Sania Sari, Tri Asayani, Ranityarani, Menyeimbangkan Bisnis dan Seni Batik
Hasan Batik Bandung adalah rumah
industri yang bergerak di bidang
produksi dan penjualan batik.
Memadukan kemampuan teknik, seni,
dan bisnis, Hasan Batik menawarkan
desain produk batik yang eksklusif dan
inovatif.
BATIK merupakan jenis kesenian yang
kompleks. Pasalnya, untuk menghasilkan
kain batik diperlukan teknik dan proses
khusus. Pada dasarnya proses membatik
dilakukan dengan cara melukis malam (lilin cair)
dengan menggunakan canting di atas sehelai kain.
Dalam literatur, teknik atau metode ini
dikenal sebagai wax-resist dyeing. Metode ini
ditempuh untuk mencegah pewarna menyebar
ke seluruh kain, sekaligus memperoleh desain
atau pola artistiknya. Selanjutnya kain tersebut
dicelup ke dalam pewarna tekstil untuk
mendapatkan warna yang diinginkan, lalu direndam
dalam larutan kimia panas untuk menghilangkan
lilin yang melekat. Setelah diulang
beberapa kali, barulah dapat diperoleh selembar
kain batik yang artistik.
Walau teknik membatik pada dasarnya sama,
motif atau corak batik yang dihasilkan setiap
daerah memiliki perbedaan. Corak itulah yang
menjadi identitas kebudayaan daerah asalnya.
Bandung, Jawa Barat, adalah daerah yang
memiliki keunikan corak batik tersendiri. Dan
sampai sekarang, para perajin dan pelaku usaha
batik tidak pernah menyerah mempromosikan
batik Bandung.
Jika batik Solo dan Yogyakarta lebih kental
dengan nuansa tradisional khas keraton, maka
batik Bandung lebih mencirikan masyarakat
kontemporer Indonesia. Corak batik Bandung
berakar pada kekayaan batik Nusantara yang
telah beradaptasi dengan budaya kontemporer
yang cenderung progresif dan modern. Batik
Bandung adalah produk budaya yang lahir
melalui proses pengembangan tak henti dari para
perajin dan seniman batik. Melalui proses
seperti itulah lahir kain batik dengan kekhasan
tersendiri: motif geometris dan abstrak. Selain
itu juga terdapat bentuk-bentuk khas daerah
Jawa Barat seperti, siluet angklung (alat musik
tradisional) atau kujang (senjata tradisional).
Salah satu perajin dan pelaku usaha batik
yang masih giat mengembangkan batik di
Bandung adalah keluarga Hasanudin. Di bawah
bendera CV Hasan Indonesia, keluarga
Hasanudin menjalani usaha batik dengan merek
Hasan Batik Bandung. Hasan Batik Bandung
menyatakan diri sebagai rumah industri yang
bergerak di bidang produksi dan penjualan batik
tulis, batik cap, dan batik kombinasi.
KARYA SENIMAN AKADEMISI
Berbeda dengan sebagian besar usaha batik
yang dibangun oleh pedagang, Hasan Batik
didirikan tahun 1975 oleh Hasanudin (almarhum),
dosen Jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi
Bandung (ITB). Selain menjadi dosen,
Hasanudin telah lama menekuni pembuatan
batik sebagai karya seni. Spesialisasinya di
bidang desain tekstil menjadi kekuatan utama
Hasan Batik dalam mengembangkan batiknya.
Dilihat dari latar belakang keluarganya,
Hasanudin yang akrab disapa Hasan bukanlah
sosok yang tumbuh dari keluarga batik. Namun
sejak kuliah, Hasan sudah rajin mengeksplorasi
batik sebagai objek melukis di atas kanvas.
“Sejak kuliah Ayah memang suka membuat lukisan
batik. Ayah selalu memilih objek batik
sebagai tema yang kemudian dituangkan di atas
selembar kanvas,” kata Sania Sari, putri pertama
Hasan yang kini menjadi General Manager
Hasan Batik Bandung.
Proses yang dijalani Hasanudin dalam
mengembangkan hobinya terpatri di hati anak-
anaknya. Hasanudin memang menyukai batik
sejak dari kuliah, namun kemampuannya
semakin lengkap setelah dia menikah dengan
seorang wanita dari keluarga batik Pekalongan.
Sejak saat itu Hasanudin mulai mendalami batik.
Sebelum Hasan Batik didirikan, Hasan
mendirikan tempat belajar membatik di Jalan
Muararajeun, Bandung. Di tempat ini, Hasan
mengajarkan cara-cara mendesain batik sesuai
keinginan mereka. Sebagai seniman, Hasan
mengangkat tema tradisi dunia batik yang dapat
dikomersialkan.
Kegiatan ini ternyata mengundang minat
banyak orang, terutama warga negara asing yang
bekerja di Bandung dan Jakarta, bahkan
peminatnya banyak warga negara Jepang. Dari
peserta dan para pelanggan batiknya itulah
kemudian muncul nama Hasan Batik.
Sebagai unit usaha, sebenarnya Hasan Batik
baru dimulai pada tahun 1978. Saat itu, selain
memberikan les, Hasan mulai membangun
showroom kecil untuk menjual karya seni batik
ciptaannya. Sebagaimana peminat les batiknya,
peminat kain Hasan Batik juga kebanyakan
berasal dari Jepang. Mereka mendapatkan
informasi mengenai Hasan Batik dari mulut ke
mulut oleh para peserta les sebelumnya.
Sebagai seniman, Hasan juga mengalami
perkembangan dalam berkarya. Hal itu terbukti
dari banyaknya undangan untuk berpartisipasi
dalam berbagai pameran. Hasan mendesain
batik dengan mengeksploitasi berbagai ragam
hias seperti kawung, lereng, dan ceplok; ragam
hias geometris titik-titik, kotak-kotak, dan garis
garis; serta kombinasi antara keduanya. Salah
satu ragam hias ciptaan Hasan ialah batik tambal
dengan efek tiga dimensi yang menggunakan
proses cap, canting, colek, dan celup. “Dibantu
tenaga kerja berpengalaman, Hasan Batik selalu
mengutamakan kepuasan konsumen untuk
memperoleh batik yang mereka inginkan,” kata
Nia, nama panggilan Sania Sari.
Model usaha yang dikembangkan Hasan
Batik tersebut ternyata mendapatkan tempat di
masyarakat kelas menengah. Sambutan pasar
membawa usaha Hasan Batik mengalami masa-
masa kejayaan hingga tahun 1997. Produk Hasan
Batik pun berkembang pesat, dari kain batik dan
baju menjadi keperluan interior seperti tirai,
seprai, sarung bantal, hingga tatakan dan tutup
gelas. “Malah sejak tahun 1985 Hasan Batik
lebih banyak memproduksi produk-produk batik
untuk keperluan interior. Produk-produk seperti
itu sangat disukai konsumen,” kata Nia.
PASANG SURUT
Sejak tahun 1980-an, usaha yang berangkat
dari kegiatan berkesenian dan kursus batik
kontemporer ini secara bertahap memperlihatkan
perkembangan yang semakin membaik. Menurut
Nia, pendirian studio dan tempat produksi
benar-benar menjadi infrastruktur usaha yang
sangat mendukung. Sebab, setelah studio dan
tempat produksi berdiri, produktivitas Hasan
Batik mengalami peningkatan yang sangat
pesat. Sampai-sampai Hasan Batik harus
memindahkan tempat produksinya dari daerah
Muararajeun ke daerah Cigadung Raya di
Bandung Timur. Produktivitas Hasan Batik
mencapai puncaknya pada 1990-an.
Namun, kejayaan ini harus berakhir ketika
perekonomian Indonesia menghadapi masa-
masa suram. Krisis moneter tahun 1997 yang
meluluhlantakkan hampir setiap sektor
perindustrian Indonesia juga berdampak buruk
pada usaha Hasan Batik yang sangat diminati
orang-orang asing.
Krisis moneter tersebut menyebabkan penurunan
jumlah warga negara asing di Indonesia
sehingga Hasan Batik kehilangan pasar
terbesarnya. Namun, bukan hanya dari sisi
eksternal. Tahun 1997 Hasan Batik juga mengalami
keterpurukan dari sisi internal menghadapi
pembelotan karyawan-karyawan terampilnya.
Sebagian dari karyawannya keluar dan
mendirikan usaha batik sendiri. Mereka juga
mengambil para pelanggan tetap Hasan Batik.
“Kejadian berturut-turut seperti itu membuat
usaha kami menurun sampai 75 persen. Tahun
2000 adalah puncaknya. Kami menghadapi krisis
pemasaran,” kata Nia.
Rupanya nasib buruk yang menimpa Hasan
Batik belum berakhir di situ. Pada tahun itu
pula, si jago merah melahap rumah produksi
Hasan Batik, mengakibatkan semua koleksi
batik mereka habis terbakar. “Yang jelas kami
rugi besar,” kenang Sania, “Terlebih lagi,
sebagian besar karyawan andalan kami keluar.
Saat itu, tinggal lima orang saja yang masih
bertahan.” Jelas, tahun-tahun ini merupakan
periode suram setelah Hasan Batik mengalami
puncak kejayaannya dengan memiliki 20 orang
karyawan terampil.
Tahun 2006, kesulitan usaha Hasan Batik
semakin terasa ketika kondisi kesehatan Hasan
terlihat semakin menurun hingga akhirnya beliau
berpulang. Situasi ini memaksa ketiga putrinya,
Sania Sari, Tri Asayani (Yani), dan Ranityarani
(Rani) bergandengan menyelamatkan biduk
usaha Hasan Batik warisan ayah mereka.
Beruntung sebelum Hasan meninggal, Nia dan adik-
adiknya mendapatkan informasi tentang adanya
fasilitas dari bank bjb untuk kalangan UKM
(Usaha Kecil dan Menengah). Meski tidak besar,
mereka pun berhasil mendapatkan pinjaman
modal sebesar Rp 10 juta.
Ternyata untuk urusan pinjam modal dari
bank ini, ketiga putri Hasan memiliki
kemampuan tinggi untuk mengelolanya. Mereka sangat
disiplin dalam mengatur jadwal pembayaran
cicilan utang. Sikap ini menimbulkan kepercayaan
dan membuat bank bjb terus menaikkan
jumlah dana yang dipinjamkannya. “Fasilitas
modal seperti ini sangat menolong kami. Boleh
dibilang produksi kami terus meningkat secara
perlahan,” tutur Nia.
Meningkatnya kembali produktivitas Hasan
Batik, diikuti kembali oleh peningkatan jumlah
karyawan. Pada April 2011 karyawan Hasan
Batik sudah bisa mencapai 20 orang lagi.
Sementara omzet per bulannya mencapai Rp 75
juta. Ditambah lagi, Nia dan adik-adiknya mulai
memperoleh informasi tentang adanya fasilitas
negara untuk mengikuti pameran di luar negeri.
Setelah persyaratan untuk pameran dipenuhi,
Hasan Batik seperti kembali ke kejayaan
pendirinya di masa lalu ketika almarhum Hasanudin
kerap menerima undangan berpameran di luar negeri.
MANAJEMEN USAHA UNTUK MERAIH MIMPI
Saat ini Nia dan adik-adiknyalah yang bertanggung
jawab atas perkembangan Hasan Batik.
Mereka semua mewarisi semangat Hasanudin
dan memiliki impian untuk membesarkan usaha
Hasan Batik hingga dikenal di negara lain.
Kini mereka menerapkan sistem yang berbeda
dengan yang diterapkan pendahulunya. Sistem
ini dibangun sebagai hasil pengamatan Yani,
adik Sania, ketika mengunjungi rumah industri
produk kain tradisional di Thailand. Di sana
Yani mempelajari bagaimana warga Thailand
mengembangkan usaha produk kain tradisional
dengan gaya modern. Setiap industri rumahan
di Thailand memiliki showroom. Bagian tersebut
berfungsi untuk memperlihatkan proses
pembuatan kain secara langsung kepada para
pelanggannya sekaligus sebagai tempat display
produknya. Inilah yang kemudian diterapkan
pada Hasan Batik.
Selain menerapkan model usaha baru, Nia dan
adik-adiknya berusaha membentuk pola manajemen
untuk mengembangkan Hasan Batik.
Hasan Batik lebih memilih untuk menerapkan
pembagian tugas yang jelas dibandingkan
menerapkan sistem manajemen yang kaku. Nia,
saat ini menjadi dosen di ITB, menangani bidang
manajemen. Yani, yang mendalami bidang seni,
menangani urusan desain. Sementara Rani,
memegang bidang produksi sekaligus mengembangkan
butik muslimah.
Namun keterlibatan keluarga dalam mengelola
Hasan Batik bukanlah sesuatu yang mudah.
Keuntungannya memiliki karyawan keluarga
sendiri adalah adanya rasa cinta, menghargai,
dan motivasi yang sama dalam memajukan
usaha berbasiskan seni. Tapi, kekurangannya
adalah mudahnya timbul perselisihan dan beda
pendapat. “Tapi alhamdulillah, kami masih
memiliki Mama yang selalu menjadi penengah
ketika kami berselisih,” jelas Yani sambil
tersenyum. Berkat adanya penengah, mereka mulai
belajar untuk bersikap terbuka terhadap perbedaan
pendapat. Sejauh ini, mereka belum mengalami
hambatan yang berarti mengenai sistem manajemen
mereka. Tampaknya manajemen mereka
yang serius tapi juga santai cocok dengan model
usaha Hasan Batik.
Selain keluarga sendiri, saat ini Hasan Batik
sudah memiliki 23 orang pegawai. Sekitar
3-4 orang dari mereka merupakan tetangga
lingkungan sekitar, dan selebihnya direkomendasikan
oleh teman atau kenalan mereka. Saat ini Hasan Batik
sudah mempekerjakan karyawan profesional, namun baru
terbatas pada bidang seni rupa untuk desain batik.
Sementara untuk bidang lainnya, Yani mengaku belum
Berniat mempekerjakan karyawan profesional, karena
merasa Hasan Batik masih belum mapan secara finansial.
Tidak mempekerjakan karyawan profesional, bukan
berarti Hasan Batik tidak memiliki pekerja yang terampil.
Karena demi meningkatkan keterampilan para pekerjanya,
beberapa kali Nia dan adik-adiknya mengadakan pelatihan
bagi para karyawan. Agar tidak membebankan perusahaan,
Nia dan adik-adiknya mengupayakan pelatihan yang bebas
biaya. Sekitar tahun 2008 Hasan Batik pernah mendapatkan
pelatihan mengenai tren jenis kain dari perusahaan Amerika
yang didatangkan oleh instansi pemerintah.
Kebetulan, instansi pemerintah tersebut memilih mereka untuk
menerima pelatihan. Saat ini, Nia juga sedang menjalani pelatihan
mengenai tren batik tahun 2012-2013.
Namun, Nia juga mengaku saat ini Hasan Batik tengah
menghadapi tantangan yang tidak ringan. Beberapa pegawai
mereka sempat memutuskan untuk cuti, bahkan meninggalkan
Hasan Batik, meskipun ada beberapa orang
yang datang kembali. Hal ini mengakibatkan Yani dan
saudara-saudaranya memutuskan untuk menaikkan gaji
karyawan dan mengubah sistem kesejahteraan karyawan agar
mereka lebih nyaman bekerja pada Hasan Batik.
Setelah mampu memperbaiki sistem manajemennya, Nia dan
adik-adiknya juga melakukan perbaikan sistem administrasi.
Mereka menerapkan sistem komputerisasi agar data penjualan,
pembelian kain, dan lain sebagainya dapat terdata dengan baik.
Selain itu, sistem komputerisasi juga dipergunakan untuk
mempermudah pembuatan desain batik.
Di bidang marketing, Hasan Batik pun tak mungkin mengelak
dari perkembangan zaman. Kini Hasan Batik memiliki situs
www.hasanbatik.co.id sebagai sarana promosi, agar dapat
memberi kemudahan bagi para pelanggannya
untuk mengetahui produk terbaru dan adanya
promosi khusus. Demi menjaga kelangsungan
promosi dan pembelian melalui situs tersebut,
Hasan Batik mempekerjakan karyawan tersendiri
untuk mengurusnya.
Sistem promosi melalui internet terbukti cukup
efektif dalam menyampaikan informasi terkini.
Pada Maret 2011 lalu, di hari kelahiran pendirinya,
Hasan Batik memberikan diskon sebesar 20 persen
untuk produk baru dan 50 persen untuk produk
yang lebih lama. Melalui promosi ini Hasan Batik
semakin dikenal masyarakat.
Selain melalui internet, pada tahun 2006
mereka meluncurkan produk baru dengan
showroom khusus. Produk baru Hasan Batik
adalah baju batik untuk anak-anak berusia
1 hingga 11 tahun, yang diberi nama ‘Little
Asahyani Batik’. Dengan produk baru ini, pasar
yang dituju oleh Hasan Batik akan semakin luas.
Menurut rencana, Hasan Batik akan membuka
showroom yang lebih besar demi mewujudkan
cita-cita Hasanundin. “Saya ingin
membuat showroom yang lebih besar, sehingga
bisa memuat produk lebih banyak pula. Sehingga
akhirnya akan datang banyak konsumen,” jelas
Yani. Hasan Batik ingin agar para pelanggan
dapat berkunjung melihat proses pembuatan
batik sampai berada di showroom. Saat ini
pelanggan sudah bisa melakukan hal tersebut,
tetapi jumlahnya tidak begitu banyak dan tidak
rutin. Yani ingin agar para pelanggan Hasan
Batik dapat secara langsung melihat proses
pembuatan, karena dengan cara demikian
diharapkan para pelanggannya akan lebih
tergerak untuk berbelanja. “Saya berharap
kunjungan tersebut dapat dilakukan rutin setiap
hari agar suasana di sini lebih hidup,” ujar Yani
mengenai impiannya akan Hasan Batik.
Catatan Rhenald Kasali
BOUNCE! MEMBAL, BEGITULAH hukum keberhasi1an. Usaha tìdak selalu bergerak
ka atas namun kalau jatuh ke bawah, janganlah mudah pecah segeralah kembali
Bacaan di atas mengajarkan kepada kita bahwa memulai usaha bukanlah hal
yang sulit. Namun meneruskannya dan membuatnys lebih maju ternyata tak
semudah memulainya. Apalagi bagi usaha yang berbasiskan seni dan
pengetahuan. Lain di sekolah lain pula keadaannya di lapangan.
Dari pelajaran yang dialami para penerus Hasan Batik Anda mungkin akan
mengatakan dibutuhkan keuletan untuk menjadi pengusaha. Ya, betul Keuletan.
Tetapi apakah keuletan itu? Keuletan adalah tahan banting dan membal
kembali.
Anda baca sendiri bagaimana bisnis kecil ini dicintai orang-orang asing
tetapi hilang begitu saja saat terjadi krisis moneter. Lalu mundur sejalan
dengan kemunduran kesehatan tokoh kuncinya, terbakar dan ditinggalkan
karyawan-karyawan andalannya yang pergi bersama pelanggan-pelanggan
setianya.
Untuk bangkit kembali Anda butuh kemembalan. Anda butuh visi baru dan
tenaga yang kuat untuk melompat kembali ka atas. Orang-orang yang pernah
mengalaminya pasti tahu hukum ini. Anda hanya bisa membal kembali
kalau sudah menyentuh karang yang ada di dasar laut. Bukan di udara. Jadi
sentuhlah kesulitan yang paling dasar sampai ia membukakan mata Anda dan
otomatis memberi Anda tenaga baru untuk kembali. Maka keluarlah
dari lingkaran setan kesulitan dengan melakukan kunjungan ka mana saja,
sampai Anda menemukan visi baru itu. Anak-anak yang mau keluar dari
kesulitan pasti akan menemukan pintunya. Itulah yang Anda pelajari dari
bangkitnya Hasan Batik.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Sunday, April 14, 2013
Ronald Sinaga, Mantan Direktur Sebuah Bank yang Resign dan Kini Sukses Lewat Peternakan Sapi Perah
Ronald H. Sinaga, Menggulirkan Revolusi Susu
Gila! Itulah kata yang hampir pasti
akan dilontarkan orang jika ada
seseorang yang nekat melepas profesi
terhormat berpenghasilan tinggi lalu
memilih tinggal di “kandang” sapi.
Tetapi Ronald H. Sinaga, justru memilih
langkah “gila” itu: melepas dasinya
sebagai bankir lalu menjadi peternak
sapi perah.
KAMPUNG Papakmangu di Desa Cibodas,
Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung,
Jawa Barat, siang hari itu terlihat
berbeda daripada hari lainnya. Ratusan warga
tumpah ruah di halaman Sekretariat Kelompok
Peternak Sapi Perah Pasirjambu Ciwidey (KPPC)
Cipta Pratama. Mereka mengantarkan anak atau
anggota keluarga yang akan mengikuti khitanan
massal, pengobatan gratis, dan pembagian bingkisan.
Pengelola KPPC menjelaskan, kegiatan sosial
itu adaiah ungkapan syukur atas keberadaan
mereka sebagai perusahaan yang bergerak di
bidang peternakan sapi perah di Papakmangu.
Mereka ingin berbagi rezeki kepada warga yang
telah menerima kehadiran mereka.
Menurut ketua KPPC Cipta Pratama, Ronald
H. Sinaga, kegiatan tersebut merupakan momen
penting untuk meningkatkan rasa kebersamaan
antar peternak dan antara masyarakat dengan
KPPC. Apalagi KPPC tengah berupaya meningkatkan
kinerja mereka dan kesejahteraan peternak.
“Masih banyak peternak yang perlu didorong
untuk bergabung, selain itu kegiatan seperti ini
menjadi momen yang tepat untuk menyentuh
para peternak sapi yang nakal. Sebab masih ada
peternak yang sengaja menambahkan air pada
susu,” kata Ronald.
Ronald menekankan pentingnya kebersamaan bagi
para peternak sapi. Selain menjadi
media untuk saling belajar, kebersamaan merupakan
cara yang sangat efektif untuk saling
mengingatkan dan mengontrol. Lewat kebersamaan,
lanjut Ronald, para peternak bisa
saling membantu dan menguatkan, terutama ketika
menghadapi berbagai kendala usaha. Khususnya
kendala yang datang dari luar, seperti
perilaku kartel susu yang sangat merugikan.
PERJALANAN USAHA
KPPC Cipta Pratama adalah kelompok usaha yang
menghimpun para pelaku usaha mikro dalam
bidang peternakan sapi perah di
Parongpong dan Cibodas. Selain bergerak di
bidang pemerahan susu, KPPC juga terlibat
dalam pembuatan pakan, penampungan dan
pendinginan susu, serta pembuatan sejumlah
produk turunan susu.
Para peternak sapi sebenarnya sudah bergabung
dengan KPPC sejak tahun 1998.
Umumnya mereka melakukan usaha ternaknya
secara tradisional. Tak banyak yang dilakukan
untuk menghadapi berbagai masalah seperti
meningkatkan kualitas sumber daya manusia,
permodalan, akses ke dunia perbankan, pemasaran,
serta kualitas ternak dan produk susu.
Baru setelah Ronald bergabung, tahun 2008,
sejumlah masalah ini mulai memperoleh jalan
keluar.
Saat ini, KPPC menampung 800 peternak sapi
perah yang memiliki 3.000-an ekor sapi. Terbagi
dalam 20-an kelompok, KPPC yang didukung
oleh 40-an karyawan ini mampu menghasilkan
susu segar sebanyak 23.000 hingga 25.000 liter
per hari. Sapi-sapi penghasil susu segar tersebut
merupakan bagian dari ribuan ekor sapi yang
berada pada fase laktasi.
KPPC memiliki dua pusat lokasi usaha, yakni
di Kampung Papakmangu, Cibodas, Pasirjambu,
Kabupaten Bandung dan Kampung Belapati,
Desa Parongpong, Bandung Barat. Namun,
sebenarnya para perternak sapi perah itu
tersebar di sejumlah lokasi, yakni Lembang,
Parongpong, Cisarua, dan Ciwidey.
Selain itu, KPPC juga memiliki empat unit
usaha yang tersebar di beberapa lokasi. Unit
usaha pertama berupa penampungan dan
pendinginan susu sapi segar yang berada di
Parongpong. Proses pendinginan menggunakan
PHE dengan kapasitas mencapai 3.000 liter per
jam. Sementara daya tampung dan pendinginan
susu mencapai 15.000 liter.
Unit usaha kedua berada di Ciwidey, berupa
pabrik pakan ternak. Unit usaha ini disertai
usaha penampungan dan pendinginan susu
segar, lengkap dengan unit pendinginan yang
memiliki daya tampung hingga 5.000 liter.
Unit usaha ketiga adalah unit usaha peternakan
sapi perah di Cibodas. Unit usaha ini juga
dilengkapi dengan pendinginan susu dengan
daya tampung 1.000 liter. Sedangkan unit usaha
keempat KPPC berada di Cisarua, berupa usaha
penampungan dan pendinginan susu.
“Selain itu, KPPC juga masih memiliki unit
usaha lain yang baru mulai tumbuh. Unit ini
menghasilkan produk turunan susu seperti
yoghurt, permen susu, dan dodol susu,” ujar
Ronald dengan bangga. Semua usaha yang
dilakukan KPPC ini mampu meraih omzet Rp
2 miliar setiap bulan. Dari total pendapatan itu
keuntungan bersih yang diraih KPPC mencapai
Rp 1,5 miliar per tahun.
Ronald berharap agar ke depannya KPPC
tidak hanya mampu menyalurkan susu segar,
tetapi juga mampu memproduksi produk susu
dengan merek sendiri. Produk susu yang di
maksud antara lain adalah susu segar siap minum,
yoghurt, dan es krim. “Kami punya ide
untuk membuat warung susu segar KPPC, dengan
membentuk koperasi sendiri. Namun,
masih terdapat keterbatasan dana dalam
mewujudkannya,” jelas Ronald. Hingga memasuki
pertengahan 2011, KPPC tengah berusaha
membawa usaha peternakan ini menjadi
penyedia sekaligus penyebar virus gemar susu
segar di masyarakat, terutama masyarakat
perkotaan di Indonesia.
DARI MENARA GADING KE KANDANG SAPI
Sebelumnya, peternakan sapi merupakan dunia
yang asing bagi Ronald. Tak pernah terbayangkan
sama sekali bahwa dalam perjalanan
hidupnya ia akan berurusan dengan “kandang
sapi”. Sebagai orang kota yang lebih banyak tinggal
di “menara gading”, hingga setahun sebelum
berkutat dengan usaha peternakan sapi, pria
kelahiran Palembang, 25 Desember 1963 ini belum
tahu sedikit pun tentang sapi.
Semua berawal tahun 2008. Saat itu, tak lama
setelah meninggalkan profesinya sebagai bankir
mapan yang telah dijalaninya 20 tahun, Ronald
mengunjungi sahabatnya di Missouri, Amerika
Serikat, yang bergerak di bidang peternakan sapi
perah. Di negeri itulah untuk kali pertama dalam
hidupnya ia mengenal usaha peternakan sapi perah.
“Saya memang baru mengenal dunia sapi
perah di tempat sahabat saya. Di negeri orang,
pula. Itu pun baru kulitnya. Pengetahuan saya
tentang usaha ini baru bertambah setelah rajin
membaca buku-buku tentang ternak sapi,
produk susu segar, dan produk turunannya,”
katanya.
Dalam sebuah buku yang sempat dibacanya,
Ronald menemukan informasi yang mengejutkan.
Suatu hasil studi menunjukkan adanya korelasi
yang meyakinkan antara negara-negara yang
berhasil menjadi peserta Piala Dunia Sepakbola FIFA
dengan jumlah volume susu yang dikonsumsi
penduduknya. Intinya, penduduk negara-negara yang
berhasil menjadi langganan peserta pesta olah
raga sepakbola kelas dunia itu konsumsi susunya
paling sedikit mencapai 30-50 liter per kapita per
tahun. Demikian juga negara-negara yang merajai
Olimpiade.
“Cina melakukan revolusi (minum) susu
pada tahun 1986. Tahun 2006 mereka juara
Olimpiade. Indonesia rata-rata baru 10 liter per
tahun. Itu pun 70 persennya bukan susu segar
tapi susu formula yang nutrisinya lebih rendah
dibanding susu segar dan bahannya diimpor dari
negara lain. Kita masih kalah dengan Vietnam
yang konsumsi susu segarnya sudah mencapai
11 liter per penduduk per tahun,” paparnya.
Ronald yang pernah menduduki jabatan tinggi
di sejumlah bank dan lembaga keuangan lain ini
kemudian melanjutkan penggaliannya tentang
dunia sapi perah.
Jenuh bekerja di lembaga keuangan yang
cukup bergengsi di Jakarta, Marketing &
Business Development Director itu memilih
jalan ekstrem. Dia meninggalkan Jakarta lalu
beternak sapi. Tahun 2009, penyandang gelar
S2 di bidang bisnis dari School of Business pada
University of the East Manila dan S1 Universitas
Advent Indonesia ini membeli 30 ekor sapi
secara bertahap.
Namun karena tak memiliki pengalaman,
Ronald langsung menghadapi sejumlah masalah.
Produk susu segar yang dihasilkan sapi-sapinya
mengecewakan. Sialnya lagi, pasar dikuasai oleh
kartel yang sangat merugikan peternak. Mereka
mengatur harga yang sangat rendah.
Ronald yang terlatih melakukan analisis
bisnis segera mencari tahu penyebabnya. Dia
menemukan bahwa rendahnya kuantitas maupun
kualitas produk susu sapinya bersumber
pada pakan sapi dan perawatannya. Ronald
mengaku bahwa dia hanya memberi pakan
sebagaimana peternak sapi lokal di sekitar
daerah usahanya. “Akibatnya, produk susunya
berkualitas rendah,” ujar Ronald menjelaskan.
Ronald pun bergerak mencari solusinya.
Setelah gagal dalam beberapa kali percobaan,
akhirnya Ronald berhasil membuat pakan sapi
yang tepat. Kuantitas dan kualitas susunya
meningkat signifikan, yakni sebesar 50 persen
dan secara bertahap menuju 100 persen.
Merasa berhasil, Ronald melangkah lebih
jauh. Dia membuat pabrik pakan sapi.
Rencananya, produk pakan ternaknya akan
ditawarkan kepada para peternak di sekitarnya.
Harapannya agar susu yang dihasilkan para
peternak meningkat kuantitas dan kualitasnya.
“Kalau produk susunya meningkat, penghasilan
peternak pasti akan ikut meningkat,” ujarnya.
Sayang, respons para peternak lokal tak
sesuai harapannya. Pasalnya, harga yang
ditawarkannya terlalu tinggi. Mereka tidak
memiliki cukup dana untuk membelinya. Ronald
kemudian memutar otak. Ia pun mencoba cara
lain. Menurut asumsinya, para peternak akan
bersedia membeli pakan buatannya jika produk
susu mereka juga dia beli. Ternyata benar,
predikat Ronald pun segera bertambah, yaitu
menjadi penampung susu.
Tak terlalu lama mencari, Ronald berhasil
mendapatkan pasar susu segarnya, yakni
PT Indolacto (dahulu bernama Indomilk).
Perusahaan susu formula ini bersedia menampung
susu segar KPPC hingga 25.000 liter
per hari. Setelah memperoleh pasar ini Ronald
merasa satu masalah di antara sejumlah
masalah yang dihadapinya mulai terpecahkan.
Dia juga merasa memperoleh isyarat
bahwa lambat atau cepat, berbagai masalah yang
dihadapi dunia usaha peternakan sapi
perah juga bisa dipecahkan.
MENYEBAR “VIRUS” KEMAJUAN
Meskipun berhasil menemukan pasar yang bagus
Untuk menyalurkan produk susu, Ronald menyadari
bahwa masalah yang dihadapi para peternak
lokal cukup rumit. Diantaranya ialah soal bibit sapi.
Selama ini peternak yang ingin memperoleh sperma sapi
harus mengeluarkan dana besar. “Saya katakan masalah
besar karena penghasilan peternak masih rendah, modal
mereka juga terbatas. Selain itu pendidikan mereka juga
tidak terlalu tinggi sementara semangat untuk tumbuh
menjadi peternak modern belum terbangun,” katanya.
Kedua, kebijakan pemerintah. Menurut Ronald,
bea masuk yang dikenakan terhadap susu impor
sangat rendah sehingga perusahaan susu formula di
Indonesia leluasa memproduksi susu formula
dengan harga murah. Dengan demikian, peternak sapi
perah lokal harus menghadapi masyarakat Indonesia yang
lebih mudah mengonsumsi susu formula daripada susu
segar.
Menghadapi berbagai masalah tersebut, Ronald kembali
memeras otaknya. Ia melihat bahwa sebagian peternak
lokal telah memiliki kelompok usaha bernama KPPC Cipta
Pratama. Ronald pun segera bergabung. Tujuannya agar
bisa melakukan berbagai kerja sama yang saling menguntungkan.
Dalam waktu sekitar 8 bulan Ronald dipercaya untuk
memimpin KPPC tersebut. Dua bulan kemudian, dengan
menambah investasi baru, Ronald mengambil alih KPPC
dari pengurus lama. Dengan investasi tersebut di
bentuklah unit pengolahan pakan ternak untuk
mengembangkan kelompok peternak sapi perah
di Desa Papakmanggu, Gambung, Pasirjambu,
Kabupaten Bandung.
Sejak saat itu, Ronald mulai menyebarkan
“virus” kemajuan. Namun untuk urusan ini
dia harus bekerja keras dan cepat. Maklumlah,
selain banyak peternak yang belum bersedia
bergabung, banyak anggota yang tidak siap
diajak ‘berjalan’ cepat.
“Pada umumnya peternak masih kerasan dengan
kebiasaan lama, seperti mencampurkan
air ke dalam susu sehingga kadar air pada susu
segar menjadi tinggi. Peternak seperti ini kami
sebut peternak nakal,” katanya.
Untuk menyadarkan peternak nakal, Ronald
menerapkan budaya yang hidup di kalangan
masyarakat Sunda, yaitu budaya malu. Dengan
budaya malu ini para peternak diajak
memberikan sanksi sosial terhadap peternak
yang tak jujur. Kalau ada yang ketahuan,
sanksinya harus dikucilkan.
“Sebaliknya, peternak yang berhasil menjaga
kualitas harus diberi penghargaan. Bagi
masyarakat pedesaan yang masih menjunjung budaya
malu, mengalami pengucilan adalah hal yang
menakutkan,” katanya.
Ternyata cara tersebut cukup ampuh dan
menguntungkan. KPPC bisa membangun mekanisme
kontrol. Dengan pendekatan kultural pula,
cara berorganisasi yang lebih modern mulai
ditanamkan.
“Sementara untuk meningkatkan kualitas
susu, KPPC menempuh jalan penyadaran akan
pentingnya kebersihan kandang pada saat proses
pemerahan,” kata Ronald.
Selain itu, KPPC juga terus berusaha menumbuhkan
kesadaran akan pentingnya menjaga
lingkungan, termasuk sungai, dari pencemaran
limbah sapi. Terkait hal ini, KPPC menggandeng
berbagai kelompok pengolah limbah sapi. “Limbah
dijadikan pupuk atau produk lain. Hanya
saja hal ini masih sulit karena banyak peternak
yang belum bergabung ke KPPC,” tuturnya.
Untuk kenyamanan usaha, Ronald menambah
berbagai fasilitas seperti kesehatan ternak,
termasuk jumlah dokter hewan, selain petugas
kesehatan yang mengontrol kesehatan sapi. “Ini
juga sangat penting kami lakukan agar kualitas
susu sapi tetap terjaga,” katanya.
Ronald juga membawa kemajuan untuk urusan
permodalan. Selain pinjam ke bank bjb untuk
pengembangan usahanya, Ronald juga menyediakan
KPPC sebagai penjamin untuk para peternak.
Dari modal tersebut peternak anggota
KPPC mampu membeli sapi perah. Dengan
banyaknya sapi perah maka semakin banyak
pula tampungan susu di KPPC. Pengembalian
pinjaman modal kepada bank bjb dilakukan
dengan sistem angsuran, dan anggota KPPC
membayar angsuran dari hasil susu yang
diperoleh. Dengan cara ini, dunia perbankan
pun mulai melihat bahwa dunia peternakan
bisa menjadi pasar bagi produk-produk kredit
mikro.
REVOLUS SUSU!
Ronald mengakui bahwa ia masih baru dalam
usaha peternakan sapi perah. Namun bagi dia,
waktu dua tahun telah membimbingnya untuk
melihat dan melakukan sesuatu yang berguna
bagi kalangan peternak dan masyarakat luas.
Saat ini semua pengolahan susu masih dilakukan
secara tradisional. Perlahan namun pasti,
Ronald mengubah cara-cara tradisional tersebut
dengan memberikan penyuluhan peningkatan
kebersihan. Ronald menyarankan agar
kandang dan ternak dibersihkan dengan
menggunakan air hangat dan tempat pemerahan sapi
dibersihkan menggunakan ember alumunium.
Selain itu, Ronald memberikan penyuluhan
agar memperpendek waktu dari pemerahan
hingga penyetoran. Lebih cepat tiba di tempat
penyetoran maka dapat langsung didinginkan
guna mencegah pertumbuhan bakteri. KPPC
juga menyediakan mantri hewan gratis bagi
setiap anggota untuk menjaga kesehatan dan
kesuburan ternak mereka.
Pembelian susu dari peternak dilakukan
dengan membuat kelompok yang terdiri dari
40 orang. Dari setiap kelompok tersebut KPPC
membeli susu seharga Rp l00 per liter per hari.
Jadi, jika hari ini jumlah produksi KPPC 20.000
liter per hari maka dana yang disiapkan oleh
KPPC adalah Rp 2 juta.
Setidaknya konsep, metode, proses, dan
orientasi usaha KPPC yang dilakoninya sudah
mulai membuka mata banyak orang bahwa
usaha peternakan sapi perah bisa berkembang,
maju, dan menguntungkan. “Memang enggak
gampang. Bahkan masalahnya cenderung kompleks.
Tapi itulah tantangannya,” katanya.
Untuk mengurai berbagai masalah dan menemukan
solusinya, Ronald memanfaatkan pengalaman
yang dia peroleh di dunia perbankan
dan keuangan, ditambah kemauannya membaca
berbagai buku. “Kalaupun seperti trial and error
ya mohon dimaklumi. Tapi bukankah dunia
nyata menuntut kita belajar dari kesalahan?”
ujarnya.
Menghadapi peternak dengan kultur agraris
yang kuat, katanya, hanya ada satu cara, yakni
memberi contoh dan terus meyakinkan bahwa
mereka bisa melakukan yang lebih baik dari
sebelumnya. “Yang penting mata peternak
terbuka bahwa ada hal lebih baik yang bisa
mereka lakukan,” katanya. Misalnya, mengubah
pakan sapi yang tidak bernutrisi menjadi pakan
yang bernutrisi karena sangat berpengaruh
terhadap kuantitas dan kualitas susu.
Pada sisi pemasaran Ronald mencari penampung
susu besar, seperti perusahaan susu formula.
Ronald juga memelopori pembuatan produk
turunan dan penjualan susu segar secara
eceran. “Penjualan eceran ini penting bagi
peternak susu. Selain membuka peluang usaha
bagi masyarakat, juga menjadi awal dimulainya
revolusi susu di Indonesia,” ujarnya. Upaya itu
akan dilanjutkan dengan berdirinya rumah
susu di berbagai kota dan lokasi. Rumah susu
ini nanti akan menjadi semacam distributor
yang membuka peluang usaha bagi masyarakat
sekaligus menyebarkan virus Revolusi Susu,
yakni pentingnya mengonsumsi susu sebanyak
40-50 liter per kapita per tahun.
“Kalau ide yang sudah kami rintis ini kelak
menjadi gerakan, maka berbagai persoalan
utama peternak akan teratasi. Selain itu bangsa
Indonesia juga akan memetik manfaat dalam
hal kesehatan dan kecerdasan,” ujarnya seraya
menekankan pentingnya peningkatan konsumsi
susu segar di masyarakat karena susu segar jauh
lebih bernutrisi dibandingkan susu formula.
Untuk mewujudkan revolusi susu ini KPPC
tengah merintis sejumlah kerja sama dengan
pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat. Ronald
juga segera mengusulkan kepada pemerintah
pusat untuk membuat kebijakan tentang susu
impor yang tidak merugikan peternak sapi.
“Pemerintah juga perlu mulai mengenal pentingnya
asupan susu segar bagi rakyat, terutama
mahasiswa,” katanya.
MANAJEMEN USAHA
Saat ini, Ronald memiliki dua impian besar
untuk mengembangkan usahanya. Pertama,
memiliki tanah yang dapat menampung sapi
kelompok peternaknya. Kedua, mendirikan pabrik
untuk memproses susu sendiri. Ronald
berharap agar kelompok peternaknya dapat fokus
beternak, kemudian menjual dengan harga
yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan mimpi
tersebut, sistem usaha harus diperbaiki.
Pertama, kinerja karyawan dan peternaknya.
“Sudah ada di pikiran saya untuk memakai
tenaga profesional, tetapi tidak mudah, terutama
yang mau bekerja full time dan tetap masuk
Sabtu dan Minggu bila dibutuhkan,” ujarnya.
Sementara peternaknya, hanya diambil dari
sekitar Lembang. Upah yang diberikan disesuaikan
dengan banyaknya susu yang dihasilkan.
Peningkatan kemampuan peternak, dilakukan
melalui pelatihan dan diskusi. Ia mendatangkan
tenaga pelatih dari organisasi peternakan
bernama PUM Netherlands. “Saya browsing di
internet, melalui website-nya saya submit
aplikasi mengenai UKM saya. Setelah
melalui dua kali wawancara, akhirnya
saya berhasil mendatangkan seseorang untuk
memberikan konsultasi kualitas susu ke sini,
gratis, semua biaya ditanggung PUM,” jelasnya
bangga.
Selain pelatihan, ia juga melakukan pengawasan
terhadap para peternaknya. Ronald
mengaku pekerjanya ada yang pindah ke kelompok
pesaing karena pilihan sendiri dan ia
harus mencari seseorang yang dapat menjadi
penyelia. “Saya meminta adik istri saya bergabung,
karena dia bisa mengerti bahasa penduduk,” jelasnya.
Selanjutnya ia memperbaiki sistem usahanya.
Pertama, dalam hal social engineering, ia
mengubah perilaku peternak menjadi modern dengan
menanamkan pola pikir bahwa susu adalah
konsumsi manusia. Karena itu, kebersihan dan
kualitas susu harus benar-benar dijaga. Kedua,
sistem manajemen untuk menjaga loyalitas
karyawannya.
Ronald berharap dengan melakukan perbaikan,
mimpi-mimpinya dapat terwujud. Paling
tidak target sederhananya, yaitu semua
orang bisa minum susu dengan harga yang lebih
murah dengan kualitas terbaik.
Suatu malam pada bulan Juni 2011, di lokasi
peternakan sapi perah KPPC di Cisarua
yang dingin, Ronald H. Sinaga, mantan
bankir profesional itu, memandangi langit di
atas deretan kandang yang penuh bintang.
Ia membuktikan bahwa usaha peternakan
sapi perah dan susu segar bisa meningkatkan
kehidupan peternak. Bahkan dari kandang
sapi, virus Revolusi (Minum) Susu mulai ia
sebarkan.
Catatan Rhenald Kasali
SERING KALI TERLIBAT dalam kegiatan usaha bukanlah murni soal uang atau
menitipkan hari tua. Ada kalanya Anda juga dituntut melakukan perubahan.
Ya, perubahan. Sebuah transformasi sosial. Kalau ingin usaha Anda
maju maka Anda pun dituntut memajukan masyarakat. Bukankah dari masyarakat
itu Anda mendapatkan rasa aman (keamanan), bahan baku, tenaga kerja,
pembelaan saat terjadi gangguan, dan seterusnya.
Bayangkan apa jadinya bila kementerian pendidikan salah urus tenaga kerja
Kita? Sekarang ini saja semua pangusaha sudah merasakan akibatnya yaitu
tenaga-tenaga kerja yang tidak siap pakai. Belum lagi masalah kesehatan,
investasi sosial, kesejahteraan (listrik, fasilitas jalan, poliklinik dan
seterusnya). Anda juga dituntut melatih keterampilan mereka dan
memperbaikinya. Bukankah tenaga-tenaga penyuluh pertanian dan peternakan
sudah lama menghilang?
Ada kalanya, sistem ini sengaja dipertahankan oleh mereka yang mendapat
keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tengkulak, lintah darat, dan politisi
atau birokrat-birokrat yang korup. Mereka mempertahankan masalah agar
terjadi ketergantungan dan masalah dijadikan proyek abadi. Maka demi
kecintaan Anda pada Sang Merah Putih, lakukanlah perubahan.
Ronald H. Sinaga ingin mendulang keuntungan, namun caranya harus berbeda.
Ia tidak menjadikan masalah sebagai peluang dengan mengabadikan masalah itu
sebagai proyek abadi, melainkan mengubahnya menjadi masyarakat yang
sejahtera yaitu masyarakat yang lebih mengerti, lebih mandiri dan lebih
sehat. Ia mengubah masalah masyarakat yang bukan menjadí kewajibannya
untuk mendapatkan dukungan, kepercayaan dan kredibilitas. Ia memberikan
pelatihan, memperbaiki mata rantai, dan memberi perhatian.
Perbaikan masyarakat mutlak dilakukan usahawan, di desa maupun di kota.
Bäyangkan bagaimana sehatnya negeri ini kalau semua orang mau
Melakukannya...
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Gila! Itulah kata yang hampir pasti
akan dilontarkan orang jika ada
seseorang yang nekat melepas profesi
terhormat berpenghasilan tinggi lalu
memilih tinggal di “kandang” sapi.
Tetapi Ronald H. Sinaga, justru memilih
langkah “gila” itu: melepas dasinya
sebagai bankir lalu menjadi peternak
sapi perah.
KAMPUNG Papakmangu di Desa Cibodas,
Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung,
Jawa Barat, siang hari itu terlihat
berbeda daripada hari lainnya. Ratusan warga
tumpah ruah di halaman Sekretariat Kelompok
Peternak Sapi Perah Pasirjambu Ciwidey (KPPC)
Cipta Pratama. Mereka mengantarkan anak atau
anggota keluarga yang akan mengikuti khitanan
massal, pengobatan gratis, dan pembagian bingkisan.
Pengelola KPPC menjelaskan, kegiatan sosial
itu adaiah ungkapan syukur atas keberadaan
mereka sebagai perusahaan yang bergerak di
bidang peternakan sapi perah di Papakmangu.
Mereka ingin berbagi rezeki kepada warga yang
telah menerima kehadiran mereka.
Menurut ketua KPPC Cipta Pratama, Ronald
H. Sinaga, kegiatan tersebut merupakan momen
penting untuk meningkatkan rasa kebersamaan
antar peternak dan antara masyarakat dengan
KPPC. Apalagi KPPC tengah berupaya meningkatkan
kinerja mereka dan kesejahteraan peternak.
“Masih banyak peternak yang perlu didorong
untuk bergabung, selain itu kegiatan seperti ini
menjadi momen yang tepat untuk menyentuh
para peternak sapi yang nakal. Sebab masih ada
peternak yang sengaja menambahkan air pada
susu,” kata Ronald.
Ronald menekankan pentingnya kebersamaan bagi
para peternak sapi. Selain menjadi
media untuk saling belajar, kebersamaan merupakan
cara yang sangat efektif untuk saling
mengingatkan dan mengontrol. Lewat kebersamaan,
lanjut Ronald, para peternak bisa
saling membantu dan menguatkan, terutama ketika
menghadapi berbagai kendala usaha. Khususnya
kendala yang datang dari luar, seperti
perilaku kartel susu yang sangat merugikan.
PERJALANAN USAHA
KPPC Cipta Pratama adalah kelompok usaha yang
menghimpun para pelaku usaha mikro dalam
bidang peternakan sapi perah di
Parongpong dan Cibodas. Selain bergerak di
bidang pemerahan susu, KPPC juga terlibat
dalam pembuatan pakan, penampungan dan
pendinginan susu, serta pembuatan sejumlah
produk turunan susu.
Para peternak sapi sebenarnya sudah bergabung
dengan KPPC sejak tahun 1998.
Umumnya mereka melakukan usaha ternaknya
secara tradisional. Tak banyak yang dilakukan
untuk menghadapi berbagai masalah seperti
meningkatkan kualitas sumber daya manusia,
permodalan, akses ke dunia perbankan, pemasaran,
serta kualitas ternak dan produk susu.
Baru setelah Ronald bergabung, tahun 2008,
sejumlah masalah ini mulai memperoleh jalan
keluar.
Saat ini, KPPC menampung 800 peternak sapi
perah yang memiliki 3.000-an ekor sapi. Terbagi
dalam 20-an kelompok, KPPC yang didukung
oleh 40-an karyawan ini mampu menghasilkan
susu segar sebanyak 23.000 hingga 25.000 liter
per hari. Sapi-sapi penghasil susu segar tersebut
merupakan bagian dari ribuan ekor sapi yang
berada pada fase laktasi.
KPPC memiliki dua pusat lokasi usaha, yakni
di Kampung Papakmangu, Cibodas, Pasirjambu,
Kabupaten Bandung dan Kampung Belapati,
Desa Parongpong, Bandung Barat. Namun,
sebenarnya para perternak sapi perah itu
tersebar di sejumlah lokasi, yakni Lembang,
Parongpong, Cisarua, dan Ciwidey.
Selain itu, KPPC juga memiliki empat unit
usaha yang tersebar di beberapa lokasi. Unit
usaha pertama berupa penampungan dan
pendinginan susu sapi segar yang berada di
Parongpong. Proses pendinginan menggunakan
PHE dengan kapasitas mencapai 3.000 liter per
jam. Sementara daya tampung dan pendinginan
susu mencapai 15.000 liter.
Unit usaha kedua berada di Ciwidey, berupa
pabrik pakan ternak. Unit usaha ini disertai
usaha penampungan dan pendinginan susu
segar, lengkap dengan unit pendinginan yang
memiliki daya tampung hingga 5.000 liter.
Unit usaha ketiga adalah unit usaha peternakan
sapi perah di Cibodas. Unit usaha ini juga
dilengkapi dengan pendinginan susu dengan
daya tampung 1.000 liter. Sedangkan unit usaha
keempat KPPC berada di Cisarua, berupa usaha
penampungan dan pendinginan susu.
“Selain itu, KPPC juga masih memiliki unit
usaha lain yang baru mulai tumbuh. Unit ini
menghasilkan produk turunan susu seperti
yoghurt, permen susu, dan dodol susu,” ujar
Ronald dengan bangga. Semua usaha yang
dilakukan KPPC ini mampu meraih omzet Rp
2 miliar setiap bulan. Dari total pendapatan itu
keuntungan bersih yang diraih KPPC mencapai
Rp 1,5 miliar per tahun.
Ronald berharap agar ke depannya KPPC
tidak hanya mampu menyalurkan susu segar,
tetapi juga mampu memproduksi produk susu
dengan merek sendiri. Produk susu yang di
maksud antara lain adalah susu segar siap minum,
yoghurt, dan es krim. “Kami punya ide
untuk membuat warung susu segar KPPC, dengan
membentuk koperasi sendiri. Namun,
masih terdapat keterbatasan dana dalam
mewujudkannya,” jelas Ronald. Hingga memasuki
pertengahan 2011, KPPC tengah berusaha
membawa usaha peternakan ini menjadi
penyedia sekaligus penyebar virus gemar susu
segar di masyarakat, terutama masyarakat
perkotaan di Indonesia.
DARI MENARA GADING KE KANDANG SAPI
Sebelumnya, peternakan sapi merupakan dunia
yang asing bagi Ronald. Tak pernah terbayangkan
sama sekali bahwa dalam perjalanan
hidupnya ia akan berurusan dengan “kandang
sapi”. Sebagai orang kota yang lebih banyak tinggal
di “menara gading”, hingga setahun sebelum
berkutat dengan usaha peternakan sapi, pria
kelahiran Palembang, 25 Desember 1963 ini belum
tahu sedikit pun tentang sapi.
Semua berawal tahun 2008. Saat itu, tak lama
setelah meninggalkan profesinya sebagai bankir
mapan yang telah dijalaninya 20 tahun, Ronald
mengunjungi sahabatnya di Missouri, Amerika
Serikat, yang bergerak di bidang peternakan sapi
perah. Di negeri itulah untuk kali pertama dalam
hidupnya ia mengenal usaha peternakan sapi perah.
“Saya memang baru mengenal dunia sapi
perah di tempat sahabat saya. Di negeri orang,
pula. Itu pun baru kulitnya. Pengetahuan saya
tentang usaha ini baru bertambah setelah rajin
membaca buku-buku tentang ternak sapi,
produk susu segar, dan produk turunannya,”
katanya.
Dalam sebuah buku yang sempat dibacanya,
Ronald menemukan informasi yang mengejutkan.
Suatu hasil studi menunjukkan adanya korelasi
yang meyakinkan antara negara-negara yang
berhasil menjadi peserta Piala Dunia Sepakbola FIFA
dengan jumlah volume susu yang dikonsumsi
penduduknya. Intinya, penduduk negara-negara yang
berhasil menjadi langganan peserta pesta olah
raga sepakbola kelas dunia itu konsumsi susunya
paling sedikit mencapai 30-50 liter per kapita per
tahun. Demikian juga negara-negara yang merajai
Olimpiade.
“Cina melakukan revolusi (minum) susu
pada tahun 1986. Tahun 2006 mereka juara
Olimpiade. Indonesia rata-rata baru 10 liter per
tahun. Itu pun 70 persennya bukan susu segar
tapi susu formula yang nutrisinya lebih rendah
dibanding susu segar dan bahannya diimpor dari
negara lain. Kita masih kalah dengan Vietnam
yang konsumsi susu segarnya sudah mencapai
11 liter per penduduk per tahun,” paparnya.
Ronald yang pernah menduduki jabatan tinggi
di sejumlah bank dan lembaga keuangan lain ini
kemudian melanjutkan penggaliannya tentang
dunia sapi perah.
Jenuh bekerja di lembaga keuangan yang
cukup bergengsi di Jakarta, Marketing &
Business Development Director itu memilih
jalan ekstrem. Dia meninggalkan Jakarta lalu
beternak sapi. Tahun 2009, penyandang gelar
S2 di bidang bisnis dari School of Business pada
University of the East Manila dan S1 Universitas
Advent Indonesia ini membeli 30 ekor sapi
secara bertahap.
Namun karena tak memiliki pengalaman,
Ronald langsung menghadapi sejumlah masalah.
Produk susu segar yang dihasilkan sapi-sapinya
mengecewakan. Sialnya lagi, pasar dikuasai oleh
kartel yang sangat merugikan peternak. Mereka
mengatur harga yang sangat rendah.
Ronald yang terlatih melakukan analisis
bisnis segera mencari tahu penyebabnya. Dia
menemukan bahwa rendahnya kuantitas maupun
kualitas produk susu sapinya bersumber
pada pakan sapi dan perawatannya. Ronald
mengaku bahwa dia hanya memberi pakan
sebagaimana peternak sapi lokal di sekitar
daerah usahanya. “Akibatnya, produk susunya
berkualitas rendah,” ujar Ronald menjelaskan.
Ronald pun bergerak mencari solusinya.
Setelah gagal dalam beberapa kali percobaan,
akhirnya Ronald berhasil membuat pakan sapi
yang tepat. Kuantitas dan kualitas susunya
meningkat signifikan, yakni sebesar 50 persen
dan secara bertahap menuju 100 persen.
Merasa berhasil, Ronald melangkah lebih
jauh. Dia membuat pabrik pakan sapi.
Rencananya, produk pakan ternaknya akan
ditawarkan kepada para peternak di sekitarnya.
Harapannya agar susu yang dihasilkan para
peternak meningkat kuantitas dan kualitasnya.
“Kalau produk susunya meningkat, penghasilan
peternak pasti akan ikut meningkat,” ujarnya.
Sayang, respons para peternak lokal tak
sesuai harapannya. Pasalnya, harga yang
ditawarkannya terlalu tinggi. Mereka tidak
memiliki cukup dana untuk membelinya. Ronald
kemudian memutar otak. Ia pun mencoba cara
lain. Menurut asumsinya, para peternak akan
bersedia membeli pakan buatannya jika produk
susu mereka juga dia beli. Ternyata benar,
predikat Ronald pun segera bertambah, yaitu
menjadi penampung susu.
Tak terlalu lama mencari, Ronald berhasil
mendapatkan pasar susu segarnya, yakni
PT Indolacto (dahulu bernama Indomilk).
Perusahaan susu formula ini bersedia menampung
susu segar KPPC hingga 25.000 liter
per hari. Setelah memperoleh pasar ini Ronald
merasa satu masalah di antara sejumlah
masalah yang dihadapinya mulai terpecahkan.
Dia juga merasa memperoleh isyarat
bahwa lambat atau cepat, berbagai masalah yang
dihadapi dunia usaha peternakan sapi
perah juga bisa dipecahkan.
MENYEBAR “VIRUS” KEMAJUAN
Meskipun berhasil menemukan pasar yang bagus
Untuk menyalurkan produk susu, Ronald menyadari
bahwa masalah yang dihadapi para peternak
lokal cukup rumit. Diantaranya ialah soal bibit sapi.
Selama ini peternak yang ingin memperoleh sperma sapi
harus mengeluarkan dana besar. “Saya katakan masalah
besar karena penghasilan peternak masih rendah, modal
mereka juga terbatas. Selain itu pendidikan mereka juga
tidak terlalu tinggi sementara semangat untuk tumbuh
menjadi peternak modern belum terbangun,” katanya.
Kedua, kebijakan pemerintah. Menurut Ronald,
bea masuk yang dikenakan terhadap susu impor
sangat rendah sehingga perusahaan susu formula di
Indonesia leluasa memproduksi susu formula
dengan harga murah. Dengan demikian, peternak sapi
perah lokal harus menghadapi masyarakat Indonesia yang
lebih mudah mengonsumsi susu formula daripada susu
segar.
Menghadapi berbagai masalah tersebut, Ronald kembali
memeras otaknya. Ia melihat bahwa sebagian peternak
lokal telah memiliki kelompok usaha bernama KPPC Cipta
Pratama. Ronald pun segera bergabung. Tujuannya agar
bisa melakukan berbagai kerja sama yang saling menguntungkan.
Dalam waktu sekitar 8 bulan Ronald dipercaya untuk
memimpin KPPC tersebut. Dua bulan kemudian, dengan
menambah investasi baru, Ronald mengambil alih KPPC
dari pengurus lama. Dengan investasi tersebut di
bentuklah unit pengolahan pakan ternak untuk
mengembangkan kelompok peternak sapi perah
di Desa Papakmanggu, Gambung, Pasirjambu,
Kabupaten Bandung.
Sejak saat itu, Ronald mulai menyebarkan
“virus” kemajuan. Namun untuk urusan ini
dia harus bekerja keras dan cepat. Maklumlah,
selain banyak peternak yang belum bersedia
bergabung, banyak anggota yang tidak siap
diajak ‘berjalan’ cepat.
“Pada umumnya peternak masih kerasan dengan
kebiasaan lama, seperti mencampurkan
air ke dalam susu sehingga kadar air pada susu
segar menjadi tinggi. Peternak seperti ini kami
sebut peternak nakal,” katanya.
Untuk menyadarkan peternak nakal, Ronald
menerapkan budaya yang hidup di kalangan
masyarakat Sunda, yaitu budaya malu. Dengan
budaya malu ini para peternak diajak
memberikan sanksi sosial terhadap peternak
yang tak jujur. Kalau ada yang ketahuan,
sanksinya harus dikucilkan.
“Sebaliknya, peternak yang berhasil menjaga
kualitas harus diberi penghargaan. Bagi
masyarakat pedesaan yang masih menjunjung budaya
malu, mengalami pengucilan adalah hal yang
menakutkan,” katanya.
Ternyata cara tersebut cukup ampuh dan
menguntungkan. KPPC bisa membangun mekanisme
kontrol. Dengan pendekatan kultural pula,
cara berorganisasi yang lebih modern mulai
ditanamkan.
“Sementara untuk meningkatkan kualitas
susu, KPPC menempuh jalan penyadaran akan
pentingnya kebersihan kandang pada saat proses
pemerahan,” kata Ronald.
Selain itu, KPPC juga terus berusaha menumbuhkan
kesadaran akan pentingnya menjaga
lingkungan, termasuk sungai, dari pencemaran
limbah sapi. Terkait hal ini, KPPC menggandeng
berbagai kelompok pengolah limbah sapi. “Limbah
dijadikan pupuk atau produk lain. Hanya
saja hal ini masih sulit karena banyak peternak
yang belum bergabung ke KPPC,” tuturnya.
Untuk kenyamanan usaha, Ronald menambah
berbagai fasilitas seperti kesehatan ternak,
termasuk jumlah dokter hewan, selain petugas
kesehatan yang mengontrol kesehatan sapi. “Ini
juga sangat penting kami lakukan agar kualitas
susu sapi tetap terjaga,” katanya.
Ronald juga membawa kemajuan untuk urusan
permodalan. Selain pinjam ke bank bjb untuk
pengembangan usahanya, Ronald juga menyediakan
KPPC sebagai penjamin untuk para peternak.
Dari modal tersebut peternak anggota
KPPC mampu membeli sapi perah. Dengan
banyaknya sapi perah maka semakin banyak
pula tampungan susu di KPPC. Pengembalian
pinjaman modal kepada bank bjb dilakukan
dengan sistem angsuran, dan anggota KPPC
membayar angsuran dari hasil susu yang
diperoleh. Dengan cara ini, dunia perbankan
pun mulai melihat bahwa dunia peternakan
bisa menjadi pasar bagi produk-produk kredit
mikro.
REVOLUS SUSU!
Ronald mengakui bahwa ia masih baru dalam
usaha peternakan sapi perah. Namun bagi dia,
waktu dua tahun telah membimbingnya untuk
melihat dan melakukan sesuatu yang berguna
bagi kalangan peternak dan masyarakat luas.
Saat ini semua pengolahan susu masih dilakukan
secara tradisional. Perlahan namun pasti,
Ronald mengubah cara-cara tradisional tersebut
dengan memberikan penyuluhan peningkatan
kebersihan. Ronald menyarankan agar
kandang dan ternak dibersihkan dengan
menggunakan air hangat dan tempat pemerahan sapi
dibersihkan menggunakan ember alumunium.
Selain itu, Ronald memberikan penyuluhan
agar memperpendek waktu dari pemerahan
hingga penyetoran. Lebih cepat tiba di tempat
penyetoran maka dapat langsung didinginkan
guna mencegah pertumbuhan bakteri. KPPC
juga menyediakan mantri hewan gratis bagi
setiap anggota untuk menjaga kesehatan dan
kesuburan ternak mereka.
Pembelian susu dari peternak dilakukan
dengan membuat kelompok yang terdiri dari
40 orang. Dari setiap kelompok tersebut KPPC
membeli susu seharga Rp l00 per liter per hari.
Jadi, jika hari ini jumlah produksi KPPC 20.000
liter per hari maka dana yang disiapkan oleh
KPPC adalah Rp 2 juta.
Setidaknya konsep, metode, proses, dan
orientasi usaha KPPC yang dilakoninya sudah
mulai membuka mata banyak orang bahwa
usaha peternakan sapi perah bisa berkembang,
maju, dan menguntungkan. “Memang enggak
gampang. Bahkan masalahnya cenderung kompleks.
Tapi itulah tantangannya,” katanya.
Untuk mengurai berbagai masalah dan menemukan
solusinya, Ronald memanfaatkan pengalaman
yang dia peroleh di dunia perbankan
dan keuangan, ditambah kemauannya membaca
berbagai buku. “Kalaupun seperti trial and error
ya mohon dimaklumi. Tapi bukankah dunia
nyata menuntut kita belajar dari kesalahan?”
ujarnya.
Menghadapi peternak dengan kultur agraris
yang kuat, katanya, hanya ada satu cara, yakni
memberi contoh dan terus meyakinkan bahwa
mereka bisa melakukan yang lebih baik dari
sebelumnya. “Yang penting mata peternak
terbuka bahwa ada hal lebih baik yang bisa
mereka lakukan,” katanya. Misalnya, mengubah
pakan sapi yang tidak bernutrisi menjadi pakan
yang bernutrisi karena sangat berpengaruh
terhadap kuantitas dan kualitas susu.
Pada sisi pemasaran Ronald mencari penampung
susu besar, seperti perusahaan susu formula.
Ronald juga memelopori pembuatan produk
turunan dan penjualan susu segar secara
eceran. “Penjualan eceran ini penting bagi
peternak susu. Selain membuka peluang usaha
bagi masyarakat, juga menjadi awal dimulainya
revolusi susu di Indonesia,” ujarnya. Upaya itu
akan dilanjutkan dengan berdirinya rumah
susu di berbagai kota dan lokasi. Rumah susu
ini nanti akan menjadi semacam distributor
yang membuka peluang usaha bagi masyarakat
sekaligus menyebarkan virus Revolusi Susu,
yakni pentingnya mengonsumsi susu sebanyak
40-50 liter per kapita per tahun.
“Kalau ide yang sudah kami rintis ini kelak
menjadi gerakan, maka berbagai persoalan
utama peternak akan teratasi. Selain itu bangsa
Indonesia juga akan memetik manfaat dalam
hal kesehatan dan kecerdasan,” ujarnya seraya
menekankan pentingnya peningkatan konsumsi
susu segar di masyarakat karena susu segar jauh
lebih bernutrisi dibandingkan susu formula.
Untuk mewujudkan revolusi susu ini KPPC
tengah merintis sejumlah kerja sama dengan
pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat. Ronald
juga segera mengusulkan kepada pemerintah
pusat untuk membuat kebijakan tentang susu
impor yang tidak merugikan peternak sapi.
“Pemerintah juga perlu mulai mengenal pentingnya
asupan susu segar bagi rakyat, terutama
di kalangan anak-anak, balita, pelajar, serta
mahasiswa,” katanya.
MANAJEMEN USAHA
Saat ini, Ronald memiliki dua impian besar
untuk mengembangkan usahanya. Pertama,
memiliki tanah yang dapat menampung sapi
kelompok peternaknya. Kedua, mendirikan pabrik
untuk memproses susu sendiri. Ronald
berharap agar kelompok peternaknya dapat fokus
beternak, kemudian menjual dengan harga
yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan mimpi
tersebut, sistem usaha harus diperbaiki.
Pertama, kinerja karyawan dan peternaknya.
“Sudah ada di pikiran saya untuk memakai
tenaga profesional, tetapi tidak mudah, terutama
yang mau bekerja full time dan tetap masuk
Sabtu dan Minggu bila dibutuhkan,” ujarnya.
Sementara peternaknya, hanya diambil dari
sekitar Lembang. Upah yang diberikan disesuaikan
dengan banyaknya susu yang dihasilkan.
Peningkatan kemampuan peternak, dilakukan
melalui pelatihan dan diskusi. Ia mendatangkan
tenaga pelatih dari organisasi peternakan
bernama PUM Netherlands. “Saya browsing di
internet, melalui website-nya saya submit
aplikasi mengenai UKM saya. Setelah
melalui dua kali wawancara, akhirnya
saya berhasil mendatangkan seseorang untuk
memberikan konsultasi kualitas susu ke sini,
gratis, semua biaya ditanggung PUM,” jelasnya
bangga.
Selain pelatihan, ia juga melakukan pengawasan
terhadap para peternaknya. Ronald
mengaku pekerjanya ada yang pindah ke kelompok
pesaing karena pilihan sendiri dan ia
harus mencari seseorang yang dapat menjadi
penyelia. “Saya meminta adik istri saya bergabung,
karena dia bisa mengerti bahasa penduduk,” jelasnya.
Selanjutnya ia memperbaiki sistem usahanya.
Pertama, dalam hal social engineering, ia
mengubah perilaku peternak menjadi modern dengan
menanamkan pola pikir bahwa susu adalah
konsumsi manusia. Karena itu, kebersihan dan
kualitas susu harus benar-benar dijaga. Kedua,
sistem manajemen untuk menjaga loyalitas
karyawannya.
Ronald berharap dengan melakukan perbaikan,
mimpi-mimpinya dapat terwujud. Paling
tidak target sederhananya, yaitu semua
orang bisa minum susu dengan harga yang lebih
murah dengan kualitas terbaik.
Suatu malam pada bulan Juni 2011, di lokasi
peternakan sapi perah KPPC di Cisarua
yang dingin, Ronald H. Sinaga, mantan
bankir profesional itu, memandangi langit di
atas deretan kandang yang penuh bintang.
Ia membuktikan bahwa usaha peternakan
sapi perah dan susu segar bisa meningkatkan
kehidupan peternak. Bahkan dari kandang
sapi, virus Revolusi (Minum) Susu mulai ia
sebarkan.
Catatan Rhenald Kasali
SERING KALI TERLIBAT dalam kegiatan usaha bukanlah murni soal uang atau
menitipkan hari tua. Ada kalanya Anda juga dituntut melakukan perubahan.
Ya, perubahan. Sebuah transformasi sosial. Kalau ingin usaha Anda
maju maka Anda pun dituntut memajukan masyarakat. Bukankah dari masyarakat
itu Anda mendapatkan rasa aman (keamanan), bahan baku, tenaga kerja,
pembelaan saat terjadi gangguan, dan seterusnya.
Bayangkan apa jadinya bila kementerian pendidikan salah urus tenaga kerja
Kita? Sekarang ini saja semua pangusaha sudah merasakan akibatnya yaitu
tenaga-tenaga kerja yang tidak siap pakai. Belum lagi masalah kesehatan,
investasi sosial, kesejahteraan (listrik, fasilitas jalan, poliklinik dan
seterusnya). Anda juga dituntut melatih keterampilan mereka dan
memperbaikinya. Bukankah tenaga-tenaga penyuluh pertanian dan peternakan
sudah lama menghilang?
Ada kalanya, sistem ini sengaja dipertahankan oleh mereka yang mendapat
keuntungan-keuntungan jangka pendek. Tengkulak, lintah darat, dan politisi
atau birokrat-birokrat yang korup. Mereka mempertahankan masalah agar
terjadi ketergantungan dan masalah dijadikan proyek abadi. Maka demi
kecintaan Anda pada Sang Merah Putih, lakukanlah perubahan.
Ronald H. Sinaga ingin mendulang keuntungan, namun caranya harus berbeda.
Ia tidak menjadikan masalah sebagai peluang dengan mengabadikan masalah itu
sebagai proyek abadi, melainkan mengubahnya menjadi masyarakat yang
sejahtera yaitu masyarakat yang lebih mengerti, lebih mandiri dan lebih
sehat. Ia mengubah masalah masyarakat yang bukan menjadí kewajibannya
untuk mendapatkan dukungan, kepercayaan dan kredibilitas. Ia memberikan
pelatihan, memperbaiki mata rantai, dan memberi perhatian.
Perbaikan masyarakat mutlak dilakukan usahawan, di desa maupun di kota.
Bäyangkan bagaimana sehatnya negeri ini kalau semua orang mau
Melakukannya...
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Suhaemah, Awalnya Ibu Rumah Tangga Biasa, Kini Sukses Lewat Usaha Dodol Mangga dan Aneka Keripik Beromzet Ratusan Juta per Bulan
Popon Suhaemah, Sukses Semanis Dodol Serenyah Keripik
Melihat hasil panen raya dari 83 pohon
mangganya sia-sia, ibu yang tidak
bekerja ini pun berpikir untuk menjual
jus. Kebetulan ada sekolahan di dekat
rumahnya. Meski usaha jusnya tak
berlangsung lama, namun ia tetap
dapat memanfaatkan sumber daya
di sekitarnya menjadi camilan yang
membuat lidah berdansa.
Ide bisnis memang dapat datang dari mana
saja. Termasuk dari pelataran rumah Popon
Suhaemah di Kelurahan Cijati, Kabupaten
Majalengka. Sebelum menjual jus, Popon pernah
membuat usaha telur asin tahun 2000 yang
berakhir ketika peternak bebek menghilang dari
desanya karena musim kemarau.
Senasib dengan usaha telur asin, usaha menjual
jus pun tidak berlangsung lama. Pasalnya,
baru seminggu disimpan, jus buatannya sudah
mengeluarkan bakteri. Dia memutar otak agar
olahan jus mangganya bisa tahan lama, tidak
cepat busuk. “Akhirnya saya berkonsultasi ke
Dinas Kesehatan, kalau pengen lama bagaimana
nih, saya bilang begitu,” cerita Popon mengenang
awal usahanya.
Atas saran pegawai Dinkes, Popon mengikuti
pelatihan untuk mendapatkan Surat Penyuluhan
(SP)—kini Perizinan Industri Rumah Tangga
(PIRT). Dia mendapat ilmu baru bagaimana
mengawetkan mangga dengan bahan pengawet
yang sudah diperbolehkan. Pada 31 Oktober
2002, dengan SP di tangan, Popon mendaftarkan
dagangannya dengan nama ‘Ibu Popon’. “Saya
berpikir sederhana waktu itu, kalau orang
nyari saya gampang, karena saya orang sini asli.
Kalau orang tanya Bu Popon, semua pasti tahu,”
cetusnya.
MEMANFAATKAN BUAH YANG BERLIMPAH
Setelah suaminya di-PHK saat krisis moneter
tahun 1998, perempuan asal Majalengka ini memang
harus pintar-pintar mencari peluang. Pada
bulan Oktober 2003, pohon mangganya kembali
menghasilkan buah yang banyak. Bermodalkan
ilmu dan pelatihan sebelumnya, Popon mengolah
mangga tersebut menjadi dodol dengan
menambahkan pengawet yang sudah mendapat
izin Dinas Kesehatan.
Dengan mengendarai motor GL 86, Popon
menaruh dodolnya di beberapa warung di
desanya. Setiap warung dititipkan sekitar 20
bungkus dodol. Dalam pikirannya, dodol yang
dibuatnya harus habis, tidak lagi disimpan di
rumah.
Namun, harapan tidak seindah kenyataan.
Ketika seminggu kemudian Popon menagih
hasil penjualan ke warung-warung tersebut,
ternyata dodol yang laku hanya 2-5 bungkus
saja. Selebihnya dikembalikan. Kejadian ini
berlangsung beberapa waktu. Untuk menghindari
malu kepada ibunya, Popon selalu membawa
gunting di tasnya. Dodol yang tidak laku
digunting dan dibuang ke sungai. Sementara
merek ‘Ibu Popon’ yang tertera di bungkus, ia
bakar.
Siapa sangka, keuletannya menjual dodol
mangga ke warung-warung itu menarik minat
seorang staf Dinas Pertanian. Betapa senangnya
Popon ketika tempat usahanya dikunjungi orang
berseragam dinas cokelat-cokelat. Rupanya,
orang tersebut hendak membeli dodolnya untuk
dibawa ke provinsi. Ia ingin menunjukkan bahwa
Majalengka pun bisa menghasilkan penganan
khas, mengingat daerah ini memang terkenal
dengan banyaknya pohon mangga.
“Dari hari itu seperti ada titik terang bagi
saya. Seperti ada malaikat penolong. Terus,
setelah ngobrol, saya minta nomor teleponnya,
dikasihlah nomor telepon,” tutur Popon. Setelah
Lebaran, Popon berkunjung ke Dinas Pertanian
tingkat Kabupaten Majalengka. Dia bertemu
dengan Pak Nunu, yang mengenalkannya
kepada Kepala Seksi Usaha. Kesempatan itu
dipergunakannya untuk berkisah panjang lebar
tentang kendala usahanya dan mimpi-mimpi
pengembangan usaha. Gayung pun bersambut,
Popon diajak menjadi warga tani binaan Dinas
Pertanian dengan syarat membentuk kelompok.
Bersama dengan 4 saudaranya, Popon membentuk
kelompok Asri Rahayu. Mereka mengumpulkan
uang Rp 50 ribu per orang untuk
mengikuti pembinaan tani. Mereka terus
melakukan trial and error dalam pembuatan
dodol mangga tanpa kenal lelah. “Kadang-
kadang belum diedarkan, dodol tersebut sudah
jamuran. Kemudian kami berkonsultasi
dan disarankan memakai lemak sapi, namun
hasilnya bau,” kenang Popon.
Nyaris setiap hari Popon dan kelompoknya
melakukan uji coba dan hasilnya dikonsultasikan
ke Dinas Pertanian, hingga akhirnya dikirim
ke pelatihan pengolahan pascapanen di Balai
Pelatihan Pertanian Cihea, Cianjur. “Di situ saya
mulai mendapat ilmu. Ooohhh... rupanya begini
cara mengolah dodol. Mulailah saya diajak studi
banding ke Ciamis, lalu Sukasena. Dari situ saya
semakin semangat. Oh kalau orang lain bisa,
kenapa saya enggak,” yakinnya.
Sejak saat itu, Popon semakin aktif mengikuti
pelatihan, mulai dari proses pengolahan sampai
packaging. Di pelatihan itu juga dia baru
mengetahui bahwa sebuah merek yang kuat
sebaiknya memiliki arti dan pengaruh yang
besar. Namun hal tersebut tidak membuatnya
mengubah merek yang sudah teregistrasi.
Selain pelatihan, Popon juga mendapat
bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad)
dan Universitas Pasundan (Unpas). Setiap
permasalahan juga dikonsultasikan kepada
para profesor Jurusan Teknologi Pangan pada
kedua perguruan tinggi tersebut. Bahkan Popon
memberikan tempatnya untuk menjadi
tempat penelitian mahasiswa, yang menurutnya
amat membantu usahanya. Berkat penelitian
mahasiswa jualah camilan ‘Ibu Popon’ kini
sudah mencantumkan informasi kandungan
nutrisi. Produknya pun kerap diajak pameran
yang digelar di lingkungan kedua universitas
tersebut.
Tahun 2004, jenis olahan Popon mulai beraneka
ragam. Dia mendapat tawaran alat vacuum
frying untuk menggoreng keripik. Selama
setahun dia harus mempelajari kegunaan alat
tersebut dan menghasilkan produk keripik
dan buah-buahan. Popon hanya fokus agar
keripiknya bagus. Dia belajar bagaimana
keripik pisangnya tidak cepat letoy. Ia baru
tahu, ternyata jenis pisang dan tingkat
kematangannya pun sangat berpengaruh.
“Jadi kita sekarang sudah bisa menentukan
Pisangnya seperti apa, kulitnya seperti
apa, harus kita goreng hingga kematangan
seperti apa. Kalau yang lewat dari sortasi
itu jadi dodol. Kalau dulu mah dihantam aja,
digoreng semua pisangnya. Pikirannya
sederhana, daripada dibuang,” papar Popon.
Meski tak pernah putus belajar, baru saat
menginjak tahun ketiga, Popon bisa menggoreng
keripik yang tahan lama. Seiring waktu pun
orang makin mengenal produk dodol dan keripik
merek ‘Ibu Popon’.
Popon pun terus belajar menjalankan usahanya ini.
Misalnya dalam menentukan harga.
Dengan berat 1 ons, Popon menjual keripik
tersebut ke warung seharga Rp3.500 dan dijual
warung tersebut ke masyarakat seharga
Rp5.000. Padahal ada juga yang menjual keripik
pisang seberat 1/4 kg dengan harga Rp2.500.
Sukses? Ternyata belum. Keripik pisang Popon
ternyata tidak laku dan ia kembali menerima
banyak retur. Maka ia pun menata ulang
penentuan harga produk-produknya.
MEMBESARKAN USAHA
Seperti usaha kecil lainnya, Popon pun mulai
mengalami permasalahan modal. Dengan bantuan
Dinas Koperasi, dia mendapat jaminan
untuk mendapatkan pinjaman dari bank bjb
sebesar Rp 9 juta pada 2005. Dia juga diajak
mengikuti pameran-pameran oleh Departemen
Perindustrian. Saat ini hampir semua wilayah
Indonesia sudah dikunjunginya untuk pameran,
mulai dari Surabaya, Jakarta, Makassar, NTB,
hingga Batam. Bahkan produk ‘Ibu Popon’ sudah
ikut pameran ke Singapore Expo (Singex).
Dari pameran-pameran itu juga Popon mengenal
packaging yang baik dan menarik.
Packaging House di Bandung menyarankan
Popon untuk membuat packaging yang menarik
dan menimbulkan minat orang untuk membeli.
Ketika pameran di Singex, produk Popon tidak
hanya dikemas dalam plastik, tapi dimasukkan
dalam kaleng dan kardus suvenir.
Dari pameran—pameran tersebut merek ‘Ibu
Popon’ akhirnya mulai dikenal orang. Sekarang
banyak pihak yang justru ingin memasarkan
camilan produksi Popon. Pemasarannya pun
sekarang sudah tak lagi hanya di sekitar
Majalengka, tapi sudah masuk Jakarta, termasuk
rest area jalan tol dan koperasi di perkantoran
Jalan Jenderal Sudirman. Di Bogor, produk Popon dapat
ditemukan di sentra oleh-oleh Priangan Sari. Pusat
perbelanjaan besar seperti Carrefour dan Yogya
pun sudah menjual camilan khas ‘Ibu Popon’.
Setelah usahanya semakin berkembang,
kini saatnya gantian, Popon harus membina
kelompok ibu-ibu wanita tani di desa-desa di
Majalengka. Saat ini dia sudah membina sekitar
40 kelompok, yang tiap kelompoknya terdiri
dari 10 orang. Setiap kelompok dibuatnya
memiliki keahlian khusus, misalnya membuat
keripik pisang saja, keripik jagung saja, atau
keripik salak saja. Muiai dari bumbu hingga
standard operational procedure (SOP) dan
pengawasannya dikontroi langsung oleh Popon.
Produksi dari setiap kelompok tani itu dijual
ke tempatnya.
Hingga saat ini, kelompok wanita tani binaan
Popon bukan hanya menghasilkan berbagai jenis
keripik, tapi juga rempeyek kacang hijau, hingga
sumpia (sejenis makanan ringan berbentuk
lumpia kecil dan digoreng kering) isi oncom.
Sementara di fasilitas produksinya, Popon sudah
menghasilkan keripik pisang, keripik
nangka, keripik salak, dodol jambu biji, dodol
mangga, dan dodol pisang. Siapa sangka wanita
berpenampilan sederhana ini bisa menyulap
mangga, salak, pisang, nangka, jagung menjadi
camilan seperti dodol dan keripik?
Popon pun rajin mengutak-atik produknya.
Misalnya, sumpia yang biasanya berisi udang
atau ebi, kini diganti dengan oncom. Popon
mengaku terkejut karena idenya itu ternyata
diminati banyak orang. Awalnya, dia hanya
melihat bahwa desanya banyak memproduksi
oncom. Dia pun memberdayakan masyarakat
untuk membungkus oncom dengan kulit lumpia.
Upah yang diberikan sebesar Rp2.000 per
kilogram dan dibayarkan setiap hari Sabtu.
Popon tinggal mempekerjakan orang untuk
menggoreng sumpia oncom tersebut.
Sementara emping jagung Popon paling di
minati oleh konsumen di Bogor. Awalnya Popon
hanya membuat rasa original. Namun para
pembelinya meminta diberi taburan bumbu rasa
barbekyu, yang kemudian dia penuhi. Meskipun
demikian, emping jagung rasa original juga tak
kalah peminatnya.
Popon dengan cepat juga mempelajari bahwa
setiap daerah di Jawa Barat ini memiliki
permintaan yang berbeda. Jika orang Bogor suka
emping jagung, di Jakarta yang paling laris
adalah keripik pisang. Rest area pada jalan tol
di Jakarta bahkan mengorder 2 kuintal setiap
2 minggu sekali. Artinya, dia harus mengolah 2
ton pisang untuk menghasilkan keripik pisang
sebanyak itu. Padahal, dengan kemampuannya
saat ini hanya 600-700 kilogram yang bisa
diolah karena terkendala alat produksi yang
minim dan kurang memadainya luas fasilitas
produksinya saat ini.
“Dengan 5 alat vacuum yang dimiliki saat
ini, kapasitas kita baru 1.000 kg keripik tiap
bulan,” ujar sarjana pendidikan Islam yang
memelesetkan gelar S.Pd.I yang diraihnya
menjadi sarjana pembuat dodol Ibu Popon.
Untuk itu, dia pun meminta tambahan modal.
Setelah melunasi utang Rp 9 juta, tahun 2007
Popon mendapat pinjaman lagi dari bank
bjb sebesar Rp 50 juta. Bisnisnya bertambah
pesat, dan keberaniannya berbisnis semakin
besar. Dan, akhir tahun 2010 lalu dia mendapat
pinjaman Rp 250 juta untuk membeli alat
produksi dan memindahkan fasilitas produksi
ke sebelah tokonya.
Saat ini, Popon baru mampu menghasilkan
2.000 kilogram untuk seluruh jenis produknya.
Khusus keripik dapat dihasilkan 1.000 kilogram,
yang artinya membutuhkan 10 ton bahan baku.
Untungnya, di bumi Nusantara ini Popon tidak
pernah kesulitan urusan bahan baku. Bermitra
dengan petani dan pengolah setengah jadi (pure)
membuat ketersediaan bahan tidak pernah
kurang. Selain itu, misalnya untuk mangga,
Popon membuat stok dengan menyimpannya
dalam beberapa buah freezer. Untuk pisang,
Popon bermitra dengan petani dan pengumpul
di Rajagaluh, Majaengka. Untuk nangka, ada
temannya yang berburu nangka dan menyetorkan
hasil buruannya kepada Popon.
Keripik yang awalnya hanya dilakukan coba-
coba, kini menjadi dagangan yang paling
diandalkan, mengingat penjualannya selalu habis.
Apalagi bahan baku buah-buahan amat berlimpah
di daerahnya. Inilah keuntungannya memulai
bisnis dengan memperhitungkan masak
masak sumber daya alam yang dibutuhkan
untuk keperluan tersebut.
Dari perjalanan panjangnya di awal usaha,
Popon banyak memperoleh pelajaran dan
pengalaman yang mendukung kemajuan usahanya.
Misalnya saja, dia menyadari pentingnya merek.
“Sekarang saya baru sadar, merek ternyata besar
artinya. Merek harus punya ciri khas, hurufnya
jangan terlalu banyak. Nah, itu saya baru dapat
sekarang, tapi sudah telanjur jadi dan terdaftar,”
ujarnya sambil tertawa.
MELATIH MASYARAKAT SEKITAR
Untuk sumber daya manusianya, Popon tidak
mau lagi hanya sekadar banyak menyerap tenaga
kerja. Dia kini ingin usahanya memberi manfaat
untuk orang lain. Bukan hanya bermanfaat
bagi sanak saudara, tetangga, kelompok tani,
dan para santri dari pesantren yang didirikan
ayahnya, melainkan juga bagi anak sekolah yang
tidak mampu. Mereka bisa magang di pabriknya.
Popon memberi pelatihan produksi kepada
mereka secara langsung. Mereka diarahkan sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Tak
tanggung-tanggung, Popon kini sudah memiliki
standar pelatihan, termasuk masalah kesehatan
serta kebersihan. Penggunaan celemek, penutup
kepala, dan penutup mulut, misalnya, adalah
sebuah keharusan. Bahkan ada modul yang
harus dipelajari calon pekerjanya.
Popon mencari anak-anak yang berpotensi.
Menurutnya, secara hukum alam, anak yang
kurang mau belajar akan tersingkir dengan
sendirinya, sementara yang bertahan akan
diberi pelatihan oleh suku dinas setempat. Ketika
mereka sudah keluar dari sekolah, Popon
mengajak mereka membantunya.
“Misalnya untuk membuat keripik jagung.
Kontrol, penjualan, dan bahan baku dari saya.
Jadi, hubungan saya dengan anak-anak ada
kaitan emosionalnya dan menjadi lebih panjang.
Bahkan petani mitra juga begitu, jadi banyak
berhubungan dengan santri-santri pesantren
yang saya kenal dari awal,” paparnya.
Saat ini, Popon memiliki 17 orang pegawai,
yang dibagi ke dalam 2 sif. Sementara untuk
urusan administrasi, ia memiliki 5 orang
karyawan yang sejak awal sudah ikut membangun
usaha keripik tersebut. Popon memberikan upah
untuk karyawannya yang bekerja
di fasilitas produksi dan outlet sebesar Rp 10
ribu per hari plus insentif dari jumlah pnoduksi
dan penjualan yang melebihi target. Kerajinan
masuk kerja pun memengaruhi pemberian insentif.
Sementana untuk tenaga teknis seperti orang
orang yang menangani mesin, dibayar sesuai
dengan jumlah alat yang dipegang. Tenaga
borongan, biasanya untuk bagian pembungkusan,
mendapat upah Rp 20 per bungkus. Biasanya
dibayarkan setiap minggu, atau sesuai dengan
permintaan tenaga borongan tersebut.
Popon tidak melupakan kesejahteraan masa
depan karyawannya. Zakat usaha diberikan
kepada karyawannya dalam bentuk tabungan
pensiun. Bahkan setiap tahunnya ada jatah
kurban Idul Adha untuk pegawainya yang
dilakukan secara bergantian. Kurban ini didapat
dengan menjual minyak goreng bekas yang
masih bersih kepada penduduk sekitar. Untuk
melepas jenuh, pada setiap tanggal 31 Oktober,
yakni hari ulang tahun usahanya, Popon dan
karyawannya pergi piknik bersama.
Popon juga telah menyiapkan regenerasi
untuk menjalankan bisnisnya. Dia melibatkan
langsung adiknya. Juga, salah satu keponakannya
diangkat menjadi sekretaris. Dengan
manajemen keluarga seperti ini, Popon merasa
lebih aman. Selain faktor kepercayaan, menurut
Popon, keluarga lebih mudah dipegang karena
ada rasa kebersamaan dan kepemilikan yang kuat.
Tentu saja, manajemen keluarga bukannya
tanpa masalah sama sekali. Misalnya, ada
anggota keluarga yang menitipkan anaknya
bekerja di pabrik, namun ternyata hasil
pekerjaannya atau disiplinnya tidak memuaskan.
Hal ini kerap menjadi dilema untuk Popon.
“Akan jadi omongan orang di kampung jika kita
sukses tapi saudara kita miskin. Tapi saya juga
enggak mau disangka tidak adil oleh anak-anak
lain. Sama saudaranya ngebela, tapi yang lain
tidak,” tutur Popon yang mengaku sudah pernah
mengeluarkan 4 orang karyawan yang berasal
dari keluarganya.
MENGATUR SISTEM PRODUKSI
Seperti usaha-usaha kecil yang tumbuh dari
bawah lainnya, Popon saat ini juga belum
menggunakan jasa profesional dalam
mengembangkan usahanya. Popon masih melakukan
pencatatan keuangan, perekrutan, dan
pemasarannya sendiri. Namun untuk urusan
rekrutmen karyawan, ia hanya mengandalkan
calon yang dibawa oleh karyawannya sendiri,
sehingga kesetiaan dan kejujurannya lebih
terjamin. Meskipun demikian, setiap calon
tetap harus diwawancara dan dites
kemampuannya langsung oleh Popon sendiri.
Pembagian tugas dan disiplin pun diterapkan.
Selain berdasarkan pengalaman, Popon juga
menerapkan pengetahuan yang ia dapat dari
berbagai pelatihan dan diskusi yang ia lakukan
dengan mahasiswa.
Untuk pencatatan keuangan, ia dibantu
seorang bendahara, demikian pula untuk
penghitungan keperluan produksi. Popon juga
sudah dapat membuat estimasi kemampuan
dan keperluan biaya produksi setiap minggu.
Misalnya, kebutuhan pengeluaran fasilitas
produksi mencapai Rp 20 juta per minggu. Jika
mengirim hasil produksi dengan nilai lebih dari
Rp 20 juta, outlet hanya akan membayar Rp 20
juta. Jika ada kelebihan keuntungan dan outlet
akan dialihkan ke investasi peralatan fasilitas
produksi. Misalnya untuk mengurus perizinan
halal, PIRT, merek, hingga barcode. Biaya-biaya
tersebut memang dibayarkan setiap tahun,
namun oleh Popon sudah disisihkan setiap bulan.
Terkait keuangan, meski belum memakai jasa
akuntan profesional, untuk membangun sistem
dan audit, Popon sudah memisahkan antara
biaya-biaya untuk urusan usaha dengan urusan
pribadinya. Rekening pun dibuat terpisah. Pada
tahun 2010, dia bahkan sudah memisahkan
antara urusan fasilitas produksi dengan outlet,
termasuk aset. Dari pendapatan, setiap minggu
dia menyisihkan Rp 2,5 juta untuk disetorkan ke
bank bjb sebagai pengembalian modal.
Untuk mengantisipasi kekurangan suplai
bahan baku, Popon mengelola banyak supplier.
Jika di antara supplier satu dan lainnya
memberikan harga berbeda, dia mengambil
harga tengah. “Pada periode tertentu memang
beberapa jenis bahan baku agak susah,” ujar
Popon, “Biasanya di bulan Maret-April.”
Untuk menyiasati hal ini, Popon menurunkan
jumlah produksi, meski menjual dengan harga
yang tetap. Untuk mengurangi ongkos produksi,
Popon juga memberikan libur tambahan bagi
karyawannya, yang biasanya hanya sehari dalam
seminggu menjadi dua hari. Bahkan kalau order
sangat sepi, karyawan pabrik diliburkan setiap
dua hari sekali. “Tapi sejak tahun 2010, pemasok
bahan baku jalan terus,” kata Popon. Untuk itu
karyawan bahkan tetap bekerja di hari Minggu
dan Popon memberi libur seminggu sekali
secara bergilir.
Kebijakan mengenai berapa banyak jumlah
produksi awalnya diambil Popon secara intuitif.
Namun seiring waktu ia mulai memberlakukan
pencatatan. Dengan demikian, berapa jumlah
order bulan depan sudah bisa terbaca dari
permintaan yang terjadi pada bulan ini dan
perkiraan produksi tahun lalu pada bulan yang
sama. Jika order sedikit, Popon menghentikan
produksi satu item dan berganti dengan
memproduksi komoditi yang lain.
“Setiap bulan saya mengadakan rapat sehingga
ketahuan data-data produksi dan penjualan
untuk membuat perencanaan produksi
berikutnya. Biasanya setiap tanggal 1 kita
kumpul dan hasil penghitungan kurang lebih
selalu sesuai dengan rencana produksi,” kata
perempuan murah senyum ini.
Untuk pencatatan barang masuk dan keluar,
Popon sudah menggunakan software pencatatan
yang mampu mendata dan menerima laporan
setiap hari dari bagian produksi dan outlet.
Teknologi pencatatan ini didapatkannya berkat
mengikuti diskusi-diskusi dengan banyak pihak.
Meski awalnya Popon mengaku mengalami
kesulitan, banyak dosen dan mahasiswa yang
secara sukarela tidak segan-segan menolongnya.
Penggunaan teknologi bukan hanya diperlukan
untuk pencatatan saja, melainkan
juga untuk menerima pesanan, yang bisa
dilakukan dengan internet. Sementara untuk
urusan promosi—juga dilakukan melalui internet—
allhamdulillah justru dilakukan oleh
mahasiswa-mahasiswa Unpad dan Unpas yang
kerap bekerja sama dengan Popon.
MERANCANG MASA DEPAN
Ke depannya, Popon bermimpi untuk menggunakan
tenaga profesional di bagian produksi
dan pemasaran. Misalnya saja manajer pemasaran
profesional, akuntan profesional, dan
manajer pabrik. Dia ingin mimpinya itu
terwujud pada tahun 2012.
Dia berharap, ke depannya juga bisa
memiliki pabrik yang lebih besar lagi, sehingga
bisa meraup omzet hingga Rp 1 miliar per
bulan. Popon juga ingin menambah berbagai
alat produksi, seperti menambah 5 mesin
vacuum frying, untuk menggenjot jumlah
produksi. Apalagi pasar Singapura sudah
meminta kiriman emping jagung, yang saat
ini masih terkendala dalam menentukan agen
yang bersedia memasaknya di sana. “Soalnya,
kalau dikirim matang dari Majalengka, di
khawatirkan sampai Singapura sudah remuk,”
kata Popon sambil tergelak. Di Jakarta, pusat
retail yang berada di Grand Indonesia pun
sedang memproses masuknya camilan ‘Ibu
Popon’ ke pusat perbelanjaan bergengsi di
Jakarta itu.
Impiannya tak berhenti sampai di situ.
Popon juga ingin agar fasilitas produksi, toko,
dan kantornya terletak dalam satu kawasan
saja. Kantor berada di atas pabrik, sehingga
proses produksi dapat diawasi dari atas. Saat
ini kantornya masih mengambil bagian dari
rumahnya, sementara fasilitas produksi dan toko
berada di tempat lainnya. Dengan menyatukan
lokasi Popon berharap bisa memenuhi berbagai
permintaan yang sudah membanjir. Apalagi,
setiap menjelang bulan puasa dan tahun baru,
permintaan bisa meningkat hingga 3 kali lipat.
Misalnya saja permintaan dari Carrefour.
Awalnya hanya Carrefour Kiaracondong yang
menempatkan produk Popon pada bagian Pojok
Rakyat. Sekarang berlanjut dengan meminta
Popon menyuplai cabang-cabangnya di Jakarta,
Yogyakarta, dan Bali. Padahal untuk menyuplai
ke Carrefour di Bandung saja, Popon sudah
merasa kewalahan dan pernah mengorbankan
permintaan dari yang lainnya. Karena itu, dia
menambah 1 vacuum frying lagi, meski itu pun
dianggapnya masih kurang. Selain Bandung,
Popon juga ingin memusatkan pengirimannya
di Jakarta sehingga biaya pengiriman atau
distribusi bisa seminimal mungkin.
Untuk inovasi komoditas, Popon tidak pernah
berhenti. Setelah jus mangga, dodol pisang dan
tomat, berbagai jenis keripik, sumpia, Popon
berencana membuat sambal oncom dan ulukutek
(leunca khas Sunda) yang dikemas dengan
botol. Eksperimen biasanya dilakukannya pada
bulan-bulan sepi produksi dan order, yakni
antara bulan Maret hingga Mei. Dengan begitu,
eksperimen komoditas baru tidak mengganggu
kegiatan produksi.
“Banyak mimpi saya. Keripik pisang cokelat
juga baru saya tes, tapi belum launching di pasar.
Banyak PR untuk pengembangan. Biasanya dari
saya sendiri, lalu saya akan masukkan ke lab untuk
dites, setelah itu saya baru berani lepas ke pasar,”
ujar Popon.
Dengan kerja kerasnya selama 8 tahun, kini
omzet Popon sudah mencapai Rp 120 juta per
bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 15-20
persen. Popon pun cukup senang karena dengan
caranya berkreasi, praktis ia sulit dikejar saingan
di sekitarnya ini. Kegigihannya membangkitkan
usaha kecil di Majalengka, membawa kelompok
Asri Rahayu yang dibinanya mendapat Penghargaan
Ketahanan Pangan Bidang Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian dari Dirjen
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian
Kementerian Pertanian pada tahun 2009.
Yang paling dibanggakan Popon adalah
penghargaan yang diserahkan langsung oleh
Wakil Presiden Boediono pada bulan Desember
2010 di Istana Negara. Penghargaan Ketahanan
Pangan Tingkat Nasional itu diperoleh Kelompok
Asri Rahayu melalui Kementerian Pertanian
karena kelompok tersebut dianggap sukses
membina ibu-ibu mengolah hasil pertanian.
“Saya senang bisa masuk Istana, meski banyak
aturannya. Misalnya enggak boleh pakai celana
jeans. Seharusnya Presiden yang memberikan,
tapi saat itu beliau sedang berada di Kopenhagen,
jadi diwakilkan,” kenangnya riang. Foto-foto
Popon saat menerima penghargaan dari Wapres
Boediono pun terpajang manis di kios camilannya
di Kelurahan Cijati, Kabupaten Majalengka.
Begitu juga dengan piala dari Dirjen Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian
Pertanian.
Menurut Popon, mimpinya untuk memberdayakan
masyarakat sekitar, termasuk kaum
ibu, telah terwujud. Popon percaya, kunci
sukses usaha terletak pada kesungguhan,
niat yang tulus di dalam hati, fokus, dan
membangun usaha untuk membantu orang
lain. “Dengan membantu orang lain, insya
Allah urusan kita juga dibantu sama Yang
Kuasa,” ujarnya menutup pembicaraan.
Catatan Rhenald Kasali
SEORANG KREATIF MENEMBUS berbagai belenggu dengan berlari tiada henti.
Ibaratnya ia menari-nari mengikuti tabuhan tifa yang digendang seseorang.
Ia terus menari tiada letih, tetapi lambat laun tariannya mulai tidak
keruan, asal saja. Waktu tak bisa ditahan, umur bergerak ke depan. Ia terus
maju saja, padahal kesegaran sangat dibutuhkan.
Itulah gambaran sebagian besar usaha kecil Indonesia yang matanya baru
terbuka. Ia berlari terus seperti rusa yang dikejar cheetah, bergerak zig-
zag. Ia meraih kemajuan, namun pasar butuh kedalaman. Untuk mendapatkan
kedalaman, seseorang harus berhenti berlari dan mengendapkan pikiran-
pikirannya ke dalam selembar kertas yang bersih, dan menata usahanya pada
segala sisi, mulai dari manusia hingga ke mesin. Dari mesin hingga ke
produksi. Dari produksi hingga ka pasar, dan dari pasar sampai menghasilkan
uang.
Itu pula yang terjadi dengan Popon dan sebagian besar usaha kecil Indonesia
Kalau tidak terlalu aktif, mereka terlalu pasif. Yang satu penuh gairah tak
mau berhenti yang satunya lagi tak punya gairah dan selalu mengeluh.
Memang yang pertama lebih baik karena rezekinya lebih lancar, pintu selalu
terbuka. Tetapi Popon dan kawan-kawannya juga harus bisa naik kelas dengan
berhenti berlari membenahi usaha dan menempatkan usaha dalam desain yang
lebih strategis.
Ia perlu menata perusahaannya, bukan melulu membuat produk. Bila Popon
terus bergerak membuat produk, ia akan keletihan dan pasar dapat menjadi
jenuh. Saatnya sekarang bekerja dengan pikiran dan memakai tangan orang
lain.
Untuk berhentí berlarì, para pelaku usaha kecil dan mikro dapat menempuh
beberapa cara beríkut ini. Pertama, dalamilah manajemen. Setelah berusaha
empat-lima tahun, silakan mengendurkan kreativitas dalam membuat
produk baru, dan arahkan energi pada kreativitas manajemen.
Kedua, jangan takut merekrut orang-orang yang punya pengalaman untuk menata
SDM, keuangan, dan sistem. Ketiga, kurangi waktu dari operasional dan
perbanyak waktu untuk berkomunikasi internal.
Dengan berkomunikasi secara intens ke dalam, Anda dapat memperkuat tim
bisnis Anda sehingga perusahaan tidak terlalu tergantung pada cara
berpikir satu orang. Manajemen yang solid akan sangat membantu kemajuan
usaha Anda, dan mereka akan sangat membantu memajukan usaha Anda.
Maka bangunlah tim yang kuat. Tim yang kuat akan menjadikan Anda lebih dari
sekadar pengusaha kecil, melainkan menjadí wìrausaha yang inovalíf dan
kreatif.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Melihat hasil panen raya dari 83 pohon
mangganya sia-sia, ibu yang tidak
bekerja ini pun berpikir untuk menjual
jus. Kebetulan ada sekolahan di dekat
rumahnya. Meski usaha jusnya tak
berlangsung lama, namun ia tetap
dapat memanfaatkan sumber daya
di sekitarnya menjadi camilan yang
membuat lidah berdansa.
Ide bisnis memang dapat datang dari mana
saja. Termasuk dari pelataran rumah Popon
Suhaemah di Kelurahan Cijati, Kabupaten
Majalengka. Sebelum menjual jus, Popon pernah
membuat usaha telur asin tahun 2000 yang
berakhir ketika peternak bebek menghilang dari
desanya karena musim kemarau.
Senasib dengan usaha telur asin, usaha menjual
jus pun tidak berlangsung lama. Pasalnya,
baru seminggu disimpan, jus buatannya sudah
mengeluarkan bakteri. Dia memutar otak agar
olahan jus mangganya bisa tahan lama, tidak
cepat busuk. “Akhirnya saya berkonsultasi ke
Dinas Kesehatan, kalau pengen lama bagaimana
nih, saya bilang begitu,” cerita Popon mengenang
awal usahanya.
Atas saran pegawai Dinkes, Popon mengikuti
pelatihan untuk mendapatkan Surat Penyuluhan
(SP)—kini Perizinan Industri Rumah Tangga
(PIRT). Dia mendapat ilmu baru bagaimana
mengawetkan mangga dengan bahan pengawet
yang sudah diperbolehkan. Pada 31 Oktober
2002, dengan SP di tangan, Popon mendaftarkan
dagangannya dengan nama ‘Ibu Popon’. “Saya
berpikir sederhana waktu itu, kalau orang
nyari saya gampang, karena saya orang sini asli.
Kalau orang tanya Bu Popon, semua pasti tahu,”
cetusnya.
MEMANFAATKAN BUAH YANG BERLIMPAH
Setelah suaminya di-PHK saat krisis moneter
tahun 1998, perempuan asal Majalengka ini memang
harus pintar-pintar mencari peluang. Pada
bulan Oktober 2003, pohon mangganya kembali
menghasilkan buah yang banyak. Bermodalkan
ilmu dan pelatihan sebelumnya, Popon mengolah
mangga tersebut menjadi dodol dengan
menambahkan pengawet yang sudah mendapat
izin Dinas Kesehatan.
Dengan mengendarai motor GL 86, Popon
menaruh dodolnya di beberapa warung di
desanya. Setiap warung dititipkan sekitar 20
bungkus dodol. Dalam pikirannya, dodol yang
dibuatnya harus habis, tidak lagi disimpan di
rumah.
Namun, harapan tidak seindah kenyataan.
Ketika seminggu kemudian Popon menagih
hasil penjualan ke warung-warung tersebut,
ternyata dodol yang laku hanya 2-5 bungkus
saja. Selebihnya dikembalikan. Kejadian ini
berlangsung beberapa waktu. Untuk menghindari
malu kepada ibunya, Popon selalu membawa
gunting di tasnya. Dodol yang tidak laku
digunting dan dibuang ke sungai. Sementara
merek ‘Ibu Popon’ yang tertera di bungkus, ia
bakar.
Siapa sangka, keuletannya menjual dodol
mangga ke warung-warung itu menarik minat
seorang staf Dinas Pertanian. Betapa senangnya
Popon ketika tempat usahanya dikunjungi orang
berseragam dinas cokelat-cokelat. Rupanya,
orang tersebut hendak membeli dodolnya untuk
dibawa ke provinsi. Ia ingin menunjukkan bahwa
Majalengka pun bisa menghasilkan penganan
khas, mengingat daerah ini memang terkenal
dengan banyaknya pohon mangga.
“Dari hari itu seperti ada titik terang bagi
saya. Seperti ada malaikat penolong. Terus,
setelah ngobrol, saya minta nomor teleponnya,
dikasihlah nomor telepon,” tutur Popon. Setelah
Lebaran, Popon berkunjung ke Dinas Pertanian
tingkat Kabupaten Majalengka. Dia bertemu
dengan Pak Nunu, yang mengenalkannya
kepada Kepala Seksi Usaha. Kesempatan itu
dipergunakannya untuk berkisah panjang lebar
tentang kendala usahanya dan mimpi-mimpi
pengembangan usaha. Gayung pun bersambut,
Popon diajak menjadi warga tani binaan Dinas
Pertanian dengan syarat membentuk kelompok.
Bersama dengan 4 saudaranya, Popon membentuk
kelompok Asri Rahayu. Mereka mengumpulkan
uang Rp 50 ribu per orang untuk
mengikuti pembinaan tani. Mereka terus
melakukan trial and error dalam pembuatan
dodol mangga tanpa kenal lelah. “Kadang-
kadang belum diedarkan, dodol tersebut sudah
jamuran. Kemudian kami berkonsultasi
dan disarankan memakai lemak sapi, namun
hasilnya bau,” kenang Popon.
Nyaris setiap hari Popon dan kelompoknya
melakukan uji coba dan hasilnya dikonsultasikan
ke Dinas Pertanian, hingga akhirnya dikirim
ke pelatihan pengolahan pascapanen di Balai
Pelatihan Pertanian Cihea, Cianjur. “Di situ saya
mulai mendapat ilmu. Ooohhh... rupanya begini
cara mengolah dodol. Mulailah saya diajak studi
banding ke Ciamis, lalu Sukasena. Dari situ saya
semakin semangat. Oh kalau orang lain bisa,
kenapa saya enggak,” yakinnya.
Sejak saat itu, Popon semakin aktif mengikuti
pelatihan, mulai dari proses pengolahan sampai
packaging. Di pelatihan itu juga dia baru
mengetahui bahwa sebuah merek yang kuat
sebaiknya memiliki arti dan pengaruh yang
besar. Namun hal tersebut tidak membuatnya
mengubah merek yang sudah teregistrasi.
Selain pelatihan, Popon juga mendapat
bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad)
dan Universitas Pasundan (Unpas). Setiap
permasalahan juga dikonsultasikan kepada
para profesor Jurusan Teknologi Pangan pada
kedua perguruan tinggi tersebut. Bahkan Popon
memberikan tempatnya untuk menjadi
tempat penelitian mahasiswa, yang menurutnya
amat membantu usahanya. Berkat penelitian
mahasiswa jualah camilan ‘Ibu Popon’ kini
sudah mencantumkan informasi kandungan
nutrisi. Produknya pun kerap diajak pameran
yang digelar di lingkungan kedua universitas
tersebut.
Tahun 2004, jenis olahan Popon mulai beraneka
ragam. Dia mendapat tawaran alat vacuum
frying untuk menggoreng keripik. Selama
setahun dia harus mempelajari kegunaan alat
tersebut dan menghasilkan produk keripik
dan buah-buahan. Popon hanya fokus agar
keripiknya bagus. Dia belajar bagaimana
keripik pisangnya tidak cepat letoy. Ia baru
tahu, ternyata jenis pisang dan tingkat
kematangannya pun sangat berpengaruh.
“Jadi kita sekarang sudah bisa menentukan
Pisangnya seperti apa, kulitnya seperti
apa, harus kita goreng hingga kematangan
seperti apa. Kalau yang lewat dari sortasi
itu jadi dodol. Kalau dulu mah dihantam aja,
digoreng semua pisangnya. Pikirannya
sederhana, daripada dibuang,” papar Popon.
Meski tak pernah putus belajar, baru saat
menginjak tahun ketiga, Popon bisa menggoreng
keripik yang tahan lama. Seiring waktu pun
orang makin mengenal produk dodol dan keripik
merek ‘Ibu Popon’.
Popon pun terus belajar menjalankan usahanya ini.
Misalnya dalam menentukan harga.
Dengan berat 1 ons, Popon menjual keripik
tersebut ke warung seharga Rp3.500 dan dijual
warung tersebut ke masyarakat seharga
Rp5.000. Padahal ada juga yang menjual keripik
pisang seberat 1/4 kg dengan harga Rp2.500.
Sukses? Ternyata belum. Keripik pisang Popon
ternyata tidak laku dan ia kembali menerima
banyak retur. Maka ia pun menata ulang
penentuan harga produk-produknya.
MEMBESARKAN USAHA
Seperti usaha kecil lainnya, Popon pun mulai
mengalami permasalahan modal. Dengan bantuan
Dinas Koperasi, dia mendapat jaminan
untuk mendapatkan pinjaman dari bank bjb
sebesar Rp 9 juta pada 2005. Dia juga diajak
mengikuti pameran-pameran oleh Departemen
Perindustrian. Saat ini hampir semua wilayah
Indonesia sudah dikunjunginya untuk pameran,
mulai dari Surabaya, Jakarta, Makassar, NTB,
hingga Batam. Bahkan produk ‘Ibu Popon’ sudah
ikut pameran ke Singapore Expo (Singex).
Dari pameran-pameran itu juga Popon mengenal
packaging yang baik dan menarik.
Packaging House di Bandung menyarankan
Popon untuk membuat packaging yang menarik
dan menimbulkan minat orang untuk membeli.
Ketika pameran di Singex, produk Popon tidak
hanya dikemas dalam plastik, tapi dimasukkan
dalam kaleng dan kardus suvenir.
Dari pameran—pameran tersebut merek ‘Ibu
Popon’ akhirnya mulai dikenal orang. Sekarang
banyak pihak yang justru ingin memasarkan
camilan produksi Popon. Pemasarannya pun
sekarang sudah tak lagi hanya di sekitar
Majalengka, tapi sudah masuk Jakarta, termasuk
rest area jalan tol dan koperasi di perkantoran
Jalan Jenderal Sudirman. Di Bogor, produk Popon dapat
ditemukan di sentra oleh-oleh Priangan Sari. Pusat
perbelanjaan besar seperti Carrefour dan Yogya
pun sudah menjual camilan khas ‘Ibu Popon’.
Setelah usahanya semakin berkembang,
kini saatnya gantian, Popon harus membina
kelompok ibu-ibu wanita tani di desa-desa di
Majalengka. Saat ini dia sudah membina sekitar
40 kelompok, yang tiap kelompoknya terdiri
dari 10 orang. Setiap kelompok dibuatnya
memiliki keahlian khusus, misalnya membuat
keripik pisang saja, keripik jagung saja, atau
keripik salak saja. Muiai dari bumbu hingga
standard operational procedure (SOP) dan
pengawasannya dikontroi langsung oleh Popon.
Produksi dari setiap kelompok tani itu dijual
ke tempatnya.
Hingga saat ini, kelompok wanita tani binaan
Popon bukan hanya menghasilkan berbagai jenis
keripik, tapi juga rempeyek kacang hijau, hingga
sumpia (sejenis makanan ringan berbentuk
lumpia kecil dan digoreng kering) isi oncom.
Sementara di fasilitas produksinya, Popon sudah
menghasilkan keripik pisang, keripik
nangka, keripik salak, dodol jambu biji, dodol
mangga, dan dodol pisang. Siapa sangka wanita
berpenampilan sederhana ini bisa menyulap
mangga, salak, pisang, nangka, jagung menjadi
camilan seperti dodol dan keripik?
Popon pun rajin mengutak-atik produknya.
Misalnya, sumpia yang biasanya berisi udang
atau ebi, kini diganti dengan oncom. Popon
mengaku terkejut karena idenya itu ternyata
diminati banyak orang. Awalnya, dia hanya
melihat bahwa desanya banyak memproduksi
oncom. Dia pun memberdayakan masyarakat
untuk membungkus oncom dengan kulit lumpia.
Upah yang diberikan sebesar Rp2.000 per
kilogram dan dibayarkan setiap hari Sabtu.
Popon tinggal mempekerjakan orang untuk
menggoreng sumpia oncom tersebut.
Sementara emping jagung Popon paling di
minati oleh konsumen di Bogor. Awalnya Popon
hanya membuat rasa original. Namun para
pembelinya meminta diberi taburan bumbu rasa
barbekyu, yang kemudian dia penuhi. Meskipun
demikian, emping jagung rasa original juga tak
kalah peminatnya.
Popon dengan cepat juga mempelajari bahwa
setiap daerah di Jawa Barat ini memiliki
permintaan yang berbeda. Jika orang Bogor suka
emping jagung, di Jakarta yang paling laris
adalah keripik pisang. Rest area pada jalan tol
di Jakarta bahkan mengorder 2 kuintal setiap
2 minggu sekali. Artinya, dia harus mengolah 2
ton pisang untuk menghasilkan keripik pisang
sebanyak itu. Padahal, dengan kemampuannya
saat ini hanya 600-700 kilogram yang bisa
diolah karena terkendala alat produksi yang
minim dan kurang memadainya luas fasilitas
produksinya saat ini.
“Dengan 5 alat vacuum yang dimiliki saat
ini, kapasitas kita baru 1.000 kg keripik tiap
bulan,” ujar sarjana pendidikan Islam yang
memelesetkan gelar S.Pd.I yang diraihnya
menjadi sarjana pembuat dodol Ibu Popon.
Untuk itu, dia pun meminta tambahan modal.
Setelah melunasi utang Rp 9 juta, tahun 2007
Popon mendapat pinjaman lagi dari bank
bjb sebesar Rp 50 juta. Bisnisnya bertambah
pesat, dan keberaniannya berbisnis semakin
besar. Dan, akhir tahun 2010 lalu dia mendapat
pinjaman Rp 250 juta untuk membeli alat
produksi dan memindahkan fasilitas produksi
ke sebelah tokonya.
Saat ini, Popon baru mampu menghasilkan
2.000 kilogram untuk seluruh jenis produknya.
Khusus keripik dapat dihasilkan 1.000 kilogram,
yang artinya membutuhkan 10 ton bahan baku.
Untungnya, di bumi Nusantara ini Popon tidak
pernah kesulitan urusan bahan baku. Bermitra
dengan petani dan pengolah setengah jadi (pure)
membuat ketersediaan bahan tidak pernah
kurang. Selain itu, misalnya untuk mangga,
Popon membuat stok dengan menyimpannya
dalam beberapa buah freezer. Untuk pisang,
Popon bermitra dengan petani dan pengumpul
di Rajagaluh, Majaengka. Untuk nangka, ada
temannya yang berburu nangka dan menyetorkan
hasil buruannya kepada Popon.
Keripik yang awalnya hanya dilakukan coba-
coba, kini menjadi dagangan yang paling
diandalkan, mengingat penjualannya selalu habis.
Apalagi bahan baku buah-buahan amat berlimpah
di daerahnya. Inilah keuntungannya memulai
bisnis dengan memperhitungkan masak
masak sumber daya alam yang dibutuhkan
untuk keperluan tersebut.
Dari perjalanan panjangnya di awal usaha,
Popon banyak memperoleh pelajaran dan
pengalaman yang mendukung kemajuan usahanya.
Misalnya saja, dia menyadari pentingnya merek.
“Sekarang saya baru sadar, merek ternyata besar
artinya. Merek harus punya ciri khas, hurufnya
jangan terlalu banyak. Nah, itu saya baru dapat
sekarang, tapi sudah telanjur jadi dan terdaftar,”
ujarnya sambil tertawa.
MELATIH MASYARAKAT SEKITAR
Untuk sumber daya manusianya, Popon tidak
mau lagi hanya sekadar banyak menyerap tenaga
kerja. Dia kini ingin usahanya memberi manfaat
untuk orang lain. Bukan hanya bermanfaat
bagi sanak saudara, tetangga, kelompok tani,
dan para santri dari pesantren yang didirikan
ayahnya, melainkan juga bagi anak sekolah yang
tidak mampu. Mereka bisa magang di pabriknya.
Popon memberi pelatihan produksi kepada
mereka secara langsung. Mereka diarahkan sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Tak
tanggung-tanggung, Popon kini sudah memiliki
standar pelatihan, termasuk masalah kesehatan
serta kebersihan. Penggunaan celemek, penutup
kepala, dan penutup mulut, misalnya, adalah
sebuah keharusan. Bahkan ada modul yang
harus dipelajari calon pekerjanya.
Popon mencari anak-anak yang berpotensi.
Menurutnya, secara hukum alam, anak yang
kurang mau belajar akan tersingkir dengan
sendirinya, sementara yang bertahan akan
diberi pelatihan oleh suku dinas setempat. Ketika
mereka sudah keluar dari sekolah, Popon
mengajak mereka membantunya.
“Misalnya untuk membuat keripik jagung.
Kontrol, penjualan, dan bahan baku dari saya.
Jadi, hubungan saya dengan anak-anak ada
kaitan emosionalnya dan menjadi lebih panjang.
Bahkan petani mitra juga begitu, jadi banyak
berhubungan dengan santri-santri pesantren
yang saya kenal dari awal,” paparnya.
Saat ini, Popon memiliki 17 orang pegawai,
yang dibagi ke dalam 2 sif. Sementara untuk
urusan administrasi, ia memiliki 5 orang
karyawan yang sejak awal sudah ikut membangun
usaha keripik tersebut. Popon memberikan upah
untuk karyawannya yang bekerja
di fasilitas produksi dan outlet sebesar Rp 10
ribu per hari plus insentif dari jumlah pnoduksi
dan penjualan yang melebihi target. Kerajinan
masuk kerja pun memengaruhi pemberian insentif.
Sementana untuk tenaga teknis seperti orang
orang yang menangani mesin, dibayar sesuai
dengan jumlah alat yang dipegang. Tenaga
borongan, biasanya untuk bagian pembungkusan,
mendapat upah Rp 20 per bungkus. Biasanya
dibayarkan setiap minggu, atau sesuai dengan
permintaan tenaga borongan tersebut.
Popon tidak melupakan kesejahteraan masa
depan karyawannya. Zakat usaha diberikan
kepada karyawannya dalam bentuk tabungan
pensiun. Bahkan setiap tahunnya ada jatah
kurban Idul Adha untuk pegawainya yang
dilakukan secara bergantian. Kurban ini didapat
dengan menjual minyak goreng bekas yang
masih bersih kepada penduduk sekitar. Untuk
melepas jenuh, pada setiap tanggal 31 Oktober,
yakni hari ulang tahun usahanya, Popon dan
karyawannya pergi piknik bersama.
Popon juga telah menyiapkan regenerasi
untuk menjalankan bisnisnya. Dia melibatkan
langsung adiknya. Juga, salah satu keponakannya
diangkat menjadi sekretaris. Dengan
manajemen keluarga seperti ini, Popon merasa
lebih aman. Selain faktor kepercayaan, menurut
Popon, keluarga lebih mudah dipegang karena
ada rasa kebersamaan dan kepemilikan yang kuat.
Tentu saja, manajemen keluarga bukannya
tanpa masalah sama sekali. Misalnya, ada
anggota keluarga yang menitipkan anaknya
bekerja di pabrik, namun ternyata hasil
pekerjaannya atau disiplinnya tidak memuaskan.
Hal ini kerap menjadi dilema untuk Popon.
“Akan jadi omongan orang di kampung jika kita
sukses tapi saudara kita miskin. Tapi saya juga
enggak mau disangka tidak adil oleh anak-anak
lain. Sama saudaranya ngebela, tapi yang lain
tidak,” tutur Popon yang mengaku sudah pernah
mengeluarkan 4 orang karyawan yang berasal
dari keluarganya.
MENGATUR SISTEM PRODUKSI
Seperti usaha-usaha kecil yang tumbuh dari
bawah lainnya, Popon saat ini juga belum
menggunakan jasa profesional dalam
mengembangkan usahanya. Popon masih melakukan
pencatatan keuangan, perekrutan, dan
pemasarannya sendiri. Namun untuk urusan
rekrutmen karyawan, ia hanya mengandalkan
calon yang dibawa oleh karyawannya sendiri,
sehingga kesetiaan dan kejujurannya lebih
terjamin. Meskipun demikian, setiap calon
tetap harus diwawancara dan dites
kemampuannya langsung oleh Popon sendiri.
Pembagian tugas dan disiplin pun diterapkan.
Selain berdasarkan pengalaman, Popon juga
menerapkan pengetahuan yang ia dapat dari
berbagai pelatihan dan diskusi yang ia lakukan
dengan mahasiswa.
Untuk pencatatan keuangan, ia dibantu
seorang bendahara, demikian pula untuk
penghitungan keperluan produksi. Popon juga
sudah dapat membuat estimasi kemampuan
dan keperluan biaya produksi setiap minggu.
Misalnya, kebutuhan pengeluaran fasilitas
produksi mencapai Rp 20 juta per minggu. Jika
mengirim hasil produksi dengan nilai lebih dari
Rp 20 juta, outlet hanya akan membayar Rp 20
juta. Jika ada kelebihan keuntungan dan outlet
akan dialihkan ke investasi peralatan fasilitas
produksi. Misalnya untuk mengurus perizinan
halal, PIRT, merek, hingga barcode. Biaya-biaya
tersebut memang dibayarkan setiap tahun,
namun oleh Popon sudah disisihkan setiap bulan.
Terkait keuangan, meski belum memakai jasa
akuntan profesional, untuk membangun sistem
dan audit, Popon sudah memisahkan antara
biaya-biaya untuk urusan usaha dengan urusan
pribadinya. Rekening pun dibuat terpisah. Pada
tahun 2010, dia bahkan sudah memisahkan
antara urusan fasilitas produksi dengan outlet,
termasuk aset. Dari pendapatan, setiap minggu
dia menyisihkan Rp 2,5 juta untuk disetorkan ke
bank bjb sebagai pengembalian modal.
Untuk mengantisipasi kekurangan suplai
bahan baku, Popon mengelola banyak supplier.
Jika di antara supplier satu dan lainnya
memberikan harga berbeda, dia mengambil
harga tengah. “Pada periode tertentu memang
beberapa jenis bahan baku agak susah,” ujar
Popon, “Biasanya di bulan Maret-April.”
Untuk menyiasati hal ini, Popon menurunkan
jumlah produksi, meski menjual dengan harga
yang tetap. Untuk mengurangi ongkos produksi,
Popon juga memberikan libur tambahan bagi
karyawannya, yang biasanya hanya sehari dalam
seminggu menjadi dua hari. Bahkan kalau order
sangat sepi, karyawan pabrik diliburkan setiap
dua hari sekali. “Tapi sejak tahun 2010, pemasok
bahan baku jalan terus,” kata Popon. Untuk itu
karyawan bahkan tetap bekerja di hari Minggu
dan Popon memberi libur seminggu sekali
secara bergilir.
Kebijakan mengenai berapa banyak jumlah
produksi awalnya diambil Popon secara intuitif.
Namun seiring waktu ia mulai memberlakukan
pencatatan. Dengan demikian, berapa jumlah
order bulan depan sudah bisa terbaca dari
permintaan yang terjadi pada bulan ini dan
perkiraan produksi tahun lalu pada bulan yang
sama. Jika order sedikit, Popon menghentikan
produksi satu item dan berganti dengan
memproduksi komoditi yang lain.
“Setiap bulan saya mengadakan rapat sehingga
ketahuan data-data produksi dan penjualan
untuk membuat perencanaan produksi
berikutnya. Biasanya setiap tanggal 1 kita
kumpul dan hasil penghitungan kurang lebih
selalu sesuai dengan rencana produksi,” kata
perempuan murah senyum ini.
Untuk pencatatan barang masuk dan keluar,
Popon sudah menggunakan software pencatatan
yang mampu mendata dan menerima laporan
setiap hari dari bagian produksi dan outlet.
Teknologi pencatatan ini didapatkannya berkat
mengikuti diskusi-diskusi dengan banyak pihak.
Meski awalnya Popon mengaku mengalami
kesulitan, banyak dosen dan mahasiswa yang
secara sukarela tidak segan-segan menolongnya.
Penggunaan teknologi bukan hanya diperlukan
untuk pencatatan saja, melainkan
juga untuk menerima pesanan, yang bisa
dilakukan dengan internet. Sementara untuk
urusan promosi—juga dilakukan melalui internet—
allhamdulillah justru dilakukan oleh
mahasiswa-mahasiswa Unpad dan Unpas yang
kerap bekerja sama dengan Popon.
MERANCANG MASA DEPAN
Ke depannya, Popon bermimpi untuk menggunakan
tenaga profesional di bagian produksi
dan pemasaran. Misalnya saja manajer pemasaran
profesional, akuntan profesional, dan
manajer pabrik. Dia ingin mimpinya itu
terwujud pada tahun 2012.
Dia berharap, ke depannya juga bisa
memiliki pabrik yang lebih besar lagi, sehingga
bisa meraup omzet hingga Rp 1 miliar per
bulan. Popon juga ingin menambah berbagai
alat produksi, seperti menambah 5 mesin
vacuum frying, untuk menggenjot jumlah
produksi. Apalagi pasar Singapura sudah
meminta kiriman emping jagung, yang saat
ini masih terkendala dalam menentukan agen
yang bersedia memasaknya di sana. “Soalnya,
kalau dikirim matang dari Majalengka, di
khawatirkan sampai Singapura sudah remuk,”
kata Popon sambil tergelak. Di Jakarta, pusat
retail yang berada di Grand Indonesia pun
sedang memproses masuknya camilan ‘Ibu
Popon’ ke pusat perbelanjaan bergengsi di
Jakarta itu.
Impiannya tak berhenti sampai di situ.
Popon juga ingin agar fasilitas produksi, toko,
dan kantornya terletak dalam satu kawasan
saja. Kantor berada di atas pabrik, sehingga
proses produksi dapat diawasi dari atas. Saat
ini kantornya masih mengambil bagian dari
rumahnya, sementara fasilitas produksi dan toko
berada di tempat lainnya. Dengan menyatukan
lokasi Popon berharap bisa memenuhi berbagai
permintaan yang sudah membanjir. Apalagi,
setiap menjelang bulan puasa dan tahun baru,
permintaan bisa meningkat hingga 3 kali lipat.
Misalnya saja permintaan dari Carrefour.
Awalnya hanya Carrefour Kiaracondong yang
menempatkan produk Popon pada bagian Pojok
Rakyat. Sekarang berlanjut dengan meminta
Popon menyuplai cabang-cabangnya di Jakarta,
Yogyakarta, dan Bali. Padahal untuk menyuplai
ke Carrefour di Bandung saja, Popon sudah
merasa kewalahan dan pernah mengorbankan
permintaan dari yang lainnya. Karena itu, dia
menambah 1 vacuum frying lagi, meski itu pun
dianggapnya masih kurang. Selain Bandung,
Popon juga ingin memusatkan pengirimannya
di Jakarta sehingga biaya pengiriman atau
distribusi bisa seminimal mungkin.
Untuk inovasi komoditas, Popon tidak pernah
berhenti. Setelah jus mangga, dodol pisang dan
tomat, berbagai jenis keripik, sumpia, Popon
berencana membuat sambal oncom dan ulukutek
(leunca khas Sunda) yang dikemas dengan
botol. Eksperimen biasanya dilakukannya pada
bulan-bulan sepi produksi dan order, yakni
antara bulan Maret hingga Mei. Dengan begitu,
eksperimen komoditas baru tidak mengganggu
kegiatan produksi.
“Banyak mimpi saya. Keripik pisang cokelat
juga baru saya tes, tapi belum launching di pasar.
Banyak PR untuk pengembangan. Biasanya dari
saya sendiri, lalu saya akan masukkan ke lab untuk
dites, setelah itu saya baru berani lepas ke pasar,”
ujar Popon.
Dengan kerja kerasnya selama 8 tahun, kini
omzet Popon sudah mencapai Rp 120 juta per
bulan, dengan keuntungan bersih sekitar 15-20
persen. Popon pun cukup senang karena dengan
caranya berkreasi, praktis ia sulit dikejar saingan
di sekitarnya ini. Kegigihannya membangkitkan
usaha kecil di Majalengka, membawa kelompok
Asri Rahayu yang dibinanya mendapat Penghargaan
Ketahanan Pangan Bidang Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian dari Dirjen
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian
Kementerian Pertanian pada tahun 2009.
Yang paling dibanggakan Popon adalah
penghargaan yang diserahkan langsung oleh
Wakil Presiden Boediono pada bulan Desember
2010 di Istana Negara. Penghargaan Ketahanan
Pangan Tingkat Nasional itu diperoleh Kelompok
Asri Rahayu melalui Kementerian Pertanian
karena kelompok tersebut dianggap sukses
membina ibu-ibu mengolah hasil pertanian.
“Saya senang bisa masuk Istana, meski banyak
aturannya. Misalnya enggak boleh pakai celana
jeans. Seharusnya Presiden yang memberikan,
tapi saat itu beliau sedang berada di Kopenhagen,
jadi diwakilkan,” kenangnya riang. Foto-foto
Popon saat menerima penghargaan dari Wapres
Boediono pun terpajang manis di kios camilannya
di Kelurahan Cijati, Kabupaten Majalengka.
Begitu juga dengan piala dari Dirjen Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian
Pertanian.
Menurut Popon, mimpinya untuk memberdayakan
masyarakat sekitar, termasuk kaum
ibu, telah terwujud. Popon percaya, kunci
sukses usaha terletak pada kesungguhan,
niat yang tulus di dalam hati, fokus, dan
membangun usaha untuk membantu orang
lain. “Dengan membantu orang lain, insya
Allah urusan kita juga dibantu sama Yang
Kuasa,” ujarnya menutup pembicaraan.
Catatan Rhenald Kasali
SEORANG KREATIF MENEMBUS berbagai belenggu dengan berlari tiada henti.
Ibaratnya ia menari-nari mengikuti tabuhan tifa yang digendang seseorang.
Ia terus menari tiada letih, tetapi lambat laun tariannya mulai tidak
keruan, asal saja. Waktu tak bisa ditahan, umur bergerak ke depan. Ia terus
maju saja, padahal kesegaran sangat dibutuhkan.
Itulah gambaran sebagian besar usaha kecil Indonesia yang matanya baru
terbuka. Ia berlari terus seperti rusa yang dikejar cheetah, bergerak zig-
zag. Ia meraih kemajuan, namun pasar butuh kedalaman. Untuk mendapatkan
kedalaman, seseorang harus berhenti berlari dan mengendapkan pikiran-
pikirannya ke dalam selembar kertas yang bersih, dan menata usahanya pada
segala sisi, mulai dari manusia hingga ke mesin. Dari mesin hingga ke
produksi. Dari produksi hingga ka pasar, dan dari pasar sampai menghasilkan
uang.
Itu pula yang terjadi dengan Popon dan sebagian besar usaha kecil Indonesia
Kalau tidak terlalu aktif, mereka terlalu pasif. Yang satu penuh gairah tak
mau berhenti yang satunya lagi tak punya gairah dan selalu mengeluh.
Memang yang pertama lebih baik karena rezekinya lebih lancar, pintu selalu
terbuka. Tetapi Popon dan kawan-kawannya juga harus bisa naik kelas dengan
berhenti berlari membenahi usaha dan menempatkan usaha dalam desain yang
lebih strategis.
Ia perlu menata perusahaannya, bukan melulu membuat produk. Bila Popon
terus bergerak membuat produk, ia akan keletihan dan pasar dapat menjadi
jenuh. Saatnya sekarang bekerja dengan pikiran dan memakai tangan orang
lain.
Untuk berhentí berlarì, para pelaku usaha kecil dan mikro dapat menempuh
beberapa cara beríkut ini. Pertama, dalamilah manajemen. Setelah berusaha
empat-lima tahun, silakan mengendurkan kreativitas dalam membuat
produk baru, dan arahkan energi pada kreativitas manajemen.
Kedua, jangan takut merekrut orang-orang yang punya pengalaman untuk menata
SDM, keuangan, dan sistem. Ketiga, kurangi waktu dari operasional dan
perbanyak waktu untuk berkomunikasi internal.
Dengan berkomunikasi secara intens ke dalam, Anda dapat memperkuat tim
bisnis Anda sehingga perusahaan tidak terlalu tergantung pada cara
berpikir satu orang. Manajemen yang solid akan sangat membantu kemajuan
usaha Anda, dan mereka akan sangat membantu memajukan usaha Anda.
Maka bangunlah tim yang kuat. Tim yang kuat akan menjadikan Anda lebih dari
sekadar pengusaha kecil, melainkan menjadí wìrausaha yang inovalíf dan
kreatif.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Eddy Permadi, Resign Sebagai Dosen, Kini Sukses Lewat Usaha Turbin Mikrohidro yang Sudah Menembus Luar Negeri
Eddy Permadi, Energi yang Menciptakan Kemandirian Ekonomi
Melepaskan pekerjaan tetap sebagai
dosen bukan berarti duduk berpangku
tangan. Dengan modal sendiri, mesin
turbin mikrohidronya tak hanya
menghasilkan energi, tetapi juga
berbagai minuman serbuk, seperti
bandrek. Perpaduan yang aneh
memang, tetapi inilah UMKM dengan
segmen keunikannya.
ADALAH Eddy Permadi, pemilik Cihanjuang
Inti Teknik, yang pertama kali menelurkan
ide menciptakan turbin embangkit listrik
mikrohidro di daerahnya.
Bapak tiga anak yang pernah belajar di Swiss
selama 3 tahun dan Jerman selama setahun
ini memang mendapat banyak pengalaman dari
periode singkat pembelajarannya di Eropa.
Menurut Eddy, kemajuan orang-orang Eropa dimulai
dari revolusi industri, yang berarti memberikan
nilai tambah pada sesuatu yang bernilai rendah.
Revo1usi industri dimulai dari revolusi
energi, dari mulai adanya kincir air untuk
menumbuk gandum, lalu ditemukannya tenaga
uap. Dengan demikian transportasi menjadi
bagus, jarak juga menjadi lebih dekat. Bahkan
di Zurich, Swiss terdapat laboratorium energi
yang memperlihatkan turbin, mulai dari
pembangkit yang paling sederhana dari kayu
sampai yang paling modern,” urainya panjang lebar.
Dari pengamatan inilah Eddy kemudian
menyimpulkan bahwa kalau ingin meningkatkan
ekonomi rakyat, jelas harus dimulai dari
energi. Pada titik itulah ia memutuskan untuk
mengeksplorasi dunia energi.
Eddy lantas mulai membuat proyek-proyek
percontohan, mulai dari turbin sederhana hingga
yang relatif modern. Hingga saat ini sudah
ada 7 turbin percontohan yang setiap tahunnya
ramai dikunjungi orang. “Tahun kemarin ada lebih
dari 5.000 orang yang berkunjung dan tahun
ini juga sudah mencapai angka 6.000 orang lebih
dan beberapa menteri juga sudah datang ke
tempat kami,” paparnya. Bahkan, turbin buatannya
sudah dipesan oleh pengusaha-pengusaha
dari negara lain. Tak kurang dari pemerintah
Malaysia dan Swiss kini mengoperasikan
pembangkit listrik buatannya.
MEMANFAATKAN AIR
“Meskipun debitnya tidak tetap, tapi kita punya
banyak air sungai untuk dimanfaatkan,” ujar pria
ramah senyum ini. Kelebihan turbin ciptaannya
adalah bisa disesuaikan dengan ketinggian
jeram berapa pun. Jadi, tidak perlu jeram yang
tinggi untuk menghasllkan listrik. Jeram pendek
pun tetap bisa membangkitkan listrik. Karena
fleksibilitas ini, sudah banyak
daerah yang memanfaatkan turbin mikrohidronya.
“Bahkan, masyarakat yang hanya bisa merasakan
8 bulan mendapat listrik pun sudah sangat
senang, karena mereka tidak perlu berada dalam
gelap sepanjang tahun,” kelakarnya
ketika diwawancara sebuah stasiun televisi.
Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air.
Berdasarkan besarnya daya yang dihasilkan, terdapat
beberapa jenis turbin. Pikohidro adalah pembangkit
yang menghasilkan kurang dari 3.000 watt listrik,
mikrohidro menghasilkan daya antara
3.000 watt sampai 1 megawatt,
sementara minihidro menghasilkan 1 hingga 3 megawatt.
Eddy memulai usahanya dengan modal uang tunai Rp 25
juta dan keahliannya di bidang teknik. “Saya membuat
banyak turbin,” ujar Eddy, “Lebih dari
300 lokasi sudah kita pasang di seluruh Indonesia.”
Eddy pun berhasil menyediakan lapangan
pekerjaan dan menampung ratusan tenaga kerja tidak langsung.
Lulusan PMS ITB (Polman) ini memang tidak tanggung
tanggung dalam menerapkan pengetahuannya bagi kepentingan
orang banyak. Yang ada dalam pikirannya adalah memberikan
solusi bagi sebuah permasalahan, “Dan, bagaimana memberi tahu
orang bahwa mikrohidro adalah solusi bagi masalah mereka,”
ujarnya.
Untuk itu ia membuat turbin percontohan bersama pemerintah
daerah dan dibuka bagi masyarakat umum, salah satunya
di Leuwikiara. Di sana terdapat masyarakat yang perlu
menempuh waktu sekitar 6-7 jam perjalanan ke Tasikmalaya
untuk bekerja sebagai buruh bordir. Setelah dipasang pembangkit
mikrohidro ditambah bantuan mesin bordir, di daerah kecil
itu kini menjamur industri bordir. “Dan yang
terjadi kemudian, bandar-bandar dari kota
berdatangan ke sana membawa bahan dan
benang sehingga kampung itu menjadi hidup.
Berhasil di Leuwikiara, hingga mendapatkan
Asean Energy Award, kini metode ini mulai
diaplikasikan ke daerah-daerah lainnya. Seperti
di Papua, listrik digunakan untuk pengolahan
umbi-umbian, kue, dan sebagainya,” urainya
bangga.
Apakah produknya akan menyaingi PLN?
“PLN sebenarnya masih sangat kekurangan
daya. Bahkan ada Keputusan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral yang menyatakan bahwa
PLN wajib membeli listrik dari mikrohidro.
Kalau ada dana, tempat, dan air, kita bisa
bangun pembangkit lalu kita jual ke PLN dan itu
wajib dibeli,” jelasnya.
Saat ini Eddy sudah menyiapkan produksi
turbin untuk menghasilkan daya 100 watt hingga
500 kilowatt. Menurut Eddy, ia membutuhkan
investasi yang cukup besar. Untuk itu, Eddy
bermitra dengan bank bjb dan mendapatkan
pinjaman sebesar Rp 450 juta tahun 2005.
Saat itu modal dari bank bjb digunakan untuk
membeli tanah tempat pabriknya sekarang
berdiri. Lantas, tahun 2010 pinjamannya
meningkat menjadi Rp 1,1 miliar dan Rp 1,8
miliar di tahun 2011.
Selain untuk memproduksi mesin, yang
perlu dipikirkan adalah tempat. Pabrik yang
sekarang menempati tanah seluas 700 meter
persegi sudah tidak memadai lagi. “Saya sedang
mencari tempat baru. Sudah melihat beberapa
tempat, tapi belum ada yang sesuai,” ujarnya
menerawang.
KAMPUNG BANDREK HANJUANG
Idealnya, perluasan dilakukan tidak jauh dari
lokasi pabrik yang sekarang. Dengan demikian
biaya operasional menjadi lebih murah dan
pengendalian pun lebih mudah. Tapi, tentu saja
tidak mudah, karena kawasan itu sudah dipadati
perumahan. Kalaupun tidak mendapatkannya di
situ, Eddy berencana menempatkan pabrik
bandreknya tetap di sini, sementara pembuatan
turbin akan menempati lahan yang baru. “Soalnya
bandrek sudah menjadi brand kawasan ini,”
Ujarnya mantap.
Ya, bandrek juga merupakan produk buatan
Eddy. “Idenya muncul dari kondisi masyarakat
ketika mendapatkan listrik. Mereka justru
menginginkan kehidupan seperti di kota. Ada
televisi, radio, dan sebagainya,” jelas Eddy,
“Kalau hal ini saya teruskan, saya akan berdosa
karena membuat perekonomian mereka
menurun karena terbuangnya waktu untuk
kegiatan yang tidak produktif.” Tentu, Eddy
tidak menyalahkan turbin mikrohidro karyanya
sendiri. Justru ia mencari solusinya, dengan
memanfaatkan energi tersebut.
Awalnya, Eddy ingin membuat bandrek.
Tetapi ternyata sudah ada banyak jenis
bandrek di pasar. “Dai situlah timbul ide
menggabungkan kopi dengan bandrek yang
belum ada di pasaran.” Pada tahun 2001, ia
membuat proyek percontohan teknologi tepat
guna dengan membuat pengolahan jahe dan gula
aren menjadi minuman serbuk khas Jawa Barat.
Ia hanya ingin membuat hal-hal yang bernilai
ekonomi rendah memiliki nilai tambah setelah
diolah. Dengan membuat serbuk bandrek, Eddy
merasa ikut mendidik dan menciptakan lapangan
kerja di sini.
Periode sulit terjadi di tahun-tahun pertama.
Meski sudah menawarkan ke berbagai toko dan
warung, produk kopi bandreknya tetap saja
tidak diterima. “Saya menawarkan sendiri ke
warung karena menurut saya bandrek adalah
produk yang sederhana,” jelas Eddy. Tetapi,
dengan penolakan itu Eddy justru belajar bahwa
kemungkinan segmen pasarnya tidak tepat.
Langkah pertama yang dilakukan adalah
mengubah kemasan, dengan memberi lukisan.
“Kami mengundang pelukis dan menyampaikan
ide-ide untuk gambar kemasan ini,” kenang
Eddy yang ingin menonjolkan kesan tradisional.
Dipilihlah sosok Kabayan yang mewakili daerah
Jawa Barat.
Eddy mengirim produknya masuk ke toko
oleh-oleh di tepi jalan tol Cipularang, bertepatan
dengan dibukanya jalan tol tersebut. Segera
saja kopi bandrek ini laris-manis. Meski banyak
yang menyukai rasanya, namun ada juga yang
mengeluh karena tidak kuat dengan kandungan
kopinya. “Mereka minta kopi-bandrek, tetapi
jangan pakai kopi,” ujar Eddy sambil tergelak,
“Itu jadinya bandrek biasa seperti ide awal saya.”
Tapi, karena tidak ingin menolak permintaan
pasar, Eddy pun akhirnya membuat bandrek.
Sejak itu, Eddy serius menekuni bisnisnya.
Produk berikut yang dibuatnya adalah bajigur.
“Bajigur sebenarnya telah sangat dikenal di Jawa
Barat dan kami hanya merupakan salah satu
penggagas bajigur dalam kemasan siap seduh,”
paparnya. Memang belum pernah ada produk
minuman bajigur dalam kemasan. Bajigur ini
pun mendapat respons yang baik. Eddy lalu
mengembangkan rasa lainnya, termasuk kopi
bajigur, sekoteng, cokelat bandrek, teh bandrek,
hingga beas cikur (minuman sejenis beras kencur).
Kemasannya pun dibuat berbeda. Produk dengan
kemasan bergambar Kabayan dalam bungkus cokelat
konsepnya adalah oleh-oleh.
“Bandung kan kota belanja, jadi kemasan seperti
ini adanya di factory outlet dan tempat oleh-
oleh,” paparnya. Menurut Eddy, orang kota menyukai
kemasan untuk buah tangan, sementara
di kota-kota kecil, kemasan seperti ini tidak diminati.
Produk serupa juga dibuat daam kemasan sachet
rencengan, meskipun bergambar Kabayan, menyasar
konsumen yang berbeda. “Harganya relatif lebih murah
dan terjangkau, produk seperti ini bisa
dipasarkan di daerah seperti Tasik, Garut, sampai ke
pesisir pantai utara,” jelasnya.
Sedangkan untuk restoran, Eddy hanya menyiapkan
produk dalam kemasan plastik
transparan karena mereka tidak membutuhkan kemasan luarnya.
“Kami mengikuti kemauan pasar saja,” ujarnya ringan.
Kini produk bandreknya sudah dapat ditemukan di Alfamart,
Indomart, Griya, 7/11, Borma, dan Circle K. Sementara kemasan
klasik untuk buah tangan, selain dapat dijumpai di gerai factory
outlet, juga tersedia di Carrefour dan Gazebo di Bandung.
Untuk bahan baku, Eddy mengambil dari beberapa tempat.
Jahe, misalnya, bisa diambil dari Jawa Barat dan Lampung. Tetapi,
Eddy lebih suka jahe Lampung karena untuk menghasilkan 1 kg
jahe kering hanya membutuhkan 9 kg jahe basah, sementara dari
Jawa Barat diperlukan 12 kg.
Untuk gula aren, Eddy bekerjasama dengan masyarakat
di Gunung Halimun. “Ini betul-betul kelas
perajin. Mereka harus memilih nira yang bagus,
membuatnya jadi gula tepung, dikumpulkan,
kemudian dibawa ke sini,” urai Eddy. Di sini, gula
tepung itu disortir lagi dan dikeringkan, baru
diproses menjadi minuman serbuk. Sementara
bahan baku kopi diambil dari masyarakat sekitar saja.
MENJUAL SOLUSI
Kini, keyakinannya terbukti sudah. “Sekarang
bandrek merupakan solusi untuk menikmati
rempah-rempah. Kalau orang ingin membuat
bandrek tidak perlu membeli bahan-bahannya
dulu. Tinggal menggunting kemasan, praktis.
Solusi inilah yang menarik,” papar Eddy. Pasar
minuman serbuknya pun meluas, bahkan telah
dinikmati konsumen di Aceh, Nusa Tenggara,
dan Papua.
Di luar negeri, produk bandreknya telah
menjelajah Qatar. Ada pula yang membeli secara
borongan untuk dijual di luar negeri.
“Sebetulnya kami sudah menjajaki ke Australia
dan Amerika,” ujar Eddy, “Sudah sampai di
sana, tetapi tidak formal.” Eddy juga pernah
menjajal pasar di Malaysia, tetapi ternyata
penduduk negeri jiran itu tidak terlalu menyukai
rasa manisnya. “Kadang suka agak repot juga
dengan permintaan mereka, sehingga kita harus
menggunakan trik, kami sarankan untuk memperbanyak
airnya.” Produk terbarunya diberi nama Arjuna. “Ini
adalah produk khusus vitalitas untuk orang
dewasa,” ujarnya penuh arti. Menurut Eddy, produk
ini yang sekarang sedang booming. Selain
minuman serbuk, Eddy juga memproduksi
permen dengan varian rasa yang sama dengan
minuman serbuk. Angan-angannya, lima tahun
lagi daerah sekitarnya akan menjadi Kampung
Bandrek. Keuntungannya lumayan untuk memperkuat modal.
Seperti turbin, sebagian besar mesin yang
digunakan dalam produksi minuman serbuk
ini adalah buatannya sendiri. Dengan membuat
sendiri, ia bisa mendapatkan mesin yang
sesuai dengan keinginannya. “Kita juga tahu
kinerjanya. Kalau membeli produk yang sudah
jadi, belum tentu cocok dengan keinginan,”
paparnya. Selain itu, lebih murah produksi
maupun perawatan, karena mereka telah menguasai
seluk beluk mesinnya.
MEMBINA KARYAWAN DAN PERAJIN
Selain menguntungkan, tujuan kemandirian
sudah tercapai. Ia menggerakkan masyarakat
yang tinggal di sekitar untuk bekerja di pabriknya.
Dari awal yang sangat sederhana, Eddy kini berhasil
menciptakan lapangan kerja untuk tenaga kerja langsung
dan tidak langsung berupa kelompok kerja (pokja).
Pokja yang berada di sekitar pabrik bertugas untuk
mempersiapkan kemasan, sementara tenaga kerja
langsung yaitu sekitar 80 orang, sebagian besar
bekerja di dua bidang sekaligus, yaitu pembuatan
turbin dan membuat serbuk minuman bandrek. Kedengarannya
aneh memang, tetapi itulah UKM, selalu ada saja caranya,
“Jadi kalau lagi ramai pesanan di bandrek mereka
diperbantukan di produksi bandrek. Tapi kalau pesanan
turbin sedang banyak, mereka pindah mengerjakan turbin.
Malah ada pembuat mesin yang jago membungkus bandrek,”
urainya. Pembuatan turbin yang 100 persen dananya
dari APBD dan ABPN, biasanya ditenderkan
dan baru diterima Eddy sekitar bulan Agustus hingga
September. Ini berarti antara Januari hingga Juli praktis
tidak ada pesanan. Periode itulah yang dimanfaatkan
untuk memproduksi bandrek. Setiap tahun produksi
minuman serbuk membutuhkan sekitar loo ton jahe yang
dibeli pada saat panen raya karena harganya lebih murah.
Jahe tersebut kemudian diolah, disterilisasi, hingga di
keringkan. “Kalau dalam sehari kita bisa mengerjakan 1
ton pengolahan jahe, berarti butuh waktu sekitar 100 hari
atau 3-4 bulan untuk menyelesaikan semuanya,” paparnya,
“Pada periode Januari hingga Juli yang kosong ini,
para teknisi yang biasa ngebubut ikut mengolah jahe.”
Eddy mengaku tidak banyak keahlian yang dibutuhkan
untuk mengerjakan bandrek dan turbin, kecuali untuk teknisi
mesin turbin. “Yang penting mau kerja saja,” tegas Eddy.
Pekerjaan seperti mencuci dan mengepak tidak membutuhkan
keahlian khusus, sehingga para ahli mesin pun bisa
mengerjakannya. Cara seperti inilah yang membuat mereka
fleksibel dan bisa tetap eksis.
Selain itu, perusahaannya memiliki enam kelompok
kerja yang tersebar di rumah rumah warga. Satu pokja
beranggotakan sekitar 10 orang.
Mereka bertugas mengemas minuman serbuk. Setiap seribu
bungkus—yang biasanya di kerjakan dalam waktu 2 jam—
para pekerja mendapat upah Rp 16 ribu. Saking terampilnya,
membuat lipatan bungkus sampai mengelem hanya
perlu waktu 6 detik dengan hasil yang rapi jali. Dan,
setelah melewati pemeriksaan kualitas, minuman serbuk pun
siap dipasarkan.
Menurut Eddy, yang perlu diperbanyak adalah pokja, bukan
karyawan. “Soalnya pekerjaan ini bisa dibawa pulang,” jelasnya.
Selain itu, setiap tahunnya Eddy memilih beberapa orang
karyawan yang berprestasi untuk disekolahkan dengan biaya
dari perusahaan bekerja sama dengan Universitas Ahmad Yani.
“Karena jaraknya cukup dekat, kami juga bekerja sama untuk
program pelatihan dan praktik,” ujarnya.
Hampir setiap minggu selalu ada mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi yang mengadakan penelitian di tempatnya.
“Ada yang meneliti efisiensi produk, proses produksi, seni
merek, keuangan, pemasaran, dan sebagainya,” papar salah
satu stafnya. Eddy mendapat laporan dari setiap penelitian yang
dilakukan. Ia pun menyediakan tempat menginap selama mereka
melakukan penelitian.
MANAJEMEN PROMOSI
Kini, baik turbin maupun bandrek sama-sama
bersaing untuk menjadi lebih maju. “Sekarang
ini setiap tahun kita meluncurkan produk baru
yang memberikan peluang dan segmen yang
berbeda karena setiap daerah memiliki potensi
yang berbeda,” ujar Eddy. Beberapa daerah
membutuhkan jenis turbin besar, yang lain
hanya membutuhkan turbin kecil. Keunikan
produk yang menjadi kebutuhan masyarakat
inilah yang terus dikembangkan Eddy.
Eddy tetap mengandalkan promosi dari mulut
ke mulut karena untuk produk seperti ini orang
akan lebih percaya kalau mendengar langsung
dari orang lain tentang kebaikan suatu produk,
dibandingkan jika mendapatkannya dari iklan.
Menurut Eddy, “Bobot kepercayaannya akan
berbeda. Bobot yang paling kuat adalah cerita
dari teman ke teman.”
Prinsipnya adalah membuat semakin banyak
orang mengetahui produknya. Caranya,
dengan mengajak mereka mendatangi proyek
percontohannya. “Bayangkan kalau saya harus
ke daerah-daerah untuk berpromosi,” ujarnya,
“Biayanya akan jauh lebih besar. “Proyek
percontohan ini lambat laun menjadi objek wisata
teknologi. Mereka yang datang disuguhi minuman
bandrek. Dengan demikian, setiap orang pulang
dengan membawa cerita dan oleh-oleh. Cerita
orang-orang tersebutlah yang membesarkan
usaha turbin dan bandrek Hanjuang.
Promosi internet tetap dilakukan sebagai
pelengkap. “Kuncinya adalah ketika suatu produk
menjadi solusi, pasti laku,” ujarnya mantap,
“Sebaliknya, walaupun produk bagus, kalau
tidak bisa menjadi solusi, tidak laku.”
Eddy kini merasa bahwa bisnis turbin dan
bandreknya sudah tinggal menjalankan saja.
“Cash flow-nya sudah benar-benar mandiri,
bahkan bisa menyerap tenaga kerja,” urainya.
Lalu, ia pun mencari ‘mainan baru’. Melihat
kondisi air yang cukup baik di sekitar tempat
tinggalnya, ia pun berencana membangun
sentra ikan koi. Saat ini ia mulai membiakkan
ikan-ikan itu di tanahnya yang luas. “Apa pun
keadaannya saya selalu menikmati prosesnya,
termasuk kesulitan dan hambatannya juga saya
nikmati,” ujarnya.
Catatan Rhenald Kasali
KALI INI ANDA membaca sebuah proses membangun usaha berbasis teknologi
sederhana yang dimulai dari kesenangan. Seorang yang senang akan terus
bekerja, seperti seorang seniman yang keasyikan. Namun seperti
kebanyakan “seniman” bisnis lainnya, mereka mudah tergoda dalam
kesenangan-kesenangan yang sering kali kurang memikirkan kesatuan konsep
dalam bisnis Bahwa bisnis harus ditata dikelola secara sophisticated dengan
ahlì-ahli di luar produksi. Namun demikian, para seniman usaha ini selalu
menyatakan, “Kalau saya suka, sudah menguntungkan, den membuat saya happy,•
apa salahnya?”
Seniman-seniman UMKM seperti ini biasanya menggunakan survival instinct
naluri untuk bartahan atau beradaptasi. Mareka bukanlah expansionist
seperti pengusaha-pengusaha Barat atau pengusaha-pengusaha dari
Asia Timur (Cina, Taiwan, Korea, bahkan India). Mereka mudah puas kalau
cash flow-nya aman dan produknya selalu ada pesanan. Apalagi bila mereka
bisa secara langsung melihat dampaknya pada lapangan pekerjaan.
Eddy memulai usaha dari skll yang ia miliki dan ia melihat masalah energi
begitu luas di negeri ini. Ia pun mengisinya dengan membuat turbin, Tetapi
apa hubungan dengan bandrek? Ya tidak ada! Kalau Anda pakai strategi bisnis
dan Anda tidak romantis, maka Anda memilih usaha lain yang membantu usaha
utama Anda untuk tumbuh menjadì industri. Eddy memilih bandrek. Dugaan saya
ini pasti karena ia suka bandrek. Ia juga senang melihat orang
kumpul bekerja. Dan, ternyata bisa juga dihubung-hubungkan, karena Eddy
adalah seniman sekaligus tahu cara membuat mesinnya.
Orang-orangnya ternyata bisa juga dipekerjakan di sana. Walaupun nilai
ekonominya berbeda, sebagai survival instinct bolehlah. Toh, pada setiap 6
bulan pertama, pesanan turbin tidak besar. Mereka butuh pekerjaan. Namun
kalau UMKM ingin maju, mereka harus berefleksi dan berhenti berkreasi
barang sejenak. Berhentilah berlari-lari yang meletihkan barang sesaat,
lalu tuangkan mimpi-mimpi Anda dalam rencana bisnis yang terpadu. Dari situ
Anda akan bisa melihat labih bijak, ke mana Anda akan membawa usaha ini di
kemudian hari. Bukanlah waktu berjalan terus dan suatu saat Anda tak bisa
mencari makan dengan tangan sendiri?
Di masa depan Anda perlu mencari makan melalui tangan orang-orang lain, dan
produk Anda bisa berevolusi menemukan pintunya dengan pikiran-pikiran
dan tangan-tangan orang lain.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Melepaskan pekerjaan tetap sebagai
dosen bukan berarti duduk berpangku
tangan. Dengan modal sendiri, mesin
turbin mikrohidronya tak hanya
menghasilkan energi, tetapi juga
berbagai minuman serbuk, seperti
bandrek. Perpaduan yang aneh
memang, tetapi inilah UMKM dengan
segmen keunikannya.
ADALAH Eddy Permadi, pemilik Cihanjuang
Inti Teknik, yang pertama kali menelurkan
ide menciptakan turbin embangkit listrik
mikrohidro di daerahnya.
Bapak tiga anak yang pernah belajar di Swiss
selama 3 tahun dan Jerman selama setahun
ini memang mendapat banyak pengalaman dari
periode singkat pembelajarannya di Eropa.
Menurut Eddy, kemajuan orang-orang Eropa dimulai
dari revolusi industri, yang berarti memberikan
nilai tambah pada sesuatu yang bernilai rendah.
Revo1usi industri dimulai dari revolusi
energi, dari mulai adanya kincir air untuk
menumbuk gandum, lalu ditemukannya tenaga
uap. Dengan demikian transportasi menjadi
bagus, jarak juga menjadi lebih dekat. Bahkan
di Zurich, Swiss terdapat laboratorium energi
yang memperlihatkan turbin, mulai dari
pembangkit yang paling sederhana dari kayu
sampai yang paling modern,” urainya panjang lebar.
Dari pengamatan inilah Eddy kemudian
menyimpulkan bahwa kalau ingin meningkatkan
ekonomi rakyat, jelas harus dimulai dari
energi. Pada titik itulah ia memutuskan untuk
mengeksplorasi dunia energi.
Eddy lantas mulai membuat proyek-proyek
percontohan, mulai dari turbin sederhana hingga
yang relatif modern. Hingga saat ini sudah
ada 7 turbin percontohan yang setiap tahunnya
ramai dikunjungi orang. “Tahun kemarin ada lebih
dari 5.000 orang yang berkunjung dan tahun
ini juga sudah mencapai angka 6.000 orang lebih
dan beberapa menteri juga sudah datang ke
tempat kami,” paparnya. Bahkan, turbin buatannya
sudah dipesan oleh pengusaha-pengusaha
dari negara lain. Tak kurang dari pemerintah
Malaysia dan Swiss kini mengoperasikan
pembangkit listrik buatannya.
MEMANFAATKAN AIR
“Meskipun debitnya tidak tetap, tapi kita punya
banyak air sungai untuk dimanfaatkan,” ujar pria
ramah senyum ini. Kelebihan turbin ciptaannya
adalah bisa disesuaikan dengan ketinggian
jeram berapa pun. Jadi, tidak perlu jeram yang
tinggi untuk menghasllkan listrik. Jeram pendek
pun tetap bisa membangkitkan listrik. Karena
fleksibilitas ini, sudah banyak
daerah yang memanfaatkan turbin mikrohidronya.
“Bahkan, masyarakat yang hanya bisa merasakan
8 bulan mendapat listrik pun sudah sangat
senang, karena mereka tidak perlu berada dalam
gelap sepanjang tahun,” kelakarnya
ketika diwawancara sebuah stasiun televisi.
Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air.
Berdasarkan besarnya daya yang dihasilkan, terdapat
beberapa jenis turbin. Pikohidro adalah pembangkit
yang menghasilkan kurang dari 3.000 watt listrik,
mikrohidro menghasilkan daya antara
3.000 watt sampai 1 megawatt,
sementara minihidro menghasilkan 1 hingga 3 megawatt.
Eddy memulai usahanya dengan modal uang tunai Rp 25
juta dan keahliannya di bidang teknik. “Saya membuat
banyak turbin,” ujar Eddy, “Lebih dari
300 lokasi sudah kita pasang di seluruh Indonesia.”
Eddy pun berhasil menyediakan lapangan
pekerjaan dan menampung ratusan tenaga kerja tidak langsung.
Lulusan PMS ITB (Polman) ini memang tidak tanggung
tanggung dalam menerapkan pengetahuannya bagi kepentingan
orang banyak. Yang ada dalam pikirannya adalah memberikan
solusi bagi sebuah permasalahan, “Dan, bagaimana memberi tahu
orang bahwa mikrohidro adalah solusi bagi masalah mereka,”
ujarnya.
Untuk itu ia membuat turbin percontohan bersama pemerintah
daerah dan dibuka bagi masyarakat umum, salah satunya
di Leuwikiara. Di sana terdapat masyarakat yang perlu
menempuh waktu sekitar 6-7 jam perjalanan ke Tasikmalaya
untuk bekerja sebagai buruh bordir. Setelah dipasang pembangkit
mikrohidro ditambah bantuan mesin bordir, di daerah kecil
itu kini menjamur industri bordir. “Dan yang
terjadi kemudian, bandar-bandar dari kota
berdatangan ke sana membawa bahan dan
benang sehingga kampung itu menjadi hidup.
Berhasil di Leuwikiara, hingga mendapatkan
Asean Energy Award, kini metode ini mulai
diaplikasikan ke daerah-daerah lainnya. Seperti
di Papua, listrik digunakan untuk pengolahan
umbi-umbian, kue, dan sebagainya,” urainya
bangga.
Apakah produknya akan menyaingi PLN?
“PLN sebenarnya masih sangat kekurangan
daya. Bahkan ada Keputusan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral yang menyatakan bahwa
PLN wajib membeli listrik dari mikrohidro.
Kalau ada dana, tempat, dan air, kita bisa
bangun pembangkit lalu kita jual ke PLN dan itu
wajib dibeli,” jelasnya.
Saat ini Eddy sudah menyiapkan produksi
turbin untuk menghasilkan daya 100 watt hingga
500 kilowatt. Menurut Eddy, ia membutuhkan
investasi yang cukup besar. Untuk itu, Eddy
bermitra dengan bank bjb dan mendapatkan
pinjaman sebesar Rp 450 juta tahun 2005.
Saat itu modal dari bank bjb digunakan untuk
membeli tanah tempat pabriknya sekarang
berdiri. Lantas, tahun 2010 pinjamannya
meningkat menjadi Rp 1,1 miliar dan Rp 1,8
miliar di tahun 2011.
Selain untuk memproduksi mesin, yang
perlu dipikirkan adalah tempat. Pabrik yang
sekarang menempati tanah seluas 700 meter
persegi sudah tidak memadai lagi. “Saya sedang
mencari tempat baru. Sudah melihat beberapa
tempat, tapi belum ada yang sesuai,” ujarnya
menerawang.
KAMPUNG BANDREK HANJUANG
Idealnya, perluasan dilakukan tidak jauh dari
lokasi pabrik yang sekarang. Dengan demikian
biaya operasional menjadi lebih murah dan
pengendalian pun lebih mudah. Tapi, tentu saja
tidak mudah, karena kawasan itu sudah dipadati
perumahan. Kalaupun tidak mendapatkannya di
situ, Eddy berencana menempatkan pabrik
bandreknya tetap di sini, sementara pembuatan
turbin akan menempati lahan yang baru. “Soalnya
bandrek sudah menjadi brand kawasan ini,”
Ujarnya mantap.
Ya, bandrek juga merupakan produk buatan
Eddy. “Idenya muncul dari kondisi masyarakat
ketika mendapatkan listrik. Mereka justru
menginginkan kehidupan seperti di kota. Ada
televisi, radio, dan sebagainya,” jelas Eddy,
“Kalau hal ini saya teruskan, saya akan berdosa
karena membuat perekonomian mereka
menurun karena terbuangnya waktu untuk
kegiatan yang tidak produktif.” Tentu, Eddy
tidak menyalahkan turbin mikrohidro karyanya
sendiri. Justru ia mencari solusinya, dengan
memanfaatkan energi tersebut.
Awalnya, Eddy ingin membuat bandrek.
Tetapi ternyata sudah ada banyak jenis
bandrek di pasar. “Dai situlah timbul ide
menggabungkan kopi dengan bandrek yang
belum ada di pasaran.” Pada tahun 2001, ia
membuat proyek percontohan teknologi tepat
guna dengan membuat pengolahan jahe dan gula
aren menjadi minuman serbuk khas Jawa Barat.
Ia hanya ingin membuat hal-hal yang bernilai
ekonomi rendah memiliki nilai tambah setelah
diolah. Dengan membuat serbuk bandrek, Eddy
merasa ikut mendidik dan menciptakan lapangan
kerja di sini.
Periode sulit terjadi di tahun-tahun pertama.
Meski sudah menawarkan ke berbagai toko dan
warung, produk kopi bandreknya tetap saja
tidak diterima. “Saya menawarkan sendiri ke
warung karena menurut saya bandrek adalah
produk yang sederhana,” jelas Eddy. Tetapi,
dengan penolakan itu Eddy justru belajar bahwa
kemungkinan segmen pasarnya tidak tepat.
Langkah pertama yang dilakukan adalah
mengubah kemasan, dengan memberi lukisan.
“Kami mengundang pelukis dan menyampaikan
ide-ide untuk gambar kemasan ini,” kenang
Eddy yang ingin menonjolkan kesan tradisional.
Dipilihlah sosok Kabayan yang mewakili daerah
Jawa Barat.
Eddy mengirim produknya masuk ke toko
oleh-oleh di tepi jalan tol Cipularang, bertepatan
dengan dibukanya jalan tol tersebut. Segera
saja kopi bandrek ini laris-manis. Meski banyak
yang menyukai rasanya, namun ada juga yang
mengeluh karena tidak kuat dengan kandungan
kopinya. “Mereka minta kopi-bandrek, tetapi
jangan pakai kopi,” ujar Eddy sambil tergelak,
“Itu jadinya bandrek biasa seperti ide awal saya.”
Tapi, karena tidak ingin menolak permintaan
pasar, Eddy pun akhirnya membuat bandrek.
Sejak itu, Eddy serius menekuni bisnisnya.
Produk berikut yang dibuatnya adalah bajigur.
“Bajigur sebenarnya telah sangat dikenal di Jawa
Barat dan kami hanya merupakan salah satu
penggagas bajigur dalam kemasan siap seduh,”
paparnya. Memang belum pernah ada produk
minuman bajigur dalam kemasan. Bajigur ini
pun mendapat respons yang baik. Eddy lalu
mengembangkan rasa lainnya, termasuk kopi
bajigur, sekoteng, cokelat bandrek, teh bandrek,
hingga beas cikur (minuman sejenis beras kencur).
Kemasannya pun dibuat berbeda. Produk dengan
kemasan bergambar Kabayan dalam bungkus cokelat
konsepnya adalah oleh-oleh.
“Bandung kan kota belanja, jadi kemasan seperti
ini adanya di factory outlet dan tempat oleh-
oleh,” paparnya. Menurut Eddy, orang kota menyukai
kemasan untuk buah tangan, sementara
di kota-kota kecil, kemasan seperti ini tidak diminati.
Produk serupa juga dibuat daam kemasan sachet
rencengan, meskipun bergambar Kabayan, menyasar
konsumen yang berbeda. “Harganya relatif lebih murah
dan terjangkau, produk seperti ini bisa
dipasarkan di daerah seperti Tasik, Garut, sampai ke
pesisir pantai utara,” jelasnya.
Sedangkan untuk restoran, Eddy hanya menyiapkan
produk dalam kemasan plastik
transparan karena mereka tidak membutuhkan kemasan luarnya.
“Kami mengikuti kemauan pasar saja,” ujarnya ringan.
Kini produk bandreknya sudah dapat ditemukan di Alfamart,
Indomart, Griya, 7/11, Borma, dan Circle K. Sementara kemasan
klasik untuk buah tangan, selain dapat dijumpai di gerai factory
outlet, juga tersedia di Carrefour dan Gazebo di Bandung.
Untuk bahan baku, Eddy mengambil dari beberapa tempat.
Jahe, misalnya, bisa diambil dari Jawa Barat dan Lampung. Tetapi,
Eddy lebih suka jahe Lampung karena untuk menghasilkan 1 kg
jahe kering hanya membutuhkan 9 kg jahe basah, sementara dari
Jawa Barat diperlukan 12 kg.
Untuk gula aren, Eddy bekerjasama dengan masyarakat
di Gunung Halimun. “Ini betul-betul kelas
perajin. Mereka harus memilih nira yang bagus,
membuatnya jadi gula tepung, dikumpulkan,
kemudian dibawa ke sini,” urai Eddy. Di sini, gula
tepung itu disortir lagi dan dikeringkan, baru
diproses menjadi minuman serbuk. Sementara
bahan baku kopi diambil dari masyarakat sekitar saja.
MENJUAL SOLUSI
Kini, keyakinannya terbukti sudah. “Sekarang
bandrek merupakan solusi untuk menikmati
rempah-rempah. Kalau orang ingin membuat
bandrek tidak perlu membeli bahan-bahannya
dulu. Tinggal menggunting kemasan, praktis.
Solusi inilah yang menarik,” papar Eddy. Pasar
minuman serbuknya pun meluas, bahkan telah
dinikmati konsumen di Aceh, Nusa Tenggara,
dan Papua.
Di luar negeri, produk bandreknya telah
menjelajah Qatar. Ada pula yang membeli secara
borongan untuk dijual di luar negeri.
“Sebetulnya kami sudah menjajaki ke Australia
dan Amerika,” ujar Eddy, “Sudah sampai di
sana, tetapi tidak formal.” Eddy juga pernah
menjajal pasar di Malaysia, tetapi ternyata
penduduk negeri jiran itu tidak terlalu menyukai
rasa manisnya. “Kadang suka agak repot juga
dengan permintaan mereka, sehingga kita harus
menggunakan trik, kami sarankan untuk memperbanyak
airnya.” Produk terbarunya diberi nama Arjuna. “Ini
adalah produk khusus vitalitas untuk orang
dewasa,” ujarnya penuh arti. Menurut Eddy, produk
ini yang sekarang sedang booming. Selain
minuman serbuk, Eddy juga memproduksi
permen dengan varian rasa yang sama dengan
minuman serbuk. Angan-angannya, lima tahun
lagi daerah sekitarnya akan menjadi Kampung
Bandrek. Keuntungannya lumayan untuk memperkuat modal.
Seperti turbin, sebagian besar mesin yang
digunakan dalam produksi minuman serbuk
ini adalah buatannya sendiri. Dengan membuat
sendiri, ia bisa mendapatkan mesin yang
sesuai dengan keinginannya. “Kita juga tahu
kinerjanya. Kalau membeli produk yang sudah
jadi, belum tentu cocok dengan keinginan,”
paparnya. Selain itu, lebih murah produksi
maupun perawatan, karena mereka telah menguasai
seluk beluk mesinnya.
MEMBINA KARYAWAN DAN PERAJIN
Selain menguntungkan, tujuan kemandirian
sudah tercapai. Ia menggerakkan masyarakat
yang tinggal di sekitar untuk bekerja di pabriknya.
Dari awal yang sangat sederhana, Eddy kini berhasil
menciptakan lapangan kerja untuk tenaga kerja langsung
dan tidak langsung berupa kelompok kerja (pokja).
Pokja yang berada di sekitar pabrik bertugas untuk
mempersiapkan kemasan, sementara tenaga kerja
langsung yaitu sekitar 80 orang, sebagian besar
bekerja di dua bidang sekaligus, yaitu pembuatan
turbin dan membuat serbuk minuman bandrek. Kedengarannya
aneh memang, tetapi itulah UKM, selalu ada saja caranya,
“Jadi kalau lagi ramai pesanan di bandrek mereka
diperbantukan di produksi bandrek. Tapi kalau pesanan
turbin sedang banyak, mereka pindah mengerjakan turbin.
Malah ada pembuat mesin yang jago membungkus bandrek,”
urainya. Pembuatan turbin yang 100 persen dananya
dari APBD dan ABPN, biasanya ditenderkan
dan baru diterima Eddy sekitar bulan Agustus hingga
September. Ini berarti antara Januari hingga Juli praktis
tidak ada pesanan. Periode itulah yang dimanfaatkan
untuk memproduksi bandrek. Setiap tahun produksi
minuman serbuk membutuhkan sekitar loo ton jahe yang
dibeli pada saat panen raya karena harganya lebih murah.
Jahe tersebut kemudian diolah, disterilisasi, hingga di
keringkan. “Kalau dalam sehari kita bisa mengerjakan 1
ton pengolahan jahe, berarti butuh waktu sekitar 100 hari
atau 3-4 bulan untuk menyelesaikan semuanya,” paparnya,
“Pada periode Januari hingga Juli yang kosong ini,
para teknisi yang biasa ngebubut ikut mengolah jahe.”
Eddy mengaku tidak banyak keahlian yang dibutuhkan
untuk mengerjakan bandrek dan turbin, kecuali untuk teknisi
mesin turbin. “Yang penting mau kerja saja,” tegas Eddy.
Pekerjaan seperti mencuci dan mengepak tidak membutuhkan
keahlian khusus, sehingga para ahli mesin pun bisa
mengerjakannya. Cara seperti inilah yang membuat mereka
fleksibel dan bisa tetap eksis.
Selain itu, perusahaannya memiliki enam kelompok
kerja yang tersebar di rumah rumah warga. Satu pokja
beranggotakan sekitar 10 orang.
Mereka bertugas mengemas minuman serbuk. Setiap seribu
bungkus—yang biasanya di kerjakan dalam waktu 2 jam—
para pekerja mendapat upah Rp 16 ribu. Saking terampilnya,
membuat lipatan bungkus sampai mengelem hanya
perlu waktu 6 detik dengan hasil yang rapi jali. Dan,
setelah melewati pemeriksaan kualitas, minuman serbuk pun
siap dipasarkan.
Menurut Eddy, yang perlu diperbanyak adalah pokja, bukan
karyawan. “Soalnya pekerjaan ini bisa dibawa pulang,” jelasnya.
Selain itu, setiap tahunnya Eddy memilih beberapa orang
karyawan yang berprestasi untuk disekolahkan dengan biaya
dari perusahaan bekerja sama dengan Universitas Ahmad Yani.
“Karena jaraknya cukup dekat, kami juga bekerja sama untuk
program pelatihan dan praktik,” ujarnya.
Hampir setiap minggu selalu ada mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi yang mengadakan penelitian di tempatnya.
“Ada yang meneliti efisiensi produk, proses produksi, seni
merek, keuangan, pemasaran, dan sebagainya,” papar salah
satu stafnya. Eddy mendapat laporan dari setiap penelitian yang
dilakukan. Ia pun menyediakan tempat menginap selama mereka
melakukan penelitian.
MANAJEMEN PROMOSI
Kini, baik turbin maupun bandrek sama-sama
bersaing untuk menjadi lebih maju. “Sekarang
ini setiap tahun kita meluncurkan produk baru
yang memberikan peluang dan segmen yang
berbeda karena setiap daerah memiliki potensi
yang berbeda,” ujar Eddy. Beberapa daerah
membutuhkan jenis turbin besar, yang lain
hanya membutuhkan turbin kecil. Keunikan
produk yang menjadi kebutuhan masyarakat
inilah yang terus dikembangkan Eddy.
Eddy tetap mengandalkan promosi dari mulut
ke mulut karena untuk produk seperti ini orang
akan lebih percaya kalau mendengar langsung
dari orang lain tentang kebaikan suatu produk,
dibandingkan jika mendapatkannya dari iklan.
Menurut Eddy, “Bobot kepercayaannya akan
berbeda. Bobot yang paling kuat adalah cerita
dari teman ke teman.”
Prinsipnya adalah membuat semakin banyak
orang mengetahui produknya. Caranya,
dengan mengajak mereka mendatangi proyek
percontohannya. “Bayangkan kalau saya harus
ke daerah-daerah untuk berpromosi,” ujarnya,
“Biayanya akan jauh lebih besar. “Proyek
percontohan ini lambat laun menjadi objek wisata
teknologi. Mereka yang datang disuguhi minuman
bandrek. Dengan demikian, setiap orang pulang
dengan membawa cerita dan oleh-oleh. Cerita
orang-orang tersebutlah yang membesarkan
usaha turbin dan bandrek Hanjuang.
Promosi internet tetap dilakukan sebagai
pelengkap. “Kuncinya adalah ketika suatu produk
menjadi solusi, pasti laku,” ujarnya mantap,
“Sebaliknya, walaupun produk bagus, kalau
tidak bisa menjadi solusi, tidak laku.”
Eddy kini merasa bahwa bisnis turbin dan
bandreknya sudah tinggal menjalankan saja.
“Cash flow-nya sudah benar-benar mandiri,
bahkan bisa menyerap tenaga kerja,” urainya.
Lalu, ia pun mencari ‘mainan baru’. Melihat
kondisi air yang cukup baik di sekitar tempat
tinggalnya, ia pun berencana membangun
sentra ikan koi. Saat ini ia mulai membiakkan
ikan-ikan itu di tanahnya yang luas. “Apa pun
keadaannya saya selalu menikmati prosesnya,
termasuk kesulitan dan hambatannya juga saya
nikmati,” ujarnya.
Catatan Rhenald Kasali
KALI INI ANDA membaca sebuah proses membangun usaha berbasis teknologi
sederhana yang dimulai dari kesenangan. Seorang yang senang akan terus
bekerja, seperti seorang seniman yang keasyikan. Namun seperti
kebanyakan “seniman” bisnis lainnya, mereka mudah tergoda dalam
kesenangan-kesenangan yang sering kali kurang memikirkan kesatuan konsep
dalam bisnis Bahwa bisnis harus ditata dikelola secara sophisticated dengan
ahlì-ahli di luar produksi. Namun demikian, para seniman usaha ini selalu
menyatakan, “Kalau saya suka, sudah menguntungkan, den membuat saya happy,•
apa salahnya?”
Seniman-seniman UMKM seperti ini biasanya menggunakan survival instinct
naluri untuk bartahan atau beradaptasi. Mareka bukanlah expansionist
seperti pengusaha-pengusaha Barat atau pengusaha-pengusaha dari
Asia Timur (Cina, Taiwan, Korea, bahkan India). Mereka mudah puas kalau
cash flow-nya aman dan produknya selalu ada pesanan. Apalagi bila mereka
bisa secara langsung melihat dampaknya pada lapangan pekerjaan.
Eddy memulai usaha dari skll yang ia miliki dan ia melihat masalah energi
begitu luas di negeri ini. Ia pun mengisinya dengan membuat turbin, Tetapi
apa hubungan dengan bandrek? Ya tidak ada! Kalau Anda pakai strategi bisnis
dan Anda tidak romantis, maka Anda memilih usaha lain yang membantu usaha
utama Anda untuk tumbuh menjadì industri. Eddy memilih bandrek. Dugaan saya
ini pasti karena ia suka bandrek. Ia juga senang melihat orang
kumpul bekerja. Dan, ternyata bisa juga dihubung-hubungkan, karena Eddy
adalah seniman sekaligus tahu cara membuat mesinnya.
Orang-orangnya ternyata bisa juga dipekerjakan di sana. Walaupun nilai
ekonominya berbeda, sebagai survival instinct bolehlah. Toh, pada setiap 6
bulan pertama, pesanan turbin tidak besar. Mereka butuh pekerjaan. Namun
kalau UMKM ingin maju, mereka harus berefleksi dan berhenti berkreasi
barang sejenak. Berhentilah berlari-lari yang meletihkan barang sesaat,
lalu tuangkan mimpi-mimpi Anda dalam rencana bisnis yang terpadu. Dari situ
Anda akan bisa melihat labih bijak, ke mana Anda akan membawa usaha ini di
kemudian hari. Bukanlah waktu berjalan terus dan suatu saat Anda tak bisa
mencari makan dengan tangan sendiri?
Di masa depan Anda perlu mencari makan melalui tangan orang-orang lain, dan
produk Anda bisa berevolusi menemukan pintunya dengan pikiran-pikiran
dan tangan-tangan orang lain.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)