Sunday, April 14, 2013

Deden, Sarjana yang Lebih Memilih Mengembangkan Usaha Kecap Ketimbang Jadi PNS, Kini Sukses Raup Omzet Ratusan Juta

Deden Narayanto, Mengincar Tukang Siomay dengan Kecap

Dalam bisnis kecap, namanya cukup

dikenal sebagai pemilik perusahaan

Kecap Segi Tiga yang ternama di

Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Usahanya memang bergerak perlahan

Namun pasti dan tengah merambah

ke Jakarta, Bekasi, dan Bandung.

Harapannya tidak mu1uk-mu1uk, ia hanya

ingin bersentuhan langsung dengan

tukang siomay, tukang sate, dan tukang

bakso yang jumlahnya ribuan.

 

Nama Kecap Segi Tiga mungkin belum

terlalu dikenal jika dibandingkan

dengan kecap-kecap nasional lainnya.

Namun, ini adalah salah satu perusahaan kecap

di Majalengka yang masih bertahan sejak tahun

1958. Kecap Segi Tiga didirikan oleh almarhum

Haji Lukman, kakek Deden, bersama 2 mitranya,

 

yaitu Aman dan Endek. Haji Lukman

tidak memberikan pengelolaan perusahaannya

kepada anaknya, tetapi ke Deden, yang notabene

adalah cucunya.

Hal itu terjadi tahun 2000, setahun setelah

Deden menyelesaikan kuliahnya. Deden tidak

bisa mengelak ketika kakeknya menanyakan

gaji yang dikehendakinya saat hendak melamar

pekerjaan. “Emang mau digaji berapa, gitu? Di

sini ada pekerjaan yang harus dikerjakan, kok

malah mau cari ke luar?’ Ini yang menyentak,

bukan karena berapa nilai gajinya. Tapi makna

pertanyaan itu yang menyentak. Sehingga saya

pun tidak jadi mencari kerja. Jadi, sampai

sekarang saya belum pernah melamar pekerjaan

sama sekali. Melamar ke istri doang,” kenang

 

Deden saat memutuskan untuk melanjutkan usaha

 

kakeknya.

 

MELANJUTKAN TONGKAT ESTAFET

 

Saat berpindah tangan, aset perusahaan tersebut

 

baru bernilai Rp 1 Miliar. Berbekal pengalaman

 

membantu kakeknya sejak duduk di bangku SMP

 

hingga kuliah, Deden melanjutkan usaha itu

 

dengan memperbaiki manajemen, dari tradisional

 

menjadi lebih modern. Deden ingat betul betapa

 

sibuk kakeknya mengurus segala sesuatu

 

untuk mempertahankan usahanya. Berbagai

 

urusan dipikirkan dan dikerjakan sendiri.

 

Manajemen seperti inilah yang menurutnya

 

sulit membuat perusahaan berkembang. Deden

 

memperbaikinya dengan merekrut orang untuk

 

mengurus administrasi, produksi, keuangan,

 

hingga pemasaran. “Jadi bukan hanya pimpinan

 

saja yang harus memikirkan. Tapi ada yang

 

memikirkan bagian-bagiannya. Ini alhamdulillah

 

sudah berjalan,” ucapnya bersyukur.

 

Pabrik yang awalnya berlokasi di rumah,

 

kemudian pindah ke lahan yang kecil pada

 

tahun 1980. Kini, lahan tersebut sudah

diperluas. Pertumbuhan penduduk Majalengka

 

yang cepat membuat Deden pun cepat

bertindak dengan membeli lahan kosong di

 

belakang pabrik tahun 2002. Tujuannya, untuk

melakukan perluasan sehingga kapasitas

 

produksi bisa ditingkatkan. Total karyawan

 

pun diperbesar menjadi 38 orang, kebanyakan

 

diambil dari masyarakat sekitar. Para pemula

biasanya hanya ditempatkan di bagian pengisian

 

kecap. Jika sudah menguasai kemampuan ini,

 

mereka bisa diajarkan keahlian baru, seperti

 

pemasakan. Syarat menjadi pegawainya pun

 

cuma satu, bisa membedakan rasa, mana yang

Kecap Segi Tiga dan mana yang bukan.

Khusus urusan produksi, Deden tidak mau

 

meninggalkan kekhasan Kecap Segi Tiga

yang kental dengan rasa kedelainya. Awalnya

 

Kecap Segi Tiga hanya memproduksi kecap

 

rasa asin dan manis sedang, sebab hanya 2 rasa

itulah yang disukai masyarakat Majalengka.

 

Selain itu, masyarakat Majalengka amat

menyukai kecap dengan rasa kedelai yang kental.

 

Deden memang tidak main-main untuk

urusan rasa. Kecapnya berbahan baku 50 persen

 

kedelai dan gula merah atau gula aren

yang berkualitas. Dan wanginya pun, menurut Deden,

 

masyarakat Majalengka sudah bisa membedakan

 

mana kecap Segi Tiga dan yang bukan.

Deden juga menanggung beban moral untuk

 

mempertahankan tradisi kecap Majalengka yang

 

kian tergusur.

Di tahun 1980-an ada 50-an pengusaha kecap. Namun,

kini tinggal 10 yang bertahan. “Ini sangat

 

mengkhawatirkan, karena kecap adalah produk

unggulan Majalengka juga. Harus benar-benar dijaga.

 

Bayangkan kalau anak cucu kita nanti tidak

 

tahu produk kecap Majalengka,” ujar bapak 2 anak ini.

Belajar dari rontoknya banyak perusahaan kecap yang

dulu tumbuh bersama, Deden menyadari bahwa jika tidak

mengikuti perkembangan pasar, dia akan tergerus oleh

perusahaan-perusahaan kecap besar. Selagi memperbaiki

 

manajemen, Deden pun mulai memikirkan inovasi untuk

ekspansi keluar Majalengka. Deden mulai dengan

 

mendaftarkan produknya ke Departemen Kesehatan,

 

meraih SNI, sertifikasi halai, bahkan mendaftarkan

 

hak cipta mereknya. Menurutnya, meskipun UKM,

 

perusahaannya harus mengikuti apa yang menjadi

perhatian masyarakat, termasuk packaging.

 

Selama ini, Kecap Segi Tiga hanya mengandalkan

 

botol bekas pakai yang dicuci dan diisi ulang.

 

Namun seiring waktu, banyak botol yang tidak

 

kembali karena hilang atau pecah.

Maka, mulai pertengahan tahun 2011, dibuat

 

kemasan standing pouch dari bahan plastik

 

dengan volume 225 ml. “Masyarakat

sekarang kan sudah berbeda, walaupun masih

 

ada orang yang pikirannya masih di sana, tapi

 

kan sekarang masyarakat memikirkan kesehatan.

 

Itu harus kita ikuti,” imbuh pria berusia 36

 

tahun ini. Ketika ditanyakan tentang sampah plastik,

Deden mengatakan bahwa plastik bekas tetap

bisa didaur ulang untuk dijadikan barang lain,

sehingga tidak mengotori lingkungan.

DIVERSIFIKASI USAHA

Untuk merambah pasar di luar Majalengka,

Kecap Segi Tiga mulai memproduksi kecap

 

manis. Pengalaman mereka menunjukkan ketika

 

menjual kecap asin dan manis sedang ke

daerah Bandung, produk tersebut ternyata tidak

dilirik sama sekali. Deden pun memperhatikan,

rupanya masyarakat kota besar seperti Jakarta,

Bandung, Bekasi, tidak senang dengan kecap

asin, manis sedang, dan encer. Mereka lebih

suka rasa manis dan kental. Dia pun meminta

kokinya untuk meracik kecap manis khas Kecap

Segi Tiga.

Dengan pengalaman meracik kecap sejak

tahun 1958, kokinya mampu membuat kecap

manis. Kelihaian sang koki sangat teruji. Terbukti

setiap ada kecap terbaru muncul di pasaran

selalu dicicipi, lalu dicoba meracik hingga

mendapatkan rasa yang sama, dan berhasil.

“Alhamdulillah kita bisa mendekati rasa begitu.

Jadi, walaupun tidak didukung keilmuan,

karena pengalaman, dia sudah paham; kurang

ini, kurang itu,” tutur lulusan manajemen teknik

industri Universitas Pasundan Bandung ini.

Selain memproduksi kecap, Deden sempat

melakukan diversifikasi usaha dengan membuat

minuman kemasan. Bahan bakunya dari jambu

merah yang berlimpah di Majalengka. Untuk

meraciknya, dia bekerja sama dengan pihak

ketiga. Sayangnya, ketika pihak ketiga itu jatuh,

perusahaan minumannya pun bangkrut karena

 

Deden tidak mengetahui bahan-bahan yang

perlu diracik. Namun, karena usaha ini dimulai

dari nol, Deden tidak merasa terbebani.

Setelah itu, Deden fokus mengembangkan

usaha kecapnya. Dia menargetkan pada 2013

kecapnya sudah menguasai pasar Jawa Barat.

Mulai dari rasa hingga ukuran akan disesuaikan

dengan produk yang beredar di Jawa Barat. Sejak

awal, produknya memang langsung ditujukan

ke pemakai—yakni langsung ke rumah tangga—

bukan ke toko-toko.

Sementara, pengguna kecap bukan hanya

rumah tangga. Bisnis makanan pun membutuhkan

 

kecap. Misalnya saja tukang siomay,

bakso, dan sate. Pangsa pasar ini belum

tersentuh oleh Kecap Segi Tiga yang berada

pada kisaran harga cukup mahal. Oleh karena

itu, kini Kecap Segi Tiga juga memproduksi

second line yang diberi nama Samara. Di sinilah

suntikan modal dibutuhkan. Sejak tahun 2009,

perusahaannya mendapat pinjaman secara

bertahap mulai dari Rp 500 juta hingga Rp 1,5

miliar dari bank bjb.

Namun, ternyata inovasi tak selalu mulus.

 

Pernah ada kejadian Deden kekurangan bahan

baku. Ia pun mengganti kedelai hitam yang

kurang itu dengan kedelai kuning. Hasilnya

cukup mengejutkan. Para pelanggan setianya

komplain karena mereka tahu rasa kecapnya

berubah. Untung saja perputarannya cepat,

 

sehingga setelah barang habis, Deden langsung

kembali menggunakan bahan-bahan racikan

seperti biasa.

Kejadian lain adalah saat Deden meng-update

label. Karena konsumen setia sudah hafal di

luar kepala label lamanya, maka ketika beredar

label baru, mereka malah mengira itu produk

palsu. Lagi-lagi Deden belajar arti penting

sosialisasi. Dia kemudian menyebar pamfiet dan

mengembalikan label ke model lamanya lagi.

“Namun saya berani berinovasi dan

 

mendiferensiasikan produk. Karena Kecap Segi

Tiga memiliki harga cukup tinggi, saya

membuat label Kecap Samara untuk segmen

di bawahnya. Saat ekonomi terganggu, saya

ciptakan merek Samara untuk mengatasi

masalah harga jual. Konsumen Segi Tiga tidak

terganggu, dan saya mendapat pelanggan

 

baru, termasuk pelanggan Segi Tiga yang

merasa harganya terlalu tinggi,” urai Deden.

Cara ini ternyata berhasil. Dengan menyasar

Pedagang-pedagang kecil, dalam waktu 2 tahun,

omzet Samara sudah menyamai Segi Tiga.

 

Pendekatan dijajaki ke para penjual siomay, bakso,

 

dan sate di Bandung dan Bekasi, bahkan saat

ini sedang menjajaki Jakarta dan Tangerang.

Di Bandung, Kecap Samara bekerja sama

dengan asosiasi tukang sate. Menurut Deden,

seorang tukang sate bisa menghabiskan 20 krat

kecap dalam sebulan. Sementara di Jakarta,

 

Deden sedang menjajaki kerja sama dengan

perkumpulan tukang siomay, yang kebanyakan

memang berasal dari Majalengka.

“Itu sampai ribuan orang. Di satu desa

saja sampai seribu orang yang pergi ke

Jakarta untuk jualan siomay. Sebotol habis

 

dalam 2 hari. Kemarin kita sudah ngobrol,

ternyata mereka tertarik. Selama ini mereka

menggunakan kecap merek terkenal, tapi

jatuhnya mahal. Kita tawarin kecap kita.

Kualitas sama, tetapi harganya lebih murah,”

terang Deden.

 

PRODUKSI & PROMOSI TRADISIONAL

Selain itu, Kecap Segi Tiga juga menggandeng

pengusaha yang memasok ke toko-toko atau ke

warung-warung kecil. Deden berhasil menggaet

seorang pengusaha yang memiliki jaringan toko

dan warung se-Jawa Barat. “Dia punya jaringan

500 outlet di satu kabupaten saja. Jadi kalau di

Jawa Barat ada 26 kabupaten atau kota berarti

kan lumayan,” hitungnya.

Menurut Deden, langkah tersebut dilakukan

mengingat biaya promosi yang sangat minim,

yakni 2 persen saja dari jumlah biaya-biaya

lainnya. Deden menyadari henar bahwa

 

perusahaan kecapnya lemah dari segi promosi.

Mereka hanya promosi di daerah lokal, melalui

radio dan koran. Kalaupun televisi, mereka

masih mencari yang gratis, misalnya dari

liputan media. Kecap Segi Tiga sudah pernah

diliput TVOne dan TPI (Sekarang MNC TV).

Menurutnya, ketimbang beriklan lebih efektif

mengikuti pameran. Misalnya saja pameran

Agro dari Dinas Industri dan Perdagangan.

Deden juga pernah mengikuti 2 kali pameran di

 

Singapura dan mendapat sambutan bagus dari

perusahaan negeri singa itu, sebab kecap di sana

terasa hambar. Namun untuk memasarkan ke

sana, penyalurnya belum didapat.

Pengalaman pahit pun pernah dialami Deden

dalam usahanya ini. Saat mengikuti pameran,

dia pernah mendapat pembeli dari Jakarta yang

memesan langsung 1 truk, dengan pembayaran

giro. Namun setelah kecap dikirim, giro tidak

bisa dicairkan. Selama sebulan menunggu,

hasilnya tetap sama. Ketika didatangi kembali,

kantor tersebut sudah kosong. Deden pun harus

menelan pu pahit, rugi Rp 20 juta.

Selain itu, Kecap Segi Tiga pernah bekerja

sama dengan sebuah pesantren terkenal

binaan dai kondang di Bandung yang banyak

memberikan pelatihan pada tahun 2000.

Deden berani berinvestasi karena pesantren

itu tumbuh pesat sekali. Kecapnya pun banyak

yang memesan, hingga mencapai 100 ribu botol.

Namun sayang, manajemen di dalam pesantren

itu rupanya belum bagus. Infrastruktur di

bawahnya belum siap, yang pada akhirnya malah

 

menimbulkan kekacauan dan harus dihentikan.

Hal itu pun berimbas pada perusahaan Deden.

“Tapi itu tidak membuat kita putus asa,” ucapnya.

Kelemahan bukan hanya dari promosi saja,

melainkan juga dari bagian produksi. Misalnya,

alat produksi yang digunakan masih sangat

tradisional. Untuk pengisian pun belum semi

otomatis. Walaupun sadar bahwa ada proses yang

 

memang tidak bisa dilakukan oleh mesin, seperti

fermentasi, Deden tidak ingin menggunakan

bakteri sintesis. Dia tetap menggunakan jamur

yang biangnya disimpan dalam lemari sejak

tahun 198o—meski prosesnya membutuhkan

waktu sebulan. Menurutnya, penggunaan bahan

sintesis akan mengubah kekhasan rasa kecap

Segi Tiga.

 

“Untuk fermentasi di tong pun bisa saja

kita pakai wadah stainless, tapi rasanya akan

berbeda. Makanya kita tetap pakai tong dari

kayu jati. Pokoknya untuk proses produksi

sebelum digodok itu tetap dipertahankan. Kalau

tidak ada jamur itu, kita tidak bisa produksi.

Karena bahan utamanya di situ,” paparnya.

Untuk bahan baku, Deden mengambil kedelai

hitam dari Jawa Tengah karena kualitasnya

lebih baik ketimbang kedelai impor dari Cina.

Apalagi bahan kedelai yang memakai bahan

pengawet sangat berpengaruh pada kualitas

kecap. Namun, proses mendapatkan bahan baku

ini tidak selalu berjalan mulus. Misalnya, ketika

petani yang menyuplai kedelai mengalami gagal

panen. Untuk itulah, Deden berencana bermitra

dengan petani Majalengka.

Deden memprediksi bahwa bermitra dengan

petani Majalengka untuk menanam kedelai

hitam di daerah tersebut akan memecahkan

permasalahan. Ongkos produksi otomatis

 

banyak terpangkas. Berdasarkan uji coba,

 

hasilnya memuaskan. Bahkan lebih baik dari kedelai

hitam Jawa Tengah. “Kotoran tanahnya itu

enggak ada karena proses panennya juga beda.

Kalau di sana dirabut sehingga tanahnya ikut.

Kalau di Majalengka diarit,”jelasnya. Sementara

 

untuk gula, Deden mengambil dari beberapa

daerah seperti Bandung, Purwokerto, dan

Ciamis, karena ketiganya merupakan penghasil

gula aren berkualitas.

Dalam sebulan, pabrik kecap Deden menghasilkan

 

30 ribu botol berbagai ukuran, yakni

140 ml, 250 ml, dan 500 ml. Sementara untuk

standing pouch dibuat ukuran 350 ml dan 600

ml. Ukuran lama, yakni 250 ml dan 500 ml

juga tetap diproduksi. Omzetnya berkisar Rp

300-400 juta sebulan. Deden juga memasok

produknya ke koperasi bersama yang berada

di dekat pabriknya, selain menjual ke agen di

Subang, Jakarta, Bandung, dan Bekasi. Untuk

pasar di luar Majalengka itu, pengiriman

dilakukan secara langsung.

MANAJEMEN PERSAINGAN

Di Majalengka sendiri peta persaingan kecap

lokal tidak terlalu ketat, mengingat pelakunya

tinggal 10 perusahaan. Selain itu, tidak ada

pengusaha lokal yang memasuki segmen yang

dibidik oleh Kecap Segi Tiga. Persaingan baru

terlihat pada segmen yang didiami Kecap

Samara. Di sanalah ke-10 produsen yang masih

bertahan memperebutkan segmen yang diambil

Kecap Samara.

 

Namun, persaingan tentu saja muncul

dari merek-merek kecap nasional. Dan, yang

membuat Deden tersanjung, dia sempat diajak

bekerja sama menyuplai produksi untuk

 

memenuhi permintaan pasar mereka. Namun,

tawaran tersebut ditolaknya secara halus, melihat

pengalaman beberapa UKM di sekitarnya yang

berakhir hanya sebagai penyedia produk semata

atau diambil alih.

Menipisnya persaingan membuat Deden

senang bercampur sedih. Senang, karena

 

tidak banyak pesaing. Sedih, karena hal ini

menunjukkan tidak adanya persatuan di antara

pengusaha lokal. Pernah Deden menggagas

asosiasi pengusaha kecap di tahun 2000, namun

yang terjadi hanya penolakan. Dia malah dicap

sebagai pesaing yang akan mengambil lahan

pasar mereka. “Ternyata mereka takut karena

hanya melihat kita sebagai pesaing, takut

lahannya diambil. Itu masih ada yang kayak

gitu. Kalau saya mah, walaupun pesaing masih

teman juga,” sesalnya.

Padahal, misi yang diusung Deden adalah

 

membuat koperasi pemasaran kecap bersama.

Dengan adanya koperasi, masalah tersebut

bisa diatasi lebih mudah. Sesama pengusaha

kecap bisa bahu-membahu mempertahankan

usahanya sehingga tidak mudah gulung tikar.

Apalagi, ada kalanya datang masa-masa suram

musiman untuk pengusaha kecap. Misalnya,

ketika kedelai hitam sulit didapat.

Sejak diterpa badai krisis tahun 2007

hingga kini, kedelai cenderung lebih sulit

dicari. Kalaupun ada, harganya naik hingga

20 persen, sementara harga kecapnya hanya

naik 5 persen setahun sekali, yakni menjelang

Lebaran. Padahal, bahan baku memakan 50

persen ongkos produksi. Jika saat krisis moneter

1997 tetap laris manis dengan keuntungan bisa

mencapai 50 persen, pada krisis global ini

mendapatkan keuntungan 10-20 persen sudah

sangat bagus.

Tak ingin usahanya hanya bermanfaat

untuk keluarga pribadi, Deden menaati ajaran

kakeknya agar perusahaan Kecap Segi Tiga

juga banyak memberi manfaat bagi masyarakat

 

melalui Yayasan Al Lukman. Laba perusahaan

dipakai untuk membangun gedung sekolah (TK

dan Madrasah Diniyah).

Agar semakin menyentuh masyarakat, Kecap

Segi Tiga harus terus mengikuti perkembangan

masyarakat. Seperti kisah terciptanya jenis

kecap rasa manis, ke depannya pun Deden

siap membentuk varian apa saja, jika memang

diinginkan pasar. “Kita mau bikin rasa stroberi.

Enggak ada, kan? Misalkan masyarakat suka,

kenapa kita enggak buat?” cetusnya sambil

tersenyum lebar.

 

Deden juga sudah mulai membiasakan

kedua anaknya berwirausaha, agar jangan

hanya mencari pekerjaan saja. Apalagi

menjadi pegawai negeri sipil (PNS). “Saya

sering dipanggil sharing, sama teman-teman

perguruan tinggi. Kita mencoba membuka

mindset, jangan sampai para kaum terpelajar

hanya terpaku menjadi PNS saja. Dari 10 pintu

rezeki, 9 di antaranya berasal dari usaha. PNS

hanya ada di 1 pintu itu. Jadi, kita harus buka

kemandirian,” demikian tutup pelaku usaha

mikro ini.

 

Catatan Rhenald Kasali

DI SELURUH WILAYAH Nusantara selalu ditemui dua tipe pengusaha. Pengusaha

 

nasional yang berambisi menjadi market leader dengan modal besar dan serbe

 

massal, dan pengusaha lokal yang hanya berambisi mengisi ceruk-ceruk kecil

 

di wilayahnya. Yang partama dibangun dengan kekuatan merek dan televisi,

 

sedangkan yang kedua dibangun dengan kekuatan rasa (produk) dan radio (atau

 

kekerabatan pedagang).

Pengusaha-pengusaha mikro yang bekerja dengan dua hingga tiga orang

 

pekerja, dengan perabotan produksi seadanya, akan punah dengan sendirinya

 

kalau merek tidak mengikuti irama evolusi. Selera pasar akan berubah,

kendati jaringan distribusi tetap diam di tempat dan loyal memasarkan

 

produk-produk buatan mereka. Demikian pula alam semesta ini ikut berubah

 

membuat peta perjalanan dan pasokan bahan baku dan metode pembayaran

berubah. Ini berarti pengusaha-pengusaha mikro dan kecil harus ikut

 

berubah, beradaptasi, dan tentu saja harus naik kelas.

Demikian pulalah dengan produk kecap. Setiap daerah memiliki lidah yang

 

tidak sama karena mereka mengonsumsi makanan-makanan lokal yang berbeda-

 

beda. Di satu daerah seleranya manis, di daerah lain tidak suka yang

 

manis, melainkan pedas, dan daerah lainnya senang yang ada rasa cuka dan

 

seterusnya. Namun, masing-masing mereka bisa mengalami masalah yang sama

 

yaitu serbuan makanan nasional yang dipasarkan melalui jaringan waralaba

 

dan beralihnya kedelai ka tangan produsen-produsen besar.

Dari perjalanan Kecap Segi Tiga kita belajar bahwa usaha mikro memang

 

tangguh dan tahan banting, namun juga ringkih dan mudah gugur kalau

 

fondasinya dibangun di atas pasar yang rapuh. Di masa depan, UMKM (Usaha

Mikro Kecil dan Menengah) memerlukan lebih dari sekadar semangat dan kerja

 

keras, melainkan visi besar, ambisi untuk maju, dan pengetahuan yang

 

memadai untuk memperbaiki produk, melakukan adaptasi, memperbaiki

manajemen, dan seterusnya.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

1 comment:

merah putih said...


mantep informasinya. untuk berita lengkap lainnya bisa kunjungi
berita terkini
berita otomotif
berita bola