Monday, September 24, 2012

Elsa, Pebisnis Pupuk Online Sukses ini Memulai Usahanya dari Menolong Teman yang Tertipu

detikcom - Jakarta, Memulai
bisnis bagi seseorang memang
berbeda-beda, ada yang terencana
tetapi ada juga yang secara
kebetulan. Misalnya yang dialami
oleh Elsa Rosyidah, kini ia sukses
menjadi pengusaha pupuk, hanya
karena berawal dari keinginan
untuk menolong teman yang sering
ditipu oleh tenaga marketing.
Wanita kelahiran Blora, Jawa
Tengah 1985 ini, kemudian
mencoba membuat pemasaran
pupuk secara online dari produk
temannya. Padahal sebagian besar
para pengguna pupuk adalah
petani yang umumnya tidak
terbiasa dengan transaksi online.
Lalu bagaimana kah?

Usaha yang dimulai pada
September 2009 ini, tidak
disangka-sangka, dalam beberapa
hari setelah ia memulai
memasarkan melalui website tidak
berbayar (blogspot), Elsa langsung
memperoleh pesanan dalam
jumlah yang cukup luar biasa.
Elsa menceritakan alasannya
memilih penjualan dan pemasaran
pupuk secara online.

Berawal dari
keinginan menolong, dia pun
berpikir untuk memasarkan produk
temannya itu. Padahal pada waktu
itu, Elsa sedang menempuh studi
S1 di Universitas Brawijaya,
Malang, Jawa Timur. Kemudian ia
berpikir bagaimana dapat menjual
pupuk supaya dia bisa kuliah dan
juga dapat membantu temannya.
"Itu sangat sulit bagi saya karena
ketika memasarkan pupuk secara
offline (nyata), itu memerlukan
biaya untuk keliling kemudian saya
tidak tahu medannya seperti apa,
belum banyak kenalan di toko
pupuk juga, dan itu menghabiskan
waktu dan tenaga juga. Tetapi saya
tetap ingin bantu dan akhirnya kita
buat secara online," katanya
kepada detikFinance beberapa
waktu lalu di kediaman dubes AS,
beberapa waktu lalu.
Beberapa hari setelelah mulai
dipasarkan, kemudian ada seorang
yang menelpon Elsa untuk
memesan pupuk dari toko online-
nya. Elsa pada saat itupun sedikit
kaget karena dia samasekali tidak
menyangka. Alasannya dalam
waktu yang singkat, yakni 10 hari
setelah toko online dari situs non
berbayar itu (blogspot) di buka,
langsung memperoleh respon dari
pelanggan dan Elsa pun harus
melihat katalog harga terlebih dulu
karena dia tidak begitu hafal
dengan harga pupuk yang
ditawarkan.
"Waktu saya ditelpon orang, saya
benar-benar bingung karena masih
belum ada persiapan dan saya
masih lihat daftar harganya
berapa," ceritanya.

Wanita finalis wirausaha mandiri
nasional tahun 2009 dan juga
salah satu dari sembilan wanita
muda Indonesia peraih program
10.000 wanita wirausaha dunia
dari Goldman Sachs di Amerika
Serikat tahun 2012 ini, menyadari
bahwa hanya dengan mengunakan
situs non berbayar yang sederhana
saja bisa berjalan. Kemudian ia
berpikir untuk meningkatkan
kualitas toko onlinenya, Elsa
kemudian menggunakan situs
berbayar.
"Ini kemudian berlangsung hingga
kini dan sekarang menggunakan
website yang berbayar," tuturnya.

Menurut Elsa, memasarkan dan
menjual pupuk secara online,
bukannya tanpa kendala karena
pupuk merupakan kebutuhan dasar
petani yang umumnya jarang dijual
secara online dan sebagian besar
pengguna pupuk dan distribusi
pupuk dipegang adalah orang yang
usianya cukup tua dan tidak
terbasa dengan transaksi melalui
toko online. Disamping itu, tingkat
kepercayaan masyarakat Indonesia
terhadap transasksi online masih
relatif rendah.
"Kita harus membiasakan mereka
untuk online dan membuat mereka
percaya kepada kita," pungkasnya.
Elsa sendiri menjual pupuk semi
organik, sedangkan pelangganya
tidak membatasi segmen pasar dari
toko onlinenya. Menurutnya
siapapun orang yang terbiasa dan
bisa transaksi online merupakan
pasarnya.

Pelangganya sendiri merupakan
orang yang sudah berpengalaman
di bidang pupuk, seperti para
petani, kelompok tani, toko
prasarana pertanian dan
distributor pupuk.
"Semua orang yang bisa online itu
adalah pasar kami," ujarnya.
Elsa yang kini sedang menempuh
pendidikan Pasca Sarjana di Unpad
Bandung ini menambahkan, usaha
yang awalnya hanya dikelola oleh
ia sendiri, sekarang telah memiliki
8 orang pegawai karena seiring
berjalannya waktu dan
meningkatnya order atau pesanan
pupuk.

Sayangnya Elsa enggan
berkomentar soal berapa omset
yang ia peroleh, tetapi ia
mengungkapkan dari awal berdiri
hingga sekarang, peningkatan
penjulan toko onlinenya mencapai
400%. Saat ini pasar pupuknya
telah tersebar di seluruh pulau di
Indonesia dari jawa, Sumatera
hingga Sulawesi.
"Itu luar biasa dan sekitar 400%
serta pasar kami tersebar di
seluruh Indonesia," ungkapnya.

Kesuksesan wanita muda ini
bukannya tanpa kendala, Elsa
pernah mengalami pengalaman
pahit. Saking senangnya waktu
pesanan di awal-awal. Pada
pesanan selanjutnya Elsa
memperoleh pesanan sekiatar 3
kontainer pupuk.
Tepatnya pada tahun 2009, ketika
barang telah sampai di tangan
pelanggan. Ternyata pupuk yang
dijual oleh Elsa tidak dibayar dan
orang yang membeli tidak tahu
kemana. Dia waktu itu mengalami
kerugian hingga Rp 160 juta.
Pengalaman tersebut kemudian
memberikan pelajaran yang
berharga bagi Elsa untuk membuat
sistem pembayaran agar peristiwa
itu tidak terulang kembali, yakni
barang akan dikirim jika sudah
lunas atau 100% terbayar.
"Barang akan kita kirim ketika
pembayaran 100% telah
dibayarkan. 50% ketika pemesanan
dan 50% ketika barang akan
dikirim.” tegasnya.

Elsa juga berkeinginan membuka
toko pupuknya secara offline dan
menambah kerjasama dengan
produsen pupuk untuk menambah
jenis produk yang dijual dan
memperluas pasarnya. Serta
meningkatkan kualitas sistem toko
onlinenya.

Jika anda berminat memesan
pupuk online atau mengetahui
jenis pupuk yang dijual.
Anda dapat mengunjungi situs:
http://tokopupuk.net
( Feby Dwi Sutianto)

sumber: http://m.detik.com/read/2012/03/19/122249/1870813/480/pebisnis-pupuk-online-ini-memulai-usaha-dari-tolong-teman-yang-tertipu

Halfi, Pemilik Black Burger Ini Jadi Pebisnis Berawal dari Kecelakaan

detikcom - Jakarta, Memilih
untuk berbisnis atau berwirausaha
memang memiliki alasan beragam,
dari alasan ingin memperoleh
penghasilan lebih hingga kepepet
tidak punya pilihan selain
berwirausaha. Inilah yang dialami
oleh Rinanda Halfi atau Halfi.
Pria kelahiran 23 tahun yang
menetap di Bandung ini,
mempunyai pengalaman unik
ketika memulai usahanya.

Berawal
dari sebuah kecelakaan mobil yang
membuat dia harus mengganti
uang dari himpunan mahasiswa
karena di dalam mobilnya ada
uang himpunan yang diambil oleh
warga.
Bingung untuk menggantinya, tidak
lantas membuat dirinya berpangku
tangan, ia kemudian berpikir untuk
berwirausaha. Pertamanya Halfi
berbisnis kaos dan kemudian ia
melanjutkan bisnisnya ke usaha
makanan yaitu burger dengan
bendera Black Burger atau Burger
Hitam. Kini ia menghasilkan omzet
Rp 60 juta per bulannya.

Menurut Halfi, ketika ditemui
detikFinance di sela-sela pameran
Produk UKM di JCC pekan laliu. Ia
menuturkan alasannya memlih
burger sebagai bisnisnya atau tidak
memilih makanan lain.
Halfi beralasan, burger merupakan
makanan yang sudah familiar di
kalangan masyarakat perkotaan
tetapi kebanyakan usaha burger
ini, masih dikuasai oleh pemain
asing seperti Burger King dan
McDonald's. Sehingga untuk
bersaing, produk miliknya harus
berbeda dengan para pesaingnnya.

"Kalau sama, kita nggak akan
cukup untuk melawan mereka
(Burger King dan McDonald's), jadi
kita harus buat diferensiasi
(perbedaan) produk. Akhirnya saya
buat inovasi dengan Black Burger,"
imbuh pria yang baru lulus dari
jurusan Public Relation Unpad ini.

Burger yang berbeda dari burger
yang ada pasaran ini, memang
unik. Warna rotinya pun berwarna
hitam, ia beri nama Black Burger.
Warna hitamnya sendiri berasal
dari buah kluwek, buah yang cuma
ada di Indonesia, buah ini sering
dipakai untuk membuat rawon atau
sup condro. Menurut halfi, rasa
dagingnya juga membuat burger
milikinya berbeda dengan burger
lainnya yakni memiliki citra rasa
Indonesia.

"Dagingnya kita juga punya ciri
khas yaitu dagingnya pakai daun
jeruk dan cabe rawit, benar-benar
cita rasa indonesia," tegasnya.
Bisnis burger yang dijalaninya
sejak tahun 2010, tepatnya saat
dia berada di semester 7 di
Fakultas Komunikasi Unpad. Saat
ini telah memiliki 2 outlet dan 28
aneka ragam burger. Pilihan rasa
burgernya sendiri ada 3 macam
yaitu: original, manis, dan hot.
Untuk harganya sendiri, mulai dari
harga Rp 12.000 – Rp 30.000 per
potong.

Selain itu Halfi juga
mengembangkan burger untuk
para vegetarian dari bahan tempe
dan burger nasi juga. Dari 2 outlet
yang semuanya berada di Bandung
itu, Halfi
telah mempekerjakan 5 orang
karyawan.

"Kalau sekarang masih 5, dulu
pernah sampai 8 tetapi kita tutup
yang di Bogor karena penjualannya
kurang bagus tapi kita ingin buka
lagi. Sekarang saya punya 2
outlet," tutur finalis wirausaha
mandiri nasional dan Start Up Icon
yaitu pengusaha muda yang jadi
icon-icon di Bandung tahun 2011.
Dari 2 outlet Black Burger milik
Halfi, omzet setiap outletnya per
bulannya mencapai Rp 20-60 juta
per bulan untuk semua outletnya.
Ini merupakan omzet yang besar
untuk seorang pemuda berusia 23
tahun.

Keberhasilan yang ia capai
bukannya tanpa kendala. Halfi
pernah ditipu oleh mitranya
sendiri, ia bekerjasama dengan
sebuah toko (vendor) pembuat roti
untuk burger milikinya. Tanpa dia
sadari ternyata mitranya tersebut
menjual burger sejenis dari resep
miliknya.
"Ini bukan masalah materi tapi ide
kita dicuri, belajar dari kondisi itu
maka setiap saya membuat
komitmen dengan seseorang saya
selalu buat MoU atau perjanjian.

Dengan karyawan saya juga seperti
itu," tambahnya.
Pada tahun 2012 ini, dia
berencana untuk membuka 6
outlet lagi di Bandung dan 1 outlet
di daerah Senopati (Jakarta). Selain
itu, Halfi juga memiliki mimpi
untuk menjadi kompetitor kuat
McDonald's dan Burger King di
Indonesia. Dia ingin menunjukkan
bahwa Indonesia juga memiliki
Burger yang berkualitas dengan
citra rasa Indonesia.

"Mimpi saya, saya ingin menjadi
kompetitor kuat McD dan Burger
King di indonesia," tambahnya.
Jika anda berminat memesan atau
ingin mengetahui Black Burger
lebih jauh. Anda dapat mengirim
email ke: r_halfi_m@yahoo.co.id
atau dapat memesan menggunakan
Facebook di black burger dan
twitter @blackburger_
( Feby Dwi Sutianto)

sumber: http://m.detik.com/read/2012/03/29/142504/1880054/480/pemilik-burger-hitam-ini-jadi-pebisnis-berawal-dari-kecelakaan

Sunday, September 23, 2012

Awalnya Iseng-iseng, Anto Kini Sukses Lewat Lampion dari Benang Jahit

detikcom - Banyumas, Perajin
lampion asal Banyumas, Jawa
Tengah, Marta Afrianto tak pernah
berpikir menjadi seorang
pengusaha. Berawal dari iseng-
iseng karena istri sakit, kini ia
menjadi produsen lampion dan
memiliki 5 karyawan.

Sosok pria berusia 25 tahun ini,
kini kerepotan memenuhi pesanan
lampion dan lampu tidur beraneka
macam bentuk karakter kartun
yang terbuat dari benang jahit.
Pesanan pun mengalir dari
berbagai kota di Indonesia.

"Awalnya iseng-iseng, karena istri
sakit, kalau malam mau ngapain
terus saya iseng-iseng buat.
Kebetulan lihat kakak juga buat
kerajinan ini cuma dia buat hanya
1 macem. Kita coba berinovasi
dengan membuat bentuk karakter
kartun yang digemari anak-anak
yang sedang tren seperti angry
birds, hello kitty, mickey mouse,
donald bebek serta lampu
gantung," kata Marta kepada
wartawan di rumahnya, di Desa
Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas,
Banyumas, Senin (9/7/2012).
Selain membuat kerajinan lampion
dan lampu tidur yang disesuaikan
dengan karakter tokoh yang sedang
naik daun. Bisnisnya yang sudah
berjalan selama 1 tahun ini terus
berkembang setelah pemasarannya
merambah ke dunia online.
"Dulu saya buat polos. Tapi karena
kendala pemasaran saya coba
download-download gambar, coba
cari terus hingga mulai ada
inovasi-inovasi untuk dari karakter
tersebut untuk pemasaran.
Ternyata pangsa pasarnya bagus
sampai saya keteteran. Saat ini
saya masih berani ke pesanan-
pesananan saja lewat online. Kita
belum berani nyetok," jelasnya.

Menurut Marta, cara membuat
kerajinan ini lumayan rumit.
Hingga saat ini, karyawannya
belum mampu membuat aneka
macam lampu dengan berbagai
bentuk.
"Baru saya yang bisa
membentuknya, pekerja lain paling
hanya bisa menggunting,
menggulung benang, pasang mata,
telinga. Kita masih kesulitan
mengajari dan mencari orang
untuk membentuk karena harus
telaten," tuturnya .

Cara membuatnya diawali dari
balon biasa yang di pompa
kemudian diberi lem kayu, lalu
balon tersebut digulung
menggunakan benang jahit yang di
double menjadi dua. Setalah itu
dilapisi benang yang digulung-
gulung hingga 3 kali sambil diberi
lem kayu hingga 4 lapisan lalu
dijemur. Setelah kering pada
bagian tertentu dipotong dan
balonnya di keluarkan sehingga
terbentuk lah sebuah bulatan. Lalu
tahapan selanjutnya merangkai
kabel dan lampu.
"Kalau sudah kering dan terbetuk
baru kita bentuk-bentuk seperti
menambahkan mata, telinga. Dan
ketika semuanya sudah selesai
baru kita berikan lampu
didalamnya," ungkapnya.

Buah tangannya kini sudah
tersebar ke berbagai wilayah di
Indonesia, antaralain ke Jember,
Kalimantan, Jakarta, Bandung, Bali
termasuk di Banyumas. Harga yang
dipatok per lampu pun hanya Rp
50.000 hingga Rp 120.000
tergantung bentuk dan ukuran.
"Pesan terbanyak itu ke Jember,
dua minggu sekali 50 buah lampu
tidur berbagai macam ukuran dan
model," tambahnya.
Ia mengaku kerepotan memenuhi
pesanan produknya yang terus
diminati banyak konsumen. Saat
ini hanya ada 5 pekerja yang
membantunya membuat kerajinan
tersebut.

"Ada 5 pekerja, tapi kita tetap
kerepotan untuk pesanan. Karena
pekerjanya kurang, kadang malah
kita suruh yang kerja membawa
pulang biar bisa dia dikerjakan
dirumah juga," tutupnya.

Alin Light Craft
Perum Pasir Indah Blok G.4
Desa Pasir Lor, Kecamatan
Karanglewas, Banyumas, Jawa
Tengah.( Arbi Anugrah)

sumber: http://m.detik.com/read/2012/07/09/164456/1961307/480/pengusaha-ini-sukses-menyulap-benang-jahit-jadi-lampion-cantik

Saturday, September 22, 2012

Rustono, Bermodal Kerja Keras, Kini Jadi Raja Tempe di Jepang

detikcom - Jakarta, Tempe boleh
jadi bukanlah makanan spesial di
Indonesia. Namun, di Jepang,
makanan ini dianggap sebagai
cemilan spesial yang menyehatkan.

Seorang warga negara Indonesia,
Rustono telah menjadi pengusaha
tempe paling sukses di Jepang saat
ini. Ia bisa dibilang sebagai perintis
hadirnya tempe di negeri Matahari
Terbit itu.

Dengan bermodalkan semangat
yang kuat, pria asal Jawa Tengah
ini telah sukses menjalarkan
demam tempe di negara Jepang.
Ide ini muncul saat Rustono
tinggal di Jepang dan melihat
lingkungan tempat tinggalnya tak
terdapat makanan Indonesia.
"Saya melihat keadaan di sana
banyak sekali makanan dari luar
negeri, Korea China. Saya berpikir
makanan indonesia apa kira kira
yang dijual disini. Karena saya
orang jawa, kepikiran ide tempe,"
ungkapnya saat acara diskusi
tempe di Kementerian Koperasi
dan UKM, Minggu (22/9/12).

Sampai saat ini, Rustono telah
memiliki 1 pabrik tempe di negara
tersebut. Tempenya kini telah
tersebar di ratusan daerah di
Jepang sendiri. "Sudah di 490 kota
di Jepang," katanya.
Tak selalu berjalan mulus, Rustono
pun acap kali mengalami
kegagalan. Cuaca Jepang yang
dingin dan persediaan air bersih
yang sedikit menjadi salah satu
faktor yang mempersulit Rustono
memulai usahanya untuk membuat
tempe.

"Awal saya buat gak jadi, buat lagi
gak jadi, buat lagi gak jadi sampai
4 bulan berganti musim," katanya.

Dia menceritakan, resep awal
tempe yang kini diproduksinya
adalah dari ibundanya sendiri.
"Saya pulang ke Indonesia 3 bulan
untuk belajar bikin tempe. Setelah
itu saya kembali ke Jepang, Saya
nggak ada modal pinjem di bank
juga nggak, Saya mulai dari tempat
kontrakan kecil, dapur juga nggak
ada," paparnya.

Mulai dari situlah Rustono
melancarkan usahanya, uang dari
hasil penjualan tempe, dia tabung
untuk mengejar mimpinya
memperbesar usaha ini.Sementara
dia pun bekerja sebagai pegawai
hotel.
"Uang untuk hidup, saya dari hotel
itu, kalau uang dari tempe saya
tabung buat beli kayu, beli
perkakas untuk buat tempat bikin
tempe, itu lama sekali skitar 4
tahunan," katanya.
Awalnya Rustono hanya menjual
tempe ke orang-orang Indonesia di
Jepang, sambil sesekali mencoba
menjajakan tempe ke penduduk
Jepang, namun selalu ditolak. Tak
patah arang, dia terus mencoba
nya dengan memperbesar
jaringannya ke rumah makan-
rumah makan, namun hasilnya
nihil.

"Waktu itu ada wartawan lewat
rumah saya lihat saya sedang
membangun rumah. Dia melarang
saya karena nggak boleh bangun
(rumah) musim dingin, saya
bangun aja. Dan akhirnya dia
setiap hari lewat rumah lihat
kegigihan saya dan akhirnya mau
wawancara saya dan diangkat ke
koran," katanya.
Akhirnya, para penduduk dan
pengusaha restoran yang sempat
menolaknya pun melihat kegigihan
pria ini. Merekapun bergantian
menghubungi dan memesan tempe
buatan Rustono ini.

"Akhirnya ada restoran yang saya
tawarkan (tempe) mereka
menelepon ke saya. Mereka minta
tempe. Di situlah perubahan hidup
saya, dan saya bersyukur melewati
masa masa sulit," sambungnya.
Rustono mengatakan, dengan
usahanya ini, dia telah menggapai
16 impian terdahulunya. Salah
satunya yaitu mengenalkan tempe
ke dunia luas.

"Kalau omset saya nggak mau
ngomong, tapi intinya saya sudah
capai 16 impian saya lah, saya
sudah bisa beli villa, beli tanah.
Tak hanya materi, waktu saya
dengan istri dan anak saya juga
termasuk impian.
Saat ini Rustono telah memiliki 1
pabrik di Jepang dan beberapa
kalangan sudah mengajaknya untuk
berbisnis dan membuka pabrik
baru di Jerman, Polandia, Korea,
Perancis.( Zulfi Suhendra)

sumber: http://m.detik.com/read/2012/09/22/173548/2031138/68/ini-dia-si-raja-tempe-dari-jepang

Friday, September 21, 2012

Sanin, Tukang Becak Tak Lulus SD Ini Jadi Juragan Garam Beromzet Ratusan Juta

detikcom - Jakarta, Untuk
menjadi pengusaha sukses tidak
mengenal latar belakang seseorang.

Kerja keras, kejelian dan bertahan
dari jatuh bangun menjadi kunci
siapapun yang ingin menjadi
pengusaha sukses.
Lika-liku ini juga dialami oleh
Sanin, pria paruh baya yang
sebelumnya berprofesi sebagai
tukang becak ini sukses menjadi
pengusaha garam yang beromzet
Rp 400 juta per tahun.

Pengusaha asal Cirebon ini
mengatakan saat menjadi tukang
becak, ia melihat peluang usaha di
daerahnya yang masih terbuka luas
dan relatif mudah dijalankan
karena daerahnya merupakan
sentral penghasil garam. Sanin
memberanikan diri untuk belajar
membuat garam pada sebuah
pabrik, akhirnya ia memulai untuk
membuat garam sendiri.

"Dulunya saya tukang becak, kira-
kira dua tahun di prapatan jalan
Cirebon ada pabrik garam.

Setelah
itu kita menimba ilmu di situ,
kemudian kita kerja kurang lebih
selama dua bulan. setelah itu kita
bikin di belakang rumah. Saya dan
istri coba-coba melakukan itu,
akhirnya dijual ke pasar lalu laku,"
ungkap Sanin beberapa waktu lalu
di Jakarta kepada detikFinance.
Melalui ketekunannya, pelanggan
garam olahan buatan Sanin pun
bertambah banyak. Sehingga ia pun
membangun pabrik garam sendiri
dan mempekerjakan tetangganya
sebagai karyawan.
"Lambat laun ternyata keuntungan
kita tambah besar dan banyak
peminatnya. Akhirnya kita
menambah karyawan dari
tetangga-tetangga kita lalu kita bisa
membeli tanah untuk tempat
produksi yang lebih luas lagi dan
sekarang ada pabrik, yakni pabrik
garam," tambahnya.

Sanin mengaku, dalam setahun ia
bisa menghasilkan garam minimal
mencapai 2.000 ton. Sanin
mengaku kewalahan memenuhi
permintaan garam olahan yang
datang dari Cirebon dan luar kota.
"Pasaran kita di daerah Cirebon,
Kuningan, dan Jawa Tengah. Justru
kita nyari orang kerjanya agak
susah. Kalau barang jualnya habis-
habis terus, tak pernah berkurang.

Karena pemasaran banyak sekali
setelah beredar," sambungnya.
Usahanya yang ditekuni Sanin sejak
30 tahun silam bukannya tanpa
tantangan. Ketika usahanya
tumbuh dan membutuhkan
tambahan modal, ia pernah ditolak
saat mengajukan pinjaman ke
sebuah bank karena dianggap
usahanya tidak menjanjikan.
Berkat kegigihannya, akhirnya
Sanin pun bisa memperoleh
pinjaman.
"Kita pernah mengajukan utang
pinjaman ke bank, tapi waktu itu
ditolak. Katanya setelah ditolak,
bangunnya masih bilik. Setelah itu
akhirnya kita ke bank lain. setelah
diproses dan melihat prospek
perkembangan usaha kita, akhirnya
kita dapat dana dan akhirnya usaha
kita berkembang sampai sekarang.

Sekarang punya tanah, punya
kantor, punya pabrik," sebutnya
Pria yang tidak tamat pendidikan
sekolah dasar (SD) ini menjelaskan
hasil usahanya bisa membuat ia
naik haji beberapa kali dan
menyekolahkan anaknya hingga ke
jenjang sarjana. Usaha yang
ditekuni Sanin saat ini, juga telah
merambah ke pabrik pembuatan
pupuk.
"Anak saya pun kini sarjana semua.
Sementara saya pendidikan kelas 4
SR (setara SD) dulu. Makanya kita
punya anak tidak mau mengalami
masa muda seperti kita, makanya
kita sekolahkan semua itu. Kita haji
pun sudah dua kali, malah akan
datang tahun depan mau umroh
dulu," tutup Sanin.( Feby Dwi Sutianto)

Sumber: http://m.detik.com/read/2012/07/17/101020/1967020/480/tukang-becak-tak-lulus-sd-ini-jadi-juragan-garam-beromzet-ratusan-juta

Yuhana, Pernah Jadi Tukang Kebun, Kini Bisa Jalan-jalan ke Luar Negeri Lewat Kreasi Kaleng Krupuk

Moskow - Hidup ini kadang tidak
pernah bisa ditebak. Tapi sebuah
ketekunan biasanya membawa
kesuksesan. Bahkan karena
melukis kaleng krupuk pun bisa
membuat pelakunya mengenyam
perjalanan luar negeri yang tidak
pernah terbayangkan.
Suasana 'The 18th International
Trade Fair for Tourism Otdykh
Leisure 2012' yang dibuka di kota
ujung dunia Moskow, 19
September lalu terasa sedikit lain.

Pameran pariwisata akbar yang
selalu diikuti oleh Kemenparekraf
setiap tahun tersebut, selain
memamerkan tujuan wisata dan
industri terkait, juga
mengikutsertakan seorang lekaki
yang bernama Yuhana (44). Sejak
hari pembukaan pameran ia tidak
bicara, melainkan terus tanpa jeda
kedua tangannya melukis kaleng-
kaleng krupuk di depan stand
Indonesia.
Duduk beralaskan papan kayu dan
berdampingan dengan beberapa
warna cat yang masih di dalam
kaleng dan bermacam ukuran
kuas, dengan tekun ia melukis
pemandangan khas Indonesia.

Satu
kaleng dilukisnya dengan bunga-
bunga kamboja warna merah
segar. Satu kaleng menggambarkan
para petani di pematang sawah di
pulau dewata. Ada juga
pemandangan gunung dengan
aneka sawah nan menghijau. Tidak
lupa berbagai pantai indah
Indonesia dengan pasir putihnya.
Yang jelas, semua lukisannya
menggambarkan keindahan
Indonesia dalam banyak segi.
Lukisan kaleng yang sudah selesai
segera dipajang di rak di depan
stand Indonesia. Berbagai kaleng
krupuk ukuran sedang itu terlihat
indah dan sekaligus unik, plus
enak dipandang. Tak pelak, ide
Kemenparekraf untuk membawa
Yuhana tidak sia-sia. Banyak
pengunjung yang awalnya tertarik
terhadap lukisan kaleng krupuk,
akhirnya banyak bertanya tentang
wisata Indonesia yang sudah mulai
di kenal di Rusia.
Rupanya, Yuhana merupakan mata
kail bagi datangnya wisatawan
asing khususnya Rusia ke
Indonesia. Maklumlah,
pertumbuhan turis tajir Rusia ke
Indonesia makin hari makin
berjibun. Tahun ini diharapkan
akan melampaui titik psikologis,
100 ribu orang. Mereka inilah
orang-orang yang memliliki masa
tinggal lama dan cenderung boros
dalam berbelanja.

Bagi Yuhana yang hanya tamat
SMA itu, yang penting selama 4
hari ia akan terus melukis dari
pagi hingga sore. Mungkin dia juga
tidak pernah tahu bahwa dirinya
adalah pematik turis asing yang
akan mengisi devisa negara. Yang
diketahuinya hanya satu, ia
dikontrak untuk melukis kaleng-
kaleng krupuk dengan aneka
keindahan alam dan budaya
Indonesia.
Maklumlah, Yuhana yang berwajah
polos ini orang kampung yang
sangat sederhana. Pria kelahiran
Bandung itu kesehariannya
hanyalah tukang kebon.
Membersihkan rumput liar,
memangkas daun, menyirami
hingga menabur pupuk. Itulah
pekerjaan bertahun-tahun yang
ditekuni selama di Jakarta. Dengan

ijazah yang tidak tinggi, pekerjaan
kasar tersebut yang paling
memungkinkan diraih, walaupun
tidak mencukupi kebutuhan hidup
bagi istri dan kedua anaknya.
Meskipun pekerjaanya adalah
tukang kebun, Yuhana memiliki
hobby mulukis sejak kecil. Media
apapun yang dinilai kosong ia akan
hiasi dengan lukisan. Bahkan di
sela-sela waktunya, ia selalu
mengisinya dengan aktivitas
menggambar apa saja yang ada di
benaknya.

Suatu ketika di tahun 1996,
majikannya yang kebetulan warga
Belanda melihat Yuhana
menggambar. Yuhana lalu diminta
untuk mencoba melukis di sebuah
kaleng seperti gambar kaleng yang
dimiliki tuannya. Awalnya masih
kurang bagus, yah maklumlah,
Yuhana memang tidak pernah
belajar melukis di sekolahan. Tapi
lama-kelamaan sang majikan
merasa puas dengan hasil
lukisannya.

Akhirnya, ketika pekerjaan menjadi
tukang kebon senggang maka
majikan selalu memberinya kaleng
krupuk untuk dilukis. Meskipun
tanpa target, ia menyelesaikan
banyak kaleng krupuk yang
kemudian menghiasi rumah
tuannya. Ia senang sang majikan
juga puas.

“Melukis kaleng krupuk membuat
saya punya tambahan penghasilan.
Pertama-tama, untuk satu kaleng
krupuk saya dibayar lima puluh
ribu rupiah. Lumayanlah untuk
menambal kekurangan kebutuhan
keluarga,” ujarnya.
Rupanya teman-teman majikan
orang Belanda tersebut pada
tertarik dengan aneka kaleng yang
diatur demikian rupa di rumahnya.

Keindahan kaleng ini sangat
eksotik karena sudah bernilai
seperti lukisan saja. Bedanya,
kalau lukisan harus digantung,
kaleng-kaleng krupuk cukup
diletakkan di tempat-tempat yang
pas. Suasana pun menjadi lain.
Tidak pelak, kemudian banyak
orang-orang asing yang ikut
memesan agar kaleng krupuk
mereka dilukis oleh Yuhana. Tentu
saja, kaleng tersebut tidak hanya
diisi krupuk. Namun menjadi
kenang-kenangan alias souvenir
dan dibawa ke negeri asal mereka.

Sesuatu yang unik, eksotik dan
tidak ada di tempat lain.
Maklumlah, model kaleng krupuk
segi empat dengan kaca di depan
dan tutup diatasnya itu hanya
ditemui di Indonesia yang tercinta
ini.

Karena banyak orderan, harga
lukisan kaleng krupuk Yuhana juga
meningkat lumayan drastis. Satu
lukisan kaleng, kini ia bisa meraup
uang kisaran lima ratus ribu
rupiah. Dan dalam sebulan, ia
menyelesaikan tiga sampai empat
kaleng. Sangat bisa jadi, uang
lukisnya akan melebihi gajinya
sebagai tukang kebun. Mantab
kan?

Suatu ketika, lukisannya diketahui
oleh diplomat Perancis di Jakarta.
Tanpa banyak kalam, staf kedutaan
itu langsung jatuh hati dan
memesan 20 kaleng krupuk. Kuas
Yuhanapun beraksi di sela-sela
aktivitas mencabut dan memotong
rumput. Ia tahu bahwa kaleng-
kalengnya akan segera dibawa
pulang ke Perancis untuk
menghiasi rumahnya di Paris.
Setahun kemudian, orang Perancis
tersebut menawarkan kepadanya
untuk ikut pameran lukisan kaleng
krupuk di sebuah kota yang
bernama Brest pada tahun 2011.
Ia berjanji akan memberikan uang
saku tapi tidak menanggung biaya
penerbangan. Impian pergi
pameran di luar negeri kini
menjadi impiannya. Tapi dapatkah
terlaksana?

Atas bantuan Pemerintah RI,
Yuhana diberikan fasilitas yang
tidak didapatkan dari sponsor
Perancis. Jadilah Yuhana terbang
ke langit menembus awan dan
sampai di negeri indah. Ia
merasakannya bagaikan mimpi di
siang bolong saja. Bayangkan,
tukang kebun yang tiap hari
pegang pacul dan tidak becus
bahasa asing, kini harus
berpameran di Perancis. Alamak.
Lukisan Yuhana rupanya mendapat
sambutan yang cukup baik.
Keunikan bentuk kaleng krupuk
yang dipadukan dengan macam-
macam olahan warna yang
menggambarkan keindahan kapal-
kapal layar Indonesia menjadi
pemanis pameran lukisan kapal
kota Brest. Sesuatu yang tak
pernah terbayangkan sebelumnya.

“Saya senang sekali bisa pameran
karena mendapatkan pengalaman
yang luar biasa. Dari sisi
keuangan, jujur saja saya tidak
untung, tapi ada makna tersendiri
bisa sampai sana. Semua saya
syukuri saja,” ujar pria dengan
pakaian sangat sederhana ini.

Rupanya kepiawaian Yuhana
melukis kaleng krupuk itu terus
dipantau oleh Kemenparekraf.
Yuwana diperkirakan bisa dijadikan
stimulan pengunjung pameran
sekaligus mempromosikan
keindahan Indonesia melalui
lukisan. Setelah melalui pengkajian
yang mendalam, Yuhana ditawari
untuk melukis kaleng-kaleng
krupuk di depan stand Indonesia
pada pameran pariwisata Otdykh
Leisure 2012 di kota ujung dunia,
Moskow.

Semua itu kini terjadi alias bukan
bualan apalagi impian. Kalau stand
negara lain mematik pengunjung
dengan cara tradisional berupa
nyanyian dan tarian, Indonesia
tampil dengan cara yang unik:
melukis kaleng-kaleng krupuk
berukuran kecil dan sedang.
Bahkan, Dubes RI Moskow,
Djauhari Oratmangun yang dibuat
terkagum-kagum juga menjanjikan
untuk memborong seluruh hasil
lukisan selama pamran untuk
dipajang di kedutaan.

Selain terus melukis kaleng
krupuk, Yohana juga
berkesempatan diundang jamuan
makan malam di wisma Duta Besar
di Moskow dan akan ikut
menikmati keliling kota Moskow
setelah acara pameran usai. Ia
mungkin akan berfoto ria di depan
gereja St. Basil yang berkubah
warna-warni ataupun berpose di
samping mausoleum Lenin. Ia
yakin, kesempatan langka ini akan
menumbuhkan gairah bagi kedua
anaknya untuk belajar lebih tekun
sehingga sukses di kemudian hari.
Tidak sekedar menjadi tukang
kebun seperti dirinya.

Lalu apa yang akan dilakukan
Yuhana setelah pulang nanti? “Ya
saya akan kembali macul, bersih-
bersih taman dan menyiram
bunga. Saya sih selalu berdoa bisa
merubah nasib menjadi pelukis
dan mengharumkan nama bangsa
dengan lukisan saya di hanya
diatas kaleng-kaleng krupuk. Tapi
apakah itu mungkin sih Pak?”

*M Aji Surya adalah diplomat
Indonesia di KBRI Moskow,
ajimoscovic@gmail.com
Yuhana dapat dihubungi di
08128699553

sumber: http://m.detik.com/read/2012/09/21/073717/2028752/10/gara-gara-kaleng-krupuk-bisa-ke-luar-negeri

Thursday, September 20, 2012

Bermodal Jual Motor, Kini Zakiyah Cetak Omzet Puluhan Juta

KOMPAS.com — Awalnya, Zakiyah
Fitri dan orangtuanya hanya
berprofesi sebagai tukang jahit.
Namun, ia akhirnya
memberanikan diri membuka
usaha baju muslimnya sendiri.
Dengan modal awal sebesar satu
buah motor, ia kini berhasil
meraih omzet hingga Rp 50 juta
per bulan.

"Sudah 10 tahun usaha. Awal baju
muslim anak," sebut Zakiyah
kepada Kompas.com , di sela-sela
pameran kerajinan, di Jakarta,
beberapa waktu lalu.
Ia bercerita, sebelumnya, dia dan
orangtua mempunyai usaha jasa
terima jahitan baju. Jahitan yang
diterima misalnya baju seragam.
Setelah itu, ia pun termotivasi
untuk membuka usaha sendiri.

Zakiyah punya niatan untuk
menggeluti usaha baju muslim.
Tetapi, ia mengawalinya untuk
segmen anak-anak.
Ibu dari tiga anak ini mengaku
menemui kesulitan ketika memulai
usaha yang dinamakannya Alifah
Collection. Kesulitannya adalah
permodalan. "Modal awal saya
jual motor," sambung dia.

Hasil penjualan motor itu lantas ia
belikan dua buah mesin jahit.
Kedua mesin itu dibelinya dengan
harga sekitar Rp 1,4 juta. Setelah
sekian lama membuat baju
muslim anak, ia pun tertantang
membuat baju untuk orang
dewasa. Alasannya, kurang variatif
kalau hanya menyasar anak-anak.
"Enggak pede ," kata dia.
Kesulitan kembali ditemuinya.
Modal yang dibutuhkan tentu kian
besar seiring dengan usaha yang
semakin berkembang. Ia butuh
mesin dan tenaga kerja yang lebih
banyak. "Modal awal enggak
banyak, cuma untuk merintis bisa
jadi besar itu susah," sambung
Zakiyah.

Untuk bisa menggarap kedua
segmen, ia menambah tenaga
kerjanya. Sekarang ada sekitar 25
tenaga kerja yang direkrut.
Sebanyak 15 orang penjahit
bekerja di depan rumahnya
sebagai tempat produksi. Dan, ia
juga merekrut tenaga kerja lepas
sebanyak 10 orang. Tenaga kerja
ini menjahit di rumahnya masing-
masing.

Selain tenaga kerja, ia pun butuh
mesin tambahan. Dari informasi
seorang teman, Zakiyah
mendaftar untuk menjadi mitra
binaan Perusahaan Gas Negara di
Surabaya. Setelah melalui proses
yang cukup selektif, ia pun
tercantum sebagai mitra binaan
sejak tahun 2006. "Dari teman,
waktu itu ikut forum pengusaha
pemuda produktif," ujarnya.
Bergabung sebagai mitra binaan,
ia pun mendapatkan sejumlah
keuntungan. Mulai dari pelatihan
tentang manajemen hingga
diikutsertakan dalam sejumlah
pameran di Jakarta-Bandung.

Selain dua hal itu, ia yang
merupakan sarjana ekonomi
pembangunan pun mendapatkan
hibah peralatan dari PGN, yakni
tiga set mesin dan bahan seharga
Rp 20-Rp 25 juta.
Peralatan itu digunakannya untuk
membuat baju dari bahan kaus.
Dengan peralatan dan tenaga
kerja yang ada, ia bisa
menghasilkan 700 potong baju
baik dewasa dan anak per
bulannya. Ia memasang harga
baju buatannya, paling mahal Rp
200.000. Produk jilbab merupakan
barang termurah dengan harga
Rp 40.000.
Penjualan dilakukannya melalui
toko-toko baju, pameran, ataupun
pemesanan melalui telepon.

Sistem pembayarannya adalah
konsinyasi. "Ada yang sistemnya
bayar mundur 2-3 bulan. Terima
barang bayarnya mundur, yang
enggak laku tetap dibeli, tapi
dibayar mundur," ucapnya.
"Omzetnya bisa Rp 50 juta per
bulan," tambah Zakiyah.
Persaingan tentu ada, bahkan
cukup sengit. Tetapi, ia menyiasati
itu dengan berusaha membina
hubungan baik dengan
pelanggan. Zakiyah juga
berinovasi dengan model-model
baju terbaru. Ke depan, ia pun
berniat merambah pasar negara
tetangga, seperti Malaysia.
"Kepengin ke Malaysia, tapi
jembatannya enggak ada,"
pungkasnya.( Ester Meryana )
Editor: Erlangga Djumena

Sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/06/04/09161945/bermodal.jual.motor..kini.zakiyah.cetak.omzet.puluhan.juta

Tuesday, September 18, 2012

Aryanto, Dulu Loper Koran Kini Bos Rental Mobil Mewah

Kerasnya hidup sering menjadi motor
penggerak seseorang untuk mencapai
keberhasilan atau kehidupan yang
lebih baik. Seperti yang dialami
Aryanto Mangundiharjo. Kerasnya
kehidupan di jalanan membawanya
menuai keberhasilan.

Lahir dari keluarga berada tak
menjamin orang bisa sukses. Tapi,
Aryanto Mangundiharjo membuktikan
bahwa kerja keras dan pengalaman
jatuh bangun merupakan faktor yang
membuatnya sukses walau berasal
dari keluarga berada. Berkat keuletan
dan belajar dari kegagalan,
ia sukses menjadi pemain rental mobil
mewah dengan bendera The Jakarta
Limousine.

Saat ini The Jakarta Limousine mampu
menghasilkan omzet Rp 300 juta
hingga Rp 400 juta per bulan. Selain
beberapa hotel bintang lima, Jakarta
Limousine juga menjadi rekanan
beberapa kedutaan besar seperti
Inggris, Korea Selatan, Malaysia, dan
China. Ada juga kerja sama dengan
BRI dan Bank Indonesia.
Beberapa artis mancanegara seperti
Super Junior, Rihanna, dan Justine
Bieber pernah menggunakan jasa
perusahaan Aryanto. “Selain rental
langsung, saya memasok mobil ke
rental-rental mobil mewah ternama,”
katanya.

Saat ini, ia memang baru
memiliki 16 unit mobil mewah
bermerek Toyota Alphard, Fortuner,
dan Mercedes Benz E Class. Khusus
mobil limousine, biasanya dia
mendapat pinjaman dari orang kaya.

Lahir dari keluarga berada, ayah
Aryanto adalah pengusaha sewa-
menyewa alat berat. Adapun ibunya
seorang pemasok bahan kue di
beberapa pengusaha kue. Tapi, saat
kecil, ia lebih suka bermain dengan
anak-anak loper koran meski sering
dimarahi orang tuanya.
Ternyata pergaulan dengan loper
koran memberi makna lain dalam
kehidupan Aryanto. “Ada
permasalahan keluarga yang
membuat saya kabur dari rumah.
Saya hidup di jalanan dan menjadi
loper koran,” kenang lelaki kelahiran
Jakarta, 14 Mei 1976 ini.
Tak cuma itu, setelah sang ayah
meninggal, ekonomi keluarganya
guncang. Aryanto juga terpaksa
meninggalkan bangku sekolah. “Saat
itu saya sukses menjadi loper berkat
pager. Di antara lipatan koran, saya
selipkan nomor pager saya. Dari situ,
pelanggan bertambah banyak,”
kenangnya.

Dari jerih payahnya itu, Aryanto
berhasil menyewa rumah dan
mengikuti pendidikan kejar paket.
“Karena bosan, usaha loper saya
berikan ke adik. Saya memilih menjadi
satpam,” katanya. Di saat menjadi
satpam, dia belajar menyetir.
Akhirnya, dia berani bekerja sebagai
sopir di perusahaan air minum.
Selanjutnya, ia pindah ke perusahaan
Jepang. Karena kerusuhan tahun
1998, perusahaan Jepang itu bubar. Ia
menjadi sopir taksi di Blue Bird, lantas
hijrah ke Bali menjadi supir taksi
eksklusif.

Di Pulau Dewata, selain sebagai sopir
taksi eksklusif, Aryanto mendapat
tambahan penghasilan sebagai calo
mobil sewaan. Dari situ, dia belajar
soal bisnis penyewaan mobil.
Peristiwa Bom Bali tahun 2002
membuatnya keluar dari pekerjaan
dan kembali ke Jakarta dengan uang
pesangon sebesar Rp 3 juta. Pada saat
yang sama, usaha distributor koran
yang dikelola sang adik juga bangkrut.

Bermodal pesangon itu, Aryanto
memberanikan diri membuka usaha
rental mobil. “Saya tidak punya mobil,
cuma modal nomor telepon. Kalau
ada order, saya akan cari rental lain,”
katanya. Ia mendapat order dari
perusahaan obat nyamuk yang
menyewa 18 mobil untuk kegiatan di
10 kota selama 3 bulan. Dari order ini,
ia mampu membeli mobil Kijang.

Order besar datang lagi dari
perusahaan telepon seluler yang
meminta 40 unit mobil dengan
dibiayai oleh bank. “Saya tidak puas
begitu saja dengan bisnis rental ini.
Saya coba menjadi kontraktor,”
kenangnya. Sayang, baru menggarap
satu proyek di Belitung, Aryanto sudah
kena tipu sebesar Rp 1,4 miliar.

Sementara itu, karena ulah karyawan
yang nakal, 40 unit mobil sewaannya
digelapkan penyewa.
Bangkit dari bangkrut
Utang bank yang menumpuk hingga
menyebabkan rumah Aryanto disita.
Uang hasil penjualan tanah yang
dikelola sang istri lenyap karena kena
tipu penjual valas. Tahun 2004, ia
bangkrut dan terpaksa tinggal di
rumah mertua.

Setahun lebih, Aryanto terpuruk. Pada
pertengahan tahun 2006, dia
mendapat pinjaman Rp 25 juta dari
seorang teman. Bermodal itu, dia
merintis usaha penyewaan mobil lagi
tanpa kendaraan sendiri. Ia
memanfaatkan mobil dari jasa
penyewaan lain.
Suatu saat, dari pelanggannya yang
warga negara asing, Aryanto
mendengar keluhan soal susahnya
mencari rental mobil mewah di
Jakarta. Dari situ, ia tertarik menjajal
bisnis ini. Dia mencari kenalan yang
mau menyewakan mobil mewahnya.
“Banyak yang mau, sebab untuk kelas
Alphard saja, tarif sewa per 12 jam Rp
3 juta. Saya dapat komisi 50 persen,”
katanya. Aryanto lantas fokus
menggarap penyewaan mobil mewah
meski tanpa modal mobil sendiri.

Aryanto akhirnya mendapat order 16
unit mobil mewah dengan masa sewa
10 hari sekaligus. Dalam jangka waktu
itu, ia mengantongi untung Rp 270
juta. “Saya langsung beli rumah dan
mobil Alphard. Dari modal itu, usaha
saya terus bergulir dan kini saya
memiliki 16 mobil mewah,” katanya. (Fransiska Firlana/
Kontan)

sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/08/29/09291773/Aryanto.Dulu.Loper.Koran

Wednesday, August 22, 2012

Dulu Karyawan, Eko Kini Juragan Perhiasan Perak dengan Laba Puluhan Juta/Bulan

KOMPAS.com - Menekuni
kerajinan desain perhidasan sejak
2011, Eko Filyawan kini sukses
meraup omzet tebal dari ceruk
usaha ini. Dalam sebulan,
omzetnya mencapai Rp 150 juta
hingga Rp 200 juta.
Dari omzet tersebut, laba bersih
yang didapatkan sekitar 15
persen. "Laba bersih yang saya
dapat sekitar Rp 30 juta hingga
Rp 40 juta dalam sebulan," kata
Eko yang merintis usaha di
Gianyar, Bali.

Saat ini, ia fokus memproduksi
perhiasan berbahan perak. Ia
sebetulnya sudah tidak asing
dengan usaha perhiasan perak
ini. Di 2009, ia pernah bekerja
di sebuah perusahaan perhiasan
perak internasional yang
membuka lisensi di Indonesia.

Kala itu, Eko menjabat sebagai
production planning and
inventory control. Dengan
jabatannya itu, ia banyak
mengetahui berbagai aktivitas
produksi perhiasan perak.
Pada tahun 2010, ia pindah
bekerja ke perusahaan
perhiasan perak lainnya. Di sini,
ia menjabat sebagai manager
customer relation. Dengan
posisinya itu, ia banyak
menjalin relasi dan belajar
menangani para pelanggan.
Berbekal pengalamannya
tersebut, di tahun 2011 Eko
mendirikan usaha sendiri
bernama Kawan Bali. "Modal
awal saya tidak begitu besar,
hanya sekitar Rp 30 juta.
Soalnya, setiap pemesanan,
pembeli akan membayar uang
di muka," ujar Eko.

Tak hanya mendesain, ia juga
mengawal produksi perak hasil
desainnya tersebut hingga
sampai ke pelanggannya. Tidak
terlalu sulit bagi Eko dalam
menjalani usaha ini, karena
relasinya sudah kuat.
Selain itu, ia juga memasarkan
perhiasan hasil desainnya
secara online . Hampir seluruh
perhiasan Kawan Bali
diproduksi rumahan dengan
buatan tangan.

Jika pesanan sedang
membeludak, ia terpaksa
menggandeng perajin lain.
Sebab, kapasitas produksinya
masih terbatas. Saat ini,
produksi Kawan Bali sekitar 300
hingga 500 buah perhiasan
dalam sebulan.
Produk perhiasan itu dibanderol
mulai Rp 300.000 hingga Rp
600.000 per buah. Ia
mengklaim, perhiasan hasil
rancangannya cukup diminati
pasar. Selain di dalam negeri,
seperti Bali, Bandung, dan
Kalimantan, ia juga pernah
mendapat pesanan dari Amerika
dan Belgia. Kini, ia mengaku
tengah menangani pesanan dari
Jerman.
Menurut Eko, perhiasannya
diminati karena desainnya yang
menarik. Selain itu, "Saya juga
berusaha membuat desain yang
tidak banyak dimiliki orang
lain," jelasnya.

Kendati demikian, ia tetap
mengupayakan agar dari sisi
harga desainnya tidak terlalu
mahal dan bisa diproduksi
dalam jumlah besar. Hal itu
penting untuk mengantisipasi
pemesanan dalam jumlah besar.
Dalam perjalanan membesarkan
usaha ini, Eko juga pernah
mengalami kendala. Misalnya,
saat ia mendapat pesanan besar
dan menyanggupinya. Namun,
ia ternyata kesulitan memenuhi
pesanan tersebut, sehingga
akhirnya terkena penalti atau
denda.

Kendala lain, ia juga pernah
ditipu perajin. Ia menceritakan,
saat itu mendapat order besar
sehingga menggandeng perajin
lain. Untuk itu, ia memasok
perak ke perajin yang menjadi
mitra usahanya sebanyak satu
kilogram.  "Eh, malah perak itu
dibawa kabur oleh perajin
tersebut," ujarnya. (Revi
Yohana, Revi Yohana/ Kontan)

Sumber: http://m.kompas.com/news/read/2012/05/15/14592244/dulu.karyawan..eko.kini.juragan.perhiasan.perak