Sarini, Jepang & Thailand Pelanggan Batik Sarini
Popularitas yang menanjak
karena nyaris diklaim sebagai warisan
budaya negeri tetangga justru
membawa berkah bagi para perajin
batik di sini. Begitulah yang dialami
pengusaha batik asal Cirebon ini.
BUKAN hal yang aneh jika melihat ada
pejabat penting negara yang berkunjung
ke usaha batik Sarini. Sejak tahun 2005,
batik Sarini memang kerap dikunjungi orang-
orang penting, termasuk Wakil Gubernur Jawa
Barat, Dede Yusuf beserta istri, ibu Negara Ani
Yudhoyono, bahkan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono sendiri. Mereka mendatangi show
room-nya di Weru, Cirebon. Semua itu berkat
kreativitas dalam kegigihannya melestarikan
kain batik.
Usaha Batik Sarini yang dijalani wanita
berusia 57 tahun ini sudah berdiri jauh sebelum
UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya
tak benda dari Indonesia. Berawal dari
usaha kedua orangtuanya, Sarini rela berhenti
bersekolah di kelas lima SD demi membantu
usaha orangtuanya.
Saat itu, orangtua Sarini masih berpikiran
bahwa sekolah tidak terlalu penting. Mereka
berpendapat tugas utama seorang anak perempuan
adalah membantu orangtua. Maka, Sarini pun
tidak punya pilihan lain. Meski begitu, Sarini
mendapat kesempatan belajar menjalankan
usaha batik, hingga memiliki kelihaian dalam
memilih dan mewarnai bahan, lalu menulis dan
mengecap bahan tersebut menjadi kain batik
yang cantik. Keahlian tersebut mendorongnya
berkreasi membuat motif baru yang berbeda
dari perajin batik lain di sekitarnya.
Berbekal pengalamannya itulah Sarini kemudian
mulai berpikir untuk memisahkan diri dari
usaha orangtuanya dan membuka usaha batik
sendiri. Pada tahun 1976 keinginannya itu terwujud.
Ia mendirikan Usaha Batik Sarini yang
diambil dari namanya sendiri. Modal awal yang
ia miliki ketika itu hanyalah enam lembar kain
dan uang sebesar Rp 500 ribu. Dengan tangannya
sendiri, Sarini mengubah keenam lembar kain
tersebut menjadi kain dan sarung batik tulis
serta cap yang kemudian dipasarkannya melalui
koperasi.
PEMILIK SHOWROOM PERTAMA
Ya, bersama suaminya, Sarini membesarkan
usaha batik, awalnya melalui koperasi di
sekitar Cirebon. Selain ke koperasi, ia
juga menjualnya ke seorang saudagar batik
keturunan Tionghoa. Pesanan demi pesanan ia penuhi,
sampai akhirnya Sarini memberanikan diri memasarkan
batiknya ke luar kota seperti
Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta.
Di Jakarta, Sarini menetapkan titik penjualannya
ke Pasar Tanah Abang, karena menurutnya
permintaan kain batik di sana cukup tinggi. Benar
saja, tak butuh waktu lama, Sarini mendapatkan
kerja sama dengan enam toko batik di pasar Tanah
Abang. Sarini pun mengirimkan batiknya ke Pasar
Grosir Tanah Abang sekali setiap seminggu.
Akibatnya, penjualan ke Jakarta meledak bila
dibandingkan dengan penjualan ke Bandung atau
Yogyakarta.
Sejak jaringan pemasaran terbuka, permintaan pun
Terus meningkat. Sarini tidak hanya mengirimkan
bahan per potong, melainkan per kodi (20 potong kain).
Seiring berjalannya waktu Sarini mulai dapat memutar
keuntungan yang ia peroleh dan membuka showroom Usaha
Batik Sarini di Cirebon tahun 1985.
“Dulu, di Cirebon belum ada banyak showroom, yang ada
hanya koperasi. Sementara saya yang sudah mengenal
batik sejak tahun ‘70-an, merasa bahwa batik bisa jadi
usaha yang cocok di sini. Akhirnya, sayalah yang
pertama kali membuka showroom di daerah sini,”
kenang Sarini tentang awal membangun usaha
batiknya.
Kala itu, ikiim usaha batik sedang membaik. Dengan bahan
baku yang terbilang cukup murah, yakni bahan katun seharga Rp
6o ribu per lembar, seorang pengusaha batik mampu menjualnya
dengan harga beberapa kali lipat. Jika seoräng pengusaha batik
memiliki modal sebesar Rp 125 ribu, setelah menjadi kain batik
ia dapat menjualnya dengan harga Rp 350 ribu. Selain masih
sedikitnya perajin batik di daerah Cirebon, showroom yang ia
bangun menjadi daya tarik yang penting.
Ternyata membuat showroom adalah keputusan yang tepat.
Showroom-nya tidak hanya dikunjungi pembeli lokal, tetapi juga
diminati importir dari Jepang. Pada awal usahanya, dia mengirim
batik ke Jepang dengan omzet Rp 15 juta per tahun. Hingga saat
ini, hubungan Sarini dengan importir Jepang
tersebut masih berlanjut.
Selain sebagai tempat untuk memproduksi
dan memasarkan produknya, showroom tersebut juga
digunakan untuk menampung hasil
batik dari para perajin kecil di sekitar showroom.
Sarini membeli produk mereka, kemudian
memasarkan ke langganannya di Jakarta, Bandung,
Makassar, dan Lampung.
PAMERAN? AYO SAJA!
Sebagai pengusaha batik, salah satu cara jitu
memasarkan produknya adalah dengan mengikuti
pameran. “Saya ikut berbagai pameran.
Awalnya ada penawaran untuk mengikuti pameran
dari Kementerian Koperasi. Dari situ banyak
konsumen bertanya kapan ada pameran
lagi?” kenangnya ketika menjelaskan pameran
yang sempat diikutinya di Jakarta Convention
Center. Terlebih lagi, Sarini mendapatkan bantuan
sebesar Rp 1,5 juta. “Saat pameran di JCC
ada pembeli dari Singapura yang memborong
dagangan saya sejumlah Rp 26 juta. Sedangkan
pelanggan terjauh saya berasal dari Jepang,”
tutur Sarini.
Namun, pada tahun 2005 kehidupan Sarini
dilanda musibah keluarga. Ia memutuskan berpisah
dari suaminya dan hal ini mengakibatkan
pecahnya kongsi bisnis mereka. Akibatnya Sarini
harus memulai usaha batik yang sudah
dirintisnya sejak usia 22 tahun itu dari awal lagi.
Sarini pun mengontrak sebuah rumah, tidak
jauh dari bekas showroom-nya dahulu.
Pada saat itulah Sarini bertemu dengan bank
bjb yang menaruh perhatian pada usahanya
dan memberi suntikan modal sebesar Rp 5 juta.
Dengan modal tersebut, Sarini bangkit dari
permasalahannya dan usahanya kembali melesat.
Peminatnya kini bukan lagi dari seputar
Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, namun juga
dari Surabaya, Lampung, Palembang, dan
Jambi, bahkan Thailand.
Perkembangan usaha Batik Sarini membuat
bank bjb semakin percaya pada kemampuan
usaha Sarini. Pinjaman yang diberikan pun
bertambah, menjadi Rp lo juta, Rp 70 juta, lalu
Rp 200 juta di tahun 2011. Pinjaman itu
Dimanfaatkan dengan cermat oleh Sarini
untuk membangun showroom sendiri, sehingga
ia tidak perlu lagi mengontrak. Dia juga
membuka dua cabang, yaitu di Trusmi, Plered,
Cirebon dan pusat perbelanjaan batik di
Thamrin City, Jakarta.
Sejak menjadi debitur bank bjb, Sarini pun
‘keranjingan’ mengikuti pameran. Bahkan
bisa sebulan sekali. Kocek yang berani ia
rogoh pun tidak sedikit. Sekali mengikuti
pameran di JCC, misalnya, dia harus
mengeluarkan uang minimal Rp 10 juta. Belum
lagi biaya transportasi dan penginapan.
Total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp
15 juta untuk setiap pameran.
Meski demikian, tujuan utama Sarini mengikuti
pameran bukanlah mencari keuntungan sesaat.
Sebab, biasanya hasil penjualan di
pameran hanya bisa menutup biaya yang
dikeluarkan. Justru pesanan jangka panjang
lah yang menjadi targetnya.
Selama beberapa kali mengikuti pameran,
Sarini menyimpulkan bahwa kegiatan ini
terbukti manjur untuk mendapatkan order
jangka panjang dan meningkatkan omzet
penjualan batiknya. Pesanan yang datang dari
pameran kadang membuatnya kewalahan. Selain
tenaga kerja, modal yang terbatas juga
bisa menjadi masalah. Misalnya dengan total
order Rp 70 juta, pemesan biasanya hanya
memberikan uang muka Rp 10 juta. Karena itu
Sarini kerap meminta bantuan ke bank bjb
sebagai modal kerja untuk menutupi kekurangan
biaya membeli bahan baku, seperti kain,
alat membatik, cap, dan pewarna. Setelah
produksi selesai dan pesanan dikirim, baru
lah pemesan membayarkan sisa pembayarannya
dan Sarini membayar angsuran pinjamannya
ke bank dengan penuh disiplin.
MEMBUAT MOTIF SENDIRI
Dalam mengelola usaha, Sarini langsung turun
tangan mengatur penyediaan bahan baku dan
proses produksi. Ia mendapatkan bahan bakunya
dari 3 toko di kawasan Pekalongan. Walau
kadang terdapat perbedaan harga, Sarini
menganggapnya masih dalam kondisi wajar.
Ia hanya tinggal memilih harga yang paling murah dari
ketiga tawaran tersebut. Sarini pun kini tidak
perlu repot datang ke toko tersebut karena sudah
mengenal kualitas bahan yang disediakan.
Tinggal telepon dan transfer, barang pun di
kirim. Bahan yang biasa digunakan adalah
katun dan sutra, namun saat ini bahan katunlah
yang lebih banyak diminati.
Dari kain polos Sarini menjadikannya aneka
produk pakaian batik. Ia mengembangkan
beberapa model baju yang dapat diproduksi
secara massal. Sementara untuk pesanan khusus,
Sarini menyediakan penjahit tersendiri.
Untuk memenuhi pesanan seperti ini biasanya
dibutuhkan waktu sekitar 3-5 hari, dan para
penjahit dibayar antara Rp 40 ribu hingga Rp
125 ribu per baju, tergantung tingkat kesulitan.
Batik Sarini memiliki ciri khas pada motifnya
yang unik. Bayangkan saja, ia menciptakan motif
yang tidak biasa untuk kain batik, misalnya,
kupu-kupu, capung, sepeda, payung, kotak,
kelereng, dan parang. Bahkan Sarini kini sedang
membuat motif bola basket dan renang. Hal ini
memberi nuansa berbeda dibandingkan batik
Cirebon lainnya. Meski begitu, motif khas mega
mendung (atau motif Garutan) tidak pernah ia
lupakan karena motif ini paling dikenal orang
dan otomatis paling laris.
Sarini biasanya merancang motif batiknya
di atas secarik kertas, kemudian dua orang
pekerjanya yang ahli merancang motif
menggambarnya pada selembar kain. Salah satunya
adalah adik kandungnya sendiri. Setelah di
gambar, dilakukan proses mengecap atan menulis.
Dari segi waktu pengerjaan, batik cap
memang lebih singkat—hanya dua hari—ketimbang
batik tulis yang bisa memakan waktu l-2 bulan.
SELUK BELUK BISNIS KELUARGA
“Ada dua adik saya yang bertugas menggambar,
tapi ada juga yang bertugas mengecap dan lainnya.
Total ada sekitar 10 orang keluarga yang
ikut mengembangkan usaha,” papar Sarini.
Mempekerjakan keluarga dalam usaha memang
ciri khas usaha kecil dan menengah Indonesia,
namun tentu saja bukan perkara mudah. Sarini
pun mengakui, terkadang timbul perselisihan di
antara mereka. Namun demikian, perselisihan
itu masih dalam batas wajar dan semua bisa
diselesaikan.
Ketika merekrut keluarga sendiri, Sarini
bukannya tidak mempertimbangkan segala hal.
Namun, Sarini merasa tidak dapat mengerjakan
semuanya sendiri. Ia membutuhkan bakat dan
keahlian yang turun-temurun telah dimiliki
keluarganya, sehingga menjadikan mereka sangat
terampil dan ahli dalam memproduksi kain batik.
Selain itu, beberapa di antara anggota keluarganya
memang membutuhkan pekerjaan.
Selain anggota keluarga, Sarini juga merekrut
Sekitar 30 orang pekerja yang berasal dari
warga sekitar. Setiap orang dilatih agar
mampu membatik, mengecap, mewarnai, dan mencelup.
Setelah dilatih, Sarini mengelompokkan mereka
sesuai dengan spesialisasi masing-masing.
Misalnya, untuk pekerjaan mengecap diperlukan
dua orang, mencelup dibutuhkan tiga orang,
sedangkan tim membatik sebanyak 20-an orang.
Untuk upah, Sarini membayar secara borongan
Berdasarkan pekerjaan yang dihasilkan. Kisarannya
untuk pekerja wanita bisa mendapatkan Rp 15-20
ribu per hari, sementara pekerja laki-laki Rp 6o
ribu per hari.
Meski demikian, hambatan tetap saja ada.
Pernah ada karyawannya yang dibajak atau
pindah ke tempat lain, “Tetapi ujung-ujungnya
juga ada yang balik lagi karena lebih merasa
nyaman bekerja di tempat saya,” ujarnya sambil
tersenyum. Untuk menyiasati agar karyawannya
betah, Sarini memberikan mereka bonus dari
batik yang berhasil dijual saat pameran.
Walau usahanya banyak melibatkan keluarga,
Sarini mengaku bakal mengalami kesulitan
mendapatkan penerus. Pasalnya, dari
ketiga anaknya ia belum melihat ada yang
berminat meneruskan bisnis batiknya. Dua anaknya
telah menikah dan tinggal di Surabaya.
Anak pertamanya menikah dengan seorang pria
yang memiliki usaha toko emas, anak keduanya
adalah seorang sarjana kehutanan dan bekerja
sebagai pegawai, sementara anaknya ketiga
cenderung tidak berminat bisnis.
Padahal, Sarini beranggapan bahwa menjadi
pengusaha jauh lebih nyaman dibandingkan
menjadi pegawai. “Kalau usaha kita maju,
pendapatan yang dihasilkan akan lebih besar dari
gaji bulanan pegawai biasa. Kalau pegawai biasa
naik gaji paling hanya setahun sekali. Menurut
saya, berdagang merupakan pekerjaan yang
memerlukan kreativitas tinggi,” kata Sarini
yang berharap sang Adik akan menjadi penerus
usahanya kelak.
PERSAINGAN SHOWROOM BATIK
Dalam persaingan bisnis batik Cirebon, selain
motif, Sarini juga menganggap faktor harga
sebagai hal yang penting. Terutama untuk para
pembeli grosiran. Jika harga satuan kainnya
mencapai Rp 50 ribu, harga grosirannya sebesar
Rp 40 ribu.
Meskipun potongan harga yang diberikan
tidak terlalu banyak, pasti bisa membuat
pesaingnya merasa terancam. “Pernah ada
yang iri, kalau saya ikut pameran mereka suka
membicarakan saya di belakang. Tapi biar
bagaimanapun, namanya juga usaha, kita harus
tetap maju. Hal itu tidak memengaruhi saya,”
ujar Sarini mantap.
Kini, dengan menjamurnya showroom batik di
Cirebon, Sarini merasakan sengitnya
persaingan. Karena itu ia melakukan ekspansi
dengan membuka kios dan lapak di Thamrin
City, Jakarta. Awalnya, Sarini mendapat kios
tersebut secara cuma-cuma, mengingat pusat
batik di Jakarta itu masih terbilang baru. Namun,
sejak lokasinya ramai, ia harus mengeluarkan
Rp1.050.000 per bulan untuk sewa kios. Tarif
sewa itu menurutnya masih terbilang murah jika
dibandingkan dengan biaya sewa kios di tempat
lain. Di Bandung, misalnya, tarif sewanya bisa
mencapai belasan juta rupiah per bulan.
Dua bulan pertama berada di Thamrin
City, kios Batik Sarini sepi pengunjung. Tiga
pekerjanya bahkan sampai tak betah karenanya.
Sarini pun tidak tinggal diam. Ia mengirimkan
sms kepada para pelanggannya yang berada di
Jakarta untuk mengabari bahwa Batik Sarini
juga tersedia di Jakarta. Sarini berharap para
pelanggannya lebih senang karena tidak perlu
jauh-jauh datang ke Cirebon lagi. Voila! Sejak
itu kiosnya ramai pengunjung. Meski baru enam
bulan berjalan, Sarini mampu meraih omzet
hingga Rp 40 juta per bulan.
“Sebagai orang bisnis, kita harus punya tanggung
jawab kepada karyawan. Jangan sampai karyawan
kita telantar. Itu yang harus kita
perjuangkan untuk bersama-sama mengembangkan
usaha,” ujarnya optimis. Karenanya,
Sarini tidak pernah hanya pasif menunggu
pesanan. Jika dari pelanggannya tidak ada kabar,
dia aktif menelepon menanyakan apakah
mereka memerlukan bahan batik baru. Dengan
cara ini, pesanan pun rutin datang mengalir.
Menurut perhitungan Sarini, kini total
omzetnya bisa mencapai Rp 50 juta-70 juta per
bulan. Dengan keuntungan dari penjualan batik
per potong berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp
125 ribu, setiap bulannya Sarini mampu meraih
keuntungan bersih sebesar Rp 8 juta.
MANAJEMEN USAHA
Berjualan batik ternyata juga ada musimnya.
Sama seperti usaha tekstil lainnya, sebulan
sebelum Ramadhan biasanya pesanan bisa
melonjak hingga tiga kali lipat, mencapai ratusan
kodi. Terkadang Sarini merasa kewalahan dengan
banjirnya pesanan, mengingat semua
pemesannya meminta cepat, sementara tenaga
pekerjanya tetap. Pesanan biasanya membanjir
dari Jakarta dan Bandung.
Belum lagi jika ada jadwal pameran di waktu
yang sama. Hal tersebut sering kali membuatnya
semakin kewalahan. “Setiap kali mengikuti
pameran kita harus sudah mempersiapkan
barangnya. Jadi produksi harus lebih cepat.
Sementara bagian produksi masih kewalahan
menepati janji pesanan sebelumnya,” tutur
wanita yang dari usaha batiknya ini sudah
menunaikan ibadah haji di tahun 2001 lalu.
Dalam kondisi normal, produksi batik Sarini
mencapai 5-6 kodi pakaian jadi per hari. Jumlah
tersebut terdiri dari batik cap, tulis, serta
kombinasi kedua metode tersebut. Produk yang
dihasilkan berupa rok, kemeja pria, baju pesta,
blus wanita, gamis, dan kerudung. Meskipun
menghasilkan banyak inovasi produk, Sarini
paham henar bahwa yang paling digemari
adalah kain batik sepanjang 2 meter dan 2,5
meter, karena konsumen lebih bebas berkreasi
membuat pakaian yang sesuai dengan keinginan
serta kebutuhan mereka. “Saya selalu mengarahkan
para sales untuk lebih dulu menjual
produk jadi, agar barang tidak menumpuk,”
papar Sarini.
Selain menyiasati target penjualan, Sarini
juga mengelompokkan harga sesuai produknya.
Kemeja pria dihargai mulai dari Rp 35 ribu
untuk pembelian kodian dan Rp 50 ribu untuk
pembelian satuan. Sementara bahan batik
dihargai antara Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk mempermudah pembayaran, Sarini
membuat beberapa sistem pembayaran, seperti
tunai, transfer, atau diangsur. Bagi pembeli yang
mengambil dalam jumlah banyak, ia memberi
keringanan tempo pembayaran selama dua
minggu hingga sebulan. Untuk pembeli dari luar
daerah, Sarini memberikan keringanan ongkos
kirim agar konsumen tetap setia padanya.
Kesetiaan konsumen juga dicoba diraih melalui
inovasi produk secara kontinyu. Sarini
berupa menciptakan model-model baru yang
lebih variatif dengan menggunakan warna yang
banyak digemari, seperti merah dan cokelat.
Hal ini diketahuinya berdasarkan permintaan
tertinggi yang datang ke showroom maupun
cabangnya. Hasilnya, pelanggan menyukai
inovasi tersebut dan membuntuti setiap pameran
yang diikutinya. Hal ini memacu Sarini untuk
terus berinovasi dan berjuang mengembangkan
usahanya.
Mengenai teknologi, Sarini merasa tidak begitu
memerlukannya. Segalanya dilakukan secara
manual, termasuk pencatatan keuangan.
Kalaupun menggunakan teknologi paling-paling
sebatas memiliki akun Facebook Batik Sarini
sebagai sarana promosi. Akun tersebut dikelola
oleh karyawannya karena Sarini tidak begitu
mengerti social network. “Saya lebih mahir
mengatur masalah pameran dibandingkan jika
harus mengurus teknologi,” ungkapnya jujur.
Namun demikian pameran tidak selalu
berbuah manis. Ada masanya pameran yang
diikuti Sarini malah membuatnya rugi karena
sepi pengunjung. Kalau sudah begini, Sarini
harus mencari pinjaman lain untuk menutupi
biaya operasional pameran. Menurut Sarini,
bank bjb sangat kooperatif dan berperan besar
dalam membantu mengembangkan usahanya,
baik ketika mengalami masa sulit maupun masa
jaya. Jika pameran yang diikutinya berhasil,
pembayaran pinjamannya ke bank bjb juga
lancar sesuai dengan keuntungan yang diperoleh.
Sedangkan ketika mengalami kerugian, Sarini
diberi kemudahan dengan cara diperbolehkan
hanya membayar bunganya saja.
Yang jelas, masa sulit pun tidak akan membuatnya
terpuruk. Dia memilih untuk segera bangkit.
Saat ini, Sarini memusatkan perhatian pada
rencana untuk menambah showroom di Bandung.
Sebab, dari pengalamannya mengikuti pameran,
banyak pelanggannya yang menanyakan cabang
Batik Sarini di Bandung. Pembelinya di Cirebon
pun banyak orang Bandung. Selama ini, rencana
tersebut masih terbentur harga sewa kios yang
cukup tinggi di Bandung.
“Pendapatannya masih bagus di showroom
yang di sini. Sesekali masih mengikuti pameran di
luar kota. Tapi keinginan saya untuk buka show
room lagi sangat tinggi. Insya Allah kalau ada
rezekinya,” ujarnya optimis.
Catatan Rhenald Kasali
SELAIN JELI MELIHAT peluang, keuletan dan tahan banting adalah ciri lain
seorang wirausaha. Siapakah yang tidak pernah jatuh atau mengalami ujian?
Perhatikanlah yang dialami ibu tiga anak dari Cirebon ini. Bercerai dari
Suami dan memulainya kembali dari nol, anak-anak tidak ada yang mau
meneruskan usaha, cemoohan dari para pesaing saat ía ikut pameran, lokasi
usaha yang sepi saat membuka di Tharnnin City, dan seterusnya.
Semua itu dilalui Sarini dari hari ke hari. Namun, yang terpenting bagi
setiap usahawan adalah ia bukan telur yang mudah pecah bila jatuh,
melainkan membal bak bola tenis. Usaha keluarga memang penuh ujian. Kalau
keluarga berpisah, modal pun berpisah, Kalau di rumah ribut, di warung pun
ribut. Sebaliknya juga demikian. Rapat kantor ya rapat keluarga. Semua ikut
mempengaruhi.
Tetapí kalau bukan keluarga siapa lagi yang membantu? Modal tidak besar,
tenaga profesional belum bisa dibiayai, produksi belum lancar ya seluruh
anggota keluarga harus ikut menopang. Minimal suami atau istri memegang
keuangan karena uang butuh kepercayaan. Tetapi juga tak ada jaminan bahwa
anggota keluarga tidak berkhianat. Namun, manusia lebih ikhlas bila
kepercayaan dipegang keluarga.
Kepercayaan tidak hanya diperlukan kepada anggota keluarga melainkan juga
dari pasar. Itu sebabnya Anda tak bisa bermalas-malasan. Setiap saat Anda
harus terus memutar otak, berinovasi dan menjembatani produk dengan
pelanggan. Maka diperlukan hubungan baik dengan bank. Sebab bank yang
percaya akan membantu mereka yang bersungguh-sungguh untuk menjembatani
Anda dengan pasar. Usaha keluarga juga memerlukan ‘jendela’, ÿaitu bingkai
untuk melihat keluar. Usaha keluarga tak berjendela akan membuat Anda diam
di tempat bak dinosaurus, besar namun mudah punah. Itu sebabnya pameran-
pameran sangat diperlukan sama halnya dengan showroom. Sebab betapa pun
bagusnya karya Anda ‘tanpa jendela’ tak ada interaksi, tak ada kemajuan.
Make bukalah jendela, bangun hubungan dengan pelanggan-pelanggan Anda
dan jangan mudah pecah seperti telur.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Showing posts with label Fashion. Show all posts
Showing posts with label Fashion. Show all posts
Sunday, April 14, 2013
Sania Sari, Rumah Produksi Batiknya Pernah Habis Terbakar, Kini Sukses Bangkit dan Mengembangkan Hasan Batik dengan Puluhan Karyawan
Sania Sari, Tri Asayani, Ranityarani, Menyeimbangkan Bisnis dan Seni Batik
Hasan Batik Bandung adalah rumah
industri yang bergerak di bidang
produksi dan penjualan batik.
Memadukan kemampuan teknik, seni,
dan bisnis, Hasan Batik menawarkan
desain produk batik yang eksklusif dan
inovatif.
BATIK merupakan jenis kesenian yang
kompleks. Pasalnya, untuk menghasilkan
kain batik diperlukan teknik dan proses
khusus. Pada dasarnya proses membatik
dilakukan dengan cara melukis malam (lilin cair)
dengan menggunakan canting di atas sehelai kain.
Dalam literatur, teknik atau metode ini
dikenal sebagai wax-resist dyeing. Metode ini
ditempuh untuk mencegah pewarna menyebar
ke seluruh kain, sekaligus memperoleh desain
atau pola artistiknya. Selanjutnya kain tersebut
dicelup ke dalam pewarna tekstil untuk
mendapatkan warna yang diinginkan, lalu direndam
dalam larutan kimia panas untuk menghilangkan
lilin yang melekat. Setelah diulang
beberapa kali, barulah dapat diperoleh selembar
kain batik yang artistik.
Walau teknik membatik pada dasarnya sama,
motif atau corak batik yang dihasilkan setiap
daerah memiliki perbedaan. Corak itulah yang
menjadi identitas kebudayaan daerah asalnya.
Bandung, Jawa Barat, adalah daerah yang
memiliki keunikan corak batik tersendiri. Dan
sampai sekarang, para perajin dan pelaku usaha
batik tidak pernah menyerah mempromosikan
batik Bandung.
Jika batik Solo dan Yogyakarta lebih kental
dengan nuansa tradisional khas keraton, maka
batik Bandung lebih mencirikan masyarakat
kontemporer Indonesia. Corak batik Bandung
berakar pada kekayaan batik Nusantara yang
telah beradaptasi dengan budaya kontemporer
yang cenderung progresif dan modern. Batik
Bandung adalah produk budaya yang lahir
melalui proses pengembangan tak henti dari para
perajin dan seniman batik. Melalui proses
seperti itulah lahir kain batik dengan kekhasan
tersendiri: motif geometris dan abstrak. Selain
itu juga terdapat bentuk-bentuk khas daerah
Jawa Barat seperti, siluet angklung (alat musik
tradisional) atau kujang (senjata tradisional).
Salah satu perajin dan pelaku usaha batik
yang masih giat mengembangkan batik di
Bandung adalah keluarga Hasanudin. Di bawah
bendera CV Hasan Indonesia, keluarga
Hasanudin menjalani usaha batik dengan merek
Hasan Batik Bandung. Hasan Batik Bandung
menyatakan diri sebagai rumah industri yang
bergerak di bidang produksi dan penjualan batik
tulis, batik cap, dan batik kombinasi.
KARYA SENIMAN AKADEMISI
Berbeda dengan sebagian besar usaha batik
yang dibangun oleh pedagang, Hasan Batik
didirikan tahun 1975 oleh Hasanudin (almarhum),
dosen Jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi
Bandung (ITB). Selain menjadi dosen,
Hasanudin telah lama menekuni pembuatan
batik sebagai karya seni. Spesialisasinya di
bidang desain tekstil menjadi kekuatan utama
Hasan Batik dalam mengembangkan batiknya.
Dilihat dari latar belakang keluarganya,
Hasanudin yang akrab disapa Hasan bukanlah
sosok yang tumbuh dari keluarga batik. Namun
sejak kuliah, Hasan sudah rajin mengeksplorasi
batik sebagai objek melukis di atas kanvas.
“Sejak kuliah Ayah memang suka membuat lukisan
batik. Ayah selalu memilih objek batik
sebagai tema yang kemudian dituangkan di atas
selembar kanvas,” kata Sania Sari, putri pertama
Hasan yang kini menjadi General Manager
Hasan Batik Bandung.
Proses yang dijalani Hasanudin dalam
mengembangkan hobinya terpatri di hati anak-
anaknya. Hasanudin memang menyukai batik
sejak dari kuliah, namun kemampuannya
semakin lengkap setelah dia menikah dengan
seorang wanita dari keluarga batik Pekalongan.
Sejak saat itu Hasanudin mulai mendalami batik.
Sebelum Hasan Batik didirikan, Hasan
mendirikan tempat belajar membatik di Jalan
Muararajeun, Bandung. Di tempat ini, Hasan
mengajarkan cara-cara mendesain batik sesuai
keinginan mereka. Sebagai seniman, Hasan
mengangkat tema tradisi dunia batik yang dapat
dikomersialkan.
Kegiatan ini ternyata mengundang minat
banyak orang, terutama warga negara asing yang
bekerja di Bandung dan Jakarta, bahkan
peminatnya banyak warga negara Jepang. Dari
peserta dan para pelanggan batiknya itulah
kemudian muncul nama Hasan Batik.
Sebagai unit usaha, sebenarnya Hasan Batik
baru dimulai pada tahun 1978. Saat itu, selain
memberikan les, Hasan mulai membangun
showroom kecil untuk menjual karya seni batik
ciptaannya. Sebagaimana peminat les batiknya,
peminat kain Hasan Batik juga kebanyakan
berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan
informasi mengenai Hasan Batik dari mulut ke
mulut oleh para peserta les sebelumnya.
Sebagai seniman, Hasan juga mengalami
perkembangan dalam berkarya. Hal itu terbukti
dari banyaknya undangan untuk berpartisipasi
dalam berbagai pameran. Hasan mendesain
batik dengan mengeksploitasi berbagai ragam
hias seperti kawung, lereng, dan ceplok; ragam
hias geometris titik-titik, kotak-kotak, dan garis
garis; serta kombinasi antara keduanya. Salah
satu ragam hias ciptaan Hasan ialah batik tambal
dengan efek tiga dimensi yang menggunakan
proses cap, canting, colek, dan celup. “Dibantu
tenaga kerja berpengalaman, Hasan Batik selalu
mengutamakan kepuasan konsumen untuk
memperoleh batik yang mereka inginkan,” kata
Nia, nama panggilan Sania Sari.
Model usaha yang dikembangkan Hasan
Batik tersebut ternyata mendapatkan tempat di
masyarakat kelas menengah. Sambutan pasar
membawa usaha Hasan Batik mengalami masa-
masa kejayaan hingga tahun 1997. Produk Hasan
Batik pun berkembang pesat, dari kain batik dan
baju menjadi keperluan interior seperti tirai,
seprai, sarung bantal, hingga tatakan dan tutup
gelas. “Malah sejak tahun 1985 Hasan Batik
lebih banyak memproduksi produk-produk batik
untuk keperluan interior. Produk-produk seperti
itu sangat disukai konsumen,” kata Nia.
PASANG SURUT
Sejak tahun 1980-an, usaha yang berangkat
dari kegiatan berkesenian dan kursus batik
kontemporer ini secara bertahap memperlihatkan
perkembangan yang semakin membaik. Menurut
Nia, pendirian studio dan tempat produksi
benar-benar menjadi infrastruktur usaha yang
sangat mendukung. Sebab, setelah studio dan
tempat produksi berdiri, produktivitas Hasan
Batik mengalami peningkatan yang sangat
pesat. Sampai-sampai Hasan Batik harus
memindahkan tempat produksinya dari daerah
Muararajeun ke daerah Cigadung Raya di
Bandung Timur. Produktivitas Hasan Batik
mencapai puncaknya pada 1990-an.
Namun, kejayaan ini harus berakhir ketika
perekonomian Indonesia menghadapi masa-
masa suram. Krisis moneter tahun 1997 yang
meluluhlantakkan hampir setiap sektor
perindustrian Indonesia juga berdampak buruk
pada usaha Hasan Batik yang sangat diminati
orang-orang asing.
Krisis moneter tersebut menyebabkan penurunan
jumlah warga negara asing di Indonesia
sehingga Hasan Batik kehilangan pasar
terbesarnya. Namun, bukan hanya dari sisi
eksternal. Tahun 1997 Hasan Batik juga mengalami
keterpurukan dari sisi internal menghadapi
pembelotan karyawan-karyawan terampilnya.
Sebagian dari karyawannya keluar dan
mendirikan usaha batik sendiri. Mereka juga
mengambil para pelanggan tetap Hasan Batik.
“Kejadian berturut-turut seperti itu membuat
usaha kami menurun sampai 75 persen. Tahun
2000 adalah puncaknya. Kami menghadapi krisis
pemasaran,” kata Nia.
Rupanya nasib buruk yang menimpa Hasan
Batik belum berakhir di situ. Pada tahun itu
pula, si jago merah melahap rumah produksi
Hasan Batik, mengakibatkan semua koleksi
batik mereka habis terbakar. “Yang jelas kami
rugi besar,” kenang Sania, “Terlebih lagi,
sebagian besar karyawan andalan kami keluar.
Saat itu, tinggal lima orang saja yang masih
bertahan.” Jelas, tahun-tahun ini merupakan
periode suram setelah Hasan Batik mengalami
puncak kejayaannya dengan memiliki 20 orang
karyawan terampil.
Tahun 2006, kesulitan usaha Hasan Batik
semakin terasa ketika kondisi kesehatan Hasan
terlihat semakin menurun hingga akhirnya beliau
berpulang. Situasi ini memaksa ketiga putrinya,
Sania Sari, Tri Asayani (Yani), dan Ranityarani
(Rani) bergandengan menyelamatkan biduk
usaha Hasan Batik warisan ayah mereka.
Beruntung sebelum Hasan meninggal, Nia dan adik-
adiknya mendapatkan informasi tentang adanya
fasilitas dari bank bjb untuk kalangan UKM
(Usaha Kecil dan Menengah). Meski tidak besar,
mereka pun berhasil mendapatkan pinjaman
modal sebesar Rp 10 juta.
Ternyata untuk urusan pinjam modal dari
bank ini, ketiga putri Hasan memiliki
kemampuan tinggi untuk mengelolanya. Mereka sangat
disiplin dalam mengatur jadwal pembayaran
cicilan utang. Sikap ini menimbulkan kepercayaan
dan membuat bank bjb terus menaikkan
jumlah dana yang dipinjamkannya. “Fasilitas
modal seperti ini sangat menolong kami. Boleh
dibilang produksi kami terus meningkat secara
perlahan,” tutur Nia.
Meningkatnya kembali produktivitas Hasan
Batik, diikuti kembali oleh peningkatan jumlah
karyawan. Pada April 2011 karyawan Hasan
Batik sudah bisa mencapai 20 orang lagi.
Sementara omzet per bulannya mencapai Rp 75
juta. Ditambah lagi, Nia dan adik-adiknya mulai
memperoleh informasi tentang adanya fasilitas
negara untuk mengikuti pameran di luar negeri.
Setelah persyaratan untuk pameran dipenuhi,
Hasan Batik seperti kembali ke kejayaan
pendirinya di masa lalu ketika almarhum Hasanudin
kerap menerima undangan berpameran di luar negeri.
MANAJEMEN USAHA UNTUK MERAIH MIMPI
Saat ini Nia dan adik-adiknyalah yang bertanggung
jawab atas perkembangan Hasan Batik.
Mereka semua mewarisi semangat Hasanudin
dan memiliki impian untuk membesarkan usaha
Hasan Batik hingga dikenal di negara lain.
Kini mereka menerapkan sistem yang berbeda
dengan yang diterapkan pendahulunya. Sistem
ini dibangun sebagai hasil pengamatan Yani,
adik Sania, ketika mengunjungi rumah industri
produk kain tradisional di Thailand. Di sana
Yani mempelajari bagaimana warga Thailand
mengembangkan usaha produk kain tradisional
dengan gaya modern. Setiap industri rumahan
di Thailand memiliki showroom. Bagian tersebut
berfungsi untuk memperlihatkan proses
pembuatan kain secara langsung kepada para
pelanggannya sekaligus sebagai tempat display
produknya. Inilah yang kemudian diterapkan
pada Hasan Batik.
Selain menerapkan model usaha baru, Nia dan
adik-adiknya berusaha membentuk pola manajemen
untuk mengembangkan Hasan Batik.
Hasan Batik lebih memilih untuk menerapkan
pembagian tugas yang jelas dibandingkan
menerapkan sistem manajemen yang kaku. Nia,
saat ini menjadi dosen di ITB, menangani bidang
manajemen. Yani, yang mendalami bidang seni,
menangani urusan desain. Sementara Rani,
memegang bidang produksi sekaligus mengembangkan
butik muslimah.
Namun keterlibatan keluarga dalam mengelola
Hasan Batik bukanlah sesuatu yang mudah.
Keuntungannya memiliki karyawan keluarga
sendiri adalah adanya rasa cinta, menghargai,
dan motivasi yang sama dalam memajukan
usaha berbasiskan seni. Tapi, kekurangannya
adalah mudahnya timbul perselisihan dan beda
pendapat. “Tapi alhamdulillah, kami masih
memiliki Mama yang selalu menjadi penengah
ketika kami berselisih,” jelas Yani sambil
tersenyum. Berkat adanya penengah, mereka mulai
belajar untuk bersikap terbuka terhadap perbedaan
pendapat. Sejauh ini, mereka belum mengalami
hambatan yang berarti mengenai sistem manajemen
mereka. Tampaknya manajemen mereka
yang serius tapi juga santai cocok dengan model
usaha Hasan Batik.
Selain keluarga sendiri, saat ini Hasan Batik
sudah memiliki 23 orang pegawai. Sekitar
3-4 orang dari mereka merupakan tetangga
lingkungan sekitar, dan selebihnya direkomendasikan
oleh teman atau kenalan mereka. Saat ini Hasan Batik
sudah mempekerjakan karyawan profesional, namun baru
terbatas pada bidang seni rupa untuk desain batik.
Sementara untuk bidang lainnya, Yani mengaku belum
Berniat mempekerjakan karyawan profesional, karena
merasa Hasan Batik masih belum mapan secara finansial.
Tidak mempekerjakan karyawan profesional, bukan
berarti Hasan Batik tidak memiliki pekerja yang terampil.
Karena demi meningkatkan keterampilan para pekerjanya,
beberapa kali Nia dan adik-adiknya mengadakan pelatihan
bagi para karyawan. Agar tidak membebankan perusahaan,
Nia dan adik-adiknya mengupayakan pelatihan yang bebas
biaya. Sekitar tahun 2008 Hasan Batik pernah mendapatkan
pelatihan mengenai tren jenis kain dari perusahaan Amerika
yang didatangkan oleh instansi pemerintah.
Kebetulan, instansi pemerintah tersebut memilih mereka untuk
menerima pelatihan. Saat ini, Nia juga sedang menjalani pelatihan
mengenai tren batik tahun 2012-2013.
Namun, Nia juga mengaku saat ini Hasan Batik tengah
menghadapi tantangan yang tidak ringan. Beberapa pegawai
mereka sempat memutuskan untuk cuti, bahkan meninggalkan
Hasan Batik, meskipun ada beberapa orang
yang datang kembali. Hal ini mengakibatkan Yani dan
saudara-saudaranya memutuskan untuk menaikkan gaji
karyawan dan mengubah sistem kesejahteraan karyawan agar
mereka lebih nyaman bekerja pada Hasan Batik.
Setelah mampu memperbaiki sistem manajemennya, Nia dan
adik-adiknya juga melakukan perbaikan sistem administrasi.
Mereka menerapkan sistem komputerisasi agar data penjualan,
pembelian kain, dan lain sebagainya dapat terdata dengan baik.
Selain itu, sistem komputerisasi juga dipergunakan untuk
mempermudah pembuatan desain batik.
Di bidang marketing, Hasan Batik pun tak mungkin mengelak
dari perkembangan zaman. Kini Hasan Batik memiliki situs
www.hasanbatik.co.id sebagai sarana promosi, agar dapat
memberi kemudahan bagi para pelanggannya
untuk mengetahui produk terbaru dan adanya
promosi khusus. Demi menjaga kelangsungan
promosi dan pembelian melalui situs tersebut,
Hasan Batik mempekerjakan karyawan tersendiri
untuk mengurusnya.
Sistem promosi melalui internet terbukti cukup
efektif dalam menyampaikan informasi terkini.
Pada Maret 2011 lalu, di hari kelahiran pendirinya,
Hasan Batik memberikan diskon sebesar 20 persen
untuk produk baru dan 50 persen untuk produk
yang lebih lama. Melalui promosi ini Hasan Batik
semakin dikenal masyarakat.
Selain melalui internet, pada tahun 2006
mereka meluncurkan produk baru dengan
showroom khusus. Produk baru Hasan Batik
adalah baju batik untuk anak-anak berusia
1 hingga 11 tahun, yang diberi nama ‘Little
Asahyani Batik’. Dengan produk baru ini, pasar
yang dituju oleh Hasan Batik akan semakin luas.
Menurut rencana, Hasan Batik akan membuka
showroom yang lebih besar demi mewujudkan
cita-cita Hasanundin. “Saya ingin
membuat showroom yang lebih besar, sehingga
bisa memuat produk lebih banyak pula. Sehingga
akhirnya akan datang banyak konsumen,” jelas
Yani. Hasan Batik ingin agar para pelanggan
dapat berkunjung melihat proses pembuatan
batik sampai berada di showroom. Saat ini
pelanggan sudah bisa melakukan hal tersebut,
tetapi jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak
rutin. Yani ingin agar para pelanggan Hasan
Batik dapat secara langsung melihat proses
pembuatan, karena dengan cara demikian
diharapkan para pelanggannya akan lebih
tergerak untuk berbelanja. “Saya berharap
kunjungan tersebut dapat dilakukan rutin setiap
hari agar suasana di sini lebih hidup,” ujar Yani
mengenai impiannya akan Hasan Batik.
Catatan Rhenald Kasali
BOUNCE! MEMBAL, BEGITULAH hukum keberhasi1an. Usaha tìdak selalu bergerak
ka atas namun kalau jatuh ke bawah, janganlah mudah pecah segeralah kembali
Bacaan di atas mengajarkan kepada kita bahwa memulai usaha bukanlah hal
yang sulit. Namun meneruskannya dan membuatnys lebih maju ternyata tak
semudah memulainya. Apalagi bagi usaha yang berbasiskan seni dan
pengetahuan. Lain di sekolah lain pula keadaannya di lapangan.
Dari pelajaran yang dialami para penerus Hasan Batik Anda mungkin akan
mengatakan dibutuhkan keuletan untuk menjadi pengusaha. Ya, betul Keuletan.
Tetapi apakah keuletan itu? Keuletan adalah tahan banting dan membal
kembali.
Anda baca sendiri bagaimana bisnis kecil ini dicintai orang-orang asing
tetapi hilang begitu saja saat terjadi krisis moneter. Lalu mundur sejalan
dengan kemunduran kesehatan tokoh kuncinya, terbakar dan ditinggalkan
karyawan-karyawan andalannya yang pergi bersama pelanggan-pelanggan
setianya.
Untuk bangkit kembali Anda butuh kemembalan. Anda butuh visi baru dan
tenaga yang kuat untuk melompat kembali ka atas. Orang-orang yang pernah
mengalaminya pasti tahu hukum ini. Anda hanya bisa membal kembali
kalau sudah menyentuh karang yang ada di dasar laut. Bukan di udara. Jadi
sentuhlah kesulitan yang paling dasar sampai ia membukakan mata Anda dan
otomatis memberi Anda tenaga baru untuk kembali. Maka keluarlah
dari lingkaran setan kesulitan dengan melakukan kunjungan ka mana saja,
sampai Anda menemukan visi baru itu. Anak-anak yang mau keluar dari
kesulitan pasti akan menemukan pintunya. Itulah yang Anda pelajari dari
bangkitnya Hasan Batik.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Hasan Batik Bandung adalah rumah
industri yang bergerak di bidang
produksi dan penjualan batik.
Memadukan kemampuan teknik, seni,
dan bisnis, Hasan Batik menawarkan
desain produk batik yang eksklusif dan
inovatif.
BATIK merupakan jenis kesenian yang
kompleks. Pasalnya, untuk menghasilkan
kain batik diperlukan teknik dan proses
khusus. Pada dasarnya proses membatik
dilakukan dengan cara melukis malam (lilin cair)
dengan menggunakan canting di atas sehelai kain.
Dalam literatur, teknik atau metode ini
dikenal sebagai wax-resist dyeing. Metode ini
ditempuh untuk mencegah pewarna menyebar
ke seluruh kain, sekaligus memperoleh desain
atau pola artistiknya. Selanjutnya kain tersebut
dicelup ke dalam pewarna tekstil untuk
mendapatkan warna yang diinginkan, lalu direndam
dalam larutan kimia panas untuk menghilangkan
lilin yang melekat. Setelah diulang
beberapa kali, barulah dapat diperoleh selembar
kain batik yang artistik.
Walau teknik membatik pada dasarnya sama,
motif atau corak batik yang dihasilkan setiap
daerah memiliki perbedaan. Corak itulah yang
menjadi identitas kebudayaan daerah asalnya.
Bandung, Jawa Barat, adalah daerah yang
memiliki keunikan corak batik tersendiri. Dan
sampai sekarang, para perajin dan pelaku usaha
batik tidak pernah menyerah mempromosikan
batik Bandung.
Jika batik Solo dan Yogyakarta lebih kental
dengan nuansa tradisional khas keraton, maka
batik Bandung lebih mencirikan masyarakat
kontemporer Indonesia. Corak batik Bandung
berakar pada kekayaan batik Nusantara yang
telah beradaptasi dengan budaya kontemporer
yang cenderung progresif dan modern. Batik
Bandung adalah produk budaya yang lahir
melalui proses pengembangan tak henti dari para
perajin dan seniman batik. Melalui proses
seperti itulah lahir kain batik dengan kekhasan
tersendiri: motif geometris dan abstrak. Selain
itu juga terdapat bentuk-bentuk khas daerah
Jawa Barat seperti, siluet angklung (alat musik
tradisional) atau kujang (senjata tradisional).
Salah satu perajin dan pelaku usaha batik
yang masih giat mengembangkan batik di
Bandung adalah keluarga Hasanudin. Di bawah
bendera CV Hasan Indonesia, keluarga
Hasanudin menjalani usaha batik dengan merek
Hasan Batik Bandung. Hasan Batik Bandung
menyatakan diri sebagai rumah industri yang
bergerak di bidang produksi dan penjualan batik
tulis, batik cap, dan batik kombinasi.
KARYA SENIMAN AKADEMISI
Berbeda dengan sebagian besar usaha batik
yang dibangun oleh pedagang, Hasan Batik
didirikan tahun 1975 oleh Hasanudin (almarhum),
dosen Jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi
Bandung (ITB). Selain menjadi dosen,
Hasanudin telah lama menekuni pembuatan
batik sebagai karya seni. Spesialisasinya di
bidang desain tekstil menjadi kekuatan utama
Hasan Batik dalam mengembangkan batiknya.
Dilihat dari latar belakang keluarganya,
Hasanudin yang akrab disapa Hasan bukanlah
sosok yang tumbuh dari keluarga batik. Namun
sejak kuliah, Hasan sudah rajin mengeksplorasi
batik sebagai objek melukis di atas kanvas.
“Sejak kuliah Ayah memang suka membuat lukisan
batik. Ayah selalu memilih objek batik
sebagai tema yang kemudian dituangkan di atas
selembar kanvas,” kata Sania Sari, putri pertama
Hasan yang kini menjadi General Manager
Hasan Batik Bandung.
Proses yang dijalani Hasanudin dalam
mengembangkan hobinya terpatri di hati anak-
anaknya. Hasanudin memang menyukai batik
sejak dari kuliah, namun kemampuannya
semakin lengkap setelah dia menikah dengan
seorang wanita dari keluarga batik Pekalongan.
Sejak saat itu Hasanudin mulai mendalami batik.
Sebelum Hasan Batik didirikan, Hasan
mendirikan tempat belajar membatik di Jalan
Muararajeun, Bandung. Di tempat ini, Hasan
mengajarkan cara-cara mendesain batik sesuai
keinginan mereka. Sebagai seniman, Hasan
mengangkat tema tradisi dunia batik yang dapat
dikomersialkan.
Kegiatan ini ternyata mengundang minat
banyak orang, terutama warga negara asing yang
bekerja di Bandung dan Jakarta, bahkan
peminatnya banyak warga negara Jepang. Dari
peserta dan para pelanggan batiknya itulah
kemudian muncul nama Hasan Batik.
Sebagai unit usaha, sebenarnya Hasan Batik
baru dimulai pada tahun 1978. Saat itu, selain
memberikan les, Hasan mulai membangun
showroom kecil untuk menjual karya seni batik
ciptaannya. Sebagaimana peminat les batiknya,
peminat kain Hasan Batik juga kebanyakan
berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan
informasi mengenai Hasan Batik dari mulut ke
mulut oleh para peserta les sebelumnya.
Sebagai seniman, Hasan juga mengalami
perkembangan dalam berkarya. Hal itu terbukti
dari banyaknya undangan untuk berpartisipasi
dalam berbagai pameran. Hasan mendesain
batik dengan mengeksploitasi berbagai ragam
hias seperti kawung, lereng, dan ceplok; ragam
hias geometris titik-titik, kotak-kotak, dan garis
garis; serta kombinasi antara keduanya. Salah
satu ragam hias ciptaan Hasan ialah batik tambal
dengan efek tiga dimensi yang menggunakan
proses cap, canting, colek, dan celup. “Dibantu
tenaga kerja berpengalaman, Hasan Batik selalu
mengutamakan kepuasan konsumen untuk
memperoleh batik yang mereka inginkan,” kata
Nia, nama panggilan Sania Sari.
Model usaha yang dikembangkan Hasan
Batik tersebut ternyata mendapatkan tempat di
masyarakat kelas menengah. Sambutan pasar
membawa usaha Hasan Batik mengalami masa-
masa kejayaan hingga tahun 1997. Produk Hasan
Batik pun berkembang pesat, dari kain batik dan
baju menjadi keperluan interior seperti tirai,
seprai, sarung bantal, hingga tatakan dan tutup
gelas. “Malah sejak tahun 1985 Hasan Batik
lebih banyak memproduksi produk-produk batik
untuk keperluan interior. Produk-produk seperti
itu sangat disukai konsumen,” kata Nia.
PASANG SURUT
Sejak tahun 1980-an, usaha yang berangkat
dari kegiatan berkesenian dan kursus batik
kontemporer ini secara bertahap memperlihatkan
perkembangan yang semakin membaik. Menurut
Nia, pendirian studio dan tempat produksi
benar-benar menjadi infrastruktur usaha yang
sangat mendukung. Sebab, setelah studio dan
tempat produksi berdiri, produktivitas Hasan
Batik mengalami peningkatan yang sangat
pesat. Sampai-sampai Hasan Batik harus
memindahkan tempat produksinya dari daerah
Muararajeun ke daerah Cigadung Raya di
Bandung Timur. Produktivitas Hasan Batik
mencapai puncaknya pada 1990-an.
Namun, kejayaan ini harus berakhir ketika
perekonomian Indonesia menghadapi masa-
masa suram. Krisis moneter tahun 1997 yang
meluluhlantakkan hampir setiap sektor
perindustrian Indonesia juga berdampak buruk
pada usaha Hasan Batik yang sangat diminati
orang-orang asing.
Krisis moneter tersebut menyebabkan penurunan
jumlah warga negara asing di Indonesia
sehingga Hasan Batik kehilangan pasar
terbesarnya. Namun, bukan hanya dari sisi
eksternal. Tahun 1997 Hasan Batik juga mengalami
keterpurukan dari sisi internal menghadapi
pembelotan karyawan-karyawan terampilnya.
Sebagian dari karyawannya keluar dan
mendirikan usaha batik sendiri. Mereka juga
mengambil para pelanggan tetap Hasan Batik.
“Kejadian berturut-turut seperti itu membuat
usaha kami menurun sampai 75 persen. Tahun
2000 adalah puncaknya. Kami menghadapi krisis
pemasaran,” kata Nia.
Rupanya nasib buruk yang menimpa Hasan
Batik belum berakhir di situ. Pada tahun itu
pula, si jago merah melahap rumah produksi
Hasan Batik, mengakibatkan semua koleksi
batik mereka habis terbakar. “Yang jelas kami
rugi besar,” kenang Sania, “Terlebih lagi,
sebagian besar karyawan andalan kami keluar.
Saat itu, tinggal lima orang saja yang masih
bertahan.” Jelas, tahun-tahun ini merupakan
periode suram setelah Hasan Batik mengalami
puncak kejayaannya dengan memiliki 20 orang
karyawan terampil.
Tahun 2006, kesulitan usaha Hasan Batik
semakin terasa ketika kondisi kesehatan Hasan
terlihat semakin menurun hingga akhirnya beliau
berpulang. Situasi ini memaksa ketiga putrinya,
Sania Sari, Tri Asayani (Yani), dan Ranityarani
(Rani) bergandengan menyelamatkan biduk
usaha Hasan Batik warisan ayah mereka.
Beruntung sebelum Hasan meninggal, Nia dan adik-
adiknya mendapatkan informasi tentang adanya
fasilitas dari bank bjb untuk kalangan UKM
(Usaha Kecil dan Menengah). Meski tidak besar,
mereka pun berhasil mendapatkan pinjaman
modal sebesar Rp 10 juta.
Ternyata untuk urusan pinjam modal dari
bank ini, ketiga putri Hasan memiliki
kemampuan tinggi untuk mengelolanya. Mereka sangat
disiplin dalam mengatur jadwal pembayaran
cicilan utang. Sikap ini menimbulkan kepercayaan
dan membuat bank bjb terus menaikkan
jumlah dana yang dipinjamkannya. “Fasilitas
modal seperti ini sangat menolong kami. Boleh
dibilang produksi kami terus meningkat secara
perlahan,” tutur Nia.
Meningkatnya kembali produktivitas Hasan
Batik, diikuti kembali oleh peningkatan jumlah
karyawan. Pada April 2011 karyawan Hasan
Batik sudah bisa mencapai 20 orang lagi.
Sementara omzet per bulannya mencapai Rp 75
juta. Ditambah lagi, Nia dan adik-adiknya mulai
memperoleh informasi tentang adanya fasilitas
negara untuk mengikuti pameran di luar negeri.
Setelah persyaratan untuk pameran dipenuhi,
Hasan Batik seperti kembali ke kejayaan
pendirinya di masa lalu ketika almarhum Hasanudin
kerap menerima undangan berpameran di luar negeri.
MANAJEMEN USAHA UNTUK MERAIH MIMPI
Saat ini Nia dan adik-adiknyalah yang bertanggung
jawab atas perkembangan Hasan Batik.
Mereka semua mewarisi semangat Hasanudin
dan memiliki impian untuk membesarkan usaha
Hasan Batik hingga dikenal di negara lain.
Kini mereka menerapkan sistem yang berbeda
dengan yang diterapkan pendahulunya. Sistem
ini dibangun sebagai hasil pengamatan Yani,
adik Sania, ketika mengunjungi rumah industri
produk kain tradisional di Thailand. Di sana
Yani mempelajari bagaimana warga Thailand
mengembangkan usaha produk kain tradisional
dengan gaya modern. Setiap industri rumahan
di Thailand memiliki showroom. Bagian tersebut
berfungsi untuk memperlihatkan proses
pembuatan kain secara langsung kepada para
pelanggannya sekaligus sebagai tempat display
produknya. Inilah yang kemudian diterapkan
pada Hasan Batik.
Selain menerapkan model usaha baru, Nia dan
adik-adiknya berusaha membentuk pola manajemen
untuk mengembangkan Hasan Batik.
Hasan Batik lebih memilih untuk menerapkan
pembagian tugas yang jelas dibandingkan
menerapkan sistem manajemen yang kaku. Nia,
saat ini menjadi dosen di ITB, menangani bidang
manajemen. Yani, yang mendalami bidang seni,
menangani urusan desain. Sementara Rani,
memegang bidang produksi sekaligus mengembangkan
butik muslimah.
Namun keterlibatan keluarga dalam mengelola
Hasan Batik bukanlah sesuatu yang mudah.
Keuntungannya memiliki karyawan keluarga
sendiri adalah adanya rasa cinta, menghargai,
dan motivasi yang sama dalam memajukan
usaha berbasiskan seni. Tapi, kekurangannya
adalah mudahnya timbul perselisihan dan beda
pendapat. “Tapi alhamdulillah, kami masih
memiliki Mama yang selalu menjadi penengah
ketika kami berselisih,” jelas Yani sambil
tersenyum. Berkat adanya penengah, mereka mulai
belajar untuk bersikap terbuka terhadap perbedaan
pendapat. Sejauh ini, mereka belum mengalami
hambatan yang berarti mengenai sistem manajemen
mereka. Tampaknya manajemen mereka
yang serius tapi juga santai cocok dengan model
usaha Hasan Batik.
Selain keluarga sendiri, saat ini Hasan Batik
sudah memiliki 23 orang pegawai. Sekitar
3-4 orang dari mereka merupakan tetangga
lingkungan sekitar, dan selebihnya direkomendasikan
oleh teman atau kenalan mereka. Saat ini Hasan Batik
sudah mempekerjakan karyawan profesional, namun baru
terbatas pada bidang seni rupa untuk desain batik.
Sementara untuk bidang lainnya, Yani mengaku belum
Berniat mempekerjakan karyawan profesional, karena
merasa Hasan Batik masih belum mapan secara finansial.
Tidak mempekerjakan karyawan profesional, bukan
berarti Hasan Batik tidak memiliki pekerja yang terampil.
Karena demi meningkatkan keterampilan para pekerjanya,
beberapa kali Nia dan adik-adiknya mengadakan pelatihan
bagi para karyawan. Agar tidak membebankan perusahaan,
Nia dan adik-adiknya mengupayakan pelatihan yang bebas
biaya. Sekitar tahun 2008 Hasan Batik pernah mendapatkan
pelatihan mengenai tren jenis kain dari perusahaan Amerika
yang didatangkan oleh instansi pemerintah.
Kebetulan, instansi pemerintah tersebut memilih mereka untuk
menerima pelatihan. Saat ini, Nia juga sedang menjalani pelatihan
mengenai tren batik tahun 2012-2013.
Namun, Nia juga mengaku saat ini Hasan Batik tengah
menghadapi tantangan yang tidak ringan. Beberapa pegawai
mereka sempat memutuskan untuk cuti, bahkan meninggalkan
Hasan Batik, meskipun ada beberapa orang
yang datang kembali. Hal ini mengakibatkan Yani dan
saudara-saudaranya memutuskan untuk menaikkan gaji
karyawan dan mengubah sistem kesejahteraan karyawan agar
mereka lebih nyaman bekerja pada Hasan Batik.
Setelah mampu memperbaiki sistem manajemennya, Nia dan
adik-adiknya juga melakukan perbaikan sistem administrasi.
Mereka menerapkan sistem komputerisasi agar data penjualan,
pembelian kain, dan lain sebagainya dapat terdata dengan baik.
Selain itu, sistem komputerisasi juga dipergunakan untuk
mempermudah pembuatan desain batik.
Di bidang marketing, Hasan Batik pun tak mungkin mengelak
dari perkembangan zaman. Kini Hasan Batik memiliki situs
www.hasanbatik.co.id sebagai sarana promosi, agar dapat
memberi kemudahan bagi para pelanggannya
untuk mengetahui produk terbaru dan adanya
promosi khusus. Demi menjaga kelangsungan
promosi dan pembelian melalui situs tersebut,
Hasan Batik mempekerjakan karyawan tersendiri
untuk mengurusnya.
Sistem promosi melalui internet terbukti cukup
efektif dalam menyampaikan informasi terkini.
Pada Maret 2011 lalu, di hari kelahiran pendirinya,
Hasan Batik memberikan diskon sebesar 20 persen
untuk produk baru dan 50 persen untuk produk
yang lebih lama. Melalui promosi ini Hasan Batik
semakin dikenal masyarakat.
Selain melalui internet, pada tahun 2006
mereka meluncurkan produk baru dengan
showroom khusus. Produk baru Hasan Batik
adalah baju batik untuk anak-anak berusia
1 hingga 11 tahun, yang diberi nama ‘Little
Asahyani Batik’. Dengan produk baru ini, pasar
yang dituju oleh Hasan Batik akan semakin luas.
Menurut rencana, Hasan Batik akan membuka
showroom yang lebih besar demi mewujudkan
cita-cita Hasanundin. “Saya ingin
membuat showroom yang lebih besar, sehingga
bisa memuat produk lebih banyak pula. Sehingga
akhirnya akan datang banyak konsumen,” jelas
Yani. Hasan Batik ingin agar para pelanggan
dapat berkunjung melihat proses pembuatan
batik sampai berada di showroom. Saat ini
pelanggan sudah bisa melakukan hal tersebut,
tetapi jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak
rutin. Yani ingin agar para pelanggan Hasan
Batik dapat secara langsung melihat proses
pembuatan, karena dengan cara demikian
diharapkan para pelanggannya akan lebih
tergerak untuk berbelanja. “Saya berharap
kunjungan tersebut dapat dilakukan rutin setiap
hari agar suasana di sini lebih hidup,” ujar Yani
mengenai impiannya akan Hasan Batik.
Catatan Rhenald Kasali
BOUNCE! MEMBAL, BEGITULAH hukum keberhasi1an. Usaha tìdak selalu bergerak
ka atas namun kalau jatuh ke bawah, janganlah mudah pecah segeralah kembali
Bacaan di atas mengajarkan kepada kita bahwa memulai usaha bukanlah hal
yang sulit. Namun meneruskannya dan membuatnys lebih maju ternyata tak
semudah memulainya. Apalagi bagi usaha yang berbasiskan seni dan
pengetahuan. Lain di sekolah lain pula keadaannya di lapangan.
Dari pelajaran yang dialami para penerus Hasan Batik Anda mungkin akan
mengatakan dibutuhkan keuletan untuk menjadi pengusaha. Ya, betul Keuletan.
Tetapi apakah keuletan itu? Keuletan adalah tahan banting dan membal
kembali.
Anda baca sendiri bagaimana bisnis kecil ini dicintai orang-orang asing
tetapi hilang begitu saja saat terjadi krisis moneter. Lalu mundur sejalan
dengan kemunduran kesehatan tokoh kuncinya, terbakar dan ditinggalkan
karyawan-karyawan andalannya yang pergi bersama pelanggan-pelanggan
setianya.
Untuk bangkit kembali Anda butuh kemembalan. Anda butuh visi baru dan
tenaga yang kuat untuk melompat kembali ka atas. Orang-orang yang pernah
mengalaminya pasti tahu hukum ini. Anda hanya bisa membal kembali
kalau sudah menyentuh karang yang ada di dasar laut. Bukan di udara. Jadi
sentuhlah kesulitan yang paling dasar sampai ia membukakan mata Anda dan
otomatis memberi Anda tenaga baru untuk kembali. Maka keluarlah
dari lingkaran setan kesulitan dengan melakukan kunjungan ka mana saja,
sampai Anda menemukan visi baru itu. Anak-anak yang mau keluar dari
kesulitan pasti akan menemukan pintunya. Itulah yang Anda pelajari dari
bangkitnya Hasan Batik.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Nani Oktaviani, Womenpreneur Muda yang dari Bisnis Busana Muslim Sukses Raup Omzet Hingga Rp 800 Juta
Nani Oktaviani, Dari Hobi ke Bisnis Konveksi
Banyak pelaku bisnis yang mengawali
usahanya dari hobi. Wanita ini adalah
salah satu pelaku usaha konveksi yang
berhasil membangun usaha dari minatnya
di bidang seni dan fesyen. Diiringi usaha
keras dan dukungan penuh sang suami,
produk fesyennya yang dibangun dari
usaha kecil mulai dikenal di Indonesia
bahkan sampai kalangan muslim Amerika
Serikat.
SENI, kampus UNPAD (Universitas Padjajaran),
dan kota Bandung adalah tiga ha1 yang
tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Nani.
Tiga hal tersebutlah yang kemudian
mengantarkannya menjadi pelaku
usaha konveksi. Dunia seni yang pertama
dikenalnya adalah dunia tari. Sejak kecil
Nani mampu membawakan berbagai tarian
tradisional Jawa Barat. Sekarang pun ia masih
dapat menarikannya dengan gemulai.
Selain menari, kegemarannya dengan kesenian
juga tampak dari gaya berpakaiannya.
Alumnus program diploma Sastra Jepang
UNPAD ini dikenal modis dalam berpakaian.
Hal ini bukannya tanpa alasan. Jurusan sastra
memang dikenal sebagai jurusan yang
mahasiswinya berpenampilan modis. Tak hanya
modis, baju yang dikenakan Nani juga unik
karena tidak ada orang lain yang memilikinya.
Rahasianya adalah mendesain dan membuat
sendiri baju yang diinginkannya. Karena modis
dan unik itulah, banyak teman yang menyukai
busana buatan Nani. Banyak dari mereka yang
akhirnya ingin dibuatkan baju muslim seperti
yang dikenakan Nani.
Nani pun dengan senang hati mengerjakan
pesanan teman-temannya. Tanpa terasa ia sudah
membuat banyak pakaian dan, karena dipakai
teman-temannya, desain Nani semakin dikenal
orang banyak. Dalam waktu yang tak berapa
lama Nani pun dikenal sebagai perancang amatir
busana muslim yang modis di kampus.
Sebagaimana ungkapan bahwa produk bermutu
punya jalannya sendiri untuk menemui
pintunya, busana rancangan Nani pun mencapai
sasarannya. Promosi gratis ‘dari mulut ke mulut’
melalui teman-temannya, mengantarkan Nani
ke pasar yang lebih luas. Berbagai penyelenggara
bazar kampus yang digelar di Bandung mengundang
Nani untuk ikut berpameran. Desain
busana muslim rancangan Nani pun semakin
dikenal di luar kampusnya.
Setelah melalui bazar kampus, kaki Nani
pun mulai melangkah lebih jauh. Dia kerap
mendapatkan undangan untuk tampil di pameran
fesyen kota Bandung dan sekitarnya.
Kota yang dikenal sebagai sentra industri
clothing dan fesyen ini mulai memberikan
tempat bagi Nani untuk mengembangkan minatnya.
Bandung memang memiliki arti khusus bagi Nani.
Baginya, Bandung dan orang-orang di dalamnya
adalah lingkungan dan entitas yang telah
mengantarkannya menjadi perempuan mandiri dan
mampu berpikir kreatif. Selain itu, Bandung
adalah tempat di mana dia menemukan jodohnya. Di
kota inilah Nani bertemu Irfan, pria yang kemudian
menjadi suami sekaligus motivator terhebat dalam
hidupnya.
TIDAK MALU UNTUK BELAJAR
Lahir di Majalengka, Jawa Barat, tanggal 24 Oktober
1972, Nani yang berasal dan keluarga pegawai BUMN ini
merupakan sosok yang mudah beradaptasi. Mungkin karena
beberapa kali pindah tempat tinggal. Pada usia 8 tahun,
Nani mengikuti orangtuanya pindah ke Kuningan, lalu
ke Tasikmalaya di usia 13 tahun. Di Tasikmalaya, Nani
menghabiskan masa SMA-nya sampai pindah ke Bandung
untuk kuliah di UNPAD. Karena cukup lama tinggal di
Tasikmalaya itulah Nani kerap merasa bahwa Tasikmalaya
adalah kota asalnya. Setelah menikah, Nani
mengikuti suaminya bertugas di Kalimantan Timur selama 3
tahun, lalu pindah lagi ke Riau selama 3 tahun. Baru pada
tahun 2000-lab ibu tiga anak ini kembali ke Tasikmalaya.
Meski sempat tinggal jauh dari kota industri pakaian, Nani
tetap menekuni kecintaannya pada fesyen. Sehingga ketika
kembali ke Tasikmalaya, Nani segera memutuskan untuk
menekuni bisnis fesyen. Keputusannya ini mendapat
dukungan dari suaminya, yang mengajukan pensiun dini dari
perusahaannya di Pekanbaru pada tahun 2004 dan
memutuskan untuk memulai usaha konveksi.
Salah satu alasan di balik keputusan tersebut adalah
karena Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu kawasan
industri pakaian jadi Indonesia.
Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat
menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha di bidang ini
mencapai 17.000 orang. Selain itu, mereka merasa dapat
belajar banyak dari adik-adik mereka yang sudah lebih dulu
terjun di usaha konveksi. “Adik-adik kami sudah sukses
berbisnis sebagai supplier pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang,
Jakarta. Jadi kami memilih bergabung lebih dulu. Modalnya
Sebagian dari orangtua,” kata Nani. Setelah merasa cukup
belajar dengan sang Adik, tahun 2005 Nani dan Irfan secara
perlahan mencoba mandiri. Mereka mengembangkan usaha
pembuatan pakaian jadi, hanya berbekal 3 orang penjahit
yang bekerja di garasi rumahnya. Nani memberi merek
pakaian muslim wanitanya dengan nama Nadira.
Merek tersebut hanya ditawarkan secara terbatas, kepada
teman-teman arisan atau pengajiannya. Namun, tampaknya
desain busana muslim rancangan Nani memang memikat
banyak onang. Mengulang kembali promosi word of mouth semasa
perkuliahan, kali ini desain busana muslimnya
tersebar meialui teman-teman pengajiannya.
Usaha Nani pun mulai dikenal banyak orang,
hingga suatu ketika seseorang datang pada
Irfan untuk memesan busana muslim pria.
Berbeda dari busana muslim wanita yang
memerlukan jahitan detail, busana muslim
pria langsung dapat diproduksi secara massal.
Jadi, jika busana muslim wanita diproduksi
sesuai pesanan, busana muslim pria dapat dibuat stok.
Saat itulah, Nani dan Irfan membentuk perusahaan
konveksi yang diberi nama PT Janamas. Sejak Janamas
berdiri, keduanya selalu berusaha mencari pasar yang
berbeda dengan pelaku bisnis konveksi lain. Keduanya
juga memilih kreativitas sebagai andalan. Selain
berusaha tampil unik sebagai kekuatan utama
bisnisnya, pasangan ini juga menggenjot sisi
kualitas produk. “Untuk masalah kreativitas,
kami tekankan pada desain. Sementara untuk
kualitas, kami tekankan pada bagian bordirnya,”
kata Nani lagi, “Dengan mengandalkan
keduanya, alhamdulillah kami belum pernah
gagal di pasar.”
KENDALA DAN SOLUSI
Menjadi pemasok pakaian di pasar konveksi
Tanah Abang ternyata tidak semudah yang Nani
bayangkan. Pasalnya, pedagang Tanah Abang
banyak yang menggunakan sistem pembayaran
melalui giro. “Nah dengan sistem pembayaran
seperti ini, temponya sering meleset,” papar
Nani. Oleh sebab itu Nani dan Irfan memutuskan
berhenti sebagai pemasok pakaian jadi.
Tahun 2006, mereka memilih untuk menjual
langsung ke outlet-outlet di pusat-pusat
perbelanjaan. “Di outlet kita langsung berhadapan
dengan pembeli. Ini membuat kami tidak harus
mengambil risiko,” katanya. Ketika itu, Nani dan
Irfan memutuskan untuk membuat usaha baru
dengan nama CV Avertura. Tujuannya untuk
membuat sebuah merek busana muslim yang
lebih menarik. Sementara PT Janamas menerima
pesanan massal, Avertura mengkhususkan diri
untuk memproduksi busana muslim yang lebih
personal. Kemudian dengan merek barunya
yaitu Massive, Nani langsung memasarkannya
ke outlet-outlet baju di Bandung dan meminta
kesempatan mempresentasikan produk. “Ternyata
90 persen outlet menerima presentasi
kami,” ujar Nani.
Menjelang Lebaran, outlet-outlet pun mengalami
kebanjiran permintaan, terutama busana muslim.
Nani dan Irfan pun berusaha
meningkatkan produksi. Mereka berusaha mendapatkan
keuntungan lebih dari kesempatan itu.
Namun, justru pada saat itulah mereka menghadapi
hambatan baru. “Kalau sudah menghadapi musim Lebaran,
tenaga kerja terampil menjadi mahal dan terbatas,”
kata Irfan. Pasalnya, pada saat yang sama para
pengusaha pakaian lain juga mendapatkan banyak
pesanan sehingga permintaan tenaga kerja pun
melonjak. Ditambah lagi, karena puasa dan libur
Lebaran, banyak penjahit di Tasikmalaya enggan
menerima pesanan. Hal ini menyebabkan neraca
permintaan dan ketersediaan tenaga kerja
menjadi tidak seimbang, yang berimbas pada
meningkatnya honor mereka.
Tetapi, Nani dan Irfan harus tetap memenuhi
pesanan. Untuk mengatasi masalah ini, keduanya
menggunakan pendekatan khusus. Mereka
membuat perjanjian dengan para pekerjanya
bahwa mereka akan terus memberikan pesanan
setelah selesai Lebaran. Hal ini menjadi pilihan
karena biasanya pesanan justru menurun pasca
Lebaran sehingga para penjahit tidak memiliki
pekerjaan.
Dengan menggunakan perjanjian yang
menguntungkan kedua belah pihak tersebut,
para penjahit setuju untuk membantu PT Janamas.
Mereka mau menjahit asalkan setelah Lebaran
tetap mendapat pekerjaan, meskipun
dengan volume kecil. Selain itu, mereka juga
mendapat insentif dan bantuan keuangan dari
PT Janamas.
Satu per satu hambatan dapat terselesaikan.
Namun, PT Janamas tidak luput dari kerugian
besar. Tahun 2006, ketika memasok pesanan
ke sebuah toko baju di Cikarang, ratusan juta
rupiah tak tertagih dan lenyap begitu saja. Hal
ini membuat Nani berpikir lebih keras untuk
menyelamatkan usaha yang juga merupakan
hobinya ini. “Karena pesanan dari Cikarang
itu menguras modal, kami kemudian datang ke
bank bjb. Kami mendapat pinjaman modal kerja
Rp 40 juta dengan sistem profit sharing. Modal
ini menyuntik semangat kami lagi,” kata Nani.
Dengan semangat baru itu, usaha mereka
kembali merekah. Bank bjb kembali memberikan
suntikan modal sebesar Rp 100 juta pada tahun
2010 setelah melihat perkembangan Janamas.
Terakhir, pada tahun 2011 mereka kembali
mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 160 juta.
Janamas pun mulai melebarkan sayapnya.
Perusahaan ini menarik tenaga kerja dalam
jumlah yang lebih banyak lagi. Kini, selain 4
orang karyawan reguler, ada 50 orang yang
terlibat dalam usaha konveksi ini; sekitar 10
orang penjahit bekerja di garasi rumah Nani,
sementara yang lainnya menyelesaikan pesanan
di rumah masing-masing. “Kebanyakan mereka
adalah tenaga kerja di bagian finishing,” jelas
Nani.
Untuk bertahan dan meningkatkan omzet,
selain mengutamakan kreativitas dan kualitas,
Nani dan Irfan terus mendorong PT Janamas untuk
mengikuti tren pasar. “Bahkan kami sering
menciptakan tren pasar,” kata Nani sambil
menunjukkan sejumlah busana muslim yang telah
beredar di butik-butik Jakarta dan Bandung.
Walau menggunakan bahan dasar yang beragam_
seperti katun, linen, raw silk atau Thai
silk—Janamas tak menghadapi kesulitan untuk
mendapatkan bahan-bahan tersebut. Tetapi,
baik Irfan maupun Nani mengaku bahwa hal
tersebut tidak berarti membebaskan mereka
dari persoalan bahan baku. Harga bahan
bahan yang mereka butuhkan terus mengalami
kenaikan. “Semua pemain konveksi menghadapi
masalah ini. Karena harga terus naik, kami
juga tidak melirik bisnis bahan baku sebagai
peluang,” tambahnya.
REKANAN DAN PESANAN
Meskipun usaha konveksinya masih tergolong
lokal, Nani memiliki cita-cita tinggi. Setelah
perbankan menilai usaha ini layak memperoleh
modal, Nani ingin membawa Janamas dikenal
masyarakat luas. Salah satunya dengan cara
tampil profesional di dalam negeri.
Untuk pasar dalam negeri, Nani memilih memasarkan
produknya ke segmen kelas menengah.
Nani rajin melakukan promosi dengan cara
mengikuti pameran, presentasi, atau membuat
brosur dan beriklan di media cetak. “Dari segi
kreativitas, saya terus mendorong Janamas
menjadi usaha konveksi yang produknya
berkualitas dan berkelas,” kata Nani.
Tidak hanya menenima pesanan baju muslim,
Nani juga mulai menerima semua jenis
produk yang berkaitan dengan jahit-menjahit,
termasuk seragam pegawai perusahaan manufaktur
hingga seragam pegawai hotel bintang
5 di Jakarta. Selain itu, Janamas juga pernah
menerima pesanan sarung jok kursi dari
perusahaan furnitur di Yogya, yang kemudian
diekspor ke Eropa. Dari promosi word of mouth
itulah lambat-laun pesanan berbagai jenis
jahitan membanjiri Janamas.
Usaha keras Nani dan Irfan tak sia-sia.
Dengan rajinnya Nani menerima berbagai
pesanan dan mengikuti pameran di tingkat
lokal maupun nasional, ia banyak diundang
tampil di berbagai ajang pameran fesyen,
termasuk pameran di luar negeri. Salah satu
pihak yang beberapa tahun belakangan rajin
mengundangnya adalah ajang kegiatan Moslem
Journal Award di Amerika Serikat. Setiap ada
kesempatan untuk berpameran di ajang ini Nani
mencoba tampil habis-habisan.
Dalam Moslem Journal Award 2011, ada tiga
kegiatan yang dilakukan Nani, termasuk peragaan
busana muslim, malam penghargaan,
dan bazar di Majelis Taklim. “Saya diperkenalkan
sebagai satu di antara dua undangan terhormat,”
ujarnya bangga, seraya menginformasikan
bahwa undangan terhormat lainnya adalah
perancang busana muslim dari Timur Tengah.
Salah satu dampak positif pameran tersebut
adalah datangnya order mendesain dan
memproduksi seragam untuk sebuah islamic school.
Janamas diminta membuat pakaian seragam
dari TK hingga Perguruan Tinggi di Louisville,
Kentucky. Selain itu, Nani juga pernah tampil di
Moslem Journal dan Azizah Magazine.
Meskipun demikian Nani mengaku belum
ingin terlalu fokus untuk memasarkan produknya
ke luar negeri karena belum menemukan
cara untuk mengatasi masalah jarak dan biaya
pengiriman. Pemesan dari luar negeri biasanya
menginginkan baju bagus dengan harga murah.
Tetapi ongkos kirim ke luar negeri masih
sangat mahal. Hal ini menyebabkan harga
pokok menjadi sangat tinggi, terutama ketika
jumlah pesanan tidak terlalu banyak. “Kecuali
bila ada pesanan yang banyak sehingga bisa
menutup biaya kirim,” jelas Nani yang kemudian
memutuskan untuk fokus mengembangkan
usaha di dalam negeri.
MANAJEMEN USAHA
Banyaknya warga Tasikmalaya yang bekerja
sebagai penjahit, membuat Nani tidak kesulitan
untuk mencari tenaga kerja. Tanpa perlu
memberikan pelatihan khusus, Nani mampu
mendapatkan penjahit, tukang potong, dan tukang
bordir dengan mudah. Dengan demikian, Nani
hanya perlu membuatkan desain, sementara
produksinya langsung diserahkan sesuai bidang
keahlian mereka.
Urusan keuangan, diatur sendiri oleh Irfan
yang memiliki latar belakang pendidikan di
bidang akuntansi. Pernah juga Nani
mempekerjakan saudara sendiri untuk urusan keuangan.
Namun, hal ini tidak berlangsung lama
karena orang tersebut mengundurkan diri ketika
akan menikah.
Seperti yang terjadi pada hampir semua
usaha rumahan Indonesia lainnya, Nani yang
terjun langsung dalam pemilihan pegawai tidak
memiliki kriteria khusus dalam menenima pegawainya.
“Asalkan mau bekerja dan memiliki
tekad untuk belajar, mereka akan diterima
bekerja di sini,” tegasnya. Nani merasa tidak
perlu memikirkan apakah pegawainya memiliki
latar belakang pendidikan yang sesuai dengan
pekerjaannya atau tidak. Ia merujuk pada
dirinya sendiri yang menjadi desainer dengan
latar belakang pendidikan sastra Jepang.
Dengan sistem pembayaran sesuai posisi—
para penjahitnya diupah per potong, sementara
staf kantor diupah per bulan—Nani mampu
mengatasi masalah turnover para penjahit.
Dengan memberikan upah per potong, Nani dapat
dengan mudah mencari pengganti penjahitnya
yang mengundurkan diri secara tiba-tiba.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jumlah
penjahit di Tasikmalaya memang sangat banyak.
Meski harus sering berganti penjahit, Nani
mengaku tidak perlu memberikan pelatihan
khusus mengenai keterampilan menangani mesin
jahit terbaru. Saat ini Nani menggunakan
mesin jahit berkecepatan tinggi dan mesin
jahit biasa. Kedua jenis mesin jahit tersebut
dapat dengan mudah digunakan oleh para
penjahitnya. Mesin jahit berkecepatan tinggi
membantu para penjahitnya bekerja lebih cepat,
dengan demikian mereka mendapatkan upah
yang lebih tinggi. Sedangkan mesin jahit biasa
digunakan untuk memproduksi busana muslim
wanita yang memerlukan kehati-hatian dan
banyak detailnya.
Dalam dunia usaha, khususnya UKM yang
bergerak di bidang ekonomi kreatif seperti
fesyen, ternyata manajemen yang baik tak hanya
dibutuhkan pada sisi hulu atau produksi. Tanpa
manajemen yang baik dan tepat pada sisi hilir
atau pemasaran, diakui Nani bahwa usaha ini
akan lambat berkembang. Meski masih memilih
cara pemasaran konvensional, yaitu dari
mulut ke mulut, Nani dan Irfan merasa bahwa
pemasaran produk mereka memerlukan cara
cara yang lebih kreatif. “Intinya, marketing
konvensional boleh saja tetap dipakai namun
dengan cara kreatif,” kata Nani.
Ia kini tengah menyiapkan pemasaran
dengan menggunakan jasa internet. Namun
Nani yakin, selama perusahaannya mampu
memenuhi pesanan dengan kualitas yang baik
dan tepat waktu, maka para pelanggan tidak
akan pindah ke perusahaan lain dan nama baik
perusahaan pun tetap terjaga.
Nani juga menjelaskan bahwa perusahaannya
melayani pesanan dengan sistem first come first
served. Pesanan yang lebih dulu diterima akan
langsung diselesaikannya. Sementara untuk
sistem pembayaran, Nani memberlakukan dua
sistem. Sistem pertama adalah bayar di muka,
kemudian dilunasi ketika pesanan telah selesai.
Sistem kedua adalah pre order, setelah pesanan
disetujui, Nani langsung memproduksi
pesanan tersebut dan baru akan dibayar setelah
selesai. “Sistem pre order kami setujui asalkan
pemesannya merupakan perusahaan yang jelas
dan punya reputasi yang baik. Dan kami terlebih
dahulu membuat perjanjian yang jelas dengan
si pemesan,” jelas Nani mengenai bagaimana ia
memitigasi risiko penerapan sistem ini.
Secara garis besar, sisi manajemen Janamas
dan Averture menggunakan sistem manajemen
modern, tetapi mereka tetap menjaga hubungan
kerja yang dekat dengan pegawai sesuai adat
yang berlaku di Timur. Jadi, sembari membangun
sistem pengelolaan perusahaan yang
profesional, Nani dan Irfan tetap menjalin
hubungan kekeluargaan dengan seluruh karyawan.
“Kami sedang menyiapkan sistem agar
karyawan memiliki saham hingga 30 persen.
Bahkan mesin jahit pun kami serahkan kepada
mereka,” katanya. Dengan cara ini Nani dan
Irfan berharap karyawan betah bekerja di
tempat mereka.
Menurut Irfan, Janamas selalu berupaya
memperbaiki sisi produksi, pemasaran, dan
permodalan. “Kami mulai menerapkan QC
(quality control) yang dikerjakan oleh satu
orang saja,” kata Irfan. Usaha yang berdiri
dengan modal awal Rp 100 juta ini telah
mampu memproduksi 6.000 potong pakaian
per bulan. Omzet bersih usaha yang berlokasi di
Kompleks Perumahan Tajur Indah, Tasikmalaya
ini mencapai Rp 800 juta per tahun. Setelah
dikurangi ongkos produksi, keuntungan bersih
yang dicapai Janamas sedikitnya mencapai Rp
100 juta per tahun.
Pengusaha busana muslim yang sudah menerbitkan
buku panduan berbusana muslim
dengan judul “Inspirasi Berbusana Muslim” ini
ingin agar dalam 5-10 tahun ke depan, usahanya
mampu berdiri lebih kokoh. Tidak muluk-muluk,
Nani hanya ingin memiliki konveksi yang dapat
mewadahi para penjahitnya yang sebagian masih
bekerja di rumah masing-masing saat ini.
Selain itu Nani ingin memiliki outlet sendiri di
Tasikmalaya. Dan, tujuan utama Nani berusaha
adalah ingin dapat terus membantu wanita
muslim tampil modis. “Karena semua ini saya
lakukan dengan tujuan untuk berniaga di jalan
Allah,” ujar Nani bersahaja.
Catatan Rhenald Kasali
SEPERTI KIKI GUMELAR, Nani Oktaviani dan suaminya yang mengawali kariernya
di dunia kerjä, juga pulang kampung yang satu pulang ke Garut, yang satunya
ke Tasikmalaya. Mereka memilih bisnis yang didukung oleh lingkungannya
sehingga tidak tarlalu sulit memu1ai, mempertahankan pertumbuhan, mencari
pegawai, membeli bahan baku, dan seterusnya.
Tentu saja hal seperti ini tidak berlaku sama pada setiap orang. Belum
tentu Anda barasal dari kampung yang memiliki daya dukung lingkungan
saperti Garut. Tasik adalah gudangnya pengusaha konveksi khususnya bordir.
Anda tinggal menyebut, ribuan tukang jahit akan datang. Demikian juga bahan
baku dan pembeli. Anda punya akses yang luas untuk membuat usaha jahitan
Anda menjadi produktif.
Demikian juga dengan Garut. Selain sebagai daerah wisata, penduduk Garut
terbiasa membuat pangan dodol dan jajanan wisata. Daya dukung pertanian dan
alamnya sangat kaya. Kota ini juga memiliki jendela pasar yang mudah
diakses.
Yagyakarta, Solo, Sleman, Plered, Cirebon, Pekalongan, Lombok, Bali,
Pontianak, Makassar, dan banyäk kota lainnya juga punya potensi yang sama
Anda tinggal mencocokkan minat dan keterampilan Anda pada potensi yang
Tersimpan di kota-kota tersebut, Selebihnya 90% keberhasilan ada di sana.
Anda tentu tidak harus mendaptakan sesuatu yang baru sama sekali. Seperti
kata pepatah we don’t have to reinvent the will.
Namun demikian, Anda perlu menyegarkan industri yang sudah ada. Sebab
Perilaku-perilaku usaha di kampung itu sudah puluhan tahun berada di sana
Dan, mereka saling meniru satu sama lain, mencocokkan produksi
dan pemasaran dengan yang dilakukan tetangga-tetangganya. Demikian terus
selama bertahun-tahun mereka melakukannya bersama-sama, bersaing dan
bekerja sama. Mereka lupa suatu ketika konsumen pun berubah.
Konsumen jenuh dengan barang yang sama terus-menerus. Selera pasar berubah,
menunggu sang pembaru.
Oleh karena itu, pulanglah ke kampung dan perbaruilah apa yang sudab ada.
Di sana semuanya sudah ada. Anda tinggal memperbaruinya.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Banyak pelaku bisnis yang mengawali
usahanya dari hobi. Wanita ini adalah
salah satu pelaku usaha konveksi yang
berhasil membangun usaha dari minatnya
di bidang seni dan fesyen. Diiringi usaha
keras dan dukungan penuh sang suami,
produk fesyennya yang dibangun dari
usaha kecil mulai dikenal di Indonesia
bahkan sampai kalangan muslim Amerika
Serikat.
SENI, kampus UNPAD (Universitas Padjajaran),
dan kota Bandung adalah tiga ha1 yang
tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Nani.
Tiga hal tersebutlah yang kemudian
mengantarkannya menjadi pelaku
usaha konveksi. Dunia seni yang pertama
dikenalnya adalah dunia tari. Sejak kecil
Nani mampu membawakan berbagai tarian
tradisional Jawa Barat. Sekarang pun ia masih
dapat menarikannya dengan gemulai.
Selain menari, kegemarannya dengan kesenian
juga tampak dari gaya berpakaiannya.
Alumnus program diploma Sastra Jepang
UNPAD ini dikenal modis dalam berpakaian.
Hal ini bukannya tanpa alasan. Jurusan sastra
memang dikenal sebagai jurusan yang
mahasiswinya berpenampilan modis. Tak hanya
modis, baju yang dikenakan Nani juga unik
karena tidak ada orang lain yang memilikinya.
Rahasianya adalah mendesain dan membuat
sendiri baju yang diinginkannya. Karena modis
dan unik itulah, banyak teman yang menyukai
busana buatan Nani. Banyak dari mereka yang
akhirnya ingin dibuatkan baju muslim seperti
yang dikenakan Nani.
Nani pun dengan senang hati mengerjakan
pesanan teman-temannya. Tanpa terasa ia sudah
membuat banyak pakaian dan, karena dipakai
teman-temannya, desain Nani semakin dikenal
orang banyak. Dalam waktu yang tak berapa
lama Nani pun dikenal sebagai perancang amatir
busana muslim yang modis di kampus.
Sebagaimana ungkapan bahwa produk bermutu
punya jalannya sendiri untuk menemui
pintunya, busana rancangan Nani pun mencapai
sasarannya. Promosi gratis ‘dari mulut ke mulut’
melalui teman-temannya, mengantarkan Nani
ke pasar yang lebih luas. Berbagai penyelenggara
bazar kampus yang digelar di Bandung mengundang
Nani untuk ikut berpameran. Desain
busana muslim rancangan Nani pun semakin
dikenal di luar kampusnya.
Setelah melalui bazar kampus, kaki Nani
pun mulai melangkah lebih jauh. Dia kerap
mendapatkan undangan untuk tampil di pameran
fesyen kota Bandung dan sekitarnya.
Kota yang dikenal sebagai sentra industri
clothing dan fesyen ini mulai memberikan
tempat bagi Nani untuk mengembangkan minatnya.
Bandung memang memiliki arti khusus bagi Nani.
Baginya, Bandung dan orang-orang di dalamnya
adalah lingkungan dan entitas yang telah
mengantarkannya menjadi perempuan mandiri dan
mampu berpikir kreatif. Selain itu, Bandung
adalah tempat di mana dia menemukan jodohnya. Di
kota inilah Nani bertemu Irfan, pria yang kemudian
menjadi suami sekaligus motivator terhebat dalam
hidupnya.
TIDAK MALU UNTUK BELAJAR
Lahir di Majalengka, Jawa Barat, tanggal 24 Oktober
1972, Nani yang berasal dan keluarga pegawai BUMN ini
merupakan sosok yang mudah beradaptasi. Mungkin karena
beberapa kali pindah tempat tinggal. Pada usia 8 tahun,
Nani mengikuti orangtuanya pindah ke Kuningan, lalu
ke Tasikmalaya di usia 13 tahun. Di Tasikmalaya, Nani
menghabiskan masa SMA-nya sampai pindah ke Bandung
untuk kuliah di UNPAD. Karena cukup lama tinggal di
Tasikmalaya itulah Nani kerap merasa bahwa Tasikmalaya
adalah kota asalnya. Setelah menikah, Nani
mengikuti suaminya bertugas di Kalimantan Timur selama 3
tahun, lalu pindah lagi ke Riau selama 3 tahun. Baru pada
tahun 2000-lab ibu tiga anak ini kembali ke Tasikmalaya.
Meski sempat tinggal jauh dari kota industri pakaian, Nani
tetap menekuni kecintaannya pada fesyen. Sehingga ketika
kembali ke Tasikmalaya, Nani segera memutuskan untuk
menekuni bisnis fesyen. Keputusannya ini mendapat
dukungan dari suaminya, yang mengajukan pensiun dini dari
perusahaannya di Pekanbaru pada tahun 2004 dan
memutuskan untuk memulai usaha konveksi.
Salah satu alasan di balik keputusan tersebut adalah
karena Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu kawasan
industri pakaian jadi Indonesia.
Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian setempat
menunjukkan bahwa jumlah pelaku usaha di bidang ini
mencapai 17.000 orang. Selain itu, mereka merasa dapat
belajar banyak dari adik-adik mereka yang sudah lebih dulu
terjun di usaha konveksi. “Adik-adik kami sudah sukses
berbisnis sebagai supplier pakaian jadi ke Pasar Tanah Abang,
Jakarta. Jadi kami memilih bergabung lebih dulu. Modalnya
Sebagian dari orangtua,” kata Nani. Setelah merasa cukup
belajar dengan sang Adik, tahun 2005 Nani dan Irfan secara
perlahan mencoba mandiri. Mereka mengembangkan usaha
pembuatan pakaian jadi, hanya berbekal 3 orang penjahit
yang bekerja di garasi rumahnya. Nani memberi merek
pakaian muslim wanitanya dengan nama Nadira.
Merek tersebut hanya ditawarkan secara terbatas, kepada
teman-teman arisan atau pengajiannya. Namun, tampaknya
desain busana muslim rancangan Nani memang memikat
banyak onang. Mengulang kembali promosi word of mouth semasa
perkuliahan, kali ini desain busana muslimnya
tersebar meialui teman-teman pengajiannya.
Usaha Nani pun mulai dikenal banyak orang,
hingga suatu ketika seseorang datang pada
Irfan untuk memesan busana muslim pria.
Berbeda dari busana muslim wanita yang
memerlukan jahitan detail, busana muslim
pria langsung dapat diproduksi secara massal.
Jadi, jika busana muslim wanita diproduksi
sesuai pesanan, busana muslim pria dapat dibuat stok.
Saat itulah, Nani dan Irfan membentuk perusahaan
konveksi yang diberi nama PT Janamas. Sejak Janamas
berdiri, keduanya selalu berusaha mencari pasar yang
berbeda dengan pelaku bisnis konveksi lain. Keduanya
juga memilih kreativitas sebagai andalan. Selain
berusaha tampil unik sebagai kekuatan utama
bisnisnya, pasangan ini juga menggenjot sisi
kualitas produk. “Untuk masalah kreativitas,
kami tekankan pada desain. Sementara untuk
kualitas, kami tekankan pada bagian bordirnya,”
kata Nani lagi, “Dengan mengandalkan
keduanya, alhamdulillah kami belum pernah
gagal di pasar.”
KENDALA DAN SOLUSI
Menjadi pemasok pakaian di pasar konveksi
Tanah Abang ternyata tidak semudah yang Nani
bayangkan. Pasalnya, pedagang Tanah Abang
banyak yang menggunakan sistem pembayaran
melalui giro. “Nah dengan sistem pembayaran
seperti ini, temponya sering meleset,” papar
Nani. Oleh sebab itu Nani dan Irfan memutuskan
berhenti sebagai pemasok pakaian jadi.
Tahun 2006, mereka memilih untuk menjual
langsung ke outlet-outlet di pusat-pusat
perbelanjaan. “Di outlet kita langsung berhadapan
dengan pembeli. Ini membuat kami tidak harus
mengambil risiko,” katanya. Ketika itu, Nani dan
Irfan memutuskan untuk membuat usaha baru
dengan nama CV Avertura. Tujuannya untuk
membuat sebuah merek busana muslim yang
lebih menarik. Sementara PT Janamas menerima
pesanan massal, Avertura mengkhususkan diri
untuk memproduksi busana muslim yang lebih
personal. Kemudian dengan merek barunya
yaitu Massive, Nani langsung memasarkannya
ke outlet-outlet baju di Bandung dan meminta
kesempatan mempresentasikan produk. “Ternyata
90 persen outlet menerima presentasi
kami,” ujar Nani.
Menjelang Lebaran, outlet-outlet pun mengalami
kebanjiran permintaan, terutama busana muslim.
Nani dan Irfan pun berusaha
meningkatkan produksi. Mereka berusaha mendapatkan
keuntungan lebih dari kesempatan itu.
Namun, justru pada saat itulah mereka menghadapi
hambatan baru. “Kalau sudah menghadapi musim Lebaran,
tenaga kerja terampil menjadi mahal dan terbatas,”
kata Irfan. Pasalnya, pada saat yang sama para
pengusaha pakaian lain juga mendapatkan banyak
pesanan sehingga permintaan tenaga kerja pun
melonjak. Ditambah lagi, karena puasa dan libur
Lebaran, banyak penjahit di Tasikmalaya enggan
menerima pesanan. Hal ini menyebabkan neraca
permintaan dan ketersediaan tenaga kerja
menjadi tidak seimbang, yang berimbas pada
meningkatnya honor mereka.
Tetapi, Nani dan Irfan harus tetap memenuhi
pesanan. Untuk mengatasi masalah ini, keduanya
menggunakan pendekatan khusus. Mereka
membuat perjanjian dengan para pekerjanya
bahwa mereka akan terus memberikan pesanan
setelah selesai Lebaran. Hal ini menjadi pilihan
karena biasanya pesanan justru menurun pasca
Lebaran sehingga para penjahit tidak memiliki
pekerjaan.
Dengan menggunakan perjanjian yang
menguntungkan kedua belah pihak tersebut,
para penjahit setuju untuk membantu PT Janamas.
Mereka mau menjahit asalkan setelah Lebaran
tetap mendapat pekerjaan, meskipun
dengan volume kecil. Selain itu, mereka juga
mendapat insentif dan bantuan keuangan dari
PT Janamas.
Satu per satu hambatan dapat terselesaikan.
Namun, PT Janamas tidak luput dari kerugian
besar. Tahun 2006, ketika memasok pesanan
ke sebuah toko baju di Cikarang, ratusan juta
rupiah tak tertagih dan lenyap begitu saja. Hal
ini membuat Nani berpikir lebih keras untuk
menyelamatkan usaha yang juga merupakan
hobinya ini. “Karena pesanan dari Cikarang
itu menguras modal, kami kemudian datang ke
bank bjb. Kami mendapat pinjaman modal kerja
Rp 40 juta dengan sistem profit sharing. Modal
ini menyuntik semangat kami lagi,” kata Nani.
Dengan semangat baru itu, usaha mereka
kembali merekah. Bank bjb kembali memberikan
suntikan modal sebesar Rp 100 juta pada tahun
2010 setelah melihat perkembangan Janamas.
Terakhir, pada tahun 2011 mereka kembali
mendapatkan pinjaman modal senilai Rp 160 juta.
Janamas pun mulai melebarkan sayapnya.
Perusahaan ini menarik tenaga kerja dalam
jumlah yang lebih banyak lagi. Kini, selain 4
orang karyawan reguler, ada 50 orang yang
terlibat dalam usaha konveksi ini; sekitar 10
orang penjahit bekerja di garasi rumah Nani,
sementara yang lainnya menyelesaikan pesanan
di rumah masing-masing. “Kebanyakan mereka
adalah tenaga kerja di bagian finishing,” jelas
Nani.
Untuk bertahan dan meningkatkan omzet,
selain mengutamakan kreativitas dan kualitas,
Nani dan Irfan terus mendorong PT Janamas untuk
mengikuti tren pasar. “Bahkan kami sering
menciptakan tren pasar,” kata Nani sambil
menunjukkan sejumlah busana muslim yang telah
beredar di butik-butik Jakarta dan Bandung.
Walau menggunakan bahan dasar yang beragam_
seperti katun, linen, raw silk atau Thai
silk—Janamas tak menghadapi kesulitan untuk
mendapatkan bahan-bahan tersebut. Tetapi,
baik Irfan maupun Nani mengaku bahwa hal
tersebut tidak berarti membebaskan mereka
dari persoalan bahan baku. Harga bahan
bahan yang mereka butuhkan terus mengalami
kenaikan. “Semua pemain konveksi menghadapi
masalah ini. Karena harga terus naik, kami
juga tidak melirik bisnis bahan baku sebagai
peluang,” tambahnya.
REKANAN DAN PESANAN
Meskipun usaha konveksinya masih tergolong
lokal, Nani memiliki cita-cita tinggi. Setelah
perbankan menilai usaha ini layak memperoleh
modal, Nani ingin membawa Janamas dikenal
masyarakat luas. Salah satunya dengan cara
tampil profesional di dalam negeri.
Untuk pasar dalam negeri, Nani memilih memasarkan
produknya ke segmen kelas menengah.
Nani rajin melakukan promosi dengan cara
mengikuti pameran, presentasi, atau membuat
brosur dan beriklan di media cetak. “Dari segi
kreativitas, saya terus mendorong Janamas
menjadi usaha konveksi yang produknya
berkualitas dan berkelas,” kata Nani.
Tidak hanya menenima pesanan baju muslim,
Nani juga mulai menerima semua jenis
produk yang berkaitan dengan jahit-menjahit,
termasuk seragam pegawai perusahaan manufaktur
hingga seragam pegawai hotel bintang
5 di Jakarta. Selain itu, Janamas juga pernah
menerima pesanan sarung jok kursi dari
perusahaan furnitur di Yogya, yang kemudian
diekspor ke Eropa. Dari promosi word of mouth
itulah lambat-laun pesanan berbagai jenis
jahitan membanjiri Janamas.
Usaha keras Nani dan Irfan tak sia-sia.
Dengan rajinnya Nani menerima berbagai
pesanan dan mengikuti pameran di tingkat
lokal maupun nasional, ia banyak diundang
tampil di berbagai ajang pameran fesyen,
termasuk pameran di luar negeri. Salah satu
pihak yang beberapa tahun belakangan rajin
mengundangnya adalah ajang kegiatan Moslem
Journal Award di Amerika Serikat. Setiap ada
kesempatan untuk berpameran di ajang ini Nani
mencoba tampil habis-habisan.
Dalam Moslem Journal Award 2011, ada tiga
kegiatan yang dilakukan Nani, termasuk peragaan
busana muslim, malam penghargaan,
dan bazar di Majelis Taklim. “Saya diperkenalkan
sebagai satu di antara dua undangan terhormat,”
ujarnya bangga, seraya menginformasikan
bahwa undangan terhormat lainnya adalah
perancang busana muslim dari Timur Tengah.
Salah satu dampak positif pameran tersebut
adalah datangnya order mendesain dan
memproduksi seragam untuk sebuah islamic school.
Janamas diminta membuat pakaian seragam
dari TK hingga Perguruan Tinggi di Louisville,
Kentucky. Selain itu, Nani juga pernah tampil di
Moslem Journal dan Azizah Magazine.
Meskipun demikian Nani mengaku belum
ingin terlalu fokus untuk memasarkan produknya
ke luar negeri karena belum menemukan
cara untuk mengatasi masalah jarak dan biaya
pengiriman. Pemesan dari luar negeri biasanya
menginginkan baju bagus dengan harga murah.
Tetapi ongkos kirim ke luar negeri masih
sangat mahal. Hal ini menyebabkan harga
pokok menjadi sangat tinggi, terutama ketika
jumlah pesanan tidak terlalu banyak. “Kecuali
bila ada pesanan yang banyak sehingga bisa
menutup biaya kirim,” jelas Nani yang kemudian
memutuskan untuk fokus mengembangkan
usaha di dalam negeri.
MANAJEMEN USAHA
Banyaknya warga Tasikmalaya yang bekerja
sebagai penjahit, membuat Nani tidak kesulitan
untuk mencari tenaga kerja. Tanpa perlu
memberikan pelatihan khusus, Nani mampu
mendapatkan penjahit, tukang potong, dan tukang
bordir dengan mudah. Dengan demikian, Nani
hanya perlu membuatkan desain, sementara
produksinya langsung diserahkan sesuai bidang
keahlian mereka.
Urusan keuangan, diatur sendiri oleh Irfan
yang memiliki latar belakang pendidikan di
bidang akuntansi. Pernah juga Nani
mempekerjakan saudara sendiri untuk urusan keuangan.
Namun, hal ini tidak berlangsung lama
karena orang tersebut mengundurkan diri ketika
akan menikah.
Seperti yang terjadi pada hampir semua
usaha rumahan Indonesia lainnya, Nani yang
terjun langsung dalam pemilihan pegawai tidak
memiliki kriteria khusus dalam menenima pegawainya.
“Asalkan mau bekerja dan memiliki
tekad untuk belajar, mereka akan diterima
bekerja di sini,” tegasnya. Nani merasa tidak
perlu memikirkan apakah pegawainya memiliki
latar belakang pendidikan yang sesuai dengan
pekerjaannya atau tidak. Ia merujuk pada
dirinya sendiri yang menjadi desainer dengan
latar belakang pendidikan sastra Jepang.
Dengan sistem pembayaran sesuai posisi—
para penjahitnya diupah per potong, sementara
staf kantor diupah per bulan—Nani mampu
mengatasi masalah turnover para penjahit.
Dengan memberikan upah per potong, Nani dapat
dengan mudah mencari pengganti penjahitnya
yang mengundurkan diri secara tiba-tiba.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jumlah
penjahit di Tasikmalaya memang sangat banyak.
Meski harus sering berganti penjahit, Nani
mengaku tidak perlu memberikan pelatihan
khusus mengenai keterampilan menangani mesin
jahit terbaru. Saat ini Nani menggunakan
mesin jahit berkecepatan tinggi dan mesin
jahit biasa. Kedua jenis mesin jahit tersebut
dapat dengan mudah digunakan oleh para
penjahitnya. Mesin jahit berkecepatan tinggi
membantu para penjahitnya bekerja lebih cepat,
dengan demikian mereka mendapatkan upah
yang lebih tinggi. Sedangkan mesin jahit biasa
digunakan untuk memproduksi busana muslim
wanita yang memerlukan kehati-hatian dan
banyak detailnya.
Dalam dunia usaha, khususnya UKM yang
bergerak di bidang ekonomi kreatif seperti
fesyen, ternyata manajemen yang baik tak hanya
dibutuhkan pada sisi hulu atau produksi. Tanpa
manajemen yang baik dan tepat pada sisi hilir
atau pemasaran, diakui Nani bahwa usaha ini
akan lambat berkembang. Meski masih memilih
cara pemasaran konvensional, yaitu dari
mulut ke mulut, Nani dan Irfan merasa bahwa
pemasaran produk mereka memerlukan cara
cara yang lebih kreatif. “Intinya, marketing
konvensional boleh saja tetap dipakai namun
dengan cara kreatif,” kata Nani.
Ia kini tengah menyiapkan pemasaran
dengan menggunakan jasa internet. Namun
Nani yakin, selama perusahaannya mampu
memenuhi pesanan dengan kualitas yang baik
dan tepat waktu, maka para pelanggan tidak
akan pindah ke perusahaan lain dan nama baik
perusahaan pun tetap terjaga.
Nani juga menjelaskan bahwa perusahaannya
melayani pesanan dengan sistem first come first
served. Pesanan yang lebih dulu diterima akan
langsung diselesaikannya. Sementara untuk
sistem pembayaran, Nani memberlakukan dua
sistem. Sistem pertama adalah bayar di muka,
kemudian dilunasi ketika pesanan telah selesai.
Sistem kedua adalah pre order, setelah pesanan
disetujui, Nani langsung memproduksi
pesanan tersebut dan baru akan dibayar setelah
selesai. “Sistem pre order kami setujui asalkan
pemesannya merupakan perusahaan yang jelas
dan punya reputasi yang baik. Dan kami terlebih
dahulu membuat perjanjian yang jelas dengan
si pemesan,” jelas Nani mengenai bagaimana ia
memitigasi risiko penerapan sistem ini.
Secara garis besar, sisi manajemen Janamas
dan Averture menggunakan sistem manajemen
modern, tetapi mereka tetap menjaga hubungan
kerja yang dekat dengan pegawai sesuai adat
yang berlaku di Timur. Jadi, sembari membangun
sistem pengelolaan perusahaan yang
profesional, Nani dan Irfan tetap menjalin
hubungan kekeluargaan dengan seluruh karyawan.
“Kami sedang menyiapkan sistem agar
karyawan memiliki saham hingga 30 persen.
Bahkan mesin jahit pun kami serahkan kepada
mereka,” katanya. Dengan cara ini Nani dan
Irfan berharap karyawan betah bekerja di
tempat mereka.
Menurut Irfan, Janamas selalu berupaya
memperbaiki sisi produksi, pemasaran, dan
permodalan. “Kami mulai menerapkan QC
(quality control) yang dikerjakan oleh satu
orang saja,” kata Irfan. Usaha yang berdiri
dengan modal awal Rp 100 juta ini telah
mampu memproduksi 6.000 potong pakaian
per bulan. Omzet bersih usaha yang berlokasi di
Kompleks Perumahan Tajur Indah, Tasikmalaya
ini mencapai Rp 800 juta per tahun. Setelah
dikurangi ongkos produksi, keuntungan bersih
yang dicapai Janamas sedikitnya mencapai Rp
100 juta per tahun.
Pengusaha busana muslim yang sudah menerbitkan
buku panduan berbusana muslim
dengan judul “Inspirasi Berbusana Muslim” ini
ingin agar dalam 5-10 tahun ke depan, usahanya
mampu berdiri lebih kokoh. Tidak muluk-muluk,
Nani hanya ingin memiliki konveksi yang dapat
mewadahi para penjahitnya yang sebagian masih
bekerja di rumah masing-masing saat ini.
Selain itu Nani ingin memiliki outlet sendiri di
Tasikmalaya. Dan, tujuan utama Nani berusaha
adalah ingin dapat terus membantu wanita
muslim tampil modis. “Karena semua ini saya
lakukan dengan tujuan untuk berniaga di jalan
Allah,” ujar Nani bersahaja.
Catatan Rhenald Kasali
SEPERTI KIKI GUMELAR, Nani Oktaviani dan suaminya yang mengawali kariernya
di dunia kerjä, juga pulang kampung yang satu pulang ke Garut, yang satunya
ke Tasikmalaya. Mereka memilih bisnis yang didukung oleh lingkungannya
sehingga tidak tarlalu sulit memu1ai, mempertahankan pertumbuhan, mencari
pegawai, membeli bahan baku, dan seterusnya.
Tentu saja hal seperti ini tidak berlaku sama pada setiap orang. Belum
tentu Anda barasal dari kampung yang memiliki daya dukung lingkungan
saperti Garut. Tasik adalah gudangnya pengusaha konveksi khususnya bordir.
Anda tinggal menyebut, ribuan tukang jahit akan datang. Demikian juga bahan
baku dan pembeli. Anda punya akses yang luas untuk membuat usaha jahitan
Anda menjadi produktif.
Demikian juga dengan Garut. Selain sebagai daerah wisata, penduduk Garut
terbiasa membuat pangan dodol dan jajanan wisata. Daya dukung pertanian dan
alamnya sangat kaya. Kota ini juga memiliki jendela pasar yang mudah
diakses.
Yagyakarta, Solo, Sleman, Plered, Cirebon, Pekalongan, Lombok, Bali,
Pontianak, Makassar, dan banyäk kota lainnya juga punya potensi yang sama
Anda tinggal mencocokkan minat dan keterampilan Anda pada potensi yang
Tersimpan di kota-kota tersebut, Selebihnya 90% keberhasilan ada di sana.
Anda tentu tidak harus mendaptakan sesuatu yang baru sama sekali. Seperti
kata pepatah we don’t have to reinvent the will.
Namun demikian, Anda perlu menyegarkan industri yang sudah ada. Sebab
Perilaku-perilaku usaha di kampung itu sudah puluhan tahun berada di sana
Dan, mereka saling meniru satu sama lain, mencocokkan produksi
dan pemasaran dengan yang dilakukan tetangga-tetangganya. Demikian terus
selama bertahun-tahun mereka melakukannya bersama-sama, bersaing dan
bekerja sama. Mereka lupa suatu ketika konsumen pun berubah.
Konsumen jenuh dengan barang yang sama terus-menerus. Selera pasar berubah,
menunggu sang pembaru.
Oleh karena itu, pulanglah ke kampung dan perbaruilah apa yang sudab ada.
Di sana semuanya sudah ada. Anda tinggal memperbaruinya.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Saturday, April 13, 2013
Atik, Modal Awalnya Cuma 50 Ribu, Tapi Kini Usaha Bordirnya Sukses Raup Omzet Miliaran dan Menembus Hingga Rusia
Atik Jumaeli, Mengibarkan Bordir Tasik Hingga ke Rusia
Mengawali usahanya di bidang bordir
Tasik dengan modal Rp50 ribu dan satu
Mesin jahit, kini Atik Jumaeli mampu
membawa produk andalan usaha Dewì
Bordir memimpin pasar di kelasnya.
Bahkan dia mampu menggelar produk-
produk bordirnya di berbagai negara,
mulai dari Singapura hingga Rusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul
20.00. Kota Tasikmalaya sudah mulai sepi.
Hj. Siti Atikah Huzaemah Jumaeli, pemilik
usaha Dewi Bordir, sudah menutup tempat
usahanya yang terletak di Jalan
Panunggal No. 64, di samping Asrama Polisi
Bojong, Tasikmalaya. Namun malam itu Dewi
Bordir kedatangan tamu, seorang perempuan
dan laki-laki. Kepada perempuan yang lebih
dikenal sebagai Atik Jumaeli itu, sang tamu laki-
laki mengaku bernama Gam Aceh.
Menerima tamu pada malam hari, apalagi mengaku
bernama Gam Aceh, membuat Atik merasa kecut hatinya.
Atik baru merasa sedikit tenang ketika sang tamu
Mengaku sebagai pengusaha jasa pengiriman paket di
Jakarta. Tamu itu memberitahukan bahwa
dari pengalaman menjalani usahanya, nilai
pengiriman paket Dewi Bordir menduduki
tempat tertinggi sehingga hidung bisnis Gam
menuntunnya untuk melihat sendiri usaha Dewi Bordir.
Kepada Tuan Gam, Atik menjelaskan perihal
usahanya. Setelah melihat-lihat produk Dewi
Bordir, Tuan Gam memesan sepasang baju
bordir. Namun tak lama kemudian, Tuan Gam
menelepon seseorang dan memberikan kejutan
dengan memesan 500 pasang baju bordir serupa.
Konon, pemesanan itu berkaitan dengan sebuah
rencana pernikahan di Kerajaan Kelantan, Malaysia.
Atik terkejut bukan karena ia tak biasa menerima
banyak pesanan. Masalahnya, Tuan Gam meminta
pesanan itu selesai dalam waktu
satu setengah bulan. Apalagi Tuan Gam juga
langsung memberikan uang muka sebanyak Rp
120 juta yang dibayarkan dua kali. Total harga
untuk 500 pasang baju bordir itu Rp 360 juta.
“Sesudah tamu kami pulang, saya hanya
berpikir bagaimana cara mendapat bahan yang
cocok. Paginya saya bangun subuh, salat, dan
mengaji. Saya berdoa, memohon petunjuk untuk
bisa dapat bahan sutra nomor satu,” tutur Atik.
Selanjutnya hari-hari Atik dipenuhi oleh
usaha jungkir-balik untuk mendapatkan bahan
sutra organdi sesuai pesanan. Untuk
mendapatkan bahan itu Atik berpikir bahwa
Jakarta-lah tempatnya. Namun setelah berkeliling
Jakarta dengan susah payah dan keluar
masuk Pasar Majestik, Tanah Abang, serta Pasar
Baru, hasilnya nihil.
“Setelah empat hari berputar-putar di Jakarta
saya cuma bisa merasa kecewa dan sedih.
Beberapa kali ditilang polisi karena salah jalan.
Akhirnya saya pulang ke Tasik dengan menangis,
kecewa, dan bingung. Uang ini mau diapakan?”
kenangnya.
Sekembalinya ke Tasik, Atik mengontak
relasi bisnisnya di Pekalongan dengan harapan
bisa memberikan informasi. Tak sampai seminggu
datang kabar yang sedikit menghibur.
Atik dikenalkan pada seorang pemilik bahan.
“Alhamdulillah orangnya mau menerima. Tapi
masih ada masalah. Bahan untuk bawahan
belum ada. Saya harus pergi lagi ke Bandung
untuk mencari bahan bawahan,” tuturnya.
Di Bandung dia mendatangi enam pabrik.
Namun, hingga pabrik keenam Atik hanya
memperoleh informasi bahwa bahan itu harus
diimpor dari Cina. “Saya sedih sekali. Sudah
hampir sebulan waktu terbuang hanya untuk
mencari bahan tapi tetap nihil,” tutur Atik lagi.
Kejadian seperti di Bandung menimpa lagi
ketika Atik bergerak ke Majalaya. Rasa putus asa
mulai menghampirinya.
Lalu, dari salah satu pabrik, ada orang yang
Memberitahu bahwa bahan itu bisa dibuat dengan
cara menenun benang sutra yang dicampur
bahan sintetis. Atik langsung berbelanja benang
sutra kemudian menyerahkannya ke pabrik
tersebut untuk dibuat kain tenun. Akhirnya
bahan sutra pun jadilah. Tapi masalah baru
datang, pewarnaannya mengalami kegagalan.
Atik hampir menyerah.
Dalam kondisi hampir putus asa, Atik pergi
lagi ke Bandung untuk memesan bahan sutra
impor. Tapi Atik diminta menunggu satu bulan.
Mendengar jawaban itu Atik hanya bisa pasrah
sambil menunggu keajaiban. Ternyata keajaiban
itu benar-benar datang. Bahan itu datang.
Namun ia harus mewarnainya lebih dulu.
Jadilah selama seminggu dia hampir tak tidur
untuk mendapatkan warna yang pas. “Waktu
cuma tinggal sisa 11 hari. Pewarnaan perlu tiga
hari,” kenang Atik.
Akhirnya, bahan gulungan sepanjang
1.280 m hasil celupan itu bisa dibawa pulang
dan dikerjakan tanpa kenal waktu dan lelah.
Pekerjaan sangat berat dan sulit itu akhirnya
beres. Kurang satu hari dari waktu yang
ditentukan, Atik mampu membawa hasilnya
ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Tuan
Gam. Tetapi ujian belum berakhir juga. Sesampainya
di Jakarta “kejutan” muncul lagi. Tuan
Gam meminta tambahan 50 pasang lagi. Atik
pun menyanggupinya.
Anda mungkin deg-degan membaca cerita di
atas. Sudah kepepet waktu, uang sudah diterima,
bahan-bahan sulit dicari, sementara waktu berjalan
terus. Tetapi drama ini belum selesai.
Perjalanan dramatis untuk memberikan pelayanan
yang terbaik bagi pelanggan barunya
memang hampir berakhir. Setelah semuanya
beres, “kejutan” terakhir datang. Kali ini berkaitan
dengan hitung-hitungan hasil jerih payahnya
selama satu setengah bulan. Semula
dia menghitung keuntungannya bisa mencapai
Rp 80 juta. Namun di ujung hari, ternyata Atik
hanya memperoleh keuntungan Rp 20 juta
ditambah sisa baju. Apa reaksinya?
“Ya, saya merasa kecewa. Tapi saya tetap
merasa bersyukur karena bisa mengatasi tantangan
dan menjaga kredibilitas Dewi Bordir,”
tutur Atik mengakhiri kisah yang tak pernah dia
lupakan seumur hidupnya. Atik mengaku peristiwa itu
menjadi pembelajaran untuk ‘naik kelas’
di dunia usaha yang dia tekuni maupun hidupnya sebagai
pribadi.
JATUH BANGUN DARI TITIK “NOL”
Atik Jumaeli boleh jadi tak akan lulus menghadapi
“ujian” yang datang dari orang seperti
Tuan Gam, andai saja ia belum teruji. Perempuan
Tasik ini sudah kenyang dengan pengalaman
jatuh-bangun sejak memulai usahanya dari nol.
Atik merintis Dewi Bordir pada tahun 1991, ketika
suaminya, Jumaeli, masih aktif bertugas sebagai
polisi berpangkat inspektur satu di Poires
Tasikmalaya. Sebagaimana istri polisi pada umumnya,
Atik wajib menjadi anggota Bhayangkari, organisasi
istri Poiri. Saat itu Bhayangkari banyak
melakukan kegiatan bersama Dharma Pertiwi, organisasi
istri TNI. Salah satu program yang mereka jalankan
ialah kegiatan ekonomi produktif, di mana
para anggota Bhayangkari dan Dharma Pertiwi diberi
fasilitas permodalan dan alat kerja. Atik termasuk
anggota Bhayangkari yang menerima modal sebesar Rp 50 ribu
dan satu unit mesin jahit untuk usaha kain bordir.
Usaha ini menjadi pilihan karena Tasik dikenal
sebagai kota industri kerajinan kain bordir.
Bahkan bordir telah menjadi salah satu identitas
masyarakat Tasik, selain anyaman mendong.
Hasil laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya
dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI
menunjukkan bahwa industri kain bordir di Tasik terus
memperlihatkan perkembangan yang signifikan,
bahkan ketika Indonesia mengalami krisis
ekonomi tahun 1997 hingga selepas tahun
2000. Dari delapan kecamatan yang ada di
Tasik, empat di antaranya bergerak di bidang
usaha pembuatan kain bordir, yaitu Cibeureum,
Cipedes, Mangkubumi, dan Kawalu.
Pada tahun 2005, terdapat setidaknya 1.092
unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin.
Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah
yang memiliki pelaku usaha kerajinan bordir
paling banyak, yaitu 87,7 persen dari total perajin
bordir di Tasik. Di kecamatan ini, terutama di
Desa Tegalsari, terdapat banyak pengusaha kain
bordir berskala besar seperti Thratex, Purnama,
Ciwulan, Haryati, dan Bunga Tanjung. Total
produksinya mencapai 7,2 juta potong per tahun.
Nilai produksi bordir di Tasik telah mencapai
angka lebih dari Rp 500 miliar dan mampu
menyerap ribuan tenaga kerja.
Pada dekade 1990-an ketika Atik memulai
usahanya, produk bordir Tasik telah jauh berkembang
dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Saat itu
produk bordir didominasi oleh busana muslim, termasuk
baju garnis, mukena, jilbab, baju koko, dan kopiah.
Jauh sebelumnya, yakni pada dekade 1960-an, jenis bordir
yang dihasilkan hanyalah kebaya dan pakaian tradisional
Cina karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan
etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an, setelah mesin
bordir bertenaga listrik muncul di Tasik, jenis produk
bordir yang dihasilkan pun meluas ke jenis kain untuk
interior ruangan (home interior), seperti seprai,
taplak meja, gorden, dan lain-lain. Namun
pada dekade 1980-an jenis kain bordir yang
diproduksi mulai bergeser ke busana muslim
yang kemudian berkembang hingga kini.
Ketika mulai merintis usahanya itu, Atik
belum pernah menjalani satu jenis usaha pun.
Sebelum menikah dengan Jumaeli, Atik adalah
karyawan sebuah kantor konsultan hukum.
Namun Atik bukan pribadi yang asing dengan
dunia jahit-menjahit. Anak kelima dari 10 bersaudara
H. Saun dan Hj. Sitj Huzaemah ini tumbuh dalam keluarga
penjahit pakaian wanita. Ibunya dikenal sebagai penjahit
kebaya di Cikalong, Tasik. Selain itu Atik sendiri
pernah mengambil kursus menjahit selama 6 bulan di
tempat kursus ‘Abadi’ di Tasik.
Meski demikian, Atik mampu mengembangkan kemampuannya
menjadi sesuatu yang menghasilkan bermodalkan
kemauan bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif.
Karakter-karakter seperti itu merupakan modal
penting bagi mereka yang ingin terjun di
bidang kerajinan. Selain itu, yang tak kalah
pentingnya adalah intuisi bisnis yang tajam
dalam menangkap pasar. “Usaha kerajinan bordir
memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun,
dan kreatif. Orang-orang seperti itulah
khususnya kaum perempuan, yang membuat Tasik dikenal
sebagai kota bordir,” katanya. Sejumlah sumber menyebutkan
bahwa dari tangan orang-orang seperti itulah, lahir kain
bordir bermotif alam, terutama flora, yang indah dan
menjadi ciri bordir Tasik.
Sadar sebagai pemula, Atik menjalani usahanya dengan sabar
dan tekun hingga tahun pertama usahanya
terlewati. Memasuki tahun kedua, Atik terus
bergerak perlahan namun pasti, sementara para
koleganya yang dulu sama-sama memperoleh
modal seperti dirinya mulai berguguran. Selepas
tahun kedua, perjalanan usaha Atik semakin mantap.
Pada tahun 1996, Atik ingin Dewi Bordir
memiliki badan hukum. Lahirlah kemudian CV
Dewi Nugraha. Atik juga mendapatkan suntikan
modal dari hasil arisan sebesar Rp 500 ribu.
Dana itu dia gunakan untuk membayar uang
muka mesin jahit baru merek Zuki seharga Rp
3,5 juta. Sisa utangnya dilunasi dengan mencicil.
Namun perjalanan usaha Dewi Bordir
tidak selalu mulus. Pada tahun 1997 usaha ini
pernah jatuh. Ketika itu, Dewi Bordir menerima
pesanan 1.000 lusin tatakan dan tutup gelas
senilai Rp 67 juta. Tetapi krisis ekonomi yang
meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan
uang hasil pesanan tersebut tak tertagih. Kondisi
Dewi Bordir pun sempat terganggu.
Hal serupa juga terjadi pada 2007, ketika
Dewi Bordir menerima pesanan busana bordir
sebanyak 400 pasang untuk dikirim ke Brunei.
Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang
namun hanya 400 pasang saja yang dibayar
sehingga Dewi Bordir tekor hingga Rp 45 juta.
Nasib nahas lainnya juga harus menimpa
Dewi Bordir. Suatu hari karyawan Dewi Bordir
menerima pengembalian barang yang sudah
dibeli orang. Namun setelah dibuka dan diteliti,
ternyata yang dikembalikan itu bukanlah produk
Dewi Bordir. “Dewi Bordir ketiban nahas akibat
kelakuan yang enggak sehat dari orang lain,” ujarnya.
Selain itu Dewi Bordirjuga pernah melakukan
kesalahan pengukuran ketika mendapatkan
pesanan baju koko sebanyak 20 kodi sehingga
harus menanggung semua kerugian. “Pernah
juga kami kena provokasi yang menyebut produk
kami mahal,” kata Dewi mengenang berbagai
peristiwa yang menimpa Dewi Bordir.
Sebagai lembaga bisnis dengan 30 orang
karyawan dan lebih banyak lagi karyawan
musiman pada saat pesanan meningkat, Dewi
Bordir tak luput dari gesekan internal. Umumnya
gesekan terjadi karena keluarga atau para
karyawan yang terlibat dalam bidang produksi
saling bersikukuh bertahan dengan tren yang
akan dilansir.
“Saya tipe orang yang suka bereksperimen
memasukkan produk-produk nonkonvensional
dan mencoba bertahan dengan sikap saya.
Mungkin itu yang sering menimbulkan gesekan,
baik dengan keluarga maupun karyawan,” katanya.
Namun Atik Jumaeli meyakinkan bahwa
setiap Dewi Bordir menghadapi masalah dari
luar, hal pertama yang mereka lakukan adalah
“Kuncinya sadar dan sabar. Lalu bersama-sama
mencari penyebabnya dan bersama-sama juga
mencari jalan keluar,” katanya.
MENGELOLA SUMBER DAYA MANUSA
Sebagaimana dunia usaha bordir di Tasik pada
umumnya, Dewi Bordir juga harus menghadapi
masalah dari dalam berupa masalah tenaga
kerja. Walau mesin bordir dan mesin jahit
yang digunakan belum mengalami pembaruan
teknologi, tetapi pelatihan menggunakan
mesin tersebut tetap harus dilakukan pada
karyawan baru. “Tergantung, kalau karyawan
sudah memiliki pengetahuan cukup tentang menjahit,
maka gampang dilatih. Tetapi karyawan yang masih
baru sama sekali, memang agak
sedikit sulit,” jelas Atik.
Upah tenaga kerja berpengalaman di industri
bordir di Tasik mencapai Rp 1,2 juta
per bulan. Sementara UMR di Tasik hanya sebesar
Rp 680 ribu per bulan. Oleh sebab itu
mudah dijumpai karyawan yang keluar-masuk. “Kami
sadar bahwa di dunia bordir karyawan mudah
sekali keluar masuk. Dewi Bordir tidak
sendirian,” kata Atik seraya menduga banyak pengusaha
bordir tidak membuat kontrak kerja dengan karyawannya.
“Mungkin karena usaha bordir masih luas,” Atik
Menambahi keterangannya.
Untuk membuat orang merasa kerasan bekerja di Dewi
Bordir, Atik membangun pola hubungan kerja yang
manusiawi dan berusaha memberikan lebih kepada
karyawannya. Selain upah yang lebih tinggi dari UMR,
Atik memberikan insentif bagi mereka yang bekerja lebih.
Atik juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang
ingin mandiri. Dari 30 karyawannya, ada tujuh orang yang
telah mandiri. Atik merasa bangga kepada mereka karena
pola pikir mereka memang melebihi dirinya. “Karena itu
saya sangat mendukung mereka. Malah saya mendorong mereka
untuk berani mengajukan bantuan modal ke bank bjb. Saya
katakan ‘Ibu jadi jaminannya’,” ujar Atik bangga.
Dengan cara tersebut Atik yakin bahwa hubungan Dewi Bordir
dengan mantan karyawan akan tetap terjaga. Apalagi di dunia
bordir situasi saling membutuhkan memang sangat tinggi.
Dewi Bordir akhirnya membuat anak usaha berupa lembaga
kursus atau pelatihan membordir, khusus bagi kaum muda Tasik.
Lembaga ini didirikan demi tersedianya sumber daya manusia
atau tenaga terampil di bidang bordir yang dapat diandalkan
untuk masa depan. Tempat kursus ini berada di bawah CV Dewi
Nugraha, badan hukum yang menaungi usaha Dewi Bordir.
Kegiatan kursus di Dewi Bordir ini dibagi menjadi dua kelas,
yakni kelas besar dan kecil. Kelas besar berisi 75 peserta setiap
angkatan dengan masa kursus selama tiga bulan. Dalam satu
tahun Dewi Bordir mampu menyelenggarakan tiga kali pelatihan.
Sedang kelas kecil terdiri dari 20 peserta dengan
masa kursus satu bulan. “Tempat kursus ini kami dirikan untuk
mendidik generasi muda agar mereka punya
kemampuan membordir sekaligus menciptakan
generasi penerus seni bordir Tasik. Ini juga
untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Atik.
Melalui lembaga pelatihan ini Atik bersama
keluarga dan karyawan Dewi Bordir membuktikan bahwa
mereka benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia
yang andal di bidang bordir sehingga masyarakat dan
pemerintah pun memercayainya. Hal itu terlihat pada
banyaknya peserta kursus serta kepercayaan
yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Tasikmalaya, juga beberapa BUMN untuk menjalin
kerjasama dengan CV Dewi Nugraha. Dalam kerja sama ini
instansi atau perusahaan menyediakan dana, sementara
Dewi Bordir bertanggung jawab atas proses pelatihannya.
Program ini sebenarnya merupakan beasiswa
bagi anak-anak muda. Para siswa yang mengikuti program
ini tidak perlu membayar uang kursus. Sebaliknya,
mereka bahkan mendapat uang saku sebanyak Rp 30 ribu per hari.
Selama tiga bulan, mereka mengikuti tiga tingkat pelatihan,
yaitu: tingkat dasar, tingkat terampil, dan
tingkat mahir. Para siswa yang lulus umumnya
sudah siap ditampung oleh perusahaan-perusahaan
bordir yang membutuhkan. Perusahaan bordir kain yang
membutuhkan tenaga kerja pun hanya perlu menghubungi
Dewi Bordir. Dewi Bordir juga kerap menjadi tempat magang
atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi pelajar
SMK dan perguruan tinggi. Banyak sekolah dan
kampus mengirimkan anak didik atau mahasiswa
mereka agar bisa menjalani masa magang atau PKL di sini.
KEJELIAN MEMILIH PRODUK ANDALAN
Seraya menjalani usahanya, Atik menyempatkan
diri untuk meningkatkan berbagai keterampilan yang
menunjang bisnisnya. Dia rajin mengikuti pelatihan
pemasaran dan manajemen.
Di samping itu Atik juga terus mengasah bakat
menggambarnya yang sangat mendukung usahanya,
terutama dalam menciptakan desain barang-barang
yang akan diproduksi.
Secara sekilas tatakan dan tutup gelas bordir
berdiameter lima hingga delapan sentimeter
sebagai produk andalan Dewi Bordir tampak
sederhana. Namun Atik mencoba memberikan
nilai tambah, yakni sulam timbul. Selain itu
Atik juga menciptakan produk serupa berbahan
perca. Semua produknya tampil dengan motif
bunga atau bintang berwarna-warni.
Meskipun sederhana, tatakan dan tutup gelas
justru menjadi pemimpin pasar untuk seluruh
produk Dewi Bordir, bahkan produk serupa di
Tasik. Produk-produk ini juga membawa Tasik
memperoleh kebanggaan. Sebab, tatakan dan
tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu
produk UKM Tasik yang diekspor. Prestasi ini
menjadikan Dewi Bordir sebagai UKM yang
banyak memperoleh fasilitas dari pemerintah
atau lembaga lain.
Atik tentu bukan sosok yang naif. Ia tidak
ingin Dewi Bordir memenjarakan diri dengan
hanya memproduksi tatakan dan tutup gelas.
Dewi Bordir juga memproduksi produk bordir
lain yang diminta pasar seperti sarung bantal
termasuk untuk bantal kursi—taplak, tas,
batik, serta busana muslim dan kelengkapannya.
Bahkan Atik juga berhasil membawa Dewi
Bordir melahirkan produk busana yang kerap
tampil dalam acara peragaan busana, yaitu
busana muslim, busana resmi, dan busana
Sunda kontemporer. Saat ini Dewi Bordir
mampu memproduksi 500 baju bordir pesanan
hanya dalam waktu 2 bulan. Rentang waktu tersebut
sudah termasuk dari waktu perancangan,
mencari bahan, hingga waktu produksi.
Pengalaman menjalani usaha dari bawah
ternyata membuat intuisi bisnis Atik Jumaeli
terlatih membaca pasar. Hal ini melandasi Atik
saat memilih tatakan dan tutup gelas menjadi
produk andalan Dewi Bordir. Awalnya, Atik
memasarkan produk-produk tersebut pada
acara-acara arisan, bazar, dan pameran yang
melibatkan ibu-ibu anggota Bhayangkari dan
Dharma Pertiwi di Tasik. Setelah mulai di
kenal, Dewi Bordir tampil secara rutin pada
ajang serupa di Tasik maupun kota-kota lain di
Jawa Barat.
Pada tahun 2003, ketika produksi bordir di
Tasik telah mencapai angka Rp 300 miliar, Dewi
Bordir juga mengalami perkembangan. Pasarnya
bukan hanya ada di dunia arisan atau pameran,
melainkan pasar sesungguhnya. Kejelian menangkap
pasar dan cara memasarkan produk,
membuat Jakarta dan sejumlah kota lain mulai
mengenal produk Dewi Bordir.
KELUARGA DAN PENGEMBANGAN USAHA
Di balik sosok yang sukses selalu ada pendukung yang
hebat. Para pendukung itu pula yang selama ini
membuat Atik selalu merasa bersemangat
dan gigih dalam menjalani usahanya.
Jumaeli, suaminya, menurut Atik adalah sosok pendukung
yang hebat. Di luar tugasnya sebagai anggota Poires
Tasik, Jumaeli selalu siap memberikan bantuan dan dukungan
nyata yang dia perlukan. Demikian pula keempat anak
mereka, Budi Mulia, Dewi Fuji Fitriarti, Cecep Ibnu, dan
Jajang Nugraha. “Saya merasa menjadi lebih
bersemangat karena suami dan anak-anak sangat mendukung
usaha ini,” tuturnya. Budi, anak pertama, setelah lulus
kuliah banyak membantu di bidang pemasaran. Demikian
pula Dewi yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil Bandung.
“Bahkan saya dan bapaknya berharap mereka bisa bekerja
sama melanjutkan usaha ini menjadi lebih besar lagi,”
katanya.
Khusus tentang Budi, Atik berterus terang
sangat memerlukan tenaganya, terutama saat
Atik harus mengikuti pameran di luar negeri.
Sebab sudah sejak beberapa tahun terakhir
Dewi Bordir kerap melakukan pameran di luar
negeri. Bahkan, untuk beberapa negara pameran
telah berlangsung secara rutin. Di Malaysia,
misalnya, Dewi Bordir telah melakukan pameran
sebanyak lima kali, di Singapura sudah
berlangsung tiga kali, di Brunei dua kali, dan di
Dubai sekali.
Pada April 2011 Atik melakukan pameran
lagi ke sejumlah negara, yakni Arab Saudi,
Jerman, dan Rusia. “Jadi meskipun hanya
tatakan dan tutup gelas, produk Dewi Bordir
sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri.
Malah sebagian sudah menetap di luar negeri,”
katanya berseloroh.
Karena kinerjanya itu pula, pada tahun
2006 usaha ini terpilih sebagai salah satu
UKM yang mendapatkan fasilitas permodalan
dari bank bjb. Meskipun enggan menyebutkan
jumlahnya, Atik mengakui dana tersebut ikut
membantu usahanya lebih berkembang dan
mampu membayar pinjaman dengan disiplin.
Adapun cara pembayarannya pertama adalah
dengan selalu membayar bunga pinjaman setiap
bulannya. Sementara pembayaran pinjamannya
dilakukan ketika mendapatkan untung dari pesanan besar.
Dewi Bordir sempat memperoleh pinjaman
modal lagi. “Tapi selanjutnya kami tak ingin di
pinjami lagi karena sudah punya modal sendiri
dari usaha yang ada,” ujar Atik. Kedisiplinan
adalah kunci lancarnya pembayaran pinjaman
Atik ke bank.
Dengan dukungan keluarga dan karyawan, Atik
juga telah mengantar Dewi Bordir
menerima sejumlah penghargaan sekaligus
kemudahan. Selain sering menerima fasilitas
pameran secara gratis, Dewi Bordir juga menerima
fasilitas berupa ruko di Asia Plaza, Jalan
Hajat Mustofa nomor 8, Tasikmalaya. “Saya sangat
menghargai tempat ini karena ini fasilitas yang
kami dapat setelah produk-produk Dewi Bordir
terpilih sebagai produk unggulan bordir Tasik,”
katanya.
Atik juga mengakui bahwa perhatian pemerintah
cukup membantu. Dewi Bordir sering
mendapatkan fasilitas pameran, baik di tingkat
lokal, nasional, maupun internasional. Selain
pameran, Presiden pada masa itu, Megawati
Sukarnoputri, memberikan penghargaan berupa fasilitas
HAKI pada produk Dewi Bordir yang telah mampu
memproduksi barang yang memiliki nilai tradisional
khas Indonesia. Dari usaha kerasnya dan berhasil
mendapatkan penghargaan itu, omzet yang dicapai
Dewi Bordir mencapai sekitar Rp loo juta per
bulan atau lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Dan,
dari omzet tersebut Atik meraih keuntungan
bersih sebesar 20 persennya.
MENYIAPKAN PASAR KE DEPAN
Pengalaman mengelola usaha selama bertahun-
tahun dan kejelian Atik Jumaeli membaca pasar
telah membawa Dewi Bordir pada posisi harus
mampu memilih segmen pasar yang tepat.
Menurut Atik, Dewi Bordir sedang merintis
jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah
ke atas. Alasannya, “Di segmen ini kondisinya
lebih stabil,” katanya.
Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen
ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-
hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan.
Selain itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-
desain baru yang sesuai dengan tuntutan pasar.
“Untuk tahu pasar kami mencari informasi dari
internet atau majalah,” ujarnya.
Namun Atik juga berusaha profesional dan
memegang etika usaha. Dalam membuat desain,
misalnya, Dewi Bordir tidak mau menjiplak
karya orang lain. “Kalaupun terpaksa harus
mengikuti tuntutan pasar, kami melakukan
modifikasi atas tren yang sudah ada,” tuturnya.
Terkait bahan-bahan yang diperlukan, pada
umumnya usaha kerajinan bordir di Tasik jarang
mengalami kendala. Bahan dasar yang banyak
digunakan dalam usaha bordir di wilayah ini
ialah sutra. “Untuk bahan dasar, selama ini
masih bisa didapat dengan mudah,” ujar Atik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya
menyebutkan bahwa untuk bahan baku
kain dan benang bordir, para pengusaha memperolehnya
dari sejumlah pabrik yang ada di
Bandung, Jepara, dan Pekalongan. Sebagian besar
menggunakan produk lokal, hanya sebagian
kecil yang diimpor dari negara lain.
Namun menurut Atik, jika pengusaha bordir
menerima pesanan mendadak dalam jumlah
besar, sementara bahan tidak mudah didapat di
Indonesia, maka mereka jelas kelabakan. “Jangan
sampai para pengusaha bordir menghadapi
masalah yang pernah saya alami. Cukup saya
saja yang menghadapi pengalaman seperti itu,”
katanya merujuk pada pesanan Tuan Gam yang
membuatnya kalang-kabut karena bahannya
sukar dicari di Indonesia.
Untuk urusan pemasaran dan promosi, Dewi
Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan.
Selain mempertahankan promosi dan mulut ke
mulut melalui ajang arisan, bazar, dan pameran,
Atik juga menempuh cara pemasaran yang
lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik
pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke
Jakarta dan beberapa kota lain. Sentra-sentra
pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang
dan Cipulir adalah sasaran mereka.
Namun, menurut data Dinas Perindustrian
dan Perdagangan, pengusaha bordir yang sudah
terkenal tidak perlu memasarkan sendiri karena
pemesan datang sendiri ke tempat usaha mereka.
Sebagian besar kain bordir mereka diborong oleh
para distributor, yang kemudian menjualnya
kembali ke kota-kota lain. Distributor juga
bertindak sebagai agen pengekspor kain bordir
ke negara-negara lain seperti Malaysia, Arab
Saudi, Brunei Darussalam, dan Yordania.
Para pengusaha kain bordir di Tasik juga telah
mendirikan organisasi Gabungan Pengusaha
Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA). Di samping
membantu permodalan, organisasi ini juga bertujuan
membantu anggotanya mencari strategi
agar tercipta jaringan pemasaran produk.
GAPEBTA telah berhasil mencarikan kios-kios
bagi anggotanya untuk berjualan di berbagai
kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan
Yogyakarta. Khusus untuk Jakarta, kios-kios
pengusaha dari Tasik dapat ditemui di Pasar
Tanah Abang. GAPEBTA memiliki anggota
hingga 8oo orang pengusaha kain bordir, dan
lebih dari separuhnya memiliki kios-kios di
kota-kota besar.
Namun Atik juga punya keyakinan bahwa
barang yang berkualitas selalu punya jalannya
sendiri untuk mencapai sasarannya. Oleh sebab
itu, selain terus berusaha memperluas pasar,
Atik juga sangat menjaga kualitas produknya.
Dengan sikap seperti itu, pasar Dewi Bordir terus
meningkat, dari lokal ke nasional, dan akhirnya
internasional.
Meskipun demikian, Atik tidak ingin semua
awak Dewi Bordir, termasuk dirinya, berleha-
leha. Mereka mulai belajar memanfaatkan
teknologi internet untuk mencari informasi dan
peluang memasarkan produk-produknya. Namun
sarana ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dewi Bordir, misalnya, belum memiliki situs khusus.
Pada awal 2011 Atik merintis pembukaan
cabang Dewi Bordir di Season City, Jakarta
Barat, dengan tujuan membawa usaha ini
lebih profesional. Namun, seperti kata pepatah
‘setiap permulaan selalu sulit’, maka tampaknya
sampai saat ini dewi fortuna belum berpihak
pada Dewi Bordir. Karena masih sepinya mall
baru tersebut, Dewi Bordir mengalami kerugian,
sehingga cabang tersebut harus ditutup. Meski
demikian, kejadian tersebut tidak membuat
Atik putus asa. Ia masih memiliki satu cabang
lainnya di UKM Gallery, Smesco, Jakarta. Untuk
menjaga agar pasar tetap mencarinya, Dewi
Bordir menyewa konsultan manajemen untuk
melakukan quality control.
“Saya ingin maju seperti Dewi Motik
Pramono (mantan Ketua Umum Ikatan Wanita
Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa
Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang
maju,” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah
Jumaeli mengakhiri kjsah perjalanan usaha
dan cita-citanya ke depan.
Catatan Rhenald Kasali
Salah satu syarat bagi pengusaha UMKM untuk naik kelas adaiah ‘berani dan
mau melakukan hal-hal yang sulit’. Anda mungkin masih ingat penstiwa
manusia yang mendarat di bulan pada 1969. Saat itu terbang ke bulan
suatu keniscayaan, tetapi di bawah J F Kennedy, Amerika Serikat berhasil
melakukannya.
Dalam suatu ceramah di Texas, Kennedy menjelaskan, “Ketika bangsa-bangsa
lain mengembangkan teknologi untuk mendaratkan manusia ka puncak gunung,
Kita justru memilih teknologi untuk mendaratkan manusia ke bulan. Mengapa
ke bulan? Jawabnya adalah karena pertama kita tidak ingin dilihat oleh
Rusia dari atas bumi kita dan kedua karena ini tidak mudah. Kita memilih
terbang ke bulan bukan karena mudah dan hanya bangsa yang mau
melakukan hal-hal yang sulit itulah yang akan menjadi bangsa yang hebat.”
Saya membuka kisah naik kelas Atik Jumaeli dengan keberaniannya menerima
order yang sulit sekali untuk ia penuhi. Orang-orang yang mengambil risiko
seperti ini adalah crang-orang yang mau bergerak dan mau berpikir.
Saya pikir orang-orang lain yang mendengar keluhannya akan mengatakan
‘Gila! Berani amat, sih mengambil risiko?”
Mayoritas manusia memang hanya mengambil langkah-langkah yang gampang dan
tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Bahkan melakukan perjalanan ka luar
negeri pun harus bergerombol dan diantar orang yang sudah tahu lebih dulu.
Kalau sudah begitu, Anda jadi bisa duduk tenang yang artinya tak perlu
Berpikir. Santai.
Tapi Anda tak tahu banyak. Anda takut tersasar bukan? Kata Columbus “Orang-
orang yang tak berani kesasar tak akan pernah menemukan jalan baru.”
Demikianiah Atik Jumaeli naik kelas karena ia mau berpikir, rela kesasar
Tetapi ia menemukan cara-cara dan keberanian-keberanian baru. Bagi sebagian
orang, hal ini memang sangat meletihkan. Tetapi, itulah yang membuat
pikiran manusia mandapatkan tempat terhormat, di atas kepala. Ia menjadi
komandan karena aktif digunakan dan cermat memberi perintah. Seperti kata
pepatah ‘bukan kaki yang menggerakkan langkah kita, melainkan pikiranlah’,
Ayo, beranilah melakukan hal-hal yang sulit!
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Mengawali usahanya di bidang bordir
Tasik dengan modal Rp50 ribu dan satu
Mesin jahit, kini Atik Jumaeli mampu
membawa produk andalan usaha Dewì
Bordir memimpin pasar di kelasnya.
Bahkan dia mampu menggelar produk-
produk bordirnya di berbagai negara,
mulai dari Singapura hingga Rusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul
20.00. Kota Tasikmalaya sudah mulai sepi.
Hj. Siti Atikah Huzaemah Jumaeli, pemilik
usaha Dewi Bordir, sudah menutup tempat
usahanya yang terletak di Jalan
Panunggal No. 64, di samping Asrama Polisi
Bojong, Tasikmalaya. Namun malam itu Dewi
Bordir kedatangan tamu, seorang perempuan
dan laki-laki. Kepada perempuan yang lebih
dikenal sebagai Atik Jumaeli itu, sang tamu laki-
laki mengaku bernama Gam Aceh.
Menerima tamu pada malam hari, apalagi mengaku
bernama Gam Aceh, membuat Atik merasa kecut hatinya.
Atik baru merasa sedikit tenang ketika sang tamu
Mengaku sebagai pengusaha jasa pengiriman paket di
Jakarta. Tamu itu memberitahukan bahwa
dari pengalaman menjalani usahanya, nilai
pengiriman paket Dewi Bordir menduduki
tempat tertinggi sehingga hidung bisnis Gam
menuntunnya untuk melihat sendiri usaha Dewi Bordir.
Kepada Tuan Gam, Atik menjelaskan perihal
usahanya. Setelah melihat-lihat produk Dewi
Bordir, Tuan Gam memesan sepasang baju
bordir. Namun tak lama kemudian, Tuan Gam
menelepon seseorang dan memberikan kejutan
dengan memesan 500 pasang baju bordir serupa.
Konon, pemesanan itu berkaitan dengan sebuah
rencana pernikahan di Kerajaan Kelantan, Malaysia.
Atik terkejut bukan karena ia tak biasa menerima
banyak pesanan. Masalahnya, Tuan Gam meminta
pesanan itu selesai dalam waktu
satu setengah bulan. Apalagi Tuan Gam juga
langsung memberikan uang muka sebanyak Rp
120 juta yang dibayarkan dua kali. Total harga
untuk 500 pasang baju bordir itu Rp 360 juta.
“Sesudah tamu kami pulang, saya hanya
berpikir bagaimana cara mendapat bahan yang
cocok. Paginya saya bangun subuh, salat, dan
mengaji. Saya berdoa, memohon petunjuk untuk
bisa dapat bahan sutra nomor satu,” tutur Atik.
Selanjutnya hari-hari Atik dipenuhi oleh
usaha jungkir-balik untuk mendapatkan bahan
sutra organdi sesuai pesanan. Untuk
mendapatkan bahan itu Atik berpikir bahwa
Jakarta-lah tempatnya. Namun setelah berkeliling
Jakarta dengan susah payah dan keluar
masuk Pasar Majestik, Tanah Abang, serta Pasar
Baru, hasilnya nihil.
“Setelah empat hari berputar-putar di Jakarta
saya cuma bisa merasa kecewa dan sedih.
Beberapa kali ditilang polisi karena salah jalan.
Akhirnya saya pulang ke Tasik dengan menangis,
kecewa, dan bingung. Uang ini mau diapakan?”
kenangnya.
Sekembalinya ke Tasik, Atik mengontak
relasi bisnisnya di Pekalongan dengan harapan
bisa memberikan informasi. Tak sampai seminggu
datang kabar yang sedikit menghibur.
Atik dikenalkan pada seorang pemilik bahan.
“Alhamdulillah orangnya mau menerima. Tapi
masih ada masalah. Bahan untuk bawahan
belum ada. Saya harus pergi lagi ke Bandung
untuk mencari bahan bawahan,” tuturnya.
Di Bandung dia mendatangi enam pabrik.
Namun, hingga pabrik keenam Atik hanya
memperoleh informasi bahwa bahan itu harus
diimpor dari Cina. “Saya sedih sekali. Sudah
hampir sebulan waktu terbuang hanya untuk
mencari bahan tapi tetap nihil,” tutur Atik lagi.
Kejadian seperti di Bandung menimpa lagi
ketika Atik bergerak ke Majalaya. Rasa putus asa
mulai menghampirinya.
Lalu, dari salah satu pabrik, ada orang yang
Memberitahu bahwa bahan itu bisa dibuat dengan
cara menenun benang sutra yang dicampur
bahan sintetis. Atik langsung berbelanja benang
sutra kemudian menyerahkannya ke pabrik
tersebut untuk dibuat kain tenun. Akhirnya
bahan sutra pun jadilah. Tapi masalah baru
datang, pewarnaannya mengalami kegagalan.
Atik hampir menyerah.
Dalam kondisi hampir putus asa, Atik pergi
lagi ke Bandung untuk memesan bahan sutra
impor. Tapi Atik diminta menunggu satu bulan.
Mendengar jawaban itu Atik hanya bisa pasrah
sambil menunggu keajaiban. Ternyata keajaiban
itu benar-benar datang. Bahan itu datang.
Namun ia harus mewarnainya lebih dulu.
Jadilah selama seminggu dia hampir tak tidur
untuk mendapatkan warna yang pas. “Waktu
cuma tinggal sisa 11 hari. Pewarnaan perlu tiga
hari,” kenang Atik.
Akhirnya, bahan gulungan sepanjang
1.280 m hasil celupan itu bisa dibawa pulang
dan dikerjakan tanpa kenal waktu dan lelah.
Pekerjaan sangat berat dan sulit itu akhirnya
beres. Kurang satu hari dari waktu yang
ditentukan, Atik mampu membawa hasilnya
ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Tuan
Gam. Tetapi ujian belum berakhir juga. Sesampainya
di Jakarta “kejutan” muncul lagi. Tuan
Gam meminta tambahan 50 pasang lagi. Atik
pun menyanggupinya.
Anda mungkin deg-degan membaca cerita di
atas. Sudah kepepet waktu, uang sudah diterima,
bahan-bahan sulit dicari, sementara waktu berjalan
terus. Tetapi drama ini belum selesai.
Perjalanan dramatis untuk memberikan pelayanan
yang terbaik bagi pelanggan barunya
memang hampir berakhir. Setelah semuanya
beres, “kejutan” terakhir datang. Kali ini berkaitan
dengan hitung-hitungan hasil jerih payahnya
selama satu setengah bulan. Semula
dia menghitung keuntungannya bisa mencapai
Rp 80 juta. Namun di ujung hari, ternyata Atik
hanya memperoleh keuntungan Rp 20 juta
ditambah sisa baju. Apa reaksinya?
“Ya, saya merasa kecewa. Tapi saya tetap
merasa bersyukur karena bisa mengatasi tantangan
dan menjaga kredibilitas Dewi Bordir,”
tutur Atik mengakhiri kisah yang tak pernah dia
lupakan seumur hidupnya. Atik mengaku peristiwa itu
menjadi pembelajaran untuk ‘naik kelas’
di dunia usaha yang dia tekuni maupun hidupnya sebagai
pribadi.
JATUH BANGUN DARI TITIK “NOL”
Atik Jumaeli boleh jadi tak akan lulus menghadapi
“ujian” yang datang dari orang seperti
Tuan Gam, andai saja ia belum teruji. Perempuan
Tasik ini sudah kenyang dengan pengalaman
jatuh-bangun sejak memulai usahanya dari nol.
Atik merintis Dewi Bordir pada tahun 1991, ketika
suaminya, Jumaeli, masih aktif bertugas sebagai
polisi berpangkat inspektur satu di Poires
Tasikmalaya. Sebagaimana istri polisi pada umumnya,
Atik wajib menjadi anggota Bhayangkari, organisasi
istri Poiri. Saat itu Bhayangkari banyak
melakukan kegiatan bersama Dharma Pertiwi, organisasi
istri TNI. Salah satu program yang mereka jalankan
ialah kegiatan ekonomi produktif, di mana
para anggota Bhayangkari dan Dharma Pertiwi diberi
fasilitas permodalan dan alat kerja. Atik termasuk
anggota Bhayangkari yang menerima modal sebesar Rp 50 ribu
dan satu unit mesin jahit untuk usaha kain bordir.
Usaha ini menjadi pilihan karena Tasik dikenal
sebagai kota industri kerajinan kain bordir.
Bahkan bordir telah menjadi salah satu identitas
masyarakat Tasik, selain anyaman mendong.
Hasil laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya
dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI
menunjukkan bahwa industri kain bordir di Tasik terus
memperlihatkan perkembangan yang signifikan,
bahkan ketika Indonesia mengalami krisis
ekonomi tahun 1997 hingga selepas tahun
2000. Dari delapan kecamatan yang ada di
Tasik, empat di antaranya bergerak di bidang
usaha pembuatan kain bordir, yaitu Cibeureum,
Cipedes, Mangkubumi, dan Kawalu.
Pada tahun 2005, terdapat setidaknya 1.092
unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin.
Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah
yang memiliki pelaku usaha kerajinan bordir
paling banyak, yaitu 87,7 persen dari total perajin
bordir di Tasik. Di kecamatan ini, terutama di
Desa Tegalsari, terdapat banyak pengusaha kain
bordir berskala besar seperti Thratex, Purnama,
Ciwulan, Haryati, dan Bunga Tanjung. Total
produksinya mencapai 7,2 juta potong per tahun.
Nilai produksi bordir di Tasik telah mencapai
angka lebih dari Rp 500 miliar dan mampu
menyerap ribuan tenaga kerja.
Pada dekade 1990-an ketika Atik memulai
usahanya, produk bordir Tasik telah jauh berkembang
dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Saat itu
produk bordir didominasi oleh busana muslim, termasuk
baju garnis, mukena, jilbab, baju koko, dan kopiah.
Jauh sebelumnya, yakni pada dekade 1960-an, jenis bordir
yang dihasilkan hanyalah kebaya dan pakaian tradisional
Cina karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan
etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an, setelah mesin
bordir bertenaga listrik muncul di Tasik, jenis produk
bordir yang dihasilkan pun meluas ke jenis kain untuk
interior ruangan (home interior), seperti seprai,
taplak meja, gorden, dan lain-lain. Namun
pada dekade 1980-an jenis kain bordir yang
diproduksi mulai bergeser ke busana muslim
yang kemudian berkembang hingga kini.
Ketika mulai merintis usahanya itu, Atik
belum pernah menjalani satu jenis usaha pun.
Sebelum menikah dengan Jumaeli, Atik adalah
karyawan sebuah kantor konsultan hukum.
Namun Atik bukan pribadi yang asing dengan
dunia jahit-menjahit. Anak kelima dari 10 bersaudara
H. Saun dan Hj. Sitj Huzaemah ini tumbuh dalam keluarga
penjahit pakaian wanita. Ibunya dikenal sebagai penjahit
kebaya di Cikalong, Tasik. Selain itu Atik sendiri
pernah mengambil kursus menjahit selama 6 bulan di
tempat kursus ‘Abadi’ di Tasik.
Meski demikian, Atik mampu mengembangkan kemampuannya
menjadi sesuatu yang menghasilkan bermodalkan
kemauan bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif.
Karakter-karakter seperti itu merupakan modal
penting bagi mereka yang ingin terjun di
bidang kerajinan. Selain itu, yang tak kalah
pentingnya adalah intuisi bisnis yang tajam
dalam menangkap pasar. “Usaha kerajinan bordir
memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun,
dan kreatif. Orang-orang seperti itulah
khususnya kaum perempuan, yang membuat Tasik dikenal
sebagai kota bordir,” katanya. Sejumlah sumber menyebutkan
bahwa dari tangan orang-orang seperti itulah, lahir kain
bordir bermotif alam, terutama flora, yang indah dan
menjadi ciri bordir Tasik.
Sadar sebagai pemula, Atik menjalani usahanya dengan sabar
dan tekun hingga tahun pertama usahanya
terlewati. Memasuki tahun kedua, Atik terus
bergerak perlahan namun pasti, sementara para
koleganya yang dulu sama-sama memperoleh
modal seperti dirinya mulai berguguran. Selepas
tahun kedua, perjalanan usaha Atik semakin mantap.
Pada tahun 1996, Atik ingin Dewi Bordir
memiliki badan hukum. Lahirlah kemudian CV
Dewi Nugraha. Atik juga mendapatkan suntikan
modal dari hasil arisan sebesar Rp 500 ribu.
Dana itu dia gunakan untuk membayar uang
muka mesin jahit baru merek Zuki seharga Rp
3,5 juta. Sisa utangnya dilunasi dengan mencicil.
Namun perjalanan usaha Dewi Bordir
tidak selalu mulus. Pada tahun 1997 usaha ini
pernah jatuh. Ketika itu, Dewi Bordir menerima
pesanan 1.000 lusin tatakan dan tutup gelas
senilai Rp 67 juta. Tetapi krisis ekonomi yang
meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan
uang hasil pesanan tersebut tak tertagih. Kondisi
Dewi Bordir pun sempat terganggu.
Hal serupa juga terjadi pada 2007, ketika
Dewi Bordir menerima pesanan busana bordir
sebanyak 400 pasang untuk dikirim ke Brunei.
Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang
namun hanya 400 pasang saja yang dibayar
sehingga Dewi Bordir tekor hingga Rp 45 juta.
Nasib nahas lainnya juga harus menimpa
Dewi Bordir. Suatu hari karyawan Dewi Bordir
menerima pengembalian barang yang sudah
dibeli orang. Namun setelah dibuka dan diteliti,
ternyata yang dikembalikan itu bukanlah produk
Dewi Bordir. “Dewi Bordir ketiban nahas akibat
kelakuan yang enggak sehat dari orang lain,” ujarnya.
Selain itu Dewi Bordirjuga pernah melakukan
kesalahan pengukuran ketika mendapatkan
pesanan baju koko sebanyak 20 kodi sehingga
harus menanggung semua kerugian. “Pernah
juga kami kena provokasi yang menyebut produk
kami mahal,” kata Dewi mengenang berbagai
peristiwa yang menimpa Dewi Bordir.
Sebagai lembaga bisnis dengan 30 orang
karyawan dan lebih banyak lagi karyawan
musiman pada saat pesanan meningkat, Dewi
Bordir tak luput dari gesekan internal. Umumnya
gesekan terjadi karena keluarga atau para
karyawan yang terlibat dalam bidang produksi
saling bersikukuh bertahan dengan tren yang
akan dilansir.
“Saya tipe orang yang suka bereksperimen
memasukkan produk-produk nonkonvensional
dan mencoba bertahan dengan sikap saya.
Mungkin itu yang sering menimbulkan gesekan,
baik dengan keluarga maupun karyawan,” katanya.
Namun Atik Jumaeli meyakinkan bahwa
setiap Dewi Bordir menghadapi masalah dari
luar, hal pertama yang mereka lakukan adalah
berusaha tidak panik dan saling menyalahkan.
“Kuncinya sadar dan sabar. Lalu bersama-sama
mencari penyebabnya dan bersama-sama juga
mencari jalan keluar,” katanya.
MENGELOLA SUMBER DAYA MANUSA
Sebagaimana dunia usaha bordir di Tasik pada
umumnya, Dewi Bordir juga harus menghadapi
masalah dari dalam berupa masalah tenaga
kerja. Walau mesin bordir dan mesin jahit
yang digunakan belum mengalami pembaruan
teknologi, tetapi pelatihan menggunakan
mesin tersebut tetap harus dilakukan pada
karyawan baru. “Tergantung, kalau karyawan
sudah memiliki pengetahuan cukup tentang menjahit,
maka gampang dilatih. Tetapi karyawan yang masih
baru sama sekali, memang agak
sedikit sulit,” jelas Atik.
Upah tenaga kerja berpengalaman di industri
bordir di Tasik mencapai Rp 1,2 juta
per bulan. Sementara UMR di Tasik hanya sebesar
Rp 680 ribu per bulan. Oleh sebab itu
mudah dijumpai karyawan yang keluar-masuk. “Kami
sadar bahwa di dunia bordir karyawan mudah
sekali keluar masuk. Dewi Bordir tidak
sendirian,” kata Atik seraya menduga banyak pengusaha
bordir tidak membuat kontrak kerja dengan karyawannya.
“Mungkin karena usaha bordir masih luas,” Atik
Menambahi keterangannya.
Untuk membuat orang merasa kerasan bekerja di Dewi
Bordir, Atik membangun pola hubungan kerja yang
manusiawi dan berusaha memberikan lebih kepada
karyawannya. Selain upah yang lebih tinggi dari UMR,
Atik memberikan insentif bagi mereka yang bekerja lebih.
Atik juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang
ingin mandiri. Dari 30 karyawannya, ada tujuh orang yang
telah mandiri. Atik merasa bangga kepada mereka karena
pola pikir mereka memang melebihi dirinya. “Karena itu
saya sangat mendukung mereka. Malah saya mendorong mereka
untuk berani mengajukan bantuan modal ke bank bjb. Saya
katakan ‘Ibu jadi jaminannya’,” ujar Atik bangga.
Dengan cara tersebut Atik yakin bahwa hubungan Dewi Bordir
dengan mantan karyawan akan tetap terjaga. Apalagi di dunia
bordir situasi saling membutuhkan memang sangat tinggi.
Dewi Bordir akhirnya membuat anak usaha berupa lembaga
kursus atau pelatihan membordir, khusus bagi kaum muda Tasik.
Lembaga ini didirikan demi tersedianya sumber daya manusia
atau tenaga terampil di bidang bordir yang dapat diandalkan
untuk masa depan. Tempat kursus ini berada di bawah CV Dewi
Nugraha, badan hukum yang menaungi usaha Dewi Bordir.
Kegiatan kursus di Dewi Bordir ini dibagi menjadi dua kelas,
yakni kelas besar dan kecil. Kelas besar berisi 75 peserta setiap
angkatan dengan masa kursus selama tiga bulan. Dalam satu
tahun Dewi Bordir mampu menyelenggarakan tiga kali pelatihan.
Sedang kelas kecil terdiri dari 20 peserta dengan
masa kursus satu bulan. “Tempat kursus ini kami dirikan untuk
mendidik generasi muda agar mereka punya
kemampuan membordir sekaligus menciptakan
generasi penerus seni bordir Tasik. Ini juga
untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Atik.
Melalui lembaga pelatihan ini Atik bersama
keluarga dan karyawan Dewi Bordir membuktikan bahwa
mereka benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia
yang andal di bidang bordir sehingga masyarakat dan
pemerintah pun memercayainya. Hal itu terlihat pada
banyaknya peserta kursus serta kepercayaan
yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Tasikmalaya, juga beberapa BUMN untuk menjalin
kerjasama dengan CV Dewi Nugraha. Dalam kerja sama ini
instansi atau perusahaan menyediakan dana, sementara
Dewi Bordir bertanggung jawab atas proses pelatihannya.
Program ini sebenarnya merupakan beasiswa
bagi anak-anak muda. Para siswa yang mengikuti program
ini tidak perlu membayar uang kursus. Sebaliknya,
mereka bahkan mendapat uang saku sebanyak Rp 30 ribu per hari.
Selama tiga bulan, mereka mengikuti tiga tingkat pelatihan,
yaitu: tingkat dasar, tingkat terampil, dan
tingkat mahir. Para siswa yang lulus umumnya
sudah siap ditampung oleh perusahaan-perusahaan
bordir yang membutuhkan. Perusahaan bordir kain yang
membutuhkan tenaga kerja pun hanya perlu menghubungi
Dewi Bordir. Dewi Bordir juga kerap menjadi tempat magang
atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi pelajar
SMK dan perguruan tinggi. Banyak sekolah dan
kampus mengirimkan anak didik atau mahasiswa
mereka agar bisa menjalani masa magang atau PKL di sini.
KEJELIAN MEMILIH PRODUK ANDALAN
Seraya menjalani usahanya, Atik menyempatkan
diri untuk meningkatkan berbagai keterampilan yang
menunjang bisnisnya. Dia rajin mengikuti pelatihan
pemasaran dan manajemen.
Di samping itu Atik juga terus mengasah bakat
menggambarnya yang sangat mendukung usahanya,
terutama dalam menciptakan desain barang-barang
yang akan diproduksi.
Secara sekilas tatakan dan tutup gelas bordir
berdiameter lima hingga delapan sentimeter
sebagai produk andalan Dewi Bordir tampak
sederhana. Namun Atik mencoba memberikan
nilai tambah, yakni sulam timbul. Selain itu
Atik juga menciptakan produk serupa berbahan
perca. Semua produknya tampil dengan motif
bunga atau bintang berwarna-warni.
Meskipun sederhana, tatakan dan tutup gelas
justru menjadi pemimpin pasar untuk seluruh
produk Dewi Bordir, bahkan produk serupa di
Tasik. Produk-produk ini juga membawa Tasik
memperoleh kebanggaan. Sebab, tatakan dan
tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu
produk UKM Tasik yang diekspor. Prestasi ini
menjadikan Dewi Bordir sebagai UKM yang
banyak memperoleh fasilitas dari pemerintah
atau lembaga lain.
Atik tentu bukan sosok yang naif. Ia tidak
ingin Dewi Bordir memenjarakan diri dengan
hanya memproduksi tatakan dan tutup gelas.
Dewi Bordir juga memproduksi produk bordir
lain yang diminta pasar seperti sarung bantal
termasuk untuk bantal kursi—taplak, tas,
batik, serta busana muslim dan kelengkapannya.
Bahkan Atik juga berhasil membawa Dewi
Bordir melahirkan produk busana yang kerap
tampil dalam acara peragaan busana, yaitu
busana muslim, busana resmi, dan busana
Sunda kontemporer. Saat ini Dewi Bordir
mampu memproduksi 500 baju bordir pesanan
hanya dalam waktu 2 bulan. Rentang waktu tersebut
sudah termasuk dari waktu perancangan,
mencari bahan, hingga waktu produksi.
Pengalaman menjalani usaha dari bawah
ternyata membuat intuisi bisnis Atik Jumaeli
terlatih membaca pasar. Hal ini melandasi Atik
saat memilih tatakan dan tutup gelas menjadi
produk andalan Dewi Bordir. Awalnya, Atik
memasarkan produk-produk tersebut pada
acara-acara arisan, bazar, dan pameran yang
melibatkan ibu-ibu anggota Bhayangkari dan
Dharma Pertiwi di Tasik. Setelah mulai di
kenal, Dewi Bordir tampil secara rutin pada
ajang serupa di Tasik maupun kota-kota lain di
Jawa Barat.
Pada tahun 2003, ketika produksi bordir di
Tasik telah mencapai angka Rp 300 miliar, Dewi
Bordir juga mengalami perkembangan. Pasarnya
bukan hanya ada di dunia arisan atau pameran,
melainkan pasar sesungguhnya. Kejelian menangkap
pasar dan cara memasarkan produk,
membuat Jakarta dan sejumlah kota lain mulai
mengenal produk Dewi Bordir.
KELUARGA DAN PENGEMBANGAN USAHA
Di balik sosok yang sukses selalu ada pendukung yang
hebat. Para pendukung itu pula yang selama ini
membuat Atik selalu merasa bersemangat
dan gigih dalam menjalani usahanya.
Jumaeli, suaminya, menurut Atik adalah sosok pendukung
yang hebat. Di luar tugasnya sebagai anggota Poires
Tasik, Jumaeli selalu siap memberikan bantuan dan dukungan
nyata yang dia perlukan. Demikian pula keempat anak
mereka, Budi Mulia, Dewi Fuji Fitriarti, Cecep Ibnu, dan
Jajang Nugraha. “Saya merasa menjadi lebih
bersemangat karena suami dan anak-anak sangat mendukung
usaha ini,” tuturnya. Budi, anak pertama, setelah lulus
kuliah banyak membantu di bidang pemasaran. Demikian
pula Dewi yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil Bandung.
“Bahkan saya dan bapaknya berharap mereka bisa bekerja
sama melanjutkan usaha ini menjadi lebih besar lagi,”
katanya.
Khusus tentang Budi, Atik berterus terang
sangat memerlukan tenaganya, terutama saat
Atik harus mengikuti pameran di luar negeri.
Sebab sudah sejak beberapa tahun terakhir
Dewi Bordir kerap melakukan pameran di luar
negeri. Bahkan, untuk beberapa negara pameran
telah berlangsung secara rutin. Di Malaysia,
misalnya, Dewi Bordir telah melakukan pameran
sebanyak lima kali, di Singapura sudah
berlangsung tiga kali, di Brunei dua kali, dan di
Dubai sekali.
Pada April 2011 Atik melakukan pameran
lagi ke sejumlah negara, yakni Arab Saudi,
Jerman, dan Rusia. “Jadi meskipun hanya
tatakan dan tutup gelas, produk Dewi Bordir
sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri.
Malah sebagian sudah menetap di luar negeri,”
katanya berseloroh.
Karena kinerjanya itu pula, pada tahun
2006 usaha ini terpilih sebagai salah satu
UKM yang mendapatkan fasilitas permodalan
dari bank bjb. Meskipun enggan menyebutkan
jumlahnya, Atik mengakui dana tersebut ikut
membantu usahanya lebih berkembang dan
mampu membayar pinjaman dengan disiplin.
Adapun cara pembayarannya pertama adalah
dengan selalu membayar bunga pinjaman setiap
bulannya. Sementara pembayaran pinjamannya
dilakukan ketika mendapatkan untung dari pesanan besar.
Dewi Bordir sempat memperoleh pinjaman
modal lagi. “Tapi selanjutnya kami tak ingin di
pinjami lagi karena sudah punya modal sendiri
dari usaha yang ada,” ujar Atik. Kedisiplinan
adalah kunci lancarnya pembayaran pinjaman
Atik ke bank.
Dengan dukungan keluarga dan karyawan, Atik
juga telah mengantar Dewi Bordir
menerima sejumlah penghargaan sekaligus
kemudahan. Selain sering menerima fasilitas
pameran secara gratis, Dewi Bordir juga menerima
fasilitas berupa ruko di Asia Plaza, Jalan
Hajat Mustofa nomor 8, Tasikmalaya. “Saya sangat
menghargai tempat ini karena ini fasilitas yang
kami dapat setelah produk-produk Dewi Bordir
terpilih sebagai produk unggulan bordir Tasik,”
katanya.
Atik juga mengakui bahwa perhatian pemerintah
cukup membantu. Dewi Bordir sering
mendapatkan fasilitas pameran, baik di tingkat
lokal, nasional, maupun internasional. Selain
pameran, Presiden pada masa itu, Megawati
Sukarnoputri, memberikan penghargaan berupa fasilitas
HAKI pada produk Dewi Bordir yang telah mampu
memproduksi barang yang memiliki nilai tradisional
khas Indonesia. Dari usaha kerasnya dan berhasil
mendapatkan penghargaan itu, omzet yang dicapai
Dewi Bordir mencapai sekitar Rp loo juta per
bulan atau lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Dan,
dari omzet tersebut Atik meraih keuntungan
bersih sebesar 20 persennya.
MENYIAPKAN PASAR KE DEPAN
Pengalaman mengelola usaha selama bertahun-
tahun dan kejelian Atik Jumaeli membaca pasar
telah membawa Dewi Bordir pada posisi harus
mampu memilih segmen pasar yang tepat.
Menurut Atik, Dewi Bordir sedang merintis
jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah
ke atas. Alasannya, “Di segmen ini kondisinya
lebih stabil,” katanya.
Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen
ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-
hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan.
Selain itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-
desain baru yang sesuai dengan tuntutan pasar.
“Untuk tahu pasar kami mencari informasi dari
internet atau majalah,” ujarnya.
Namun Atik juga berusaha profesional dan
memegang etika usaha. Dalam membuat desain,
misalnya, Dewi Bordir tidak mau menjiplak
karya orang lain. “Kalaupun terpaksa harus
mengikuti tuntutan pasar, kami melakukan
modifikasi atas tren yang sudah ada,” tuturnya.
Terkait bahan-bahan yang diperlukan, pada
umumnya usaha kerajinan bordir di Tasik jarang
mengalami kendala. Bahan dasar yang banyak
digunakan dalam usaha bordir di wilayah ini
ialah sutra. “Untuk bahan dasar, selama ini
masih bisa didapat dengan mudah,” ujar Atik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya
menyebutkan bahwa untuk bahan baku
kain dan benang bordir, para pengusaha memperolehnya
dari sejumlah pabrik yang ada di
Bandung, Jepara, dan Pekalongan. Sebagian besar
menggunakan produk lokal, hanya sebagian
kecil yang diimpor dari negara lain.
Namun menurut Atik, jika pengusaha bordir
menerima pesanan mendadak dalam jumlah
besar, sementara bahan tidak mudah didapat di
Indonesia, maka mereka jelas kelabakan. “Jangan
sampai para pengusaha bordir menghadapi
masalah yang pernah saya alami. Cukup saya
saja yang menghadapi pengalaman seperti itu,”
katanya merujuk pada pesanan Tuan Gam yang
membuatnya kalang-kabut karena bahannya
sukar dicari di Indonesia.
Untuk urusan pemasaran dan promosi, Dewi
Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan.
Selain mempertahankan promosi dan mulut ke
mulut melalui ajang arisan, bazar, dan pameran,
Atik juga menempuh cara pemasaran yang
lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik
pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke
Jakarta dan beberapa kota lain. Sentra-sentra
pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang
dan Cipulir adalah sasaran mereka.
Namun, menurut data Dinas Perindustrian
dan Perdagangan, pengusaha bordir yang sudah
terkenal tidak perlu memasarkan sendiri karena
pemesan datang sendiri ke tempat usaha mereka.
Sebagian besar kain bordir mereka diborong oleh
para distributor, yang kemudian menjualnya
kembali ke kota-kota lain. Distributor juga
bertindak sebagai agen pengekspor kain bordir
ke negara-negara lain seperti Malaysia, Arab
Saudi, Brunei Darussalam, dan Yordania.
Para pengusaha kain bordir di Tasik juga telah
mendirikan organisasi Gabungan Pengusaha
Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA). Di samping
membantu permodalan, organisasi ini juga bertujuan
membantu anggotanya mencari strategi
agar tercipta jaringan pemasaran produk.
GAPEBTA telah berhasil mencarikan kios-kios
bagi anggotanya untuk berjualan di berbagai
kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan
Yogyakarta. Khusus untuk Jakarta, kios-kios
pengusaha dari Tasik dapat ditemui di Pasar
Tanah Abang. GAPEBTA memiliki anggota
hingga 8oo orang pengusaha kain bordir, dan
lebih dari separuhnya memiliki kios-kios di
kota-kota besar.
Namun Atik juga punya keyakinan bahwa
barang yang berkualitas selalu punya jalannya
sendiri untuk mencapai sasarannya. Oleh sebab
itu, selain terus berusaha memperluas pasar,
Atik juga sangat menjaga kualitas produknya.
Dengan sikap seperti itu, pasar Dewi Bordir terus
meningkat, dari lokal ke nasional, dan akhirnya
internasional.
Meskipun demikian, Atik tidak ingin semua
awak Dewi Bordir, termasuk dirinya, berleha-
leha. Mereka mulai belajar memanfaatkan
teknologi internet untuk mencari informasi dan
peluang memasarkan produk-produknya. Namun
sarana ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dewi Bordir, misalnya, belum memiliki situs khusus.
Pada awal 2011 Atik merintis pembukaan
cabang Dewi Bordir di Season City, Jakarta
Barat, dengan tujuan membawa usaha ini
lebih profesional. Namun, seperti kata pepatah
‘setiap permulaan selalu sulit’, maka tampaknya
sampai saat ini dewi fortuna belum berpihak
pada Dewi Bordir. Karena masih sepinya mall
baru tersebut, Dewi Bordir mengalami kerugian,
sehingga cabang tersebut harus ditutup. Meski
demikian, kejadian tersebut tidak membuat
Atik putus asa. Ia masih memiliki satu cabang
lainnya di UKM Gallery, Smesco, Jakarta. Untuk
menjaga agar pasar tetap mencarinya, Dewi
Bordir menyewa konsultan manajemen untuk
melakukan quality control.
“Saya ingin maju seperti Dewi Motik
Pramono (mantan Ketua Umum Ikatan Wanita
Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa
Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang
maju,” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah
Jumaeli mengakhiri kjsah perjalanan usaha
dan cita-citanya ke depan.
Catatan Rhenald Kasali
Salah satu syarat bagi pengusaha UMKM untuk naik kelas adaiah ‘berani dan
mau melakukan hal-hal yang sulit’. Anda mungkin masih ingat penstiwa
manusia yang mendarat di bulan pada 1969. Saat itu terbang ke bulan
suatu keniscayaan, tetapi di bawah J F Kennedy, Amerika Serikat berhasil
melakukannya.
Dalam suatu ceramah di Texas, Kennedy menjelaskan, “Ketika bangsa-bangsa
lain mengembangkan teknologi untuk mendaratkan manusia ka puncak gunung,
Kita justru memilih teknologi untuk mendaratkan manusia ke bulan. Mengapa
ke bulan? Jawabnya adalah karena pertama kita tidak ingin dilihat oleh
Rusia dari atas bumi kita dan kedua karena ini tidak mudah. Kita memilih
terbang ke bulan bukan karena mudah dan hanya bangsa yang mau
melakukan hal-hal yang sulit itulah yang akan menjadi bangsa yang hebat.”
Saya membuka kisah naik kelas Atik Jumaeli dengan keberaniannya menerima
order yang sulit sekali untuk ia penuhi. Orang-orang yang mengambil risiko
seperti ini adalah crang-orang yang mau bergerak dan mau berpikir.
Saya pikir orang-orang lain yang mendengar keluhannya akan mengatakan
‘Gila! Berani amat, sih mengambil risiko?”
Mayoritas manusia memang hanya mengambil langkah-langkah yang gampang dan
tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Bahkan melakukan perjalanan ka luar
negeri pun harus bergerombol dan diantar orang yang sudah tahu lebih dulu.
Kalau sudah begitu, Anda jadi bisa duduk tenang yang artinya tak perlu
Berpikir. Santai.
Tapi Anda tak tahu banyak. Anda takut tersasar bukan? Kata Columbus “Orang-
orang yang tak berani kesasar tak akan pernah menemukan jalan baru.”
Demikianiah Atik Jumaeli naik kelas karena ia mau berpikir, rela kesasar
Tetapi ia menemukan cara-cara dan keberanian-keberanian baru. Bagi sebagian
orang, hal ini memang sangat meletihkan. Tetapi, itulah yang membuat
pikiran manusia mandapatkan tempat terhormat, di atas kepala. Ia menjadi
komandan karena aktif digunakan dan cermat memberi perintah. Seperti kata
pepatah ‘bukan kaki yang menggerakkan langkah kita, melainkan pikiranlah’,
Ayo, beranilah melakukan hal-hal yang sulit!
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)