Tuesday, April 10, 2012

Saniah, Sukses Ciptakan Peluang Usaha Serta Lapangan Pekerjaan Melalui Kurma Salak

Berangkat dari rasa prihatin Saniah melihat berlimpahnya jumlah salak yang busuk di desanya, kurma salak lahir sebagai hasil kreatifitasnya mengolah bahan makanan. Mengembangkan usaha pembuatan kurma salak yang kini terkenal sebagai camilan dan oleh-oleh khas Bangkalan, Jawa Timur, ketua kelompok tani Ambudi Makmur II ini sukses menciptakan peluang usaha serta lapangan pekerjaan.

Kampung Mrokolak, Desa Kramat, Kecamatan Bangkalan, Madura, adalah salah satu sentra penghasil buah salak nusantara. Berlimpahnya buah berjulukan snake fruit itu terkadang menjadi buah simalakama bagi petani lokal. Produktivitas buah salak yang tinggi berdampak pada harga jual rendah yakni sekitar Rp2.500/kg. Fenomena obral dengan harga murah sekalipun tak mampu mendongkrak harga jualnya. Akibatnya, banyak salak yang akhirnya tak terjamah konsumen hingga menjadi busuk dan itu berarti kerugian besar bagi para petani.

Ide Saniah, 46 tahun, untuk mengolah hasil panen bumi pertiwi berangkat dari kondisi yang begitu memprihatinkan tersebut. Merogoh uang dari sakunya sendiri, Saniah pada awalnya membuat sirup serta dodol salak. Sayangnya, produk itu tak diminati konsumen. Ia lalu beralih ke kurma salak.

Membuat kurma salak memang lebih sulit dibanding sirum atau dodol berbahan sama. Setelah kulit buah dikupas, salak berikut daging buah dan bijinya direbus dalam panci selama dua jam dengan aturan satu jam pertama diberi gula 1 kg untuk salak 3 kg dan satu jam berikutnya masukkan kembali gula 1 kg. Salak yang masih setengah matang itu lalu dipanggang di oven khusus bikinan Saniah selama dua hari sebelum dipasarkan.

Harga kurma salak racikan Saniah relatif murah. Dikemas dalam sebuah kotak berukuran seperempat kg, produk olahan itu dijual seharga Rp8.000/kotak dan Rp30 ribu/kg. Kurma salak nan legit ini sukses menarik peminat dari beragam daerah. Keberadaan jembatan Suramadu turut memegang andil penjualan kurma salak. Wisatawan dari Surabaya, Mojokerto, Malang, Jakarta dan kota besar lainnya berbondong-bondong mencari camilan yang kini dinobatkan sebagai oleh-oleh khas Bangkalan tersebut.

Kesuksesan kurma salak menaikkan derajat kehidupan warga Kampung Mrokolak. Kreatifitas Saniah tak hanya menghasilkan laba bersih sekitar Rp 2,5 juta/bulan tapi juga menyelamatkan nasib para petani salak serta membuka lahan pekerjaan bagi kaum ibu dan anggota kelompok tani binaannya.

Kendala yang masih dirasakan Saniah saat ini adalah pemasaran produk yang belum optimal. Sifat pemalu Sania menjadi penghalang dirinya untuk terjun sebagai sales yang menjajakan serta memperkenalkan produknya secara door-to-door. Nah, apakah Anda tertarik menjadi agen kurma salak ini?

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/9973-saniah-sukses-ciptakan-peluang-usaha-melalui-kurma-salak.html

Asngari, Berkat Keunikan Botok Tawon 'mBah Mustari'-nya, Ratusan Porsi Perhari Diserbu Pelanggan

Botok adalah makanan yang terbuat dari parutan kelapa berbumbu yang kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Di daerah Jawa, hidangan yang umumnya berisi ikan teri, udang, tahu atau petai china ini sangat khas dan menjadi lauk keseharian. Namun, mBah Mustari berani melakukan diferensiasi dengan membuat botok berisi tawon madu.

 

mBah Mustari adalah rumah makan milik Imam Asngari yang berlokasi di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Tawon yang dipilih Imam Asngari bukan sembarang tawon melainkan jenis tawon madu. Diversifikasi menu bertajuk botok tawon dilakukan Imam Asngari sejak kurang lebih dua tahun lalu. Setiap harinya, ia memproduksi minimal 300 bungkus botok yang menurut pengakuannya akan tandas seketika dijamah pengunjung.

 

Walau peminat dan permintaan botok tawon terus meningkat tapi Imam Asngari tak kesulitan mencari pasokan tawon madu. Selain rumah makan, ia juga mempunyai peternak lebah binaannya sendiri yang jumlahnya 10 orang. Setiap dua hari sekali, peternak lebah itu akan menyetor tawon madu ke dapur produksi RM mBah Mustari.

 

Botok tawon racikan Imam Asngari memang khas dan terasa pas di lidah konsumen. Cita rasa botok yang sedikit asam, pedas namun tetap gurih ini menjadi peneman nasi yang sangat tepat dan paling lezat bila disantap ketika masih hangat. Cara membuatnya tergolong mudah dan tak membutuhkan banyak waktu, lho. Tawon madu yang masih di dalam sarang dipanaskan dengan air selama 3 menit hingga hancur, baru setelah itu diangkat dan ditiriskan. Dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu khas, adonan botok tawon ini lalu dibungkus daun pisang untuk kemudian dikukus hingga matang selama kurang lebih 10 menit.

 

Selain warga dan pekerja sekitar, penggemar  menu ini juga datang dari kelas pejabat setempat hingga pejabat luar daerah yang penasaran ingin mencicip kelezatan botok tawon Imam Asngari. Selain sedap, botok tawon ala RM mBah Mustari ini berharga murah. Pengunjug hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp3.000 untuk sebungkus botok tawon.

 

Selain harga yang sangat reasonable dan cita rasa yang begitu menggugah selera, konsumen juga dimanjakan dengan khasiat bagi kesehatan bila menyantap botok tawon ini. Dipercaya, botok tawon memiliki nutrisi yang mampu menguatkan stamina tubuh, mengurangi kadar gula dalam darah, mengurangi rasa pegal dan konon bila dikonsumsi secara rutin, botok tawon bisa berkhasiat menyembuhkan penyempitan sel tubuh dan penyumbatan pada sendi.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10044-botok-tawon-mbah-mustari-sedap-rasanya-kaya-khasiatnya.html

Raih Ratusan Juta dari Jahe Merah, Darul Juga Sukses Mengekspor Produknya Ke Mancanegara

Indonesia yang kaya akan hasil bumi memberi kesempatan kepada pelaku usaha untuk mengeksplorasikan menjadi produk yang layak dijual. Jahe merah contohnya. Pamor herbal yang bisa diolah menjadi minuman berkhasiat ini membahana. Tak heran bila Darul Mahbar sukses meraup omzet ratusan juta sebulan berkat menjual minuman segar berbahan jahe merah.

 

Omzet fantatis pengusaha asal Jakarta itu diperoleh dari pemasaran minuman berbahan jahe merah bermerek Cangkir Merah dan Cangkir Mas. Selain laku di pasar lokal, produk Darul juga disukai pasar internasional. Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa merupakan pangsa pasar Darul dalam mengekspor minuman berbahan dasar jahe merah tersebut.

 

Demand akan jahe merah selama dua tahun terakhir ini menunjukkan grafik positif dan mengalami peningkatan yang cukup pesat. Wajar saja, di era healthy lifestyle saat ini, masyarakat semakin tertarik mengkonsumsi herbal berbahan alami untuk menjaga stamina serta kondisi tubuhnya.

 

Sayangnya, kenaikan permintaan itu tak diimbangi dengan stok. Pasokan jahe merah masih dianggap kurang mencukupi konsumsi masyarakat sehingga harganya pun melambung tinggi. Kenaikannya diperkirakan mencapai 400 persen dalam dua tahun ini. Darul menjelaskan, harga jahe merah yang paling murah di pasaran adalah Rp10 ribu per kg. Anomali cuaca serta menurunnya produktivitas jahe merah menjadi penyebab minimnya pasokan jahe merah tersebut.

 

Untuk mencukupi kebutuhan jahe merah yang bisa mencapai 15 ton per bulan itu, Darul menjalin kerja sama dengan petani di Wonosobo dan Palembang. Meski demikian, ia mengaku pasokan dari para petani itu belum mencukupi kebutuhan industri minuman jahe merahnya.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10240-raih-ratusan-juta-per-bulan-dari-jahe-merah.html

Di Balik Kehangatan Lemang Bakar ala Roni Mantan TKI yang Merintis Usaha di Bidang Kuliner

Roni, mantan tenaga kerja Indonesia yang pernah mengadu nasib selama 25 tahun di Malaysia. Kembali ke tanah air, laki-laki yang berdomisili di Tanjungpinang, Kepulauan Riau itu mulai membuka usaha penakaran lele. Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Roni semakin giat menjemput rejeki. Menjual lemang bakar pun dilakoninya. Kerja kerasnya tak sia-sia, dalam sehari Roni bisa mengantongi profit sebesar Rp1 juta.

 

lemangBekerja di negeri orang menjadi pengalaman berharga bagi Roni. Meski pendapatan yang diterima bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga namun berkarya di negeri sendiri tetap yang terbaik baginya. Itulah sebabnya, laki-laki pekerja keras ini rela menghabiskan waktu di pinggiran jalan dekat perumahan Pinang Kencana, untuk menjajakan lemang dagangannya.

 

Roni mengaku, karena proses pembakaran lemang yang dilakoninya sendiri itu, ia hampir tak pulang seharian. Maklum, proses pembuatan lemang tergolong lama. Sebelum dibakar selama empat jam, pulut putih atau beras ketan yang dipakai sebagai bahan lemang harus direndam terlebih dahulu selama tiga jam. Jadi, agar bisa dijual pagi hari, Roni sudah mulai memproduksinya pada dini hari.

 

Proses produksi yang cukup unik yakni berkonsep “open kitchen” ini juga turut membantu pemasaran lemang Roni. Warga yang lalu lalang di sepanjang jalan tergiur dengan aroma lemang legit serta aksi Roni dalam membakar. Wajar saja. Di zaman yang telah modern ini, keberadaan lemang hangat yang bisa langsung dibeli dari bambu memang sudah tergolong langka. Karena itu tak jarang yang lantas tergoda untuk membelinya.

 

Dengan peminat banyak serta ditunjang oleh lokasi yang sangat strategis, dalam sehari Roni bisa menjual 100 batang lemang dengan harga Rp15 ribu/batang. Modal yang dipakai untuk bahan sebesar Rp500 ribu, jadi bila dihitung-hitung, dalam sehari Roni bisa meraup laba bersih sekitar Rp1 juta/hari. Benar-benar berkah besar di bulan Ramadan.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10424-di-balik-kehangatan-lemang-bakar-ala-roni.html

Felicia Sari, Nikmati Manisnya Laba dari Hasil Inovasi Getuk Bollen Aneka Rasa

Siapa tak kenal getuk. Makanan ringan yang banyak ditemui di Jawa Tengah dan Jawa Timur ini sudah menjadi ikon Magelang sejak dulu. Namun, jenis dan bentuk yang berkembang masih konvensional seperti yang dikenal selama ini.

 

Tapi, satu lagi jenis getuk yang cukup inovatif yang tengah berkembang saat ini, yaitu getuk bollen. Mungkin masih terdengar asing di telinga para pecinta kuliner. Sebab, makanan ringan campuran getuk dan bollen ini terbilang baru di Magelang.

 

Adalah Felicia Kumala Sari (33) yang berhasil membuat getuk bollen ini. Tidak seperti pada umumnya, bollen satu ini berisikan getuk yang asli terbuat dari olahan ketela pohon, bahan dasar pembuat getuk. “Bukan iseng, tapi sengaja kami ingin membuat kue bollen berbeda dari yang lain. Lalu terbersit ide untuk mengombinasikan antara kue khas Magelang dan bollen dan terciptalah getuk bollen ini,” ujarnya di tokonya Jl Diponegoro Magelang.

 

Pemilik toko kue Fiori Bakery & Patisery ini menjelaskan, dari proses pembuatan sama seperti membuat bollen pada umumnya. Namun, kalau biasanya kue bollen diisi dengan pisang, keju, cokelat, atau bahan lainnya, sekarang diisi getuk.

 

“Pembuatan getuk pun sama, mulai dari perebusan ketela, ditumbuk, ditimbang, lalu dibentuk bola-bola. Bentuk bola-bola ini kemudian dimasukan ke adonan bollen yang sebelumnya sudah dibentuk pastry, lalu dipanggang dan jadilah getuk bollen,” paparnya.




Selain isi, Felicia pun berinovasi dalam rasa. Getuk bollen yang dibuat tidak hanya memiliki rasa asli dari ketela pohon, melainkan juga ditambah rasa cokelat, keju, durian, chicken teriyaki, redbin, lotus, dan lain sebagainya.

 

“Intinya saya ingin mengangkat kue khas Magelang ini dengan kemasan berbeda. Kebetulan, dasarnya memang kami membuat aneka roti yang bercita rasa modern. Kenapa tidak, kami buat getuk ini juga memiliki cita rasa modern sehingga makin diminati,” katanya.

 

Tidak berlebihan, karena ternyata getuk bollen buatannya laris manis di pasaran. Padahal, di awal pembuatan sempat merasa tidak percaya diri karena makanan ini terasa aneh. Tapi kemudian, tepat di awal Puasa lalu ia memberanikan diri mengenalkannya ke masyarakat luas.

 

“Sebenarnya, sejak toko ini dibuka April 2011 lalu saya sudah mencoba membuatnya. Saya terus bereksperimen untuk mendapatkan hasil sempurna sampai pada akhirnya di awal Ramadan saya berani meluncurkannya sekaligus untuk menyambut datangnya bulan Puasa,” jelasnya.

 

Puluhan hingga ratusan biji getuk bollen laku terjual setiap harinya. Bahkan, bisa dibilang persediaan yang ada selalu habis dibeli pelanggan. Apalagi harganya cukup terjangkau, yakni Rp3000/buah atau Rp32.500/lusin. (*/SuaraMerdeka)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10515-getuk-bollen-inovasi-kue-khas-magelang.html

Mendulang Laba Lewat Kurma Aneka Rasa ala Rina Setyowati

Sekilas kurma racikan Rina Setyowati sama dengan kurma lainnya. Namun, jika diperhatikan lebih detail, ada bekas belahan vertikal pada kurma itu hingga menampakkan isi di dalamnya.
Isinya bukan biji kurma, melainkan kacang mete, cokelat keju, atau gula-gula cokelat. Paduan rasa kurma asli dengan beragam rasa itu menimbulkan rasa yang unik saat dikunyah. “Cocok untuk takjil buka puasa,” ujar Rina Setyowati, pembuat kurma aneka rasa.
Panganan ini dibuatnya khusus saat Ramadan. "Ini usaha musiman," ujarnya. Sudah tiga kali Ramadan terakhir ini Rina menjalankan usahanya itu. Inspirasinya berawal ketika pulang dari ibadah haji tahun 2001 silam. Di Arab Saudi, ia menemukan ada kurma berisi cokelat. “Akhirnya saya buka usaha ini,” ujarnya.
Usahanya terus berkembang. Pada 2009, Rina mulai memproduksi kurma ragam rasa, seperti rasa strawberry, blueberry, nanas dan wijen, kacang mete, gula-gula cokelat, dan cokelat keju. "Ternyata yang paling disukai tiga rasa yang saya buat saat ini," ujarnya. Karena itu, Rina pun fokus membuat kurma isi gula-gula cokelat, mete, serta cokelat keju.
Untuk membuat kurma beragam rasa itu, kata Rina, yaitu dengan cara membelah kurma lebih dulu. Lalu membuang isinya. Setelah itu kurma dijemur sebentar, kemudian kurma diisi dengan rasa yang diinginkan.
Dengan membuat kurma ragam isi ini, orang yang sebelumnya tidak suka kurma akan berbalik menyukainya. Dia mengatakan, kurma aneka rasa ini akan lebih nikmat ketika dimakan dalam keadaan dingin. "Kalau yang rasa cokelat dimakan akan seperti makan cokelat batangan, kres di mulut," kata Rina.
Peminat kurma ini cukup banyak. Awal Ramadan ini, misalnya, dia bisa menjual delapan kilogram kurma setiap hari. Menjelang Lebaran nanti, kata Rina, pesanan akan semakin banyak.
Penjualan kurma itu, kata Rina, selain dilakukan di tempatnya di Jalan Wahidin 43, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Probolinggo, juga dipasok ke sejumlah toko di kota itu hingga keluar daerah. "Saya juga biasa mengirim ke Surabaya dan Malang," katanya.
Pelanggan setianya saban bulan puasa, biasanya datang dari kalangan dokter, perawat maupun bidan. "Ada yang untuk dikonsumsi dan untuk oleh-oleh saat mudik Lebaran," ujarnya.
Rina menganjurkan, untuk ibu yang tengah menyusui, baik mengkonsumsi kurma. "Kurma mengandung vitamin A yang kaya akan serat," katanya. (*/Tempointeraktif)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10543-kurma-aneka-rasa-ala-rina-setyowati.html

Dari Kerupuk Kulit 'Andika', Dian Sautri Mampu Raup Laba Puluhan Juta

Sepintas tak ada yang istimewa dari kerupuk kulit, penganan khas nusantara yang sering ditemui di warung-warung ataupun tempat makan. Namun, dari sisi bisnis, siapa mengira bahwa gurihnya kerupuk kulit ternyata juga menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.
Peluang usaha itulah yang cermat dilihat seorang ibu yang bernama lengkap Dian Sautri. Kerupuk Kulit Andika, demikian ibu empat orang anak ini menamai usaha kerupuknya. Dari usaha yang telah digelutinya sejak 10 tahun lalu itu, Dian Sautri kini mampu meraup keuntungan bersih jutaan rupiah setiap harinya.

Lulusan Administrasi Negara Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini tak segan berbagi kisah suksesnya. Menurut dia, yang membedakan usaha ini dibanding usaha kerupuk kulit lainnya adalah Dian lebih memprioritaskan pengolahan kerupuk kulit mentah dibandingkan kerupuk yang sudah matang.

Hampir 90% hasil pengolahan kulit sapi dialokasikan seluruhnya untuk kulit mentah, hanya 10% yang diolah menjadi kerupuk kulit matang. “Sebenarnya yang menguntungkan itu yang matang. Tapi, kalau saya goreng semua, kan saya egois sekali,” ujarnya.

Di sebuah pabrik pengolahan berukuran 500 m2 yang beralamat di Bantar Gebang Selatan Pangkalan 1 B, Bekasi ini, setiap hari Dian mengolah sekitar 700-800 kg kulit sapi. Menurut Dian, pengeluarannya per hari sangat bergantung jumlah kulit yang diperolehnya dari penjagalan.

Satu lembar kulit bisa saja berbobot 50 kg, sehingga jumlah lembaran kulitnya per hari bisa bervariasi. Setiap kilogram kulit di penjagalan dihargai Rp14.000-Rp15.000. Dengan demikian, setiap hari Dian minimal merogoh kocek sekitar Rp12 juta.

Bahan mentah tersebut kemudian dibersihkan dan dipotong-potong sehingga menghasilkan sekitar 2 sampai 2,5 kuintal (200-250 kg) kulit sapi mentah yang siap digoreng, atau biasa disebut dengan kulit lapohan. Kulit lapohan ini kemudian dijualnya kepada pelanggan, yang kurang lebih berjumlah 20 orang seharga Rp63.000 per kg.

Namun, khusus untuk konsumen baru, Dian menjual di atas Rp65.000. Hal ini diakuinya untuk menjaga harga pelanggannya. Sementara itu, 10% dari kulit olahan tersebut, atau sekitar 25 kg diolah menjadi kerupuk matang dan dijual seharga Rp10.000 per pak, berisikan sekitar 15 bungkus kerupuk.

Dari penjualan dua produk itu, Dian mengaku setiap hari dapat memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp2 juta - Rp3 juta. Karena peminatnya banyak, Dian mengaku tidak memiliki hari libur kecuali Hari Raya Idul Fitri. Hal ini untuk menghindari kekurangan pasokan kulit dari penjagalan. Pasalnya kebutuhan kulit sapi sangat terbatas. Sementara peminatnya besar. “Iya karena saya tidak pernah libur, kan semuanya ada yang ngerjain dan saya hanya me-manage saja. Kalau tidak, kulit saya bisa diambil orang,” selorohnya.

Untuk mengolah kulit tersebut, Dian menggunakan jasa 12 orang tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari Gunung Kidul. Menurut Dian, pekerja dari Gunung Kidul ini sudah mahir dalam mengelola kulit sapi sehingga sudah siap kerja.

“Saya tidak mencari sendiri, tapi karyawan saya membawa temannya, jadi saya tidak pernah ke mana-mana, ke jagal pun belum pernah. Saya hanya mengandalkan telepon dan cara melobi saja,” ujarnya tersenyum.

Menurut Dian, harga kulit lapohan yang diolah memang cukup mahal dibandingkan yang lain. Dian melakukan proses pengolahan kulit secara alami dengan mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan kulit dan tidak menggunakan oven.

“ Saya tidak pakai oven karena hasilnya tidak mekar dengan bagus. Kalau saya, pagi kulitnya dipotong dan langsung dijemur sampai sore. Besok baru di-lapuh (digoreng empat kali). Jadi benar-benar menggunakan matahari, biar bisa maksimal,” ungkapnya.

Kekurangan pasokan kulit dan cuaca, sambung dia, merupakan kendala yang selalu ditemuinya sejak memulai usahanya ini. Selain itu, terhentinya pasokan sapi impor dari Australia juga ternyata cukup memberikan pengaruh bagi usaha pengolahan kerupuk kulit ini.

Hanya saja, Dian menggantikan ketergantungan kebanyakan usaha pengolahan kulit terhadap kulit impor Australia dengan menggunakan kulit sapi asal Bali dan Kupang juga kulit kerbau. Menurut dia, ketiga jenis kulit ini menjadi pilihan karena ketebalan kulitnya. Kendati kerap dihadang masalah, Dian mengaku sangat bersemangat menjalani usaha ini.

Menurut Dian, terdapat beberapa hal yang membuatnya tertarik menggeluti usaha ini. Selain memberikan keuntungan yang besar dan pasarnya yang terbuka luas, ternyata kerupuk kulit ini cukup dicari-cari masyarakat. Karena banyak dibutuhkan orang, dia pun merasa ikut membantu masyarakat banyak.

“Satu, itu jelas untungnya lumayan, dua juga dibutuhkan orang, dan yang ketiga bisa membantu banyak sekali orang,”tuturnya. Karena itu, Dian sangat terbuka untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada orang-orang yang ingin belajar.

Menurut Dian, mereka yang datang ke tempat usahanya kebanyakan ingin menjadi penggoreng dan penjual kerupuk kulitnya. Sebagai permulaan dan sebelum terjun untuk berusaha sendiri, dia tak segan membimbing dengan memberikan semacam penyuluhan dan mengajari mereka cara menggoreng dan bahkan mencari pasar bagi produknya.

“Supaya tidak rugi, saya menyarankan supaya digoreng di tempat saya dulu, daripada beli wajan dan kebutuhan lainnya, tapi rugi. Tapi kalau sudah mengerti dan berkali-kali melihat kita goreng dan mereka bisa menggoreng dan yakin bisa dan punya pasar, monggo jalan sendiri. Banyak yang begitu dan saya juga ikut senang,” tandasnya. (*/Sindo)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10578-di-balik-gurihnya-kerupuk-kulit-andika-tersimpan-laba-besar.html

Evi Moeljo, Omzet Kue Keringnya Melambung Setelah Memakai Teknik Pengemasan Furoshiki

Di bulan puasa atau beberapa hari jelang Lebaran, permintaan akan kue kering khas hari raya seperti nastar, kastengel, putri salju, dan lainnya meningkat tajam. Kondisi ini memang telah lama dilirik pelaku usaha sehingga banyak yang tertarik menekuninya. Akibatnya, persaingan pun semakin tinggi. Untuk bisa lolos dari persaingan yang cukup ketat itu, perlu adanya diferensiasi produk seperti yang dilakukan Evi Moeljo.

 

FuroshikiDiferensiasi produk yang diterapkan Evi Moeljo adalah membuat kemasan seunik mungkin. Beda dengan kemasan kue kering yang umumnya berupa wadah toples saja, Evi Moeljo memberi sentuhan seni Jepang pada kemasan produknya. Ia mengaplikasikan furoshiki untuk mempercantik kemasan kue keringnya. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan furoshiki tersebut?

 

Furoshiki adalah budaya mengemas, membungkus atau menyimpan barang ala negeri sakura dengan kain bermotif khusus Jepang berbentuk segi empat. Bagi warga setempat, budaya itu dipercaya bisa membawa berkah serta kebahagiaan tersendiri bagi penggunanya. Untuk memikat konsumen, Evi Moeljo pun lalu menerapkannya dalam mengemas produk bisnisnya.

 

Dalam dua tahun, pelaku bisnis yang berdomisili di Jakarta itu telah berhasil menguasai 50 jenis furoshiki beraneka macam bentuk. Hebatnya, kain-kain untuk keperluan furoshiki diproduksi sendiri olehnya. Diakui oleh Evi Moeljo, teknik furoshiki ini tidaklah sulit. Yang perlu diperhatikan di sini adalah teknik mengikat yang benar agar toples kue tak mudah jatuh.

 

Melalui furoshiki, diferensiasi produk yang diterapkan Evi Moeljo meraih untung. Omzetnya bisa melambung hingga 50 persen. Harga kue kering yang dijualnya dengan kisaran harga antara Rp40 ribu sampai Rp110 ribu itu bisa ditambah Rp25 ribu bila ingin dikemas dengan teknik furoshiki. Sedangkan untuk puding dan macam-macam kue lapis dibanderol dengan kisaran harga Rp165 ribu hingga Rp255 ribu dan sudah termasuk biaya kemasan furoshiki untuk ukuran besar. Kreatif sekali bukan! (*ely/sumber liputan6)

credit image: contoh furoshiki (possumeggs.com)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10657-diferensiasi-kemasan-kue-kering-melalui-furoshiki.html

Jatuh Bankrut Di Bisnis Sebelumnya, Akhirnya Ashar Arifin Meraih Sukses Lewat 'Glory Catering'

H Ashar Arifin tak pernah menyangka usaha sampingan yang tadinya dikelola sebagai pendongkrak modal bisnis utamanya justru malah berkembang lebih pesat. Seiring perjalanan bisnis, usaha pertamanya yakni jasa penjahitan atau tailor jatuh bangkrut sementara bisnis katering sebagai usaha sampingannya maju pesat. Tak tanggung-tanggung, bisnis katering berlabel Glory Catering itu sukses merebut penghargaan The Best Service Excellent of The Year.

 

Ashar memulai usaha penjahitan pada tahun 1977. Usaha itu ditandai dengan dibukanya toko Asraco yang berlokasi di Jalan Irian, Makasar. Ketatnya persaingan membuat usaha tailor-nya tak memeroleh banyak pelanggan. Perkembangan mode yang cukup pesat ditambah dengan gempuran persaingan nan kompetitif membuat keberadaan Ascaro di ujung kebangkrutan. Ashar mengevaluasi, perjalanan bisnis dari tahun 1977 sampai 2005 tak memberikan banyak profit seperti yang diharapkannya.

 

Mengalami kesulitan menghadapi persaingan, Ashar tak tinggal diam. Laki-laki asal Kabupaten Wajo ini sempat berinovasi dengan cara menciptakan jasa cicil jas baru, sistem jasa penjahitan yang belum pernah ada sebelumnya. Untuk menambahkan kesan baru pada tokonya, ia pun mengganti nama toko menjadi Glory sejak tahun 1991. Bersamaan dengan itu, Ashar mulai melirik usaha katering untuk mendongkrak modal jasa penjahitan yang mulai menipis. Sama seperti bisnis jasa penjahitannya, katering Ashar diberi nama Catering Glory.

 

Namun siapa sangka, nasib berkehendak lain. Usaha katering yang semula hanya berfungsi sebagai penyokong dana justru lebih menghasilkan omzet lebih tinggi. Sementara kondisi jasa penjahitan Ashar produktivitasnya semakin menurun dan akhirnya resmi ditutup pada tahun 2005.

 

Sisa dana dari usaha jasa penjahitan Ashar sekitar Rp25 juta disalurkannya untuk modal awal usaha baru di bidang jasa cash and credit barang-barang elektronik. Tapi lagi-lagi usaha itu tak menunjukkan grafik pertumbuhan yang diharapkan. Jumlah barang yang terjual ke konsumen tak sebanding dengan total dana yang masuk. Bisnis ini terpaksa gulung tikar.

 

Menerima kegagalan dalam menjalani bisnis jasa penjahitan dan cash and credit, Ashar akhirnya konsentrasi mengelola katering. Setelah pertama kali menerima order dari instansi pemerintahan untuk konsumsi pendidikan kilat, bisnis penyediaan makanan ini berjalan nyaris tanpa hambatan. Ia pun mulai menerima pesanan kue dan makanan di berbagai acara. Permintaan pesanan terus meningkat. Jika mulanya, Ashar menyewa mobil untuk armada pengangkutannya kini ia telah memiliki 12 unit armadanya sendiri.

 

Belajar dari pengalaman pahitnya di dunia bisnis jasa penjahitan, Ashar mengaku berjuang keras untuk memajukan Catering Glory. Ia mengutamakan servis untuk memuaskan pelanggannya. Untuk meminimalisasi kesalahan, Ashar menggunakan sistem check list. Pengecekkan wajib dilakukan sebelum diantar ke konsumen. Berkat kegigihannya menyajikan servis kepada pelanggan, seperti dikutip dari Fajar Online, beberapa pekan lalu, Catering Glory milik Ashar sukses mengantongi penghargaan The Best Service Excellent of The Year yang ditandatangani oleh Menkokesra Agung Laksono dan Menteri Kebudayaan Jero Wacik pada 15 Juli 2011 silam. (*/ely)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/10670-gagal-di-jasa-penjahitan-sukses-di-katering.html