Showing posts with label Agribisnis. Show all posts
Showing posts with label Agribisnis. Show all posts

Sunday, April 14, 2013

Ronald Sinaga, Mantan Direktur Sebuah Bank yang Resign dan Kini Sukses Lewat Peternakan Sapi Perah

Ronald H. Sinaga, Menggulirkan Revolusi Susu

 

Gila! Itulah kata yang hampir pasti

akan dilontarkan orang jika ada

seseorang yang nekat melepas profesi

terhormat berpenghasilan tinggi lalu

memilih tinggal di “kandang” sapi.

Tetapi Ronald H. Sinaga, justru memilih

langkah “gila” itu: melepas dasinya

sebagai bankir lalu menjadi peternak

sapi perah.

 

KAMPUNG Papakmangu di Desa Cibodas,

Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung,

 

Jawa Barat, siang hari itu terlihat

berbeda daripada hari lainnya. Ratusan warga

tumpah ruah di halaman Sekretariat Kelompok

Peternak Sapi Perah Pasirjambu Ciwidey (KPPC)

Cipta Pratama. Mereka mengantarkan anak atau

anggota keluarga yang akan mengikuti khitanan

massal, pengobatan gratis, dan pembagian bingkisan.

Pengelola KPPC menjelaskan, kegiatan sosial

itu adaiah ungkapan syukur atas keberadaan

mereka sebagai perusahaan yang bergerak di

bidang peternakan sapi perah di Papakmangu.

Mereka ingin berbagi rezeki kepada warga yang

telah menerima kehadiran mereka.

Menurut ketua KPPC Cipta Pratama, Ronald

H. Sinaga, kegiatan tersebut merupakan momen

penting untuk meningkatkan rasa kebersamaan

antar peternak dan antara masyarakat dengan

KPPC. Apalagi KPPC tengah berupaya meningkatkan

 

kinerja mereka dan kesejahteraan peternak.

“Masih banyak peternak yang perlu didorong

untuk bergabung, selain itu kegiatan seperti ini

menjadi momen yang tepat untuk menyentuh

para peternak sapi yang nakal. Sebab masih ada

 

peternak yang sengaja menambahkan air pada

susu,” kata Ronald.

Ronald menekankan pentingnya kebersamaan bagi

 

para peternak sapi. Selain menjadi

media untuk saling belajar, kebersamaan merupakan

 

cara yang sangat efektif untuk saling

 

mengingatkan dan mengontrol. Lewat kebersamaan,

 

lanjut Ronald, para peternak bisa

saling membantu dan menguatkan, terutama ketika

 

menghadapi berbagai kendala usaha. Khususnya

 

kendala yang datang dari luar, seperti

perilaku kartel susu yang sangat merugikan.

PERJALANAN USAHA

KPPC Cipta Pratama adalah kelompok usaha yang

 

menghimpun para pelaku usaha mikro dalam

 

bidang peternakan sapi perah di

Parongpong dan Cibodas. Selain bergerak di

bidang pemerahan susu, KPPC juga terlibat

dalam pembuatan pakan, penampungan dan

pendinginan susu, serta pembuatan sejumlah

produk turunan susu.

Para peternak sapi sebenarnya sudah bergabung

 

dengan KPPC sejak tahun 1998.

Umumnya mereka melakukan usaha ternaknya

secara tradisional. Tak banyak yang dilakukan

untuk menghadapi berbagai masalah seperti

 

meningkatkan kualitas sumber daya manusia,

permodalan, akses ke dunia perbankan, pemasaran,

 

serta kualitas ternak dan produk susu.

Baru setelah Ronald bergabung, tahun 2008,

sejumlah masalah ini mulai memperoleh jalan

keluar.

Saat ini, KPPC menampung 800 peternak sapi

perah yang memiliki 3.000-an ekor sapi. Terbagi

dalam 20-an kelompok, KPPC yang didukung

oleh 40-an karyawan ini mampu menghasilkan

susu segar sebanyak 23.000 hingga 25.000 liter

per hari. Sapi-sapi penghasil susu segar tersebut

merupakan bagian dari ribuan ekor sapi yang

berada pada fase laktasi.

KPPC memiliki dua pusat lokasi usaha, yakni

di Kampung Papakmangu, Cibodas, Pasirjambu,

 

Kabupaten Bandung dan Kampung Belapati,

 

Desa Parongpong, Bandung Barat. Namun,

 

sebenarnya para perternak sapi perah itu

tersebar di sejumlah lokasi, yakni Lembang,

Parongpong, Cisarua, dan Ciwidey.

Selain itu, KPPC juga memiliki empat unit

usaha yang tersebar di beberapa lokasi. Unit

usaha pertama berupa penampungan dan

pendinginan susu sapi segar yang berada di

 

Parongpong. Proses pendinginan menggunakan

PHE dengan kapasitas mencapai 3.000 liter per

jam. Sementara daya tampung dan pendinginan

susu mencapai 15.000 liter.

Unit usaha kedua berada di Ciwidey, berupa

pabrik pakan ternak. Unit usaha ini disertai

usaha penampungan dan pendinginan susu

segar, lengkap dengan unit pendinginan yang

memiliki daya tampung hingga 5.000 liter.

Unit usaha ketiga adalah unit usaha peternakan

 

sapi perah di Cibodas. Unit usaha ini juga

dilengkapi dengan pendinginan susu dengan

daya tampung 1.000 liter. Sedangkan unit usaha

keempat KPPC berada di Cisarua, berupa usaha

penampungan dan pendinginan susu.

“Selain itu, KPPC juga masih memiliki unit

usaha lain yang baru mulai tumbuh. Unit ini

menghasilkan produk turunan susu seperti

yoghurt, permen susu, dan dodol susu,” ujar

Ronald dengan bangga. Semua usaha yang

dilakukan KPPC ini mampu meraih omzet Rp

2 miliar setiap bulan. Dari total pendapatan itu

keuntungan bersih yang diraih KPPC mencapai

Rp 1,5 miliar per tahun.

Ronald berharap agar ke depannya KPPC

 

tidak hanya mampu menyalurkan susu segar,

tetapi juga mampu memproduksi produk susu

dengan merek sendiri. Produk susu yang di

maksud antara lain adalah susu segar siap minum,

 

yoghurt, dan es krim. “Kami punya ide

untuk membuat warung susu segar KPPC, dengan

 

membentuk koperasi sendiri. Namun,

masih terdapat keterbatasan dana dalam

 

mewujudkannya,” jelas Ronald. Hingga memasuki

 

pertengahan 2011, KPPC tengah berusaha

 

membawa usaha peternakan ini menjadi

penyedia sekaligus penyebar virus gemar susu

segar di masyarakat, terutama masyarakat

 

perkotaan di Indonesia.

DARI MENARA GADING KE KANDANG SAPI

Sebelumnya, peternakan sapi merupakan dunia

 

yang asing bagi Ronald. Tak pernah terbayangkan

 

sama sekali bahwa dalam perjalanan

hidupnya ia akan berurusan dengan “kandang

sapi”. Sebagai orang kota yang lebih banyak tinggal

 

di “menara gading”, hingga setahun sebelum

berkutat dengan usaha peternakan sapi, pria

 

kelahiran Palembang, 25 Desember 1963 ini belum

tahu sedikit pun tentang sapi.

Semua berawal tahun 2008. Saat itu, tak lama

setelah meninggalkan profesinya sebagai bankir

mapan yang telah dijalaninya 20 tahun, Ronald

mengunjungi sahabatnya di Missouri, Amerika

 

Serikat, yang bergerak di bidang peternakan sapi

perah. Di negeri itulah untuk kali pertama dalam

hidupnya ia mengenal usaha peternakan sapi perah.

“Saya memang baru mengenal dunia sapi

perah di tempat sahabat saya. Di negeri orang,

pula. Itu pun baru kulitnya. Pengetahuan saya

tentang usaha ini baru bertambah setelah rajin

 

membaca buku-buku tentang ternak sapi,

produk susu segar, dan produk turunannya,”

katanya.

Dalam sebuah buku yang sempat dibacanya,

Ronald menemukan informasi yang mengejutkan.

Suatu hasil studi menunjukkan adanya korelasi

yang meyakinkan antara negara-negara yang

 

berhasil menjadi peserta Piala Dunia Sepakbola FIFA

dengan jumlah volume susu yang dikonsumsi

 

penduduknya. Intinya, penduduk negara-negara yang

berhasil menjadi langganan peserta pesta olah

raga sepakbola kelas dunia itu konsumsi susunya

paling sedikit mencapai 30-50 liter per kapita per

tahun. Demikian juga negara-negara yang merajai

Olimpiade.

“Cina melakukan revolusi (minum) susu

pada tahun 1986. Tahun 2006 mereka juara

Olimpiade. Indonesia rata-rata baru 10 liter per

tahun. Itu pun 70 persennya bukan susu segar

tapi susu formula yang nutrisinya lebih rendah

dibanding susu segar dan bahannya diimpor dari

 

negara lain. Kita masih kalah dengan Vietnam

yang konsumsi susu segarnya sudah mencapai

11 liter per penduduk per tahun,” paparnya.

Ronald yang pernah menduduki jabatan tinggi

di sejumlah bank dan lembaga keuangan lain ini

kemudian melanjutkan penggaliannya tentang

dunia sapi perah.

Jenuh bekerja di lembaga keuangan yang

cukup bergengsi di Jakarta, Marketing &

 

Business Development Director itu memilih

 

jalan ekstrem. Dia meninggalkan Jakarta lalu

beternak sapi. Tahun 2009, penyandang gelar

S2 di bidang bisnis dari School of Business pada

University of the East Manila dan S1 Universitas

Advent Indonesia ini membeli 30 ekor sapi

secara bertahap.

Namun karena tak memiliki pengalaman,

Ronald langsung menghadapi sejumlah masalah.

Produk susu segar yang dihasilkan sapi-sapinya

mengecewakan. Sialnya lagi, pasar dikuasai oleh

kartel yang sangat merugikan peternak. Mereka

mengatur harga yang sangat rendah.

Ronald yang terlatih melakukan analisis

bisnis segera mencari tahu penyebabnya. Dia

menemukan bahwa rendahnya kuantitas maupun

 

kualitas produk susu sapinya bersumber

pada pakan sapi dan perawatannya. Ronald

mengaku bahwa dia hanya memberi pakan

sebagaimana peternak sapi lokal di sekitar

 

daerah usahanya. “Akibatnya, produk susunya

berkualitas rendah,” ujar Ronald menjelaskan.

Ronald pun bergerak mencari solusinya.

Setelah gagal dalam beberapa kali percobaan,

akhirnya Ronald berhasil membuat pakan sapi

yang tepat. Kuantitas dan kualitas susunya

meningkat signifikan, yakni sebesar 50 persen

dan secara bertahap menuju 100 persen.

Merasa berhasil, Ronald melangkah lebih

jauh. Dia membuat pabrik pakan sapi.

 

Rencananya, produk pakan ternaknya akan

 

ditawarkan kepada para peternak di sekitarnya.

Harapannya agar susu yang dihasilkan para

peternak meningkat kuantitas dan kualitasnya.

“Kalau produk susunya meningkat, penghasilan

peternak pasti akan ikut meningkat,” ujarnya.

Sayang, respons para peternak lokal tak

sesuai harapannya. Pasalnya, harga yang

 

ditawarkannya terlalu tinggi. Mereka tidak

 

memiliki cukup dana untuk membelinya. Ronald

kemudian memutar otak. Ia pun mencoba cara

lain. Menurut asumsinya, para peternak akan

bersedia membeli pakan buatannya jika produk

susu mereka juga dia beli. Ternyata benar,

predikat Ronald pun segera bertambah, yaitu

menjadi penampung susu.

Tak terlalu lama mencari, Ronald berhasil

mendapatkan pasar susu segarnya, yakni

PT Indolacto (dahulu bernama Indomilk).

 

Perusahaan susu formula ini bersedia menampung

 

susu segar KPPC hingga 25.000 liter

per hari. Setelah memperoleh pasar ini Ronald

 

merasa satu masalah di antara sejumlah

masalah yang dihadapinya mulai terpecahkan.

 

Dia juga merasa memperoleh isyarat

bahwa lambat atau cepat, berbagai masalah yang

 

dihadapi dunia usaha peternakan sapi

perah juga bisa dipecahkan.

 

MENYEBAR “VIRUS” KEMAJUAN

Meskipun berhasil menemukan pasar yang bagus

 

Untuk menyalurkan produk susu, Ronald menyadari

 

bahwa masalah yang dihadapi para peternak

 

lokal cukup rumit. Diantaranya ialah soal bibit sapi.

Selama ini peternak yang ingin memperoleh sperma sapi

harus mengeluarkan dana besar. “Saya katakan masalah

besar karena penghasilan peternak masih rendah, modal

mereka juga terbatas. Selain itu pendidikan mereka juga

tidak terlalu tinggi sementara semangat untuk tumbuh

 

menjadi peternak modern belum terbangun,” katanya.

Kedua, kebijakan pemerintah. Menurut Ronald,

 

bea masuk yang dikenakan terhadap susu impor

 

sangat rendah sehingga perusahaan susu formula di

 

Indonesia leluasa memproduksi susu formula

dengan harga murah. Dengan demikian, peternak sapi

 

perah lokal harus menghadapi masyarakat Indonesia yang

lebih mudah mengonsumsi susu formula daripada susu

segar.

Menghadapi berbagai masalah tersebut, Ronald kembali

memeras otaknya. Ia melihat bahwa sebagian peternak

 

lokal telah memiliki kelompok usaha bernama KPPC Cipta

Pratama. Ronald pun segera bergabung. Tujuannya agar

bisa melakukan berbagai kerja sama yang saling menguntungkan.

 

Dalam waktu sekitar 8 bulan Ronald dipercaya untuk

 

memimpin KPPC tersebut. Dua bulan kemudian, dengan

 

menambah investasi baru, Ronald mengambil alih KPPC

 

dari pengurus lama. Dengan investasi tersebut di

bentuklah unit pengolahan pakan ternak untuk

mengembangkan kelompok peternak sapi perah

di Desa Papakmanggu, Gambung, Pasirjambu,

Kabupaten Bandung.

Sejak saat itu, Ronald mulai menyebarkan

“virus” kemajuan. Namun untuk urusan ini

dia harus bekerja keras dan cepat. Maklumlah,

selain banyak peternak yang belum bersedia

bergabung, banyak anggota yang tidak siap

diajak ‘berjalan’ cepat.

“Pada umumnya peternak masih kerasan dengan

 

kebiasaan lama, seperti mencampurkan

air ke dalam susu sehingga kadar air pada susu

segar menjadi tinggi. Peternak seperti ini kami

sebut peternak nakal,” katanya.

Untuk menyadarkan peternak nakal, Ronald

menerapkan budaya yang hidup di kalangan

masyarakat Sunda, yaitu budaya malu. Dengan

 

budaya malu ini para peternak diajak

memberikan sanksi sosial terhadap peternak

yang tak jujur. Kalau ada yang ketahuan,

sanksinya harus dikucilkan.

“Sebaliknya, peternak yang berhasil menjaga

kualitas harus diberi penghargaan. Bagi

 

masyarakat pedesaan yang masih menjunjung budaya

 

malu, mengalami pengucilan adalah hal yang

menakutkan,” katanya.

Ternyata cara tersebut cukup ampuh dan

menguntungkan. KPPC bisa membangun mekanisme

 

kontrol. Dengan pendekatan kultural pula,

cara berorganisasi yang lebih modern mulai

ditanamkan.

 

“Sementara untuk meningkatkan kualitas

susu, KPPC menempuh jalan penyadaran akan

pentingnya kebersihan kandang pada saat proses

pemerahan,” kata Ronald.

Selain itu, KPPC juga terus berusaha menumbuhkan

 

kesadaran akan pentingnya menjaga

lingkungan, termasuk sungai, dari pencemaran

 

limbah sapi. Terkait hal ini, KPPC menggandeng

berbagai kelompok pengolah limbah sapi. “Limbah

 

dijadikan pupuk atau produk lain. Hanya

saja hal ini masih sulit karena banyak peternak

yang belum bergabung ke KPPC,” tuturnya.

Untuk kenyamanan usaha, Ronald menambah

 

berbagai fasilitas seperti kesehatan ternak,

termasuk jumlah dokter hewan, selain petugas

kesehatan yang mengontrol kesehatan sapi. “Ini

juga sangat penting kami lakukan agar kualitas

susu sapi tetap terjaga,” katanya.

Ronald juga membawa kemajuan untuk urusan

 

permodalan. Selain pinjam ke bank bjb untuk

 

pengembangan usahanya, Ronald juga menyediakan

 

KPPC sebagai penjamin untuk para peternak.

Dari modal tersebut peternak anggota

KPPC mampu membeli sapi perah. Dengan

banyaknya sapi perah maka semakin banyak

pula tampungan susu di KPPC. Pengembalian

pinjaman modal kepada bank bjb dilakukan

dengan sistem angsuran, dan anggota KPPC

membayar angsuran dari hasil susu yang

diperoleh. Dengan cara ini, dunia perbankan

pun mulai melihat bahwa dunia peternakan

bisa menjadi pasar bagi produk-produk kredit

mikro.

REVOLUS SUSU!

Ronald mengakui bahwa ia masih baru dalam

 

usaha peternakan sapi perah. Namun bagi dia,

waktu dua tahun telah membimbingnya untuk

melihat dan melakukan sesuatu yang berguna

bagi kalangan peternak dan masyarakat luas.

Saat ini semua pengolahan susu masih dilakukan

 

secara tradisional. Perlahan namun pasti,

Ronald mengubah cara-cara tradisional tersebut

 

dengan memberikan penyuluhan peningkatan

 

kebersihan. Ronald menyarankan agar

kandang dan ternak dibersihkan dengan

 

menggunakan air hangat dan tempat pemerahan sapi

dibersihkan menggunakan ember alumunium.

Selain itu, Ronald memberikan penyuluhan

agar memperpendek waktu dari pemerahan

hingga penyetoran. Lebih cepat tiba di tempat

penyetoran maka dapat langsung didinginkan

guna mencegah pertumbuhan bakteri. KPPC

juga menyediakan mantri hewan gratis bagi

setiap anggota untuk menjaga kesehatan dan

kesuburan ternak mereka.

Pembelian susu dari peternak dilakukan

dengan membuat kelompok yang terdiri dari

40 orang. Dari setiap kelompok tersebut KPPC

membeli susu seharga Rp l00 per liter per hari.

Jadi, jika hari ini jumlah produksi KPPC 20.000

liter per hari maka dana yang disiapkan oleh

KPPC adalah Rp 2 juta.

Setidaknya konsep, metode, proses, dan

orientasi usaha KPPC yang dilakoninya sudah

mulai membuka mata banyak orang bahwa

 

usaha peternakan sapi perah bisa berkembang,

maju, dan menguntungkan. “Memang enggak

gampang. Bahkan masalahnya cenderung kompleks.

 

Tapi itulah tantangannya,” katanya.

Untuk mengurai berbagai masalah dan menemukan

 

solusinya, Ronald memanfaatkan pengalaman

 

yang dia peroleh di dunia perbankan

dan keuangan, ditambah kemauannya membaca

berbagai buku. “Kalaupun seperti trial and error

ya mohon dimaklumi. Tapi bukankah dunia

nyata menuntut kita belajar dari kesalahan?”

ujarnya.

Menghadapi peternak dengan kultur agraris

yang kuat, katanya, hanya ada satu cara, yakni

 

memberi contoh dan terus meyakinkan bahwa

mereka bisa melakukan yang lebih baik dari

sebelumnya. “Yang penting mata peternak

terbuka bahwa ada hal lebih baik yang bisa

mereka lakukan,” katanya. Misalnya, mengubah

pakan sapi yang tidak bernutrisi menjadi pakan

yang bernutrisi karena sangat berpengaruh

terhadap kuantitas dan kualitas susu.

Pada sisi pemasaran Ronald mencari penampung

 

susu besar, seperti perusahaan susu formula.

 

Ronald juga memelopori pembuatan produk

 

turunan dan penjualan susu segar secara

eceran. “Penjualan eceran ini penting bagi

peternak susu. Selain membuka peluang usaha

 

bagi masyarakat, juga menjadi awal dimulainya

revolusi susu di Indonesia,” ujarnya. Upaya itu

akan dilanjutkan dengan berdirinya rumah

susu di berbagai kota dan lokasi. Rumah susu

ini nanti akan menjadi semacam distributor

yang membuka peluang usaha bagi masyarakat

sekaligus menyebarkan virus Revolusi Susu,

yakni pentingnya mengonsumsi susu sebanyak

40-50 liter per kapita per tahun.

“Kalau ide yang sudah kami rintis ini kelak

menjadi gerakan, maka berbagai persoalan

utama peternak akan teratasi. Selain itu bangsa

Indonesia juga akan memetik manfaat dalam

hal kesehatan dan kecerdasan,” ujarnya seraya

menekankan pentingnya peningkatan konsumsi

susu segar di masyarakat karena susu segar jauh

lebih bernutrisi dibandingkan susu formula.

Untuk mewujudkan revolusi susu ini KPPC

tengah merintis sejumlah kerja sama dengan

pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat. Ronald

juga segera mengusulkan kepada pemerintah

pusat untuk membuat kebijakan tentang susu

impor yang tidak merugikan peternak sapi.

“Pemerintah juga perlu mulai mengenal pentingnya

 

asupan susu segar bagi rakyat, terutama

 
di kalangan anak-anak, balita, pelajar, serta


mahasiswa,” katanya.

MANAJEMEN USAHA

Saat ini, Ronald memiliki dua impian besar

untuk mengembangkan usahanya. Pertama,

memiliki tanah yang dapat menampung sapi

kelompok peternaknya. Kedua, mendirikan pabrik

 

untuk memproses susu sendiri. Ronald

berharap agar kelompok peternaknya dapat fokus

 

beternak, kemudian menjual dengan harga

yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan mimpi

tersebut, sistem usaha harus diperbaiki.

Pertama, kinerja karyawan dan peternaknya.

“Sudah ada di pikiran saya untuk memakai

 

tenaga profesional, tetapi tidak mudah, terutama

yang mau bekerja full time dan tetap masuk

Sabtu dan Minggu bila dibutuhkan,” ujarnya.

Sementara peternaknya, hanya diambil dari

 

sekitar Lembang. Upah yang diberikan disesuaikan

dengan banyaknya susu yang dihasilkan.

Peningkatan kemampuan peternak, dilakukan

 

melalui pelatihan dan diskusi. Ia mendatangkan

 

tenaga pelatih dari organisasi peternakan

 

bernama PUM Netherlands. “Saya browsing di

 

internet, melalui website-nya saya submit

 

aplikasi mengenai UKM saya. Setelah

 

melalui dua kali wawancara, akhirnya

saya berhasil mendatangkan seseorang untuk

memberikan konsultasi kualitas susu ke sini,

gratis, semua biaya ditanggung PUM,” jelasnya

bangga.

Selain pelatihan, ia juga melakukan pengawasan

 

terhadap para peternaknya. Ronald

mengaku pekerjanya ada yang pindah ke kelompok

 

pesaing karena pilihan sendiri dan ia

harus mencari seseorang yang dapat menjadi

penyelia. “Saya meminta adik istri saya bergabung,

 

karena dia bisa mengerti bahasa penduduk,” jelasnya.

Selanjutnya ia memperbaiki sistem usahanya.

Pertama, dalam hal social engineering, ia

 

mengubah perilaku peternak menjadi modern dengan

menanamkan pola pikir bahwa susu adalah

 

konsumsi manusia. Karena itu, kebersihan dan

kualitas susu harus benar-benar dijaga. Kedua,

sistem manajemen untuk menjaga loyalitas

karyawannya.

Ronald berharap dengan melakukan perbaikan,

 

mimpi-mimpinya dapat terwujud. Paling

 

tidak target sederhananya, yaitu semua

orang bisa minum susu dengan harga yang lebih

murah dengan kualitas terbaik.

Suatu malam pada bulan Juni 2011, di lokasi

 

peternakan sapi perah KPPC di Cisarua

yang dingin, Ronald H. Sinaga, mantan

bankir profesional itu, memandangi langit di

atas deretan kandang yang penuh bintang.

Ia membuktikan bahwa usaha peternakan

sapi perah dan susu segar bisa meningkatkan

kehidupan peternak. Bahkan dari kandang

sapi, virus Revolusi (Minum) Susu mulai ia

sebarkan.

 

Catatan Rhenald Kasali

SERING KALI TERLIBAT dalam kegiatan usaha bukanlah murni soal uang atau

 

menitipkan hari tua. Ada kalanya Anda juga dituntut melakukan perubahan.

 

Ya, perubahan. Sebuah transformasi sosial. Kalau ingin usaha Anda

maju maka Anda pun dituntut memajukan masyarakat. Bukankah dari masyarakat

 

itu Anda mendapatkan rasa aman (keamanan), bahan baku, tenaga kerja,

 

pembelaan saat terjadi gangguan, dan seterusnya.

Bayangkan apa jadinya bila kementerian pendidikan salah urus tenaga kerja

 

Kita? Sekarang ini saja semua pangusaha sudah merasakan akibatnya yaitu

 

tenaga-tenaga kerja yang tidak siap pakai. Belum lagi masalah kesehatan,

 

investasi sosial, kesejahteraan (listrik, fasilitas jalan, poliklinik dan

 

seterusnya). Anda juga dituntut melatih keterampilan mereka dan

 

memperbaikinya. Bukankah tenaga-tenaga penyuluh pertanian dan peternakan

sudah lama menghilang?

Ada kalanya, sistem ini sengaja dipertahankan oleh mereka yang mendapat

 

keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tengkulak, lintah darat, dan politisi

 

atau birokrat-birokrat yang korup. Mereka mempertahankan masalah agar

 

terjadi ketergantungan dan masalah dijadikan proyek abadi. Maka demi

 

kecintaan Anda pada Sang Merah Putih, lakukanlah perubahan.

Ronald H. Sinaga ingin mendulang keuntungan, namun caranya harus berbeda.

 

Ia tidak menjadikan masalah sebagai peluang dengan mengabadikan masalah itu

 

sebagai proyek abadi, melainkan mengubahnya menjadi masyarakat yang

 

sejahtera yaitu masyarakat yang lebih mengerti, lebih mandiri dan lebih

 

sehat. Ia mengubah masalah masyarakat yang bukan menjadí kewajibannya

 

untuk mendapatkan dukungan, kepercayaan dan kredibilitas. Ia memberikan

 

pelatihan, memperbaiki mata rantai, dan memberi perhatian.

Perbaikan masyarakat mutlak dilakukan usahawan, di desa maupun di kota.

 

Bäyangkan bagaimana sehatnya negeri ini kalau semua orang mau

 

Melakukannya...

 

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Thursday, February 7, 2013

Marcell, Mantan Pegawai Bank Ini Kini Raup Omzet Milyaran dari Bisnis Sapi Perah dan Sapi Potong

Marcell Diaz sudah menekuni bisnis
peternakan sapi perah dan sapi
potong sejak tahun 2008. Dengan
luas lahan peternakan mencapai 20
hektare (ha), ia kini mengantongi
omzet hingga Rp 3 miliar per bulan
dari usaha peternakan ini.
Perkenalannya dengan dunia
peternakan berawal dari
keterlibatannya membenahi
peternakan milik saudara iparnya di
Kalimantan Barat pada tahun 2005.
Kala itu, kondisi peternakan saudara
iparnya itu nyaris bangkrut. "Waktu
saya ke sana, yang tersisa hanya
enam ekor sapi dengan grade C,"
tutur Marcell.

Saudaranya sudah tidak berniat
meneruskan peternakan tersebut
dan hendak menjual. Namun,
Marcell berpikir sayang jika
peternakan tersebut dijual.
Sebagai seorang tenaga ahli
pemasaran di sebuah bank asing
ternama di Jakarta, Marcell pun
membantu membenahi pengelolaan
peternakan sapi tersebut hingga
bisa pulih.
Marcell membantu melakukan
pembenahan, terutama dari sisi
keuangan yang memang dia kuasai.
Berkat bantuannya, akhirnya
peternakan itu bisa berkembang dan
berjalan hingga sekarang. "Dari situ,
saya belajar banyak mengenai
pengelolaan peternakan sapi,"
katanya.

Saat itu, Marcell masih belum
terjun ke bisnis peternakan. Ia
masih bekerja di bank asing di
Jakarta. Sampai suatu ketika, anak
keduanya mengidap penyakit
leukimia atau kanker darah.
Ia dan sang istri pun harus menjaga
anak mereka di rumah sakit secara
intensif. "Hampir setiap hari, kami
menginap di rumah sakit," tutur
Marcell.
Merasa tak enak dengan tempatnya
bekerja karena sering izin, Marcell
dan istrinya yang juga bekerja di
bank asing memutuskan
mengundurkan diri dari jabatan
mereka pada tahun 2007.
Mereka fokus merawat anak hingga
tahun 2008. Lantaran sudah tidak
bekerja lagi, ia dan isterinya
memutuskan untuk hijrah dan
menetap di Kalimantan Barat.

Marcell pun terpikir untuk
membuka usaha sendiri supaya bisa
bekerja lebih fleksibel. Namun,
baru dua bulan berselang setelah
kepindahan mereka ke Kalimantan
Barat, anaknya yang mengidap
leukimia meninggal dunia. "Anak
saya adalah sumber inspirasi
terbesar saya dalam membangun
peternakan," tuturnya.

Marcell terinspirasi membangun
usaha peternakan sapi perah agar
dapat menghasilkan banyak susu
sapi murni. Ia menuturkan,
perkembangan penyakit kanker
sangat tergantung pada imunitas
anak.
Sementara, sistem kekebalan tubuh
bisa ditingkatkan melalui susu sapi
murni yang benar-benar segar.

Maka, pada tahun 2008, Marcell
membangun peternakan sapi di
bawah bendera usaha PT Cesna
Agro Borneo.
Kini, luas lahan peternakannya
sudah mencapai 20 hektare yang
berpusat di Kalimantan Barat.

Sementara, cabang usahanya ada di
Tangerang dan Bandung.
Total sapi perah peliharaannya kini
mencapai 170 ekor yang mampu
memproduksi 1.500 liter susu per
hari. Sementara, jumlah sapi
pedagingnya sudah sebanyak 2.000
ekor. "Omzet saya Rp 3 miliar per
bulan," ujarnya.

Sukses yang diraih Marcell Diaz
dalam membesarkan usaha
peternakan sapi penuh dengan lika-
liku. Banyak sekali hambatan dan
tantangan yang ditemuinya saat
awal-awal merintis usaha.
Terkait dengan modal usaha,
misalnya, permohonan kreditnya ke
bank tak kunjung dikabulkan.
"Pengajuan kredit saya seringkali
ditolak," katanya.

Padahal, Marcell sangat
memerlukan bantuan modal buat
mengembangkan usahanya. Salah
satu kendala pencairtan kredit
karena pihak bank di Kalimantan
masih bergantung dari Jakarta
dalam pengambilan keputusan.

Meski usahanya memiliki prospek
yang cerah, tapi bank di sana tetap
tak berani memberi pinjaman jika
tak ada izin dari kantor pusat.
Agar komunikasi dengan kantor
bank pusat lancar, Marcell pun
pernah membiayai petinggi sebuah
bank dan tenaga ahlinya terbang
dari Kalimantan ke Jakarta. "Saya
biayai ke Jakarta, meeting sampai
tiga hari, tapi ternyata tetap tidak
ada solusi," ujarnya.

Alhasil, Marcell pun batal
meminjam dana di bank tersebut.
Pernah juga ia mencoba
mengajukan proposal pinjaman ke
bank lain. Namun, dari total
pinjaman yang diminta, yang
dikabulkan hanya 1%. "Saya ajukan
pinjaman Rp 7 miliar, yang
diberikan hanya Rp 70 juta,"
tuturnya, sambil tertawa.
Ia mengaku, tetap mengambil
pinjaman itu namun segera
dilunasinya. Pinjaman itu adalah
satu-satunya pinjaman bank yang
pernah ia peroleh.

Selain terkendala modal, ia juga
kesulitan memperoleh tenaga kerja
yang mumpuni di bidang
peternakan. Meski begitu, ia tak
cepat menyerah dengan kondisi
yang ada. "Masalah terberat juga
terkait dengan sumber daya
manusianya," tutur Marcell.
Karyawan yang bekerja di
peternakannya maksimal lulusan
sekolah menengah atas (SMA). Itu
pun ijazahnya kebanyakan kejar
paket C.

Selain berpendidikan rendah,
pengalaman para pekerjanya juga
minim. Marcell pun sering turun
tangan melatih para pekerjanya.
"Solusinya, saya yang belajar, lalu
saya terapkan ke para staf,"
ujarnya.

Marcell banyak menimba ilmu
melalui internet, membaca buku,
dan bertukar pendapat dengan
orang lain. Lulusan Pasca Sarjana
Ekonomi di Bond University,
Australia ini juga sering melakukan
studi banding.
"Sesekali saya mengunjungi
peternakan teman di Australia untuk
belajar," ujarnya. Kebetulan,
sejumlah temannya di Australia
memiliki peternakan besar.

Melalui studi banding itu, ia banyak
mengambil pelajaran penting
seputar manajemen pengelolaan
peternakan secara modern. "Yang
membuat kami berhasil adalah
fighting spirit dan bantuan tangan
dingin istri," ujar Marcell.

Sejak tahun 2008, Marcell Diaz
sudah menekuni bisnis peternakan
sapi perah dan sapi potong di
Kalimantan Barat. Ia terinspirasi
membangun usaha peternakan itu
agar bisa menghasilkan banyak susu
sapi murni.
Inspirasi itu dia dapat setelah salah
satu anaknya yang mengidap
leukimia meninggal dunia.

Menurutnya, perkembangan
penyakit kanker sangat tergantung
pada imunitas anak. "Imunitas anak
bisa ditingkatkan lewat susu sapi
yang benar-benar segar," katanya.
Terlebih, di Kalimantan Barat
(Kalbar) belum ada peternakan sapi
yang fokus memposisikan diri
sebagai penyedia susu sapi segar.
Padahal, permintaan masyarakat
cukup tinggi.

Makanya, sejak awal Marcell
berambisi menjadi penyedia susu
sapi segar terbesar di Kalbar. Ia
menargetkan, keinginannya itu
sudah bisa terealisasi tahun ini
juga. "Saya ingin pengembangan
peternakan sapi ini posisinya ke
sapi perah," tutur Marcell.
Sampai saat ini, peternakan sapinya
belum sepenuhnya fokus ke sapi
perah. Soalnya, ia juga masih
mengembangkan peternakan sapi
potong. Ke depan, porsi sapi perah
akan dia tingkatkan.

Sekarang, Marcell baru memiliki
170 ekor sapi perah. Dalam sehari,
seekor sapinya bisa menghasilkan
10 liter hingga 40 liter susu.
Dengan 170 ekor, paling tidak bisa,
dia menghasilkan 1.500 liter susu
dalam satu hari.
Marcell telah mengkalkulasi, bahwa
kebutuhan masyarakat Kalbar
khususnya anak-anak sekolah dasar
akan susu sapi paling tidak 6.000
liter per hari. "Saya harus bisa
memenuhi kuota sebesar enam ton
susu sapi di tahun 2013 ini," imbuh
dia.
Jumlah tersebut bukan sekadar
target. Melainkan, harus dia penuhi
lantaran sudah terikat kontrak
dengan Pemerintah Provinsi Kalbar.

Dalam kontrak itu, ia menyanggupi
untuk menyediakan susu sapi segar
sebanyak 6 ton sehari.
Menurut Marcell, meningkatkan
produksi susu sapi segar hingga
hampir empat kali lipat, jelas bukan
perkara yang gampang. "Butuh
strategi, kecukupan dari sisi
finansial, peralatan, dan tenaga
kerja," tegasnya.

Untuk itu, ia telah menyiapkan
sejumlah rencana. Dari sisi
finansial, sebagai diversifikasi,
Marcell pun menyediakan sapi
pedaging di peternakannya. Dia
memiliki 1.000 hingga 2.000 ekor
sapi pedaging di peternakannya.
Daging-daging sapi tersebut
kebanyakan ia ekspor ke Malaysia.
"Harga jual ke Malaysia lebih
tinggi," akunya. Meski begitu, tetap
ada sebagian daging yang dia jual
ke wilayah Jabodetabek, Bandung,
dan Kalimantan.

Selain itu, Marcell juga tengah
melebarkan usahanya ke sektor
properti. Ia telah memiliki sejumlah
lahan yang akan ia dirikan properti.

Sedang dari sisi sumber daya
manusia (SDM), ia terus
meningkatkan keterampilan para
karyawannya.
Untuk bisa sukses dalam sebuah
bisnis, dia memberi tip: perlu
pengetahuan mengenai produk yang
dipasarkan alias product knowledge.

Apalagi, bila produknya tergolong
berisiko seperti susu segar.
Sebab, susu sapi segar maksimal
hanya bertahan selama 14 hari
dengan suhu -4 derajat Celcius.
Sementara, jika ia memproduksi
susu kental manis atau susu bubuk,
produknya bertahan paling tidak
satu tahun.

Namun, susu sapi segar jauh lebih
baik karena kandungan di
dalamnya, seperti vitamin, kalsium
dan sebagainya, masih murni dan
bukan tambahan. Dengan product
knowledge yang baik, Marcell yakin
bisa bersaing di pasar susu.( Revi Yohana)

sumber: http://mobile.kontan.co.id/news/marcell-berambisi-jadi-pemasok-susu-terbesar-3/2013/01/21

Thursday, January 31, 2013

Dedih, Bermula dari 20 Ekor Indukan Kelinci, Kini Hasilkan 400 Kelinci Hias per Bulan dengan Omzet Puluhan Juta

Jakarta - Berternak bagi sebagian
orang mungkin suatu hal yang
merepotkan dan sering dipandang
tidak menjanjikan sebagai peluang
bisnis yang menguntungkan.

Padahal apabila jeli, lewat
berternak banyak orang yang
sukses dibisnis ini.
Yang menjadi masalahnya adalah
sejauh mana kita memanfaatkan
peluang atau bidang hewan apa
yang kita akan geluti untuk
dikembangbiakan.

Nah, ini ada kisah pengalaman
Dedih pemilik Rabbit Collection
yang sudah 10 tahun lalu
menggeluti bisnis ternak kelinci.
Hasilnya cukup lumayan.
Bermula dari lahan seluas 200
meter persegi dipekarangan
rumahnya kawasan Cianjur,
Puncak. Ia memberanikan diri
untuk membeli 20 ekor kelinci
indukan sebagai modal awal
usahanya.

Sekarang ini, dari 20 ekor indukan
kelinci itu sudah dihasilkan ribuan
ekor kelinci yang telah dijualnya
dan menghasilan jutaan rupiah
yang masuk ke kantongnya.
"Dulu saya memulainya dari 20
indukan, dari 10 induk kelinci
jantannya cuma 2, terus
berkembang sampai sekarang,"
ujar Dedih.

Dedih menambahkan sekarang ini
setidaknya setiap bulan, ia mampu
menghasilkan 300 sampai 400
kelinci yang dijual ke berbagai
kota di Indonesia terutama di
wilayah Jawa Barat dan sekitarnya
seperti Indramayu, Cikarang,
Cirebon dan lain-lain.

Kelinci yang dikembangkan oleh
Dedih bukan sembarang kelinci.
Tetapi kelinci-kelinci hias yang
memiliki daya jual yang tinggi,
meskipun ia juga mengembangkan
kelinci pedaging khususnya kelinci
lokal.
Yang menyenangkan dari beternak
kelinci, tingkat produktifitas dari
setiap indukan sangat tinggi.

Dalam 1 sampai 2 bulan setiap
indukan akan bisa hamil kembali
dengan jumlah anak kelinci setiap
kelahirannya mencapai 1 lusin
lebih. Dalam usia 2,5 bulan
kelinci-kelinci sudah siap dijual
kepasaran.
"Kawin dalam sebulan bisa terjadi,
keluar dari masing indukan paling
banyak 13 sampai 14 ekor, paling
jelek 5 atau 6 ekor," ujar Aditya
Eka Yulian salah seorang rekan
Dedih.

Harga kelinci hias yang Dedih jual
bervarasi. Kelinci Anggora yang
harga termurahnya Rp 100.000,
kelinci Giant harga termurah Rp
150.000, kelinci Rax Rp 250.000,
kelinci Fuzilup Rp 300.000 dan
kelinci lokal yang hanya 50.000.
Dedih mengaku omset usaha
ternak kelincinya bisa mencapai
Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per
bulan. Dengan memiliki 4
karyawan yang setia
membantunya, ia berhasil menjadi
wirausahawan yang mampu
menciptakan lapangan kerja bagi
orang lain.
Untuk memulai bisnis ini, menurut
Dedih tidaklah susah. Yang penting
adalah ketelatenan dari peternak,
selain itu juga jangan lupa untuk
terus menimba wawasan mengenai
kelinci terutama dalam hal
persilangan spesies kelinci.

Dedih merinci, dengan bermodal
20 ekor kelinci indukan, yang
harga per ekornya mencapai Rp
500.000 sampai Rp 700.000 per
ekornya, ia sudah bisa memulai
bisnis ini. "Memilih indukan yang
baik itu sangat penting," pesannya.

Namun jangan lupa, untuk
investasi ini juga harus
menyiapkan lahan dan kandang
yang cukup sebagai
tempat untuk berternak. Untuk
kandang bisa membuat kandang
yang sederhana yang terbuat dari
kayu dengan sirkulasi yang cukup
dan luas penampang yang
memadai.

Dengan modal kira-kira Rp 15 juta
untuk indukan dan kandang
sebenarnya sudah bisa memulai
bisnis ini. Sedangkan untuk urusan
pakan tidak harus pusing-pusing
karena dengan rumput-rumput
layu sudah bisa membuat kenyang
para kelinci.

Bagi yang tinggal diperkotaan
tidak perlu khawatir, Anda bisa
memanfaatkan sisa-sisa sayuran
dipasar seperti daun jagung bisa
menjadi pilihan pakan yang
digemari kelinci.

"Ternak kelinci biasanya
terkendala dengan angin dan
hujan, kelinci-kelinci bisa
kembung. Enggak usah diberi
makanan yang masih segar, justru
yang harus layu kalau seger
mencret," timpal Aditya.

Dikatakan Aditya, untuk merawat
kelinci tidak rumit, yang penting
kebersihan kandang menjadi
nomor satu. Mengingat kelinci
sangat rentan dengan penyakit-
penyakit yang disebabkan
lingkungan yang kotor.

"Kebersihan kandang utama,
sehari sekali harus dibersihkan,
penyakit yang paling sering
menyerang hanya korengan, itu
kalau kandangnya tidak bersih,"
jelas Aditya.

Dedih dan Aditya mengatakan
bahwa prospek pasar kelinci di
Indonesia cukup bagus. Terlebih
lagi, sekarang ini hampir semua
usia dari anak-anak hingga orang
dewasa menggemari kelinci
termasuk kelinci hias.

Bagi yang mengembangkan kelinci
lokal untuk pedaging, tidak
masalah sebab sekarang ini
permintaan kelinci lokal dari
restauran-restauran cukup tinggi
terutama untuk sate kelinci.( Suhendra)

Tertarik untuk menggeluti ternak
hewan imut-imut ini, silakan
hubungi:
Dedih dan Aditya Eka Yulian
Rabbit Collection
Jl. Pasir Kampung Sukatani, Pacet
Cianjur Jawa Barat
HP 085624687993

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2008/08/19/114339/990703/480/

Wednesday, January 30, 2013

Jumadiarto, Wirausahawan Sukses Lewat Tepung Singkong 'Wonocaf' yang Setara Tepung Terigu

Singkong melimpah ruah di tanah Wonogiri. Namun, sejauh ini lebih sering dijual mentah sehingga nilai ekonomisnya sangat rendah. Saat harga cukup baik, harga singkong bisa mencapai Rp 1.500-Rp 3.000 per kilogram. Namun, saat panen, harganya jatuh hingga hanya Rp 600 per kilogram. Melihat ini, Jumadiarto (49), warga Desa Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tergerak untuk mencari cara meningkatkan nilai ekonomis singkong, tanaman andalan di Wonogiri saat musim kemarau. Kondisi sebagian besar lahan pertanian di Wonogiri hanya dapat ditanami padi sekali setahun, sisanya palawija, terutama singkong. Tidak jarang juga lahan dibiarkan menganggur karena air yang sangat sulit. Produksi singkong dari Kabupaten Wonogiri rata- rata 1,2 juta ton per tahun. Jumadiarto lantas teringat kearifan lokal nenek moyang tentang khasiat berbagai tanaman serta ragi untuk membuat tempe, tahu, atau tape. Ia lantas memanfaatkan empat jenis bunga ditambah daun dan biji tertentu, tepung singkong, tepung beras, tepung ketan, serta sebuah formula yang masih dirahasiakannya. Bahan-bahan ini lantas diolah menjadi ragi atau enzim yang digunakan untuk mengolah singkong. ”Para nenek moyang kita itu sebenarnya jago bikin ragi atau enzim. Ini kekayaan kearifan lokal kita yang selama ini belum dikembangkan,” kata Jumadi, Minggu (25/11). Formula enzim yang kemudian diberi nama WRD751WNG ini sekarang tengah dalam proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Nama enzim itu merupakan singkatan dari Wiridan Jumadiarto Wonogiri yang artinya ide putra asli Wonogiri tersebut tidak lain berasal dari Sang Ilahi. Enzim yang ia temukan pada 2009 itu kemudian digunakan untuk mengolah singkong menjadi tepung yang setara dengan tepung terigu. Artinya, dapat digunakan sebagai pengganti terigu 100 persen. Tepung ini dinamakan Wonocaf, singkatan dari Wonogiri Cassava Fermented atau singkong yang difermentasikan. Proses produksi Cara pembuatannya, singkong kupas yang telah dicuci bersih kemudian diparut dan diberi enzim Wonocaf. Setelah didiamkan selama 12 jam, parutan singkong diperas untuk dipisahkan dari airnya. Ampas yang dihasilkan dijemur hingga kering selama dua hari lantas digiling dan disaring sehingga menjadi tepung Wonocaf. Hasil uji laboratorium Kementerian Pertanian di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan, tepung Wonocaf mengandung 78,9 persen karbohidrat, sementara singkong mengandung 34 persen karbohidrat. Tepung ini juga tidak mengandung gluten sehingga aman bagi penderita autisme atau alergi. Jumadi pernah mempresentasikan temuannya itu di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong pada Maret 2011. Tidak hanya itu, limbah hasil pengolahan Wonocaf juga dapat dimanfaatkan. Limbah cair hasil perasan parutan singkong, setelah ditambah ragi jenis tertentu, dapat diolah menjadi produk sampingan yang tidak kalah nilai ekonomisnya. Limbah cair ini bisa untuk biofuel, cairan pemadam kebakaran, pupuk, minuman kesehatan bagi hewan, dan air pendingin radiator. Limbah hasil pengolahan ini masih dalam taraf pengembangan oleh Jumadiarto. Pria lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat ini kemudian bermitra dengan Riyanto, pemilik Perusahaan Otobus Sedya Mulya untuk memproduksi secara massal tepung Wonocaf di bawah bendera CV Eka Mulya. Karena pengeringan ampas perasan singkong masih dilakukan dengan sinar matahari, produksi masih terbatas sebanyak 3,5 kuintal per hari. Proses produksi menggunakan tiga mesin parut yang untuk sementara ditangani seorang pegawai. Keduanya tengah memesan oven agar pengeringan ampas singkong yang telah difermentasi bisa lebih cepat. Diharapkan, produksi tepung bisa mencapai 3 ton per hari. Selain di Wonogiri, saat ini tepung Wonocaf juga dipasarkan ke Kota Solo, Semarang, dan Jakarta. Selain ke toko-toko roti, dipasarkan pula kepada keluarga yang anggotanya menderita autisme. Hotel Sahid Jaya, Solo, juga secara rutin menggunakan Wonocaf untuk berbagai resep kue buatan mereka. Tepung Wonocaf dipasarkan Rp 5.600 per kilogram. Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendorong CV Eka Mulya mengambil pasokan tepung tapioka basah atau kering dari petani. Jumadiarto berani membeli tepung tapioka basah dan kering dari petani dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. Di sinilah petani yang mengolah singkongnya menjadi tepung tapioka akan mendapat nilai tambah dibandingkan sekadar menjual singkong mentah. ”Kami membentuk inti-plasma. Kami sebagai inti dan plasmanya tersebar di 25 kecamatan se-Kabupaten Wonogiri. Nantinya petani- petani yang tergabung di plasma ini yang akan memasok kebutuhan tepung tapioka. Kami juga membentuk Koperasi Tepung Wonocaf Indonesia,” kata Jumadiarto yang sebelumnya aktif sebagai konsultan di berbagai lembaga nonpemerintah.(Sri Rejeki) Editor: Laksono Hari W sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/12/08/07161053/jumadiarto.dan.tepung.singkong.rasa.terigu

Friday, October 5, 2012

Capek Jadi Pegawai, Sadarsah Sukses Jadi Eksportir Kopi Gayo

KOMPAS.com — Pengalaman
menjadi pemasar perusahaan
eksportir kopi membuat
Sadarsah paham betul
bagaimana cara jualan kopi dan
jenis kopi apa yang laku di
pasar. Nah, ketika seluruh dunia
lagi paceklik kopi pada 2006,
Sadarsah pun pindah kerja
dengan menjadi eksportir kopi.
Usaha ini berjalan mulus
dengan omzet miliaran rupiah
setiap bulan.

Kopi asal Indonesia sudah
terkenal di seluruh penjuru
dunia. Sebut saja kopi arabica
ataupun kopi robusta yang
banyak diburu pecinta kopi.
Kemudian ada kopi luwak yang
disebut-sebut sebagai kopi
terenak dan termahal di dunia.

Lantas ada juga kopi gayo di
Aceh. Kopi ini di luar negeri
juga terkenalnya seperti halnya
kopi luwak. Kopi gayo ini
adalah jenis kopi arabika yang
dikembangkan secara organik
oleh pekebun kopi di dataran
tinggi Gayo di Sumatra Utara.
Karena itu, kopi ini menjadi
salah satu kopi favorit di dunia.
Sebagai kopi favorit tentu
permintaan kopi ini juga tinggi,
baik di pasar dalam negeri
maupun pasar ekspor. Nah,
peluang ini menjadi eksportir
kopi gayo inilah yang dimainkan
dengan baik oleh Sadarsah.

Pria kelahiran Medan 19
November 1974 ini melalui CV
Arvis Sanada, perusahaan yang
ia dirikan pada 2006,
mengekspor kopi gayo ke
Amerika Serikat, Inggris,
Kuwait, Taiwan, Korea,
Australia, Jepang, dan Laos.
Saban bulan ia mengirim 15
kontainer kopi gayo ke berbagai
negara itu dengan omzet
minimal Rp 8 miliar.

Sadarsah mulai mengenal bisnis
kopi ketika lulus kuliah pada
2001. Ketika itu dia masih
menjadi tenaga pemasar di lima
perusahaan eksportir kopi di
Medan, Sumatra Utara. Setelah
hampir lima tahun bekerja,
alumnus Teknik Elektro
Universitas Muhammadiyah
Sumatra Utara (UMSU) ini mulai
memilih jalan untuk
berwiraswasta. "Dengan
memiliki usaha sendiri saya bisa
lebih bebas berinovasi dan
mengembangkan ide-ide,"
pungkasnya.

Pada 2006, dengan modal
pinjaman dari seorang teman,
Sadarsah mendirikan Arvis
Sanada di Medan. Dia perlu
membuat badan usaha karena
melihat peluang besar dalam
bisnis ekspor kopi. Apalagi
ketika itu dunia lagi paceklik
kopi.

Saat itu, nyaris seluruh
perusahaan kopi di dunia kolaps
lantaran pasokan kopi
berkurang 50 persen . Situasi
sulit inilah yang dibaca
Sadarsah sebaliknya. Bagi dia
kekurangan pasokan itu harus
dia isi. Apalagi dia tahu ada
produksi kopi yang melimpah
ruah di Tanah Gayo. Selain itu,
dia sudah paham betul seluk-
beluk ekspor kopi.

Ekspor perdana yang cuma satu
kontainer itu ternyata menjadi
pembuka pintu gerbang bagi
Sadarsah untuk memasuki
perdagangan kopi dunia. “Di
masa itu, langsung banyak
permintaan kopi. Rata-rata,
penikmat kopi dari luar negeri
menginginkan kopi organik,”
kata anak dari pasangan Mude
dan Ratih ini.

Sadar dengan peluang besar itu,
Sadarsah pun berupaya untuk
mendapatkan sertifikat kopi
organik dari lembaga sertifikasi
Control Union di Belanda.
Sertifikat ini diperolehnya pada
akhir tahun 2006.
Dengan modal tambahan berupa
sertifikat itu, ekspor kopi
Sadarsah pun makin lancar.

Hingga kini, Sadarsah
mengekspor dua jenis kopi,
yakni kopi gayo dan kopi
konvensional. Untuk kopi Gayo,
ia jual dengan merek Sumatera
Arabica Gayo dan merek
Sumatera Arabica Mandailing
untuk kopi konvensional.

Dengan mengusung slogan
"Quality, Trust, and
Excellence," pertumbuhan
bisnis Sadarsah melesat bak
meteor. Kalau pada 2006,
omzet dia hanya Rp 600 juta
per bulan dengan kemampuan
ekspor kopi hanya satu
kontainer. Tahun berikutnya
omzet sudah melonjak drastis
hingga Rp 1,5 miliar per bulan.

Pada 2008, omzetnya naik lagi
menjadi Rp 3 miliar per bulan,
dan pada tahun lalu, Sadarsah
sudah berhasil ekspor 14
kontainer per bulan mencapai
omzet sebesar Rp 7,6 miliar.
Jika pada 2006 lalu Sadarsah
hanya mampu mempekerjakan
15 karyawan, saat ini jumlah
karyawan Arvis Sanada sudah
sebanyak 100 orang. "Sejak
2006 hingga 2011 ini harga
kopi antara Rp 30.000 hingga
Rp 35.000 per kilo," terang
Sadarsah.

Digugat pengusaha Belanda

Sadarsah yakin usahanya akan
terus berkembang karena
potensi kopi gayo dan kopi
lainnya masih sangat besar.

Menurut Sadarsah hasil
perkebunan kopi di Kabupaten
Bener Meriah, Aceh Tengah dan
Gayo Lues, masih cukup untuk
menjawab kebutuhan kopi
dunia. Ketiga daerah yang
berada di ketinggian 1.200
meter di atas permukaan laut
(dpl) tersebut memiliki
perkebunan kopi seluas 94.800
hektare.

Keberhasilan Sadarsah, pemilik
CV Arvis Sanada, mengekspor
kopi gayo ke berbagai negara
memang tak semudah membalik
telapak tangan. Berbagai
rintangan harus ia lewati agar
bisa menjajakan kopi tanah
Andalas ke mancanegara.

Salah satu masalah terberat
yang pernah dihadapi Sadarsah
adalah keberatan atas merek
gayo yang dilayangkan
perusahaan kopi asal Belanda,
Holland Coffee, pada 2008
silam. Perusahaan itu
mengklaim, Sadarsah telah
menjiplak merek kopi produksi
mereka.

Holland Coffee secara terang-
terangan melarang Sadarsah
menggunakan kata gayo pada
merek kopinya, Arabica
Sumatera Gayo. Apalagi kopi
milik Sadarsah itu juga beredar
luas di Negeri Belanda.

Perusahaan itu menyatakan,
merek gayo pada kopi mereka
itu sudah terdaftar dalam
undang-undang merek di
Belanda. Karena itu,
penggunaan kata gayo oleh
Sadarsah dinilai melanggar
aturan merek di Belanda.
Tapi protes dari Holland Coffee
itu sama sekali tidak digubris
Sadarsah meski dia diancam
bakal diseret ke pengadilan
karena mencuri merek gayo
milik Holland Coffee. Namun
ancaman itu tak membuat
Sadarsah menyerah dengan
menghilangkan kata gayo.

Perusahaan Belanda itu sempat
patah arang melihat semangat
Sadarsah mempertahankan
merek gayo. Mereka pun
melunak tak akan lagi menuntut
Sadarsah asal mengganti merek
gayo dengan mandailing. Tapi
Sadarsah tetap menolak
permintaan itu.

Ia bilang, kata mandailing dan
gayo adalah nama daerah di
Sumatra. Jika kopi berasal dari
Mandailing, kopi itu disebut
dengan kopi mandailing. "Kalau
kopi itu dari Tanah Gayo
disebut kopi gayo," terang
Sadarsah.
Ia mengaku tetap akan
mempertahankan kata gayo
pada kopi yang ia produksi itu.

Bagi Sadarsah, penggunaan kata
gayo sangat penting karena bisa
menentukan kualitas dan juga
bisa mempengaruhi harga jual.
"Bila kata gayo hilang,
konsumen tidak mengetahui
asal kopi itu sehingga harga
kopi bisa jatuh," jelas Sadarsah.

Ia menyatakan, sebagai warga
negara Indonesia dirinya lebih
berhak menggunakan kata gayo
ketimbang orang Belanda yang
menggunakan kata itu. Apalagi
kata gayo adalah nama daerah
di Indonesia bukan nama
daerah di Belanda. "Saya lebih
berhak memakai kata gayo
ketimbang orang Belanda itu,"
tegas Sadarsah.
Adanya klaim atas merek gayo
milik pengusaha Belanda itu
dinilai Sadarsah telah
mendustai petani kopi gayo di
Aceh. "Tidak ada alasan bagi
pengusaha Belanda itu melarang
saya menggunakan kata gayo,"
ucapnya.

Walaupun dilawan pengusaha
setempat, Sadarsah tetap
ekspor kopi gayo ke Belanda.
Saban bulan CV Arvis Sanada
mengekspor empat kontainer
kopi gayo. "Saya tetap ekspor
walaupun Holland Coffee
menuntut saya," ungkap
Sadarsah.

Sekadar pengetahuan, satu
kontainer mampu mengangkut
18.000 kg atau 18 ton kopi.
Untuk menyelesaikan sengketa
dagang itu Sadarsah sempat
melaporkannya pada Asosiasi
Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)
dan pemerintah. "Pemerintah
dan asosiasi mendukung saya
agar tetap ekspor kopi gayo,"
jelas penggemar dangdut itu.

Untuk mempertahankan merek
gayo itu Sadarsah mengajukan
sertifikat asal-usul kopi. Baru
Mei 2010 dia berhasil
mengantongi sertifikat IG
(indikasi geogafis) dari
International Fair Trade
Organization (IFTO). Sertifikat
itu menyatakan Sadarsah
berhak memakai kata gayo pada
produk kopi miliknya yang
berasal dari Gayo.

Berkat sertifikat IG itulah
Sadarsah menjadi percaya diri
memperkenalkan kopi gayo ke
seluruh dunia. Oktober 2010 ia
membawa kopi gayo dalam
acara Lelang Spesial Kopi
Indonesia di Bali. "Kopi
Sumatera Arabika Gayo
mendapat nilai tertinggi saat
cupping score ," katanya.
Prestasi itu memantapkan posisi
kopi gayo sebagai kopi organik
terbaik dunia. Ia bilang, prestasi
itu tak lepas dari masalah yang
berhasil ia hadapi. Termasuk
masalah sengketa merek. "Dulu
banyak yang tak kenal kopi
gayo, setelah sengketa merek
itu, kopi gayo malah jadi
terkenal," terang bapak tiga
anak itu. (Ragil Nugroho/
Kontan )

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2011/11/11/10512675/capek.jadi.pegawai..sadarsah.sukses.jadi.eksportir

Wednesday, September 26, 2012

Andris, Lewat Nasi Liwet Instan dari Beras Garut Hasilkan Omzet Ratusan Juta

KOMPAS.com - Di pasaran,
beras asal Garut masih kalah
pamor dengan beras Cianjur
atau beras Thailand. Padahal,
beras garut memiliki sejumlah
kelebihan dibanding beras jenis
lainnya.

Beras garut dikenal memiliki
warna lebih putih, lebih pulen
setelah dimasak, dan memiliki
rasa manis, dibanding jenis
beras lainnya. Namun, banyak
pedagang yang
menyembunyikan identitas
beras Garut dan menggantinya
dengan nama beras Cianjur yang
tertera pada karungnya.

Kondisi inilah yang membuat
Andris Wijaya (32), warga Desa
Samarang, Kecamatan
Samarang, Kabupaten Garut,
berusaha menaikkan pamor
beras Garut tanpa
menyembunyikan nama asli
berasnya. Andris ingin
masyarakat mengenal beras
Garut dan menyukai beras
tersebut.

Andris memang tidak bisa
melakukan promosi besar-
besaran untuk mempopulerkan
beras garut. Namun, alumnus
D3 Politeknik ITB Jurusan
Teknik Mesin tahun 2001 ini
memiliki sejumlah ide atau cara
lain untuk mempopulerkan
beras garut.

Minat warga luar Kabupaten
Garut yang semakin tinggi dan
berminat menjadikan Kabupaten
Garut sebagai tujuan wisata
dijadikan alat untuk mencapai
tujuan tersebut.

Menurut
Andris, beras Garut harus
diolah dan dikemas sedemikian
rupa sehingga jadi oleh-oleh
favorit para wisatawan.
Berbekal resep nasi liwet
keluarga, pengetahuan yang
dimilikinya, dan minat
wisatawan yang tinggi atas oleh-
oleh khas Garut, Andris
membuat nasi liwet instan.

Mesin heuleur milik almarhum
ayahnya dia modifikasi menjadi
mesin yang bisa menggiling padi
menjadi lebih baik. Dengan
penggilingan sebanyak tiga kali
menggunakan mesin tersebut,
beras Garut bisa matang dengan
waktu memasak selama 20
menit saja.

Berbagai bumbu dan rempah
resep keluarganya dikeringkan
sehingga tidak dibutuhkan
pengawet dan bisa bertahan
sampai 8 bulan. Begitupun
dengan pelengkap nasi liwet
seperti ikan teri, asin jambal
roti, petai, dan jengkol.
Semuanya dikeringkan dan
dikemas serapi dan sebersih
mungkin.

Beras Garut, rempah, bumbu,
minyak sayur, dan
pelengkapnya, disusun dalam
sebuah kemasan dus berlabel
"Liwet 1001". Melaui sejumlah
distributornya dan para
wisatawan yang membeli
produknya, Andris memasarkan
beras Garut ke sejumlah kota
besar di Indonesia. Bahkan,
produknya dinikmati juga di
Timur Tengah dan sejumlah
negara Asia lainnya.

"Akhirnya tidak hanya dijadikan
oleh-oleh. Tapi lebih banyak
dikonsumsi warga kalangan
menengah atas yang menyukai
nasi liwet di restoran-restoran
dan ingin memasaknya dengan
cara praktis di rumah. Bahkan,
nasi liwet ini sudah dipesan
banyak oleh para calon haji,"
kata Andris saat ditemui di
pusat produksi Liwet 1001 di
Desa Samarang, Rabu
(12/9/2012).

Untuk memasaknya, beras,
bumbu, minyak sayur, dan
pelengkapnya, tinggal
dimasukkan ke penanak nasi
elektronik ( rice cooker ). 250
gram beras liwet instan dimasak
dalam 600 mililiter air selama
20 menit sedangkan 500 gram
beras dimasak dalam 850
mililiter air selama 25 menit.
Setelah itu, nasi liwet pun bisa
langsung dinikmati. Aroma dan
rasa nasi liwet ini, tuturnya,
tidak kalah dengan nasi liwet di
restoran. Nasi dari beras Garut
pun tersaji dengan keadaan
pulen dan berukuran besar
serta lezat.
Karenanya, sejumlah hotel dan
restoran di Garut telah jadi
pelanggan tetapnya. Minimal,
hotel dan restoran itu memesan
beras Garut dari tempatnya dan
menggunakan bumbu liwet
sendiri.

Andris yang meluncurkan
produk tersebut pada Juli 2011
ini pun mendapat penghargaan
dari Gubernur Jabar, Ahmad
Heryawan, pada Anugerah
Inovasi Jawa Barat (AIJB) 2012,
kategori bidang pangan kategori
perorangan. Ia pun semakin
termotivasi memasarkan beras
garut.

Kini Andris bisa memproduksi
2.000 produk Liwet 1001 per
hari dan mendapat omzet Rp 20
juta per hari. Ia pun membina
200 petani padi di Kecamatan
Samarang, Bayongbong, dan
Tarogong, yang menanam beras
garut jenis sarinah, serta
mempekerjakan 60 warga di
rumah industrinya. (sam/
Tribun Jabar) ( Editor: Erlangga Djumena)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/13/09434310/andris..mengangkat.beras.garut.lewat.nasi.liwet.instan

Friday, July 6, 2012

Alvia Alhadi, Pemilik Budidaya Keladi Tikus: Ketika Bisnis danPenyembuhan Bergandengan

Keladi tikus yang ditanam Alvia Alhadi ternyata mengandung khasiat penyembuhan terhadap kanker. Dari hobi bercocok tanam ia bisa memetik laba sekaligus membantu orang lain yang sakit berat.

SETIAP ORANG MEMILIKI kisah tersendiri dalam perjalanan hidup maupun bisnisnya. Ada yang memperoleh titik baliknya secara kebetulan, ada juga yang menemukannya lewat pencarian selama beberapa waktu lamanya. Alvia Alhadi termasuk orang yang beruntung. la tergolong orang di kelompok pertama, walau keberuntungan itu kemudian diimplementasikannya dengan kerja yang tak kalah keras.

Titik balik yang dialami pemuda Pontianak itu terjadi ketika seorang teman ayahnya datang sertandang ke rumah, 5 tahun lalu. Sambil bersilaturahmi, tamu itu melihat-lihal pekarangan luas rumah orangtua Alvia yang banyak ditanami tumbuhan. Hobi Alvia memang bercocok tanam, sehingga dialah yang biasa menanami pekarangan itu hingga hijau dan indah dipandang. Mendadak, tamu itu berhenti di depan tanaman yang saat itu belum diketahui namanya oleh Alvia.

"Teman ayah saya mengatakan bahwa tanaman itu namanya keladi tikus dan punya khasiat penyembuhan yang hebat. Anaknya yang berusia 8 tahun mengidap kanker otak dan bisa sembuh karena mengonsumsinya secara teratur. Ya, tentunya kesembuhan itu atas kuasa Tuhan jua," tutur Alvia, "Karena memiliki bisnis rumahan, yaitu memproduksi kapsul keladi tikus, beliau menawari saya untuk menyuplai keladi tikus seharga Rp40 ribu per kilogram."

Hanya butuh waktu singkat bagi Alvia untuk mempelajari khasiat keladi tikus (typhonium flagelliforme, sp) di Internet. la membaca bahwa tanaman itu telah diakui di negeri jiran, Malaysia, sebagai salah satu penyembuh penyakit berat, terutama kanker. Sudah ada dokter yang meresepkan keladi tikus sebagai obat (lihal boks: Keladi Tikus, Sang Penyembuh). Hal ini membuat Alvia tergerak untuk menjadi petani keladi tikus dari lahan ayahnya yang hanya berukuran 10x24 m.

Tak mudah mencari orang yang benar-benar bisa mengurus tanaman. Kerja tidak benar, malah meminta kenaikan upah.



Dengan modal Rp1 juta, usaha yang dimulai pada 2006 itu kini telah menghasilkan omzet per tahun sampai Rp30 juta dengan keuntungan bersih Rp17 juta setiap tahunnya. la kemudian membuka lahan baru seluas 15x25 m, sehingga panennya setiap minggu dapat mencapai 10 kg. Meski nilai sebesar ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan nilai rupiah yang dicapai melalui usaha-usaha yang dirintis wirausahawan-wirausahawan muda lainnya, bagi Alvia Alhadi sudah lumayan.



PETANI KELADI

Tak ada konsep bisnis 'njelimet' dari ketekunan mahasiswa semester 8 program Diploma III Politeknik Negeri Pontianak ini. Ind usahanya adalah menyuplai keladi tikus dari lahan yang dimilikinya. Kendati sesederhana itu, bukan berarti ia mudah menjalankannya. Membagi waktu antara kuliah dan mengurus tanamannya ternyata tidak terlalu gampang. Pekerjaan ini cukup melelahkan karena tanaman keladi tikus membutuhkan perawatan yang teratur.

Padahal, langkah-langkahnya sendiri cukup sederhana. Alvia tinggal mempersiapkan lahan agar kondisinya baik untuk ditanami keladi tikus, melakukan penanaman, perawatan teratur, panen, kemudian pembersihan. Peralatan pertanian dan pupuk tentu saja masuk ke dalam hal-hal yang harus dipersiapkannya.

Walau secara langsung tidak berhubungan, Alvia merasa bahwa ilmu yang diperolehnya dari kampus cukup membantunya berpikir sisternatis, faktual, dan logis. Keuntungan lain dari usaha ini adalah karena ia menjalankan usaha yang merupakan hobinya sejak dulu, yaitu bercocok tanam.

Tapi, kesibukan kuliah membuat Alvia harus mencari orang lain untuk membantu mengurusi lahannya. "Ternyata tak gampang mencari orang yang mau dan bisa melakukannya," ungkap Alvia. "Apalagi awalnya saya tidak mampu memberikan upah yang memadai untuk usaha ini. Pernah saya mempekerjakan pegawai. Eh, dia tidak bertanggung jawab. Diwajibkan datang jam 8, baru muncul jam 9 atau 10 pagi. Janji pulang jam 4, tak tahunya jam 3 sudah pulang. Malah upah minta naik."

BIODATA

ALVIA ALHADI

Pontianak, 5 November 1989

Pendidikan

D3 Teknik Sipil, Politeknik Negeri, Pontianak

Nama Usaha

Budidaya Tanaman Keladi Tikus

Website: www.naturalfresh.co.cc

Alamat: A Pangeran Natakusuma Gg. Siliwangi Pontianak, Kalimantan Barat

Penghargaan

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri

Karena pendidikan pula, Alvia tidak setengah-setengah mempelajari pembudidayaan keladi tikus. Dengan gist ia terus mencari cara Yang benar dalam melakukan bisnisnya. Misalnya, ia kini memahami tata cara pembibitan dan perawatan, serta pengelolaan hasil panen yang optimal. la jadi mengerti bahwa tanaman keladi tikus tidak selalu memerlukan lahan luas. Di pekarangan sekitar rumah atau di dalam pot pun bisa. Yang penting, tidak terkena sinar matahari langsung dan media tanam tidak dalam kondisi basah berlebihan.

"Lahan yang saya miliki saat ini sangat teduh karena ditumbuhi pohon-pohon pisang yang tumbuh subur. Hal ini sangat baik agar tanaman keladi tikus tumbuh subur. Jika ditanam di lahan yang terbuka, maka keladi tikus ini saya lindungi dengan saring untuk menghalangi sinar matahari."

Keladi tikus bisa dipanen setelah mass pemeliharaan 20 hari. Yang siap panen biasanya berukuran 25-35 cm. Menurut Alvia, pangsa pasar obat kanker tersebut meliputi Yogyakarta, Bandung, Malaysia, dan Brunei Darussalam. "Saya dengar orang Malaysia berani membeli tanaman ini dengan harga tinggi. Sayang, saya belum memiliki jaringan untuk menembusnya."

Agar tidak menaruh telur dalam satu keranjang saja, ia membuka usaha lain yang tak kalah bermanfaat.

MENGAJAK TETANGGA

Permintaan tinggi namun hasil panen terbatas membuat Alvia, kelahiran Pontianak, 1989 ini memutar otak lebih kendang. Melihat tetangga di tempatnya tinggal banyak yang tidak memiliki mata pencaharian, ia mengajak mereka melakukan hal yang sama seperti dirinya.

"Saya niatkan usaha ini juga bisa bermanfaat bagi mereka," kata Alvia. "Kebetulan, kebanyakan tetangga adalah pensiunan yang tidak memiliki kegiatan apa pun. Mereka sangat bersemangat menanam keladi tikus walaupun untuk menanamnya diperlukan ketelatenan dan keuletan agar bisa tumbuh subur." Hingga tahun 2010 lalu, sebanyak 10-15 rumah telah menanam keladi tikus dan Alvia menjadi koordinatornya. Dengan demikian, setiap hasil panen mereka kirimkan ke Alvia, lalu diteruskan ke UKM yang mengolah tanaman tersebut menjadi kapsul.

Di sisi lain, Alvia yang mempromosikan usahanya lewat brosur dan situs www.naturalfresh.co.cc ini mengakui bahwa bisnisnya masih perlu mendapatkan lebih banyak perbaikan. la merasa bahwa usahanya belum berkembang dan belum menampakkan kemajuan secara signifikan. "Mungkin karena saya belum berani melakukan gebrakan yang berarti. Saya masih bingung, bagaimana harus melakukan promosi dan kepada siapa. Padahal, selama ini keladi tikus telah diyakini masyarakat yang berada di kawasan saya sebagai obat."

Walau didukung orangtua–mereka jugalah yang memberikan modal awal–dan lingkungan kampusnya, Alvia masih merasa gamang dalam hal mengelola bisnisnya, termasuk cara terbaik dalam manajemen administrasi, keuangan, dan sumber daya manusia. Maka itu, hingga saat ini ia baru mempekerjakan dua pegawai tetap.

Permintaan tinggi namun hasil panen terbatas membuat Alvia memutar otak lebih kendang, la mengajak mereka melakukan hal yang sama seperti dirinya.



Bicara soal pegawai, Alvia juga pernah mengalami kegagalan yang menyakitkan. Alvia pernah membuka lahan yang cukup luas untuk penanaman keladi tikus bermodalkan sejumlah uang yang cukup besar. Sayang, bibit-bibit yang ia tanam tidak bisa tumbuh karena kurang perawatan. Ternyata, pekerja yang direkrutnya tidak bekerja maksimal, sehingga keladi tikus yang dihasilkan kurang memenuhi syarat untuk dijual.

Kegagalan itu membuka mata Alvia bahwa membangun usaha memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. "Harus fokus, ulet, kerja keras, dan tanggung jawab. Untungiah hal ini kini sudah tercamkan dengan baik di kepala saya, terutama setelah memperoleh pembinaan dari Bank Mandiri," kata pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2009 itu.

Agar tidak menaruh telur dalam satu keranjang saja, Alvia memutuskan bahwa ia juga perlu melakukan berbagai usaha lain yang bermanfaat. Jadi, tak hanya membudidayakan keladi tikus, ia juga membuka penyewaan mobil dan rumah kos.

Namun begitu, keladi tikus tetap menjadi prioritasnya. Alvia percaya bahwa bisnis tidak selamanya dinilai dengan uang. la beranggapan bahwa uang akan datang sendirinya jika is selalu fokus dan tidak egois serta diniatkan untuk menolong orang lain yang membutuhkan produknya. "Saya yakin, jika saya selalu berpikir seperti itu maka konsumen akan selalu datang," ujarnya optimis.

Cita-cita terbesar anak muda Pontianak itu adalah agar usahanya mampu menolong orang banyak, di antaranya menciptakan lapangan kerja dan menyembuhkan orang yang terkena penyakit dengan menggunakan obat tradisional yang harganya terjangkau. "Saya selalu bermimpi agar usaha saya ini bisa berkembang dan merambah nasional, lalu internasional. Sebab, banyak kalangan berpendapat bahwa manusia berasal dari alam dan akan kembali ke alam. Berdasarkan hal itu, salah satu cars mengobati penyakit pastinya berasal dari alam pula. Tapi untuk mencapai itu tidak mudah. Perlu waktu serta kerja ekstra keras," tambahnya.

Keladi Tikus – Sang Penyembuh Kanker

Posted by kanker on 8th September 20010

KANKER kini tidak lagi rnernatikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforrne/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs. Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr. Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Dancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai, negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. 'Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan, jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan inforrnasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja da melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr. Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah saya Baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeii teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia;" kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departernen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, keluarganya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, rnereka rnenemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber 'Dr Jeo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan ltekad bulat dan doa untuk kesembuhan, Patoppoi Mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan Iangkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Paroppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Bucluran, Sidoarjo untuk ikut, mencarikan tanaman tersebut. "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Bonif yang mendampingi ayahnya saat itu.

Selama mengonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. 'Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminurn obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,' kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinva. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi, Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar Mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya vang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. 'Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali. "Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif" sambung Boni sambil tertawa. Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April: 1998, Patappoi Kemudian menghubungi Dr, Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjermahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas mengenai meninggalnya Wing Wirvanto, salah satu wartawan handal jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci Mengenai gejala, pencentaan, pengobatan vang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyernbuhkan pasien tersebut.

Sumber: http://kankerku.blogdetik.com/?m=20090908

“Saya membina hubungan dengan pelanggan dengan cara selalu berkomunikasi tentang perkembangan penyakit kemudian berdiskusi mengenai hal-hal yang bisa menjadi masukan berharga bagi kehidupan.”

TESTIMONI

Q: Sulitkah mendapatkan bahan baku usaha Anda?

A: Bahan dasar usaha saya adalah tanaman keladi tikus, bahan lain yang menunjang bisnis saya di antaranya adalah tanah basah, pupuk, dan peralatan lainnya. Bibit tanaman itu sangat sulit didapatkan. Tanaman ini memang sepintas banyak terdapat di mana-mana, namun ternyata bukan keladi tikus. Keladi tikus sangat menjanjikan untuk dunia bisnis, pasalnya dari tanaman ini pembeli bisa langsung mengonsumsinya, namun harus dengan cara yang besar sesuai anjuran yang ditetapkan. Bahkan di Malaysia, keladi tikus siap dibeli dengan harga tinggi, namun hingga kini saya belum mendapatkan saluran untuk memasarkannya di sana.

Q: Adakah ciri khas bisnis Anda?

A: Ciri khas dari bisnis saya adalah sangat mengutamakan manfaat bagi para pembeli produk, karena produk yang saya tawarkan berguna bagi penyembuhan berbagai penyakit yang diderita. Sejujurnya tanaman keladi tikus ini sudah lama ada di Indonesia, namun banyak masyarakat Indonesia yang memandang tanaman ini dengan sebelah mata saja. Akibatnya, lama kelamaan tanaman ini jarang ditemukan. Selain itu, mengembangkan tanaman ini tergolong sulit karena penanaman dan perawatan berbeda dengan tanaman lainnya.

TIPS

HUKUM WIRAUSAHA #15

Kejujuran dan Tanggung Jawab adalah Modal Utama

"Rahasia bisnis adalah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain."

Aristoteles Onassis

MESKIPUN BIDANG USAHANYA tergolong kecil, tapi Alvia memiliki modal dasar untuk menjadi pengusaha besar, yaitu kejujuran dan kejelian melihat peluang. Kejujuran dan tanggung jawab merupakan modal untuk menjadi pengusaha besar, bukan membesar-besarkan kemampuan (bombastic) atau merasa sudah besar, padahal sebenarnya belum apa-apa.

Ketika seseorang memulai usaha, harus jelas betul apa yang dimaksud dengan menjadi pengusaha. Ada orang yang memilih jalan hidup sebagai petani, guru, dosen, pegawai, dan lain sebagainya. Tetapi, ada pula orang yang memilih menjadi pengusaha di bidang pertanian atau pendidikan. Ini adalah hal yang berbeda. Demikian juga Alvia, dia harus memilih apakah ingin menjadi petani keladi tikus, produsen obat-obatan herbal dari keladi tikus, atau ingin menjadi pengusaha di bidang obat-obatan herbal. Keduanya memiliki cara berpikir dan landasan yang berbeda. Berikut ini adalah tips untuk menjadi pengusaha dalam bidang apa pun:

  • Sekali lagi saya tegaskan bahwa apa yang menjadi bisnis kita pada saat awal belum tentu akan menjadi bisnis akhir kita. Dengan demikian, menanarn keladi tikus bagi seorang Alvia haruslah menjadi usaha awal. Namun akhirnya, Alvia harus menjadi pengusaha besar. Oleh karena itu, Alvia harus menyiapkan langkah-langkah besar, jangan terbatas pada creating product, tetapi fokuslah pada creating value. Sebab, seperti yang pernah saya sampaikan pada wirausahawan muda lainnya, diperlukan lompatan yang berbeda untuk menyeberangi parit dan menyeberangi gunung yang tinggi.

  • Menjadi pengusaha berarti menciptakan mata rantai nilai yang merupakan gabungan dari berbagai aktivitas bernilai tinggi. Nilai-nilai itu tidak hanya disusun, tetapi mungkin perlu diciptakan dari nol melalui ilmu pengetahuan, informasi, pengembangan produk, pengembangan jaringan distribusi, dan reputasi. Sekali lagi lakukan value creation.

  • Bangunlah reputasi melalui rangkaian kegiatan yang produktif Jangan takut untuk melakukan investasi pada aspek-aspek intangibles (harta tak kelihalan), seperti keterampilan, paten, dan reputasi. Memang, aspek-aspek ini tidak dapat diperoleh dalam tempo sekejap dan harus diupayakan dengan kerja keras. Namun, setelah dimiliki, aspek-aspek ini akan melekat pada pengusaha itu sendiri.

  • Menjadi pengusaha yang berkaitan dengan obat-obatan herbal dan kesehatan bukan hanya perkara bagaimana membuat produk dan memasarkannya. Diperlukan upaya-upaya lain yang bersifat mengamankan kepentingan pelanggan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah kepentingan kesehatan dan rasa aman dari gangguan-gangguan seperti efek samping yang berpotensi merugikan atau hal-hal yang sebetulnya tidak teruji secara klinis. Maka, untuk pengusaha produk makanan, sebaiknya dalam jangka panjang lengkapi usaha Anda dengan divisi research and development, uji klinis, Serta segala sesuatu yang berbasis pengetahuan.

  • Meski usaha terpaksa dimulai dari volume yang terbatas, pengusaha harus tetap berpikir besar dalam menjadikan usaha menjadi lebih besar, lebih modern, dan didukung oleh teknologi yang memadai. Bila tidak, usaha Anda tidak ada bedanya dengan usaha yang dikembangkan oleh para pembual di kaki lima.

  • Ada pilihan lain yang dapat dieksplorasi, yaitu menjadi pemasok kecil pada satu mata rantai nilai dengan menjadi pemasok bahan baku. Tapi, bila pilihan ini dilakukan, Anda tidak akan bisa menjadi pengusaha besar. Selain itu, usaha Anda akan sangat tergantung pada fluktuasi kondisi alam dan supply-demand.

Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.

Jafri S. Hut, Pemilik Minuman Sehat Aloesella: Melesat Berkat MinumanSehat

Pemanfaatan sumber daya yang unik dari daerah sendiri memang telah banyak dilakukan orang. Namun, ketika, orang mulai peduli terhadap kesehatannya, dibutuhkan strategi tersendiri untuk mengaitkan sumber daya tersebut dengan pasar.







UNTUK URUSAN MAKANAN atau minuman, konsumen zaman sekarang memang bukan hanya mencari yang sedap di lidah, melainkan juga yang menyehalkan. Cermat membaca keinginan pasar, Jafri pun memadukan dua jenis tanaman berkhasiat untuk menjadi minuman segar sekaligus menyehalkan. la menggabungkan aloe vera (lidah buaya) dan bunga rosella menjadi minuman Aloesella yang warna merahnya dantik menggoda. Minuman ini bahkan sudah masuk ke hotel-hotel sebagai welcome drink. Sementara si empunya gagasan, bisa menangguk rezeki yang lumayan bagi wirausahawan pemula, yaitu omzet Rp108 juta per tahun.



RAMUAN 'AJAIB'

Di daerah Pontianak, minuman yang terbuat dari lidah buaya sudah lama populer. Maklum, di daerah ini tumbuh subur tanaman lidah buaya dalam jumlah tak terbatas. Lalu Apa yang membedakan Aloesella dari produk lain? Jafri mengklaim bahwa minuman ramuannya itu bebas bahan pengawet atau perasa buatan. "Banyak produsen minuman seperTI sayA menggunakan pengawet atau diberi perasa buah. Aloesella berbeda. Rasa rosella yang asam berperan sebagai pengganti pengawet. WarnA merahnya pun dari bunga rosella. Jadi, minuman ini membuat kita sehat luar-dalam," ujar Jafri. Memang, lidah buaya bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit, sementara bunga rosella merupakan antioksidan yang baik.

Antioksidan yang dibicarakan Jafri belakangan ini memang sedang naik daun. Kesehauan–juga kedantikan–adalah insentif bagi orang yang mengonsumsinya. Gaya hidup dan kondisi lingkungan saat ini memang membuat banyak orang mulai memberi perhalian khusus akan kesehatannya. Karena itu, semua artikel dan informasi tentang antioksidan yang dapat membuat tubuh lebih sehat, dengan segera menarik minat kita. Ini karena antioksidan berperan meredam radikal bebas yang mengakibatkan kerusakan dalam tubuh. Kondisi ini dipercaya mengakibatkan penuaan lebih dini.



Tidak ragu memulai usaha di usia muda, bahkan sambil berkuliah. Jafri mampu membuatkan bahwa kuliah dan bisnis bisa berjalan beriringan.



Padahal, radikal bebas sebenarnya merupakan produk yang dihasilkan tubuh–terkait dengan metabolisme tubuh sewaktu memproses makanan yang dikonsumsi serta memproses zat-zat polutan (yang terdapat dalam udara, air, dan tumbuh-tumbuhan yang tercemar pestisida). Radikal bebas juga dihasilkan oleh paparan sinar X, asap rokok, stres, dan pola makan. Para ahli percaya bahwa radikal bebas adalah penyebab utama 68 jenis penyakit, termasuk kanker dan gangguan jantung. Tidak heran bila makanan, minuman, ataupun suplemen yang mengandung antioksidan, berpotensi laris di pasar. Demikian pula halnya dengan minuman yang dijajakan Jafri.

Untung tidak sulit baginya untuk menemukan bahan baku minuman tersebut. Lidah buaya yang merupakan ikon tanaman unggulan Kalimantan            Barat mudah ditemui di mana-mana. Ada saja petani yang menanamnya untuk dijadikan komoditas unggulan. Sehingga, Jafri yakin, bisnis ini sangat menjanjikan di masa depan. Namun, ada satu masalah yang timbul karena penyimpanan bahan baku tidak mudah. Salah teknik penyimpanan dapat mengakibatkan bahannya busuk atau berjamur. Inilah yang menjadi tantangan utama bagi Jafri. la harus mencari metode penyimpanan bahan baku, supaya bisa sertahan hingga dua bulan. Dengan begitu, kualitas minuman tetap terjaga tanpa pengawet.



Bekerja dulu di tempat orang lain, karena bisa membuka wawasan sekaligus ajang mencuri ilmu.

BIODATA

JAFRI S. HUT

Pontianak, 14 Maret 1984

Pendidikan

S1 Kehutanan, Universitas Tanjung Pura, Pontianak

Nama Usaha

Aloefresh Pontianak Kalbar (minuman kesehatan kombinasi tanaman Lidah buaya dan bunga Rosella)

Website: www.smallindustry-aloesella.com

Alamat: JI. H. Rais A Rahman Gg. Era Baru No. 24 Pontianak-Kalimantan Barat

Penghargaan

2007 Juara I GKM Terbaik Provinsi Kalimantan Barat

2007 Juara I GKM IKM Terbaik Oleh Kementerian Perdagangan RI di Padang Sumatera Barat

2009 Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri.



BERBISNIS SEJAK KECIL

Jafri memulai bisnis ini sejak awal kuliah, tepatnya tahun 2002. la memang termotivasi memiliki usaha sendiri dan tidak bekerja pada orang lain sejak dulu. "Sebab, sejak SMP saya sudah bekerja pada orang lain dan lama-lama merasa jenuh. Selama itu, ide-ide kreatif yang saya miliki hanya ada dalam benak saja, tanpa ada kesempatan untuk diwujudkan," katanya.

Kegiatan berdagang sebenarnya sudah tak aneh lagi bagi Jafri. Ketika masih sangat kecil, ia sudah mulai berdagang untuk membantu perekenomian keluarga. Saat duduk di kelas 2 SD, ia sudah dipercaya untuk menjualkan barang dagangan oleh tetangga sebelah rumah. Dengan semangat, Jafri kecil menawarkan buah semangka potong dan jeruk kepada teman-teman di sekolahnya, bahkan pada gurunya.

"Dari hasil penjualan itu, saya diberi sedikit upah untuk biaya sekolah dan uang jajan. Meski sedikit, uang itu sangat berarti bagi saya. Apalagi, guru saya juga mendukung usaha yang saya lakukan untuk membantu orangtua," kata Jafri, yang kemudian juga membantu ibunya menjajakan kue.

Setelah ayahnya meninggal, niatJafri untuk membantu ibunya makin kuat. Seorang kakaknya lalu memutuskan berhenti bersekolah dan menjual bensin eceran di pinggir jalan untuk membantu menghidupi keluarga. Tak hanya itu, kakaknya juga menjadi buruh bangunan. la tak punya bekal pendidikan yang lebih untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Meski penghasilannya tak besar, sang kakak bisa menjadi pengganti kepala keluarga, menyekolahkan adik-adiknya termasuk Jafri, bungsu dari lima bersaudara. Kenyataan ini membuat Jafri sangat sedih. Tapi, ia tak ingin berpangku tangan dan menggantungkan nasib pada kakaknya. Jafri ingin tetap meraih ilmu sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi pengusaha sukses, meskipun mimpi itu bertentangan dengan cita-cita ibunya yang ingin agar ia menjadi pegawai negeri.



Mencari ide bisnis dari sekitar. Ide bisnis Jafri muncul karena kota tempatnya tinggal menghasilkan banyak bahan baku yang muclah dicari. la lalu menggabungkan ide tersebut dan melakukan inovasi.



Dalam keadaan nyaris putus sekolah karena ketiadaan biaya, semangat Jafri untuk menuntut ilmu tidak meluntur. la terus belajar dan belajar. Hingga akhirnya ketika kelas 6 SD, ia berhasil mendapat nilai tertinggi di kelas. Menghargai prestasi Jafri, sekolahnya lalu memberikan beasiswa dalam bentuk uang, yang bisa dipergunakan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. "Masih terbayang saat itu perasaan senang yang amat sangat karena tak horns menambah beban pikiran lbu dan kakak dalam mencari uang untuk membiayai sekolah saya," kata Jafri, sedikit sendu.

Saat duduk di kelas I SMP, Jafri semakin rajin menjajakan kue. Sampai-sampai ia sempat dilarang berjualan oleh gurunya, karena khawatir mengganggu proses belajar mengajar di kelas. "Sebenarnya saya tidak berjualan ketika pelajaran berlangsung. Tapi, ada teman saya yang menikmati kue jualan saya di tengah jam pelajaran. Saya lalu berusaha meyakinkan guru saya bahwa kegiatan berjualan ini tidak akan mengganggu pelajaran. Untunglah guru itu bisa memahami dan kemudian malah memberi masukan berharga, agar saya menitipkan kue itu di kantin sekolah agar bisa fokus belajar," tambah Jafri, mengenang masa kecilnya.





BELAJAR DARI BISNIS TETANGGA

Setahun kemudian, seorang tetangga Jafri memperkenalkan dia pada seorang pengusaha rumahan Halo de coca, Syahrizal. la diminta untuk membantu usaha tersebut. Jafri kemudian beralih `profesi'. la tidak lagi berjualan ketika sekolah, melainkan bekerja di usaha rumahan tersebut sepulang sekolah. Cukup lama Jafri menjalani pekerjaan itu, hingga ia lulus SMA.



la memulai bisnis dari hobi. Karena hobi menggali sesuatu yang baru dari kuliner, Jafri menekuni bisnis kuliner ini dengan senang hati.



"Sampai sekarang Pak Syahrizal menjadi inspirasi dalam hidup saya. Saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang sangat berharga darinya. Dengan bimbingannya, keinginan untuk menjadi pengusaha mulai menunjukkan titik terang. Saya makin termotivasi untuk berbisnis," kata Jafri, yang menganggap Syahrizal sebagai ayah angkatnya.

Selepas SMA, Jafri memutuskan untuk bekerja terlebih dulu agar bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Beruntung, ia mendapat pekerjaan sebagai waiter di salah satu hotel tak berbintang di Pontianak. Kebetulan, ada karyawan yang sedang off dan ia menggantikan karyawan tersebut. "Gajinya cukup lumayan untuk ditabung, walaupun saya hanya bekerja pada hari Sabtu dan Minggu. Selain itu, saya juga bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu masjid terbesar di Pontianak," tutur Jafri, yang mengaku bahwa hobinya adalah berdagang dan jalan-jalan, mencari hal baru yang berhubungan dengan kuliner.

Meski begitu, ia tetap menjalin hubungan baik dengan Syahrizal. Bahkan, Syahrizal juga kerap memberi tahu Jafri, kalau ada pelatihan yang bogus. Syahrizal rupanya juga berharap agar Jafri bisa meneruskan usaha nota de coco miliknya. Namun, Jafri tahu diri, karena Syahrizal memiliki anak yang mungkin ingin menggantikan ayahnya. Di nisi lain, karena Bering mengikuti pelatihan, Jafri jadi mengenal banyak orang di lingkungan pemerintahan, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Pontianak. Tawaran pekerjaan untuk membantu pengembangan industri lidah budaya yang saat itu sedang digalakkan di Pontianak, mengalir.

Gairah untuk berbisnis semakin berkobar. Untuk bekal berusaha, mulailah Jafri mengikuti pelatihan kewirausahaan dan seminar tentang hak paten. Merasa sudah punya cukup modal ilmu, tahun 2002 Jafri memberanikan diri untuk rnembuka usaha minuman lidah buaya. Namun, keinginan untuk melanjutkan sekolah juga tinggi. Sebuah keputusan besar dan berani diambil oleh Jafri. Ia merintis usaha sekaligus melanjutkan sekolah. la harus 'berakrobat' membagi waktu untuk kuliah di Jurusan Manajemen Kehutanan Fakultas Kehutana Universitas Tanjungpura, Pontianak dan melakukan bisnisnya.

Meski masih baru di dunia bisnis, putra Pontianak kelahiran 1984 itu memahami pentingnya melakukan promosi. Agar minuman lidah buayanya dikenal banyak orang, ia rajin memamerkan produknya di berbagai pamerar baik yang berskala kecil maupun nasional, seperti SMESCO 2003, Pangan Nusa 2004, Pameran Produk Indonesia 2009, bahkan sampai ke Malaysia (2009). Ta disangka, masyarakat pun menyambut baik minuman kesehatan ini. Namanya mulai dikenal sebagai pengusaha yang sukses.

Satu demi satu kerjasama dengan perusahaan lain pun terjalin. Jafri mulai memasok minumannya ke salah satu pusat olahraga. Tak berselang lama, sebuah perusahaan dari Surabaya mengajaknya bekerja sama dalam hal pengiriman gel lidah buaya. la juga diminta oleh Dinas Koperasi dan Usah Kecil Menengah di Jawa Tengah untuk menjadi instruktur pengolahan lidah buaya. "Selain itu, usaha saya juga diikutsertakan dalam perlombaan di tingkat provinsi dan nasional untuk kategori industri kecil dan menengah di bidang penemuan sistem kerja melalui alat sterilisasi produk di Malang (2004) dan Padang (2007)," kata Jafri, yang terpilih sebagai Juara UKM Terbaik di Padang.



Menjadi pengusaha juga memerlukan pendidikan tinggi. Pendidikan itu digunakan untuk mengembangkan ide inovasi serta mendapatkan persaingan yang sehat dalam berwirausaha



Modal sejuta rupiah yang ditanamnya mulai berbuah. Padahal, harga jual minuman produksinya itu tidak terlalu mahal. "Satu botol kecil ukuran 330 ml untuk sirup, hanya dijual Rp6 ribu," katanya. "Kalau untuk langsung minum, harganya mencapai Rp5 ribu. Khasiatnya lumayan. Karena mengandung vitamin C dosis tinggi, antioksidannya tinggi, juga bisa menurunkan berat badan dan tekanan darah tinggi, demikian menurut penelitian yang saya baca di internet," tambah Jafri.

Usaha ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap kehidupan pribadi Jafri. Jafri yang dulunya hidup dalam kekurangan, kini sudah bisa menghidupi keluarganya, terutama membahagiakan ibunya. la pun kini sudah memiliki 5 pegawai tetap, plus 7 pegawai tidak tetap yang slap membantu sewaktu-waktu dibutuhkan—baik saat berproduksi atau ketika akan mengikuti pameran. Dari kampus tempatnya bersekolah, Jafri juga mendapat dukungan yang baik. Apalagi, ia melakukan inovasi dengan memadukan bunga rosella dalam minumannya. "Melalui Program Mahasiswa Wirausaha 2009, saya diberi tambahan modal oleh kampus untuk mengembangkan usaha. Minuman saya pun dijadikan minuman pembuka di berbagai kegiatan kampus," tutur Jafri yang akhirnya lulus kuliah tahun lalu dan berniat berkeluarga pada tahun 2012.

Sukses Jafri ini tak lepas dari kegigihannya mencari cara untuk berproduksi lebih banyak. Selama ini, alat sterilisasi yang dipakai dalam pengolahan lidah buaya hanya mampu menghasilkan produksi sebanyak 70 cup. Bersama ketiga teman bisnisnya, Budi Lesmana, Erik Alfian, dan Arferianto, ia membuat sebuah alat yang disebut pasteurisasi. Dengan alat itu, sterilisasi dapat menghasilkan 350 cup, atau 5 kali lipat hasil alat biasa. Maka, bukan keajaiban bila kreativitas anak-anak muda ini menghasilkan sesuatu yang lebih sukses yang belum tentu dapat diraih oleh pemuda-pemudi sebaya mereka.



TESTIMONI

Q: Produk minuman berbahan lidah buaya sudah banyak di tempat Anda, mengapa Anda tetap tertarik membuka bisnis ini?

A: Banyak jenis minuman di Pontianak berbahan dasar lidah buaya umumnya memiliki esens atau perasa led Serta menggunakan berbahan pengawet sitrun dan keasaman. Saya menciptakan produk minuman aloesella ini tanpa bahan pengawet. Pewarnanya berasal dari warns merah alami, sementara keasaman bunga rosella menjadi pengganti pengawet sitrun. Jadi, makna dari minuman aloesella ini adalah sehat luar dalam karena kandungan lidah buayanya bermanfaat menjaga kesehatan kulit dan kandungan bunga rosella merupakan antioksidan bagi tubuh. Nilai lebih ini saya jelaskan untuk meyakinkan pembeli dan menjadikannya sebagai minuman oleh-oleh khas Kalimantan Barat.

Q: Mengapa pengusaha perlu memiliki pendidikan tinggi?

A: Saya berusaha meyakinkan diri bahwa—tidak seperti gambaran orang selama ini—tidak selamanya orang yang pendidikan tinggi itu mudah menjadi pegawai negeri. Sebaliknya, menjadi pengusaha juga perlu berpendidikan tinggi agar lebih dapat berinovasi dan menciptakan persaingan yang sehat dalam berwirausaha. Saya bangga dengan hasil yang saya dapatkan, sukses di pendidikan dan sukses di usaha.



“Tiap hari setelah pulang sekolah, saya selalu bekerja. Saya senang dengna pekerjaan itu karena selain hasilnya lumayan untuk diri sendiri dan keluarga, kehidupan saya selalu mendapat perhalian dari bapak angkat saya. Tapi dampaknya, saya dianggap kurang bergaul dengan teman yang lain karena setiap pulang sekolah saya langsung pulang dan bekerja, padahal dalam hali kecil saya ingin bermain setelah pulang sekolah.”





HUKUM WIRAUSAHA #14

Mengimbangi Peran Pengusaha Nasional



“Keberhasilan atau kegagalan dalam bisnis lebih disebabkan oleh sikap mental dibandingkan oleh kapasitas mental."

Walter Scott



PENGUSAHA DARI DAERAH tentu saja memiliki kapasitas yang lebih terbatas dan tidak bisa disamakan dengan pengusaha dari pusat atau daerah lain yang memiliki potensi pasarnya lebih besar. Di Kalimantan Barat terdapat potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, tapi local market-nya sangat terbatas. Padahal, serangan dari produk-produk berskala nasional begitu kuat dan hal ini dihadapi oleh setiap pengusaha lokal. Oleh karena itu, untuk sertarung di ceruk pasar yang terbatas dan menjadi pemula diperlukan sejumlah teknik khusus. Teknik-teknik ini tidak boleh 'kalah bersaing' dengan teknik yang diterapkan oleh para pemain nasional. Dengan teknik ini pengusaha lokal dapat mengimbangi peran pengusaha nasional dalam kancah perekonomian Indonesia. Beberapa tips yang dapat diberikan:

  • Usahakan untuk memodernkan komoditas lokal ke dalam sebuah produk akhir yang dipersepsikan berkualitas tinggi oleh pasar. Dalam hal ini, lidah buaya yang selama ini dikenal sebagai komoditi lokal diolah oleh Jafri menjadi minuman yang mengandung sejumlah khasiat. seperti misalnya mengatasi masalah lambung dan panAs dalam. Tentu saja lidah buaya tidak hanya dapat dibuat dalam bentuk minuman, melainkan juga dalam bentuk lain. Misalnya ekstrak yang dapat dipakai untuk pengobatan dan perawatan kulit serta rambut.

  • Mengisi semua ceruk sedemikian rupa sehingga tidak ada ruang bagi para pendatang baru untuk mengisi pasar yang sudah kecil dan mempersempit pasar yang sudah kecil. Kalau Anda adalah rusa, Anda harus berlari lebih cepat dari serigala yang siap menerkam. Berlari lebih cepat dalam kewirausahaan dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan kualitas internal yang lebih tinggi, seperti quality control yang lebih baik, sumber daya manusia yang lebih handal, dan jaringan distribusi yang lebih luas.

  • Bangunlah jaringan mata rantai baik distribusi, produksi, maupun sumber-sumber ketersediaan bahan baku. Hal ini perlu dilakukan agar bahan dan pasar yang terbuka lebar itu tetap akan memberikan prioritas pada produk Anda. Bentuknya bisa berupa aliansi atau co-production. Ini adalah pekerjaan yang sangat memakan waktu bagi wirausahawan pemula. Namun, sekali Anda dapatkan maka Anda akan memiliki kekuatan.

  • Jangan menyerah untuk menumbuhkan usaha Anda menjadi perusahaan nasional. Meskipun memulai dari pasar yang kecil, namun karena tekanan begitu besar, Anda akan mampu menjadi pemain nasional yang tangguh. Ingatlah bahwa seindah apa pun tujuan Anda tidak akan pernah tercapai jika Anda tidak melakukan langkah-langkah untuk mendekatinya.

  • Terus kembangkan produk-produk turunan baru dari produk inti yang sama. Anda mungkin saja melakukan diversifikasi usaha dari produk-produk turunan tersebut. Kalau hal tersebut membutuhkan teknologi yang lebih tinggi, jangan takut memanfaatkan teknologi dengan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Ingatlah mahasiswa dikelilingi oleh orang-orang hebat dan teknologi pengolahan yang maju, yaitu semua yang tersedia di kampus. Dekatilah dan jajaki kemungkinan-kemungkinannya untuk dipakai dalam usaha Anda.



Dari Buku: Wirausaha Muda Mandiri Part 2: Kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang. Oleh: Rhenald Kasali Penerbit: Gramedia.