Sunday, April 14, 2013

Sanin, Mantan Tukang Becak yang kini Jadi Juragan Garam dengan 50 Karyawan

Sanin, Berkah Garam Seorang Tukang Becak

 

Sepuluh tahun bertekun mengayuh becak

tak membuat Sanin menyerah begitu saja

terhadap nasib. Keringat yang mengucur

akhirnya mengkrista1 bagai garam.

Asinnya garam membuat kehidupan Sanin

tak lagi hambar.

 

 

DARI seorang tukang becak, Sanin meniti

usaha sebagai pembuat garam dapur dan pupuk

yang kini beroleh sukses. CV Sanutra Utama

 

yang didirikannya tahun 1985 dengan

modal awal Rp 1 juta dan dikerjakan sendiri,

 

kini telah memiliki 50 pekerja dan 0mzet

 

Rp 200 juta per bulan. Pemikirannya sederhana

 

saja: di Cirebon sangat banyak dan mudah

 

mencari bahan garam. Lalu, di usia 35 tahun,

 

Sanin pun mendirikan pabrik garam.

Memang bukan perjalanan yang mudah. Kesulitan

 

Modal pun masih dirasakannya hingga sekarang.

 

Namun, kalau sejak dulu ia mudah berputus

asa, mungkin bukan seperti ini hidup yang sekarang

 

digenggamnya.

 

PRODUKSI GARAM YANG BERBUAH MANIS

Selama 5 tahun mengayuh becak di Cirebon, Sanin

 

mengamati Cirebon sebagai sentral garam. Melihat ada

 

peluang untuk memperbaiki kualitas hidupnya, ia pun

 

berganti haluan. Becak ditinggalkan dan beralih menjadi

 

karyawan perusahaan garam sebagai pencetak garam dapur.

 

“Kerja dulu nyetak garam, berguru selama 5 bulan. Setelah

 

bisa, bikin sendiri di rumah. Dulu sama istri nyetak sendiri,

 

manggang sendiri, dipasarkan sendiri, kita kan pakai

 

sepeda dulu,” tutur Sanin. Usaha yang dirintisnya

ini terus bergulir. Sanin pun tak lagi hanya mengandalkan

istrinya. Ia mulai mengambil tetangga sekitarnya untuk

 

bekerja di pabrik garamnya. “Mereka datang sendiri

 

karena butuh pekerjaan,” kenang Sanin.

Mungkin para penduduk di sekitarnya mulai

merasakan pertumbuhan usaha garam Sanin.

Jadi, Sanin pun tak perlu pilih-pilih. “Rata-rata

saya sudah kenal dengan mereka. Jadi ketika

mereka minta pekerjaan, ya saya berikan,”

ujarnya lugas. Kini, ada 8 orang yang bekerja

 

di ladang garam, 30-an orang di pabrik, 6 orang

bagian distribusi, dan 4 orang sales.

Sanin sendirilah yang melatih semua pekerjanya

 

mengenai segala hal pengolahan garam. Ia fasih

 

mengenai pekerjaan di ladang garam, mengumpulkan

 

butir garam hingga menggenjot cetakan, juga

 

memasukkan dalam kemasan yang siap dijual.

 

“Kalau ada pelatihan mengenai pengolahan garam,

 

saya dan anak saya yang datang, sampai pernah ikut

 

pelatihan di Madura,” ujarnya. Lalu, mereka berdualah

yang mengajarkan semua karyawan. Sanin yang berhasil

 

menyekolahkan anak anaknya hingga lulus dari perguruan

 

tinggi negeri ternama di Yogyakarta kemudian melibatkan

anak-anaknya dalam usaha garam ini. Bagi Sanin, anggota

 

keluarganya adalah orang-orang yang paling mengetahui

 

dan memahami kondisi perusahaan. Merekalah orang-orang

 

yang paling tepat untuk membesarkan usaha yang

dirintisnya tersebut. “Selain itu, saya lebih tahu

 

kebiasaan anggota keluarga saya daripada

karyawan lain di luar keluarga,” ujarnya.

Jadi, tiga dari empat anaknya yang notabene

perempuan semua, kini berkecimpung mengurus garam.

 

Tak terkecuali, para suami mereka.

Bahkan salah satu menantunya kini dipercaya

 

mengepalai gudang, mengawasi produksi,

juga mengurus rekrutmen di pabrik. “Ada juga

yang mengurus pengadaan barang,” ujarnya,

“Jadi saya tinggal kontrol dan tanda tangan

untuk menjual BG.” Mungkin, firasat Sanin

tidak keliru. Hingga saat ini semua anggota

 

keluarga yang terlibat tetap rukun dan memiliki

hubungan yang baik.

Dalam benak Sanin, memang ada keinginan

 

untuk mempekerjakan orang-orang yang profesional

 

dalam bidangnya. Namun, melihat kondisi keuangan

 

dan pabrik saat ini, niat tersebut belum bisa

 

terwujud. “Ya, nantilah. Kalau sudah punya modal

 

besar dan pabriknya juga sudah besar. Saat ini kami

 

belum mampu mempekerjakan karyawan profesional,” ujarnya.

MENYIASATI KEUANGAN

Minimnya mengecap bangku sekolah sempat

membuat Sanin mengalami kesulitan saat berurusan

 

dengan pihak bank. Saat membuat bilyet biro (BG)

 

di sebuah bank swasta ternama,

Sanin kagok saat membubuhkan tanda tangan.

Semakin sering mencoba agar tanda tangannya

sama persis, semakin berbeda hasilnya.

Walhasil, Sanin pun ditolak menjadi debitur

bank tersebut, meski memiliki usaha dan mobil

sendiri serta perusahaan atas nama pribadi.

Sulitnya Sanin mencari suntikan modal mendapat

 

jalan keluar saat mulai bisa berutang ke

bank tahun 1997. Namun baru pada tahun 2003,

Sanin mendapat pinjaman sesuai jumlah yang

diinginkannya, yaitu Rp 100 juta dari bank bjb,

dengan jaminan perusahaannya sendiri. Sanin

butuh permodalan banyak, sebab minimal

dalam sehari harus memiliki 6 ton bahan baku

 

garam. Dalam sebulan ia membutuhkan kurang

lebih 200 ton garam, sehingga dalam setahun

minimal ia harus menyediakan 2.000 ton garam.

Apalagi, untuk membeli bahan baku tersebut ia

harus membayar kontan.

Lantaran ingin memiliki uang banyak untuk

membeli 2.000 ton garam sekaligus setiap

tahunnya, Sanin pun rutin meminjam ke bank

dengan jamjnan rumah dan kendaraan. Namun,

agar tertib dan disiplin dalam membayar utang,

Sanin selalu mengambil tempo pinjaman 1 tahun.

Tidak pernah lebih dari itu. “Minimal per bulan

bayar ke bank Rp 45 jutaan, lah. Alhamdulillah

belum pernah ada masalah. Lancar terus. Bulan

tujuh sudah ketutup lagi. Garam murah kami

beli lagi, pinjam lagi, setahun ketutup lagi,”

urai Sanin. Ia pun mengakui bahwa salah satu

yang membuatnya sukses dalam urusan kredit

ini adalah memilih bank yang bunganya paling

rendah.

Dengan menggunakan perputaran uang

pinjaman setahun sekali, Sanin lebih mudah

mengontrol dan mengetahui untung atau rugi

 

usahanya. Setiap menjelang bulan Juli, saat

hendak penutupan pinjaman bank, Sanin

menghitung hitung dana. Setelah utang

tertutupi, jika ada lebih, digunakan untuk

menambah aset seperti ladang garam, tanah

untuk perluasan pabrik garam, rumah, maupun

kendaraan.

Usahanya terus berkembang hingga perlahan

 

tapi pasti Sanin memiliki pabrik

pengolahan garam di Rawa Urip, 6 buah rumah,

serta 9 kendaraan yang terdiri dari truk dan

mobil pribadi. Selain itu, impian Sanin ke Tanah

Suci pun tercapai pada tahun 2000 dan 2010.

Setiap keuntungan yang diraih, dibelikannya

aset secara bertahap. Dengan membeli aset,

Sanin mengaku dapat mengetahui apakah

bisnisnya mendapatkan untung atau justru rugi

di tahun yang sedang berjalan. “Soalnya bisa

 

kelihatan wujudnya,” ujarnya lugu.

Karena setiap keuntungan dibelikan aset,

Sanin harus selalu kembali mengajukan

pinjaman ke bank untuk membeli bahan baku.

Dana yang dipinjam bisa cukup besar bila ia

 

merasa barga bahan baku garam sedang turun

 

dan dia perlu membeli banyak. “Kalau

musim kemarau, garam lokal bisa dibeli dengan

 

harga Rp300,” ujarnya. Setelah itu

disimpannya bahan baku tersebut dan dijual

 

secara bertahap. Harga jualnya bisa

mencapai Rp600, yang berarti dua kali lipat

 

dari harga beli. “Bahkan, kadang bisa saya

jual Rp1.000,” urainya, “Kalau saya jual

 

ke pelosok dengan harga Rp500, untungnya

 

sudah hampir 75 persen.” Dari keuntungan

 

itulah Sanin menutup utang dan membeli aset.

Meskipun berkali-kali meminjam, hingga

saat ini Sanin amat menjaga kepercayaan

agar tidak terjadi masalah ke bank, “Tutup

utang, lalu tahun berikutnya utang lagi!” Sanin

tampaknya tidak sekadar bicara. Pabrik yang

dibeli secara bertahap, sedikit demi sedikit

 

setiap ada keuntungan, juga ladang garam yang

kini mencapai luas 6 hektar adalah saksi bisu

perjalanannya mengolah garam selama hampir

30 tahun.

Sanin melihat kelemahan pengusaha yang

bangkrut dikarenakan manajemen keuangan

yang kurang terkontrol. Keuntungan yang

 

diperoleh tidak disimpan atau diputar kembali

untuk membeli bahan baku atau melunasi utang,

melainkan dibelikan hal-hal yang diinginkan.

Beda halnya dengan Sanin yang disiplin

 

memprioritaskan pelunasan utang bank. “Yang

 

penting adalah mencatat pemasukan dan

 

pengeluaran dengan benar,” demikian tipsnya.

Apalagi, bahan-bahan yang dibelinya harus

dibayar secara kontan. Pada saat diwawancara,

Sanin tengah menunggu dua trailer yang

 

membawa 105 ton bahan mentah garam dari Surabaya.

 

“Seratus lima ton itu harus dibayar Rp 105

juta kontan,” paparnya, “Jadi, kadang-kadang

saya jual BG.”

 

Meski berusaha disiplin dalam hal keuangan,

bukan berarti Sanin tidak pernah menghadapi

masalah keuangan. Ini terjadi pada tahun 2003

saat menantu sulungnya mencalonkan diri dalam

pemilihan kepala desa (Pilkades). Modal untuk

membeli garam yang saat itu harganya masih

murah digunakan untuk biaya pencalonan. Saat

hendak membeli garam pada tahun 2006, harganya

 

ternyata sudah melonjak tinggi. Apesnya

lagi, sang menantu tak memenangkan Pilkades.

Sanin pun berutang hingga Rp 6oo juta. Namun,

Sanin merasa lega dan bersyukur karena pada

tahun 2008, seluruh utang tersebut telah lunas.

“Alhamdulillah, pulih lagi. Malah akhirnya sampai

 

lebih. Sampai susah ngitung lebihnya,” ucap Sanin.

Pelajaran mahal yang dipetik Sanin adalah

tidak mau sembrono memperlakukan BG. Setiap

ada BG segera ditukar agar terus berputar dan

bergulir. Sanin menjaga namanya dengan baik

agar jangan sampai cacat dalam catatan bank.

“Kalau sekali nama kita tercemar, semua bank

akan tahu,” ujarnya, “Nanti kita juga yang jadi

tidak laku. Padahal kita harus bayar plastik ke

Semarang, garam ke Surabaya, banyak sekali!

Jadi, saya pesan benar-benar ke anak-anak,

supaya mereka jangan sampai menunggak.”

Dengan cara tersebut ia berharap kapan pun

membutuhkan pinjaman uang dari bank, ia tidak

 

akan mengalami kesulitan. Sanin yang pernah

dengan mulus meningkatkan pinjaman ke bank

bjb menjadi Rp 150 juta pun berencana menaikkan

 

jumlah utang menjadi Rp 200 juta. Faktor

 

kepercayaan dan tidak pernah menunggak

pembayaran dipegang teguh oleh Sanin.

Karena sudah mendapat kepercayaan, Sanin

 

mengaku tidak lagi sering dikejar-kejar

untuk masalah pembayaran. “Waktu tahun

pertama, telat sehari sudah ditelepon terus,”

kenangnya, “Padahal, saya mah orang usaha.

Kena bunga berapa pun pasti saya bayar. Yang

penting menutup utang di bulan itu.” Sanin

merasa beruntung karena bank bjb memahami

usahanya. “Lebih longgar dan tidak cepat

memberi peringatan,” katanya bersyukur.

PEMASARAN DAN PERLUASAN

Karena menjalankan pabrik berdasarkan intuisi

bisnisnya sendiri, Sanin tidak banyak melakukan

 

inovasi dalam usahanya. Setiap pagi

Sanin dan anak-anaknya menjual garam ke

pasar-pasar yang ada di sekitar tempat tinggal

 

dan pabrik mereka. Penjualan yang dulu

menggunakan sepeda, kini telah menggunakan

mobil yang disopirinya sendiri.

Sementara sore hari, para sales-lah yang

memasarkan garam ke toko-toko yang sebagian

 

besar berlokasi di wilayah 3, yaitu daerah

 

Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu.

 

Kadang mereka juga merambah

Jatibarang hingga Jawa Tengah. Garam dapur

tidak diberikan kepada agen, melainkan ke

pasar langsung, itu sebabnya Sanin langsung

mendapat hasil. Sales juga mendapat fasilitas

mobil sebagai modal untuk mengangkut barang

dagangan. Setiap hari sales-nya bisa membawa

rezeki Rp 3-6 juta. “Jadi, kalau untuk anak

sekolah atau kebutuhan sehari-hari, saya tidak

bingung. Selalu ada dana,” paparnya bangga.

Selain uang, membina karyawan agar bekerja

 

dengan benar dan baik juga menjadi

modal bagi Sanin, terutama untuk para sales.

Karena begitu pentingnya peran sales dalam

usaha garam ini, Sanin berencana menambah

sales yang bisa terjun langsung ke lapangan

 

dalam rangka memperluas pasar hingga seluruh

wilayah Jawa Barat. Sanin juga ingin membuka

cabang di tempat lain, selain di Paliaman yang

berfungsi sebagai distributor.

Tentunya, perluasan pasar tidak dapat dilakukan

 

jika produk yang dihasilkan masih

terbatas. “Saya ingin membuat garam dalam

kemasan botol karena selama ini saya cuma

membuat kemasan plastik yang beratnya

berbeda-beda,” jelasnya. Namun, hal ini pun

masih terkendala dengan kapasitas produksi

 

yang mampu dihasilkan. “Kesulitan memakai

tenaga manusia adalah tidak bisa diberikan

target. Kalau sudah terlalu lelah, hasilnya akan

sangat sedikit,” ucapnya.

Lantas, mengapa tak membeli mesin saja?

“Sebenarnya, kami sangat butuh mesin, tapi

terkendala modal. Mesin itu pembiayaannya

besar,” ujar Sanin. Sanin sendiri mengaku sudah

banyak mempelajari cara kerja mesin-mesin

pembuat garam dari hasil melihat langsung

ke pabrik-pabrik lain tempatnya belajar. Jadi,

 

kalau kelak mampu membeli mesin, ia sudah

 

tahu cara mengoperasikannya. Sanin

kini giat mencari pinjaman dengan bunga

 

rendah untuk mewujudkan mesin-mesin

impiannya. Setidaknya, separuh produksi dilakukan

secara manual, separuh dengan mesin.

GARAM LOKAL VS IMPOR

Langganan masa sulit bagi pengusaha garam adalah

 

ketika turun hujan. Bahkan pada tahun 2010

 

mereka mengalami gagal panen sehingga tidak

 

ada garam lokal. Di musim kemarau, garam bisa

dihasilkan dari ladangnya sendiri maupun

 

membeli dari masyarakat. “Garam lokal lebih murah,”

 

jelas Sanin. Misalnya, dengan harga jual Rp

300, Sanin bisa mendapat keuntungan Rp5o, atau

 

Sekitar 15 persen. Sementara garam impor hanya

 

menghasilkan keuntungan maksimal 10 persen

 

karena modalnya tinggi. Sanin juga

mengambil garam dari Surabaya, yang

 

didatangkan dan Australia dan India.

Sebagai petani garam, ia fasih menceritakan

 

proses pembuatan garam. “Kita seperti bikin

 

kolam yang besar, lalu dipetak-petak,

seperti orang menggarap sawah. Perbedaannya,

 

kalau ladang garam membutuhkan tanah yang

 

halus dan keras. Kalau orang sini

sih memakai silinder, sejenis silinder mesin

 

yang dipakai untuk mengeraskan jalan. Setelah

 

ladangnya bersih, air dipindahkan.

Setelah kering, dipindahkan lagi ke petak lain.

 

Jadi, kalau airnya sudah mengental, kita periksa

 

dengan arometer. Kalau di sini disebut

hipermil. Biasanya kalau udah jadi garam,

 

ukurannya minimal 22 arometer. Ketika masih

 

berupa air laut, ukurannya 0 arometer.

Kalau sudah 22 arometer, baru jadi garam,

 

keluar, dan bertumbuh,” urainya panjang lebar.

Kalau tidak ada hujan, Sanin mengibaratkan

 

garam seperti kumis atau jenggot: hari ini dikeruk,

 

kalau besok panas bisa dikeruk lagi. Perbedaannya

 

dengan garam di Madura, ketebalan

garam di daerah Sanin untuk dikeruk hanya 1 cm.

 

Kalau di Madura, ladang-ladang garam bisa

 

mencapai ketebalan 5 cm karena ditunggui hingga

 

minimal 15 hari. “Kalau di sini tidak

 

bisa begitu. Kalau kena hujan, wah! Istri bisa

ngamuk karena anaknya enggak bisa jajan,”

ujarnya sambil tergelak.

Menurut perhitungan Sanin, nilai murni

garam adalah Rp 500 per kilogram. Kalau sehari

saja pekerja di ladang garam bisa mendapat

sekuintal garam, ia sudah beroleh uang Rp 50

ribu. Padahal, setiap harinya setiap petak bisa

menghasilkan 5 kuintal hingga 1 ton garam.

Untuk menjadi garam balok, bahan garam

dari Australia butuh perlakuan khusus, karena

tidak mengandung air. Prosesnya harus diairi

dulu supaya melekat, dicetak balok, lalu di

masukkan ke dalam oven untuk dipanggang.

Sedangkan garam lokal yang memang sudah

mengandung air bisa langsung dicetak balok.

Sementara untuk garam halus, baik lokal

maupun dari luar negeri bisa langsung di

masukkan ke dalam plastik kemasan.

Diakui Sanin, warna garam dari Australia

lebih putih karena tumbuh seperti gunung di

pinggiran laut. Sedangkan garam lokal berasal

dari air sehingga terkadang ada kotoran debu.

Namun soal rasa, menurut Sanin, garam lokal

lebih enak dan gurih. Ini karena PPN atau

 

kadar keasinan garam lokal paling tinggi 70,

sedangkan garam Australia lebih dari l00.

“Kalau masak pakai garam Australia, saat

dicicipi sudah cukup asin. Tapi begitu masakan

sudah dingin, asinnya luar biasa. Nah, kalau

garam lokal, biarpun masakannya masih panas

atau sudah dingin, rasanya tetap sama. Cuma

kadang-kadang orang kota tuh suka yang putih,

yang putih sekali, padahal enggak enak,” kata

Sanin.

Untuk proses pemanggangan, awalnya Sanin

menggunakan solar sebagai bahan bakarnya.

Tetapi, pemakaian solar ternyata menjadikan

biayanya lebih tinggi. Karena itu, sejak tahun

ini ia menggunakan elpiji, yang lebih ringan dan

irit.

Selain memproduksi garam dapur, Sanin

mendiversifikasikan usahanya, yakni berjualan

pupuk untuk semua jenis tanaman. Pembuatan

pupuk memerlukan garam hingga 40 persen. “Lalu

ditambah kaptan, bahan kaptul seperti kapur dari

Sukabumi,” urainya. KCI dalam garam dibutuhkan

untuk menguatkan batang. Ia mengirim pupuknya

ke Sumatera karena tanah di sana cenderung

bersifat gambut. “Kalau tidak diberi garam,

 

tanamannya tidak bisa hidup, tidak bisa berbuah,

atau buahnya sedikit,” papar Sanin. Berbisnis

garam sangat menguntungkan bagi Sanin karena

tidak ada garam yang tersisa, “Semua garam

dipakai. Yang kotor dicampur untuk pupuk.”

Penjuaan pupuk pun dalam setahun

mencapai 2 ribu ton, bahkan pernah hingga

3 ribu ton. Tentu saja, garam yang digunakan

adalah jenis yang berbeda. Untuk garam dapur

menggunakan garam putih kualitas 1 dan 2.

Sedangkan untuk pupuk, Sanin menggunakan

garam kualitas 3.

Baik di bidang garam maupun pupuk, Sanin

tidak terlalu memusingkan urusan persaingan.

Ia percaya bahwa rezeki diatur oleh Yang Di Atas.

Apalagi Sanin melihat banyak pesaingnya yang

bangkrut. “Ada bisnis yang sama di daerah ini,

tapi perusahaannya kecil. Bahkan, untuk bahan

baku saja mengambil dari saya. Mereka tinggal

mengemasnya,” ujar Sanin. Bisa jadi, memang

tidak ada pesaing yang berarti di sekitar wilayah

tersebut.

Bagi Sanin, ia hanya beruntung. “Menyekolahkan

 

empat anak sampai jadi sarjana butuh biaya

yang enggak sedikit,” ujarnya. Ia mengisahkan,

anak bungsunya yang menjadi bidan setiap

 

bulan paling sedikit butuh Rp 4-5 juta. “Kalau

tidak mengandalkan usaha, ya repot,” ujarnya

sembari tersenyum.

Ketika ditanya, akan dibawa ke mana bisnis

garam ini, Sanin menjawab, “Saya hanya mau

memperbesar pabrik, menaikkan jumlah

produksi, menambah tenaga kerja, membeli

mesin, dan menambah jumlah armada agar

produksi saya bisa menjangkau seluruh Jawa

Barat. Setelah menggeluti usaha garam dapur

dan pupuk hingga seperempat abad, Sanin

yang kini berusia 60 tahun memercayakan

pengelolaan perusahaan kepada para anak dan

menantunya dengan berbagi tugas. Sanin hanya

tinggal mengontrol agar semuanya berjalan

dengan baik.

Pesan penting pun dibagikan kepada semua

anak dan menantunya, bahkan karyawannya,

dan siapa pun yang hendak terjun ke dalam

dunia usaha, yakni harus sabar dan jujur.

“Susahlah kalau kita berbisnis inginnya

langsung besar. Pelan-pelan saja, begitu.

Jangan sekali-kali kita banyak bohong. Kita

harus jujur. Suatu saat dalam usaha, kejujuran

pasti menjadi kesuksesan kita,” ujarnya

bersahaja.

 

Catatan Rhenald Kasali

SAYA TERTEGUN DENGAN cara Sanin membangun usahanya. Ya, seperti inilah

 

manajamen UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Tumbuhnya perlahan-lahan

 

sacara alamiah. Dan hanya mereka yang tekun jujur, serta disiplinlah yang

 

mampu bertahan dan tumbuh. Bagi Sanin untung itu ditandai dengan

 

membesarnya jumlah aset bukan yang lainnya. Seperti pangusaha lain Sanin

 

juga butuh bantuan cash flow dari bank. Namun cara kerja bank yang mampu

manyederhanakan proses dan membuat usaha UMKM ‘nyaman’ sangat menentukan

 

keberhasilan hubungan antara bank dengan UMKM. Jadi sederhanakanlah semua

 

proses dan mengertilah cara kerja mereka.

Sanin seperti UMKM lainnya adalah sebuah produk dari sebuah proses evolusi.

 

Mereka naik kelas secara alamiah dari bekal kerja keras dan kejujuran. Saya

 

sering menyebutkan, pengusaha-pengusaha kecil modalnya berawal dari sekolah

 

50 senti atau setangah meter. Dari ujung telapak kaki ke atas dengkul.

 

Mulai dari tukang becak sampai menjadi pemilik pabrik garam. Itu pun hanya

 

kecil-kecilan saja. Namun karena tekun, ia bisa berurusan dengan bank dan

 

mampu mencicil pinjaman hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Sanin berbeda dangan sarjana-sarjana yang hanya bersekolah lima senti,

 

yaitu hanya mengisi kepalanya dengan teori, namun kaki dan tangannya tidak

 

‘disekolahkan’ di lapangan. Mereka yang demikian hanya menjadi penganggur.

 

beban bagi msyarakat.

Bisnis ‘50 senti’ ini adalah bisnis yang marjinnya besar, namun nilainya

 

kecil dan volumenya besar. Bayangkan 105 ton hanya berharga Rp 105 juta.

 

Bagi para sarjana, nilai seperti itu terlalu kecil. Namun bagi rakyat

 

jelata, nilai seperti itu sudah sangat disyukuri. Apalagi oleh seorang

 

mantan tukang bacak.

Berbeda dengan kebanyakan usaha, bisnis UKM seperti ini mempunyai karakter

 

tunai (sehingga banyak uang recehannya). Karakter tunai yang demikian bisa

 

membuat pelaku usaha kecil terperangkap dalam ‘perilaku pedagang’ yang lupa

 

melakukan inovasi atau perluasan produksi. Setiap mendapat tawaran

 

berutang, mereka hanya berpikir untuk memodali pembelian bahan baku atau

 

barang-barang untuk dijual kembali, bukan untuk membangun pabrik yang lebih

 

besar, lebih efisien, atau lebih produktif.

Kedua, usaha kecil juga sarat dengan godaan-godaan duniawi yang bisa

 

berakhir kalau pemiliknya terperangkap dalam godaan. Secara alamiah kita

 

semua terpanggil untuk menjalankan ibadah ke Tanah Suci, namun semua ada

 

syaratnya yaitu mampu. Godaan pertama adalah ‘merasa mampu’ bukan karena

 

benar-benar mampu, melainkan karena gengsi, ingin terlihat hebat. Kedua,

 

godaan kawin lagi. Dan ketiga, godaan Pilkada. Mereka bisa menjadi besar

 

kalau mampu mengatasi godaan-godaan tersebut dan fokus pada upaya memajukan

 

usaha.

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

No comments: