Sunday, April 14, 2013

Koheri Latief, PHK Membawa Hikmah, Setelah di-PHK Koheri Sukses Raup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Sandal Hotel

Koheri Latief, Sandal Katrok Masuk Hotel

Sandal hotel yang ringan dan lembut

sering kali masuk di koper kita setelah

meninggalkan hotel. Bukan hanya

karena fungsinya, tetapi juga sebagai

tanda bahwa kita pernah menginap di

hotel tersebut.

 

Bisa jadi salah satunya adalah sandal

katrok produksi Koheri Latief. Ketika

pertama kali menjajakannya melalui

email, pria yang akrab dipanggil Koheri ini

memperkenalkan diri sebagai perajin sandal

katrok. Hal ini dilakukan untuk menarik

perhatian, meski kunci utamanya tetaplah

kualitas, on time delivery, dan harga yang

kompetitif.

Kisah Koheri menggeluti usaha ini pun tidak

sengaja. Tahun 2002 ketika menjadi korban

PHK, Koheri merasa mati kutu. Dia berpikir

keras untuk memulai usaha, namun belum juga

mendapatkan ide. “Mimpinya sederhana, dan

awalnya yang penting memiliki penghasilan

lebih baik daripada gaji saat masih menjadi

pegawai,” terang Koheri mengenang masa awal

ingin memiliki usaha. Saat itu Koheri berusia 36

tahun.

Dan, yang namanya ide memang dapat

muncul dari arah tak terduga. Ketika datang

 

kerumah salah satu temannya, ia melihat jajaran

botol sampo, sikat gigi, dan sabun ukuran mini.

 

“Saya tanya, ini apa? Buat apa? Dikirim ke mana?

Terus dia jawab, kalau itu semua buat ngisi ke

hotel,” cerita Koheri tentang ide usahanya.

SANDAL PENOPANG PHK

Koheri pun mendapat ide untuk membuat sandal

hotel. Ia mencari informasi dan dikenalkan ke

salah seorang perajin sandal di daerah Depok.

 

Awalnya berniat untuk sekadar bertanya, yang

terjadi justru sebaliknya. Mereka sepakat bekerja

sama dan Koheri mendirikan UD Herry Sandal

pada tahun 2003 dengan menjual rumahnya

seharga Rp 6o juta untuk modal usaha.

Meski masih dalam taraf belajar membuat

sandal, Koheri nekat menjajakan sendiri sandal-

sandalnya ke berbagai hotel, secara door to

door pada 2003. Dia hanya mengikuti intuisi

saja, melihat bahwa para calon pembeli lebih

mudah tertarik dengan barangnya jika melihat

langsung, ketimbang hanya dikirimi email

atau proposal. Dengan door to door, dia bisa

menjelaskan langsung kualitas barangnya. Hal

ini terus dilakukan Koheri seorang diri.

Di bulan pertama, Koheri berhasil menyuplai

sandal untuk Hotel Santika Cirebon dan Hotel

Bentani Cirebon. Namun, bukan keuntungan

yang didapat. Justru selama 6 bulan pertama

Koheri merugi karena biaya produksinya

terlalu tinggi, sementara pemasukan tidak

seberapa. Koheri pun menganggap proses

itu sebagai pembelajarannya. “Bisa dibilang

 

setahun pertama tidak ada keuntungan yang

berarti,” kenangnya, “Baru setelah setahun saya

merasakan nikmatnya usaha sandal.”

Selama setahun itu Koheri bisa dikatakan

bekerja apa saja, karena usaha sandalnya belum

menguntungkan. “Ada permintaan membuat

pensil, saya ambil. Ada yang meminta dibuatkan

tisu, saya iyakan,” ujarnya tergelak. Meskipun

untungnya kecil, tetapi usaha-usaha ini cukup

membantu mengamankan kondisi keuangannya.

Meski kecil, cash flow-nya berputar balik.

Minimal gaji dan tagihan listrik bisa dibayarnya.

Setelah bersabar setahun, usaha sandal

Koheri pun mulai mendapat sambutan bagus

dari pelanggannya. Kepuasan manajemen

Hotel Santika dan Bentani pada produk sandal

Koheri berbuah baik untuk bisnisnya. Dia

direferensikan ke cabang-cabang lain dalam

kelompok hotel tersebut, bahkan ke sesama

pengusaha hotel. Hingga Mei 2011, Koheri telah

menyuplai sandal ke sekitar 50 hotel di Cirebon,

Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta,

Bandung, Jakarta, Bogor, dan Sumedang. Untuk

 

luar Pulau Jawa, sandal Koheri sudah menginjak

Balikpapan dan Belitung. Selain hotel, sandal

Koheri pun diminati oleh rumah sakit.

Sayangnya karena faktor kepercayaan,

kemitraan Koheri dengan perajin di Depok tidak

berumur panjang. Koheri kemudian membuat

usaha sendiri di Plered, lalu di Cirebon pada

2006.

Karena mengandalkan promosi mulut ke mulut

 

dari kliennya, Koheri mengaku tidak mengenal

langsung customer-nya. Transaksi yang mereka

lakukan hanya bermodal kepercayaan. Begini

sistem kerjanya: customer mengirimkan contoh,

Koheri kemudian membuatkan mock up yang

dikirim kembali untuk mendapat persetujuan.

Persetujuan ini memang sangat penting karena

setiap hotel biasanya memiliki desain sendiri

yang harus dipenuhi oleh Koheri. Misalnya

urusan pemakaian warna yang sesuai dengan

warna hotel tersebut. Koheri mengaku, kadang

ia juga memberi masukan terhadap desain yang

diinginkan konsumen. Tetapi, pada dasarnya ia

tidak mengubah terlalu banyak dari contoh yang

diajukan. Setelah mock up disetujui, proses

pembuatan sandal baru dijalankan.

Mengenai penetapan harga, Koheri berkata,

“Harga pokok produksi ya dihitung semua,

seperti bahan baku spons, lem, benang,

dan lain lain. Kemudian menghitung biaya

 

tenaga kerja dan ekspedisi. Untuk lingkup

Cirebon, kita pakai mobil sendiri. Kalau di

luar Cirebon, menggunakan ekspedisi yang

sudah berlangganan. Tapi terkadang konsumen

meminta ekspedisi yang dia percaya. Itu juga

bisa.” Setiap karung biasanya berisi 500 pasang

sandal yang dibagi-bagi dalam 50 kemasan plastik.

Jumlah pesanan dari setiap hotel memang

tidak sama, tergantung kebutuhan hotel itu

sendiri. Namun, agar biaya ekspedisinya tidak

terlalu mahal, untuk Pulau Jawa biasanya

Koheri mematok jumlah sandal minimal. “Oasis

Amir Hotel, Marbella, dan Parama itu biasanya

order sekitar 5.000 per bulannya, sedangkan

Hotel Santika Balikpapan itu sekitar 6.ooo per

bulan,” ujarnya memberi contoh.

MENOLAK DOWN PAYMENT

Koheri memegang teguh nilai-nilai yang harus

dipegang seorang pengusaha, seperti kejujuran,

kedisiplinan, dan keuletan. “Kejujuran adalah

 

hal yang paling tidak bisa ditawar. Tanpa itu saya

tidak akan mau berbisnis,” tegasnya. Sementara

kedisiplinan dibutuhkan agar dapat bertahan

walau kondisi tidak memungkinkan untuk

dilakukan, dan keuletan sangat membantu pada

saat menghadapi masa sulit dan tekanan yang

datang bertubi-tubi.

Menurut Koheri, kualitas dan pengiriman

yang tepat waktu menjadi faktor utama kelancaran

 

bisnisnya. Pasalnya, Koheri pernah

mendapatkan pengalaman pahit urusan pengiriman

 

barang. Ia pernah menggunakan

perusahaan ekspedisi yang kurang cermat

sehingga barang yang seharusnya berangkat

 

ke Bogor dikirim ke Bandung, begitu juga

sebaliknya. Di sinilah kredibilitas usaha

 

dipertaruhkan. Dia menuai protes atas kelalaian

yang bukan dilakukannya.

“Tapi saya belajar cerdik, ada copy bukti

kirim dari ekspedisi, kan. Saya kirim itu,

maka yang ada memang saya sudah kirim.

Cuma kenyataannya, di lapangan itu tertukar.

Diharapkan dia memaafkan saya. Tapi kalau

kita tidak bisa berargumentasi kayak begitu,

ya tadi, secara on time delivery saya kalah.

Kalau on time delivery kalah, hotel sudah

 

kehabisan sementara saya belum kirim. Jelek dong

kesannya. Dia pasti pindah ke tempat lain,”

paparnya. Ketepatan dan kecepatan perusahaan

 

ekspedisi termasuk faktor penting demi

 

mencegah customer-nya kabur.

Dari pengalaman tersebut Koheri selalu

berpesan kepada customer-nya untuk

 

memberitahu jika stok di hotel sudah menyentuh

kisaran 200-300 pasang. Sebab jika hotel

kehabisan sandal, sudah dipastikan toko

mana pun tidak ada yang menjual sandal

hotel tersebut. Dengan menjaga stok di kisaran

 

tersebut, hotel tidak sampai kehabisan

persediaan sandal dan Koheri mempunyai

cukup waktu untuk menyediakan sandal yang

dibutuhkan. Hal ini sudah termasuk waktu

pengiriman dari perusahaan ekspedisi di

sekitar Pulau Jawa yang memakan waktu 1

hari. Koheri memberikan keleluasaan kepada

customer-nya untuk menggunakan perusahaan

ekspedisi yang dipercaya. Jika customernya

 

menyerahkan kepada Koheri, baru dia

menggunakan perusahaan ekspedisi yang sudah

menjadi mitranya.

Urusan kualitas pun Koheri tak kalah berhati-

hati. Hal ini dipelajarinya dari pengalaman

pahit ketika ada pesanan dari salah satu hotel di

Malang, akibat PO (Purchase Order, dokumen

pemesanan) tertanggal 20 baru dibacanya

tanggal 25. Padahal, hotel tersebut sudah amat

membutuhkan sandal. Keterlambatan respons

Koheri membuat stok sandal keburu habis.

 

Koheri pun membuat sandal dengan terburu

buru tanpa mengontrol apakah sesuai seperti

yang biasa dikirimkan ke hotel tersebut, yakni

sandal mengilat. Seribu enam ratus pasang

sandal pun segera dibuat dan dikirim.

Heri tidak menyadari bahwa sandal-sandal

tersebut berbeda warna dan tidak mengilat.

Alhasil hotel tersebut mengirimkan kembali

sandal-sandal Koheri karena dianggap tidak

sesuai pesanan. Selain kerugian biaya produksi,

 

Koheri juga menelan kerugian akibat

pengiriman barang kembali. Nama baiknya pun

dipertaruhkan. Kliennya bisa saja berpindah

hati ke perajin lainnya. “Ketika tidak memenuhi

kualitas, dampaknya di saya,” cetusnya. Sandal-

sandal tersebut juga tidak bisa dijual ke mana

pun, karena nama hotelnya sudah tercantum.

Pun, tidak bisa didaur ulang. Sebagai pengusaha

kecil dan pemula, kerugian yang didapatnya

kala itu cukup besar, Rp 5 juta.

Di luar faktor pengiriman dan kualitas, Koheri

juga belajar untuk memiliki mitra kerja yang tidak

membuatnya rugi. Meski banyak yang berminat

menjadi agen sandal, Koheri hanya memberi

porsi 20 persen. Sedangkan 80 persennya, Koheri

memasok langsung ke hotel dan rumah sakit.

Dia pernah mengalami pengalaman pahit

ditinggal kabur agen sandalnya pada tahun 2004.

 

Awalnya, orang tersebut yang mengajak bekerja

sama. Koheri pun diajak ke tempat tinggalnya,

sebuah kos-kosan di Bandung. Secara kasat

mata, orang tersebut tampak berduit, terlihat

dari mobilnya yang berganti-ganti. Koheri pun

menyediakan sandal untuknya. Pembayaran

dilakukan dengan bilyet giro, yang ternyata

kosong. Dua kali dikirim nota, tidak juga dibayar.

Ketika dicari di kosannya, orang tersebut telah

pergi.

Hampir setiap hari Koheri menelepon ke

Surabaya, yang membuat tagihan teleponnya

membengkak. Hingga pada suatu titik, Koheri

memutuskan untuk merelakannya. Namun

sejak itu, Koheri meninggalkan perasaan ‘tidak

enakan’ dalam berbisnis. Ketika ada orang baru

yang ingin menjadi agen dan minta disediakan

sandal, dia dengan tegas meminta pembayaran

lunas sebelum sandal dibuat.

 

“Saya enggak mau sistem DP. Kalau DP

separuh, setelah sandal jadi dan dikirim,

masih perlu mengirim tagihan lagi. Saya mau

pembayaran full dulu. Logikanya, ketika sandal

saya sudah jadi lalu dia cancel, sandal itu jadi

sampah. Saya enggak mau seperti itu terulang

lagi,” jelasnya. Namun, perlakuan itu hanya

khusus untuk agen. Sementara untuk customer

tetap, yakni pihak hotel dan rumah sakit, Koheri

menggunakan asas kepercayaan, mengingat

mereka adalah customer yang setiap bulannya

sudah pasti memesan sandal dalam jumlah besar.

NIKMATNYA MUSIM LIBURAN

Setiap bulan, rata-rata Koheri memproduksi 80

ribu pasang sandal untuk menyuplai ke seluruh

hotel dan rumah sakit yang menjadi kliennya,

juga agen-agen sandal. Namun angka produksi

ini bisa meningkat hingga 2-3 kali lipat ketika

liburan sekolah, tahun baru, dan Lebaran.

Di ketiga musim ‘hot’ tersebut, permintaan

dari hotel bisa meningkat. Yang biasanya

memesan seribu pasang, menjadi dua ribu

pasang sandal. Namun, di antara 3 musim ramai

tersebut, Lebaran-lah yang paling mendapat

perlakuan istimewa. Pasalnya, tenaga kerja

libur nyaris 2 minggu, sementara hotel malah

 

sedang ramai-ramainya dengan tamu. Belum

lagi, perusahaan ekspedisi pun libur sejak H-3

hingga H+3 hari raya.

Pada awal usahanya, Koheri pernah kelabakan

 

hingga mengirim barang sendiri ke

kliennya karena sudah tidak ada perusahaan

ekspedisi yang beroperasi menjelang Lebaran.

Hal tersebut dilakukannya demi menjaga

kliennya tidak berpindah ke lain hati. Padahal

ongkos untuk pengiriman saja sudah cukup

tinggi.

Belajar dari itu, Koheri mewanti-wanti

customer-nya bahwa batas waktu order adalah

3 minggu sebelum Lebaran. Barang dikirim

beberapa hari sebelum hari raya. Lewat dari

masa itu, order yang datang terpaksa ditolaknya.

Mau tidak mau, hotel akan mengikuti aturan

tersebut karena tidak berani mengambil risiko

 

kehabisan stok sandal saat pengunjung

melimpah. Sehingga jauh sebelum Lebaran,

persediaan sandal mereka sudah cukup hingga

beberapa minggu pasca-Lebaran.

Tapi, banyaknya permintaan saat musim liburan

 

itu tak lantas membuat Koheri menaikkan

harga jualnya. Meskipun di saat Lebaran harga

bahan pokok menjulang, dia tetap menerapkan

harga yang sama. Koheri menyadari sulit

baginya menaikkan harga sandal saat Lebaran,

 

mengingat bahan bakunya, spons, yang didapatnya

 

dari Tangerang pun harganya relatif

stabil. Hanya saat harga BBM naik, customer

akan memaklumi jika Koheri meningkatkan

harga sandalnya.

“Kalau beli gula, beli heras, menjelang

Lebaran kan harga naik. Kalau saya mah tetep.

Aneh gitu. Pengennya ngaruh dong, biar saya

juga rezekinya banyak,” ujarnya dengan logat

Sunda yang kental sambil tertawa. Namun

sepanjang 8 tahun usaha sandal ini, dia masih

mampu memenuhi permintaan. Jika kekurangan

modal, dia masih dibantu oleh bank bjb yang

sudah meminjaminya uang 3 kali, yakni Rp 25

juta pada tahun 2005, Rp 30 juta pada tahun

2007, dan terakhir Rp 40 juta.

Apalagi, persaingan tampaknya tidak

 

menjadi masalah. Usaha Koheri berada di

kawasan kotamadya, sementara perajin sandal

lainnya biasanya berada di kawasan kabupaten.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Koheri

tidak punya pesaing yang berarti. Ia memiliki

akses yang jauh lebih besar untuk berhubungan

dengan hotel di mana pun. “Sengaja beda

sendiri,” imbuh pria berusia 45 tahun ini sambil

tergelak.

Pada prinsipnya, Koheri tidak pernah pilih

pilih, “Konsumen dari berbagai macam tingkat

hotel, dari mulai hotel bintang satu sampai lima

dan diamond, semua saya layani.” Bahkan beberapa

 

temannya menjadikan sandal buatan

Koheri sebagai oleh-oleh! Koheri menyikapinya

dengan santai. Selama ada peluang tersedia,

Koheri yakin akan terus memanfaatkannya.

 

MANAJEMEN USAHA

Namun, yang namanya usaha, tidak selalu berjalan

 

semanis harapan. Koheri kembali harus

menutup tempat usahanya pada tahun 2010 yang

diprotes warga sekitar karena bau lem yang menyeruak.

 

“Padahal saya kurang apa ya sama mereka?

 

Ketika saya bikin usaha di situ, anak muda

di sekelilingnya kan saya rekrut. Walaupun,

talentanya tidak ada. Dididik dulu,” tuturnya

heran.

Jadi, untuk sementara Koheri memproduksi

sandal-sandal di 3 rumah kecil miliknya. Koheri

 

masih mengincar daerah di pinggiran

Cirebon untuk menjadi tempat produksinya.

Dia beralasan, jika di pinggiran, bau lem

yang merebak saat pembuatan sandal tidak

akan mengganggu penduduk sekitar. Namun

tempatnya masih dalam pencarian, alias belum

ketemu.

Kesulitan mencari lokasi ini memang terkait

dengan idealisme Koheri untuk memberdayakan

masyarakat sekitar namun mereka tetap

tidak terganggu dengan proses produksinya.

 

“Kalau dapat seperti yang di Plered itu enak,”

ujarnya. “Tidak menimbulkan benturan dengan

masyarakat sekitar, mengingat di desa itu

masyarakatnya juga perajin sandal.”

Selain itu, dalam waktu sepuluh tahun mendatang

 

Koheri berharap sudah memiliki pabrik

sendiri, lengkap dengan kantor berkaca di atasnya,

sehingga mudah mengawasi proses produksi secara langsung.

Dengan jumlah karyawan sekitar 30 orang—

per orangnya bisa memproduksi 3 ribu pasang

sandal per harinya—Koheri ingin agar produknya

bisa menjelajah pasar yang lebih luas lagi. Baru

baru ini, dia sudah berhubungan dengan calon

klien dari Singapura yang meminta sampel dan

mock up. Sayangnya, hingga saat ini Koheri

belum mendapat tanggapan positif. Selain itu,

Koheri juga ingin menjelajah pasar yang lebih

besar, yakni Timur Tengah.

Terkait masalah tenaga kerja, kedepannya

Koheri berencana memiliki karyawan profesional

 

seperti kepala pabrik dan akuntan.

Namun, penggunaan tenaga profesional masih

 

harus dilihat dari kemampuan produksi dan

pemasukan keuangan. Untuk saat ini, dengan

kondisi tempat usaha dan permodalan yang ada,

menggunakan tenaga profesional hanya akan

menambah beban biaya produksi. Oleh sebab

itu semua pekerjaan—mulai dari pengawasan

produksi, penggajian karyawan, penagihan,

hingga penawaran produk—masih dilakukan

sendiri oleh Koheri dan istrinya.

Koheri mengaku saat ini belum bisa

 

memercayakan orang luar untuk mengurus manajemen

usahanya karena khawatir ditipu. “Banyak

 

kejadian begitu manajemen diserahkan kepada

orang luar, pengawasan oleh pemiliknya masih

lemah, sehingga banyak terjadi penipuan,”

tuturnya. Dengan mengerjakan sendiri, Koheri

mengaku kadang terjadi perselisihan dengan

istri, meskipun tidak pernah besar. “Paling

sekadar masalah salah pesan atau salah

membeli,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara untuk buruh kasar, Koheri

mempekerjakan orang-orang di sekitar lokasi

usahanya yang dipilih berdasarkan kekerabatan

 

dengan orang yang telah bekerja sebelumnya.

Koheri menyerahkan urusan pelatihan

 

keterampilan karyawan baru pada orang yang

membawanya, sebab kebanyakan dari mereka

sama sekali belum memiliki keterampilan.

Biasanya, mereka akan menjadi terampil setelah

bekerja selama satu hingga tiga bulan.

Namun untuk kesetiaan pegawainya, Koheri

merasa tidak memiliki jaminan. Bukan saja

dibajak oleh perajin lain setelah memiliki

keterampilan, karyawan yang pergi pun kadang

mencuri informasi tentang pemesanan sandal.

Padahal, persaingan di antara sesama produsen

sandal hotel sangat ketat, hingga masing-masing

produsen menyembunyikan dengan baik siapa

saja pelanggan yang mereka miliki. Maka,

ketika karyawan dibajak, info penting pun bisa

berpindah tangan. “Beberapa kali tiba-tiba

pelanggan membagi dua pesanan, satu kepada

kita, satu lagi kepada saingan yang membajak

karyawan kita itu,” ujar Koheri prihatin.

Jika karyawan sudah terampil, sebenarnya

menurut Koheri tidak ada masalah lagi.

 

Dalam bisnisnya, inovasi produk tidak terlalu

 

dibutuhkan, sebab konsumen sudah mempunyai

 

bentuk standar masing-masing. Bagi

Koheri, yang lebih penting adalah menekan

biaya produksi serendah-rendahnya yang

dapat dicapai dengan membuat produk dalam

kuantitas sebanyak-banyaknya.

Pembayaran honor pekerjanya dilakukan

setiap akhir minggu mengikuti tradisi upah

mingguan yang berlaku dalam industri ini.

Mungkin itulah penyebab turunnya

 

produktivitas pada setiap Senin, karena karyawan

masih terbawa suasana libur hari Minggu

sehingga hari Senin kurang semangat bekerja.

“Mereka masuk semaunya dan jam kerja

diabaikan,” kisahnya. Untuk mengatasi masalah

 

tersebut, Koheri menggunakan sistem borongan,

 

yaitu memperpanjang jam kerja hari

Sabtu. Koheri memberi insentif lebih untuk

setiap kelebihan produksi yang mereka hasilkan

pada hari Sabtu, sehingga kekurangan pada hari

Senin dapat tertutupi.

 

Dia berkeyakinan, bisnis sandalnya masih

 

menjanjikan dan terbuka lebar untuk

menyentuh seluruh hotel maupun rumah sakit

di Indonesia. “Modal berapa pun masuk, pasti

habis. Begini, pasar kita ke nasional masih

terbuka luas. Sekarang modal saya sudah di atas

Rp loo juta. Ketika saya punya modal di atas Rp

200 juta-300 juta, jelas dong lebih lebar, lebih

luas. Ngisi ke hotelnya lebih banyak,” ujarnya

yakin.

Koheri mengaku kini sedang menikmati

jadi pengusaha dengan omzet Rp 100 juta

per bulan, ketimbang kala menjadi pegawai.

Menurutnya, dialah yang menentukan besaran

gajinya sendiri. Apalagi keuntungan usahanya

mencapai 10-15 persen dari omzetnya per bulan.

“Jadi pengusaha itu, gaji kita tetapkan sendiri,

saya pengen targetnya mau gaji berapa, Rp

10 juta, targetnya sekian,” cerita bapak 4 anak

yang ditemui di rumahnya di Taman Indah,

Kecamatan Harjamukti, Cirebon, dengan bangga.

 

Catatan Rhenald Kasali

USAHA KECIL ADALAH usaha pemula yang menggantungkan keberhasi1annya pada

 

diri Anda sendiri. Andalah yang menentukan usaha ini berhasil atau tidak,

 

menjadi besar atau tetap kecil, berputar atau teronggok mati.

Usaha kecil serba terbatas: modal tarbatas, karyawan sadikit, lokasi

 

barpindah-pindah, dan seterusnya.

Namun saat Anda memulai usaha dalam nuansa ‘penuh keterbatasan’ itulah Anda

 

merasakan ‘berkelebihan’. Anda menjadi lebih efisien lebih berhati-hati,

 

dan lebih teliti. Berbeda benar dengan usaha yahg bisa langsung

 

mempekerjakan banyak orang dengan space yang luas. Anda dapat lihat

 

sendiri, orang banyak mengangur dan tidak produktif. Jadi, tetaplah

 

produktìf meski penuh keterbatasan.

Supaya usaha Anda tidak stagnan maka Anda harus punya keberanian, untuk

 

berubah. Berubah atau mendiamkan terbawa arus gejolak jiwa adalah suatu

 

pilihan. Hidup hari ini seperti kemarin atau hari ini lebih baik

daripada kemarin. Anda sendiri yang memilihnya, Banyak orang memilih hidup

 

yang stagnan sehingga masalah yang dihadapi dari hari ke hari tetap sama.

 

Sulitnya tetap sama. Rezekinya pun tetap sama.

Padahal masalah yang Anda hadapi adalah ancaman bagi keberlangsungan usaha

 

Anda, namun peluang bagi mereka yang mau memperbaikinya. Orang-orang yang

 

melihat bagaimana cara kerja Anda akan memukul Anda dengan cara-cara yang

 

lebih efisien dan 1ebih modern.

Oleh karena itu janganlah tanggung-tanggung dalam berusaha. Anda hanya

 

punya dua pilihan menjadi pengusaha biasa-biasa saja, sekadar menumpang

 

hidup, atau menjadi pengusaha luar blasa. Pengusaha luar biasa tidak

 

berusaha yang tanggung-tanggung. Tutup semua kekurangan dengan menunda

 

kesempatan hidup bermewah-mewah dan memperbesar investasi, baik dalam fisik

 

(bangunan) maupun nonfisik (citra usaha, sistem, keterampi1an

 

karyawan, hubungan jangka panjang, dan seterusnya).

Perhatikanlah pengusaha-pengusaha mikro dalam buku ini. Di antara mereka

 

ada yang sudah berpikir jauh ke depan, namun juga ada yang masih

 

terbelenggu masalah rutin yang sama sepanjang hari. Sekali lagi, Anda bebas

memilih.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

No comments: