Monday, October 8, 2012

Anggi, Masih Mahasiswi tapi Sudah Raup Omzet Puluhan Juta Lewat Boneka Peraga Gigi

Jakarta - Memiliki penghasilan
tinggi di usia muda, bukan hal
yang tidak mungkin. Misalnya
Anggi Hayani, mahasiswi
kedokteran gigi Universitas
Sumatera Utara mampu
membuktikan hal itu.

Anggi sukses mengembangkan
bisnis boneka untuk alat peraga
kesehatan gigi berkarekter tokoh-
tokoh unik. Melalai bisnis ini ia
mengaku mendapat omzet Rp 40
juta per bulan.

Tepatnya pada tahun 2010, ia
bersama rekannya melakukan
soasialisasi kesehatan gigi ke anak-
anak menggunakan alat peraga gigi
normal, respons anak-anak saat
itu sangat mudah merasa bosan
dan tidak menangkap apa yang
disampaikan.

Akhirnya, muncul ide membuat
boneka berkarakter unik yang
dibumbui dengan cerita. Respons
dari anak-anak pun tinggi dan
mereka merasa senang mengikuti
sosialisasi. Berawal dari sana,
boneka karya Anggi bersama
rekannya itu memperoleh
sambutan yang besar.
"Saat kami memperkenalkan
boneka ini di Medan, orang-orang
kedokteran gigi itu tertarik untuk
beli. Selain desain bagus untuk
edukasi juga bisa sebagai pajangan
di tempat praktek sudah oke.
Itulah konsep pertama kita," kata
Anggi kepada detikFinance saat
acara Pasar Indonesia Mandiri di
JCC Senayan Jakarta, Rabu
(3/10/2012).

Di bawah bendera Kenkou Dolls &
Souvenir, produk unggulan yang
dihasilkan adalah boneka
berkakter gigi sehat (Mr dan Mrs
Dente) dan gigi berlubang (Kenkou
Boy). Selain itu, ia juga
mengembangkan berbagai macam
souvenir bertema gigi yang bisa
dinikmati oleh semua kalangan.
"Boneka itu untuk penyuluh
edukasi kesehatan terus sekolah-
sekolah, dokter gigi, puskesmas,
instansi kesehatan dan pendidikan.

Kalau souvenir untuk mahasisiwa
dan masyarakat biasa," katanya.
Harga produk yang ditawarkan pun
relatif beragam dan terjangkau.
"Kalau boneka untuk icon, kami
jual RP 150 ribu sampai Rp 250
ribu. Kalau souvenirnya ada yang
Rp 5 ribu sampai Rp 70 ribu - 80
ribu," imbuhnya.

Peraih juara terinovatif dan
teredukatif dalam Wirausaha
Mandiri ini mengaku, produk yang
ia buat bersama rekannya telah
menembus seluruh Indonesia. Ia
menggunakan pemasaran dengan
cara online.

"Pasarnya itu masih domainnya
Medan. Kalau online-nya sudah
kemana-mana sempet juga ke
Singapura untuk ikut lomba
disana," tambahnya.

Usaha yang dijalani sejak 2 tahun
silam ini akhirnya berbuah manis,
Kenkou Dolls & Souvenir bisa
meraup omzet hingga Rp 40 juta
per bulan. Penjualan didominasi
oleh penjualan online. "Per bulan
Rp 20-40 juta. Itu terbanyak dari
online," tuturnya.
Keberhasilan yang dicapai Anggi,
tidak membuatnya cepat puas, ia
ingin produknya bisa dikenal lebih
luas lagi.

"Icon kami terangkat terus bisa
nembus PDGI (Persatuan Dokter
Gigi Indonesia), lebih baik lagi
pengennya sih kerjasama dengan
perusahaan besar seperti
Pepsodent atau Ciptadent sebagai
supplier," sebutnya.

Pada kesempatan itu, Anggi
berencana setelah lulus dari
kedokteran gigi, ia ingin tetap
memadukan antara profesi
seorang dokter gigi dan bisnis,
namun dengan orientasi sosial
bisnis.
"Pengennya mengkombinasikan
dokter gigi sama pebisnis. Kami
ingin main ke sosial
entrepreneur," pungkasnya.

Apakah anda tertarik cerita Anggi
atau ingin memesan produk
boneka gigi? Yup anda bisa kirim
email ke: kenkou.ds@gmail.com
atau mengunjungi facebook:
kenkou dolls & souvenirs.
( Feby Dwi Sutianto)

Sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/10/04/120524/2054406/480/mahasiswi-cantik-ini-sukses-bisnis-jualan-boneka-peraga-gigi

Friday, October 5, 2012

Capek Jadi Pegawai, Sadarsah Sukses Jadi Eksportir Kopi Gayo

KOMPAS.com — Pengalaman
menjadi pemasar perusahaan
eksportir kopi membuat
Sadarsah paham betul
bagaimana cara jualan kopi dan
jenis kopi apa yang laku di
pasar. Nah, ketika seluruh dunia
lagi paceklik kopi pada 2006,
Sadarsah pun pindah kerja
dengan menjadi eksportir kopi.
Usaha ini berjalan mulus
dengan omzet miliaran rupiah
setiap bulan.

Kopi asal Indonesia sudah
terkenal di seluruh penjuru
dunia. Sebut saja kopi arabica
ataupun kopi robusta yang
banyak diburu pecinta kopi.
Kemudian ada kopi luwak yang
disebut-sebut sebagai kopi
terenak dan termahal di dunia.

Lantas ada juga kopi gayo di
Aceh. Kopi ini di luar negeri
juga terkenalnya seperti halnya
kopi luwak. Kopi gayo ini
adalah jenis kopi arabika yang
dikembangkan secara organik
oleh pekebun kopi di dataran
tinggi Gayo di Sumatra Utara.
Karena itu, kopi ini menjadi
salah satu kopi favorit di dunia.
Sebagai kopi favorit tentu
permintaan kopi ini juga tinggi,
baik di pasar dalam negeri
maupun pasar ekspor. Nah,
peluang ini menjadi eksportir
kopi gayo inilah yang dimainkan
dengan baik oleh Sadarsah.

Pria kelahiran Medan 19
November 1974 ini melalui CV
Arvis Sanada, perusahaan yang
ia dirikan pada 2006,
mengekspor kopi gayo ke
Amerika Serikat, Inggris,
Kuwait, Taiwan, Korea,
Australia, Jepang, dan Laos.
Saban bulan ia mengirim 15
kontainer kopi gayo ke berbagai
negara itu dengan omzet
minimal Rp 8 miliar.

Sadarsah mulai mengenal bisnis
kopi ketika lulus kuliah pada
2001. Ketika itu dia masih
menjadi tenaga pemasar di lima
perusahaan eksportir kopi di
Medan, Sumatra Utara. Setelah
hampir lima tahun bekerja,
alumnus Teknik Elektro
Universitas Muhammadiyah
Sumatra Utara (UMSU) ini mulai
memilih jalan untuk
berwiraswasta. "Dengan
memiliki usaha sendiri saya bisa
lebih bebas berinovasi dan
mengembangkan ide-ide,"
pungkasnya.

Pada 2006, dengan modal
pinjaman dari seorang teman,
Sadarsah mendirikan Arvis
Sanada di Medan. Dia perlu
membuat badan usaha karena
melihat peluang besar dalam
bisnis ekspor kopi. Apalagi
ketika itu dunia lagi paceklik
kopi.

Saat itu, nyaris seluruh
perusahaan kopi di dunia kolaps
lantaran pasokan kopi
berkurang 50 persen . Situasi
sulit inilah yang dibaca
Sadarsah sebaliknya. Bagi dia
kekurangan pasokan itu harus
dia isi. Apalagi dia tahu ada
produksi kopi yang melimpah
ruah di Tanah Gayo. Selain itu,
dia sudah paham betul seluk-
beluk ekspor kopi.

Ekspor perdana yang cuma satu
kontainer itu ternyata menjadi
pembuka pintu gerbang bagi
Sadarsah untuk memasuki
perdagangan kopi dunia. “Di
masa itu, langsung banyak
permintaan kopi. Rata-rata,
penikmat kopi dari luar negeri
menginginkan kopi organik,”
kata anak dari pasangan Mude
dan Ratih ini.

Sadar dengan peluang besar itu,
Sadarsah pun berupaya untuk
mendapatkan sertifikat kopi
organik dari lembaga sertifikasi
Control Union di Belanda.
Sertifikat ini diperolehnya pada
akhir tahun 2006.
Dengan modal tambahan berupa
sertifikat itu, ekspor kopi
Sadarsah pun makin lancar.

Hingga kini, Sadarsah
mengekspor dua jenis kopi,
yakni kopi gayo dan kopi
konvensional. Untuk kopi Gayo,
ia jual dengan merek Sumatera
Arabica Gayo dan merek
Sumatera Arabica Mandailing
untuk kopi konvensional.

Dengan mengusung slogan
"Quality, Trust, and
Excellence," pertumbuhan
bisnis Sadarsah melesat bak
meteor. Kalau pada 2006,
omzet dia hanya Rp 600 juta
per bulan dengan kemampuan
ekspor kopi hanya satu
kontainer. Tahun berikutnya
omzet sudah melonjak drastis
hingga Rp 1,5 miliar per bulan.

Pada 2008, omzetnya naik lagi
menjadi Rp 3 miliar per bulan,
dan pada tahun lalu, Sadarsah
sudah berhasil ekspor 14
kontainer per bulan mencapai
omzet sebesar Rp 7,6 miliar.
Jika pada 2006 lalu Sadarsah
hanya mampu mempekerjakan
15 karyawan, saat ini jumlah
karyawan Arvis Sanada sudah
sebanyak 100 orang. "Sejak
2006 hingga 2011 ini harga
kopi antara Rp 30.000 hingga
Rp 35.000 per kilo," terang
Sadarsah.

Digugat pengusaha Belanda

Sadarsah yakin usahanya akan
terus berkembang karena
potensi kopi gayo dan kopi
lainnya masih sangat besar.

Menurut Sadarsah hasil
perkebunan kopi di Kabupaten
Bener Meriah, Aceh Tengah dan
Gayo Lues, masih cukup untuk
menjawab kebutuhan kopi
dunia. Ketiga daerah yang
berada di ketinggian 1.200
meter di atas permukaan laut
(dpl) tersebut memiliki
perkebunan kopi seluas 94.800
hektare.

Keberhasilan Sadarsah, pemilik
CV Arvis Sanada, mengekspor
kopi gayo ke berbagai negara
memang tak semudah membalik
telapak tangan. Berbagai
rintangan harus ia lewati agar
bisa menjajakan kopi tanah
Andalas ke mancanegara.

Salah satu masalah terberat
yang pernah dihadapi Sadarsah
adalah keberatan atas merek
gayo yang dilayangkan
perusahaan kopi asal Belanda,
Holland Coffee, pada 2008
silam. Perusahaan itu
mengklaim, Sadarsah telah
menjiplak merek kopi produksi
mereka.

Holland Coffee secara terang-
terangan melarang Sadarsah
menggunakan kata gayo pada
merek kopinya, Arabica
Sumatera Gayo. Apalagi kopi
milik Sadarsah itu juga beredar
luas di Negeri Belanda.

Perusahaan itu menyatakan,
merek gayo pada kopi mereka
itu sudah terdaftar dalam
undang-undang merek di
Belanda. Karena itu,
penggunaan kata gayo oleh
Sadarsah dinilai melanggar
aturan merek di Belanda.
Tapi protes dari Holland Coffee
itu sama sekali tidak digubris
Sadarsah meski dia diancam
bakal diseret ke pengadilan
karena mencuri merek gayo
milik Holland Coffee. Namun
ancaman itu tak membuat
Sadarsah menyerah dengan
menghilangkan kata gayo.

Perusahaan Belanda itu sempat
patah arang melihat semangat
Sadarsah mempertahankan
merek gayo. Mereka pun
melunak tak akan lagi menuntut
Sadarsah asal mengganti merek
gayo dengan mandailing. Tapi
Sadarsah tetap menolak
permintaan itu.

Ia bilang, kata mandailing dan
gayo adalah nama daerah di
Sumatra. Jika kopi berasal dari
Mandailing, kopi itu disebut
dengan kopi mandailing. "Kalau
kopi itu dari Tanah Gayo
disebut kopi gayo," terang
Sadarsah.
Ia mengaku tetap akan
mempertahankan kata gayo
pada kopi yang ia produksi itu.

Bagi Sadarsah, penggunaan kata
gayo sangat penting karena bisa
menentukan kualitas dan juga
bisa mempengaruhi harga jual.
"Bila kata gayo hilang,
konsumen tidak mengetahui
asal kopi itu sehingga harga
kopi bisa jatuh," jelas Sadarsah.

Ia menyatakan, sebagai warga
negara Indonesia dirinya lebih
berhak menggunakan kata gayo
ketimbang orang Belanda yang
menggunakan kata itu. Apalagi
kata gayo adalah nama daerah
di Indonesia bukan nama
daerah di Belanda. "Saya lebih
berhak memakai kata gayo
ketimbang orang Belanda itu,"
tegas Sadarsah.
Adanya klaim atas merek gayo
milik pengusaha Belanda itu
dinilai Sadarsah telah
mendustai petani kopi gayo di
Aceh. "Tidak ada alasan bagi
pengusaha Belanda itu melarang
saya menggunakan kata gayo,"
ucapnya.

Walaupun dilawan pengusaha
setempat, Sadarsah tetap
ekspor kopi gayo ke Belanda.
Saban bulan CV Arvis Sanada
mengekspor empat kontainer
kopi gayo. "Saya tetap ekspor
walaupun Holland Coffee
menuntut saya," ungkap
Sadarsah.

Sekadar pengetahuan, satu
kontainer mampu mengangkut
18.000 kg atau 18 ton kopi.
Untuk menyelesaikan sengketa
dagang itu Sadarsah sempat
melaporkannya pada Asosiasi
Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)
dan pemerintah. "Pemerintah
dan asosiasi mendukung saya
agar tetap ekspor kopi gayo,"
jelas penggemar dangdut itu.

Untuk mempertahankan merek
gayo itu Sadarsah mengajukan
sertifikat asal-usul kopi. Baru
Mei 2010 dia berhasil
mengantongi sertifikat IG
(indikasi geogafis) dari
International Fair Trade
Organization (IFTO). Sertifikat
itu menyatakan Sadarsah
berhak memakai kata gayo pada
produk kopi miliknya yang
berasal dari Gayo.

Berkat sertifikat IG itulah
Sadarsah menjadi percaya diri
memperkenalkan kopi gayo ke
seluruh dunia. Oktober 2010 ia
membawa kopi gayo dalam
acara Lelang Spesial Kopi
Indonesia di Bali. "Kopi
Sumatera Arabika Gayo
mendapat nilai tertinggi saat
cupping score ," katanya.
Prestasi itu memantapkan posisi
kopi gayo sebagai kopi organik
terbaik dunia. Ia bilang, prestasi
itu tak lepas dari masalah yang
berhasil ia hadapi. Termasuk
masalah sengketa merek. "Dulu
banyak yang tak kenal kopi
gayo, setelah sengketa merek
itu, kopi gayo malah jadi
terkenal," terang bapak tiga
anak itu. (Ragil Nugroho/
Kontan )

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2011/11/11/10512675/capek.jadi.pegawai..sadarsah.sukses.jadi.eksportir

Wednesday, October 3, 2012

Cholis, Sarjana Muda Ini Bisnisnya Menjamur Jual Camilan dari Jamur

Jakarta - Bagi kebanyakan orang,
lulus dari perguruan tinggi
biasanya langsung memilih bekerja
dan namun tak banyak yang
langsung memilih berwirausaha.
Adalah Cholis, sang sarjana
kesehatan yang lebih memilih
langsung berkecimpung ke dunia
usaha.

Cholis memulai petualangan
bisnisnya dari menjual kaos dan
berbagai bisnis yang disukainya,
namun tepat pada tahun 2008,
Cholis membanting stir ke bisnis
makanan ringan dari jamur.
Melalui bendera Mushroom
Factory, Cholis bercerita
menuturkan sangat menyukai
makanan dan ingin mengangkat
makanan ringan sehat berkarakter
Indonesia.

"Kita ingin membuat kemasan
baru tentang makanan tradisional
dengan sajian bumbu rempah-
rempah Indonesia dikemas dengan
secara bagus, dan kita bisa makan
dimana saja dan kapan saja," kata
Cholis kepada detikFinance.
Cholis mengaku memilih jamur
karena jamur sudah sangat
familiar dengan masyarakat
Indonesia. Selain itu, ia ingin
membantu para petani jamur yang
sudah jarang melakukan budidaya
jamur.

"Karena unik, kedua karena rasa
makanan ini. Kita menyukai
makanan ini dan kita ingin
memberitahu setiap orang bahwa
ini makanan yang asik sekali dan
tidak kalah dengan cemilan asing
yang sudah banyak beredar,"
imbuhnya.

Cholis yang merupakan Juara I
Wirausaha Mandiri tahun 2010 ini
menjelaskan, harga yang
ditawarkan untuk produk makanan
atau jajanan ringan dari jamur ini
relatif berbeda untuk setiap
daerah.

"Untuk di wilayah Jawa Timur
dijual Rp 10.000 sampai Rp
18.000, kalau Jawa Barat mulai Rp
13.000 sampai 18.000," sebutnya.
Saat ini, Mushroom Factory telah
memiliki puluhan kedai atau stand
yang tersebar di Jawa Timur, Jawa
Barat, serta Jakarta. Sebagian
besar kedai atau stand tersebut
dimiliki oleh para mitra.

"Kita buat store khusus makanan
jamur yang biasa kita ada di pusat
perbelanjaan moderen,"
sanggahnya
Ia juga mengembangkan konsep
cafe dan restoran tetapi dengan
dominasi makanan dari jamur.

"Sekarang model toko model cafe
restoran, kita tidak hanya menjual
jamur saja tapi kafe dan restoran.
Berbagai makanan dan minuman
yang berkarakter anak muda,"
sambungnya.

Apakah anda tertarik untuk
membuka waralaba jamur milik
Mushroom Factory atau hanya
ingin tahu lebih dalam. Anda bisa
datang ke Jalan Bratang Gede
3C/2A Surabaya, Jawa Timur atau
mengunjungi website: mushroom-
factory.com atau email ke:
cholis.net@gmail.com
( Feby Dwi Sutianto)

Sumber: m.detik.com/finance/read/2012/10/01/133135/2049084/480/sarjana-muda-ini-bisnisnya-menjamur-jual-makanan-ringan-dari-jamur

Saturday, September 29, 2012

Donni, Modal Awal 300 Ribu, Kini Bisnis Buku Catatan 'Nuwahardo'-nya Telah Beromzet 9 Jt/Bulan

Jakarta - Saat ini perkembangan
teknologi sangat pesat seperti
hadirnya komputer tablet,
smartphone dan lainnya. Hal ini
tidak meruntuhkan niat pria ini
untuk menjalankan bisnis produksi
buku catatan konvensional dengan
desain yang unik.

Adalah Donni Arifianto berani
meninggalkan karir lamanya
sebagai pelukis dan fotografer
untuk terjun ke usaha yang telah
ditekuninya selama kurang lebih 1
tahun.

Ide untuk membuat buku yang
diberi nama 'Nuwahardo' ini
terbesit saat ia menghadiri sebuah
acara seminar yang diisi oleh
Ridwan Kamil, seorang arsitek
tersohor di Indonesia, yang pada
saat itu menenteng buku catatan
kecil di tangannya.

"Sekarang orang hampir semua
punya smartphone, iPad. Apapun
sudah ada disana. Padahal
realitanya masih perlu media
konvensional. Waktu itu saya lihat
Ridwan Kamil bawa-bawa buku
catatan. Itu semakin membuat
saya yakin kalau ini (buku catatan)
masih dibutuhkan," ungkapnya
saat kepada detikFinance, Senin
(10/9/12).

Dengan modal awal keberanian,
nekat dan uang Rp 300 ribu, saat
ini ia bisa mendapatkan omzet
senilai Rp 9 juta/bulan. Jumlah ini
memang tidak terlalu besar,
namun juga tidak terlalu kecil
untuk usaha pendatang baru.
Sampai saat ini, sudah banyak
kalangan yang memesan bukunya
pada pria yang akrab dipanggil Ido
ini. Mulai dari orang biasa hingga
publik figur, perseorangan,
maupun perusahaan.

"Alhamdulillah sudah banyak yang
mesan. Mulai dari perusahaan
Antam (Aneka Tambang) kemarin
pesan 100 terus repeat 25 buah
lagi. Publik figur juga ada yang
pesan, Kevin Aprilio, penulis
seperti Dewi "Dee" Lestari, Iwan
Setiawan, band Indonesia White
Shoes and The Couples Company,
banyak lagi," paparnya.

Keunikan dari buku catatan yang
dijual Ido ini adalah semua proses
pembuatannya menggunakan
tangan sendiri atau handmade,
termasuk penjilidan dan
pengeleman, pengguntingan,
kecuali untuk proses grafir dan
laser. Bahan utama yang
digunakan adalah kertas, dan kulit
sebagai sampul.

Pemesan pun diizinkan untuk
membuat desain dan model
sendiri. Untuk desain, pria lulusan
Seni Rupa Universitas Pendidikan
Indonesia ini mengandalkan
keahlian terdahulunya sebagai
pelukis.

"Keistimewaaan dari buku ini, si
pemesan bisa pesan by request,
model sendiri tanpa minimum
order. Desainnya menarik tapi
elegan," katanya.

Harga yang dipatok Ido untuk
'Nuwahardo' ini mulai dari Rp 150
hingga 175 ribu per buah,
tergantung adari ukuran buku
yang dipesan. Ia membidik
kalangan menengah ke atas sebagai
target utama pasarnya.

"Target pasarnya middle to high,
mahasiswa dan pekerja. Dari usia
20 tahun ke atas lah," katanya.
Tak hanya dipasarkan di Indonesia,
rencananya pada bulan Oktober
nanti, produk ini akan juga
dipasarkan di negara-negara Asia.
Ia menyebut Manila dan Singapura
adalah negara yang akan
kedatangan produknya.

"Sudah ada pihak yang mau ikut
memasarkan juga. Insya Allah
nanti bakal dipasarin di negara
lain, Singapura dan Manila
Oktober nanti," katanya.

Bagi anda yang tertarik untuk
berbisnis dengan pria ini untuk
memesan atau bahkan menjadi
reseller atau sekedar bertanya-
tanya apa yang menginsiprasinya,
anda bisa datang ke workshop
Nuwahardo di Kompleks Taman
Kopo Indah Blok E No 5, Bandung
Jawa Barat.( Zulfi Suhendra)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/09/10/112524/2013249/480/

Friday, September 28, 2012

Panut, Mantan Karyawan Ini Kini Jadi Bos Tas Rotan Kualitas Ekspor Beromzet Puluhan Juta

Jakarta - Menjadi karyawan atau
wirausahawan merupakan pilihan
bagi setiap orang. Hal ini yang
dialami oleh Panut Mulyajaya asal
Bantul, Yogyakarta.

Panut menggeluti usaha tas rotan
kualitas ekspor, setelah menjadi
karyawan selama 11 tahun pada
sebuah perusahaan mebel
berbahan baku rotan.

Berangkat dari pengalaman kerja
itu, pada tahun 2001, Panut
akhirnya mendirikan Anggun Rotan
yakni usaha pembuatan handicraft
berbahan baku rotan namun
dengan konsep produk berbeda.
Panut melihat peluang produk tas
berbahan baku utama rotan. Tidak
disangka, respons pasar terhadap
produk buatannya sangat tinggi.

"Saya ingin cari inovasi dan
produk baru, yang belum banyak
orang produksi tapi basic-nya
rotan, akhirnya ke handicraft
yakni tas," kata Panut kepada
detikFinance saat ditemui di JCC
beberapa waktu yang lalu.
Seiring berlalunya waktu, pangsa
pasar produk tas rotan panut pun
meluas hingga negeri Sakura
Jepang dan Iran, Timur Tengah.

Selain itu, Panut mengaku pangsa
pasar produknya 50 persen
ditujukan untuk ekspor.
"Ekspor paling banyak ke Jepang,
Iran, ke Thailand juga ada,"
tambahnya.

Harga yang ditawarkan oleh
Anggun Rotan ralatif terjangkau
untuk kualitas dan model yang
ditawarkan. "Harganya Rp 50 ribu-
Rp 250 ribu karena saya produksi
sendiri pasarkan sendiri, kalau di
luar negeri jutaan," tambahnya.
Usaha yang dijalankan Panut sejak
2001 silam ini, akhirnya berbuah
manis. Panut per bulan bisa
meraup omzet hingga Rp 80 juta.

"Dari karyawan 7 orang sekarang
40 orang, dulu omzet saya kecil
sekarang sudah lumayan. Omzet
Rp 80 juta per bulan," sebutnya.
Bisnis tas rotan Panut selama 11
tahun ini juga penuh tantangan,
salah satunya ketika ia menerima
pesanan tas senilai ratusan juta
rupiah dari Iran. Setelah produk
pesanan jadi lantas pihak pemesan
malah tidak mengambilnya.
Namun pria lulusan Fakultas
Ekonomi Universitas Jember ini
tidak putus semangat, ia pun
memetik hikmah dari setiap
cobaan yang menerpa usahanya.
"Nilainya Rp 135 juta itu nggak
diambil," sambungnya.

Pada kesempatan itu, Panut tidak
lupa berpesan kepada para calon
pengusaha ataupun yang sudah
berusaha. Ia mengatakan menjadi
seorang pengusaha harus optimis
dan total dalam berusaha serta
tidak takut gagal.

"Kalau setengah-setengah mending
tidak usah, jadi apa yang kita
kerjakan mesti berhasil, kalau itu
salah itu nomor dua yang penting
kita coba dulu," pungkasnya.

Apakah anda tertarik terhadap
produk Anggun Rotan. Anda dapat
mampir ke Jalan Imogiri Km 14,
Manggung RT 02, Imogiri, Bantul,
Yogyakarta atau mengunjungi
website:
www.anggunrotanbag.com.
( Feby Dwi Sutianto)

Sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/09/28/113243/2042650/480/mantan-pegawai-pabrik-mebel-ini-kini-jadi-bos-tas-rotan-kualitas-ekspor

Rita dan Riko, Berawal dari Hobi, Curug Gentong-nya Kini Hasilkan Omzet Puluhan Juta

VIVAnews - Berawal dari hobi
hiking dan memiliki mimpi
memindahkan keindahan alam
tersebut ke rumah, bisnis ini
akhirnya dapat diwujudkan.
Curug Gentong, miniatur lanscape
yang disajikan dalam media gentong
itu hanya bermodal awal Rp5
jutaan, namun bisa meraup omzet
hingga puluhan juta rupiah per
bulan.

Rita Apriyanti (50) dan suaminya
Riko (52), mengawali bisnis ini
berdasarkan hobi. Dengan landasan
tersebut, jatuh bangun dalam
membangun bisnis tersebut
bukanlah permasalahan yang
berarti.

Menurut Rita, bisnisnya saat ini
sudah berkembang dan
menguntungkan. Bahkan, sampai
memiliki beberapa showroom
kerajinan tangan Curug Gentong.
Namun, hal yang terpenting, yakni
hasratnya dalam menuangkan
kreativitasnya dapat terakomodasi.
"Kalau kita membuat produk hasil
karya sendiri, tentunya ada
kepuasan," ujar Rita saat
berbincang dengan VIVAnews di
Jakarta, Selasa 25 September 2012.

Rita menceritakan, Curug Gentong
ini bukanlah usaha yang pertama
kali digelutinya. Sebelum usaha ini,
dirinya pernah menggeluti produk
daur ulang pernak-pernik boneka
dengan bahan baku sedotan.
Kemudian, pada awal 2003, dirinya
dengan bermodal
pengalaman hiking beserta suami,
dari situ ide untuk menyulap
pemandangan alam ke dalam
gentong tercipta.

Rita menuturkan, pada awalnya
bukan gentong yang dijadikan
media penyajian keindahan alam
tersebut. Ia sempat menggunakan
kaleng bekas sebagai media. Tetapi,
karena ketidakpuasannya dalam
mengeksplorasi kreativitasnya di
media tersebut, dirinya mencari
media lain.
Gentong dipilih karena selain
memiliki ruang yang luas,
nuansanya juga menyatu dengan
alam.

Produksi awal kerajinan ini dibuat
guna menghiasi ruang tamu di
rumahnya. Kemudian, dirinya
sekali-sekali memberikan hadiah
kepada kawannya dengan kerajinan
ini pada saat momen-momen
tertentu. Namun, lama kelamaan,
pesanan pun mulai mengalir.

Karena antusiasme dari pasar yang
tinggi terhadap produknya, dia pun
memutuskan untuk menekuni bisnis
ini. Bahkan, kala itu, suaminya yang
masih bekerja di Grup Astra sebagai
mekanik, diminta mundur dari
pekerjaannya dan menekuni bisnis
ini.

Bermodal awal Rp5 juta untuk
membeli alat-alat pendukung,
omzet awal masih pas-pasan pada
tahun pertama saat memulai bisnis
ini. Tapi, dengan kerja keras tanpa
beban, akhirnya menuai hasil dan
dapat berkembang hingga
menghasilkan omzet hingga Rp70
juta per bulan.

"Kami tidak berpikir omzet, karena
direspons masyarakat bagus dan itu
keberuntungan untuk saya,"
tambahnya.
Curug Gentong dibanderol sesuai
dengan ukuran dan tingkat kesulitan
pemandangan yang disajikan.
Kerajinan ini dibanderol cukup
terjangkau seharga Rp200 ribu
hingga Rp1,5 juta per unit.

Saat ini, Curug Gentong memiliki
empat showroom yang tersebar di
Pulau Jawa yaitu, Depok, Cianjur,
Surabaya, dan Tangerang.
Rita mengatakan, pemasaran Curug
Gentong telah sampai ke Papua.
Selain dapat melihat langsung ke
showroom, pemesanan juga dapat
diakses melalui website http://
curuggentongku.wordpress.com/.
Hingga saat ini, hobi hiking
bersama suaminya masih terus
dilakukan. Selain untuk melepaskan
kepenatan dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari, tradisi
tersebut juga dijaga guna mencari
inspirasi untuk menciptakan
pemandangan yang menawan.
Selanjutnya akan disalurkan melalui
miniatur pada gentongnya. (art)
( R. Jihad Akbar )

sumber: http://m.news.viva.co.id/news/read/354244-mendulang-omzet-puluhan-juta-dari-gentong

Thursday, September 27, 2012

Rushdy, Resign dari Perusahaan Operator Seluler, Kini Raup Puluhan Juta dari Bisnis Lovely Jello

VIVAnews - Siapa sangka, puding
dan jelly yang biasa dijual di
pinggir jalan bisa membuat
seseorang berpenghasilan minimal
Rp50 juta per bulan. Hal itu telah
dibuktikan Rushdy, dengan
usahanya bernama Lovely Jello.

Rushdy belum lama menekuni
usahanya itu. Baru tiga tahun
bisnisnya berjalan, ia sudah
mempunyai 168 gerai Lovely Jello
di seluruh Indonesia, dari Sabang
sampai Merauke.

Keinginan pria berumur 32 tahun
ini membuka franchise (waralaba)
tersebut, bermula ketika dirinya
masih menjadi karyawan di
perusahaan operator seluler
terbesar di Indonesia.

"Saat itu, gaji saya sekitar Rp5 juta.
Itu pas, waktu saya keluar pada
Januari 2010," ungkap Rushdy
ketika ditemui VIVAnews, beberapa
waktu lalu di Jakarta.
Sebenarnya, menurut Rushdy, ia
berkecimpung di bisnis waralaba itu
merupakan buah dari tantangan
beberapa temannya ketika masih
menjadi pegawai.

Selain bekerja di perusahaan
operator seluler, ternyata ia juga
mempunyai usaha lainnya, yaitu
berjualan es di mal dan membuat
event organizer bersama beberapa
temannya.
Ketika Rushdy mengadakan seminar
franchise, temannya menantang
dirinya agar membuka usaha
waralaba saja. Atas dasar itu, ia
yang memang sudah berjualan es di
salah satu pusat perbelanjaan di
Kediri itu, mulai fokus kepada
usaha barunya.

Akhirnya, pada Januari 2010, ia
resmi melepas status karyawannya
dan berfokus pada waralaba yang
dijalaninya hingga saat ini. "Waktu
itu, saya harus memilih, karena
keduanya tidak bisa berjalan
bersama-sama. Saya pilih usaha
sendiri," ujarnya. (art)

sumber: http://m.news.viva.co.id/news/read/354722-meraup-puluhan-juta-dari-jajanan-jelly

Kenny dan Kevin, Usia Masih Belasan Tahun tapi Sudah Sukses Lewat Usaha Keripik Siput Pedas

KOMPAS.com — Inspirasi
membuka usaha bisa dari mana
saja. Peluang itu ditangkap
Kenny Kurniawan (14) dan Kevin
(14), yang mengawali bisnis
patungan membuat keripik
siput (bekicot). Ide ini ia dapat
ketika mengikuti kegiatan di
sekolahnya, SMP Anugerah
Pekerti, Surabaya.

Kala itu, guru mata pelajaran
Etika Lingkungan, Bangun
Pratomo, meminta Kenny dan
Kevin untuk mencari tahu soal
siput. Ketika tugas kelar,
Bangun membuka pikiran Kenny
dan Kevin bahwa binatang siput
memiliki khasiat yang sangat
tinggi dan baik untuk kesehatan.

Masukan gurunya semakin
membuat rasa ingin tahu Kenny
dan Kevin semakin besar soal
manfaat siput. Keduanya
memutuskan mencari manfaat
lain dari siput di dunia maya.
Setelah mendapat pengetahuan
yang cukup, mereka yakin usaha
siput cukup menjanjikan.
"Kita berpikir, olahan siput
belum banyak orang lakukan.

Akhirnya kita memutuskan
bisnis olahan siput yang sangat
menguntungkan. Apalagi dari
segi pesaing sedikit sekali," ujar
Kenny Kurniawan, manajer
produksi Sipoet Zoen, kepada
Tribun, di FX Senayan, Jumat
(7/9/2012).

Usaha bersama yang dirintis
Kenny dan Kevin dimulai
pertengahan 2011. Sebelum
memutuskan untuk menjadikan
keripik berbahan baku siput,
muncul diskusi di antara
mereka. Setelah pikir-pikir,
mereka memutuskan siput
dibuat keripik sekaligus cemilan
menyehatkan.

Dengan sabar, mereka berbagi
tugas. Kevin dalam usaha ini
bertugas sebagai juru masak. Ia
mengaku suka sekali memasak
karena besar di lingkungan
keluarga yang dominan kaum
hawa. Di lingkungan ini, Kevin
ikut-ikutan belajar masak.
Kemampuannya memasak
menjadi modal Kevin.

Mengawali proses usaha ini bagi
Kevin dan Kenny cukup
mengasyikkan. Mereka sampai
harus mencari tahu di mana
mendapatkan bahan baku siput,
cara mengolah, sampai
memberikan cita rasa untuk
siput. Karena tak mungkin
mencari sendiri bahan baku
siput, keduanya memutuskan
untuk membeli siput yang
dioven setengah matang.
"Untuk mengolah siput jadi
keripik, harus dikeringkan. Kita
memutuskan membeli siput
yang setengah matang dioven.
Lalu kita goreng sendiri dan
langsung dikasih bumbu. Urusan
masak memasak langsung saya
yang menanganinya. Kalau
Kenny pegang marketing,"
terang Kevin.

Keripik siput pertama olahan
Kevin dibuat tanpa bumbu dan
masih mempertahankan rasa
orisinal. Keduanya memulai
pemasaran dengan membawa
keripik rasa orisinal ke sekolah.
Mereka berdua meminta teman-
teman dan guru untuk
merasakan keripiki siput rasa
orisinal.

Hasilnya, kebanyakan yang
merasakan keripik siput orisinal
produksi Kevin dan Kenny
belum menerima. Keduanya tak
putus asa. Justru dari teman-
temannya di sekolah, mereka
mendapatkan masukan. Tak
sedikit dari teman-teman
sekolahnya yang mengusulkan
diberi bumbu keju biar ada
rasanya.

Seusai sekolah, Kevin dan Kenny
memutar otak. Mereka sepakat
olahan keripik siput harus
diberi bumbu. Ide menaburkan
bumbu keju masukan dari
teman-teman di sekolah
ditampik Kevin. Menurutnya,
siput sudah memiliki cita rasa
tersendiri. Tapi, bumbu rasa
keju tidak pas untuk siput.
Kenny langsung mengeluarkan
ide, bagaimana jika siput diberi
bumbu pedas. Ide ini lalu
diterapkan Kevin dan hasilnya
diterima banyak orang. Apalagi,
teman-teman di sekolahnya
suka dengan yang pedas-pedas.
Muncullah ide untuk
menamakan keripik siput pedas
dengan keripik siput balado.
Setelah keripik siput balado
banyak peminatnya, sebagai
juru masak, Kevin melakukan
eksperimen dengan mengolah
keripik siputnya dengan rasa
barbeque dan rasa lada hitam.
Kevin dan Kenny puas setelah
keripik mereka ternyata
digemari adik kelasnya dan
menjadi cemilan paling dicari di
sekolahnya.
Berharap bisa diekspor
Usaha Kevin dan Kenny yang
usahanya bermodalkan awal Rp
1,5 juta menjadi tak sia-sia.

Ketika ada ajang Kidpreneur
Award 2012 yang digagas
Berani Magz dengan sponsor
Permata Bank, keduanya lolos
sebagai satu dari 10 tim finalis
dari peserta di seluruh
Indonesia sebanyak 250 tim.

Kegembiraan mereka makin
lengkap setelah dewan juri
memutuskan tim Keripik Siput
sebagai juara kedua dan
mendapat uang tunai Rp 10
juta. Bukan itu saja, tim Keripik
Siput juga menjadi juara favorit
versi Facebook dengan
memperoleh hasil polling
tertinggi. Untuk juara favorit,
mereka mendapat Rp 1 juta.
Menurut panitia, penilaian
mereka untuk gelar ini
ditentukan dari berapa banyak
orang yang mengklik tombol
"Like" di foto para finalis.
Hingga polling ditutup,
sebanyak 1.415 orang telah
memilih tim Kripik Siput ini.

"Waktu itu kita berpikir
juaranya cuma sekali, juara
favorit," ungkap Kevin.
Salah satu nilai lebih tim ini,
menurut salah satu dewan juri,
adalah kemampuan mereka
memaparkan produknya di
depan khalayak umum. Mereka
terlihat komunikatif dan luwes
memasarkan produknya.
Ditambah, mereka terlihat
percaya diri tanpa canggung
sedikit pun.

Selama menjalani usaha keripik
siput, Kevin dan Kenny mengaku
tidak kesulitan untuk
pemasarannya. Mereka berdua
menerapkan strategi lips
marketing, pemasaran dari
mulut ke mulut. Hasilnya luar
biasa. Keripik yang mereka
titipkan di kantin sekolah
banyak digemari teman-teman.

Menurut Kenny, modal pertama
sebesar Rp 1,5 juta sudah
kembali. Modal itu awalnya
dipinjam dari orangtua Kevin
dan Kenny. Masing-masing
patungan Rp 750.000. Untuk
mengirit ongkos produksi,
pertama kali mereka masih
menggunakan kompor dan
penggorengan milik orangtua
mereka.
"Tapi sekarang modal yang kita
pinjam sudah kita kembalikan
kepada orangtua kita. Karena
maju, kita juga sudah memiliki
sendiri peralatan produksi,
seperti kompor, penggorengan,
sampai untuk packing produk,"
terang Kenny sambil
menambahkan bahwa usaha
patungan ini mendapat
dukungan keluarga.
Lewat usahanya, Kevin dan
Kenny sudah membangun
harapan bahwa produk keripik
siputnya kelak dapat diekspor.

Modal untuk itu terbuka setelah
keduanya mendapat
pengalaman berharga kala
karantina di ajang Kidpreneur
Award 2012. "Kan kita sudah
dapat masukan dari kakak-kakak
pengusaha," terang Kenny.
Presiden Direktur Berani Magz,
H Witdarmono, menilai anak-
anak yang menjadi finalis
Kidpreneur Award 2012 sudah
mengenal uang, tetapi tidak
untuk menjadi materialistis.

Pelajaran terpenting yang bisa
diambil bahwa mereka tahu
perencanaan untuk
berwiraswasta. "Mereka berani
mengambil risiko dan mereka
ingin menjadi besar sekaligus
berjiwa sosial," ungkapnya.
(Yogi Gustaman)
Editor: Erlangga Djumena

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/11/0909585/kenny.dan.kevin..kecil.kecil.sudah.berbisnis

Wednesday, September 26, 2012

Andris, Lewat Nasi Liwet Instan dari Beras Garut Hasilkan Omzet Ratusan Juta

KOMPAS.com - Di pasaran,
beras asal Garut masih kalah
pamor dengan beras Cianjur
atau beras Thailand. Padahal,
beras garut memiliki sejumlah
kelebihan dibanding beras jenis
lainnya.

Beras garut dikenal memiliki
warna lebih putih, lebih pulen
setelah dimasak, dan memiliki
rasa manis, dibanding jenis
beras lainnya. Namun, banyak
pedagang yang
menyembunyikan identitas
beras Garut dan menggantinya
dengan nama beras Cianjur yang
tertera pada karungnya.

Kondisi inilah yang membuat
Andris Wijaya (32), warga Desa
Samarang, Kecamatan
Samarang, Kabupaten Garut,
berusaha menaikkan pamor
beras Garut tanpa
menyembunyikan nama asli
berasnya. Andris ingin
masyarakat mengenal beras
Garut dan menyukai beras
tersebut.

Andris memang tidak bisa
melakukan promosi besar-
besaran untuk mempopulerkan
beras garut. Namun, alumnus
D3 Politeknik ITB Jurusan
Teknik Mesin tahun 2001 ini
memiliki sejumlah ide atau cara
lain untuk mempopulerkan
beras garut.

Minat warga luar Kabupaten
Garut yang semakin tinggi dan
berminat menjadikan Kabupaten
Garut sebagai tujuan wisata
dijadikan alat untuk mencapai
tujuan tersebut.

Menurut
Andris, beras Garut harus
diolah dan dikemas sedemikian
rupa sehingga jadi oleh-oleh
favorit para wisatawan.
Berbekal resep nasi liwet
keluarga, pengetahuan yang
dimilikinya, dan minat
wisatawan yang tinggi atas oleh-
oleh khas Garut, Andris
membuat nasi liwet instan.

Mesin heuleur milik almarhum
ayahnya dia modifikasi menjadi
mesin yang bisa menggiling padi
menjadi lebih baik. Dengan
penggilingan sebanyak tiga kali
menggunakan mesin tersebut,
beras Garut bisa matang dengan
waktu memasak selama 20
menit saja.

Berbagai bumbu dan rempah
resep keluarganya dikeringkan
sehingga tidak dibutuhkan
pengawet dan bisa bertahan
sampai 8 bulan. Begitupun
dengan pelengkap nasi liwet
seperti ikan teri, asin jambal
roti, petai, dan jengkol.
Semuanya dikeringkan dan
dikemas serapi dan sebersih
mungkin.

Beras Garut, rempah, bumbu,
minyak sayur, dan
pelengkapnya, disusun dalam
sebuah kemasan dus berlabel
"Liwet 1001". Melaui sejumlah
distributornya dan para
wisatawan yang membeli
produknya, Andris memasarkan
beras Garut ke sejumlah kota
besar di Indonesia. Bahkan,
produknya dinikmati juga di
Timur Tengah dan sejumlah
negara Asia lainnya.

"Akhirnya tidak hanya dijadikan
oleh-oleh. Tapi lebih banyak
dikonsumsi warga kalangan
menengah atas yang menyukai
nasi liwet di restoran-restoran
dan ingin memasaknya dengan
cara praktis di rumah. Bahkan,
nasi liwet ini sudah dipesan
banyak oleh para calon haji,"
kata Andris saat ditemui di
pusat produksi Liwet 1001 di
Desa Samarang, Rabu
(12/9/2012).

Untuk memasaknya, beras,
bumbu, minyak sayur, dan
pelengkapnya, tinggal
dimasukkan ke penanak nasi
elektronik ( rice cooker ). 250
gram beras liwet instan dimasak
dalam 600 mililiter air selama
20 menit sedangkan 500 gram
beras dimasak dalam 850
mililiter air selama 25 menit.
Setelah itu, nasi liwet pun bisa
langsung dinikmati. Aroma dan
rasa nasi liwet ini, tuturnya,
tidak kalah dengan nasi liwet di
restoran. Nasi dari beras Garut
pun tersaji dengan keadaan
pulen dan berukuran besar
serta lezat.
Karenanya, sejumlah hotel dan
restoran di Garut telah jadi
pelanggan tetapnya. Minimal,
hotel dan restoran itu memesan
beras Garut dari tempatnya dan
menggunakan bumbu liwet
sendiri.

Andris yang meluncurkan
produk tersebut pada Juli 2011
ini pun mendapat penghargaan
dari Gubernur Jabar, Ahmad
Heryawan, pada Anugerah
Inovasi Jawa Barat (AIJB) 2012,
kategori bidang pangan kategori
perorangan. Ia pun semakin
termotivasi memasarkan beras
garut.

Kini Andris bisa memproduksi
2.000 produk Liwet 1001 per
hari dan mendapat omzet Rp 20
juta per hari. Ia pun membina
200 petani padi di Kecamatan
Samarang, Bayongbong, dan
Tarogong, yang menanam beras
garut jenis sarinah, serta
mempekerjakan 60 warga di
rumah industrinya. (sam/
Tribun Jabar) ( Editor: Erlangga Djumena)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/09/13/09434310/andris..mengangkat.beras.garut.lewat.nasi.liwet.instan