Wednesday, June 6, 2012

Hendy Setiono, Pemilik kebab Turki Baba Rafi: Dari lidah turun ke bisnis

Kalau tidak perna mencicipi makanan khas Timur Trngah, bisa jadi ia tak akan sesukses sekarang ini. Namun, lidah Hendy Setionotak hanya dapat menecap makanan enak. Ia pun dapat membisniskan makanan enak itu sampai kebab turki Baba Rafi didirikan dengan modal 10 juta rupiah dapat melanglang buana sampai ke mancanegara

IDE BISNIS BISA muncul kapan saja, di mana saja. Hendy Setiono (26), misalnya, menemukan ide bisnis setelah mencoba makanan khas Timur Tengah, kebab. Pada Mei 2003, arek Suroboyo ini mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar Selama di negeri minyak itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Karena penasaran, akhirnya ia pun mencobanya. "Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga sebelumnya," ungkap Hendy.

Tak hanya enak dan perut kenyang, sejak saat itu, benak pria yang doyan makan ini, mulai didominasi oleh keinginan untuk membuat usaha kebab di tanah air. Makanya, selama di Qatar, dia juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab, terutama di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya. Alasannya sederhana; selain rasa nya enak, ia melihat belum banyak usaha semacam itu di Tanah Air, Padahal di Indonesia terdapat banyak warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota. Orang Indonesia juga banyak yan naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. "Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab, di outlet saya," katanya beralasan.

Dari sekian jenis kebab yang dicobanya, sulung dua bersaudara pasangan Ir. Bambang Sudiono dan Endah Setijowati, berpendapat kebab dari Istanbul, Turki, yang paling enak. Karena itu, dia menggunakan "trade mark" Turki untuk menarik calon pelanggan.



MENCARI PARTNER

Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Namun keinginan untuk membuka usaha kebab tak terbendung lagi. Begitu tiba di Surabaya, Hendy langsung menyusun strategi bisnis. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari rekan bisnis. Ayah tiga anak ini tidak

ingin usahanya asal-asalan. Ia kemudian bertemu Hasan Baru, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang seni kuliner.

Kombinasi bahan yang digunakannya membuat lidah tergiur. Bayangkan daging panggang berbumbu, menyebarkan aroma yang membangkitkan selera. Ditingkahi irisan sayur segar, mayonnaise, saus tomat dan sambal istimewa, dengan penyajian menarik.



BIODATA



HENDY SETIONO

Surabaya, 30 Maret 1983 Email: hendy@babarafi.com

PENDIDIKAN:

2003 – 2004 Advance Diploma of E-Commerce Informatics Computer School Singapore Education

2002 – 2003 Diploma of E-Commerce Informatics Computer School Singapore Education

2000 -2002 Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) hingga Semester 4



NAMA USAHA :

PT. Baba Rafi (Waralaba makanan)

Website : www.babarafi.com

Alamat : Ruko Manyar Garden Regency Kav. 29-30, Jl. Nginden Semolo 109, Surabaya, Jawa Timur

Telp. 031 5999975, Fax: 031 5992405

Email : support@babarafi.com

info@babarafi.com

PENGHARGAAN :

2008 “The Best Indonesia Franchisor” dari Majalah Info Franchise Indonesia

2008 “The Most Promising Entrepreneur of the Year" dari Asia Pasific

2008 “Asian Young Entrepreneurship Best unde 25 year” dari Business Week Asia Magazine

2007 “Jawara Entrepreneur 2007" dari Majalah KONTAN

2007 “Pemenang I wirausaha Muda Mandiri 2007 kategori Mahasiswa program Pascasarjana dan Alumni

2007 Indonesia Ambasador for Asian Young Leaders Climate Forum dari British Council

2007 “Best Achievement Young Entrepreneur Award 2007” dari Bisnis Indonesia

2007 “Best Franchise in Local Food & Beferages Category” dari Majalah Pengusaha

2007 Inspirator “Sound of Change” dari A Mild Live Soundrenaline

2006 “10 People of the Year” dari Majalah TEMPO (Special Edition)

2006 “The Indonesian Small and Medium Busines Entrepreneur Award (ISMBEA)”, dari Menteri Koperasi dan UKM

2006 “Enterprise 50” The Hottest Entrepreneur in 2006, Majalah SWA

LAIN-LAIN :

2008-Sekarang                  Pemilik Piramizza: Counter makanan cepat saji dengan 5 (lima) outlet di Kota Surabaya

2007-Sekarang                  Investor Baba Rafi Palace: Rumah Penginapan dengan 18 ruangan yang fungsi sebagai Homestay.

2006-Sekarang                  Pemilik Roti Maryam Aba-Ab : Counter makanan cepat saji ala Timur Tengah yang memiliki lebih dari 45 outlet yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali.

Mereka kemudian sepakat untuk melakukan bisnis yang sarat trial and error. Hal ini dilakukan untuk menjajaki peluang bisnis pangsa pasar, serta resep kebab yang dapat diterima lidah orang Surabaya. Ia mengaku pernah membuat kebab dengan resep dart Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya kuat. Namun ternyata tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Oleh sebab it ia memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familiar dengan orang Indonesia. Hingga akhirnya, terciptalah resep kebab turki ala Hendy dan Hasan. Kombinasi bahan yang digunakannya membuat lidah tergiur. Bayangkan daging panggang berbumbu, menyebarkan aroma yang membangkitkan selera. Ditingkahi irisan sayur segar mayonnaise, saus tomat dan sambal istimewa, dengan penyajian menarik digulung dalam lembaran tortilla lembut.

Proses memformulasikan resep yang tepat membutuhka waktu sekitar tiga bulan. Dengan modal sekitar 10 juta rupiah, pad September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi Masa-masa awal usahanya, diakui Hendy sangat berat. Pernah, sejumlah uang untuk berjualan dibawa lari karyawan. Turn over karyawa juga sangat tinggi. Baru beberapa minggu bekerja, karyawan suda minta keluar. Bahkan, ia dan istrinya, Nilamsari, suatu ketika haru berjualan sendiri. Namun, karena kebetulan hari hujan, tak banya orang lalu-lalang untuk jajan. "Uang hasil berjualan hari itu diguna kan membeli makan di warung seafood saja tak cukup.

Karena tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan usah kebabnya, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah di Fakultas Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya (ITS), hingga akhirnya harus putus sekolah. Tentu saja hal itu sangat mengecewakan orangtuanya. Namun Hendy berjanji tidak akan menyia-nyiakan bisnisnya, suatu janji yang di kemudian hari dibuktikannya dengan jitu.



GO INTERNATIONAL

Strategi promosi dan publikasi kebab turki Baba Rafi jelas kualitas adalah segalanya. Oleh sebab itu, Baba Rafi menyiapkan pasukan khusus untuk quality control yang selalu memantau kondisi setiap outlet. Berdiri di bawah divisi Quality Control and Maintenance, divi itu bertugas mengecek dan mempertahankan kualitas rasa, pelayan an, kebersihan, serta value produk. Sebagai pendukung, usaha kebab ini menyediakan line telepon khusus bagi konsumen untuk menyant paikan komplain bila kualitas mengecewakan.

KELEZATAN KEBAB HENDY SETIONO

SEJARAH DAN PERADABAN dunia membuktikan bahwa perubahan senantiasa dimulai oleh generasi muda. Seratus tahun yang lalu, generasi muda yang berkumpul mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 telah membuat Indonesia merdeka. Salah satu contoh generasi muda yang mampu membuat perubahan adalah Hendy Setiono, lewat sajian lezatnya kebab turki Baba Rafi.

Q: Bisa di jelaskan bagaimana awalnya berwirausaha kebab?

A: Awalnya berasal dari hobi. Kebetulan hobi saya makan. Pada saat ada kesempatan berlibur ke Qatar, salah satu negara di Timur Tengah, saya tortegun menyaksikan populernya makanan bernama kebab itu. Pada saat saya mencoba, wah, ini rasanya kok enak banger. Dan muncullah ide untuk membawa menu makanan kebab itu ke Indonesia. Saya mulai mencobanya di Surabaya lima tahun yang lalu dengan menggunakan satu bush gerai gerobak. Dan Alhamdulillah ternyata sekarang telah berkembang lebih dari 352 outlet di lima puluh kota diseluruh Indonesia.

Q: Mengapa diberi nama "Baba"?

A: Betul. Saat itu saya terpikir akan menggunakan nama "Kebab Turki Mas Hendy." Tapi kan kayaknya tidak menjual, jadi pakai nama "Kebab Turki Baba Rafi". Rafi sebenarnya nama anak saya yang pertama. Sementara "Baba" adalah "Bapak" gitu, jadi "Kebab Turki Bapaknya Rafi".

Q: Langsung berkembang besar? Apa saja tantangannya?

A: Ya pasti. Bisnis ini tidak langsung berhasil, harus melalui proses perjuangan yang jugs berliku. Terutama pada saat awal, ketika saya masih sering terjun untuk berjualan sendiri. Saat itu musim hujan, sehingga omzet penjualannya tidak begitu bagus. Tapi karena saya semangat dan terus optimis, akhirnya bisa berkembang, terus berjalan hingga sekarang. Saya juga harus mengedukasi pasar. Banyak orang bertanya-tanya, "Apa sih ini kebab?" Setelah mencoba, dan penasaran dengan menu kebab, beberapa orang merasa cocok dengan rasanya. Besoknya mereka kembali lagi, dan mulai membeli bersama teman dan keluarganya.

Q : Beratkah bagi seseorang yang berpendidikan tinggi lalu banting setir menjadi pedagang?

A: Yaaa, betul. Ada perasaan malu dan gengsi, terutama di awal-awal. Tapi saya mencoba untuk melawan perasaan tersebut. Saya camkan bahwa kita harus mulai dari sesuatu yang kecil dulu.

Q: Ya. Kalau Anda ingin berbisnis dan berusaha, ada beberapa pilihan. Yang pertama, yang paling gampang, ikuti saja yang sudah ada. Jadi orang lain bikin martabak, kita bikin martabak. Tetapi kalau sudah se­perti itu konsumennya hanya akan memilih yang harganya lebih murah saja. Yang kedua adalah berbisnis dengan meniru yang sudah ada tapi kita perbaiki, kita ubah sedikit, kita bikin sesuatu yang berbeda. Nah yang ketiga adalah berbisnis yang sama sekali belum pernah ada di pasar. Di sinilah Hendy masuk, sebab kebab turki memang baru diper­kenalkan olehnya. Hanya, awalnya ia pernah salah, karena gerobaknya tidak unik, sama dengan gerobak martabak atau sate. Setelah kesadaran muncul, barulah ia membuat pembedaan dengan membuat gerobak yang colorful. Strategi inilah disebut dengan the power of differentiation, menciptakan perbedaan.

Q: Bagaimana halnya dengan penyesuaian cita rasa?

A: Kami harus memodifikasi rasa supaya cocok dengan lidah orang Indonesia. Setelah dimodifikasi tekstur bumbunya, pembeli akan lebih suka dengan rasanya. Sebelum saya launching pun saya memberikan sampai ke teman-teman dan saudara dekat saya untuk memperoleh masukan. Setelah dapat komposisi final baru dilempar ke pasar.

Q: Lalu Anda mengambil keputusan untuk franchise. Kenapa? Kenapa tidak dikerjakan sendiri saja? Kan Anda bisa mendapat keuntungan begitu besar di seluruh Indonesia.

A: Mungkin karena tangan saya terbatas. Saat saya ingin membuka di Aceh, atau di saat saya ingin membuka di Ambon, tangan saya belum sampai kemana. Selain itu, saya tidak kenal konsumennya di sana seperti apa. Akhirnya soya mernilih cara franchise untuk pengembangan outlet Kebab Turki Baba RA ini. Supaya ada perpanjangan tangan sekaligus sebagai orang yang wdah ada di local market daerah tersebut. Di saat pesaing-pesaing mulai masuk pasar dengan suatu brand baru, mereka akan berhadapan dengan Kebab Turki Baba Rafi yang memiliki 300 outlet lebih. Makanya saya selalu optimis. Untungnya hingga saat ini belum ada kompetitor dan mudah­mudahan ke depannya tidak ada. Walau saya sendiri melihat kompeti­lor atau pebisnis yang menjalankan usaha sejenis bukan selalu sebagai lawan, sebenarnya sebagai mitra juga. lbarat lomba lari, kalau saya larinya sendirian - kalau saya berjualan kebab sendirian - saya cenderung santai. Ah begini saja sudah enak, kok. Tapi di saat sudah mulai ada pesaingnya, mulai ada yang mengikuti jejak kita, saya justru berlari lebih cepat, lebih bersemangat.

Salah satu faktor yang membuat kebab Baba Rafi banyak di gemari adalah inovasi yang tiada hentinya diciptakan. Misalnya, dengan adanya diferensiasi istilah pada penamaan menu, seperti Winne Kebab, Hotdog Jumbo, Syawarma, Kebab isi Sosis istimewa, Kebab Gila (kebab dengan porsi lebih kecil) ataupun Kebab Picok (Pisang Cokelat). Harganya pun sangat terjangkau, masih di bawah 10 ribu rupiah. Hendy juga mengadopsi strategi marketing klasik, yaitu lokasi, lokasi, dan lokasi. Ia selalu memilih lokasi berdagang di tengah-tengah keramaian dan menggunakan warna-warna mencolok agar terkesan familiar (eye catching) dan gampang diingat (memorable).

Inovasi unik lainnya adalah cara pengolahan. Baba Rafi menggunakan teknik mengolah daging dengan cara diasap, bukan digoreng. Daging berukuran besar itu diasap terlebih dulu, lantas dipotong dan diiris-iris, dengan aroma asap yang menjadi ciri tersendiri. Jenis-jenis bumbunya pun disesuaikan dengan lidah lokal, misalnya bila bumbu Turki asalnya lebih spicy, maka bumbu Baba Rafi tidak terlalu tajam dan cenderung ke arah manis.

Alhasil, trik dan strategi di atas memikat banyak penggemar. Bahkan, kebab banyak me­narik minat masyarakat untuk bermitra. Hendy pun berupaya mematenkan usahanya dengan mendirikan perusahaan manajemen PT. Baba Rafi Indonesia. Perusahaan ini kemudian me­nelurkan penawaran kerjasama usaha dalam bentuk franchise dengan brand "Kebab Turki Baba Rafi".

Ia menyediakan beberapa tipe penawaran. Misalnya, ada paket gerobak untuk outdoor fran­chise-nya dijual dengan harga Rp 50 juta. Tipe Booth dan Dine In, keduanya berkonsep outdoor, ditawarkan seharga Rp 70 juta dan Rp 100 juta, sementara konsep indoor outlet harganya Rp 90 juta. "Model cafe, franchise fee sebes;it Rp 80 juta dan ditambah initial investment sekitar Rp 100 juta," imblili Presiders Direktur PT Baba Rafi Indonesia tersebut.

Calon franchise tidak usah khawatir, sebab dukungan yang dipel" oleh meliputi hampir semua aspek, mulai dari studi kelayakan, layoIll restoran, standar pelayanan, pelatihan, jaminan bahan baku, palwl promosi, termasuk quality control, maintenance, manual book, disertai software keuangan. Dalam satu paket sudah tersedia satu unit counter, alat burner kebab, dan paket perlengkapan counter lengkal) Disebutkan, tingkat keberhasilan cabang mencapai 99%, alias resiko kegagalan usaha sangatlah kecil.

Satu hal yang luar biasa, Hendy hanya perlu waktu 3-4 tahun untuk mengembangkan sayap di mana-mana. Kini berkat ketekunan dan kegigihannya, usaha kebabnya telah memiliki lebih dari 375 outlet di seluruh Indonesia dengan mempekerjakan sebanyak 173 karyawan. Hendy juga melebarkan sayap dengan mengakuisisi usaha Roll Maryam Aba-Abi. Saat ini, usaha roti tersebut telah memiliki 30 outlet yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali. Omzetnya bisa mencapai lebih Rp 15,8 miliar per tahun.

Dalam waktu dekat, Hendy akan menawarkan franchise usaha pizza dengan merek "Piramizza". Saat ini Piramizza masih dikelola secara mandiri dan sudah beroperasi sebanyak lima outlet di Surabaya,

Strategi bisnis Hendy juga meliputi publikasi dari berbagai media termasuk cetak dan elektronik. Bahkan berkat tayangan usaha kebab turki Baba Rafi di televisi BBC London dan majalah Business Week International, kini permintaan kerjasama dari pihak asing berdatangan. Ada orang yang menawarinya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja. Namun yang diutamakannya adalah pengembangan usahanya di Malaysia dan Thailand.

"Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi intinya untuk menjadi orang sukses tidak harus memi­liki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi," tegasnya sembari tertawa. "'

Ketika orang berbicara, dengar­kanlah secara lengkap. Sebab kebanyak­an orang tidak mendengarkan.

Ernest Hemingway

Hukum Wirausaha #4

Keberhasilan Adalah Soal Memilih

Tak  ada kata yang lebih penting dalam keberhasilan selain menerima (orang) yang terbaik.- Oscar Wilde

HIDUP ADALAH PROSES memilih. Anda sekolah pun belajar memilih. Anda mendapatkan rumus-rumus untuk mere bantu memilih dalam pekerjaan atau profesi. Jadi dalmn hidup ini sebenarnya sedikit sekali peristiwa yang kita namakan accident (kecelakaan).

Seseorang yang tersesat di alam pendakian di lerengunung Cireme atau Lawu pasti karena is salah memilih jalan. Seseorang sukses dalam berkarir pasti karena sejalan awal ia mengambil jalan yang benar, mulai dari memilih jurusan urusan di SMU, memilih jalur pendidikan di pergurumi tinggi, memilih teman dan pasangan, memilih pekerjaan dan tempat tinggal dan seterusnya. Bangkrutnya sebuah perusahaan juga karena mereka salah memilih pimpinan, pegawai, pembelian, lokasi, segmentasi pasar dan seterusnya.

Pilihan-pilihan itu diambil seperti saat kita melewati jalan yang bercabang-cabang. Kita memilih jalan lurus atau belok kanan, setelah itu kita memilih lagi, jalan yang ke atas, atau ke bawah. Yang ke atas ada pilihan, lewatjalan kecil yang lurus, atau jalan besar yang berkelak-kelok. Sama seperti Anda memilih antara bekerja di perusahaan (swasta atau BUMN, atau menjadi PNS), atau berwirausaha.

Semua jalan ada cagak dua atau cagak tiganya. Dan semua itu ada agar kita mengambil pilihan. Sekali salah memilih, kita diberi ruang untuk mengoreksi atau balik arah. Kalau dibiarkan maka kita akan menerima akibatnya kelak. Untuk memilih itulah kita mencari ilmu. Jadi rumus­-rumus yang didapat di bangku sekolah membantu kita untuk mengambil keputusan, yaitu memilih.

Demikianlah Hendy Setiono. Keberhasilannya adalah keberhasilan dalam memilih. Memilih tinggal di Surabaya atau jalan-jalan ke Qatar. Memilih bekerja de­ngan ijazah ITS atau berwirausaha, membuat kebab atau nasi goreng, memilih si A atau si B menjadi pendamping hidupnya. Gabungan dari pilihan-pilihan yang benar akan membuat Anda nyaman dan berani bergerak, memper­oleh support, dan tentu saja a hasil yang optimal.

Bangunlah hubungan seluas­-luasnya di luar zona kenyamananmu. Hubungan itu telah membawa saya ke­pada area-area di luar jangkauan yang belurn pernah saya kenal dan tidak saya kuasai sebelumnya."- Jerry Richardson



Berikut adalah untuk Anda yang hendak memilih jalan hidup:

  • Perluaskan cakrawala dengan bacaan, sahah kunjungan/perjalanan, dan teman-teman baru. Dengan melihat lebih banyak, membuat Anda mempunyai pilih, lebih luas dan tahu lebih banyak.

  • Pilihlah alternatif yang Anda kenali sebaik mungkin, awal dan akhirnya, ujung ke ujung. Pilihan yang in, nimbulkan sesal hanyalah pilihan yang tidak Anda kenali

  • Jalankan dengan sungguh-sungguh jalan yang Anda pilih. Buka pintunya satu persatu. Setiap talenta adalah modal dasar tetapi talenta akan terkubur kalau ia takmenemukan pintunya. Carilah dan ketuklah pintu itu dan temui pasangannya.

  • Pilih apa saja yang bisa melengkapi (to complement), bukan sekadar kebanggaan karena memilih atau bisa menguasai bahkan menggantikan yang sudah ada (to substitute).

  • Cintailah pilihanmu sampai pilihanmu itu ter­bukti tidak pantas dicintai lagi.

  • Lakukanlah persiapan sebaik mungkin untuk membuat pilihan Anda menemukan rumahnya dalam diri Anda

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Firmansyah Budi Prasetyo, Pemilik Tella Krezz: Menaikkan Gengsi Singkong

Singkong yang lekat dengna pelabelan kelas bawah, diubah Firmansyah menjadi camilan renyah yang gengsinya tak kalah hip dengan popcorn, french fries, ataupun crispy snacks impor. Dari modal tiga juta rupiah, omzetnya kini telah mencapai miliaran rupiah. Bahkan bisnis waralaba dari singkong pun telah dilakukannya. Bukan hanya keuntungan secara finansial yang diraih, cita-cita membuka lapangan pekerjaan bagi orang mudapun, dicapainya juga.

PADA ZAMAN PENJAJAHAN dulu, kalau mendengar cerita dari nenek atau kakek kita, singkong dianggap sebagai pe­nyelamat hidup masyarakat Indonesia. Saat itu jarang sekali ada yang mampu membeli beras untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Singkong (yang kerap, disebut sebagai roti sumbu) lalu diolah menjadi tiwul dan menjadi makanan pokok.

Sekarang ini, singkong bisa dinikmati dalam berbagai rasa dan tampil dalam berbagai rupa. Secara tradisional, singkong bisa ditemu­kan di gerobak gorengan kaki lima, atau berbentuk getuk lindri ber­warna-warni banyak pula yang diolah menjadi keripik kemasan de­ngan berbagai merek.

Namun, di era digital seperti sekarang ini sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap singkong sebagai camilan yang tidak ber­gengsi sama sekali, bahkan tidak bisa ditandingkan dengan hamburger atau hotdog.

Kenyataannya, tidak demikian. Coba saja masuk ke hotel bintang lima di kota besar, penganan dari singkong (berupa getuk atau sudah diolah menjadi tapai bakar) menghiasi meja dessert. Otentisitas seni kuliner lokal yang sekarang sedang marak, bergerak mencari bahan makanan tradisional yang nyaris terlupakan. Demikianlah halnya ke­tika seorang Firmansyah muda mengembangkan camilan ringan dari bahan makanan asli negeri sendiri.



BISNIS PENINGGALAN IBU

Kalau saja dulu Firman menuruti kata-kata ayahnya untuk bekerja sesudah lulus dari Fakul­tas Hukum Universtias Gajah Mada, mungkin saja ia tidak sesukses sekarang. Kemungkinan besar total gajinya setahun masih dalam hitung­an juta. Pasti keadaannya berbeda dari Firman sekarang, yang bisa meraup omzet senilai miliar­an rupiah, hanya dengan berdagang singkong.

Agar talon pembeli tidak meremehkan produknya, ia membuat merek yang cukup modern, yaitu Tela KreZZ (tela berasal dari ba­hasa jawa yang berarti singkong).

Dengan jeli pria berusia 26 tahun ini mengamati bahwa kebun singkong bisa disulap menjadi ladang emas. Di tangannya singkong diubah menjadi penganan ringan yang laris  dikonsumsi setiap orang. la memiliki strategi tersendiri. Agar talon pembeli tidak meremehkan produknya, ia membuat merek yang cukup modern, yaitu Tela KreZZ (tela berasal dari bahasa Jawa yang berarti singkong). Brand yang catchy dan mudah dingat.

Sebenarnya, ia membangun bisnis ini tidak dari awal. Almarhum ibunya dulu sempat membuat bisnis serupa dengan mengusung Homy Tela. Rupanya, usaha ini mengalami kegagalan. Strategi pemasarannya kurang tepat, cara berpromosinya kurang bagus dan tidak gencar, Berta pengelolaannya masih sangat konvensional.

Sebelum outlet itu tutup secara total, Firman menyusun strategi untuk melakukan sejumlah langkah inovasi. Singkong adalah kudapan yang lumrah di Yogyakarta. Juga mudah didapat karena gampang di­jumpai hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Pengolahannya bisa dilakukan di mana pun dan oleh siapa pun. Di Yogyakarta saja, ia bisa mcnggunakan sekitar 300-500 kilogram per hari dan menghasilkan camilan hingga 2.000 bungkus, tergantung pada kualitas singkong yang ia dapat. Ia melakukan uji cobs beberapa kali sampai menemukan resep untuk menghasilkan singkong yang lunak, seperti kentang.

BIODATA

FIRMANSYAH BUDI PRASETYO

Semarang, 5 Desember 1981

Email: hrmansyah_budi_p@yahoo.com

PENDIDIKAN:

2000 - 2004 S1 Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

2001 - 2002 Jurusan Bahasa Inggris (Extension), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

NAMA USAHA:

CV. Cipta Mandiri Kresindo (Homy Group)

Website: www.homygroup.com / www.telakrezz.com ip,,i usaha: Paket usaha pola waralaba Tela Krezz

Alamat: J1. Bugisan No. 34, Rt.13/03, Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta

Telp/Fax: 0274 381999

Email : tela–krezz_homygroup@yahoo.com / tela_krezz@homygroup.com

PENGHARGAAN

2007 ISMBEA Award, Majalah Kementerian Koperasi & Wirausaha dan Keuangan

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri

Penganan buatannya simpel saja, singkong ia potong menjadi bentuk balok-balok seukuran jari kelingking lalu dimasak. Singkong yang sudah dimasak hingga lunak itu lalu diberi berbagai macam bumbu, hingga rasanya bervariasi. Tak hanya gurih, tetapi juga ada yang manis. Kini bahkan telah berkembang menghasilkan 14 variasi rasa yang unik. Firman sedang merancang inovasi lain, yaitu menciptakan produk baru (tapi tetap berbahan dasar singkong) dengan sensasi rasa yang benar-benar baru.

Modal awalnya tidak banyak, hanya tiga juta rupiah. la punya cara berpromosi tersendiri. Salah satu caranya adalah rajin mengikuti berbagai pameran. Saat di pameran ia bisa langsung bertemu dengan banyak orang. Para konsumennya bisa memberi masukan tentang Tela KreZZ. Selain itu, ia merasa lebih senang berkomunikasi langsung dengan konsumen, menerangkan keunggulan produknya, sekaligus bisa melihat reaksi mereka ketika pertama kali mencicipi produknya. Dan, promosi itu memang terbukti berhasil. Sebab, setelah mengikuti pameran itu, pesanan terus mengalir dari dalam dan luar Yogyakarta. Firman sadar akan pentingnya inovasi.



SISTEM WARALABA & MLM

Firman masih ingin mengembangkan usahanya. Setelah mem­pertimbangkan cukup matang, ia memutuskan membuat waralaba. Modal untuk membeli waralabanya sama sekali tidak besar, hanya sekitar Rp3,5 juta hingga Rp 6 juta. Uang itu sudah termasuk pelatihan untuk operasional usaha, termasuk cara memilih singkong yang baik. Firman juga menerapkan sistem bahwa di setiap kota hanya akan ada satu pembeli waralabanya. Jadi, di satu kota hanya akan ada satu pe­menang master waralaba. Lalu, bagaimana kalau ada pengusaha di kota yang sama ingin membuka usaha itu? Mereka bisa mendaftar­kan diri pada pemegang master waralaba tersebut. Untuk operasional, pembeli waralaba di kota itu akan mendapat suplai bumbu standar (untuk melunakkan singkong dan bumbu variasi rasa) dari pemegang master waralaba di kotanya masing-masing.

Renyahnya Waralaba Ketela  Sembari Memerangi Human Trafficking

KRISIS TENAGA KERJA di Indonesia menjadi pemicu Firmansyah untuk memulai usaha. Di tangannya, ketela atau singkong menjadi komoditi pangan yang cita rasanya berbeda. Dengan menggunakan gerobak milik almarhumah Sadri Budi dwyu, sang bunda, lulusan fakultas hukum ini menggunakan brand Hommy Tela. Tetelah berkembang brand-nya berubah menjadi Tela Krezz. Kini berbagai varian rasa telah dikembangkan. Mulai dari Tela Lapis, Tela Bolo-bolo, Telajana,  hingga Tela Bola. Pengembangan usahanya mengadopsi pola waralaba. Mengkloning sistem sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) menjadikan usaha Tela Krezz dapat dikembangkan di mana-mana. Kini lelaki berusia 28 yang imotto "Hidup harus memberi" ini telah memiliki 623 outlet di seluruh Indonesia dengan 98 wilayah keagenan dan omzet penjualan sebesar 2 miliar rupiah per bulan..



Q: Dapatkah Anda bercerita latar belakang menjadi pengusaha? Menga­pa memilih singkong? Dan apa hubungannya dengan human trafficking?

 A: Dulu saya pernah ikut studyexchange di Kanada. Lalu saya jugs pernah ditempatkan di Entikong, perbatasan Kalimantan Barat, untuk mengikuti program community development. Di sana ternyata banyak sekali kasus perdagangan manusia atau human trafficking. Sekitar 70% TKW kits ada di Malaysia, namun tak semuanya legal. Kondisi dan permasalahan di sana membuka mata dan hati saya untuk ikut berbuat sesuatu. Karena itulah, sepulang dari Kanada, saya mengambil keputusan untuk tidak menggunakan ijazah sarjana saya untuk melamar pekerjaan dan bertekad akan membuka usaha sendiri.

Q: Jadi Anda membela manusia dengan memberikan lapangan peker­jaan?

A: Ya, dengan lapangan pekerjaan sebanyak mungkin dan sederhana. Soal singkong, ada cerita tersendiri. Selama enam tahun, saya tinggal di rumah yang dekat kebon singkong, tapi saya tidak mengetahuinya. lbarat gajah di pelupuk mata tapi tidak tampak. Jadi ketika akan berbisnis, barulah saya menganggap bisnis singkong sebagai hal yang potensial. Ternyata berhasil dan bahkan saya membuat waralaba. Saat ini, sudah ada 713 outlet (per November 2008), dan 101 wilayah keagenan/perwakilan.

Q:Mengapa Anda memilih pengembangan usaha melalui jalur wara­laba?

A: Saya memilih bisnis waralaba supaya jaringan cepat berkembang dan mitra kami cukup mengkloning SOP waralaba yang sudah ada. Karena suatu usaha bisa clikloning atau diduplikasi berkat adanya manual. Isinya petunjuk dan pedoman usaha/operasi dari hulu sampai ke hilir. Di situ jugs diatur mengenai training, cara penjualan, proses produksinya, dan customer satisfaction-nya, distribusi, laporan keuangan, dan yang terakhir, bagi hasil atau bagi untung.

Q: Dengan uang berapa seorang investor bisa mendapatkan franchise ini?

A: Untuk menjadi outlet modalnya cukup antara 3- 6,5 juta rupiah. Murah, karena bahan baku bisa diambil dari pasar lokal yang pembeliannya kami buka di tiap wilayah. Sekitar 80% komponen lokal,jadi harga bisa ditekan murah.

Q: Dari kecil Anda sudah terlatih berusaha? Bagaimana bisa sampai ke bidang ini? Apakah langsung membuka usaha franchise atau ada yang lain sebelum ini?

A: Awalnya dari outlet Ibu. lbu-ibu kan selalu membeli barang tapi nggak dipakai. Lalu perabot-perabot dapur milik almarhum lbunda, saya pinjam. lapi kemudian bingung lagi karena tidak punya perlengkapan. Akhirnya, kembali ke dapur. Jadi kalau sore hari, panci dan wajan sudah masuk ke out/et yang saya buka di depan rumah. Rebutan sama dapur. Jualnya di depan rumah. Awalnya saya hanya bell sekilo-dua kilo ketela dari pasar. Ternyata laris. Saat itu, saya perkenalkan 6 jenis rasa bumbu. Karena jumlah penjualan bertambah terus, dari sekilo menjadi 10 kilo, saya lantas punya impian, singkong ini harus bisa dijual di seluruh Indonesia. Barulah saya mencoba membuat sistemnya. Modal yang agak besar baru dikeluarkan ketika mengikuti pameran.

Saat ini kami sudah mempunyai perwakilan di berbagai daerah, mulai dari Aceh sampai ke Timika, Papua. Dari Nunukan sampai ke Nusa Teng­gara. Di semua daerah tersebut pasti ada tanaman singkong. Karena salah satu syarat utamanya adalah harus singkong dulu.

Q: Tapi kan daerah-daerah tertentu ada yang tanahnya tidak bagus atau tidak cocok. Bagaimana kalau jenis ketelanya tidak cocok ?

A: Ada treatment khusus untuk singkong di wilayah yang tanahnya ber­masalah tersebut. Jadi kita akan kirim trainer. Tiap kalimembuka perwakilan kita selalu mengirimkan trainer untuk standarisasi bahan baku, pelayanan, dan sebagainya. Bentuk treatment ini berlangsung pads proses produksi. Harus diatur lagi agar hasil sesuai seperti yang diinginkan. Misalnya, dari yang keras menjadi krezz atau renyah. Training kita lakukan karena ada standarisasi bahan baku, alat produksi, kemudian standarisasi sumber daya manusianya.

Q : Jadi total manusia yang terlibat untuk seluruh mata rantai bisnis ini ada berapa banyak?

A: Kalau rata-rata per outlet ada 1-2 orang, minimal ada 700 orang tenaga penjual. Kemudian di tiap-tiap perwakilan, rata-rata ada 5 orang yang terlibat. Artinya kalau ada 100 perwakilan, berarti total sudah ada 500 orang. Jadi di luar kantor kami sudah 1200 orang. Belum termasuk orang-orang di kantor pusat sejumlah 32 orang. semua untuk mengurusi singkong saja.

Q : Jadi, hanya dengan modal 3-6 juta rupiah, seseorang sudah bisa punya usaha lengkap (outlet, perlengkapan awal dan bahan baku awal), dan sudah bisa langsung berjualan?

A: Ya, betul. Jadi pertama kali ikut langsung semuanya disediakan, tinggal nanti repeat order kalau bahan-bahannya sudah habis. Makanya banyak yang berminat, murah, mudah, dan pasarnya ada. Perencanaan bisnis su­dah kita pikirkan juga. Ada out/et yang dalam sehari bisa menjual 100 pak, ada juga yang sampai 300 pak per hari. Rata-rata kita hitung 300 pak per hari. Kalau mereka bisa menjual 300 pak dengan harga Rp.3000,-/pak, ber­arti penerimaan dari penjualan sekitar Rp.900.000,- / hari. Dengan margin 30% bisa dihitung berapa potensi keuntungannya.

Sementara itu, untuk memegang master waralaba di suatu kota, modalnya juga tidak terlalu besar. Biaya yang dipatok adalah Rpll juta hingga Rp15 juta, tergantung kota dan lokasi. Hebatnya, Firman memberikan garansi bahwa uang akan kembali bila dalam waktu satu tahun, si pembeli waralabanya belum mendapatkan modalnya kembali Ia juga memberi tantangan bagi pemegang master waralaba. Sepert sistem MLM (multilevel marketing), bagi mereka yang bisa memper. banyak jumlah pembeli waralaba, ia akan memberikan bonus khusus.

Bagaimana caranya membeli waralaba Firman? Anda hanya perlu mengirim Surat permohonan lewat email. Atau, cara yang lebili mudah adalah menghubungi Firman melalui telepon seluler. Selain garansi adanya pengembalian pembelian lisensi, Firman juga ingiii membuktikan bahwa bisnisnya berdasar pada kepercayaan. Ia ber harap pars pembeli waralabanya percaya bahwa hanya dengan mela4 lui ponsel atau email, gerainya bisa langsung beroperasi dalam jangk4 waktu dua minggu sejak transaksi dilakukan.

Firman selalu berpikir selangkah lebih maju. Ia tak hanya me­mikirkan perkembangan usahanya, melainkan bercita-cita membuka lapangan kerja bagi orang banyak, karena ia melihat bahwa pemerin, tah kurang memerhatikan masalah pengangguran yang makin lama makin banyak. Ia melihat dan percaya orang Indonesia punya sifal yang bagus dalam bekerja, yaitu ulet.

Seperti cita-citanya untuk menyejahterakan rakyat Indone4 sia sesuai kemampuan, Firman sukses membuka banyak lapangar pekerjaan bagi banyak orang. Ia bisa membuat orang di sejumlal kota mendapatkan penghasilan. Selain itu, ia juga membuat program pelatihan untuk mahasiswa di kampus-kampus.

Hingga kini Tela KreZZ telah memiliki 400 lebih outlet di selu ruh Indonesia dengan omzet miliaran rupiah. Ia juga mengembangka usaha lain di bahwa sayap PT Homy Group. Ada berbagai macam usaha yang coba ia kembangkan bersamaan, antara lain laundry, warung internet, dan rental komputer. Selain mendapatkan modal dari keuntungan produk singkongnya, ia juga meminjam dana ke bank, yang kini banyak me­nawarkan pinjaman untuk pengusaha UKM.

Kesuksesannya itu kemudian menginspirasi orang banyak untuk membuat bisnis serupa. Banyak sekali bisn camilan singkong yang tampilannya mirip, tapi memakai Hama lai Rupanya, banyak yang menjiplak karyanya. Tapi, toh, Firman tidak bisa berbuat banyak. la menganggapnya sebagai hal yang biasa di dalam dunia bisnis. Dia yakin, produk berkualitas terbaiklah yang akan unggul di dalam persaingan itu.

Tak hanya mengejar keuntungan semata, Firman juga memikirkan kesejahteraan dan kesenangan karyawan. Beberapa kali ia mengadakan acara gathering dengan para pegawainya, karena ia yakis jika karyawan senang, mereka akan bisa bekerja secara maksimalkan dan melayani pelanggan secara maksimal pula.

Kita tidak boleh kalah dengan ego diri kita sendiri. Selaina niatnya baik, apa pun yang kita usahakan dengan halal, Insya Allah Tuhan tidak akan per­nah tidur dan akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita.

Hukum Wirausaha #3

Kekuatan Kesederhanaan

Karena berpakaian yang korn­pleks dan menggunakan cara berpikir seperti orang yang bekerja, banyak peluang  yang hilang.- Thomas A. Edison





KEHEBATAN SEORANG WIRAUSAHA selain ia kreatif dan berani, ia juga biasa bertindak dan berpikir cepat. Dari mana kemampuan ini mereka dapatkan?

Mudah saja, mereka menikmati kekuatan dari ke­sederhanaan (the power of simplicity). Mereka bisa berpikir, bekerja cepat, menjadi ahli, menguasai keadaan, karena berpikirnya tidak ruwet. Mereka mengerjakan yang me­reka kenali, bahkan seringkali hanya pada hal-hal yang mereka akrab dari kecil. Hal yang dipikirkan disederhana­kan dan tidak macam-macam. Segala hal yang sulit, me­reka cari dan buat menjadi sederhana.

Segala yang sederhana itu menjadi mudah diingat, mudah diterapkan, dan mudah didapatkan. Ingatlah para genius dalam ilmu pengetahuan sesungguhnya bukanlah kalangan ruwet yang suka menyusahkan anak didiknya. Lihat saja Albert Einstein, ia begitu terkenal dengan rumus sederhananya: E = MC2. sederhana, bukan? Demikian juga dengan Adam Smith yang menyederhanakan proses bekerjanya pasar dengan kalimat pendek: the invisible hands (tangan-tangan tak kelihatan). Atau Bapak psikoanalisis, Sigmund Freud yang membagi diri manusia dalam rumus id, ego, super ego.

Mereka jauh lebih dikenal sebagai ilmuwan sejati, ketimbang teman-teman kita yang membuat rumus-rumus panjang dan sulit menjelaskan isi kepalanya karena terlalu pintar" dan akhirnya menjadi ruwet.

Firmansyah Budi Prasetyo berselancar di atas papan kesederhanaan, yaitu ketela yang selalu ada dimana-mana. Produknya juga sederhana saja, yaitu dimasak ke dalam beberapa varian rasa yang sudah diketahui dan disukai masyarakat. Caranya juga sederhana, yaitu pakai gerobak dan diwaralabakan. Fee-nya juga sederhana, cukup murah saja.

Supaya menjadi mudah dan sederhana, perhatikanlah tip berikut ini:

  • Buatlah dari bahan-bahan yang mudah ditmui dan murah harganya.

  • Berikan nama yang mudah diingat orang.

  • Berikan harga yang sangat terjangkau.

  • Berikan cara yang sangat mudah untuk memperoleh dan mengolahnya.

Banyak orang berpikir dirinya di­pandang hebat kalau mereka bisa mem­buat sesuatu yang mudah menjadi sulit. Dalam kewirausahaan, sebaliknya yang harus dilakukan. Kalau Anda membuat­nya menjadi kompleks tidak akan ber­tahan."

- Rhenald Kasali

  • Tulis semua yang dikerjakan can kerjakanlah se­mua yang tertulis.

  • Jangan pelihara manajer atau karyawan yang berpikir complicated atau orang yang ingin terlihat cerdas dengan rata-rata yang sulit dimengerti orang lain.

  • Terapkan teknologi tepat guna sehingga mudah dilakukan siapa saja.

  • Namun sekalipun semuanya mudah, ciptakan keunikan melalui branding yang kuat, segar, mudah di­ingat, modern, dan terkesan positif – merindukan.

  • Gunakanlah bahasa yang sederhana, kalimat­-kalimat pendek yang mudah dimengerti.

  • Jadi pemimpin yang berbicara dengan contoh- contoh yang konkret.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Wahyu Aditya, Pemilik HelloMotion: Meraup dolar dari hobi gambar

Berbekal kegemarannya menggambar dari buku sampai dinding ia kini memiliki sekolah desain dan animasi di tanah air dan berhasil meraup setumpuk dolar. Penghargaan bergengsi internasional Young Screen Entrepreneur of the Year 2007 di Inggris pun berhasil diraihnya. Hobi yang dikemas dengan kreativitas, ternyata menghasilkan laba yang luar biasa, sekaligus idealisme yang memukau.

MUDA, PINTAR, KREATIF, memiliki bisnis sendiri dan banyak uang, tentu menjadi impian banyak orang. Gara-gara sering menyaksikan acara "Gemar Menggambar" yang ditayangkan di TVRI era 70-an, di usianya yang masih relatif muda, Wahyu Aditya (29) nyaris memiliki semuanya. Dengan kemampuannya di bidang desain grafis dan animasi, ia menjadi pe­main utama dalam bisnis desain grafis dan animasi di tanah air. Bah­kan ia pun banyak diburu oleh perusahaan kreatif untuk menggarap sederet pesanan iklan. Baik iklan komersial maupun iklan layanan masyarakat.

Titik balik yang membuat nama Adit, sapaan akrabnya, meng­gebrak dunia animasi international adalah ketika dewan juri yang terdiri dari pakar film Inggris menobatkannya sebagai Internatio­nal Young Screen Entrepreneur of the Year 2007. Pada event yang diselenggarakan oleh British Council di Apollo Theatre West End Lon­don itu, ia berhasil mengungguli saingannya dari India, Cina, Brazil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria, dan Lebanon. Dewan Juri me­nilai Adit berhasil mengawinkan kreativitas, idealisme, dan bisnis di usia yang sangat muda. Pada saat itu, ketika usianya baru 27, ia sudah berhasil mendirikan sekolah film HelloMotion dan memprakarsai fes­tival film animasi HelloFest! yang setiap tahunnya meraup 10 ribuan penonton muda di seantero Indonesia.

Di tengah keterbatasan industri animasi kreatif di Tanah Air, Adit dinilai mampu menciptakan peluang pasar sendiri. Sudah be­berapa brand komersial ditanganinya, antara lain PLN, Busway, kam­panye Pemilu, Jakarta International Film Festival (JIFFEST), dan Pertamina.

Tapi siapakah sebenarnya Adit? Bagaimana tiba-tiba dari se­seorang yang tak pernah terdengar namanya mendadak menjadi ani­mator kelas dunia?



KISAH GAMBAR DINDING

Kegemaran menggambar Adit sudah terlihat sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika menjadi murid kelas 1 SD Cor Jesu 1 Malang, ia pernah menjadi juara lomba menggambar. Kegemarannya itu lalu disalurkan pula dengan mengirim gambar kepada TinoSidin, tokoh legendaris yang mengasuh acara "Gemar Menggambar" TV RI. Sayang, gambaruya tak pernah terpilih untuk ditayangkan.

WAHYU ADITYA

Malang, 04 Maret 1980

Email : Waditya2000@yahoo.com

Website : kdri.web.id, menteridesainindonesia.blogspot.com

PENDIDIKAN :

1998-2000 Advanced Diploma Jurusan Interactive Multimedia – KvB Institute of Tech Sydney-Australia

NAMA USAHA:

HelIoMotion Academy-School of Animation and Creativity (Sekolah Animasi & Sinema)Website www.hellomotion.com

Alamat: JI, Tebet Raya 45 C, Jakarta 12820.

Telp/fax: 021 837 91952

PENGHARGAAN:

2008 Finalis Wirausaha Muda Mandiri

2008 Juara Pertama-Slogging Competition British Council

2008 30 Most Inspiring People under 30 - Award from Hard Rock FM Indonesia

2008 Australian Alumni Award- Finalist Creativy & Design Award

2008 World Winner of British Council - International Young Creative Entrepreneur of The Year ‑Film  category

2007 Pemenang of British Council - International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category-Indonesia

2007 Finalls of British Council - International Young Creative Entrepreneur of The Year – Design Category - Indonesia

2007 Special Achievement Award - FAN / National Animation Festival

2007 Scholarship - Animation & Cinema Industry by AOTS - Japan

2006 Best 3 - International Young Creative Entrepreneur of The Year - Indonesia

2005 Best Concept for Future Film - Jakarta International Film Festival & Hubert Bals Foundation

2005 Win 8 Awards in Indonesia Animation Festival

2005 Finalist Asiana Film Festival - South Korea

LAIN-LAIN :

2004 Sekarang Pemimpin HelloMotion Academy-School of Animation and Creativity, Konseptor dan Kurator HelloFest Motion Art Festival, Movie Director, Motion Graphic Artist, Ilustrator, Photographer, Art Director, Editor, Script Writer, Animator, Cameraman, of Speaker and Dreamer

2004- Sekarang Vice President - ASIFA / Animation Association - Indonesia Branch



Masuk kelas VI SD, ia rajin mengisi buku tulisnya dengan berbagai gambar dan cerita. Ketimbang membeli mainan, ia lebih se-ring minta dibelikan kertas HVS untuk menggambar. la juga rajin me­nyulap buku tulisnya menjadi 'majalah' dengan menciptakan ilustrasi sederhana dari berbagai tokoh rekaannya. Nama-nama tokoh dipele­setkan, dengan tetap mengambil inspirasi dari lingkungannya. Tokoh cerita Lima Sekawan dipelesetkan menjadi Enam Sekawan, mengacu pada jumlah kumpulan preman cilik di sekolahnya. Ilustrasi di buku itu lantas disebarkan ke kawan sekelas. "Saya senang jika mereka terhibur oleh karya saya," katanya. Menginjak SMP, ia dipercaya mengelola satu rubrik khusus untuk majalah sekolah. Isinya tentang keadaan sekolah ketika itu.

Hobi menggambar terus berlanjut sampai SMA. Bahkan, dinding sekolah pun dia gambari. "Saya murid pertama yang diperboleh­kan menggambari dinding," katanya mengenang. Kariernya sebagai seorang animator diawali dengan menjadi komikus amatir saat itu. `Korban' pertamanya adalah buku-buku pelajaran kelas 3 SMA-nya. Di buku-buku inilah Adit membuat animasi strip komik. Ketika akan melanjutkan kuliah pun, ia dengan tegas memilih, "Ingin kuliah di tempat yang tidak ada matematikanya," tandas anak kedua pasangan Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini.

Pilih punya pilih, akhirnya Adit menuntut ilmu di Advanced Diploma of Interactive Multimedia-KvB Institute of Tech, Sydney, Australia, untuk mempelajari multimedia. Saat kuliah, tiga kali ia sempat mengikuti lomba. Yang sekali, ia sukses menjadi juara perta­ma. Setiap liburan sekolah dihabiskan Adit dengan berlibur ke Indone­sia untuk ikut magang. Kali pertama, ia magang di sebuah percetakan sablon di Malang selama dua bulan. Pemilik percetakan yang melihat karyanya jauh di atas kelasnya, mengarahkan Adit untuk magang di Broadcast Desain Indonesia di kawasan Jakarta Selatan. Di sana, ia hanya mengamati pembuatan video dan teknik mengedit.

Karier Adit selepas kuliah dimulai sebagai creative designer & ani­mator di Trans TV pada 2000-2002. Sebagai best student di KvB Institute of Tech, almamaternya, bisa saja ia melanjutkan hidup di negeri Kanguru itu. "Tapi saya tidak betah hidup di Australia," katanya.

Hobi Animasi untuk Memperbaiki Citra Negeri

BERHASIL MEMENANGKAN LOMBA menggambar tingkat kabupaten pada saat duduk di bangku taman kanak-kanak, menumbuhkan keyakinan Wahyu Aditya bahwa menggambar adalah kegiatan yang dapat menghasilkan kesejahteraan. Berbekal pendidikan multimedia di Sydney, pengagum Walt Disney ini tergerak untuk membuka lembaga pendidikan animasi, HelloMotion. Sebagai wadah ponggerak kemajuan animasi dan sinema Indonesia, misinya sungguh luar bia­sa la ingin menjadikan pusat animasi dan sinema terbaik di Asia Tenggara, dan monjadikan creator Indonesia lebih maju. Lelaki kelahiran 4 Maret 1980 ini terus memperbaiki kualitas HelloMotion yang kini telah beromzet miliaran rupiah.

Q: Bagaimana mulainya terjun ke animasi?

A: Terjun ke animasi awalnya karena hobi. Lewat kertas kosong saya bisa mengekspresikan imajinasi, sampai akhirnya saya jatuh cinta karena ani­masi itu ternyata tak ada limitnya. Di situ kita bisa melihat gerakan, suara, dan gambar, berkumpul menjadi satu. Dulu awalnya dengan mengikuti cara menggambar Pak Tino Sidin.

Q: Oke, lalu bagaimana ceritanya saat akan membuat sekolah animasi?

A: Saya dulunya bekerja secara profesional, yang berarti saya banyak memproduksi animasi. Cuma, saya sedikit gelisah terhadap perkembang­an animasi di Indonesia. Jadi saya pikir daripada saya membuat animasi sendiri, lebih balk saya menciptakan banyak animator baru yang bisa mendukung animasi Indonesia lebih 'bunyi' lagi. Itu sebabnya saya mem­huat sekolah. Ternyata, gedung belum ada, yang mendaftar sudah sekitar 40 orang ketika saya mengikuti pameran dan berpromosi lewat internet.

Q: Juga mengadakan festival?

A: Festival adalah satu bagian dari strategi promosi, yang murah tapi bisa lengket dengan komunitas saya karena memberi ruang apresiasi kepada kreator-kreator di daerah. Misi saya, selain mengembangkan animasi Indo­nesia, jugs ingin mencari harta karun terpendam, kalau bisa yang berada di luar Jakarta. Ternyata lagi, kebanyakan mereka sudah bikin, tapi tidak tahu mau diputar di mana. Akhirnya mereka membuat networking sendiri untuk mempromosikan karyanya, dilihat banyak orang, diliput wartawan, dengan harapan animasi Indonesia maju.

Q: Anda menyebut situsnya sebagai Kementerian Desain Republik Indonesia. Anda merasa perlu ada profesi khusus untuk menteri desain?

A: Itu hobi saya yang lain. Selain animasi saya suka mendesain, ter­utama logo-logo. Saya perhatikan, kebanyakan logo pemerintah itu padi, kapas, atau pohon beringin. Bikin saya gelisah. Saya ungkapkan lewat blow dengan nama Kementerian Desain Republik Indonesia. Ternyata efek sampingnya lumayan dahsyat. Rupanya banyak orang yang punya pemikiran sama. Sekarang saya tidak mendesain lagi. Tidak ngulik desain logo lagi. Tapi orang-orang dari Padang, Bandung, dan Malang, mengirim desain versi mereka sendiri untuk membangun Indonesia agar image-nya lebih balk. Mungkin hal ini disebabkan jiwa nasionalis, ya. Ketika saya kuliah di Sydney, saya melihat Indonesia dari jauh. Ternyata image Indonesia itu kurang oke. Kita dianggap korup, miskin, tidak kreatif. Secara branding pun, saya melihat yang melakukannya adalah Singapura dan Malaysia. Kenapa Indonesia tidak ada? Saya sebagai warga negara Indonesia ingin menyum­bang sesuatu.

Q: Menteri Desain Indonesia itu adalah julukan dari komunitas Hello-Motion kepada Wahyu. Tapi ada sambungannya, "belum atau tidak sah". Takut dituntut, ya?

        A: Sebenarnya itu hanya konsep saja. Kalau diterima Presiden, ya syukur Alhamdulillah.

Q: Dulu pernah ada anggapan bahwa orang-orang yang bergerak di industri kreatif itu berantakan. Tapi saya melihat sekarang ini lain. Anda bekerja tertib, bertahan, membangun secara perlahan-lahan dengan rencana dan menaruh perhatian kepada people development atau pengembangan orang. Anda juga pernah memperoleh award pads level internasional?

A: Ya, penghargaan sebagai anak muda kreatif. Hadiahnya 7,500 Poundsterling. Karena uang itu harus digunakan untuk membangun sesuatu yang ada hubungannya dengan Inggris, saya kirim dua staf termasuk saya sendiri untuk melihat dan mensurvei industri kreatif di sana. Kami tinggal di Inggris selama hampir 2 minggu.

Q: Orangtua banyak bertanya, bagaimana caranya agar anaknya kreatif. Apa saran Anda agar anak-anak mereka lebih kreatif lagi dan mereka bisa memanfaatkan proses kreatif yang ada dalam diri mereka masing­masing?

A: Mungkin harus dikasih ruang. Dulu, orangtua saya membebaskan saya untuk berekspresi melalui gambar. Tapi dari diri saya sendiri, saya juga pu­nya tanggung jawab untuk membuktikan kepada orangtua apakah pilihan saya itu benar. Setiap minggu saya ikut lomba gambar.

Selepas dari Trans TV, Adit memilih bekerja freelance selama satu tahun. Karena keterampilan dan pengetahuannya solid, ia bisa melakukan pekerjaan apa pun. Dari animator, sutradara, ataupun produser. Proyek pertama yang ditanganinya adalah klip video Padi berjudul Bayangkanlah. Klip ini memenangkan "Best Video Clip of The Month" Video Music Indonesia (2002) dan "People Choice Award" Video Music Indonesia 2002. Sejak saat itu, tawaran demi tawaran mengalir padanya.



MERINTIS JALAN SEPI

Tawaran bekerja di bawah perusahaan orang lain tak membuat Adit tertarik. Percaya diri pada kemampuannya, bersama tujuh kawan ia membuat perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Sayang, usaha ini gagal. "Kumpulan orang pintar tapi tak ada naluri bisnis," kata Adit menyimpulkan kegagalan saat itu.

Karena tahu bahwa hanya kepada dirinya sendirilah ia dapat bersandar, Adit memulai langkah yang terbilang nekat. Berbekal pinjaman bank sebesar Rp 400 juta, ia membangun lembaga kursus animasi. "Biar orang sekolah di Indonesia, tak harus di luar negeri," niatnya sederhana. Kendati terdengar ambisius, sebenarnya Adit telah melakukan riset kecil-kecilan lebih dulu. Hasilnya, banyak orang me­nyatakan berminat bila ia membuat sebuah lembaga kursus animasi.

Tekad itu lalu diwujudkan dengan keikutsertaannya pada sebuah pameran pendidikan di Semanggi Expo, Jakarta Selatan. Di sana, ia menemukan ada 41 orang yang berminat menjadi murid. Ini menjadi langkah awal bagi Adit untuk mendirikan Hello‑

Motion Inc, School of Animation and Cinema. Pemilihan kata dalam bahasa Inggris oleh finalis Short Film Festival, Tokyo, Jepang, tahun 2004 ini dimaksudkan agar ia dapat membuka franchise ke luar negeri.

Berdiri sejak lima tahun lalu, jalan yang dirintis lembaga pendidikan ini masih sepi. Dari modal sebesar Rp 400 juta, kini Adit telah mam­pu meraup keuntungan 18% per tahun. Padahal, ketika awal berdiri, sekolah itu tak mendapatkan keuntungan, malah minus 11%. Tahun berikut­nya minus 6%. Sampai kini, sudah ada sekitar 800-an siswa telah diluluskan. "Itu masih kurang karena kami hanya punya satu kelas," katanya. Satu kelas diisi 10 siswa. Ada 20 instruktur yang andal di bidangnya.

Selain urusan mencari penghasilan, Adit masih menyem­patkan diri merealisasikan ide aneh lainnya. Ia sempat mem­bentuk Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI-www. kdri.web.id) yang bertujuan mengubah Indonesia dengan cara­nya sendiri. Di KDRI, struktur birokrasinya sederhana. Ia men­jabat juru bicara kementerian. Sedangkan posisi menteri diduduki Mr. Gembol (panggilan masa kecilnya). Mr. Gembol juga me­rangkap sebagai kurir KDRI. Biarpun terkesan lucu, dalam sehari website KDRI setidaknya dikunjungi 1.000 pengunjung. Di sini, para volunteer di mana pun bisa mengirimkan desain karya mereka.



HELLOMOTION

Ada yang menarik dari tekad Adit mendirikan lembaga pendidi­kan animasi ini. Katanya, "Animasi kita masih kalah jauh dari Korea, Cina, dan India. Animasi di Indonesia secara industri masih di ka­tegori periklanan. Untuk industri layar lebar atau TV masih banyak PR yang harus dikerjakan," ungkap arek Malang kelahiran 4 Maret 1980 ini. Ia menilai, industri kreatif dan animasi sebetulnya bisa men­jadi lahan subur bila ditekuni dengan baik. Apalagi dasar pekerjaan ini adalah hobi. Bila sebagian orang harus menanggalkan hobi, untuk bekerja dan menghasilkan uang, dalam hal ini, justru hobilah yang akan menghasilkan uang. Pada 2004, di Indonesia memang belum ada sekolah animasi. Industri inilah yang kemudian digarapnya. Ia yakin, dengan mendirikan sekolah animasi, konten animasi lokal di televisi dalam negeri bisa bertambah dan industri animasi dapat lebih maju. Sehingga akan semakin banyak warga negara yang meningkat kuali­tas hidup dan kesejahteraannya.

Kini, HelloMotion yang memiliki misi menggalakkan budaya mo­tion picture art mulai diperhitungkan di industri animasi Tanah Air.

Untuk terus mengembangkan bisnisnya, Adit lebih banyak meng­gunakan pola Buzz Marketing alias getok tular. Awalnya memang sempat jorjoran, baik lewat iklan di media cetak, radio, maupun situs internet. Namun karena dirasa sudah cukup bagus citranya, maka

belakangan lebih menggunakan pola tersebut. Kini, peraih berbagai penghargaan bergengsi ini tengah mengembangkan tim promosi dan pemasaran.Salah satunya dengan membuat situs www.menteridesain­indonesia.blogspot.com yang ternyata cukup efektif untuk promosi.

la sendiri tidak terlalu khawatir dengan persaingan di industri animasi. Karena daftar tunggu untuk peserta kursus sekarang bisa sebulan di Hello School. Adit juga tak letih menelurkan inovasi.



Motto hidup saya adalah merasa selalu hijau seperti tumbuhan, bukan buah yang matang. Karena buah yang matang lama-lama akan membusuk. Artinya kita merasa senior dan merasa tabu semuanya, Kalau kita merasa tum­buh, maka siapa yang hijau akan selalu haul ilmu yang buru.

Hukum Wirausaha #2

Nikmati Indahnya Berpikir Kreatif



Hanya orang yang fanatik yang tidak dapat mengubah pikirannya dan tidak mau mengubah subjek.(Winston Churchill)



SEJAK LAHIR, BAYI-BAYI Indonesia langsung dibelenggu oleh generasi di atasnya, yaitu dibedong (konon agar tangan­nya tidak bengkok) dan begitu ia bisa berjalan, ke mana­mana digendong atau dituntun orang dewasa (babysitter, pembantu, nenek atau ayah/ibu). Begitu seorang anak melakukan kesalahan, ia dipukul, dicubit, dibentak atau dijewer. Anda menjadi takut melakukan kesalahan dan menjadi penakut.

Demikian pula dalam memilih sekolah, bahkan be­kerja, dan memilih pasangan hidupnya. Banyak orang yang tidak bebas melakukannya. Menginginkan "A, tetapi yang disetujui "B" yang kadang tak Anda sukai. Banyak batasan­-batasan yang membuat Anda terbelenggu menjadi tidak kreatif.

Berbahagialah kita yang dari kecil memiliki suatu potensi tetapi berhasil menemukan pintu keluarnya dan kemudian kita yakini itu sebagai sesuatu yang berbeda dari yang lain, dan mampu memberikan penghasilan bagi kehiclupan kita. Penghasilan ini juga bukan sekadar peng­hasilan biasa, tetapi mampu memacu kita untuk mengem­bangkan diri lebih jauh sampai akhirnya menjadikan Anda seorang guru dan banyak orang bisa menjadi pemimpin karma Anda.

Yang jadi masalah bagi kita semua adalah seringkali kita bekerja bukan pada potensi kita. Ini adalah sebuah perjalanan menemukan jalan yang sangat berat dan sangat panjang. Sampai kemuclian Leonardo Da Vinci mengatakan, pada setiap batu cadas selalu terkandung patung yang indah. Sebetulnya Leonardo Da Vinci ingin mengatakan tugas kita adalah melepaskan belenggu-­belenggu yang mengikat batu cadas tersebut sehingga keluarlah orang yang menemukan aura potensinya se­perti Wahyu Aditya.

Apa yang dapat dipelajari dari manusia kreatif seperti usahawan muda Wahyu Aditya ini?

  • Orang kreatif selalu membuka pintu dan mengeksplorasi pilihan-pilihan. la membuka usahanp melalui berbagai jalur, website, sekolah, festival, dan se terusnya. la menemukan semua jalannya dengan melatih diri, mengambil kertas, membuat buku, menggambar sketsa, menjadikan animasi.

Bakat saja tidak cukup. IQ juga tidak. Semua itu baru menjadi potensi, dan setiap potensi perlu menemukan pintunya.

(John C. Maxwell)





  • Orang-orang kreatif menghubungkan hal-hal yang tak terhubung. Semua yang terputus disambung, dibuat rangkaian hidup, karena ia bekerja dengan banyak orang.

  • Orang-orang kreatif membangunkan orang­orang kreatif. Wahyu aditya membangunkan para kreator dan memberikan mereka pintu.

  • Orang-orang kreatif menambah "value" pada apa yang ia ciptakan.

  • Orang-orang kreatif tidak takut kegagalan. Baginya, kegagalan adalah ibunya penemuan.

  • Orang-orang kreatif menolong kita belajar lebih banyak.

  • Orang-orang kreatif menantang status quo.

  • Orang-orang kreatif memerlukan disiplin. Salah satu alat pembentuk disiplin adalah pasar, yaitu adanya per­mintaan profesional yang mengharuskan kita bekerja tepat waktu dengan kualitas yang telah disepakati bersama.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Elang Gumilang, Pemilik Rumah Sehat Sederhana: Ketika Elang MengepakkanSayap

Burung elang yang bermata tajam memiliki naluri survival tinggi dan perkasa. Sekali ia mengepakkan sayap, maka sebagai predator ia tak akan gagal memangsa. Elang Gumilang yang namanya diambil dari keperkasaan sang burung raja, juga memiliki naluri dan intuisi tajam pada bisnis properti yang ditekuninya. Pada usia belum genap seperempat abad berlandaskan kepedulian terhadap orang miskin, sayap bisnisnya membuahkan miliaran rupiah setiap tahun.

PAGI YANG MENGGELIAT di kota Bogor terasa sejuk. Dunia mulai bangun, senada dengan berputarnya roda kegiatan hari itu. Hanya 15 menit bermobil dari Kampus IPB - Der­maga Bogor, terbentang sebuah perumahan sederhana ber­tipe 22/60. Mungil, tapi fungsional. Inilah tempat untuk pulang - bagi mereka yang terbilang miskin. Inilah hasil cipta seorang muda yang tak hanya peduli pada dirinya sendiri, tapi juga peduli pada kaum yang tak seberuntung dirinya. Kepedulian yang mengantarnya pada sebuah hidup yang bermakna - sebuah hidup yang berlandaskan keseimbangan.

Adalah Elang Gumilang (24), wirausaha muda yang berada di ba­lik pembangunan perumahan amat sederhana itu. Tangan dinginnya menelurkan apa yang selama ini sangat jarang dilakukan pengembang kawakan - bermodal besar atau kecil - untuk mencipta perumahan khusus orang miskin.

Selama ini, bisnis properti sepertinya hanya ditujukan bagi kaum berpunya, demikian Elang berpikir. Mereka yang papa dan mem­butuhkan tempat bernaung justru hanya punya mimpi untuk memiliki rumah sendiri. "Ada 75 juta penduduk negeri ini yang membutuhkan rumah. Ini peluang bisnis, tapi kita sekalian ibadah membantu orang juga," katanya.



TARGET 2000 RUMAH

Berayahkan seorang kontraktor, buat Elang bukan hal mustahil mencoba segala jenis usaha. Ditambah sejumlah pertimbangan men­dalam, awal 2005 - tatkala ia masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) - ia mulai membeli sepetak tanah dan membangun rumah pertamanya. Modal diper­oleh dari patungan bersama teman-temannya semasa SMA maupun kuliah. Rumah sederhana berukuran 22 meter persegi dengan lugs tanah 60 meter persegi itu langsung pindah tangan ke­tika selesai dibangun. Terbukti, orang haus akan rumah murah seharga 25-37 juta rupiah - harga yang bagi sebagian kalangan menengah sangat atas tidak cukup untuk membeli mobil, bahkan tas bermerek - karena mengidamkan tempat berlindung yang pasti.

Saat itu, jumlah pekerja Elang baru sekitar tujuh orang untuk mengurusi administrasi hingga pemasaran. Namun lambat laun, bisnisnya ini berakar, menggeliat, dan bertumbuh. Dari satu unit, Bertambah terus menjadi tiga unit. Bertambah terus, sampai sudah sekitar lebih dari 200-an rumah dibangunnya. Target yang dicanangkannya tak tanggung-tanggung. Perusahaan Semesta Guna Grup miliknya, ingin membangun 2.000 unit rumah sederhana. Dalam waktu setahun, investasi yang ditanamkan naik berlipat. Nilai jual objek pajak (NJOP) tanah yang tadinya hanya Rp 50 ribu misalnya, melejit hingga lima kali lipat dalam dua semester.

Omzet per tahunnya pasti bikin pengusaha mana pun berdecak kagum - mengingat awal mula sepak terjangnya - karena tak kurang dari Rp 20 miliar per tahun dapat ia bukukan. Belum lagi dari kontrak preperiodik terbarunya menambah Rp 80 miliar hingga Rp 100 miliar ke bisnisnya.

BIODATA

ELANG GUMILANG

Bogor, 6 April 1985

Email: ksatria_paningit2@yahoo.com

PENDIDIKAN:

2003 —Sekarang Mahasiswa Manajemen FEM Institut Pertanian Bogor

NAMA USAHA:

Developer Griya Salak Endah I & Griya Salak Endah II

Alamat: JI. Kyai Haji Abdullah No. 194, Ringroad Taman Jasmin, Bogor

Telp: 0251 215567, Fax: 0251 2263870

PENGHARGAAN:

2008 Indonesia's Top Young Entrepreneur

2007 Pemenang I Wirausaha Muda Mandid Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana

LAIN LAIN:

2008 — Sekarang Developer Griya Salak Endah I, Griya Salak Endah II, Bumi Warnasari Endah, Pertambangan Pasir Kuarsa, Griya Ciampea Endah

Elang Gumilang, mahasiswa sederhana dari IPB - kampusnya petani - anak H. Enceh dan Hj. Prianti, kini mempekerjakan ratus­an karyawan pada setiap proyeknya. Sekitar 30 tenaga adminitrasi dan 100 pekerja di setiap proyek siap membantunya. Elang - lajang kelahiran Bogor, 6 April 1985 - telah mengepakkan sayap bisnis se­jauh yang ia bisa, dan terbang setinggi yang dapat ia capai.


'OTOT' DAN 'OTAK' BISNIS

Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada, namun ber­gaya hidup bersahaja. Pendidikan moral dari orangtuanya tertanam baik.

Ajaran itu terus berurat akar dalam dirinya. Sebagai pelajar sekolah, ia termasuk siswa yang gemilang. Jiwa wirausaha Elang mu­lai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMU. Ia mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta untuk modal kuliah. Tanpa sepengetahuan orangtua, ia berjualan donat keliling ke sekolah-sekolah dasar di Bogor. Namun, akhirnya orangtuanya tahu juga. Elang disuruh berhenti berjualan karena UAN (Ujian Akhir Na­sional) telah menjelang.

Dilarang berjualan donat, pemenang lomba bahasa Sunda tahun 2000 se-Bogor ini tertantang mencari uang dengan cara lain. Pada 2003, ketika Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competition se-Jawa, Elang mengikutinya dan berhasil memenanginya. Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Univer­sitas Indonesia menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang sukses menjadi juara ketiga. Hadiah uang yang diperolehnya, ia kumpulkan untuk modal kuliah.

Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekono­mi IPB tanpa tes. Saat itulah, bermodalkan uang sejuta rupiah, ia kem­bali berniat untuk memiliki sebuah usaha.

Awalnya, uang itu ia belanjakan sepatu, yang lantas dijual di Asrama Mahasiswa IPB. Hanya perlu waktu sebulan, ia sudah bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Sayang, setelah berjalan beberapa ta­hun, supplier yang digunakannya menurunkan kualitas sepatu. Bisnis sepatu pun sirna. Ia melihat, lampu-lampu redup di kampus 1PB se­bagai peluang bisnis pengadaan lampu. Elang mencoba menerapkan strategi bisnis tanpa modal.



                                Kepak Sayap Keseimbangan

TERBIASA MENDAPATKAN SESUATU dengan usaha menumbuhkan ide kreatif Elang Gumilang untuk berwirausaha. Sejak kecil, ia diajari bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat diperoleh cuma-cuma. Jiwa wirausahanya mulai tumbuh A duduk di bangku kelas 3 SMU, saat ia bertekad memiliki uang sepuluh juta rupiah sebagai modal kuliahnya. la mulai dengan berjualan donat keliling, sepatu hingga ayam potong. Prinsip hidupnya yang mengutamakan keseimbanganpunmenjadi dasar untuk mendirikan rumah sehat sederhana yang difokuskan untuk kalangan berpenghasilan rendah.

Q: Sejak kapan Elang mulai berbisnis?

A: Saya sudah memulainya Sejak masih di bangku SD, tapi benar-benar serius menjadi entrepreneur saat duduk di bangku SMA tahun 2002. Saat itu, saya menargetkan diri sendiri untuk punya uang sepuluh juts rupiah supaya bisa kuliah. Saya mulai dengan berjualan donat diam-diam. Namun akhirnya, alhamdulillah ketahuan orangtua. Disuruh berhenti dulu sebab ujian akhir telah menjelang. Kemudian saya mengubah taktik. Kalau tadinya berbisnis dengan cara berjualan donat, lalu saya mulai hunting perlornbaan-perlom­baan. Itu yang menyebabkan saya bisa menjadi pemenang di beberapa perlornbaan di tingkat nasional. Dan mendapatkan hadiah lumayan.

Q: Setelah mencoba berbagai bisnis pads akhirnya terdampar di satu hisnis, apa itu?

A: Sejak mengikuti lomba, saya mulai punya kebiasaan untuk berpikir tentang masa depan. Saya pikir, mungkin saya kurang bersyukur. Saya sering menyesali keterbatasan diri. Setelah menyadari apa kekurangan saya, Saya sholat istigarah. Setelah sholat istiqarah, di dalam mimpi, saya lihat bangunan-bangunan seperti di Manhattan City. Wow, bangunannya keren-keren. Setelah bertanya kepada orang di dalam mimpi: Itu siapa yang membangun? Kata orang di dalam mimpi itu: Itu kan Anda sendiri. Ya sudah.

Q: Manhattan City di New York?

A: Betul

Q : Pernah ke Manhattan ?

A : belum. (tertawa)

Q : Belum pernah. Jadi angan-angan yang keluar dalam bentuk mimpi. Lantas bagaimana membangun usaha perumahan ?

A : Yang jelas kita harus bisa membaca pasar. Sekarang ini pemerintah sedang peduli terhadpa masyarakat kelas menengah ke bawah. Sedangkan di Indonesia masih ada sekitar 70 juta rakyat yang belum memiliki rumah. Itu merupakan pasar yang sangat besar. Apalagi sekarang ada subsidi dari Menteri Perumahan Rakyat untuk masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.

Q : Itu artinya anda memasuki segmen Rumah sederhana ?

A :  Betul

Q : Siapa yang memberitahu anda harus begini ?

A: Ada beberap pengusaha, baik itu kontributor yang mengerti konstruksi, developer, dan juga orang hukum. Jadi itu semua diambil secara kebetulan, sebagian-sebagian.

Q : Apa yangmendorong anda berbisnis ?

A : ada empat hal. Pertama, ingin membahagiakan orangtua. Kedua, manusia itu akan dikenang dengan karyanya, nama baiknya. Yang ketiga, ingin membuktikan sukses tidak harus dimulai dengna memiliki gelar lebih dulu, atau mesti tua dulu. Kesuksesan bisa dimulai sejak kita muda. Dan yang keempat, globalisasi. Ketika saya berada di tingkat dua, saya belajar. teori keuangan sedangkan teman-teman di luar negeri sudah lebih dina­mis. Mereka sudah bisa membuat kerjasama dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Saya tidak mau kalah. Usia saya sama dengan mereka, yang membedakan hanya bagaimana cara kita membuat dunia kita lebih baik dari hari ini.

Ia mengisahkan hikayat seorang pemuda miskin di Amerika Latin. Setiap hari si pemuda melambaikan tangan pada seorang pengusaha tembakau kaya raya dari Amerika yang se­dang bertandang. Pada awalnya, lambaian tangan itu tidak dipeduli­kan. Namun, karena selalu berulang, pengusaha tembakau itu pena­saran dan menanyakan maksud sang pemuda. Jawab si miskin adalah: "Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak." Setelah men­dengar jawaban tersebut, si pengusaha kaya lalu membuatkan tanda tangan dan stempel kepada pemuda tersebut. Dengan modal itu, sang pemuda mengumpulkan hasil tembakau di kampungnya untuk dijual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka, jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.

Strategi inilah yang ditiru Elang. Bermodal surat dari kampus, ia melobi perusahaan lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. "Alhamdulillah proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp15 juta," ucapnya bangga. Namun, ka­rena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, ter­pikir oleh Elang untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke warung-warung. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga meng­ganggu kuliah, ia memutuskan untuk berhenti berjualan.

Menyimak perjalanannya, Elang mengaku bahwa bisnis demi bisnis yang dilakukannya le­bih banyak menggunakan otot dari pada otak. Ia lalu berkonsultasi ke beberapa pengusaha dan dosennya untuk memperoleh wawasan lain. En­lightment lalu ditemukannya. Berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang bisnis yang tidak menggunakan otot.

Setelah mendapat berbagai masukan, merintis bisnis Lembaga Bahasa Inggris di kampusnya. Karena lembaga kursus itu ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas Ekonomi memercayakan lembaga­nya itu menjadi mitra. Karena dalam bisnis ini ia tidak terlibat lang­sung, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai marketer perumahan.

UNTUK ORANG LAIN

Sebenarnya, tanpa beralih ke bisnis properti, untuk dirinya sen­diri, Elang tidak bisa dibilang kurang mapan. Pemuda antirokok ini sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik keber­hasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. "Kenapa kon­disi saya begini, padahal saya di IPB hanya tinggal satu setengah ta­hun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi yang saya cari di dunia ini?" ia berdialog dengan nuraninya.

Ilham dari Atas diperolehnya. Bisnis propertilah yang ditunjuk­kan Tuhan kepadanya. Namun, bisnis properti yang ditujukan untuk orang miskin lebih karena hatinya ikut tersentuh. "Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun. Biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang me­reka belum berani untuk memiliki rumah," ungkapnya pada sebuah kesempatan.

Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplet, seperti Klinik 24 jam, angkot 24 jam, rumah ibadah, seko­lah, lapangan olah raga, dan juga dekat dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah, kebanyakan profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha (TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.

Sukses yang sudah di tangan tidak membuat Elang lupa diri. Justru, ia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam setiap proyek ia selalu me­nyisihkan 10 persen untuk kegiatan aural. "Uang yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan) pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang yang kurang modal," bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki mengandung hak orang miskin yang wajib dibagi. Selain menyisih­kan 10 persen dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan bahkan tahunan kepada fakir miskin. Pendi­riannya; sedekah tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah kontinuitas dari sedekah tersebut.

Masih banyak sebenarnya yang ingin Elang lakukan. Di antara­nya, ia bercita-cita ingin mendirikan perusahaan yang dapat mem­pekerjakan 100 ribu orang. Elang Gumilang, masih akan terus mengepakkan sayap.

Seorang Elang Gumilang yang hanya seorang anak kampung, dan kampungan, tiba-tiba oleh Bank Mandiri diajari ilmu manajemen yang sesungguhnya supaya bisa bergaul. Bank Mandiri juga memberikan segala fasilitas, dan yang paling utama dari itu semua adalah kredi­bilitas dan reputasi. Jadi yang tadinya orang bilang hanya punya satu perumah­an, sekarang Saya sudah memiliki tiga perumahan.

Hukum Wirausaha #1

Kenali dan Guntinglah Belenggu Yang Mengikat Kaki dan Pikiran-Pikiranmu



Kita semua adalah tahanan pada sebuah penjara. Yang ineinbedakan satu dengan yang lain adalah beberapa orang menernpati sel berjendela, sedangkan lainnya menempati sel tanpa jendela.

- Kahlil Gibran



ADA DI ANTARA kita yang mempunyai sayap dan memi­liki kebebasan untuk terbang kemanapun kita henclak pergi. Namun tak seclikit di antara anak-anak muda yang tidak memilikinya sama sekali. "Kalau tak punya sayap, bagaimana bisa terbang?" tanya penerima hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus.

Yang lebih menyedihkan sebenarnya terjadi pada mereka yang sesungguhnya memiliki sayap, namun mem­biarkan kaki dan tangannya terbelenggu. lbarat burung dara yang tak boleh terbang jauh, bulu-bulu pada sayapnya di­potong menjadi pendek oleh pemiliknya. Yang lebih berun­tung nasibnya, bulu-bulu itu disulam menjadi satu oleh pemiliknya. la hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya saja di darat, tak bisa terbang tinggi seperti yang lain.

Demikian pulalah dengan manusia. Banyak orang yang berkenalan dengan cara berbisnis berkali-kali, namun tak semuanya clapat mengerakkan sayapnya tinggi ke angkasa. Ada semacam belenggu. Ya di tangan, ya di kaki. Di dalam pikiran atau di dalam hati. la menghalangi, menghambat, menurunkan nyali, menyurutkan tindakannya.

Saya ingin menegaskan, sebelum kalian terbang, bukalah, guntinglah, cabik cabiklah belenggu-belenggu yang mengikat diri dengan penuh keberanian atau tum­buhkan kembali bulu-bulu yang sudah dipotong pendek agar punya kekuatan baru. Tanpa keberanian, tak akan pernah kalian terbang tinggi melihat indahnya cakrawala. Berikut adalah saran-saran yang clapat saga berikan untuk menggunting belenggu:

  • Kenali belenggu-belenggu diri dengan memerik­sa inventory dari daftar belenggu ini: keluarga (yang terlalu banyak aturan atau membuat Anda terlalu nyaman), sikap­-sikap negatif (pencemburu, pemarah, fanatisme/dogma­tisme, reaktif, gengsi, pemalu, pencemooh, racist, serakah, tak bisa mengontrol diri, dan seterusnya), kecerdasan (terla­lu tergantung pada diri sendiri), tak ada tantangan, lingkup terlalu sempit, pergaulan, dan sebagainya.

  • Setelah mengenali belenggu-belenggu diri, cobalah keluar dengan memeriksa apakah semua itu memberi hasil yang Anda inginkan? Kalau Anda tidak suka dengan hasil yang Anda cari keluarlah dari sana dan lepaskan selimut rasa nyaman Anda. Carilah lingkungan baru. Ingatlah, manusia-manusia unggul akan merekrut manusia-manusia unggul. Sedangkan manusia kelas dua hanya akan mengambil manusia-manusia kelas tiga atau kelas empat yang kwalitasnya lebih rendah.

  • Latihlah otot otot tangan dan kaki yang jarang di­pakai dengan bergerak setahap demi setahap. Jangan me­nyerah dan kembali pulang sebelum Anda berhasil berjalan dengan kepala tegak membawa hasil yang Anda inginkan.

  • Hidup Anda bukan ditentukan oleh "sejarah hidup Anda," melainkan respons apa yang Anda ambil terhadap kejadian-kejadian yang menimpa Anda. Orang­-orang yang gagal tak berani menggunting belenggu. Mereka malahan membuat belenggu yang lebih kuat dengan menyalahkan masa lalu.

  • Anda sendirilah yang harus membebaskan belenggu-belenggu pada diri Anda. Setelah itu carilah orang-orang yang bersedia menjadi guru bagi hidup Anda. Guru-guru itu harus Anda bayar dengan kerja keras, disiplin, sikap-sikap positif, karya-karya spektakuler dan kebaikan hati. Mereka akan mengajarkan bagaimana cara nya terbang dengan terbang bersama.

  • Setelah semua belenggu terlepas, janganlah berfokus pada hat-hat yang tidak bisa Anda kerjakan. Berfokuslah pada apa yang bisa Anda kerjakan. Jangan mencemburui keberhasilan orang lain, karena setiap orang memiliki keunikan dan caranya masing-masing. Kembangkanlah kebisaan baru yang Anda kembangkan sendiri.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 1: Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian, Menjadi Wirausaha Tangguh. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Wednesday, May 2, 2012

Supriadi, Mantan Tukang Parkir yang Sukses Menekuni Usaha Produksi Kopi Luwak

Gunawan Supriadi pernah memiliki reputasi yang buruk. Pada masa lalunya, ia dikenal sebagai ”preman” yang menguasai sejumlah lahan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. Namun, kini, warga lebih banyak mengenalnya sebagai pengusaha kopi luwak yang disegani.

Gunawan merupakan salah satu produsen kopi luwak di Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, dengan merek dagang Raja Luwak. Kopi luwak yang dihasilkan lewat pemeliharaan luwak di pekarangan rumahnya kini mampu menembus kafe-kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di tanah Air.

Bahkan, kopi luwak yang dihasilkan dari ”kampung” ini menjelma sebagai komoditas termasyhur di dunia. Bekerja sama dengan sejumlah eksportir, kopi luwak yang dihasilkan itu kini dinikmati pencinta kopi di beberapa negara, antara lain, Korea, Jepang, Hongkong, dan Kanada.

Kopi luwak produksi Gunawan telah menambah khazanah kekayaan kopi-kopi eksotis Nusantara. Di mata dunia internasional, kopi luwak asal Indonesia, khususnya dari Liwa, memiliki reputasi teramat baik, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kopi termahal dan terlangka di dunia.

Di luar negeri harga bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 8 juta per kilogram dalam bentuk bubuk. Bandingkan dengan biji kopi Hacienda dari Panama dan kopi St Helena, Afrika, yang masuk di dalam jajaran kopi dunia termahal dengan harga masing-masing Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per kg. Gunawan menjual kopi luwak dalam bentuk bubuk dengan harga tidak lebih dari Rp 600.000 per kg.

Selain mengharumkan nama daerah, bagi Gunawan, hal yang lebih penting adalah keberadaan kopi luwak dapat memberikan nilai tambah, yaitu penghidupan yang lebih layak bagi dirinya dan para perajin atau produsen kopi luwak lainnya. Pada gilirannya, para petani kopi juga bisa lebih terangkat kesejahteraannya.

”Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat- marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini,” ujar Gunawan.

Ketua kelompok perajin kopi Raja Luwak ini sekarang membina dan mengoordinasikan 10 produsen kopi luwak lainnya di Gang Pekonan, Way Mengaku, Liwa. Sebagian besar di antara mereka adalah para pemula yang tidak memiliki pasar ataupun merek dagang sendiri.

”Saya menampung sebagian kopi dari mereka, lalu membantu menjualnya, terutama jika kebetulan ada pesanan yang besar,” ujarnya. Setiap perajin diharuskan menyetor 5 kg kopi luwak dalam bentuk brenjelan (masih berupa kotoran) dan pemotongan hasil keuntungan.

Iuran-iuran ini memiliki banyak fungsi, di antaranya bantuan pinjaman permodalan, termasuk untuk membeli kandang dan luwak. Gunawan berpikir sebaliknya jika dibandingkan banyak produsen kopi luwak yang berpandangan bahwa usaha itu lebih baik dimonopoli mengingat kerasnya persaingan.

Liwa akan dikenal sebagai sentra kopi luwak budidaya. Pada gilirannya, Gunawan berharap usahanya juga akan menyelamatkan luwak yang populasinya sempat terancam akibat diburu dan dibunuh. ”Luwak ini dahulu sering dianggap hama karena suka menghabisi kopi. Di kebun-kebun (kopi), mereka diracun pakai Timex (racun babi),” kisah Gunawan.

Gunawan mulai menekuni usaha kopi luwak sekitar tiga tahun lalu. Itu berawal dari hobinya memelihara hewan-hewan liar, salah satunya luwak. Dua luwak pertamanya diberi nama Inul dan Adam, mengambil nama pasangan penyanyi dangdut beken dan suaminya. Waktu itu, luwak-luwak ini hanyalah dipelihara.

”Luwak-luwak saya ini kemudian sering dipinjam seorang kawan. Ia minta izin mengurus dan memberi makan kopi. Lalu, anehnya, kotorannya kok dikumpulkan. Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?” ungkapnya menceritakan pengalamannya merintis usaha kopi luwak.

Dari penelusurannya, ia kemudian memperoleh informasi bahwa di China, 0,5 kg kopi luwak bubuk dihargai Rp 3,2 juta. Dia melihat ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Gunawan ketika itu masih bekerja serabutan. Kadang sebagai petugas satpam, kadang mengumpulkan uang parkir dari pasar-pasar. Ketika itu dia memiliki 16 anak buah.

Gunawan kemudian meminta anak buah dan jaringannya mencarikan luwak sebanyak-banyaknya untuk dipelihara dan mencoba memproduksi kopi luwak. Namun, pada awal usahanya, dia terganjal persoalan pemasaran. Ia terpaksa menawarkan dagangannya dari pintu ke pintu kafe dan hotel-hotel.

”Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet,” ujarnya.

Perlahan, usahanya berkembang. Jumlah luwak yang dipeliharanya bisa mencapai 60 ekor saat musim kopi. Namun, saat ini yang dipelihara hanya 26 ekor. Sebagian luwak dia serahkan kepada perajin lainnya dan dilepasliarkan ke alam. Rata-rata ia memproduksi 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal bentuk brenjelan tiap bulan.

Kini, setelah perlahan mulai mapan, dia meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai koordinator parkir. ”Usaha ini jauh lebih aman dan menjanjikan, terutama untuk masa depan saya dan keluarga,” tutur pria yang sempat dua kali masuk sel akibat perselisihan soal parkir ini.

Dari hasil usahanya itu, kini ia bisa membeli sebuah kendaraan dan tengah membangun kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku.

Usaha kopi luwak yang ditekuninya bersama belasan warga Way Mengaku lainnya merupakan suatu bentuk kemandirian ekonomi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya dilakukan Mandiri, tak ada bantuan dari pemerintah ataupun pengusaha swasta.

”Dulu pernah ada pengusaha kaya dari Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru ’ditendang’. Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita ’dijajah’ asing lagi,” ujar Gunawan. (*/Kompas Cetak)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6094-berjaya-berkat-kopi-luwak.html

Usia Senja Tak Menghalangi Aji Darmawan Membuka Bisnis Kuliner Resto Sunda

Berusia 60 tahun tak lantas membuat Aji Darmawan pemilik Saung Sunda memilih untuk pensiun. Meski usianya senja, Aji justru giat-giatnya berbisnis kuliner. Aneka masakan Sunda yang menjadi masakan favoritnya menjadi inspirasi untuk merintis usaha di Jalan Depok, Semarang, Jawa Tengah, sekitar empat tahun lalu.

”Berbisnis itu menyehatkan. Kalau saya pensiun tidak ada aktivitas sama sekali bisa-bisa malah sakit,” ungkapnya.

Pria yang memiliki dua cucu ini, awalnya menyukai masakan Sunda. Bersama menantunya yang asli Jawa Barat, Aji mencoba membuka usaha restoran makanan khas Sunda. Menu khas Sunda seperti ayam goreng gepuk, ikan bakar, iga bakar, nasi oncom, ayam goreng lombok ijo, tutug oncom, dan karedok menjadi masakan andalannya.

Menurut Aji, masakan Sunda adalah salah satu masakan menyehatkan, dan sesuai dengan cita rasa masyarakat Indonesia. “Membuka resto merupakan impian saya sejak dulu. Tadinya saya cukup bingung resto macam apa yang mesti saya buat. Dengan patokan agar semua orang suka, maka pilihan jatuh pada resto khas Sunda ini,” ujarnya.

Dalam mengelola restoran tersebut, pria kelahiran Semarang 23 September 1950 ini dibantu oleh menantunya. Aji sendiri turun langsung untuk mengontrol manajemen restoran. Menurut pria yang hobi olahraga ini, aneka masakan yang disajikan di restonya hampir semuanya spesial, baik dari menu masakan ikan, jerohan, lalapan sampai sambalnya. Demikian juga minuman yang ditawarkan dengan harga tidak memberatkan kantong kita.

Pria yang juga pebisnis di bidang tekstil ini mengaku, semua usahanya dia jalankan dengan penuh ketekunan. Aji lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dari masakan Saung Sunda miliknya itu. Ia tak memerlukan teori muluk-muluk dalam menjalankan bisnis. ”Terpenting masakan enak, pembeli menjadi senang, dan puas. Itu saja,” katanya.

Menjalankan bisnis kuliner bukan pertama kali dilakukan Aji. Bersamaan dengan bisnis Saung Sunda ini, Aji juga menekuni usaha di bidang perdagangan. Hampir semua usaha dia jalankan seperti tekstil, bahan bangunan, dan masih banyak lagi.

Berbuah hasil, usaha milik Aji kini semakin berkembang. Restoran Saung Sunda miliknya kini memiliki dua cabang di Semarang, yakni di Jalan Depok, dan Gelora Foodcourt ruko Mataram Plaza.

”Prospek restoran Sunda di Semarang cukup bagus. Tak sedikit mereka yang menyukai masakan ini. Ke depannya, saya akan membuka cabang lagi di Semarang. Mengenai lokasi masih akan kami cari yang letaknya cukup strategis,” terangnya. (*/SM

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6244-aji-darmawan-ogah-pensiun-memilih-berbisnis.html

Sriyono, Lewat 'Siomay Yo Pink' Pebisnis Ini Sukses Bangkit Dari Keterpurukan

Tubuh gemuk dan perut buncitnya tidak membuat pria ini ragu berpenampilan nyentrik. Ia nyentrik lantaran semua pakaiannya beratribut pink alias merah muda. Mulai dari topi, kaos ketat, kacamata, celana pendek, kaos kaki, dan sepatu. Tidak ada yang bukan pink, termasuk warna behel kawat gigi.

Inilah Sriyono. Ia adalah seorang pedagang siomay yang tidak biasa. Dagangan siomaynya menarik perhatian karena semua atribut penjualannya dipoles serba pink. Tidak hanya dirinya yang berwarna serba pink, sepeda gowes, kantong tas untuk uang, hingga gerabah tempat siomay dipanaskan pun berwarna pink. Bahkan, sebuah boneka Teddy Bear yang pastinya berwarna pink, juga ditempatkan di keranjang sepeda bagian depan sepeda siomaynya.

Siomay pink ini sudah dipatenkan dengan brand 'Siomay Yo Pink'. Sriyono berhasil menjual 200 porsi Siomay per hari. Jumlah tersebut akan bertambah 3 kali lipat saat akhir pekan atau jika ada ajang Car Free Day di Jakarta. Daya tarik pink mendorong pecinta siomay betah berlama-lama menyantap Siomay Yo Pink. Bukan hanya siomay-nya yang dinikmati para pembeli, mereka juga menyempatkan diri berfoto bersama penjualnya. "Hidup dan mati saya di siomay," ujar Sriyono seperti tertulis di gerobaknya.

Warna pink bisa jadi berhubungan dengan romantisme kisah hidup Sriyono. Ia sebenarnya adalah seorang mantan miliarder. Ia banting setir jadi pedagang siomay keliling sejak keluarganya berantakan. “Anak perempuan saya dibawa istri. Saya cerai. Saya kangen dua anak perempuan saya," akunya.

Kisah sukses Siomay Pink ini dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran 21 Juli 1954 ini merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka. Orang inilah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan bersama beberapa teman.

Atas usahanya yang gigih, pada tahun 1996 ia berhasil membuat outlet di salah satu mal elit di ibu kota, yakni Plaza Senayan. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Ia pun mendirikan outlet di beberapa tempat lain.

Ia sempat menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay.

April 1999, ia pun menikahi seorang putri polisi. Namun sayang, pernikahannya tidak direstui orangtua sang istri. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus terjadi sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang, hingga manajemen bisnisnya pun kolaps. Sriyono pun terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan miliknya. Awal 2004, sang istri menggugat cerai Sriyono. Sang istri pergi dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya.

“Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan. Ia sempat menggelandang di masjid di kawasan Senayan. Di masjid itulah ia bertemu dengan seorang jamaah yang bersedia memodali usahanya. Ia mulai berjualan siomay lagi dengan modal Rp 1 juta. Sebulan menjelang bulan puasa 2010, ia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan.

Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat pria asal Klaten, Jawa Tengah ini menjadi terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.

Sriyono biasa berjualan di kawasan elit di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan. Warga di sini telah akrab dengan Siomay Pink, mulai dari sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak. Tidak hanya warga kota Jakarta, ia juga populer di kalangan komunitas entrepreneur. Berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, serta kegigihannya dalam berwirausaha, telah menjadi inspirasi tersendiri bagi para entrepreneur.

Kepopuleran siomay pink membuahkan hasil. Awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan anaknya.

Saat ini omzet dagangannya telah mencapai Rp 1 juta per hari. Bahkan ada pengusaha lain yang menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta. “Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,” ujarnya. (*/Nilam/dari berbagai sumber)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6296-sriyono-pebisnis-yang-pantang-menyerah.html

Muslimin, Bermodal Awal Rp 25 Ribu, Kini Usaha Tempenya Mempekerjakan Lima Karyawan

Siapa yang tidak kenal dengan tempe? Makanan ini diminati semua kalangan. Bagi masyarakat yang suka dengan makanan yang terbuat dari kacang kedelai, dapat membeli secara langsung kepada pengusaha tempe satu ini.

Pengusaha ini bernama Muslimin, berasal dari Jawa Tengah. Ia membuka usaha di Jalan Puyuh, Pontianak. Dalam pembungkusan tempe yang dijual, ada dua pilihan. Daun dan plastik.

Awalnya ia berjualan tempe, sebagai jembatan untuk menyambung hidup. Namun, ia sekarang ini merasakan, bahwa pekerjaan itu menghasilkan banyak uang dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Sebelum usaha itu dilakukan, dia membuka usaha membuat mie basah. Namun, usaha yang dijalankan menemui kegagalan, karena konsumen yang membeli kurang dan pendapatannya tidak menentu. Akhirnya, usaha itu tutup.

Akhirnya, ia mencoba membuat tempe. Dia pernah membuka usaha tempe di beberapa kota. Seperti, Banjarmasin, Kupang, dan Balikpapan. Di tempat itu, dia juga dia tidak berhasil. Akhirnya, karena tidak pekerjaan, ia merantau ke Pontianak pada 1987.

Di Kota Khatulistiwa ini, dia membuka usaha tempe dengan modal awal Rp25.000. Dulu, uang Rp25.000 sangat besar jumlahnya, bila dibandingkan sekarang, karena harga barang pada mahal semua.

Mengapa ia memilih Kota Pontianak, karena belum ada pengusaha tempe pada saat itu, dan persaingan juga belum ada. Dari waktu ke waktu, permintaan tempe terus meningkat. Kondisi ini secara langsung meningkatkan bahan produksi juga ikut meningkat. Ini bisa diatasinya. Hasil produksinya dijual di beberapa tempat, seperti Pasar Sentral, Pasar Dahlia, Siantan dan Sungai Raya. "Pasar-pasar ini merupakan pelanggan tetap bagi saya," katanya.

Untuk menambah modal produksinya, ia pernah mencoba meminjam dari salah satu bank yang ada di Pontianak. Setelah ia mengajukan pinjaman yang menghabiskan banyak waktu dan rumit, dan tidak mendatangkan hasil, akhirnya ada pihak swasta yang mau bekerja sama dengannya. Kerja sama itu berlangsung hingga sekarang.

Untuk menambah hasil produksinya, dia harus membeli kacang kedelai dengan jumlah banyak. Setelah adanya kerja sama dari pihak swasta yang memberikan kacang kedelai, tanpa harus membayar terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan setelah tempe terjual.

Harga normal kacang kedelai dipasaran untuk 1 kg sebesar Rp6.250. Dia mengambil dari pihak swasta seharga Rp6.900. Selisihnya Rp650. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur karena sampai sekarang, usahanya masih terus berjalan dibandingkan dengan pengusaha tempe lain, yang sudah pada tutup karena kehabisan modal.

Ia menjual harga satu keping tempe Rp6.000, untuk ukuran 1 kg. Dalam satu hari, ia membutuhkan kacang kedelai sebanyak 350 kg. Hasil itu, bila diolah menjadi 135 keping tempe. Waktu yang diperlukan untuk jadi tempe empat hari.

Pendapatannya dalam satu bulan Rp3.500.000. Untuk sewa tempat usaha, ia harus membayar Rp7.000.000 per tahun.

Sekarang ini, untuk membantu dalam pembuatan tempe, ia punya karyawan sebanyak lima orang. "Dalam melakukan pengerjaan tempe harus bersih, tidak boleh kotor, sebab kalau kotor atau airnya tidak bagus, maka tempe tidak akan jadi," kata Muslimin.

Agar para pembeli tidak pindah di tempat lain, dia selalu menjaga kualitas pembuatan tempe. Misalnya, ia harus menjaga kebersihan dan menjaga kepercayaan, baik itu kepada konsumen maupun kepada pihak swasta, yang telah bekerja sama sampai sekarang.

"Kalau tidak menjaga semua itu, tidak mungkin usaha sampai sekarang masih ada dan maju," katanya.

Kendala yang dihadapi dalam pemasaran tidak ada. Kecuali, ada pinjaman dari bank sampai sekarang, belum bisa dia dapatkan. Untuk mendapatkan
modal dalam jumlah besar memang sulit, dan persyaratannya juga banyak.

Untuk kedepannya, ia berharap pemerintah mau memperhatikan pengusaha tempe. Dengan cara memberikan modal untuk mengembangkan usaha. (*/borneotribune)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/6543-muslimin-sang-pengusaha-tempe.html