Saturday, October 20, 2012

Suparji, Mantan Bartender yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Kancing Unik

Anda butuh kancing kerajinan yang unik dan
menarik dalam aneka bentuk, dari yang sulit
sampal yang sederhana? Suparji Utomo (57)
slap untuk itu. Koleksi kancing kerajinan
buatannya pun hampir tak terhitung
jumlahnya. Pelanggannya perusahaan konveksi
besar di Indonesia dan mancanegara.

Suparji adalah pemiik pusat kancing kerajinan
JJ Button di Jalan Gunung Tangkuban Perahu,
Kota Denpasar, Bali. Meski mengaku tak memiliki kemampuan bisnis, usaha

kancing kerajinannya maju pesat sejak berdiri tahun 1996. Kini ia
memiliki puluhan rekanan dalam pembuatan kancing tersebut.

“Saya juga tidak menyangka karena semua terjadi
begitu saja. Saat itu yang terpikirkan oleh saya adalah
ini peluang!” kata Suparji saat ditemui di toko kancing kerajinannya,

pertengahan bulan Mei lalu.

Awalnya, ia hanya memiliki pengalaman sebagai
bartender hampir 10 tahun di salah satu kelab malam di sekitar Legian,

Kabupaten Badung. Karena tak
maju, ia bersama I Gusti Ayu Putri Astuti (48),
istrinya, beralih menggeluti pembuatan barang-barang dan bahan baku kulit.

Sayangnya, usaha kulitnya pun hanya bertahan 10 tahun. Sepanjang waktu itu

usahanya hanya kembang kempis.

Tiba-tiba, salah satu pelanggannya asal Amerika
Serikat yang memiliki perusahaan garmen di Pulau
Dewata menantang Suparji untuk bisa membuat
25.000 kancing baju dari bahan batok kelapa. Hanya
saja, kancing itu harus ada gambar bintang laut.

“Sebenarnya saya bingung juga mendapatkan tantangan itu karena sama sekali

belum pernah membuatnya. Tapi ini adalah peluang! Kancing bentuknva
kecil dan hampir dianggap sepele oleh orang-orang,
termasuk saya. Tapi, entah mengapa, saat itu saya
begitu yakin ini adalah kesempatan emas buat saya
dan keluarga saya,” tutur Suparji yg didampingi
anak sulungnya, Cendana Wangi Utomo (25).

Pesanan 25.000 kancing batok kelapa yang bergambar bintang laut itu mampu

dipenuhniya. Selanjutnya, pesanan kancing terus mengalir seperti tak
henti. Ragam desain pun bermunculan, terutama
terinspirasi dari pelanggannya dari negeri Sakura,
Jepang. Kini koleksi produksi dan langganannya tak
terkira jumlahnya.

Berbagai referensi dipelajari dan dia bereksperimen mengenai bagaimana agar

kancing buatannya awet dengan bahan baku cat aman lingkungan serta
tidak berbahaya untuk anak-anak. Satu pengalaman
yang tak terlupakan adalah ia sempat diprotes pelanggan karena cat kancing

buatannya luntur.

Baginya, protes apa pun dari pelanggan adalah
teguran berharga agar produknya bisa lebih baik di
kemudian hari, la sadar tak mudah bersaing. Bahkan,
lanjutnya, tak mudah pula menentukan apakah
usahanya ini kerajinan kancing atau kancing kerajinan? Ia pun memiih

kancing kerajinan.

Ya, menurut Suparji,kerajinan kancing itu sama
saja dengan pembuat kancing. Sementara Suparji
merasa dirinya adalah pembuat kancing yang tidak
hanya sekadar kancing biasa.

Buktinya? Semua ukuran kancing buatannya tidak
ada yang sama, juga tidak bisa dilakukan dengan
mesin hanya agar proses produksinya lebih cepat.
Seluruh kancing adalah buatan tangan dan dibuat
satu per satu, mulai dari pemilihan bahan baku
pembentukan, pengecatan, hingga pelubangan kancing itu sendiri.

Semua itu tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Itu sebabnya, pembuatan kancing Suparji hanya
berjumlah ratusan, bahkan untuk kancing yang rumit
bisa membutuhkan waktu sebulan. Berbeda dengan
kancing biasa yang berbentuk lingkaran dengan dua
lubang yang lazim ada. Itu bisa diproduksi puluhan
ribu buah dalam sehari.

Eksperimen bahan baku pun terus berlanjut. Berawal dari

batok kelapa yang terbuang alias sampah.

Suparji pun mengembangkan bahan bekas lainnya,
seperti tulang sapi, kulit kerang, dan kayu.

Cita-citanya, produksi buatannya semua ramah lingkungan.

“Namun, apa boleh buat. Beberapa pelanggan masih menginginkan bahan baku dari getah damar yang dijadikan aneka macam bentuk dan warna,” kata
Suparji.

Satu hal yang masih sulit Suparji dan putri sulungnya lakukan

adalah menghitung jumlah desain
yang mereka miliki. Hal ini disebabkan seluruh kancing buatan mereka

ditempatkan dalam sebuah stopies. Tak jarang, sejumlah orang yang tak

membaca toko ini menjual berbagai kancing kerajinan mengira
toko ini sebagai toko permen.

Harga satu kancing beragam, mulal Rp 2.000
hingga puluhan ribu rupiah. Ukurannya pun beragam, dari yang terkecil

sebesar kuku jari jempol orang dewasa hingga ada yang sebesar tutup gelas
dengan berbagai bentuk, dan lingkaran sampai bentuk jamur, mobil,pesawat,

dan lain-lain. Seru!

Saat ini ia tengah merintis inovasi baru bersama
putri pertamanya itu. Menurut Suparji, bisnis semakin memanas dari hari

kehari. Jika iƤ tidak
memvariasi produknya, bisa saja ia ditinggalkan pelanggannya. “Karena ini

barang seni, jadi sebisa mungkin setiap hari perlu ada inovasi dan kreasi,
tentu dengan hati dan niat bersih. Jika berusaha,
pasti bisa!” ujar Suparji.

OLEH: AYU SULISTYOWATI

Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 9 Juli 2011

No comments: