Wednesday, April 6, 2011

Ina Indrawati, Sukses Besarkan 'Wimo Shoes' Karena Kecintaan pada Sepatu

Cinta menyimpan kekuatan luar biasa. Ina Indrawati, pemilik Wimo Shoes ini telah membuktikannya. Karena kecintaannya pada dunia sepatu, dia mampu mempertahankan usaha hingga sekarang.

“Usaha yang kami jalankan berangkat dari rasa cinta. Ketika mengawali usaha ini kami bahkan tidak pernah memikirkan soal untung karena kami mencintai apa yang kami kerjakan. Semua mengalir dan berjalan begitu saja,” kata Ina saat mengawali perbincangan di kantornya yang terletak di Jalan Kemang I No 7, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Ibu dua anak ini mengungkapkan, eksistensi usaha sepatu yang dikelolanya tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran Mandiri Business Banking. Meski pada awal membuka usaha menggunakan modal sendiri, dalam perkembangannya Ina mendapat bantuan dari Mandiri Business Banking.

Ina mengaku telah lama bekerja sama dengan Mandiri Business Banking. Selama itu Mandiri Business Banking memberikan dukungan agar Wimo Shoes terus maju dan berkembang. “Mandiri Business Banking terus mendorong kami untuk maju, maju, hingga seperti sekarang,” tuturnya.

Perempuan ramah ini menceritakan, usaha sepatu yang kini dia kelola pada awalnya dirintis oleh ibunya, Wiwih Reksono, pada 1966. Ibunya tertarik mengembangkan usaha sepatu karena waktu itu sebagai perempuan merasa tidak menemukan sepatu yang pas dengan kaki.

“Ibu saya merasa, tiap kali memakai sepatu kok kaki malah jadi pegal-pegal, kepala jadi pusing dan rasa tak enak lainnya,” tutur Ina.

Dari situ kemudian terpikir ide untuk membuat sepatu yang aman, nyaman, dan tetap memperhatikan aspek estetika pemakai. Kebetulan, kata Ina, ibunya adalah sosok yang amat mencintai dunia sepatu.

“Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan dunia sepatu oleh ibu saya. Melihat sepatu berserakan di atas meja tamu atau meja makan bagi saya adalah pemandangan biasa,” beber Ina yang mengaku banyak belajar dari ibunya soal dunia sepatu sebagai bekal mengelola usaha.

Berangkat dari kecintaan terhadap dunia sepatu dibarengi rasa ingin mengembangkan sepatu sebagaimana produk mode lain yang bergerak dinamis, Ina mengatakan, ibunya belajar sungguh-sungguh menciptakan produk sepatu berkualitas.

Dari proses belajar tersebut jalan mulai terbuka. Ina mengungkapkan bahwa ibunya berhasil membuat sepatu-sepatu dengan model menarik, tapi tetap memperhatikan aspek kenyamanan pemakai. Meski demikian, tak mudah memang memulai sesuatu.

“Banyak juga yang mencibir dan memandang sebelah mata,” ungkapnya. Namun karena semua dikerjakan dengan rasa cinta, tantangan seperti apa pun mampu dia lewati.

Tanpa mengenal kata menyerah, upaya untuk mengenalkan produk terus dilakukan. Dari mulut ke mulut, dari satu pintu ke pintu rumah yang lain, hingga akhirnya Wimo dapat bertahan sampai detik ini.

“Tak terasa usaha yang dirintis oleh ibu saya dari nol sekarang telah berusia 44 tahun. Apalagi yang membuat usaha ini eksis sampai sekarang kalau tidak karena kekuatan cinta?” ujar Ina.

Sebagai penerus usaha, Ina mengaku akan berupaya mengemban amanat sebaik mungkin. Dalam perjalanannya, Wimo Shoes, yang mengkhususkan produksinya dengan membuat sepatu bagi kaum hawa dari anak-anak hingga usia senja, melakukan sebuah terobosan.

Wimo Shoes memproduksi sepatu kesehatan dengan teknologi ortho. “Kami mungkin satu-satunya di Asia yang membuat customized sepatu fashion dengan teknologi ortho,” kata perempuan yang memiliki hobi dansa ini.

Dengan teknologi ortho konsumen bisa membuat sepatu yang sesuai dengan bentuk kaki, struktur tulang, dan berat badan.Teknologi ortho juga memungkinkan orang yang memiliki masalah dengan kaki, cacat, dan sebagainya memiliki sepatu yang pas dengan kakinya.

Teknologi yang telah marak di luar negeri tapi baru diperkenalkan Wimo Shoes setahun belakangan ini ternyata mendapat sambutan positif. Telah banyak pelanggan Ina yang memanfaatkan teknologi ini. “Karena kami juga melayani pembuatan customized,” ujarnya.

Melalui teknologi ortho, Wimo Shoes berharap dapat lebih banyak lagi membantu orang lain yang memiliki masalah dengan kaki. “Belum lama ini kami membuatkan sepatu untuk orang cacat. Dia tak memiliki sepatu sejak kecil. Senang rasanya bisa berbagi,” ujar Ina.

Melalui penggabungan produk antara mode, kesehatan, dan seni, perempuan yang memiliki motto hidup ingin melakukan yang terbaik dengan segala yang dilakukan, ini bertekad produknya dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri. “Bangsa ini mampu kok bersaing,”ujarnya,sangat yakin. (sugeng wahyudi)(Koran SI/Koran SI/ade) (sumber okezone.com)

No comments: