Wednesday, June 6, 2012

Anggara Kasih Nugroho Jati, Pemilik Bakso Kepala Sapi: Mengemas Baksolebih Modern

Buat sebagian orang – terutama anak muda – bakso hanyalah sekedar makanan pengisi perut yang kelasnya tidak akan pernah naik alias selalu merakyat. Oleh karenanya, jarang ada pemuda atau pemudi yang mau menggantunkan nafkah dari usaha menjual bakso. Namun, di tangan Anggara, bakso tampil lebih modern, lebih enak, dan tentu saja..mendatangkan emas!



SIAPA YANG TAK kenal bakso. Hampir di setiap kawasan, selalu saja ada dagangan bakso yang menjadi favorit. Bakso, entah bakso apa saja, sepertinya memiliki penggemar sendiri dan membuahkan suplai yang tinggi pula. Dengan kata lain, berbisnis bakso seolah tidak terlalu menjanjikan; karena terlalu mengikuti arus, atau karena tidak ada lagi keunikan yang bisa menjadikan keunggulan.

Namun, hal ini tak membuat Anggara Kasih Nugroho Jati (24) berkecil hati. Kesukaan orang Indonesia terhadap, bakso ditangkapnya sebagai peluang. Berbeda dengan penjual bakso yang banyak ditemukan di berbagai tempat, di tangan mahasiawa Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu bakso dikemas sebagai sebuah usaha modern. Betapa tidak, dari usaha bakso bernama "Bakso Kepala Sapi" yang dikelolanya,  sulung dari dua bersaudara ini mampu meraup omzet Rp 1,1 miliar per tahun. Sebuah angka yang fantastic bagi seorang pemuda, lajang, dan masih menimba ilmu.

Usahanya dimulai pada 2003. Sebagai mahasiawa, bakso menjadi salah satu alternatif makanan 'wajib' karena dapat terjangkau kantong. Secara kebetulan, ia menikmati bakso di sebuah kedai kaki lima di Surabaya. Seperti tersirap, ia bukan hanya dimabuk kuah bakso-yang begitu sedap racikan sang penjual bernama H. Suharto tapi ­juga dibuai asa yang begitu besar. "Sejak itu, otak kiri saya langsung jalan dan saya langsung meminta beliau untuk bekerjasama," ungkap, Anggara memaparkan ketertarikannya.

Penggemar bakso ini kemudian menyusun rendana membagi jadwal kuliah dan waktu untuk merintia usaha. Tujuannya agar usahanya nanti berjalan rapi, serta bisa berkembang dan diduplikasi Ia pun membuat hitung-hitungan modal dan bagaimana memulainya. Pucuk dicita ulam pun tiba. Tekadnya untuk membuka usaha bakso mendapat dorongan dari sang ayah, yang juga seorang wirausahawan.



Secara kebetulan, ia menikmati bakso di sebuah kedai kaki lima di Surabaya. Seperti tersirap, ia ia bukan hanya dimabuk kuah bakso-yang begitu sedap racikan sang penjual bernama H. Suharto tapi ­juga dibuai asa yang begitu besar.



Outlet bakso pertamanya di daerah Klampis, Surabaya, pun dibuka pada tahun yang sama. Lalu, dengan meminjam ruko milik orangtu­anya di Jalan Raya Kebonpedes, Kota Bogor, ia pun membangun outlet pertamanya di luar Surabaya pada 2006.

Kini, dia telah memiliki sejumlah "Bakso Kepala Sapi" yang menjadi pundi-pundi uangnya. Sebagian besar dijalankan di Bogor dan Surabaya, serta dijalankan melalui pola kemitraan dengan investor lain. Dari belasan outletnya, ia memperoleh pemasukan lebih dari Rp 1,1 miliar per tahun, dengan keuntungan bersih untuk dirinya sendiri di atas Rp 100 juta per tahun.



GIGIH DAN ULET



Sejak kecil, Anggara memang dikenal sebagai anak gigih. Ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD), ia sudah mulai berjualan. Kala itu ia rajin berjualan mug dan petasan setiap menjelang hari raya umat Ialam atau Tahun Baru. Kemudian ketika remaja, karena hobinya bermotor-ria, ia pun tak segan menjual aksesori motor dan aksesori balap (racing). Saat kuliah, sebelum menjadi juragan bakso, ia juga dikenal teman-temannya sebagai penjaja baju, topi, knalpot, sepatu, sandal dan merchandiae lainnya. Pendek kata, di kalangan anak muda, ia terkenal sebagai penyedia layanan atau produk apa pun dalam arti positif. LMGA (Loe Mau Gue Ada), demikian mungkin remaja Jakarta akan mengomentarinya.



BIODATA

ANGGARA KASIH NUGROHO JATI

Purwokerto, 25 September 1984

Email: angga_knj@yahoo.com

PENDIDIKAN:

2003 — Sekarang Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

NAMA USAHA:

Bakso Kepala Sapi, Bakso Mas Karyo, Bakso Raden Website:

www.baksomaskaryo.com

www.baksokepalasapi.com

Alamat :Jl. Kebon Pedes No. 58, Kebon Pedes , Bogor, Jawa Barat

Telp/Fax : 0251 342 565, HP: 0817 329914

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri



Anggara nampak sangat jeli melihat peluang bisnis. Otak bisnisnya semakin encer setelah dia mendapat suntikan pengetahuandari seminar-seminar kewirausahaan di berbagai tempat. Lingkungan mendukung karena ia berbaur dengan sebuah komunitas pengusaha.

Ternyata semua usaha tersebut dilakukannya agar dapal mengumpulkan modal untuk mewujudkan mimpinya membuka usaha yang lebih menjanjikan. Hingga akhirnya ia mampu mengunipulkan tabungan Rp 50 juta, yang kemudian dijadikan modal awal merintis usaha "Bakso Kepala Sapi"-nya.

Dari seminar-seminar kewirausahaan yang diikutinya, ia banyak mendapat trik dan strategi usaha. Salah satunya adalah mengemas usaha bakso yang akan digelutinya beda dari yang lain. Ia ingin memperkenalkan bakso ke seluruh masyarakat dan membuat mereka dapat menikmati bakso dengan sensasi berbeda, tanpa terkecuali. Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2008 ini pun menampilkan sebuah outlet bakso yang modern dan memiliki kekhasan. Untuk mewujudkan Anggara merogoh cukup banyak dana. "Saya gunakan Rp 35 juta hanya untuk keperluan dapur, kalau gedungnya sudah ada," tutur Anggara.



BAKSO RENDAH KOLESTEROL

Ia juga mengerti benar bahwa sebuah usaha harus memiliki ciri atau kekhasan. Kekhasan rasa "Bakso Kepala Sapi" terletak pada sumber bahan dasar bakso dan kuah yang dipakai, yakni kaldu kepala Sapi.

Prediksi kalau bisnis baksonya akan berhasil menjadi kenyataan. Sejak awal pendirian, pundi-pundi keuntungan terus didapatnya. Satu hal yang membuatnya berbeda dari tukang bakso lain adalah moto yang terpampang dalam spanduk Bakso Kepala Sapi (BKS): "Jangan Mengkhayal! Kalau Berani Ambil Rasanya!!" Dengan tulisan yang sangat eye catching ini, Anggara ingin meyakinkan kepada para pengunjung, untuk tidak sekedar `meraba-raba' rasa BKS. " Sebaliknya datang dan temukan perbedaan rasa BKS racikan saya dengan bakso lainnya” papar Anggara penuh percaya diri.



Anugerah Bakso Kaki Lima

SUKSES ANGGARA KASIH Nugroho Jati dimulai dengan membuka usaha kuliner Bakso Kepala Sapi, usaha yang dimulai dari perkenalannya dengan pedagang bakso kaki lima, Suharto. Tertarik dengan keunikan rasa bakso kepala sapi yang dikatakan rendah kolesterol, mahasiawa Institut Teknologi Surabaya ini kemudi­an menjalin kerjasama dan membuat sistem waralaba yang menjadikan usaha­nya berkembang pesat di wilayah Jawa Timur dan Bogor - Jawa Barat. Berikut petikan hasil wawancara dengan jutawan muda tersebut.

Q: Nama Anda sangat panjang, apa artinya?

A: Anggara Kasih mengandung arti saya lahir di hari Selasa Kliwon. Nugroho artinya yang penuh anugerah, dan Jati mengandung arti agar saya kuat seperti pohon jati.

Q: Mengapa memilih usaha bakso dengan nama bakso kepala sapi?

A: Brand bakso kepala sapi itu dibuat supaya eye catching (menarik perha­tian) saja, membuat orang penasaran untuk datang ke counter dan ingin merasakan produk kami. Kemudian diharapkan setelah merasakan dan mendapatkan taste yang berbeda dari bakso kami, mereka datang kembali. Intinya hanya untuk menarik pelanggan saja.

Q: Memangnya Anda hobi makan bakso? Hobi makan juga?

A: Tidak, saya tidak suka makan bakso. Saya tidak bisa membuat bakso, tidak hobi memakan bakso, justru saya lebih suka makan mi ayam. Saya membuka usaha bakso karena saya perhatikan, biasanya penggemar mi ayam itu mayoritas kaum lelaki. Masalahnya, jumlah lelaki lebih sedikit dari kaum perempuan. Padahal kaum perempuan itu biasanya hobi makan bakso. Dengan demikian, perputaran cashflow-nya lebih cepat karena kebanyakan kaum ibulah yang memegang uang, kaum pria hanya mencari. Selain itu juga karena orang Indonesia gemar makan bakso. Kalau makan sih saya suka, tapi saya lebih suka memilih makanan dari segi kuantitasnya, bukan kualitasnya. Yang penting porsinya banyak.

Q: Tadi telah disebutkan bahwa bakso kepala sapi itu hanya sebagai eye catching. Apakah tidak ada unsur kepala sapi sama sekali?

A: Pertama kali maksudnya memang hanya untuk branding saja. Tetapi, belakangan ini kami telah menambahkan kepala sapinya secara langsung sebagai bahan bakso. Mulai dari daging di sekitar pipi dan daging-daging lunak yang berada dalam kepala sapi untuk campuran pembuatan bakso, juga tulang-tulang lunak dan daging yang berada di kepala sapinya pun digunakan untuk menu bakso kepala sapi spesial.

Q: Di samping membuka usaha bakso, apakah Anda memiliki keinginan lain?

A: Saya mempunyai komitmen, ambiai, dan vidi untuk mengembangkan makanan-makanan tradidional di Indonesia. Setelah bakso, saya ingin makanan seperti nasi goreng, pecel lele, dan makanan tradiaional lainnya, dipasarkan dengan satu konsep pemasaran yang bida go national bahkan go international, setelah diberi sentuhan branding.

Q: Dulu awalnya bagaimana bisa membuka usaha bakso, padahal Anda tidak suka makan bakso?

A: Sewaktu kuliah, saya berkeinginan membuka suatu usaha. Jadi terpaksa saya harus mencari dan mencoba-coba berbagai macam makanan, sampai saya bertemu dengan Pak Suharto yang baksonya selalu laris. Saya terpaksa mencoba berbagai macam bakso untuk dapat melatih taste saya dalam membedakan mana bakso yang enak dan bakso yang tidak enak, dan mana yang konsumen paling suka dan yang tidak suka. Saya juga keliling ke mana-mana mencari tukang bakso. Tapi tetap saja saya tidak suka makan bakso.

Q: Ada tip menjual bakso atau makanan yang enak?

A: kiat terpenting adalah mencari orang yang ahli memasaknya. Seperti ketika saya ingin berbisnis bakso, saya mencoba mencari orang yang ahli dan mahir membuat bakso seperti Bpk Suharto ini. Jadi jika kita ingin berbisnis kuliner, tidak berarti kita harus jago memasak. Cukup merekrut orang-orang yang jago memasak atau koki yang sudah menjadi the best. Maka kita akan dapat membuat suatu produk kuliner yang luar biasa.

Q: Saat ini sudah ada berapa outlet? Dan bagaimana jika ada yang ingin bekerjasama dengan anda?

A: Saat ini saya sudah memiliki sembilan outlet. Dan jika ingin bekerjasama dengan saya, dapat menghubungi saya.

Q: Untuk usaha ini, berapa kira-kira modal awal yang harus disiapkan?

A: Untuk satu paket itu sebesar 40 juta rupiah. Terdiri dari bahan baku awal sebanyak 100 kilogram, freezer kapasitas 620 liter, gerobak bakso dan gerobak es buah, ice crusher, pelatihan karyawan selama satu minggu, dan perlengkapan-perlengkapan lainnya. Yang perlu disiapkan oleh franchise hanyalah SDM, tempat usaha, dan peralatan outlet lainnya.

Q: Dari 40 juta rupiah modal awal yang disetorkan, kira-kira berapa income yang bisa diperoleh?

A: Perhitungan saya, jika dalam satu hari dapat menghasilkan omzet 1,5 juta rupiah, maka frnachise mendapatkan nett income sekitar 6,5 juta setiap bulannya.





Setiap outlet, kata lajang yang juga tercatat sebagai mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, tidak kurang menghabiskan sekitar 3-5 kg kepala sapi. Kepala sapi direbus bersama bumbu-bumbu lainnya supaya menghasilkan cita rasa yang lebili kuat dan bau yang lebih wangi. Karena pakai kepala sapi dan bukan paha sapi seperti kuah bakso pada lazimnya, kuahnya menjadi rendah kolesterol. Biasanya pada kuah bakso yang lain, lemak selalu menumpuk di atas. Kuah BKS lemak hampir tidak ada. Anda bisa lihat sendiri,”kata Anggara. Karena rendah kolesterol, BKS bisa dikonsumsi oleh mereka yang pantang atau menghindari makanan yang berkolesterol tinggi.

Selain BKS, tersedia pula Bakso Kambing (BK). BK dibuat dari  daging kambing pilihan.

Kekhasan dan cita rasa "Bakso Kepala Sapi" cepat merebak, hingga banyak pengusaha lokal berminat bekerjasama dengan Anggara, pria kelahiran Purwokerto, 25 September 1984. Sukses dengan cabang sebelumnya. di Kebonpedes, Bogor, ia kemudian membuka cabang di Mayor Oking, Cibinong. Cabang kedua di Bogor ini dijalankan melalui pola kemitraan investor lokal.

Kesempatan kerjasama tersebut dilakukan agar baksonya bisa lebih dikenal sampai pelosok Bogor, merajai Bogor, bahkan menembus pasar nasional.

Melihat animo masyarakat dalam menikmati baksonya, serta minat pengusaha untuk bekerjasama, Anggara pun seolah mendapal angin segar dalam upaya mengembangkan dan menduplikasi usahanya. Seperti angannya untuk lebih memperkenalkan "Bakso Kepala Sapi” sampai ke pelosok Bogor, ia pun mengembangkan usahanya dengan cara franchiae. Menurut dia, cara seperti itu sangat efektif karena merekrut investor untuk permodalan sedangkan dia hanya memborl "brand" usahanya. Jadi, tak harus khawatir usaha akan bangkrut, sebab usahanya dilakukan jaringan.



Karena pakai kepala sapi dan bukan paha sapi seperti kuah bakso pada lazimnya, kuahnya menjadi rendah kolesterol 'Biasanya pada kuah bakso yang lain, lemak selalu menumpuk di atas. Kuah BKS, lemak hampir tidak ada.



Willy Maryanto adalah investor pertama yang berkerjasama dalam pengembangan "Bakso Kepala Sapi" Cabang Cibinong. Selanjutnya adalah Bambang (Ciawi), Yusuf (Ciomas) dan Ny. Olin (Padjajamn) Semuanya di Bogor.

Perjuangannya untuk menjadi pengusaha muda yang sukses di bisnis bakso dihadapinya tanpa pantang menyerah. "Kalau tidak begitu mungkin saya tidak banyak belajar. Perjuangan sekeras apapun akan saya lakukan untuk mewujudkan impian menjadi pengusaha muda yang sukses. Sepertinya itu akan segera menjadi kenyataan," ujarnya.

Meski sukses dalam bisnis, ternyata penyuka motor gede ini harus bekerja keras untuk menyelesaikan kuliahnya. Pemuda yang gemar tampil plontos ini ingin segera menyelesaikan kualiahnya karena beberapa alasan. Pertama, untuk menyenangkan hati orangtuanya, Rachmanto Srie Basuki dan Anie Asmara. Kedua, untuk memenuhi tuntutan calon mertua. Ia juga masih ingin menambah ilmu bisnisnya dan menaruh minat untuk berkecimpung di bisnis properti.

Jika teman-teman mahasiawa ingin menjadi luar biasa, maka lakukanlah hal-hal yang luar biasa. Bertemanlah dengan orang-orang yang luar biasa, karena kita akan menjadi terbiasa dengan semua itu.

Hukum Wirausaha #18 Entrepreneurship DNA

Ketika lahir engkau menangia, tetapi dunia tersenyum gembira. Buat­lah hidupmu hidup sehingga ketika engkau mati, dunia menangisimu, tetapi ruhmu tersenyum menyambut surga..

- Old Middle Eastern Blessing



BAGAIMANA SAYA TIDAK menjadi entrepreneur, saya lahir saja sudah dikelilingi barang-barang cagangan oranq tua," ujar Ir Ciputra dalam salah satu seminar kewirausahaan belum lama ini. Tak lama kemudian, di usia kanak kanaknya, Ciputra menyaksikan sendiri bagaimana orang tuanya menyelesaikan transaksi, melakukan order, memenuhi janji, dan seterusnya.

Seorang pimpinan perusahaan lain asal dari Peka­longan bercerita asal – mula jiwa wirausaha yang tumbuh kuat dalam dirinya. "Saga tinggal di sebuah pabrik tekstil, Ayah saya adalah pemilik pabrik itu. Di pasar, kakak-kakak saya membuka toko. Selepas sekolah, saya diminta ayah mengayuh sepeda mengecek harga. Karena belum ada telepon seluler, saga harus mondar-mandir seorang diri, tanya sana tanya sini," ujarnya mengenang masa lalunya. "Lama-lama intuiai saya jadi terbentuk. Saya menjadi cepat dalam mengambil keputusan dan peka dalam judgement," katanya lagi.

Apakah yang membentuk jiwa wirausaha kedua orang di atas? Garis keturunankah atau sosialiaasi?

Dulu kita percaya menjadi wirausaha membutuh­kan darah wirausaha. Banyak orang mengeluh talk bisa menjadi pengusaha karena mereka bukan keturunan orang Tionghoa, Yahudi, atau orang Padang. Maka tak heran kalau usahanya tak maju-maju. Tetapi sekarang kita saksikan profesi sebagai wirausaha digeluti oleh orang dari berbagai kelompok etnik, latar belakang pendidikan, dan tentu saja ada sukses dan ada kurang beruntung.

Jadi, wirausaha bukanlah soal genetika, melain­kan pada siapa Anda mengekspos diri. Namun seperti kata pepatah, Anda menjadi sesuatu karena siapa yang menjadi teman-teman Anda, maka kita pun mengenal istilah entrepreneurship DNA, yaitu DNA perilaku yang di­dapat dari lingkungan kita untuk mendapatkan DNA ini,





Belajar, dapatkan dan kembalikan. Inilah tiga kunci kebahagiaan. Yang pertama kejarlah di bangku sekolah, yang kedua bungunlah karir atau bisnis, dan yang terakhir ketribalikan pada orang-orang yang kurang berun­tung sebagai rasa terima kasihmu.

-Jack Balowsek



perhatikanlah tip berikut ini:

  • Bergaullah seluas-luasnya dengan wirausaha sukses yang benar-benar profesional dan berpegan teguh pada etika. Tidak semua wirausaha itu murni pengusaha. Ada di antara pengusaha yang hanya mencari komisi yang kita sebut calo, atau pengusaha "plat merah” yang hanya bermodalkan koneksi pada pejabat dan menangkan tender karena menyuap. Mereka bukanhh pengusaha sejati, jauhilah mereka.

  • Milikilah benih-benih DNA kewirausahaan yang dasarnya adalah open mind (keterbukaan pikiran), disiplin, ekstrovert, kemampuan bersepakat, dan tahan banting.

  • Perkaya kemampuan membaca lapangan dengan mengasah intuisi dari persoalan-persoalan di lapangan.

  • Sekalipun Anda mendapatkan wariaan per­usahaan dari orangtua, Anda punya tugas memperluas usaha, dan memajukan usaha mereka. Bekerja lebih keraslah, jangan cepat putus asa atau merasa bahagia semata-mata karena menerima warisan belaka.

  • Jangan pernah merasa gengsi atau malu me­mulai segala sesuatu dari nol, karena semata-mata Anda anak seorang pengusaha.

  • Bila tak memungkinkan berusaha dari nol, be­kerjalah pada orang lain/perusahaan lain terlebih dulu. Rasakan dan nikmati rasanya menjadi bawahan dan memimpin pada perusahaan yang bukan milik sendiri.



Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

No comments: