Wednesday, April 6, 2011

Citra dan Hafiz, serta Kesuksesan Es Dawet Cah Mbanjar

Bermula dari gemar minuman dingin,tapi kini Citra Puspa Sari,26,punya usaha menguntungkan.Tidak hanya di Indonesia,Es Dawet Cah Mbanjar produksinya telah merambah pasar Singapura.

Di Indonesia,Citra telah memasarkan produksinya mulai dari wilayah barat, tengah hingga timur. Minuman usaha keluarga ini kini bisa dirasakan seluruh masyarakat negeri ini. Di Singapura, dia mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Di Singapura ia mengisi acara Asia Pasific Food Festival.Dalam waktu dekat, dia akan berangkat ke Thailand untuk mempromosikan minuman ini. Citra memulai usaha Es Dawet Cah Mbanjar pada 2006.

Dia tertarik mengembangkan bisnis ini karena senang minum satu jenis minuman yang sama tapi beda nama. Memang, minuman jenis ini cukup banyak di Medan. Penjual minuman yang menggunakan gerobak banyak dijumpai di pinggirpinggir jalan kota Medan. Kadang di emperan toko,tidak sedikit juga di bawah pohon rindang dan di persimpangan jalan. Sambil minum, dia suka bertanya- tanya kepada penjual mengorek informasi seputar minuman tersebut.

Hingga akhirnya dia bisa ketemu dengan bos pemilik es penjual dengan gerobak. ”Saya suka minum es. Karena sering,iseng-iseng ngobrol nanyain resep dan lainnya. Namun kata pekerjanya, harus menjumpai bos langsung. Setelah di cari tahu akhirnya bisa ketemu,” kata Citra kepada harian Seputar Indonesia, kemarin. Setelah dapat resep dari pemilik es itu, Citra bersama suaminya,Hafiz Khairul Rijal,32 membeli bahan baku dengan modal Rp100.000.

Saat itu dia tidak mengenakan resep rahasia dari bos pemilik es. Untuk gerobaknya, dia memilih membuat sendiri dengan biaya Rp500.000. Bermodal Rp600.000 itulah Citra memulai berjualan Es Dawet Cah Mbanjar. Kebetulan dia langsung mendapat lokasi dekat kampus. Jadi saat itu, penjualannya lumayan. Dalam satu hari,50 cupatau gelas Es Dawet Cah Mbanjar pasti laku terjual. Untung bersihnya Rp50.000 per hari. Waktu terus berlalu hingga tiga bulan berjalan.

Dari keuntungan yang diperoleh, Citra menambah gerobak. Tidak lama berselang, gerobak ketiga dibeli sekaligus mulai merekrut karyawan. ”Mulai jualan sendiri pada 2006.Terus berjalan hingga 2007 sudah bisa membeli gerobak kedua dan ketiga. Semuanya disebar tidak jauh dari lokasi berjualan yang pertama,” ujar ibu dari dua orang anak ini. Namun, meski sudah memiliki tiga gerobak, dia masih tetap berhubungan dengan bos pemilik es yang pertama karena bumbu utama belum dimilikinya langsung.

Mendekati akhir tahun 2007, dia mencoba untuk membeli bumbu dan alat produksi dari bos pemilik es. Modalnya tidak sedikit. Uang sebesar Rp50 juta harus disiapkan, tapi karena ingin berinovasi dia nekat meminjam uang orang tuanya. ”Separuh dari modal itu, pinjam dari orang tua. Kami berpikir sudah saatnya untuk berdiri sendiri. Jadi mudah untuk melakukan inovasi, tidak hanya membeli bahan dan tinggal ramu,”ujarnya. Dengan begitu dia bisa memiliki mesin adonan cendol, gula, dan kelapa sendiri.Bahan bakunya pun langsung didatangkan dari Banjar.

Selain bumbu utama, dia juga mendapat lima gerobak. Jadi total telah ada delapan gerobak yang dijadikannya modal untuk dijual kepada orang lain. Ingin melihat bagaimana peluang pasar yang lebih besar, Es Dawet Cah Mbanjar ini mulai diikutkannya pada pameran-pameran. Pertama kali, tepatnya 2007 ikut pameran Bank Sumut dalam rangka ulang tahun Bank Pembangunan Daerah (BPD) ini.

Tanpa disangka, Citra meraih penghargaan Bank Sumut Usaha Mikro Kecil (UMK) Award. Usaha Citra dinilai terbaik karena punya tempat produksi dan manajemennya sudah terbentuk, walaupun masih skala home industry. ”Senang sekali. Selama proses pameran, kami ikut dalam audisi wirausaha muda Mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri. Jadi semakin bersemangat untuk mengembangkannya lebih luas,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini. Rezeki benar-benar berpihak.

Es Dawet Cah Mbanjar terpilih menjadi juara 2 se-Sumatera.Penghargaan- penghargaan ini membuat suami istri ini mendapat kemudahan untuk mengembangkan usaha. Bagi yang berminat untuk memulai usaha ini diberi kredit oleh Bank Mandiri. Bank ini juga membantu proses pelatihan, perekrutan karyawan dan manajemen. ”Sistemnya seperti franchise, tapi kami menyebutnya kemitraan karena tidak ada ketentuan harus sama gerobaknya, jumlah karyawan atau gajinya.

Bahkan diperbolehkan beli bahan saja, tanpa gerobak dan tidak dapat resep utama,”papar Citra. Apabila ingin mendapat resep utama,tentu harus membeli rumah produksi sebesar Rp60 juta. Ini disebut dengan master.Kini, khusus di Medan dia menjadi pemilik brandEs Dawet Cah Mbanjar.Tidak sulit lagi memperoleh es yang memiliki rasa manis ini pada pinggir jalan, warung atau restoran.

Total 170 gerobak se-Indonesia telah dijualnya. Khusus Medan saja ada 40 gerobak.Kini pemasarannya hingga Makassar. ”Peluangnya masih besar di sini. Ini cocok untuk mulai berbisnis karena dipastikan untung Rp50.000 bisa didapat dalam satu hari,”katanya.

Jadi Pewaralaba karena Pasarnya Besar

Pengembangan sistem waralaba (franchise) Es Dawet Cah Mbanjar ternyata membuat beberapa investor tertarik.Konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat.

Reviza Putra Syarif,26,ikut menjalani bisnis menjual Es Dawet Cah Mbanjar. Bahkan,Reviza mengaku beruntung bisa menjadi pewaralaba karena keuntungannya tidak sedikit.Satu bulan pertama,untung bersih yang bisa dibawanya pulang sebesar Rp2,4 juta.”Hasilnya lumayan.Dalam dua bulan,modal saya sudah kembali,”ujarnya ketika harian Seputar Indonesia berkunjung ke tokonya di Jalan Wahid Hasyim No 1 E Medan.

Sebagai pewaralaba, Reviza harus membeli gerobak dan peralatan lengkap Es Dawet Cah Mbanjar langsung dari pemilik franchise dengan harga Rp4,5 juta. Untuk bahan minuman mulai cendol,santan dan gula setiap hari dia harus mengeluarkan biaya Rp70.000 per hari untuk 50 porsi setiap harinya. ”Sebagai pemilik franchise, mereka membina mitra.Waktu saya pilih lokasi ini,sempat diragukan kelangsungannya, tapi saya buktikan bisa dan Alhamdulillah sukses,”ujarnya.

Kebulatan tekadnya itu sudah tampak sejak awal dia ingin membuka usaha ini.Setelah keluar dari tempat kerja sebelumnya pada salah satu bank milik pemerintah,dia memang punya keinginan untuk buka usaha,tapi keuntungannya besar dan cepat.Yang ada di benaknya adalah bisnis makanan. Survei pun dimulai.Setelah keliling sana-sini,Reviza akhirnya mengetahui bahwa untuk memulai usaha yang sama pakai sistem franchise.

Bukan hanya es awet,tapi bisa juga satu paket dengan bakso yang pernah dimakannya. ”Dua bulan pertama,saya ikut bekerja.Bahkan harus berbelanja ke pasar pun saya tidak peduli.Itu bisa membuat kita lebih tahu harga di pasar dan dekat dengan pekerja,”ujar pria lulusan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini. Kalau dihitung sekalian dengan paket,keuntungan yang diperolehnya mencapai Rp10 juta.Itu bersih di bawa pulang ke rumah untuk keluarganya. (adn)
(Jelia Amelida/Koran SI/rhs) (sumber okezone.com)

No comments: