betul. Dua tahun. Ini surprise.

 

Gimana bisa begitu?

 

Saya ini orang operation, selalu di dalam. Pernah lihat saya datang di acara-acara yang tidak penting? Kerja saya rapat internal. Saya ini orang kerja!

 

Bagaimana peran karyawan?

 

Saya pakai sistem insentif bonus. Ini kan bukan bisnis semua orang sama rata sama rasa. Kita punya sistem sharing. Kalau karyawan dapat target lebih, 50% dari kelebihan target itu milik karyawan.

 

Butuh keberanian terapkan model bisnis itu?

 

Bukan [hanya] keberanian, butuh jiwa besar.

 

Jadi Anda ciptakan best practices di industri TV?

 

Buat saya media sekarang ini is my business. It is my champion. Saya bayar gaji tak lebih buruk dari stasiun TV yang lain. Tapi mereka (karyawan) kerja di sini memang orang gila kerja, luar biasa. Mereka very happy karena dapat penghargaan dari kerja keras mereka. Jadi kalau ada orang ngomong underpaid itu omong kosong. Nggak ada perusahaan media yang bayar bonus [bagus] seperti Trans TV dan Trans 7.

 

Dalam bisnis, siapa yang paling mempengaruhi Anda?

 

Pemikiran. Saya banyak belajar dari sahabat dan orang-orang yang berhasil. Selalu, mentor saya, guru saya, orang-orang yang bertahap begitu. Kalau ketemu orang besar, pasti saya bertanya banyak. Ketemu kepala negara lain, pasti bertanya banyak. Ketemu CEO biggest multinational company, pasti ngobrol banyak. Saya ketemu CEO ING, dia bilang begini, ING adalah the biggest property manager in the world. Kenapa? Karena punya insurance. Asuransi itu kan uangnya harus diinvestasikan. Makanya, saya bilang, mau belajar how they manage.

 

Saat krisis global [2008], saya ke Amerika tiga kali. Saya temuin CEO-CEO, semua the top guys di Amerika termasuk [Robert] Rubin. Maka di situ baru tahu bubble seperti apa, apa kesalahannya. Saya belajar risk management ke depan. Saya tak boleh mengulang kesalahan yang sama.

 

Di bisnis TV, belajar dari mana?

 

Saya selalu memakai akal sehat, common sense. Kesuksesan media kita karena keluar dari pakem yang ada. Kalau saya ngikutin pakem yang ada, habis.

 

Ini rumusannya: jangan business as usual. Biasanya, orang bisnis ABC, orang lain ikutin bisnis ABC. Kalau Anda lakukan itu, maka rumusannya cuma dua: how low can you go dan how long you can pay. Jadi kalau bersaing sama, maka harganya makin murah, makin murah dan lama-lama bangkrut. How long you can pay? Apa you mau begitu? Yang baik adalah bikin sesuatu, yang orang lain, bukan cuma bikin, tapi berfikir saja tidak.

 

Bukannya TV adalah bleeding business?

 

Itu challenge saya. Waktu saya mau bikin Trans TV, semua teman dekat datang. Satu teman yang cukup disegani namanya TP Rachmat, he is my good friend. Chairul, jangan deh masuk ke bisnis itu. "Lha kenapa, Pak Teddy?", kata saya. "Ya sayang, Pak Chairul kan punya masa depan, jangan deh, jangan masuk bisnis itu, nanti banknya bisa hilang karena TV-nya".

 

Ini nasehat seorang kawan baik, sangat appreciate. Pak Teddy  waktu itu kan dirutnya Astra [PT Astra International], ngasih tahu karena sayang, mestinya saya ikutin. Tapi saya yakinkan, "Pak Teddy, ini sudah jalan. Ini sudah point of no return, sudah gak bisa mundur". Malah digituin, saya makin ter-challenge.

 

Kuncinya apa?

 

Rumusan itu tadi, bahwa business is not usual.

 

Tetapi ada kalanya tak mudah convince strategi baru. Ada saran utk pebisnis baru?

 

Bisnis itu adalah proses. Perusahaan hanya bisa maju kalau dia punya the great vision. Saya yakin semua perusahaan akan bilang I have the great vision. Yang kedua, the great leader, mungkin banyak orang bilang I have the great leader. Ketiga, harus punya governance, orang juga akan bilang, I have the good governance. Yang keempat, harus punya strategi yang bagus. Tapi ini semua hanya bisa jadi kalau punya kemampuan implementasi, execution. Nah, implementasi ini butuh keuletan, kesabaran, passion.

***

 

Belajar dari Anthony Salim

 

Chairul Tanjung membantah dengan keras bahwa Grup Salim ada di belakang bisnisnya. "Saya mulai dari nol," katanya seraya menambahkan, "30 Tahun I do it dan saya sabar untuk selalu bisa bekerja, bekerja dan bekerja. Saya tidak pernah menipu orang, menyakiti orang. Hampir semua bisnis, alhamdulillah, saya lakukan secara profesional.

 

Disebut-sebut Anthony Salim ada di belakang bisnis Anda?

 

Sekalian saya mau klarifikasi, banyak orang menyangka, saya berpartner sama Anthony. Sama sekali nggak. I tell you the truth. Para Group itu 100% is my own, start from zero. Bahwa ada partnership di unit [dengan Anthony Salim], iya. Tetapi di Para Group itu nggak ada [kepemilikan Salim].

 

Bank Mega disebut-sebut sebagai metamorfosanya BCA?

 

Di Bank Mega, mereka itu miliki saham dari publik. Yang namanya Para Corp, itu seperak pun mereka nggak ada [uang Anthony]. Di Bank Mega, Anthony memang punya saham, tetapi itu saham publik. Di saham yang dikontrol oleh Mega Corp, induk usaha saya, satu saham pun atau satu rupiah pun nggak ada yang namanya Salim di situ.

 

Tetapi publicly known, Anda diasumsikan yang "menyelamatkan" Salim. Jadi orang berasumsi bisnis Para Group besar karena itu?

 

Saya orangnya sincere saja, orang minta tolong saya bantu. Itu dasar filosofinya. Tetapi tidak ada keuntungan satu perak pun saya nolong dia. Serius. Bahwa saya banyak belajar dari dia, bagaimana dia membangun bisnis, bagaimana berkembang, iya. Saya banyak belajar [dari Anthony], itu saja yang saya dapet. Saya partner sama dia [Anthony] di Bank Mega, tapi bukan partner melainkan pemegang saham publik signifikan. Tapi saya mengendalikan sixty percent. Dia nggak ada urusan terlibat dalam direksi atau apapun.

Yang kedua, saya terlibat sama dia di satu perusahaan kesehatan di Singapura, namanya Asia Medic. Nah, itu bener-bener fifty-fifty. Itu saja yang riil. (Arief Budisusilo )

sumber: http://www.bisnis.com/articles/chairul-tanjung-business-is-not-usual

5 comments:

Jhoni ravael said...

Ajib

Karim said...

Wah. hebat sekali bapak. semoga saya bisa mengikuti jejak kesuksesan bapak. Amin

suprapto said...

Hello Bapak Chairul Tanjung...Saya Suprapto dari BEC(BSI Entrepreneur Center)..
saya tertarik sekali dengan Sejarah Sukses Bapak Chairul Tanjung dari Nol - 100%.
dan saya ingin mengajak Bapak bergabung dengan BEC..
jika Bapak tertarik dengan BEC, Bapak bisa confirmasi lewat Email saya.
supraptosinaga@yahoo.com

Amin Maarif said...

Dear Pak Chairul Tanjung, saya telah baca anak singkong bapak banyak pelajaran yang saya dapat, saya berharap bisa belajar lebih dekat lagi dengan bapak. I hope , Amin

Lani Anggraeni said...

Bapak Chairul yang Dirahmati Alloh, lega rasanya Indonesia punya Insan berkarakter seperti Bapak. Semoga Ide, konsep, strategi yang dimiliki senantiasa dilimpahi Petunjuk dari Cahaya-Nya yang Suci. Amiin..
Saya seorang Ibu 2 putri, sehari-hari bekerja sebagai Pharmacyst Assistant di rumah sakit umum pusat, juga akupunkturis di rumah serta masih mnjalani studi S1 Farmasi di sekolah tinggi farmasi.
Saya ingin sekali dapat mengaplikasikan ide dan konsep Bapak pada segmen kehidupan saya serta bisa sharing idealisme dalam running bisnis klinik kecil-kecilan yang sedang saya rintis.
Semoga Alloh Ijinkan saya agar dapat hubungi Bapak secepatnya.