Wednesday, April 6, 2011

Priscilla Herawati, Usaha Sukses Batiknya Berawal dari Sebuah Kisah Asmara

Kisah asmara berujung pada pernikahan dan berdirinya sebuah usaha. Itulah jalan yang dilalui Priscilla Herawati, pemilik usaha batik KRT Daud Wiryo Hadinagoro dan Ny Indo.

Masa pacaran bagi kebanyakan pasangan kekasih umumnya digunakan sebagai ajang mengenal lebih dekat satu dengan lainnya, untuk bersenang-senang, dan untuk hal-hal yang bersifat rekreatif lainnya.

Namun, Priscilla Herawati memiliki gaya pacaran tersendiri. Bersama pasangannya, Moses Adya Saputro, yang sekarang telah menjadi suaminya, Priscilla menjadikan masa pacaran justru sebagai sarana belajar berbisnis.

Waktu-waktu pacaran Priscilla dan Moses dihabiskan untuk mempelajari seluk-beluk dunia usaha. Seolah telah berjodoh, keduanya menjalaninya dengan penuh ketekunan dan saling menguatkan. Hingga pada 1998, Priscilla dan Moses mengawali bisnis batik.

Ketika mengawali bisnis ini, mereka mendapat pinjaman barang tanpa agunan dari seorang pengusaha batik Solo yang bangkrut senilai Rp30 juta. ”Kebetulan pengusaha itu teman calon mertua,” kenang Priscilla ketika ditemui belum lama ini.

Dari modal pinjaman barang tersebut, Priscilla dan Moses menjualnya secara door to door, dari orang ke orang,dari satu rumah ke rumah lainnya. ”Ya pokoknya yang penting dagangan terjual, kami bisa setor uang yang ngasih pinjaman barang,” tutur Priscilla.

Tak terlalu lama, usaha Priscilla dan Moses berkembang. Di tahun yang sama, pasangan yang mengaku berkenalan pada sebuah kegiatan peribadatan di gereja ini telah mampu memasarkan produknya di sebuah hotel di Yogyakarta.

Pada 2000, mereka juga telah mampu memproduksi kain batik sendiri tanpa harus mengambil barang dari orang lain. Priscilla mengatakan, mereka juga telah mampu merekrut karyawan meski baru satu orang.

Selang setahun setelah memproduksi kain batik sendiri, pasangan kekasih ini akhirnya memutuskan menikah pada 2001. Pada 2002, anak pertama mereka bernama Michelle Nadya Saputra lahir.

Kehadiran buah hati turut mengangkat perkembangan usaha mereka. Perkembangan usaha batik yang dikelola Priscilla dan Moses dengan mengambil brand KRT Daud Wiryo Hadinagoro untuk produk premium dan Ny Indo untuk produk reguler makin moncer ketika mereka berkenalan dengan Mandiri Business Banking.

Priscilla yang mengaku awalnya antiperbankan mengatakan, bantuan modal usaha yang dikucurkan Mandiri Business Banking terbukti ampuh mendongkrak usahanya. Melalui modal usaha tersebut, mereka mengembangkan usahanya dari skala kecil menuju skala industri.

Mandiri Business Banking, tutur perempuan yang kini tengah mengandung anak keduanya tersebut, membuat usahanya semakin dinamis. Melalui kucuran dana dari Mandiri Business Banking, usahanya yang berawal dari bisnis kecil kini bertambah besar dengan jumlah karyawan mencapai 250 orang.

Priscilla mengaku,selama menjadi nasabah Mandiri Business Banking, dia terkesan dengan sikap yang ditunjukkan manajemen. Menurutnya, pihak manajemen Mandiri Business Banking bersikap ramah, kekeluargaan, dan mau langsung turun melihat usaha yang dijalankannya.

Dengan Mandiri Business Banking, Priscilla juga mengaku bisa mengembangkan pelayanan dan pengembangan produk premium untuk pelanggan pejabat, pengusaha, ekspatriat, dan tokoh-tokoh nasional lain serta memenuhi kebutuhan ready to wear untuk kalangan umum.

”Saya sih merasa terbantu dengan adanya bantuan modal dari Mandiri Business Banking,” terang Priscilla. Satu hal yang membuat produk batik KRT Daud Wiryo Hadinagoro dan Ny Indo yang memiliki show room di Hyatt Regency, Yogyakarta dan Belezza Shopping Arcade G-53-55, Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan ini berbeda terletak pada kualitas produk yang ditawarkan.

Menggunakan bahan tenun sutera yang dikerjakan oleh tangantangan terampil perajin Yogyakarta dan Solo, istilahnya dikenal sebagai seni tenun sutera tangan, kualitas produk batik yang ditawarkan memang begitu eksklusif.

Cita rasa seni yang tinggi juga tecermin dari perpaduan warna, minimal menggunakan delapan warna, serta desain produk yang dikerjakan setelah lebih dulu melalui serangkaian riset.

”Untuk pengembangan produk, kami memang senantiasa melakukan riset terlebih dahulu,” tutur Priscilla. Lantaran mengunggulkan kualitas, eksklusivitas, dan cita rasa seni yang tinggi, kapasitas produksi usaha Priscilla pun tak banyak.

Tiap minggu paling banyak mereka mampu memproduksi 15-an sarimbit dengan satu sarimbit terdiri atas tiga pieces bahan berupa kain sarung, selendang, dan bahan kemeja. Harga jualnya berkisar antara Rp2,5 juta-27,5 juta untuk produk premium dan Rp500 ribu-Rp15 juta untuk produk reguler.

Perempuan yang memegang prinsip bersyukur, kerja keras, pantang mengeluh,dan selalu rendah hati dalam menjalankan roda bisnisnya ini mengaku masih memiliki obsesi lain meski kini usahanya yang dirintis dari nol bisa dikatakan tengah merasakan manisnya madu keberhasilan. Ke depan dia ingin memiliki semacam museum batik tersendiri.

Apalagi batik kini menjadi salah satu warisan leluhur budaya bangsa yang telah diakui UNESCO. ”Saya bersama suami berangan-angan bisa mengembangkan bisnis secara idealis dengan pembuatan museum atau koleksi sekaligus batik untuk skala komersial,” tutur Priscilla yang mengaku memiliki koleksi satu kain batik yang dikerjakan selama lebih dari setahun dengan kombinasi 40-an warna. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

No comments: