Saturday, April 13, 2013

Sulaeman, dari Bisnis Gerabah Plered Sukses Raup Omzet Ratusan Juta Hingga Produknya Tembus Sampai Jerman dan Jepang

Eman Sulaeman, Mempertahankan Usaha Warisan Plered

Plered, Purwakarta merupakan salah

satu sentra kerajinan gerabah di

Indonesia yang terkenal di mancanegara.

Usaha di bidang ini pun kebanyakan

merupakan bisnis turun-temurun yang

konon sudah ada sejak tahun 1904.

Namun seiring waktu, usaha ini ternyata

tak lagi mudah. Dibutuhkan cucuran

keringat dan usaha yang luar biasa

untuk mempertahankannya.

SALAH satu pengusaha yang memulai bisnis

gerabah ini secara mandiri sejak 1993 adalah

H.Eman Sulaeman. Sejak duduk di bangku sekolah

dasar, pemilik Risman Wijaya Keramik ini sudah

ikut membantu orangtuanya memajukan bisnls

gerabah yang didapat ayahnya dari sang

Kakek. “Jadi, keseharian saya membantu orangtua

sejak SD. Dari proses produksi sampai

masalah finishing. Kecuali masalah pembentukan

dengan teknik putar, saya enggak bisa,” tutur

Eman yang ditemui di warungnya. Sekitar tahun

1982, bisnis gerabah memang sedang jaya-jayanya.

Gerabah jenis grafir sedang tren dan

amat disukai pasar untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun adanya campuran timbal yang dilarang oleh

Pemerintah karena berbahaya menggeser tren grafir

Ke bahan terakota.

Bisnis keramik itu hanya sempat dinikmati

Eman sampai ia lulus SMA. Orangtua Eman memintanya

kuliah. Dia pun terpaksa meninggalkan

hiruk-pikuk Plered demi bersekolah di IKIP Bandung.

Namun, kuliah tidak memadamkan minat Eman pada

dunia gerabah yang sudah mendarah daging.

Tahun 1993, sebelum diwisuda,

dia memutuskan untuk terjun membuka usaha

keramik sendiri, tidak lagi ikut dengan ayahnya.

Dia sudah memutuskan tidak akan menjadi

pegawai negeri dan akan menekuni bisnis tersebut.

Target awalnya sederhana, mendapatkan 1

kontainer untuk diekspor dalam tahun pertama.

Target tersebut berhasil dilampaui, bahkan Eman

kebanjiran order sampai mampu mempekerjakan

sekitar 30 orang.

PASAR INTERNASIONAL VS LOKAL

Meski sudah mengerjakan bisnis sendiri, bantuan

tetap diberikan oleh orangtua Eman, berupa

modal awal sebesar Rp 200 ribu. Eman pun

masih menggunakan peralatan lainnya, seperti

tungku, dari usaha milik orangtuanya. Dengan

modal minim, Eman mampu menghasilkan

keramik ukuran 55 cm yang per unitnya dijual

Rp 30 ribu. Padahal biaya produksinya hanya

Rp2.500 dengan upah Rpl.250.

Berbeda dengan para perajin lain di Plered,

Eman lebih berkonsentrasi menembus pasar

internasional ketimbang lokal. Turis mancanegara

yang banyak menengok Plered memberi

order hingga jauh melebihi kemampuan Eman.

“Jadi, kemampuan saya ibaratnya cuma satu

gelas, tetapi order yang saya terima sampai satu

teko. Karena memang belum disiasati, saya

belum punya kemampuan untuk bikin kerja

sama dengan teman-teman, order dibuang ke

mana-mana,” kenangnya.

Tahun 1993-2002 adalah masa keemasan

Eman. Pada periode tersebut order dari pasar

internasional tidak pernah sepi. Kala itu dia

bisa menikah, membeli tanah, membeli rumah,

bahkan naik haji. Dia juga mengirimkan kontainer

dengan jumlah terbanyak, yaitu 10

kontainer senilai Rp 1 miliar. “Saya kalau hitung

satuan untuk retail, bingung. Dari dulu

hitungannya kontainer, jadi produksinya enggak

banyak item, tapi kuantitasnya banyak,”

jelasnya. Dari order ini, keuntungan bersih yang

diperolehnya mencapai sekitar Rp 250 juta.

Tahun 1998, dia bekerja sama dengan broker

besar yang khusus melayani pasar internasional

dengan produk gerabah untuk interior. Sejak

saat itu, hubungan Eman dengan pasar lokal

terputus. Konsumen lokal tidak terjaga dengan

baik, hal ini yang membuat bisnis Eman merosot

di kemudian hari. Dia hanya menarget produksi

pasar lokal sebesar 30 persen, sementara pasar

internasional hingga 70 persen.

Namun tahun 2002, pasar internasional

semakin sepi sedangkan pasar lokal semakin

bergairah. Sementara perajin yang berfokus di

pasar lokal mulai mendulang untung, Eman harus

memulai kembali dari nol untuk mendekati pasar

lokal yang sempat ditinggalkannya. “Tahun

2002 pasar lokal nyambung, pasar ekspor putus

hubungan. Bingung masuk ke pasar lokal lagi,

karena trennya sudah beda,” tutur Eman yang

harus mempelajarii lagi selera pasar lokal.

Di pasar lokal, tren keramik interior di tahun

1985-2000 bergeser menjadi tren eksterior di

tahun 2000-2010. Pot-pot cantik untuk kebun,

misalnya, merupakan salah satu produk yang

amat diminati. Hampir setiap bulan perajin

Plered mengirim barang ke Jakarta. Untuk

kembali meraih pasar lokal, selain mempelajari

tren eksterior, Eman pun memberi porsi yang

seimbang bagi kedua jenis pasar.

Setelah dua tahun menekuninya kembali,

Eman berhasil menggaet kembali pasar lokal.

Kuncinya adalah mengikuti kemauan pasar.

Selain menyukai produk eksterior, pasar lokal

pun menyukai warna yang ngejreng. Jika

dibawa ke Jakarta, produk-produk yang seperti

itu akan laris-manis. Hal itu bertolak belakang

dengan pasar internasional yang lebih menyukai

warna-warna lembut dan minim dekorasi. Dan,

belajar dari pengalaman, pasar internasional

tetap tak ditinggalkan.

Benar saja, karena tahun 2007 pasar internasional

ternyata kembali bergairah. Eman

membawa Risman Wijaya Keramik mengikuti

pameran internasional seperti Pameran Produksi

Ekspor (PPE). Bahkan Eman mengikuti

pameran yang digelar di Jerman. Hingga kini,

dia sudah 3 kali ikut pameran di negara itu.

Selain itu, di warungnya di Plered tetap

tersedia stok keramik dengan berbagai bentuk

untuk melayani permintaan pasar lokal. Pasar

ini pun dikembangkan dengan rajin mengikuti

pameran produk-produk kerajinan nasional, misalnya

CRAFINA. Dari pameran itu bisa diketahui,

misalnya, tren 2007-2010 kecenderungannya

minimalis, tanpa gagang. Jika tidak ikut pameran,

Eman yang menjadi ketua koperasi di

Plered ini mencari informasi perkembangan tren

dari perajin sekitar yang ikut pameran.

Dari situ, dia tidak ketinggalan

mengetahui kecenderungan pasar internasional maupun

lokal. Pasar internasional yang sudah dijangkau Eman

antara lain Amerika, Jerman, Hongkong dan Italia.

Namun sejak tahun 2004, importir sudah jarang

bertransaksi langsung dengannya. Biasanya sudah

ada eksportir lokal yang mendapatkan pesanan,

kemudian dilanjutkan ke Eman. Menurut prediksi Eman,

kecenderungannya saat ini pasar lebih suka datang ke

satu tempat, seperti ke sebuah pameran, dan di sana

mereka mendapatkan berbagai macam jenis barang

sekaligus. Biasanya eksportir semacam itu

paling sedikit memesan 200 unit.

Karenanya, mengikuti pameran adalah wajib hukumnya

agar tetap bisa eksis. Setahun minimal seorang

perajin harus mengikuti 3 pameran

‘wajib’, seperti PPE, IFFINA, dan INACRAFT,

untuk ajang promosi. Dan pameran-pameran

itulah order lokal maupun internasional berskala

besar didapat. “Kalau sekarang keramik sudah

enggak tren. Jadi, menyiasatinya beda dengan dulu.

Kalau dulu cukup disiasati dengan membikin

barang yang bagus. Kalau sekarang, barang

yang bagus juga harus kuat promosinya,”

jelas Eman. Berapa biaya yang harus

disiapkan Eman untuk mengikuti 3 pameran tersebut?

Eman memperkirakan minimal per tahun berkisar

antara Rp 45 juta hingga Rp 6o juta.

Biaya promosi yang tidak sedikit ini bisa diatasi

dengan mencari sponsor. Eman biasanya mendapatkan

dari bank bjb.

Kehadiran bank bjb pun dirasakan amat

membantu usaha Eman sejak ia menjadi debitur

bank tersebut tahun 2008. Dia bisa meminjam

terlebih dulu modal untuk membuat keramik

pesanan, mengingat biasanya buyer hanya

memberi uang muka sebesar 30 persen dan

pelunasannya baru dibayarkan 15 hari setelah

barang dikirim. Selain itu, kehadiran bank

bjb kerap mendukung perajin setempat untuk

mengikuti sejumlah pameran.

TANGAN TERAMPIL UNTUK PRODUKSI

Meskipun menghadapi masa sepi seperti tahun

2008, empat pekerjanya tetap memproduksi

berbagai macam jenis keramik setiap harinya. Saat

ini pekerja di tempat Eman berjumlah 12 orang.

Namun, jika order cukup banyak, Eman bisa

menambah pekerja hingga 30 orang. Kebanyakan

dari mereka terhitung masih keluarga. Misalnya

keponakan yang baru lulus sekolah. Namun,

mereka hanya dijadikan pekerja kasar, tidak

menangani manajemen.

Untuk memilih pekerja, Eman tidak sembarangan,

meskipun kerap diambil dari tetangga dan

kerabatnya sendiri. Berbekal

pengalamannya sejak kecil menjadi perajin

keramik, Eman mengetahui siapa saja di

antara mereka yang memiliki kemampuan

bagus. Karena lingkungannya adalah perajin

keramik, dia mengambil karyawan dari warga

sekitar. Alasannya, akomodasi lebih murah

dan lebih efisien mengingat orang sekitar tidak

memerlukan biaya transportasi, dan tidak

ada yang pulang ke daerah asal. Selain itu,

pengawasannya jauh lebih mudah. Pekerja yang

mudah loncat-loncat pun masuk dalam daftar

blacklist yang tidak diliriknya.

Para karyawan yang bekerja di tempat Eman

mendapat upah harian, yang berkisar antara

Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu. Mereka mulai

bekerja pukul o8.oo hingga 15.30, dengan jam

istirahat antara pukul 12.00-13.00. Selain itu,

ada juga yang dibayar secara borongan, yakni

untuk pekerja yang khusus membakar dan

memutar gerabah. Biasanya mereka mendapat

bayaran dalam kisaran Rp 75 ribu hingga Rp

150 ribu, tergantung dari jumlah barang yang

diproduksi. Perbedaan upah ini tergantung pada

kualitas barang yang dihasilkan. Jika barang

yang dihasilkan berkualitas ekspor, otomatis

upahnya pun tinggi.

Jika pesanan cukup banyak, Eman biasanya

akan merekrut karyawan harian yang mau

tak mau standar kemampuannya pun belum

jelas. Dan, mengingat usahanya masih belum

berskala besar, Eman belum menganggap

perlu adanya karyawan profesional. Untuk

pelatihan karyawan pun hanya diperoleh dari

pemerintah. Meski begitu, ke depannya dia akan

membuat sistem kerja yang lebih baik mulai dari

perekrutan, produksi, dan lainnya, mengingat

dia masih berorientasi memenuhi pasar keramik

internasional.

Selain masalah sumber daya manusia, Eman

juga terus berupaya memperbaiki teknologi

untuk produksi, seperti mengolah bahan baku,

teknologi pembakaran, sampai pengeringan.

Biasanya Eman menjalin kerja sama dengan

perguruan tinggi setempat, meski masih dalam

bentuk yang sederhana. Dukungan pun

didapatnya dari suku dinas setempat, berupa

bantuan alat produksi seperti tungku pembakaran.

Untuk pasar retail, biasanya Eman menyediakan

stok dari kelebihan produksi yang

ada hingga sisa ekspor. “Kalau ada pesanan

1.000 unit, biasanya saya buat 1.100 unit.

Pertimbangannya, 50 unit adalah barang reject yang

tidak sesuai kriteria, sementara selebihnya akan

dijual retail di warung,” urainya. Hanya saja,

bermacam-macam keramik yang diproduksi

kadang tidak sesuai dengan selera konsumen.

Sehingga ia harus jeli melihat kecenderungan

pasar lokal. Dan biasanya, trennya hanya bisa

bertahan selama 8-10 bulan saja.

Cara lain membaca tren pasar lokal adalah

mengandalkan majalah interior dan eksterior.

Eman juga pernah mencoba mengaplikasikan

tren internasional ke dalam pasar lokal.

Misalnya saja dari hasil pameran di Jerman pada

tahun 2010. “Kan tren internasional udah

ketahuan, tapi di Jakarta belum semuanya tahu.

Saya coba masuk. Kalau seleranya nyambung,

berarti ngetrennya begini,” paparnya.

Lebih dari 4 tahun mempelajari pasar

internasional maupun lokal, Eman mengetahui

keunikan setiap pasarnya. Misalnya, pasar Jerman

lebih menyukai desain minimalis dengan warna

lembut, sementara Jepang cenderung menyukai

keramik dengan desain sederhana yang kecil,

mengingat rumah-rumah di Negeri Sakura itu

kebanyakan berukuran mungil. Meski kecil

dan tampaknya remeh, pasar Jepang menuntut

bentuk yang sempurna.

Lain lagi dengan Korea yang cenderung menyukai

gerabah untuk eksterior. Pasar ini menuntut

perhatian sendiri karena yang paling

utama dari produk eksterior adalah daya tahan

untuk menghadapi 4 musim di Korea.

“Sayangnya, untuk masalah seperti itu saya

belum punya solusinya. Kalau nanti solusinya

ditemukan, bisa itu ditembus,” ujar Eman.

Beda lagi dengan pangsa pasar Amerika yang

lebih menyukai desain etnik dan dekoratif.

Kecenderungannya tidak banyak macam, namun

secara kuantitas banyak. Permasalahannya

hanya soal packing, karena harus aman dan

terlindungi dari kemungkinan rusak akibat

benturan sepanjang perjalanan. Selain itu,

pemasaran ke Amerika langsung dengan

packagingnya. Sehingga urusan pengemasan sama

persis dengan kondisi saat pengiriman dari

Indonesia. Hal ini berarti Eman pun harus

memperhatikan kemasan yang baik sejak gerabah

tersebut berangkat dari tempatnya. Cara

seperti ini biasanya dilakukan oleh buyer besar

yang memiliki ratusan showroom.

Masalah ukuran barang juga harus tepat

untuk pasar internasional, bukan hanya karena

permintaannya demikian, tetapi juga berkaitan

dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengirim

barang. Dari segi ketelitian, pasar internasional

biasanya hanya memberi toleransi ukuran meleset

sebesar 2 cm saja. Jika meleset hingga 5 cm,

barang langsung di-reject.

Perbedaan ukuran dan bentuk barang pesanan

juga bisa memengaruhi packaging masuk ke dalam

kontainer. Jika barang pesanan

berukuran besar, jumlah yang masuk ke dalam

kontainer otomatis akan berkurang. Misalnya,

standarnya bisa mengangkut 1.200 unit barang,

bila dimasukkan barang-barang besar

berkurang bisa berubah menjadi 8oo unit saja.

Padahal harganya pun sama.

“Otomatis biaya transportasinya pun jadi

jauh lebih mahal. Itu hitungan fisiknya susah.

Maka desainnya yang sederhana-sederhana

saja,” imbuhnya. Racikan bahan baku dan pemanasan

di tungku yang tepat menjadi kunci

produk tersebut bisa sesuai dengan pesanan.

Namun, untuk barang-barang yang meleset

ukurannya itu, Eman tak hilang akal. Barang

barang tersebut dipajang di warung atau

dipasarkan pada pameran lokal.

SERBA DIURUS SENDIRI

Lulusan Fakultas Seni dan Sastra IKIP Bandung

ini juga berupaya menciptakan tren sendiri

dengan mempertimbangkan selera pasar. Biasanya

tren ciptaannya sendiri itu mendapat

sambutan lebih baik di luar negeri ketimbang di

pasar dalam negeri sendiri. Bahkan pada tahun

2007, order bisa mencapai Rp 400 juta per

tahun. Itu belum pemasukan yang didapat dari

warungnya.

Seperti kebanyakan UKM lainnya Eman

mengurus semuanya sendiri, mulai dan produksi

hingga packaging. Eman belum memercayakan

anak buahnya melakukan segala

pekerjaan tersebut tanpa pengawasan. Sebab

berdasarkan pengalamannya, ketika diserahkan

ke perajinnya tanpa diawasi, barang yang

dihasilkan malah mendapat komplain dari buyer.

“Semuanya saya urus sendiri. Pameran,

produksi...,” ujarnya. Sebenarnya Eman ingin

melepas salah satu supaya bisa mengurus pasar.

Apalagi ia juga menjabat sebagai ketua perajin

di Plered. Menurut Eman, seharusnya sesama

perajin keramik bisa bekerja sama. “Setiap

perajin kan punya kekhasan sendiri,” ujarnya,

“Jadi, dibagi-bagi saja. Kalau tidak laku, ya

dikembalikan. Yang penting jangan ada yang

nakal, jangan ada yang main sendiri.”

Untungnya, dari pengalaman Eman selama

ini, sesama perajin keramik di daerahnya tidak

ada yang berkarakter plagiat. Justru mereka

berlomba-lomba membuat desainnya masing

masing sehingga keramik Plered menjadi

beraneka ragam. Adik Eman sendiri mewarisi

pembuatan keramik dari orangtuanya. Mereka

banyak bekerja sama, di antaranya karena si

Adik kini telah menjadi eksportir keramik di

Jakarta.

Eman menyayangkan, persaingan yang

kian tinggi di antara perajin keramik mulai

menjadi masalah, bahkan membuat beberapa

usaha keramik di Plered gulung tikar. Mereka

bukan saja bersaing di antara sesama perajin,

melainkan juga dengan usaha-usaha lain yang

lebih menarik bagi pemilik modal. Mereka beralih

ke usaba lain, seperti menjual pulsa. Eman

amat menyayangkan hal tersebut, mengingat

nama besar Plered sebagai kota perajin keramik.

Eman berupaya mendorong teman-temannya

agar tidak menyerah dan tetap bertahan, salah

satunya dengan mendirikan koperasi. Koperasi

perajin di Plered didirikan untuk memecahkan

masalah bahan baku agar menghasilkan satu

formula untuk setiap keramik yang menjadi

tujuan negara-negara tertentu. Sebab, bila

perajin salah meracik bahan baku akan berdampak

pada mutu dan kualitas keramik hasil akhirnya.

Apalagi, harga bahan baku pun semakin

mahal. “Kalau dulu bahan baku tanah liat hanya

sekitar Rp 6o ribu satu ton, sekarang Rp 150

ribu. Sementara untuk kayu bakar sekitar Rp

120 ribu per 4 m3, kalau sekarang Rp 500 ribu.

Kalau upah enggak terlalu naik, paling 2 kali

lipat. Makanya, kalau sekarang ini eksportirnya

berat. Kalau dulu masa bulan madunya, kalau

sekarang sudah bukan. Bisa bertahan juga sudah

untung,” jelas Eman. Untuk urusan produksi,

menurut Eman, kendalanya memang di modal

untuk memulai proses dan tenggat waktu untuk

memenuhi pesanan.

Eman pun menjelaskan bahwa bahan

baku pembuatan keramik yang terbaik adalah

lumpur. Hasilnya sangat halus dan kuat, tetapi

lumpur yang bagus menuntut perlakuan yang

‘manja’, yaitu harus benar-benar disaring

supaya halus, dibakar dengan suhu tinggi, dan

seterusnya. Bahan lainnya adalah puder yang

kasar tetapi lebih cepat pengerjaannya. Dengan

demikian, untuk memenuhi tenggat waktu yang

diminta pelanggan, Eman harus pintar-pintar

mengombinasikan bahan-bahan tersebut dan

menyesuaikannya dengan permintaan pelanggan.

“Konsumen dari Jepang dan Jerman

sangat detail, mereka tidak mau kalau bahannya

dicampur,” jelasnya

Sementara untuk masalah pemasaran, Eman

mengaku masih pasif. Ia masih menunggu

permintaan melalui email. Kehadiran internet

menurutnya belum cukup membantu. Kendala

yang dimilikinya bukanlah kesulitan

mendapatkan akses internet, tetapi masalah

bahasa. “Kalau dulu kan buyer-nya datang

langsung, jadi meskipun bahasanya belepotan,

tetap nyambung,” ujarnya malu-malu, “Sekarang

kan ketika pameran hanya bertemu

1-2 jam, selanjutnya kontak lewat email. Jadi

kemampuan bahasanya harus bagus.”

Dengan kondisi sesulit apa pun, Eman

tidak berniat beralih profesi maupun

jenis usaha. “Ada ucapan guru saya, kalau

kaya itu takdir dari Allah, cuma kemauan

yang membikin kita tidak kelaparan. Jadi

prinsipnya begini, walaupun saya 70 kali ke

Jerman, tapi kalau enggak ada usaha dan ridho

Allah, enggak bakalan sukses. Paling tidak

pengalaman aja, enggak bikin rugi,” ujarnya

sambil mencontohkan nasib Briptu Norman

Kamaru yang mendadak tenar karena aksi

lipsync melalui situs YouTube.

Eman masih memiliki mimpi besar membuat
usahanya menjadi lebih besar dari yang

sekarang, dengan memperbesar kapasitas

produksi dan memperbesar pabrik, bukan

membuka cabang. Untuk itu, dia berupaya

memperkenalkan produksinya melalui website,

dan semakin rajin mengikuti pameran bertaraf

internasional. Setidaknya 3 kali dalam setahun.

Dia pun ingin usahanya memiliki badan

hukum, serta menyusun pembukuan yang

lebih baik untuk mempermudah pinjaman modal.

Dengan omzet Rp 200-350 juta per tahun

dan keuntungan bersih 20-30 persen, Eman

bersikukuh tetap mempertahankan usaha tradisi

khas di Plered, yang sudah turun temurun

di keluarganya. Dia memiliki keyakinan akan

muncul kembali momentum masa keemasan

perajin keramik. Dan ketika masa itu tiba, Eman

sudah siap beraksi.

 

Catatan Rhenald Kasali
SEKALI LAGI ANDA melihat betapa sulitnya UKM Indonesia untuk naik kelas.

Selain sepi dari pembinaan yang membina pun sering kali tidak paham apa

yang harus dilakukan. Kalau Anda tanya kepada pemerintäh jawabannya pasti

mereka telah berbuat sesuatu. Pemerintah telah memberikan fasliltas-

fasilitas untuk ikut pameran, bahkan mungkin teknologí tertentu.

Tetapi mengapa mereka tetap sulit naik kelas? Bukankah mereka telah bekerja

sangat keras? Mereka ulet, tekun, terus mempelajari selera pasar, mendalami

teknik pemasaran, proses pembuatan, dan seterusnya.

Jawabnya adalah, setiap usaha ada DNA-nya. Untuk memulai usaha saja Anda

cukup memiliki a start up DNA. Tetepi untuk membuat perusahaan Anda

menjadi sebuah lokomotif ekonomi yang besar, menjadi sebuah power

house seperti Siemens, Unilever, atau IKEA, Anda membutuhkan DNA manusia

alpha. Segalanya serba alpha, hurut A, the first of everything, the best of

the best.

DNA Manusia Alpha selain terdiri dari manusia-manusia pilihan, berpikirnya

besar, lompatnya besar, dan keberhasilannya juga tidak boleh tanggung-

tanggung. Anda membutuhkan manajemen yäng canggih dengan orang-orang

berkemauan tinggi dan berorientasi pada langkah-langkah besa.

Untuk menjadi besar, UMKM seperti Eman dan perajin tembikar dari Plered

harus sering-saring diajak melihat usaha-usaha besar. Ia juga perlu

disekolahkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa, manajemen, dan

teknologinya. Ia harus bersentuhan dengan pelaku-pelaku usaha besar agar

tertular cara-cara berpikir baru. Pepatah lama mengatakan: the more ÿou

see, the more you do. Tanpa keberanian melihat, manusia akan diam di

tempat dan lambat laun tergerus evolusi.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun: Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Darjat, Mantan Nelayan yang Kini Sukses Lewat Tiga Bengkel Kendaraan dengan Omzet Rp50 Juta/Hari

Darjat, Raja Bengkel di Pelabuhan Ratu

Jalan di Pelabuhan Ratu, Jawa

Barat yang tidak mulus ternyata

mendatangkan berkah bagi pria

ini. Ketiga bengkelnya menguasai

sepanjang jalan di kawasan tepi laut

pantai selatan.

Kisah sukses pria berusia 53 tahun ini bisa

membuat decak kagum. Ayah dari 6 anak

ini memulai usahanya dengan menjadi

nelayan sejak tahun 1970, yang kemudian

berkembang menjadi bisnis pengangkutan ikan

ke Jakarta hingga ke luar negeri. Dari bisnis

ikan inilah dia bisa membangun tiga bengkel

besar, yang kini beroleh omzet Rp 50 juta setiap

harinya.

DARI NELAYAN MENJADI PENGEKSPOR IKAN

Sejak tahun 1970, Darjat sudah menjadi nelayan.

Lalu, dengan modal Rp 1,42 juta dari ayahnya, ia

memulai bisnis ikan dengan membeli dari para

nelayan, kemudian memasarkannya ke Muara

Baru dan Muara Angke di Jakarta. Sejak pukul

05.30 WIB, seusai salat Subuh, setiap harinya

ia berangkat ke pasar ikan untuk membeli ikan

segar yang baru turun dari laut. Selain membeli

dari para nelayan, Darjat sendiri juga memiliki 7

kapal penangkap ikan.

Usahanya ini berkembang pesat, hingga pada

tahun 1982 ia bisa mengirim ikan pindang ke

daerah Bogor. Bahkan, tahun 1985 dia sudah

merambah ekspor ke Cina dan Korea. Pintarnya

lagi, Darjat juga mampu melihat peluang untuk

menjual ikan beku di Pelabuhan Ratu. Jika

mobilnya ke Jakarta mengangkut ikan layur

segar dari Pelabuhan Ratu, dalam perjalanan

kembali dari Jakarta mobil tersebut membawa

ikan tongkol yang sudah dibekukan. Kemudian,

sekitar 600 anak buahnya siap memasarkan

ikan beku tersebut di kawasan sekitar Pelabuhan

Ratu.

Demi mempertahankan kesegaran, ikan dari

pelelangan disusun dan dimasukkan ke dalam

gudang pendinginnya, lalu dibekukan dengan

suhu minus 45 derajat Celcius. Setelah kira-kira

12 jam, ikan tersebut dikemas dalam plastik,

kemudian karton, lalu dipres. Selanjutnya, ikan

beku dalam kemasan tersebut dimasukkan

ke dalam gudang penyimpanan yang bersuhu

minus 20 derajat Celcius. Darjat memiliki dua

gudang berkapasitas 100 ton ikan. Untuk proses

pembekuan ini, dia mempekerjakan sekitar 20 orang.

Bisnis ikan ini pernah mengalami masa surut saat

Darjat hanya mampu mengirim 1 kontainer yang berisi

24 ton ikan dalam setiap satu-dua minggu. Ini terjadi

di tahun 1986-1989. Di waktu normal

ia bisa mengirim 2 kontainer dalam seminggu, bahkan 3

kontainer di masa panen ikan. Setelah mengalami masa surut

itu, Darjat sempat memutuskan untuk beristirahat dari

bisnis ikan. Namun, setahun kemudian ia segera bangkit

kembali. Bahkan Darjat mulai membeli mobil angkutan ikan

sendiri. Jumlahnya pun terus bertambah. Dengan jumlah

armada yang besar, ongkos perawatannya pun tidak sedikit.

Karena seringnya ban mobil menghajar aspal yang kurang

bagus, Darjat harus rutin berurusan dengan penggantian

ban. Dari sinilah muncul ide membuat bengkel sendiri.

BUKAN PENGGEMAR MAYANGSARI

“Tahun 1980 sampai 2000 itu saya punya banyak

kendaraan untuk membawa ikan dari Pelabuhan Ratu

ke Jakarta. Jadi barang sendiri, mobil sendiri. Saya

harus membeli ban di luar Pelabuhan Ratu. Beli apa-apa

di luar. Pikir-pikir, saya buka toko ban saja, lah.

Sekalian jual onderdil. Saya beli dengan harga segini,

untungnya ketahuan. Mendingan buka saja sama istri.

Itu tahun 2001,” tutur Darjat menceritakan ide

mendirikan bengkel yang di berinya nama Mayang Sari itu.

Soal nama perusahaannya, Darjat tidak mengambilnya

dari penyanyi kondang, istri Bambang Trihatmodjo. Nama

tersebut diambil dari nama kapal milik mantan bosnya

yang disingkat MS. Oleh Darjat kemudian dipanjangkan

menjadi Mayang Sari. Semenjak itu, seluruh armada

usahanya dinamai Mayang Sari.

Bengkel pertama Darjat berdiri di Jalan

Batu Sapi, Pelabuhan Ratu, seluas 629 meter

persegi. Dengan modal Rp 300 juta, bengkel itu

menyediakan suku cadang, ban, servis, hingga

cuci mobil, dan steam. Darjat menyerahkan

pengelolaan bengkel tersebut kepada istrinya

yang piawai mengurus manajemen dan keuangan.

Tak dinyana, usaha bengkelnya semakin

maju. Bahkan mereka sanggup memberi jasa

spooring dan balancing yang dilakukan dengan

komputer. Saat itu layanan ini belum tersedia di

bengkel mana pun di Sukabumi.

Kesuksesan bengkel pertama berlanjut dengan

dibukanya bengkel kedua pada tahun 2005.

Usaha bengkel yang berdiri di tanah seluas 546

meter persegi di Jalan Pelabuhan Ratu Jayanti itu

diserahkan kepada anak lelakinya yang sulung.

Jasa layanannya pun sama. Hanya saja, bengkel

ini mengkhususkan layanan untuk kendaraan

berbahan bakar bensin. Untuk mengembangkan

bengkel keduanya, Darjat mendapatkan bantuan

pinjaman dari bank bjb sebesar Rp 500 juta.

Sementara bengkel ketiga baru dibangunnya

pada Maret 2011, juga di Jalan Pelabuhan Ratu

Jayanti. Jasa yang disediakan pun sama, hanya

saja pelayanan servisnya ditujukan untuk mobil

berbahan bakar solar. Dan, hampir semua pemilik

angkutan umum melakukan servis kendaraannya di

bengkel seluas 1.305 meter persegi

Pemisahan pelayanan mobil berdasarkan bahan

bakarnya ini pun cukup menarik. Di bengkel

kedua, hampir 90 persen pelanggannya adalah

pemilik mobil pribadi. Sementara di bengkel

khusus mobil berbahan bakar solar, 50 persen

pelanggannya adalah pemilik mobil angkutan.

Dengan jajaran bengkel di sepanjang jalan

Pelabuhan Ratu ini, Darjat berhasil menggaet

para pemilik mobil di kawasan Sukabumi dan

sekitarnya. Bukan hanya mobil angkutan ikan

milik Darjat, teman-temannya sesama pengusaha

ikan pun membawa mobilnya ke bengkel Darjat.

Untuk ketiga bengkel tersebut, Darjat mempekerjakan

41 orang. Di bengkel pertama ada

i6 orang, bengkel kedua 13 orang, dan bengkel

ketiga 12 orang. Kebanyakan pekerjanya diambil

dari orang sekitar Pelabuhan Ratu, yang

sebelumnya telah dididik untuk mendapatkan

keterampilan standar tentang mobil.

“Kebanyakan untuk bagian cuci mobil, bantu-bantu

bagian sayap, dikerjakan anak sini semua.

Enggak ada yang orang jauh. Untuk

mesin, orang sekitar kan jarang, jadi saya ambil

dari kota yang profesional, yang benar-benar

sudah bagus. Kalau untuk bawahan, roda, dari

orang sini semua. Dididik sama saya. Semuanya

dari sini,” terang Darjat yang mengaku juga

mengetahui sedikit soal mesin.

Pembayaran upah karyawan di pelelangan

ikan dilakukan setiap hrin, sementara untuk

karyawan bengkel dilakukan setiap bulan.

Tanggal pembayarannya tergantung dari tanggal

si karyawan masuk kerja. Kalau mulai kerja

pada tanggal 1, maka gajinya setiap bulan akan

diserahkan setiap tanggal 1. Kalau masuk kerja

mulai tanggal 6, maka digajinya setiap tanggal

6 pula. Namun, urusan gaji karyawan ditangani

langsung oleh sang istri.

Darjat kerap mengumpulkan para karya

wannya seminggu sekali atau maksimal sebulan

sekali untuk diberikan pengarahan. Apalagi

untuk karyawan baru perlu lebih diarahkan.

“Kendalanya ada saja. Namanya juga manusia

pasti ada perbedaannya. Terkadang membuat

saya pusing juga. Kalau di pelelangan malah

lebih susah. Biasanya kalau sudah pusing

ngadepinnya, saya berikan peringatan sampai 3

atau 4 kali. Kalau tidak nurut juga ya terpaksa

saya keluarkan dan ganti yang baru. Itu hanya

untuk yang nakal dan tidak bisa dibilangin,”

tutur Darjat.

BENGKEL TANPA PESANG

Omzetnya yang mencapai Rp 50 hingga Rp

60 juta per hari sebagian besar didapatkan

dari penjualan suku cadang yang diambilnya

dari pemasok di Bandung, Jakarta, dan Bogor.

Namun penjualan oli, cuci mobil dan steam,

spooring dan balancing, ganti ban, hingga

servis juga cukup diminati. Malah, alat spooring

seharga Rp 160 juta bisa dikatakannya tidak

sebanding dengan tarif seharga Rp 85 ribu

yang diberikannya untuk setiap mobil yang di

spooring. Apalagi, pekerja yang bisa melakukan

layanan tersebut harus didatangkan dari luar

Sukabumi. Tetapi, yang penting pelanggan datang

terus, demikian prinsip Darjat. Apalagi,

alat canggih tersebut hanya ada di bengkelnya.

Untuk saat ini Darjat belum tergerak lagi untuk

menggunakan teknologi lain dalam bengkelnya.

Beruntungnya, untuk layanan cuci mobil dan

steam, Darjat tidak perlu keluar biaya untuk

mendapatkan air. Sebab, ia hanya tinggal

mengambil dari jalur mata air Gunung Gayanti yang

mengalir di hadapannya. Untuk layanan cuci

steam ini, rata-rata ketiga bengkel tersebut

melayani loo mobil per hari, dengan tarif Rp

25 ribu per mobil. Selain itu, dia pun tidak

perlu membayar sewa tanah, mengingat ketiga

bengkelnya dibangun di atas tanahnya sendiri.

Dengan mengandalkan pelayanan yang baik

demi memuaskan pelanggan, Darjat tidak perlu

bersusah payah membesarkan bengkelnya.

Promosi otomatis berjalan dan mulut ke mulut.

Selain itu, tidak adanya bengkel besar

di sepanjang Jalan Raya Pelabuhan Ratu juga

sangat menguntungkan usaha bengkelnya.

“Tanpa saingan di Pelabuhan Ratu ini, cuma

sendiri. Makanya saya bikin 3, di sana jual ban,

di sini juga jual ban. Semua isinya ban!” cetusnya

senang.

Hingga saat ini, bengkel pertama adalah

yang paling menguntungkan. Dia menganggap

kesuksesan itu berkat istrinya yang pintar

mengelola keuangan hingga kemudian muncul bengkel

kedua dan ketiga. Meski bengkelnya telah

maju pesat, namun Darjat tidak meninggalkan

usaha ikan yang menjadi penopang awal usaha

bengkelnya. Apalagi menurut dia, usaha ikan

lebih cepat menghasilkan ketimbang bengkel.

Khusus untuk administrasi keuangan, Darjat

memercayakan kepada istrinya. Baik usaha ikan

maupun bengkel, termasuk urusan pembelian

ban hingga suku cadang, semuanya ditangani

sang istri yang dinilai cukup berpengalaman

soal administrasi dan keuangan. Darjat pun

bersyukur karena jiwa usahanya dan istrinya

sama-sama kuat dan sudah menyatu. Bahkan

dirinya terdorong dan termotivasi oleh sang

istri. Meski demikian, ada saja masalah antara

urusan keluarga dengan usaha. Kalau sudah

begini, Darjat dan istri memerlukan waktu

untuk cooling down.

“Pasti ada sajalah, masalahnya. Gara-gara

urusan dagang dibawa ke rumah, kadang bentrok

ya ada saja itu mah. Kalau istri mulai ngomel,

saya ambil mobil; jalan atau makan ke mana.

Saya tinggal saja gitu, menenangkan diri Kalau

saya yang ngoceh, istri saya diam saja di kamar.

Kalau enggak, dia masak atau main dengan

anak. Dia pelampiasannya seperti itu,” ujar

Darjat tersipu. Setelah masing-masing cooling

down, permasalahan yang memicu kejengkelan

hati malah tidak dibahas lagi. Urusan keluarga

dan bisnis pun berjalan normal lagi.

“Karena dengan istri itu saya banyak

keperluan urusan usaha, istri saya juga begitu.

Makanya saya enggak memperpanjang masalah,

cukup sampai situ aja. Kalau sudah sampai

di rumah lagi, ketemu, ya ngomongin bisnis

lagi. Kekurangan ini-itu, ya sudah lupa dengan

masalah yang tadi,” ujar Darjat sambil tertawa

ringan.

MANAJEMEN USAHA

Bisnis ikan dan bisnis bengkel adalah dua hal

yang berbeda. Ketika masa krisis moneter

menghantam Indonesia tahun 1998, Darjat

mengaku malah mendapat berkah. Dengan

ekspor ke Cina dan Korea, dia berhasil

mendapatkan keuntungan Rp 300-500 juta per

harinya. Ikan dibelinya dari nelayan dengan

kisaran harga Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per

kilogram, lalu dijual untuk ekspor dengan harga

Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.

“Sebab waktu itu harga dolar bisa sampai

Rp 13 ribu atau Rp 15 ribu. Benar-benar itu

rezeki nomplok namanya,” ujar Darjat. Selain

mengekspor ikan segar ke Cina dan Korea, Darjat

juga mengimpor ikan olahan dari kedua negara

itu, yang selanjutnya dipasarkan ke Jakarta dan

Pelabuhan Ratu.

Hanya saja, pelan-pelan dia mulai menyerahkan

bisnis ikannya tersebut kepada kedua

orang adiknya. “Sedikit-sedikit sudah dilempar

ke adik-adik saya. Belum loo persen, sih.

Baru sekitar 30 persen, biar berkembang. Biar

dia tahu segala sesuatunya, baru saya lepas.

Mungkin enggak cukup 3,4, atau 5 tahun,” ucap

Darjat. Adiknya mulai dibimbing bagaimana

berbisnis ikan laut, mulai pembelian ikan dari

nelayan hingga dijual ke luar negeri. Selain

membutuhkan waktu cukup lama untuk belajar,

bisnis ikan tetap mernbutuhkan trik-trik di

masa surut. Misalnya saja saat tangkapan ikan

tidak banyak.

Dulu, Darjat memang lebih fokus ke bisnis

ikan. Menurutnya usaha ini murni berasal

dari modal sendiri; punya kapal sendiri, lalu

menangkap ikan dan menjualnya sendiri.

“Penjualan ikan lebih cepat, hari ini dapat ikan,

ya hari ini atau selambatnya besok sudah terjual.

Kalau di bengkel, perputarannya agak lambat.

Perlu waktu 5 atau 6 bulan untuk menjual suku

cadang,” jelasnya.

Karena merasa sudäh capek dan tua,

apalagi dengan tanggungan anak-anak yang

masih kecil—anak tertua kelas 3 SMA dan

termuda kelas 2 SD—Darjat sebenarnya belum

ingin meluaskan usahanya. Namun, bukan

wirausahawan namanya jika tidak melihat

peluang bisnis di depan matanya.

Darjat memiliki dua rencana di dalam

benaknya. Pertama, membuat showroom

mobil bekas, dan yang kedua membuka usaha

alat-alat konstruksi atau alat-alat bangunan

seperti besi-besi kecil sampai baja ukuran besar

untuk bangunan. Alasannya jelas, belum ada

yang memiliki usaha seperti itu di Pelabuhan

Ratu. Darjat ingin segera merealisasikan

penjualan peralatan konstruksi bangunan

karena kebutuhan di tempatnya sangat tinggi.

Sedangkan untuk showroom mobil bekas

diperkirakan agak lama prosesnya karena

kondisi kawasannya masih cukup primitif.

Namun, ia berharap showroom tersebut selesai

pada tahun ini. Di tanah seluas 1 hektar itu akan

dibangun bangunan seluas 836 meter persegi.

“Tanahnya sudah diuruk, sudah difondasi.

Sebetulnya kalau saya tidak ke Tanah Suci

kemarin, showroom ini sudah bisa selesai.

Karena pergi haji, pekerjaan ini ditunda dulu

selama 2 bulan, sekalian saya istirahat di

rumah. Selain itu saya juga sedang membangun

pesantren. Rencananya penyelesaian pesantren

dan showroom dibuat bersamaan. Tapi karena

anak saya ingin pesantrennya cepatjadi—soalnya

santrinya sudah banyak, sudah penuh—jadi saya

bangun pesantren duluan. Setelah pesantren

selesai, insya Allah saya bangun showroom.

Saya bilang sama anak saya targetnya tahun ini

untuk showroom,” papar Darjat.

Untuk bisnis showroom ini, Darjat sudah mengetahui

tempat mendapatkan mobil bekas, berbekal

pengalamannya pernah bekerja dengan

seorang bos yang sukses berbisnis jual beli mobil

bekas tahun 1992. Dia pun sedikit-sedikit tahu,

mengerti, dan sudah mendapat sela-selanya ber

bisnis mobil bekas. “Untung saya pernah punya

banyak bos, dari Cina, Korea, dan Jakarta. Ilmu

ilmu mereka saya ambil, kebanyakan dari bos

yang orang Cina,” tutur Darjat mengisahkan

perjalanan menimba ilmu bisnis berbagai

bidang usaha.

Untuk bisnis showroom ini kelak,

Darjat memperkirakan modal yang harus

dikeluarkan sekitar Rp 1-1,5 miliar. Darjat

berharap modalnya bisa didapat dari bisnis

ikan dan bengkel, tanpa perlu meminjam

lagi ke bank. Namun diakuinya, bisnis

dengan mendapatkan pinjaman dan bank

membuatnya lebih bersemangat ketimbang

modal sendiri.

“Kalau punya utang saya akan hati-hati berusaha.

Harus benar berusaha, memikirkan

punya utang. Tapi kalau enggak punya utang,

agak tenang-tenang gitu di rumah,” kata Darjat.

Namun di balik semua itu, menurutnya uang

bukanlah modal sukses utama. Niat baik dan

doa lebih penting, sementara uang nomor

sekian. “Jadi benar-benar harus dipakai yang

itu,” yakinnya.

 

Catatan Rhenald Kasali

Di dunia ini selalu kita temui dua jenis nelayan, yaitu nelayan yang

mau berubah dan yang tidak mau berubah. Tentu saja kita juga temui tukang

becak, sopir angkot, pemulung, tukang sate, petambak garam, dan banyak lagi

profasi kerakyatan lainnya yang masuk dalam kedua kategori tadi. Manakah

yang lebih banak?

Anda mungkln sepakat, sabagian besar yang kita temui adalah mereka yang

stagnan, memeluk selimut rasa aman, diam dí tempat, tidak berubah. Malahan

mereka semakin miskin, tua, renta dan tergusur. Mareka sangat

membutuhkan uluran tangan Anda. Kapan? Tentu saja sesegera mungkin.

Dalam buku ini Anda menemukan contoh-contch orang yang kedua yaitu mereka

yang mau barubah, mengubah nasib dari rakyat jelata menjadi kelas menengah

yang mandiri. Namun untuk keluar dari ‘perangkap’ masa lalu itu, seseorang

pertama-tama harus mengubah cara berpikirnya dahulu. Selama cara

berpikirnya sama, maka tindakannya pun akan tetap sama. Dan, dari tindakan

yang sama hasil yang didapat pun pasti tetap sama.

Pertanyaannya, mengapa manusia sulit mengubah cara berpikirnya?

Jawabannya adalah karena otak manusia sangat manipulatif. Seseorang bisa

menjadi ‘korban tipuan’ dari otaknya sendiri. Otak itu dibentuk bukan

oleh kemampuannya sendiri melainkan oleh ‘setting-an’ yang dilakukan

oleh orang-orang yang berada di sekitar dan membentuk diri seseorang. Hasil

tes kecerdasan dan tes bakat adalah setting ilmiah yang manipulatif. Guru

dan orangtua adalah setter yang merasa paling berhak membentuk

anak-anaknya. Sahabat, buku, para role model, dan banyak hal lagi juga

turut membentuk masa depan Anda.

Namun otak juga berinteraksi dengan mereka yang melakukan satting-an. Dan,

Tuhan sesekali membukakan mata Anda melalui ‘pengalaman’. Kalau otak Anda

‘terbuka’, maka la akan mendorong Anda untuk berubah. Dan, berbeloklah

pikiran Anda ke tempat yang lain dan nasib Anda pun berubah.

Maka janganlah menjadi dan menjadikan anak-anak Anda manusia dogmatik dalam

hal apa pun. Buatlah otak Anda tetap terbuka dan siap belajar hal-hal baru.

Maka hidup Andapun akan berubah.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Carsim Cahyadi, Bermodal Awal 600 Ribu Kini Sukses Raup Omzet Miliaran dari Bisnis Kuliner Tape Ketan

Carsim Cahyadi, Tarikolot Punya Ketan, Kuningan Punya Nama

Meskipun Kabupaten Kuningan, Jawa

Barat dikenai sebagai penyedia oleh-o1eh

Tape ketan, namun produksi penganan

itu sendiri berasal dari jerih payah para

pembuat tape ketan di Desa Tarikolot

dan Cibeureum. Carsim Cahyadi adaläh

salah satunya. Mimpinya sangat besar

suatu hari kelak Kuningan akan menjadi

gudang tape ketan untuk Indonesia.

Siapa tak kenal tape ketan? Penganan ini

sangat dikenal di Indonesia bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Masyarakat di kawasan ini sudah lama mengonsumsi makanan khas

berbahan beras ketan atau beras pulut. Dibuat

melalui proses fermentasi atau peragian, tape

ketan dihidangkan pada hari besar keagamaan

atau hajatan.

Dan segi volume dan pasar, tape ketan merupakan

jenis tape terbanyak yang diproduksi

masyarakat. Di sejumlah daerah di Sumatera

penganan ini dikenal dengan nama tape pulut.

Dengan rasa manis keasaman, lembek, berair,

dan memiliki tekstur yang lengket, tape ketan

merupakan makanan yang mengandung alkohol.

Dilihat bahan dasarnya, ada dua jenis tape

ketan, yakni tape ketan putih dan tape ketan hitam.

Di Kuningan, Jawa Barat—khususnya di Desa

Tarikolot dan Cibereum— tape ketan tampil sedikit

berbeda. Jika di daerah lain dibungkus

atau dikemas dengan daun pisang, maka

tape ketan yang dihasilkan oleh kedua desa

tersebut dikemas dengan daun jambu air. Di

samping bahan tambahan seperti daun katuk,

penggunaan jambu air sebagai bungkus inilah

yang membuat tape ketan Kuningan tampil berbeda.

Biasanya setiap menjelang atau pasca lebaran,

banyak orang dari luar Kuningan menyempatkan diri

datang ke Tarikolot dan Cibeureum untuk membeli

tape ketan. Pada umumnya mereka adalah penduduk Bandung

dan Jakarta yang sedang melakukan perjalanan

ke Cirebon, Kuningan, atau Majalengka. Hal ini

memang didukung oleh letak geografis Kuningan

yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Barat

dan Jawa Tengah.

Di Tarikolot dan Cibereum, orang-orang

dari berbagai kota itu rela mengantre panjang

untuk mendapatkan tape ketan yang

akan dibawa sebagai oleh-oleh. Sementara

penduduk Kuningan sangat membanggakan

tape ketan sebagai oleh-oleh kebanggaan

ketika bepergian ke daerah lain. Salah satu

pembuat tape ketan di Tarikolot yang banyak

didatangi orang ialah Tape Ketan “Sari Asih”

milik Danasih.

METAMORFOSA LELAKI PERENUNG

Meskipun “tradisi” membuat tape ketan di Tarikolot

dan Cibeureum sudah berlangsung lama,

para pembuatnya belum memandang penganan

ini sebagai komoditas yang menguntungkan.

Sejumlah pembuat tape ketan memperkirakan

usaha pembuatan tape ketan di Tarikolot dan

Cibeureum untuk kepentingan komersial baru

dimulai pada dekade 1980-an. Demikian pula

dengan Danasih. Justru tetangganya, Carsim

Cahyadi —seorang pedagang keliling perkakas

rumah tangga yang sempat berganti pekerjaan

menjadi karyawan perusahaan kontraktor di

Jakarta— yang memperhatikan fenomena ini.

Setiap pulang mudik, terutama menjelang

Lebaran, Carsim selalu menyaksikan pemandangan

yang menarik di kampungnya. Orang-

orang dari berbagai kota rela mengantre panjang

di depan rumah Danasih untuk membawa pulang

buah tangan berupa tape ketan. Carsim kerap

diminta membantu Danasih yang kewalahan

menghadapi permintaan konsumen. Tetapi setelah

Lebaran pikirannya selalu diganggu oleh

pertanyaan, apakah tape ketan ini juga bisa laku

di luar waktu Lebaran sehingga bisa menjadi

usaha yang menguntungkan.

Carsim mulai berpikir untuk mengembangkan

pembuatan tape ketan ini. Pikirnya saat itu,

tape ketan akan sulit berkembang jika hanya

menunggu datangnya ‘musim’ Lebaran. Hidung

bisnisnya yang terlatih saat menjadi pedagang

keliling pun kemudian mengendus peluang.

“Deretan mobil yang antre di depan rumah

Bu Danasih menginspirasi saya untuk

melakukan pemasaran tape ketan secara aktif.

Saat itu muncul pikiran untuk menjemput bola,”

kata Carsim. Carsim yang merasa tak betah

hidup di Jakarta akhirnya membuat keputusan

bulat: Pulang kembali ke Tarikolot. Ia bertekad

ingin menjadikan pembuatan tape ketan sebagai

usaha yang lebih maju.

Kembali ke Tarikolot tahun 1996, setahun

menjelang terjadinya krisis keuangan yang

berkembang menjadi multikrisis di Indonesia,

Carsim langsung membuka usaha rumahan tape

ketan. Modalnya hanya uang Rp 600 ribu yang

digunakan untuk membeli bahan dasar dan

peralatan seadanya.

Carsim pun melakukan survei ke kota

Kuningan lalu Cirebon. Ia langsung memutuskan

untuk memasarkan tape ketan produk

Tarikolot di salah satu sudut kota Kuningan.

Bundaran Cijoho, Jalan Siliwangi, Kuningan,

dipilih sebagai lokasinya. Tetapi kenyataan

yang dihadapi lelaki bersahaja ini jauh dari

impiannya. Usaha perdananya kandas. Saat

itu masyarakat belum memandang tape ketan

sebagai penganan harian. Mereka lebih

memperlakukannya sebagai oleh-oleh. Itu pun,

mereka tetap memilih datang langsung ke Tarikolot

atau Cibeureum.

Kondisi yang buruk itu berlangsung selama

empat tahun. Pada tahun keempat Carsim

mulai digerogoti perasaan putus asa. Padahal

ayah dua anak itu sudah berusaha memberikan

kemudahan bagi siapa pun yang ingin menjalani

usaha ini, yakni dengan sistem konsinyasi.

“Terus terang, empat tahun membabat hutan

sendirian seperti itu membuat saya lebih banyak

menangis daripada tertawa. Barang enggak laku.

Mau dibawa pulang malu. Alšhirnya hanya saya

bagi-bagikan saja ke tukang becak,” kenang Carsim.

“Waktu itu saya sudah putus asa. Inginnya lari

meninggalkan usaha ini,” tuturnya menambahkan.

Meski putus asa dan sempat berpikir menghentikan

usaha, Carsim masih memiliki pikiran

positif. Boleh jadi empat tahun ini ia mengalami

kegagalan. Tetapi, mungkin akan datang sesuatu

yang berbeda pada tahun kelima usahanya.

Suatu hari Carsim bertemu kenalannya yang

bekerja sebagai pegawai negeri di Kuningan. Setelah

menceritakan pengalaman dan impiannya,

kenalan tersebut menawarkan tempat di sekitar

Bundaran Cijoho untuk dipinjamkan. Carsim tak

mau membuang waktu. Tawaran tersebut langsung

disambar dan keesokannya dia langsung

melakukan pemasaran lagi. Peristiwa yang

tak terlupakan itu terjadi pada tahun kelima

usahanya.

Ternyata benar, tahun 2000 itu merupakan

langkah awal terlihatnya tanda-tanda keberhasilan.

Di lokasi yang baru itu tape ketannya

mulai laku. Dia mengakui bahwa faktor tempatlah

yang membuat tape ketannya mulai laku.

Setelah berjualan di tempat yang dipinjamkan

kenalannya, sebagian orang mulai tertarik untuk

datang dan membeli. Mulai banyak orang yang

mendengar mengenai usaha Carsim dan tertarik

untuk datang. Setelah mencicipi enaknya tape

ketan Carsim, banyak orang menjadi pelanggan.

Sejak saat itu promosi dari mulut ke mulut pun

berlangsung dengan sendirinya.

“Tempat baru itu membuat saya punya sarana

promosi gratis. Saya mulai dengan menata dagangan

secara menarik. Kalau dagang di pinggir

jalan kan susah menata dagangan jadi menarik.

Papan nama usaha Tape Ketan ‘Pamela’ yang

saya pajang di luar juga gampang dibaca orang

dan membuat orang tertarik untuk datang,” urai

Carsim.

U5AHA YANG MULAI BERKEMBANG

Dari segi volume, produksi tape ketannya terus

meningkat dan habis diserap pasar. Ketika

usahanya sudah mulai lancar, setiap harinya

dia membutuhkan 20 kg heras ketan. Dalam

hitungan bulan naik menjadi 50 kg dan kemudian

menjadi loo kg per hari. “Kalau menjelang Lebaran

biasanya meningkat antara empat sampai

enam kuintal per hari. Berapa persen ya?” tuturnya lugu.

Pada tahun 2000-an Carsim menjual tape ketan

buatannya dengan harga Rp 15 ribu per 100 bungkus.

Saat itu Carsim mengemas produknya

dalam ember plastik warna hitam dan dilabeli merek

Pamela. Kini Carsim menjual dengan harga Rp 45 ribu per

ember berisi 100 bungkus. Sebagai catatan, nama Pamela

adalah hasil penggabungan nama panggilan kedua anak

nya, Fajar (ii tahun)—yang sehari-hari dipanggil Pajar—

dan Mela (17 tahun). Kedua anaknya ini merupakan buah

perkawinannya dengan Rusti Cahyadi (41 tahun) yang ber

profesi sebagai guru SD. Keberhasilan Carsim langsung

menjadi buah bibir warga Tarikolot. Hal inilah yang

akhirnya membuat Carsim mendapatkan tawaran kerja

sama oleh Danasih. Ketika itu Danasih sedang mendapatkan

banyak pesanan, tetapi ia tidak mampu

meningkatkan produksi tape ketannya. Agar

dapat memenuhi permintaan tersebut, Danasih

menawarkan kerja sama pada Carsim dalam

bidang produksi. Demi mengembangkan usahanya,

Carsim pun menerima tawaran tersebut.

Kerja sama keduanya memberikan hasil yang

baik. Carsim mampu memenuhi kekurangan

produksi usaha Danasih, sehingga permintaan

pasar yang meningkat menjelang Lebaran dapat

terpenuhi. Keberhasilan mereka mendorong

para tetangga melakukan hal yang sama. Satu

per satu warga desa Tarikolot mengikuti jejak

Carsim dan Danasih: serius menekuni usaha

pembuatan tape ketan.

Keberhasilan Carsim juga terendus oleh

BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana

Nasional) setempat. Lembaga yang terkenal

pada zaman Orde Baru sebagai pengendali

populasi penduduk melalui berbagai program

pendampingan ini memiliki UPPKS (Usaha

Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).

BKKBN Kuningan berusaha merangkul warga

Tarikolot dengan memasukkan mereka keprogram

UPPKS dan memberikan bantuan

modal serta berbagai pelatihan, termasuk pada

usaha yang digeluti Carsim.

Uniknya, setelah berhasil dipasarkan secara

intensif di Kuningan, tape ketan yang dikemas

dengan daun jambu air ini kemudian lebih

dikenal sebagai oleh-oleh khas dari Kuningan,

bukan dari Tarikolot dan Cibeureum. Maka,

berlakulah peribahasa ‘kerbau punya susu, (te

tapi) sapi (yang) punya nama’. Tarikolot yang

mengembangkan, Kuningan yang dapat nama.

PELOPOR DAN WIRAUSAHAWAN DESA

Menurut sejumlah tetangganya, Carsim bukan

sekadar pembuat tape yang gigih. Pada dirinya

tumbuh dan berkembang jiwa wirausaha. Semangat

untuk maju pun tinggi. Ketika produksi

tape ketannya meningkat, lelaki yang memiliki

hobi menyendiri dan merenung di alam bebas

ini langsung menyadari sejumlah kelemahan

yang melekat pada usahanya, yakni pada proses

pembuatan.

“Terutama menyangkut urusan cuci beras.

Untuk jumlah yang sudah mencapai ratusan

kilogram, kami tak sanggup lagi melakukannya

secara manual,” tutur Carsim. Lalu, pucuk

dicinta ulam tiba. Suatu hari kawan Carsim

menawari mesin pengaduk bahan snack yang

tak lagi digunakan karena sudah berganti usaha.

Tanpa pikir panjang Carsim pun langsung

menyambarnya.

Setelah mencoba mengotak-atik, Carsim

menemukan ide untuk “menyulap” alat tersebut menjadi

mesin pencuci beras. Meski digunakan bukan untuk

fungsi yang semestinya, mesin tersebut dapat

dioperasikan dengan mudah, sehingga tidak

diperlukan waktu lama untuk membuat karyawannya

memahami cara menggunakannya.

Tak lama kemudian langkah tersebut segera diikuti

para tetangganya. Hingga kini para pembuat tape

di Tarikolot dan Cibeureum hanya menggunakan

mesin untuk mencuci beras ketan. Sedangkan proses

produksi tape ketan secara umum masih dilakukan

secara manual, demi menjaga rasa

khas dan kualitas makanan. Selain berkembang

menjadi sosok yang senang melakukan

inovasi, Carsim juga menjadi

model dalam hal mengelola usaha. Hal itu terlihat

ketika Carsim dan Danasih memasarkan produknya dengan

sistem keagenan. Tak berapa lama, agen-agen tape ketan

Tarikolot dan Cibeureum pun

tersebar di Kuningan dan Cirebon. “Bagaimanapun kultur

warga desa ini adalah kultur petani. Mengajak petani

untuk berubah itu mudah kalau tahu

caranya. Beri mereka contoh melalui keberhasilan.

Tak perlu disuruh-suruh atau diajari mereka pasti akan

ikut,” tutur Carsim.

Kepeloporan Carsim dalam menjalani industri rumahan

tape ketan berskala kecil dan menengah ini berlanjut.

Kini ia melakukan inovasi terhadap rasa dan kualitas.

Menurut Carsim, inovasi rasa sangat penting bagi

masyarakat perkotaan yang akan menjadi sasaran

pemasaran mereka.

Carsim yang pernah tinggal di Jakarta memahami bahwa

selera orang kota terhadap rasa telah dibentuk oleh pasar.

Dan, pasar kuliner perkotaan terutama di kalangan orang muda,

telah mengalami kemajuan yang pesat dalam

hal variasi rasa. Carsim kini berusaha menciptakan variasi

pada rasa ketan yang selama ini dikenal memiliki rasa

manis keasaman.

“Sekarang kan semua makanan dan minuman

orang kota dibikin banyak rasa. Tape ketan pun

punya peluang untuk tampil dalam banyak rasa.

Misalnya stroberi, cokelat, vanila, dan lain-lain,”

kata Carsim.

Setelah berhasil menemukan cara pemasaran

dan mencuci heras yang efektif, Carsim kini

tengah melakukan inovasi dalam hal kemasan.

Lelaki ini tengah berusaha keras memperoleh

pengganti daun jambu air. Pasalnya, para

pembuat tape ketan semakin kesulitan memperoleh daun

jambu air, terutama saat musim kemarau.

“Mungkin ada dua langkah yang bisa di

tempuh dan mudah-mudahan sama-sama menguntungkan.

Saya ingin mengajak masyarakat

Lebih banyak lagi membudidayakan pohon jambu

air. Cara lain mungkin mencari pengganti daun

jambu air,” ujarnya menyampaikan pikirannya.

BERSAING SEKALIGUS BERTETANGGA

Dari sisi kualitas Carsim menyadari bahwa mutu

penganan asal Tarikolot ini masih bisa di

tingkatkan lebih jauh, terutama menyangkut

keawetan alami, kebersihan, sanitasi, dan tampilannya.

“Masyarakat kota adalah masyarakat

yang sadar akan kebersihan, kesehatan, juga

kemasan. Saya sering melihat soal kemasan ini

menjadi hal yang sangat penting di dunia usaha

makanan jadi,” katanya.

Selain bahan dasar berupa beras ketan, produk tape

ketan Tarikolot dan Cibereum menggunakan bahan

tambahan yang serba alami.

Misalnya, daun katuk yang digunakan sebagai

pewarna dan daun jambu sebagai pembungkus

sekaligus pencipta aroma. Bahan-bahan tersebut

membuat tape ketan Tarikolot tak gampang berair, selain

tampilannya yang hiiau muda dengan aroma alami.

Sebagai salah satu pelopor usaha pembuatan dan

pemasaran tape ketan, Carsim juga tampil di barisan

depan dalam menghadapi persaingan. Dia selalu berusaha

membangun ikiim usaha yang sehat. Lelaki ini mengaku

sampai saat ini dia belum pernah mengalami konflik

dengan produsen tape lainnya. “Meskipun bersaing, kami ini

kan hidup sekampung, saling bertetangga. Tak ada

manfaatnya membawa pulang persaingan ke kampung. Kami

masih tetap selalu menjaga silaturahmi,” kata Carsim.

Carsim mengaku tidak segan membuka rahasia dalam

menjaga kualitas produknya. Ia tak pernah khawatir kalau

para pembuat tape mengikuti langkahnya. Sebab, Carsim

sadar bahwa dirinya tak pernah berhenti melakukan inovasi,

sementara para pembuat tape lainnya lebih banyak menunggu

hasil inovasi orang lain lalu mengikutinya.

Jiwa kepeloporan Carsim juga tampak dalam memperlakukan

karyawannya. Sebagai warga Kuningan yang sangat memahami

kultur sosial Sunda yang halus, Carsim berusaha memperlakukan

karyawan dan semua pihak yang menjalin hubungan kerja

dengannya secara manusiawi. Bahkan hubungan tersebut telah

dia lakukan sejak Pamela baru memiliki dua orang karyawan.

Semua karyawannya berasal dari satu desa yang sama

dengan Carsim. Dalam melakukan penerimaan

karyawan baru, Carsim tidak mensyaratkan

seleksi khusus. “Syaratnya cuma satu, mau

bekerja membuat tape,” Carsim menjelaskan

sambil tertawa.

Kini, ketika Pamela telah memiliki 35 karyawan pun

Carsim menyatakan belum pernah

sekalipun menghadapi konflik. “Kalaupun ada

yang keluar, lebih karena ada urusan lain seperti

ganti pekerjaan atau karena akan merintis usaha

sendiri,” jelasnya.

Lelaki yang ramah ini mengaku bahwa hal

yang paling membanggakan sebagai pelaku

usaha ialah ketika melihat karyawannya berhasil

membangun usaha pembuatan tape ketan

sendiri. “Saya merasa bahagia kalau ada bekas

karyawan Pamela berhasil membangun usaha

sendiri dan sukses,” katanya.

Masih terkait perkara karyawan, Carsim juga

dikenal sebagai pemberi upah yang baik. Upah

yang diterima karyawan Pamela berada di atas

UMR resmi setempat, yaitu Rp 30 ribu per hari,

ditambah makan, bonus bulanan, dan THR.

Pada hari-hari tertentu Pamela juga mengajak

karyawan dan keluarganya melakukan wisata

bersama.

INGIN MENGUASAI PASAR NDONESIA

Pada tahun 2004, setelah Pamela berkembang

semakin stabil, Carsim mengajukan permohonan

pinjaman modal ke bank bjb. Saat itu

bank bjb belum memiliki produk kredit mikro

sehingga yang ditawarkan adalah pinjaman

modal melalui melalui Program Peduli Jabar.

Jumlah modal yang pertama kali dipinjam

Carsim sebesar Rp lo juta dan lunas dalam

waktu singkat. Pelunasan pinjaman tersebut

dilakukan dengan cara membayarkan bunga

pinjaman sekaligus pokoknya setiap bulan.

Setelah lunas, pinjaman Carsim meningkat jadi

Rp 20 juta.

Selanjutnya melalui Program Pinjaman Umum,

Carsim meningkatkan lagi pinjamannya menjadi

dua kali lipat lebih, yakni Rp 50 juta, lalu Rp

200 juta. “Bagi saya, program pinjaman modal dari

bank bjb seperti itu adalah cara yang

bagus untuk membina UKM,” tuturnya. Namun, sejak 2011

ini Pamela tidak mengajukan pinjaman modal ke bank lagi

karena sudah memiliki modal sendiri dari hasil usahanya

selama ini. Sikap yang diambil Carsim

sangat masuk akal. Carsim telah

‘naik kelas’ dan mandiri. Saat ini omzet penjualan

yang diperoleh Pamela telah

mencapai Rp 240 juta per bulan atau Rp 2,88 miliar per tahun.

Dari omzet sebesar itu Pamela mampu meraih keuntungan

bersih antara Rp 280 juta hingga Rp 300 juta per tahun.

Hingga tahun 2011, Carsim terhitung telah bergelut dengan

usaha pembuatan tape ketan selama 15 tahun. Omzet dan

keuntungan yang diperolehnya jelas terhitung besar untuk

ukuran UKM yang berlokasi di desa. Namun, Carsim mengaku

tak ingin bersantai-santai. Dia bertekad akan terus melakukan

upaya agar makanan tape ketan bisa tampil sesuai tuntutan

zaman. “Saya ingin tape ketan tampil seperti makanan modern

tapi tetap dengan cita rasa daerah yang eksotis,” katanya.

Untuk itulah Carsim membangun Pamela menjadi usaha yang

lebih modern. Sebagai mantan karyawan perusahaan kontraktor

di Jakarta, dia ingin usahanya menjadi lebih baik di bidang

kebersihan, inovasi rasa, kemasan, serta kualitas. “Saya merasa

bersyukur memiliki istri yang bekerja sebagai guru. Dukungannya

untuk mendorong karyawan meningkatkan kebersihan dan menjaga

kualitas besar sekali. Juga dalam hal tertib administrasi,”

kata Carsim menyinggung peran istrinya.

Kini, ditambah pelajaran yang dia peroleh selama menjadi

debitur bank bjb, Carsim terus mengembangkan Pamela

menjadi usaha yang maju dari segi manajemen. Namun dia

mengaku belum berani mengambil tenaga profesional. “Sebagai usaha

rumahan di desa kayaknya belum terlalu perlu mengambil tenaga

profesional. Kami belum kuat bayarnya, lagian kami masih bisa

menangani sendiri,” ujarnya bersahaja.

Demikian pula dalam hal pemasaran. Sistem keagenan

yang dirintis Carsim dianggap masih sesuai untuk Pamela.

Pada awalnya Carsim memang mencari rekanan yang mau

menjadi agen Pamela. Namun, seiring dengan perkembangan usaha,

banyak orang yang justru datang menawarkan

kerja sama menjadi agen.

Sistem keagenan dilakukannya dengan sistem

retail sederhana: Carsim memberikan harga

retail yang lebih murah bagi para agen. Kemudian

masing-masing agen akan menjual dengan harga

yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan.

Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti

dari sistem keagenan tersebut. “Para agenlah

yang bergerak melakukan promosi. Kami lebih

banyak mengurusi produksi,” kata Carsim seraya

mengatakan bahwa di pasar tape ketan, para agen

telah melakukan berbagai cara pemasaran mulai

dari cara konvensional hingga modern, termasuk

memanfaatkan teknologi internet.

“Saat ini saya akan berkonsentrasi di sisi

hulu karena masih banyak yang perlu kami

benahi,” katanya. Kalau sisi hulu sudah bagus,

tambahnya, dia baru akan bergerak di sisi hilir.

Carsim juga masih mempunyai satu mimpi

besar sebagai wirausahawan. Dia ingin

mengajak masyarakat Kuningan membuat tape

ketan tersedia di berbagai kota di Indonesia.

Namun ada kendala besar yang menghadang,

yaitu jarak dan waktu. Tape ketan merupakan

penganan yang tidak tahan lama. “Paling lama

hanya mampu bertahan selama satu minggu,”

ujarnya. Karenanya daerah tujuan pemasaran

Carsim saat ini masih menyasar seputar

Bandung dan Jakarta. Jika Carsim berhasil

menaklukkan Bandung dan Jakarta, maka kota

sasaran Carsim selanjutnya adalah kota-kota di

daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kelemahan tape ketan yang tidak tahan lama

tersebut memang bukan penghalang bagi Carsim

untuk mewujudkan impiannya memasarkan

tape ketan ke seluruh Indonesia. Saat ini Carsim

sedang memikirkan cara untuk memodifikasi

tape ketan agar bisa menjadi penganan yang

lebih tahan lama. Salah satu cara yang sedang

dipikirkan Carsim adalah kemungkinan

membuat tape ketan menjadi bahan tambahan

kue atau penganan lain. Tetapi, Carsim ingin

penganan modifikasi tersebut tetap memiliki

unsur ciri khas daerah Kuningan, sehingga pada

akhirnya Kuningan dapat memproduksi tape

ketan yang bisa dinikmati sampai ke pelosok

Indonesia.

“Kalau 15 tahun yang lalu kami warga

Tarikolot berhasil membuat tape ketan menjadi

makanan oleh-oleh dari Kuningan. Kami yakin

ke depan, Kuningan bisa menjadi pemasok

tape ketan untuk kebutuhan tape di seluruh

Indonesia,” tutur Carsim.

 

Catatan Rhenald Kasali

SALAH SATU ciri khas usaba kecil di Jawa Barat adalah kerumunan. Tukang

Tape singkong (tape gantung) di Purwakarta, mainan berbentük buah-buahan di

Cianjur, gerabah di plered, colenak di  Pasar Lembang, sepatu di

Cibaduyut, usaba bordir di Tasik, dodol di Garut, tahu di Sumedang. genteng

di Jatiwangi dan seterusnya.

Satu orang berhasil, yang lain mengíkuti. Mereka saling meiengkapi dan

berbagi. Seperti sebuah keluarga besar, mereka tidak hanya bersaing

melainkan menjadi magnet besar ýang menarik pembeli dan wisatawan. Pasar

oleh-olah tetab menjadi ciri yang penting dalam UMKM di Jawa Sarat.

Mehjadí magnet berti menciptakan kumpulan. Anda pun bisa melakukannya

dengan menjadikan produk sebagai milik bersama. Tentu, butuh beberapa

waktu untuk menarik kerumunan. Tetapi setiap keberhasilan

selalu mengundang kebersamaan. Dalam kebersamaan itu, mereka bisa sama-sama

memperbesar pasar karena konsumen senang hadir dalam kerumunan. Dalam

kerumunan itu ada variasi, warna dan selera. Dan itu tidak

selalu berarti kompetisi yang buruk karena pelanggan senang berada dalam

variasi itu.

Maka pilihkanlah apa yang akan dilakukan bila Anda harus berada dalam

suatu kerumunan. Pertama, bersikap bijak dalam diri dengan menyadari

bahwa setiap keberhasilan selalu mengundang kerumunan. Dalam sekejap

usaba Anda akan drtiru oleh tetangga-tetangga Anda. Kedua selalu ciptakan

keunggulan yaitu apa yang menjadi kelebihan Anda dibandingkan para

Pangekor. Hanya menjadi yang pertama, yang “asli’ atau “original’ saja

Tidak menjadikan Anda unggul dan diminati. Unggul berarti “lebih”,

seperti lebih bersih, lebih enak, lebib melayani, lebih

bervariasi lebih cepat, lebih bagus leblh harum, lebih kreatif,

lebih unik dan seterusnya.

Ketiga; ambil manfaat dari suatu kerumunan, Suatu kerumunan adalah magnet

untuk mendapatkan segala macam sumberdaya dan pengetahuan. Di sanalah

berkumpul SDM dengan keterampilan tertentu yang diwariskan

secara alamiah dari satu generasi kegenerasi berikutnya yang tinggal Anda

poles dan buat lebih kreatif. Di sana juga berkumpul informasi bahan

baku pengetahuan, dan pemasok-pemasok penting. Anda tinggal mengambil atau

memanggil mereka maka semua akan datang. Untuk menciptakan keunggulan,

dapatkan kombinasi-kombinasi sumberdaya yang unik.

Keempat, berikanlah sesuatu kembali kepada komunitas Anda, agar komunitas

dapat meneruskan keberlangsungannya dalam jangka panjang. Ingatlah Anda

meminjam semuanya dari generasi penerus Anda. Jadi Anda

pun wajib mengembalikannya.

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012

Atik, Modal Awalnya Cuma 50 Ribu, Tapi Kini Usaha Bordirnya Sukses Raup Omzet Miliaran dan Menembus Hingga Rusia

Atik Jumaeli, Mengibarkan Bordir Tasik Hingga ke Rusia

Mengawali usahanya di bidang bordir

Tasik dengan modal Rp50 ribu dan satu

Mesin jahit, kini Atik Jumaeli mampu

membawa produk andalan usaha Dewì

Bordir memimpin pasar di kelasnya.

Bahkan dia mampu menggelar produk-

produk bordirnya di berbagai negara,

mulai dari Singapura hingga Rusia.
Waktu sudah menunjukkan pukul

20.00. Kota Tasikmalaya sudah mulai sepi.

Hj. Siti Atikah Huzaemah Jumaeli, pemilik

usaha Dewi Bordir, sudah menutup tempat

usahanya yang terletak di Jalan

Panunggal No. 64, di samping Asrama Polisi

Bojong, Tasikmalaya. Namun malam itu Dewi

Bordir kedatangan tamu, seorang perempuan

dan laki-laki. Kepada perempuan yang lebih

dikenal sebagai Atik Jumaeli itu, sang tamu laki-

laki mengaku bernama Gam Aceh.

Menerima tamu pada malam hari, apalagi mengaku

bernama Gam Aceh, membuat Atik merasa kecut hatinya.

Atik baru merasa sedikit tenang ketika sang tamu

Mengaku sebagai pengusaha jasa pengiriman paket di

Jakarta. Tamu itu memberitahukan bahwa

dari pengalaman menjalani usahanya, nilai

pengiriman paket Dewi Bordir menduduki

tempat tertinggi sehingga hidung bisnis Gam

menuntunnya untuk melihat sendiri usaha Dewi Bordir.

Kepada Tuan Gam, Atik menjelaskan perihal

usahanya. Setelah melihat-lihat produk Dewi

Bordir, Tuan Gam memesan sepasang baju

bordir. Namun tak lama kemudian, Tuan Gam

menelepon seseorang dan memberikan kejutan

dengan memesan 500 pasang baju bordir serupa.

Konon, pemesanan itu berkaitan dengan sebuah

rencana pernikahan di Kerajaan Kelantan, Malaysia.

Atik terkejut bukan karena ia tak biasa menerima

banyak pesanan. Masalahnya, Tuan Gam meminta

pesanan itu selesai dalam waktu

satu setengah bulan. Apalagi Tuan Gam juga

langsung memberikan uang muka sebanyak Rp

120 juta yang dibayarkan dua kali. Total harga

untuk 500 pasang baju bordir itu Rp 360 juta.

“Sesudah tamu kami pulang, saya hanya

berpikir bagaimana cara mendapat bahan yang

cocok. Paginya saya bangun subuh, salat, dan

mengaji. Saya berdoa, memohon petunjuk untuk

bisa dapat bahan sutra nomor satu,” tutur Atik.

Selanjutnya hari-hari Atik dipenuhi oleh

usaha jungkir-balik untuk mendapatkan bahan

sutra organdi sesuai pesanan. Untuk

mendapatkan bahan itu Atik berpikir bahwa

Jakarta-lah tempatnya. Namun setelah berkeliling

Jakarta dengan susah payah dan keluar

masuk Pasar Majestik, Tanah Abang, serta Pasar

Baru, hasilnya nihil.

“Setelah empat hari berputar-putar di Jakarta
saya cuma bisa merasa kecewa dan sedih.

Beberapa kali ditilang polisi karena salah jalan.

Akhirnya saya pulang ke Tasik dengan menangis,

kecewa, dan bingung. Uang ini mau diapakan?”

kenangnya.

Sekembalinya ke Tasik, Atik mengontak

relasi bisnisnya di Pekalongan dengan harapan

bisa memberikan informasi. Tak sampai seminggu

datang kabar yang sedikit menghibur.

Atik dikenalkan pada seorang pemilik bahan.

“Alhamdulillah orangnya mau menerima. Tapi

masih ada masalah. Bahan untuk bawahan

belum ada. Saya harus pergi lagi ke Bandung

untuk mencari bahan bawahan,” tuturnya.

Di Bandung dia mendatangi enam pabrik.

Namun, hingga pabrik keenam Atik hanya

memperoleh informasi bahwa bahan itu harus

diimpor dari Cina. “Saya sedih sekali. Sudah

hampir sebulan waktu terbuang hanya untuk

mencari bahan tapi tetap nihil,” tutur Atik lagi.

Kejadian seperti di Bandung menimpa lagi

ketika Atik bergerak ke Majalaya. Rasa putus asa

mulai menghampirinya.

Lalu, dari salah satu pabrik, ada orang yang

Memberitahu bahwa bahan itu bisa dibuat dengan

cara menenun benang sutra yang dicampur

bahan sintetis. Atik langsung berbelanja benang

sutra kemudian menyerahkannya ke pabrik

tersebut untuk dibuat kain tenun. Akhirnya

bahan sutra pun jadilah. Tapi masalah baru

datang, pewarnaannya mengalami kegagalan.

Atik hampir menyerah.

Dalam kondisi hampir putus asa, Atik pergi

lagi ke Bandung untuk memesan bahan sutra

impor. Tapi Atik diminta menunggu satu bulan.

Mendengar jawaban itu Atik hanya bisa pasrah

sambil menunggu keajaiban. Ternyata keajaiban

itu benar-benar datang. Bahan itu datang.

Namun ia harus mewarnainya lebih dulu.

Jadilah selama seminggu dia hampir tak tidur

untuk mendapatkan warna yang pas. “Waktu

cuma tinggal sisa 11 hari. Pewarnaan perlu tiga

hari,” kenang Atik.

Akhirnya, bahan gulungan sepanjang

1.280 m hasil celupan itu bisa dibawa pulang

dan dikerjakan tanpa kenal waktu dan lelah.

Pekerjaan sangat berat dan sulit itu akhirnya

beres. Kurang satu hari dari waktu yang

ditentukan, Atik mampu membawa hasilnya

ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Tuan

Gam. Tetapi ujian belum berakhir juga. Sesampainya

di Jakarta “kejutan” muncul lagi. Tuan

Gam meminta tambahan 50 pasang lagi. Atik

pun menyanggupinya.

Anda mungkin deg-degan membaca cerita di

atas. Sudah kepepet waktu, uang sudah diterima,

bahan-bahan sulit dicari, sementara waktu berjalan

terus. Tetapi drama ini belum selesai.

Perjalanan dramatis untuk memberikan pelayanan

yang terbaik bagi pelanggan barunya

memang hampir berakhir. Setelah semuanya

beres, “kejutan” terakhir datang. Kali ini berkaitan

dengan hitung-hitungan hasil jerih payahnya

selama satu setengah bulan. Semula

dia menghitung keuntungannya bisa mencapai

Rp 80 juta. Namun di ujung hari, ternyata Atik

hanya memperoleh keuntungan Rp 20 juta

ditambah sisa baju. Apa reaksinya?

“Ya, saya merasa kecewa. Tapi saya tetap

merasa bersyukur karena bisa mengatasi tantangan

dan menjaga kredibilitas Dewi Bordir,”

tutur Atik mengakhiri kisah yang tak pernah dia

lupakan seumur hidupnya. Atik mengaku peristiwa itu

menjadi pembelajaran untuk ‘naik kelas’

di dunia usaha yang dia tekuni maupun hidupnya sebagai

pribadi.

JATUH BANGUN DARI TITIK “NOL”

Atik Jumaeli boleh jadi tak akan lulus menghadapi

“ujian” yang datang dari orang seperti

Tuan Gam, andai saja ia belum teruji. Perempuan

Tasik ini sudah kenyang dengan pengalaman

jatuh-bangun sejak memulai usahanya dari nol.

Atik merintis Dewi Bordir pada tahun 1991, ketika

suaminya, Jumaeli, masih aktif bertugas sebagai

polisi berpangkat inspektur satu di Poires

Tasikmalaya. Sebagaimana istri polisi pada umumnya,

Atik wajib menjadi anggota Bhayangkari, organisasi

istri Poiri. Saat itu Bhayangkari banyak

melakukan kegiatan bersama Dharma Pertiwi, organisasi

istri TNI. Salah satu program yang mereka jalankan
ialah kegiatan ekonomi produktif, di mana

para anggota Bhayangkari dan Dharma Pertiwi diberi

fasilitas permodalan dan alat kerja. Atik termasuk

anggota Bhayangkari yang menerima modal sebesar Rp 50 ribu

dan satu unit mesin jahit untuk usaha kain bordir.

Usaha ini menjadi pilihan karena Tasik dikenal

sebagai kota industri kerajinan kain bordir.

Bahkan bordir telah menjadi salah satu identitas

masyarakat Tasik, selain anyaman mendong.

Hasil laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan

Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya

dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI

menunjukkan bahwa industri kain bordir di Tasik terus

memperlihatkan perkembangan yang signifikan,

bahkan ketika Indonesia mengalami krisis

ekonomi tahun 1997 hingga selepas tahun

2000. Dari delapan kecamatan yang ada di

Tasik, empat di antaranya bergerak di bidang

usaha pembuatan kain bordir, yaitu Cibeureum,

Cipedes, Mangkubumi, dan Kawalu.

Pada tahun 2005, terdapat setidaknya 1.092

unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin.

Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah

yang memiliki pelaku usaha kerajinan bordir

paling banyak, yaitu 87,7 persen dari total perajin

bordir di Tasik. Di kecamatan ini, terutama di

Desa Tegalsari, terdapat banyak pengusaha kain

bordir berskala besar seperti Thratex, Purnama,

Ciwulan, Haryati, dan Bunga Tanjung. Total

produksinya mencapai 7,2 juta potong per tahun.

Nilai produksi bordir di Tasik telah mencapai

angka lebih dari Rp 500 miliar dan mampu

menyerap ribuan tenaga kerja.

Pada dekade 1990-an ketika Atik memulai

usahanya, produk bordir Tasik telah jauh berkembang

dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Saat itu

produk bordir didominasi oleh busana muslim, termasuk

baju garnis, mukena, jilbab, baju koko, dan kopiah.

Jauh sebelumnya, yakni pada dekade 1960-an, jenis bordir

yang dihasilkan hanyalah kebaya dan pakaian tradisional

Cina karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan

etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an, setelah mesin

bordir bertenaga listrik muncul di Tasik, jenis produk

bordir yang dihasilkan pun meluas ke jenis kain untuk

interior ruangan (home interior), seperti seprai,

taplak meja, gorden, dan lain-lain. Namun

pada dekade 1980-an jenis kain bordir yang

diproduksi mulai bergeser ke busana muslim

yang kemudian berkembang hingga kini.

Ketika mulai merintis usahanya itu, Atik

belum pernah menjalani satu jenis usaha pun.

Sebelum menikah dengan Jumaeli, Atik adalah

karyawan sebuah kantor konsultan hukum.

Namun Atik bukan pribadi yang asing dengan

dunia jahit-menjahit. Anak kelima dari 10 bersaudara

H. Saun dan Hj. Sitj Huzaemah ini tumbuh dalam keluarga

penjahit pakaian wanita. Ibunya dikenal sebagai penjahit

kebaya di Cikalong, Tasik. Selain itu Atik sendiri

pernah mengambil kursus menjahit selama 6 bulan di

tempat kursus ‘Abadi’ di Tasik.

Meski demikian, Atik mampu mengembangkan kemampuannya

menjadi sesuatu yang menghasilkan bermodalkan

kemauan bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif.

Karakter-karakter seperti itu merupakan modal

penting bagi mereka yang ingin terjun di

bidang kerajinan. Selain itu, yang tak kalah

pentingnya adalah intuisi bisnis yang tajam

dalam menangkap pasar. “Usaha kerajinan bordir

memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun,

dan kreatif. Orang-orang seperti itulah

khususnya kaum perempuan, yang membuat Tasik dikenal

sebagai kota bordir,” katanya. Sejumlah sumber menyebutkan

bahwa dari tangan orang-orang seperti itulah, lahir kain

bordir bermotif alam, terutama flora, yang indah dan

menjadi ciri bordir Tasik.

Sadar sebagai pemula, Atik menjalani usahanya dengan sabar

dan tekun hingga tahun pertama usahanya

terlewati. Memasuki tahun kedua, Atik terus

bergerak perlahan namun pasti, sementara para

koleganya yang dulu sama-sama memperoleh

modal seperti dirinya mulai berguguran. Selepas

tahun kedua, perjalanan usaha Atik semakin mantap.

Pada tahun 1996, Atik ingin Dewi Bordir

memiliki badan hukum. Lahirlah kemudian CV

Dewi Nugraha. Atik juga mendapatkan suntikan

modal dari hasil arisan sebesar Rp 500 ribu.

Dana itu dia gunakan untuk membayar uang

muka mesin jahit baru merek Zuki seharga Rp

3,5 juta. Sisa utangnya dilunasi dengan mencicil.

Namun perjalanan usaha Dewi Bordir

tidak selalu mulus. Pada tahun 1997 usaha ini

pernah jatuh. Ketika itu, Dewi Bordir menerima

pesanan 1.000 lusin tatakan dan tutup gelas

senilai Rp 67 juta. Tetapi krisis ekonomi yang

meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan

uang hasil pesanan tersebut tak tertagih. Kondisi

Dewi Bordir pun sempat terganggu.

Hal serupa juga terjadi pada 2007, ketika

Dewi Bordir menerima pesanan busana bordir

sebanyak 400 pasang untuk dikirim ke Brunei.

Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang

namun hanya 400 pasang saja yang dibayar

sehingga Dewi Bordir tekor hingga Rp 45 juta.

Nasib nahas lainnya juga harus menimpa

Dewi Bordir. Suatu hari karyawan Dewi Bordir

menerima pengembalian barang yang sudah

dibeli orang. Namun setelah dibuka dan diteliti,

ternyata yang dikembalikan itu bukanlah produk

Dewi Bordir. “Dewi Bordir ketiban nahas akibat

kelakuan yang enggak sehat dari orang lain,” ujarnya.

Selain itu Dewi Bordirjuga pernah melakukan

kesalahan pengukuran ketika mendapatkan

pesanan baju koko sebanyak 20 kodi sehingga

harus menanggung semua kerugian. “Pernah

juga kami kena provokasi yang menyebut produk

kami mahal,” kata Dewi mengenang berbagai

peristiwa yang menimpa Dewi Bordir.

Sebagai lembaga bisnis dengan 30 orang

karyawan dan lebih banyak lagi karyawan

musiman pada saat pesanan meningkat, Dewi

Bordir tak luput dari gesekan internal. Umumnya

gesekan terjadi karena keluarga atau para

karyawan yang terlibat dalam bidang produksi

saling bersikukuh bertahan dengan tren yang

akan dilansir.

“Saya tipe orang yang suka bereksperimen

memasukkan produk-produk nonkonvensional

dan mencoba bertahan dengan sikap saya.

Mungkin itu yang sering menimbulkan gesekan,

baik dengan keluarga maupun karyawan,” katanya.

Namun Atik Jumaeli meyakinkan bahwa

setiap Dewi Bordir menghadapi masalah dari

luar, hal pertama yang mereka lakukan adalah
berusaha tidak panik dan saling menyalahkan.

“Kuncinya sadar dan sabar. Lalu bersama-sama

mencari penyebabnya dan bersama-sama juga

mencari jalan keluar,” katanya.

MENGELOLA SUMBER DAYA MANUSA

Sebagaimana dunia usaha bordir di Tasik pada

umumnya, Dewi Bordir juga harus menghadapi

masalah dari dalam berupa masalah tenaga

kerja. Walau mesin bordir dan mesin jahit

yang digunakan belum mengalami pembaruan

teknologi, tetapi pelatihan menggunakan

mesin tersebut tetap harus dilakukan pada

karyawan baru. “Tergantung, kalau karyawan

sudah memiliki pengetahuan cukup tentang menjahit,

maka gampang dilatih. Tetapi karyawan yang masih

baru sama sekali, memang agak

sedikit sulit,” jelas Atik.

Upah tenaga kerja berpengalaman di industri

bordir di Tasik mencapai Rp 1,2 juta

per bulan. Sementara UMR di Tasik hanya sebesar

Rp 680 ribu per bulan. Oleh sebab itu

mudah dijumpai karyawan yang keluar-masuk. “Kami

sadar bahwa di dunia bordir karyawan mudah

sekali keluar masuk. Dewi Bordir tidak

sendirian,” kata Atik seraya menduga banyak pengusaha

bordir tidak membuat kontrak kerja dengan karyawannya.

“Mungkin karena usaha bordir masih luas,” Atik

Menambahi keterangannya.

Untuk membuat orang merasa kerasan bekerja di Dewi

Bordir, Atik membangun pola hubungan kerja yang

manusiawi dan berusaha memberikan lebih kepada

karyawannya. Selain upah yang lebih tinggi dari UMR,

Atik memberikan insentif bagi mereka yang bekerja lebih.

Atik juga memberikan kesempatan kepada karyawan yang

ingin mandiri. Dari 30 karyawannya, ada tujuh orang yang

telah mandiri. Atik merasa bangga kepada mereka karena

pola pikir mereka memang melebihi dirinya. “Karena itu

saya sangat mendukung mereka. Malah saya mendorong mereka

untuk berani mengajukan bantuan modal ke bank bjb. Saya

katakan ‘Ibu jadi jaminannya’,” ujar Atik bangga.

Dengan cara tersebut Atik yakin bahwa hubungan Dewi Bordir

dengan mantan karyawan akan tetap terjaga. Apalagi di dunia

bordir situasi saling membutuhkan memang sangat tinggi.

Dewi Bordir akhirnya membuat anak usaha berupa lembaga

kursus atau pelatihan membordir, khusus bagi kaum muda Tasik.

Lembaga ini didirikan demi tersedianya sumber daya manusia

atau tenaga terampil di bidang bordir yang dapat diandalkan

untuk masa depan. Tempat kursus ini berada di bawah CV Dewi

Nugraha, badan hukum yang menaungi usaha Dewi Bordir.

Kegiatan kursus di Dewi Bordir ini dibagi menjadi dua kelas,

yakni kelas besar dan kecil. Kelas besar berisi 75 peserta setiap

angkatan dengan masa kursus selama tiga bulan. Dalam satu

tahun Dewi Bordir mampu menyelenggarakan tiga kali pelatihan.

Sedang kelas kecil terdiri dari 20 peserta dengan

masa kursus satu bulan. “Tempat kursus ini kami dirikan untuk

mendidik generasi muda agar mereka punya

kemampuan membordir sekaligus menciptakan

generasi penerus seni bordir Tasik. Ini juga

untuk membantu pemerintah mengurangi pengangguran,” kata Atik.

Melalui lembaga pelatihan ini Atik bersama

keluarga dan karyawan Dewi Bordir membuktikan bahwa

mereka benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia

yang andal di bidang bordir sehingga masyarakat dan

pemerintah pun memercayainya. Hal itu terlihat pada

banyaknya peserta kursus serta kepercayaan

yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Kota Tasikmalaya, juga beberapa BUMN untuk menjalin

kerjasama dengan CV Dewi Nugraha. Dalam kerja sama ini

instansi atau perusahaan menyediakan dana, sementara

Dewi Bordir bertanggung jawab atas proses pelatihannya.

Program ini sebenarnya merupakan beasiswa

bagi anak-anak muda. Para siswa yang mengikuti program

ini tidak perlu membayar uang kursus. Sebaliknya,

mereka bahkan mendapat uang saku sebanyak Rp 30 ribu per hari.

Selama tiga bulan, mereka mengikuti tiga tingkat pelatihan,

yaitu: tingkat dasar, tingkat terampil, dan

tingkat mahir. Para siswa yang lulus umumnya

sudah siap ditampung oleh perusahaan-perusahaan

bordir yang membutuhkan. Perusahaan bordir kain yang

membutuhkan tenaga kerja pun hanya perlu menghubungi

Dewi Bordir. Dewi Bordir juga kerap menjadi tempat magang

atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) bagi pelajar

SMK dan perguruan tinggi. Banyak sekolah dan

kampus mengirimkan anak didik atau mahasiswa

mereka agar bisa menjalani masa magang atau PKL di sini.

KEJELIAN MEMILIH PRODUK ANDALAN

Seraya menjalani usahanya, Atik menyempatkan

diri untuk meningkatkan berbagai keterampilan yang

menunjang bisnisnya. Dia rajin mengikuti pelatihan

pemasaran dan manajemen.

Di samping itu Atik juga terus mengasah bakat

menggambarnya yang sangat mendukung usahanya,

terutama dalam menciptakan desain barang-barang

yang akan diproduksi.

Secara sekilas tatakan dan tutup gelas bordir

berdiameter lima hingga delapan sentimeter

sebagai produk andalan Dewi Bordir tampak

sederhana. Namun Atik mencoba memberikan

nilai tambah, yakni sulam timbul. Selain itu

Atik juga menciptakan produk serupa berbahan

perca. Semua produknya tampil dengan motif

bunga atau bintang berwarna-warni.

Meskipun sederhana, tatakan dan tutup gelas

justru menjadi pemimpin pasar untuk seluruh

produk Dewi Bordir, bahkan produk serupa di

Tasik. Produk-produk ini juga membawa Tasik

memperoleh kebanggaan. Sebab, tatakan dan

tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu

produk UKM Tasik yang diekspor. Prestasi ini

menjadikan Dewi Bordir sebagai UKM yang

banyak memperoleh fasilitas dari pemerintah

atau lembaga lain.

Atik tentu bukan sosok yang naif. Ia tidak

ingin Dewi Bordir memenjarakan diri dengan

hanya memproduksi tatakan dan tutup gelas.

Dewi Bordir juga memproduksi produk bordir

lain yang diminta pasar seperti sarung bantal

termasuk untuk bantal kursi—taplak, tas,

batik, serta busana muslim dan kelengkapannya.

Bahkan Atik juga berhasil membawa Dewi

Bordir melahirkan produk busana yang kerap

tampil dalam acara peragaan busana, yaitu

busana muslim, busana resmi, dan busana

Sunda kontemporer. Saat ini Dewi Bordir

mampu memproduksi 500 baju bordir pesanan

hanya dalam waktu 2 bulan. Rentang waktu tersebut

sudah termasuk dari waktu perancangan,

mencari bahan, hingga waktu produksi.

Pengalaman menjalani usaha dari bawah

ternyata membuat intuisi bisnis Atik Jumaeli

terlatih membaca pasar. Hal ini melandasi Atik

saat memilih tatakan dan tutup gelas menjadi

produk andalan Dewi Bordir. Awalnya, Atik

memasarkan produk-produk tersebut pada

acara-acara arisan, bazar, dan pameran yang

melibatkan ibu-ibu anggota Bhayangkari dan

Dharma Pertiwi di Tasik. Setelah mulai di

kenal, Dewi Bordir tampil secara rutin pada

ajang serupa di Tasik maupun kota-kota lain di

Jawa Barat.

Pada tahun 2003, ketika produksi bordir di

Tasik telah mencapai angka Rp 300 miliar, Dewi

Bordir juga mengalami perkembangan. Pasarnya

bukan hanya ada di dunia arisan atau pameran,

melainkan pasar sesungguhnya. Kejelian menangkap

pasar dan cara memasarkan produk,

membuat Jakarta dan sejumlah kota lain mulai

mengenal produk Dewi Bordir.

KELUARGA DAN PENGEMBANGAN USAHA

Di balik sosok yang sukses selalu ada pendukung yang

hebat. Para pendukung itu pula yang selama ini

membuat Atik selalu merasa bersemangat

dan gigih dalam menjalani usahanya.

Jumaeli, suaminya, menurut Atik adalah sosok pendukung

yang hebat. Di luar tugasnya sebagai anggota Poires

Tasik, Jumaeli selalu siap memberikan bantuan dan dukungan

nyata yang dia perlukan. Demikian pula keempat anak

mereka, Budi Mulia, Dewi Fuji Fitriarti, Cecep Ibnu, dan

Jajang Nugraha. “Saya merasa menjadi lebih

bersemangat karena suami dan anak-anak sangat mendukung

usaha ini,” tuturnya. Budi, anak pertama, setelah lulus

kuliah banyak membantu di bidang pemasaran. Demikian

pula Dewi yang masih kuliah di Sekolah Tinggi Tekstil Bandung.

“Bahkan saya dan bapaknya berharap mereka bisa bekerja

sama melanjutkan usaha ini menjadi lebih besar lagi,”

katanya.

Khusus tentang Budi, Atik berterus terang

sangat memerlukan tenaganya, terutama saat

Atik harus mengikuti pameran di luar negeri.

Sebab sudah sejak beberapa tahun terakhir

Dewi Bordir kerap melakukan pameran di luar

negeri. Bahkan, untuk beberapa negara pameran

telah berlangsung secara rutin. Di Malaysia,

misalnya, Dewi Bordir telah melakukan pameran

sebanyak lima kali, di Singapura sudah

berlangsung tiga kali, di Brunei dua kali, dan di

Dubai sekali.

Pada April 2011 Atik melakukan pameran

lagi ke sejumlah negara, yakni Arab Saudi,

Jerman, dan Rusia. “Jadi meskipun hanya

tatakan dan tutup gelas, produk Dewi Bordir

sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri.

Malah sebagian sudah menetap di luar negeri,”

katanya berseloroh.

Karena kinerjanya itu pula, pada tahun

2006 usaha ini terpilih sebagai salah satu

UKM yang mendapatkan fasilitas permodalan

dari bank bjb. Meskipun enggan menyebutkan

jumlahnya, Atik mengakui dana tersebut ikut

membantu usahanya lebih berkembang dan

mampu membayar pinjaman dengan disiplin.

Adapun cara pembayarannya pertama adalah

dengan selalu membayar bunga pinjaman setiap

bulannya. Sementara pembayaran pinjamannya

dilakukan ketika mendapatkan untung dari pesanan besar.

Dewi Bordir sempat memperoleh pinjaman

modal lagi. “Tapi selanjutnya kami tak ingin di

pinjami lagi karena sudah punya modal sendiri

dari usaha yang ada,” ujar Atik. Kedisiplinan

adalah kunci lancarnya pembayaran pinjaman

Atik ke bank.

Dengan dukungan keluarga dan karyawan, Atik

juga telah mengantar Dewi Bordir

menerima sejumlah penghargaan sekaligus

kemudahan. Selain sering menerima fasilitas

pameran secara gratis, Dewi Bordir juga menerima

fasilitas berupa ruko di Asia Plaza, Jalan

Hajat Mustofa nomor 8, Tasikmalaya. “Saya sangat

menghargai tempat ini karena ini fasilitas yang

kami dapat setelah produk-produk Dewi Bordir

terpilih sebagai produk unggulan bordir Tasik,”

katanya.

Atik juga mengakui bahwa perhatian pemerintah

cukup membantu. Dewi Bordir sering

mendapatkan fasilitas pameran, baik di tingkat

lokal, nasional, maupun internasional. Selain

pameran, Presiden pada masa itu, Megawati

Sukarnoputri, memberikan penghargaan berupa fasilitas

HAKI pada produk Dewi Bordir yang telah mampu

memproduksi barang yang memiliki nilai tradisional

khas Indonesia. Dari usaha kerasnya dan berhasil

mendapatkan penghargaan itu, omzet yang dicapai

Dewi Bordir mencapai sekitar Rp loo juta per

bulan atau lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Dan,

dari omzet tersebut Atik meraih keuntungan

bersih sebesar 20 persennya.

MENYIAPKAN PASAR KE DEPAN

Pengalaman mengelola usaha selama bertahun-

tahun dan kejelian Atik Jumaeli membaca pasar

telah membawa Dewi Bordir pada posisi harus

mampu memilih segmen pasar yang tepat.

Menurut Atik, Dewi Bordir sedang merintis

jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah

ke atas. Alasannya, “Di segmen ini kondisinya

lebih stabil,” katanya.

Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen

ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-

hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan.

Selain itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-

desain baru yang sesuai dengan tuntutan pasar.

“Untuk tahu pasar kami mencari informasi dari

internet atau majalah,” ujarnya.

Namun Atik juga berusaha profesional dan

memegang etika usaha. Dalam membuat desain,

misalnya, Dewi Bordir tidak mau menjiplak

karya orang lain. “Kalaupun terpaksa harus

mengikuti tuntutan pasar, kami melakukan

modifikasi atas tren yang sudah ada,” tuturnya.

Terkait bahan-bahan yang diperlukan, pada

umumnya usaha kerajinan bordir di Tasik jarang

mengalami kendala. Bahan dasar yang banyak

digunakan dalam usaha bordir di wilayah ini

ialah sutra. “Untuk bahan dasar, selama ini

masih bisa didapat dengan mudah,” ujar Atik.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya

menyebutkan bahwa untuk bahan baku

kain dan benang bordir, para pengusaha memperolehnya

dari sejumlah pabrik yang ada di

Bandung, Jepara, dan Pekalongan. Sebagian besar

menggunakan produk lokal, hanya sebagian

kecil yang diimpor dari negara lain.

Namun menurut Atik, jika pengusaha bordir

menerima pesanan mendadak dalam jumlah

besar, sementara bahan tidak mudah didapat di

Indonesia, maka mereka jelas kelabakan. “Jangan

sampai para pengusaha bordir menghadapi

masalah yang pernah saya alami. Cukup saya

saja yang menghadapi pengalaman seperti itu,”

katanya merujuk pada pesanan Tuan Gam yang

membuatnya kalang-kabut karena bahannya

sukar dicari di Indonesia.

Untuk urusan pemasaran dan promosi, Dewi

Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan.

Selain mempertahankan promosi dan mulut ke

mulut melalui ajang arisan, bazar, dan pameran,

Atik juga menempuh cara pemasaran yang

lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik

pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke

Jakarta dan beberapa kota lain. Sentra-sentra

pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang

dan Cipulir adalah sasaran mereka.

Namun, menurut data Dinas Perindustrian

dan Perdagangan, pengusaha bordir yang sudah

terkenal tidak perlu memasarkan sendiri karena

pemesan datang sendiri ke tempat usaha mereka.

Sebagian besar kain bordir mereka diborong oleh

para distributor, yang kemudian menjualnya

kembali ke kota-kota lain. Distributor juga

bertindak sebagai agen pengekspor kain bordir

ke negara-negara lain seperti Malaysia, Arab

Saudi, Brunei Darussalam, dan Yordania.

Para pengusaha kain bordir di Tasik juga telah

mendirikan organisasi Gabungan Pengusaha

Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA). Di samping

membantu permodalan, organisasi ini juga bertujuan

membantu anggotanya mencari strategi

agar tercipta jaringan pemasaran produk.

GAPEBTA telah berhasil mencarikan kios-kios

bagi anggotanya untuk berjualan di berbagai

kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Solo, dan

Yogyakarta. Khusus untuk Jakarta, kios-kios

pengusaha dari Tasik dapat ditemui di Pasar

Tanah Abang. GAPEBTA memiliki anggota

hingga 8oo orang pengusaha kain bordir, dan

lebih dari separuhnya memiliki kios-kios di

kota-kota besar.

Namun Atik juga punya keyakinan bahwa

barang yang berkualitas selalu punya jalannya

sendiri untuk mencapai sasarannya. Oleh sebab

itu, selain terus berusaha memperluas pasar,

Atik juga sangat menjaga kualitas produknya.

Dengan sikap seperti itu, pasar Dewi Bordir terus

meningkat, dari lokal ke nasional, dan akhirnya

internasional.

Meskipun demikian, Atik tidak ingin semua

awak Dewi Bordir, termasuk dirinya, berleha-

leha. Mereka mulai belajar memanfaatkan

teknologi internet untuk mencari informasi dan

peluang memasarkan produk-produknya. Namun

sarana ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dewi Bordir, misalnya, belum memiliki situs khusus.

Pada awal 2011 Atik merintis pembukaan

cabang Dewi Bordir di Season City, Jakarta

Barat, dengan tujuan membawa usaha ini

lebih profesional. Namun, seperti kata pepatah

‘setiap permulaan selalu sulit’, maka tampaknya

sampai saat ini dewi fortuna belum berpihak

pada Dewi Bordir. Karena masih sepinya mall

baru tersebut, Dewi Bordir mengalami kerugian,

sehingga cabang tersebut harus ditutup. Meski

demikian, kejadian tersebut tidak membuat

Atik putus asa. Ia masih memiliki satu cabang

lainnya di UKM Gallery, Smesco, Jakarta. Untuk

menjaga agar pasar tetap mencarinya, Dewi

Bordir menyewa konsultan manajemen untuk

melakukan quality control.

“Saya ingin maju seperti Dewi Motik

Pramono (mantan Ketua Umum Ikatan Wanita

Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa

Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang

maju,” demikian tutur Siti Atikah Huzaemah

Jumaeli mengakhiri kjsah perjalanan usaha

dan cita-citanya ke depan.
Catatan Rhenald Kasali

Salah satu syarat bagi pengusaha UMKM untuk naik kelas adaiah ‘berani dan

mau melakukan hal-hal yang sulit’. Anda mungkin masih ingat penstiwa

manusia yang mendarat di bulan pada 1969. Saat itu terbang ke bulan

suatu keniscayaan, tetapi di bawah J F Kennedy, Amerika Serikat berhasil

melakukannya.

Dalam suatu ceramah di Texas, Kennedy menjelaskan, “Ketika bangsa-bangsa

lain mengembangkan teknologi untuk mendaratkan manusia ka puncak gunung,

Kita justru memilih teknologi untuk mendaratkan manusia ke bulan. Mengapa

ke bulan? Jawabnya adalah karena pertama kita tidak ingin dilihat oleh

Rusia dari atas bumi kita dan kedua karena ini tidak mudah. Kita memilih

terbang ke bulan bukan karena mudah dan hanya bangsa yang mau

melakukan hal-hal yang sulit itulah yang akan menjadi bangsa yang hebat.”

Saya membuka kisah naik kelas Atik Jumaeli dengan keberaniannya menerima

order yang sulit sekali untuk ia penuhi. Orang-orang yang mengambil risiko

seperti ini adalah crang-orang yang mau bergerak dan mau berpikir.

Saya pikir orang-orang lain yang mendengar keluhannya akan mengatakan
‘Gila! Berani amat, sih mengambil risiko?”

Mayoritas manusia memang hanya mengambil langkah-langkah yang gampang dan
tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Bahkan melakukan perjalanan ka luar
negeri pun harus bergerombol dan diantar orang yang sudah tahu lebih dulu.
Kalau sudah begitu, Anda jadi bisa duduk tenang yang artinya tak perlu
Berpikir. Santai.

Tapi Anda tak tahu banyak. Anda takut tersasar bukan? Kata Columbus “Orang-
orang yang tak berani kesasar tak akan pernah menemukan jalan baru.”

Demikianiah Atik Jumaeli naik kelas karena ia mau berpikir, rela kesasar
Tetapi ia menemukan cara-cara dan keberanian-keberanian baru. Bagi sebagian
orang, hal ini memang sangat meletihkan. Tetapi, itulah yang membuat

pikiran manusia mandapatkan tempat terhormat, di atas kepala. Ia menjadi
komandan karena aktif digunakan dan cermat memberi perintah. Seperti kata
pepatah ‘bukan kaki yang menggerakkan langkah kita, melainkan pikiranlah’,
Ayo, beranilah melakukan hal-hal yang sulit!

Dari Buku: Cracking Entrepreneurs, Penyusun:  Rhenald Kasali. Penerbit: Gramedia: 2012