Saturday, October 20, 2012

Bob Dimas, Bermodal 50 Rb, Kini Omzetnya Puluhan Juta per Hari Lewat Keripik Singkong

Keripik singkong adalah makanan rakyat yang biasa ditemukan di pinggir jalan yang dijual secara sederhana. Namun, di tangan Dimas Ginanjar Merdeka (26), keripik singkong disulap menjadi makanan yang bergengsi dan bemilal tinggi, persis seperti sentuhan Midas yang membuat semuanya menjadi emas, bernilal tinggi. Dimas-lah yang pertama kali memperkenalkan produk keripik singkong pedas bernama Maicih yang dijual melalui jejaring sosial Twitter. Mengawali usahanya dengan modal Rp 50.000, kini dia mengelola usaha dengan omzet nyaris Rp 16 juta per hari. Maicih dengan produksi harian sampai 5.000 bungkus menjadi merek utama dalam makanan pedas yang dibuntuti oleh para kompetitornya. “Keripik singkong adalah camilan kegemaran saya,” ujar Dimas menceritakan ketertarikannya untuk berbisnis keripik singkong pedas. Salah satu ciri khas yang dimiiiki Maicih adalah tingkatan (level) dari rasa pedas pada keripiknya, yakni paling rendah tingkat 3 dan paling pedas adalah tingkat 10, dan dijual dengan harga eceran Rp 13.000 hingga Rp 15.000 di Bandung, Jawa Barat. Dia mengatakan, membuat sekeping keripik singkong terasa enak di nikmati. Bukan cuma soal rasa pedas saja, melainkan juga rasa gurih. Banyak penjual keripik singkong pedas terjebak bersaing di rasa pedas malah keripik singkongnya tidak lagi terasa. Dia mengolah produknya menggunakan cabal giling, bukan bubuk cabai, ditambah rempah-rempah yang diracik khusus agar rasanya tetap gurih. Setelah besar, Maicih menjadi merek yang memiliki misi mengangkat kebudayaan Jawa Barat. Baru-baru ini Maicih menjadi sponsor tunggal konser musik grup Bottle Smoker di Bandung, suatu hal yang langka terjadi saat konser banyak didominasi rokok ataupun provider telekomunikasi. Dimas beralasan, Bottle Smoker dipilih karena menjadi band yang sudah melanglang buana di kancah internasional, tapi belum pernah menggelar konser di kampung halamannya di Bandung. Maicih juga beberapa kali menjadi sponsor untuk konser biduanita Sarasvati, di luar Bandung, sembari promosi produk. Maicih yang memiliki logo gambar perempuan tua itu juga memiliki program “1 coin 1 leaf” yang berarti setiap pembelian satu bungkus Maicih akan menyisihkan Rp loo untuk tujuan sosial. Dimulai sejak dua bulan, program ini juga sudah menghasilkan dana Rp 16 juta yang disumbangkan untuk pelestarian Gunung Manglayang, Sungai Cikapundung, dan rencananya akan disalurkan untuk anak yatim. Distribusi keripik singkong pedas serta tujuh varian produknya tidak terbatas di Bandung saja. Saat ini keripik singkong Maicih sudah bisa didapatkan di Yogyakarta, Surabaya (Jawa Timur), hingga Medan (Sumatera Utara). Twitter Salah satu hal yang diingat dari Maicih adalah jejaring sosial Twitter. Melalui situs microblogging inilah Dimas pertama kali memasarkan produknya, tahun 2010. Tidak ada jurus tertentu, murni coba-coba. Keterbatasan modal membuat produk tersebut dijual di mobil yang berkeliling di beberapa titik di Kota Bandung. Lokasi keberadaan mobil penjaja keripiknya itu dia informasikan melalui Twitter. Pasalnyá, saat pertama kali dipasarkan, tidak ada satu kafe pun yang bersedia meminjamkan tempatnya untuk berjualan keripik singkong pedas. Dimas mengawali pemasaran dengan memperkenalkan Maicih, tokoh fiksi yang membuat keripik singkong pedas. Dia sengaja menampilkan tokoh orang tua untuk menghadirkan relasi yang dekat dan hangat dengan konsumen, layaknya keluarga sendiri. Pendekatan viral marketing yang ditempuh Dimas ternyata berhasil dan merengkuh hasil yang tidak diduga. Konsumen kian tertarik berburu produk Maicih dan menganggapnya sebagal sebuah permainan. Menunggu informasi lokasi penjualan dan mengejarnya meski sebagian harus gigit jari karena kehabisan. Dimas menuturkan, produksi keripik singkong Maicih memang belum mampu memenuhi permintaan konsumen, hanya seperempatnya “Kelangkaan itu membuat konsumen semakin berebut mencari produk keripik singkong” katanya. Mengawali usaha pada Juil 2010, Dimas menjual 100 bungkus per hari dan kini sudah melonjak menjadi 5.000 bungkus per hari. Konsumen juga kerap menunjukkan fanatismenya terhadap Maicih. Dimas mengisahkan, acara peluncuran Maicih di Yogyakarta ternyata didatangi pembeli dari Surabaya dan daerah lain. Ada pula konsumen dari Bandung yang khusus datang karena kehabisan di kotanya. Komunikasi Sadar bahwa tidak bisa bergantung pada Twitter seterusnya, Dimas pun serius menggarap identitas Maicih, mulai dengan mengganti logo usaha karena mulai banyak pesaing yang memasarkan keripik pedas dengan pendekatan serupa. Sebagai pembeda, dia juga mengemas ulang produknya dengan kemasan kertas sehingga lebih eksklusif serta melengkapinya dengan label Badan Pengawas Obat dan Makanan dan label halai dari Majelis Ulama Indonesia. “Semua tidak dilakukàn karena keharusan, melainkan tanggung jawab agar konsumen tenang mengonsumsi produk kita,” katanya. Salah satu nilai yang dia pegang erat adalah komunikasi dengan para konsumen untuk mendapatkan masukan balik. Dari sanalah Dimas juga memutuskan untuk menghentikan cara berjualan dengan berpindah-pindah setelah konsumen mulai sering kecewa karena tidak pernah kebagian. Saat ini, ada enam gerai yang menjual Maicih, belum termasuk jasa pengantaran produk. Begitu pula dengan pembuatan tingkatan untuk rasa pedas. Awalnya, Maicih memiliki tingkatan 1 hingga 10, tapi hal itu rupanya membuat konsumen sedikit kebingungan karena sulit membedakan antara tingkatan 1 dan 2 atau 5 dan 6. Akhirya, Dimas menyederhanakannya menjadi tingkat 3, 5, dan 10. Selain keripik singkong, Dimas — yang juga akrab disapa dengan nama Bob — memproduksi makaroni dengan beragam rasa pedas lainnya. Produk lainnya, gurilem alias kerupuk awur, salah satu makanan khas Tanah Pasundan, pun mendapat perlakuan serupa dengan rasa pedas berbagai level. Dia juga akan meluncurksm situs http://www.maicih.com yang menjadi sarana komunikasi bagi konsumen. Dengan membuka laman tersebut, Dimas berharap dapat mengetahul keinginan pelanggan dan memenuhinya. Yang pasti, begitu mengunyah keripik singkong Maicih, tidak lama kemudian mulut akan terasa panas karena kepedasan. Kapok? Justru semakin ketagihan. Inilah budaya makanan pedas yang kembali dihadirkan Dimas. DIMAS GINANJAR MERDEKA Lahir: 17 Agustus 1985. Pendidikan Terakhir: - Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Parahyangan Bandung OLEH: DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO Sumber: Harian Kompas Cetak, Sabtu, 6 Agustus 2011

No comments: