Eman Sulaeman, Mempertahankan Usaha Warisan Plered
Plered, Purwakarta merupakan salah
satu sentra kerajinan gerabah di
Indonesia yang terkenal di mancanegara.
Usaha di bidang ini pun kebanyakan
merupakan bisnis turun-temurun yang
konon sudah ada sejak tahun 1904.
Namun seiring waktu, usaha ini ternyata
tak lagi mudah. Dibutuhkan cucuran
keringat dan usaha yang luar biasa
untuk mempertahankannya.
SALAH satu pengusaha yang memulai bisnis
gerabah ini secara mandiri sejak 1993 adalah
H.Eman Sulaeman. Sejak duduk di bangku sekolah
dasar, pemilik Risman Wijaya Keramik ini sudah
ikut membantu orangtuanya memajukan bisnls
gerabah yang didapat ayahnya dari sang
Kakek. “Jadi, keseharian saya membantu orangtua
sejak SD. Dari proses produksi sampai
masalah finishing. Kecuali masalah pembentukan
dengan teknik putar, saya enggak bisa,” tutur
Eman yang ditemui di warungnya. Sekitar tahun
1982, bisnis gerabah memang sedang jaya-jayanya.
Gerabah jenis grafir sedang tren dan
amat disukai pasar untuk kebutuhan rumah tangga.
Namun adanya campuran timbal yang dilarang oleh
Pemerintah karena berbahaya menggeser tren grafir
Ke bahan terakota.
Bisnis keramik itu hanya sempat dinikmati
Eman sampai ia lulus SMA. Orangtua Eman memintanya
kuliah. Dia pun terpaksa meninggalkan
hiruk-pikuk Plered demi bersekolah di IKIP Bandung.
Namun, kuliah tidak memadamkan minat Eman pada
dunia gerabah yang sudah mendarah daging.
Tahun 1993, sebelum diwisuda,
dia memutuskan untuk terjun membuka usaha
keramik sendiri, tidak lagi ikut dengan ayahnya.
Dia sudah memutuskan tidak akan menjadi
pegawai negeri dan akan menekuni bisnis tersebut.
Target awalnya sederhana, mendapatkan 1
kontainer untuk diekspor dalam tahun pertama.
Target tersebut berhasil dilampaui, bahkan Eman
kebanjiran order sampai mampu mempekerjakan
sekitar 30 orang.
PASAR INTERNASIONAL VS LOKAL
Meski sudah mengerjakan bisnis sendiri, bantuan
tetap diberikan oleh orangtua Eman, berupa
modal awal sebesar Rp 200 ribu. Eman pun
masih menggunakan peralatan lainnya, seperti
tungku, dari usaha milik orangtuanya. Dengan
modal minim, Eman mampu menghasilkan
keramik ukuran 55 cm yang per unitnya dijual
Rp 30 ribu. Padahal biaya produksinya hanya
Rp2.500 dengan upah Rpl.250.
Berbeda dengan para perajin lain di Plered,
Eman lebih berkonsentrasi menembus pasar
internasional ketimbang lokal. Turis mancanegara
yang banyak menengok Plered memberi
order hingga jauh melebihi kemampuan Eman.
“Jadi, kemampuan saya ibaratnya cuma satu
gelas, tetapi order yang saya terima sampai satu
teko. Karena memang belum disiasati, saya
belum punya kemampuan untuk bikin kerja
sama dengan teman-teman, order dibuang ke
mana-mana,” kenangnya.
Tahun 1993-2002 adalah masa keemasan
Eman. Pada periode tersebut order dari pasar
internasional tidak pernah sepi. Kala itu dia
bisa menikah, membeli tanah, membeli rumah,
bahkan naik haji. Dia juga mengirimkan kontainer
dengan jumlah terbanyak, yaitu 10
kontainer senilai Rp 1 miliar. “Saya kalau hitung
satuan untuk retail, bingung. Dari dulu
hitungannya kontainer, jadi produksinya enggak
banyak item, tapi kuantitasnya banyak,”
jelasnya. Dari order ini, keuntungan bersih yang
diperolehnya mencapai sekitar Rp 250 juta.
Tahun 1998, dia bekerja sama dengan broker
besar yang khusus melayani pasar internasional
dengan produk gerabah untuk interior. Sejak
saat itu, hubungan Eman dengan pasar lokal
terputus. Konsumen lokal tidak terjaga dengan
baik, hal ini yang membuat bisnis Eman merosot
di kemudian hari. Dia hanya menarget produksi
pasar lokal sebesar 30 persen, sementara pasar
internasional hingga 70 persen.
Namun tahun 2002, pasar internasional
semakin sepi sedangkan pasar lokal semakin
bergairah. Sementara perajin yang berfokus di
pasar lokal mulai mendulang untung, Eman harus
memulai kembali dari nol untuk mendekati pasar
lokal yang sempat ditinggalkannya. “Tahun
2002 pasar lokal nyambung, pasar ekspor putus
hubungan. Bingung masuk ke pasar lokal lagi,
karena trennya sudah beda,” tutur Eman yang
harus mempelajarii lagi selera pasar lokal.
Di pasar lokal, tren keramik interior di tahun
1985-2000 bergeser menjadi tren eksterior di
tahun 2000-2010. Pot-pot cantik untuk kebun,
misalnya, merupakan salah satu produk yang
amat diminati. Hampir setiap bulan perajin
Plered mengirim barang ke Jakarta. Untuk
kembali meraih pasar lokal, selain mempelajari
tren eksterior, Eman pun memberi porsi yang
seimbang bagi kedua jenis pasar.
Setelah dua tahun menekuninya kembali,
Eman berhasil menggaet kembali pasar lokal.
Kuncinya adalah mengikuti kemauan pasar.
Selain menyukai produk eksterior, pasar lokal
pun menyukai warna yang ngejreng. Jika
dibawa ke Jakarta, produk-produk yang seperti
itu akan laris-manis. Hal itu bertolak belakang
dengan pasar internasional yang lebih menyukai
warna-warna lembut dan minim dekorasi. Dan,
belajar dari pengalaman, pasar internasional
tetap tak ditinggalkan.
Benar saja, karena tahun 2007 pasar internasional
ternyata kembali bergairah. Eman
membawa Risman Wijaya Keramik mengikuti
pameran internasional seperti Pameran Produksi
Ekspor (PPE). Bahkan Eman mengikuti
pameran yang digelar di Jerman. Hingga kini,
dia sudah 3 kali ikut pameran di negara itu.
Selain itu, di warungnya di Plered tetap
tersedia stok keramik dengan berbagai bentuk
untuk melayani permintaan pasar lokal. Pasar
ini pun dikembangkan dengan rajin mengikuti
pameran produk-produk kerajinan nasional, misalnya
CRAFINA. Dari pameran itu bisa diketahui,
misalnya, tren 2007-2010 kecenderungannya
minimalis, tanpa gagang. Jika tidak ikut pameran,
Eman yang menjadi ketua koperasi di
Plered ini mencari informasi perkembangan tren
dari perajin sekitar yang ikut pameran.
Dari situ, dia tidak ketinggalan
mengetahui kecenderungan pasar internasional maupun
lokal. Pasar internasional yang sudah dijangkau Eman
antara lain Amerika, Jerman, Hongkong dan Italia.
Namun sejak tahun 2004, importir sudah jarang
bertransaksi langsung dengannya. Biasanya sudah
ada eksportir lokal yang mendapatkan pesanan,
kemudian dilanjutkan ke Eman. Menurut prediksi Eman,
kecenderungannya saat ini pasar lebih suka datang ke
satu tempat, seperti ke sebuah pameran, dan di sana
mereka mendapatkan berbagai macam jenis barang
sekaligus. Biasanya eksportir semacam itu
paling sedikit memesan 200 unit.
Karenanya, mengikuti pameran adalah wajib hukumnya
agar tetap bisa eksis. Setahun minimal seorang
perajin harus mengikuti 3 pameran
‘wajib’, seperti PPE, IFFINA, dan INACRAFT,
untuk ajang promosi. Dan pameran-pameran
itulah order lokal maupun internasional berskala
besar didapat. “Kalau sekarang keramik sudah
enggak tren. Jadi, menyiasatinya beda dengan dulu.
Kalau dulu cukup disiasati dengan membikin
barang yang bagus. Kalau sekarang, barang
yang bagus juga harus kuat promosinya,”
jelas Eman. Berapa biaya yang harus
disiapkan Eman untuk mengikuti 3 pameran tersebut?
Eman memperkirakan minimal per tahun berkisar
antara Rp 45 juta hingga Rp 6o juta.
Biaya promosi yang tidak sedikit ini bisa diatasi
dengan mencari sponsor. Eman biasanya mendapatkan
dari bank bjb.
Kehadiran bank bjb pun dirasakan amat
membantu usaha Eman sejak ia menjadi debitur
bank tersebut tahun 2008. Dia bisa meminjam
terlebih dulu modal untuk membuat keramik
pesanan, mengingat biasanya buyer hanya
memberi uang muka sebesar 30 persen dan
pelunasannya baru dibayarkan 15 hari setelah
barang dikirim. Selain itu, kehadiran bank
bjb kerap mendukung perajin setempat untuk
mengikuti sejumlah pameran.
TANGAN TERAMPIL UNTUK PRODUKSI
Meskipun menghadapi masa sepi seperti tahun
2008, empat pekerjanya tetap memproduksi
berbagai macam jenis keramik setiap harinya. Saat
ini pekerja di tempat Eman berjumlah 12 orang.
Namun, jika order cukup banyak, Eman bisa
menambah pekerja hingga 30 orang. Kebanyakan
dari mereka terhitung masih keluarga. Misalnya
keponakan yang baru lulus sekolah. Namun,
mereka hanya dijadikan pekerja kasar, tidak
menangani manajemen.
Untuk memilih pekerja, Eman tidak sembarangan,
meskipun kerap diambil dari tetangga dan
kerabatnya sendiri. Berbekal
pengalamannya sejak kecil menjadi perajin
keramik, Eman mengetahui siapa saja di
antara mereka yang memiliki kemampuan
bagus. Karena lingkungannya adalah perajin
keramik, dia mengambil karyawan dari warga
sekitar. Alasannya, akomodasi lebih murah
dan lebih efisien mengingat orang sekitar tidak
memerlukan biaya transportasi, dan tidak
ada yang pulang ke daerah asal. Selain itu,
pengawasannya jauh lebih mudah. Pekerja yang
mudah loncat-loncat pun masuk dalam daftar
blacklist yang tidak diliriknya.
Para karyawan yang bekerja di tempat Eman
mendapat upah harian, yang berkisar antara
Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu. Mereka mulai
bekerja pukul o8.oo hingga 15.30, dengan jam
istirahat antara pukul 12.00-13.00. Selain itu,
ada juga yang dibayar secara borongan, yakni
untuk pekerja yang khusus membakar dan
memutar gerabah. Biasanya mereka mendapat
bayaran dalam kisaran Rp 75 ribu hingga Rp
150 ribu, tergantung dari jumlah barang yang
diproduksi. Perbedaan upah ini tergantung pada
kualitas barang yang dihasilkan. Jika barang
yang dihasilkan berkualitas ekspor, otomatis
upahnya pun tinggi.
Jika pesanan cukup banyak, Eman biasanya
akan merekrut karyawan harian yang mau
tak mau standar kemampuannya pun belum
jelas. Dan, mengingat usahanya masih belum
berskala besar, Eman belum menganggap
perlu adanya karyawan profesional. Untuk
pelatihan karyawan pun hanya diperoleh dari
pemerintah. Meski begitu, ke depannya dia akan
membuat sistem kerja yang lebih baik mulai dari
perekrutan, produksi, dan lainnya, mengingat
dia masih berorientasi memenuhi pasar keramik
internasional.
Selain masalah sumber daya manusia, Eman
juga terus berupaya memperbaiki teknologi
untuk produksi, seperti mengolah bahan baku,
teknologi pembakaran, sampai pengeringan.
Biasanya Eman menjalin kerja sama dengan
perguruan tinggi setempat, meski masih dalam
bentuk yang sederhana. Dukungan pun
didapatnya dari suku dinas setempat, berupa
bantuan alat produksi seperti tungku pembakaran.
Untuk pasar retail, biasanya Eman menyediakan
stok dari kelebihan produksi yang
ada hingga sisa ekspor. “Kalau ada pesanan
1.000 unit, biasanya saya buat 1.100 unit.
Pertimbangannya, 50 unit adalah barang reject yang
tidak sesuai kriteria, sementara selebihnya akan
dijual retail di warung,” urainya. Hanya saja,
bermacam-macam keramik yang diproduksi
kadang tidak sesuai dengan selera konsumen.
Sehingga ia harus jeli melihat kecenderungan
pasar lokal. Dan biasanya, trennya hanya bisa
bertahan selama 8-10 bulan saja.
Cara lain membaca tren pasar lokal adalah
mengandalkan majalah interior dan eksterior.
Eman juga pernah mencoba mengaplikasikan
tren internasional ke dalam pasar lokal.
Misalnya saja dari hasil pameran di Jerman pada
tahun 2010. “Kan tren internasional udah
ketahuan, tapi di Jakarta belum semuanya tahu.
Saya coba masuk. Kalau seleranya nyambung,
berarti ngetrennya begini,” paparnya.
Lebih dari 4 tahun mempelajari pasar
internasional maupun lokal, Eman mengetahui
keunikan setiap pasarnya. Misalnya, pasar Jerman
lebih menyukai desain minimalis dengan warna
lembut, sementara Jepang cenderung menyukai
keramik dengan desain sederhana yang kecil,
mengingat rumah-rumah di Negeri Sakura itu
kebanyakan berukuran mungil. Meski kecil
dan tampaknya remeh, pasar Jepang menuntut
bentuk yang sempurna.
Lain lagi dengan Korea yang cenderung menyukai
gerabah untuk eksterior. Pasar ini menuntut
perhatian sendiri karena yang paling
utama dari produk eksterior adalah daya tahan
untuk menghadapi 4 musim di Korea.
“Sayangnya, untuk masalah seperti itu saya
belum punya solusinya. Kalau nanti solusinya
ditemukan, bisa itu ditembus,” ujar Eman.
Beda lagi dengan pangsa pasar Amerika yang
lebih menyukai desain etnik dan dekoratif.
Kecenderungannya tidak banyak macam, namun
secara kuantitas banyak. Permasalahannya
hanya soal packing, karena harus aman dan
terlindungi dari kemungkinan rusak akibat
benturan sepanjang perjalanan. Selain itu,
pemasaran ke Amerika langsung dengan
packagingnya. Sehingga urusan pengemasan sama
persis dengan kondisi saat pengiriman dari
Indonesia. Hal ini berarti Eman pun harus
memperhatikan kemasan yang baik sejak gerabah
tersebut berangkat dari tempatnya. Cara
seperti ini biasanya dilakukan oleh buyer besar
yang memiliki ratusan showroom.
Masalah ukuran barang juga harus tepat
untuk pasar internasional, bukan hanya karena
permintaannya demikian, tetapi juga berkaitan
dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengirim
barang. Dari segi ketelitian, pasar internasional
biasanya hanya memberi toleransi ukuran meleset
sebesar 2 cm saja. Jika meleset hingga 5 cm,
barang langsung di-reject.
Perbedaan ukuran dan bentuk barang pesanan
juga bisa memengaruhi packaging masuk ke dalam
kontainer. Jika barang pesanan
berukuran besar, jumlah yang masuk ke dalam
kontainer otomatis akan berkurang. Misalnya,
standarnya bisa mengangkut 1.200 unit barang,
bila dimasukkan barang-barang besar
berkurang bisa berubah menjadi 8oo unit saja.
Padahal harganya pun sama.
“Otomatis biaya transportasinya pun jadi
jauh lebih mahal. Itu hitungan fisiknya susah.
Maka desainnya yang sederhana-sederhana
saja,” imbuhnya. Racikan bahan baku dan pemanasan
di tungku yang tepat menjadi kunci
produk tersebut bisa sesuai dengan pesanan.
Namun, untuk barang-barang yang meleset
ukurannya itu, Eman tak hilang akal. Barang
barang tersebut dipajang di warung atau
dipasarkan pada pameran lokal.
SERBA DIURUS SENDIRI
Lulusan Fakultas Seni dan Sastra IKIP Bandung
ini juga berupaya menciptakan tren sendiri
dengan mempertimbangkan selera pasar. Biasanya
tren ciptaannya sendiri itu mendapat
sambutan lebih baik di luar negeri ketimbang di
pasar dalam negeri sendiri. Bahkan pada tahun
2007, order bisa mencapai Rp 400 juta per
tahun. Itu belum pemasukan yang didapat dari
warungnya.
Seperti kebanyakan UKM lainnya Eman
mengurus semuanya sendiri, mulai dan produksi
hingga packaging. Eman belum memercayakan
anak buahnya melakukan segala
pekerjaan tersebut tanpa pengawasan. Sebab
berdasarkan pengalamannya, ketika diserahkan
ke perajinnya tanpa diawasi, barang yang
dihasilkan malah mendapat komplain dari buyer.
“Semuanya saya urus sendiri. Pameran,
produksi...,” ujarnya. Sebenarnya Eman ingin
melepas salah satu supaya bisa mengurus pasar.
Apalagi ia juga menjabat sebagai ketua perajin
di Plered. Menurut Eman, seharusnya sesama
perajin keramik bisa bekerja sama. “Setiap
perajin kan punya kekhasan sendiri,” ujarnya,
“Jadi, dibagi-bagi saja. Kalau tidak laku, ya
dikembalikan. Yang penting jangan ada yang
nakal, jangan ada yang main sendiri.”
Untungnya, dari pengalaman Eman selama
ini, sesama perajin keramik di daerahnya tidak
ada yang berkarakter plagiat. Justru mereka
berlomba-lomba membuat desainnya masing
masing sehingga keramik Plered menjadi
beraneka ragam. Adik Eman sendiri mewarisi
pembuatan keramik dari orangtuanya. Mereka
banyak bekerja sama, di antaranya karena si
Adik kini telah menjadi eksportir keramik di
Jakarta.
Eman menyayangkan, persaingan yang
kian tinggi di antara perajin keramik mulai
menjadi masalah, bahkan membuat beberapa
usaha keramik di Plered gulung tikar. Mereka
bukan saja bersaing di antara sesama perajin,
melainkan juga dengan usaha-usaha lain yang
lebih menarik bagi pemilik modal. Mereka beralih
ke usaba lain, seperti menjual pulsa. Eman
amat menyayangkan hal tersebut, mengingat
nama besar Plered sebagai kota perajin keramik.
Eman berupaya mendorong teman-temannya
agar tidak menyerah dan tetap bertahan, salah
satunya dengan mendirikan koperasi. Koperasi
perajin di Plered didirikan untuk memecahkan
masalah bahan baku agar menghasilkan satu
formula untuk setiap keramik yang menjadi
tujuan negara-negara tertentu. Sebab, bila
perajin salah meracik bahan baku akan berdampak
pada mutu dan kualitas keramik hasil akhirnya.
Apalagi, harga bahan baku pun semakin
mahal. “Kalau dulu bahan baku tanah liat hanya
sekitar Rp 6o ribu satu ton, sekarang Rp 150
ribu. Sementara untuk kayu bakar sekitar Rp
120 ribu per 4 m3, kalau sekarang Rp 500 ribu.
Kalau upah enggak terlalu naik, paling 2 kali
lipat. Makanya, kalau sekarang ini eksportirnya
berat. Kalau dulu masa bulan madunya, kalau
sekarang sudah bukan. Bisa bertahan juga sudah
untung,” jelas Eman. Untuk urusan produksi,
menurut Eman, kendalanya memang di modal
untuk memulai proses dan tenggat waktu untuk
memenuhi pesanan.
Eman pun menjelaskan bahwa bahan
baku pembuatan keramik yang terbaik adalah
lumpur. Hasilnya sangat halus dan kuat, tetapi
lumpur yang bagus menuntut perlakuan yang
‘manja’, yaitu harus benar-benar disaring
supaya halus, dibakar dengan suhu tinggi, dan
seterusnya. Bahan lainnya adalah puder yang
kasar tetapi lebih cepat pengerjaannya. Dengan
demikian, untuk memenuhi tenggat waktu yang
diminta pelanggan, Eman harus pintar-pintar
mengombinasikan bahan-bahan tersebut dan
menyesuaikannya dengan permintaan pelanggan.
“Konsumen dari Jepang dan Jerman
sangat detail, mereka tidak mau kalau bahannya
dicampur,” jelasnya
Sementara untuk masalah pemasaran, Eman
mengaku masih pasif. Ia masih menunggu
permintaan melalui email. Kehadiran internet
menurutnya belum cukup membantu. Kendala
yang dimilikinya bukanlah kesulitan
mendapatkan akses internet, tetapi masalah
bahasa. “Kalau dulu kan buyer-nya datang
langsung, jadi meskipun bahasanya belepotan,
tetap nyambung,” ujarnya malu-malu, “Sekarang
kan ketika pameran hanya bertemu
1-2 jam, selanjutnya kontak lewat email. Jadi
kemampuan bahasanya harus bagus.”
Dengan kondisi sesulit apa pun, Eman
tidak berniat beralih profesi maupun
jenis usaha. “Ada ucapan guru saya, kalau
kaya itu takdir dari Allah, cuma kemauan
yang membikin kita tidak kelaparan. Jadi
prinsipnya begini, walaupun saya 70 kali ke
Jerman, tapi kalau enggak ada usaha dan ridho
Allah, enggak bakalan sukses. Paling tidak
pengalaman aja, enggak bikin rugi,” ujarnya
sambil mencontohkan nasib Briptu Norman
Kamaru yang mendadak tenar karena aksi
lipsync melalui situs YouTube.
Eman masih memiliki mimpi besar membuat
usahanya menjadi lebih besar dari yang
sekarang, dengan memperbesar kapasitas
produksi dan memperbesar pabrik, bukan
membuka cabang. Untuk itu, dia berupaya
memperkenalkan produksinya melalui website,
dan semakin rajin mengikuti pameran bertaraf
internasional. Setidaknya 3 kali dalam setahun.
Dia pun ingin usahanya memiliki badan
hukum, serta menyusun pembukuan yang
lebih baik untuk mempermudah pinjaman modal.
Dengan omzet Rp 200-350 juta per tahun
dan keuntungan bersih 20-30 persen, Eman
bersikukuh tetap mempertahankan usaha tradisi
khas di Plered, yang sudah turun temurun
di keluarganya. Dia memiliki keyakinan akan
muncul kembali momentum masa keemasan
perajin keramik. Dan ketika masa itu tiba, Eman
sudah siap beraksi.
Catatan Rhenald Kasali
SEKALI LAGI ANDA melihat betapa sulitnya UKM Indonesia untuk naik kelas.
Selain sepi dari pembinaan yang membina pun sering kali tidak paham apa
yang harus dilakukan. Kalau Anda tanya kepada pemerintäh jawabannya pasti
mereka telah berbuat sesuatu. Pemerintah telah memberikan fasliltas-
fasilitas untuk ikut pameran, bahkan mungkin teknologí tertentu.
Tetapi mengapa mereka tetap sulit naik kelas? Bukankah mereka telah bekerja
sangat keras? Mereka ulet, tekun, terus mempelajari selera pasar, mendalami
teknik pemasaran, proses pembuatan, dan seterusnya.
Jawabnya adalah, setiap usaha ada DNA-nya. Untuk memulai usaha saja Anda
cukup memiliki a start up DNA. Tetepi untuk membuat perusahaan Anda
menjadi sebuah lokomotif ekonomi yang besar, menjadi sebuah power
house seperti Siemens, Unilever, atau IKEA, Anda membutuhkan DNA manusia
alpha. Segalanya serba alpha, hurut A, the first of everything, the best of
the best.
DNA Manusia Alpha selain terdiri dari manusia-manusia pilihan, berpikirnya
besar, lompatnya besar, dan keberhasilannya juga tidak boleh tanggung-
tanggung. Anda membutuhkan manajemen yäng canggih dengan orang-orang
berkemauan tinggi dan berorientasi pada langkah-langkah besa.
Untuk menjadi besar, UMKM seperti Eman dan perajin tembikar dari Plered
harus sering-saring diajak melihat usaha-usaha besar. Ia juga perlu
disekolahkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa, manajemen, dan
teknologinya. Ia harus bersentuhan dengan pelaku-pelaku usaha besar agar
tertular cara-cara berpikir baru. Pepatah lama mengatakan: the more ÿou
see, the more you do. Tanpa keberanian melihat, manusia akan diam di
tempat dan lambat laun tergerus evolusi.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Saturday, April 13, 2013
Darjat, Mantan Nelayan yang Kini Sukses Lewat Tiga Bengkel Kendaraan dengan Omzet Rp50 Juta/Hari
Darjat, Raja Bengkel di Pelabuhan Ratu
Jalan di Pelabuhan Ratu, Jawa
Barat yang tidak mulus ternyata
mendatangkan berkah bagi pria
ini. Ketiga bengkelnya menguasai
sepanjang jalan di kawasan tepi laut
pantai selatan.
Kisah sukses pria berusia 53 tahun ini bisa
membuat decak kagum. Ayah dari 6 anak
ini memulai usahanya dengan menjadi
nelayan sejak tahun 1970, yang kemudian
berkembang menjadi bisnis pengangkutan ikan
ke Jakarta hingga ke luar negeri. Dari bisnis
ikan inilah dia bisa membangun tiga bengkel
besar, yang kini beroleh omzet Rp 50 juta setiap
harinya.
DARI NELAYAN MENJADI PENGEKSPOR IKAN
Sejak tahun 1970, Darjat sudah menjadi nelayan.
Lalu, dengan modal Rp 1,42 juta dari ayahnya, ia
memulai bisnis ikan dengan membeli dari para
nelayan, kemudian memasarkannya ke Muara
Baru dan Muara Angke di Jakarta. Sejak pukul
05.30 WIB, seusai salat Subuh, setiap harinya
ia berangkat ke pasar ikan untuk membeli ikan
segar yang baru turun dari laut. Selain membeli
dari para nelayan, Darjat sendiri juga memiliki 7
kapal penangkap ikan.
Usahanya ini berkembang pesat, hingga pada
tahun 1982 ia bisa mengirim ikan pindang ke
daerah Bogor. Bahkan, tahun 1985 dia sudah
merambah ekspor ke Cina dan Korea. Pintarnya
lagi, Darjat juga mampu melihat peluang untuk
menjual ikan beku di Pelabuhan Ratu. Jika
mobilnya ke Jakarta mengangkut ikan layur
segar dari Pelabuhan Ratu, dalam perjalanan
kembali dari Jakarta mobil tersebut membawa
ikan tongkol yang sudah dibekukan. Kemudian,
sekitar 600 anak buahnya siap memasarkan
ikan beku tersebut di kawasan sekitar Pelabuhan
Ratu.
Demi mempertahankan kesegaran, ikan dari
pelelangan disusun dan dimasukkan ke dalam
gudang pendinginnya, lalu dibekukan dengan
suhu minus 45 derajat Celcius. Setelah kira-kira
12 jam, ikan tersebut dikemas dalam plastik,
kemudian karton, lalu dipres. Selanjutnya, ikan
beku dalam kemasan tersebut dimasukkan
ke dalam gudang penyimpanan yang bersuhu
minus 20 derajat Celcius. Darjat memiliki dua
gudang berkapasitas 100 ton ikan. Untuk proses
pembekuan ini, dia mempekerjakan sekitar 20 orang.
Bisnis ikan ini pernah mengalami masa surut saat
Darjat hanya mampu mengirim 1 kontainer yang berisi
24 ton ikan dalam setiap satu-dua minggu. Ini terjadi
di tahun 1986-1989. Di waktu normal
ia bisa mengirim 2 kontainer dalam seminggu, bahkan 3
kontainer di masa panen ikan. Setelah mengalami masa surut
itu, Darjat sempat memutuskan untuk beristirahat dari
bisnis ikan. Namun, setahun kemudian ia segera bangkit
kembali. Bahkan Darjat mulai membeli mobil angkutan ikan
sendiri. Jumlahnya pun terus bertambah. Dengan jumlah
armada yang besar, ongkos perawatannya pun tidak sedikit.
Karena seringnya ban mobil menghajar aspal yang kurang
bagus, Darjat harus rutin berurusan dengan penggantian
ban. Dari sinilah muncul ide membuat bengkel sendiri.
BUKAN PENGGEMAR MAYANGSARI
“Tahun 1980 sampai 2000 itu saya punya banyak
kendaraan untuk membawa ikan dari Pelabuhan Ratu
ke Jakarta. Jadi barang sendiri, mobil sendiri. Saya
harus membeli ban di luar Pelabuhan Ratu. Beli apa-apa
di luar. Pikir-pikir, saya buka toko ban saja, lah.
Sekalian jual onderdil. Saya beli dengan harga segini,
untungnya ketahuan. Mendingan buka saja sama istri.
Itu tahun 2001,” tutur Darjat menceritakan ide
mendirikan bengkel yang di berinya nama Mayang Sari itu.
Soal nama perusahaannya, Darjat tidak mengambilnya
dari penyanyi kondang, istri Bambang Trihatmodjo. Nama
tersebut diambil dari nama kapal milik mantan bosnya
yang disingkat MS. Oleh Darjat kemudian dipanjangkan
menjadi Mayang Sari. Semenjak itu, seluruh armada
usahanya dinamai Mayang Sari.
Bengkel pertama Darjat berdiri di Jalan
Batu Sapi, Pelabuhan Ratu, seluas 629 meter
persegi. Dengan modal Rp 300 juta, bengkel itu
menyediakan suku cadang, ban, servis, hingga
cuci mobil, dan steam. Darjat menyerahkan
pengelolaan bengkel tersebut kepada istrinya
yang piawai mengurus manajemen dan keuangan.
Tak dinyana, usaha bengkelnya semakin
maju. Bahkan mereka sanggup memberi jasa
spooring dan balancing yang dilakukan dengan
komputer. Saat itu layanan ini belum tersedia di
bengkel mana pun di Sukabumi.
Kesuksesan bengkel pertama berlanjut dengan
dibukanya bengkel kedua pada tahun 2005.
Usaha bengkel yang berdiri di tanah seluas 546
meter persegi di Jalan Pelabuhan Ratu Jayanti itu
diserahkan kepada anak lelakinya yang sulung.
Jasa layanannya pun sama. Hanya saja, bengkel
ini mengkhususkan layanan untuk kendaraan
berbahan bakar bensin. Untuk mengembangkan
bengkel keduanya, Darjat mendapatkan bantuan
pinjaman dari bank bjb sebesar Rp 500 juta.
Sementara bengkel ketiga baru dibangunnya
pada Maret 2011, juga di Jalan Pelabuhan Ratu
Jayanti. Jasa yang disediakan pun sama, hanya
saja pelayanan servisnya ditujukan untuk mobil
berbahan bakar solar. Dan, hampir semua pemilik
angkutan umum melakukan servis kendaraannya di
bengkel seluas 1.305 meter persegi
Pemisahan pelayanan mobil berdasarkan bahan
bakarnya ini pun cukup menarik. Di bengkel
kedua, hampir 90 persen pelanggannya adalah
pemilik mobil pribadi. Sementara di bengkel
khusus mobil berbahan bakar solar, 50 persen
pelanggannya adalah pemilik mobil angkutan.
Dengan jajaran bengkel di sepanjang jalan
Pelabuhan Ratu ini, Darjat berhasil menggaet
para pemilik mobil di kawasan Sukabumi dan
sekitarnya. Bukan hanya mobil angkutan ikan
milik Darjat, teman-temannya sesama pengusaha
ikan pun membawa mobilnya ke bengkel Darjat.
Untuk ketiga bengkel tersebut, Darjat mempekerjakan
41 orang. Di bengkel pertama ada
i6 orang, bengkel kedua 13 orang, dan bengkel
ketiga 12 orang. Kebanyakan pekerjanya diambil
dari orang sekitar Pelabuhan Ratu, yang
sebelumnya telah dididik untuk mendapatkan
keterampilan standar tentang mobil.
“Kebanyakan untuk bagian cuci mobil, bantu-bantu
bagian sayap, dikerjakan anak sini semua.
Enggak ada yang orang jauh. Untuk
mesin, orang sekitar kan jarang, jadi saya ambil
dari kota yang profesional, yang benar-benar
sudah bagus. Kalau untuk bawahan, roda, dari
orang sini semua. Dididik sama saya. Semuanya
dari sini,” terang Darjat yang mengaku juga
mengetahui sedikit soal mesin.
Pembayaran upah karyawan di pelelangan
ikan dilakukan setiap hrin, sementara untuk
karyawan bengkel dilakukan setiap bulan.
Tanggal pembayarannya tergantung dari tanggal
si karyawan masuk kerja. Kalau mulai kerja
pada tanggal 1, maka gajinya setiap bulan akan
diserahkan setiap tanggal 1. Kalau masuk kerja
mulai tanggal 6, maka digajinya setiap tanggal
6 pula. Namun, urusan gaji karyawan ditangani
langsung oleh sang istri.
Darjat kerap mengumpulkan para karya
wannya seminggu sekali atau maksimal sebulan
sekali untuk diberikan pengarahan. Apalagi
untuk karyawan baru perlu lebih diarahkan.
“Kendalanya ada saja. Namanya juga manusia
pasti ada perbedaannya. Terkadang membuat
saya pusing juga. Kalau di pelelangan malah
lebih susah. Biasanya kalau sudah pusing
ngadepinnya, saya berikan peringatan sampai 3
atau 4 kali. Kalau tidak nurut juga ya terpaksa
saya keluarkan dan ganti yang baru. Itu hanya
untuk yang nakal dan tidak bisa dibilangin,”
tutur Darjat.
BENGKEL TANPA PESANG
Omzetnya yang mencapai Rp 50 hingga Rp
60 juta per hari sebagian besar didapatkan
dari penjualan suku cadang yang diambilnya
dari pemasok di Bandung, Jakarta, dan Bogor.
Namun penjualan oli, cuci mobil dan steam,
spooring dan balancing, ganti ban, hingga
servis juga cukup diminati. Malah, alat spooring
seharga Rp 160 juta bisa dikatakannya tidak
sebanding dengan tarif seharga Rp 85 ribu
yang diberikannya untuk setiap mobil yang di
spooring. Apalagi, pekerja yang bisa melakukan
layanan tersebut harus didatangkan dari luar
Sukabumi. Tetapi, yang penting pelanggan datang
terus, demikian prinsip Darjat. Apalagi,
alat canggih tersebut hanya ada di bengkelnya.
Untuk saat ini Darjat belum tergerak lagi untuk
menggunakan teknologi lain dalam bengkelnya.
Beruntungnya, untuk layanan cuci mobil dan
steam, Darjat tidak perlu keluar biaya untuk
mendapatkan air. Sebab, ia hanya tinggal
mengambil dari jalur mata air Gunung Gayanti yang
mengalir di hadapannya. Untuk layanan cuci
steam ini, rata-rata ketiga bengkel tersebut
melayani loo mobil per hari, dengan tarif Rp
25 ribu per mobil. Selain itu, dia pun tidak
perlu membayar sewa tanah, mengingat ketiga
bengkelnya dibangun di atas tanahnya sendiri.
Dengan mengandalkan pelayanan yang baik
demi memuaskan pelanggan, Darjat tidak perlu
bersusah payah membesarkan bengkelnya.
Promosi otomatis berjalan dan mulut ke mulut.
Selain itu, tidak adanya bengkel besar
di sepanjang Jalan Raya Pelabuhan Ratu juga
sangat menguntungkan usaha bengkelnya.
“Tanpa saingan di Pelabuhan Ratu ini, cuma
sendiri. Makanya saya bikin 3, di sana jual ban,
di sini juga jual ban. Semua isinya ban!” cetusnya
senang.
Hingga saat ini, bengkel pertama adalah
yang paling menguntungkan. Dia menganggap
kesuksesan itu berkat istrinya yang pintar
mengelola keuangan hingga kemudian muncul bengkel
kedua dan ketiga. Meski bengkelnya telah
maju pesat, namun Darjat tidak meninggalkan
usaha ikan yang menjadi penopang awal usaha
bengkelnya. Apalagi menurut dia, usaha ikan
lebih cepat menghasilkan ketimbang bengkel.
Khusus untuk administrasi keuangan, Darjat
memercayakan kepada istrinya. Baik usaha ikan
maupun bengkel, termasuk urusan pembelian
ban hingga suku cadang, semuanya ditangani
sang istri yang dinilai cukup berpengalaman
soal administrasi dan keuangan. Darjat pun
bersyukur karena jiwa usahanya dan istrinya
sama-sama kuat dan sudah menyatu. Bahkan
dirinya terdorong dan termotivasi oleh sang
istri. Meski demikian, ada saja masalah antara
urusan keluarga dengan usaha. Kalau sudah
begini, Darjat dan istri memerlukan waktu
untuk cooling down.
“Pasti ada sajalah, masalahnya. Gara-gara
urusan dagang dibawa ke rumah, kadang bentrok
ya ada saja itu mah. Kalau istri mulai ngomel,
saya ambil mobil; jalan atau makan ke mana.
Saya tinggal saja gitu, menenangkan diri Kalau
saya yang ngoceh, istri saya diam saja di kamar.
Kalau enggak, dia masak atau main dengan
anak. Dia pelampiasannya seperti itu,” ujar
Darjat tersipu. Setelah masing-masing cooling
down, permasalahan yang memicu kejengkelan
hati malah tidak dibahas lagi. Urusan keluarga
dan bisnis pun berjalan normal lagi.
“Karena dengan istri itu saya banyak
keperluan urusan usaha, istri saya juga begitu.
Makanya saya enggak memperpanjang masalah,
cukup sampai situ aja. Kalau sudah sampai
di rumah lagi, ketemu, ya ngomongin bisnis
lagi. Kekurangan ini-itu, ya sudah lupa dengan
masalah yang tadi,” ujar Darjat sambil tertawa
ringan.
MANAJEMEN USAHA
Bisnis ikan dan bisnis bengkel adalah dua hal
yang berbeda. Ketika masa krisis moneter
menghantam Indonesia tahun 1998, Darjat
mengaku malah mendapat berkah. Dengan
ekspor ke Cina dan Korea, dia berhasil
mendapatkan keuntungan Rp 300-500 juta per
harinya. Ikan dibelinya dari nelayan dengan
kisaran harga Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per
kilogram, lalu dijual untuk ekspor dengan harga
Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.
“Sebab waktu itu harga dolar bisa sampai
Rp 13 ribu atau Rp 15 ribu. Benar-benar itu
rezeki nomplok namanya,” ujar Darjat. Selain
mengekspor ikan segar ke Cina dan Korea, Darjat
juga mengimpor ikan olahan dari kedua negara
itu, yang selanjutnya dipasarkan ke Jakarta dan
Pelabuhan Ratu.
Hanya saja, pelan-pelan dia mulai menyerahkan
bisnis ikannya tersebut kepada kedua
orang adiknya. “Sedikit-sedikit sudah dilempar
ke adik-adik saya. Belum loo persen, sih.
Baru sekitar 30 persen, biar berkembang. Biar
dia tahu segala sesuatunya, baru saya lepas.
Mungkin enggak cukup 3,4, atau 5 tahun,” ucap
Darjat. Adiknya mulai dibimbing bagaimana
berbisnis ikan laut, mulai pembelian ikan dari
nelayan hingga dijual ke luar negeri. Selain
membutuhkan waktu cukup lama untuk belajar,
bisnis ikan tetap mernbutuhkan trik-trik di
masa surut. Misalnya saja saat tangkapan ikan
tidak banyak.
Dulu, Darjat memang lebih fokus ke bisnis
ikan. Menurutnya usaha ini murni berasal
dari modal sendiri; punya kapal sendiri, lalu
menangkap ikan dan menjualnya sendiri.
“Penjualan ikan lebih cepat, hari ini dapat ikan,
ya hari ini atau selambatnya besok sudah terjual.
Kalau di bengkel, perputarannya agak lambat.
Perlu waktu 5 atau 6 bulan untuk menjual suku
cadang,” jelasnya.
Karena merasa sudäh capek dan tua,
apalagi dengan tanggungan anak-anak yang
masih kecil—anak tertua kelas 3 SMA dan
termuda kelas 2 SD—Darjat sebenarnya belum
ingin meluaskan usahanya. Namun, bukan
wirausahawan namanya jika tidak melihat
peluang bisnis di depan matanya.
Darjat memiliki dua rencana di dalam
benaknya. Pertama, membuat showroom
mobil bekas, dan yang kedua membuka usaha
alat-alat konstruksi atau alat-alat bangunan
seperti besi-besi kecil sampai baja ukuran besar
untuk bangunan. Alasannya jelas, belum ada
yang memiliki usaha seperti itu di Pelabuhan
Ratu. Darjat ingin segera merealisasikan
penjualan peralatan konstruksi bangunan
karena kebutuhan di tempatnya sangat tinggi.
Sedangkan untuk showroom mobil bekas
diperkirakan agak lama prosesnya karena
kondisi kawasannya masih cukup primitif.
Namun, ia berharap showroom tersebut selesai
pada tahun ini. Di tanah seluas 1 hektar itu akan
dibangun bangunan seluas 836 meter persegi.
“Tanahnya sudah diuruk, sudah difondasi.
Sebetulnya kalau saya tidak ke Tanah Suci
kemarin, showroom ini sudah bisa selesai.
Karena pergi haji, pekerjaan ini ditunda dulu
selama 2 bulan, sekalian saya istirahat di
rumah. Selain itu saya juga sedang membangun
pesantren. Rencananya penyelesaian pesantren
dan showroom dibuat bersamaan. Tapi karena
anak saya ingin pesantrennya cepatjadi—soalnya
santrinya sudah banyak, sudah penuh—jadi saya
bangun pesantren duluan. Setelah pesantren
selesai, insya Allah saya bangun showroom.
Saya bilang sama anak saya targetnya tahun ini
untuk showroom,” papar Darjat.
Untuk bisnis showroom ini, Darjat sudah mengetahui
tempat mendapatkan mobil bekas, berbekal
pengalamannya pernah bekerja dengan
seorang bos yang sukses berbisnis jual beli mobil
bekas tahun 1992. Dia pun sedikit-sedikit tahu,
mengerti, dan sudah mendapat sela-selanya ber
bisnis mobil bekas. “Untung saya pernah punya
banyak bos, dari Cina, Korea, dan Jakarta. Ilmu
ilmu mereka saya ambil, kebanyakan dari bos
yang orang Cina,” tutur Darjat mengisahkan
perjalanan menimba ilmu bisnis berbagai
bidang usaha.
Untuk bisnis showroom ini kelak,
Darjat memperkirakan modal yang harus
dikeluarkan sekitar Rp 1-1,5 miliar. Darjat
berharap modalnya bisa didapat dari bisnis
ikan dan bengkel, tanpa perlu meminjam
lagi ke bank. Namun diakuinya, bisnis
dengan mendapatkan pinjaman dan bank
membuatnya lebih bersemangat ketimbang
modal sendiri.
“Kalau punya utang saya akan hati-hati berusaha.
Harus benar berusaha, memikirkan
punya utang. Tapi kalau enggak punya utang,
agak tenang-tenang gitu di rumah,” kata Darjat.
Namun di balik semua itu, menurutnya uang
bukanlah modal sukses utama. Niat baik dan
doa lebih penting, sementara uang nomor
sekian. “Jadi benar-benar harus dipakai yang
itu,” yakinnya.
Catatan Rhenald Kasali
Di dunia ini selalu kita temui dua jenis nelayan, yaitu nelayan yang
mau berubah dan yang tidak mau berubah. Tentu saja kita juga temui tukang
becak, sopir angkot, pemulung, tukang sate, petambak garam, dan banyak lagi
profasi kerakyatan lainnya yang masuk dalam kedua kategori tadi. Manakah
yang lebih banak?
Anda mungkln sepakat, sabagian besar yang kita temui adalah mereka yang
stagnan, memeluk selimut rasa aman, diam dí tempat, tidak berubah. Malahan
mereka semakin miskin, tua, renta dan tergusur. Mareka sangat
membutuhkan uluran tangan Anda. Kapan? Tentu saja sesegera mungkin.
Dalam buku ini Anda menemukan contoh-contch orang yang kedua yaitu mereka
yang mau barubah, mengubah nasib dari rakyat jelata menjadi kelas menengah
yang mandiri. Namun untuk keluar dari ‘perangkap’ masa lalu itu, seseorang
pertama-tama harus mengubah cara berpikirnya dahulu. Selama cara
berpikirnya sama, maka tindakannya pun akan tetap sama. Dan, dari tindakan
yang sama hasil yang didapat pun pasti tetap sama.
Pertanyaannya, mengapa manusia sulit mengubah cara berpikirnya?
Jawabannya adalah karena otak manusia sangat manipulatif. Seseorang bisa
menjadi ‘korban tipuan’ dari otaknya sendiri. Otak itu dibentuk bukan
oleh kemampuannya sendiri melainkan oleh ‘setting-an’ yang dilakukan
oleh orang-orang yang berada di sekitar dan membentuk diri seseorang. Hasil
tes kecerdasan dan tes bakat adalah setting ilmiah yang manipulatif. Guru
dan orangtua adalah setter yang merasa paling berhak membentuk
anak-anaknya. Sahabat, buku, para role model, dan banyak hal lagi juga
turut membentuk masa depan Anda.
Namun otak juga berinteraksi dengan mereka yang melakukan satting-an. Dan,
Tuhan sesekali membukakan mata Anda melalui ‘pengalaman’. Kalau otak Anda
‘terbuka’, maka la akan mendorong Anda untuk berubah. Dan, berbeloklah
pikiran Anda ke tempat yang lain dan nasib Anda pun berubah.
Maka janganlah menjadi dan menjadikan anak-anak Anda manusia dogmatik dalam
hal apa pun. Buatlah otak Anda tetap terbuka dan siap belajar hal-hal baru.
Maka hidup Andapun akan berubah.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Jalan di Pelabuhan Ratu, Jawa
Barat yang tidak mulus ternyata
mendatangkan berkah bagi pria
ini. Ketiga bengkelnya menguasai
sepanjang jalan di kawasan tepi laut
pantai selatan.
Kisah sukses pria berusia 53 tahun ini bisa
membuat decak kagum. Ayah dari 6 anak
ini memulai usahanya dengan menjadi
nelayan sejak tahun 1970, yang kemudian
berkembang menjadi bisnis pengangkutan ikan
ke Jakarta hingga ke luar negeri. Dari bisnis
ikan inilah dia bisa membangun tiga bengkel
besar, yang kini beroleh omzet Rp 50 juta setiap
harinya.
DARI NELAYAN MENJADI PENGEKSPOR IKAN
Sejak tahun 1970, Darjat sudah menjadi nelayan.
Lalu, dengan modal Rp 1,42 juta dari ayahnya, ia
memulai bisnis ikan dengan membeli dari para
nelayan, kemudian memasarkannya ke Muara
Baru dan Muara Angke di Jakarta. Sejak pukul
05.30 WIB, seusai salat Subuh, setiap harinya
ia berangkat ke pasar ikan untuk membeli ikan
segar yang baru turun dari laut. Selain membeli
dari para nelayan, Darjat sendiri juga memiliki 7
kapal penangkap ikan.
Usahanya ini berkembang pesat, hingga pada
tahun 1982 ia bisa mengirim ikan pindang ke
daerah Bogor. Bahkan, tahun 1985 dia sudah
merambah ekspor ke Cina dan Korea. Pintarnya
lagi, Darjat juga mampu melihat peluang untuk
menjual ikan beku di Pelabuhan Ratu. Jika
mobilnya ke Jakarta mengangkut ikan layur
segar dari Pelabuhan Ratu, dalam perjalanan
kembali dari Jakarta mobil tersebut membawa
ikan tongkol yang sudah dibekukan. Kemudian,
sekitar 600 anak buahnya siap memasarkan
ikan beku tersebut di kawasan sekitar Pelabuhan
Ratu.
Demi mempertahankan kesegaran, ikan dari
pelelangan disusun dan dimasukkan ke dalam
gudang pendinginnya, lalu dibekukan dengan
suhu minus 45 derajat Celcius. Setelah kira-kira
12 jam, ikan tersebut dikemas dalam plastik,
kemudian karton, lalu dipres. Selanjutnya, ikan
beku dalam kemasan tersebut dimasukkan
ke dalam gudang penyimpanan yang bersuhu
minus 20 derajat Celcius. Darjat memiliki dua
gudang berkapasitas 100 ton ikan. Untuk proses
pembekuan ini, dia mempekerjakan sekitar 20 orang.
Bisnis ikan ini pernah mengalami masa surut saat
Darjat hanya mampu mengirim 1 kontainer yang berisi
24 ton ikan dalam setiap satu-dua minggu. Ini terjadi
di tahun 1986-1989. Di waktu normal
ia bisa mengirim 2 kontainer dalam seminggu, bahkan 3
kontainer di masa panen ikan. Setelah mengalami masa surut
itu, Darjat sempat memutuskan untuk beristirahat dari
bisnis ikan. Namun, setahun kemudian ia segera bangkit
kembali. Bahkan Darjat mulai membeli mobil angkutan ikan
sendiri. Jumlahnya pun terus bertambah. Dengan jumlah
armada yang besar, ongkos perawatannya pun tidak sedikit.
Karena seringnya ban mobil menghajar aspal yang kurang
bagus, Darjat harus rutin berurusan dengan penggantian
ban. Dari sinilah muncul ide membuat bengkel sendiri.
BUKAN PENGGEMAR MAYANGSARI
“Tahun 1980 sampai 2000 itu saya punya banyak
kendaraan untuk membawa ikan dari Pelabuhan Ratu
ke Jakarta. Jadi barang sendiri, mobil sendiri. Saya
harus membeli ban di luar Pelabuhan Ratu. Beli apa-apa
di luar. Pikir-pikir, saya buka toko ban saja, lah.
Sekalian jual onderdil. Saya beli dengan harga segini,
untungnya ketahuan. Mendingan buka saja sama istri.
Itu tahun 2001,” tutur Darjat menceritakan ide
mendirikan bengkel yang di berinya nama Mayang Sari itu.
Soal nama perusahaannya, Darjat tidak mengambilnya
dari penyanyi kondang, istri Bambang Trihatmodjo. Nama
tersebut diambil dari nama kapal milik mantan bosnya
yang disingkat MS. Oleh Darjat kemudian dipanjangkan
menjadi Mayang Sari. Semenjak itu, seluruh armada
usahanya dinamai Mayang Sari.
Bengkel pertama Darjat berdiri di Jalan
Batu Sapi, Pelabuhan Ratu, seluas 629 meter
persegi. Dengan modal Rp 300 juta, bengkel itu
menyediakan suku cadang, ban, servis, hingga
cuci mobil, dan steam. Darjat menyerahkan
pengelolaan bengkel tersebut kepada istrinya
yang piawai mengurus manajemen dan keuangan.
Tak dinyana, usaha bengkelnya semakin
maju. Bahkan mereka sanggup memberi jasa
spooring dan balancing yang dilakukan dengan
komputer. Saat itu layanan ini belum tersedia di
bengkel mana pun di Sukabumi.
Kesuksesan bengkel pertama berlanjut dengan
dibukanya bengkel kedua pada tahun 2005.
Usaha bengkel yang berdiri di tanah seluas 546
meter persegi di Jalan Pelabuhan Ratu Jayanti itu
diserahkan kepada anak lelakinya yang sulung.
Jasa layanannya pun sama. Hanya saja, bengkel
ini mengkhususkan layanan untuk kendaraan
berbahan bakar bensin. Untuk mengembangkan
bengkel keduanya, Darjat mendapatkan bantuan
pinjaman dari bank bjb sebesar Rp 500 juta.
Sementara bengkel ketiga baru dibangunnya
pada Maret 2011, juga di Jalan Pelabuhan Ratu
Jayanti. Jasa yang disediakan pun sama, hanya
saja pelayanan servisnya ditujukan untuk mobil
berbahan bakar solar. Dan, hampir semua pemilik
angkutan umum melakukan servis kendaraannya di
bengkel seluas 1.305 meter persegi
Pemisahan pelayanan mobil berdasarkan bahan
bakarnya ini pun cukup menarik. Di bengkel
kedua, hampir 90 persen pelanggannya adalah
pemilik mobil pribadi. Sementara di bengkel
khusus mobil berbahan bakar solar, 50 persen
pelanggannya adalah pemilik mobil angkutan.
Dengan jajaran bengkel di sepanjang jalan
Pelabuhan Ratu ini, Darjat berhasil menggaet
para pemilik mobil di kawasan Sukabumi dan
sekitarnya. Bukan hanya mobil angkutan ikan
milik Darjat, teman-temannya sesama pengusaha
ikan pun membawa mobilnya ke bengkel Darjat.
Untuk ketiga bengkel tersebut, Darjat mempekerjakan
41 orang. Di bengkel pertama ada
i6 orang, bengkel kedua 13 orang, dan bengkel
ketiga 12 orang. Kebanyakan pekerjanya diambil
dari orang sekitar Pelabuhan Ratu, yang
sebelumnya telah dididik untuk mendapatkan
keterampilan standar tentang mobil.
“Kebanyakan untuk bagian cuci mobil, bantu-bantu
bagian sayap, dikerjakan anak sini semua.
Enggak ada yang orang jauh. Untuk
mesin, orang sekitar kan jarang, jadi saya ambil
dari kota yang profesional, yang benar-benar
sudah bagus. Kalau untuk bawahan, roda, dari
orang sini semua. Dididik sama saya. Semuanya
dari sini,” terang Darjat yang mengaku juga
mengetahui sedikit soal mesin.
Pembayaran upah karyawan di pelelangan
ikan dilakukan setiap hrin, sementara untuk
karyawan bengkel dilakukan setiap bulan.
Tanggal pembayarannya tergantung dari tanggal
si karyawan masuk kerja. Kalau mulai kerja
pada tanggal 1, maka gajinya setiap bulan akan
diserahkan setiap tanggal 1. Kalau masuk kerja
mulai tanggal 6, maka digajinya setiap tanggal
6 pula. Namun, urusan gaji karyawan ditangani
langsung oleh sang istri.
Darjat kerap mengumpulkan para karya
wannya seminggu sekali atau maksimal sebulan
sekali untuk diberikan pengarahan. Apalagi
untuk karyawan baru perlu lebih diarahkan.
“Kendalanya ada saja. Namanya juga manusia
pasti ada perbedaannya. Terkadang membuat
saya pusing juga. Kalau di pelelangan malah
lebih susah. Biasanya kalau sudah pusing
ngadepinnya, saya berikan peringatan sampai 3
atau 4 kali. Kalau tidak nurut juga ya terpaksa
saya keluarkan dan ganti yang baru. Itu hanya
untuk yang nakal dan tidak bisa dibilangin,”
tutur Darjat.
BENGKEL TANPA PESANG
Omzetnya yang mencapai Rp 50 hingga Rp
60 juta per hari sebagian besar didapatkan
dari penjualan suku cadang yang diambilnya
dari pemasok di Bandung, Jakarta, dan Bogor.
Namun penjualan oli, cuci mobil dan steam,
spooring dan balancing, ganti ban, hingga
servis juga cukup diminati. Malah, alat spooring
seharga Rp 160 juta bisa dikatakannya tidak
sebanding dengan tarif seharga Rp 85 ribu
yang diberikannya untuk setiap mobil yang di
spooring. Apalagi, pekerja yang bisa melakukan
layanan tersebut harus didatangkan dari luar
Sukabumi. Tetapi, yang penting pelanggan datang
terus, demikian prinsip Darjat. Apalagi,
alat canggih tersebut hanya ada di bengkelnya.
Untuk saat ini Darjat belum tergerak lagi untuk
menggunakan teknologi lain dalam bengkelnya.
Beruntungnya, untuk layanan cuci mobil dan
steam, Darjat tidak perlu keluar biaya untuk
mendapatkan air. Sebab, ia hanya tinggal
mengambil dari jalur mata air Gunung Gayanti yang
mengalir di hadapannya. Untuk layanan cuci
steam ini, rata-rata ketiga bengkel tersebut
melayani loo mobil per hari, dengan tarif Rp
25 ribu per mobil. Selain itu, dia pun tidak
perlu membayar sewa tanah, mengingat ketiga
bengkelnya dibangun di atas tanahnya sendiri.
Dengan mengandalkan pelayanan yang baik
demi memuaskan pelanggan, Darjat tidak perlu
bersusah payah membesarkan bengkelnya.
Promosi otomatis berjalan dan mulut ke mulut.
Selain itu, tidak adanya bengkel besar
di sepanjang Jalan Raya Pelabuhan Ratu juga
sangat menguntungkan usaha bengkelnya.
“Tanpa saingan di Pelabuhan Ratu ini, cuma
sendiri. Makanya saya bikin 3, di sana jual ban,
di sini juga jual ban. Semua isinya ban!” cetusnya
senang.
Hingga saat ini, bengkel pertama adalah
yang paling menguntungkan. Dia menganggap
kesuksesan itu berkat istrinya yang pintar
mengelola keuangan hingga kemudian muncul bengkel
kedua dan ketiga. Meski bengkelnya telah
maju pesat, namun Darjat tidak meninggalkan
usaha ikan yang menjadi penopang awal usaha
bengkelnya. Apalagi menurut dia, usaha ikan
lebih cepat menghasilkan ketimbang bengkel.
Khusus untuk administrasi keuangan, Darjat
memercayakan kepada istrinya. Baik usaha ikan
maupun bengkel, termasuk urusan pembelian
ban hingga suku cadang, semuanya ditangani
sang istri yang dinilai cukup berpengalaman
soal administrasi dan keuangan. Darjat pun
bersyukur karena jiwa usahanya dan istrinya
sama-sama kuat dan sudah menyatu. Bahkan
dirinya terdorong dan termotivasi oleh sang
istri. Meski demikian, ada saja masalah antara
urusan keluarga dengan usaha. Kalau sudah
begini, Darjat dan istri memerlukan waktu
untuk cooling down.
“Pasti ada sajalah, masalahnya. Gara-gara
urusan dagang dibawa ke rumah, kadang bentrok
ya ada saja itu mah. Kalau istri mulai ngomel,
saya ambil mobil; jalan atau makan ke mana.
Saya tinggal saja gitu, menenangkan diri Kalau
saya yang ngoceh, istri saya diam saja di kamar.
Kalau enggak, dia masak atau main dengan
anak. Dia pelampiasannya seperti itu,” ujar
Darjat tersipu. Setelah masing-masing cooling
down, permasalahan yang memicu kejengkelan
hati malah tidak dibahas lagi. Urusan keluarga
dan bisnis pun berjalan normal lagi.
“Karena dengan istri itu saya banyak
keperluan urusan usaha, istri saya juga begitu.
Makanya saya enggak memperpanjang masalah,
cukup sampai situ aja. Kalau sudah sampai
di rumah lagi, ketemu, ya ngomongin bisnis
lagi. Kekurangan ini-itu, ya sudah lupa dengan
masalah yang tadi,” ujar Darjat sambil tertawa
ringan.
MANAJEMEN USAHA
Bisnis ikan dan bisnis bengkel adalah dua hal
yang berbeda. Ketika masa krisis moneter
menghantam Indonesia tahun 1998, Darjat
mengaku malah mendapat berkah. Dengan
ekspor ke Cina dan Korea, dia berhasil
mendapatkan keuntungan Rp 300-500 juta per
harinya. Ikan dibelinya dari nelayan dengan
kisaran harga Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per
kilogram, lalu dijual untuk ekspor dengan harga
Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.
“Sebab waktu itu harga dolar bisa sampai
Rp 13 ribu atau Rp 15 ribu. Benar-benar itu
rezeki nomplok namanya,” ujar Darjat. Selain
mengekspor ikan segar ke Cina dan Korea, Darjat
juga mengimpor ikan olahan dari kedua negara
itu, yang selanjutnya dipasarkan ke Jakarta dan
Pelabuhan Ratu.
Hanya saja, pelan-pelan dia mulai menyerahkan
bisnis ikannya tersebut kepada kedua
orang adiknya. “Sedikit-sedikit sudah dilempar
ke adik-adik saya. Belum loo persen, sih.
Baru sekitar 30 persen, biar berkembang. Biar
dia tahu segala sesuatunya, baru saya lepas.
Mungkin enggak cukup 3,4, atau 5 tahun,” ucap
Darjat. Adiknya mulai dibimbing bagaimana
berbisnis ikan laut, mulai pembelian ikan dari
nelayan hingga dijual ke luar negeri. Selain
membutuhkan waktu cukup lama untuk belajar,
bisnis ikan tetap mernbutuhkan trik-trik di
masa surut. Misalnya saja saat tangkapan ikan
tidak banyak.
Dulu, Darjat memang lebih fokus ke bisnis
ikan. Menurutnya usaha ini murni berasal
dari modal sendiri; punya kapal sendiri, lalu
menangkap ikan dan menjualnya sendiri.
“Penjualan ikan lebih cepat, hari ini dapat ikan,
ya hari ini atau selambatnya besok sudah terjual.
Kalau di bengkel, perputarannya agak lambat.
Perlu waktu 5 atau 6 bulan untuk menjual suku
cadang,” jelasnya.
Karena merasa sudäh capek dan tua,
apalagi dengan tanggungan anak-anak yang
masih kecil—anak tertua kelas 3 SMA dan
termuda kelas 2 SD—Darjat sebenarnya belum
ingin meluaskan usahanya. Namun, bukan
wirausahawan namanya jika tidak melihat
peluang bisnis di depan matanya.
Darjat memiliki dua rencana di dalam
benaknya. Pertama, membuat showroom
mobil bekas, dan yang kedua membuka usaha
alat-alat konstruksi atau alat-alat bangunan
seperti besi-besi kecil sampai baja ukuran besar
untuk bangunan. Alasannya jelas, belum ada
yang memiliki usaha seperti itu di Pelabuhan
Ratu. Darjat ingin segera merealisasikan
penjualan peralatan konstruksi bangunan
karena kebutuhan di tempatnya sangat tinggi.
Sedangkan untuk showroom mobil bekas
diperkirakan agak lama prosesnya karena
kondisi kawasannya masih cukup primitif.
Namun, ia berharap showroom tersebut selesai
pada tahun ini. Di tanah seluas 1 hektar itu akan
dibangun bangunan seluas 836 meter persegi.
“Tanahnya sudah diuruk, sudah difondasi.
Sebetulnya kalau saya tidak ke Tanah Suci
kemarin, showroom ini sudah bisa selesai.
Karena pergi haji, pekerjaan ini ditunda dulu
selama 2 bulan, sekalian saya istirahat di
rumah. Selain itu saya juga sedang membangun
pesantren. Rencananya penyelesaian pesantren
dan showroom dibuat bersamaan. Tapi karena
anak saya ingin pesantrennya cepatjadi—soalnya
santrinya sudah banyak, sudah penuh—jadi saya
bangun pesantren duluan. Setelah pesantren
selesai, insya Allah saya bangun showroom.
Saya bilang sama anak saya targetnya tahun ini
untuk showroom,” papar Darjat.
Untuk bisnis showroom ini, Darjat sudah mengetahui
tempat mendapatkan mobil bekas, berbekal
pengalamannya pernah bekerja dengan
seorang bos yang sukses berbisnis jual beli mobil
bekas tahun 1992. Dia pun sedikit-sedikit tahu,
mengerti, dan sudah mendapat sela-selanya ber
bisnis mobil bekas. “Untung saya pernah punya
banyak bos, dari Cina, Korea, dan Jakarta. Ilmu
ilmu mereka saya ambil, kebanyakan dari bos
yang orang Cina,” tutur Darjat mengisahkan
perjalanan menimba ilmu bisnis berbagai
bidang usaha.
Untuk bisnis showroom ini kelak,
Darjat memperkirakan modal yang harus
dikeluarkan sekitar Rp 1-1,5 miliar. Darjat
berharap modalnya bisa didapat dari bisnis
ikan dan bengkel, tanpa perlu meminjam
lagi ke bank. Namun diakuinya, bisnis
dengan mendapatkan pinjaman dan bank
membuatnya lebih bersemangat ketimbang
modal sendiri.
“Kalau punya utang saya akan hati-hati berusaha.
Harus benar berusaha, memikirkan
punya utang. Tapi kalau enggak punya utang,
agak tenang-tenang gitu di rumah,” kata Darjat.
Namun di balik semua itu, menurutnya uang
bukanlah modal sukses utama. Niat baik dan
doa lebih penting, sementara uang nomor
sekian. “Jadi benar-benar harus dipakai yang
itu,” yakinnya.
Catatan Rhenald Kasali
Di dunia ini selalu kita temui dua jenis nelayan, yaitu nelayan yang
mau berubah dan yang tidak mau berubah. Tentu saja kita juga temui tukang
becak, sopir angkot, pemulung, tukang sate, petambak garam, dan banyak lagi
profasi kerakyatan lainnya yang masuk dalam kedua kategori tadi. Manakah
yang lebih banak?
Anda mungkln sepakat, sabagian besar yang kita temui adalah mereka yang
stagnan, memeluk selimut rasa aman, diam dí tempat, tidak berubah. Malahan
mereka semakin miskin, tua, renta dan tergusur. Mareka sangat
membutuhkan uluran tangan Anda. Kapan? Tentu saja sesegera mungkin.
Dalam buku ini Anda menemukan contoh-contch orang yang kedua yaitu mereka
yang mau barubah, mengubah nasib dari rakyat jelata menjadi kelas menengah
yang mandiri. Namun untuk keluar dari ‘perangkap’ masa lalu itu, seseorang
pertama-tama harus mengubah cara berpikirnya dahulu. Selama cara
berpikirnya sama, maka tindakannya pun akan tetap sama. Dan, dari tindakan
yang sama hasil yang didapat pun pasti tetap sama.
Pertanyaannya, mengapa manusia sulit mengubah cara berpikirnya?
Jawabannya adalah karena otak manusia sangat manipulatif. Seseorang bisa
menjadi ‘korban tipuan’ dari otaknya sendiri. Otak itu dibentuk bukan
oleh kemampuannya sendiri melainkan oleh ‘setting-an’ yang dilakukan
oleh orang-orang yang berada di sekitar dan membentuk diri seseorang. Hasil
tes kecerdasan dan tes bakat adalah setting ilmiah yang manipulatif. Guru
dan orangtua adalah setter yang merasa paling berhak membentuk
anak-anaknya. Sahabat, buku, para role model, dan banyak hal lagi juga
turut membentuk masa depan Anda.
Namun otak juga berinteraksi dengan mereka yang melakukan satting-an. Dan,
Tuhan sesekali membukakan mata Anda melalui ‘pengalaman’. Kalau otak Anda
‘terbuka’, maka la akan mendorong Anda untuk berubah. Dan, berbeloklah
pikiran Anda ke tempat yang lain dan nasib Anda pun berubah.
Maka janganlah menjadi dan menjadikan anak-anak Anda manusia dogmatik dalam
hal apa pun. Buatlah otak Anda tetap terbuka dan siap belajar hal-hal baru.
Maka hidup Andapun akan berubah.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Carsim Cahyadi, Bermodal Awal 600 Ribu Kini Sukses Raup Omzet Miliaran dari Bisnis Kuliner Tape Ketan
Carsim Cahyadi, Tarikolot Punya Ketan, Kuningan Punya Nama
Meskipun Kabupaten Kuningan, Jawa
Barat dikenai sebagai penyedia oleh-o1eh
Tape ketan, namun produksi penganan
itu sendiri berasal dari jerih payah para
pembuat tape ketan di Desa Tarikolot
dan Cibeureum. Carsim Cahyadi adaläh
salah satunya. Mimpinya sangat besar
suatu hari kelak Kuningan akan menjadi
gudang tape ketan untuk Indonesia.
Siapa tak kenal tape ketan? Penganan ini
sangat dikenal di Indonesia bahkan di kawasan Asia Tenggara.
Masyarakat di kawasan ini sudah lama mengonsumsi makanan khas
berbahan beras ketan atau beras pulut. Dibuat
melalui proses fermentasi atau peragian, tape
ketan dihidangkan pada hari besar keagamaan
atau hajatan.
Dan segi volume dan pasar, tape ketan merupakan
jenis tape terbanyak yang diproduksi
masyarakat. Di sejumlah daerah di Sumatera
penganan ini dikenal dengan nama tape pulut.
Dengan rasa manis keasaman, lembek, berair,
dan memiliki tekstur yang lengket, tape ketan
merupakan makanan yang mengandung alkohol.
Dilihat bahan dasarnya, ada dua jenis tape
ketan, yakni tape ketan putih dan tape ketan hitam.
Di Kuningan, Jawa Barat—khususnya di Desa
Tarikolot dan Cibereum— tape ketan tampil sedikit
berbeda. Jika di daerah lain dibungkus
atau dikemas dengan daun pisang, maka
tape ketan yang dihasilkan oleh kedua desa
tersebut dikemas dengan daun jambu air. Di
samping bahan tambahan seperti daun katuk,
penggunaan jambu air sebagai bungkus inilah
yang membuat tape ketan Kuningan tampil berbeda.
Biasanya setiap menjelang atau pasca lebaran,
banyak orang dari luar Kuningan menyempatkan diri
datang ke Tarikolot dan Cibeureum untuk membeli
tape ketan. Pada umumnya mereka adalah penduduk Bandung
dan Jakarta yang sedang melakukan perjalanan
ke Cirebon, Kuningan, atau Majalengka. Hal ini
memang didukung oleh letak geografis Kuningan
yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Barat
dan Jawa Tengah.
Di Tarikolot dan Cibereum, orang-orang
dari berbagai kota itu rela mengantre panjang
untuk mendapatkan tape ketan yang
akan dibawa sebagai oleh-oleh. Sementara
penduduk Kuningan sangat membanggakan
tape ketan sebagai oleh-oleh kebanggaan
ketika bepergian ke daerah lain. Salah satu
pembuat tape ketan di Tarikolot yang banyak
didatangi orang ialah Tape Ketan “Sari Asih”
milik Danasih.
METAMORFOSA LELAKI PERENUNG
Meskipun “tradisi” membuat tape ketan di Tarikolot
dan Cibeureum sudah berlangsung lama,
para pembuatnya belum memandang penganan
ini sebagai komoditas yang menguntungkan.
Sejumlah pembuat tape ketan memperkirakan
usaha pembuatan tape ketan di Tarikolot dan
Cibeureum untuk kepentingan komersial baru
dimulai pada dekade 1980-an. Demikian pula
dengan Danasih. Justru tetangganya, Carsim
Cahyadi —seorang pedagang keliling perkakas
rumah tangga yang sempat berganti pekerjaan
menjadi karyawan perusahaan kontraktor di
Jakarta— yang memperhatikan fenomena ini.
Setiap pulang mudik, terutama menjelang
Lebaran, Carsim selalu menyaksikan pemandangan
yang menarik di kampungnya. Orang-
orang dari berbagai kota rela mengantre panjang
di depan rumah Danasih untuk membawa pulang
buah tangan berupa tape ketan. Carsim kerap
diminta membantu Danasih yang kewalahan
menghadapi permintaan konsumen. Tetapi setelah
Lebaran pikirannya selalu diganggu oleh
pertanyaan, apakah tape ketan ini juga bisa laku
di luar waktu Lebaran sehingga bisa menjadi
usaha yang menguntungkan.
Carsim mulai berpikir untuk mengembangkan
pembuatan tape ketan ini. Pikirnya saat itu,
tape ketan akan sulit berkembang jika hanya
menunggu datangnya ‘musim’ Lebaran. Hidung
bisnisnya yang terlatih saat menjadi pedagang
keliling pun kemudian mengendus peluang.
“Deretan mobil yang antre di depan rumah
Bu Danasih menginspirasi saya untuk
melakukan pemasaran tape ketan secara aktif.
Saat itu muncul pikiran untuk menjemput bola,”
kata Carsim. Carsim yang merasa tak betah
hidup di Jakarta akhirnya membuat keputusan
bulat: Pulang kembali ke Tarikolot. Ia bertekad
ingin menjadikan pembuatan tape ketan sebagai
usaha yang lebih maju.
Kembali ke Tarikolot tahun 1996, setahun
menjelang terjadinya krisis keuangan yang
berkembang menjadi multikrisis di Indonesia,
Carsim langsung membuka usaha rumahan tape
ketan. Modalnya hanya uang Rp 600 ribu yang
digunakan untuk membeli bahan dasar dan
peralatan seadanya.
Carsim pun melakukan survei ke kota
Kuningan lalu Cirebon. Ia langsung memutuskan
untuk memasarkan tape ketan produk
Tarikolot di salah satu sudut kota Kuningan.
Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan,
dipilih sebagai lokasinya. Tetapi kenyataan
yang dihadapi lelaki bersahaja ini jauh dari
impiannya. Usaha perdananya kandas. Saat
itu masyarakat belum memandang tape ketan
sebagai penganan harian. Mereka lebih
memperlakukannya sebagai oleh-oleh. Itu pun,
mereka tetap memilih datang langsung ke Tarikolot
atau Cibeureum.
Kondisi yang buruk itu berlangsung selama
empat tahun. Pada tahun keempat Carsim
mulai digerogoti perasaan putus asa. Padahal
ayah dua anak itu sudah berusaha memberikan
kemudahan bagi siapa pun yang ingin menjalani
usaha ini, yakni dengan sistem konsinyasi.
“Terus terang, empat tahun membabat hutan
sendirian seperti itu membuat saya lebih banyak
menangis daripada tertawa. Barang enggak laku.
Mau dibawa pulang malu. Alšhirnya hanya saya
bagi-bagikan saja ke tukang becak,” kenang Carsim.
“Waktu itu saya sudah putus asa. Inginnya lari
meninggalkan usaha ini,” tuturnya menambahkan.
Meski putus asa dan sempat berpikir menghentikan
usaha, Carsim masih memiliki pikiran
positif. Boleh jadi empat tahun ini ia mengalami
kegagalan. Tetapi, mungkin akan datang sesuatu
yang berbeda pada tahun kelima usahanya.
Suatu hari Carsim bertemu kenalannya yang
bekerja sebagai pegawai negeri di Kuningan. Setelah
menceritakan pengalaman dan impiannya,
kenalan tersebut menawarkan tempat di sekitar
Bundaran Cijoho untuk dipinjamkan. Carsim tak
mau membuang waktu. Tawaran tersebut langsung
disambar dan keesokannya dia langsung
melakukan pemasaran lagi. Peristiwa yang
tak terlupakan itu terjadi pada tahun kelima
usahanya.
Ternyata benar, tahun 2000 itu merupakan
langkah awal terlihatnya tanda-tanda keberhasilan.
Di lokasi yang baru itu tape ketannya
mulai laku. Dia mengakui bahwa faktor tempatlah
yang membuat tape ketannya mulai laku.
Setelah berjualan di tempat yang dipinjamkan
kenalannya, sebagian orang mulai tertarik untuk
datang dan membeli. Mulai banyak orang yang
mendengar mengenai usaha Carsim dan tertarik
untuk datang. Setelah mencicipi enaknya tape
ketan Carsim, banyak orang menjadi pelanggan.
Sejak saat itu promosi dari mulut ke mulut pun
berlangsung dengan sendirinya.
“Tempat baru itu membuat saya punya sarana
promosi gratis. Saya mulai dengan menata dagangan
secara menarik. Kalau dagang di pinggir
jalan kan susah menata dagangan jadi menarik.
Papan nama usaha Tape Ketan ‘Pamela’ yang
saya pajang di luar juga gampang dibaca orang
dan membuat orang tertarik untuk datang,” urai
Carsim.
U5AHA YANG MULAI BERKEMBANG
Dari segi volume, produksi tape ketannya terus
meningkat dan habis diserap pasar. Ketika
usahanya sudah mulai lancar, setiap harinya
dia membutuhkan 20 kg heras ketan. Dalam
hitungan bulan naik menjadi 50 kg dan kemudian
menjadi loo kg per hari. “Kalau menjelang Lebaran
biasanya meningkat antara empat sampai
enam kuintal per hari. Berapa persen ya?” tuturnya lugu.
Pada tahun 2000-an Carsim menjual tape ketan
buatannya dengan harga Rp 15 ribu per 100 bungkus.
Saat itu Carsim mengemas produknya
dalam ember plastik warna hitam dan dilabeli merek
Pamela. Kini Carsim menjual dengan harga Rp 45 ribu per
ember berisi 100 bungkus. Sebagai catatan, nama Pamela
adalah hasil penggabungan nama panggilan kedua anak
nya, Fajar (ii tahun)—yang sehari-hari dipanggil Pajar—
dan Mela (17 tahun). Kedua anaknya ini merupakan buah
perkawinannya dengan Rusti Cahyadi (41 tahun) yang ber
profesi sebagai guru SD. Keberhasilan Carsim langsung
menjadi buah bibir warga Tarikolot. Hal inilah yang
akhirnya membuat Carsim mendapatkan tawaran kerja
sama oleh Danasih. Ketika itu Danasih sedang mendapatkan
banyak pesanan, tetapi ia tidak mampu
meningkatkan produksi tape ketannya. Agar
dapat memenuhi permintaan tersebut, Danasih
menawarkan kerja sama pada Carsim dalam
bidang produksi. Demi mengembangkan usahanya,
Carsim pun menerima tawaran tersebut.
Kerja sama keduanya memberikan hasil yang
baik. Carsim mampu memenuhi kekurangan
produksi usaha Danasih, sehingga permintaan
pasar yang meningkat menjelang Lebaran dapat
terpenuhi. Keberhasilan mereka mendorong
para tetangga melakukan hal yang sama. Satu
per satu warga desa Tarikolot mengikuti jejak
Carsim dan Danasih: serius menekuni usaha
pembuatan tape ketan.
Keberhasilan Carsim juga terendus oleh
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional) setempat. Lembaga yang terkenal
pada zaman Orde Baru sebagai pengendali
populasi penduduk melalui berbagai program
pendampingan ini memiliki UPPKS (Usaha
Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).
BKKBN Kuningan berusaha merangkul warga
Tarikolot dengan memasukkan mereka keprogram
UPPKS dan memberikan bantuan
modal serta berbagai pelatihan, termasuk pada
usaha yang digeluti Carsim.
Uniknya, setelah berhasil dipasarkan secara
intensif di Kuningan, tape ketan yang dikemas
dengan daun jambu air ini kemudian lebih
dikenal sebagai oleh-oleh khas dari Kuningan,
bukan dari Tarikolot dan Cibeureum. Maka,
berlakulah peribahasa ‘kerbau punya susu, (te
tapi) sapi (yang) punya nama’. Tarikolot yang
mengembangkan, Kuningan yang dapat nama.
PELOPOR DAN WIRAUSAHAWAN DESA
Menurut sejumlah tetangganya, Carsim bukan
sekadar pembuat tape yang gigih. Pada dirinya
tumbuh dan berkembang jiwa wirausaha. Semangat
untuk maju pun tinggi. Ketika produksi
tape ketannya meningkat, lelaki yang memiliki
hobi menyendiri dan merenung di alam bebas
ini langsung menyadari sejumlah kelemahan
yang melekat pada usahanya, yakni pada proses
pembuatan.
“Terutama menyangkut urusan cuci beras.
Untuk jumlah yang sudah mencapai ratusan
kilogram, kami tak sanggup lagi melakukannya
secara manual,” tutur Carsim. Lalu, pucuk
dicinta ulam tiba. Suatu hari kawan Carsim
menawari mesin pengaduk bahan snack yang
tak lagi digunakan karena sudah berganti usaha.
Tanpa pikir panjang Carsim pun langsung
menyambarnya.
Setelah mencoba mengotak-atik, Carsim
menemukan ide untuk “menyulap” alat tersebut menjadi
mesin pencuci beras. Meski digunakan bukan untuk
fungsi yang semestinya, mesin tersebut dapat
dioperasikan dengan mudah, sehingga tidak
diperlukan waktu lama untuk membuat karyawannya
memahami cara menggunakannya.
Tak lama kemudian langkah tersebut segera diikuti
para tetangganya. Hingga kini para pembuat tape
di Tarikolot dan Cibeureum hanya menggunakan
mesin untuk mencuci beras ketan. Sedangkan proses
produksi tape ketan secara umum masih dilakukan
secara manual, demi menjaga rasa
khas dan kualitas makanan. Selain berkembang
menjadi sosok yang senang melakukan
inovasi, Carsim juga menjadi
model dalam hal mengelola usaha. Hal itu terlihat
ketika Carsim dan Danasih memasarkan produknya dengan
sistem keagenan. Tak berapa lama, agen-agen tape ketan
Tarikolot dan Cibeureum pun
tersebar di Kuningan dan Cirebon. “Bagaimanapun kultur
warga desa ini adalah kultur petani. Mengajak petani
untuk berubah itu mudah kalau tahu
caranya. Beri mereka contoh melalui keberhasilan.
Tak perlu disuruh-suruh atau diajari mereka pasti akan
ikut,” tutur Carsim.
Kepeloporan Carsim dalam menjalani industri rumahan
tape ketan berskala kecil dan menengah ini berlanjut.
Kini ia melakukan inovasi terhadap rasa dan kualitas.
Menurut Carsim, inovasi rasa sangat penting bagi
masyarakat perkotaan yang akan menjadi sasaran
pemasaran mereka.
Carsim yang pernah tinggal di Jakarta memahami bahwa
selera orang kota terhadap rasa telah dibentuk oleh pasar.
Dan, pasar kuliner perkotaan terutama di kalangan orang muda,
telah mengalami kemajuan yang pesat dalam
hal variasi rasa. Carsim kini berusaha menciptakan variasi
pada rasa ketan yang selama ini dikenal memiliki rasa
manis keasaman.
“Sekarang kan semua makanan dan minuman
orang kota dibikin banyak rasa. Tape ketan pun
punya peluang untuk tampil dalam banyak rasa.
Misalnya stroberi, cokelat, vanila, dan lain-lain,”
kata Carsim.
Setelah berhasil menemukan cara pemasaran
dan mencuci heras yang efektif, Carsim kini
tengah melakukan inovasi dalam hal kemasan.
Lelaki ini tengah berusaha keras memperoleh
pengganti daun jambu air. Pasalnya, para
pembuat tape ketan semakin kesulitan memperoleh daun
jambu air, terutama saat musim kemarau.
“Mungkin ada dua langkah yang bisa di
tempuh dan mudah-mudahan sama-sama menguntungkan.
Saya ingin mengajak masyarakat
Lebih banyak lagi membudidayakan pohon jambu
air. Cara lain mungkin mencari pengganti daun
jambu air,” ujarnya menyampaikan pikirannya.
BERSAING SEKALIGUS BERTETANGGA
Dari sisi kualitas Carsim menyadari bahwa mutu
penganan asal Tarikolot ini masih bisa di
tingkatkan lebih jauh, terutama menyangkut
keawetan alami, kebersihan, sanitasi, dan tampilannya.
“Masyarakat kota adalah masyarakat
yang sadar akan kebersihan, kesehatan, juga
kemasan. Saya sering melihat soal kemasan ini
menjadi hal yang sangat penting di dunia usaha
makanan jadi,” katanya.
Selain bahan dasar berupa beras ketan, produk tape
ketan Tarikolot dan Cibereum menggunakan bahan
tambahan yang serba alami.
Misalnya, daun katuk yang digunakan sebagai
pewarna dan daun jambu sebagai pembungkus
sekaligus pencipta aroma. Bahan-bahan tersebut
membuat tape ketan Tarikolot tak gampang berair, selain
tampilannya yang hiiau muda dengan aroma alami.
Sebagai salah satu pelopor usaha pembuatan dan
pemasaran tape ketan, Carsim juga tampil di barisan
depan dalam menghadapi persaingan. Dia selalu berusaha
membangun ikiim usaha yang sehat. Lelaki ini mengaku
sampai saat ini dia belum pernah mengalami konflik
dengan produsen tape lainnya. “Meskipun bersaing, kami ini
kan hidup sekampung, saling bertetangga. Tak ada
manfaatnya membawa pulang persaingan ke kampung. Kami
masih tetap selalu menjaga silaturahmi,” kata Carsim.
Carsim mengaku tidak segan membuka rahasia dalam
menjaga kualitas produknya. Ia tak pernah khawatir kalau
para pembuat tape mengikuti langkahnya. Sebab, Carsim
sadar bahwa dirinya tak pernah berhenti melakukan inovasi,
sementara para pembuat tape lainnya lebih banyak menunggu
hasil inovasi orang lain lalu mengikutinya.
Jiwa kepeloporan Carsim juga tampak dalam memperlakukan
karyawannya. Sebagai warga Kuningan yang sangat memahami
kultur sosial Sunda yang halus, Carsim berusaha memperlakukan
karyawan dan semua pihak yang menjalin hubungan kerja
dengannya secara manusiawi. Bahkan hubungan tersebut telah
dia lakukan sejak Pamela baru memiliki dua orang karyawan.
Semua karyawannya berasal dari satu desa yang sama
dengan Carsim. Dalam melakukan penerimaan
karyawan baru, Carsim tidak mensyaratkan
seleksi khusus. “Syaratnya cuma satu, mau
bekerja membuat tape,” Carsim menjelaskan
sambil tertawa.
Kini, ketika Pamela telah memiliki 35 karyawan pun
Carsim menyatakan belum pernah
sekalipun menghadapi konflik. “Kalaupun ada
yang keluar, lebih karena ada urusan lain seperti
ganti pekerjaan atau karena akan merintis usaha
sendiri,” jelasnya.
Lelaki yang ramah ini mengaku bahwa hal
yang paling membanggakan sebagai pelaku
usaha ialah ketika melihat karyawannya berhasil
membangun usaha pembuatan tape ketan
sendiri. “Saya merasa bahagia kalau ada bekas
karyawan Pamela berhasil membangun usaha
sendiri dan sukses,” katanya.
Masih terkait perkara karyawan, Carsim juga
dikenal sebagai pemberi upah yang baik. Upah
yang diterima karyawan Pamela berada di atas
UMR resmi setempat, yaitu Rp 30 ribu per hari,
ditambah makan, bonus bulanan, dan THR.
Pada hari-hari tertentu Pamela juga mengajak
karyawan dan keluarganya melakukan wisata
bersama.
INGIN MENGUASAI PASAR NDONESIA
Pada tahun 2004, setelah Pamela berkembang
semakin stabil, Carsim mengajukan permohonan
pinjaman modal ke bank bjb. Saat itu
bank bjb belum memiliki produk kredit mikro
sehingga yang ditawarkan adalah pinjaman
modal melalui melalui Program Peduli Jabar.
Jumlah modal yang pertama kali dipinjam
Carsim sebesar Rp lo juta dan lunas dalam
waktu singkat. Pelunasan pinjaman tersebut
dilakukan dengan cara membayarkan bunga
pinjaman sekaligus pokoknya setiap bulan.
Setelah lunas, pinjaman Carsim meningkat jadi
Rp 20 juta.
Selanjutnya melalui Program Pinjaman Umum,
Carsim meningkatkan lagi pinjamannya menjadi
dua kali lipat lebih, yakni Rp 50 juta, lalu Rp
200 juta. “Bagi saya, program pinjaman modal dari
bank bjb seperti itu adalah cara yang
bagus untuk membina UKM,” tuturnya. Namun, sejak 2011
ini Pamela tidak mengajukan pinjaman modal ke bank lagi
karena sudah memiliki modal sendiri dari hasil usahanya
selama ini. Sikap yang diambil Carsim
sangat masuk akal. Carsim telah
‘naik kelas’ dan mandiri. Saat ini omzet penjualan
yang diperoleh Pamela telah
mencapai Rp 240 juta per bulan atau Rp 2,88 miliar per tahun.
Dari omzet sebesar itu Pamela mampu meraih keuntungan
bersih antara Rp 280 juta hingga Rp 300 juta per tahun.
Hingga tahun 2011, Carsim terhitung telah bergelut dengan
usaha pembuatan tape ketan selama 15 tahun. Omzet dan
keuntungan yang diperolehnya jelas terhitung besar untuk
ukuran UKM yang berlokasi di desa. Namun, Carsim mengaku
tak ingin bersantai-santai. Dia bertekad akan terus melakukan
upaya agar makanan tape ketan bisa tampil sesuai tuntutan
zaman. “Saya ingin tape ketan tampil seperti makanan modern
tapi tetap dengan cita rasa daerah yang eksotis,” katanya.
Untuk itulah Carsim membangun Pamela menjadi usaha yang
lebih modern. Sebagai mantan karyawan perusahaan kontraktor
di Jakarta, dia ingin usahanya menjadi lebih baik di bidang
kebersihan, inovasi rasa, kemasan, serta kualitas. “Saya merasa
bersyukur memiliki istri yang bekerja sebagai guru. Dukungannya
untuk mendorong karyawan meningkatkan kebersihan dan menjaga
kualitas besar sekali. Juga dalam hal tertib administrasi,”
kata Carsim menyinggung peran istrinya.
Kini, ditambah pelajaran yang dia peroleh selama menjadi
debitur bank bjb, Carsim terus mengembangkan Pamela
menjadi usaha yang maju dari segi manajemen. Namun dia
mengaku belum berani mengambil tenaga profesional. “Sebagai usaha
rumahan di desa kayaknya belum terlalu perlu mengambil tenaga
profesional. Kami belum kuat bayarnya, lagian kami masih bisa
menangani sendiri,” ujarnya bersahaja.
Demikian pula dalam hal pemasaran. Sistem keagenan
yang dirintis Carsim dianggap masih sesuai untuk Pamela.
Pada awalnya Carsim memang mencari rekanan yang mau
menjadi agen Pamela. Namun, seiring dengan perkembangan usaha,
banyak orang yang justru datang menawarkan
kerja sama menjadi agen.
Sistem keagenan dilakukannya dengan sistem
retail sederhana: Carsim memberikan harga
retail yang lebih murah bagi para agen. Kemudian
masing-masing agen akan menjual dengan harga
yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan.
Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti
dari sistem keagenan tersebut. “Para agenlah
yang bergerak melakukan promosi. Kami lebih
banyak mengurusi produksi,” kata Carsim seraya
mengatakan bahwa di pasar tape ketan, para agen
telah melakukan berbagai cara pemasaran mulai
dari cara konvensional hingga modern, termasuk
memanfaatkan teknologi internet.
“Saat ini saya akan berkonsentrasi di sisi
hulu karena masih banyak yang perlu kami
benahi,” katanya. Kalau sisi hulu sudah bagus,
tambahnya, dia baru akan bergerak di sisi hilir.
Carsim juga masih mempunyai satu mimpi
besar sebagai wirausahawan. Dia ingin
mengajak masyarakat Kuningan membuat tape
ketan tersedia di berbagai kota di Indonesia.
Namun ada kendala besar yang menghadang,
yaitu jarak dan waktu. Tape ketan merupakan
penganan yang tidak tahan lama. “Paling lama
hanya mampu bertahan selama satu minggu,”
ujarnya. Karenanya daerah tujuan pemasaran
Carsim saat ini masih menyasar seputar
Bandung dan Jakarta. Jika Carsim berhasil
menaklukkan Bandung dan Jakarta, maka kota
sasaran Carsim selanjutnya adalah kota-kota di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kelemahan tape ketan yang tidak tahan lama
tersebut memang bukan penghalang bagi Carsim
untuk mewujudkan impiannya memasarkan
tape ketan ke seluruh Indonesia. Saat ini Carsim
sedang memikirkan cara untuk memodifikasi
tape ketan agar bisa menjadi penganan yang
lebih tahan lama. Salah satu cara yang sedang
dipikirkan Carsim adalah kemungkinan
membuat tape ketan menjadi bahan tambahan
kue atau penganan lain. Tetapi, Carsim ingin
penganan modifikasi tersebut tetap memiliki
unsur ciri khas daerah Kuningan, sehingga pada
akhirnya Kuningan dapat memproduksi tape
ketan yang bisa dinikmati sampai ke pelosok
Indonesia.
“Kalau 15 tahun yang lalu kami warga
Tarikolot berhasil membuat tape ketan menjadi
makanan oleh-oleh dari Kuningan. Kami yakin
ke depan, Kuningan bisa menjadi pemasok
tape ketan untuk kebutuhan tape di seluruh
Indonesia,” tutur Carsim.
Catatan Rhenald Kasali
SALAH SATU ciri khas usaba kecil di Jawa Barat adalah kerumunan. Tukang
Tape singkong (tape gantung) di Purwakarta, mainan berbentük buah-buahan di
Cianjur, gerabah di plered, colenak di Pasar Lembang, sepatu di
Cibaduyut, usaba bordir di Tasik, dodol di Garut, tahu di Sumedang. genteng
di Jatiwangi dan seterusnya.
Satu orang berhasil, yang lain mengíkuti. Mereka saling meiengkapi dan
berbagi. Seperti sebuah keluarga besar, mereka tidak hanya bersaing
melainkan menjadi magnet besar ýang menarik pembeli dan wisatawan. Pasar
oleh-olah tetab menjadi ciri yang penting dalam UMKM di Jawa Sarat.
Mehjadí magnet berti menciptakan kumpulan. Anda pun bisa melakukannya
dengan menjadikan produk sebagai milik bersama. Tentu, butuh beberapa
waktu untuk menarik kerumunan. Tetapi setiap keberhasilan
selalu mengundang kebersamaan. Dalam kebersamaan itu, mereka bisa sama-sama
memperbesar pasar karena konsumen senang hadir dalam kerumunan. Dalam
kerumunan itu ada variasi, warna dan selera. Dan itu tidak
selalu berarti kompetisi yang buruk karena pelanggan senang berada dalam
variasi itu.
Maka pilihkanlah apa yang akan dilakukan bila Anda harus berada dalam
suatu kerumunan. Pertama, bersikap bijak dalam diri dengan menyadari
bahwa setiap keberhasilan selalu mengundang kerumunan. Dalam sekejap
usaba Anda akan drtiru oleh tetangga-tetangga Anda. Kedua selalu ciptakan
keunggulan yaitu apa yang menjadi kelebihan Anda dibandingkan para
Pangekor. Hanya menjadi yang pertama, yang “asli’ atau “original’ saja
Tidak menjadikan Anda unggul dan diminati. Unggul berarti “lebih”,
seperti lebih bersih, lebih enak, lebib melayani, lebih
bervariasi lebih cepat, lebih bagus leblh harum, lebih kreatif,
lebih unik dan seterusnya.
Ketiga; ambil manfaat dari suatu kerumunan, Suatu kerumunan adalah magnet
untuk mendapatkan segala macam sumberdaya dan pengetahuan. Di sanalah
berkumpul SDM dengan keterampilan tertentu yang diwariskan
secara alamiah dari satu generasi kegenerasi berikutnya yang tinggal Anda
poles dan buat lebih kreatif. Di sana juga berkumpul informasi bahan
baku pengetahuan, dan pemasok-pemasok penting. Anda tinggal mengambil atau
memanggil mereka maka semua akan datang. Untuk menciptakan keunggulan,
dapatkan kombinasi-kombinasi sumberdaya yang unik.
Keempat, berikanlah sesuatu kembali kepada komunitas Anda, agar komunitas
dapat meneruskan keberlangsungannya dalam jangka panjang. Ingatlah Anda
meminjam semuanya dari generasi penerus Anda. Jadi Anda
pun wajib mengembalikannya.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Meskipun Kabupaten Kuningan, Jawa
Barat dikenai sebagai penyedia oleh-o1eh
Tape ketan, namun produksi penganan
itu sendiri berasal dari jerih payah para
pembuat tape ketan di Desa Tarikolot
dan Cibeureum. Carsim Cahyadi adaläh
salah satunya. Mimpinya sangat besar
suatu hari kelak Kuningan akan menjadi
gudang tape ketan untuk Indonesia.
Siapa tak kenal tape ketan? Penganan ini
sangat dikenal di Indonesia bahkan di kawasan Asia Tenggara.
Masyarakat di kawasan ini sudah lama mengonsumsi makanan khas
berbahan beras ketan atau beras pulut. Dibuat
melalui proses fermentasi atau peragian, tape
ketan dihidangkan pada hari besar keagamaan
atau hajatan.
Dan segi volume dan pasar, tape ketan merupakan
jenis tape terbanyak yang diproduksi
masyarakat. Di sejumlah daerah di Sumatera
penganan ini dikenal dengan nama tape pulut.
Dengan rasa manis keasaman, lembek, berair,
dan memiliki tekstur yang lengket, tape ketan
merupakan makanan yang mengandung alkohol.
Dilihat bahan dasarnya, ada dua jenis tape
ketan, yakni tape ketan putih dan tape ketan hitam.
Di Kuningan, Jawa Barat—khususnya di Desa
Tarikolot dan Cibereum— tape ketan tampil sedikit
berbeda. Jika di daerah lain dibungkus
atau dikemas dengan daun pisang, maka
tape ketan yang dihasilkan oleh kedua desa
tersebut dikemas dengan daun jambu air. Di
samping bahan tambahan seperti daun katuk,
penggunaan jambu air sebagai bungkus inilah
yang membuat tape ketan Kuningan tampil berbeda.
Biasanya setiap menjelang atau pasca lebaran,
banyak orang dari luar Kuningan menyempatkan diri
datang ke Tarikolot dan Cibeureum untuk membeli
tape ketan. Pada umumnya mereka adalah penduduk Bandung
dan Jakarta yang sedang melakukan perjalanan
ke Cirebon, Kuningan, atau Majalengka. Hal ini
memang didukung oleh letak geografis Kuningan
yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Barat
dan Jawa Tengah.
Di Tarikolot dan Cibereum, orang-orang
dari berbagai kota itu rela mengantre panjang
untuk mendapatkan tape ketan yang
akan dibawa sebagai oleh-oleh. Sementara
penduduk Kuningan sangat membanggakan
tape ketan sebagai oleh-oleh kebanggaan
ketika bepergian ke daerah lain. Salah satu
pembuat tape ketan di Tarikolot yang banyak
didatangi orang ialah Tape Ketan “Sari Asih”
milik Danasih.
METAMORFOSA LELAKI PERENUNG
Meskipun “tradisi” membuat tape ketan di Tarikolot
dan Cibeureum sudah berlangsung lama,
para pembuatnya belum memandang penganan
ini sebagai komoditas yang menguntungkan.
Sejumlah pembuat tape ketan memperkirakan
usaha pembuatan tape ketan di Tarikolot dan
Cibeureum untuk kepentingan komersial baru
dimulai pada dekade 1980-an. Demikian pula
dengan Danasih. Justru tetangganya, Carsim
Cahyadi —seorang pedagang keliling perkakas
rumah tangga yang sempat berganti pekerjaan
menjadi karyawan perusahaan kontraktor di
Jakarta— yang memperhatikan fenomena ini.
Setiap pulang mudik, terutama menjelang
Lebaran, Carsim selalu menyaksikan pemandangan
yang menarik di kampungnya. Orang-
orang dari berbagai kota rela mengantre panjang
di depan rumah Danasih untuk membawa pulang
buah tangan berupa tape ketan. Carsim kerap
diminta membantu Danasih yang kewalahan
menghadapi permintaan konsumen. Tetapi setelah
Lebaran pikirannya selalu diganggu oleh
pertanyaan, apakah tape ketan ini juga bisa laku
di luar waktu Lebaran sehingga bisa menjadi
usaha yang menguntungkan.
Carsim mulai berpikir untuk mengembangkan
pembuatan tape ketan ini. Pikirnya saat itu,
tape ketan akan sulit berkembang jika hanya
menunggu datangnya ‘musim’ Lebaran. Hidung
bisnisnya yang terlatih saat menjadi pedagang
keliling pun kemudian mengendus peluang.
“Deretan mobil yang antre di depan rumah
Bu Danasih menginspirasi saya untuk
melakukan pemasaran tape ketan secara aktif.
Saat itu muncul pikiran untuk menjemput bola,”
kata Carsim. Carsim yang merasa tak betah
hidup di Jakarta akhirnya membuat keputusan
bulat: Pulang kembali ke Tarikolot. Ia bertekad
ingin menjadikan pembuatan tape ketan sebagai
usaha yang lebih maju.
Kembali ke Tarikolot tahun 1996, setahun
menjelang terjadinya krisis keuangan yang
berkembang menjadi multikrisis di Indonesia,
Carsim langsung membuka usaha rumahan tape
ketan. Modalnya hanya uang Rp 600 ribu yang
digunakan untuk membeli bahan dasar dan
peralatan seadanya.
Carsim pun melakukan survei ke kota
Kuningan lalu Cirebon. Ia langsung memutuskan
untuk memasarkan tape ketan produk
Tarikolot di salah satu sudut kota Kuningan.
Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan,
dipilih sebagai lokasinya. Tetapi kenyataan
yang dihadapi lelaki bersahaja ini jauh dari
impiannya. Usaha perdananya kandas. Saat
itu masyarakat belum memandang tape ketan
sebagai penganan harian. Mereka lebih
memperlakukannya sebagai oleh-oleh. Itu pun,
mereka tetap memilih datang langsung ke Tarikolot
atau Cibeureum.
Kondisi yang buruk itu berlangsung selama
empat tahun. Pada tahun keempat Carsim
mulai digerogoti perasaan putus asa. Padahal
ayah dua anak itu sudah berusaha memberikan
kemudahan bagi siapa pun yang ingin menjalani
usaha ini, yakni dengan sistem konsinyasi.
“Terus terang, empat tahun membabat hutan
sendirian seperti itu membuat saya lebih banyak
menangis daripada tertawa. Barang enggak laku.
Mau dibawa pulang malu. Alšhirnya hanya saya
bagi-bagikan saja ke tukang becak,” kenang Carsim.
“Waktu itu saya sudah putus asa. Inginnya lari
meninggalkan usaha ini,” tuturnya menambahkan.
Meski putus asa dan sempat berpikir menghentikan
usaha, Carsim masih memiliki pikiran
positif. Boleh jadi empat tahun ini ia mengalami
kegagalan. Tetapi, mungkin akan datang sesuatu
yang berbeda pada tahun kelima usahanya.
Suatu hari Carsim bertemu kenalannya yang
bekerja sebagai pegawai negeri di Kuningan. Setelah
menceritakan pengalaman dan impiannya,
kenalan tersebut menawarkan tempat di sekitar
Bundaran Cijoho untuk dipinjamkan. Carsim tak
mau membuang waktu. Tawaran tersebut langsung
disambar dan keesokannya dia langsung
melakukan pemasaran lagi. Peristiwa yang
tak terlupakan itu terjadi pada tahun kelima
usahanya.
Ternyata benar, tahun 2000 itu merupakan
langkah awal terlihatnya tanda-tanda keberhasilan.
Di lokasi yang baru itu tape ketannya
mulai laku. Dia mengakui bahwa faktor tempatlah
yang membuat tape ketannya mulai laku.
Setelah berjualan di tempat yang dipinjamkan
kenalannya, sebagian orang mulai tertarik untuk
datang dan membeli. Mulai banyak orang yang
mendengar mengenai usaha Carsim dan tertarik
untuk datang. Setelah mencicipi enaknya tape
ketan Carsim, banyak orang menjadi pelanggan.
Sejak saat itu promosi dari mulut ke mulut pun
berlangsung dengan sendirinya.
“Tempat baru itu membuat saya punya sarana
promosi gratis. Saya mulai dengan menata dagangan
secara menarik. Kalau dagang di pinggir
jalan kan susah menata dagangan jadi menarik.
Papan nama usaha Tape Ketan ‘Pamela’ yang
saya pajang di luar juga gampang dibaca orang
dan membuat orang tertarik untuk datang,” urai
Carsim.
U5AHA YANG MULAI BERKEMBANG
Dari segi volume, produksi tape ketannya terus
meningkat dan habis diserap pasar. Ketika
usahanya sudah mulai lancar, setiap harinya
dia membutuhkan 20 kg heras ketan. Dalam
hitungan bulan naik menjadi 50 kg dan kemudian
menjadi loo kg per hari. “Kalau menjelang Lebaran
biasanya meningkat antara empat sampai
enam kuintal per hari. Berapa persen ya?” tuturnya lugu.
Pada tahun 2000-an Carsim menjual tape ketan
buatannya dengan harga Rp 15 ribu per 100 bungkus.
Saat itu Carsim mengemas produknya
dalam ember plastik warna hitam dan dilabeli merek
Pamela. Kini Carsim menjual dengan harga Rp 45 ribu per
ember berisi 100 bungkus. Sebagai catatan, nama Pamela
adalah hasil penggabungan nama panggilan kedua anak
nya, Fajar (ii tahun)—yang sehari-hari dipanggil Pajar—
dan Mela (17 tahun). Kedua anaknya ini merupakan buah
perkawinannya dengan Rusti Cahyadi (41 tahun) yang ber
profesi sebagai guru SD. Keberhasilan Carsim langsung
menjadi buah bibir warga Tarikolot. Hal inilah yang
akhirnya membuat Carsim mendapatkan tawaran kerja
sama oleh Danasih. Ketika itu Danasih sedang mendapatkan
banyak pesanan, tetapi ia tidak mampu
meningkatkan produksi tape ketannya. Agar
dapat memenuhi permintaan tersebut, Danasih
menawarkan kerja sama pada Carsim dalam
bidang produksi. Demi mengembangkan usahanya,
Carsim pun menerima tawaran tersebut.
Kerja sama keduanya memberikan hasil yang
baik. Carsim mampu memenuhi kekurangan
produksi usaha Danasih, sehingga permintaan
pasar yang meningkat menjelang Lebaran dapat
terpenuhi. Keberhasilan mereka mendorong
para tetangga melakukan hal yang sama. Satu
per satu warga desa Tarikolot mengikuti jejak
Carsim dan Danasih: serius menekuni usaha
pembuatan tape ketan.
Keberhasilan Carsim juga terendus oleh
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional) setempat. Lembaga yang terkenal
pada zaman Orde Baru sebagai pengendali
populasi penduduk melalui berbagai program
pendampingan ini memiliki UPPKS (Usaha
Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).
BKKBN Kuningan berusaha merangkul warga
Tarikolot dengan memasukkan mereka keprogram
UPPKS dan memberikan bantuan
modal serta berbagai pelatihan, termasuk pada
usaha yang digeluti Carsim.
Uniknya, setelah berhasil dipasarkan secara
intensif di Kuningan, tape ketan yang dikemas
dengan daun jambu air ini kemudian lebih
dikenal sebagai oleh-oleh khas dari Kuningan,
bukan dari Tarikolot dan Cibeureum. Maka,
berlakulah peribahasa ‘kerbau punya susu, (te
tapi) sapi (yang) punya nama’. Tarikolot yang
mengembangkan, Kuningan yang dapat nama.
PELOPOR DAN WIRAUSAHAWAN DESA
Menurut sejumlah tetangganya, Carsim bukan
sekadar pembuat tape yang gigih. Pada dirinya
tumbuh dan berkembang jiwa wirausaha. Semangat
untuk maju pun tinggi. Ketika produksi
tape ketannya meningkat, lelaki yang memiliki
hobi menyendiri dan merenung di alam bebas
ini langsung menyadari sejumlah kelemahan
yang melekat pada usahanya, yakni pada proses
pembuatan.
“Terutama menyangkut urusan cuci beras.
Untuk jumlah yang sudah mencapai ratusan
kilogram, kami tak sanggup lagi melakukannya
secara manual,” tutur Carsim. Lalu, pucuk
dicinta ulam tiba. Suatu hari kawan Carsim
menawari mesin pengaduk bahan snack yang
tak lagi digunakan karena sudah berganti usaha.
Tanpa pikir panjang Carsim pun langsung
menyambarnya.
Setelah mencoba mengotak-atik, Carsim
menemukan ide untuk “menyulap” alat tersebut menjadi
mesin pencuci beras. Meski digunakan bukan untuk
fungsi yang semestinya, mesin tersebut dapat
dioperasikan dengan mudah, sehingga tidak
diperlukan waktu lama untuk membuat karyawannya
memahami cara menggunakannya.
Tak lama kemudian langkah tersebut segera diikuti
para tetangganya. Hingga kini para pembuat tape
di Tarikolot dan Cibeureum hanya menggunakan
mesin untuk mencuci beras ketan. Sedangkan proses
produksi tape ketan secara umum masih dilakukan
secara manual, demi menjaga rasa
khas dan kualitas makanan. Selain berkembang
menjadi sosok yang senang melakukan
inovasi, Carsim juga menjadi
model dalam hal mengelola usaha. Hal itu terlihat
ketika Carsim dan Danasih memasarkan produknya dengan
sistem keagenan. Tak berapa lama, agen-agen tape ketan
Tarikolot dan Cibeureum pun
tersebar di Kuningan dan Cirebon. “Bagaimanapun kultur
warga desa ini adalah kultur petani. Mengajak petani
untuk berubah itu mudah kalau tahu
caranya. Beri mereka contoh melalui keberhasilan.
Tak perlu disuruh-suruh atau diajari mereka pasti akan
ikut,” tutur Carsim.
Kepeloporan Carsim dalam menjalani industri rumahan
tape ketan berskala kecil dan menengah ini berlanjut.
Kini ia melakukan inovasi terhadap rasa dan kualitas.
Menurut Carsim, inovasi rasa sangat penting bagi
masyarakat perkotaan yang akan menjadi sasaran
pemasaran mereka.
Carsim yang pernah tinggal di Jakarta memahami bahwa
selera orang kota terhadap rasa telah dibentuk oleh pasar.
Dan, pasar kuliner perkotaan terutama di kalangan orang muda,
telah mengalami kemajuan yang pesat dalam
hal variasi rasa. Carsim kini berusaha menciptakan variasi
pada rasa ketan yang selama ini dikenal memiliki rasa
manis keasaman.
“Sekarang kan semua makanan dan minuman
orang kota dibikin banyak rasa. Tape ketan pun
punya peluang untuk tampil dalam banyak rasa.
Misalnya stroberi, cokelat, vanila, dan lain-lain,”
kata Carsim.
Setelah berhasil menemukan cara pemasaran
dan mencuci heras yang efektif, Carsim kini
tengah melakukan inovasi dalam hal kemasan.
Lelaki ini tengah berusaha keras memperoleh
pengganti daun jambu air. Pasalnya, para
pembuat tape ketan semakin kesulitan memperoleh daun
jambu air, terutama saat musim kemarau.
“Mungkin ada dua langkah yang bisa di
tempuh dan mudah-mudahan sama-sama menguntungkan.
Saya ingin mengajak masyarakat
Lebih banyak lagi membudidayakan pohon jambu
air. Cara lain mungkin mencari pengganti daun
jambu air,” ujarnya menyampaikan pikirannya.
BERSAING SEKALIGUS BERTETANGGA
Dari sisi kualitas Carsim menyadari bahwa mutu
penganan asal Tarikolot ini masih bisa di
tingkatkan lebih jauh, terutama menyangkut
keawetan alami, kebersihan, sanitasi, dan tampilannya.
“Masyarakat kota adalah masyarakat
yang sadar akan kebersihan, kesehatan, juga
kemasan. Saya sering melihat soal kemasan ini
menjadi hal yang sangat penting di dunia usaha
makanan jadi,” katanya.
Selain bahan dasar berupa beras ketan, produk tape
ketan Tarikolot dan Cibereum menggunakan bahan
tambahan yang serba alami.
Misalnya, daun katuk yang digunakan sebagai
pewarna dan daun jambu sebagai pembungkus
sekaligus pencipta aroma. Bahan-bahan tersebut
membuat tape ketan Tarikolot tak gampang berair, selain
tampilannya yang hiiau muda dengan aroma alami.
Sebagai salah satu pelopor usaha pembuatan dan
pemasaran tape ketan, Carsim juga tampil di barisan
depan dalam menghadapi persaingan. Dia selalu berusaha
membangun ikiim usaha yang sehat. Lelaki ini mengaku
sampai saat ini dia belum pernah mengalami konflik
dengan produsen tape lainnya. “Meskipun bersaing, kami ini
kan hidup sekampung, saling bertetangga. Tak ada
manfaatnya membawa pulang persaingan ke kampung. Kami
masih tetap selalu menjaga silaturahmi,” kata Carsim.
Carsim mengaku tidak segan membuka rahasia dalam
menjaga kualitas produknya. Ia tak pernah khawatir kalau
para pembuat tape mengikuti langkahnya. Sebab, Carsim
sadar bahwa dirinya tak pernah berhenti melakukan inovasi,
sementara para pembuat tape lainnya lebih banyak menunggu
hasil inovasi orang lain lalu mengikutinya.
Jiwa kepeloporan Carsim juga tampak dalam memperlakukan
karyawannya. Sebagai warga Kuningan yang sangat memahami
kultur sosial Sunda yang halus, Carsim berusaha memperlakukan
karyawan dan semua pihak yang menjalin hubungan kerja
dengannya secara manusiawi. Bahkan hubungan tersebut telah
dia lakukan sejak Pamela baru memiliki dua orang karyawan.
Semua karyawannya berasal dari satu desa yang sama
dengan Carsim. Dalam melakukan penerimaan
karyawan baru, Carsim tidak mensyaratkan
seleksi khusus. “Syaratnya cuma satu, mau
bekerja membuat tape,” Carsim menjelaskan
sambil tertawa.
Kini, ketika Pamela telah memiliki 35 karyawan pun
Carsim menyatakan belum pernah
sekalipun menghadapi konflik. “Kalaupun ada
yang keluar, lebih karena ada urusan lain seperti
ganti pekerjaan atau karena akan merintis usaha
sendiri,” jelasnya.
Lelaki yang ramah ini mengaku bahwa hal
yang paling membanggakan sebagai pelaku
usaha ialah ketika melihat karyawannya berhasil
membangun usaha pembuatan tape ketan
sendiri. “Saya merasa bahagia kalau ada bekas
karyawan Pamela berhasil membangun usaha
sendiri dan sukses,” katanya.
Masih terkait perkara karyawan, Carsim juga
dikenal sebagai pemberi upah yang baik. Upah
yang diterima karyawan Pamela berada di atas
UMR resmi setempat, yaitu Rp 30 ribu per hari,
ditambah makan, bonus bulanan, dan THR.
Pada hari-hari tertentu Pamela juga mengajak
karyawan dan keluarganya melakukan wisata
bersama.
INGIN MENGUASAI PASAR NDONESIA
Pada tahun 2004, setelah Pamela berkembang
semakin stabil, Carsim mengajukan permohonan
pinjaman modal ke bank bjb. Saat itu
bank bjb belum memiliki produk kredit mikro
sehingga yang ditawarkan adalah pinjaman
modal melalui melalui Program Peduli Jabar.
Jumlah modal yang pertama kali dipinjam
Carsim sebesar Rp lo juta dan lunas dalam
waktu singkat. Pelunasan pinjaman tersebut
dilakukan dengan cara membayarkan bunga
pinjaman sekaligus pokoknya setiap bulan.
Setelah lunas, pinjaman Carsim meningkat jadi
Rp 20 juta.
Selanjutnya melalui Program Pinjaman Umum,
Carsim meningkatkan lagi pinjamannya menjadi
dua kali lipat lebih, yakni Rp 50 juta, lalu Rp
200 juta. “Bagi saya, program pinjaman modal dari
bank bjb seperti itu adalah cara yang
bagus untuk membina UKM,” tuturnya. Namun, sejak 2011
ini Pamela tidak mengajukan pinjaman modal ke bank lagi
karena sudah memiliki modal sendiri dari hasil usahanya
selama ini. Sikap yang diambil Carsim
sangat masuk akal. Carsim telah
‘naik kelas’ dan mandiri. Saat ini omzet penjualan
yang diperoleh Pamela telah
mencapai Rp 240 juta per bulan atau Rp 2,88 miliar per tahun.
Dari omzet sebesar itu Pamela mampu meraih keuntungan
bersih antara Rp 280 juta hingga Rp 300 juta per tahun.
Hingga tahun 2011, Carsim terhitung telah bergelut dengan
usaha pembuatan tape ketan selama 15 tahun. Omzet dan
keuntungan yang diperolehnya jelas terhitung besar untuk
ukuran UKM yang berlokasi di desa. Namun, Carsim mengaku
tak ingin bersantai-santai. Dia bertekad akan terus melakukan
upaya agar makanan tape ketan bisa tampil sesuai tuntutan
zaman. “Saya ingin tape ketan tampil seperti makanan modern
tapi tetap dengan cita rasa daerah yang eksotis,” katanya.
Untuk itulah Carsim membangun Pamela menjadi usaha yang
lebih modern. Sebagai mantan karyawan perusahaan kontraktor
di Jakarta, dia ingin usahanya menjadi lebih baik di bidang
kebersihan, inovasi rasa, kemasan, serta kualitas. “Saya merasa
bersyukur memiliki istri yang bekerja sebagai guru. Dukungannya
untuk mendorong karyawan meningkatkan kebersihan dan menjaga
kualitas besar sekali. Juga dalam hal tertib administrasi,”
kata Carsim menyinggung peran istrinya.
Kini, ditambah pelajaran yang dia peroleh selama menjadi
debitur bank bjb, Carsim terus mengembangkan Pamela
menjadi usaha yang maju dari segi manajemen. Namun dia
mengaku belum berani mengambil tenaga profesional. “Sebagai usaha
rumahan di desa kayaknya belum terlalu perlu mengambil tenaga
profesional. Kami belum kuat bayarnya, lagian kami masih bisa
menangani sendiri,” ujarnya bersahaja.
Demikian pula dalam hal pemasaran. Sistem keagenan
yang dirintis Carsim dianggap masih sesuai untuk Pamela.
Pada awalnya Carsim memang mencari rekanan yang mau
menjadi agen Pamela. Namun, seiring dengan perkembangan usaha,
banyak orang yang justru datang menawarkan
kerja sama menjadi agen.
Sistem keagenan dilakukannya dengan sistem
retail sederhana: Carsim memberikan harga
retail yang lebih murah bagi para agen. Kemudian
masing-masing agen akan menjual dengan harga
yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan.
Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti
dari sistem keagenan tersebut. “Para agenlah
yang bergerak melakukan promosi. Kami lebih
banyak mengurusi produksi,” kata Carsim seraya
mengatakan bahwa di pasar tape ketan, para agen
telah melakukan berbagai cara pemasaran mulai
dari cara konvensional hingga modern, termasuk
memanfaatkan teknologi internet.
“Saat ini saya akan berkonsentrasi di sisi
hulu karena masih banyak yang perlu kami
benahi,” katanya. Kalau sisi hulu sudah bagus,
tambahnya, dia baru akan bergerak di sisi hilir.
Carsim juga masih mempunyai satu mimpi
besar sebagai wirausahawan. Dia ingin
mengajak masyarakat Kuningan membuat tape
ketan tersedia di berbagai kota di Indonesia.
Namun ada kendala besar yang menghadang,
yaitu jarak dan waktu. Tape ketan merupakan
penganan yang tidak tahan lama. “Paling lama
hanya mampu bertahan selama satu minggu,”
ujarnya. Karenanya daerah tujuan pemasaran
Carsim saat ini masih menyasar seputar
Bandung dan Jakarta. Jika Carsim berhasil
menaklukkan Bandung dan Jakarta, maka kota
sasaran Carsim selanjutnya adalah kota-kota di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kelemahan tape ketan yang tidak tahan lama
tersebut memang bukan penghalang bagi Carsim
untuk mewujudkan impiannya memasarkan
tape ketan ke seluruh Indonesia. Saat ini Carsim
sedang memikirkan cara untuk memodifikasi
tape ketan agar bisa menjadi penganan yang
lebih tahan lama. Salah satu cara yang sedang
dipikirkan Carsim adalah kemungkinan
membuat tape ketan menjadi bahan tambahan
kue atau penganan lain. Tetapi, Carsim ingin
penganan modifikasi tersebut tetap memiliki
unsur ciri khas daerah Kuningan, sehingga pada
akhirnya Kuningan dapat memproduksi tape
ketan yang bisa dinikmati sampai ke pelosok
Indonesia.
“Kalau 15 tahun yang lalu kami warga
Tarikolot berhasil membuat tape ketan menjadi
makanan oleh-oleh dari Kuningan. Kami yakin
ke depan, Kuningan bisa menjadi pemasok
tape ketan untuk kebutuhan tape di seluruh
Indonesia,” tutur Carsim.
Catatan Rhenald Kasali
SALAH SATU ciri khas usaba kecil di Jawa Barat adalah kerumunan. Tukang
Tape singkong (tape gantung) di Purwakarta, mainan berbentük buah-buahan di
Cianjur, gerabah di plered, colenak di Pasar Lembang, sepatu di
Cibaduyut, usaba bordir di Tasik, dodol di Garut, tahu di Sumedang. genteng
di Jatiwangi dan seterusnya.
Satu orang berhasil, yang lain mengíkuti. Mereka saling meiengkapi dan
berbagi. Seperti sebuah keluarga besar, mereka tidak hanya bersaing
melainkan menjadi magnet besar ýang menarik pembeli dan wisatawan. Pasar
oleh-olah tetab menjadi ciri yang penting dalam UMKM di Jawa Sarat.
Mehjadí magnet berti menciptakan kumpulan. Anda pun bisa melakukannya
dengan menjadikan produk sebagai milik bersama. Tentu, butuh beberapa
waktu untuk menarik kerumunan. Tetapi setiap keberhasilan
selalu mengundang kebersamaan. Dalam kebersamaan itu, mereka bisa sama-sama
memperbesar pasar karena konsumen senang hadir dalam kerumunan. Dalam
kerumunan itu ada variasi, warna dan selera. Dan itu tidak
selalu berarti kompetisi yang buruk karena pelanggan senang berada dalam
variasi itu.
Maka pilihkanlah apa yang akan dilakukan bila Anda harus berada dalam
suatu kerumunan. Pertama, bersikap bijak dalam diri dengan menyadari
bahwa setiap keberhasilan selalu mengundang kerumunan. Dalam sekejap
usaba Anda akan drtiru oleh tetangga-tetangga Anda. Kedua selalu ciptakan
keunggulan yaitu apa yang menjadi kelebihan Anda dibandingkan para
Pangekor. Hanya menjadi yang pertama, yang “asli’ atau “original’ saja
Tidak menjadikan Anda unggul dan diminati. Unggul berarti “lebih”,
seperti lebih bersih, lebih enak, lebib melayani, lebih
bervariasi lebih cepat, lebih bagus leblh harum, lebih kreatif,
lebih unik dan seterusnya.
Ketiga; ambil manfaat dari suatu kerumunan, Suatu kerumunan adalah magnet
untuk mendapatkan segala macam sumberdaya dan pengetahuan. Di sanalah
berkumpul SDM dengan keterampilan tertentu yang diwariskan
secara alamiah dari satu generasi kegenerasi berikutnya yang tinggal Anda
poles dan buat lebih kreatif. Di sana juga berkumpul informasi bahan
baku pengetahuan, dan pemasok-pemasok penting. Anda tinggal mengambil atau
memanggil mereka maka semua akan datang. Untuk menciptakan keunggulan,
dapatkan kombinasi-kombinasi sumberdaya yang unik.
Keempat, berikanlah sesuatu kembali kepada komunitas Anda, agar komunitas
dapat meneruskan keberlangsungannya dalam jangka panjang. Ingatlah Anda
meminjam semuanya dari generasi penerus Anda. Jadi Anda
pun wajib mengembalikannya.
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Atik, Modal Awalnya Cuma 50 Ribu, Tapi Kini Usaha Bordirnya Sukses Raup Omzet Miliaran dan Menembus Hingga Rusia
Atik Jumaeli, Mengibarkan Bordir Tasik Hingga ke Rusia
Mengawali usahanya di bidang bordir
Tasik dengan modal Rp50 ribu dan satu
Mesin jahit, kini Atik Jumaeli mampu
membawa produk andalan usaha Dewì
Bordir memimpin pasar di kelasnya.
Bahkan dia mampu menggelar produk-
produk bordirnya di berbagai negara,
mulai dari Singapura hingga Rusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul
20.00. Kota Tasikmalaya sudah mulai sepi.
Hj. Siti Atikah Huzaemah Jumaeli, pemilik
usaha Dewi Bordir, sudah menutup tempat
usahanya yang terletak di Jalan
Panunggal No. 64, di samping Asrama Polisi
Bojong, Tasikmalaya. Namun malam itu Dewi
Bordir kedatangan tamu, seorang perempuan
dan laki-laki. Kepada perempuan yang lebih
dikenal sebagai Atik Jumaeli itu, sang tamu laki-
laki mengaku bernama Gam Aceh.
Menerima tamu pada malam hari, apalagi mengaku
bernama Gam Aceh, membuat Atik merasa kecut hatinya.
Atik baru merasa sedikit tenang ketika sang tamu
Mengaku sebagai pengusaha jasa pengiriman paket di
Jakarta. Tamu itu memberitahukan bahwa
dari pengalaman menjalani usahanya, nilai
pengiriman paket Dewi Bordir menduduki
tempat tertinggi sehingga hidung bisnis Gam
menuntunnya untuk melihat sendiri usaha Dewi Bordir.
Kepada Tuan Gam, Atik menjelaskan perihal
usahanya. Setelah melihat-lihat produk Dewi
Bordir, Tuan Gam memesan sepasang baju
bordir. Namun tak lama kemudian, Tuan Gam
menelepon seseorang dan memberikan kejutan
dengan memesan 500 pasang baju bordir serupa.
Konon, pemesanan itu berkaitan dengan sebuah
rencana pernikahan di Kerajaan Kelantan, Malaysia.
Atik terkejut bukan karena ia tak biasa menerima
banyak pesanan. Masalahnya, Tuan Gam meminta
pesanan itu selesai dalam waktu
satu setengah bulan. Apalagi Tuan Gam juga
langsung memberikan uang muka sebanyak Rp
120 juta yang dibayarkan dua kali. Total harga
untuk 500 pasang baju bordir itu Rp 360 juta.
“Sesudah tamu kami pulang, saya hanya
berpikir bagaimana cara mendapat bahan yang
cocok. Paginya saya bangun subuh, salat, dan
mengaji. Saya berdoa, memohon petunjuk untuk
bisa dapat bahan sutra nomor satu,” tutur Atik.
Selanjutnya hari-hari Atik dipenuhi oleh
usaha jungkir-balik untuk mendapatkan bahan
sutra organdi sesuai pesanan. Untuk
mendapatkan bahan itu Atik berpikir bahwa
Jakarta-lah tempatnya. Namun setelah berkeliling
Jakarta dengan susah payah dan keluar
masuk Pasar Majestik, Tanah Abang, serta Pasar
Baru, hasilnya nihil.
“Setelah empat hari berputar-putar di Jakarta
saya cuma bisa merasa kecewa dan sedih.
Beberapa kali ditilang polisi karena salah jalan.
Akhirnya saya pulang ke Tasik dengan menangis,
kecewa, dan bingung. Uang ini mau diapakan?”
kenangnya.
Sekembalinya ke Tasik, Atik mengontak
relasi bisnisnya di Pekalongan dengan harapan
bisa memberikan informasi. Tak sampai seminggu
datang kabar yang sedikit menghibur.
Atik dikenalkan pada seorang pemilik bahan.
“Alhamdulillah orangnya mau menerima. Tapi
masih ada masalah. Bahan untuk bawahan
belum ada. Saya harus pergi lagi ke Bandung
untuk mencari bahan bawahan,” tuturnya.
Di Bandung dia mendatangi enam pabrik.
Namun, hingga pabrik keenam Atik hanya
memperoleh informasi bahwa bahan itu harus
diimpor dari Cina. “Saya sedih sekali. Sudah
hampir sebulan waktu terbuang hanya untuk
mencari bahan tapi tetap nihil,” tutur Atik lagi.
Kejadian seperti di Bandung menimpa lagi
ketika Atik bergerak ke Majalaya. Rasa putus asa
mulai menghampirinya.
Lalu, dari salah satu pabrik, ada orang yang
Memberitahu bahwa bahan itu bisa dibuat dengan
cara menenun benang sutra yang dicampur
bahan sintetis. Atik langsung berbelanja benang
sutra kemudian menyerahkannya ke pabrik
tersebut untuk dibuat kain tenun. Akhirnya
bahan sutra pun jadilah. Tapi masalah baru
datang, pewarnaannya mengalami kegagalan.
Atik hampir menyerah.
Dalam kondisi hampir putus asa, Atik pergi
lagi ke Bandung untuk memesan bahan sutra
impor. Tapi Atik diminta menunggu satu bulan.
Mendengar jawaban itu Atik hanya bisa pasrah
sambil menunggu keajaiban. Ternyata keajaiban
itu benar-benar datang. Bahan itu datang.
Namun ia harus mewarnainya lebih dulu.
Jadilah selama seminggu dia hampir tak tidur
untuk mendapatkan warna yang pas. “Waktu
cuma tinggal sisa 11 hari. Pewarnaan perlu tiga
hari,” kenang Atik.
Akhirnya, bahan gulungan sepanjang
1.280 m hasil celupan itu bisa dibawa pulang
dan dikerjakan tanpa kenal waktu dan lelah.
Pekerjaan sangat berat dan sulit itu akhirnya
beres. Kurang satu hari dari waktu yang
ditentukan, Atik mampu membawa hasilnya
ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Tuan
Gam. Tetapi ujian belum berakhir juga. Sesampainya
di Jakarta “kejutan” muncul lagi. Tuan
Gam meminta tambahan 50 pasang lagi. Atik
pun menyanggupinya.
Anda mungkin deg-degan membaca cerita di
atas. Sudah kepepet waktu, uang sudah diterima,
bahan-bahan sulit dicari, sementara waktu berjalan
terus. Tetapi drama ini belum selesai.
Perjalanan dramatis untuk memberikan pelayanan
yang terbaik bagi pelanggan barunya
memang hampir berakhir. Setelah semuanya
beres, “kejutan” terakhir datang. Kali ini berkaitan
dengan hitung-hitungan hasil jerih payahnya
selama satu setengah bulan. Semula
dia menghitung keuntungannya bisa mencapai
Rp 80 juta. Namun di ujung hari, ternyata Atik
hanya memperoleh keuntungan Rp 20 juta
ditambah sisa baju. Apa reaksinya?
“Ya, saya merasa kecewa. Tapi saya tetap
merasa bersyukur karena bisa mengatasi tantangan
dan menjaga kredibilitas Dewi Bordir,”
tutur Atik mengakhiri kisah yang tak pernah dia
lupakan seumur hidupnya. Atik mengaku peristiwa itu
menjadi pembelajaran untuk ‘naik kelas’
di dunia usaha yang dia tekuni maupun hidupnya sebagai
pribadi.
JATUH BANGUN DARI TITIK “NOL”
Atik Jumaeli boleh jadi tak akan lulus menghadapi
“ujian” yang datang dari orang seperti
Tuan Gam, andai saja ia belum teruji. Perempuan
Tasik ini sudah kenyang dengan pengalaman
jatuh-bangun sejak memulai usahanya dari nol.
Atik merintis Dewi Bordir pada tahun 1991, ketika
suaminya, Jumaeli, masih aktif bertugas sebagai
polisi berpangkat inspektur satu di Poires
Tasikmalaya. Sebagaimana istri polisi pada umumnya,
Atik wajib menjadi anggota Bhayangkari, organisasi
istri Poiri. Saat itu Bhayangkari banyak
melakukan kegiatan bersama Dharma Pertiwi, organisasi
istri TNI. Salah satu program yang mereka jalankan
ialah kegiatan ekonomi produktif, di mana
para anggota Bhayangkari dan Dharma Pertiwi diberi
fasilitas permodalan dan alat kerja. Atik termasuk
anggota Bhayangkari yang menerima modal sebesar Rp 50 ribu
dan satu unit mesin jahit untuk usaha kain bordir.
Usaha ini menjadi pilihan karena Tasik dikenal
sebagai kota industri kerajinan kain bordir.
Bahkan bordir telah menjadi salah satu identitas
masyarakat Tasik, selain anyaman mendong.
Hasil laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya
dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI
menunjukkan bahwa industri kain bordir di Tasik terus
memperlihatkan perkembangan yang signifikan,
bahkan ketika Indonesia mengalami krisis
ekonomi tahun 1997 hingga selepas tahun
2000. Dari delapan kecamatan yang ada di
Tasik, empat di antaranya bergerak di bidang
usaha pembuatan kain bordir, yaitu Cibeureum,
Cipedes, Mangkubumi, dan Kawalu.
Pada tahun 2005, terdapat setidaknya 1.092
unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin.
Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah
yang memiliki pelaku usaha kerajinan bordir
paling banyak, yaitu 87,7 persen dari total perajin
bordir di Tasik. Di kecamatan ini, terutama di
Desa Tegalsari, terdapat banyak pengusaha kain
bordir berskala besar seperti Thratex, Purnama,
Ciwulan, Haryati, dan Bunga Tanjung. Total
produksinya mencapai 7,2 juta potong per tahun.
Nilai produksi bordir di Tasik telah mencapai
angka lebih dari Rp 500 miliar dan mampu
menyerap ribuan tenaga kerja.
Pada dekade 1990-an ketika Atik memulai
usahanya, produk bordir Tasik telah jauh berkembang
dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Saat itu
produk bordir didominasi oleh busana muslim, termasuk
baju garnis, mukena, jilbab, baju koko, dan kopiah.
Jauh sebelumnya, yakni pada dekade 1960-an, jenis bordir
yang dihasilkan hanyalah kebaya dan pakaian tradisional
Cina karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan
etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an, setelah mesin
bordir bertenaga listrik muncul di Tasik, jenis produk
bordir yang dihasilkan pun meluas ke jenis kain untuk
interior ruangan (home interior), seperti seprai,
taplak meja, gorden, dan lain-lain. Namun
pada dekade 1980-an jenis kain bordir yang
diproduksi mulai bergeser ke busana muslim
yang kemudian berkembang hingga kini.
Ketika mulai merintis usahanya itu, Atik
belum pernah menjalani satu jenis usaha pun.
Sebelum menikah dengan Jumaeli, Atik adalah
karyawan sebuah kantor konsultan hukum.
Namun Atik bukan pribadi yang asing dengan
dunia jahit-menjahit. Anak kelima dari 10 bersaudara
H. Saun dan Hj. Sitj Huzaemah ini tumbuh dalam keluarga
penjahit pakaian wanita. Ibunya dikenal sebagai penjahit
kebaya di Cikalong, Tasik. Selain itu Atik sendiri
pernah mengambil kursus menjahit selama 6 bulan di
tempat kursus ‘Abadi’ di Tasik.
Meski demikian, Atik mampu mengembangkan kemampuannya
menjadi sesuatu yang menghasilkan bermodalkan
kemauan bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif.
Karakter-karakter seperti itu merupakan modal
penting bagi mereka yang ingin terjun di
bidang kerajinan. Selain itu, yang tak kalah
pentingnya adalah intuisi bisnis yang tajam
dalam menangkap pasar. “Usaha kerajinan bordir
memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun,
dan kreatif. Orang-orang seperti itulah
khususnya kaum perempuan, yang membuat Tasik dikenal
sebagai kota bordir,” katanya. Sejumlah sumber menyebutkan
bahwa dari tangan orang-orang seperti itulah, lahir kain
bordir bermotif alam, terutama flora, yang indah dan
menjadi ciri bordir Tasik.
Sadar sebagai pemula, Atik menjalani usahanya dengan sabar
dan tekun hingga tahun pertama usahanya
terlewati. Memasuki tahun kedua, Atik terus
bergerak perlahan namun pasti, sementara para
koleganya yang dulu sama-sama memperoleh
modal seperti dirinya mulai berguguran. Selepas
tahun kedua, perjalanan usaha Atik semakin mantap.
Pada tahun 1996, Atik ingin Dewi Bordir
memiliki badan hukum. Lahirlah kemudian CV
Dewi Nugraha. Atik juga mendapatkan suntikan
modal dari hasil arisan sebesar Rp 500 ribu.
Dana itu dia gunakan untuk membayar uang
muka mesin jahit baru merek Zuki seharga Rp
3,5 juta. Sisa utangnya dilunasi dengan mencicil.
Namun perjalanan usaha Dewi Bordir
tidak selalu mulus. Pada tahun 1997 usaha ini
pernah jatuh. Ketika itu, Dewi Bordir menerima
pesanan 1.000 lusin tatakan dan tutup gelas
senilai Rp 67 juta. Tetapi krisis ekonomi yang
meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan
uang hasil pesanan tersebut tak tertagih. Kondisi
Dewi Bordir pun sempat terganggu.
Hal serupa juga terjadi pada 2007, ketika
Dewi Bordir menerima pesanan busana bordir
sebanyak 400 pasang untuk dikirim ke Brunei.
Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang
namun hanya 400 pasang saja yang dibayar
sehingga Dewi Bordir tekor hingga Rp 45 juta.
Nasib nahas lainnya juga harus menimpa
Dewi Bordir. Suatu hari karyawan Dewi Bordir
menerima pengembalian barang yang sudah
dibeli orang. Namun setelah dibuka dan diteliti,
ternyata yang dikembalikan itu bukanlah produk
Dewi Bordir. “Dewi Bordir ketiban nahas akibat
kelakuan yang enggak sehat dari orang lain,” ujarnya.
Selain itu Dewi Bordirjuga pernah melakukan
kesalahan pengukuran ketika mendapatkan
pesanan baju koko sebanyak 20 kodi sehingga
harus menanggung semua kerugian. “Pernah
juga kami kena provokasi yang menyebut produk
kami mahal,” kata Dewi mengenang berbagai
peristiwa yang menimpa Dewi Bordir.
Sebagai lembaga bisnis dengan 30 orang
karyawan dan lebih banyak lagi karyawan
musiman pada saat pesanan meningkat, Dewi
Bordir tak luput dari gesekan internal. Umumnya
gesekan terjadi karena keluarga atau para
karyawan yang terlibat dalam bidang produksi
saling bersikukuh bertahan dengan tren yang
akan dilansir.
“Saya tipe orang yang suka bereksperimen
memasukkan produk-produk nonkonvensional
dan mencoba bertahan dengan sikap saya.
Mungkin itu yang sering menimbulkan gesekan,
baik dengan keluarga maupun karyawan,” katanya.
Namun Atik Jumaeli meyakinkan bahwa
setiap Dewi Bordir menghadapi masalah dari
luar, hal pertama yang mereka lakukan adalah
“Kuncinya sadar dan sabar. Lalu bersama-sama
mencari penyebabnya dan bersama-sama juga
mencari jalan keluar,” katanya.
MENGELOLA SUMBER DAYA MANUSA
Sebagaimana dunia usaha bordir di Tasik pada
umumnya, Dewi Bordir juga harus menghadapi
masalah dari dalam berupa masalah tenaga
kerja. Walau mesin bordir dan mesin jahit
yang digunakan belum mengalami pembaruan
teknologi, tetapi pelatihan menggunakan
mesin tersebut tetap harus dilakukan pada
karyawan baru. “Tergantung, kalau karyawan
sudah memiliki pengetahuan cukup tentang menjahit,
maka gampang dilatih. Tetapi karyawan yang masih
baru sama sekali, memang agak
sedikit sulit,” jelas Atik.
Upah tenaga kerja berpengalaman di industri
bordir di Tasik mencapai Rp 1,2 juta
per bulan. Sementara UMR di Tasik hanya sebesar
Rp 680 ribu per bulan. Oleh sebab itu
mudah dijumpai karyawan yang keluar-masuk. “Kami
sadar bahwa di dunia bordir karyawan mudah
sekali keluar masuk. Dewi Bordir tidak
sendirian,” kata Atik seraya menduga banyak pengusaha
bordir tidak membuat kontrak kerja dengan karyawannya.
“Mungkin karena usaha bordir masih luas,” Atik
Menambahi keterangannya.
Untuk membuat orang merasa kerasan bekerja di Dewi
Bordir, Atik membangun pola hubungan kerja yang
manusiawi dan berusaha memberikan lebih kepada
karyawannya. Selain upah yang lebih tinggi dari UMR,
Atik memberikan insentif bagi mereka yang bekerja lebih.
Atik juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang
ingin mandiri. Dari 30 karyawannya, ada tujuh orang yang
telah mandiri. Atik merasa bangga kepada mereka karena
pola pikir mereka memang melebihi dirinya. “Karena itu
saya sangat mendukung mereka. Malah saya mendorong mereka
untuk berani mengajukan bantuan modal ke bank bjb. Saya
katakan ‘Ibu jadi jaminannya’,” ujar Atik bangga.
Dengan cara tersebut Atik yakin bahwa hubungan Dewi Bordir
dengan mantan karyawan akan tetap terjaga. Apalagi di dunia
bordir situasi saling membutuhkan memang sangat tinggi.
Dewi Bordir akhirnya membuat anak usaha berupa lembaga
kursus atau pelatihan membordir, khusus bagi kaum muda Tasik.
Lembaga ini didirikan demi tersedianya sumber daya manusia
atau tenaga terampil di bidang bordir yang dapat diandalkan
untuk masa depan. Tempat kursus ini berada di bawah CV Dewi
Nugraha, badan hukum yang menaungi usaha Dewi Bordir.
Kegiatan kursus di Dewi Bordir ini dibagi menjadi dua kelas,
yakni kelas besar dan kecil. Kelas besar berisi 75 peserta setiap
angkatan dengan masa kursus selama tiga bulan. Dalam satu
tahun Dewi Bordir mampu menyelenggarakan tiga kali pelatihan.
Sedang kelas kecil terdiri dari 20 peserta dengan
masa kursus satu bulan. “Tempat kursus ini kami dirikan untuk
mendidik generasi muda agar mereka punya
kemampuan membordir sekaligus menciptakan
generasi penerus seni bordir Tasik. Ini juga
untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Atik.
Melalui lembaga pelatihan ini Atik bersama
keluarga dan karyawan Dewi Bordir membuktikan bahwa
mereka benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia
yang andal di bidang bordir sehingga masyarakat dan
pemerintah pun memercayainya. Hal itu terlihat pada
banyaknya peserta kursus serta kepercayaan
yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Tasikmalaya, juga beberapa BUMN untuk menjalin
kerjasama dengan CV Dewi Nugraha. Dalam kerja sama ini
instansi atau perusahaan menyediakan dana, sementara
Dewi Bordir bertanggung jawab atas proses pelatihannya.
Program ini sebenarnya merupakan beasiswa
bagi anak-anak muda. Para siswa yang mengikuti program
ini tidak perlu membayar uang kursus. Sebaliknya,
mereka bahkan mendapat uang saku sebanyak Rp 30 ribu per hari.
Selama tiga bulan, mereka mengikuti tiga tingkat pelatihan,
yaitu: tingkat dasar, tingkat terampil, dan
tingkat mahir. Para siswa yang lulus umumnya
sudah siap ditampung oleh perusahaan-perusahaan
bordir yang membutuhkan. Perusahaan bordir kain yang
membutuhkan tenaga kerja pun hanya perlu menghubungi
Dewi Bordir. Dewi Bordir juga kerap menjadi tempat magang
atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi pelajar
SMK dan perguruan tinggi. Banyak sekolah dan
kampus mengirimkan anak didik atau mahasiswa
mereka agar bisa menjalani masa magang atau PKL di sini.
KEJELIAN MEMILIH PRODUK ANDALAN
Seraya menjalani usahanya, Atik menyempatkan
diri untuk meningkatkan berbagai keterampilan yang
menunjang bisnisnya. Dia rajin mengikuti pelatihan
pemasaran dan manajemen.
Di samping itu Atik juga terus mengasah bakat
menggambarnya yang sangat mendukung usahanya,
terutama dalam menciptakan desain barang-barang
yang akan diproduksi.
Secara sekilas tatakan dan tutup gelas bordir
berdiameter lima hingga delapan sentimeter
sebagai produk andalan Dewi Bordir tampak
sederhana. Namun Atik mencoba memberikan
nilai tambah, yakni sulam timbul. Selain itu
Atik juga menciptakan produk serupa berbahan
perca. Semua produknya tampil dengan motif
bunga atau bintang berwarna-warni.
Meskipun sederhana, tatakan dan tutup gelas
justru menjadi pemimpin pasar untuk seluruh
produk Dewi Bordir, bahkan produk serupa di
Tasik. Produk-produk ini juga membawa Tasik
memperoleh kebanggaan. Sebab, tatakan dan
tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu
produk UKM Tasik yang diekspor. Prestasi ini
menjadikan Dewi Bordir sebagai UKM yang
banyak memperoleh fasilitas dari pemerintah
atau lembaga lain.
Atik tentu bukan sosok yang naif. Ia tidak
ingin Dewi Bordir memenjarakan diri dengan
hanya memproduksi tatakan dan tutup gelas.
Dewi Bordir juga memproduksi produk bordir
lain yang diminta pasar seperti sarung bantal
termasuk untuk bantal kursi—taplak, tas,
batik, serta busana muslim dan kelengkapannya.
Bahkan Atik juga berhasil membawa Dewi
Bordir melahirkan produk busana yang kerap
tampil dalam acara peragaan busana, yaitu
busana muslim, busana resmi, dan busana
Sunda kontemporer. Saat ini Dewi Bordir
mampu memproduksi 500 baju bordir pesanan
hanya dalam waktu 2 bulan. Rentang waktu tersebut
sudah termasuk dari waktu perancangan,
mencari bahan, hingga waktu produksi.
Pengalaman menjalani usaha dari bawah
ternyata membuat intuisi bisnis Atik Jumaeli
terlatih membaca pasar. Hal ini melandasi Atik
saat memilih tatakan dan tutup gelas menjadi
produk andalan Dewi Bordir. Awalnya, Atik
memasarkan produk-produk tersebut pada
acara-acara arisan, bazar, dan pameran yang
melibatkan ibu-ibu anggota Bhayangkari dan
Dharma Pertiwi di Tasik. Setelah mulai di
kenal, Dewi Bordir tampil secara rutin pada
ajang serupa di Tasik maupun kota-kota lain di
Jawa Barat.
Pada tahun 2003, ketika produksi bordir di
Tasik telah mencapai angka Rp 300 miliar, Dewi
Bordir juga mengalami perkembangan. Pasarnya
bukan hanya ada di dunia arisan atau pameran,
melainkan pasar sesungguhnya. Kejelian menangkap
pasar dan cara memasarkan produk,
membuat Jakarta dan sejumlah kota lain mulai
mengenal produk Dewi Bordir.
KELUARGA DAN PENGEMBANGAN USAHA
Di balik sosok yang sukses selalu ada pendukung yang
hebat. Para pendukung itu pula yang selama ini
membuat Atik selalu merasa bersemangat
dan gigih dalam menjalani usahanya.
Jumaeli, suaminya, menurut Atik adalah sosok pendukung
yang hebat. Di luar tugasnya sebagai anggota Poires
Tasik, Jumaeli selalu siap memberikan bantuan dan dukungan
nyata yang dia perlukan. Demikian pula keempat anak
mereka, Budi Mulia, Dewi Fuji Fitriarti, Cecep Ibnu, dan
Jajang Nugraha. “Saya merasa menjadi lebih
bersemangat karena suami dan anak-anak sangat mendukung
usaha ini,” tuturnya. Budi, anak pertama, setelah lulus
kuliah banyak membantu di bidang pemasaran. Demikian
pula Dewi yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil Bandung.
“Bahkan saya dan bapaknya berharap mereka bisa bekerja
sama melanjutkan usaha ini menjadi lebih besar lagi,”
katanya.
Khusus tentang Budi, Atik berterus terang
sangat memerlukan tenaganya, terutama saat
Atik harus mengikuti pameran di luar negeri.
Sebab sudah sejak beberapa tahun terakhir
Dewi Bordir kerap melakukan pameran di luar
negeri. Bahkan, untuk beberapa negara pameran
telah berlangsung secara rutin. Di Malaysia,
misalnya, Dewi Bordir telah melakukan pameran
sebanyak lima kali, di Singapura sudah
berlangsung tiga kali, di Brunei dua kali, dan di
Dubai sekali.
Pada April 2011 Atik melakukan pameran
lagi ke sejumlah negara, yakni Arab Saudi,
Jerman, dan Rusia. “Jadi meskipun hanya
tatakan dan tutup gelas, produk Dewi Bordir
sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri.
Malah sebagian sudah menetap di luar negeri,”
katanya berseloroh.
Karena kinerjanya itu pula, pada tahun
2006 usaha ini terpilih sebagai salah satu
UKM yang mendapatkan fasilitas permodalan
dari bank bjb. Meskipun enggan menyebutkan
jumlahnya, Atik mengakui dana tersebut ikut
membantu usahanya lebih berkembang dan
mampu membayar pinjaman dengan disiplin.
Adapun cara pembayarannya pertama adalah
dengan selalu membayar bunga pinjaman setiap
bulannya. Sementara pembayaran pinjamannya
dilakukan ketika mendapatkan untung dari pesanan besar.
Dewi Bordir sempat memperoleh pinjaman
modal lagi. “Tapi selanjutnya kami tak ingin di
pinjami lagi karena sudah punya modal sendiri
dari usaha yang ada,” ujar Atik. Kedisiplinan
adalah kunci lancarnya pembayaran pinjaman
Atik ke bank.
Dengan dukungan keluarga dan karyawan, Atik
juga telah mengantar Dewi Bordir
menerima sejumlah penghargaan sekaligus
kemudahan. Selain sering menerima fasilitas
pameran secara gratis, Dewi Bordir juga menerima
fasilitas berupa ruko di Asia Plaza, Jalan
Hajat Mustofa nomor 8, Tasikmalaya. “Saya sangat
menghargai tempat ini karena ini fasilitas yang
kami dapat setelah produk-produk Dewi Bordir
terpilih sebagai produk unggulan bordir Tasik,”
katanya.
Atik juga mengakui bahwa perhatian pemerintah
cukup membantu. Dewi Bordir sering
mendapatkan fasilitas pameran, baik di tingkat
lokal, nasional, maupun internasional. Selain
pameran, Presiden pada masa itu, Megawati
Sukarnoputri, memberikan penghargaan berupa fasilitas
HAKI pada produk Dewi Bordir yang telah mampu
memproduksi barang yang memiliki nilai tradisional
khas Indonesia. Dari usaha kerasnya dan berhasil
mendapatkan penghargaan itu, omzet yang dicapai
Dewi Bordir mencapai sekitar Rp loo juta per
bulan atau lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Dan,
dari omzet tersebut Atik meraih keuntungan
bersih sebesar 20 persennya.
MENYIAPKAN PASAR KE DEPAN
Pengalaman mengelola usaha selama bertahun-
tahun dan kejelian Atik Jumaeli membaca pasar
telah membawa Dewi Bordir pada posisi harus
mampu memilih segmen pasar yang tepat.
Menurut Atik, Dewi Bordir sedang merintis
jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah
ke atas. Alasannya, “Di segmen ini kondisinya
lebih stabil,” katanya.
Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen
ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-
hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan.
Selain itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-
desain baru yang sesuai dengan tuntutan pasar.
“Untuk tahu pasar kami mencari informasi dari
internet atau majalah,” ujarnya.
Namun Atik juga berusaha profesional dan
memegang etika usaha. Dalam membuat desain,
misalnya, Dewi Bordir tidak mau menjiplak
karya orang lain. “Kalaupun terpaksa harus
mengikuti tuntutan pasar, kami melakukan
modifikasi atas tren yang sudah ada,” tuturnya.
Terkait bahan-bahan yang diperlukan, pada
umumnya usaha kerajinan bordir di Tasik jarang
mengalami kendala. Bahan dasar yang banyak
digunakan dalam usaha bordir di wilayah ini
ialah sutra. “Untuk bahan dasar, selama ini
masih bisa didapat dengan mudah,” ujar Atik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya
menyebutkan bahwa untuk bahan baku
kain dan benang bordir, para pengusaha memperolehnya
dari sejumlah pabrik yang ada di
Bandung, Jepara, dan Pekalongan. Sebagian besar
menggunakan produk lokal, hanya sebagian
kecil yang diimpor dari negara lain.
Namun menurut Atik, jika pengusaha bordir
menerima pesanan mendadak dalam jumlah
besar, sementara bahan tidak mudah didapat di
Indonesia, maka mereka jelas kelabakan. “Jangan
sampai para pengusaha bordir menghadapi
masalah yang pernah saya alami. Cukup saya
saja yang menghadapi pengalaman seperti itu,”
katanya merujuk pada pesanan Tuan Gam yang
membuatnya kalang-kabut karena bahannya
sukar dicari di Indonesia.
Untuk urusan pemasaran dan promosi, Dewi
Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan.
Selain mempertahankan promosi dan mulut ke
mulut melalui ajang arisan, bazar, dan pameran,
Atik juga menempuh cara pemasaran yang
lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik
pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke
Jakarta dan beberapa kota lain. Sentra-sentra
pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang
dan Cipulir adalah sasaran mereka.
Namun, menurut data Dinas Perindustrian
dan Perdagangan, pengusaha bordir yang sudah
terkenal tidak perlu memasarkan sendiri karena
pemesan datang sendiri ke tempat usaha mereka.
Sebagian besar kain bordir mereka diborong oleh
para distributor, yang kemudian menjualnya
kembali ke kota-kota lain. Distributor juga
bertindak sebagai agen pengekspor kain bordir
ke negara-negara lain seperti Malaysia, Arab
Saudi, Brunei Darussalam, dan Yordania.
Para pengusaha kain bordir di Tasik juga telah
mendirikan organisasi Gabungan Pengusaha
Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA). Di samping
membantu permodalan, organisasi ini juga bertujuan
membantu anggotanya mencari strategi
agar tercipta jaringan pemasaran produk.
GAPEBTA telah berhasil mencarikan kios-kios
bagi anggotanya untuk berjualan di berbagai
kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan
Yogyakarta. Khusus untuk Jakarta, kios-kios
pengusaha dari Tasik dapat ditemui di Pasar
Tanah Abang. GAPEBTA memiliki anggota
hingga 8oo orang pengusaha kain bordir, dan
lebih dari separuhnya memiliki kios-kios di
kota-kota besar.
Namun Atik juga punya keyakinan bahwa
barang yang berkualitas selalu punya jalannya
sendiri untuk mencapai sasarannya. Oleh sebab
itu, selain terus berusaha memperluas pasar,
Atik juga sangat menjaga kualitas produknya.
Dengan sikap seperti itu, pasar Dewi Bordir terus
meningkat, dari lokal ke nasional, dan akhirnya
internasional.
Meskipun demikian, Atik tidak ingin semua
awak Dewi Bordir, termasuk dirinya, berleha-
leha. Mereka mulai belajar memanfaatkan
teknologi internet untuk mencari informasi dan
peluang memasarkan produk-produknya. Namun
sarana ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dewi Bordir, misalnya, belum memiliki situs khusus.
Pada awal 2011 Atik merintis pembukaan
cabang Dewi Bordir di Season City, Jakarta
Barat, dengan tujuan membawa usaha ini
lebih profesional. Namun, seperti kata pepatah
‘setiap permulaan selalu sulit’, maka tampaknya
sampai saat ini dewi fortuna belum berpihak
pada Dewi Bordir. Karena masih sepinya mall
baru tersebut, Dewi Bordir mengalami kerugian,
sehingga cabang tersebut harus ditutup. Meski
demikian, kejadian tersebut tidak membuat
Atik putus asa. Ia masih memiliki satu cabang
lainnya di UKM Gallery, Smesco, Jakarta. Untuk
menjaga agar pasar tetap mencarinya, Dewi
Bordir menyewa konsultan manajemen untuk
melakukan quality control.
“Saya ingin maju seperti Dewi Motik
Pramono (mantan Ketua Umum Ikatan Wanita
Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa
Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang
maju,” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah
Jumaeli mengakhiri kjsah perjalanan usaha
dan cita-citanya ke depan.
Catatan Rhenald Kasali
Salah satu syarat bagi pengusaha UMKM untuk naik kelas adaiah ‘berani dan
mau melakukan hal-hal yang sulit’. Anda mungkin masih ingat penstiwa
manusia yang mendarat di bulan pada 1969. Saat itu terbang ke bulan
suatu keniscayaan, tetapi di bawah J F Kennedy, Amerika Serikat berhasil
melakukannya.
Dalam suatu ceramah di Texas, Kennedy menjelaskan, “Ketika bangsa-bangsa
lain mengembangkan teknologi untuk mendaratkan manusia ka puncak gunung,
Kita justru memilih teknologi untuk mendaratkan manusia ke bulan. Mengapa
ke bulan? Jawabnya adalah karena pertama kita tidak ingin dilihat oleh
Rusia dari atas bumi kita dan kedua karena ini tidak mudah. Kita memilih
terbang ke bulan bukan karena mudah dan hanya bangsa yang mau
melakukan hal-hal yang sulit itulah yang akan menjadi bangsa yang hebat.”
Saya membuka kisah naik kelas Atik Jumaeli dengan keberaniannya menerima
order yang sulit sekali untuk ia penuhi. Orang-orang yang mengambil risiko
seperti ini adalah crang-orang yang mau bergerak dan mau berpikir.
Saya pikir orang-orang lain yang mendengar keluhannya akan mengatakan
‘Gila! Berani amat, sih mengambil risiko?”
Mayoritas manusia memang hanya mengambil langkah-langkah yang gampang dan
tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Bahkan melakukan perjalanan ka luar
negeri pun harus bergerombol dan diantar orang yang sudah tahu lebih dulu.
Kalau sudah begitu, Anda jadi bisa duduk tenang yang artinya tak perlu
Berpikir. Santai.
Tapi Anda tak tahu banyak. Anda takut tersasar bukan? Kata Columbus “Orang-
orang yang tak berani kesasar tak akan pernah menemukan jalan baru.”
Demikianiah Atik Jumaeli naik kelas karena ia mau berpikir, rela kesasar
Tetapi ia menemukan cara-cara dan keberanian-keberanian baru. Bagi sebagian
orang, hal ini memang sangat meletihkan. Tetapi, itulah yang membuat
pikiran manusia mandapatkan tempat terhormat, di atas kepala. Ia menjadi
komandan karena aktif digunakan dan cermat memberi perintah. Seperti kata
pepatah ‘bukan kaki yang menggerakkan langkah kita, melainkan pikiranlah’,
Ayo, beranilah melakukan hal-hal yang sulit!
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Mengawali usahanya di bidang bordir
Tasik dengan modal Rp50 ribu dan satu
Mesin jahit, kini Atik Jumaeli mampu
membawa produk andalan usaha Dewì
Bordir memimpin pasar di kelasnya.
Bahkan dia mampu menggelar produk-
produk bordirnya di berbagai negara,
mulai dari Singapura hingga Rusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul
20.00. Kota Tasikmalaya sudah mulai sepi.
Hj. Siti Atikah Huzaemah Jumaeli, pemilik
usaha Dewi Bordir, sudah menutup tempat
usahanya yang terletak di Jalan
Panunggal No. 64, di samping Asrama Polisi
Bojong, Tasikmalaya. Namun malam itu Dewi
Bordir kedatangan tamu, seorang perempuan
dan laki-laki. Kepada perempuan yang lebih
dikenal sebagai Atik Jumaeli itu, sang tamu laki-
laki mengaku bernama Gam Aceh.
Menerima tamu pada malam hari, apalagi mengaku
bernama Gam Aceh, membuat Atik merasa kecut hatinya.
Atik baru merasa sedikit tenang ketika sang tamu
Mengaku sebagai pengusaha jasa pengiriman paket di
Jakarta. Tamu itu memberitahukan bahwa
dari pengalaman menjalani usahanya, nilai
pengiriman paket Dewi Bordir menduduki
tempat tertinggi sehingga hidung bisnis Gam
menuntunnya untuk melihat sendiri usaha Dewi Bordir.
Kepada Tuan Gam, Atik menjelaskan perihal
usahanya. Setelah melihat-lihat produk Dewi
Bordir, Tuan Gam memesan sepasang baju
bordir. Namun tak lama kemudian, Tuan Gam
menelepon seseorang dan memberikan kejutan
dengan memesan 500 pasang baju bordir serupa.
Konon, pemesanan itu berkaitan dengan sebuah
rencana pernikahan di Kerajaan Kelantan, Malaysia.
Atik terkejut bukan karena ia tak biasa menerima
banyak pesanan. Masalahnya, Tuan Gam meminta
pesanan itu selesai dalam waktu
satu setengah bulan. Apalagi Tuan Gam juga
langsung memberikan uang muka sebanyak Rp
120 juta yang dibayarkan dua kali. Total harga
untuk 500 pasang baju bordir itu Rp 360 juta.
“Sesudah tamu kami pulang, saya hanya
berpikir bagaimana cara mendapat bahan yang
cocok. Paginya saya bangun subuh, salat, dan
mengaji. Saya berdoa, memohon petunjuk untuk
bisa dapat bahan sutra nomor satu,” tutur Atik.
Selanjutnya hari-hari Atik dipenuhi oleh
usaha jungkir-balik untuk mendapatkan bahan
sutra organdi sesuai pesanan. Untuk
mendapatkan bahan itu Atik berpikir bahwa
Jakarta-lah tempatnya. Namun setelah berkeliling
Jakarta dengan susah payah dan keluar
masuk Pasar Majestik, Tanah Abang, serta Pasar
Baru, hasilnya nihil.
“Setelah empat hari berputar-putar di Jakarta
saya cuma bisa merasa kecewa dan sedih.
Beberapa kali ditilang polisi karena salah jalan.
Akhirnya saya pulang ke Tasik dengan menangis,
kecewa, dan bingung. Uang ini mau diapakan?”
kenangnya.
Sekembalinya ke Tasik, Atik mengontak
relasi bisnisnya di Pekalongan dengan harapan
bisa memberikan informasi. Tak sampai seminggu
datang kabar yang sedikit menghibur.
Atik dikenalkan pada seorang pemilik bahan.
“Alhamdulillah orangnya mau menerima. Tapi
masih ada masalah. Bahan untuk bawahan
belum ada. Saya harus pergi lagi ke Bandung
untuk mencari bahan bawahan,” tuturnya.
Di Bandung dia mendatangi enam pabrik.
Namun, hingga pabrik keenam Atik hanya
memperoleh informasi bahwa bahan itu harus
diimpor dari Cina. “Saya sedih sekali. Sudah
hampir sebulan waktu terbuang hanya untuk
mencari bahan tapi tetap nihil,” tutur Atik lagi.
Kejadian seperti di Bandung menimpa lagi
ketika Atik bergerak ke Majalaya. Rasa putus asa
mulai menghampirinya.
Lalu, dari salah satu pabrik, ada orang yang
Memberitahu bahwa bahan itu bisa dibuat dengan
cara menenun benang sutra yang dicampur
bahan sintetis. Atik langsung berbelanja benang
sutra kemudian menyerahkannya ke pabrik
tersebut untuk dibuat kain tenun. Akhirnya
bahan sutra pun jadilah. Tapi masalah baru
datang, pewarnaannya mengalami kegagalan.
Atik hampir menyerah.
Dalam kondisi hampir putus asa, Atik pergi
lagi ke Bandung untuk memesan bahan sutra
impor. Tapi Atik diminta menunggu satu bulan.
Mendengar jawaban itu Atik hanya bisa pasrah
sambil menunggu keajaiban. Ternyata keajaiban
itu benar-benar datang. Bahan itu datang.
Namun ia harus mewarnainya lebih dulu.
Jadilah selama seminggu dia hampir tak tidur
untuk mendapatkan warna yang pas. “Waktu
cuma tinggal sisa 11 hari. Pewarnaan perlu tiga
hari,” kenang Atik.
Akhirnya, bahan gulungan sepanjang
1.280 m hasil celupan itu bisa dibawa pulang
dan dikerjakan tanpa kenal waktu dan lelah.
Pekerjaan sangat berat dan sulit itu akhirnya
beres. Kurang satu hari dari waktu yang
ditentukan, Atik mampu membawa hasilnya
ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Tuan
Gam. Tetapi ujian belum berakhir juga. Sesampainya
di Jakarta “kejutan” muncul lagi. Tuan
Gam meminta tambahan 50 pasang lagi. Atik
pun menyanggupinya.
Anda mungkin deg-degan membaca cerita di
atas. Sudah kepepet waktu, uang sudah diterima,
bahan-bahan sulit dicari, sementara waktu berjalan
terus. Tetapi drama ini belum selesai.
Perjalanan dramatis untuk memberikan pelayanan
yang terbaik bagi pelanggan barunya
memang hampir berakhir. Setelah semuanya
beres, “kejutan” terakhir datang. Kali ini berkaitan
dengan hitung-hitungan hasil jerih payahnya
selama satu setengah bulan. Semula
dia menghitung keuntungannya bisa mencapai
Rp 80 juta. Namun di ujung hari, ternyata Atik
hanya memperoleh keuntungan Rp 20 juta
ditambah sisa baju. Apa reaksinya?
“Ya, saya merasa kecewa. Tapi saya tetap
merasa bersyukur karena bisa mengatasi tantangan
dan menjaga kredibilitas Dewi Bordir,”
tutur Atik mengakhiri kisah yang tak pernah dia
lupakan seumur hidupnya. Atik mengaku peristiwa itu
menjadi pembelajaran untuk ‘naik kelas’
di dunia usaha yang dia tekuni maupun hidupnya sebagai
pribadi.
JATUH BANGUN DARI TITIK “NOL”
Atik Jumaeli boleh jadi tak akan lulus menghadapi
“ujian” yang datang dari orang seperti
Tuan Gam, andai saja ia belum teruji. Perempuan
Tasik ini sudah kenyang dengan pengalaman
jatuh-bangun sejak memulai usahanya dari nol.
Atik merintis Dewi Bordir pada tahun 1991, ketika
suaminya, Jumaeli, masih aktif bertugas sebagai
polisi berpangkat inspektur satu di Poires
Tasikmalaya. Sebagaimana istri polisi pada umumnya,
Atik wajib menjadi anggota Bhayangkari, organisasi
istri Poiri. Saat itu Bhayangkari banyak
melakukan kegiatan bersama Dharma Pertiwi, organisasi
istri TNI. Salah satu program yang mereka jalankan
ialah kegiatan ekonomi produktif, di mana
para anggota Bhayangkari dan Dharma Pertiwi diberi
fasilitas permodalan dan alat kerja. Atik termasuk
anggota Bhayangkari yang menerima modal sebesar Rp 50 ribu
dan satu unit mesin jahit untuk usaha kain bordir.
Usaha ini menjadi pilihan karena Tasik dikenal
sebagai kota industri kerajinan kain bordir.
Bahkan bordir telah menjadi salah satu identitas
masyarakat Tasik, selain anyaman mendong.
Hasil laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya
dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI
menunjukkan bahwa industri kain bordir di Tasik terus
memperlihatkan perkembangan yang signifikan,
bahkan ketika Indonesia mengalami krisis
ekonomi tahun 1997 hingga selepas tahun
2000. Dari delapan kecamatan yang ada di
Tasik, empat di antaranya bergerak di bidang
usaha pembuatan kain bordir, yaitu Cibeureum,
Cipedes, Mangkubumi, dan Kawalu.
Pada tahun 2005, terdapat setidaknya 1.092
unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin.
Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah
yang memiliki pelaku usaha kerajinan bordir
paling banyak, yaitu 87,7 persen dari total perajin
bordir di Tasik. Di kecamatan ini, terutama di
Desa Tegalsari, terdapat banyak pengusaha kain
bordir berskala besar seperti Thratex, Purnama,
Ciwulan, Haryati, dan Bunga Tanjung. Total
produksinya mencapai 7,2 juta potong per tahun.
Nilai produksi bordir di Tasik telah mencapai
angka lebih dari Rp 500 miliar dan mampu
menyerap ribuan tenaga kerja.
Pada dekade 1990-an ketika Atik memulai
usahanya, produk bordir Tasik telah jauh berkembang
dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Saat itu
produk bordir didominasi oleh busana muslim, termasuk
baju garnis, mukena, jilbab, baju koko, dan kopiah.
Jauh sebelumnya, yakni pada dekade 1960-an, jenis bordir
yang dihasilkan hanyalah kebaya dan pakaian tradisional
Cina karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan
etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an, setelah mesin
bordir bertenaga listrik muncul di Tasik, jenis produk
bordir yang dihasilkan pun meluas ke jenis kain untuk
interior ruangan (home interior), seperti seprai,
taplak meja, gorden, dan lain-lain. Namun
pada dekade 1980-an jenis kain bordir yang
diproduksi mulai bergeser ke busana muslim
yang kemudian berkembang hingga kini.
Ketika mulai merintis usahanya itu, Atik
belum pernah menjalani satu jenis usaha pun.
Sebelum menikah dengan Jumaeli, Atik adalah
karyawan sebuah kantor konsultan hukum.
Namun Atik bukan pribadi yang asing dengan
dunia jahit-menjahit. Anak kelima dari 10 bersaudara
H. Saun dan Hj. Sitj Huzaemah ini tumbuh dalam keluarga
penjahit pakaian wanita. Ibunya dikenal sebagai penjahit
kebaya di Cikalong, Tasik. Selain itu Atik sendiri
pernah mengambil kursus menjahit selama 6 bulan di
tempat kursus ‘Abadi’ di Tasik.
Meski demikian, Atik mampu mengembangkan kemampuannya
menjadi sesuatu yang menghasilkan bermodalkan
kemauan bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif.
Karakter-karakter seperti itu merupakan modal
penting bagi mereka yang ingin terjun di
bidang kerajinan. Selain itu, yang tak kalah
pentingnya adalah intuisi bisnis yang tajam
dalam menangkap pasar. “Usaha kerajinan bordir
memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun,
dan kreatif. Orang-orang seperti itulah
khususnya kaum perempuan, yang membuat Tasik dikenal
sebagai kota bordir,” katanya. Sejumlah sumber menyebutkan
bahwa dari tangan orang-orang seperti itulah, lahir kain
bordir bermotif alam, terutama flora, yang indah dan
menjadi ciri bordir Tasik.
Sadar sebagai pemula, Atik menjalani usahanya dengan sabar
dan tekun hingga tahun pertama usahanya
terlewati. Memasuki tahun kedua, Atik terus
bergerak perlahan namun pasti, sementara para
koleganya yang dulu sama-sama memperoleh
modal seperti dirinya mulai berguguran. Selepas
tahun kedua, perjalanan usaha Atik semakin mantap.
Pada tahun 1996, Atik ingin Dewi Bordir
memiliki badan hukum. Lahirlah kemudian CV
Dewi Nugraha. Atik juga mendapatkan suntikan
modal dari hasil arisan sebesar Rp 500 ribu.
Dana itu dia gunakan untuk membayar uang
muka mesin jahit baru merek Zuki seharga Rp
3,5 juta. Sisa utangnya dilunasi dengan mencicil.
Namun perjalanan usaha Dewi Bordir
tidak selalu mulus. Pada tahun 1997 usaha ini
pernah jatuh. Ketika itu, Dewi Bordir menerima
pesanan 1.000 lusin tatakan dan tutup gelas
senilai Rp 67 juta. Tetapi krisis ekonomi yang
meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan
uang hasil pesanan tersebut tak tertagih. Kondisi
Dewi Bordir pun sempat terganggu.
Hal serupa juga terjadi pada 2007, ketika
Dewi Bordir menerima pesanan busana bordir
sebanyak 400 pasang untuk dikirim ke Brunei.
Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang
namun hanya 400 pasang saja yang dibayar
sehingga Dewi Bordir tekor hingga Rp 45 juta.
Nasib nahas lainnya juga harus menimpa
Dewi Bordir. Suatu hari karyawan Dewi Bordir
menerima pengembalian barang yang sudah
dibeli orang. Namun setelah dibuka dan diteliti,
ternyata yang dikembalikan itu bukanlah produk
Dewi Bordir. “Dewi Bordir ketiban nahas akibat
kelakuan yang enggak sehat dari orang lain,” ujarnya.
Selain itu Dewi Bordirjuga pernah melakukan
kesalahan pengukuran ketika mendapatkan
pesanan baju koko sebanyak 20 kodi sehingga
harus menanggung semua kerugian. “Pernah
juga kami kena provokasi yang menyebut produk
kami mahal,” kata Dewi mengenang berbagai
peristiwa yang menimpa Dewi Bordir.
Sebagai lembaga bisnis dengan 30 orang
karyawan dan lebih banyak lagi karyawan
musiman pada saat pesanan meningkat, Dewi
Bordir tak luput dari gesekan internal. Umumnya
gesekan terjadi karena keluarga atau para
karyawan yang terlibat dalam bidang produksi
saling bersikukuh bertahan dengan tren yang
akan dilansir.
“Saya tipe orang yang suka bereksperimen
memasukkan produk-produk nonkonvensional
dan mencoba bertahan dengan sikap saya.
Mungkin itu yang sering menimbulkan gesekan,
baik dengan keluarga maupun karyawan,” katanya.
Namun Atik Jumaeli meyakinkan bahwa
setiap Dewi Bordir menghadapi masalah dari
luar, hal pertama yang mereka lakukan adalah
berusaha tidak panik dan saling menyalahkan.
“Kuncinya sadar dan sabar. Lalu bersama-sama
mencari penyebabnya dan bersama-sama juga
mencari jalan keluar,” katanya.
MENGELOLA SUMBER DAYA MANUSA
Sebagaimana dunia usaha bordir di Tasik pada
umumnya, Dewi Bordir juga harus menghadapi
masalah dari dalam berupa masalah tenaga
kerja. Walau mesin bordir dan mesin jahit
yang digunakan belum mengalami pembaruan
teknologi, tetapi pelatihan menggunakan
mesin tersebut tetap harus dilakukan pada
karyawan baru. “Tergantung, kalau karyawan
sudah memiliki pengetahuan cukup tentang menjahit,
maka gampang dilatih. Tetapi karyawan yang masih
baru sama sekali, memang agak
sedikit sulit,” jelas Atik.
Upah tenaga kerja berpengalaman di industri
bordir di Tasik mencapai Rp 1,2 juta
per bulan. Sementara UMR di Tasik hanya sebesar
Rp 680 ribu per bulan. Oleh sebab itu
mudah dijumpai karyawan yang keluar-masuk. “Kami
sadar bahwa di dunia bordir karyawan mudah
sekali keluar masuk. Dewi Bordir tidak
sendirian,” kata Atik seraya menduga banyak pengusaha
bordir tidak membuat kontrak kerja dengan karyawannya.
“Mungkin karena usaha bordir masih luas,” Atik
Menambahi keterangannya.
Untuk membuat orang merasa kerasan bekerja di Dewi
Bordir, Atik membangun pola hubungan kerja yang
manusiawi dan berusaha memberikan lebih kepada
karyawannya. Selain upah yang lebih tinggi dari UMR,
Atik memberikan insentif bagi mereka yang bekerja lebih.
Atik juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang
ingin mandiri. Dari 30 karyawannya, ada tujuh orang yang
telah mandiri. Atik merasa bangga kepada mereka karena
pola pikir mereka memang melebihi dirinya. “Karena itu
saya sangat mendukung mereka. Malah saya mendorong mereka
untuk berani mengajukan bantuan modal ke bank bjb. Saya
katakan ‘Ibu jadi jaminannya’,” ujar Atik bangga.
Dengan cara tersebut Atik yakin bahwa hubungan Dewi Bordir
dengan mantan karyawan akan tetap terjaga. Apalagi di dunia
bordir situasi saling membutuhkan memang sangat tinggi.
Dewi Bordir akhirnya membuat anak usaha berupa lembaga
kursus atau pelatihan membordir, khusus bagi kaum muda Tasik.
Lembaga ini didirikan demi tersedianya sumber daya manusia
atau tenaga terampil di bidang bordir yang dapat diandalkan
untuk masa depan. Tempat kursus ini berada di bawah CV Dewi
Nugraha, badan hukum yang menaungi usaha Dewi Bordir.
Kegiatan kursus di Dewi Bordir ini dibagi menjadi dua kelas,
yakni kelas besar dan kecil. Kelas besar berisi 75 peserta setiap
angkatan dengan masa kursus selama tiga bulan. Dalam satu
tahun Dewi Bordir mampu menyelenggarakan tiga kali pelatihan.
Sedang kelas kecil terdiri dari 20 peserta dengan
masa kursus satu bulan. “Tempat kursus ini kami dirikan untuk
mendidik generasi muda agar mereka punya
kemampuan membordir sekaligus menciptakan
generasi penerus seni bordir Tasik. Ini juga
untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Atik.
Melalui lembaga pelatihan ini Atik bersama
keluarga dan karyawan Dewi Bordir membuktikan bahwa
mereka benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia
yang andal di bidang bordir sehingga masyarakat dan
pemerintah pun memercayainya. Hal itu terlihat pada
banyaknya peserta kursus serta kepercayaan
yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Tasikmalaya, juga beberapa BUMN untuk menjalin
kerjasama dengan CV Dewi Nugraha. Dalam kerja sama ini
instansi atau perusahaan menyediakan dana, sementara
Dewi Bordir bertanggung jawab atas proses pelatihannya.
Program ini sebenarnya merupakan beasiswa
bagi anak-anak muda. Para siswa yang mengikuti program
ini tidak perlu membayar uang kursus. Sebaliknya,
mereka bahkan mendapat uang saku sebanyak Rp 30 ribu per hari.
Selama tiga bulan, mereka mengikuti tiga tingkat pelatihan,
yaitu: tingkat dasar, tingkat terampil, dan
tingkat mahir. Para siswa yang lulus umumnya
sudah siap ditampung oleh perusahaan-perusahaan
bordir yang membutuhkan. Perusahaan bordir kain yang
membutuhkan tenaga kerja pun hanya perlu menghubungi
Dewi Bordir. Dewi Bordir juga kerap menjadi tempat magang
atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi pelajar
SMK dan perguruan tinggi. Banyak sekolah dan
kampus mengirimkan anak didik atau mahasiswa
mereka agar bisa menjalani masa magang atau PKL di sini.
KEJELIAN MEMILIH PRODUK ANDALAN
Seraya menjalani usahanya, Atik menyempatkan
diri untuk meningkatkan berbagai keterampilan yang
menunjang bisnisnya. Dia rajin mengikuti pelatihan
pemasaran dan manajemen.
Di samping itu Atik juga terus mengasah bakat
menggambarnya yang sangat mendukung usahanya,
terutama dalam menciptakan desain barang-barang
yang akan diproduksi.
Secara sekilas tatakan dan tutup gelas bordir
berdiameter lima hingga delapan sentimeter
sebagai produk andalan Dewi Bordir tampak
sederhana. Namun Atik mencoba memberikan
nilai tambah, yakni sulam timbul. Selain itu
Atik juga menciptakan produk serupa berbahan
perca. Semua produknya tampil dengan motif
bunga atau bintang berwarna-warni.
Meskipun sederhana, tatakan dan tutup gelas
justru menjadi pemimpin pasar untuk seluruh
produk Dewi Bordir, bahkan produk serupa di
Tasik. Produk-produk ini juga membawa Tasik
memperoleh kebanggaan. Sebab, tatakan dan
tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu
produk UKM Tasik yang diekspor. Prestasi ini
menjadikan Dewi Bordir sebagai UKM yang
banyak memperoleh fasilitas dari pemerintah
atau lembaga lain.
Atik tentu bukan sosok yang naif. Ia tidak
ingin Dewi Bordir memenjarakan diri dengan
hanya memproduksi tatakan dan tutup gelas.
Dewi Bordir juga memproduksi produk bordir
lain yang diminta pasar seperti sarung bantal
termasuk untuk bantal kursi—taplak, tas,
batik, serta busana muslim dan kelengkapannya.
Bahkan Atik juga berhasil membawa Dewi
Bordir melahirkan produk busana yang kerap
tampil dalam acara peragaan busana, yaitu
busana muslim, busana resmi, dan busana
Sunda kontemporer. Saat ini Dewi Bordir
mampu memproduksi 500 baju bordir pesanan
hanya dalam waktu 2 bulan. Rentang waktu tersebut
sudah termasuk dari waktu perancangan,
mencari bahan, hingga waktu produksi.
Pengalaman menjalani usaha dari bawah
ternyata membuat intuisi bisnis Atik Jumaeli
terlatih membaca pasar. Hal ini melandasi Atik
saat memilih tatakan dan tutup gelas menjadi
produk andalan Dewi Bordir. Awalnya, Atik
memasarkan produk-produk tersebut pada
acara-acara arisan, bazar, dan pameran yang
melibatkan ibu-ibu anggota Bhayangkari dan
Dharma Pertiwi di Tasik. Setelah mulai di
kenal, Dewi Bordir tampil secara rutin pada
ajang serupa di Tasik maupun kota-kota lain di
Jawa Barat.
Pada tahun 2003, ketika produksi bordir di
Tasik telah mencapai angka Rp 300 miliar, Dewi
Bordir juga mengalami perkembangan. Pasarnya
bukan hanya ada di dunia arisan atau pameran,
melainkan pasar sesungguhnya. Kejelian menangkap
pasar dan cara memasarkan produk,
membuat Jakarta dan sejumlah kota lain mulai
mengenal produk Dewi Bordir.
KELUARGA DAN PENGEMBANGAN USAHA
Di balik sosok yang sukses selalu ada pendukung yang
hebat. Para pendukung itu pula yang selama ini
membuat Atik selalu merasa bersemangat
dan gigih dalam menjalani usahanya.
Jumaeli, suaminya, menurut Atik adalah sosok pendukung
yang hebat. Di luar tugasnya sebagai anggota Poires
Tasik, Jumaeli selalu siap memberikan bantuan dan dukungan
nyata yang dia perlukan. Demikian pula keempat anak
mereka, Budi Mulia, Dewi Fuji Fitriarti, Cecep Ibnu, dan
Jajang Nugraha. “Saya merasa menjadi lebih
bersemangat karena suami dan anak-anak sangat mendukung
usaha ini,” tuturnya. Budi, anak pertama, setelah lulus
kuliah banyak membantu di bidang pemasaran. Demikian
pula Dewi yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil Bandung.
“Bahkan saya dan bapaknya berharap mereka bisa bekerja
sama melanjutkan usaha ini menjadi lebih besar lagi,”
katanya.
Khusus tentang Budi, Atik berterus terang
sangat memerlukan tenaganya, terutama saat
Atik harus mengikuti pameran di luar negeri.
Sebab sudah sejak beberapa tahun terakhir
Dewi Bordir kerap melakukan pameran di luar
negeri. Bahkan, untuk beberapa negara pameran
telah berlangsung secara rutin. Di Malaysia,
misalnya, Dewi Bordir telah melakukan pameran
sebanyak lima kali, di Singapura sudah
berlangsung tiga kali, di Brunei dua kali, dan di
Dubai sekali.
Pada April 2011 Atik melakukan pameran
lagi ke sejumlah negara, yakni Arab Saudi,
Jerman, dan Rusia. “Jadi meskipun hanya
tatakan dan tutup gelas, produk Dewi Bordir
sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri.
Malah sebagian sudah menetap di luar negeri,”
katanya berseloroh.
Karena kinerjanya itu pula, pada tahun
2006 usaha ini terpilih sebagai salah satu
UKM yang mendapatkan fasilitas permodalan
dari bank bjb. Meskipun enggan menyebutkan
jumlahnya, Atik mengakui dana tersebut ikut
membantu usahanya lebih berkembang dan
mampu membayar pinjaman dengan disiplin.
Adapun cara pembayarannya pertama adalah
dengan selalu membayar bunga pinjaman setiap
bulannya. Sementara pembayaran pinjamannya
dilakukan ketika mendapatkan untung dari pesanan besar.
Dewi Bordir sempat memperoleh pinjaman
modal lagi. “Tapi selanjutnya kami tak ingin di
pinjami lagi karena sudah punya modal sendiri
dari usaha yang ada,” ujar Atik. Kedisiplinan
adalah kunci lancarnya pembayaran pinjaman
Atik ke bank.
Dengan dukungan keluarga dan karyawan, Atik
juga telah mengantar Dewi Bordir
menerima sejumlah penghargaan sekaligus
kemudahan. Selain sering menerima fasilitas
pameran secara gratis, Dewi Bordir juga menerima
fasilitas berupa ruko di Asia Plaza, Jalan
Hajat Mustofa nomor 8, Tasikmalaya. “Saya sangat
menghargai tempat ini karena ini fasilitas yang
kami dapat setelah produk-produk Dewi Bordir
terpilih sebagai produk unggulan bordir Tasik,”
katanya.
Atik juga mengakui bahwa perhatian pemerintah
cukup membantu. Dewi Bordir sering
mendapatkan fasilitas pameran, baik di tingkat
lokal, nasional, maupun internasional. Selain
pameran, Presiden pada masa itu, Megawati
Sukarnoputri, memberikan penghargaan berupa fasilitas
HAKI pada produk Dewi Bordir yang telah mampu
memproduksi barang yang memiliki nilai tradisional
khas Indonesia. Dari usaha kerasnya dan berhasil
mendapatkan penghargaan itu, omzet yang dicapai
Dewi Bordir mencapai sekitar Rp loo juta per
bulan atau lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Dan,
dari omzet tersebut Atik meraih keuntungan
bersih sebesar 20 persennya.
MENYIAPKAN PASAR KE DEPAN
Pengalaman mengelola usaha selama bertahun-
tahun dan kejelian Atik Jumaeli membaca pasar
telah membawa Dewi Bordir pada posisi harus
mampu memilih segmen pasar yang tepat.
Menurut Atik, Dewi Bordir sedang merintis
jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah
ke atas. Alasannya, “Di segmen ini kondisinya
lebih stabil,” katanya.
Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen
ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-
hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan.
Selain itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-
desain baru yang sesuai dengan tuntutan pasar.
“Untuk tahu pasar kami mencari informasi dari
internet atau majalah,” ujarnya.
Namun Atik juga berusaha profesional dan
memegang etika usaha. Dalam membuat desain,
misalnya, Dewi Bordir tidak mau menjiplak
karya orang lain. “Kalaupun terpaksa harus
mengikuti tuntutan pasar, kami melakukan
modifikasi atas tren yang sudah ada,” tuturnya.
Terkait bahan-bahan yang diperlukan, pada
umumnya usaha kerajinan bordir di Tasik jarang
mengalami kendala. Bahan dasar yang banyak
digunakan dalam usaha bordir di wilayah ini
ialah sutra. “Untuk bahan dasar, selama ini
masih bisa didapat dengan mudah,” ujar Atik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya
menyebutkan bahwa untuk bahan baku
kain dan benang bordir, para pengusaha memperolehnya
dari sejumlah pabrik yang ada di
Bandung, Jepara, dan Pekalongan. Sebagian besar
menggunakan produk lokal, hanya sebagian
kecil yang diimpor dari negara lain.
Namun menurut Atik, jika pengusaha bordir
menerima pesanan mendadak dalam jumlah
besar, sementara bahan tidak mudah didapat di
Indonesia, maka mereka jelas kelabakan. “Jangan
sampai para pengusaha bordir menghadapi
masalah yang pernah saya alami. Cukup saya
saja yang menghadapi pengalaman seperti itu,”
katanya merujuk pada pesanan Tuan Gam yang
membuatnya kalang-kabut karena bahannya
sukar dicari di Indonesia.
Untuk urusan pemasaran dan promosi, Dewi
Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan.
Selain mempertahankan promosi dan mulut ke
mulut melalui ajang arisan, bazar, dan pameran,
Atik juga menempuh cara pemasaran yang
lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik
pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke
Jakarta dan beberapa kota lain. Sentra-sentra
pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang
dan Cipulir adalah sasaran mereka.
Namun, menurut data Dinas Perindustrian
dan Perdagangan, pengusaha bordir yang sudah
terkenal tidak perlu memasarkan sendiri karena
pemesan datang sendiri ke tempat usaha mereka.
Sebagian besar kain bordir mereka diborong oleh
para distributor, yang kemudian menjualnya
kembali ke kota-kota lain. Distributor juga
bertindak sebagai agen pengekspor kain bordir
ke negara-negara lain seperti Malaysia, Arab
Saudi, Brunei Darussalam, dan Yordania.
Para pengusaha kain bordir di Tasik juga telah
mendirikan organisasi Gabungan Pengusaha
Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA). Di samping
membantu permodalan, organisasi ini juga bertujuan
membantu anggotanya mencari strategi
agar tercipta jaringan pemasaran produk.
GAPEBTA telah berhasil mencarikan kios-kios
bagi anggotanya untuk berjualan di berbagai
kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan
Yogyakarta. Khusus untuk Jakarta, kios-kios
pengusaha dari Tasik dapat ditemui di Pasar
Tanah Abang. GAPEBTA memiliki anggota
hingga 8oo orang pengusaha kain bordir, dan
lebih dari separuhnya memiliki kios-kios di
kota-kota besar.
Namun Atik juga punya keyakinan bahwa
barang yang berkualitas selalu punya jalannya
sendiri untuk mencapai sasarannya. Oleh sebab
itu, selain terus berusaha memperluas pasar,
Atik juga sangat menjaga kualitas produknya.
Dengan sikap seperti itu, pasar Dewi Bordir terus
meningkat, dari lokal ke nasional, dan akhirnya
internasional.
Meskipun demikian, Atik tidak ingin semua
awak Dewi Bordir, termasuk dirinya, berleha-
leha. Mereka mulai belajar memanfaatkan
teknologi internet untuk mencari informasi dan
peluang memasarkan produk-produknya. Namun
sarana ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dewi Bordir, misalnya, belum memiliki situs khusus.
Pada awal 2011 Atik merintis pembukaan
cabang Dewi Bordir di Season City, Jakarta
Barat, dengan tujuan membawa usaha ini
lebih profesional. Namun, seperti kata pepatah
‘setiap permulaan selalu sulit’, maka tampaknya
sampai saat ini dewi fortuna belum berpihak
pada Dewi Bordir. Karena masih sepinya mall
baru tersebut, Dewi Bordir mengalami kerugian,
sehingga cabang tersebut harus ditutup. Meski
demikian, kejadian tersebut tidak membuat
Atik putus asa. Ia masih memiliki satu cabang
lainnya di UKM Gallery, Smesco, Jakarta. Untuk
menjaga agar pasar tetap mencarinya, Dewi
Bordir menyewa konsultan manajemen untuk
melakukan quality control.
“Saya ingin maju seperti Dewi Motik
Pramono (mantan Ketua Umum Ikatan Wanita
Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa
Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang
maju,” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah
Jumaeli mengakhiri kjsah perjalanan usaha
dan cita-citanya ke depan.
Catatan Rhenald Kasali
Salah satu syarat bagi pengusaha UMKM untuk naik kelas adaiah ‘berani dan
mau melakukan hal-hal yang sulit’. Anda mungkin masih ingat penstiwa
manusia yang mendarat di bulan pada 1969. Saat itu terbang ke bulan
suatu keniscayaan, tetapi di bawah J F Kennedy, Amerika Serikat berhasil
melakukannya.
Dalam suatu ceramah di Texas, Kennedy menjelaskan, “Ketika bangsa-bangsa
lain mengembangkan teknologi untuk mendaratkan manusia ka puncak gunung,
Kita justru memilih teknologi untuk mendaratkan manusia ke bulan. Mengapa
ke bulan? Jawabnya adalah karena pertama kita tidak ingin dilihat oleh
Rusia dari atas bumi kita dan kedua karena ini tidak mudah. Kita memilih
terbang ke bulan bukan karena mudah dan hanya bangsa yang mau
melakukan hal-hal yang sulit itulah yang akan menjadi bangsa yang hebat.”
Saya membuka kisah naik kelas Atik Jumaeli dengan keberaniannya menerima
order yang sulit sekali untuk ia penuhi. Orang-orang yang mengambil risiko
seperti ini adalah crang-orang yang mau bergerak dan mau berpikir.
Saya pikir orang-orang lain yang mendengar keluhannya akan mengatakan
‘Gila! Berani amat, sih mengambil risiko?”
Mayoritas manusia memang hanya mengambil langkah-langkah yang gampang dan
tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Bahkan melakukan perjalanan ka luar
negeri pun harus bergerombol dan diantar orang yang sudah tahu lebih dulu.
Kalau sudah begitu, Anda jadi bisa duduk tenang yang artinya tak perlu
Berpikir. Santai.
Tapi Anda tak tahu banyak. Anda takut tersasar bukan? Kata Columbus “Orang-
orang yang tak berani kesasar tak akan pernah menemukan jalan baru.”
Demikianiah Atik Jumaeli naik kelas karena ia mau berpikir, rela kesasar
Tetapi ia menemukan cara-cara dan keberanian-keberanian baru. Bagi sebagian
orang, hal ini memang sangat meletihkan. Tetapi, itulah yang membuat
pikiran manusia mandapatkan tempat terhormat, di atas kepala. Ia menjadi
komandan karena aktif digunakan dan cermat memberi perintah. Seperti kata
pepatah ‘bukan kaki yang menggerakkan langkah kita, melainkan pikiranlah’,
Ayo, beranilah melakukan hal-hal yang sulit!
Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)