Mimpi, menumbuhkan tujuan,
dan semangat hidup Merry Riana
(31). Dengan mimpi, semangat,
dan kerja keras, ia menjadi
miliarder di usia muda.
Saat usianya menginjak 20 tahun, Merry
punya mimpi. Dia ingin sebelum berusia 30 tahun sudah mendapatkan
“kebebasan” finansial.
Mimpi itu terwujud. Hanya setahun setelah dia bekerja, tepatnya di usia 23
tahun, Merry sudah berpenghasilan 220.000 dollar
Singapura. Kira-kira sekitar Rp 1,5 miliar
dengan nilai tukar saat ini. Setahun berikutnya,
yaltu pada tahun 2004,dia mendirikan perusahaan Merry Riana Organization
(MRO). Dua tahun berikutnya di usia 26 tahun, penghasilan totalnya
mencapai 1 juta dollar Singapura —sekitar Rp 7 miliar.
Popularitas Merry melesat. Dia banyak diberitakan media massa di
Singapura sebagai miliarder di usia muda. Lho,
Singapura?
Meski lahir di Jakarta dan orangtua yang warga
Indonesia, Merry mengawali karier sebagai konsultan keuangan,
pengusaha, dan menjadi motivator di Singapura. Sejak
lulus SMA, anak pertama dari tiga bersaudara ini
“mengungsi” ke Negeri Singa.
Ketika bertemu di Central Park, Jakarta,
Minggu (10/7), beberapa jam sebelum kembali ke Singapura, Merry
bercerita sambil mengingat kembali perjalanan hidupnya. Pekan lalu,
selama tiga hari, Merry ada di Indonesia untuk menjadi pembicara atas
undangan sebuah perusahaan di Semarang, Jawa Tengah.
“Ya, sudah lama juga saya di Singapura. Meski rencana kembali ke
Indonesia belum terlaksana, setidaknya pada
tahun ini saya lebih sering datang ke Indonesia karena lebih banyak
kegiatan yang dilaksanakan di sini,” kata Merry.
Kerusuhan 1998
Perjalanan hidup Merry di Singapura berawal ketika terjadi kerusuhan besar
di Jakarta tahun 1998. Cita-cita untuk kuliah di
Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti
buyar karena kejadian tersebut. Orangtua
Merry kemudian memutuskan mengirimkan
putrinya ke Singapura dengan alasan keselamatan.
“Waktu itu rasanya seperti ada dalam film perang. Saya di
minta pergi agar saya selamat,” kata Merry merasakan kesedihan yang terjadi
13 tahun lalu.
Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri,
Merry sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang
Technological University. Tanpa persiapan bekal dana yang memadai pula,
Merry meminjam dana dari Pemerintah Singapura.
Tak hanya untuk biaya kuliah, tetapi juga
untuk hidup sehari-hari. “Utang saya totalnya 40.000 dollar Singapura,”
kata Merry.
Dengan uang saku hanya 10 dolar per minggu, hidupnya harus
superhemat. Untuk makan, misalnya, Merry lebih sering makan
roti atau mi instan atau bahkan berpuasa.
Ketika menyadari hidupnya tak berubah
meski sudah memasuki tahun kedua kuliah,
Merry mulai membangun mimpi. “Saya
membuat resolusi ketika ulang tahun ke-20.
Saya harus punya kebebasan finansial sebelum usia 30. Dengan kata lain,
harus jadi orang sukses. The lowest point in my life
membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut,” ujar Merry
Meski sudah ada mimpi dan didukung
semangat, Merry belum menentukan cara
mewujudkannya. Pikirannya baru terbuka
setelah magang di perusahaan produsen semikonduktor.
Dari pengalaman ini, Merry melakukan hitung-hitungan,
seandainya dia menjadi karyawan perusahaan seusai kuliah.
“Dari perhitungan tersebut, ternyata saya baru bisa melunasi utang dalam
waktu 10 tahun, tanpa tabungan. Kalau begitu caranya, mimpi saya
tak akan terwujud,” kata Merry yang akhirnya memutuskan memilih jalan
berwirausaha untuk mencapai mimpinya.
Karena tak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman bisnis, Merry
mengumpulkan informasi dengan mengikuti
berbagai seminar dan melibatkan diri dalam
organisasi kemahasiswaan yang berhubungan dengan dunia bisnis. Merry juga
mencoba praktik dengan terjun ke multi level marketing meski akhirnya rugi
200 dollar.
Merry bahkan pernah kehilangan 10.000
dollar ketika memutar uangnya di bisnis
saham. Mentalnya sempat jatuh meski dalam kondisi tersebut masih bisa
menyelesaikan kuliah.
Tamat kuliah, barulah Merry mempersiapkan diri dengan
matang. Belajar dari pengalaman para pengusaha sukses, dia memulai dari
sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai
produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit, hingga 14
jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu
enam bulan setelah bekerja, Merry bisa melunasi utang pada Pemerintah
Singapura. Tunai!
Kesuksesan lain pun datang. Karena kinerjanya, Merry bisa membentuk tim
Sendiri hingga akhirnya mendirikan MRO. Dengan penghasilan total 1 juta
dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry saat berusia 20
tahun terwujud.
Berbagi
Namun, seiring usia yang kian dewasa, menghasilkan uang hingga jutaan
dollar bukan menjadi satu-satunya tujuan hidup Merry. Pengagum Oprah
Winfrey ini lebih menikmati hidup ketika orang lain memperoleh kesuksesan
seperti dia.
Pengalaman meraih sukses dibagikan kepada orang lain dengan
berbagai cara, seperti menjadi pembicara di seminar, perusahaan,
sekolah, serta melalui media seperti jejaring sosial, media massa, dan
menulis buku.
Bersama timnya di MRO, Merry memiliki
program pemberdayaan perempuan dan anak-anak muda. Anggota timnya di
lembaga ini bahkan tergolong muda, berusia 20-30
tahun. “Saya ingin menampung orang muda yang punya ambisi dan semangat
seperti saya,” katanya.
Keinginannya untuk berbagi ini tak hanya dilakukan di Singapura. Pada ulang
Tahunnya ke-30, Merry membuat resolusi baru, yaitu
memberi dampak positif pada satu juta orang di Asia, terutama di tanah
kelahirannya, Indonesia.
TENTANG MERRY RIANA
• Nama: Merry Riana
• Tempat tangga lahir:
Jakarta, 29 Mei 1980.
. Nama suami:
Alva Tjenderasa (31)
• Nama anak:
Alvernia Mary Liu (2,5)
• Pendidikan:
S-1 Teknik Elektro Nanyang Technological
University, Singapura (1998-2002)
• Pekerjaan:
Group Director Merry Riana Organization
• Penghargaan:
- Salah satu pengusaha terbaik di Singapura dari Menteri Perdagangan dan
Perindustnian Singapura (2008)
- Salah satu wanita paling sukses dan inspiratif dari Menteri Kepemudaan
dan Olahraga Singapura (2010)
- Wanita paling inspiratif pada salah satu majalah bulanan Inspirational
Woman Magazine (2011)
- Salah satu eksekutif paling profesional dari penampilan dan keahlian
berkomunikasi dari surat kabar My Paper, Singapura (2010)
- Duta LG Asia, Watson, dan Canon (2010-2011)
CITA-CITA
Seperti MacGyver
Merry, yang sukses di bidang jasa keuangan dan kian sibuk dengan
kegiatannya menjadi motivator, pernah punya cita-cita lain. Sewaktu kecil,
anak sulung dari Suanto Sosrosaputro (62) dan Lynda Sanian (62) ini pernah
punya keinginan untuk menjadi seperti sang ayah yang seorang insinyur
elektro. “Waktu kecil, kalau ditanya maujadi apa,
saya selalu jawab ingin seperti papa. Saya senang melihat papa mengutak-
atik peralatan elektronik, seperti Mac Gyver,” kata Merry.
Cita-cita ini bahkan melekat hingga lulus SMA. Merry kuliah di Jurusan
Teknik Elektro Nanyang Technological University seteläh sebelumnya bercita-
cita kuliah dengan jurusan yang sama di Universitas Trisakti
Namun, perjalanan hidup Merry berubah. Meski bisa meraih gelar insinyur
dalam waktu empat tahun, ilmu elektro yang dikuasainya tak terpakai dalam
kariernya. “Paling-paling dipakai di rumah. Kalau
TV atau kulkas rusak, saya masih bisa memperbaiki, hehehe. Tetapi, bukan
berarti kuliah saya tak berguna. Semua proses
yang saya jalani selama kuliah, telah membawa saya menjadi seperti sekarang
ini,” kata Merry. (IYA)
OLEH: YULIA SAPTHIANI
Sumber: Harian Kompas cetak, Minggu, 17 Juli 2011
Saturday, October 20, 2012
Muhdi, Mantan Tukang Kebun yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Keripik Hingga Tembus ke Mancanegara
Saat datang ke Medan, Sumatera
Utara, tahun 1986, Muhammad
Muhdi (46) bukanlah siapa-siapa.
“Naik kereta (sepeda motor) saja
saya tidak bisa,” kata Muhdi. Namun, 25 tahun kemudian, ia adalah
pengusaha keripik singkong dan
turunannya dengan 75 karyawan
dan mulai mengekspor produknya.
Berbincang dengan Muhammad
Muhdi selama sekitar dua jam
membawa kesimpulan bahwa ia
sukses sebagai pengusaha keripik
singkong karena ia orang yang optimistis dengan hidupnyi. Namun,
optimisme itu pun tidak ia peroleh dengan
singkat. Ada masa ia terjepit dan terjatuh, tetapi bisa bangun lagi dan
berhasil seperti saat ini.
Selulusnya dan Madrasah Aliyah
Pondok Baru, Payaman, Magelang, Jawa
Tengah, Muhdi pergi ke Medan menjadi
nazir Masjid Nurul Imam di kawasan
Kompleks Perhubungan Udara, Padang
Bulan, Medan. Ia juga bekerja macam-macam, seperti menjadi tukang
kebon Taman Kanak-kanak Ikadiasa,
Kompleks Perhubungan Udara, Jalan
Penerbang, Medan.
A Siong, seorang pedagang telur, pernah menawarinya berdagang telur.
Usahanya menanjak saat ia mulai memasok logistik, seperti telur, beras,
minyak goreng, minyak tanah, hingga sirup, ke Pondok Pesantren Roudhatul
Hasanah, Medan. Semua berbalik saat
krisis moneter tahun 1997. Pemilik toko
tempat ia mengambil barang bangkrut.
Ia mencoba berdagang bahan pokok.
Di tengah situasi tak menentu, ia
pulang kampung saat Lebaran tahun
1999. Di situlah ide membuat keripik
singkong muncul. “Ada orang buat keripik manual. Saya lalu beli
peralatannya,” cerita Muhdi. Ia membeli alat
potong Rp 120.000, wajan Rp 75.000,
dan alat penampi Rp 15.000. Ia bawa
peralatan itu ke Medan.
Sesampai di Medan, ia langsung
membeli singkong 5 kilogram di pasar
dan minyak goreng 2 kilogram untuk
praktik membuat keripik. Ternyata keripiknya tenggelam dalam minyak.
Esoknya ia beli singkong ke petani,
dengan asumsi kualitas singkong lebih
baik. Eh, sama saja, keripik tenggelam di
dalam minyak.
Usut punya usut, ternyata api kurang
besar, sementara wajan kebesaran. Ber
kali-kali dicoba, baru ketemu formula
pas, antara banyaknya minyak, besarnya
api, panas minyak, dan besarnya wajan.
Wajan yang ia beli dari Magelang ternyata kebesaran sehingga ia perlu
mengganti wajan dari tukang pisang
yang membantu ia menemukan formula
pas untuk menggoreng keripik.
Akhir tahun 1999, produksinya membutuhkan 100 kilogram singkong per
hari dan proses menggoreng nonstop
hingga malam hari. Masyarakat sekitar
mulal terusik dengan aktivitas produksi
keripiknya, terutama karena limbah
singkong. Ia pun pindah ke kawasan
Medan Tuntungan di pinggír kota. “Saya
sewa rumah yang kata orang berhantu
Rp900.000 untuk tiga tahun,” katanya.
Kebetulan air di kawasan itu bagus.
Ia membuat dapur dan mulai berproduksi lagi. Ia memanggil lima orang
tetangganya di Tuntungan untuk bekerja kepadanya. Produksi terus
meningkat, dari 150 kg per hari menjadi 0,5
ton, kemudian 1 ton per hari. Tenaga
kerja meningkat menjadi 15 orang.
Tahun 2002, pemilik rumah hendak
menjual tanah dan rumah sewanya di
Jalan Tunas Mekar, Tuntungan II, Pancur Batu, Medan. Ia pun mencari
pinjaman bank untuk membeli rumah dan
tanah itu. Sementara itu, produksi meningkat menjadi 2 ton per hari. Pada
tahun itu, ia juga mengikuti pelatihan di
Dinas Perindustrian dan Perdagangin
Kota Medan, dan mulai mendaftarkan
produknya ke dinas kesehatan dan
memberi merek “Kreasi Lutfi”, mengambil nama anaknya. Ia juga mulai
membuat keripik aneka rasa.
Produksi sempat berhenti total selama tiga bulan pada 2004 karena para
penjualnya lari. Se1uruh produk dibawa
penjual sehingga ia menjual kendaraan
operasional untuk menutup utang.
Utang bank pun tak terbayar.
Ia memulai lagi menggoreng keripik
dengan modal Rp 1,1 juta. Jadilah 200
bal keripik. Ia meminta salah satu mantan penjualnya untuk menjadi
distributor. Mulai dari situ bisnisnya kembali
menanjak dan sejak tahun 2005 ia
memproduksi 4 ton singkong setiap
hari.
Ia juga melebarkan sayap ke bisnis
gaplek, mengolah kulit ubi menjadi makanan ternak. Kini ia tengah menjajaki
bisnis opak dan pembuatan tepung
singkong agar bisa menggantikan tepung terigu. Total karyawannya 75
orang.
Awal tahun ini ia mulai mengekspor
keripiknya ke Korea Selatan. Dua minggu sekali ia mengirim satu kontainer
kenipik singkong ke Korea Selatan. Satu
kontainer berisi 2.566 kotak keripik.
Satu kotak berisi 2,6 kg keripik. ”Ini
khusus untuk diameter singkong 5,7
cm,” kata dia.
Muhdi, yang selalu tampil sederhana
itu, mengatakan, semua itu dimulai dari
kepepet (terjepit). Ia mengatakan bahwa ilmunya sederhana saja,
yakni menyelaraskan otak, otot, dan omong,
membuat produknya mutu, mudah, dan
murah, serta bekerja dengan senang,santal, tetapi selesai.
Begituiah Muhdi,yang menyelesaikan kuliahnya di
Institut Agama Islam Negeri Sumut, dengan
harapan bisa mengajar di Medan. Namun, malah jadi pengusaha keripik.
OLEH: AUFRIDA WISMI WARASTRI
Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 2 Juli 2011
Utara, tahun 1986, Muhammad
Muhdi (46) bukanlah siapa-siapa.
“Naik kereta (sepeda motor) saja
saya tidak bisa,” kata Muhdi. Namun, 25 tahun kemudian, ia adalah
pengusaha keripik singkong dan
turunannya dengan 75 karyawan
dan mulai mengekspor produknya.
Berbincang dengan Muhammad
Muhdi selama sekitar dua jam
membawa kesimpulan bahwa ia
sukses sebagai pengusaha keripik
singkong karena ia orang yang optimistis dengan hidupnyi. Namun,
optimisme itu pun tidak ia peroleh dengan
singkat. Ada masa ia terjepit dan terjatuh, tetapi bisa bangun lagi dan
berhasil seperti saat ini.
Selulusnya dan Madrasah Aliyah
Pondok Baru, Payaman, Magelang, Jawa
Tengah, Muhdi pergi ke Medan menjadi
nazir Masjid Nurul Imam di kawasan
Kompleks Perhubungan Udara, Padang
Bulan, Medan. Ia juga bekerja macam-macam, seperti menjadi tukang
kebon Taman Kanak-kanak Ikadiasa,
Kompleks Perhubungan Udara, Jalan
Penerbang, Medan.
A Siong, seorang pedagang telur, pernah menawarinya berdagang telur.
Usahanya menanjak saat ia mulai memasok logistik, seperti telur, beras,
minyak goreng, minyak tanah, hingga sirup, ke Pondok Pesantren Roudhatul
Hasanah, Medan. Semua berbalik saat
krisis moneter tahun 1997. Pemilik toko
tempat ia mengambil barang bangkrut.
Ia mencoba berdagang bahan pokok.
Di tengah situasi tak menentu, ia
pulang kampung saat Lebaran tahun
1999. Di situlah ide membuat keripik
singkong muncul. “Ada orang buat keripik manual. Saya lalu beli
peralatannya,” cerita Muhdi. Ia membeli alat
potong Rp 120.000, wajan Rp 75.000,
dan alat penampi Rp 15.000. Ia bawa
peralatan itu ke Medan.
Sesampai di Medan, ia langsung
membeli singkong 5 kilogram di pasar
dan minyak goreng 2 kilogram untuk
praktik membuat keripik. Ternyata keripiknya tenggelam dalam minyak.
Esoknya ia beli singkong ke petani,
dengan asumsi kualitas singkong lebih
baik. Eh, sama saja, keripik tenggelam di
dalam minyak.
Usut punya usut, ternyata api kurang
besar, sementara wajan kebesaran. Ber
kali-kali dicoba, baru ketemu formula
pas, antara banyaknya minyak, besarnya
api, panas minyak, dan besarnya wajan.
Wajan yang ia beli dari Magelang ternyata kebesaran sehingga ia perlu
mengganti wajan dari tukang pisang
yang membantu ia menemukan formula
pas untuk menggoreng keripik.
Akhir tahun 1999, produksinya membutuhkan 100 kilogram singkong per
hari dan proses menggoreng nonstop
hingga malam hari. Masyarakat sekitar
mulal terusik dengan aktivitas produksi
keripiknya, terutama karena limbah
singkong. Ia pun pindah ke kawasan
Medan Tuntungan di pinggír kota. “Saya
sewa rumah yang kata orang berhantu
Rp900.000 untuk tiga tahun,” katanya.
Kebetulan air di kawasan itu bagus.
Ia membuat dapur dan mulai berproduksi lagi. Ia memanggil lima orang
tetangganya di Tuntungan untuk bekerja kepadanya. Produksi terus
meningkat, dari 150 kg per hari menjadi 0,5
ton, kemudian 1 ton per hari. Tenaga
kerja meningkat menjadi 15 orang.
Tahun 2002, pemilik rumah hendak
menjual tanah dan rumah sewanya di
Jalan Tunas Mekar, Tuntungan II, Pancur Batu, Medan. Ia pun mencari
pinjaman bank untuk membeli rumah dan
tanah itu. Sementara itu, produksi meningkat menjadi 2 ton per hari. Pada
tahun itu, ia juga mengikuti pelatihan di
Dinas Perindustrian dan Perdagangin
Kota Medan, dan mulai mendaftarkan
produknya ke dinas kesehatan dan
memberi merek “Kreasi Lutfi”, mengambil nama anaknya. Ia juga mulai
membuat keripik aneka rasa.
Produksi sempat berhenti total selama tiga bulan pada 2004 karena para
penjualnya lari. Se1uruh produk dibawa
penjual sehingga ia menjual kendaraan
operasional untuk menutup utang.
Utang bank pun tak terbayar.
Ia memulai lagi menggoreng keripik
dengan modal Rp 1,1 juta. Jadilah 200
bal keripik. Ia meminta salah satu mantan penjualnya untuk menjadi
distributor. Mulai dari situ bisnisnya kembali
menanjak dan sejak tahun 2005 ia
memproduksi 4 ton singkong setiap
hari.
Ia juga melebarkan sayap ke bisnis
gaplek, mengolah kulit ubi menjadi makanan ternak. Kini ia tengah menjajaki
bisnis opak dan pembuatan tepung
singkong agar bisa menggantikan tepung terigu. Total karyawannya 75
orang.
Awal tahun ini ia mulai mengekspor
keripiknya ke Korea Selatan. Dua minggu sekali ia mengirim satu kontainer
kenipik singkong ke Korea Selatan. Satu
kontainer berisi 2.566 kotak keripik.
Satu kotak berisi 2,6 kg keripik. ”Ini
khusus untuk diameter singkong 5,7
cm,” kata dia.
Muhdi, yang selalu tampil sederhana
itu, mengatakan, semua itu dimulai dari
kepepet (terjepit). Ia mengatakan bahwa ilmunya sederhana saja,
yakni menyelaraskan otak, otot, dan omong,
membuat produknya mutu, mudah, dan
murah, serta bekerja dengan senang,santal, tetapi selesai.
Begituiah Muhdi,yang menyelesaikan kuliahnya di
Institut Agama Islam Negeri Sumut, dengan
harapan bisa mengajar di Medan. Namun, malah jadi pengusaha keripik.
OLEH: AUFRIDA WISMI WARASTRI
Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 2 Juli 2011
Kategori:
Kuliner
Suparji, Mantan Bartender yang Kini Sukses Jadi Pengusaha Kancing Unik
Anda butuh kancing kerajinan yang unik dan
menarik dalam aneka bentuk, dari yang sulit
sampal yang sederhana? Suparji Utomo (57)
slap untuk itu. Koleksi kancing kerajinan
buatannya pun hampir tak terhitung
jumlahnya. Pelanggannya perusahaan konveksi
besar di Indonesia dan mancanegara.
Suparji adalah pemiik pusat kancing kerajinan
JJ Button di Jalan Gunung Tangkuban Perahu,
Kota Denpasar, Bali. Meski mengaku tak memiliki kemampuan bisnis, usaha
kancing kerajinannya maju pesat sejak berdiri tahun 1996. Kini ia
memiliki puluhan rekanan dalam pembuatan kancing tersebut.
“Saya juga tidak menyangka karena semua terjadi
begitu saja. Saat itu yang terpikirkan oleh saya adalah
ini peluang!” kata Suparji saat ditemui di toko kancing kerajinannya,
pertengahan bulan Mei lalu.
Awalnya, ia hanya memiliki pengalaman sebagai
bartender hampir 10 tahun di salah satu kelab malam di sekitar Legian,
Kabupaten Badung. Karena tak
maju, ia bersama I Gusti Ayu Putri Astuti (48),
istrinya, beralih menggeluti pembuatan barang-barang dan bahan baku kulit.
Sayangnya, usaha kulitnya pun hanya bertahan 10 tahun. Sepanjang waktu itu
usahanya hanya kembang kempis.
Tiba-tiba, salah satu pelanggannya asal Amerika
Serikat yang memiliki perusahaan garmen di Pulau
Dewata menantang Suparji untuk bisa membuat
25.000 kancing baju dari bahan batok kelapa. Hanya
saja, kancing itu harus ada gambar bintang laut.
“Sebenarnya saya bingung juga mendapatkan tantangan itu karena sama sekali
belum pernah membuatnya. Tapi ini adalah peluang! Kancing bentuknva
kecil dan hampir dianggap sepele oleh orang-orang,
termasuk saya. Tapi, entah mengapa, saat itu saya
begitu yakin ini adalah kesempatan emas buat saya
dan keluarga saya,” tutur Suparji yg didampingi
anak sulungnya, Cendana Wangi Utomo (25).
Pesanan 25.000 kancing batok kelapa yang bergambar bintang laut itu mampu
dipenuhniya. Selanjutnya, pesanan kancing terus mengalir seperti tak
henti. Ragam desain pun bermunculan, terutama
terinspirasi dari pelanggannya dari negeri Sakura,
Jepang. Kini koleksi produksi dan langganannya tak
terkira jumlahnya.
Berbagai referensi dipelajari dan dia bereksperimen mengenai bagaimana agar
kancing buatannya awet dengan bahan baku cat aman lingkungan serta
tidak berbahaya untuk anak-anak. Satu pengalaman
yang tak terlupakan adalah ia sempat diprotes pelanggan karena cat kancing
buatannya luntur.
Baginya, protes apa pun dari pelanggan adalah
teguran berharga agar produknya bisa lebih baik di
kemudian hari, la sadar tak mudah bersaing. Bahkan,
lanjutnya, tak mudah pula menentukan apakah
usahanya ini kerajinan kancing atau kancing kerajinan? Ia pun memiih
kancing kerajinan.
Ya, menurut Suparji,kerajinan kancing itu sama
saja dengan pembuat kancing. Sementara Suparji
merasa dirinya adalah pembuat kancing yang tidak
hanya sekadar kancing biasa.
Buktinya? Semua ukuran kancing buatannya tidak
ada yang sama, juga tidak bisa dilakukan dengan
mesin hanya agar proses produksinya lebih cepat.
Seluruh kancing adalah buatan tangan dan dibuat
satu per satu, mulai dari pemilihan bahan baku
pembentukan, pengecatan, hingga pelubangan kancing itu sendiri.
Semua itu tidak bisa dilakukan oleh mesin.
Itu sebabnya, pembuatan kancing Suparji hanya
berjumlah ratusan, bahkan untuk kancing yang rumit
bisa membutuhkan waktu sebulan. Berbeda dengan
kancing biasa yang berbentuk lingkaran dengan dua
lubang yang lazim ada. Itu bisa diproduksi puluhan
ribu buah dalam sehari.
Eksperimen bahan baku pun terus berlanjut. Berawal dari
batok kelapa yang terbuang alias sampah.
Suparji pun mengembangkan bahan bekas lainnya,
seperti tulang sapi, kulit kerang, dan kayu.
Cita-citanya, produksi buatannya semua ramah lingkungan.
“Namun, apa boleh buat. Beberapa pelanggan masih menginginkan bahan baku dari getah damar yang dijadikan aneka macam bentuk dan warna,” kata
Suparji.
Satu hal yang masih sulit Suparji dan putri sulungnya lakukan
adalah menghitung jumlah desain
yang mereka miliki. Hal ini disebabkan seluruh kancing buatan mereka
ditempatkan dalam sebuah stopies. Tak jarang, sejumlah orang yang tak
membaca toko ini menjual berbagai kancing kerajinan mengira
toko ini sebagai toko permen.
Harga satu kancing beragam, mulal Rp 2.000
hingga puluhan ribu rupiah. Ukurannya pun beragam, dari yang terkecil
sebesar kuku jari jempol orang dewasa hingga ada yang sebesar tutup gelas
dengan berbagai bentuk, dan lingkaran sampai bentuk jamur, mobil,pesawat,
dan lain-lain. Seru!
Saat ini ia tengah merintis inovasi baru bersama
putri pertamanya itu. Menurut Suparji, bisnis semakin memanas dari hari
kehari. Jika iä tidak
memvariasi produknya, bisa saja ia ditinggalkan pelanggannya. “Karena ini
barang seni, jadi sebisa mungkin setiap hari perlu ada inovasi dan kreasi,
tentu dengan hati dan niat bersih. Jika berusaha,
pasti bisa!” ujar Suparji.
OLEH: AYU SULISTYOWATI
Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 9 Juli 2011
menarik dalam aneka bentuk, dari yang sulit
sampal yang sederhana? Suparji Utomo (57)
slap untuk itu. Koleksi kancing kerajinan
buatannya pun hampir tak terhitung
jumlahnya. Pelanggannya perusahaan konveksi
besar di Indonesia dan mancanegara.
Suparji adalah pemiik pusat kancing kerajinan
JJ Button di Jalan Gunung Tangkuban Perahu,
Kota Denpasar, Bali. Meski mengaku tak memiliki kemampuan bisnis, usaha
kancing kerajinannya maju pesat sejak berdiri tahun 1996. Kini ia
memiliki puluhan rekanan dalam pembuatan kancing tersebut.
“Saya juga tidak menyangka karena semua terjadi
begitu saja. Saat itu yang terpikirkan oleh saya adalah
ini peluang!” kata Suparji saat ditemui di toko kancing kerajinannya,
pertengahan bulan Mei lalu.
Awalnya, ia hanya memiliki pengalaman sebagai
bartender hampir 10 tahun di salah satu kelab malam di sekitar Legian,
Kabupaten Badung. Karena tak
maju, ia bersama I Gusti Ayu Putri Astuti (48),
istrinya, beralih menggeluti pembuatan barang-barang dan bahan baku kulit.
Sayangnya, usaha kulitnya pun hanya bertahan 10 tahun. Sepanjang waktu itu
usahanya hanya kembang kempis.
Tiba-tiba, salah satu pelanggannya asal Amerika
Serikat yang memiliki perusahaan garmen di Pulau
Dewata menantang Suparji untuk bisa membuat
25.000 kancing baju dari bahan batok kelapa. Hanya
saja, kancing itu harus ada gambar bintang laut.
“Sebenarnya saya bingung juga mendapatkan tantangan itu karena sama sekali
belum pernah membuatnya. Tapi ini adalah peluang! Kancing bentuknva
kecil dan hampir dianggap sepele oleh orang-orang,
termasuk saya. Tapi, entah mengapa, saat itu saya
begitu yakin ini adalah kesempatan emas buat saya
dan keluarga saya,” tutur Suparji yg didampingi
anak sulungnya, Cendana Wangi Utomo (25).
Pesanan 25.000 kancing batok kelapa yang bergambar bintang laut itu mampu
dipenuhniya. Selanjutnya, pesanan kancing terus mengalir seperti tak
henti. Ragam desain pun bermunculan, terutama
terinspirasi dari pelanggannya dari negeri Sakura,
Jepang. Kini koleksi produksi dan langganannya tak
terkira jumlahnya.
Berbagai referensi dipelajari dan dia bereksperimen mengenai bagaimana agar
kancing buatannya awet dengan bahan baku cat aman lingkungan serta
tidak berbahaya untuk anak-anak. Satu pengalaman
yang tak terlupakan adalah ia sempat diprotes pelanggan karena cat kancing
buatannya luntur.
Baginya, protes apa pun dari pelanggan adalah
teguran berharga agar produknya bisa lebih baik di
kemudian hari, la sadar tak mudah bersaing. Bahkan,
lanjutnya, tak mudah pula menentukan apakah
usahanya ini kerajinan kancing atau kancing kerajinan? Ia pun memiih
kancing kerajinan.
Ya, menurut Suparji,kerajinan kancing itu sama
saja dengan pembuat kancing. Sementara Suparji
merasa dirinya adalah pembuat kancing yang tidak
hanya sekadar kancing biasa.
Buktinya? Semua ukuran kancing buatannya tidak
ada yang sama, juga tidak bisa dilakukan dengan
mesin hanya agar proses produksinya lebih cepat.
Seluruh kancing adalah buatan tangan dan dibuat
satu per satu, mulai dari pemilihan bahan baku
pembentukan, pengecatan, hingga pelubangan kancing itu sendiri.
Semua itu tidak bisa dilakukan oleh mesin.
Itu sebabnya, pembuatan kancing Suparji hanya
berjumlah ratusan, bahkan untuk kancing yang rumit
bisa membutuhkan waktu sebulan. Berbeda dengan
kancing biasa yang berbentuk lingkaran dengan dua
lubang yang lazim ada. Itu bisa diproduksi puluhan
ribu buah dalam sehari.
Eksperimen bahan baku pun terus berlanjut. Berawal dari
batok kelapa yang terbuang alias sampah.
Suparji pun mengembangkan bahan bekas lainnya,
seperti tulang sapi, kulit kerang, dan kayu.
Cita-citanya, produksi buatannya semua ramah lingkungan.
“Namun, apa boleh buat. Beberapa pelanggan masih menginginkan bahan baku dari getah damar yang dijadikan aneka macam bentuk dan warna,” kata
Suparji.
Satu hal yang masih sulit Suparji dan putri sulungnya lakukan
adalah menghitung jumlah desain
yang mereka miliki. Hal ini disebabkan seluruh kancing buatan mereka
ditempatkan dalam sebuah stopies. Tak jarang, sejumlah orang yang tak
membaca toko ini menjual berbagai kancing kerajinan mengira
toko ini sebagai toko permen.
Harga satu kancing beragam, mulal Rp 2.000
hingga puluhan ribu rupiah. Ukurannya pun beragam, dari yang terkecil
sebesar kuku jari jempol orang dewasa hingga ada yang sebesar tutup gelas
dengan berbagai bentuk, dan lingkaran sampai bentuk jamur, mobil,pesawat,
dan lain-lain. Seru!
Saat ini ia tengah merintis inovasi baru bersama
putri pertamanya itu. Menurut Suparji, bisnis semakin memanas dari hari
kehari. Jika iä tidak
memvariasi produknya, bisa saja ia ditinggalkan pelanggannya. “Karena ini
barang seni, jadi sebisa mungkin setiap hari perlu ada inovasi dan kreasi,
tentu dengan hati dan niat bersih. Jika berusaha,
pasti bisa!” ujar Suparji.
OLEH: AYU SULISTYOWATI
Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 9 Juli 2011
Suherman, Dulu Sendirian di Awal Usaha Ukiran Kayu Ulin, Kini Punya Puluhan Karyawan
Suherman (53) dikenal sebagai perajin kayu andal di
Balikpapan, tepatnya pakar ukir kayu ulin dengan
motif Dayak. Pelanggannya dari kalangan pejabat,
pemerintah daerah, perkantoran, hingga perhotelan.
Namun, yang unik, dia sebenarnya bukan orang asli
Dayak, melainkan wong Tulungagung, Jawa Timur.
“Namun, saya menyukai desain-desain Dayak.
Begitu melihat, langsung suka dan bisa membuatnya. Bakat mungkin,
hehehe,” ujar Suherman kala mengawali obrolan bersama
Kompas, Senin (11/4), di ruang pamernya, Jalan Soekarno-Hatta, Gunung
Samarinda, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Beberapa karyawan di ruang pamer dari CV Borneo Picaso
Mandiri ini tengah mengerjakan tiga gelondong kayu ulin
masing-masing sepanjang 7,5 meter dan berdiameter 45 cm.
Motif-motif Dayak sudah separuh disematkan ke tubuh
kayu asli Kalimantan berusia puluhan tahun yang acap disebut kayu besi
tersebut (karena tahan air).
“Saya dapat pesanan 36 gelondongan seperti ini untuk
diukir motif Dayak. Pesanan ini untuk sebuah hotel di Bali
yang segera dibuka. Selain ulin untuk tiang ini, hotel itu juga
pesan ratusan lain, seperti untuk nomor kamar,” kata Suherman.
Suherman juga menunjukkan setumpuk kayu ulin pesanan sejumlah
pejabat yang belum tergarap. Si pemesan
mau bersabar menunggu.
Bukankah kayu ulin termasuk dilindungi karena sudah
hampir habis populasinya sehingga ulin sebesar itu harus
dilengkapi izin gubernur? Suherman mengiyakan. “Kalau
enggak ada izinnya, ya, enggak berani. Nanti Anda malah wawancara saya di
rutan, Mas,” ujarnya berkelakar.
Bukan hal mudah mendapat ulin saat sekarang karena, sejak
10 tahun silam, peredaran ulin dibatasi ketat. Banyak ulin ditebang dan
dijual secara ilegal. Otomatis, pasokan ulin pun tak
selancar sebelumnya. Surat-suratnya harus komplet Saking
langkanya ulin, harganya pun meroket, yakni Rp 5,5 juta per
meter persegi. Ulin tiga kali lebih mahal dari kayu jati.
Lelaki ini meyakini kemampuannya mengukir dan
memahat kayu—dan meniru motif apa saja yang dilihat adalah
anugerah dan bakat. Kedua orangtuanya petani tulen di
kampung halamannya, Tulungagung, Jawa Timur. Kalau,
toh, ditelusuri, bakat seni itu
berasal dan kakeknya yang bisa mendalang.
Sejak kecil ia suka menggambar apa saja, yang lalu
diaplikasikan ke kayu. Merasa bakatnya bakal tersalurkan di
kursi perguruan tinggi, Suherman mendaftar ke Akademi
Seni Rupa Indonesia seusai tamat dari STM Pembangunan
Bandung, Jawa Barat.
Tak lebih dari setahun, Suherman keluar dengan alasan
sederhana, yakni merasa kemampuannya kurang terasah
secara cepat. Ia semakin tak sempat kuliah karena pesanan
mulai berdatangan. Beranjak dari kebutuhan uang, kuliah
pun dia relakan walau sempat berangan-angan bisa tamat
Bukan pola bos-bawahan
Pengembaraan ke Balikpapan dimulai tahun 1975.
Suherman diminta membantu salah satu hotel. Tahun 1986,
dia membuka usaha mandiri. Dari mulut ke mulut, karyanya
mulai dikenal, terutama desain Dayak yang ditatahkan pada
ulin. Jika dulu sendiri, lantas punya 9 karyawan, sekarang
dia memiiki 25 karyawan.
Walau demikian, dia tak
Mau menerapkan pola bos-bawahan kepada karyawannya
sehingga komunikasi dan kedekatan terus dilakukan. Setiap pesanan pun,
walau digarap para karyawan, tetap dipastikan tersentuh tangannya.
“Masa saya cuma duduk” ucapnya.
Berbagai penghargaan sudah disabetnya, seperti Sidhakarya (penghargaan
untuk produktivitas) tahun 2010. Juga Juara I Lomba Desain Produk
Kerajinan/Cenderamata se-Kaltim tiga tahun berturut-turut (2008-2010).
Ketiganya penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kaltim.
Bukan hal gampang mencapai sukses. Suami dan Sri Mugiwarti (43) dan ayah
tiga anak ini mengatakan, yang penting
perajin bisa memberi kepuasan kepada pelanggan, yakni tepat
waktu, rapi, dan indah pengerjaan, plus keramahan. Syarat
klasik, tetapi sulit.
Untuk urusan tepat waktu
dan kepuasan pelanggan, tak ada kompromi bagi Suherman.
“Begitu perajin molor, separuh kepercayaan pelanggan hi1ang.
Jadi, kalau bisa, selesal tepat waktu. Kalau bisa sebelum batasan waktu,
itu lebih istimewa,” tuturnya.
Dalam sebulan, Suherman
butuh setidaknya Rp 150 juta untuk belanja kayu. Sejauh ini
produknya telah tersebar di banyak daerah, terutama Jawa
dan Bali. Ia belum berpikir ekspor ke luar negeri karena
sudah kewalahan memenuhi permintaan dalam negeri.
Suherman memang unik karena, walau orang Jawa, sebagian hatinya sudah
tertambat ke motif Dayak. Ia pun ikut prihatin atas kayu ulin
yang kian langka. “Walau bisa saja menggambar motif Dayak
di kayu lain, tetapi aslinya, kan, di ulin,” ujarnya.
OLEH: LUKAS ADI PRASETYA
Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 20 Agustus 2011
Balikpapan, tepatnya pakar ukir kayu ulin dengan
motif Dayak. Pelanggannya dari kalangan pejabat,
pemerintah daerah, perkantoran, hingga perhotelan.
Namun, yang unik, dia sebenarnya bukan orang asli
Dayak, melainkan wong Tulungagung, Jawa Timur.
“Namun, saya menyukai desain-desain Dayak.
Begitu melihat, langsung suka dan bisa membuatnya. Bakat mungkin,
hehehe,” ujar Suherman kala mengawali obrolan bersama
Kompas, Senin (11/4), di ruang pamernya, Jalan Soekarno-Hatta, Gunung
Samarinda, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Beberapa karyawan di ruang pamer dari CV Borneo Picaso
Mandiri ini tengah mengerjakan tiga gelondong kayu ulin
masing-masing sepanjang 7,5 meter dan berdiameter 45 cm.
Motif-motif Dayak sudah separuh disematkan ke tubuh
kayu asli Kalimantan berusia puluhan tahun yang acap disebut kayu besi
tersebut (karena tahan air).
“Saya dapat pesanan 36 gelondongan seperti ini untuk
diukir motif Dayak. Pesanan ini untuk sebuah hotel di Bali
yang segera dibuka. Selain ulin untuk tiang ini, hotel itu juga
pesan ratusan lain, seperti untuk nomor kamar,” kata Suherman.
Suherman juga menunjukkan setumpuk kayu ulin pesanan sejumlah
pejabat yang belum tergarap. Si pemesan
mau bersabar menunggu.
Bukankah kayu ulin termasuk dilindungi karena sudah
hampir habis populasinya sehingga ulin sebesar itu harus
dilengkapi izin gubernur? Suherman mengiyakan. “Kalau
enggak ada izinnya, ya, enggak berani. Nanti Anda malah wawancara saya di
rutan, Mas,” ujarnya berkelakar.
Bukan hal mudah mendapat ulin saat sekarang karena, sejak
10 tahun silam, peredaran ulin dibatasi ketat. Banyak ulin ditebang dan
dijual secara ilegal. Otomatis, pasokan ulin pun tak
selancar sebelumnya. Surat-suratnya harus komplet Saking
langkanya ulin, harganya pun meroket, yakni Rp 5,5 juta per
meter persegi. Ulin tiga kali lebih mahal dari kayu jati.
Lelaki ini meyakini kemampuannya mengukir dan
memahat kayu—dan meniru motif apa saja yang dilihat adalah
anugerah dan bakat. Kedua orangtuanya petani tulen di
kampung halamannya, Tulungagung, Jawa Timur. Kalau,
toh, ditelusuri, bakat seni itu
berasal dan kakeknya yang bisa mendalang.
Sejak kecil ia suka menggambar apa saja, yang lalu
diaplikasikan ke kayu. Merasa bakatnya bakal tersalurkan di
kursi perguruan tinggi, Suherman mendaftar ke Akademi
Seni Rupa Indonesia seusai tamat dari STM Pembangunan
Bandung, Jawa Barat.
Tak lebih dari setahun, Suherman keluar dengan alasan
sederhana, yakni merasa kemampuannya kurang terasah
secara cepat. Ia semakin tak sempat kuliah karena pesanan
mulai berdatangan. Beranjak dari kebutuhan uang, kuliah
pun dia relakan walau sempat berangan-angan bisa tamat
Bukan pola bos-bawahan
Pengembaraan ke Balikpapan dimulai tahun 1975.
Suherman diminta membantu salah satu hotel. Tahun 1986,
dia membuka usaha mandiri. Dari mulut ke mulut, karyanya
mulai dikenal, terutama desain Dayak yang ditatahkan pada
ulin. Jika dulu sendiri, lantas punya 9 karyawan, sekarang
dia memiiki 25 karyawan.
Walau demikian, dia tak
Mau menerapkan pola bos-bawahan kepada karyawannya
sehingga komunikasi dan kedekatan terus dilakukan. Setiap pesanan pun,
walau digarap para karyawan, tetap dipastikan tersentuh tangannya.
“Masa saya cuma duduk” ucapnya.
Berbagai penghargaan sudah disabetnya, seperti Sidhakarya (penghargaan
untuk produktivitas) tahun 2010. Juga Juara I Lomba Desain Produk
Kerajinan/Cenderamata se-Kaltim tiga tahun berturut-turut (2008-2010).
Ketiganya penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kaltim.
Bukan hal gampang mencapai sukses. Suami dan Sri Mugiwarti (43) dan ayah
tiga anak ini mengatakan, yang penting
perajin bisa memberi kepuasan kepada pelanggan, yakni tepat
waktu, rapi, dan indah pengerjaan, plus keramahan. Syarat
klasik, tetapi sulit.
Untuk urusan tepat waktu
dan kepuasan pelanggan, tak ada kompromi bagi Suherman.
“Begitu perajin molor, separuh kepercayaan pelanggan hi1ang.
Jadi, kalau bisa, selesal tepat waktu. Kalau bisa sebelum batasan waktu,
itu lebih istimewa,” tuturnya.
Dalam sebulan, Suherman
butuh setidaknya Rp 150 juta untuk belanja kayu. Sejauh ini
produknya telah tersebar di banyak daerah, terutama Jawa
dan Bali. Ia belum berpikir ekspor ke luar negeri karena
sudah kewalahan memenuhi permintaan dalam negeri.
Suherman memang unik karena, walau orang Jawa, sebagian hatinya sudah
tertambat ke motif Dayak. Ia pun ikut prihatin atas kayu ulin
yang kian langka. “Walau bisa saja menggambar motif Dayak
di kayu lain, tetapi aslinya, kan, di ulin,” ujarnya.
OLEH: LUKAS ADI PRASETYA
Sumber: Harian Kompas cetak, Sabtu, 20 Agustus 2011
Bob Dimas, Bermodal 50 Rb, Kini Omzetnya Puluhan Juta per Hari Lewat Keripik Singkong
Keripik singkong adalah makanan rakyat yang biasa ditemukan di pinggir jalan yang dijual secara sederhana. Namun, di tangan Dimas Ginanjar Merdeka (26), keripik singkong disulap menjadi makanan yang bergengsi dan bemilal tinggi, persis seperti sentuhan Midas yang membuat semuanya menjadi emas, bernilal tinggi. Dimas-lah yang pertama kali memperkenalkan produk keripik singkong pedas bernama Maicih yang dijual melalui jejaring sosial Twitter. Mengawali usahanya dengan modal Rp 50.000, kini dia mengelola usaha dengan omzet nyaris Rp 16 juta per hari. Maicih dengan produksi harian sampai 5.000 bungkus menjadi merek utama dalam makanan pedas yang dibuntuti oleh para kompetitornya. “Keripik singkong adalah camilan kegemaran saya,” ujar Dimas menceritakan ketertarikannya untuk berbisnis keripik singkong pedas. Salah satu ciri khas yang dimiiiki Maicih adalah tingkatan (level) dari rasa pedas pada keripiknya, yakni paling rendah tingkat 3 dan paling pedas adalah tingkat 10, dan dijual dengan harga eceran Rp 13.000 hingga Rp 15.000 di Bandung, Jawa Barat. Dia mengatakan, membuat sekeping keripik singkong terasa enak di nikmati. Bukan cuma soal rasa pedas saja, melainkan juga rasa gurih. Banyak penjual keripik singkong pedas terjebak bersaing di rasa pedas malah keripik singkongnya tidak lagi terasa. Dia mengolah produknya menggunakan cabal giling, bukan bubuk cabai, ditambah rempah-rempah yang diracik khusus agar rasanya tetap gurih. Setelah besar, Maicih menjadi merek yang memiliki misi mengangkat kebudayaan Jawa Barat. Baru-baru ini Maicih menjadi sponsor tunggal konser musik grup Bottle Smoker di Bandung, suatu hal yang langka terjadi saat konser banyak didominasi rokok ataupun provider telekomunikasi. Dimas beralasan, Bottle Smoker dipilih karena menjadi band yang sudah melanglang buana di kancah internasional, tapi belum pernah menggelar konser di kampung halamannya di Bandung. Maicih juga beberapa kali menjadi sponsor untuk konser biduanita Sarasvati, di luar Bandung, sembari promosi produk. Maicih yang memiliki logo gambar perempuan tua itu juga memiliki program “1 coin 1 leaf” yang berarti setiap pembelian satu bungkus Maicih akan menyisihkan Rp loo untuk tujuan sosial. Dimulai sejak dua bulan, program ini juga sudah menghasilkan dana Rp 16 juta yang disumbangkan untuk pelestarian Gunung Manglayang, Sungai Cikapundung, dan rencananya akan disalurkan untuk anak yatim. Distribusi keripik singkong pedas serta tujuh varian produknya tidak terbatas di Bandung saja. Saat ini keripik singkong Maicih sudah bisa didapatkan di Yogyakarta, Surabaya (Jawa Timur), hingga Medan (Sumatera Utara). Twitter Salah satu hal yang diingat dari Maicih adalah jejaring sosial Twitter. Melalui situs microblogging inilah Dimas pertama kali memasarkan produknya, tahun 2010. Tidak ada jurus tertentu, murni coba-coba. Keterbatasan modal membuat produk tersebut dijual di mobil yang berkeliling di beberapa titik di Kota Bandung. Lokasi keberadaan mobil penjaja keripiknya itu dia informasikan melalui Twitter. Pasalnyá, saat pertama kali dipasarkan, tidak ada satu kafe pun yang bersedia meminjamkan tempatnya untuk berjualan keripik singkong pedas. Dimas mengawali pemasaran dengan memperkenalkan Maicih, tokoh fiksi yang membuat keripik singkong pedas. Dia sengaja menampilkan tokoh orang tua untuk menghadirkan relasi yang dekat dan hangat dengan konsumen, layaknya keluarga sendiri. Pendekatan viral marketing yang ditempuh Dimas ternyata berhasil dan merengkuh hasil yang tidak diduga. Konsumen kian tertarik berburu produk Maicih dan menganggapnya sebagal sebuah permainan. Menunggu informasi lokasi penjualan dan mengejarnya meski sebagian harus gigit jari karena kehabisan. Dimas menuturkan, produksi keripik singkong Maicih memang belum mampu memenuhi permintaan konsumen, hanya seperempatnya “Kelangkaan itu membuat konsumen semakin berebut mencari produk keripik singkong” katanya. Mengawali usaha pada Juil 2010, Dimas menjual 100 bungkus per hari dan kini sudah melonjak menjadi 5.000 bungkus per hari. Konsumen juga kerap menunjukkan fanatismenya terhadap Maicih. Dimas mengisahkan, acara peluncuran Maicih di Yogyakarta ternyata didatangi pembeli dari Surabaya dan daerah lain. Ada pula konsumen dari Bandung yang khusus datang karena kehabisan di kotanya. Komunikasi Sadar bahwa tidak bisa bergantung pada Twitter seterusnya, Dimas pun serius menggarap identitas Maicih, mulai dengan mengganti logo usaha karena mulai banyak pesaing yang memasarkan keripik pedas dengan pendekatan serupa. Sebagai pembeda, dia juga mengemas ulang produknya dengan kemasan kertas sehingga lebih eksklusif serta melengkapinya dengan label Badan Pengawas Obat dan Makanan dan label halai dari Majelis Ulama Indonesia. “Semua tidak dilakukàn karena keharusan, melainkan tanggung jawab agar konsumen tenang mengonsumsi produk kita,” katanya. Salah satu nilai yang dia pegang erat adalah komunikasi dengan para konsumen untuk mendapatkan masukan balik. Dari sanalah Dimas juga memutuskan untuk menghentikan cara berjualan dengan berpindah-pindah setelah konsumen mulai sering kecewa karena tidak pernah kebagian. Saat ini, ada enam gerai yang menjual Maicih, belum termasuk jasa pengantaran produk. Begitu pula dengan pembuatan tingkatan untuk rasa pedas. Awalnya, Maicih memiliki tingkatan 1 hingga 10, tapi hal itu rupanya membuat konsumen sedikit kebingungan karena sulit membedakan antara tingkatan 1 dan 2 atau 5 dan 6. Akhirya, Dimas menyederhanakannya menjadi tingkat 3, 5, dan 10. Selain keripik singkong, Dimas — yang juga akrab disapa dengan nama Bob — memproduksi makaroni dengan beragam rasa pedas lainnya. Produk lainnya, gurilem alias kerupuk awur, salah satu makanan khas Tanah Pasundan, pun mendapat perlakuan serupa dengan rasa pedas berbagai level. Dia juga akan meluncurksm situs http://www.maicih.com yang menjadi sarana komunikasi bagi konsumen. Dengan membuka laman tersebut, Dimas berharap dapat mengetahul keinginan pelanggan dan memenuhinya. Yang pasti, begitu mengunyah keripik singkong Maicih, tidak lama kemudian mulut akan terasa panas karena kepedasan. Kapok? Justru semakin ketagihan. Inilah budaya makanan pedas yang kembali dihadirkan Dimas. DIMAS GINANJAR MERDEKA Lahir: 17 Agustus 1985. Pendidikan Terakhir: - Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Parahyangan Bandung OLEH: DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO Sumber: Harian Kompas Cetak, Sabtu, 6 Agustus 2011
Kategori:
Kuliner
Thursday, October 11, 2012
Bermodal Rp 500.000, Lukisan Pasir Faizan Dijual Hingga Rp 250 Juta
Jakarta - Terkadang industri kecil
dan menengah banyak dipandang
sebelah mata. Padahal, industri
kecil dan menengah (IKM) banyak
berkontribusi menggerakan roda
perekonomian dalam negeri.
Salah satunya IKM yang
berkembang adalah lukisan
kaligrafi dengan menggunakan
pasir pantai karya A Faizan
Z'Makhadatu.
Faizan memulai bisnisnya sejak 11
tahun silam. Tepatnya akhir 2001,
ia mendapatkan ide yang tak
pernah terpikirkan bahkan oleh
seniman manapun.
"Kita memang nyari ide, untuk
media pembuatannya apa yang
memang belum pernah ada dan
tertuang oleh seniman, kita coba
yang belum ada. Yaitu pakai
pasir," ungkap Faizan saat ditemui
detikFinance di acara Pameran
Industri Kreatif Yogyakarta di
Kementerian Perindustrian, Selasa
(9/10/12).
Faizan bukanlah seniman. Dia
hanya lulusan sebuah Institut
Keagamaan di Lampung. Namun,
bakatnya dalam melukis kaligrafi
pasir ini tak kalah dengan
seniman-seniman profesional lain.
Harga yang ditawarkan untuk satu
karya yang dibuat Faizan
bervariatif. Mukai dari Rp 250.000
hingga Rp 250 juta. Sangat
mencengangkan untuk sebuah
industri kecil dan menengah,
terlebih untuk satu karyanya
modal yang disiapkan tak lebih
dari Rp 1 juta.
"Bahan bakunya pasir pantai,
kayu, triplek dan lem saja. Saya
dapat bahan baku dari Lampung,
Jogja, Jateng, semua dalam negeri.
Murah kok, nggak sampai Rp
1.000.000, paling hanya Rp
500.000," ucapnya.
Kenapa harga lukisan pasir ini
bervariasi? Faizan mengaku
patokan harga didasari tingkat
kesulitan, ukuran, dan pesan yang
disampaikan oleh lukisan tersebut.
Contohnya, untuk lukisan kaligrafi
"Surat Yassin" ia banderol Rp 250
juta. Pengerjaan lukisan ini pun
hampir satu bulan. Menurutnya
tingkat kesulitan untuk membuat
lukisan ini sangat tinggi.
"Hurufnya kecil-kecil. Saya
buatnya kalau salah ya ganti lagi.
Itu semua Surat Yassin, full,"
katanya.
"Ada juga Asmaul Husna. Saya jual
Rp 99 juta, sesuai dengan
pesannya. Istri saya nyuruh itu
nggak boleh dijual dibawah Rp 99
juta. Harus segitu," imbuhnya.
Uniknya, Faizan mengerjakan
karyanya seorang diri. Lukisan ini
lebih banyak diburu oleh kalangan
kolektor atau konsumen dalam
negeri.
"Kalau ekspor kita nggak khusus
secara langsung diekspor. Paling
ada yang datang perseorangan, di
pameran ataupun ke workshop.
Banyaknya dari Malaysia, Libya
juga," paparnya.
Dalam 1 bulan, dia mengaku
setidaknya ada dua hingga lima
karya Lukisan Pasirnya terjual.
Rata-rata penikmat karya Faizan
membeli karyanya yang berharga
di bawah Rp 10 juta.
"Rata-rata pendapatan Rp 5 juta-
Rp 10 juta masuk. Kadang lebih.
Yang rata-rata di bawah Rp 10 juta
yang banyak kejual ," katanya.
Untuk membeli atau sekedar
melihat karya ini, bisa datang ke
Showroom-nya di Thamrin City,
lantai 3, Jakarta atau Gallery
Faizan di Purwomertani, Kalasan
Sleman, Yogyakarta.
Khusus pada tanggal 9-12
Oktober, karya lukisan
masterpiece ini bisa ditemui di
Pameran Industri Kementerian
Perindustrian, Jalan Gatot Subroto,
Jakarta, atau bisa menghubungi
nomor telepon: 081272045673
( Zulfi Suhendra )
sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/10/10/123836/2059149/480/bermodal-rp-500000-lukisan-pasir-ini-dijual-hingga-rp-250-juta
dan menengah banyak dipandang
sebelah mata. Padahal, industri
kecil dan menengah (IKM) banyak
berkontribusi menggerakan roda
perekonomian dalam negeri.
Salah satunya IKM yang
berkembang adalah lukisan
kaligrafi dengan menggunakan
pasir pantai karya A Faizan
Z'Makhadatu.
Faizan memulai bisnisnya sejak 11
tahun silam. Tepatnya akhir 2001,
ia mendapatkan ide yang tak
pernah terpikirkan bahkan oleh
seniman manapun.
"Kita memang nyari ide, untuk
media pembuatannya apa yang
memang belum pernah ada dan
tertuang oleh seniman, kita coba
yang belum ada. Yaitu pakai
pasir," ungkap Faizan saat ditemui
detikFinance di acara Pameran
Industri Kreatif Yogyakarta di
Kementerian Perindustrian, Selasa
(9/10/12).
Faizan bukanlah seniman. Dia
hanya lulusan sebuah Institut
Keagamaan di Lampung. Namun,
bakatnya dalam melukis kaligrafi
pasir ini tak kalah dengan
seniman-seniman profesional lain.
Harga yang ditawarkan untuk satu
karya yang dibuat Faizan
bervariatif. Mukai dari Rp 250.000
hingga Rp 250 juta. Sangat
mencengangkan untuk sebuah
industri kecil dan menengah,
terlebih untuk satu karyanya
modal yang disiapkan tak lebih
dari Rp 1 juta.
"Bahan bakunya pasir pantai,
kayu, triplek dan lem saja. Saya
dapat bahan baku dari Lampung,
Jogja, Jateng, semua dalam negeri.
Murah kok, nggak sampai Rp
1.000.000, paling hanya Rp
500.000," ucapnya.
Kenapa harga lukisan pasir ini
bervariasi? Faizan mengaku
patokan harga didasari tingkat
kesulitan, ukuran, dan pesan yang
disampaikan oleh lukisan tersebut.
Contohnya, untuk lukisan kaligrafi
"Surat Yassin" ia banderol Rp 250
juta. Pengerjaan lukisan ini pun
hampir satu bulan. Menurutnya
tingkat kesulitan untuk membuat
lukisan ini sangat tinggi.
"Hurufnya kecil-kecil. Saya
buatnya kalau salah ya ganti lagi.
Itu semua Surat Yassin, full,"
katanya.
"Ada juga Asmaul Husna. Saya jual
Rp 99 juta, sesuai dengan
pesannya. Istri saya nyuruh itu
nggak boleh dijual dibawah Rp 99
juta. Harus segitu," imbuhnya.
Uniknya, Faizan mengerjakan
karyanya seorang diri. Lukisan ini
lebih banyak diburu oleh kalangan
kolektor atau konsumen dalam
negeri.
"Kalau ekspor kita nggak khusus
secara langsung diekspor. Paling
ada yang datang perseorangan, di
pameran ataupun ke workshop.
Banyaknya dari Malaysia, Libya
juga," paparnya.
Dalam 1 bulan, dia mengaku
setidaknya ada dua hingga lima
karya Lukisan Pasirnya terjual.
Rata-rata penikmat karya Faizan
membeli karyanya yang berharga
di bawah Rp 10 juta.
"Rata-rata pendapatan Rp 5 juta-
Rp 10 juta masuk. Kadang lebih.
Yang rata-rata di bawah Rp 10 juta
yang banyak kejual ," katanya.
Untuk membeli atau sekedar
melihat karya ini, bisa datang ke
Showroom-nya di Thamrin City,
lantai 3, Jakarta atau Gallery
Faizan di Purwomertani, Kalasan
Sleman, Yogyakarta.
Khusus pada tanggal 9-12
Oktober, karya lukisan
masterpiece ini bisa ditemui di
Pameran Industri Kementerian
Perindustrian, Jalan Gatot Subroto,
Jakarta, atau bisa menghubungi
nomor telepon: 081272045673
( Zulfi Suhendra )
sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/10/10/123836/2059149/480/bermodal-rp-500000-lukisan-pasir-ini-dijual-hingga-rp-250-juta
Monday, October 8, 2012
Anggi, Masih Mahasiswi tapi Sudah Raup Omzet Puluhan Juta Lewat Boneka Peraga Gigi
Jakarta - Memiliki penghasilan
tinggi di usia muda, bukan hal
yang tidak mungkin. Misalnya
Anggi Hayani, mahasiswi
kedokteran gigi Universitas
Sumatera Utara mampu
membuktikan hal itu.
Anggi sukses mengembangkan
bisnis boneka untuk alat peraga
kesehatan gigi berkarekter tokoh-
tokoh unik. Melalai bisnis ini ia
mengaku mendapat omzet Rp 40
juta per bulan.
Tepatnya pada tahun 2010, ia
bersama rekannya melakukan
soasialisasi kesehatan gigi ke anak-
anak menggunakan alat peraga gigi
normal, respons anak-anak saat
itu sangat mudah merasa bosan
dan tidak menangkap apa yang
disampaikan.
Akhirnya, muncul ide membuat
boneka berkarakter unik yang
dibumbui dengan cerita. Respons
dari anak-anak pun tinggi dan
mereka merasa senang mengikuti
sosialisasi. Berawal dari sana,
boneka karya Anggi bersama
rekannya itu memperoleh
sambutan yang besar.
"Saat kami memperkenalkan
boneka ini di Medan, orang-orang
kedokteran gigi itu tertarik untuk
beli. Selain desain bagus untuk
edukasi juga bisa sebagai pajangan
di tempat praktek sudah oke.
Itulah konsep pertama kita," kata
Anggi kepada detikFinance saat
acara Pasar Indonesia Mandiri di
JCC Senayan Jakarta, Rabu
(3/10/2012).
Di bawah bendera Kenkou Dolls &
Souvenir, produk unggulan yang
dihasilkan adalah boneka
berkakter gigi sehat (Mr dan Mrs
Dente) dan gigi berlubang (Kenkou
Boy). Selain itu, ia juga
mengembangkan berbagai macam
souvenir bertema gigi yang bisa
dinikmati oleh semua kalangan.
"Boneka itu untuk penyuluh
edukasi kesehatan terus sekolah-
sekolah, dokter gigi, puskesmas,
instansi kesehatan dan pendidikan.
Kalau souvenir untuk mahasisiwa
dan masyarakat biasa," katanya.
Harga produk yang ditawarkan pun
relatif beragam dan terjangkau.
"Kalau boneka untuk icon, kami
jual RP 150 ribu sampai Rp 250
ribu. Kalau souvenirnya ada yang
Rp 5 ribu sampai Rp 70 ribu - 80
ribu," imbuhnya.
Peraih juara terinovatif dan
teredukatif dalam Wirausaha
Mandiri ini mengaku, produk yang
ia buat bersama rekannya telah
menembus seluruh Indonesia. Ia
menggunakan pemasaran dengan
cara online.
"Pasarnya itu masih domainnya
Medan. Kalau online-nya sudah
kemana-mana sempet juga ke
Singapura untuk ikut lomba
disana," tambahnya.
Usaha yang dijalani sejak 2 tahun
silam ini akhirnya berbuah manis,
Kenkou Dolls & Souvenir bisa
meraup omzet hingga Rp 40 juta
per bulan. Penjualan didominasi
oleh penjualan online. "Per bulan
Rp 20-40 juta. Itu terbanyak dari
online," tuturnya.
Keberhasilan yang dicapai Anggi,
tidak membuatnya cepat puas, ia
ingin produknya bisa dikenal lebih
luas lagi.
"Icon kami terangkat terus bisa
nembus PDGI (Persatuan Dokter
Gigi Indonesia), lebih baik lagi
pengennya sih kerjasama dengan
perusahaan besar seperti
Pepsodent atau Ciptadent sebagai
supplier," sebutnya.
Pada kesempatan itu, Anggi
berencana setelah lulus dari
kedokteran gigi, ia ingin tetap
memadukan antara profesi
seorang dokter gigi dan bisnis,
namun dengan orientasi sosial
bisnis.
"Pengennya mengkombinasikan
dokter gigi sama pebisnis. Kami
ingin main ke sosial
entrepreneur," pungkasnya.
Apakah anda tertarik cerita Anggi
atau ingin memesan produk
boneka gigi? Yup anda bisa kirim
email ke: kenkou.ds@gmail.com
atau mengunjungi facebook:
kenkou dolls & souvenirs.
( Feby Dwi Sutianto)
Sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/10/04/120524/2054406/480/mahasiswi-cantik-ini-sukses-bisnis-jualan-boneka-peraga-gigi
tinggi di usia muda, bukan hal
yang tidak mungkin. Misalnya
Anggi Hayani, mahasiswi
kedokteran gigi Universitas
Sumatera Utara mampu
membuktikan hal itu.
Anggi sukses mengembangkan
bisnis boneka untuk alat peraga
kesehatan gigi berkarekter tokoh-
tokoh unik. Melalai bisnis ini ia
mengaku mendapat omzet Rp 40
juta per bulan.
Tepatnya pada tahun 2010, ia
bersama rekannya melakukan
soasialisasi kesehatan gigi ke anak-
anak menggunakan alat peraga gigi
normal, respons anak-anak saat
itu sangat mudah merasa bosan
dan tidak menangkap apa yang
disampaikan.
Akhirnya, muncul ide membuat
boneka berkarakter unik yang
dibumbui dengan cerita. Respons
dari anak-anak pun tinggi dan
mereka merasa senang mengikuti
sosialisasi. Berawal dari sana,
boneka karya Anggi bersama
rekannya itu memperoleh
sambutan yang besar.
"Saat kami memperkenalkan
boneka ini di Medan, orang-orang
kedokteran gigi itu tertarik untuk
beli. Selain desain bagus untuk
edukasi juga bisa sebagai pajangan
di tempat praktek sudah oke.
Itulah konsep pertama kita," kata
Anggi kepada detikFinance saat
acara Pasar Indonesia Mandiri di
JCC Senayan Jakarta, Rabu
(3/10/2012).
Di bawah bendera Kenkou Dolls &
Souvenir, produk unggulan yang
dihasilkan adalah boneka
berkakter gigi sehat (Mr dan Mrs
Dente) dan gigi berlubang (Kenkou
Boy). Selain itu, ia juga
mengembangkan berbagai macam
souvenir bertema gigi yang bisa
dinikmati oleh semua kalangan.
"Boneka itu untuk penyuluh
edukasi kesehatan terus sekolah-
sekolah, dokter gigi, puskesmas,
instansi kesehatan dan pendidikan.
Kalau souvenir untuk mahasisiwa
dan masyarakat biasa," katanya.
Harga produk yang ditawarkan pun
relatif beragam dan terjangkau.
"Kalau boneka untuk icon, kami
jual RP 150 ribu sampai Rp 250
ribu. Kalau souvenirnya ada yang
Rp 5 ribu sampai Rp 70 ribu - 80
ribu," imbuhnya.
Peraih juara terinovatif dan
teredukatif dalam Wirausaha
Mandiri ini mengaku, produk yang
ia buat bersama rekannya telah
menembus seluruh Indonesia. Ia
menggunakan pemasaran dengan
cara online.
"Pasarnya itu masih domainnya
Medan. Kalau online-nya sudah
kemana-mana sempet juga ke
Singapura untuk ikut lomba
disana," tambahnya.
Usaha yang dijalani sejak 2 tahun
silam ini akhirnya berbuah manis,
Kenkou Dolls & Souvenir bisa
meraup omzet hingga Rp 40 juta
per bulan. Penjualan didominasi
oleh penjualan online. "Per bulan
Rp 20-40 juta. Itu terbanyak dari
online," tuturnya.
Keberhasilan yang dicapai Anggi,
tidak membuatnya cepat puas, ia
ingin produknya bisa dikenal lebih
luas lagi.
"Icon kami terangkat terus bisa
nembus PDGI (Persatuan Dokter
Gigi Indonesia), lebih baik lagi
pengennya sih kerjasama dengan
perusahaan besar seperti
Pepsodent atau Ciptadent sebagai
supplier," sebutnya.
Pada kesempatan itu, Anggi
berencana setelah lulus dari
kedokteran gigi, ia ingin tetap
memadukan antara profesi
seorang dokter gigi dan bisnis,
namun dengan orientasi sosial
bisnis.
"Pengennya mengkombinasikan
dokter gigi sama pebisnis. Kami
ingin main ke sosial
entrepreneur," pungkasnya.
Apakah anda tertarik cerita Anggi
atau ingin memesan produk
boneka gigi? Yup anda bisa kirim
email ke: kenkou.ds@gmail.com
atau mengunjungi facebook:
kenkou dolls & souvenirs.
( Feby Dwi Sutianto)
Sumber: http://m.detik.com/finance/read/2012/10/04/120524/2054406/480/mahasiswi-cantik-ini-sukses-bisnis-jualan-boneka-peraga-gigi
Friday, October 5, 2012
Capek Jadi Pegawai, Sadarsah Sukses Jadi Eksportir Kopi Gayo
KOMPAS.com — Pengalaman
menjadi pemasar perusahaan
eksportir kopi membuat
Sadarsah paham betul
bagaimana cara jualan kopi dan
jenis kopi apa yang laku di
pasar. Nah, ketika seluruh dunia
lagi paceklik kopi pada 2006,
Sadarsah pun pindah kerja
dengan menjadi eksportir kopi.
Usaha ini berjalan mulus
dengan omzet miliaran rupiah
setiap bulan.
Kopi asal Indonesia sudah
terkenal di seluruh penjuru
dunia. Sebut saja kopi arabica
ataupun kopi robusta yang
banyak diburu pecinta kopi.
Kemudian ada kopi luwak yang
disebut-sebut sebagai kopi
terenak dan termahal di dunia.
Lantas ada juga kopi gayo di
Aceh. Kopi ini di luar negeri
juga terkenalnya seperti halnya
kopi luwak. Kopi gayo ini
adalah jenis kopi arabika yang
dikembangkan secara organik
oleh pekebun kopi di dataran
tinggi Gayo di Sumatra Utara.
Karena itu, kopi ini menjadi
salah satu kopi favorit di dunia.
Sebagai kopi favorit tentu
permintaan kopi ini juga tinggi,
baik di pasar dalam negeri
maupun pasar ekspor. Nah,
peluang ini menjadi eksportir
kopi gayo inilah yang dimainkan
dengan baik oleh Sadarsah.
Pria kelahiran Medan 19
November 1974 ini melalui CV
Arvis Sanada, perusahaan yang
ia dirikan pada 2006,
mengekspor kopi gayo ke
Amerika Serikat, Inggris,
Kuwait, Taiwan, Korea,
Australia, Jepang, dan Laos.
Saban bulan ia mengirim 15
kontainer kopi gayo ke berbagai
negara itu dengan omzet
minimal Rp 8 miliar.
Sadarsah mulai mengenal bisnis
kopi ketika lulus kuliah pada
2001. Ketika itu dia masih
menjadi tenaga pemasar di lima
perusahaan eksportir kopi di
Medan, Sumatra Utara. Setelah
hampir lima tahun bekerja,
alumnus Teknik Elektro
Universitas Muhammadiyah
Sumatra Utara (UMSU) ini mulai
memilih jalan untuk
berwiraswasta. "Dengan
memiliki usaha sendiri saya bisa
lebih bebas berinovasi dan
mengembangkan ide-ide,"
pungkasnya.
Pada 2006, dengan modal
pinjaman dari seorang teman,
Sadarsah mendirikan Arvis
Sanada di Medan. Dia perlu
membuat badan usaha karena
melihat peluang besar dalam
bisnis ekspor kopi. Apalagi
ketika itu dunia lagi paceklik
kopi.
Saat itu, nyaris seluruh
perusahaan kopi di dunia kolaps
lantaran pasokan kopi
berkurang 50 persen . Situasi
sulit inilah yang dibaca
Sadarsah sebaliknya. Bagi dia
kekurangan pasokan itu harus
dia isi. Apalagi dia tahu ada
produksi kopi yang melimpah
ruah di Tanah Gayo. Selain itu,
dia sudah paham betul seluk-
beluk ekspor kopi.
Ekspor perdana yang cuma satu
kontainer itu ternyata menjadi
pembuka pintu gerbang bagi
Sadarsah untuk memasuki
perdagangan kopi dunia. “Di
masa itu, langsung banyak
permintaan kopi. Rata-rata,
penikmat kopi dari luar negeri
menginginkan kopi organik,”
kata anak dari pasangan Mude
dan Ratih ini.
Sadar dengan peluang besar itu,
Sadarsah pun berupaya untuk
mendapatkan sertifikat kopi
organik dari lembaga sertifikasi
Control Union di Belanda.
Sertifikat ini diperolehnya pada
akhir tahun 2006.
Dengan modal tambahan berupa
sertifikat itu, ekspor kopi
Sadarsah pun makin lancar.
Hingga kini, Sadarsah
mengekspor dua jenis kopi,
yakni kopi gayo dan kopi
konvensional. Untuk kopi Gayo,
ia jual dengan merek Sumatera
Arabica Gayo dan merek
Sumatera Arabica Mandailing
untuk kopi konvensional.
Dengan mengusung slogan
"Quality, Trust, and
Excellence," pertumbuhan
bisnis Sadarsah melesat bak
meteor. Kalau pada 2006,
omzet dia hanya Rp 600 juta
per bulan dengan kemampuan
ekspor kopi hanya satu
kontainer. Tahun berikutnya
omzet sudah melonjak drastis
hingga Rp 1,5 miliar per bulan.
Pada 2008, omzetnya naik lagi
menjadi Rp 3 miliar per bulan,
dan pada tahun lalu, Sadarsah
sudah berhasil ekspor 14
kontainer per bulan mencapai
omzet sebesar Rp 7,6 miliar.
Jika pada 2006 lalu Sadarsah
hanya mampu mempekerjakan
15 karyawan, saat ini jumlah
karyawan Arvis Sanada sudah
sebanyak 100 orang. "Sejak
2006 hingga 2011 ini harga
kopi antara Rp 30.000 hingga
Rp 35.000 per kilo," terang
Sadarsah.
Digugat pengusaha Belanda
Sadarsah yakin usahanya akan
terus berkembang karena
potensi kopi gayo dan kopi
lainnya masih sangat besar.
Menurut Sadarsah hasil
perkebunan kopi di Kabupaten
Bener Meriah, Aceh Tengah dan
Gayo Lues, masih cukup untuk
menjawab kebutuhan kopi
dunia. Ketiga daerah yang
berada di ketinggian 1.200
meter di atas permukaan laut
(dpl) tersebut memiliki
perkebunan kopi seluas 94.800
hektare.
Keberhasilan Sadarsah, pemilik
CV Arvis Sanada, mengekspor
kopi gayo ke berbagai negara
memang tak semudah membalik
telapak tangan. Berbagai
rintangan harus ia lewati agar
bisa menjajakan kopi tanah
Andalas ke mancanegara.
Salah satu masalah terberat
yang pernah dihadapi Sadarsah
adalah keberatan atas merek
gayo yang dilayangkan
perusahaan kopi asal Belanda,
Holland Coffee, pada 2008
silam. Perusahaan itu
mengklaim, Sadarsah telah
menjiplak merek kopi produksi
mereka.
Holland Coffee secara terang-
terangan melarang Sadarsah
menggunakan kata gayo pada
merek kopinya, Arabica
Sumatera Gayo. Apalagi kopi
milik Sadarsah itu juga beredar
luas di Negeri Belanda.
Perusahaan itu menyatakan,
merek gayo pada kopi mereka
itu sudah terdaftar dalam
undang-undang merek di
Belanda. Karena itu,
penggunaan kata gayo oleh
Sadarsah dinilai melanggar
aturan merek di Belanda.
Tapi protes dari Holland Coffee
itu sama sekali tidak digubris
Sadarsah meski dia diancam
bakal diseret ke pengadilan
karena mencuri merek gayo
milik Holland Coffee. Namun
ancaman itu tak membuat
Sadarsah menyerah dengan
menghilangkan kata gayo.
Perusahaan Belanda itu sempat
patah arang melihat semangat
Sadarsah mempertahankan
merek gayo. Mereka pun
melunak tak akan lagi menuntut
Sadarsah asal mengganti merek
gayo dengan mandailing. Tapi
Sadarsah tetap menolak
permintaan itu.
Ia bilang, kata mandailing dan
gayo adalah nama daerah di
Sumatra. Jika kopi berasal dari
Mandailing, kopi itu disebut
dengan kopi mandailing. "Kalau
kopi itu dari Tanah Gayo
disebut kopi gayo," terang
Sadarsah.
Ia mengaku tetap akan
mempertahankan kata gayo
pada kopi yang ia produksi itu.
Bagi Sadarsah, penggunaan kata
gayo sangat penting karena bisa
menentukan kualitas dan juga
bisa mempengaruhi harga jual.
"Bila kata gayo hilang,
konsumen tidak mengetahui
asal kopi itu sehingga harga
kopi bisa jatuh," jelas Sadarsah.
Ia menyatakan, sebagai warga
negara Indonesia dirinya lebih
berhak menggunakan kata gayo
ketimbang orang Belanda yang
menggunakan kata itu. Apalagi
kata gayo adalah nama daerah
di Indonesia bukan nama
daerah di Belanda. "Saya lebih
berhak memakai kata gayo
ketimbang orang Belanda itu,"
tegas Sadarsah.
Adanya klaim atas merek gayo
milik pengusaha Belanda itu
dinilai Sadarsah telah
mendustai petani kopi gayo di
Aceh. "Tidak ada alasan bagi
pengusaha Belanda itu melarang
saya menggunakan kata gayo,"
ucapnya.
Walaupun dilawan pengusaha
setempat, Sadarsah tetap
ekspor kopi gayo ke Belanda.
Saban bulan CV Arvis Sanada
mengekspor empat kontainer
kopi gayo. "Saya tetap ekspor
walaupun Holland Coffee
menuntut saya," ungkap
Sadarsah.
Sekadar pengetahuan, satu
kontainer mampu mengangkut
18.000 kg atau 18 ton kopi.
Untuk menyelesaikan sengketa
dagang itu Sadarsah sempat
melaporkannya pada Asosiasi
Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)
dan pemerintah. "Pemerintah
dan asosiasi mendukung saya
agar tetap ekspor kopi gayo,"
jelas penggemar dangdut itu.
Untuk mempertahankan merek
gayo itu Sadarsah mengajukan
sertifikat asal-usul kopi. Baru
Mei 2010 dia berhasil
mengantongi sertifikat IG
(indikasi geogafis) dari
International Fair Trade
Organization (IFTO). Sertifikat
itu menyatakan Sadarsah
berhak memakai kata gayo pada
produk kopi miliknya yang
berasal dari Gayo.
Berkat sertifikat IG itulah
Sadarsah menjadi percaya diri
memperkenalkan kopi gayo ke
seluruh dunia. Oktober 2010 ia
membawa kopi gayo dalam
acara Lelang Spesial Kopi
Indonesia di Bali. "Kopi
Sumatera Arabika Gayo
mendapat nilai tertinggi saat
cupping score ," katanya.
Prestasi itu memantapkan posisi
kopi gayo sebagai kopi organik
terbaik dunia. Ia bilang, prestasi
itu tak lepas dari masalah yang
berhasil ia hadapi. Termasuk
masalah sengketa merek. "Dulu
banyak yang tak kenal kopi
gayo, setelah sengketa merek
itu, kopi gayo malah jadi
terkenal," terang bapak tiga
anak itu. (Ragil Nugroho/
Kontan )
sumber: http://m.kompas.com/news/read/2011/11/11/10512675/capek.jadi.pegawai..sadarsah.sukses.jadi.eksportir
menjadi pemasar perusahaan
eksportir kopi membuat
Sadarsah paham betul
bagaimana cara jualan kopi dan
jenis kopi apa yang laku di
pasar. Nah, ketika seluruh dunia
lagi paceklik kopi pada 2006,
Sadarsah pun pindah kerja
dengan menjadi eksportir kopi.
Usaha ini berjalan mulus
dengan omzet miliaran rupiah
setiap bulan.
Kopi asal Indonesia sudah
terkenal di seluruh penjuru
dunia. Sebut saja kopi arabica
ataupun kopi robusta yang
banyak diburu pecinta kopi.
Kemudian ada kopi luwak yang
disebut-sebut sebagai kopi
terenak dan termahal di dunia.
Lantas ada juga kopi gayo di
Aceh. Kopi ini di luar negeri
juga terkenalnya seperti halnya
kopi luwak. Kopi gayo ini
adalah jenis kopi arabika yang
dikembangkan secara organik
oleh pekebun kopi di dataran
tinggi Gayo di Sumatra Utara.
Karena itu, kopi ini menjadi
salah satu kopi favorit di dunia.
Sebagai kopi favorit tentu
permintaan kopi ini juga tinggi,
baik di pasar dalam negeri
maupun pasar ekspor. Nah,
peluang ini menjadi eksportir
kopi gayo inilah yang dimainkan
dengan baik oleh Sadarsah.
Pria kelahiran Medan 19
November 1974 ini melalui CV
Arvis Sanada, perusahaan yang
ia dirikan pada 2006,
mengekspor kopi gayo ke
Amerika Serikat, Inggris,
Kuwait, Taiwan, Korea,
Australia, Jepang, dan Laos.
Saban bulan ia mengirim 15
kontainer kopi gayo ke berbagai
negara itu dengan omzet
minimal Rp 8 miliar.
Sadarsah mulai mengenal bisnis
kopi ketika lulus kuliah pada
2001. Ketika itu dia masih
menjadi tenaga pemasar di lima
perusahaan eksportir kopi di
Medan, Sumatra Utara. Setelah
hampir lima tahun bekerja,
alumnus Teknik Elektro
Universitas Muhammadiyah
Sumatra Utara (UMSU) ini mulai
memilih jalan untuk
berwiraswasta. "Dengan
memiliki usaha sendiri saya bisa
lebih bebas berinovasi dan
mengembangkan ide-ide,"
pungkasnya.
Pada 2006, dengan modal
pinjaman dari seorang teman,
Sadarsah mendirikan Arvis
Sanada di Medan. Dia perlu
membuat badan usaha karena
melihat peluang besar dalam
bisnis ekspor kopi. Apalagi
ketika itu dunia lagi paceklik
kopi.
Saat itu, nyaris seluruh
perusahaan kopi di dunia kolaps
lantaran pasokan kopi
berkurang 50 persen . Situasi
sulit inilah yang dibaca
Sadarsah sebaliknya. Bagi dia
kekurangan pasokan itu harus
dia isi. Apalagi dia tahu ada
produksi kopi yang melimpah
ruah di Tanah Gayo. Selain itu,
dia sudah paham betul seluk-
beluk ekspor kopi.
Ekspor perdana yang cuma satu
kontainer itu ternyata menjadi
pembuka pintu gerbang bagi
Sadarsah untuk memasuki
perdagangan kopi dunia. “Di
masa itu, langsung banyak
permintaan kopi. Rata-rata,
penikmat kopi dari luar negeri
menginginkan kopi organik,”
kata anak dari pasangan Mude
dan Ratih ini.
Sadar dengan peluang besar itu,
Sadarsah pun berupaya untuk
mendapatkan sertifikat kopi
organik dari lembaga sertifikasi
Control Union di Belanda.
Sertifikat ini diperolehnya pada
akhir tahun 2006.
Dengan modal tambahan berupa
sertifikat itu, ekspor kopi
Sadarsah pun makin lancar.
Hingga kini, Sadarsah
mengekspor dua jenis kopi,
yakni kopi gayo dan kopi
konvensional. Untuk kopi Gayo,
ia jual dengan merek Sumatera
Arabica Gayo dan merek
Sumatera Arabica Mandailing
untuk kopi konvensional.
Dengan mengusung slogan
"Quality, Trust, and
Excellence," pertumbuhan
bisnis Sadarsah melesat bak
meteor. Kalau pada 2006,
omzet dia hanya Rp 600 juta
per bulan dengan kemampuan
ekspor kopi hanya satu
kontainer. Tahun berikutnya
omzet sudah melonjak drastis
hingga Rp 1,5 miliar per bulan.
Pada 2008, omzetnya naik lagi
menjadi Rp 3 miliar per bulan,
dan pada tahun lalu, Sadarsah
sudah berhasil ekspor 14
kontainer per bulan mencapai
omzet sebesar Rp 7,6 miliar.
Jika pada 2006 lalu Sadarsah
hanya mampu mempekerjakan
15 karyawan, saat ini jumlah
karyawan Arvis Sanada sudah
sebanyak 100 orang. "Sejak
2006 hingga 2011 ini harga
kopi antara Rp 30.000 hingga
Rp 35.000 per kilo," terang
Sadarsah.
Digugat pengusaha Belanda
Sadarsah yakin usahanya akan
terus berkembang karena
potensi kopi gayo dan kopi
lainnya masih sangat besar.
Menurut Sadarsah hasil
perkebunan kopi di Kabupaten
Bener Meriah, Aceh Tengah dan
Gayo Lues, masih cukup untuk
menjawab kebutuhan kopi
dunia. Ketiga daerah yang
berada di ketinggian 1.200
meter di atas permukaan laut
(dpl) tersebut memiliki
perkebunan kopi seluas 94.800
hektare.
Keberhasilan Sadarsah, pemilik
CV Arvis Sanada, mengekspor
kopi gayo ke berbagai negara
memang tak semudah membalik
telapak tangan. Berbagai
rintangan harus ia lewati agar
bisa menjajakan kopi tanah
Andalas ke mancanegara.
Salah satu masalah terberat
yang pernah dihadapi Sadarsah
adalah keberatan atas merek
gayo yang dilayangkan
perusahaan kopi asal Belanda,
Holland Coffee, pada 2008
silam. Perusahaan itu
mengklaim, Sadarsah telah
menjiplak merek kopi produksi
mereka.
Holland Coffee secara terang-
terangan melarang Sadarsah
menggunakan kata gayo pada
merek kopinya, Arabica
Sumatera Gayo. Apalagi kopi
milik Sadarsah itu juga beredar
luas di Negeri Belanda.
Perusahaan itu menyatakan,
merek gayo pada kopi mereka
itu sudah terdaftar dalam
undang-undang merek di
Belanda. Karena itu,
penggunaan kata gayo oleh
Sadarsah dinilai melanggar
aturan merek di Belanda.
Tapi protes dari Holland Coffee
itu sama sekali tidak digubris
Sadarsah meski dia diancam
bakal diseret ke pengadilan
karena mencuri merek gayo
milik Holland Coffee. Namun
ancaman itu tak membuat
Sadarsah menyerah dengan
menghilangkan kata gayo.
Perusahaan Belanda itu sempat
patah arang melihat semangat
Sadarsah mempertahankan
merek gayo. Mereka pun
melunak tak akan lagi menuntut
Sadarsah asal mengganti merek
gayo dengan mandailing. Tapi
Sadarsah tetap menolak
permintaan itu.
Ia bilang, kata mandailing dan
gayo adalah nama daerah di
Sumatra. Jika kopi berasal dari
Mandailing, kopi itu disebut
dengan kopi mandailing. "Kalau
kopi itu dari Tanah Gayo
disebut kopi gayo," terang
Sadarsah.
Ia mengaku tetap akan
mempertahankan kata gayo
pada kopi yang ia produksi itu.
Bagi Sadarsah, penggunaan kata
gayo sangat penting karena bisa
menentukan kualitas dan juga
bisa mempengaruhi harga jual.
"Bila kata gayo hilang,
konsumen tidak mengetahui
asal kopi itu sehingga harga
kopi bisa jatuh," jelas Sadarsah.
Ia menyatakan, sebagai warga
negara Indonesia dirinya lebih
berhak menggunakan kata gayo
ketimbang orang Belanda yang
menggunakan kata itu. Apalagi
kata gayo adalah nama daerah
di Indonesia bukan nama
daerah di Belanda. "Saya lebih
berhak memakai kata gayo
ketimbang orang Belanda itu,"
tegas Sadarsah.
Adanya klaim atas merek gayo
milik pengusaha Belanda itu
dinilai Sadarsah telah
mendustai petani kopi gayo di
Aceh. "Tidak ada alasan bagi
pengusaha Belanda itu melarang
saya menggunakan kata gayo,"
ucapnya.
Walaupun dilawan pengusaha
setempat, Sadarsah tetap
ekspor kopi gayo ke Belanda.
Saban bulan CV Arvis Sanada
mengekspor empat kontainer
kopi gayo. "Saya tetap ekspor
walaupun Holland Coffee
menuntut saya," ungkap
Sadarsah.
Sekadar pengetahuan, satu
kontainer mampu mengangkut
18.000 kg atau 18 ton kopi.
Untuk menyelesaikan sengketa
dagang itu Sadarsah sempat
melaporkannya pada Asosiasi
Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)
dan pemerintah. "Pemerintah
dan asosiasi mendukung saya
agar tetap ekspor kopi gayo,"
jelas penggemar dangdut itu.
Untuk mempertahankan merek
gayo itu Sadarsah mengajukan
sertifikat asal-usul kopi. Baru
Mei 2010 dia berhasil
mengantongi sertifikat IG
(indikasi geogafis) dari
International Fair Trade
Organization (IFTO). Sertifikat
itu menyatakan Sadarsah
berhak memakai kata gayo pada
produk kopi miliknya yang
berasal dari Gayo.
Berkat sertifikat IG itulah
Sadarsah menjadi percaya diri
memperkenalkan kopi gayo ke
seluruh dunia. Oktober 2010 ia
membawa kopi gayo dalam
acara Lelang Spesial Kopi
Indonesia di Bali. "Kopi
Sumatera Arabika Gayo
mendapat nilai tertinggi saat
cupping score ," katanya.
Prestasi itu memantapkan posisi
kopi gayo sebagai kopi organik
terbaik dunia. Ia bilang, prestasi
itu tak lepas dari masalah yang
berhasil ia hadapi. Termasuk
masalah sengketa merek. "Dulu
banyak yang tak kenal kopi
gayo, setelah sengketa merek
itu, kopi gayo malah jadi
terkenal," terang bapak tiga
anak itu. (Ragil Nugroho/
Kontan )
sumber: http://m.kompas.com/news/read/2011/11/11/10512675/capek.jadi.pegawai..sadarsah.sukses.jadi.eksportir
Wednesday, October 3, 2012
Cholis, Sarjana Muda Ini Bisnisnya Menjamur Jual Camilan dari Jamur
Jakarta - Bagi kebanyakan orang,
lulus dari perguruan tinggi
biasanya langsung memilih bekerja
dan namun tak banyak yang
langsung memilih berwirausaha.
Adalah Cholis, sang sarjana
kesehatan yang lebih memilih
langsung berkecimpung ke dunia
usaha.
Cholis memulai petualangan
bisnisnya dari menjual kaos dan
berbagai bisnis yang disukainya,
namun tepat pada tahun 2008,
Cholis membanting stir ke bisnis
makanan ringan dari jamur.
Melalui bendera Mushroom
Factory, Cholis bercerita
menuturkan sangat menyukai
makanan dan ingin mengangkat
makanan ringan sehat berkarakter
Indonesia.
"Kita ingin membuat kemasan
baru tentang makanan tradisional
dengan sajian bumbu rempah-
rempah Indonesia dikemas dengan
secara bagus, dan kita bisa makan
dimana saja dan kapan saja," kata
Cholis kepada detikFinance.
Cholis mengaku memilih jamur
karena jamur sudah sangat
familiar dengan masyarakat
Indonesia. Selain itu, ia ingin
membantu para petani jamur yang
sudah jarang melakukan budidaya
jamur.
"Karena unik, kedua karena rasa
makanan ini. Kita menyukai
makanan ini dan kita ingin
memberitahu setiap orang bahwa
ini makanan yang asik sekali dan
tidak kalah dengan cemilan asing
yang sudah banyak beredar,"
imbuhnya.
Cholis yang merupakan Juara I
Wirausaha Mandiri tahun 2010 ini
menjelaskan, harga yang
ditawarkan untuk produk makanan
atau jajanan ringan dari jamur ini
relatif berbeda untuk setiap
daerah.
"Untuk di wilayah Jawa Timur
dijual Rp 10.000 sampai Rp
18.000, kalau Jawa Barat mulai Rp
13.000 sampai 18.000," sebutnya.
Saat ini, Mushroom Factory telah
memiliki puluhan kedai atau stand
yang tersebar di Jawa Timur, Jawa
Barat, serta Jakarta. Sebagian
besar kedai atau stand tersebut
dimiliki oleh para mitra.
"Kita buat store khusus makanan
jamur yang biasa kita ada di pusat
perbelanjaan moderen,"
sanggahnya
Ia juga mengembangkan konsep
cafe dan restoran tetapi dengan
dominasi makanan dari jamur.
"Sekarang model toko model cafe
restoran, kita tidak hanya menjual
jamur saja tapi kafe dan restoran.
Berbagai makanan dan minuman
yang berkarakter anak muda,"
sambungnya.
Apakah anda tertarik untuk
membuka waralaba jamur milik
Mushroom Factory atau hanya
ingin tahu lebih dalam. Anda bisa
datang ke Jalan Bratang Gede
3C/2A Surabaya, Jawa Timur atau
mengunjungi website: mushroom-
factory.com atau email ke:
cholis.net@gmail.com
( Feby Dwi Sutianto)
Sumber: m.detik.com/finance/read/2012/10/01/133135/2049084/480/sarjana-muda-ini-bisnisnya-menjamur-jual-makanan-ringan-dari-jamur
lulus dari perguruan tinggi
biasanya langsung memilih bekerja
dan namun tak banyak yang
langsung memilih berwirausaha.
Adalah Cholis, sang sarjana
kesehatan yang lebih memilih
langsung berkecimpung ke dunia
usaha.
Cholis memulai petualangan
bisnisnya dari menjual kaos dan
berbagai bisnis yang disukainya,
namun tepat pada tahun 2008,
Cholis membanting stir ke bisnis
makanan ringan dari jamur.
Melalui bendera Mushroom
Factory, Cholis bercerita
menuturkan sangat menyukai
makanan dan ingin mengangkat
makanan ringan sehat berkarakter
Indonesia.
"Kita ingin membuat kemasan
baru tentang makanan tradisional
dengan sajian bumbu rempah-
rempah Indonesia dikemas dengan
secara bagus, dan kita bisa makan
dimana saja dan kapan saja," kata
Cholis kepada detikFinance.
Cholis mengaku memilih jamur
karena jamur sudah sangat
familiar dengan masyarakat
Indonesia. Selain itu, ia ingin
membantu para petani jamur yang
sudah jarang melakukan budidaya
jamur.
"Karena unik, kedua karena rasa
makanan ini. Kita menyukai
makanan ini dan kita ingin
memberitahu setiap orang bahwa
ini makanan yang asik sekali dan
tidak kalah dengan cemilan asing
yang sudah banyak beredar,"
imbuhnya.
Cholis yang merupakan Juara I
Wirausaha Mandiri tahun 2010 ini
menjelaskan, harga yang
ditawarkan untuk produk makanan
atau jajanan ringan dari jamur ini
relatif berbeda untuk setiap
daerah.
"Untuk di wilayah Jawa Timur
dijual Rp 10.000 sampai Rp
18.000, kalau Jawa Barat mulai Rp
13.000 sampai 18.000," sebutnya.
Saat ini, Mushroom Factory telah
memiliki puluhan kedai atau stand
yang tersebar di Jawa Timur, Jawa
Barat, serta Jakarta. Sebagian
besar kedai atau stand tersebut
dimiliki oleh para mitra.
"Kita buat store khusus makanan
jamur yang biasa kita ada di pusat
perbelanjaan moderen,"
sanggahnya
Ia juga mengembangkan konsep
cafe dan restoran tetapi dengan
dominasi makanan dari jamur.
"Sekarang model toko model cafe
restoran, kita tidak hanya menjual
jamur saja tapi kafe dan restoran.
Berbagai makanan dan minuman
yang berkarakter anak muda,"
sambungnya.
Apakah anda tertarik untuk
membuka waralaba jamur milik
Mushroom Factory atau hanya
ingin tahu lebih dalam. Anda bisa
datang ke Jalan Bratang Gede
3C/2A Surabaya, Jawa Timur atau
mengunjungi website: mushroom-
factory.com atau email ke:
cholis.net@gmail.com
( Feby Dwi Sutianto)
Sumber: m.detik.com/finance/read/2012/10/01/133135/2049084/480/sarjana-muda-ini-bisnisnya-menjamur-jual-makanan-ringan-dari-jamur
Kategori:
Kuliner
Subscribe to:
Posts (Atom)