Wednesday, March 13, 2013

Herizal, Tokonya sempat Hancur Diterjang Bencana Tsunami, Kini Bangkit dan Sukses Lewat Bisnis Celana Jeans

Terlahir dari keluarga pegawai tidak menyurutkan

langkah Heri, panggilan akrab Herizal Yuliansyah,

untuk terjun berwirausaha. Walaupun sebetulnya

kesempatan untuk masuk dalam birokrasi cukup

terbuka, tetapi dia tidak mau memanfaatkannya.

Heri lebih memilih jalan yang dirintisnya sendiri. Dia

memutuskan untuk terjun dalam dunia bisnis dan

perdagangan. ‘Saya ingin bebas berkreasi. Saya

ingin bebas melakukan apa yang ingin saya kerjakan

hari ini, ujar lajang kelahiran 1973 ini.

Kiprah Heri dalam dunia bisnis sebetulnya sudah

 

dirintis sejak lama. Ketika masih kuliah di

Yogyakarta, dia sering berbelanja batik di Pasar

Beringharjo. Di samping untuk hadiah para

kerabatnya, dia juga membelinya untuk dijual

kembali di luar daerah. Paling sering dia mengirim

batik tersebut ke kerabatnya di Banda Aceh yang

mempunyai sebuah toko grosir pakaian di sana.

Waktu itu usaha tersebut memang sekadar buat

iseng belaka. Namun, semangat untuk menghasilkan

nilai tambah dari yang dilakukannya sudah tampak

ketika dia menjalankan bisnis sambilan tersebut.

‘Saya sering mendapat pesanan drin saudara

saya di Aceh untuk dicarikan produk khas

Yogyakarta, biasanya saya langsung mencarinya ke

Pasar Beringharjo atau sentra produksi Iainnya,

ujarnya mengenang.

Seusai kuliah, di saat teman-temannya sibuk

mencari pekerjaan, Heri justru membantu pamannya

yang menjadi rekanan beberapa lembaga

pemerintah di Jakarta. Pekerjaannya mulai dari

mengurus surat-menyurat, melobi, mencari barang

yang dipesan customer, sampai mengawasi para

tukang yang ada di lapangan. Yang pasti semua

pekerjaan rekanan dari A sampai Z dia mau melakukannnya.

‘Saya ingin cepat belajar. Saya berharap suatu

saat saya bisa berdiri sendiri, cetusnya dengan

nada optimis.

Semenjak bergabung dalam bisnis tersebut,

banyak pengetahuan dan pengalaman yang

didapatnya. Heri belajar bagaimana rumitnya

 

berhubungan dengan birokrasi pemerintahan. Dia

juga belajar bersabar dalam menghadapi persaingan

yang semakin ketat di bisnis rekanan. Jaringan

supplier untuk beberapa produk tertentu juga mulai

dikenalnya. Pengalaman dan pengetahuan yang

didapat begitu berharga di matanya.

Pekerjaan yang pernah ditanganinya sebagai

rekanan sangat bervariasi. Mulai dari pengadaan

komputer, alat tulis kantor, servis AC hingga

renovasi ruangan di gedung milik pemerintah.

Awalnya nilai proyek yang ditanganinya tidak terlalu

besar. Pamannya sengaja memberikan kepercayaan

dari proyek yang bernilai di bawah RplOO juta dulu.

Setelah berhasil menangani berbagai pekerjaan

yang diamanahkan kepadanya, kepercayaan

customer mulai terbangun. Dia pun diberi amanah

untuk menyelesaikan pekerjaan yang nilainya lebih

besar. Salah satu proyek yang cukup besar nilainya

adalah, ketika dia mendapatkan kepercayaan untuk

menangani renovasi anjungan Aceh di Taman Mini

Indonesia Indah, Jakarta.

Berbekal pengalaman sekian tahun di bisnis

rekanan, Heri memberanikan untuk mendirikan

perusahaan sendiri. Tentu saja hal ini membuat

pamannya sangat senang. Sejak awal dia memang

ingin mendidik Heri agar suatu saat bisa mengelola

perusahaan sendiri.

Dengan bendera barunya, Heri mulai mengembangkan sayap.

 

Wilayah yang digarapnya juga

tidak lagi terbatas pada pekerjaan dari lembaga

milik negara atau pemerintah. Dia juga tidak

 

segan-segan bermitra dengan teman, jika

pekerjaan yang didapat membutuhkan modal yang

sangat besar.

 

Menangani sebuah proyek besar dengan beberapa mitra

 

ternyata tidak mudah. Banyak hal

terjadi di luar perhitungan rasionalnya. Di sinilah

biasanya kepercayaan antar anggota dalam tim

diuji. Keuntungan yang besar, kadangkala justru

membuat tim yang sejak awal cukup solid membuat

tercerai berai karena nafsu keserakahan. Beberapa

mitranya pernah tidak menepati janji soal

pembagian keuntungan. Bahkan, ada juga yang

berani memakai dana bersama untuk kepentingan

bisnisnya sendiri. Saat dana itu dibutuhkan, dana

tersebut tidak bisa ditarik karena sedang diputar di

bisnis lainnya. Ada juga beberapa rekanan yang

suka menelikung dari belakang.

“Sikut-menyikut dalam bisnis ini ternyata tidak

bisa terelakkan. Apalagi kalau nilai proyek sangat

besar, ungkap bungsu dari tiga bersaudara ini.

Perjalanan waktu ternyata justru mengarahkan

Heri untuk tidak semakin tertarik dengan bisnis yang

dijalaninya. Setelah berkonsultasi dan minta

pertimbangan pamannya, akhirnya dia memutuskan

untuk mengundurkan dari bisnis rekanan ini.

Entahlah, hati saya semakin merasa tidak nyaman

 

di bisnis ini, jawabnya lirih ketika ditanya

mengenai alasan utamanya.

Tidak tahan berdiam diri terlalu lama, Heri

 

segera mengeksplorasi berbagai peluang bisnis yang

bisa dijalaninya. Dia terus menggali, value apa yang

bisa diberikan dalam bisnisnya nanti. Dia juga

melakukan survei ke beberapa kota. Setelah

melakukan pengamatan yang mendalam dan

mempertimbangkan berbagai faktor, akhirnya dia

memutuskan untuk membuka toko busana khusus

pria. Lokasi yang dipilihnya bukan lagi di Jakarta,

melainkan di Banda Aceh, tempat kelahiran

orangtuanya. Walaupun lahir di Jakarta, tetapi Heri

sangat familier dengan daerah Aceh, karena dia

sering berkunjung ke sana untuk menengok kerabatnya.

Pada 2003, toko yang diberi nama Fokus akhirnya dibuka.

 

Toko tersebut menempati ruko di pusat

perdagangan Peunayong, Banda Aceh. Lantai dasar

dipergunakannya sebagai showroom, lantai dua

untuk gudang stock, sementara lantai tiga untuk

tempat tinggalnya selama berada di Banda Aceh.

Konsep toko yang diusungnya boleh dibilang

cukup unik. Hal ini sengaja dilakukannya untuk

membedakan dengan toko yang sudah ada di sana.

Heri menyediakan pakaian khusus pria, dan merek

yang sudah terkenal. Desain dan kualitas menjadi

pertimbangan utama dalam pemilihan produk yang

dijualnya. Tentu saja dia melakukan pelabelan harga

untuk semua produknya. Konsumen yang dibidiknya

adalah para pemuda gaul dari kelas menengah ke atas.

Heri selalu mengamati produk yang sedang

ngetren di Jakarta, untuk dibawa ke Banda Aceh.

 

Biasanya produk yang saat ini sedang ngetren di

Jakarta, baru akan in di Banda Aceh setelah dua

atau tiga bulan, ujar Heri menjelaskan pengalaman

yang diperolehnya.

Untuk menjalankan bisnis ini, Heri menggandeng

seorang mitra yang sudah berpengalaman dalam

bisnis fesyen dan tinggal di Banda Aceh.

Keputusannya untuk bermitra tersebut tentu

mempunyai pertimbangan tersendiri.

“Saya berharap dengan bermitra, akan terjadi

sinergi dan akselerasi sehingga toko Fokus bisa

lebih cepat berkembang, jelasnya singkat.

Berkat ketekunannya, omzet penjualan di toko

Fokus mulai menggeliat. Pelayanan yang terbaik

kepada pelanggan terus dibangun. Konsumen yang

pernah membeli, sebisa mungkin dikonversi menjadi

pelanggan setia. Berbagai pelayanan yang sifatnya

personal juga dilakukan. Hasilnya, rata-rata para

pelanggan mau datang kembali untuk melakukan

pembelian ulang. Apalagi sejumlah koleksi terbaru

selalu didatangkan secara rutin dari Jakarta. Heri

berusaha untuk selalu memberikan informasi kepada

para pelanggannya, jika ada model terbaru dari Jakarta.

Dalam rangka memenuhi permintaan pelanggannya

 

akan produk yang bagus dan berkualitas, tidak

jarang Heri memanfaatkan sale moment yang

diselenggarakan oleh berbagai department store

bergengsi di Jakarta. Saat sale tersebut, dia bisa

berburu berbagai jenis produk yang berkualitas

dengan harga yang cukup murah. Tercatat

 

beberapa kali dia memborong produk eksklusif saat

ada program sale di Metro Department Store Plaza,

Senayan dan Pondok Indah Mall.

Seiring berjalannya waktu, toko Fokus mulai

dipercaya beberapa pemilik merek busana terkenal,

untuk menjadi authorized agent di Banda Aceh.

Omzet pun terus meningkat. Dalam sebulan, tidak

sulit bagi Heri untuk meraih pendapatan bersih di

atas sepuluh juta rupiah. Bayangkan saja, saat

peak season menjelang lebaran, omzetnya bahkan

pernah mencapai 480 juta rupiah.

Saat Heri mulai menikmati hasil dan usaha yang

dirintisnya, bencana Tsunami yang meluluhlantakan

Banda Aceh pada akhir 2004 lalu, ikut

menghancurkan toko Fokus kebanggaannya. Saat

itu bersama ribuan orang lainnya, Heri berusaha

menyelamatkan diri. Tsunami yang menghentakkan

perhatian dunia, benar-benar di luar kekuasaan

manusia untuk menolaknya.

Akibat Tsunami tersebut, HerĂ­ sempat hidup

bersama ribuan pengungsi lainnya. Keluarganya di

Jakarta panik luar biasa, karena tidak berhasil

mendapatkan kabar keberadaan Heri selama

beberapa hari. Apalagi saat itu nyaris semua

saluran komunikasi terganggu. Baru selang

beberapa hari, Heri berhasil memberi kabar kalau dia

selamat.

Ketegaran Heri juga diuji, ketika menyaksikan

toko yang telah dibangunnya dengan susah payah

hancur berantakan. Toko Fokus yang berada di

jejeran ruko, kondisinya penuh lumpur dan porak

 

poranda. Stok barang dagangan yang tidak ikut

hanyut, kondisinya rusak parah dan tidak mungkin

dijual lagi. Heri hanya terdiam menyaksikan kondisi

tokonya. Dia merasa mendapatkan teguran Yang Maha Kuasa.

“Saya berusaha untuk mengihklaskan semua,”

ucapnya singkat. Matanya tampak berkaca-kaca.

Walaupun hatinya sangat sedih, dia terus berusaha

untuk tegar.

“Saya bersyukur masih diberi kesempatan oleh

Tuhan. Saya yakin semua pasti ada hikmahnya,

tambahnya sambil berusaha untuk tersenyum.

Kabar tentang selamatnya Heri dari bencana,

sungguh merupakan sebuah anugerah bagi

keluarganya. Orangtuanya yang tinggal di Jakarta

sangat bersyukur atas keselamatan Heri. Walaupun

mereka juga sangat bersedih karena kehilangan

kerabat yang tidak sedikit jumlahnya. Peristiwa

Tsunami yang dialaminya langsung memberikan

banyak pengalaman ruhani yang luar biasa.

Setelah berbagai urusan di Banda Aceh

diselesaikannya, Heri kembali ke Jakarta. Dia

menenangkan diri untuk sementara waktu. Dia

mencoba untuk terus mengambil hikmah dan

sepenggal episode hidupnya. Setiap melihat berita

tentang Tsunami, dia selalu teringat

pengalamannya yang luar biasa waktu itu.

Atas dorongan dan bantuan dari saudaranya

yang ada di Jakarta, Heri memutuskan untuk

memulai lagi denyut kehidupannya dengan kembali

membangun usaha. Namun, kali ini dia tidak ingin

 

meneruskan usahanya di Banda Aceh. Heri bertekad

untuk membangun usaha kembali di Jakarta. Meski

dia harus memulai dari nol. Semua modalnya habis

ditelan Tsunami. Uang tabungan yang nilainya tidak

seberapa dimanfaatkannya untuk kembali mencari

peluang yang bisa digarapnya.

Dia mencoba menjalin silaturahmi dengan teman dan

 

kerabat yang ada di Jakarta. Tidak lupa

dia juga mengunjungi beberapa rekan bisnis yang

pernah menjadi suppliernya saat masih mengelola

toko di Banda Aceh. Dari hasil komunikasi tersebut

dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya dia

memutuskan untuk membuka bisnis dalam bidang

produksi dan pemasaran celana jeans khusus pria.

Bidang ini tentu saja bukan hal baru baginya. Sejak

dulu dia memang penggemar celana jeans. Sewaktu

berbisnis di Banda Aceh, celana jeans merupakan

salah satu produk andalan yang dijualnya.

“Saya ingin mencoba wilayah lain, kalau dulu

hanya sebagai distributor, kali ini saya akan

mencoba terjun sebagai produsen,” jelasnya

optimistis.

Berhubung terjun sebagai produsen adalah

pengalaman pertama baginya, Heri kembali

menggandeng mitra yang sudah punya banyak

pengalaman di bisnis celana jeans. Dengan modal

pinjaman dari beberapa kerabatnya, Heri

memberanikan diri untuk termain di pusat grosir

pasar Tanah Abang. Menempati sebuah kios di Blok

A lantai satu, bendera bisnisnya kembali dikibarkan.

Kali ini dia memakai nama toko Polly Jeans.

 

Sementara celana jeans yang diproduksinya

memakai merek Leyyos dan Volcano.

“Sebagai produsen, keberanian berbisnis di

Tanah Abang sangat diperlukan agar produk kita

segera dikenal di berbagai daerah, jelas Heri ketika

ditanya pertimbangannya dalam memilih pasar

Tanah Abang sebagai markas bisnis barunya.

Semua jenis pekerjaan dalam proses produksi

celana jeans, Heri serahkan ke perusahaan lain

dengan sistem makloon atau outsourcing. Dia

hanya perlu membeli bahan, menentukan model,

dan standar kualitas yang diharapkan. Pekerjaan

selanjutnya, mulai dari memotong kain, menjahit,

mencuci, sampai pekerjaan finishing, akan ditangani

perusahaan konveksi yang menjadi mitranya. Atas

jasa tersebut, Heri memberikan fee sesuai dengan

kesepakatan sebelumnya.

Walaupun kelihatannya sederhana, tetapi dalam

praktik, sering tidak semudah yang dibayangkan.

Kontrol terhadap konveksi yang ditunjuk harus

tetap dilakukan dengan ketat. Di samping untuk

menjaga standar kualitas barang, juga menghindari

keterlambatan penyelesaian suatu pekerjaan.

Dalam masalah model, misalnya, pengalaman

dan intuisi sangat diperlukan agar tidak terjadi

kesalahan dalam mengambil keputusan. Terutama

saat memutuskan untuk meluncurkan produk baru.

Apabila momentumnya tidak tepat, model yang

telah diproduksi bisa jadi hanya akan teronggok

manis di gudang. Model yang telah lewat atau out

of date, juga akan sulit terserap oleh pasar. Apalagi

 

bagi produsen yang bermain dalam jumlah besar,

kesalahan dalam meluncurkan model baru akan

sangat berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Lantaran semangatnya yang tinggi untuk terus

belajar, pernak pernik proses pembuatan celana

jeans pun cepat dikuasai Heri. Sadar atau tidak, dia

telah membangun jaringan bisnis dengan para

pemain senior di Tanah Abang. Perkenalannya

dengan para pemain yang menerima jasa makloon,

juga membuka wawasannya tentang peluang besar

di bisnis ini. Interaksi dengan para supplier kain ikut

menyumbangkan pengetahuan mengenai mata

rantai jalur distribusi kain di Indonesia.

Khusus untuk pembuatan celana jeans, kiprah

perusahaan yang bergerak khusus di bidang jasa

pencucian, juga menarik untuk dicermati. Teknologi

pencucian jeans, ternyata tidak sesederhana yang

dibayangkan Heri sebelumnya. Justru pada proses

pencucian inilah, kualitas dan efek kekhasan yang

ingin ditawarkan konsumen ditentukan.

Biasanya, di samping menggunakan formula

kimiawi tertentu, perusahaan jasa pencucian juga

memanfaatkan batu apung sebagai salah satu

media. Makin sulit dan bagus efek cucian yang

diharapkan, makin mahal jasa cuci per potongnya.

lntinya, hasil makin hancur, harga makin mahal,

 

cetus Heri sambil tertawa.

Pemberian aksesori tertentu juga menentukan

ciri khas dan difererisiasi produk. Aksesori juga

penting digunakan untuk membedakan dengan

produk pesaing. Semakin banyak aksesori, maka

 

akan semakin sulit ditiru pesaing. Tentu saja biaya

pembuatannya akan menjadi lebih mahal dan

berpengaruh terhadap harga jual akhir kepada konsumen.

Persaingan bisnis garmen di Tanah Abang juga

semakin ketat. Banyak sekali tantangan dan cobaan

yang harus dihadapi. Sebagai pusat grosir terbesar

di Asia Tenggara, Tanah Abang menjadi ajang

pertemuan para pedagang dari berbagai daerah,

bahkan mancanegara. Tentu saja tidak semua

pedagang tersebut menjunjung tinggi kode etik dan

nilai kejujuran dalam berdagang. Untuk itu, sangat

diperlukan sikap kehati-hatian dan selalu waspada

dalam setiap transaksi yang dilakukan.

Soal pembayaran tidak jarang menjadi masalah

utama bagi para pedagang di sini, terutama bagi

pendatang baru seperti Heri yang masih mencoba

untuk meraih pelanggan. Agar bisa bersaing dengan

para pedagang lainnya, sering kali dia tidak bisa

menolak pembayaran dengan giro mundur yang

cukup lama. Pelanggan dari luar daerah yang

membeli dalam jumlah besar, rata-rata selalu

menggunakan giro mundur sebagai alat

pembayarannya,” ujar Heri berterus terang.

Awalnya memang lancar-lancar saja. Tapi setelah

 

berjalan beberapa lama, masalah mulai

bermunculan ketika ada beberapa giro yang

diterimanya tidak bisa dicairkan alias kosong.

Berurusan dengan customer yang telah

memberikan giro kosong ini, sangat menyita energi

dan pikiran. Padahal Heri sudah terhitung sangat

 

hati-hati dalam melepas produknya, terutama

untuk pelanggan yang memakai sistem pembayaran

mundur ini. Namun, kadang-kadang ada saja

masalah yang muncul di luar kendalinya.

Kadangkala Heri harus mendatangi langsung

pelanggan yang tidak menunjukkan sikap kooperatif

dalam urusan pembayaran dengannya. Perjalanan

bisnis ke Sumatra pun pernah dilakukannya untuk

menyelesaikan masalah utang-piutang dengan

beberapa customer yang bandel.

Dalam kondisi sulit, karena tersendatnya aliran

dana masuk, Heri harus pintar memutar otak untuk

meyakinkan supphernya bahwa dia akan tetap

memenuhi kewajiban pembayaran kain kepada

mereka. Biasanya dia minta pengunduran jatuh

tempo kepada beberapa supplier yang sudah lama

menjadi mitranya.

Berpartner dengan orang lain ternyata juga

memberikan tantangan tersendiri. Pemilihan partner

yang tepat, sangat menentukan keberhasilan usaha

yang dibangun. Kecocokan dalam visi dan misi

diperlukan agar bila terjadi beda pendapat bisa

diselesaikan dengan baik. Namun dalam perjalanannya,

 

selalu ada perbedaan pendapat yang menuntut

sikap kedewasaan dan kebijaksanaan yang tinggi.

Salah satu tantangan yang paling berat adalah

 

bagaimana mengelola mental agar senantiasa

tegar dan tenang dalam menghadapi masalah apapun.

 

Heri menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam

 

bermain di pusat grosir sekelas Tanah Abang tidak

hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dan

manajemen yang tinggi.

“Kepiawaian dalam mengelola hati atau emosi

justru sangat menentukan keberhasilan pebisnis,”

ujar Heri sambil berusaha merekam pengalamannya.

Persaingan yang amat ketat disertai dengan

berbagai cobaan yang datang silih berganti,

menuntut kebijaksanaan tingkat tinggi. Apalagi

praktik persaingan bisnis yang tidak sehat sering

terjadi di pasar grosir terbesar ini. Godaan untuk

berbuat tidak fair selalu ada dan terbuka.

Keteguhan hati dan keyakinan terhadap prinsip

sangat diperlukan agar tidak terombang-ambing

oleh kuatnya gelombang kehidupan, tandas Heri

yang hobi menonton sepak bola ini.

Sampai detik ini, Heri terus belajar untuk bisa

mengelola mentalnya dengan baik. Aspek mental ini

berpengaruh langsung pada prestasi seorang

pebisnis. Setiap pebisnis perlu membekali diri

dengan sikap mental yang kuat, baik, tangguh, dan

tahan banting. Salah satu caranya adalah dengan

selalu belajar dan berlatih membangun serta

mempertahankan sikap mental yang sudah baik,

melalui kebiasaan hidup yang seimbang. Heri

menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan yang

ingin dicapainya harus dibayar dengan proses

perjuangan yang panjang.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Hadi Kuntoro, Juragan Selimut yang Sukses Berkat Tempaan Jatuh Bangun Berbisnis

Gaya berbisnis wirausahawan yang satu ini bisa

dibilang cukup unik. Hanya dengan modal bercerita,

 

Hadi Kuntoro bisa menjual ribuan selimut

dalam waktu sebulan. Bercerita atau sharing

memang telah menjadi kegemarannya sejak dulu.

Apalagi kalau ngobrol soal bisnis, berbagai ide yang

keluar seakan tidak pernah ada habisnya.

Gayanya dalam bercerita pun bisa dibilang

cukup unik. Lugas, tangkas, to the point, dan

diungkapkan dengan logat Jawa yang masih kental.

Apalagi kalau bertemu partner ngobrol yang cocok,

 

dia sanggup bercerita hingga berjam-jam. Tentu

saja diselangi dengan humor-humor yang bisa menyegarkan suasana.

Rupanya, pengalaman jatuh bangun dalam

berbisnis yang sering dialaminya telah memberikan

lautan hikmah kehidupan yang sedemikian dalam.

Hal itu tampak terbaca dengan jelas dari cara dia

bercerita dan bertutur kata.

Ide awal berbisnis selimut, sebenarnya sangat

sederhana. Bisnis ini bermula dari perkenalannya

dengan salah seorang pria berkewarganegaraan

Jepang yang memiliki sebuah perusahaan selimut di

Indonesia. Produk selimut dari perusahaan orang

Jepang tersebut telah diekspor ke berbagai negara.

Yang mengherankan, walaupun pabriknya ada di

Indonesia, tetapi ternyata pemasarannya justru

difokuskan hanya untuk pasar mancanegara, bukan

pasar domestik. Hal inilah yang menginspirasi Hadi

untuk mengambil peluang pemasaran dengan

menggarap pasar dalam negeri yang masih sangat terbuka.

Perbincangannya dengan pemilik perusahaan

Jepang, Hadi baru tahu kalau ternyata izin

pemasaran produk selimutnya memang bukan untuk

Indonesia, melainkan khusus pasar ekspor sehingga

dia tidak berani memasarkannya di Indonesia

sendiri. Kebanyakan selimut yang diproduksinya

juga merupakan pesanan dari beberapa pemilik

merek terkenal, dan hanya untuk melayani pasar di luar negeri.

Bukan Hadi namanya kalau menyerah begitu saja.

 

Dia mulai mencari cara agar bisa memasarkan

selimut tersebut di dalam negeri, walaupun

jumlahnya mungkin belum bisa banyak. Akhirnya,

berkat cerita dari orang Jepang tersebut, Hadi

mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk

memanfaatkan sebuah peluang yang lebih dahsyat.

Sebagaimana perusahaan besar lainnya, dalam

setiap produksi biasanya selalu ada spare atau

kelebihan produksi untuk setiap model yang dibikin.

Demikian juga dengan perusahaan Jepang ini.

Perusahaan ini selalu membuat sedikit lebih banyak

dari pesanan pembeli yang ada di luar negeri.

Kelebihan produksi tersebut dimaksudkan untuk

mengantisipasi seandainya ada produk yang rusak

sehingga pengiriman tidak terganggu.

Berhubung selimut tersebut merupakan produk

yang khusus untuk dijual di luar negeri, kelebihan

produksinya tidak bisa dipasarkan di dalam negeri

dan harus dimusnahkan. Setiap bulan perusahaan

Jepang tersebut selalu melakukan pemusnahan atas

kelebihan produksinya. Peluang inilah yang segera

dicium Hadi. Dia pun langsung berusaha meyakinkan

dan melobi pemilik perusahaan agar memberinya hak

untuk membeli kelebihan produk yang biasa dimusnahkan.

Awalnya orang Jepang keberatan. Ia tidak berani

 

mengambil langkah yang menurutnya cukup

berisiko. Namun berkat kegigihannya, akhirnya

permintaan Hadi disetujui. Tentu saja dengan satu

syarat, dia tidak boleh menjualnya di mal atau

department store. Hadi hanya dibolehkan menjual

 

selimut kelebihan produksi tersebut ke para

tetangga atau komunitasnya saja. Supplynya juga

tidak bisa dipastikan karena mengikuti kondisi

proses produksi yang ada di perusahaan. Syarat

tersebut langsung disanggupinya dengan sukacita.

Berbekal beberapa buah selimut sebagai contoh,

 

Hadi pun mulai “bergerilya”. Dalam setiap

kesempatan, dia selalu bercerita tentang mainan

barunya tersebut. Di antara temannya, ada yang

menyambutnya dengan antusias. Namun, tidak

sedikit pula yang menyambutnya dengan dingin

alias cuek saja. Mungkin mereka menganggap bisnis

di bidang ini tidak mempunyai prospek yang jelas.

Seiring bergulirnya waktu, berkat pola komunikasi

 

yang dijalankan Hadi secara konsisten,

selimutnya mulai dikenal banyak orang. Komunikasi

pemasaran yang dilakukan dari mulut ke mulut,

tampaknya sedikit demi sedikit mulai berbuah.

Banyak teman-teman yang bertandang ke

rumahnya, dan akhirnya ikut bergabung sebagai

reseller setelah mendengar berbagai cerita dahsyat

darinya. Bahkan, tidak sedikit reseller baru yang

mengambil produknya dalam jumlah yang cukup

banyak. Padahal, Hadi tidak pernah merayu mereka.

Dia hanya bercerita tentang sebuah peluang besar

yang bisa diraih dengan bergabung dalam bisnis

selimutnya. Tentu saja cerita yang disampaikan

juga bukan isapan jempol belaka. Cerita yang

disampaikannya selatu sesuai fakta dan bisa

dibuktikan di lapangan. Berkat gaya berceritanya

yang memang sangat menarik, banyak

 

teman-teman Hadi yang semula masih ragu dan

takut untuk terjun dalam dunia bisnis menjadi berani

untuk mencoba.

Sejak awal saya memang ingin menjadikan

komoditas ini sebagai pancingan buat teman-teman

saya untuk ikut terjun berbisnis, ujar Hadi

menjelaskan salah satu motivasinya.

Dalam hal pengambilan keputusan, Hadi juga

selalu berusaha untuk kreatif. Misalnya saja saat

film Spiderman 3 melanda penggemarnya di

Indonesia. Dia menyempatkan din untuk menonton

film tersebut di Pondok Indah Mall 21. Dia ingin

melihat dan memperkirakan secara langsung,

dampak film tersebut terhadap merchandise selimut

Spiderman yang dijualnya.

Dan antusiasme masyarakat yang dilihatnya

secara langsung, Hadi bisa memastikan bahwa

selimut Spiderman yang dijualnya pasti akan laris

manis. Begitu saya dengar anak-anak menangis

ketika Spiderman terlihat terdesak oleh Sandman

dan ketika seorang ABG di samping saya berteriak

histeris tidak terima ketika Luci, si foto model yang

cantik manja ke Spiderman layaknya kekasih,

dengan mantap saya akan berani order selimut

Spiderman ini 2000 Iembar, ungkapnya.

Prediksi Hadi ternyata memang tepat. Sepulang

dari nonton, dia mendapat informasi dari istrinya

kalau order selimut Spiderman meningkat tajam.

Fenomena ini juga dikonfirmasi lagi oleh beberapa

agennya. Penjualan selimut Spiderman yang

sebelumnya sempat mandek, tiba-tiba melonjak

 

lagi. Ternyata dampak kesuksesan sebuah film

sangat besar terhadap penjualan merchandise yang

berhubungan dengannya. Proses pengambilan

keputusan yang didahului dengan melihat apa yang

menjadi tren di masyarakat hanyalah salah satu

cara yang dipakai oleh Hadi.

Strategi bisnis yang awalnya hanya bermodalkan

 

cerita ini, kini mulai digarap dengan lebih

profesional. Hadi pun memanfaatkan teknologi

Internet dengan membuat blog untuk menjangkau

pasar yang lebih luas. Langkah ini berani

dilakukannya setelah dia mendapatkan hak khusus

dari pemilik perusahaan selimut tersebut untuk

memasarkannya di dalam negeri.

Hal ini dilakukan karena orang Jepang telah

mendapatkan izin untuk memasarkan produknya di

dalam negeri, setelah melihat prestasi penjualan

domestik yang terus meningkat. Hadi juga tidak lagi

mendapatkan supply barang kelebihan produksi. Dia

kini bisa meminta kuota dan membuat Purchase

Order sendiri. Jika dulu dia hanya bisa memasarkan

selimut dengan merek Bibie, kini merek dan model

yang dipasarkannya sudah mencapai puluhan item.

Bahkan, semua model yang diproduksi oleh

perusahaan tersebut bisa dipesannya.

Dengan strategi yang lebih profesional tersebut,

 

omzet penjualan selimut Hadi meningkat

cukup signifikan. Peningkatannya juga tidak lagi

bersifat linear, tetapi eksponensial. Reseller yang

bergabung pun kini bukan lagi hanya

teman-temannya, melainkan juga orang-orang yang

 

selama ini belum dikenalnya sama sekali.

Berkat bisnis ini, Hadi banyak sekali mendapatkan

 

kenalan baru yang ikut bergabung memasarkan

selimutnya. Sungguh percepatan ini tidak dia duga

sebelumnya. Jika awalnya dia hanya mampu menjual

puluhan selimut dalam waktu sebulan, kini

penjualannya bisa mencapai ribuan potong per

bulan. Kalau harga satu selimut rata-rata seratus

ribu rupiah, sudah bisa dihitung berapa omzet yang

berhasil diraihnya.

Rumah Hadi yang ada di Taman Harapan Baru

Bekasi, saat ini setiap hari selalu ramai dikunjungi

orang dari berbagai penjuru Jabodetabek, bahkan

dari luar kota, yang datang baik untuk belanja

selimut ataupun sekadar untuk belajar bisnis kepadanya.

Keputusan Hadi untuk bermain grosir juga

merupakan keputusan yang tepat. Sejak awal dia

memang lebih membidik orang-orang yang berniat

untuk ikut berbisnis selimut. Dia sengaja tidak

mengambil keuntungan terlalu besar dari setiap

item produk. Hal ini agar agen atau reseller yang

menjadi mitranya lebih bebas bermain dan bisa

menikmati keuntungan yang menarik. Sementara

Hadi lebih suka mengandalkan volume penjualan

yang lebih banyak. Lagi pula, bisnis ini dia

maksudkan sebagai wahana untuk memancing

mereka yang selama ini ragu-ragu atau takut

menerjuni dunia bisnis.

Berkat bimbingan yang diberikannya, banyak

pendatang baru dalam dunia bisnis berhasil

 

memasarkan produknya. Apalagi Hadi memberikan

sensational offer, berupa jaminan uang kembali jika

selimut yang telah dibeli hendak dikembalikan

karena tidak laku.

Bahkan untuk pebisnis pemula, dia berani membeli

 

dengan harga lebih tinggi dari harga dasarnya

dulu, agar mereka tetap menikmati keuntungan. Hal

ini dilakukannya semata-mata untuk mendobrak

mental mereka yang masih takut dalam mengambil risiko bisnis.

Selain karena kepiawaiannya dalam bercerita,

keberhasilan Hadi dalam membangun bisnis selimut

ini, juga didukung oleh beberapa faktor. Diantaranya:

1. Kualitas barang yang dijual adalah kualitas

standar internasional, karena memang dibuat

untuk ekspor ke mancanegara;

2. Harganya relatif murah dibanding dengan

selimut sejenis di pasaran;

3. Cara menjualnya cukup mudah, karena strategi

pemasaran dan pengetahuan produk diajarkannya dengan teperinci;

4. Khusus bagi pebisnis pemula, yang baru

mencoba dari tidak atau belum berhasil

menjual, maka Hadi bersedia membeli

barangnya kembali dengan harga yang lebih

tinggi sebagai penghargaan atas kemauan mereka untuk mencoba.

“Jadi tidak ada alasan yang perlu ditakutkan

karena ini saya niatkan untuk proses pembelajaran

buat teman-teman saya,” ungkap pria kelahiran 1972 ini.

Dengan strategi tersebut, banyak pebisnis

pemula yang sukses menjual produknya. Banyak di

antara mereka yang berhasil meruntuhkan mental

block yang selama ini menghalangi kepercayaan diri

mereka untuk terjun berbisnis. Sarana pembelajaran

bisnis yang diciptakan Hadi ternyata benar-benar

bermanfaat untuk melahirkan wirausahawan baru.

Harapan Hadi, kalau customernya bisa menjual

 

kembali selimutnya dengan sukses, maka hal itu

akan memunculkan perasaan aku bisa pada diri

mereka. Selanjutnya mereka akan menjadi

pemberani dan putus urat malunya. Kelak dengan

media bisnis apa pun juga, mereka akan sama

beraninya, tegas Hadi.

Kini selimut jepangnya telah dikenal. Modelnya

juga sangat banyak. Mulai dan Barbie, Spiderman,

Winnie the Pooh, Snoopy, Hello Kitty, Pinguin,

Osaka, Okinawa, dan Queen Royal. Bahkan, saya

juga menjual selimut merchandise asli dari berbagai

universitas terkenal di dunia dan beberapa klub

sepak bola ternama, ungkap pria yang hobi makan bakso ini.

Berkat kegigihannya juga, selimut Jepang

tersebut kini memenuhi ruang display beberapa

buah toko dan grosir di Pasar Regional Tanah Abang

Jakarta. Terobosan pemasaran ini, tak ayal hagi

membuat omzetnya terus meroket dari waktu ke waktu.

Keberhasihannya dalam membangun bisnis selimut ini,

 

menginspirasi Hadi untuk berbuat lebih

 

banyak lagi. Dia ingin menciptakan satu wahana lagi

untuk membantu banyak orang. Akhirnya, setelah

melakukan negosiasi dengan pemilik pabrik

selimutnya, dia kini bisa memesan satu jenis produk

lagi berupa sajadah. Teknologi pembuatan sajadah

ternyata tidak jauh berbeda dengan selimut

sehingga pabrik tersebut bisa mengerjakannya.

Tentu saja dengan minimum order yang mencapai

ribuan potong untuk setiap modelnya.

Hadi pun menentukan sendiri model dan warna

sajadah yang diinginkannya. Dia sangat yakin

dengan prospek produk ini. Apalagi produk ini

dilaunching menjelang bulan Ramadhan, di saat

permintaan sajadah sedang meningkat. Sajadah

yang diproduksinya untuk tahap awal memakai

merek Mecca dan Palestine dengan masing-masing

mempunyai empat pilihan warna. Dan untuk

pemasarannya, di samping melalui blog yang

dibikinnya, juga mengandalkan para agen yang

selama ini setia bermitra dengannya.

Keberhasilan yang dicapai Hadi tentu saja tidak

 

terjadi begitu saja. Kerja keras yang disertai

semangat untuk terus belajar menjadi salah satu

kunci keberhasilannya. Kegigihan dan sikap tidak

mudah menyerah juga memberikan andil yang tidak

sedikit dalam proses pembelajaran bisnis yang

dilakukannya. Ia pun pernah mengalami masa yang

amat pahit ketika awal-awal mencoba berbisnis.

Tidak jarang dia harus kehilangan modal karena

bisnis yang pernah dijalankannya tidak berjalan

sesuai yang direncanakan.

 

Hadi pernah membuktikan betapa bisnis tanpa

ilmu sungguh merupakan hal yang sangat

mengenaskan. Beberapa pengalaman pahit terjadi

ketika keinginan Hadi untuk memulai bisnis sudah

bergejolak. Waktu itu, dia hanya belajar dari apa

yang dia lihat dan dengar di sekitarnya. Tidak pernah

 

terpikir olehnya untuk belajar bisnis dari yang

 

terbaik di bidangnya.

Salah satu pengalaman pahit terjadi pada

1999. Atas permintaan seorang pedagang salak

keliling yang menjadi langganannya, Hadi

mendapatkan pesanan dari pedagang tersebut.

Intinya dia sanggup membeli salak pondoh dari

kampungnya di Jawa Tengah dengan harga Rp4.000

per kg. Sedangkan harga salak di kampungnya saat

itu sekitar Rpl.500 per kg. Waktu itu harga salak

keliling sekitar Rp8.000 per kg. Sudah terbayang di

pikiran Hadi berapa keuntungan yang bakal diraihnya.

Tanpa pikir panjang, dia langsung memesan

salak ke kampung dengan sangat optimistis. Begitu

berpeti-peti salak datang, rupanya janji pedagang

salak tersebut tidak seindah yang diucapkan. Salak

pondoh dari kampungnya tersebut dibilang

kebanyakan air, kecil-kecil, dan asam. Tidak seperti

salak pondoh dari Sleman.

 

Padahal, sebetulnya salak yang ditawarkan

Hadi cukup manis dan ukurannya tidak jauh berbeda

dengan salak pondoh dari Sleman. Lagi pula

konsumen juga tidak akan bisa membedakan mana

yang dari Sleman atau dari kampunqnya. Pedagang

salak itu pun hanya mau membeli dengan harga

Rpl.000 per kg. Itu pun bayarnya di akhir jika

barang sudah laku.

Hadi sangat kecewa dan hanya bisa tersenyum

kecut. Ternyata pedagang salak langganannya

tersebut tidak menepati janji yang telah disepakati

sebelumnya. Hadi sempat shock, tumpukan salak

pondoh memenuhi rumah kontrakannya. Bau salak

yang diciumnya tiap saat, terus mengusik

pikirannya. Saat itu dia tidak tahu harus

dikemanakan buah salak sebanyak itu.

Akhirnya, pada suatu malam, dengan motor

butut keluaran 1993 kesayanganya, Hadi bersama

istri yang sedang hamil tua, pergi ke Pasar Kranji

Bekasi yang sangat kumuh dan sempat kehujanan.

Setelah jalan ke sana kemari, dia bisa bertemu

dengan seorang bandar buah yang hanya menawar

salaknya seharga Rpl.500 per kg. Itu pun dibayar

belakangan sesuai jumlah yang laku.

Daripada dia stres dengan bau salak di rumah,

akhirnya Hadi menyetujui dan menyewa becak

untuk membawa salak bolak-balik dari rumah ke

pasar Kranji. Pengalaman itu sempat dirasakannya

sebagai mimpi buruk dalam belajar bisnis di Jakarta.

Dia bahkan tidak ingat lagi apakah akhirnya salak

tersebut dibayar semuanya atau tidak.

 

Tak hanya pengalaman berbisnis salak, Hadi juga

pernah mencoba berbisnis buah nangka yang

dibawanya dan kampung. Bisnis itu dilakukannya

setelah menerima pesanan dari seorang pedagang

yang dikenalnya. Namun,pengalaman mensupply

nangka ke sebuah pasar,hanya berbuah ongkos belajar.

 

Saat itu rupanya dia kurang belajar dari pengalaman sebelumnya.

Namun, dia tidak menyerah. Hadi terus menggali

 

peluang baru. Sebagai usahawan dia sadar

betul bahwa peluang sering tidak datang dua kali.

Usahawan harus tahu kapan peluang itu hadir di

depan matanya, dan kapan harus mengambil

keputusan untuk meraih peluang tersebut.

Dalam berbisnis, Hadi selalu berusaha agar

suasana hatinya selalu dalam keadaan fun. “Apapun

 

bisnis yang dijalani, laksanakanlah dengan

enjoy dan happy,” pesannya. Dia menegaskan

bahwa bisnis itu hanyalah suatu game atau

permainan belaka. karena itu dari awal bisnis

segalanya saya buat seperti game saja, kalau saya

sedang kalah, ya... tidak perlu panik. Hati tetap

happy dan dengan sedikit kecerdikan dan serius

belajar nanti juga bisa menang lagi. Dengan merasa

senang, semangat dalam berbisnis tidak akan

mudah pudar,” ungkap bapak dengan tiga anak ini.

 

Berbisnis dengan fun dan tanpa beban

menyebabkan pikiran kita jadi Iebih jernih. Sesuatu

akan sempurna jika dilakukan dalam suasana

yang menyenangkan, tanpa tekanan dan atas inisiatif

diri sendiri. Lakukanlah bisnis seperti melakukan

hobi. Pasti kita akan menikmatinya, ujar suami

dari Ami ini mantap.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Triwoko, Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Berpegang pada Falsafah Memberi dan Melayani

Berbekal pengalaman bekerja di berbagai

perusahaan, Bambang Triwoko memantapkan diri

terjun dalam dunia entrepreneurship. Walaupun

saat mengundurkan diri pada pertengahan 2002,

bisa dibilang jabatan dan penghasilannya sebagai

karyawan cukup tinggi, namun panggilan jiwanya

untuk menjadi entrepreneur tidak tertahankan lagi.

Setelah lima tahun berbisnis, saat ini Bambang

berhasil mengembangkan kerajaan bisnisnya menjadi

beberapa jenis usaha. Di antaranya adalah Betiga

Klaten, Asrama Putri Betiga, Classy Tent, Refillo

 

Jakarta, Transtek Trimitra, dan Taman Gondosuli.

Betiga Klaten merupakan sub distributor semua

produk AQUA, Danone, dan sub agen LPG kemasan

12 kg dan Pertamina, dengan wilayah pemasaran

Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Betiga Klaten

melayani pembelian grosir maupun eceran dengan

harga yang kompetitif. Semua pembelian produk

diantar sampai lokasi pembeli di seluruh wilayah

Kabupaten Klaten tanpa biaya tambahan alias gratis.

Sementara itu, Asrama Putri Betiga menyediakan

 

jasa pemondokan khusus putri dengan

kapasitas 43 kamar di 3 lokasi yang saling

berdekatan di daerah Pringwulung, Condong Catur,

Yogyakarta. Lokasi pondokan tersebut cukup

strategis, berjarak cukup dekat dengan Universitas

Atmajaya, Sanata Dharma, UNY, UPN, AKS

Tarakanita, AMPTA, dan perguruan tinggi lainnya.

Setiap kamar sudah dilengkapi dengan tempat tidur,

lemari pakaian, dan meja belajar. Tersedia fasilitas

dapur, ruang tamu, garasi sepeda motor, dan taman.

Sedangkan Classy Tents bergerak di bidang

jasa penyewaan tenda dekorasi di wilayah

Jabodetabek. Jenis-jenis tenda yang tersedia

antara lain tenda flat, tenda canopy, tenda

kerucut, dan tenda hall. Classy Tent juga

menyewakan alas papan, panggung, rigging stage,

air conditioning, sound system, lighting set, florist,

dan mini garden, dan segala keperluan dekorasi

ruangan. Classy Tent didirikan pada 1 April 2003,

dua bulan lebih awal dari Betiga Klaten yang berdiri

 

pada 2 Juni 2003.

Ownership Classy Tent merupakan gabungan

unik persahabatan di antara partner yang terdiri

dari delapan orang. Setting awal bisnis ini adalah

sebagai wadah mitra bisnis, atau partner agar

selalu dapat bersilaturahmi di masa pensiun,

korporasi ini lebih menitikberatkan pada aspek

ikatan kekelurgaan di antara partner.

Mayoritas partner masih aktif berkarya sebagai

karyawan di perusahaan, dan menduduki jabatan

manajerial sehingga praktis waktu untuk mengelola

bisnis Classy Tent terbatas. Amanah pengelolaan

bisnis diberikan kepada dua orang partner, salah

satunya adalah Bambang.

Laju tumbuh bisnis penyewaan tenda ini cukup

bagus. Perusahaan sudah bisa menghasilkan

keuntungan sejak awal berdiri. Hal ini didukung

faktor tingkat persaingan yang belum begitu tajam.

Ada beberapa hambatan yang dihadapi Bambang

 

dalam menjalankan bisnis ini. Hambatan

tersebut di antaranya pengambilan keputusan

kebijakan strategis yang kurang cepat, karena

harus mempertahankan aspek persetujuan dan

partner yang lain. Terlebih apabila harus mengambil

keputusan kategori investasi, dampak yang

dirasakan adalah banyaknya peluang yang terlewatkan.

Keterbatasan waktu adalah faktor yang kurang

menguntungkan berikutnya dalam usaha

pengembangan perusahaan. Di samping itu, ada

juga perbedaan corporate culture dan mindset dari

 

pengelola bisnis.

Meskipun banyak hambatan yang dihadapi, laju

tumbuh Classy Tent boleh dibilang cukup

spektakuler. Total aset menjadi empat kali lipat bila

dibandingkan tahun pertama bisnis ini didirikan. Net

worth yang dihasilkan ternyata juga mengalami

kenaikan rata-rata 20% per tahun. Hebatnya lagi,

akumulasi laba yang dihasilkan selalu digunakan

untuk re-investasi perlengkapan tenda.

Bambang juga membuka bisnis Refillo Jakarta

yang melayani jasa isi ulang tinta printer laser, dan

inkjet di wilayah Jakarta Selatan. Bisnis dalam

bidang ini semuanya telah diserahkan kepada karyawan.

Melalui PT Transtek Trimitra, Bambang

mengepakkan sayap bisnisnya dalam bidang

konstruksi renovasi gedung, jalan dan jembatan,

elektrikal dan mekanikal, pelatihan SDM, dan

sertiflkasi spesialis welding.

Berkolaborasi dengan keluarga, Bambang juga

mendirikan bisnis Taman Gondosuli yang

menyediakan aneka tanaman hias berkualitas,

indoor maupun outdoor. Taman Gondosuli

menyajikan tanaman hias dengan kemasan yang

artistik dan unik yang berlokasi di daerah Klaten.

Setelah menggeluti beberapa bisnis sekaligus

dalam waktu 5 tahun terakhir, tampak benang

merah perbedaan fundamental bisnis yang

berdampak pada laju pertumbuhan korporasi.

Korporasi bisnis distribusi Betiga Klaten dan Real

Estat (asrama putri, rumah sewa) Betiga Yogya,

 

sebagai flag carrier bisnisnya, kini menunjukkan

laju tumbuh yang signifikan. Korporasi ini 100%

modalnya dimiliki keluarga serta dikelola sendiri

secara langsung, sehingga kecepatan dalam

mengambil keputusan penting dapat dilaksanakan setiap saat.

Terlebih Bambang telah menentukan falsafah

dan budaya bisnis yang pas. Hal ini berdampak pada

akselerasi laju tumbuh perusahaan sehingga roh

bisnis terasa sekali auranya. Setiap kali mengalami

problem bisnis yang serius dapat cepat ‘exit’

bahkan setiap problem tersebut nyaris selalu

menjadi pertanda leverage korporasi, ungkap

Bambang dengan semangat.

Bahkan, untuk menghindari comfort zone bisnis,

 

Bambang terkadang justru menciptakan

problem positif di perusahaan, misalnya menambah

investasi armada distribusi. Dengan bertambahnya

armada distribusi, otomatis adrenalin dipacu agar

armada tidak mengalami idle capacity.

Untuk Real Estate, problem positif yang diciptakan

 

berupa renovasi properti yang memerlukan

dana tidak sedikit sehingga kreativitas muncul

dalam mencari sumber pendanaan renovasi. Tentu

saja, Bambang tetap fokus terhadap kepuasan

stakeholders, dan kualitas pelayanan yang selalu

lebih baik. Sering kali kebijakan bisnis tersebut

melanggar kelaziman pakem berbisnis, baik dari sisi

marketing, teknis operasional, finance maupun SDM.

Kadangkala Bambang mengambil kebijakan yang

tidak lazim. Salah satu contohnya adalah

 

menghibahkan 40% saham perusahaan Betiga

Klaten kepada koperasi karyawan Betiga Klaten

pada 2010. Kebijakan lain yang keluar pakem,

setelah salah satu perusahaan yang akan dijadikan

andalan hidup ternyata bangkrut dan ditutup pada

2003. Bambang mendirikan Betiga Klaten dan

mengambil kebijakan untuk membagikan profit

setiap bulan kepada karyawan, dengan persentase

sama besar dengan persentasenya sebagai pemilik

perusahaan.

 

Sampai saat ini, Bambang selalu konsisten

dengan kebijakan tersebut, meskipun korporasi sudah

berkembang pesat. Satu hal yang selalu mewarnai

passion Bambang dalam berbisnis adalah selalu

berbisnis dengan hati, selalu bersyukur dan ikhlas

setiap saat. Justru dengan semangat tersebut,

aktivitas operasional bisnis bisa berjalan dengan

optimal. Sistem pendelegasian wewenang

bisa berjalan dengan mulus. Pembelajaran alih

pengelolaan perusahaan kepada karyawan sebagai

mitra kerja juga mulai menghasilkan sinergi bisnis yang bagus.

Bambang merasakan betapa dia mendapatkan

anugerah dan kenikmatan yang luar biasa ketika

menerapkan falsafah 2 M (Memberi dan Melayani).

Falsafah tersebut selalu diterapkannya, baik dalam

kehidupan bisnis, keluarga, maupun bermasyarakat.

Dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam berkarya.

Penerapan falsafah memberi dan melayani

dalam berbisnis, dilakukan Bambang dengan

mengelola SDM yang bervisi entrepreneurship. Hal

ini diyakininya akan menjadikan bisnis semakin

mengkilap sepanjang waktu.

Bambang juga selalu berusaha menerapkan

positive feeling dalam setiap jengkal kehidupannya.

Fakta kehidupan pribadi yang Bambang rasakan

juga merupakan wujud positive feeling yang

dijalankan setiap saat, yakni menjadikan relasi

suami-istri dalam kondisi saling memberi dan

melayani, saling menghormati dan saling mendukung

dalam setiap karya pengabdian kepada masyarakat.

Dia menjelaskan bahwa sering kali hanya positive

feeling-lah yang mampu merasakan keindahan serta

keajaiban spirit memberi dan melayani ini.

Positive feeling juga menghasilkan relasi dengan

 

anak-anak tercinta selalu dalam kondisi yang

menakjubkan. Komunikasi yang terjalin akrab dan

mengalir seperti yang diharapkan menjadikan proses

belajar anak-anak di sekolah dan pembelajaran di

rumah berjalan dengan baik.

Bambang menyadari betapa pentingnya arti

 

sebuah perjalanan hidup. Bambang percaya bahwa

Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi

kemampuan hamba-Nya. Kesempatan untuk

menjadi manusia yang berguna selalu terbuka

lebar, yakni dengan selalu berdoa dan berusaha

menjadi balk. Sambil belajar mengatasi problem

kehidupan, Bambang justru mencoba merekrut

karyawan dengan berbagai latar belakang stigma

negatif masyarakat, ada pemabuk, penjudi, drop

out sekolah, dan sebagainya.

Ternyata, kinerja yang mereka hasilkan sungguh dahsyat.

 

Kuncinya dengan memberi mereka

kesempatan dan kepercayaan, serta diperlakukan

sebagal manusia yang bermartabat. Memang

terkadang masih terjadi hal-hal kecil yang menjadi

kebiasaan lama mereka, namun hebatnya justru

rekan sejawat mereka sendiri yang saling

mengingatkan agar kembali ke hal-hal yang balk.

Ada satu nasihat almarhum ayahnya yang

sampal kini masih selalu terngiang di telinga

Bambang “Sing podho rukun,” pesan ayahnya untuk

selalu menjaga kerukunan. Satu kalimat yang begitu

singkat bermakna cukup dalam. Ayahnya pun

memberi contoh tindakan konkret, antara lain

dengan membantu mengatasi masalah keuangan

yang dihadapi adik-adiknya, tulus, dan tanpa

pamrih sedikit pun. Menjadi orangtua asuh

keponakan yang kurang mampu agar dapat

bersekolah, dan mencarikan pekerjaan untuk anak

tetangga yang drop out sekolah dan sebagainya.

Yang membuat Bambang kagum dan terharu

 

adalah ayahnya bukanlah seorang miliarder. Ayah

Bambang berprofesi sebagai guru pegawai negeri,

yang tidak neko-neko dan jujur. Untuk biaya hidup

sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya pun

sering kali pinjam sana sini untuk menutupi negatif

cash flow-nya.

Ketika anak-anaknya meminta agar keperluan

keluarga sendiri diutamakan dan menunda dulu

urusan membantu orang lain (meskipun masih

keluarga), ayahnya menjawab, orang tersebut

lebih memerlukan dari pada kita, tidak ada salahnya

kita membantu orang lain, bapak juga tahu kita

sedang kesulitan finansial. Percayalah, setiap kali

kita membantu orang lain, Tuhan akan selalu

memberi kemudahan dalam karya-karya kita.

Jawaban dan falsafah hidup ayahnya tersebut

dipakai sebagai way of life Bambang hingga kini.

Falsafah tersebut begitu dahsyat merasuk dalam

sendi-sendi kehidupannya sehingga dalam setiap

langkah bisnis, dia selalu berprinsip memberi dan

melayani.

Saat ini, Bambang masih memiliki beberapa

impian. Di antaranya adalah menghibahkan 40%

saham perusahaan dan menyerahkan pengelolaan

Betiga Klaten kepada koperasi karyawan Betiga

pada 2010. Ketika pensiun pada 23 Desember 2010

nanti, dia menargetkan mempunyai pasif income

lima kali biaya hidup, mempunyai mobil baru Honda

Accord tahun produksi 2010, dan menikmati masa

pensiunnya dengan berwisata ke luar negeri

bersama sang istri tercinta.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Arya Yoga, Sosok Wirausahawan Difabel Sukses Lewat Usaha Asesoris Motor

Semua manusia tentu menginginkan keberhasilan

dalam hidup. Untuk itulah setiap orang memiliki

cita-cita atau impian yang hendak direngkuhnya.

Demikian juga dengan Arya Yoga Rudhita, yang

akrab dipanggil Yoga, terus berjuang menggapai

impiannya. Kemauan dan mimpi-mimpinya yang

tinggi tak menyurutkan langkahnya untuk terjun

berbisnis, meski kecelakaan telah merenggut

sebagian daya kakinya untuk bergerak. Dua kakinya

saat ini memang lumpuh sehingga harus selalu

ditopang dengan sebuah kursi roda. Semangatnya

 

yang luar biasa untuk menggapai asa, mengalahkan

semua keterbatasan fisik yang menderanya. Dia

layak menjadi contoh pembelajaran

entrepreneurship bagi para kawula muda yang ingin

terus berkarya.

Saat ini, Yoga memang masih tercatat sebagai

mahasiswa di sebuah universitas swasta di Jakarta.

Ketertarikannya pada dunia bisnis membuatnya

mengambil jurusan manajemen pemasaran. Namun

di tengah kesibukannya, dia nekat mendirikan usaha

sendiri untuk mewujudkan cita-citanya.

Keterbatasan fisik benar-benar tidak mampu

menjadi penghalang baginya. Walaupun kemana-mana

 

dia harus memakai kursi roda, Yoga

tetap maju bertekad membangun kerajaan

bisnisnya. Dia pun berharap bisnis perlengkapan dan

aksesori sepeda motor yang dirintisnya bisa cepat

berkembang. Bio Motor Sport, nama toko yang

dipilihnya, kini menempati sebuah ruko yang

berlokasi di Jalan Raya Kalimalang nomor 75 Bekasi

Timur.

Walaupun saya masih pemula, saya bertekad

untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses,

tegas pemuda kelahiran Oktober 1979 ini.

Sebetulnya saya merasa agak terlambat saat

terjun dalam usaha ini, seharusnya saya

memulainya sejak dulu. But it’s better late than

never, tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.

Bisnis perlengkapan motor di bawah bendera

Bio Motor Sport ini, pertama kali dirintisnya pada

2006. Keputusannya untuk memilih bisnis dalam

 

bidang ini tidak lepas dari kegemarannya naik motor

sejak dulu. Dia pun mempunyai mimpi untuk

membuka usaha di bidang perlengkapan motor itu.

Namun, setelah peristiwa kecelakaan yang

membuat kakinya lumpuh, Yoga sempat melupakan

mimpinya.

Awalnya dalam sebuah kesempatan, Yoga bertemu

 

dengan seorang teman yang mempunyai ide

untuk membuka usaha perlengkapan sepeda motor,

seperti helm, jas hujan, spion, hiasan plat nomor,

dan aksesori ringan lainnya. Setelah berdiskusi

mengenai prospek bisnis ini, Yoga berkesimpulan

bahwa usaha di bidang perlengkapan motor ini

cukup menjanjikan. Seiring meningkatnya jumlah

pengguna sepeda motor, otomatis kebutuhan

terhadap berbagai perlengkapan dan aksesori motor

akan terus meningkat. Saat membuka usaha ini

bersama temannya, investasi awal yang

dikeluarkannya tidak terlalu besar, sekitar Rp35 juta.

Sayangnya, bisnis yang dijalankan Yoga bersama

 

temannya ini tidak berjalan mulus. Dia telah

dibohongi oleh teman yang menjadi partner

bisnisnya. Rupanya teman Yoga melakukan mark-up

harga sewa toko, pembelian barang, dan

memunculkan biaya operasional yang sebetulnya tidak ada.

Yoga pun langsung penasaran. Akhirnya dia

turun sendiri menghubungi para supplier atau

distributor, dan menanyakan berbagai harga

pembelian untuk produk yang pernah dibelinya.

 

Ternyata harga sebenarnya jauh iebih murah dari

yang tertera di bon pembelian. Saat itu, Yoga

merasa sangat kecewa dengan partner bisnisnya.

Pengalaman pahit yang diaiaminya pertama kali

memulai berbisnis tersebut, memberikan pelajaran

berharga baginya tentang pentingnya membangun sebuah kepercayaan.

‘Saya tidak kapok. Justru makin semangat untuk

 

terus belajar. Saya bertekad untuk memulai dari

awal bisnis ini sendirian, cetus Yoga sambil

mengenang saat mencoba memulai bisnisnya sendiri.

Bulan pertama hingga ketiga, omzet penjualan

usahanya masih sangat kecil sehingga belum bisa

menutupi biaya operasional. Saat itu, Yoga memang

tidak menyebarkan brosur atau sarana promosi

lainnya untuk memperkenalkan toko aksesori

motornya. Walaupun dia sebetulnya cukup paham

tentang strategi pemasaran, tampaknya dia ingin

tokonya berkembang secara “alamiah” saja.

Baru seteiah berjalan tiga bulan, orang-orang

yang lewat di sepanjang Jalan Raya Kalimalang ini

mulai banyak yang mampir dan bertanya-tanya.

Lokasi tokonya yang persis di pinggir Jalan Raya

Kaiimaiang Bekasi Timur, memang boieh dibilang

sangat strategis. Setiap hari, jalan di depan

tokonya diiewati ribuan motor, baik dari arah

Jakarta maupun Cikarang. Letaknya yang tidak jauh

dan pintu toi Bekasi Timur, membuat tokonya

berada di antara sekian banyak tempat penitipan

motor yang bertebaran di kawasan itu.

Belajar dari pengaiaman pertamanya yang tertipu

 

dalam melakukan pembelanjaan ke supplier.

Yoga selalu mencari sumber supplier yang mampu

memberikan harga yang terbaik. Berkat

kegigihannya, dia kini mempunyai beberapa supplier

dengan harga yang sangat kompetitif. Dengan

menguasai mata rantai supplier tersebut, Yoga pun

mampu memberikan harga yang cukup kompetitif

kepada para konsumen. Harga yang murah tersebut

tak ayal lagi menjadi salah satu faktor larisnya

produk yang dijualnya.

Kesuksesan bisnis di bidang ini, selain ditentukan

 

oleh lokasi outlet yang strategis, juga didukung

oleh kepiawaian pemilik untuk selalu berkomunikasi

dengan para pecinta motor, atau komunitas

penggemar sepeda motor. Keakraban yang

dibangun dengan komunitas penggemar motor, akan

menjadi salah satu leverage atau daya ungkit bagi

pemasaran seluruh produk yang terkait dengannya.

Dengan demikian, secara otomatis Yoga bisa

mengetahui aksesori atau jenis perlengkapan motor

apa yang sedang ngetren.

Selain berjualan di outlet-nya sendiri, Yoga

juga sempat menitipkan barang dagangannya ke

teman-teman yang berjualan voucher dan aksesori

handphone, tetapi hasilnya ternyata kurang memuaskan.

Rencana ke depan, Yoga ingin mengembangkan

bisnisnya tersebut di kawasan jalur pantura dengan

menggandeng beberapa mitra. Dia melihat potensi

pasar di kawasan tersebut sangat besar. Para

anak muda di kawasan ini terkenal suka

 

‘mendandani’ motornya, tandasnya.

Saat ini Yoga memang lebih berkonsentrasi untuk

 

terus meningkatkan omzet tokonya. Hal ini tidak

lepas dari keinginannya untuk menjadi authorized

distributor untuk beberapa produk yang selama ini

dijualnya. Jika omzet sudah besar, para produsen

peralatan dan perlengkapan sepeda motor tentu

mau menunjuk toko saya menjadi distributor,

tambah Yoga dengan nada optimis.

Untuk mencapai tujuan tersebut, selain berjualan

 

secara offline, Yoga juga membuat website

untuk memasarkan produknya secara online. Melalui

website tersebut dia berharap bisa menjangkau

pasar yang lebih luas.

Dalam menjalani bisnis ini, Yoga benar-benar

mengandalkan kejujuran para karyawan. “Sejauh ini

alhamdulillah tidak ada masalah dengan mereka.

Saya mencoba mengontrol mereka melalui laporan

harian dan bulanan,” papar Yoga.

Dibantu dua orang karyawannya yang menunggu

 

toko secara bergantian, Yoga juga selalu

mengadakan stock opname setiap bulan untuk

mengontrol keluar masuknya barang. Walaupun

masih sibuk kuliah, Yoga masih sempat melakukan

pembelanjaan dan melakukan kontrol atas seluruh

barang yang ada di tokonya.

Harga produk yang dijual di tokonya berkisar

antara Rpl5 ribu hingga Rp5OO ribu. Barang yang

paling mahal adalah helm dengan kualitas yang

sangat bagus. Untuk menjual helm jenis ini, dia

harus pandai-pandai menjelaskan kepada calon

 

pembeli mengapa harga helm tersebut lebih mahal.

Hal ini tentu terkait dengan faktor perlindungan

yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis helm lainnya.

Sebagaimana bisnis yang lain, usaha perlengkapan

 

dan aksesori motor ini ada kalanya ramai,

tapi ada juga masa-masa sepi. Biasanya omzet

melambung tinggi saat menjelang lebaran, karena

banyak orang yang membeli helm baru untuk pulang

kampung. Apalagi toko Yoga berada tepat di jalur

lalu lintas yang dilalui para pemudik. Hal ini

membuat pengunjung di tokonya sangat ramai

menjelang lebaran. Namun sebaliknya, saat setelah

lebaran, penjualannya turun tajam. Masa sepi ini

biasanya bisa berlangsung hingga dua bulan.

Berdasarkan pengalamannya selama ini, Yoga

kini bisa mengetahui kapan harus menyiapkan stok

yang banyak untuk waktu tertentu, dan bagaimana

strategi mempertahankan omzet jika musim paceklik

penjualan tiba. Toko yang biasa buka dari jam

delapan pagi hingga jam sembilan malam itu pun,

kini semakin punya banyak pelanggan.

Sebenarnya, saat ini memang sudah banyak

orang yang terjun dalam bisnis perlengkapan dan

aksesori sepeda motor, khususnya di sepanjang

Jalan Raya Kalimalang ini. Namun, Yoga tidak

pernah khawatir dengan tingkat persaingan yang

 

semakin ketat. Dia selalu memandang positif sebuah

persaingan. Dengan adanya pesaing, kita justru

 

dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, ujar Yoga

menanggapi menjamurnya pesaing di bisnis ini.

Sadar akan kondisi persaingan tersebut, Yoga

 

selalu berusaha untuk menciptakan pelayanan yang

unik. Hal ini dilakukannya untuk membedakan diri

dengan pesaing lainnya. “Saya tidak ingin sekadar

berjualan barang saja. Saya ingin memberikan value

lebih kepada para pelanggan saya,” ujar pemuda

yang selalu berkacamata ini.

Menurut Yoga, menjadi berbeda itu lebih penting

 

daripada sekadar memberikan harga yang lebih

murah. Persaingan yang hanya menekankan pada

harga justru bisa memperparah kondisi menuju

perang harga yang tidak sehat. Yang penting,

harga harus tetap bersaing, tetapi ada nilai tambah

lain yang tidak dimiliki pesaing. Salah satu kuncinya

tentu saja ada di pelayanan. Untuk itu, Yoga selalu

menjalin hubungan baik dengan pelanggannya.

“Saya selalu mengatakan kepada karyawan

saya bahwa pelanggan yang datang untuk bertanya

saja itu lebih baik daripada tidak ada yang datang

sama sekali,” ungkap pemuda yang punya hobi fotografer ini.

Yoga juga sadar bahwa keberhasilan dalam

berbisnis harus didukung oleh seluruh anggota tim

yang terdiri dan para karyawan. Sehingga dia

sangat memerhatikan kesejahteraan para

karyawannya. Dia juga ingin karyawannya sukses

 

dan suatu saat bisa memiliki usaha sendiri seperti

dirinya. Menurut Yoga, saat ini bukan zamannya lagi

orang sukses sendirian, para karyawan harus

menjadi bagian dari rencana sukses juga.

Selain berbinis perlengkapan dan aksesori sepeda motor,

 

Yoga juga merintis usaha grosir sepatu

bersama beberapa temannya. Saat ini, usaha

sepatunya tersebut menempati sebuah ruko di

kawasan bisnis Pasar Tanah Abang Jakarta.

Naluri bisnis Yoga makin terasah seiring dengan

perjaanan waktu. Dia sadar bahwa ketajaman naluri

bisnis yang bagus tidak dapat diraih dalam waktu

singkat. Sebagai wirausahawan, dia berusaha untuk

terus mengasah ketajaman naluri tersebut agar bisa

mengambil keputusan bisnis dengan tepat.

Menurut Yoga, dalam dunia wiraswasta, seorang

 

pengusaha tidak hanya bersaing dengan

perusahaan sejenis, tetapi juga harus bersaing

dengan keadaan dan situasi tertentu. Mulai dari

kondisi makro ekonomi, suhu politik, perubahan

kebijakan pemerintah dan sebagainya. Agar dapat

mengantisipasi setiap perkembangan yang mungkin

terjadi, seorang pengusaha perlu terus melatih naluri

 

kewirausahaannya,agar selalu siap

menghadapi kondisi apapun.

Seorang pengusaha perlu menyadani sepenuhnya

bahwa ketika memutuskan untuk menjadi pengusaha,

 

maka cara berpikir, berbicara, maupun bertindak

harus mencerminkan seorang pengusaha sejati.

Makin lama menekuni dunia wirausaha, makin

banyak pengalaman yang didapat, dan tentu makin tajamlah

 

nalurinya. Bagi Yoga, belajar bagi seorang pengusaha tidak

 

mengenal usia. Belajar bisa dilakukan setiap

saat, kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa

saja. Langsung terjun menjalankan bisnis juga

merupakan pembelajaran bisnis yang paling nyata.

Ketika sudah terjun langsung, informasi dan

pengetahuan yang terkait akan mengalir seperti air.

Apalagi jika didukung dengan banyak membaca buku

dan bergabung dengan komunitas pengusaha.

Sebagai pengusaha pemula, dengan cara belajar

tersebut, Yoga merasa lebih mudah mendapatkan

berbagai ilmu bisnis praktis yang dibutuhkannya.

“Kita dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman

 

diri kita sendiri maupun dari pengalaman

orang lain, ungkap pemuda yang baru berusia 28

tahun ini. Belajar dari kesalahan dan pengalaman

orang lain adalah cara belajar yang paling mudah

dan murah. Walaupun pengalaman orang lain

tersebut mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi kita.

Belajar memang tidak pernah ada ruginya.

Seberapa besar pun biaya yang telah dikeluarkan.

Bila kita tidak belajar, biaya yang dikeluarkan untuk

sebuah pengalaman buruk pastilah akan jauh lebih

mahal dan menyakitkan. Yoga memang bukan yang

pertama dalam bisnis ini, tapi dia berusaha untuk

 

menjadi yang terbaik. Dalam perjalanan menuju ke

sana, dia pun tidak takut untuk tampil berbeda dengan yang lain.

Kesuksesan Yoga dalam mengembangkan diri

dan bisnisnya tidak lepas dari peran serta

keluarganya. Yoga sangat berterima kasih atas

dukungan yang luar biasa dari seluruh keluarga dan

calon istrinya. “Tanpa mereka, saya tidak bisa

seperti sekarang ini”, kata Yoga mengungkapkan

apresiasi untuk keluarganya.

 

Dari Buku: Rahasia jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Ari Bayat, Sejak Kecil Sudah Suka Berdagang, Kini Sukses Terjun di Bisnis Mainan Edukatif

Bermain memang menjadi dunia yang

menyenangkan bagi anak-anak. Dengan bermain, anak-anak sering kali mampu

 

mengetahui segala hal yang berada di sekitarnya. Mereka

kemudian secara kritis bertanya mengenai berbagai

hal yang baru diketahuinya. Dengan suasana yang

gembira ini, anak-anak akan dengan mudah

menerima ilmu. Pengetahuan mereka pun bertambah

dengan sangat cepat.

Kecintaan pada dunia anak-anak inilah yang

mengiihami Ari Bayat untuk terjun dalam bisnis

 

mainan edukatif. Berkat kegigihannya, pria kelahiran

Kiaten, Jawa Tengah ini, sedikit demi sedikit mulai

menikmati jerih payahnya dalam bisnis. Dengan

memakai bendera bisnis Arba Makmur, berbagai

produk mainan edukatif yang dibuatnya kini telah

menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Bisnis ini dimulai Ari ketika masih aktif bekerja

di sebuah bank swasta nasional. Setiap Sabtu Ari

selalu berkeliling menawarkan mainan edukatif ini ke

berbagai playgroup dan Taman Kanak-Kanak yang

ada di sekitar indekosnya. Dia pun melakukan

pendataan nama kepala sekolah, alamat, serta

contact person yang bisa dihubungi. Begitu

informasi tersebut didapatnya, dia langsung

menelepon mereka satu per satu.

Dari situlah Ari bisa mengetahui bahwa ternyata respons dan animo

 

masyarakat terhadap maman edukatif ini sangat tinggi.

 

Bahkan, Ari sering merasa kewalahan dalam memenuhi permintaan

mereka karena produsen mainan edukatif yang

dipasarkannya cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Kondisi kewalahan itulah yang membuat Ari

berpikir untuk memproduksi aneka mainan edukatif

sendiri. Dia pun mulai menabung untuk mewujudkan

keinginannya. Setelah menikah, Ari pindah ke

daerah Taman Mini, Jakarta Timur.

Selain faktor udara yang menurutnya masih

sejuk, dia pilih daerah itu karena dekat keramaian

dan Asrama Haji Pondok Gede. Dia sering melihat

berbagai acara yang diselenggarakan di sana. Salah

satunya adalah acara manasik haji yang selalu

 

ramai dan diikuti oleh berbagai siswa Taman

Kanak-Kanak dari berbagai sekolah. Dia berpikir

bahwa bisnis mainan edukatifnya pasti akan bisa

berkembang jika berhasil membidik target market

yang cukup besar.

Ari pun mulai sering berjualan di daerah Taman

Mini dan Asrama Haji. Pelanggannya sedikit demi

sedikit terus bertambah. Produknya pun mulai

dikenal di daerah tersebut. Pada 2004, Ari

memberanikan diri mengajukan pinjaman ke bank

untuk membuat workshop, dan membeli berbagai

mesin guna memproduksi berbagai jenis mainan

edukatif. Dalam dua tahun, pesanan yang

diterimanya terus meningkat. Kini Ari sudah

mempunyai empat orang karyawan. Dia pun sudah

mempunyai rencana jangka panjang untuk

memperluas workshop yang sudah ada.

Sampai saat ini, produk mainan edukatif yang

dibuatnya lebih banyak menggunakan bahan baku

kayu dan triplek. Ari kemudian memprosesnya

dengan mesin-mesin yang dimodifikasi sendiri

karena keterbatasan modal. Yang penting baginya,

kualitas tetap terjaga dengan baik dan produksi

bisa berjalan terus. Sambil jalan dia terus

mengumpulkan dana untuk menyempurnakan

mesin-mesin yang sudah ada.

Berbagai koleksi Arba Makmur ditujukan untuk

kalangan anak, mulai usia dua tahun hingga

sembilan tahun. Mulai kebutuhan untuk playgroup,

TK, dan keperluan anak autis. Ide desain sering Ari

dapatkan dari berbagai pameran, toko mainan

 

maupun browsing di Internet. Dia pun tidak

segan-segan untuk menjalankan prinsip ATM

(Amati, Tiru, Modifikasi).

Dari berbagai produk yang dihasilkannya, Ari

berusaha untuk menjadi salah satu pemain yang

diperhitungkan oleh seluruh pesaing. Pemasaran

produk ini pun sebetulnya relatif mudah karena

segmennya jelas. Dia membagi produknya dalam

dua segmen pasar yang berbeda, yaitu produk

untuk segmen menengah atas dan menengah

bawah.

Strategi pemasaran dan harga yang diterapkannya pun

 

berbeda mengikuti preferensi

konsumennya. Untuk menjangkau pasar, jenis

produk yang telah dihasilkannya sendiri antara lain

berbagai alat peraga edukatif, balok bangunan,

puzzle, maze, hammer, panggung boneka, dan

berbagai alat rumah tangga.

selama di dunia ini pernikahan masih di

halalkan, bisnis ini akan selalu hidup dan

berkembang, kata Ari dengan optimis.

Bisnis mainan edukatif ini biasanya sangat

ramai pada bulan Mei hingga Agustus. Setelah itu,

penjualannya akan turun sehingga Ari harus pandai

mencari peluang lain. Untuk itu, dia juga

memproduksi kerajinan kayu seperti tatakan piring,

gantungan cangkir, gantungan baju, box bayi, kursi,

dan meja anak, dan aneka produk dari kayu lainnya.

dengan strategi itu, Arba Makmur tetap terus eksis

dan bisa selalu mempersiapkan stok untuk

menyambut tahun ajaran baru papar pria yang

 

punya misi mewujudkan dunia belajar yang

menyenangkan ini. Bisnis di bidang ini

memang harus selalu kreatif, inovatif, dan

pandai melihat peluang.

Jika ada ide, renungkan,dan langsung jalankan.

Karena banyak orang yang punya pikiran sama

dengan kita. Hanya orang yang berani actionlah

yang akan mengambil peluang itu, ujar pria

 

kelahiran 25 Juli 1975 ini.

 

Melalui mainan edukatif, Ari ingin membantu

anak-anak menumbuhkan kepercayaan diri mereka.

Sifat percaya diri tidak hanya harus dimiliki oleh

orang dewasa, tetapi anak-anak juga memerlukan

dalam perkembangannya menjadi dewasa. Untuk

anak-anak, rasa percaya diri membuat mereka

mampu mengatasi tekanan, dan penolakan dari

teman-teman sebayanya.

Anak yang percaya diri mempunyai perangkat

yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit,

dan berani minta bantuan jika mereka

memerlukannya. Mereka jarang diusik. Justru

mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat

orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka

tidak takut untuk berprestasi dan menunjukkan

 

bahwa mereka memang kreatif.

Kegigihan bisnis Ari memang tidak lepas dari

gemblengan masa kecil yang dilaluinya. Jiwa

entrepreneurship secara tidak sadar rupanya telah

tertanam dalam dirinya. Pada usia sepuluh tahun,

Ari sudah berjualan es lilin pada musim sadranan

(ruwahan) di daerah asalnya. Ada perasaan bangga

dan senang ketika dagangannya laku saat itu.

Di sela-sela hiburan panjang waktu SMP, Ari

memanfaatkannya untuk mencetak bata merah.

Begitu bangun pagi, dia langsung bergulat dengan

tanah dan mengaduk-aduknya hingga menjadi

adonan lumpur. Adonan tersebut kemudian dia

cetak menjadi batu bata yang siap dibakar. Jika

hasil cetakannya bagus, banyak yang mau membeli.

Hasil jerih payah selama liburan sekolah tersebut

biasanya bisa untuk membeli sepatu atau sisanya

buat sekadar uang jajan.

Saat hiburan SMA, Ari tidak malu berjualan es

krim dengan berkeliling dari gang ke gang, dari

kampung ke kampung, di daerah Makam Haji dan

Jongke di Kota Solo. Dia biasa bangun pagi sebelum

subuh, merebus air, memarut kelapa dan

memprosesnya menjadi es krim, serta menjualnya

hingga jam sembilan malam. sungguh sepenggal

penjalanan hidup yang sangat berkesan, padahal

saat itu saya tidak disuruh orangtua. Semua itu

saya lakukan karena niat saya yang kuat untuk bisa

mandiri, ujar Ari mengenang.

Kegemaran menjual ini kemudian menghiasi dan

mengisi hari-harinya saat menyelesaikan kuliah.

 

Mulai dari menjual soal-soal ujian masuk perguruan

tinggi, mengoordinasi fotokopi buat satu kelas,

menjual minuman saat pendaftaran mahasiswa

baru, menjual minyak wangi, dan sebagainya.

Baginya, kegiatan tersebut sangat menyenangkan.

 

Dengan berjualan, dia bisa menambah teman,

dan yang jelas bisa mendapatkan uang untuk

memenuhi kebutuhannya sendiri. Sayangnya, Ari

mengakui bahwa kegiatan bisnis kecil-kecilan

tersebut tidak dia tekuni dengan serius, karena

masih memikirkan kuliah dan harus segera lulus.

Berhubung Ari kuliah di jurusan perbankan, pada

saat itu yang tertancap dalam pikirannya setelah

lulus adalah bekerja di bank.

Ari berhasil menyelesaikan kuliah dengan susah

payah dan diwisuda pada akhir 1997. Dalam kondisi

ekonomi yang sangat tidak mendukung, karena

krisis ekonomi, Ari tetap berusaha mengirimkan

lamaran kerja ke berbagai bank di Kota Solo, Yogya,

dan Semarang. Sambil menunggu panggilan, dia ikut

bekerja dalam sebuah proyek perumahan di Yogya.

Penantiannya selama enam bulan ternyata tidak

menghasilkan panggilan sama sekali. Sempat muncul

ide untuk menjadi agen koran di suatu daerah.

Namun sayang, di samping tidak ada modal, dia

juga masih ragu untuk terjun sebagai wirausaha.

Akhirnya pada suatu hari, Ari memutuskan

 

untuk merantau ke Jakarta. Dengan bermodalkan

semangat yang tinggi, walaupun masih dalam

kondisi krisis ekonomi, dia mulai bergerilya

memasukkan lamaran dari pintu ke pintu. Akhirnya,

 

pada November 1998, Ari diterima bekerja di sebuah

bank swasta setelah lolos serangkaian tes.

Di bank swasta tersebut, Ari bekerja di pusat

data kredit. Pertengahan 2000 dia pindah ke

cabang Podomoro. Di sinilah hobi berjualannya

muncul dan membara kembali karena didukung

dengan kondisi kantor yang strategis, dekat dengan

pabrik yang mempunyai ribuan karyawan. Dia

berjualan keripik belut, batik solo, jagung turbo, dan

sebagainya. Hingga dia bisa mengambil kredit

sepeda motor. Pada akhirnya, Ari harus memilih

untuk keluar dari bank karena proses merger yang

terjadi saat itu.

Ari sangat bersyukur bahwa kini usaha yang

dirintisnya sudah membuahkan hasil. Walaupun

menghadapi berbagai kendala yang datang silih

berganti, namun dia tetap melangkah dengan

optimistis dan semangat yang tinggi. Kendala yang

dihadapinya mulai dari masalah sumber daya

manusia, permodalan, dan pemasaran. Berbagai

kendala tersebut, justru membuat Ari merasa

semakin tertantang untuk selalu mengatasinya

dengan baik. Dia mempunyai suatu keyakinan

bahwa semua kendala bisa diatasi dengan sikap

 

yang jernih dan berpikir positif.

Sikap optimistis yang didukung dengan

pengetahuan yang baik akan mengarahkan

seseorang kepada kesuksesan.

 

Keberhasilan Ari dalam mengembangkan

bisnisnya selama ini, juga tidak lepas dari

kegemarannya untuk selalu belajar. Seperti

membaca buku yang menjadi salah satu

kegemarannya sejak dulu. Selain itu, dia juga

memberikan apresiasi yang tinggi atas dukungan

teman-temannya yang sangat berarti dan selalu

mau diajak berbagi.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Agus Ali, Semula IT Manager Lalu Berani Keluar dari Comfort Zone, Kini Jadi Pengusaha Sukses

Meski dibesarkan dalam keluarga pegawai dan

sekian tahun bekerja sebagai profesional, Agus

Ali kini justru tampak sangat menikmati perannya

sebagai pengusaha. Kiprah Agus Ali sebagai

pengusaha, tepatnya dimulai pada 19 Januari 2007.

Saat itu adalah hari terakhir bagi Agus, demikian dia

akrab disapa, menyandang status sebagai

karyawan pada sebuah perusahaan Jepang,

tempatnya bekerja selama 13 tahun terakhir.

Keputusan Agus untuk terjun 100% sebagai

pengusaha tentu telah melalui pertimbangan yang

 

matang. Hal ini mengingat bahwa sebelumnya dia

sudah mencoba untuk hidup di dua alam (amfibi),

alias menjadi karyawan sekaligus pengusaha. Dia

pun pernah membangun beberapa bisnis, di

antaranya bisnis konveksi dan membuka toko di ITC

Mangga Dua. Sayangnya, beberapa bisnis yang

pernah dirintisnya belum berhasil seperti yang dia

harapkan. Namun, Agus tidak pernah menyerah dan

terus mencari peluang bisnis yang paling cocok dan

pas buat dirinya.

Pada awal 2007, Agus membuat keputusan berani dengan mengepakkan sayap

 

bisnis yang berhubungan dengan otomotif. Bersama seorang

partner, dia mengajukan diri sebagai franchisee

dengan membuka Autobridal 32 di daerah Cipinang,

Jakarta. Sampai saat ini bisnisnya masih berjalan

dan terus menunjukkan perkembangan yang baik.

Saat ini, bersama partnernya juga, Agus

mengembangkan bisnis dalam bidang pelatihan dan

konsultan dalam bidang teknologi informasi. Pada

bisnis IT ini, Agus seperti benar-benar menemukan

passionnya sehingga dia sangat menikmati ketika

harus terjun langsung ke lapangan.

Berlabuh pada bisnis IT, panggilan jiwanya ini,

tentu tidak lepas dari pekerjaan dia sebelumnya

yang menggeluti dunia IT selama 13 tahun. Bahkan,

ketika ada kesempatan sekolah lagi pada jenjang

pascasarjana, Agus juga mengambil program bidang

IT. Walaupun sempat mencoba berbagai macam

bisnis yang lain, Agus menyimpulkan bahwa

ternyata kehidupannya tidak jauh dari dunia IT.

 

 

Agus Ali mengakui, tidak mudah baginya untuk

keluar dan comfort zone. Ketika menjabat sebagai

manajer IT, semuanya serba terlayani. Setelah

keluar dari pekerjaan, dia harus melayani diri sendiri

dan tentu saja dengan biaya sendiri. Hal ini harus

dilakukannya ketika harus “kelayapan”, untuk

bertemu dengan berbagai kalangan, seperti

investor, pejabat, media, dan lainnya.

Namun, ternyata efek yang didapat setelah

keluar dari zona nyaman tersebut luar biasa.

Semuanya seakan mengalir begitu saja. Banyak

kejutan baru yang justru memberikan banyak

manfaat dan pelajaran baginya. Hal-hal yang

pernah dia rencanakan memang ada yang gagal,

tetapi dari kegagalan itulah, justu dia mendapat

jaringan dan hal-hal baru yang lebih dahsyat. Agus

semakin meyakini sebuah ungkapan yang sering

diutarakan para motivator bahwa untuk sukses,

seseorang memang harus berani keluar dari zona

nyamannya.

Proses menjadi pengusaha bagi Agus merupakan pengalaman yang luar biasa.

 

Untuk itulah dia selalu menikmati setiap proses yang dilaluinya.

Sebagai orang yang sangat menghargai sebuah

proses. Agus menekankan pentingnya melalui

berbagai tahapan untuk mencapai hasil. Kalau

diibaratkan sebuah proyek manajemen, apa pun

yang akan dilakukan tentu melewati sebuah proses,

 

mulai dari inisiasi, start, implementasi, review, dan

finish.

 

Mengenai hasilnya, kalau ada masalah pada hasil

akhir berarti ada masalah pada prosesnya. Proses

itulah yang harus diperbaiki lebih dulu. Hasil akan baik

bila prosesnya juga baik.

 

Jadi, kalau hasilnya balk tetapi prosesnya tidak

balk, ini hanya untung-untungan saja. Jika mau

berhasil menjadi pengusaha, seluruh langkah menuju

ke arah sana juga harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Knowledge is not power without action plus

brilliant idea, Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi

kekuatan bila tidak disertai dengan tindakan konkrit

plus ide yang brilian. ujar pria yang suka bercanda

ini. Ilmu pengetahuan tidak akan menjadi sebuah

power yang dahsyat, jika hanya sekadar dibaca

namun tidak diaplikasikan.

Pengetahuan tanpa action memang akan

percuma. Namun, pengetahuan dengan action saja

pun tidak akan menghasilkan power yang dahsyat

bila tidak diikuti ide brilian. Pengetahuan dengan

action bisa dikatakan hanya sebatas proses amati

dan tiru. Bila menghasilkan ide brilian dan

menerapkannya, akan lengkaplah prinsip dalam

bisnis yang disebut ATM (Amati, Tiru, dan

Modifikasi).

Agus pun menyarankan bagi yang telah membaca buku atau ikut pelatihan

 

kewirausahaan, agar segera mempraktikkannya. Dengan mempraktikkan

 

ilmu dalam bisnis sendiri, berbagai ide brilian pasti

akan terus bermunculan, kata Agus meyakinkan.

Namun begitu, Agus juga menekankan penting

nya para pebisnis pemula mempunyai persiapan.

Jangan lompat ke batu yang rapuh, nanti bisa

terpeleset dan jatuh, kata Agus dengan bahasa

kiasan. Batu yang rapuh itu belum bisa dijadikan

pegangan, belum kokoh dan kuat. Para pebisnis

perlu memastikan juga batu tersebut cukup kokoh

dan kuat sebelum melompat di atasnya.

Pemaparan Agus tentang fenomena pindah

kuadran dari karyawan ke pengusaha ini didasarkan

pada pengalamannya sendiri. Saat pertama kali,

berhubung pijakan batu yang tidak kuat, Agus

sempat terpeleset dan merasakan jatuh bangun.

Namun, dia masih beruntung karena bisa cepat

bangkit. Agus pun kembali meneruskan “berenang”

sambil terus membuat fondasi yang Iebih kuat.

Sampai sekarang dia sudah berpijak pada fondasi

itu. Agus terus fokus untuk menguatkan

fondasinya, karena dia yakin dengan bertambahnya

pengalaman dan dukungan teman-teman, serta

network yang besar, fondasi yang Iebih kuat bisa

dia susun.

Secara pribadi, Agus kurang setuju dengan

pendapat yanq menyatakan bahwa kalau mau pindah kuadran, sebaiknya

langsung nyemplung begitu saja, karena nanti

pasti akan dapat ilmunya.

Menurut Agus, bagaimana pun berpindah kuadran dari karyawan ke pengusaha

membutuhkan persiapan yang tidak sederhana.

Terutama persiapan mindset dan mental.

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya

fokus dalam bidang bisnis yang dipilih. Dia sendiri

mempunyai pengalaman soal ini. Agus pernah

serakah dengan menjalani bisnis ini dan itu, namun

hasilnya malah tidak ada yang fokus dan bisnis

gagal satu per satu. Semua rencana jadi

berantakan. Modal jauh berkurang. Tenaga juga

terkuras habis. Namun, anehnya justru yang tidak

direncanakan malah ada yang berhasil.

Dengan latar belakang S2 dalam bidang IT dari

sebuah universitas ternama, dan memegang

sertifikasi internasional, Project Management, Agus

Ali kini juga mengajar berbagai kelas pelatihan untuk

materi IT Project Management dan IT Quality Assurance.

Ketika ditanya mengenai fllosofi work hard,

pray hard, dan play hard, Agus menjelaskan bahwa

kerja keras sudah tertanam sejak dia masuk kerja di

perusahaan Jepang. Dengan metode kerja sampai

‘mati’ saya di tempa habis-habisan selama 13

tahun, paparnya. Hasilnya badan Agus terasa

pegal-pegal kalau tidak melakukan aktivitas.

Otaknya serasa tumpul kalau tidak dipakai.

Terhadap work hard yang dia lakukan ter

hadap bisnisnya, Agus merasa hal itu bukanlah work

hard. Karena dia melakukannya dengan enjoy

sebagai hobi dan bukan kewajiban. Setelah work

hard, dia juga pray hard, dan play hard. Dia selalu

 

mengimbangi aktivitas bisnisnya dengan aktivitas

spiritual. Di sela-sela kesibukannya, Agus tetap

menyempatkan din untuk bermain tenis atau

badminton yang dilakukannya dua kali seminggu. Di

samping itu, dia juga selalu menikmati waktu

bersama keluarga dengan jalan-jalan atau liburan ke

luar kota.

Menurut Agus, apa pun yang kita kerjakan harus dikejakan

 

dengan sungguh-sungguh, apakah itu

aktivitas bekeja, olahraga, istirahat, dan

sebagainya. Hasilnya otak dan badan kita bisa

memilah-milah kapan waktunya bekeja keras,

kapan waktunya bermain, dan kapan waktunya

beristirahat.

 

Agus berusaha menjalani hidup ini sesuai

dengan perasaannya,sesuai hatinya. Dulu saat

mempunyai karier bagus, gaji bagus, rumah tangga

bagus, aset mobil dan rumah bagus, dia masih

merasa hampa, karena sudah tidak ada tantangan

lagi. Kemudian setelah menjadi pengusaha, semua

serasa menjadi tantangan baginya.

 

Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Ade, Mantan Manajer IT yang Sukses Lewat Bisnis Software Development ‘Jsoft’, Produknya Kini Sudah Menembus Mancanegara

Berbekal ketekunan dan semangat pantang

menyerah, Ade Aan Wirama memantapkan diri

terjun sebagai pengusaha dalam bisnis software

development. Bersama dua orang partner, dia

mendirikan perusahaan software development

dengan nama Jade Software Indonesia. Selain itu,

Ade juga memfokuskan diri pada jasa

pengembangan software untuk urusan logistik,

pembuatan program yang disesuaikan dengan

kebutuhan costumer.

Berkat profesionalisme yang tinggi, perusahaan

Jsoft Indonesia kini telah dikenal, terutama di dunia

logistik. Klien perusahaan ini pun tidak hanya dari

dalam negeri, bahkan sudah banyak yang berasal

dari luar negeri. Perusahaan yang mempunyai

alamat situs www.jsoftindonesia.com ini berkantor

di Kelapa Gading, Jakarta.

Beberapa software andalan Jsoft di antaranya

adalah J-Freight dan J-Repair. Software J-Freight

yang sangat dibutuhkan oleh dunia logistik tersebut

kini telah mendobrak pasar Jerman, Hongkong, dan

Singapura. Sedangkan software J-Repair kini

menjadi program standar untuk berbagai bengkel di

bawah salah satu grup terkenal yang mempunyai

anggota 200 bengkel.

Perjalanan Ade menjadi pengusaha di bidang ini,

dimulai ketika dia mengambil keputusan untuk

mengundurkan diri dari sebuah perusahaan

pelayaran nasional pada awal 2000. Saat itu, dia

menjabat sebagai IT Manager dengan lima orang

staf IT dan sebelas staf EDP. Saat itu bisa dibilang

gaji Ade sudah cukup tinggi, selain menerima

fasilitas mobil dan notebook, dia juga mempunyai

hubungan yang sangat dekat dengan owner.

Dengan kenyamanan seperti itu, sangat wajar jika

banyak pihak yang menyayangkan bahkan

menentang keputusannya untuk mengundurkan diri,

termasuk orangtua dan mertua. Hanya istrinyalah

satu-satunya orang yang sangat mendukung

keputusannya saat itu.

Ade mulai berbisnis dengan modal keyakinan

yang kuat bahwa dia akan berhasil. Dia bahkan

memulainya tanpa mobil, notebook, atau komputer

yang bagi sebagian orang IT adalah salah satu

‘tangan’. Ade hanya mengandalkan sedikit

tabungannya yang masih tersisa. Selama empat

bulan pertama, dia telah menghabiskan sisa-sisa

tabungannya. Hingga akhirnya, dia memperoleh

proyek pertama berupa penjualan hardware dengan

keuntungan 10 juta.

Keuntungan tersebut langsung digunakannnya

sebagai modal membeli notebook. Berkat

ketekunannya, proyek berikutnya pun datang silih

berganti hingga akhirnya Ade bisa menyewa gedung

di Graha Kirana, Jakarta, lantai tujuh, dan

membawahkan tujuh orang karyawan.

Saat Ade mulai menikmati hasil perjuangannya,

tiba-tiba satu customer besamya menyatakan

bangkrut pada 2 Januari 2001. Imbasnya mereka

tidak bisa membayar tagihan penjualan komputer

dari perusahaan Ade sebesar 150 jutaan.

Customer-nya juga tidak bisa melunasi tunggakan

jasa lainnya yang nilainya ratusan juta. Sementara

saat itu, tidak ada satu pun aset yang bisa disita

karena sudah disita terlebih dahulu oleh perusahaan

lain yang juga memberikan kredit kepada

customer-nya. Karena manajemen yang belum

bagus, tingginya piutang yang tak tertagih,

akhirnya perusahaan Ade ikut bangkrut.

Sementara dia sendiri masih mempunyai utang

kepada supplier yang jumlahnya cukup besar.

Ade pun harus menerima kenyataan pahit ini

dengan lapang dada. Satu tahun setelah dia
memutuskan menjadi entrepreneur, kondisinya pada

saat itu seperti berbalik 180 derajat, dan secara

mendadak dia mempunyai utang sekitar 250 juta.

Saat itu benar-benar menjadi masa yang sulit

bagi Ade dan keluarganya. Karyawan dan

teman-teman yang dulu dekat dengannya tiba-tiba

seakan menjauh entah kenapa. Dalam kondisi

bangkrut, Ade juga masih harus berurusan dengan

kejaran para debt collector yang disewa para

suppliernya.

Ade pun menjual seluruh harta benda, mobil,

notebook, computer, dan handphone untuk

membayar sisa gaji karyawan dan sebagian utang.

Namun, dia tetap mempertahankan rumah untuk

keluarganya berteduh. Ade juga tidak pernah punya

niat untuk melarikan dir. Dia hadapi seluruh cacian,

telepon, surat, bahkan kedatangan 8 orang debt

collector dalam satu mobil kijang untuk menagih

utang. Dia hadapi semua itu dengan kebesaran jiwa

dan penuh ketabahan.

Namun, tidak ada satu pun di dunia ini yang

bisa menghalanginya untuk tetap hidup, tetap

bersemangat, dan tetap yakin bahwa dia bisa

menyelesaikan masalah yang menghimpitnya. Oleh

karena itu, dengan cobaan yang sangat berat

karena lilitan utang, Ade memberanikan diri

membuat proposal bisnis dan melamar kembali

menjadi profesional di sebuah grup perusahaan

ternama.

Ade selalu berkeyakinan bahwa Tuhan akan

memberikan yang terbaik buat hamba-Nya. Dia
yakin banyak hikmah dan pelajaran yang bisa

diambil dari peristiwa kebangkrutannya itu. Ade

sangat bersyukur bahwa dalam waktu satu bulan

setelah tragedi itu, dia bisa kembali bekerja sebagai

pimpinan pada sebuah perusahan consulting dalam

grup perusahaan ternama. Hasil dan bekerja

sebagai profesional, dia gunakan untuk melunasi

kewajiban secara bertahap, sambil terus melakukan

recovery terhadap perekonomian keluarganya.

Berkat prestasinya dalam mengelola perusahaan, Ade pun akhimya direkrut

sebuah perusahaan Swiss yang berbasis di Hongkong. Dia sempat

bekerja dan tinggal di Hongkong. Namun, jiwa

petualangan dan wirausaha yang mengalir dalam

dirinya, membuat Ade kembali tertantang untuk

menjadi pengusaha. Maka pada 2003, Ade kembali

memutuskan keluar dari perusahaan Swiss.

Walaupun saat itu, dia menerima gaji dalam dolar

dengan nilai yang cukup besar untuk ukuran

Indonesia.

Ade kembali dikatakan gila oleh kawan

kawan dekat, orangtua, dan mertuanya. Namun

sekali lagi, dukungan yang sangat besar diberikan

oleh istrinya. Dia begitu percaya bahwa Ade mampu

menjadi pengusaha. Apalagi waktu itu dia lebih siap

dengan modal seperti notebook, kendaraan, dana,

network dan sebagainya.

Kini, perusahaan yang didirikannya semakin

mantap melenggang sebagai pemain yang amat

diperhitungkan dalam bidang software

development, khususnya untuk dunia logistik.
Omzet semakin meningkat seiring dengan

bertambahnya jumlah customer. Apalagi Ade

berhasil melakukan negosiasi untuk bisa melakukan

pekerjaan secara remote sehingga pada saat yang

sama dia bisa melayani untuk banyak customer

sekaligus.

Ketika ditanya tentang lebih enak mana antara

menjadi karyawan atau pengusaha. Ade

menjelaskan dengan mengambil perbandingan satu

orang kawan yang paling bagus kondisinya, di

antara sekian banyak kawannya yang masih

menjadi karyawan hingga saat ini.

Saat pertama kali bekerja sebagai karyawan

sekian tahun yang lalu, kawannya itu memperoleh

gaji Rp500 ribu dan bisa menyuruh-nyuruh orang

karena grade-nya agak tinggi. Sementara Ade

hanya digaji Rp125 ribu, karena dia-lah orang yang

di suruh-suruh itu. Dua tahun kemudian, kawannya

naik pangkat menjadi manajer dengan gaji Rpl,5

juta dan dapat fasilitas inventaris mobil. Sementara

gaji Ade hanya naik hingga Rp750 ribu dan tetap

menjadi anak buahnya. Satu tahun kemudian, gaji

kawannya naik lagi menjadi dua juta, sementara

Ade harus pindah kerja supaya mendapatkan gaji

sebesar satu juta.

Lima tahun kemudian, kawannya tersebut masih menjadi karyawan sebagai IT

Manager di sebuah perusahaan Korea dengan 10 anak buah.

Sedangkan Ade sudah menjadi pengusaha dan

keluar dari kantor dengan jabatan IT Manager

dengan 16 anak buah. Selama empat bulan setelah
keluar kerja, Ade tidak mendapatkan income, dia

hanya mengandalkan hidup dan sisa-sisa

tabungannya. Padahal saat itu, dia baru punya

anak umur tiga bulan, baru pindah satu bulan dari

rumah mertua ke rumah sendiri, tidak ada mobil

atau motor, tidak ada komputer atau pun notebook.

Yang menjadi modalnya saat itu hanyalah planning

kerja sebagai wiraswasta, dan sebuah produk

software yang sudah jadi.

Empat bulan kemudian, kawannya masih menjadi karyawan sebagai IT Manager di

Perusahaan yang sama, sedangkan Ade telah mendapat proyek

pertama senilai RplOO juta. Keuntungan dari proyek

tersebut langsung dia jadikan untuk modal usaha,

membayar utang, membeli notebook, dan membuka

SOHO (Small Office Home Office).

Saat ini, kawannya masih menjadi karyawan

sebagai IT Manager di perusahaan yang berbeda.

Sementara Ade tetap menjadi pengusaha,

berkantor di Kelapa Gading, bisa masuk siang dan

pulang siang itu juga, bisa liburan kapan saja,

punya notebook dan komputer, punya mobil, rumah

lebih besar, bisa menggaji karyawan, dan bahkan

berteman dekat dengan presiden direktur dari

tempat kawannya bekerja.

Dari cerita ini, Ade tetap merasa lebih enak

menjadi pengusaha daripada menjadi karyawan.

Walaupun di pertengahan jalan, ada tahap di mana

dia banyak mengalami berbagai hambatan, tapi

ternyata hambatan tersebut tidak menjatuhkannya,

melainkan justru memperkuat mentalnya sehingga
kualitas bisnis dan kehidupan keluarganya justru

semakin meningkat.

Sebagai salah satu ungkapan syukur atas karunia yang diterimanya, Ade

selalu berusaha untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Dia pun

mendirikan lembaga sosial dengan nama CFH

(Coding For Humanity). Lembaga ini memberikan

pelatihan komputer gratis bagi anak jalanan dan

anak-anak tidak mampu. Berbagai aktivitas

sosialnya di CFH bisa dilihat di blog-nya

http://www.wirama.wordpress.com. Biog tersebut

dimaksudkan Ade sebagai wadah informasi kegiatan

CFH, karena CFH belum memiliki web sendiri. Dia

berharap semoga apa yang tertuang dalam blog itu

dapat memberikan inspirasi bagi orang lain untuk

dapat saling membantu dengan sesama.

Saat ini, CFH telah mempunyai beberapa cabang, bukan hanya di Jakarta,

melainkan juga merambah ke Surabaya dan Bandung. Anak-anak

jalanan yang dilatih pun semakin banyak. Sejak

didirikan pada 17 Juli 2006, berbagai pelatihan

komputer gratis bagi anak jalanan telah dilakukan.

Pelatihan pertama diadakan di Dilts Foundation, dan yang terakhir di Rumah

Singgah Pelita Rasamala Senen. Sejumlah relawan

programmer yang direkrut Ade juga bertambah dari

semula lima relawan hingga kini menjadi tiga puluh

lima relawan. Mereka semua tersebar di Jakarta,

Bandung, dan Surabaya.

Melalui CFH, Ade dan kawan-kawannya

meluangkan waktu, dana, dan tenaga demi sebuah

misi sosial, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Bahkan, tidak jarang mereka harus mengeluarkan

dana sendiri untuk operasionalnya. Ade bertekad

menyumbangkan sebagian keuntungan bisnisnya

khusus untuk mengembangkan CFH ini.

Sejak awal, Ade memang tidak berniat untuk

menggalang dana atau meminta sumbangan dari

pihak lain. Selain mendapatkan pendanaan dari

keuntungan Jsoft Indonesia, Ade juga membuka

sebuah toko komputer di Mangga Dua Square untuk

menopang biaya operasional CFH.

Ade juga salut dan bangga dengan kawan

kawannya yang rela datang jauh-jauh dari

Pamulang sampai Tanjung Priok hanya untuk

mengajar di CFH Jakarta. Banyak kejadian yang

membuatnya terharu. Ada yang kehujanan saat

perjalanan pulang. Ada yang mengalami kecelakaan

kecil sebelum mengajar, tapi karena dia

bertanggung jawab untuk materi pengajaran serta

jadwal mengajarnya, dia tetap datang juga.

Walaupun masih terlihat bekas lukanya, kawannya

ini tetap semangat untuk mengajar dan memberikan

komitmennya.

Ade berkeyakinan bahwa bisnisnya akan

mendapatkan banyak rahmat dan rezeki berkat

aktivitas sosialnya di CFH. Ade merasa tercerahkan

dan menyadari bahwa ketika berbisnis saja dibantu

oleh Allah, apalagi ketika mengadakan kegiatan

sosial. Ade yakin dia tidak akan kekurangan atau

miskin dengan banyak mengeluarkan dana untuk

aktivitas sosialnya.
Fakta justru membuktikan bahwa sebetulnya

Allah telah memberikan rezeki yang begitu berlimpah

kepadanya semenjak CFH didirikan. Dia banyak

menerima pesanan software, baik untuk perusahaan

lokal maupun multinasional.

Sebagaimana pengusaha yang lain, Ade

menyatakan pentingnya fokus dalam usaha

membangun sebuah bisnis. Alhamdulillah saya bisa

menjaga fokus bisnis saya, yaitu dalam bidang

software development. Apa pun kondisi yang

sedang saya hadapi, customer mengenal saya

sebagai ahli di bidang tersebut, ungkap pria yang

sejak kecil jago main catur ini.

Berkat konsistensi, calon customer maupun

customer yang sudah ada, tetap melihat Ade

sebagai pebisnis yang konsisten dan fokus terhadap

jalur bisnisnya. Setiap mereka butuh software,

mereka akan ingat kepada saya atau perusahaan

saya, papar Ade yang menghabiskan masa

remajanya di Malang, Jawa Timur ini.

Dalam berbisnis, Ade juga menekankan pentingnya prinsip be yourself.

untuk menerapkan ini, seorang pebisnis

terlebih dahulu perlu mengetahui kemampuan,

keahlian, apa yang menjadi passion-nya, ujar anak

seorang PNS ini.

Bagi teman-teman yang ingin terjun menjadi wirausaha, Ade tetap

menyarankan pentingnya sebuah persiapan.

Persiapan di sini bukan hanya dan soal dana saja,

walaupun dana itu penting, yang paling

utama adalah persiapan mental. Selain itu juga

rencana bisnis yang matang, bidang apa yang akan

digeluti, dan berapa target kerja yang akan dicapai.

Persiapan juga mencakup pengetahuan tentang

berbagai hal yang berhubungan dengan industri

yang akan digeluti. Membina hubungan dengan

calon partner, ikut milis yang mendukung, dan

bergabung dalam komunitas juga akan membantu

perkembangan bisnis kita, ungkap pria yang senang

tampil modis ini.

Begitu target dibuat, “jangan mundur satu

langkah pun,” tegas Ade. Apabila ada hambatan di

jalan, anggap saja itu latihan sebelum bertemu

hambatan sesungguhnya di belantara bisnis. Satu

hal penting yang harus diingat adalah perusahaan

hanya akan menerima kita bekerja sampai batas

umur tertentu, tapi perusahaan milik kita sendiri

akan tetap menerima dan menampung kita seumur

hidup.
Dari Buku: Rahasia Jadi Entrepreneur Muda – Kumpulan kisah para pengusaha muda yang sukses berbisnis dari nol, Penulis: Faif Yusuf, Penerbit: DAR! Mizan

Monday, March 4, 2013

Yayank, Mantan Head of Department yang di Awal Bisnis Sempat Dicibir, Kini Sukses Lewat Coffeezone

Jakarta - Berawal dari pengalaman
selama 16 tahun di industri
pembuatan kopi, ibu rumah
tangga asal Sidoarjo Jawa Timur ini
sukses berbisnis kedai kopi harga
kaki lima tapi bercita rasa kelas
'Starbucks'.

Adalah Yayank S. Sahara, ia
memulai bisnis kedai kopi
tepatnya Juni 2010 silam setelah
keluar dari pekerjaan. Yayank
bermodal hanya uang pesangon
senilai Rp 6 juta memutuskan
membuka sebuah kedai kopi kelas
kafe.

Namun karena modal tak cukup,
Yayank dibantu sang suami
akhirnya membuat kedai kopi
berkonsep kaki lima bernama
Coffeezone di Gelanggang Olahraga
Sidoarjo, Jawa Timur.

Meskipun modal awal tersebut
sangat kecil dan berbekal kedai
kaki lima, berkat ketekunan dan
cita rasa menu kopi yang
berkualitas, akhirnya banyak
pelanggan yang datang dan
menjadi pelanggan setia
Coffeezone.

"Ketika aku kerja punya ide buka
usaha, mulai batik busana muslim
anak, cuma jalannya kurang sukses
terus saya kelur kerja bikin usaha
kopi. Cuma waktu itu, modalnya
dari uang pesangon, ternyata uang
pesangon itu nggak cukup bikin
satu kafe. Akhirnya kita buka
konsep PKL di Gor Sidoarjo tapi
menu yang kita sajikan kopi
bintang lima," tutur Yayank saat
berbincang dengan detikFinance ,
Senin (4/3/2013).

Setelah berjalan beberapa bulan,
ternyata ada pelanggan setianya
yang ingin dibuatkan sebuah kedai
kopi dengan konsep kafe di Gresik
Jatim. Melalui konsep kemitraan,
akhirnya Yayank menyanggupi
permintaan sang pelanggan untuk
membuka kafe milik pelanggannya
namun dikelola oleh Yayank.
Ternyata, berawal dari sana
kemudian permintaan membuka
kedai kopi dari para pelanggan
atau masyarakat cukup tinggi.

Hingga akhirnya, sekarang telah
dibuka 9 kedai kopi dengan konsep
kafe dan island atau kedai kecil
yang menumpang di mal-mal.
Semua kedai tersebut merupakan
milik mitra dan tersebar dari
Surabaya hingga Kupang Nusa
Tenggara Timur (NTT) namun kedai
kopi itu dikelola oleh perusahaan
milik Yayank, Coffezone Indonesia.
"Dari sana mulai terus sampai 9
kafe. Ada konsep kafe dan island,"
tambahnya.

Pesatnya perkembangan bisnis
Coffeezone, tak terlepas dari
ketekunan, kerja keras dan
komitmen Yayank menjaga kualitas
dan inovasi makanan dan minuman
yang ditawarkan.

Untuk kopi, Yayank menawarkan
citra rasa kopi dari Sabang sampai
Merauke. Selain itu, ada berbagai
pilihan minuman sekelas Starbucks
seperti cappucino, hazelnut coffee
hingga coffee blended, chocolate
ice blended, red bean green milk
tea.
Selain itu ada ada juga makanan
ringan yang melengkapi pilihan
menu yang ditawarkan seperti
pancake, sandwich dan banana
stick.

"Kita jaga kualitas jangan sampai
pelanggan saya bilang namanya
bagus tapi rasa atau menu kopinya
sama saja. Kopi saya pakai istilah
kopi modern. Harga minuman Rp
10.000 sampai Rp 20.000 masih
terjangkau untuk kelas
mahasiswa," sebutnya.
Usaha yang dijalani Yayank
bukannya semulus yang
dibayangkan, karena posisinya
pernah menduduki level yang
cukup tinggi di perusahaan
produsen kopi internasional.

Yayank sempat dicibir karena
memutuskan keluar pekerjaan dan
membuka kedai kopi kaki lima
namun berkat keteguhan hati dan
kerja kerasnya, hal tersebut
mengalahkan segalanya.

"Suami sebetulnya nggak tega liat,
posisi saya sebagai kepala bagian,
buka kedai kopi kaki lima dilihat
orang malah jualan kaki lima,
diketawakan. Namun keinginan
saya mengalahkan cemohan.
Akhirnya dari situ berjalan,"
paparnya.
Saat ini, Yayank berencana pada
bulan Maret 2013 menambah 2
kedai kopi baru milik mitra di
Surabaya.

Ia membuka kesempatan bagi
masyarakat yang ingin membuka
kedai kopi dengan merek
Coffezone. Untuk membuka kedai
kopi berkonsep kafe, seorang
mitra cukup merogoh kocek Rp 75
juta dan konsep island dibandrol
seharga Rp 45 juta. Apakah anda
tertarik untuk membuka usaha
kopi konsep Coffeezone atau
sekedar ingin berkonsultasi soal
bisnis kopi.

Yup, anda bisa mengirim email ke:
coffeezoneindonesia@yahoo.com
atau mengunjungi website:
www.mycoffeezone.net atau
datang ke alamat: Jl. Wonokromo
Tangkis No 18 Surabaya factory:
Griyaloka A1 no 6 Jatikalang
Sidoarjo Jawa Timur.( Feby Dwi Sutianto)

sumber: http://m.detik.com/finance/read/2013/03/04/105754/2184723/480/wanita-ini-sukses-jual-kopi-harga-kaki-lima-kelas-starbucks