Terlahir dari keluarga pegawai tidak menyurutkan
langkah Heri, panggilan akrab Herizal Yuliansyah,
untuk terjun berwirausaha. Walaupun sebetulnya
kesempatan untuk masuk dalam birokrasi cukup
terbuka, tetapi dia tidak mau memanfaatkannya.
Heri lebih memilih jalan yang dirintisnya sendiri. Dia
memutuskan untuk terjun dalam dunia bisnis dan
perdagangan. ‘Saya ingin bebas berkreasi. Saya
ingin bebas melakukan apa yang ingin saya kerjakan
hari ini, ujar lajang kelahiran 1973 ini.
Kiprah Heri dalam dunia bisnis sebetulnya sudah
dirintis sejak lama. Ketika masih kuliah di
Yogyakarta, dia sering berbelanja batik di Pasar
Beringharjo. Di samping untuk hadiah para
kerabatnya, dia juga membelinya untuk dijual
kembali di luar daerah. Paling sering dia mengirim
batik tersebut ke kerabatnya di Banda Aceh yang
mempunyai sebuah toko grosir pakaian di sana.
Waktu itu usaha tersebut memang sekadar buat
iseng belaka. Namun, semangat untuk menghasilkan
nilai tambah dari yang dilakukannya sudah tampak
ketika dia menjalankan bisnis sambilan tersebut.
‘Saya sering mendapat pesanan drin saudara
saya di Aceh untuk dicarikan produk khas
Yogyakarta, biasanya saya langsung mencarinya ke
Pasar Beringharjo atau sentra produksi Iainnya,
ujarnya mengenang.
Seusai kuliah, di saat teman-temannya sibuk
mencari pekerjaan, Heri justru membantu pamannya
yang menjadi rekanan beberapa lembaga
pemerintah di Jakarta. Pekerjaannya mulai dari
mengurus surat-menyurat, melobi, mencari barang
yang dipesan customer, sampai mengawasi para
tukang yang ada di lapangan. Yang pasti semua
pekerjaan rekanan dari A sampai Z dia mau melakukannnya.
‘Saya ingin cepat belajar. Saya berharap suatu
saat saya bisa berdiri sendiri, cetusnya dengan
nada optimis.
Semenjak bergabung dalam bisnis tersebut,
banyak pengetahuan dan pengalaman yang
didapatnya. Heri belajar bagaimana rumitnya
berhubungan dengan birokrasi pemerintahan. Dia
juga belajar bersabar dalam menghadapi persaingan
yang semakin ketat di bisnis rekanan. Jaringan
supplier untuk beberapa produk tertentu juga mulai
dikenalnya. Pengalaman dan pengetahuan yang
didapat begitu berharga di matanya.
Pekerjaan yang pernah ditanganinya sebagai
rekanan sangat bervariasi. Mulai dari pengadaan
komputer, alat tulis kantor, servis AC hingga
renovasi ruangan di gedung milik pemerintah.
Awalnya nilai proyek yang ditanganinya tidak terlalu
besar. Pamannya sengaja memberikan kepercayaan
dari proyek yang bernilai di bawah RplOO juta dulu.
Setelah berhasil menangani berbagai pekerjaan
yang diamanahkan kepadanya, kepercayaan
customer mulai terbangun. Dia pun diberi amanah
untuk menyelesaikan pekerjaan yang nilainya lebih
besar. Salah satu proyek yang cukup besar nilainya
adalah, ketika dia mendapatkan kepercayaan untuk
menangani renovasi anjungan Aceh di Taman Mini
Indonesia Indah, Jakarta.
Berbekal pengalaman sekian tahun di bisnis
rekanan, Heri memberanikan untuk mendirikan
perusahaan sendiri. Tentu saja hal ini membuat
pamannya sangat senang. Sejak awal dia memang
ingin mendidik Heri agar suatu saat bisa mengelola
perusahaan sendiri.
Dengan bendera barunya, Heri mulai mengembangkan sayap.
Wilayah yang digarapnya juga
tidak lagi terbatas pada pekerjaan dari lembaga
milik negara atau pemerintah. Dia juga tidak
segan-segan bermitra dengan teman, jika
pekerjaan yang didapat membutuhkan modal yang
sangat besar.
Menangani sebuah proyek besar dengan beberapa mitra
ternyata tidak mudah. Banyak hal
terjadi di luar perhitungan rasionalnya. Di sinilah
biasanya kepercayaan antar anggota dalam tim
diuji. Keuntungan yang besar, kadangkala justru
membuat tim yang sejak awal cukup solid membuat
tercerai berai karena nafsu keserakahan. Beberapa
mitranya pernah tidak menepati janji soal
pembagian keuntungan. Bahkan, ada juga yang
berani memakai dana bersama untuk kepentingan
bisnisnya sendiri. Saat dana itu dibutuhkan, dana
tersebut tidak bisa ditarik karena sedang diputar di
bisnis lainnya. Ada juga beberapa rekanan yang
suka menelikung dari belakang.
“Sikut-menyikut dalam bisnis ini ternyata tidak
bisa terelakkan. Apalagi kalau nilai proyek sangat
besar, ungkap bungsu dari tiga bersaudara ini.
Perjalanan waktu ternyata justru mengarahkan
Heri untuk tidak semakin tertarik dengan bisnis yang
dijalaninya. Setelah berkonsultasi dan minta
pertimbangan pamannya, akhirnya dia memutuskan
untuk mengundurkan dari bisnis rekanan ini.
Entahlah, hati saya semakin merasa tidak nyaman
di bisnis ini, jawabnya lirih ketika ditanya
mengenai alasan utamanya.
Tidak tahan berdiam diri terlalu lama, Heri
segera mengeksplorasi berbagai peluang bisnis yang
bisa dijalaninya. Dia terus menggali, value apa yang
bisa diberikan dalam bisnisnya nanti. Dia juga
melakukan survei ke beberapa kota. Setelah
melakukan pengamatan yang mendalam dan
mempertimbangkan berbagai faktor, akhirnya dia
memutuskan untuk membuka toko busana khusus
pria. Lokasi yang dipilihnya bukan lagi di Jakarta,
melainkan di Banda Aceh, tempat kelahiran
orangtuanya. Walaupun lahir di Jakarta, tetapi Heri
sangat familier dengan daerah Aceh, karena dia
sering berkunjung ke sana untuk menengok kerabatnya.
Pada 2003, toko yang diberi nama Fokus akhirnya dibuka.
Toko tersebut menempati ruko di pusat
perdagangan Peunayong, Banda Aceh. Lantai dasar
dipergunakannya sebagai showroom, lantai dua
untuk gudang stock, sementara lantai tiga untuk
tempat tinggalnya selama berada di Banda Aceh.
Konsep toko yang diusungnya boleh dibilang
cukup unik. Hal ini sengaja dilakukannya untuk
membedakan dengan toko yang sudah ada di sana.
Heri menyediakan pakaian khusus pria, dan merek
yang sudah terkenal. Desain dan kualitas menjadi
pertimbangan utama dalam pemilihan produk yang
dijualnya. Tentu saja dia melakukan pelabelan harga
untuk semua produknya. Konsumen yang dibidiknya
adalah para pemuda gaul dari kelas menengah ke atas.
Heri selalu mengamati produk yang sedang
ngetren di Jakarta, untuk dibawa ke Banda Aceh.
Biasanya produk yang saat ini sedang ngetren di
Jakarta, baru akan in di Banda Aceh setelah dua
atau tiga bulan, ujar Heri menjelaskan pengalaman
yang diperolehnya.
Untuk menjalankan bisnis ini, Heri menggandeng
seorang mitra yang sudah berpengalaman dalam
bisnis fesyen dan tinggal di Banda Aceh.
Keputusannya untuk bermitra tersebut tentu
mempunyai pertimbangan tersendiri.
“Saya berharap dengan bermitra, akan terjadi
sinergi dan akselerasi sehingga toko Fokus bisa
lebih cepat berkembang, jelasnya singkat.
Berkat ketekunannya, omzet penjualan di toko
Fokus mulai menggeliat. Pelayanan yang terbaik
kepada pelanggan terus dibangun. Konsumen yang
pernah membeli, sebisa mungkin dikonversi menjadi
pelanggan setia. Berbagai pelayanan yang sifatnya
personal juga dilakukan. Hasilnya, rata-rata para
pelanggan mau datang kembali untuk melakukan
pembelian ulang. Apalagi sejumlah koleksi terbaru
selalu didatangkan secara rutin dari Jakarta. Heri
berusaha untuk selalu memberikan informasi kepada
para pelanggannya, jika ada model terbaru dari Jakarta.
Dalam rangka memenuhi permintaan pelanggannya
akan produk yang bagus dan berkualitas, tidak
jarang Heri memanfaatkan sale moment yang
diselenggarakan oleh berbagai department store
bergengsi di Jakarta. Saat sale tersebut, dia bisa
berburu berbagai jenis produk yang berkualitas
dengan harga yang cukup murah. Tercatat
beberapa kali dia memborong produk eksklusif saat
ada program sale di Metro Department Store Plaza,
Senayan dan Pondok Indah Mall.
Seiring berjalannya waktu, toko Fokus mulai
dipercaya beberapa pemilik merek busana terkenal,
untuk menjadi authorized agent di Banda Aceh.
Omzet pun terus meningkat. Dalam sebulan, tidak
sulit bagi Heri untuk meraih pendapatan bersih di
atas sepuluh juta rupiah. Bayangkan saja, saat
peak season menjelang lebaran, omzetnya bahkan
pernah mencapai 480 juta rupiah.
Saat Heri mulai menikmati hasil dan usaha yang
dirintisnya, bencana Tsunami yang meluluhlantakan
Banda Aceh pada akhir 2004 lalu, ikut
menghancurkan toko Fokus kebanggaannya. Saat
itu bersama ribuan orang lainnya, Heri berusaha
menyelamatkan diri. Tsunami yang menghentakkan
perhatian dunia, benar-benar di luar kekuasaan
manusia untuk menolaknya.
Akibat Tsunami tersebut, HerĂ sempat hidup
bersama ribuan pengungsi lainnya. Keluarganya di
Jakarta panik luar biasa, karena tidak berhasil
mendapatkan kabar keberadaan Heri selama
beberapa hari. Apalagi saat itu nyaris semua
saluran komunikasi terganggu. Baru selang
beberapa hari, Heri berhasil memberi kabar kalau dia
selamat.
Ketegaran Heri juga diuji, ketika menyaksikan
toko yang telah dibangunnya dengan susah payah
hancur berantakan. Toko Fokus yang berada di
jejeran ruko, kondisinya penuh lumpur dan porak
poranda. Stok barang dagangan yang tidak ikut
hanyut, kondisinya rusak parah dan tidak mungkin
dijual lagi. Heri hanya terdiam menyaksikan kondisi
tokonya. Dia merasa mendapatkan teguran Yang Maha Kuasa.
“Saya berusaha untuk mengihklaskan semua,”
ucapnya singkat. Matanya tampak berkaca-kaca.
Walaupun hatinya sangat sedih, dia terus berusaha
untuk tegar.
“Saya bersyukur masih diberi kesempatan oleh
Tuhan. Saya yakin semua pasti ada hikmahnya,
tambahnya sambil berusaha untuk tersenyum.
Kabar tentang selamatnya Heri dari bencana,
sungguh merupakan sebuah anugerah bagi
keluarganya. Orangtuanya yang tinggal di Jakarta
sangat bersyukur atas keselamatan Heri. Walaupun
mereka juga sangat bersedih karena kehilangan
kerabat yang tidak sedikit jumlahnya. Peristiwa
Tsunami yang dialaminya langsung memberikan
banyak pengalaman ruhani yang luar biasa.
Setelah berbagai urusan di Banda Aceh
diselesaikannya, Heri kembali ke Jakarta. Dia
menenangkan diri untuk sementara waktu. Dia
mencoba untuk terus mengambil hikmah dan
sepenggal episode hidupnya. Setiap melihat berita
tentang Tsunami, dia selalu teringat
pengalamannya yang luar biasa waktu itu.
Atas dorongan dan bantuan dari saudaranya
yang ada di Jakarta, Heri memutuskan untuk
memulai lagi denyut kehidupannya dengan kembali
membangun usaha. Namun, kali ini dia tidak ingin
meneruskan usahanya di Banda Aceh. Heri bertekad
untuk membangun usaha kembali di Jakarta. Meski
dia harus memulai dari nol. Semua modalnya habis
ditelan Tsunami. Uang tabungan yang nilainya tidak
seberapa dimanfaatkannya untuk kembali mencari
peluang yang bisa digarapnya.
Dia mencoba menjalin silaturahmi dengan teman dan
kerabat yang ada di Jakarta. Tidak lupa
dia juga mengunjungi beberapa rekan bisnis yang
pernah menjadi suppliernya saat masih mengelola
toko di Banda Aceh. Dari hasil komunikasi tersebut
dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya dia
memutuskan untuk membuka bisnis dalam bidang
produksi dan pemasaran celana jeans khusus pria.
Bidang ini tentu saja bukan hal baru baginya. Sejak
dulu dia memang penggemar celana jeans. Sewaktu
berbisnis di Banda Aceh, celana jeans merupakan
salah satu produk andalan yang dijualnya.
“Saya ingin mencoba wilayah lain, kalau dulu
hanya sebagai distributor, kali ini saya akan
mencoba terjun sebagai produsen,” jelasnya
optimistis.
Berhubung terjun sebagai produsen adalah
pengalaman pertama baginya, Heri kembali
menggandeng mitra yang sudah punya banyak
pengalaman di bisnis celana jeans. Dengan modal
pinjaman dari beberapa kerabatnya, Heri
memberanikan diri untuk termain di pusat grosir
pasar Tanah Abang. Menempati sebuah kios di Blok
A lantai satu, bendera bisnisnya kembali dikibarkan.
Kali ini dia memakai nama toko Polly Jeans.
Sementara celana jeans yang diproduksinya
memakai merek Leyyos dan Volcano.
“Sebagai produsen, keberanian berbisnis di
Tanah Abang sangat diperlukan agar produk kita
segera dikenal di berbagai daerah, jelas Heri ketika
ditanya pertimbangannya dalam memilih pasar
Tanah Abang sebagai markas bisnis barunya.
Semua jenis pekerjaan dalam proses produksi
celana jeans, Heri serahkan ke perusahaan lain
dengan sistem makloon atau outsourcing. Dia
hanya perlu membeli bahan, menentukan model,
dan standar kualitas yang diharapkan. Pekerjaan
selanjutnya, mulai dari memotong kain, menjahit,
mencuci, sampai pekerjaan finishing, akan ditangani
perusahaan konveksi yang menjadi mitranya. Atas
jasa tersebut, Heri memberikan fee sesuai dengan
kesepakatan sebelumnya.
Walaupun kelihatannya sederhana, tetapi dalam
praktik, sering tidak semudah yang dibayangkan.
Kontrol terhadap konveksi yang ditunjuk harus
tetap dilakukan dengan ketat. Di samping untuk
menjaga standar kualitas barang, juga menghindari
keterlambatan penyelesaian suatu pekerjaan.
Dalam masalah model, misalnya, pengalaman
dan intuisi sangat diperlukan agar tidak terjadi
kesalahan dalam mengambil keputusan. Terutama
saat memutuskan untuk meluncurkan produk baru.
Apabila momentumnya tidak tepat, model yang
telah diproduksi bisa jadi hanya akan teronggok
manis di gudang. Model yang telah lewat atau out
of date, juga akan sulit terserap oleh pasar. Apalagi
bagi produsen yang bermain dalam jumlah besar,
kesalahan dalam meluncurkan model baru akan
sangat berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Lantaran semangatnya yang tinggi untuk terus
belajar, pernak pernik proses pembuatan celana
jeans pun cepat dikuasai Heri. Sadar atau tidak, dia
telah membangun jaringan bisnis dengan para
pemain senior di Tanah Abang. Perkenalannya
dengan para pemain yang menerima jasa makloon,
juga membuka wawasannya tentang peluang besar
di bisnis ini. Interaksi dengan para supplier kain ikut
menyumbangkan pengetahuan mengenai mata
rantai jalur distribusi kain di Indonesia.
Khusus untuk pembuatan celana jeans, kiprah
perusahaan yang bergerak khusus di bidang jasa
pencucian, juga menarik untuk dicermati. Teknologi
pencucian jeans, ternyata tidak sesederhana yang
dibayangkan Heri sebelumnya. Justru pada proses
pencucian inilah, kualitas dan efek kekhasan yang
ingin ditawarkan konsumen ditentukan.
Biasanya, di samping menggunakan formula
kimiawi tertentu, perusahaan jasa pencucian juga
memanfaatkan batu apung sebagai salah satu
media. Makin sulit dan bagus efek cucian yang
diharapkan, makin mahal jasa cuci per potongnya.
lntinya, hasil makin hancur, harga makin mahal,
cetus Heri sambil tertawa.
Pemberian aksesori tertentu juga menentukan
ciri khas dan difererisiasi produk. Aksesori juga
penting digunakan untuk membedakan dengan
produk pesaing. Semakin banyak aksesori, maka
akan semakin sulit ditiru pesaing. Tentu saja biaya
pembuatannya akan menjadi lebih mahal dan
berpengaruh terhadap harga jual akhir kepada konsumen.
Persaingan bisnis garmen di Tanah Abang juga
semakin ketat. Banyak sekali tantangan dan cobaan
yang harus dihadapi. Sebagai pusat grosir terbesar
di Asia Tenggara, Tanah Abang menjadi ajang
pertemuan para pedagang dari berbagai daerah,
bahkan mancanegara. Tentu saja tidak semua
pedagang tersebut menjunjung tinggi kode etik dan
nilai kejujuran dalam berdagang. Untuk itu, sangat
diperlukan sikap kehati-hatian dan selalu waspada
dalam setiap transaksi yang dilakukan.
Soal pembayaran tidak jarang menjadi masalah
utama bagi para pedagang di sini, terutama bagi
pendatang baru seperti Heri yang masih mencoba
untuk meraih pelanggan. Agar bisa bersaing dengan
para pedagang lainnya, sering kali dia tidak bisa
menolak pembayaran dengan giro mundur yang
cukup lama. Pelanggan dari luar daerah yang
membeli dalam jumlah besar, rata-rata selalu
menggunakan giro mundur sebagai alat
pembayarannya,” ujar Heri berterus terang.
Awalnya memang lancar-lancar saja. Tapi setelah
berjalan beberapa lama, masalah mulai
bermunculan ketika ada beberapa giro yang
diterimanya tidak bisa dicairkan alias kosong.
Berurusan dengan customer yang telah
memberikan giro kosong ini, sangat menyita energi
dan pikiran. Padahal Heri sudah terhitung sangat
hati-hati dalam melepas produknya, terutama
untuk pelanggan yang memakai sistem pembayaran
mundur ini. Namun, kadang-kadang ada saja
masalah yang muncul di luar kendalinya.
Kadangkala Heri harus mendatangi langsung
pelanggan yang tidak menunjukkan sikap kooperatif
dalam urusan pembayaran dengannya. Perjalanan
bisnis ke Sumatra pun pernah dilakukannya untuk
menyelesaikan masalah utang-piutang dengan
beberapa customer yang bandel.
Dalam kondisi sulit, karena tersendatnya aliran
dana masuk, Heri harus pintar memutar otak untuk
meyakinkan supphernya bahwa dia akan tetap
memenuhi kewajiban pembayaran kain kepada
mereka. Biasanya dia minta pengunduran jatuh
tempo kepada beberapa supplier yang sudah lama
menjadi mitranya.
Berpartner dengan orang lain ternyata juga
memberikan tantangan tersendiri. Pemilihan partner
yang tepat, sangat menentukan keberhasilan usaha
yang dibangun. Kecocokan dalam visi dan misi
diperlukan agar bila terjadi beda pendapat bisa
diselesaikan dengan baik. Namun dalam perjalanannya,
selalu ada perbedaan pendapat yang menuntut
sikap kedewasaan dan kebijaksanaan yang tinggi.
Salah satu tantangan yang paling berat adalah
bagaimana mengelola mental agar senantiasa
tegar dan tenang dalam menghadapi masalah apapun.
Heri menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam
bermain di pusat grosir sekelas Tanah Abang tidak
hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dan
manajemen yang tinggi.
“Kepiawaian dalam mengelola hati atau emosi
justru sangat menentukan keberhasilan pebisnis,”
ujar Heri sambil berusaha merekam pengalamannya.
Persaingan yang amat ketat disertai dengan
berbagai cobaan yang datang silih berganti,
menuntut kebijaksanaan tingkat tinggi. Apalagi
praktik persaingan bisnis yang tidak sehat sering
terjadi di pasar grosir terbesar ini. Godaan untuk
berbuat tidak fair selalu ada dan terbuka.
Keteguhan hati dan keyakinan terhadap prinsip
sangat diperlukan agar tidak terombang-ambing
oleh kuatnya gelombang kehidupan, tandas Heri
yang hobi menonton sepak bola ini.
Sampai detik ini, Heri terus belajar untuk bisa
mengelola mentalnya dengan baik. Aspek mental ini
berpengaruh langsung pada prestasi seorang
pebisnis. Setiap pebisnis perlu membekali diri
dengan sikap mental yang kuat, baik, tangguh, dan
tahan banting. Salah satu caranya adalah dengan
selalu belajar dan berlatih membangun serta
mempertahankan sikap mental yang sudah baik,
melalui kebiasaan hidup yang seimbang. Heri
menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan yang
ingin dicapainya harus dibayar dengan proses
perjuangan yang panjang.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Wednesday, March 13, 2013
Hadi Kuntoro, Juragan Selimut yang Sukses Berkat Tempaan Jatuh Bangun Berbisnis
Gaya berbisnis wirausahawan yang satu ini bisa
dibilang cukup unik. Hanya dengan modal bercerita,
Hadi Kuntoro bisa menjual ribuan selimut
dalam waktu sebulan. Bercerita atau sharing
memang telah menjadi kegemarannya sejak dulu.
Apalagi kalau ngobrol soal bisnis, berbagai ide yang
keluar seakan tidak pernah ada habisnya.
Gayanya dalam bercerita pun bisa dibilang
cukup unik. Lugas, tangkas, to the point, dan
diungkapkan dengan logat Jawa yang masih kental.
Apalagi kalau bertemu partner ngobrol yang cocok,
dia sanggup bercerita hingga berjam-jam. Tentu
saja diselangi dengan humor-humor yang bisa menyegarkan suasana.
Rupanya, pengalaman jatuh bangun dalam
berbisnis yang sering dialaminya telah memberikan
lautan hikmah kehidupan yang sedemikian dalam.
Hal itu tampak terbaca dengan jelas dari cara dia
bercerita dan bertutur kata.
Ide awal berbisnis selimut, sebenarnya sangat
sederhana. Bisnis ini bermula dari perkenalannya
dengan salah seorang pria berkewarganegaraan
Jepang yang memiliki sebuah perusahaan selimut di
Indonesia. Produk selimut dari perusahaan orang
Jepang tersebut telah diekspor ke berbagai negara.
Yang mengherankan, walaupun pabriknya ada di
Indonesia, tetapi ternyata pemasarannya justru
difokuskan hanya untuk pasar mancanegara, bukan
pasar domestik. Hal inilah yang menginspirasi Hadi
untuk mengambil peluang pemasaran dengan
menggarap pasar dalam negeri yang masih sangat terbuka.
Perbincangannya dengan pemilik perusahaan
Jepang, Hadi baru tahu kalau ternyata izin
pemasaran produk selimutnya memang bukan untuk
Indonesia, melainkan khusus pasar ekspor sehingga
dia tidak berani memasarkannya di Indonesia
sendiri. Kebanyakan selimut yang diproduksinya
juga merupakan pesanan dari beberapa pemilik
merek terkenal, dan hanya untuk melayani pasar di luar negeri.
Bukan Hadi namanya kalau menyerah begitu saja.
Dia mulai mencari cara agar bisa memasarkan
selimut tersebut di dalam negeri, walaupun
jumlahnya mungkin belum bisa banyak. Akhirnya,
berkat cerita dari orang Jepang tersebut, Hadi
mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk
memanfaatkan sebuah peluang yang lebih dahsyat.
Sebagaimana perusahaan besar lainnya, dalam
setiap produksi biasanya selalu ada spare atau
kelebihan produksi untuk setiap model yang dibikin.
Demikian juga dengan perusahaan Jepang ini.
Perusahaan ini selalu membuat sedikit lebih banyak
dari pesanan pembeli yang ada di luar negeri.
Kelebihan produksi tersebut dimaksudkan untuk
mengantisipasi seandainya ada produk yang rusak
sehingga pengiriman tidak terganggu.
Berhubung selimut tersebut merupakan produk
yang khusus untuk dijual di luar negeri, kelebihan
produksinya tidak bisa dipasarkan di dalam negeri
dan harus dimusnahkan. Setiap bulan perusahaan
Jepang tersebut selalu melakukan pemusnahan atas
kelebihan produksinya. Peluang inilah yang segera
dicium Hadi. Dia pun langsung berusaha meyakinkan
dan melobi pemilik perusahaan agar memberinya hak
untuk membeli kelebihan produk yang biasa dimusnahkan.
Awalnya orang Jepang keberatan. Ia tidak berani
mengambil langkah yang menurutnya cukup
berisiko. Namun berkat kegigihannya, akhirnya
permintaan Hadi disetujui. Tentu saja dengan satu
syarat, dia tidak boleh menjualnya di mal atau
department store. Hadi hanya dibolehkan menjual
selimut kelebihan produksi tersebut ke para
tetangga atau komunitasnya saja. Supplynya juga
tidak bisa dipastikan karena mengikuti kondisi
proses produksi yang ada di perusahaan. Syarat
tersebut langsung disanggupinya dengan sukacita.
Berbekal beberapa buah selimut sebagai contoh,
Hadi pun mulai “bergerilya”. Dalam setiap
kesempatan, dia selalu bercerita tentang mainan
barunya tersebut. Di antara temannya, ada yang
menyambutnya dengan antusias. Namun, tidak
sedikit pula yang menyambutnya dengan dingin
alias cuek saja. Mungkin mereka menganggap bisnis
di bidang ini tidak mempunyai prospek yang jelas.
Seiring bergulirnya waktu, berkat pola komunikasi
yang dijalankan Hadi secara konsisten,
selimutnya mulai dikenal banyak orang. Komunikasi
pemasaran yang dilakukan dari mulut ke mulut,
tampaknya sedikit demi sedikit mulai berbuah.
Banyak teman-teman yang bertandang ke
rumahnya, dan akhirnya ikut bergabung sebagai
reseller setelah mendengar berbagai cerita dahsyat
darinya. Bahkan, tidak sedikit reseller baru yang
mengambil produknya dalam jumlah yang cukup
banyak. Padahal, Hadi tidak pernah merayu mereka.
Dia hanya bercerita tentang sebuah peluang besar
yang bisa diraih dengan bergabung dalam bisnis
selimutnya. Tentu saja cerita yang disampaikan
juga bukan isapan jempol belaka. Cerita yang
disampaikannya selatu sesuai fakta dan bisa
dibuktikan di lapangan. Berkat gaya berceritanya
yang memang sangat menarik, banyak
teman-teman Hadi yang semula masih ragu dan
takut untuk terjun dalam dunia bisnis menjadi berani
untuk mencoba.
Sejak awal saya memang ingin menjadikan
komoditas ini sebagai pancingan buat teman-teman
saya untuk ikut terjun berbisnis, ujar Hadi
menjelaskan salah satu motivasinya.
Dalam hal pengambilan keputusan, Hadi juga
selalu berusaha untuk kreatif. Misalnya saja saat
film Spiderman 3 melanda penggemarnya di
Indonesia. Dia menyempatkan din untuk menonton
film tersebut di Pondok Indah Mall 21. Dia ingin
melihat dan memperkirakan secara langsung,
dampak film tersebut terhadap merchandise selimut
Spiderman yang dijualnya.
Dan antusiasme masyarakat yang dilihatnya
secara langsung, Hadi bisa memastikan bahwa
selimut Spiderman yang dijualnya pasti akan laris
manis. Begitu saya dengar anak-anak menangis
ketika Spiderman terlihat terdesak oleh Sandman
dan ketika seorang ABG di samping saya berteriak
histeris tidak terima ketika Luci, si foto model yang
cantik manja ke Spiderman layaknya kekasih,
dengan mantap saya akan berani order selimut
Spiderman ini 2000 Iembar, ungkapnya.
Prediksi Hadi ternyata memang tepat. Sepulang
dari nonton, dia mendapat informasi dari istrinya
kalau order selimut Spiderman meningkat tajam.
Fenomena ini juga dikonfirmasi lagi oleh beberapa
agennya. Penjualan selimut Spiderman yang
sebelumnya sempat mandek, tiba-tiba melonjak
lagi. Ternyata dampak kesuksesan sebuah film
sangat besar terhadap penjualan merchandise yang
berhubungan dengannya. Proses pengambilan
keputusan yang didahului dengan melihat apa yang
menjadi tren di masyarakat hanyalah salah satu
cara yang dipakai oleh Hadi.
Strategi bisnis yang awalnya hanya bermodalkan
cerita ini, kini mulai digarap dengan lebih
profesional. Hadi pun memanfaatkan teknologi
Internet dengan membuat blog untuk menjangkau
pasar yang lebih luas. Langkah ini berani
dilakukannya setelah dia mendapatkan hak khusus
dari pemilik perusahaan selimut tersebut untuk
memasarkannya di dalam negeri.
Hal ini dilakukan karena orang Jepang telah
mendapatkan izin untuk memasarkan produknya di
dalam negeri, setelah melihat prestasi penjualan
domestik yang terus meningkat. Hadi juga tidak lagi
mendapatkan supply barang kelebihan produksi. Dia
kini bisa meminta kuota dan membuat Purchase
Order sendiri. Jika dulu dia hanya bisa memasarkan
selimut dengan merek Bibie, kini merek dan model
yang dipasarkannya sudah mencapai puluhan item.
Bahkan, semua model yang diproduksi oleh
perusahaan tersebut bisa dipesannya.
Dengan strategi yang lebih profesional tersebut,
omzet penjualan selimut Hadi meningkat
cukup signifikan. Peningkatannya juga tidak lagi
bersifat linear, tetapi eksponensial. Reseller yang
bergabung pun kini bukan lagi hanya
teman-temannya, melainkan juga orang-orang yang
selama ini belum dikenalnya sama sekali.
Berkat bisnis ini, Hadi banyak sekali mendapatkan
kenalan baru yang ikut bergabung memasarkan
selimutnya. Sungguh percepatan ini tidak dia duga
sebelumnya. Jika awalnya dia hanya mampu menjual
puluhan selimut dalam waktu sebulan, kini
penjualannya bisa mencapai ribuan potong per
bulan. Kalau harga satu selimut rata-rata seratus
ribu rupiah, sudah bisa dihitung berapa omzet yang
berhasil diraihnya.
Rumah Hadi yang ada di Taman Harapan Baru
Bekasi, saat ini setiap hari selalu ramai dikunjungi
orang dari berbagai penjuru Jabodetabek, bahkan
dari luar kota, yang datang baik untuk belanja
selimut ataupun sekadar untuk belajar bisnis kepadanya.
Keputusan Hadi untuk bermain grosir juga
merupakan keputusan yang tepat. Sejak awal dia
memang lebih membidik orang-orang yang berniat
untuk ikut berbisnis selimut. Dia sengaja tidak
mengambil keuntungan terlalu besar dari setiap
item produk. Hal ini agar agen atau reseller yang
menjadi mitranya lebih bebas bermain dan bisa
menikmati keuntungan yang menarik. Sementara
Hadi lebih suka mengandalkan volume penjualan
yang lebih banyak. Lagi pula, bisnis ini dia
maksudkan sebagai wahana untuk memancing
mereka yang selama ini ragu-ragu atau takut
menerjuni dunia bisnis.
Berkat bimbingan yang diberikannya, banyak
pendatang baru dalam dunia bisnis berhasil
memasarkan produknya. Apalagi Hadi memberikan
sensational offer, berupa jaminan uang kembali jika
selimut yang telah dibeli hendak dikembalikan
karena tidak laku.
Bahkan untuk pebisnis pemula, dia berani membeli
dengan harga lebih tinggi dari harga dasarnya
dulu, agar mereka tetap menikmati keuntungan. Hal
ini dilakukannya semata-mata untuk mendobrak
mental mereka yang masih takut dalam mengambil risiko bisnis.
Selain karena kepiawaiannya dalam bercerita,
keberhasilan Hadi dalam membangun bisnis selimut
ini, juga didukung oleh beberapa faktor. Diantaranya:
1. Kualitas barang yang dijual adalah kualitas
standar internasional, karena memang dibuat
untuk ekspor ke mancanegara;
2. Harganya relatif murah dibanding dengan
selimut sejenis di pasaran;
3. Cara menjualnya cukup mudah, karena strategi
pemasaran dan pengetahuan produk diajarkannya dengan teperinci;
4. Khusus bagi pebisnis pemula, yang baru
mencoba dari tidak atau belum berhasil
menjual, maka Hadi bersedia membeli
barangnya kembali dengan harga yang lebih
tinggi sebagai penghargaan atas kemauan mereka untuk mencoba.
“Jadi tidak ada alasan yang perlu ditakutkan
karena ini saya niatkan untuk proses pembelajaran
buat teman-teman saya,” ungkap pria kelahiran 1972 ini.
Dengan strategi tersebut, banyak pebisnis
pemula yang sukses menjual produknya. Banyak di
antara mereka yang berhasil meruntuhkan mental
block yang selama ini menghalangi kepercayaan diri
mereka untuk terjun berbisnis. Sarana pembelajaran
bisnis yang diciptakan Hadi ternyata benar-benar
bermanfaat untuk melahirkan wirausahawan baru.
Harapan Hadi, kalau customernya bisa menjual
kembali selimutnya dengan sukses, maka hal itu
akan memunculkan perasaan aku bisa pada diri
mereka. Selanjutnya mereka akan menjadi
pemberani dan putus urat malunya. Kelak dengan
media bisnis apa pun juga, mereka akan sama
beraninya, tegas Hadi.
Kini selimut jepangnya telah dikenal. Modelnya
juga sangat banyak. Mulai dan Barbie, Spiderman,
Winnie the Pooh, Snoopy, Hello Kitty, Pinguin,
Osaka, Okinawa, dan Queen Royal. Bahkan, saya
juga menjual selimut merchandise asli dari berbagai
universitas terkenal di dunia dan beberapa klub
sepak bola ternama, ungkap pria yang hobi makan bakso ini.
Berkat kegigihannya juga, selimut Jepang
tersebut kini memenuhi ruang display beberapa
buah toko dan grosir di Pasar Regional Tanah Abang
Jakarta. Terobosan pemasaran ini, tak ayal hagi
membuat omzetnya terus meroket dari waktu ke waktu.
Keberhasihannya dalam membangun bisnis selimut ini,
menginspirasi Hadi untuk berbuat lebih
banyak lagi. Dia ingin menciptakan satu wahana lagi
untuk membantu banyak orang. Akhirnya, setelah
melakukan negosiasi dengan pemilik pabrik
selimutnya, dia kini bisa memesan satu jenis produk
lagi berupa sajadah. Teknologi pembuatan sajadah
ternyata tidak jauh berbeda dengan selimut
sehingga pabrik tersebut bisa mengerjakannya.
Tentu saja dengan minimum order yang mencapai
ribuan potong untuk setiap modelnya.
Hadi pun menentukan sendiri model dan warna
sajadah yang diinginkannya. Dia sangat yakin
dengan prospek produk ini. Apalagi produk ini
dilaunching menjelang bulan Ramadhan, di saat
permintaan sajadah sedang meningkat. Sajadah
yang diproduksinya untuk tahap awal memakai
merek Mecca dan Palestine dengan masing-masing
mempunyai empat pilihan warna. Dan untuk
pemasarannya, di samping melalui blog yang
dibikinnya, juga mengandalkan para agen yang
selama ini setia bermitra dengannya.
Keberhasilan yang dicapai Hadi tentu saja tidak
terjadi begitu saja. Kerja keras yang disertai
semangat untuk terus belajar menjadi salah satu
kunci keberhasilannya. Kegigihan dan sikap tidak
mudah menyerah juga memberikan andil yang tidak
sedikit dalam proses pembelajaran bisnis yang
dilakukannya. Ia pun pernah mengalami masa yang
amat pahit ketika awal-awal mencoba berbisnis.
Tidak jarang dia harus kehilangan modal karena
bisnis yang pernah dijalankannya tidak berjalan
sesuai yang direncanakan.
Hadi pernah membuktikan betapa bisnis tanpa
ilmu sungguh merupakan hal yang sangat
mengenaskan. Beberapa pengalaman pahit terjadi
ketika keinginan Hadi untuk memulai bisnis sudah
bergejolak. Waktu itu, dia hanya belajar dari apa
yang dia lihat dan dengar di sekitarnya. Tidak pernah
terpikir olehnya untuk belajar bisnis dari yang
terbaik di bidangnya.
Salah satu pengalaman pahit terjadi pada
1999. Atas permintaan seorang pedagang salak
keliling yang menjadi langganannya, Hadi
mendapatkan pesanan dari pedagang tersebut.
Intinya dia sanggup membeli salak pondoh dari
kampungnya di Jawa Tengah dengan harga Rp4.000
per kg. Sedangkan harga salak di kampungnya saat
itu sekitar Rpl.500 per kg. Waktu itu harga salak
keliling sekitar Rp8.000 per kg. Sudah terbayang di
pikiran Hadi berapa keuntungan yang bakal diraihnya.
Tanpa pikir panjang, dia langsung memesan
salak ke kampung dengan sangat optimistis. Begitu
berpeti-peti salak datang, rupanya janji pedagang
salak tersebut tidak seindah yang diucapkan. Salak
pondoh dari kampungnya tersebut dibilang
kebanyakan air, kecil-kecil, dan asam. Tidak seperti
salak pondoh dari Sleman.
Padahal, sebetulnya salak yang ditawarkan
Hadi cukup manis dan ukurannya tidak jauh berbeda
dengan salak pondoh dari Sleman. Lagi pula
konsumen juga tidak akan bisa membedakan mana
yang dari Sleman atau dari kampunqnya. Pedagang
salak itu pun hanya mau membeli dengan harga
Rpl.000 per kg. Itu pun bayarnya di akhir jika
barang sudah laku.
Hadi sangat kecewa dan hanya bisa tersenyum
kecut. Ternyata pedagang salak langganannya
tersebut tidak menepati janji yang telah disepakati
sebelumnya. Hadi sempat shock, tumpukan salak
pondoh memenuhi rumah kontrakannya. Bau salak
yang diciumnya tiap saat, terus mengusik
pikirannya. Saat itu dia tidak tahu harus
dikemanakan buah salak sebanyak itu.
Akhirnya, pada suatu malam, dengan motor
butut keluaran 1993 kesayanganya, Hadi bersama
istri yang sedang hamil tua, pergi ke Pasar Kranji
Bekasi yang sangat kumuh dan sempat kehujanan.
Setelah jalan ke sana kemari, dia bisa bertemu
dengan seorang bandar buah yang hanya menawar
salaknya seharga Rpl.500 per kg. Itu pun dibayar
belakangan sesuai jumlah yang laku.
Daripada dia stres dengan bau salak di rumah,
akhirnya Hadi menyetujui dan menyewa becak
untuk membawa salak bolak-balik dari rumah ke
pasar Kranji. Pengalaman itu sempat dirasakannya
sebagai mimpi buruk dalam belajar bisnis di Jakarta.
Dia bahkan tidak ingat lagi apakah akhirnya salak
tersebut dibayar semuanya atau tidak.
Tak hanya pengalaman berbisnis salak, Hadi juga
pernah mencoba berbisnis buah nangka yang
dibawanya dan kampung. Bisnis itu dilakukannya
setelah menerima pesanan dari seorang pedagang
yang dikenalnya. Namun,pengalaman mensupply
nangka ke sebuah pasar,hanya berbuah ongkos belajar.
Saat itu rupanya dia kurang belajar dari pengalaman sebelumnya.
Namun, dia tidak menyerah. Hadi terus menggali
peluang baru. Sebagai usahawan dia sadar
betul bahwa peluang sering tidak datang dua kali.
Usahawan harus tahu kapan peluang itu hadir di
depan matanya, dan kapan harus mengambil
keputusan untuk meraih peluang tersebut.
Dalam berbisnis, Hadi selalu berusaha agar
suasana hatinya selalu dalam keadaan fun. “Apapun
bisnis yang dijalani, laksanakanlah dengan
enjoy dan happy,” pesannya. Dia menegaskan
bahwa bisnis itu hanyalah suatu game atau
permainan belaka. karena itu dari awal bisnis
segalanya saya buat seperti game saja, kalau saya
sedang kalah, ya... tidak perlu panik. Hati tetap
happy dan dengan sedikit kecerdikan dan serius
belajar nanti juga bisa menang lagi. Dengan merasa
senang, semangat dalam berbisnis tidak akan
mudah pudar,” ungkap bapak dengan tiga anak ini.
Berbisnis dengan fun dan tanpa beban
menyebabkan pikiran kita jadi Iebih jernih. Sesuatu
akan sempurna jika dilakukan dalam suasana
yang menyenangkan, tanpa tekanan dan atas inisiatif
diri sendiri. Lakukanlah bisnis seperti melakukan
hobi. Pasti kita akan menikmatinya, ujar suami
dari Ami ini mantap.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
dibilang cukup unik. Hanya dengan modal bercerita,
Hadi Kuntoro bisa menjual ribuan selimut
dalam waktu sebulan. Bercerita atau sharing
memang telah menjadi kegemarannya sejak dulu.
Apalagi kalau ngobrol soal bisnis, berbagai ide yang
keluar seakan tidak pernah ada habisnya.
Gayanya dalam bercerita pun bisa dibilang
cukup unik. Lugas, tangkas, to the point, dan
diungkapkan dengan logat Jawa yang masih kental.
Apalagi kalau bertemu partner ngobrol yang cocok,
dia sanggup bercerita hingga berjam-jam. Tentu
saja diselangi dengan humor-humor yang bisa menyegarkan suasana.
Rupanya, pengalaman jatuh bangun dalam
berbisnis yang sering dialaminya telah memberikan
lautan hikmah kehidupan yang sedemikian dalam.
Hal itu tampak terbaca dengan jelas dari cara dia
bercerita dan bertutur kata.
Ide awal berbisnis selimut, sebenarnya sangat
sederhana. Bisnis ini bermula dari perkenalannya
dengan salah seorang pria berkewarganegaraan
Jepang yang memiliki sebuah perusahaan selimut di
Indonesia. Produk selimut dari perusahaan orang
Jepang tersebut telah diekspor ke berbagai negara.
Yang mengherankan, walaupun pabriknya ada di
Indonesia, tetapi ternyata pemasarannya justru
difokuskan hanya untuk pasar mancanegara, bukan
pasar domestik. Hal inilah yang menginspirasi Hadi
untuk mengambil peluang pemasaran dengan
menggarap pasar dalam negeri yang masih sangat terbuka.
Perbincangannya dengan pemilik perusahaan
Jepang, Hadi baru tahu kalau ternyata izin
pemasaran produk selimutnya memang bukan untuk
Indonesia, melainkan khusus pasar ekspor sehingga
dia tidak berani memasarkannya di Indonesia
sendiri. Kebanyakan selimut yang diproduksinya
juga merupakan pesanan dari beberapa pemilik
merek terkenal, dan hanya untuk melayani pasar di luar negeri.
Bukan Hadi namanya kalau menyerah begitu saja.
Dia mulai mencari cara agar bisa memasarkan
selimut tersebut di dalam negeri, walaupun
jumlahnya mungkin belum bisa banyak. Akhirnya,
berkat cerita dari orang Jepang tersebut, Hadi
mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk
memanfaatkan sebuah peluang yang lebih dahsyat.
Sebagaimana perusahaan besar lainnya, dalam
setiap produksi biasanya selalu ada spare atau
kelebihan produksi untuk setiap model yang dibikin.
Demikian juga dengan perusahaan Jepang ini.
Perusahaan ini selalu membuat sedikit lebih banyak
dari pesanan pembeli yang ada di luar negeri.
Kelebihan produksi tersebut dimaksudkan untuk
mengantisipasi seandainya ada produk yang rusak
sehingga pengiriman tidak terganggu.
Berhubung selimut tersebut merupakan produk
yang khusus untuk dijual di luar negeri, kelebihan
produksinya tidak bisa dipasarkan di dalam negeri
dan harus dimusnahkan. Setiap bulan perusahaan
Jepang tersebut selalu melakukan pemusnahan atas
kelebihan produksinya. Peluang inilah yang segera
dicium Hadi. Dia pun langsung berusaha meyakinkan
dan melobi pemilik perusahaan agar memberinya hak
untuk membeli kelebihan produk yang biasa dimusnahkan.
Awalnya orang Jepang keberatan. Ia tidak berani
mengambil langkah yang menurutnya cukup
berisiko. Namun berkat kegigihannya, akhirnya
permintaan Hadi disetujui. Tentu saja dengan satu
syarat, dia tidak boleh menjualnya di mal atau
department store. Hadi hanya dibolehkan menjual
selimut kelebihan produksi tersebut ke para
tetangga atau komunitasnya saja. Supplynya juga
tidak bisa dipastikan karena mengikuti kondisi
proses produksi yang ada di perusahaan. Syarat
tersebut langsung disanggupinya dengan sukacita.
Berbekal beberapa buah selimut sebagai contoh,
Hadi pun mulai “bergerilya”. Dalam setiap
kesempatan, dia selalu bercerita tentang mainan
barunya tersebut. Di antara temannya, ada yang
menyambutnya dengan antusias. Namun, tidak
sedikit pula yang menyambutnya dengan dingin
alias cuek saja. Mungkin mereka menganggap bisnis
di bidang ini tidak mempunyai prospek yang jelas.
Seiring bergulirnya waktu, berkat pola komunikasi
yang dijalankan Hadi secara konsisten,
selimutnya mulai dikenal banyak orang. Komunikasi
pemasaran yang dilakukan dari mulut ke mulut,
tampaknya sedikit demi sedikit mulai berbuah.
Banyak teman-teman yang bertandang ke
rumahnya, dan akhirnya ikut bergabung sebagai
reseller setelah mendengar berbagai cerita dahsyat
darinya. Bahkan, tidak sedikit reseller baru yang
mengambil produknya dalam jumlah yang cukup
banyak. Padahal, Hadi tidak pernah merayu mereka.
Dia hanya bercerita tentang sebuah peluang besar
yang bisa diraih dengan bergabung dalam bisnis
selimutnya. Tentu saja cerita yang disampaikan
juga bukan isapan jempol belaka. Cerita yang
disampaikannya selatu sesuai fakta dan bisa
dibuktikan di lapangan. Berkat gaya berceritanya
yang memang sangat menarik, banyak
teman-teman Hadi yang semula masih ragu dan
takut untuk terjun dalam dunia bisnis menjadi berani
untuk mencoba.
Sejak awal saya memang ingin menjadikan
komoditas ini sebagai pancingan buat teman-teman
saya untuk ikut terjun berbisnis, ujar Hadi
menjelaskan salah satu motivasinya.
Dalam hal pengambilan keputusan, Hadi juga
selalu berusaha untuk kreatif. Misalnya saja saat
film Spiderman 3 melanda penggemarnya di
Indonesia. Dia menyempatkan din untuk menonton
film tersebut di Pondok Indah Mall 21. Dia ingin
melihat dan memperkirakan secara langsung,
dampak film tersebut terhadap merchandise selimut
Spiderman yang dijualnya.
Dan antusiasme masyarakat yang dilihatnya
secara langsung, Hadi bisa memastikan bahwa
selimut Spiderman yang dijualnya pasti akan laris
manis. Begitu saya dengar anak-anak menangis
ketika Spiderman terlihat terdesak oleh Sandman
dan ketika seorang ABG di samping saya berteriak
histeris tidak terima ketika Luci, si foto model yang
cantik manja ke Spiderman layaknya kekasih,
dengan mantap saya akan berani order selimut
Spiderman ini 2000 Iembar, ungkapnya.
Prediksi Hadi ternyata memang tepat. Sepulang
dari nonton, dia mendapat informasi dari istrinya
kalau order selimut Spiderman meningkat tajam.
Fenomena ini juga dikonfirmasi lagi oleh beberapa
agennya. Penjualan selimut Spiderman yang
sebelumnya sempat mandek, tiba-tiba melonjak
lagi. Ternyata dampak kesuksesan sebuah film
sangat besar terhadap penjualan merchandise yang
berhubungan dengannya. Proses pengambilan
keputusan yang didahului dengan melihat apa yang
menjadi tren di masyarakat hanyalah salah satu
cara yang dipakai oleh Hadi.
Strategi bisnis yang awalnya hanya bermodalkan
cerita ini, kini mulai digarap dengan lebih
profesional. Hadi pun memanfaatkan teknologi
Internet dengan membuat blog untuk menjangkau
pasar yang lebih luas. Langkah ini berani
dilakukannya setelah dia mendapatkan hak khusus
dari pemilik perusahaan selimut tersebut untuk
memasarkannya di dalam negeri.
Hal ini dilakukan karena orang Jepang telah
mendapatkan izin untuk memasarkan produknya di
dalam negeri, setelah melihat prestasi penjualan
domestik yang terus meningkat. Hadi juga tidak lagi
mendapatkan supply barang kelebihan produksi. Dia
kini bisa meminta kuota dan membuat Purchase
Order sendiri. Jika dulu dia hanya bisa memasarkan
selimut dengan merek Bibie, kini merek dan model
yang dipasarkannya sudah mencapai puluhan item.
Bahkan, semua model yang diproduksi oleh
perusahaan tersebut bisa dipesannya.
Dengan strategi yang lebih profesional tersebut,
omzet penjualan selimut Hadi meningkat
cukup signifikan. Peningkatannya juga tidak lagi
bersifat linear, tetapi eksponensial. Reseller yang
bergabung pun kini bukan lagi hanya
teman-temannya, melainkan juga orang-orang yang
selama ini belum dikenalnya sama sekali.
Berkat bisnis ini, Hadi banyak sekali mendapatkan
kenalan baru yang ikut bergabung memasarkan
selimutnya. Sungguh percepatan ini tidak dia duga
sebelumnya. Jika awalnya dia hanya mampu menjual
puluhan selimut dalam waktu sebulan, kini
penjualannya bisa mencapai ribuan potong per
bulan. Kalau harga satu selimut rata-rata seratus
ribu rupiah, sudah bisa dihitung berapa omzet yang
berhasil diraihnya.
Rumah Hadi yang ada di Taman Harapan Baru
Bekasi, saat ini setiap hari selalu ramai dikunjungi
orang dari berbagai penjuru Jabodetabek, bahkan
dari luar kota, yang datang baik untuk belanja
selimut ataupun sekadar untuk belajar bisnis kepadanya.
Keputusan Hadi untuk bermain grosir juga
merupakan keputusan yang tepat. Sejak awal dia
memang lebih membidik orang-orang yang berniat
untuk ikut berbisnis selimut. Dia sengaja tidak
mengambil keuntungan terlalu besar dari setiap
item produk. Hal ini agar agen atau reseller yang
menjadi mitranya lebih bebas bermain dan bisa
menikmati keuntungan yang menarik. Sementara
Hadi lebih suka mengandalkan volume penjualan
yang lebih banyak. Lagi pula, bisnis ini dia
maksudkan sebagai wahana untuk memancing
mereka yang selama ini ragu-ragu atau takut
menerjuni dunia bisnis.
Berkat bimbingan yang diberikannya, banyak
pendatang baru dalam dunia bisnis berhasil
memasarkan produknya. Apalagi Hadi memberikan
sensational offer, berupa jaminan uang kembali jika
selimut yang telah dibeli hendak dikembalikan
karena tidak laku.
Bahkan untuk pebisnis pemula, dia berani membeli
dengan harga lebih tinggi dari harga dasarnya
dulu, agar mereka tetap menikmati keuntungan. Hal
ini dilakukannya semata-mata untuk mendobrak
mental mereka yang masih takut dalam mengambil risiko bisnis.
Selain karena kepiawaiannya dalam bercerita,
keberhasilan Hadi dalam membangun bisnis selimut
ini, juga didukung oleh beberapa faktor. Diantaranya:
1. Kualitas barang yang dijual adalah kualitas
standar internasional, karena memang dibuat
untuk ekspor ke mancanegara;
2. Harganya relatif murah dibanding dengan
selimut sejenis di pasaran;
3. Cara menjualnya cukup mudah, karena strategi
pemasaran dan pengetahuan produk diajarkannya dengan teperinci;
4. Khusus bagi pebisnis pemula, yang baru
mencoba dari tidak atau belum berhasil
menjual, maka Hadi bersedia membeli
barangnya kembali dengan harga yang lebih
tinggi sebagai penghargaan atas kemauan mereka untuk mencoba.
“Jadi tidak ada alasan yang perlu ditakutkan
karena ini saya niatkan untuk proses pembelajaran
buat teman-teman saya,” ungkap pria kelahiran 1972 ini.
Dengan strategi tersebut, banyak pebisnis
pemula yang sukses menjual produknya. Banyak di
antara mereka yang berhasil meruntuhkan mental
block yang selama ini menghalangi kepercayaan diri
mereka untuk terjun berbisnis. Sarana pembelajaran
bisnis yang diciptakan Hadi ternyata benar-benar
bermanfaat untuk melahirkan wirausahawan baru.
Harapan Hadi, kalau customernya bisa menjual
kembali selimutnya dengan sukses, maka hal itu
akan memunculkan perasaan aku bisa pada diri
mereka. Selanjutnya mereka akan menjadi
pemberani dan putus urat malunya. Kelak dengan
media bisnis apa pun juga, mereka akan sama
beraninya, tegas Hadi.
Kini selimut jepangnya telah dikenal. Modelnya
juga sangat banyak. Mulai dan Barbie, Spiderman,
Winnie the Pooh, Snoopy, Hello Kitty, Pinguin,
Osaka, Okinawa, dan Queen Royal. Bahkan, saya
juga menjual selimut merchandise asli dari berbagai
universitas terkenal di dunia dan beberapa klub
sepak bola ternama, ungkap pria yang hobi makan bakso ini.
Berkat kegigihannya juga, selimut Jepang
tersebut kini memenuhi ruang display beberapa
buah toko dan grosir di Pasar Regional Tanah Abang
Jakarta. Terobosan pemasaran ini, tak ayal hagi
membuat omzetnya terus meroket dari waktu ke waktu.
Keberhasihannya dalam membangun bisnis selimut ini,
menginspirasi Hadi untuk berbuat lebih
banyak lagi. Dia ingin menciptakan satu wahana lagi
untuk membantu banyak orang. Akhirnya, setelah
melakukan negosiasi dengan pemilik pabrik
selimutnya, dia kini bisa memesan satu jenis produk
lagi berupa sajadah. Teknologi pembuatan sajadah
ternyata tidak jauh berbeda dengan selimut
sehingga pabrik tersebut bisa mengerjakannya.
Tentu saja dengan minimum order yang mencapai
ribuan potong untuk setiap modelnya.
Hadi pun menentukan sendiri model dan warna
sajadah yang diinginkannya. Dia sangat yakin
dengan prospek produk ini. Apalagi produk ini
dilaunching menjelang bulan Ramadhan, di saat
permintaan sajadah sedang meningkat. Sajadah
yang diproduksinya untuk tahap awal memakai
merek Mecca dan Palestine dengan masing-masing
mempunyai empat pilihan warna. Dan untuk
pemasarannya, di samping melalui blog yang
dibikinnya, juga mengandalkan para agen yang
selama ini setia bermitra dengannya.
Keberhasilan yang dicapai Hadi tentu saja tidak
terjadi begitu saja. Kerja keras yang disertai
semangat untuk terus belajar menjadi salah satu
kunci keberhasilannya. Kegigihan dan sikap tidak
mudah menyerah juga memberikan andil yang tidak
sedikit dalam proses pembelajaran bisnis yang
dilakukannya. Ia pun pernah mengalami masa yang
amat pahit ketika awal-awal mencoba berbisnis.
Tidak jarang dia harus kehilangan modal karena
bisnis yang pernah dijalankannya tidak berjalan
sesuai yang direncanakan.
Hadi pernah membuktikan betapa bisnis tanpa
ilmu sungguh merupakan hal yang sangat
mengenaskan. Beberapa pengalaman pahit terjadi
ketika keinginan Hadi untuk memulai bisnis sudah
bergejolak. Waktu itu, dia hanya belajar dari apa
yang dia lihat dan dengar di sekitarnya. Tidak pernah
terpikir olehnya untuk belajar bisnis dari yang
terbaik di bidangnya.
Salah satu pengalaman pahit terjadi pada
1999. Atas permintaan seorang pedagang salak
keliling yang menjadi langganannya, Hadi
mendapatkan pesanan dari pedagang tersebut.
Intinya dia sanggup membeli salak pondoh dari
kampungnya di Jawa Tengah dengan harga Rp4.000
per kg. Sedangkan harga salak di kampungnya saat
itu sekitar Rpl.500 per kg. Waktu itu harga salak
keliling sekitar Rp8.000 per kg. Sudah terbayang di
pikiran Hadi berapa keuntungan yang bakal diraihnya.
Tanpa pikir panjang, dia langsung memesan
salak ke kampung dengan sangat optimistis. Begitu
berpeti-peti salak datang, rupanya janji pedagang
salak tersebut tidak seindah yang diucapkan. Salak
pondoh dari kampungnya tersebut dibilang
kebanyakan air, kecil-kecil, dan asam. Tidak seperti
salak pondoh dari Sleman.
Padahal, sebetulnya salak yang ditawarkan
Hadi cukup manis dan ukurannya tidak jauh berbeda
dengan salak pondoh dari Sleman. Lagi pula
konsumen juga tidak akan bisa membedakan mana
yang dari Sleman atau dari kampunqnya. Pedagang
salak itu pun hanya mau membeli dengan harga
Rpl.000 per kg. Itu pun bayarnya di akhir jika
barang sudah laku.
Hadi sangat kecewa dan hanya bisa tersenyum
kecut. Ternyata pedagang salak langganannya
tersebut tidak menepati janji yang telah disepakati
sebelumnya. Hadi sempat shock, tumpukan salak
pondoh memenuhi rumah kontrakannya. Bau salak
yang diciumnya tiap saat, terus mengusik
pikirannya. Saat itu dia tidak tahu harus
dikemanakan buah salak sebanyak itu.
Akhirnya, pada suatu malam, dengan motor
butut keluaran 1993 kesayanganya, Hadi bersama
istri yang sedang hamil tua, pergi ke Pasar Kranji
Bekasi yang sangat kumuh dan sempat kehujanan.
Setelah jalan ke sana kemari, dia bisa bertemu
dengan seorang bandar buah yang hanya menawar
salaknya seharga Rpl.500 per kg. Itu pun dibayar
belakangan sesuai jumlah yang laku.
Daripada dia stres dengan bau salak di rumah,
akhirnya Hadi menyetujui dan menyewa becak
untuk membawa salak bolak-balik dari rumah ke
pasar Kranji. Pengalaman itu sempat dirasakannya
sebagai mimpi buruk dalam belajar bisnis di Jakarta.
Dia bahkan tidak ingat lagi apakah akhirnya salak
tersebut dibayar semuanya atau tidak.
Tak hanya pengalaman berbisnis salak, Hadi juga
pernah mencoba berbisnis buah nangka yang
dibawanya dan kampung. Bisnis itu dilakukannya
setelah menerima pesanan dari seorang pedagang
yang dikenalnya. Namun,pengalaman mensupply
nangka ke sebuah pasar,hanya berbuah ongkos belajar.
Saat itu rupanya dia kurang belajar dari pengalaman sebelumnya.
Namun, dia tidak menyerah. Hadi terus menggali
peluang baru. Sebagai usahawan dia sadar
betul bahwa peluang sering tidak datang dua kali.
Usahawan harus tahu kapan peluang itu hadir di
depan matanya, dan kapan harus mengambil
keputusan untuk meraih peluang tersebut.
Dalam berbisnis, Hadi selalu berusaha agar
suasana hatinya selalu dalam keadaan fun. “Apapun
bisnis yang dijalani, laksanakanlah dengan
enjoy dan happy,” pesannya. Dia menegaskan
bahwa bisnis itu hanyalah suatu game atau
permainan belaka. karena itu dari awal bisnis
segalanya saya buat seperti game saja, kalau saya
sedang kalah, ya... tidak perlu panik. Hati tetap
happy dan dengan sedikit kecerdikan dan serius
belajar nanti juga bisa menang lagi. Dengan merasa
senang, semangat dalam berbisnis tidak akan
mudah pudar,” ungkap bapak dengan tiga anak ini.
Berbisnis dengan fun dan tanpa beban
menyebabkan pikiran kita jadi Iebih jernih. Sesuatu
akan sempurna jika dilakukan dalam suasana
yang menyenangkan, tanpa tekanan dan atas inisiatif
diri sendiri. Lakukanlah bisnis seperti melakukan
hobi. Pasti kita akan menikmatinya, ujar suami
dari Ami ini mantap.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Triwoko, Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Berpegang pada Falsafah Memberi dan Melayani
Berbekal pengalaman bekerja di berbagai
perusahaan, Bambang Triwoko memantapkan diri
terjun dalam dunia entrepreneurship. Walaupun
saat mengundurkan diri pada pertengahan 2002,
bisa dibilang jabatan dan penghasilannya sebagai
karyawan cukup tinggi, namun panggilan jiwanya
untuk menjadi entrepreneur tidak tertahankan lagi.
Setelah lima tahun berbisnis, saat ini Bambang
berhasil mengembangkan kerajaan bisnisnya menjadi
beberapa jenis usaha. Di antaranya adalah Betiga
Klaten, Asrama Putri Betiga, Classy Tent, Refillo
Jakarta, Transtek Trimitra, dan Taman Gondosuli.
Betiga Klaten merupakan sub distributor semua
produk AQUA, Danone, dan sub agen LPG kemasan
12 kg dan Pertamina, dengan wilayah pemasaran
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Betiga Klaten
melayani pembelian grosir maupun eceran dengan
harga yang kompetitif. Semua pembelian produk
diantar sampai lokasi pembeli di seluruh wilayah
Kabupaten Klaten tanpa biaya tambahan alias gratis.
Sementara itu, Asrama Putri Betiga menyediakan
jasa pemondokan khusus putri dengan
kapasitas 43 kamar di 3 lokasi yang saling
berdekatan di daerah Pringwulung, Condong Catur,
Yogyakarta. Lokasi pondokan tersebut cukup
strategis, berjarak cukup dekat dengan Universitas
Atmajaya, Sanata Dharma, UNY, UPN, AKS
Tarakanita, AMPTA, dan perguruan tinggi lainnya.
Setiap kamar sudah dilengkapi dengan tempat tidur,
lemari pakaian, dan meja belajar. Tersedia fasilitas
dapur, ruang tamu, garasi sepeda motor, dan taman.
Sedangkan Classy Tents bergerak di bidang
jasa penyewaan tenda dekorasi di wilayah
Jabodetabek. Jenis-jenis tenda yang tersedia
antara lain tenda flat, tenda canopy, tenda
kerucut, dan tenda hall. Classy Tent juga
menyewakan alas papan, panggung, rigging stage,
air conditioning, sound system, lighting set, florist,
dan mini garden, dan segala keperluan dekorasi
ruangan. Classy Tent didirikan pada 1 April 2003,
dua bulan lebih awal dari Betiga Klaten yang berdiri
pada 2 Juni 2003.
Ownership Classy Tent merupakan gabungan
unik persahabatan di antara partner yang terdiri
dari delapan orang. Setting awal bisnis ini adalah
sebagai wadah mitra bisnis, atau partner agar
selalu dapat bersilaturahmi di masa pensiun,
korporasi ini lebih menitikberatkan pada aspek
ikatan kekelurgaan di antara partner.
Mayoritas partner masih aktif berkarya sebagai
karyawan di perusahaan, dan menduduki jabatan
manajerial sehingga praktis waktu untuk mengelola
bisnis Classy Tent terbatas. Amanah pengelolaan
bisnis diberikan kepada dua orang partner, salah
satunya adalah Bambang.
Laju tumbuh bisnis penyewaan tenda ini cukup
bagus. Perusahaan sudah bisa menghasilkan
keuntungan sejak awal berdiri. Hal ini didukung
faktor tingkat persaingan yang belum begitu tajam.
Ada beberapa hambatan yang dihadapi Bambang
dalam menjalankan bisnis ini. Hambatan
tersebut di antaranya pengambilan keputusan
kebijakan strategis yang kurang cepat, karena
harus mempertahankan aspek persetujuan dan
partner yang lain. Terlebih apabila harus mengambil
keputusan kategori investasi, dampak yang
dirasakan adalah banyaknya peluang yang terlewatkan.
Keterbatasan waktu adalah faktor yang kurang
menguntungkan berikutnya dalam usaha
pengembangan perusahaan. Di samping itu, ada
juga perbedaan corporate culture dan mindset dari
pengelola bisnis.
Meskipun banyak hambatan yang dihadapi, laju
tumbuh Classy Tent boleh dibilang cukup
spektakuler. Total aset menjadi empat kali lipat bila
dibandingkan tahun pertama bisnis ini didirikan. Net
worth yang dihasilkan ternyata juga mengalami
kenaikan rata-rata 20% per tahun. Hebatnya lagi,
akumulasi laba yang dihasilkan selalu digunakan
untuk re-investasi perlengkapan tenda.
Bambang juga membuka bisnis Refillo Jakarta
yang melayani jasa isi ulang tinta printer laser, dan
inkjet di wilayah Jakarta Selatan. Bisnis dalam
bidang ini semuanya telah diserahkan kepada karyawan.
Melalui PT Transtek Trimitra, Bambang
mengepakkan sayap bisnisnya dalam bidang
konstruksi renovasi gedung, jalan dan jembatan,
elektrikal dan mekanikal, pelatihan SDM, dan
sertiflkasi spesialis welding.
Berkolaborasi dengan keluarga, Bambang juga
mendirikan bisnis Taman Gondosuli yang
menyediakan aneka tanaman hias berkualitas,
indoor maupun outdoor. Taman Gondosuli
menyajikan tanaman hias dengan kemasan yang
artistik dan unik yang berlokasi di daerah Klaten.
Setelah menggeluti beberapa bisnis sekaligus
dalam waktu 5 tahun terakhir, tampak benang
merah perbedaan fundamental bisnis yang
berdampak pada laju pertumbuhan korporasi.
Korporasi bisnis distribusi Betiga Klaten dan Real
Estat (asrama putri, rumah sewa) Betiga Yogya,
sebagai flag carrier bisnisnya, kini menunjukkan
laju tumbuh yang signifikan. Korporasi ini 100%
modalnya dimiliki keluarga serta dikelola sendiri
secara langsung, sehingga kecepatan dalam
mengambil keputusan penting dapat dilaksanakan setiap saat.
Terlebih Bambang telah menentukan falsafah
dan budaya bisnis yang pas. Hal ini berdampak pada
akselerasi laju tumbuh perusahaan sehingga roh
bisnis terasa sekali auranya. Setiap kali mengalami
problem bisnis yang serius dapat cepat ‘exit’
bahkan setiap problem tersebut nyaris selalu
menjadi pertanda leverage korporasi, ungkap
Bambang dengan semangat.
Bahkan, untuk menghindari comfort zone bisnis,
Bambang terkadang justru menciptakan
problem positif di perusahaan, misalnya menambah
investasi armada distribusi. Dengan bertambahnya
armada distribusi, otomatis adrenalin dipacu agar
armada tidak mengalami idle capacity.
Untuk Real Estate, problem positif yang diciptakan
berupa renovasi properti yang memerlukan
dana tidak sedikit sehingga kreativitas muncul
dalam mencari sumber pendanaan renovasi. Tentu
saja, Bambang tetap fokus terhadap kepuasan
stakeholders, dan kualitas pelayanan yang selalu
lebih baik. Sering kali kebijakan bisnis tersebut
melanggar kelaziman pakem berbisnis, baik dari sisi
marketing, teknis operasional, finance maupun SDM.
Kadangkala Bambang mengambil kebijakan yang
tidak lazim. Salah satu contohnya adalah
menghibahkan 40% saham perusahaan Betiga
Klaten kepada koperasi karyawan Betiga Klaten
pada 2010. Kebijakan lain yang keluar pakem,
setelah salah satu perusahaan yang akan dijadikan
andalan hidup ternyata bangkrut dan ditutup pada
2003. Bambang mendirikan Betiga Klaten dan
mengambil kebijakan untuk membagikan profit
setiap bulan kepada karyawan, dengan persentase
sama besar dengan persentasenya sebagai pemilik
perusahaan.
Sampai saat ini, Bambang selalu konsisten
dengan kebijakan tersebut, meskipun korporasi sudah
berkembang pesat. Satu hal yang selalu mewarnai
passion Bambang dalam berbisnis adalah selalu
berbisnis dengan hati, selalu bersyukur dan ikhlas
setiap saat. Justru dengan semangat tersebut,
aktivitas operasional bisnis bisa berjalan dengan
optimal. Sistem pendelegasian wewenang
bisa berjalan dengan mulus. Pembelajaran alih
pengelolaan perusahaan kepada karyawan sebagai
mitra kerja juga mulai menghasilkan sinergi bisnis yang bagus.
Bambang merasakan betapa dia mendapatkan
anugerah dan kenikmatan yang luar biasa ketika
menerapkan falsafah 2 M (Memberi dan Melayani).
Falsafah tersebut selalu diterapkannya, baik dalam
kehidupan bisnis, keluarga, maupun bermasyarakat.
Dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam berkarya.
Penerapan falsafah memberi dan melayani
dalam berbisnis, dilakukan Bambang dengan
mengelola SDM yang bervisi entrepreneurship. Hal
ini diyakininya akan menjadikan bisnis semakin
mengkilap sepanjang waktu.
Bambang juga selalu berusaha menerapkan
positive feeling dalam setiap jengkal kehidupannya.
Fakta kehidupan pribadi yang Bambang rasakan
juga merupakan wujud positive feeling yang
dijalankan setiap saat, yakni menjadikan relasi
suami-istri dalam kondisi saling memberi dan
melayani, saling menghormati dan saling mendukung
dalam setiap karya pengabdian kepada masyarakat.
Dia menjelaskan bahwa sering kali hanya positive
feeling-lah yang mampu merasakan keindahan serta
keajaiban spirit memberi dan melayani ini.
Positive feeling juga menghasilkan relasi dengan
anak-anak tercinta selalu dalam kondisi yang
menakjubkan. Komunikasi yang terjalin akrab dan
mengalir seperti yang diharapkan menjadikan proses
belajar anak-anak di sekolah dan pembelajaran di
rumah berjalan dengan baik.
Bambang menyadari betapa pentingnya arti
sebuah perjalanan hidup. Bambang percaya bahwa
Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi
kemampuan hamba-Nya. Kesempatan untuk
menjadi manusia yang berguna selalu terbuka
lebar, yakni dengan selalu berdoa dan berusaha
menjadi balk. Sambil belajar mengatasi problem
kehidupan, Bambang justru mencoba merekrut
karyawan dengan berbagai latar belakang stigma
negatif masyarakat, ada pemabuk, penjudi, drop
out sekolah, dan sebagainya.
Ternyata, kinerja yang mereka hasilkan sungguh dahsyat.
Kuncinya dengan memberi mereka
kesempatan dan kepercayaan, serta diperlakukan
sebagal manusia yang bermartabat. Memang
terkadang masih terjadi hal-hal kecil yang menjadi
kebiasaan lama mereka, namun hebatnya justru
rekan sejawat mereka sendiri yang saling
mengingatkan agar kembali ke hal-hal yang balk.
Ada satu nasihat almarhum ayahnya yang
sampal kini masih selalu terngiang di telinga
Bambang “Sing podho rukun,” pesan ayahnya untuk
selalu menjaga kerukunan. Satu kalimat yang begitu
singkat bermakna cukup dalam. Ayahnya pun
memberi contoh tindakan konkret, antara lain
dengan membantu mengatasi masalah keuangan
yang dihadapi adik-adiknya, tulus, dan tanpa
pamrih sedikit pun. Menjadi orangtua asuh
keponakan yang kurang mampu agar dapat
bersekolah, dan mencarikan pekerjaan untuk anak
tetangga yang drop out sekolah dan sebagainya.
Yang membuat Bambang kagum dan terharu
adalah ayahnya bukanlah seorang miliarder. Ayah
Bambang berprofesi sebagai guru pegawai negeri,
yang tidak neko-neko dan jujur. Untuk biaya hidup
sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya pun
sering kali pinjam sana sini untuk menutupi negatif
cash flow-nya.
Ketika anak-anaknya meminta agar keperluan
keluarga sendiri diutamakan dan menunda dulu
urusan membantu orang lain (meskipun masih
keluarga), ayahnya menjawab, orang tersebut
lebih memerlukan dari pada kita, tidak ada salahnya
kita membantu orang lain, bapak juga tahu kita
sedang kesulitan finansial. Percayalah, setiap kali
kita membantu orang lain, Tuhan akan selalu
memberi kemudahan dalam karya-karya kita.
Jawaban dan falsafah hidup ayahnya tersebut
dipakai sebagai way of life Bambang hingga kini.
Falsafah tersebut begitu dahsyat merasuk dalam
sendi-sendi kehidupannya sehingga dalam setiap
langkah bisnis, dia selalu berprinsip memberi dan
melayani.
Saat ini, Bambang masih memiliki beberapa
impian. Di antaranya adalah menghibahkan 40%
saham perusahaan dan menyerahkan pengelolaan
Betiga Klaten kepada koperasi karyawan Betiga
pada 2010. Ketika pensiun pada 23 Desember 2010
nanti, dia menargetkan mempunyai pasif income
lima kali biaya hidup, mempunyai mobil baru Honda
Accord tahun produksi 2010, dan menikmati masa
pensiunnya dengan berwisata ke luar negeri
bersama sang istri tercinta.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
perusahaan, Bambang Triwoko memantapkan diri
terjun dalam dunia entrepreneurship. Walaupun
saat mengundurkan diri pada pertengahan 2002,
bisa dibilang jabatan dan penghasilannya sebagai
karyawan cukup tinggi, namun panggilan jiwanya
untuk menjadi entrepreneur tidak tertahankan lagi.
Setelah lima tahun berbisnis, saat ini Bambang
berhasil mengembangkan kerajaan bisnisnya menjadi
beberapa jenis usaha. Di antaranya adalah Betiga
Klaten, Asrama Putri Betiga, Classy Tent, Refillo
Jakarta, Transtek Trimitra, dan Taman Gondosuli.
Betiga Klaten merupakan sub distributor semua
produk AQUA, Danone, dan sub agen LPG kemasan
12 kg dan Pertamina, dengan wilayah pemasaran
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Betiga Klaten
melayani pembelian grosir maupun eceran dengan
harga yang kompetitif. Semua pembelian produk
diantar sampai lokasi pembeli di seluruh wilayah
Kabupaten Klaten tanpa biaya tambahan alias gratis.
Sementara itu, Asrama Putri Betiga menyediakan
jasa pemondokan khusus putri dengan
kapasitas 43 kamar di 3 lokasi yang saling
berdekatan di daerah Pringwulung, Condong Catur,
Yogyakarta. Lokasi pondokan tersebut cukup
strategis, berjarak cukup dekat dengan Universitas
Atmajaya, Sanata Dharma, UNY, UPN, AKS
Tarakanita, AMPTA, dan perguruan tinggi lainnya.
Setiap kamar sudah dilengkapi dengan tempat tidur,
lemari pakaian, dan meja belajar. Tersedia fasilitas
dapur, ruang tamu, garasi sepeda motor, dan taman.
Sedangkan Classy Tents bergerak di bidang
jasa penyewaan tenda dekorasi di wilayah
Jabodetabek. Jenis-jenis tenda yang tersedia
antara lain tenda flat, tenda canopy, tenda
kerucut, dan tenda hall. Classy Tent juga
menyewakan alas papan, panggung, rigging stage,
air conditioning, sound system, lighting set, florist,
dan mini garden, dan segala keperluan dekorasi
ruangan. Classy Tent didirikan pada 1 April 2003,
dua bulan lebih awal dari Betiga Klaten yang berdiri
pada 2 Juni 2003.
Ownership Classy Tent merupakan gabungan
unik persahabatan di antara partner yang terdiri
dari delapan orang. Setting awal bisnis ini adalah
sebagai wadah mitra bisnis, atau partner agar
selalu dapat bersilaturahmi di masa pensiun,
korporasi ini lebih menitikberatkan pada aspek
ikatan kekelurgaan di antara partner.
Mayoritas partner masih aktif berkarya sebagai
karyawan di perusahaan, dan menduduki jabatan
manajerial sehingga praktis waktu untuk mengelola
bisnis Classy Tent terbatas. Amanah pengelolaan
bisnis diberikan kepada dua orang partner, salah
satunya adalah Bambang.
Laju tumbuh bisnis penyewaan tenda ini cukup
bagus. Perusahaan sudah bisa menghasilkan
keuntungan sejak awal berdiri. Hal ini didukung
faktor tingkat persaingan yang belum begitu tajam.
Ada beberapa hambatan yang dihadapi Bambang
dalam menjalankan bisnis ini. Hambatan
tersebut di antaranya pengambilan keputusan
kebijakan strategis yang kurang cepat, karena
harus mempertahankan aspek persetujuan dan
partner yang lain. Terlebih apabila harus mengambil
keputusan kategori investasi, dampak yang
dirasakan adalah banyaknya peluang yang terlewatkan.
Keterbatasan waktu adalah faktor yang kurang
menguntungkan berikutnya dalam usaha
pengembangan perusahaan. Di samping itu, ada
juga perbedaan corporate culture dan mindset dari
pengelola bisnis.
Meskipun banyak hambatan yang dihadapi, laju
tumbuh Classy Tent boleh dibilang cukup
spektakuler. Total aset menjadi empat kali lipat bila
dibandingkan tahun pertama bisnis ini didirikan. Net
worth yang dihasilkan ternyata juga mengalami
kenaikan rata-rata 20% per tahun. Hebatnya lagi,
akumulasi laba yang dihasilkan selalu digunakan
untuk re-investasi perlengkapan tenda.
Bambang juga membuka bisnis Refillo Jakarta
yang melayani jasa isi ulang tinta printer laser, dan
inkjet di wilayah Jakarta Selatan. Bisnis dalam
bidang ini semuanya telah diserahkan kepada karyawan.
Melalui PT Transtek Trimitra, Bambang
mengepakkan sayap bisnisnya dalam bidang
konstruksi renovasi gedung, jalan dan jembatan,
elektrikal dan mekanikal, pelatihan SDM, dan
sertiflkasi spesialis welding.
Berkolaborasi dengan keluarga, Bambang juga
mendirikan bisnis Taman Gondosuli yang
menyediakan aneka tanaman hias berkualitas,
indoor maupun outdoor. Taman Gondosuli
menyajikan tanaman hias dengan kemasan yang
artistik dan unik yang berlokasi di daerah Klaten.
Setelah menggeluti beberapa bisnis sekaligus
dalam waktu 5 tahun terakhir, tampak benang
merah perbedaan fundamental bisnis yang
berdampak pada laju pertumbuhan korporasi.
Korporasi bisnis distribusi Betiga Klaten dan Real
Estat (asrama putri, rumah sewa) Betiga Yogya,
sebagai flag carrier bisnisnya, kini menunjukkan
laju tumbuh yang signifikan. Korporasi ini 100%
modalnya dimiliki keluarga serta dikelola sendiri
secara langsung, sehingga kecepatan dalam
mengambil keputusan penting dapat dilaksanakan setiap saat.
Terlebih Bambang telah menentukan falsafah
dan budaya bisnis yang pas. Hal ini berdampak pada
akselerasi laju tumbuh perusahaan sehingga roh
bisnis terasa sekali auranya. Setiap kali mengalami
problem bisnis yang serius dapat cepat ‘exit’
bahkan setiap problem tersebut nyaris selalu
menjadi pertanda leverage korporasi, ungkap
Bambang dengan semangat.
Bahkan, untuk menghindari comfort zone bisnis,
Bambang terkadang justru menciptakan
problem positif di perusahaan, misalnya menambah
investasi armada distribusi. Dengan bertambahnya
armada distribusi, otomatis adrenalin dipacu agar
armada tidak mengalami idle capacity.
Untuk Real Estate, problem positif yang diciptakan
berupa renovasi properti yang memerlukan
dana tidak sedikit sehingga kreativitas muncul
dalam mencari sumber pendanaan renovasi. Tentu
saja, Bambang tetap fokus terhadap kepuasan
stakeholders, dan kualitas pelayanan yang selalu
lebih baik. Sering kali kebijakan bisnis tersebut
melanggar kelaziman pakem berbisnis, baik dari sisi
marketing, teknis operasional, finance maupun SDM.
Kadangkala Bambang mengambil kebijakan yang
tidak lazim. Salah satu contohnya adalah
menghibahkan 40% saham perusahaan Betiga
Klaten kepada koperasi karyawan Betiga Klaten
pada 2010. Kebijakan lain yang keluar pakem,
setelah salah satu perusahaan yang akan dijadikan
andalan hidup ternyata bangkrut dan ditutup pada
2003. Bambang mendirikan Betiga Klaten dan
mengambil kebijakan untuk membagikan profit
setiap bulan kepada karyawan, dengan persentase
sama besar dengan persentasenya sebagai pemilik
perusahaan.
Sampai saat ini, Bambang selalu konsisten
dengan kebijakan tersebut, meskipun korporasi sudah
berkembang pesat. Satu hal yang selalu mewarnai
passion Bambang dalam berbisnis adalah selalu
berbisnis dengan hati, selalu bersyukur dan ikhlas
setiap saat. Justru dengan semangat tersebut,
aktivitas operasional bisnis bisa berjalan dengan
optimal. Sistem pendelegasian wewenang
bisa berjalan dengan mulus. Pembelajaran alih
pengelolaan perusahaan kepada karyawan sebagai
mitra kerja juga mulai menghasilkan sinergi bisnis yang bagus.
Bambang merasakan betapa dia mendapatkan
anugerah dan kenikmatan yang luar biasa ketika
menerapkan falsafah 2 M (Memberi dan Melayani).
Falsafah tersebut selalu diterapkannya, baik dalam
kehidupan bisnis, keluarga, maupun bermasyarakat.
Dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam berkarya.
Penerapan falsafah memberi dan melayani
dalam berbisnis, dilakukan Bambang dengan
mengelola SDM yang bervisi entrepreneurship. Hal
ini diyakininya akan menjadikan bisnis semakin
mengkilap sepanjang waktu.
Bambang juga selalu berusaha menerapkan
positive feeling dalam setiap jengkal kehidupannya.
Fakta kehidupan pribadi yang Bambang rasakan
juga merupakan wujud positive feeling yang
dijalankan setiap saat, yakni menjadikan relasi
suami-istri dalam kondisi saling memberi dan
melayani, saling menghormati dan saling mendukung
dalam setiap karya pengabdian kepada masyarakat.
Dia menjelaskan bahwa sering kali hanya positive
feeling-lah yang mampu merasakan keindahan serta
keajaiban spirit memberi dan melayani ini.
Positive feeling juga menghasilkan relasi dengan
anak-anak tercinta selalu dalam kondisi yang
menakjubkan. Komunikasi yang terjalin akrab dan
mengalir seperti yang diharapkan menjadikan proses
belajar anak-anak di sekolah dan pembelajaran di
rumah berjalan dengan baik.
Bambang menyadari betapa pentingnya arti
sebuah perjalanan hidup. Bambang percaya bahwa
Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi
kemampuan hamba-Nya. Kesempatan untuk
menjadi manusia yang berguna selalu terbuka
lebar, yakni dengan selalu berdoa dan berusaha
menjadi balk. Sambil belajar mengatasi problem
kehidupan, Bambang justru mencoba merekrut
karyawan dengan berbagai latar belakang stigma
negatif masyarakat, ada pemabuk, penjudi, drop
out sekolah, dan sebagainya.
Ternyata, kinerja yang mereka hasilkan sungguh dahsyat.
Kuncinya dengan memberi mereka
kesempatan dan kepercayaan, serta diperlakukan
sebagal manusia yang bermartabat. Memang
terkadang masih terjadi hal-hal kecil yang menjadi
kebiasaan lama mereka, namun hebatnya justru
rekan sejawat mereka sendiri yang saling
mengingatkan agar kembali ke hal-hal yang balk.
Ada satu nasihat almarhum ayahnya yang
sampal kini masih selalu terngiang di telinga
Bambang “Sing podho rukun,” pesan ayahnya untuk
selalu menjaga kerukunan. Satu kalimat yang begitu
singkat bermakna cukup dalam. Ayahnya pun
memberi contoh tindakan konkret, antara lain
dengan membantu mengatasi masalah keuangan
yang dihadapi adik-adiknya, tulus, dan tanpa
pamrih sedikit pun. Menjadi orangtua asuh
keponakan yang kurang mampu agar dapat
bersekolah, dan mencarikan pekerjaan untuk anak
tetangga yang drop out sekolah dan sebagainya.
Yang membuat Bambang kagum dan terharu
adalah ayahnya bukanlah seorang miliarder. Ayah
Bambang berprofesi sebagai guru pegawai negeri,
yang tidak neko-neko dan jujur. Untuk biaya hidup
sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya pun
sering kali pinjam sana sini untuk menutupi negatif
cash flow-nya.
Ketika anak-anaknya meminta agar keperluan
keluarga sendiri diutamakan dan menunda dulu
urusan membantu orang lain (meskipun masih
keluarga), ayahnya menjawab, orang tersebut
lebih memerlukan dari pada kita, tidak ada salahnya
kita membantu orang lain, bapak juga tahu kita
sedang kesulitan finansial. Percayalah, setiap kali
kita membantu orang lain, Tuhan akan selalu
memberi kemudahan dalam karya-karya kita.
Jawaban dan falsafah hidup ayahnya tersebut
dipakai sebagai way of life Bambang hingga kini.
Falsafah tersebut begitu dahsyat merasuk dalam
sendi-sendi kehidupannya sehingga dalam setiap
langkah bisnis, dia selalu berprinsip memberi dan
melayani.
Saat ini, Bambang masih memiliki beberapa
impian. Di antaranya adalah menghibahkan 40%
saham perusahaan dan menyerahkan pengelolaan
Betiga Klaten kepada koperasi karyawan Betiga
pada 2010. Ketika pensiun pada 23 Desember 2010
nanti, dia menargetkan mempunyai pasif income
lima kali biaya hidup, mempunyai mobil baru Honda
Accord tahun produksi 2010, dan menikmati masa
pensiunnya dengan berwisata ke luar negeri
bersama sang istri tercinta.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Arya Yoga, Sosok Wirausahawan Difabel Sukses Lewat Usaha Asesoris Motor
Semua manusia tentu menginginkan keberhasilan
dalam hidup. Untuk itulah setiap orang memiliki
cita-cita atau impian yang hendak direngkuhnya.
Demikian juga dengan Arya Yoga Rudhita, yang
akrab dipanggil Yoga, terus berjuang menggapai
impiannya. Kemauan dan mimpi-mimpinya yang
tinggi tak menyurutkan langkahnya untuk terjun
berbisnis, meski kecelakaan telah merenggut
sebagian daya kakinya untuk bergerak. Dua kakinya
saat ini memang lumpuh sehingga harus selalu
ditopang dengan sebuah kursi roda. Semangatnya
yang luar biasa untuk menggapai asa, mengalahkan
semua keterbatasan fisik yang menderanya. Dia
layak menjadi contoh pembelajaran
entrepreneurship bagi para kawula muda yang ingin
terus berkarya.
Saat ini, Yoga memang masih tercatat sebagai
mahasiswa di sebuah universitas swasta di Jakarta.
Ketertarikannya pada dunia bisnis membuatnya
mengambil jurusan manajemen pemasaran. Namun
di tengah kesibukannya, dia nekat mendirikan usaha
sendiri untuk mewujudkan cita-citanya.
Keterbatasan fisik benar-benar tidak mampu
menjadi penghalang baginya. Walaupun kemana-mana
dia harus memakai kursi roda, Yoga
tetap maju bertekad membangun kerajaan
bisnisnya. Dia pun berharap bisnis perlengkapan dan
aksesori sepeda motor yang dirintisnya bisa cepat
berkembang. Bio Motor Sport, nama toko yang
dipilihnya, kini menempati sebuah ruko yang
berlokasi di Jalan Raya Kalimalang nomor 75 Bekasi
Timur.
Walaupun saya masih pemula, saya bertekad
untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses,
tegas pemuda kelahiran Oktober 1979 ini.
Sebetulnya saya merasa agak terlambat saat
terjun dalam usaha ini, seharusnya saya
memulainya sejak dulu. But it’s better late than
never, tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.
Bisnis perlengkapan motor di bawah bendera
Bio Motor Sport ini, pertama kali dirintisnya pada
2006. Keputusannya untuk memilih bisnis dalam
bidang ini tidak lepas dari kegemarannya naik motor
sejak dulu. Dia pun mempunyai mimpi untuk
membuka usaha di bidang perlengkapan motor itu.
Namun, setelah peristiwa kecelakaan yang
membuat kakinya lumpuh, Yoga sempat melupakan
mimpinya.
Awalnya dalam sebuah kesempatan, Yoga bertemu
dengan seorang teman yang mempunyai ide
untuk membuka usaha perlengkapan sepeda motor,
seperti helm, jas hujan, spion, hiasan plat nomor,
dan aksesori ringan lainnya. Setelah berdiskusi
mengenai prospek bisnis ini, Yoga berkesimpulan
bahwa usaha di bidang perlengkapan motor ini
cukup menjanjikan. Seiring meningkatnya jumlah
pengguna sepeda motor, otomatis kebutuhan
terhadap berbagai perlengkapan dan aksesori motor
akan terus meningkat. Saat membuka usaha ini
bersama temannya, investasi awal yang
dikeluarkannya tidak terlalu besar, sekitar Rp35 juta.
Sayangnya, bisnis yang dijalankan Yoga bersama
temannya ini tidak berjalan mulus. Dia telah
dibohongi oleh teman yang menjadi partner
bisnisnya. Rupanya teman Yoga melakukan mark-up
harga sewa toko, pembelian barang, dan
memunculkan biaya operasional yang sebetulnya tidak ada.
Yoga pun langsung penasaran. Akhirnya dia
turun sendiri menghubungi para supplier atau
distributor, dan menanyakan berbagai harga
pembelian untuk produk yang pernah dibelinya.
Ternyata harga sebenarnya jauh iebih murah dari
yang tertera di bon pembelian. Saat itu, Yoga
merasa sangat kecewa dengan partner bisnisnya.
Pengalaman pahit yang diaiaminya pertama kali
memulai berbisnis tersebut, memberikan pelajaran
berharga baginya tentang pentingnya membangun sebuah kepercayaan.
‘Saya tidak kapok. Justru makin semangat untuk
terus belajar. Saya bertekad untuk memulai dari
awal bisnis ini sendirian, cetus Yoga sambil
mengenang saat mencoba memulai bisnisnya sendiri.
Bulan pertama hingga ketiga, omzet penjualan
usahanya masih sangat kecil sehingga belum bisa
menutupi biaya operasional. Saat itu, Yoga memang
tidak menyebarkan brosur atau sarana promosi
lainnya untuk memperkenalkan toko aksesori
motornya. Walaupun dia sebetulnya cukup paham
tentang strategi pemasaran, tampaknya dia ingin
tokonya berkembang secara “alamiah” saja.
Baru seteiah berjalan tiga bulan, orang-orang
yang lewat di sepanjang Jalan Raya Kalimalang ini
mulai banyak yang mampir dan bertanya-tanya.
Lokasi tokonya yang persis di pinggir Jalan Raya
Kaiimaiang Bekasi Timur, memang boieh dibilang
sangat strategis. Setiap hari, jalan di depan
tokonya diiewati ribuan motor, baik dari arah
Jakarta maupun Cikarang. Letaknya yang tidak jauh
dan pintu toi Bekasi Timur, membuat tokonya
berada di antara sekian banyak tempat penitipan
motor yang bertebaran di kawasan itu.
Belajar dari pengaiaman pertamanya yang tertipu
dalam melakukan pembelanjaan ke supplier.
Yoga selalu mencari sumber supplier yang mampu
memberikan harga yang terbaik. Berkat
kegigihannya, dia kini mempunyai beberapa supplier
dengan harga yang sangat kompetitif. Dengan
menguasai mata rantai supplier tersebut, Yoga pun
mampu memberikan harga yang cukup kompetitif
kepada para konsumen. Harga yang murah tersebut
tak ayal lagi menjadi salah satu faktor larisnya
produk yang dijualnya.
Kesuksesan bisnis di bidang ini, selain ditentukan
oleh lokasi outlet yang strategis, juga didukung
oleh kepiawaian pemilik untuk selalu berkomunikasi
dengan para pecinta motor, atau komunitas
penggemar sepeda motor. Keakraban yang
dibangun dengan komunitas penggemar motor, akan
menjadi salah satu leverage atau daya ungkit bagi
pemasaran seluruh produk yang terkait dengannya.
Dengan demikian, secara otomatis Yoga bisa
mengetahui aksesori atau jenis perlengkapan motor
apa yang sedang ngetren.
Selain berjualan di outlet-nya sendiri, Yoga
juga sempat menitipkan barang dagangannya ke
teman-teman yang berjualan voucher dan aksesori
handphone, tetapi hasilnya ternyata kurang memuaskan.
Rencana ke depan, Yoga ingin mengembangkan
bisnisnya tersebut di kawasan jalur pantura dengan
menggandeng beberapa mitra. Dia melihat potensi
pasar di kawasan tersebut sangat besar. Para
anak muda di kawasan ini terkenal suka
‘mendandani’ motornya, tandasnya.
Saat ini Yoga memang lebih berkonsentrasi untuk
terus meningkatkan omzet tokonya. Hal ini tidak
lepas dari keinginannya untuk menjadi authorized
distributor untuk beberapa produk yang selama ini
dijualnya. Jika omzet sudah besar, para produsen
peralatan dan perlengkapan sepeda motor tentu
mau menunjuk toko saya menjadi distributor,
tambah Yoga dengan nada optimis.
Untuk mencapai tujuan tersebut, selain berjualan
secara offline, Yoga juga membuat website
untuk memasarkan produknya secara online. Melalui
website tersebut dia berharap bisa menjangkau
pasar yang lebih luas.
Dalam menjalani bisnis ini, Yoga benar-benar
mengandalkan kejujuran para karyawan. “Sejauh ini
alhamdulillah tidak ada masalah dengan mereka.
Saya mencoba mengontrol mereka melalui laporan
harian dan bulanan,” papar Yoga.
Dibantu dua orang karyawannya yang menunggu
toko secara bergantian, Yoga juga selalu
mengadakan stock opname setiap bulan untuk
mengontrol keluar masuknya barang. Walaupun
masih sibuk kuliah, Yoga masih sempat melakukan
pembelanjaan dan melakukan kontrol atas seluruh
barang yang ada di tokonya.
Harga produk yang dijual di tokonya berkisar
antara Rpl5 ribu hingga Rp5OO ribu. Barang yang
paling mahal adalah helm dengan kualitas yang
sangat bagus. Untuk menjual helm jenis ini, dia
harus pandai-pandai menjelaskan kepada calon
pembeli mengapa harga helm tersebut lebih mahal.
Hal ini tentu terkait dengan faktor perlindungan
yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis helm lainnya.
Sebagaimana bisnis yang lain, usaha perlengkapan
dan aksesori motor ini ada kalanya ramai,
tapi ada juga masa-masa sepi. Biasanya omzet
melambung tinggi saat menjelang lebaran, karena
banyak orang yang membeli helm baru untuk pulang
kampung. Apalagi toko Yoga berada tepat di jalur
lalu lintas yang dilalui para pemudik. Hal ini
membuat pengunjung di tokonya sangat ramai
menjelang lebaran. Namun sebaliknya, saat setelah
lebaran, penjualannya turun tajam. Masa sepi ini
biasanya bisa berlangsung hingga dua bulan.
Berdasarkan pengalamannya selama ini, Yoga
kini bisa mengetahui kapan harus menyiapkan stok
yang banyak untuk waktu tertentu, dan bagaimana
strategi mempertahankan omzet jika musim paceklik
penjualan tiba. Toko yang biasa buka dari jam
delapan pagi hingga jam sembilan malam itu pun,
kini semakin punya banyak pelanggan.
Sebenarnya, saat ini memang sudah banyak
orang yang terjun dalam bisnis perlengkapan dan
aksesori sepeda motor, khususnya di sepanjang
Jalan Raya Kalimalang ini. Namun, Yoga tidak
pernah khawatir dengan tingkat persaingan yang
semakin ketat. Dia selalu memandang positif sebuah
persaingan. Dengan adanya pesaing, kita justru
dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, ujar Yoga
menanggapi menjamurnya pesaing di bisnis ini.
Sadar akan kondisi persaingan tersebut, Yoga
selalu berusaha untuk menciptakan pelayanan yang
unik. Hal ini dilakukannya untuk membedakan diri
dengan pesaing lainnya. “Saya tidak ingin sekadar
berjualan barang saja. Saya ingin memberikan value
lebih kepada para pelanggan saya,” ujar pemuda
yang selalu berkacamata ini.
Menurut Yoga, menjadi berbeda itu lebih penting
daripada sekadar memberikan harga yang lebih
murah. Persaingan yang hanya menekankan pada
harga justru bisa memperparah kondisi menuju
perang harga yang tidak sehat. Yang penting,
harga harus tetap bersaing, tetapi ada nilai tambah
lain yang tidak dimiliki pesaing. Salah satu kuncinya
tentu saja ada di pelayanan. Untuk itu, Yoga selalu
menjalin hubungan baik dengan pelanggannya.
“Saya selalu mengatakan kepada karyawan
saya bahwa pelanggan yang datang untuk bertanya
saja itu lebih baik daripada tidak ada yang datang
sama sekali,” ungkap pemuda yang punya hobi fotografer ini.
Yoga juga sadar bahwa keberhasilan dalam
berbisnis harus didukung oleh seluruh anggota tim
yang terdiri dan para karyawan. Sehingga dia
sangat memerhatikan kesejahteraan para
karyawannya. Dia juga ingin karyawannya sukses
dan suatu saat bisa memiliki usaha sendiri seperti
dirinya. Menurut Yoga, saat ini bukan zamannya lagi
orang sukses sendirian, para karyawan harus
menjadi bagian dari rencana sukses juga.
Selain berbinis perlengkapan dan aksesori sepeda motor,
Yoga juga merintis usaha grosir sepatu
bersama beberapa temannya. Saat ini, usaha
sepatunya tersebut menempati sebuah ruko di
kawasan bisnis Pasar Tanah Abang Jakarta.
Naluri bisnis Yoga makin terasah seiring dengan
perjaanan waktu. Dia sadar bahwa ketajaman naluri
bisnis yang bagus tidak dapat diraih dalam waktu
singkat. Sebagai wirausahawan, dia berusaha untuk
terus mengasah ketajaman naluri tersebut agar bisa
mengambil keputusan bisnis dengan tepat.
Menurut Yoga, dalam dunia wiraswasta, seorang
pengusaha tidak hanya bersaing dengan
perusahaan sejenis, tetapi juga harus bersaing
dengan keadaan dan situasi tertentu. Mulai dari
kondisi makro ekonomi, suhu politik, perubahan
kebijakan pemerintah dan sebagainya. Agar dapat
mengantisipasi setiap perkembangan yang mungkin
terjadi, seorang pengusaha perlu terus melatih naluri
kewirausahaannya,agar selalu siap
menghadapi kondisi apapun.
Seorang pengusaha perlu menyadani sepenuhnya
bahwa ketika memutuskan untuk menjadi pengusaha,
maka cara berpikir, berbicara, maupun bertindak
harus mencerminkan seorang pengusaha sejati.
Makin lama menekuni dunia wirausaha, makin
banyak pengalaman yang didapat, dan tentu makin tajamlah
nalurinya. Bagi Yoga, belajar bagi seorang pengusaha tidak
mengenal usia. Belajar bisa dilakukan setiap
saat, kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa
saja. Langsung terjun menjalankan bisnis juga
merupakan pembelajaran bisnis yang paling nyata.
Ketika sudah terjun langsung, informasi dan
pengetahuan yang terkait akan mengalir seperti air.
Apalagi jika didukung dengan banyak membaca buku
dan bergabung dengan komunitas pengusaha.
Sebagai pengusaha pemula, dengan cara belajar
tersebut, Yoga merasa lebih mudah mendapatkan
berbagai ilmu bisnis praktis yang dibutuhkannya.
“Kita dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman
diri kita sendiri maupun dari pengalaman
orang lain, ungkap pemuda yang baru berusia 28
tahun ini. Belajar dari kesalahan dan pengalaman
orang lain adalah cara belajar yang paling mudah
dan murah. Walaupun pengalaman orang lain
tersebut mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi kita.
Belajar memang tidak pernah ada ruginya.
Seberapa besar pun biaya yang telah dikeluarkan.
Bila kita tidak belajar, biaya yang dikeluarkan untuk
sebuah pengalaman buruk pastilah akan jauh lebih
mahal dan menyakitkan. Yoga memang bukan yang
pertama dalam bisnis ini, tapi dia berusaha untuk
menjadi yang terbaik. Dalam perjalanan menuju ke
sana, dia pun tidak takut untuk tampil berbeda dengan yang lain.
Kesuksesan Yoga dalam mengembangkan diri
dan bisnisnya tidak lepas dari peran serta
keluarganya. Yoga sangat berterima kasih atas
dukungan yang luar biasa dari seluruh keluarga dan
calon istrinya. “Tanpa mereka, saya tidak bisa
seperti sekarang ini”, kata Yoga mengungkapkan
apresiasi untuk keluarganya.
Dari Buku: Rahasia jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
dalam hidup. Untuk itulah setiap orang memiliki
cita-cita atau impian yang hendak direngkuhnya.
Demikian juga dengan Arya Yoga Rudhita, yang
akrab dipanggil Yoga, terus berjuang menggapai
impiannya. Kemauan dan mimpi-mimpinya yang
tinggi tak menyurutkan langkahnya untuk terjun
berbisnis, meski kecelakaan telah merenggut
sebagian daya kakinya untuk bergerak. Dua kakinya
saat ini memang lumpuh sehingga harus selalu
ditopang dengan sebuah kursi roda. Semangatnya
yang luar biasa untuk menggapai asa, mengalahkan
semua keterbatasan fisik yang menderanya. Dia
layak menjadi contoh pembelajaran
entrepreneurship bagi para kawula muda yang ingin
terus berkarya.
Saat ini, Yoga memang masih tercatat sebagai
mahasiswa di sebuah universitas swasta di Jakarta.
Ketertarikannya pada dunia bisnis membuatnya
mengambil jurusan manajemen pemasaran. Namun
di tengah kesibukannya, dia nekat mendirikan usaha
sendiri untuk mewujudkan cita-citanya.
Keterbatasan fisik benar-benar tidak mampu
menjadi penghalang baginya. Walaupun kemana-mana
dia harus memakai kursi roda, Yoga
tetap maju bertekad membangun kerajaan
bisnisnya. Dia pun berharap bisnis perlengkapan dan
aksesori sepeda motor yang dirintisnya bisa cepat
berkembang. Bio Motor Sport, nama toko yang
dipilihnya, kini menempati sebuah ruko yang
berlokasi di Jalan Raya Kalimalang nomor 75 Bekasi
Timur.
Walaupun saya masih pemula, saya bertekad
untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses,
tegas pemuda kelahiran Oktober 1979 ini.
Sebetulnya saya merasa agak terlambat saat
terjun dalam usaha ini, seharusnya saya
memulainya sejak dulu. But it’s better late than
never, tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.
Bisnis perlengkapan motor di bawah bendera
Bio Motor Sport ini, pertama kali dirintisnya pada
2006. Keputusannya untuk memilih bisnis dalam
bidang ini tidak lepas dari kegemarannya naik motor
sejak dulu. Dia pun mempunyai mimpi untuk
membuka usaha di bidang perlengkapan motor itu.
Namun, setelah peristiwa kecelakaan yang
membuat kakinya lumpuh, Yoga sempat melupakan
mimpinya.
Awalnya dalam sebuah kesempatan, Yoga bertemu
dengan seorang teman yang mempunyai ide
untuk membuka usaha perlengkapan sepeda motor,
seperti helm, jas hujan, spion, hiasan plat nomor,
dan aksesori ringan lainnya. Setelah berdiskusi
mengenai prospek bisnis ini, Yoga berkesimpulan
bahwa usaha di bidang perlengkapan motor ini
cukup menjanjikan. Seiring meningkatnya jumlah
pengguna sepeda motor, otomatis kebutuhan
terhadap berbagai perlengkapan dan aksesori motor
akan terus meningkat. Saat membuka usaha ini
bersama temannya, investasi awal yang
dikeluarkannya tidak terlalu besar, sekitar Rp35 juta.
Sayangnya, bisnis yang dijalankan Yoga bersama
temannya ini tidak berjalan mulus. Dia telah
dibohongi oleh teman yang menjadi partner
bisnisnya. Rupanya teman Yoga melakukan mark-up
harga sewa toko, pembelian barang, dan
memunculkan biaya operasional yang sebetulnya tidak ada.
Yoga pun langsung penasaran. Akhirnya dia
turun sendiri menghubungi para supplier atau
distributor, dan menanyakan berbagai harga
pembelian untuk produk yang pernah dibelinya.
Ternyata harga sebenarnya jauh iebih murah dari
yang tertera di bon pembelian. Saat itu, Yoga
merasa sangat kecewa dengan partner bisnisnya.
Pengalaman pahit yang diaiaminya pertama kali
memulai berbisnis tersebut, memberikan pelajaran
berharga baginya tentang pentingnya membangun sebuah kepercayaan.
‘Saya tidak kapok. Justru makin semangat untuk
terus belajar. Saya bertekad untuk memulai dari
awal bisnis ini sendirian, cetus Yoga sambil
mengenang saat mencoba memulai bisnisnya sendiri.
Bulan pertama hingga ketiga, omzet penjualan
usahanya masih sangat kecil sehingga belum bisa
menutupi biaya operasional. Saat itu, Yoga memang
tidak menyebarkan brosur atau sarana promosi
lainnya untuk memperkenalkan toko aksesori
motornya. Walaupun dia sebetulnya cukup paham
tentang strategi pemasaran, tampaknya dia ingin
tokonya berkembang secara “alamiah” saja.
Baru seteiah berjalan tiga bulan, orang-orang
yang lewat di sepanjang Jalan Raya Kalimalang ini
mulai banyak yang mampir dan bertanya-tanya.
Lokasi tokonya yang persis di pinggir Jalan Raya
Kaiimaiang Bekasi Timur, memang boieh dibilang
sangat strategis. Setiap hari, jalan di depan
tokonya diiewati ribuan motor, baik dari arah
Jakarta maupun Cikarang. Letaknya yang tidak jauh
dan pintu toi Bekasi Timur, membuat tokonya
berada di antara sekian banyak tempat penitipan
motor yang bertebaran di kawasan itu.
Belajar dari pengaiaman pertamanya yang tertipu
dalam melakukan pembelanjaan ke supplier.
Yoga selalu mencari sumber supplier yang mampu
memberikan harga yang terbaik. Berkat
kegigihannya, dia kini mempunyai beberapa supplier
dengan harga yang sangat kompetitif. Dengan
menguasai mata rantai supplier tersebut, Yoga pun
mampu memberikan harga yang cukup kompetitif
kepada para konsumen. Harga yang murah tersebut
tak ayal lagi menjadi salah satu faktor larisnya
produk yang dijualnya.
Kesuksesan bisnis di bidang ini, selain ditentukan
oleh lokasi outlet yang strategis, juga didukung
oleh kepiawaian pemilik untuk selalu berkomunikasi
dengan para pecinta motor, atau komunitas
penggemar sepeda motor. Keakraban yang
dibangun dengan komunitas penggemar motor, akan
menjadi salah satu leverage atau daya ungkit bagi
pemasaran seluruh produk yang terkait dengannya.
Dengan demikian, secara otomatis Yoga bisa
mengetahui aksesori atau jenis perlengkapan motor
apa yang sedang ngetren.
Selain berjualan di outlet-nya sendiri, Yoga
juga sempat menitipkan barang dagangannya ke
teman-teman yang berjualan voucher dan aksesori
handphone, tetapi hasilnya ternyata kurang memuaskan.
Rencana ke depan, Yoga ingin mengembangkan
bisnisnya tersebut di kawasan jalur pantura dengan
menggandeng beberapa mitra. Dia melihat potensi
pasar di kawasan tersebut sangat besar. Para
anak muda di kawasan ini terkenal suka
‘mendandani’ motornya, tandasnya.
Saat ini Yoga memang lebih berkonsentrasi untuk
terus meningkatkan omzet tokonya. Hal ini tidak
lepas dari keinginannya untuk menjadi authorized
distributor untuk beberapa produk yang selama ini
dijualnya. Jika omzet sudah besar, para produsen
peralatan dan perlengkapan sepeda motor tentu
mau menunjuk toko saya menjadi distributor,
tambah Yoga dengan nada optimis.
Untuk mencapai tujuan tersebut, selain berjualan
secara offline, Yoga juga membuat website
untuk memasarkan produknya secara online. Melalui
website tersebut dia berharap bisa menjangkau
pasar yang lebih luas.
Dalam menjalani bisnis ini, Yoga benar-benar
mengandalkan kejujuran para karyawan. “Sejauh ini
alhamdulillah tidak ada masalah dengan mereka.
Saya mencoba mengontrol mereka melalui laporan
harian dan bulanan,” papar Yoga.
Dibantu dua orang karyawannya yang menunggu
toko secara bergantian, Yoga juga selalu
mengadakan stock opname setiap bulan untuk
mengontrol keluar masuknya barang. Walaupun
masih sibuk kuliah, Yoga masih sempat melakukan
pembelanjaan dan melakukan kontrol atas seluruh
barang yang ada di tokonya.
Harga produk yang dijual di tokonya berkisar
antara Rpl5 ribu hingga Rp5OO ribu. Barang yang
paling mahal adalah helm dengan kualitas yang
sangat bagus. Untuk menjual helm jenis ini, dia
harus pandai-pandai menjelaskan kepada calon
pembeli mengapa harga helm tersebut lebih mahal.
Hal ini tentu terkait dengan faktor perlindungan
yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis helm lainnya.
Sebagaimana bisnis yang lain, usaha perlengkapan
dan aksesori motor ini ada kalanya ramai,
tapi ada juga masa-masa sepi. Biasanya omzet
melambung tinggi saat menjelang lebaran, karena
banyak orang yang membeli helm baru untuk pulang
kampung. Apalagi toko Yoga berada tepat di jalur
lalu lintas yang dilalui para pemudik. Hal ini
membuat pengunjung di tokonya sangat ramai
menjelang lebaran. Namun sebaliknya, saat setelah
lebaran, penjualannya turun tajam. Masa sepi ini
biasanya bisa berlangsung hingga dua bulan.
Berdasarkan pengalamannya selama ini, Yoga
kini bisa mengetahui kapan harus menyiapkan stok
yang banyak untuk waktu tertentu, dan bagaimana
strategi mempertahankan omzet jika musim paceklik
penjualan tiba. Toko yang biasa buka dari jam
delapan pagi hingga jam sembilan malam itu pun,
kini semakin punya banyak pelanggan.
Sebenarnya, saat ini memang sudah banyak
orang yang terjun dalam bisnis perlengkapan dan
aksesori sepeda motor, khususnya di sepanjang
Jalan Raya Kalimalang ini. Namun, Yoga tidak
pernah khawatir dengan tingkat persaingan yang
semakin ketat. Dia selalu memandang positif sebuah
persaingan. Dengan adanya pesaing, kita justru
dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, ujar Yoga
menanggapi menjamurnya pesaing di bisnis ini.
Sadar akan kondisi persaingan tersebut, Yoga
selalu berusaha untuk menciptakan pelayanan yang
unik. Hal ini dilakukannya untuk membedakan diri
dengan pesaing lainnya. “Saya tidak ingin sekadar
berjualan barang saja. Saya ingin memberikan value
lebih kepada para pelanggan saya,” ujar pemuda
yang selalu berkacamata ini.
Menurut Yoga, menjadi berbeda itu lebih penting
daripada sekadar memberikan harga yang lebih
murah. Persaingan yang hanya menekankan pada
harga justru bisa memperparah kondisi menuju
perang harga yang tidak sehat. Yang penting,
harga harus tetap bersaing, tetapi ada nilai tambah
lain yang tidak dimiliki pesaing. Salah satu kuncinya
tentu saja ada di pelayanan. Untuk itu, Yoga selalu
menjalin hubungan baik dengan pelanggannya.
“Saya selalu mengatakan kepada karyawan
saya bahwa pelanggan yang datang untuk bertanya
saja itu lebih baik daripada tidak ada yang datang
sama sekali,” ungkap pemuda yang punya hobi fotografer ini.
Yoga juga sadar bahwa keberhasilan dalam
berbisnis harus didukung oleh seluruh anggota tim
yang terdiri dan para karyawan. Sehingga dia
sangat memerhatikan kesejahteraan para
karyawannya. Dia juga ingin karyawannya sukses
dan suatu saat bisa memiliki usaha sendiri seperti
dirinya. Menurut Yoga, saat ini bukan zamannya lagi
orang sukses sendirian, para karyawan harus
menjadi bagian dari rencana sukses juga.
Selain berbinis perlengkapan dan aksesori sepeda motor,
Yoga juga merintis usaha grosir sepatu
bersama beberapa temannya. Saat ini, usaha
sepatunya tersebut menempati sebuah ruko di
kawasan bisnis Pasar Tanah Abang Jakarta.
Naluri bisnis Yoga makin terasah seiring dengan
perjaanan waktu. Dia sadar bahwa ketajaman naluri
bisnis yang bagus tidak dapat diraih dalam waktu
singkat. Sebagai wirausahawan, dia berusaha untuk
terus mengasah ketajaman naluri tersebut agar bisa
mengambil keputusan bisnis dengan tepat.
Menurut Yoga, dalam dunia wiraswasta, seorang
pengusaha tidak hanya bersaing dengan
perusahaan sejenis, tetapi juga harus bersaing
dengan keadaan dan situasi tertentu. Mulai dari
kondisi makro ekonomi, suhu politik, perubahan
kebijakan pemerintah dan sebagainya. Agar dapat
mengantisipasi setiap perkembangan yang mungkin
terjadi, seorang pengusaha perlu terus melatih naluri
kewirausahaannya,agar selalu siap
menghadapi kondisi apapun.
Seorang pengusaha perlu menyadani sepenuhnya
bahwa ketika memutuskan untuk menjadi pengusaha,
maka cara berpikir, berbicara, maupun bertindak
harus mencerminkan seorang pengusaha sejati.
Makin lama menekuni dunia wirausaha, makin
banyak pengalaman yang didapat, dan tentu makin tajamlah
nalurinya. Bagi Yoga, belajar bagi seorang pengusaha tidak
mengenal usia. Belajar bisa dilakukan setiap
saat, kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa
saja. Langsung terjun menjalankan bisnis juga
merupakan pembelajaran bisnis yang paling nyata.
Ketika sudah terjun langsung, informasi dan
pengetahuan yang terkait akan mengalir seperti air.
Apalagi jika didukung dengan banyak membaca buku
dan bergabung dengan komunitas pengusaha.
Sebagai pengusaha pemula, dengan cara belajar
tersebut, Yoga merasa lebih mudah mendapatkan
berbagai ilmu bisnis praktis yang dibutuhkannya.
“Kita dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman
diri kita sendiri maupun dari pengalaman
orang lain, ungkap pemuda yang baru berusia 28
tahun ini. Belajar dari kesalahan dan pengalaman
orang lain adalah cara belajar yang paling mudah
dan murah. Walaupun pengalaman orang lain
tersebut mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi kita.
Belajar memang tidak pernah ada ruginya.
Seberapa besar pun biaya yang telah dikeluarkan.
Bila kita tidak belajar, biaya yang dikeluarkan untuk
sebuah pengalaman buruk pastilah akan jauh lebih
mahal dan menyakitkan. Yoga memang bukan yang
pertama dalam bisnis ini, tapi dia berusaha untuk
menjadi yang terbaik. Dalam perjalanan menuju ke
sana, dia pun tidak takut untuk tampil berbeda dengan yang lain.
Kesuksesan Yoga dalam mengembangkan diri
dan bisnisnya tidak lepas dari peran serta
keluarganya. Yoga sangat berterima kasih atas
dukungan yang luar biasa dari seluruh keluarga dan
calon istrinya. “Tanpa mereka, saya tidak bisa
seperti sekarang ini”, kata Yoga mengungkapkan
apresiasi untuk keluarganya.
Dari Buku: Rahasia jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Ari Bayat, Sejak Kecil Sudah Suka Berdagang, Kini Sukses Terjun di Bisnis Mainan Edukatif
Bermain memang menjadi dunia yang
menyenangkan bagi anak-anak. Dengan bermain, anak-anak sering kali mampu
mengetahui segala hal yang berada di sekitarnya. Mereka
kemudian secara kritis bertanya mengenai berbagai
hal yang baru diketahuinya. Dengan suasana yang
gembira ini, anak-anak akan dengan mudah
menerima ilmu. Pengetahuan mereka pun bertambah
dengan sangat cepat.
Kecintaan pada dunia anak-anak inilah yang
mengiihami Ari Bayat untuk terjun dalam bisnis
mainan edukatif. Berkat kegigihannya, pria kelahiran
Kiaten, Jawa Tengah ini, sedikit demi sedikit mulai
menikmati jerih payahnya dalam bisnis. Dengan
memakai bendera bisnis Arba Makmur, berbagai
produk mainan edukatif yang dibuatnya kini telah
menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Bisnis ini dimulai Ari ketika masih aktif bekerja
di sebuah bank swasta nasional. Setiap Sabtu Ari
selalu berkeliling menawarkan mainan edukatif ini ke
berbagai playgroup dan Taman Kanak-Kanak yang
ada di sekitar indekosnya. Dia pun melakukan
pendataan nama kepala sekolah, alamat, serta
contact person yang bisa dihubungi. Begitu
informasi tersebut didapatnya, dia langsung
menelepon mereka satu per satu.
Dari situlah Ari bisa mengetahui bahwa ternyata respons dan animo
masyarakat terhadap maman edukatif ini sangat tinggi.
Bahkan, Ari sering merasa kewalahan dalam memenuhi permintaan
mereka karena produsen mainan edukatif yang
dipasarkannya cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Kondisi kewalahan itulah yang membuat Ari
berpikir untuk memproduksi aneka mainan edukatif
sendiri. Dia pun mulai menabung untuk mewujudkan
keinginannya. Setelah menikah, Ari pindah ke
daerah Taman Mini, Jakarta Timur.
Selain faktor udara yang menurutnya masih
sejuk, dia pilih daerah itu karena dekat keramaian
dan Asrama Haji Pondok Gede. Dia sering melihat
berbagai acara yang diselenggarakan di sana. Salah
satunya adalah acara manasik haji yang selalu
ramai dan diikuti oleh berbagai siswa Taman
Kanak-Kanak dari berbagai sekolah. Dia berpikir
bahwa bisnis mainan edukatifnya pasti akan bisa
berkembang jika berhasil membidik target market
yang cukup besar.
Ari pun mulai sering berjualan di daerah Taman
Mini dan Asrama Haji. Pelanggannya sedikit demi
sedikit terus bertambah. Produknya pun mulai
dikenal di daerah tersebut. Pada 2004, Ari
memberanikan diri mengajukan pinjaman ke bank
untuk membuat workshop, dan membeli berbagai
mesin guna memproduksi berbagai jenis mainan
edukatif. Dalam dua tahun, pesanan yang
diterimanya terus meningkat. Kini Ari sudah
mempunyai empat orang karyawan. Dia pun sudah
mempunyai rencana jangka panjang untuk
memperluas workshop yang sudah ada.
Sampai saat ini, produk mainan edukatif yang
dibuatnya lebih banyak menggunakan bahan baku
kayu dan triplek. Ari kemudian memprosesnya
dengan mesin-mesin yang dimodifikasi sendiri
karena keterbatasan modal. Yang penting baginya,
kualitas tetap terjaga dengan baik dan produksi
bisa berjalan terus. Sambil jalan dia terus
mengumpulkan dana untuk menyempurnakan
mesin-mesin yang sudah ada.
Berbagai koleksi Arba Makmur ditujukan untuk
kalangan anak, mulai usia dua tahun hingga
sembilan tahun. Mulai kebutuhan untuk playgroup,
TK, dan keperluan anak autis. Ide desain sering Ari
dapatkan dari berbagai pameran, toko mainan
maupun browsing di Internet. Dia pun tidak
segan-segan untuk menjalankan prinsip ATM
(Amati, Tiru, Modifikasi).
Dari berbagai produk yang dihasilkannya, Ari
berusaha untuk menjadi salah satu pemain yang
diperhitungkan oleh seluruh pesaing. Pemasaran
produk ini pun sebetulnya relatif mudah karena
segmennya jelas. Dia membagi produknya dalam
dua segmen pasar yang berbeda, yaitu produk
untuk segmen menengah atas dan menengah
bawah.
Strategi pemasaran dan harga yang diterapkannya pun
berbeda mengikuti preferensi
konsumennya. Untuk menjangkau pasar, jenis
produk yang telah dihasilkannya sendiri antara lain
berbagai alat peraga edukatif, balok bangunan,
puzzle, maze, hammer, panggung boneka, dan
berbagai alat rumah tangga.
selama di dunia ini pernikahan masih di
halalkan, bisnis ini akan selalu hidup dan
berkembang, kata Ari dengan optimis.
Bisnis mainan edukatif ini biasanya sangat
ramai pada bulan Mei hingga Agustus. Setelah itu,
penjualannya akan turun sehingga Ari harus pandai
mencari peluang lain. Untuk itu, dia juga
memproduksi kerajinan kayu seperti tatakan piring,
gantungan cangkir, gantungan baju, box bayi, kursi,
dan meja anak, dan aneka produk dari kayu lainnya.
dengan strategi itu, Arba Makmur tetap terus eksis
dan bisa selalu mempersiapkan stok untuk
menyambut tahun ajaran baru papar pria yang
punya misi mewujudkan dunia belajar yang
menyenangkan ini. Bisnis di bidang ini
memang harus selalu kreatif, inovatif, dan
pandai melihat peluang.
Jika ada ide, renungkan,dan langsung jalankan.
Karena banyak orang yang punya pikiran sama
dengan kita. Hanya orang yang berani actionlah
yang akan mengambil peluang itu, ujar pria
kelahiran 25 Juli 1975 ini.
Melalui mainan edukatif, Ari ingin membantu
anak-anak menumbuhkan kepercayaan diri mereka.
Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh
orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukan
dalam perkembangannya menjadi dewasa. Untuk
anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka
mampu mengatasi tekanan, dan penolakan dari
teman-teman sebayanya.
Anak yang percaya diri mempunyai perangkat
yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit,
dan berani minta bantuan jika mereka
memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru
mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat
orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka
tidak takut untuk berprestasi dan menunjukkan
bahwa mereka memang kreatif.
Kegigihan bisnis Ari memang tidak lepas dari
gemblengan masa kecil yang dilaluinya. Jiwa
entrepreneurship secara tidak sadar rupanya telah
tertanam dalam dirinya. Pada usia sepuluh tahun,
Ari sudah berjualan es lilin pada musim sadranan
(ruwahan) di daerah asalnya. Ada perasaan bangga
dan senang ketika dagangannya laku saat itu.
Di sela-sela hiburan panjang waktu SMP, Ari
memanfaatkannya untuk mencetak bata merah.
Begitu bangun pagi, dia langsung bergulat dengan
tanah dan mengaduk-aduknya hingga menjadi
adonan lumpur. Adonan tersebut kemudian dia
cetak menjadi batu bata yang siap dibakar. Jika
hasil cetakannya bagus, banyak yang mau membeli.
Hasil jerih payah selama liburan sekolah tersebut
biasanya bisa untuk membeli sepatu atau sisanya
buat sekadar uang jajan.
Saat hiburan SMA, Ari tidak malu berjualan es
krim dengan berkeliling dari gang ke gang, dari
kampung ke kampung, di daerah Makam Haji dan
Jongke di Kota Solo. Dia biasa bangun pagi sebelum
subuh, merebus air, memarut kelapa dan
memprosesnya menjadi es krim, serta menjualnya
hingga jam sembilan malam. sungguh sepenggal
penjalanan hidup yang sangat berkesan, padahal
saat itu saya tidak disuruh orangtua. Semua itu
saya lakukan karena niat saya yang kuat untuk bisa
mandiri, ujar Ari mengenang.
Kegemaran menjual ini kemudian menghiasi dan
mengisi hari-harinya saat menyelesaikan kuliah.
Mulai dari menjual soal-soal ujian masuk perguruan
tinggi, mengoordinasi fotokopi buat satu kelas,
menjual minuman saat pendaftaran mahasiswa
baru, menjual minyak wangi, dan sebagainya.
Baginya, kegiatan tersebut sangat menyenangkan.
Dengan berjualan, dia bisa menambah teman,
dan yang jelas bisa mendapatkan uang untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri. Sayangnya, Ari
mengakui bahwa kegiatan bisnis kecil-kecilan
tersebut tidak dia tekuni dengan serius, karena
masih memikirkan kuliah dan harus segera lulus.
Berhubung Ari kuliah di jurusan perbankan, pada
saat itu yang tertancap dalam pikirannya setelah
lulus adalah bekerja di bank.
Ari berhasil menyelesaikan kuliah dengan susah
payah dan diwisuda pada akhir 1997. Dalam kondisi
ekonomi yang sangat tidak mendukung, karena
krisis ekonomi, Ari tetap berusaha mengirimkan
lamaran kerja ke berbagai bank di Kota Solo, Yogya,
dan Semarang. Sambil menunggu panggilan, dia ikut
bekerja dalam sebuah proyek perumahan di Yogya.
Penantiannya selama enam bulan ternyata tidak
menghasilkan panggilan sama sekali. Sempat muncul
ide untuk menjadi agen koran di suatu daerah.
Namun sayang, di samping tidak ada modal, dia
juga masih ragu untuk terjun sebagai wirausaha.
Akhirnya pada suatu hari, Ari memutuskan
untuk merantau ke Jakarta. Dengan bermodalkan
semangat yang tinggi, walaupun masih dalam
kondisi krisis ekonomi, dia mulai bergerilya
memasukkan lamaran dari pintu ke pintu. Akhirnya,
pada November 1998, Ari diterima bekerja di sebuah
bank swasta setelah lolos serangkaian tes.
Di bank swasta tersebut, Ari bekerja di pusat
data kredit. Pertengahan 2000 dia pindah ke
cabang Podomoro. Di sinilah hobi berjualannya
muncul dan membara kembali karena didukung
dengan kondisi kantor yang strategis, dekat dengan
pabrik yang mempunyai ribuan karyawan. Dia
berjualan keripik belut, batik solo, jagung turbo, dan
sebagainya. Hingga dia bisa mengambil kredit
sepeda motor. Pada akhirnya, Ari harus memilih
untuk keluar dari bank karena proses merger yang
terjadi saat itu.
Ari sangat bersyukur bahwa kini usaha yang
dirintisnya sudah membuahkan hasil. Walaupun
menghadapi berbagai kendala yang datang silih
berganti, namun dia tetap melangkah dengan
optimistis dan semangat yang tinggi. Kendala yang
dihadapinya mulai dari masalah sumber daya
manusia, permodalan, dan pemasaran. Berbagai
kendala tersebut, justru membuat Ari merasa
semakin tertantang untuk selalu mengatasinya
dengan baik. Dia mempunyai suatu keyakinan
bahwa semua kendala bisa diatasi dengan sikap
yang jernih dan berpikir positif.
Sikap optimistis yang didukung dengan
pengetahuan yang baik akan mengarahkan
seseorang kepada kesuksesan.
Keberhasilan Ari dalam mengembangkan
bisnisnya selama ini, juga tidak lepas dari
kegemarannya untuk selalu belajar. Seperti
membaca buku yang menjadi salah satu
kegemarannya sejak dulu. Selain itu, dia juga
memberikan apresiasi yang tinggi atas dukungan
teman-temannya yang sangat berarti dan selalu
mau diajak berbagi.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
menyenangkan bagi anak-anak. Dengan bermain, anak-anak sering kali mampu
mengetahui segala hal yang berada di sekitarnya. Mereka
kemudian secara kritis bertanya mengenai berbagai
hal yang baru diketahuinya. Dengan suasana yang
gembira ini, anak-anak akan dengan mudah
menerima ilmu. Pengetahuan mereka pun bertambah
dengan sangat cepat.
Kecintaan pada dunia anak-anak inilah yang
mengiihami Ari Bayat untuk terjun dalam bisnis
mainan edukatif. Berkat kegigihannya, pria kelahiran
Kiaten, Jawa Tengah ini, sedikit demi sedikit mulai
menikmati jerih payahnya dalam bisnis. Dengan
memakai bendera bisnis Arba Makmur, berbagai
produk mainan edukatif yang dibuatnya kini telah
menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Bisnis ini dimulai Ari ketika masih aktif bekerja
di sebuah bank swasta nasional. Setiap Sabtu Ari
selalu berkeliling menawarkan mainan edukatif ini ke
berbagai playgroup dan Taman Kanak-Kanak yang
ada di sekitar indekosnya. Dia pun melakukan
pendataan nama kepala sekolah, alamat, serta
contact person yang bisa dihubungi. Begitu
informasi tersebut didapatnya, dia langsung
menelepon mereka satu per satu.
Dari situlah Ari bisa mengetahui bahwa ternyata respons dan animo
masyarakat terhadap maman edukatif ini sangat tinggi.
Bahkan, Ari sering merasa kewalahan dalam memenuhi permintaan
mereka karena produsen mainan edukatif yang
dipasarkannya cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Kondisi kewalahan itulah yang membuat Ari
berpikir untuk memproduksi aneka mainan edukatif
sendiri. Dia pun mulai menabung untuk mewujudkan
keinginannya. Setelah menikah, Ari pindah ke
daerah Taman Mini, Jakarta Timur.
Selain faktor udara yang menurutnya masih
sejuk, dia pilih daerah itu karena dekat keramaian
dan Asrama Haji Pondok Gede. Dia sering melihat
berbagai acara yang diselenggarakan di sana. Salah
satunya adalah acara manasik haji yang selalu
ramai dan diikuti oleh berbagai siswa Taman
Kanak-Kanak dari berbagai sekolah. Dia berpikir
bahwa bisnis mainan edukatifnya pasti akan bisa
berkembang jika berhasil membidik target market
yang cukup besar.
Ari pun mulai sering berjualan di daerah Taman
Mini dan Asrama Haji. Pelanggannya sedikit demi
sedikit terus bertambah. Produknya pun mulai
dikenal di daerah tersebut. Pada 2004, Ari
memberanikan diri mengajukan pinjaman ke bank
untuk membuat workshop, dan membeli berbagai
mesin guna memproduksi berbagai jenis mainan
edukatif. Dalam dua tahun, pesanan yang
diterimanya terus meningkat. Kini Ari sudah
mempunyai empat orang karyawan. Dia pun sudah
mempunyai rencana jangka panjang untuk
memperluas workshop yang sudah ada.
Sampai saat ini, produk mainan edukatif yang
dibuatnya lebih banyak menggunakan bahan baku
kayu dan triplek. Ari kemudian memprosesnya
dengan mesin-mesin yang dimodifikasi sendiri
karena keterbatasan modal. Yang penting baginya,
kualitas tetap terjaga dengan baik dan produksi
bisa berjalan terus. Sambil jalan dia terus
mengumpulkan dana untuk menyempurnakan
mesin-mesin yang sudah ada.
Berbagai koleksi Arba Makmur ditujukan untuk
kalangan anak, mulai usia dua tahun hingga
sembilan tahun. Mulai kebutuhan untuk playgroup,
TK, dan keperluan anak autis. Ide desain sering Ari
dapatkan dari berbagai pameran, toko mainan
maupun browsing di Internet. Dia pun tidak
segan-segan untuk menjalankan prinsip ATM
(Amati, Tiru, Modifikasi).
Dari berbagai produk yang dihasilkannya, Ari
berusaha untuk menjadi salah satu pemain yang
diperhitungkan oleh seluruh pesaing. Pemasaran
produk ini pun sebetulnya relatif mudah karena
segmennya jelas. Dia membagi produknya dalam
dua segmen pasar yang berbeda, yaitu produk
untuk segmen menengah atas dan menengah
bawah.
Strategi pemasaran dan harga yang diterapkannya pun
berbeda mengikuti preferensi
konsumennya. Untuk menjangkau pasar, jenis
produk yang telah dihasilkannya sendiri antara lain
berbagai alat peraga edukatif, balok bangunan,
puzzle, maze, hammer, panggung boneka, dan
berbagai alat rumah tangga.
selama di dunia ini pernikahan masih di
halalkan, bisnis ini akan selalu hidup dan
berkembang, kata Ari dengan optimis.
Bisnis mainan edukatif ini biasanya sangat
ramai pada bulan Mei hingga Agustus. Setelah itu,
penjualannya akan turun sehingga Ari harus pandai
mencari peluang lain. Untuk itu, dia juga
memproduksi kerajinan kayu seperti tatakan piring,
gantungan cangkir, gantungan baju, box bayi, kursi,
dan meja anak, dan aneka produk dari kayu lainnya.
dengan strategi itu, Arba Makmur tetap terus eksis
dan bisa selalu mempersiapkan stok untuk
menyambut tahun ajaran baru papar pria yang
punya misi mewujudkan dunia belajar yang
menyenangkan ini. Bisnis di bidang ini
memang harus selalu kreatif, inovatif, dan
pandai melihat peluang.
Jika ada ide, renungkan,dan langsung jalankan.
Karena banyak orang yang punya pikiran sama
dengan kita. Hanya orang yang berani actionlah
yang akan mengambil peluang itu, ujar pria
kelahiran 25 Juli 1975 ini.
Melalui mainan edukatif, Ari ingin membantu
anak-anak menumbuhkan kepercayaan diri mereka.
Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh
orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukan
dalam perkembangannya menjadi dewasa. Untuk
anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka
mampu mengatasi tekanan, dan penolakan dari
teman-teman sebayanya.
Anak yang percaya diri mempunyai perangkat
yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit,
dan berani minta bantuan jika mereka
memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru
mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat
orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka
tidak takut untuk berprestasi dan menunjukkan
bahwa mereka memang kreatif.
Kegigihan bisnis Ari memang tidak lepas dari
gemblengan masa kecil yang dilaluinya. Jiwa
entrepreneurship secara tidak sadar rupanya telah
tertanam dalam dirinya. Pada usia sepuluh tahun,
Ari sudah berjualan es lilin pada musim sadranan
(ruwahan) di daerah asalnya. Ada perasaan bangga
dan senang ketika dagangannya laku saat itu.
Di sela-sela hiburan panjang waktu SMP, Ari
memanfaatkannya untuk mencetak bata merah.
Begitu bangun pagi, dia langsung bergulat dengan
tanah dan mengaduk-aduknya hingga menjadi
adonan lumpur. Adonan tersebut kemudian dia
cetak menjadi batu bata yang siap dibakar. Jika
hasil cetakannya bagus, banyak yang mau membeli.
Hasil jerih payah selama liburan sekolah tersebut
biasanya bisa untuk membeli sepatu atau sisanya
buat sekadar uang jajan.
Saat hiburan SMA, Ari tidak malu berjualan es
krim dengan berkeliling dari gang ke gang, dari
kampung ke kampung, di daerah Makam Haji dan
Jongke di Kota Solo. Dia biasa bangun pagi sebelum
subuh, merebus air, memarut kelapa dan
memprosesnya menjadi es krim, serta menjualnya
hingga jam sembilan malam. sungguh sepenggal
penjalanan hidup yang sangat berkesan, padahal
saat itu saya tidak disuruh orangtua. Semua itu
saya lakukan karena niat saya yang kuat untuk bisa
mandiri, ujar Ari mengenang.
Kegemaran menjual ini kemudian menghiasi dan
mengisi hari-harinya saat menyelesaikan kuliah.
Mulai dari menjual soal-soal ujian masuk perguruan
tinggi, mengoordinasi fotokopi buat satu kelas,
menjual minuman saat pendaftaran mahasiswa
baru, menjual minyak wangi, dan sebagainya.
Baginya, kegiatan tersebut sangat menyenangkan.
Dengan berjualan, dia bisa menambah teman,
dan yang jelas bisa mendapatkan uang untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri. Sayangnya, Ari
mengakui bahwa kegiatan bisnis kecil-kecilan
tersebut tidak dia tekuni dengan serius, karena
masih memikirkan kuliah dan harus segera lulus.
Berhubung Ari kuliah di jurusan perbankan, pada
saat itu yang tertancap dalam pikirannya setelah
lulus adalah bekerja di bank.
Ari berhasil menyelesaikan kuliah dengan susah
payah dan diwisuda pada akhir 1997. Dalam kondisi
ekonomi yang sangat tidak mendukung, karena
krisis ekonomi, Ari tetap berusaha mengirimkan
lamaran kerja ke berbagai bank di Kota Solo, Yogya,
dan Semarang. Sambil menunggu panggilan, dia ikut
bekerja dalam sebuah proyek perumahan di Yogya.
Penantiannya selama enam bulan ternyata tidak
menghasilkan panggilan sama sekali. Sempat muncul
ide untuk menjadi agen koran di suatu daerah.
Namun sayang, di samping tidak ada modal, dia
juga masih ragu untuk terjun sebagai wirausaha.
Akhirnya pada suatu hari, Ari memutuskan
untuk merantau ke Jakarta. Dengan bermodalkan
semangat yang tinggi, walaupun masih dalam
kondisi krisis ekonomi, dia mulai bergerilya
memasukkan lamaran dari pintu ke pintu. Akhirnya,
pada November 1998, Ari diterima bekerja di sebuah
bank swasta setelah lolos serangkaian tes.
Di bank swasta tersebut, Ari bekerja di pusat
data kredit. Pertengahan 2000 dia pindah ke
cabang Podomoro. Di sinilah hobi berjualannya
muncul dan membara kembali karena didukung
dengan kondisi kantor yang strategis, dekat dengan
pabrik yang mempunyai ribuan karyawan. Dia
berjualan keripik belut, batik solo, jagung turbo, dan
sebagainya. Hingga dia bisa mengambil kredit
sepeda motor. Pada akhirnya, Ari harus memilih
untuk keluar dari bank karena proses merger yang
terjadi saat itu.
Ari sangat bersyukur bahwa kini usaha yang
dirintisnya sudah membuahkan hasil. Walaupun
menghadapi berbagai kendala yang datang silih
berganti, namun dia tetap melangkah dengan
optimistis dan semangat yang tinggi. Kendala yang
dihadapinya mulai dari masalah sumber daya
manusia, permodalan, dan pemasaran. Berbagai
kendala tersebut, justru membuat Ari merasa
semakin tertantang untuk selalu mengatasinya
dengan baik. Dia mempunyai suatu keyakinan
bahwa semua kendala bisa diatasi dengan sikap
yang jernih dan berpikir positif.
Sikap optimistis yang didukung dengan
pengetahuan yang baik akan mengarahkan
seseorang kepada kesuksesan.
Keberhasilan Ari dalam mengembangkan
bisnisnya selama ini, juga tidak lepas dari
kegemarannya untuk selalu belajar. Seperti
membaca buku yang menjadi salah satu
kegemarannya sejak dulu. Selain itu, dia juga
memberikan apresiasi yang tinggi atas dukungan
teman-temannya yang sangat berarti dan selalu
mau diajak berbagi.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Agus Ali, Semula IT Manager Lalu Berani Keluar dari Comfort Zone, Kini Jadi Pengusaha Sukses
Meski dibesarkan dalam keluarga pegawai dan
sekian tahun bekerja sebagai profesional, Agus
Ali kini justru tampak sangat menikmati perannya
sebagai pengusaha. Kiprah Agus Ali sebagai
pengusaha, tepatnya dimulai pada 19 Januari 2007.
Saat itu adalah hari terakhir bagi Agus, demikian dia
akrab disapa, menyandang status sebagai
karyawan pada sebuah perusahaan Jepang,
tempatnya bekerja selama 13 tahun terakhir.
Keputusan Agus untuk terjun 100% sebagai
pengusaha tentu telah melalui pertimbangan yang
matang. Hal ini mengingat bahwa sebelumnya dia
sudah mencoba untuk hidup di dua alam (amfibi),
alias menjadi karyawan sekaligus pengusaha. Dia
pun pernah membangun beberapa bisnis, di
antaranya bisnis konveksi dan membuka toko di ITC
Mangga Dua. Sayangnya, beberapa bisnis yang
pernah dirintisnya belum berhasil seperti yang dia
harapkan. Namun, Agus tidak pernah menyerah dan
terus mencari peluang bisnis yang paling cocok dan
pas buat dirinya.
Pada awal 2007, Agus membuat keputusan berani dengan mengepakkan sayap
bisnis yang berhubungan dengan otomotif. Bersama seorang
partner, dia mengajukan diri sebagai franchisee
dengan membuka Autobridal 32 di daerah Cipinang,
Jakarta. Sampai saat ini bisnisnya masih berjalan
dan terus menunjukkan perkembangan yang baik.
Saat ini, bersama partnernya juga, Agus
mengembangkan bisnis dalam bidang pelatihan dan
konsultan dalam bidang teknologi informasi. Pada
bisnis IT ini, Agus seperti benar-benar menemukan
passionnya sehingga dia sangat menikmati ketika
harus terjun langsung ke lapangan.
Berlabuh pada bisnis IT, panggilan jiwanya ini,
tentu tidak lepas dari pekerjaan dia sebelumnya
yang menggeluti dunia IT selama 13 tahun. Bahkan,
ketika ada kesempatan sekolah lagi pada jenjang
pascasarjana, Agus juga mengambil program bidang
IT. Walaupun sempat mencoba berbagai macam
bisnis yang lain, Agus menyimpulkan bahwa
ternyata kehidupannya tidak jauh dari dunia IT.
Agus Ali mengakui, tidak mudah baginya untuk
keluar dan comfort zone. Ketika menjabat sebagai
manajer IT, semuanya serba terlayani. Setelah
keluar dari pekerjaan, dia harus melayani diri sendiri
dan tentu saja dengan biaya sendiri. Hal ini harus
dilakukannya ketika harus “kelayapan”, untuk
bertemu dengan berbagai kalangan, seperti
investor, pejabat, media, dan lainnya.
Namun, ternyata efek yang didapat setelah
keluar dari zona nyaman tersebut luar biasa.
Semuanya seakan mengalir begitu saja. Banyak
kejutan baru yang justru memberikan banyak
manfaat dan pelajaran baginya. Hal-hal yang
pernah dia rencanakan memang ada yang gagal,
tetapi dari kegagalan itulah, justu dia mendapat
jaringan dan hal-hal baru yang lebih dahsyat. Agus
semakin meyakini sebuah ungkapan yang sering
diutarakan para motivator bahwa untuk sukses,
seseorang memang harus berani keluar dari zona
nyamannya.
Proses menjadi pengusaha bagi Agus merupakan pengalaman yang luar biasa.
Untuk itulah dia selalu menikmati setiap proses yang dilaluinya.
Sebagai orang yang sangat menghargai sebuah
proses. Agus menekankan pentingnya melalui
berbagai tahapan untuk mencapai hasil. Kalau
diibaratkan sebuah proyek manajemen, apa pun
yang akan dilakukan tentu melewati sebuah proses,
mulai dari inisiasi, start, implementasi, review, dan
finish.
Mengenai hasilnya, kalau ada masalah pada hasil
akhir berarti ada masalah pada prosesnya. Proses
itulah yang harus diperbaiki lebih dulu. Hasil akan baik
bila prosesnya juga baik.
Jadi, kalau hasilnya balk tetapi prosesnya tidak
balk, ini hanya untung-untungan saja. Jika mau
berhasil menjadi pengusaha, seluruh langkah menuju
ke arah sana juga harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Knowledge is not power without action plus
brilliant idea, Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi
kekuatan bila tidak disertai dengan tindakan konkrit
plus ide yang brilian. ujar pria yang suka bercanda
ini. Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi sebuah
power yang dahsyat, jika hanya sekadar dibaca
namun tidak diaplikasikan.
Pengetahuan tanpa action memang akan
percuma. Namun, pengetahuan dengan action saja
pun tidak akan menghasilkan power yang dahsyat
bila tidak diikuti ide brilian. Pengetahuan dengan
action bisa dikatakan hanya sebatas proses amati
dan tiru. Bila menghasilkan ide brilian dan
menerapkannya, akan lengkaplah prinsip dalam
bisnis yang disebut ATM (Amati, Tiru, dan
Modifikasi).
Agus pun menyarankan bagi yang telah membaca buku atau ikut pelatihan
kewirausahaan, agar segera mempraktikkannya. Dengan mempraktikkan
ilmu dalam bisnis sendiri, berbagai ide brilian pasti
akan terus bermunculan, kata Agus meyakinkan.
Namun begitu, Agus juga menekankan penting
nya para pebisnis pemula mempunyai persiapan.
Jangan lompat ke batu yang rapuh, nanti bisa
terpeleset dan jatuh, kata Agus dengan bahasa
kiasan. Batu yang rapuh itu belum bisa dijadikan
pegangan, belum kokoh dan kuat. Para pebisnis
perlu memastikan juga batu tersebut cukup kokoh
dan kuat sebelum melompat di atasnya.
Pemaparan Agus tentang fenomena pindah
kuadran dari karyawan ke pengusaha ini didasarkan
pada pengalamannya sendiri. Saat pertama kali,
berhubung pijakan batu yang tidak kuat, Agus
sempat terpeleset dan merasakan jatuh bangun.
Namun, dia masih beruntung karena bisa cepat
bangkit. Agus pun kembali meneruskan “berenang”
sambil terus membuat fondasi yang Iebih kuat.
Sampai sekarang dia sudah berpijak pada fondasi
itu. Agus terus fokus untuk menguatkan
fondasinya, karena dia yakin dengan bertambahnya
pengalaman dan dukungan teman-teman, serta
network yang besar, fondasi yang Iebih kuat bisa
dia susun.
Secara pribadi, Agus kurang setuju dengan
pendapat yanq menyatakan bahwa kalau mau pindah kuadran, sebaiknya
langsung nyemplung begitu saja, karena nanti
pasti akan dapat ilmunya.
Menurut Agus, bagaimana pun berpindah kuadran dari karyawan ke pengusaha
membutuhkan persiapan yang tidak sederhana.
Terutama persiapan mindset dan mental.
Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya
fokus dalam bidang bisnis yang dipilih. Dia sendiri
mempunyai pengalaman soal ini. Agus pernah
serakah dengan menjalani bisnis ini dan itu, namun
hasilnya malah tidak ada yang fokus dan bisnis
gagal satu per satu. Semua rencana jadi
berantakan. Modal jauh berkurang. Tenaga juga
terkuras habis. Namun, anehnya justru yang tidak
direncanakan malah ada yang berhasil.
Dengan latar belakang S2 dalam bidang IT dari
sebuah universitas ternama, dan memegang
sertifikasi internasional, Project Management, Agus
Ali kini juga mengajar berbagai kelas pelatihan untuk
materi IT Project Management dan IT Quality Assurance.
Ketika ditanya mengenai fllosofi work hard,
pray hard, dan play hard, Agus menjelaskan bahwa
kerja keras sudah tertanam sejak dia masuk kerja di
perusahaan Jepang. Dengan metode kerja sampai
‘mati’ saya di tempa habis-habisan selama 13
tahun, paparnya. Hasilnya badan Agus terasa
pegal-pegal kalau tidak melakukan aktivitas.
Otaknya serasa tumpul kalau tidak dipakai.
Terhadap work hard yang dia lakukan ter
hadap bisnisnya, Agus merasa hal itu bukanlah work
hard. Karena dia melakukannya dengan enjoy
sebagai hobi dan bukan kewajiban. Setelah work
hard, dia juga pray hard, dan play hard. Dia selalu
mengimbangi aktivitas bisnisnya dengan aktivitas
spiritual. Di sela-sela kesibukannya, Agus tetap
menyempatkan din untuk bermain tenis atau
badminton yang dilakukannya dua kali seminggu. Di
samping itu, dia juga selalu menikmati waktu
bersama keluarga dengan jalan-jalan atau liburan ke
luar kota.
Menurut Agus, apa pun yang kita kerjakan harus dikejakan
dengan sungguh-sungguh, apakah itu
aktivitas bekeja, olahraga, istirahat, dan
sebagainya. Hasilnya otak dan badan kita bisa
memilah-milah kapan waktunya bekeja keras,
kapan waktunya bermain, dan kapan waktunya
beristirahat.
Agus berusaha menjalani hidup ini sesuai
dengan perasaannya,sesuai hatinya. Dulu saat
mempunyai karier bagus, gaji bagus, rumah tangga
bagus, aset mobil dan rumah bagus, dia masih
merasa hampa, karena sudah tidak ada tantangan
lagi. Kemudian setelah menjadi pengusaha, semua
serasa menjadi tantangan baginya.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
sekian tahun bekerja sebagai profesional, Agus
Ali kini justru tampak sangat menikmati perannya
sebagai pengusaha. Kiprah Agus Ali sebagai
pengusaha, tepatnya dimulai pada 19 Januari 2007.
Saat itu adalah hari terakhir bagi Agus, demikian dia
akrab disapa, menyandang status sebagai
karyawan pada sebuah perusahaan Jepang,
tempatnya bekerja selama 13 tahun terakhir.
Keputusan Agus untuk terjun 100% sebagai
pengusaha tentu telah melalui pertimbangan yang
matang. Hal ini mengingat bahwa sebelumnya dia
sudah mencoba untuk hidup di dua alam (amfibi),
alias menjadi karyawan sekaligus pengusaha. Dia
pun pernah membangun beberapa bisnis, di
antaranya bisnis konveksi dan membuka toko di ITC
Mangga Dua. Sayangnya, beberapa bisnis yang
pernah dirintisnya belum berhasil seperti yang dia
harapkan. Namun, Agus tidak pernah menyerah dan
terus mencari peluang bisnis yang paling cocok dan
pas buat dirinya.
Pada awal 2007, Agus membuat keputusan berani dengan mengepakkan sayap
bisnis yang berhubungan dengan otomotif. Bersama seorang
partner, dia mengajukan diri sebagai franchisee
dengan membuka Autobridal 32 di daerah Cipinang,
Jakarta. Sampai saat ini bisnisnya masih berjalan
dan terus menunjukkan perkembangan yang baik.
Saat ini, bersama partnernya juga, Agus
mengembangkan bisnis dalam bidang pelatihan dan
konsultan dalam bidang teknologi informasi. Pada
bisnis IT ini, Agus seperti benar-benar menemukan
passionnya sehingga dia sangat menikmati ketika
harus terjun langsung ke lapangan.
Berlabuh pada bisnis IT, panggilan jiwanya ini,
tentu tidak lepas dari pekerjaan dia sebelumnya
yang menggeluti dunia IT selama 13 tahun. Bahkan,
ketika ada kesempatan sekolah lagi pada jenjang
pascasarjana, Agus juga mengambil program bidang
IT. Walaupun sempat mencoba berbagai macam
bisnis yang lain, Agus menyimpulkan bahwa
ternyata kehidupannya tidak jauh dari dunia IT.
Agus Ali mengakui, tidak mudah baginya untuk
keluar dan comfort zone. Ketika menjabat sebagai
manajer IT, semuanya serba terlayani. Setelah
keluar dari pekerjaan, dia harus melayani diri sendiri
dan tentu saja dengan biaya sendiri. Hal ini harus
dilakukannya ketika harus “kelayapan”, untuk
bertemu dengan berbagai kalangan, seperti
investor, pejabat, media, dan lainnya.
Namun, ternyata efek yang didapat setelah
keluar dari zona nyaman tersebut luar biasa.
Semuanya seakan mengalir begitu saja. Banyak
kejutan baru yang justru memberikan banyak
manfaat dan pelajaran baginya. Hal-hal yang
pernah dia rencanakan memang ada yang gagal,
tetapi dari kegagalan itulah, justu dia mendapat
jaringan dan hal-hal baru yang lebih dahsyat. Agus
semakin meyakini sebuah ungkapan yang sering
diutarakan para motivator bahwa untuk sukses,
seseorang memang harus berani keluar dari zona
nyamannya.
Proses menjadi pengusaha bagi Agus merupakan pengalaman yang luar biasa.
Untuk itulah dia selalu menikmati setiap proses yang dilaluinya.
Sebagai orang yang sangat menghargai sebuah
proses. Agus menekankan pentingnya melalui
berbagai tahapan untuk mencapai hasil. Kalau
diibaratkan sebuah proyek manajemen, apa pun
yang akan dilakukan tentu melewati sebuah proses,
mulai dari inisiasi, start, implementasi, review, dan
finish.
Mengenai hasilnya, kalau ada masalah pada hasil
akhir berarti ada masalah pada prosesnya. Proses
itulah yang harus diperbaiki lebih dulu. Hasil akan baik
bila prosesnya juga baik.
Jadi, kalau hasilnya balk tetapi prosesnya tidak
balk, ini hanya untung-untungan saja. Jika mau
berhasil menjadi pengusaha, seluruh langkah menuju
ke arah sana juga harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Knowledge is not power without action plus
brilliant idea, Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi
kekuatan bila tidak disertai dengan tindakan konkrit
plus ide yang brilian. ujar pria yang suka bercanda
ini. Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi sebuah
power yang dahsyat, jika hanya sekadar dibaca
namun tidak diaplikasikan.
Pengetahuan tanpa action memang akan
percuma. Namun, pengetahuan dengan action saja
pun tidak akan menghasilkan power yang dahsyat
bila tidak diikuti ide brilian. Pengetahuan dengan
action bisa dikatakan hanya sebatas proses amati
dan tiru. Bila menghasilkan ide brilian dan
menerapkannya, akan lengkaplah prinsip dalam
bisnis yang disebut ATM (Amati, Tiru, dan
Modifikasi).
Agus pun menyarankan bagi yang telah membaca buku atau ikut pelatihan
kewirausahaan, agar segera mempraktikkannya. Dengan mempraktikkan
ilmu dalam bisnis sendiri, berbagai ide brilian pasti
akan terus bermunculan, kata Agus meyakinkan.
Namun begitu, Agus juga menekankan penting
nya para pebisnis pemula mempunyai persiapan.
Jangan lompat ke batu yang rapuh, nanti bisa
terpeleset dan jatuh, kata Agus dengan bahasa
kiasan. Batu yang rapuh itu belum bisa dijadikan
pegangan, belum kokoh dan kuat. Para pebisnis
perlu memastikan juga batu tersebut cukup kokoh
dan kuat sebelum melompat di atasnya.
Pemaparan Agus tentang fenomena pindah
kuadran dari karyawan ke pengusaha ini didasarkan
pada pengalamannya sendiri. Saat pertama kali,
berhubung pijakan batu yang tidak kuat, Agus
sempat terpeleset dan merasakan jatuh bangun.
Namun, dia masih beruntung karena bisa cepat
bangkit. Agus pun kembali meneruskan “berenang”
sambil terus membuat fondasi yang Iebih kuat.
Sampai sekarang dia sudah berpijak pada fondasi
itu. Agus terus fokus untuk menguatkan
fondasinya, karena dia yakin dengan bertambahnya
pengalaman dan dukungan teman-teman, serta
network yang besar, fondasi yang Iebih kuat bisa
dia susun.
Secara pribadi, Agus kurang setuju dengan
pendapat yanq menyatakan bahwa kalau mau pindah kuadran, sebaiknya
langsung nyemplung begitu saja, karena nanti
pasti akan dapat ilmunya.
Menurut Agus, bagaimana pun berpindah kuadran dari karyawan ke pengusaha
membutuhkan persiapan yang tidak sederhana.
Terutama persiapan mindset dan mental.
Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya
fokus dalam bidang bisnis yang dipilih. Dia sendiri
mempunyai pengalaman soal ini. Agus pernah
serakah dengan menjalani bisnis ini dan itu, namun
hasilnya malah tidak ada yang fokus dan bisnis
gagal satu per satu. Semua rencana jadi
berantakan. Modal jauh berkurang. Tenaga juga
terkuras habis. Namun, anehnya justru yang tidak
direncanakan malah ada yang berhasil.
Dengan latar belakang S2 dalam bidang IT dari
sebuah universitas ternama, dan memegang
sertifikasi internasional, Project Management, Agus
Ali kini juga mengajar berbagai kelas pelatihan untuk
materi IT Project Management dan IT Quality Assurance.
Ketika ditanya mengenai fllosofi work hard,
pray hard, dan play hard, Agus menjelaskan bahwa
kerja keras sudah tertanam sejak dia masuk kerja di
perusahaan Jepang. Dengan metode kerja sampai
‘mati’ saya di tempa habis-habisan selama 13
tahun, paparnya. Hasilnya badan Agus terasa
pegal-pegal kalau tidak melakukan aktivitas.
Otaknya serasa tumpul kalau tidak dipakai.
Terhadap work hard yang dia lakukan ter
hadap bisnisnya, Agus merasa hal itu bukanlah work
hard. Karena dia melakukannya dengan enjoy
sebagai hobi dan bukan kewajiban. Setelah work
hard, dia juga pray hard, dan play hard. Dia selalu
mengimbangi aktivitas bisnisnya dengan aktivitas
spiritual. Di sela-sela kesibukannya, Agus tetap
menyempatkan din untuk bermain tenis atau
badminton yang dilakukannya dua kali seminggu. Di
samping itu, dia juga selalu menikmati waktu
bersama keluarga dengan jalan-jalan atau liburan ke
luar kota.
Menurut Agus, apa pun yang kita kerjakan harus dikejakan
dengan sungguh-sungguh, apakah itu
aktivitas bekeja, olahraga, istirahat, dan
sebagainya. Hasilnya otak dan badan kita bisa
memilah-milah kapan waktunya bekeja keras,
kapan waktunya bermain, dan kapan waktunya
beristirahat.
Agus berusaha menjalani hidup ini sesuai
dengan perasaannya,sesuai hatinya. Dulu saat
mempunyai karier bagus, gaji bagus, rumah tangga
bagus, aset mobil dan rumah bagus, dia masih
merasa hampa, karena sudah tidak ada tantangan
lagi. Kemudian setelah menjadi pengusaha, semua
serasa menjadi tantangan baginya.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Ade, Mantan Manajer IT yang Sukses Lewat Bisnis Software Development ‘Jsoft’, Produknya Kini Sudah Menembus Mancanegara
Berbekal ketekunan dan semangat pantang
menyerah, Ade Aan Wirama memantapkan diri
terjun sebagai pengusaha dalam bisnis software
development. Bersama dua orang partner, dia
mendirikan perusahaan software development
dengan nama Jade Software Indonesia. Selain itu,
Ade juga memfokuskan diri pada jasa
pengembangan software untuk urusan logistik,
pembuatan program yang disesuaikan dengan
kebutuhan costumer.
Berkat profesionalisme yang tinggi, perusahaan
Jsoft Indonesia kini telah dikenal, terutama di dunia
logistik. Klien perusahaan ini pun tidak hanya dari
dalam negeri, bahkan sudah banyak yang berasal
dari luar negeri. Perusahaan yang mempunyai
alamat situs www.jsoftindonesia.com ini berkantor
di Kelapa Gading, Jakarta.
Beberapa software andalan Jsoft di antaranya
adalah J-Freight dan J-Repair. Software J-Freight
yang sangat dibutuhkan oleh dunia logistik tersebut
kini telah mendobrak pasar Jerman, Hongkong, dan
Singapura. Sedangkan software J-Repair kini
menjadi program standar untuk berbagai bengkel di
bawah salah satu grup terkenal yang mempunyai
anggota 200 bengkel.
Perjalanan Ade menjadi pengusaha di bidang ini,
dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk
mengundurkan diri dari sebuah perusahaan
pelayaran nasional pada awal 2000. Saat itu, dia
menjabat sebagai IT Manager dengan lima orang
staf IT dan sebelas staf EDP. Saat itu bisa dibilang
gaji Ade sudah cukup tinggi, selain menerima
fasilitas mobil dan notebook, dia juga mempunyai
hubungan yang sangat dekat dengan owner.
Dengan kenyamanan seperti itu, sangat wajar jika
banyak pihak yang menyayangkan bahkan
menentang keputusannya untuk mengundurkan diri,
termasuk orangtua dan mertua. Hanya istrinyalah
satu-satunya orang yang sangat mendukung
keputusannya saat itu.
Ade mulai berbisnis dengan modal keyakinan
yang kuat bahwa dia akan berhasil. Dia bahkan
memulainya tanpa mobil, notebook, atau komputer
yang bagi sebagian orang IT adalah salah satu
‘tangan’. Ade hanya mengandalkan sedikit
tabungannya yang masih tersisa. Selama empat
bulan pertama, dia telah menghabiskan sisa-sisa
tabungannya. Hingga akhirnya, dia memperoleh
proyek pertama berupa penjualan hardware dengan
keuntungan 10 juta.
Keuntungan tersebut langsung digunakannnya
sebagai modal membeli notebook. Berkat
ketekunannya, proyek berikutnya pun datang silih
berganti hingga akhirnya Ade bisa menyewa gedung
di Graha Kirana, Jakarta, lantai tujuh, dan
membawahkan tujuh orang karyawan.
Saat Ade mulai menikmati hasil perjuangannya,
tiba-tiba satu customer besamya menyatakan
bangkrut pada 2 Januari 2001. Imbasnya mereka
tidak bisa membayar tagihan penjualan komputer
dari perusahaan Ade sebesar 150 jutaan.
Customer-nya juga tidak bisa melunasi tunggakan
jasa lainnya yang nilainya ratusan juta. Sementara
saat itu, tidak ada satu pun aset yang bisa disita
karena sudah disita terlebih dahulu oleh perusahaan
lain yang juga memberikan kredit kepada
customer-nya. Karena manajemen yang belum
bagus, tingginya piutang yang tak tertagih,
akhirnya perusahaan Ade ikut bangkrut.
Sementara dia sendiri masih mempunyai utang
kepada supplier yang jumlahnya cukup besar.
Ade pun harus menerima kenyataan pahit ini
dengan lapang dada. Satu tahun setelah dia
memutuskan menjadi entrepreneur, kondisinya pada
saat itu seperti berbalik 180 derajat, dan secara
mendadak dia mempunyai utang sekitar 250 juta.
Saat itu benar-benar menjadi masa yang sulit
bagi Ade dan keluarganya. Karyawan dan
teman-teman yang dulu dekat dengannya tiba-tiba
seakan menjauh entah kenapa. Dalam kondisi
bangkrut, Ade juga masih harus berurusan dengan
kejaran para debt collector yang disewa para
suppliernya.
Ade pun menjual seluruh harta benda, mobil,
notebook, computer, dan handphone untuk
membayar sisa gaji karyawan dan sebagian utang.
Namun, dia tetap mempertahankan rumah untuk
keluarganya berteduh. Ade juga tidak pernah punya
niat untuk melarikan dir. Dia hadapi seluruh cacian,
telepon, surat, bahkan kedatangan 8 orang debt
collector dalam satu mobil kijang untuk menagih
utang. Dia hadapi semua itu dengan kebesaran jiwa
dan penuh ketabahan.
Namun, tidak ada satu pun di dunia ini yang
bisa menghalanginya untuk tetap hidup, tetap
bersemangat, dan tetap yakin bahwa dia bisa
menyelesaikan masalah yang menghimpitnya. Oleh
karena itu, dengan cobaan yang sangat berat
karena lilitan utang, Ade memberanikan diri
membuat proposal bisnis dan melamar kembali
menjadi profesional di sebuah grup perusahaan
ternama.
Ade selalu berkeyakinan bahwa Tuhan akan
memberikan yang terbaik buat hamba-Nya. Dia
yakin banyak hikmah dan pelajaran yang bisa
diambil dari peristiwa kebangkrutannya itu. Ade
sangat bersyukur bahwa dalam waktu satu bulan
setelah tragedi itu, dia bisa kembali bekerja sebagai
pimpinan pada sebuah perusahan consulting dalam
grup perusahaan ternama. Hasil dan bekerja
sebagai profesional, dia gunakan untuk melunasi
kewajiban secara bertahap, sambil terus melakukan
recovery terhadap perekonomian keluarganya.
Berkat prestasinya dalam mengelola perusahaan, Ade pun akhimya direkrut
sebuah perusahaan Swiss yang berbasis di Hongkong. Dia sempat
bekerja dan tinggal di Hongkong. Namun, jiwa
petualangan dan wirausaha yang mengalir dalam
dirinya, membuat Ade kembali tertantang untuk
menjadi pengusaha. Maka pada 2003, Ade kembali
memutuskan keluar dari perusahaan Swiss.
Walaupun saat itu, dia menerima gaji dalam dolar
dengan nilai yang cukup besar untuk ukuran
Indonesia.
Ade kembali dikatakan gila oleh kawan
kawan dekat, orangtua, dan mertuanya. Namun
sekali lagi, dukungan yang sangat besar diberikan
oleh istrinya. Dia begitu percaya bahwa Ade mampu
menjadi pengusaha. Apalagi waktu itu dia lebih siap
dengan modal seperti notebook, kendaraan, dana,
network dan sebagainya.
Kini, perusahaan yang didirikannya semakin
mantap melenggang sebagai pemain yang amat
diperhitungkan dalam bidang software
development, khususnya untuk dunia logistik.
Omzet semakin meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah customer. Apalagi Ade
berhasil melakukan negosiasi untuk bisa melakukan
pekerjaan secara remote sehingga pada saat yang
sama dia bisa melayani untuk banyak customer
sekaligus.
Ketika ditanya tentang lebih enak mana antara
menjadi karyawan atau pengusaha. Ade
menjelaskan dengan mengambil perbandingan satu
orang kawan yang paling bagus kondisinya, di
antara sekian banyak kawannya yang masih
menjadi karyawan hingga saat ini.
Saat pertama kali bekerja sebagai karyawan
sekian tahun yang lalu, kawannya itu memperoleh
gaji Rp500 ribu dan bisa menyuruh-nyuruh orang
karena grade-nya agak tinggi. Sementara Ade
hanya digaji Rp125 ribu, karena dia-lah orang yang
di suruh-suruh itu. Dua tahun kemudian, kawannya
naik pangkat menjadi manajer dengan gaji Rpl,5
juta dan dapat fasilitas inventaris mobil. Sementara
gaji Ade hanya naik hingga Rp750 ribu dan tetap
menjadi anak buahnya. Satu tahun kemudian, gaji
kawannya naik lagi menjadi dua juta, sementara
Ade harus pindah kerja supaya mendapatkan gaji
sebesar satu juta.
Lima tahun kemudian, kawannya tersebut masih menjadi karyawan sebagai IT
Manager di sebuah perusahaan Korea dengan 10 anak buah.
Sedangkan Ade sudah menjadi pengusaha dan
keluar dari kantor dengan jabatan IT Manager
dengan 16 anak buah. Selama empat bulan setelah
keluar kerja, Ade tidak mendapatkan income, dia
hanya mengandalkan hidup dan sisa-sisa
tabungannya. Padahal saat itu, dia baru punya
anak umur tiga bulan, baru pindah satu bulan dari
rumah mertua ke rumah sendiri, tidak ada mobil
atau motor, tidak ada komputer atau pun notebook.
Yang menjadi modalnya saat itu hanyalah planning
kerja sebagai wiraswasta, dan sebuah produk
software yang sudah jadi.
Empat bulan kemudian, kawannya masih menjadi karyawan sebagai IT Manager di
Perusahaan yang sama, sedangkan Ade telah mendapat proyek
pertama senilai RplOO juta. Keuntungan dari proyek
tersebut langsung dia jadikan untuk modal usaha,
membayar utang, membeli notebook, dan membuka
SOHO (Small Office Home Office).
Saat ini, kawannya masih menjadi karyawan
sebagai IT Manager di perusahaan yang berbeda.
Sementara Ade tetap menjadi pengusaha,
berkantor di Kelapa Gading, bisa masuk siang dan
pulang siang itu juga, bisa liburan kapan saja,
punya notebook dan komputer, punya mobil, rumah
lebih besar, bisa menggaji karyawan, dan bahkan
berteman dekat dengan presiden direktur dari
tempat kawannya bekerja.
Dari cerita ini, Ade tetap merasa lebih enak
menjadi pengusaha daripada menjadi karyawan.
Walaupun di pertengahan jalan, ada tahap di mana
dia banyak mengalami berbagai hambatan, tapi
ternyata hambatan tersebut tidak menjatuhkannya,
melainkan justru memperkuat mentalnya sehingga
kualitas bisnis dan kehidupan keluarganya justru
semakin meningkat.
Sebagai salah satu ungkapan syukur atas karunia yang diterimanya, Ade
selalu berusaha untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Dia pun
mendirikan lembaga sosial dengan nama CFH
(Coding For Humanity). Lembaga ini memberikan
pelatihan komputer gratis bagi anak jalanan dan
anak-anak tidak mampu. Berbagai aktivitas
sosialnya di CFH bisa dilihat di blog-nya
http://www.wirama.wordpress.com. Biog tersebut
dimaksudkan Ade sebagai wadah informasi kegiatan
CFH, karena CFH belum memiliki web sendiri. Dia
berharap semoga apa yang tertuang dalam blog itu
dapat memberikan inspirasi bagi orang lain untuk
dapat saling membantu dengan sesama.
Saat ini, CFH telah mempunyai beberapa cabang, bukan hanya di Jakarta,
melainkan juga merambah ke Surabaya dan Bandung. Anak-anak
jalanan yang dilatih pun semakin banyak. Sejak
didirikan pada 17 Juli 2006, berbagai pelatihan
komputer gratis bagi anak jalanan telah dilakukan.
Pelatihan pertama diadakan di Dilts Foundation, dan yang terakhir di Rumah
Singgah Pelita Rasamala Senen. Sejumlah relawan
programmer yang direkrut Ade juga bertambah dari
semula lima relawan hingga kini menjadi tiga puluh
lima relawan. Mereka semua tersebar di Jakarta,
Bandung, dan Surabaya.
Melalui CFH, Ade dan kawan-kawannya
meluangkan waktu, dana, dan tenaga demi sebuah
misi sosial, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Bahkan, tidak jarang mereka harus mengeluarkan
dana sendiri untuk operasionalnya. Ade bertekad
menyumbangkan sebagian keuntungan bisnisnya
khusus untuk mengembangkan CFH ini.
Sejak awal, Ade memang tidak berniat untuk
menggalang dana atau meminta sumbangan dari
pihak lain. Selain mendapatkan pendanaan dari
keuntungan Jsoft Indonesia, Ade juga membuka
sebuah toko komputer di Mangga Dua Square untuk
menopang biaya operasional CFH.
Ade juga salut dan bangga dengan kawan
kawannya yang rela datang jauh-jauh dari
Pamulang sampai Tanjung Priok hanya untuk
mengajar di CFH Jakarta. Banyak kejadian yang
membuatnya terharu. Ada yang kehujanan saat
perjalanan pulang. Ada yang mengalami kecelakaan
kecil sebelum mengajar, tapi karena dia
bertanggung jawab untuk materi pengajaran serta
jadwal mengajarnya, dia tetap datang juga.
Walaupun masih terlihat bekas lukanya, kawannya
ini tetap semangat untuk mengajar dan memberikan
komitmennya.
Ade berkeyakinan bahwa bisnisnya akan
mendapatkan banyak rahmat dan rezeki berkat
aktivitas sosialnya di CFH. Ade merasa tercerahkan
dan menyadari bahwa ketika berbisnis saja dibantu
oleh Allah, apalagi ketika mengadakan kegiatan
sosial. Ade yakin dia tidak akan kekurangan atau
miskin dengan banyak mengeluarkan dana untuk
aktivitas sosialnya.
Fakta justru membuktikan bahwa sebetulnya
Allah telah memberikan rezeki yang begitu berlimpah
kepadanya semenjak CFH didirikan. Dia banyak
menerima pesanan software, baik untuk perusahaan
lokal maupun multinasional.
Sebagaimana pengusaha yang lain, Ade
menyatakan pentingnya fokus dalam usaha
membangun sebuah bisnis. Alhamdulillah saya bisa
menjaga fokus bisnis saya, yaitu dalam bidang
software development. Apa pun kondisi yang
sedang saya hadapi, customer mengenal saya
sebagai ahli di bidang tersebut, ungkap pria yang
sejak kecil jago main catur ini.
Berkat konsistensi, calon customer maupun
customer yang sudah ada, tetap melihat Ade
sebagai pebisnis yang konsisten dan fokus terhadap
jalur bisnisnya. Setiap mereka butuh software,
mereka akan ingat kepada saya atau perusahaan
saya, papar Ade yang menghabiskan masa
remajanya di Malang, Jawa Timur ini.
Dalam berbisnis, Ade juga menekankan pentingnya prinsip be yourself.
untuk menerapkan ini, seorang pebisnis
terlebih dahulu perlu mengetahui kemampuan,
keahlian, apa yang menjadi passion-nya, ujar anak
seorang PNS ini.
Bagi teman-teman yang ingin terjun menjadi wirausaha, Ade tetap
menyarankan pentingnya sebuah persiapan.
Persiapan di sini bukan hanya dan soal dana saja,
walaupun dana itu penting, yang paling
utama adalah persiapan mental. Selain itu juga
rencana bisnis yang matang, bidang apa yang akan
digeluti, dan berapa target kerja yang akan dicapai.
Persiapan juga mencakup pengetahuan tentang
berbagai hal yang berhubungan dengan industri
yang akan digeluti. Membina hubungan dengan
calon partner, ikut milis yang mendukung, dan
bergabung dalam komunitas juga akan membantu
perkembangan bisnis kita, ungkap pria yang senang
tampil modis ini.
Begitu target dibuat, “jangan mundur satu
langkah pun,” tegas Ade. Apabila ada hambatan di
jalan, anggap saja itu latihan sebelum bertemu
hambatan sesungguhnya di belantara bisnis. Satu
hal penting yang harus diingat adalah perusahaan
hanya akan menerima kita bekerja sampai batas
umur tertentu, tapi perusahaan milik kita sendiri
akan tetap menerima dan menampung kita seumur
hidup.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
menyerah, Ade Aan Wirama memantapkan diri
terjun sebagai pengusaha dalam bisnis software
development. Bersama dua orang partner, dia
mendirikan perusahaan software development
dengan nama Jade Software Indonesia. Selain itu,
Ade juga memfokuskan diri pada jasa
pengembangan software untuk urusan logistik,
pembuatan program yang disesuaikan dengan
kebutuhan costumer.
Berkat profesionalisme yang tinggi, perusahaan
Jsoft Indonesia kini telah dikenal, terutama di dunia
logistik. Klien perusahaan ini pun tidak hanya dari
dalam negeri, bahkan sudah banyak yang berasal
dari luar negeri. Perusahaan yang mempunyai
alamat situs www.jsoftindonesia.com ini berkantor
di Kelapa Gading, Jakarta.
Beberapa software andalan Jsoft di antaranya
adalah J-Freight dan J-Repair. Software J-Freight
yang sangat dibutuhkan oleh dunia logistik tersebut
kini telah mendobrak pasar Jerman, Hongkong, dan
Singapura. Sedangkan software J-Repair kini
menjadi program standar untuk berbagai bengkel di
bawah salah satu grup terkenal yang mempunyai
anggota 200 bengkel.
Perjalanan Ade menjadi pengusaha di bidang ini,
dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk
mengundurkan diri dari sebuah perusahaan
pelayaran nasional pada awal 2000. Saat itu, dia
menjabat sebagai IT Manager dengan lima orang
staf IT dan sebelas staf EDP. Saat itu bisa dibilang
gaji Ade sudah cukup tinggi, selain menerima
fasilitas mobil dan notebook, dia juga mempunyai
hubungan yang sangat dekat dengan owner.
Dengan kenyamanan seperti itu, sangat wajar jika
banyak pihak yang menyayangkan bahkan
menentang keputusannya untuk mengundurkan diri,
termasuk orangtua dan mertua. Hanya istrinyalah
satu-satunya orang yang sangat mendukung
keputusannya saat itu.
Ade mulai berbisnis dengan modal keyakinan
yang kuat bahwa dia akan berhasil. Dia bahkan
memulainya tanpa mobil, notebook, atau komputer
yang bagi sebagian orang IT adalah salah satu
‘tangan’. Ade hanya mengandalkan sedikit
tabungannya yang masih tersisa. Selama empat
bulan pertama, dia telah menghabiskan sisa-sisa
tabungannya. Hingga akhirnya, dia memperoleh
proyek pertama berupa penjualan hardware dengan
keuntungan 10 juta.
Keuntungan tersebut langsung digunakannnya
sebagai modal membeli notebook. Berkat
ketekunannya, proyek berikutnya pun datang silih
berganti hingga akhirnya Ade bisa menyewa gedung
di Graha Kirana, Jakarta, lantai tujuh, dan
membawahkan tujuh orang karyawan.
Saat Ade mulai menikmati hasil perjuangannya,
tiba-tiba satu customer besamya menyatakan
bangkrut pada 2 Januari 2001. Imbasnya mereka
tidak bisa membayar tagihan penjualan komputer
dari perusahaan Ade sebesar 150 jutaan.
Customer-nya juga tidak bisa melunasi tunggakan
jasa lainnya yang nilainya ratusan juta. Sementara
saat itu, tidak ada satu pun aset yang bisa disita
karena sudah disita terlebih dahulu oleh perusahaan
lain yang juga memberikan kredit kepada
customer-nya. Karena manajemen yang belum
bagus, tingginya piutang yang tak tertagih,
akhirnya perusahaan Ade ikut bangkrut.
Sementara dia sendiri masih mempunyai utang
kepada supplier yang jumlahnya cukup besar.
Ade pun harus menerima kenyataan pahit ini
dengan lapang dada. Satu tahun setelah dia
memutuskan menjadi entrepreneur, kondisinya pada
saat itu seperti berbalik 180 derajat, dan secara
mendadak dia mempunyai utang sekitar 250 juta.
Saat itu benar-benar menjadi masa yang sulit
bagi Ade dan keluarganya. Karyawan dan
teman-teman yang dulu dekat dengannya tiba-tiba
seakan menjauh entah kenapa. Dalam kondisi
bangkrut, Ade juga masih harus berurusan dengan
kejaran para debt collector yang disewa para
suppliernya.
Ade pun menjual seluruh harta benda, mobil,
notebook, computer, dan handphone untuk
membayar sisa gaji karyawan dan sebagian utang.
Namun, dia tetap mempertahankan rumah untuk
keluarganya berteduh. Ade juga tidak pernah punya
niat untuk melarikan dir. Dia hadapi seluruh cacian,
telepon, surat, bahkan kedatangan 8 orang debt
collector dalam satu mobil kijang untuk menagih
utang. Dia hadapi semua itu dengan kebesaran jiwa
dan penuh ketabahan.
Namun, tidak ada satu pun di dunia ini yang
bisa menghalanginya untuk tetap hidup, tetap
bersemangat, dan tetap yakin bahwa dia bisa
menyelesaikan masalah yang menghimpitnya. Oleh
karena itu, dengan cobaan yang sangat berat
karena lilitan utang, Ade memberanikan diri
membuat proposal bisnis dan melamar kembali
menjadi profesional di sebuah grup perusahaan
ternama.
Ade selalu berkeyakinan bahwa Tuhan akan
memberikan yang terbaik buat hamba-Nya. Dia
yakin banyak hikmah dan pelajaran yang bisa
diambil dari peristiwa kebangkrutannya itu. Ade
sangat bersyukur bahwa dalam waktu satu bulan
setelah tragedi itu, dia bisa kembali bekerja sebagai
pimpinan pada sebuah perusahan consulting dalam
grup perusahaan ternama. Hasil dan bekerja
sebagai profesional, dia gunakan untuk melunasi
kewajiban secara bertahap, sambil terus melakukan
recovery terhadap perekonomian keluarganya.
Berkat prestasinya dalam mengelola perusahaan, Ade pun akhimya direkrut
sebuah perusahaan Swiss yang berbasis di Hongkong. Dia sempat
bekerja dan tinggal di Hongkong. Namun, jiwa
petualangan dan wirausaha yang mengalir dalam
dirinya, membuat Ade kembali tertantang untuk
menjadi pengusaha. Maka pada 2003, Ade kembali
memutuskan keluar dari perusahaan Swiss.
Walaupun saat itu, dia menerima gaji dalam dolar
dengan nilai yang cukup besar untuk ukuran
Indonesia.
Ade kembali dikatakan gila oleh kawan
kawan dekat, orangtua, dan mertuanya. Namun
sekali lagi, dukungan yang sangat besar diberikan
oleh istrinya. Dia begitu percaya bahwa Ade mampu
menjadi pengusaha. Apalagi waktu itu dia lebih siap
dengan modal seperti notebook, kendaraan, dana,
network dan sebagainya.
Kini, perusahaan yang didirikannya semakin
mantap melenggang sebagai pemain yang amat
diperhitungkan dalam bidang software
development, khususnya untuk dunia logistik.
Omzet semakin meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah customer. Apalagi Ade
berhasil melakukan negosiasi untuk bisa melakukan
pekerjaan secara remote sehingga pada saat yang
sama dia bisa melayani untuk banyak customer
sekaligus.
Ketika ditanya tentang lebih enak mana antara
menjadi karyawan atau pengusaha. Ade
menjelaskan dengan mengambil perbandingan satu
orang kawan yang paling bagus kondisinya, di
antara sekian banyak kawannya yang masih
menjadi karyawan hingga saat ini.
Saat pertama kali bekerja sebagai karyawan
sekian tahun yang lalu, kawannya itu memperoleh
gaji Rp500 ribu dan bisa menyuruh-nyuruh orang
karena grade-nya agak tinggi. Sementara Ade
hanya digaji Rp125 ribu, karena dia-lah orang yang
di suruh-suruh itu. Dua tahun kemudian, kawannya
naik pangkat menjadi manajer dengan gaji Rpl,5
juta dan dapat fasilitas inventaris mobil. Sementara
gaji Ade hanya naik hingga Rp750 ribu dan tetap
menjadi anak buahnya. Satu tahun kemudian, gaji
kawannya naik lagi menjadi dua juta, sementara
Ade harus pindah kerja supaya mendapatkan gaji
sebesar satu juta.
Lima tahun kemudian, kawannya tersebut masih menjadi karyawan sebagai IT
Manager di sebuah perusahaan Korea dengan 10 anak buah.
Sedangkan Ade sudah menjadi pengusaha dan
keluar dari kantor dengan jabatan IT Manager
dengan 16 anak buah. Selama empat bulan setelah
keluar kerja, Ade tidak mendapatkan income, dia
hanya mengandalkan hidup dan sisa-sisa
tabungannya. Padahal saat itu, dia baru punya
anak umur tiga bulan, baru pindah satu bulan dari
rumah mertua ke rumah sendiri, tidak ada mobil
atau motor, tidak ada komputer atau pun notebook.
Yang menjadi modalnya saat itu hanyalah planning
kerja sebagai wiraswasta, dan sebuah produk
software yang sudah jadi.
Empat bulan kemudian, kawannya masih menjadi karyawan sebagai IT Manager di
Perusahaan yang sama, sedangkan Ade telah mendapat proyek
pertama senilai RplOO juta. Keuntungan dari proyek
tersebut langsung dia jadikan untuk modal usaha,
membayar utang, membeli notebook, dan membuka
SOHO (Small Office Home Office).
Saat ini, kawannya masih menjadi karyawan
sebagai IT Manager di perusahaan yang berbeda.
Sementara Ade tetap menjadi pengusaha,
berkantor di Kelapa Gading, bisa masuk siang dan
pulang siang itu juga, bisa liburan kapan saja,
punya notebook dan komputer, punya mobil, rumah
lebih besar, bisa menggaji karyawan, dan bahkan
berteman dekat dengan presiden direktur dari
tempat kawannya bekerja.
Dari cerita ini, Ade tetap merasa lebih enak
menjadi pengusaha daripada menjadi karyawan.
Walaupun di pertengahan jalan, ada tahap di mana
dia banyak mengalami berbagai hambatan, tapi
ternyata hambatan tersebut tidak menjatuhkannya,
melainkan justru memperkuat mentalnya sehingga
kualitas bisnis dan kehidupan keluarganya justru
semakin meningkat.
Sebagai salah satu ungkapan syukur atas karunia yang diterimanya, Ade
selalu berusaha untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Dia pun
mendirikan lembaga sosial dengan nama CFH
(Coding For Humanity). Lembaga ini memberikan
pelatihan komputer gratis bagi anak jalanan dan
anak-anak tidak mampu. Berbagai aktivitas
sosialnya di CFH bisa dilihat di blog-nya
http://www.wirama.wordpress.com. Biog tersebut
dimaksudkan Ade sebagai wadah informasi kegiatan
CFH, karena CFH belum memiliki web sendiri. Dia
berharap semoga apa yang tertuang dalam blog itu
dapat memberikan inspirasi bagi orang lain untuk
dapat saling membantu dengan sesama.
Saat ini, CFH telah mempunyai beberapa cabang, bukan hanya di Jakarta,
melainkan juga merambah ke Surabaya dan Bandung. Anak-anak
jalanan yang dilatih pun semakin banyak. Sejak
didirikan pada 17 Juli 2006, berbagai pelatihan
komputer gratis bagi anak jalanan telah dilakukan.
Pelatihan pertama diadakan di Dilts Foundation, dan yang terakhir di Rumah
Singgah Pelita Rasamala Senen. Sejumlah relawan
programmer yang direkrut Ade juga bertambah dari
semula lima relawan hingga kini menjadi tiga puluh
lima relawan. Mereka semua tersebar di Jakarta,
Bandung, dan Surabaya.
Melalui CFH, Ade dan kawan-kawannya
meluangkan waktu, dana, dan tenaga demi sebuah
misi sosial, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Bahkan, tidak jarang mereka harus mengeluarkan
dana sendiri untuk operasionalnya. Ade bertekad
menyumbangkan sebagian keuntungan bisnisnya
khusus untuk mengembangkan CFH ini.
Sejak awal, Ade memang tidak berniat untuk
menggalang dana atau meminta sumbangan dari
pihak lain. Selain mendapatkan pendanaan dari
keuntungan Jsoft Indonesia, Ade juga membuka
sebuah toko komputer di Mangga Dua Square untuk
menopang biaya operasional CFH.
Ade juga salut dan bangga dengan kawan
kawannya yang rela datang jauh-jauh dari
Pamulang sampai Tanjung Priok hanya untuk
mengajar di CFH Jakarta. Banyak kejadian yang
membuatnya terharu. Ada yang kehujanan saat
perjalanan pulang. Ada yang mengalami kecelakaan
kecil sebelum mengajar, tapi karena dia
bertanggung jawab untuk materi pengajaran serta
jadwal mengajarnya, dia tetap datang juga.
Walaupun masih terlihat bekas lukanya, kawannya
ini tetap semangat untuk mengajar dan memberikan
komitmennya.
Ade berkeyakinan bahwa bisnisnya akan
mendapatkan banyak rahmat dan rezeki berkat
aktivitas sosialnya di CFH. Ade merasa tercerahkan
dan menyadari bahwa ketika berbisnis saja dibantu
oleh Allah, apalagi ketika mengadakan kegiatan
sosial. Ade yakin dia tidak akan kekurangan atau
miskin dengan banyak mengeluarkan dana untuk
aktivitas sosialnya.
Fakta justru membuktikan bahwa sebetulnya
Allah telah memberikan rezeki yang begitu berlimpah
kepadanya semenjak CFH didirikan. Dia banyak
menerima pesanan software, baik untuk perusahaan
lokal maupun multinasional.
Sebagaimana pengusaha yang lain, Ade
menyatakan pentingnya fokus dalam usaha
membangun sebuah bisnis. Alhamdulillah saya bisa
menjaga fokus bisnis saya, yaitu dalam bidang
software development. Apa pun kondisi yang
sedang saya hadapi, customer mengenal saya
sebagai ahli di bidang tersebut, ungkap pria yang
sejak kecil jago main catur ini.
Berkat konsistensi, calon customer maupun
customer yang sudah ada, tetap melihat Ade
sebagai pebisnis yang konsisten dan fokus terhadap
jalur bisnisnya. Setiap mereka butuh software,
mereka akan ingat kepada saya atau perusahaan
saya, papar Ade yang menghabiskan masa
remajanya di Malang, Jawa Timur ini.
Dalam berbisnis, Ade juga menekankan pentingnya prinsip be yourself.
untuk menerapkan ini, seorang pebisnis
terlebih dahulu perlu mengetahui kemampuan,
keahlian, apa yang menjadi passion-nya, ujar anak
seorang PNS ini.
Bagi teman-teman yang ingin terjun menjadi wirausaha, Ade tetap
menyarankan pentingnya sebuah persiapan.
Persiapan di sini bukan hanya dan soal dana saja,
walaupun dana itu penting, yang paling
utama adalah persiapan mental. Selain itu juga
rencana bisnis yang matang, bidang apa yang akan
digeluti, dan berapa target kerja yang akan dicapai.
Persiapan juga mencakup pengetahuan tentang
berbagai hal yang berhubungan dengan industri
yang akan digeluti. Membina hubungan dengan
calon partner, ikut milis yang mendukung, dan
bergabung dalam komunitas juga akan membantu
perkembangan bisnis kita, ungkap pria yang senang
tampil modis ini.
Begitu target dibuat, “jangan mundur satu
langkah pun,” tegas Ade. Apabila ada hambatan di
jalan, anggap saja itu latihan sebelum bertemu
hambatan sesungguhnya di belantara bisnis. Satu
hal penting yang harus diingat adalah perusahaan
hanya akan menerima kita bekerja sampai batas
umur tertentu, tapi perusahaan milik kita sendiri
akan tetap menerima dan menampung kita seumur
hidup.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan
Monday, March 4, 2013
Yayank, Mantan Head of Department yang di Awal Bisnis Sempat Dicibir, Kini Sukses Lewat Coffeezone
Jakarta - Berawal dari pengalaman
selama 16 tahun di industri
pembuatan kopi, ibu rumah
tangga asal Sidoarjo Jawa Timur ini
sukses berbisnis kedai kopi harga
kaki lima tapi bercita rasa kelas
'Starbucks'.
Adalah Yayank S. Sahara, ia
memulai bisnis kedai kopi
tepatnya Juni 2010 silam setelah
keluar dari pekerjaan. Yayank
bermodal hanya uang pesangon
senilai Rp 6 juta memutuskan
membuka sebuah kedai kopi kelas
kafe.
Namun karena modal tak cukup,
Yayank dibantu sang suami
akhirnya membuat kedai kopi
berkonsep kaki lima bernama
Coffeezone di Gelanggang Olahraga
Sidoarjo, Jawa Timur.
Meskipun modal awal tersebut
sangat kecil dan berbekal kedai
kaki lima, berkat ketekunan dan
cita rasa menu kopi yang
berkualitas, akhirnya banyak
pelanggan yang datang dan
menjadi pelanggan setia
Coffeezone.
"Ketika aku kerja punya ide buka
usaha, mulai batik busana muslim
anak, cuma jalannya kurang sukses
terus saya kelur kerja bikin usaha
kopi. Cuma waktu itu, modalnya
dari uang pesangon, ternyata uang
pesangon itu nggak cukup bikin
satu kafe. Akhirnya kita buka
konsep PKL di Gor Sidoarjo tapi
menu yang kita sajikan kopi
bintang lima," tutur Yayank saat
berbincang dengan detikFinance ,
Senin (4/3/2013).
Setelah berjalan beberapa bulan,
ternyata ada pelanggan setianya
yang ingin dibuatkan sebuah kedai
kopi dengan konsep kafe di Gresik
Jatim. Melalui konsep kemitraan,
akhirnya Yayank menyanggupi
permintaan sang pelanggan untuk
membuka kafe milik pelanggannya
namun dikelola oleh Yayank.
Ternyata, berawal dari sana
kemudian permintaan membuka
kedai kopi dari para pelanggan
atau masyarakat cukup tinggi.
Hingga akhirnya, sekarang telah
dibuka 9 kedai kopi dengan konsep
kafe dan island atau kedai kecil
yang menumpang di mal-mal.
Semua kedai tersebut merupakan
milik mitra dan tersebar dari
Surabaya hingga Kupang Nusa
Tenggara Timur (NTT) namun kedai
kopi itu dikelola oleh perusahaan
milik Yayank, Coffezone Indonesia.
"Dari sana mulai terus sampai 9
kafe. Ada konsep kafe dan island,"
tambahnya.
Pesatnya perkembangan bisnis
Coffeezone, tak terlepas dari
ketekunan, kerja keras dan
komitmen Yayank menjaga kualitas
dan inovasi makanan dan minuman
yang ditawarkan.
Untuk kopi, Yayank menawarkan
citra rasa kopi dari Sabang sampai
Merauke. Selain itu, ada berbagai
pilihan minuman sekelas Starbucks
seperti cappucino, hazelnut coffee
hingga coffee blended, chocolate
ice blended, red bean green milk
tea.
Selain itu ada ada juga makanan
ringan yang melengkapi pilihan
menu yang ditawarkan seperti
pancake, sandwich dan banana
stick.
"Kita jaga kualitas jangan sampai
pelanggan saya bilang namanya
bagus tapi rasa atau menu kopinya
sama saja. Kopi saya pakai istilah
kopi modern. Harga minuman Rp
10.000 sampai Rp 20.000 masih
terjangkau untuk kelas
mahasiswa," sebutnya.
Usaha yang dijalani Yayank
bukannya semulus yang
dibayangkan, karena posisinya
pernah menduduki level yang
cukup tinggi di perusahaan
produsen kopi internasional.
Yayank sempat dicibir karena
memutuskan keluar pekerjaan dan
membuka kedai kopi kaki lima
namun berkat keteguhan hati dan
kerja kerasnya, hal tersebut
mengalahkan segalanya.
"Suami sebetulnya nggak tega liat,
posisi saya sebagai kepala bagian,
buka kedai kopi kaki lima dilihat
orang malah jualan kaki lima,
diketawakan. Namun keinginan
saya mengalahkan cemohan.
Akhirnya dari situ berjalan,"
paparnya.
Saat ini, Yayank berencana pada
bulan Maret 2013 menambah 2
kedai kopi baru milik mitra di
Surabaya.
Ia membuka kesempatan bagi
masyarakat yang ingin membuka
kedai kopi dengan merek
Coffezone. Untuk membuka kedai
kopi berkonsep kafe, seorang
mitra cukup merogoh kocek Rp 75
juta dan konsep island dibandrol
seharga Rp 45 juta. Apakah anda
tertarik untuk membuka usaha
kopi konsep Coffeezone atau
sekedar ingin berkonsultasi soal
bisnis kopi.
Yup, anda bisa mengirim email ke:
coffeezoneindonesia@yahoo.com
atau mengunjungi website:
www.mycoffeezone.net atau
datang ke alamat: Jl. Wonokromo
Tangkis No 18 Surabaya factory:
Griyaloka A1 no 6 Jatikalang
Sidoarjo Jawa Timur.( Feby Dwi Sutianto)
sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/03/04/105754/2184723/480/wanita-ini-sukses-jual-kopi-harga-kaki-lima-kelas-starbucks
selama 16 tahun di industri
pembuatan kopi, ibu rumah
tangga asal Sidoarjo Jawa Timur ini
sukses berbisnis kedai kopi harga
kaki lima tapi bercita rasa kelas
'Starbucks'.
Adalah Yayank S. Sahara, ia
memulai bisnis kedai kopi
tepatnya Juni 2010 silam setelah
keluar dari pekerjaan. Yayank
bermodal hanya uang pesangon
senilai Rp 6 juta memutuskan
membuka sebuah kedai kopi kelas
kafe.
Namun karena modal tak cukup,
Yayank dibantu sang suami
akhirnya membuat kedai kopi
berkonsep kaki lima bernama
Coffeezone di Gelanggang Olahraga
Sidoarjo, Jawa Timur.
Meskipun modal awal tersebut
sangat kecil dan berbekal kedai
kaki lima, berkat ketekunan dan
cita rasa menu kopi yang
berkualitas, akhirnya banyak
pelanggan yang datang dan
menjadi pelanggan setia
Coffeezone.
"Ketika aku kerja punya ide buka
usaha, mulai batik busana muslim
anak, cuma jalannya kurang sukses
terus saya kelur kerja bikin usaha
kopi. Cuma waktu itu, modalnya
dari uang pesangon, ternyata uang
pesangon itu nggak cukup bikin
satu kafe. Akhirnya kita buka
konsep PKL di Gor Sidoarjo tapi
menu yang kita sajikan kopi
bintang lima," tutur Yayank saat
berbincang dengan detikFinance ,
Senin (4/3/2013).
Setelah berjalan beberapa bulan,
ternyata ada pelanggan setianya
yang ingin dibuatkan sebuah kedai
kopi dengan konsep kafe di Gresik
Jatim. Melalui konsep kemitraan,
akhirnya Yayank menyanggupi
permintaan sang pelanggan untuk
membuka kafe milik pelanggannya
namun dikelola oleh Yayank.
Ternyata, berawal dari sana
kemudian permintaan membuka
kedai kopi dari para pelanggan
atau masyarakat cukup tinggi.
Hingga akhirnya, sekarang telah
dibuka 9 kedai kopi dengan konsep
kafe dan island atau kedai kecil
yang menumpang di mal-mal.
Semua kedai tersebut merupakan
milik mitra dan tersebar dari
Surabaya hingga Kupang Nusa
Tenggara Timur (NTT) namun kedai
kopi itu dikelola oleh perusahaan
milik Yayank, Coffezone Indonesia.
"Dari sana mulai terus sampai 9
kafe. Ada konsep kafe dan island,"
tambahnya.
Pesatnya perkembangan bisnis
Coffeezone, tak terlepas dari
ketekunan, kerja keras dan
komitmen Yayank menjaga kualitas
dan inovasi makanan dan minuman
yang ditawarkan.
Untuk kopi, Yayank menawarkan
citra rasa kopi dari Sabang sampai
Merauke. Selain itu, ada berbagai
pilihan minuman sekelas Starbucks
seperti cappucino, hazelnut coffee
hingga coffee blended, chocolate
ice blended, red bean green milk
tea.
Selain itu ada ada juga makanan
ringan yang melengkapi pilihan
menu yang ditawarkan seperti
pancake, sandwich dan banana
stick.
"Kita jaga kualitas jangan sampai
pelanggan saya bilang namanya
bagus tapi rasa atau menu kopinya
sama saja. Kopi saya pakai istilah
kopi modern. Harga minuman Rp
10.000 sampai Rp 20.000 masih
terjangkau untuk kelas
mahasiswa," sebutnya.
Usaha yang dijalani Yayank
bukannya semulus yang
dibayangkan, karena posisinya
pernah menduduki level yang
cukup tinggi di perusahaan
produsen kopi internasional.
Yayank sempat dicibir karena
memutuskan keluar pekerjaan dan
membuka kedai kopi kaki lima
namun berkat keteguhan hati dan
kerja kerasnya, hal tersebut
mengalahkan segalanya.
"Suami sebetulnya nggak tega liat,
posisi saya sebagai kepala bagian,
buka kedai kopi kaki lima dilihat
orang malah jualan kaki lima,
diketawakan. Namun keinginan
saya mengalahkan cemohan.
Akhirnya dari situ berjalan,"
paparnya.
Saat ini, Yayank berencana pada
bulan Maret 2013 menambah 2
kedai kopi baru milik mitra di
Surabaya.
Ia membuka kesempatan bagi
masyarakat yang ingin membuka
kedai kopi dengan merek
Coffezone. Untuk membuka kedai
kopi berkonsep kafe, seorang
mitra cukup merogoh kocek Rp 75
juta dan konsep island dibandrol
seharga Rp 45 juta. Apakah anda
tertarik untuk membuka usaha
kopi konsep Coffeezone atau
sekedar ingin berkonsultasi soal
bisnis kopi.
Yup, anda bisa mengirim email ke:
coffeezoneindonesia@yahoo.com
atau mengunjungi website:
www.mycoffeezone.net atau
datang ke alamat: Jl. Wonokromo
Tangkis No 18 Surabaya factory:
Griyaloka A1 no 6 Jatikalang
Sidoarjo Jawa Timur.( Feby Dwi Sutianto)
sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/03/04/105754/2184723/480/wanita-ini-sukses-jual-kopi-harga-kaki-lima-kelas-starbucks
Kategori:
Kuliner
Subscribe to:
Posts (Atom)