Saturday, October 1, 2011

Dari Karyawan, Arnawa Kini Sukses Menjadi Entrepreneur Dengan 500 Karyawan

Dari seorang karyawan, I Putu Arnawa bermetamorfosis menjadi entrepreneur dengan 500 karyawan. Bisnisnya terpancak di setiap jengkal Bandara Ngurah Rai. Juga di Nusa Dua, Sanur dan Kuta. Bagaimana ia mengawali?

Langit kemerahan dengan sapuan arakan awan merona jingga ditelan ufuk barat saat kaki menjejak di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Menyusuri selasar yang dipenuhi deretan gerai handycraft dan riuh orang-orang berkulit putih dengan mata biru dan rambut pirang kemerahan, pandangan mata menangkap beberapa gerai dengan nama yang sama. Prada Reflexology dan Prada Priority Restaurant dijumpai di hampir setiap gate, mulai dari Gate 1, 2, 3, sampai Gate 10 area kedatangan internasional Ngurah Rai. “Tujuh gerai Prada Reflexology, 6 restoran Prada, dan dua executive lounge.” Mengeja dan menyimpan dalam hati temuan mata yang membersitkan tanya, siapa pemiliknya?


Sosok bertubuh tegap dengan penampilan yang cukup kasual itu menjabat erat tangan kami. “Putu Arnawa,” katanya. Senyum hangatnya menebarkan keramahan. Sore itu, di Prada Priority Lounge, salah satu ruang tunggu eksklusif miliknya yang terletak di lantai bawah Bandara Ngurah Rai, Putu Arnawa yang akrab disapa Arnawa membagi cerita pergulatannya membangun bisnis. Di bawah payung PT Nu Prasada, saat ini ia memiliki puluhan gerai refleksologi, executive lounge, resto, spa, minimarket, ruko, vila butik, sampai hotel.


Bisnisnya tak hanya berserak di Bandara Internasional Ngurah Rai, tetapi tersebar di kawasan Kuta dan Nusa Dua. Di kawasan bergengsi Bali Collection Nusa Dua, jejak bisnis Arnawa terpancak megah. Selain ada empat resto dan empat gerai refleksologi, yang paling mencolok pandangan adalah keberadaan Prada Concept Store yang menyediakan aneka wine, cokelat, rokok dan camilan.


Arnawa juga ikut menggerakkan bisnis di Sanur. Di pusat bisnis Pulau Dewata ini, Arnawa merambah bidang properti dengan ruko dan vila. Prada Executive Villa yang mengusung konsep vila butik, baru diluncurkan awal tahun ini. Ada 10 unit dengan masing-masing luas 500 m2. Di setiap unit terdiri dari empat kamar utama, ruang tamu, dapur, dan kolam renang dengan full furnishing. “Seperti layaknya hunian, penyewa tinggal masuk,” kata Arnawa. Setiap unit vila disewakan minimum dua tahun dengan harga Rp 500 juta/tahun/unit. “Yang menyewa para ekspatriat dan sudah terisi semua,” kata Arnawa semringah. Setali tiga uang, 9 ruko yang dimiliki Arnawa di Sunset Road sudah terisi penyewa yang rata-rata perusahaan besar, seperti bank dan biro travel.


Bisnis supermarket dijalankan Arnawa di Kuta. Ia juga tengah ancang-ancang membangun hotel dengan 100-an kamar di Kuta, kawasan yang menjadi poros wisatawan domestik dan mancanegara. “Sedang mengurus perizinannya. Targetnya akhir tahun ini sudah mulai pembangunan,” kata Arnawa seraya menambahkan, hotel dengan konsep sama juga akan dibangun di Nusa Dua. “Konsepnya hotel butik, jadi lumayan mewah.”


Sejatinya, di panggung bisnis Pulau Dewata, Arnawa boleh dibilang pemain baru. Tahun 2001, Arnawa menceburkan diri ke gelanggang bisnis. Debut awalnya adalah gerai refleksologi di area kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai. Waktu itu, ia masih tercatat sebagai manajer di sebuah lounge – satu-satunya ketika itu – di Bandara Ngurah Rai. Saat Arnawa bergabung, lounge tersebut tengah limbung. Tugas Arnawa menggeliatkan kembali bisnis lounge yang salah satu pemiliknya adalah Aerowisata. Sebelumnya, ia bekerja sebagai staf ground handling di Singapore Airlines dan Cathay Pacific.


Berbagai terobosan kemudian dilakukan Arnawa yang sempat mengikuti pelatihan bisnis lounge di berbagai bandara di belahan bumi lain. Salah satu terobosannya, menghadirkan fasilitas refleksologi untuk para tamu lounge yang kemudian disusul dengan layanan massage. “Kami yang pertama menawarkan fasilitas layanan refleksologi ini,” ungkapnya. Fasilitas anyar itu disambut antusias para tamu, terutama tamu dari Jepang. Standar higienitas di lounge, termasuk prosedur dan penyiapan makanan, ditingkatkan sesuai dengan standar internasional. Kerja sama dengan maskapai pun ditingkatkan. Berbagai upaya tersebut mampu menaikkan kembali pamor ruang tunggu eksklusif itu.


Seiring lounge yang dikomandaninya menggeliat kembali, ia tergelitik untuk membuka refleksologi di luar lounge tetapi masih di area bandara. Pertimbangannya, pasar yang dibidik lebih luas, tidak terbatas seperti di lounge yang hanya mengandalkan penumpang kelas bisnis. Waktu itu, dengan modal tabungan seadanya, ia memberanikan diri membuka gerai refleksologi pertama di bandara. Ia memulai dengan tempat yang kecil, sekitar 4 x 6 m2 dengan empat kursi dan lima karyawan. Prada Reflexology yang dibesut Arnawa ternyata dibanjiri pengunjung. Padahal, harga yang dibanderol cukup mahal, Rp 100 ribu untuk 30 menit.


Bagi Arnawa, keberhasilan itu sebuah awal yang bagus. Ia kemudian tergerak untuk menambah gerai lagi. Di bawah bendera UD Prasada, ia menambah gerai refleksologi di kawasan yang sama. Lagi, Dewi Fortuna memeluknya. Penambahan gerai justru makin memperbesar pasar. Gerai refleksologinya selalu penuh.


Intuisi bisnisnya kemudian mengendus peluang di bisnis food & beverages. Dari perbincanagn dengan tamu-tamu di gerai refleksologi, ia melihat ada peluang mengembangkan usaha resto dengan suguhan menu internasional. “Waktu itu memang belum ada restoran dengan konsep internasional,” katanya. Lagi-lagi, dengan modal yang dikumpulkan dari usaha refleksologi, ia membangun Prada Priority Restaurant di Gate 1 dan 2. Kapasitas resto yang mampu menampung 40-50 kursi itu juga mendapat respons positif dari pengunjung, terutama para ekspat.


Keberhasilan itu melecut Arnawa untuk fokus mengembangkan bisnis. Ia kemudian memilih keluar dari tempatnya bekerja. “Tidak enak juga mengurusi bisnis tapi masih bekerja di tempat lain,” katanya. Keberanian untuk keluar dari comfort zone, bagi Arnawa, adalah pilihan yang bukan tanpa risiko. Toh, itu harus diambilnya. “Waktu itu saya sudah mantap melangkah memasuki dunia usaha,” katanya. Bagi Arnawa, keberhasilan tidak akan bisa diraih kalau tidak berani melakukan perubahan.


Pilihannya tidak keliru. Dengan fokus pada usaha refleksologi dan resto, bisnisnya terus berkembang. Tahun 2005, status hukum usahanya ditingkatkan menjadi PT dengan nama PT Nu Prasada. Seiring perubahan status hukum, gerai refleksologinya terus bertambah. Ia juga membuka lagi resto di pintu keberangkatan 7 dan 8. Setiap ada peluang, ia menambah lagi gerai refleksologi dan resto. Padahal, mencari tempat di area tunggu keberangkatan internasional itu tidak gampang. “Hunting tempat di bandara itu tidak gampang. Apalagi, kami pemain baru,” ungkapnya.


Toh, kendala tersebut tak menyurutkan langkah Arnawa untuk “menguasai” setiap jengkal tempat di bandara. Bahkan, ketika pihak Angkasa Pura menawarkan pengelolaan lounge yang ditinggalkan pemiliknya karena pindah lokasi, Arnawa tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Awalnya, jujur saya tidak berani karena tempatnya luas sekali, lebih dari 350 m2,” ceritanya. Namun, setelah dipertimbangkan dengan saksama, ia pun menerima tawaran Angkasa Pura untuk mengelola lounge yang notabene tempat dulu ia merentas karier. “Saya sudah pernah mengelola lounge dan berhasil. Sebelum saya ambil, saya beri tahu teman-teman di airlines kalau saya akan punya lounge sendiri,” katanya sambil tertawa.


Diakui Arnawa, ketika memasuki bisnis lounge, tantangannya luar biasa. Meski ia sudah paham seluk-beluk dunia lounge, ia tetap nervous. Pasalnya, saat ini ia adalah pemilik. Investasi yang dikucurkan pun tidak sedikit. Waktu itu sekitar Rp 200 juta untuk membenahi interior saja. “Belum termasuk sewa tempat karena waktu itu saya dapat keringanan bisa dicicil. Ini juga yang jadi pertimbangan saya akhirnya bersedia mengambil lounge ini,” ungkapnya.


Tahun 1998-2001, di lounge itu ia sebagai manajer dan tahun 2005, ia sebagai pemilik. Tahun-tahun berikutnya, bisnisnya terus menggelinding, bahkan keluar bandara. Selain mengembangkan gerai refleksologi dan resto, ia merambah bisnis spa, supermarket dan properti. Perjalanan metamorfosis dari seorang karyawan menjadi entrepreneur sukses di genggamannya. “Saya selalu meyakinkan diri saya bahwa setiap usaha kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh akan berhasil. Tentu keberhasilan ini juga berkat campur tangan Tuhan,” tuturnya.


Bagaimana bisnisnya bisa menggelembung? Arnawa adalah pengusaha yang sangat memahami bahwa bisnis adalah dunia kompetisi. Menurutnya, persaingan di dunia bisnis tidak bisa dielakkan. “Jangan takut terhadap persaingan bisnis, jalani bisnis dengan baik dan penuh perhitungan,” imbuhnya. Untuk menjadi pemenang, jurus yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik. A small step is part of a giant step, so do what ever you can do and give it your best. “Lakukan yang terbaik dan harus lebih setingkat bahkan beberapa tingkat dari yang sudah ada,” kelahiran Mengwi, Kabupaten Badung 14 Juli 1972 ini menandaskan.


Arnawa memang tidak mau setengah-setengah dalam menjalankan setiap ladang bisnis yang dimasukinya. “Harus something different. Kalau mau bikin yang besar ya besar sekalian, jangan tanggung-tanggung atau jangan sekalian,” ungkapnya. Dalam menjalankan setiap unit bisnisnya, lanjutnya, harus memberi pembeda dari pemain yang sudah lebih dulu hadir.


Berbekal prinsip tersebut, Arnawa memasuki setiap bisnisnya dengan menawarkan nuansa berbeda, yang pastinya tidak dimiliki pesaingnya. Refleksologi, misalnya. Sebagai pionir, ia tahu langkahnya akan banyak ditiru orang. Terbukti, di bandara sekarang ini puluhan gerai yang menawarkan refleksi dan pijat menjamur. Toh, Prada masih yang terdepan. Dengan keluwesan dan keramahan para terapis yang siap memanjakan tubuh, ditambah interior yang dibuat nyaman, membuat Prada Reflexology dengan tarif di kisaran Rp 80-140 ribu itu tak pernah sepi pengunjung. Apalagi, layanannya ditambah manikur dan pedikur.


Untuk resto pun begitu. Paduan menu, interior, dan pelayanan yang prima mengantarkan Prada Priority Restaurant selalu dijadikan pilihan bersantap, seperti restonya di Nusa Dua. Resto-resto milik Arnawa menyuguhkan atmosfer yang berbeda. Ada live music dengan jenis musik yang berbeda disuguhkan menemani para tamu bersantap. Ini tak ada di resto lain di kawaasan tersebut. Bagaimana dengan lounge? Tak seperti dua lounge lainnya di Bandara Ngurah Rai, Prada Lounge menjalin kerja sama dengan semua airlines. Bukan hanya penumpang kelas bisnis, semua segmen mendapat tempat di Prada Lounge. “Tinggal menunjukkan kartu kredit Gold saja,” katanya. Dengan membuka pintu lebar-lebar, pasar Prada Lounge otomatis semakin terbuka lebar.


Menurut Sumber SWA di Premier Lounge Bandara Ngurah Rai, meski boleh dibilang pemain baru, Prada Lounge cepat berkembang dan berhasil menarik pengunjung. Keberhasilan Prada Lounge, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu, karena Arnawa sebagai pemilik menguasai detail bisnis lounge. “Beliau lama bekerja di lounge sehingga sangat paham bagaimana menjalankan bisnis lounge,” ungkapnya. Ia juga melihat Prada Reflexology tetap merajai di bisnisnya meski saat ini bermunculan pemain baru di bisnis refleksologi di bandara. “Karena dia pionir, mereknya sudah kuat, jadi tetap yang terdepan,” katanya.


Sementara di mata Nakrowi dari Garuda Indonesia (Bali), keberhasilan Arnawa karena ia fokus dalam mengembangkan bisnis. “Ia fokus di bisnis yang digelutinya,” ungkap pria yang akrab disapa Rowi ini. Menurutnya, Arnawa juga memiliki relationship yang bagus dengan semua maskapai yang singgah di Ngurah Rai. Karena lama bekerja di ground handling dan lounge, tambahnya, Arnawa memiliki jejaring yang luas di kalangan maskapai.


Keberhasilan Arnawa adalah akumulasi dari semangat, kerja keras, kreativitas, dan jejaring yang luas di ranah airlines. Dalam rentang sedasawarsa, bisnisnya menggurita. Memulai bisnis pada 2001 dengan lima karyawan, sekarang ia mengayomi hampir 500 karyawan. “Tantangannya juga tidak kecil,” kata ayah satu putra dan dua putri, yang aktif di organisasi kemasyarakatan ini.


Sewaktu membangun resto di Gate 7 dan 8, misalnya, restonya sempat terseok-seok. Pasalnya, itu pintu terakhir menuju pesawat. Untunglah, waktu itu ada airlines yang kerap delay sehingga memerlukan layanan untuk para penumpangnya. Awalnya hanya snack, kemudian makan. Sampai akhirnya semua maskapai menjalin kerja sama untuk urusan layanan penumpang karena delay.


Setelah 10 tahun berkiprah di dunia bisnis, Arnawa yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi pramuwisata, dikenal sebagai pengusaha bertangan dingin dengan kepemimpinan yang kuat. “Beliau orangnya tegas, disiplin dalam urusan kerja meski hubungan dengan karyawannya dibangun dengan rasa kekeluargaan,” ungkap seorang karyawan yang tak mau disebut jatidirinya. Di matamya, sang bos yang lulusan Politeknik Pariwisata ini seorang pekerja keras dan taat beribadah. “Beliau orangnya baik dan rajin beribadah,” imbuhnya.


Jalan hidup telah mengantarkan Arnawa pada pencapaiannya saat ini. Ia meraihnya berkat keberaniannya meninggalkan zona amannya sebagai karyawan. “Bisnis ini jiwa saya, banyak mimpi yang ingin saya raih lewat bisnis ini,” ungkap Arnawa.


Ke mana lagi kepak sayap bisnisnya akan mengembang? Akankah ke luar Pulau Dewata? “Saya terlalu sederhana berpikir, saya belum tertarik untuk ekspansi ke luar Bali. Kalau mau, ya sekalian ke luar negeri,” ujarnya. Ia menilai Bali masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. “Saya akan tetap di Bali. Selain masih banyak peluang yang bisa dikembangkan, akan lebih mudah juga memonitornya,” ungkap suami N. L. Parwati ini. “Saya berangkat dari orang operasional. Jadi, kalau tidak lihat operasional, sepertinya ada yang kurang,” imbuhnya.


Ke depan, seiring perluasan Terminal Internasional Ngurah Rai, ia tengah berancang-ancang membuka lounge dan duty free. “Mungkin mengawali dengan wine dulu,” kata Arnawa yang baru saja menggenggam izin sebagai distributor wine untuk area Bali. “Supaya duty free yang sekarang ada lawannya,” katanya sambil tertawa.


BOKS:


Tip Sukses Ala Arnawa





  • Menguasai best practice bisnis lounge.




  • Fokus pada bisnis yang digeluti.




  • Jejaring yang luas dengan semua airlines yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai.




  • Selalu menjadi yang terdepan di bisnisnya




(oleh : Henni T. Soelaeman)

sumber: http://swa.co.id/2011/12/%e2%80%9cpenguasa%e2%80%9d-ngurah-rai/

No comments: