Wednesday, June 6, 2012

Riezka Rahmatiana, Pemilik CV. Ezka Giga Pratama (Pisang Ijo JustMine):Melangkah dari paling bawah

Meski ditentang orang tuanya, di olok-olok rekan kuliahnya, bahkan sempat ditipu rekan bisnisnya. Riezka Rahmatiana pantang menyerah dan terus berusaha, inovasi dan kemitraan menjadi kunci suksesnya untuk mengembangkan bisnis “Saya bermimpi bangsa ini bangkit bersama sehingga kemiskinan tak ada lagi.” Katanya.



SIAPA BILANG BISNIS harus dimulai dengan modal besar? Riezka Rahmatiana, 23 tahun, telah membuktikannya. Ia memulai usahanya hanya dengan mengandalkan uang jajannya sebagai modal awal, sekitar Rp 150.000. "Saya memulainya dari paling bawah, dengan berjualan pulsa elektronik," ujar gadis berdarah India kelahiran Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 21 Maret 1986 ini.

Target pasarnya adalah rekan-rekan kuliahnya sendiri. Ternyata peminat pulsanya begitu banyak. "Tak sampai dua jam, deposit pulsa saya sudah habis," katanya. Hasil penjualan ini langsung diputarkannya untuk membeli deposit kembali, sehingga lama kelamaan jumlah depositnya ternus bertambah. Bahkan ia bisa membuka outlet pulsa elektronik, fisik, dan kartu perdana yang diberinya nama Ezka Cell, di Jl. Raflesia H7, Perumahan Antapani, Bandung.

Kali ini target pasarnya adalah orang-orang yang satu komplek perumahan dengannya. Lagi-lagi hasilnya mengejutkan, omzetnya d'alam sebulan bisa mencapai Rp 9.600.000. Sadar akan besarnya potensi bisnis pulsa ini Riezka pun berani mengibarkan bendera usaha. Pada 26 Maret 2007 ia mendirikan bendera CV Ezka Giga Pratama, perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa. Dari berdagang pulsa ia 'naik pangkat' dipercaya menjadi master pulsa yangmengelola server pulsa elektronik yang membawahi sejumlah agen dan outlet-outlet kecil.

Pelan tapi pasti bisnisnya terus merayap naik. Satu per satu bidang usaha dirambahnya. Karena tempat usaha pulsanya yang berada di komplek ramai didatangi konsumen salah seorang rekan bisnisnya mengajak bekerja sama di bidang laundry & dry clean dengan pola bagi hasil. Pada awalnya ia sempat ragu apakah jasa ini dibutuhkan, mengingat umumnya tiap rumah telah memiliki pembantu rumah tangga. Namun setelah mengamati sejumlah gerai laundry & dry clean di kompleks perumahan lainnya, ia mem­beranikan diri masuk ke sektor ini. Maka, tahun itu, Riezka membuka gerai Prima Laundry. Di luar dugaan, "Di bulan pertama saya bisa mendapat bagian bersih Rp 2 juta," katanya.



Dari berdagang pulsa ia 'naik pangkat' dipercaya menjadi mas­ter pulsa yang mengelola serves pulsa elektronik yang membawahi sejumlah agen dan outlet-outlet kecil.



Pada tahun berikutnya, Maret 2008, Riezka kembali melebarkan usahanya dengan mencoba merambah ke usaha makanan dan minuman. Menurut buku-buku yang dibacanya, margin keuntungan di usaha ma­kanan dan minuman bisa mencapai 50% lebih. Maka ia pun menyewa ruang di Food Court & Cafe di daerah Cihampelas, Bandung, dan mem­buka kafe D'Green House. Di sins ia menyajikan aneka macam makanan dan minuman. Sayang, usaha ini kandas karena omzet sangat minim.



MENGEMBANGKAN PRODUK DENGAN INOVASI

Rizka tahu jika ingin sukses ia harus bisa menampilkan produk yang berbeda dengan yang dijual orang lain, harga yang sesuai dengan segmen yang dibidik, serta memilih lokasi yang tepat, serta melaku­kan promosi untuk memperkenalkan produknya. Dengan kata lain, ia harus menerapkan empat bauran pemasaran (4P) yang disebutkan Philip Kottler: Product, Price, Place, dan Promotion.




BIODATA

RIEZKA RAHMATIANA

Mataram, 26 Maret 1986

Email: riezkarahmatiana@gmail.com

PENDIDIKAN:

2004 –Sekarang Mahasiswa Fakultas Komunikasi, Universitas Padjajaran Bandung

NAMA USAHA:

CV. Ezka Giga Pratama

(JustMine Pisang Ijo, Ezka Cell & Laundry) Alamat: Ruko MTC Blok C-6

Telp: 0818 642699, 022 92300888

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri kategod Mahasiswa Diploma dan Sarjana

LAIN-LAIN

2007 News Editor PT Radio Garuda Bandung

2007 Distributor of Tiens Group

2005 Announcer Radio Mora FM



"Saya melakukan inovasi produk dan mencari lokasi baru," katanya. Kali ini ia menyajikan menu tradisional, yaitu tahu Sumedang dan sop urat, resep favorit ibunya. Untuk itu ia menyewa gerai di Jl. Cihanjuang, Bandung, yang dinamainya Dapur Kuring, yang berasosiasi dengan masakan tradisional rumahan. Untuk modal awal Riezka cukup mempersiapkan bahan baku dan peralatan, senilai sekitar Rp. 6 juta. Tempatnya disewa dengan pola bagi hasil, 25% untuk pemilik tempat dan 75% untuk Riezka.

Kali ini Dewi Fortuna menghampirinya. Tahu Sumedang dan sop urat laris manis disukai pelanggan dan pesanan. Apalagi sop uratnya, yang bisa dikatakan tak memiliki pesaing. Lokasinya yang di kawasan wisata membuat peminatnya bukan hanya dari kawasan Bandung dan sekitarnya, namun juga dari luar kota, seperti Jakarta, Bogor, Purwakarta. Para pelanggan yang puas ini pun menjadi evangelist yang dengan sukarela mempromosikan gerai makannya.

Agar semakin memikat perhatian konsumen, Riezka sengapi meletakkan tempat menggoreng tahunya di luar ruangan sehingga konsumen dapat melihat cars pembuatannya. Aromanya yang hariiiii mampu membujuk konsumen mampir ke gerai Dapur Kuring. "Alhadulillah, penggemarnya terus bertambah," katanya.



FOKUS DI BISNIS MAKANAN DAN MINUMAN

Tampaknya Riezka sangat serius menekuni bisnis makanan dan minuman (food & beverage). Namun untuk bisa tampil bersaing dengan banyak sekali pemain di sektor ini, pelaku industri ini harus tel. us-menerus menggelar inovasi dan meluncurkan produk baru, serta mengemasnya secara menarik. Dan itulah yang dilakukan mahasiswa Jurusan Komunikasi Pemasaran Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Awal 2009 ini, misalnya, ia meluncurkan produk baru Pisang Ijo "JustMine". Produk ini dikembangkannya dari makanan tradisional khas Makassar terbuat dari bahan dasar pisang raja yang dibalut dengan tepung beras, dan diberi warna hijau alami dari daun suji. Di tangan Riezka, pisang ijo ini diberi cita rasa baru dengan berbagai varian rasa, yaitu fla cokelat, vanila, stoberi, durian dan rasa orisinal pisangijo khas Makassar. Lagi-lagi produk jajan pasar kreasi baru Riezka ini disukai para pencinta kuliner. "Sebelum dipasarkan, saya memberi­kan sampel produk Pisang Ijo kepada teman-teman, rekan bisnis, dan keluarga. Ketika di awal mereka mengatakan rasanya kurang enak, Riezka dan timnya mencoba lagi sampai semua mengangguk puas. "Syukur akhirnya kami bisa menghasilkan produk yang optimal dan disukai banyak orang," katanya.



MENGEMBANGKAN USAHA LEWAT KEMITRAAN

Sambutan konsumen yang sangat bagus membuat permintaan kerja sama dan waralaba berdatangan. Riezka pun menyambut ajakan ini. "Jika bisa membantu orang lain sambil sekaligus mengembangkan usaha sendiri, kenapa tidak?" pikirnya. Untuk franchise, ia menawar­kan satu paket booth lengkap Justmine Pisang Ijo seharga Rp 6,5 juta. Paket ini meliputi sistem penjualan dengan SOP (standard operating procedure) agar kualitas produknya tetap dijaga, training karyawan, dan perlengkapan penjualan. "Tapi untuk periode promosi sampai bu­lan Juli, saya jual hanya dengan harga Rp 5,5 juta," katanya.

Melihat gaga bisnisnya, ada beberapa hal yang menarik pada pengusaha belia ini. Riezka memulai bisnisnya dengan modal yang relatif kecil, dengan menjual produk yang banyak dibutuhkan orang sehingga risiko kegagalan lebih kecil.

Hal kedua, setiap kali mengembangkan bisnisnya, Riezka selalu menerapkan sistem kemitraan. la membuka diri untuk menggandeng mitra bisnis untuk bersama-sama memadukan kekuatan guna mengem­bangkan usaha. Riezka mengaku sangat ingin menularkan semangat berwirausaha kepada semua orang sejak dini. "Saya bermimpi bangsit ini bangkit bersama sehingga kemiskinan tak ada lagi," katanya.

Dengan strategi kemitraan ini, Riezka juga bisa memiliki waktu lebih banyak. Faktanya, sambil terus mengembangkan usahanya, ia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang baik. "IPK saya tidak pernah kurang dari 3," ujarnya sambil tersenyum. Orang tuanya yang dulu menentang usahanya, kini berbalik mendukung dan menyemangatinya.

Dengan kejelian membaca peluang pasar dan mengembangkan inovasi produk, Rizka mampu mengembangkan bisnisnya dengan relatif cepat. Dalam tempo tak sampai dua tahun, Ezka Giga Pratama yang didirikannya dengan modal awal sangat minimal ini kini telah memiliki aset sekitar Rp 500 juta - ibaratnya dari kilobyte menjadi giga. Berkat sistem franchise dan jaringan kemitraan yang dibangunnya, jangkauan usahanya juga terus membesar dan beranak-pinak.



JATUH BANGUN MENGHADAPI TANTANGAN

Jika kini terlihat perjalanan usaha Riezka berlangsung begitu mulus dan pesat, jangan menyangka ia tak pernah menghadapi rintangan. Tantangan pertama justru berasal dari lingkar dalam keluarganya sendiri. Orangtua Riezka menentang keinginan anak pertama mereka ini untuk mengembangkan potensi sebagai wirausaha dan memintanya agar fokus kepada kuliahnya.

Namun si sulung bersikukuh pada pendiriannya. Ia ingin menjadi pengusaha, sehingga memiliki keleluasaan mengelola waktu dan pendapatan sendiri. "Saya ingin mempunyai kebebasan waktu, tidak terikat dengan pekerjaan atau bos di kantor," katanya.

Maka sambil kuliah, pada 2006-2007, Riez­ka mencoba berusaha dengan menjadi distributor dari Tiens Group, perusahaan multilevel marketing produk makanan kesehatan. Dengan tekun ia menawarkan dagangannya kepada teman-teman kuliahnya. Hasilnya? "Lebih ba­nyak penolakan dan ejekan ketimbang dibeli," ujarnya.



Pada tahun 2007 Riezka pernah ditipu mitra bisnisnya sendiri, yang membawa kabur barang dagangan ber­nilai puluhan juta yang diambilnya dari Riezka.



Tantangan rupanya tak cukup sampai di situ. Pada tahun 2007 Riezka pernah ditipu mitra bisnisnya sendiri, yang membawa kabur barang dagangan bernilai puluhan juta yang diambilnya dari Riezka. "Untuk menutup kewajiban pembayaran seluruh tabungan saya ludes. Bahkan saya masih harus berutang kesana-kemari," katanya. Hingga kini, mitra bisnisnya raib dan tak mempertanggungjawabkan kewa­jibannya. Sementara Riezka kehilangan kepercayaan dari teman­-temannya, bahkan mengalami hinaan yang menyakitkan, dari down­line-nya.

Toh mantan penyiar Radio Mora FM (2005) dan redaktur berita Radio Garuda (2007), keduanya di Bandung, ini pantang menyerah. Ia kembali bangkit dan siap melata dari anak tangga terbawah, dengan menjajakan pulsa tadi. Lalu sedikit demi sedikit mengumpulkan mo­dal untuk berbisnis kembali. Hasilnya, Riezka kini bisa menegakkan kepada dan membuktikan bahwa jika ada kemauan, selalu ada jalan mencapai keberhasilan. Ia juga telah membuktikan, jika dilakukan bersama-sama, tak ada kata tidak bisa.





Hukum Wirausaha #23

Naik Kelas



Banyak orang mendorong kewira­usahaan, seakan-akan berbisnis itu gampang. Ternyata memang tidak sulit, yang sulit adalah bagaimana agar naik kelas, tumbuh menjadi besar dan berkembang.

- Rhenald Kasali



SEPERTI ORANG YANG bersekolah, maka usahawan pun harus bisa naik kelas. Usahawan sekolahan yang mempunyai kemampuan berpikir lebih baik, hendaknya bersungguh sungguh mengembangkan usahanya. Seorang pemilik kedai kopi kaki lima yang bertahun-tahun berusaha di tempat yang sama mungkin saja sudah puas dengan pelanggan-pelanggannya yang selama puluhan tahun tetap setia mengunjungi kedai kopinya. Namun harap diingat konsumen itu tidak selamanya diam di tempat, Konsumen berpindah-pindah dan suatu ketika Anda akan terkejut, usaha Anda mulai sepi pengunjung. Anda pun kadang menyalahkan perekonomian: krisis, resesi, dan sebagainya.

Sama seperti manusia yang ada usianya dan sepan­jang usianya manusia berubah bentuk, maka perusahaan dan usaha pun ada usia dan bentuknya. Makhluk hidup terikat dengan hukum evolusi dan karenanya harus ber­adaptasi. Berikut adalah tip untuk naik kelas:

  • Rumus pertama agar naik kelas adalah dengan belajar sebaik baiknya. Anda tentu tidak wajib menjadi juara kelas, namun untuk naik kelas setiap usahawan harus mau belajar. Hanya orang-orang yang tidak responsif dan tidak belajar hal-hal barulah yang tinggal kelas. Anda dan pasukan usaha Anda harus belajar dari hidup yang seka­rang, dari lingkungan Anda, dan belajar dari masa depan dengan berinovasi, menelusuri jalan-jalan baru yang be­lum ditemukan pesaing-pesaing Anda.

  • Kalau Anda tidak naik kelas, maka Anda hanya punya dua pilihan ini: menerima kenyataan dengan men­jadi usahawan bodoh, atau Anda pindah sekolah (pindah usaha) dan memasuki dunia usaha yang membuat Anda lebih cocok, lebih adaptif.

  • Ketika Anda naik kelas, ingatlah tantangan Anda di kelas-kelas yang lebih tinggi akan jauh lebih berat. Anda akan berhadapan dengan pelajaran yang lebih rumit dan menuntut Anda bekerja lebih keras dan berupaya lebih cerdik. Di kelas yang lebih tinggi Anda wajib bekerja dengan standar yang tertulis, manajemen yang lebih ter­tata baik dan SDM yang lebih unggul.



Perbedaan antara apa yang kita lakukan dan apa yang sebenarnya mampu kita lakukan akan sanggup untuk memecahkan sebagian besar masalah dunia ini.

- Mahatma Gandhi



  • Ketika pelajaran menjadi lebih sulit Anda harus mencari kelas tambahan. Mungkin Anda memerlukan guru les yang dibayar secara profesional. Guru les itu mungkin adalah konsultan profesional yang Anda rekrut untuk membantu Anda memperbaiki sistem, sumber daya manusia, teknologi, manajemen, dan sebagainya.

  • Senior harus berubah. Tantangan terbesar bagi seorang senior yang ilmunya sudah tinggi, bukanlah be­lajar lagi, melainkan bagaimana beradaptasi dengan tun­tutan baru. Pada masa itu, seorang senior akan merasa dirinya paling tahu dan paling benar, sementara pengikut-­pengikutnya sudah merasa nyaman. Padahal mereka masih dituntut untuk berubah. Perubahan bagi seorang wirausahawan senior akan jauh lebih sulit daripada pemula yang masih bersemangat mencari bentuk.

  • Naik kelas dalam kewirausahaan bisa berarti memiliki jaringan usaha yang lebih lugs, teknologi yang lebih canggih, metode yang lebih baik, kualitas (lokasi, menajemen, produk) yang lebih baik, segmen yang me­ningkat, dan sebagainya. Saat Anda naik kelas semua orang menghormati Anda. Pada saat itu dibutuhkan pendekatan baru dalam berusaha.



Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

No comments: