Monday, October 31, 2011
Mantan Konsultan IT yang Kini Sukses Terjun di Bisnis Jus Buah Premium
Modal semangat dan ketekunan mengantarkan Hendrik Setiawan menjadi pengusaha jus buah segar yang sukses. Hendrik yang sebelumnya telah mapan sebagai konsultan IT profesional, rela melepas kariernya demi mengembangkan usaha keluarga, yakni agen distributor kertas.
Setelah menjadi pengusaha, insting bisnis Hendrik pun makin tajam. Melihat tren gaya hidup sehat berkembang di masyarakat, tebersit ide untuk menggeluti usaha pembuatan jus segar. Apalagi, Hendrik juga mencintai gaya hidup sehat.
Hingga akhirnya, Hendrik pun menyerahkan pengelolaan usaha distributor kertas kepada anggota keluarga lainnya. Lantas, pria kelahiran 1969 ini memulai bisnisnya sendiri, tanpa campur tangan orang lain. "Saya melihat pasar jus segar makin luas karena banyak orang yang menerapkan gaya hidup sehat," ujarnya.
Karena kepeduliannya akan dampak buruk bahan pengawet, Hendrik pun memproduksi jus bebas pengawet. Dengan modal
Rp 200 juta, uang tabungannya sendiri, Hendrik mendirikan PT Adelphi TransAsia, sebagai produsen jus buah Mama Roz pada 2005.
Sayang, persaingan pada industri minuman jus ini juga sudah ketat. Ia pun memutar otak supaya produknya diterima pasar.
Alhasil, ia pun membuat jus buah segar murni. Tak seperti jus buah yang banyak beredar, yang menurut Hendrik tak lebih merupakan jus buah konsentrat.
Ia pun membidik pasar kalangan menengah atas dengan banderol harga jus berkisar Rp 13.000 hingga Rp 25.000. Karena tanpa bahan pengawet dan konsentrat, jus Mama Roz hanya bertahan selama tiga hari.
Untuk merebut perhatian pasar, Hendrik pun lantas menerapkan strategi layanan pesan-antar jus ke seluruh wilayah Jakarta, tanpa memungut biaya tambahan. Menurutnya, sebagai pendatang baru di dunia bisnis minuman, ia harus pandai menjemput bola dan menangkap peluang.
Tak disangka, layanan pesan-antar jus buah segar ini menjadikan Mama Roz sebagai satu-satunya jus buah segar yang diantar hingga ke rumah pelanggan. "Pesanan satu botol jus pun akan kami antar," jelas Hendrik.
Menjadi berbeda, baik dari sisi produk maupun layanan, memang tujuan Hendrik sejak awal. Dengan perbedaan inilah, masyarakat akan lebih mengenal produk jus buah segar buatannya. Selain itu, dengan memberikan layanan istimewa berupa pesan-antar ini, Hendrik dapat menggenggam pasar yang lebih bergengsi.
Di samping layanan, Hendrik pun memberi penawaran istimewa kepada para pelanggan Mama Roz. Yakni, pelanggan boleh menentukan sendiri buah yang akan dibuat jus. Pilihan ini pun bisa berganti-ganti, sesuai permintaan.
Menurut Hendrik, dengan memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memilih sendiri rasa jus buah akan memberikan pengalaman tersendiri bagi pelanggan. "Mereka seperti membuat jus sendiri, sesuai dengan selera," ujarnya.
Dari pengalaman ini pula, Hendrik bisa terus berinovasi menciptakan rasa-rasa baru jus Mama Roz. Ia pun tak segan menampung usulan pelanggan yang menginginkan rasa jus berbeda.
Hendrik menambahkan, masukan maupun saran dari pelanggan merupakan hal yang tidak ternilai harganya. "Dengan menerima masukan ini, kami juga mendapatkan pelanggan yang setia," tuturnya.
Karena kedekatan dengan pelanggan ini pula, Hendrik tak takut bersaing dengan produsen minuman buah lainnya. Ia yakin, produk buatannya yang benar-benar berkualitas diterima lidah masyarakat Indonesia. Pasalnya, racikan jus buah segar bikinannya pas dengan lidah masyarakat Indonesia.
Tak heran, bisnis Hendrik pun terus berkembang. Bahkan, pada tahun ini, ia menuai kenaikan permintaan cukup besar. Pada 2011 ini, permintaan naik 40% dibanding tahun lalu.
Setelah enam tahun menjalankan usaha, Hendrik pun terus menambah karyawan. Jika dulu, ia hanya dibantu 10 karyawan, kini dia telah memperkerjakan 160 karyawan yang mengoperasikan mesin-mesin jus di pabriknya, untuk memenuhi pesanan hingga 70.000 botol jus buah segar tiap hari.
Setelah meninggalkan profesi konsultan IT, Hendrik Setiawan fokus membangun bisnis jus buah segar Mama Roz. Menurutnya, membangun bisnis seperti berperang, perlu persiapan detail. Karena itu, segala aspek bisnis harus dipikirkan mulai dari produk, kemasan, maupun infrastruktur logistik.
Bermodalkan uang Rp 200 juta, Hendrik Setiawan mulai menggarap usaha jus buah segar Mama Roz. Dibantu 10 orang karyawan, Hendrik yakin bisnis barunya ini akan sukses. Optimisme inilah yang mendorongnya serius berbisnis jus meski dengan modal terbatas.
Dengan modal itu dia mendatangkan mesin pengolah jus dari Amerika Serikat dan Eropa. Keinginannya hanya satu, yaitu menciptakan jus yang memiliki kualitas prima.
Selain alat pengolah jus, dia juga mempersiapkan segala kebutuhan bisnis lainnya, mulai desain botol kemasan, ukuran kemasan, label botol, ukuran botol, sistem teknologi informasi (TI) serta call center Mama Roz. "Membangun dan mengembangkan bisnis sama seperti tentara yang hendak berperang," seloroh alumnus jurusan keuangan Southern California University ini.
Dia juga membantu desain ukuran kemasan. Seperti saat penciptaan ukuran botol jus Mama Roz 600 mililiter (ml). Ia mengatakan, keputusan untuk membuat kemasan 600 ml sudah melalui pemikiran mendalam. Dengan ukuran botol yang tak terlalu besar, harapan Hendrik, konsumen dapat menikmati jus Mama Roz sambil berolah raga. "Ukuran botol mudah digenggam," katanya.
Selain mudah digenggam, ukuran 600 ml juga muat dalam cup holder mobil. Dengan ukuran ini, konsumen dapat menyediakan jus di kabin kendaraan dan sesekali bisa menenggaknya bila jalanan macet atau pas traffic light menyala merah.
Setelah aspek bisnis selesai dibuat, aspek pemasaran juga tak kalah penting untuk dipikirkan. Untuk mendekatkan merek Mama Roz ke masyarakat, Hendrik mencantumkan cerita tentang asal-muasal buah segar yang terkandung dalam jus Mama Roz.
Hendrik terinspirasi dengan label produk sejenis yang mencantumkan cerita seorang ibu di Tuscani, Italia, yang setiap pagi memetik buah segar untuk disajikan sebagai jus anak-anak dengan cara tradisional. "Supaya pelanggan Mama Roz merasakan kedekatan emosional," katanya.
Dia sengaja membuat cerita dalam Bahasa Inggris sebagai salah satu strategi pemasaran dan membangun brand image Mama Roz. Sebab, sampai saat ini masyarakat Indonesia masih lebih percaya dengan produk makanan dan minuman impor asal Eropa. Selain itu, untuk menarik pembeli, dia juga memperkaya tampilan label Mama Roz dengan gambar dan grafik lebih beragam.
Itulah sebabnya, Hendrik yakin, akan sulit mencuri perhatian pasar, jika kemasan minuman buah segar ini tidak dikemas dengan tampilan mewah dan mahal. "Bukan saya tidak cinta Indonesia, tapi ini merupakan strategi pengenalan brand," kata Hendrik.
Ia mengakui, kentalnya sentuhan barat ini, membuat produknya sering dikira merupakan waralaba luar negeri atau produk impor.
Menurutnya penguatan brand image melalui label dan kemasan sangat penting. Sebab, sebagai produk yang memiliki banyak pesaing, Mama Roz hanya memiliki satu kali kesempatan untuk memberi kesan baik bagi konsumen. "Kita hanya memiliki satu kali kesempatan untuk memenangkan hati konsumen ketika melihat banyak produk jus berjajar di etalase. Karena itu, kita harus menyajikan kemasan yang menarik," imbuhnya.
Selain kualitas produk dan kemasan, sistem TI dan call center yang mumpuni juga sangat penting. Bagi Hendrik, infrastruktur yang baik untuk layanan pesan-antar menjadi kebutuhan yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Dia mengaku membutuhkan waktu enam bulan untuk men-set up seluruh infrastruktur pesan-antar dan call center sebelum benar-benar menjalankan bisnis jus ini. Dengan infrastruktur yang kuat, Hendrik yakin, pelanggan Mama Roz yang dulunya hanya puluhan orang bisa terus meningkat menjadi ratusan dan bahkan ribuan pelanggan.
Setelah layanan pesan-antar menuai sukses, dalam jangka waktu tiga bulan, Mama Roz juga telah menembus pasar swalayan kelas premium.
Kini, senyum Hendrik bisa lebih lebar lagi. Lihat saja, meski baru berjalan enam tahun, penjualan jus Mama Roz telah mencapai rata-rata 50.000 botol per bulan. "Saya ingin bisnis perdana saya ini sukses," ujar Hendrik.
Hendrik Setiawan memang mengambil jalur jualan jus di segmen yang berbeda. Namun perbedaan inilah yang mengantarkan Hendrik meraih sukses dalam mengembangkan bisnis. Berkat langkah bisnis yang berbeda itu pula, kini jus bermerek Mama Roz ini mulai menjajal pasar ekspor ke negeri jiran.
Untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis memang butuh keberanian. Keberanian untuk membawa ide yang berbeda dan keberanian mengambil risiko dari perbedaan yang ditawarkan tersebut.
Keberanian itu pula yang ditempuh Hendrik Setiawan untuk meraih sukses membangun bisnis jus buah segar Mama Roz. Langkah berani itu ditunjukkan Hendrik dengan memproduksi jus segar tanpa pengawet dan hanya mampu bertahan selama tiga hari saja.
Namun dengan merendah Hendrik mengatakan, dia berani berbisnis jus di luar cara konvensional itu karena memang tak punya pengalaman di industri jus. "Ibaratnya seperti blessing in disguise. Karena tidak tahu justru jadi berani," kata Hendrik.
Hendrik sempat berpikir, seandainya dia tahu seluk-beluk berbisnis jus, mungkin dia tidak akan membuat jus yang hanya mampu bertahan selama tiga hari. Dari sisi hitungan bisnis, langkah ini sangat berani. Sekali barang tidak laku, melayanglah modal usaha.
Bagi orang lain, sambung Hendrik, membuat jus yang hanya mampu bertahan selama tiga hari saja, mungkin hanya pemikiran pebisnis edan saja. Namun bagi Hendrik, seedan apa pun ide itu, tetap harus diperjuangkan untuk mengetahui secara pasti hasilnya.
Ide memberikan layanan pesan-antar juga ide berbeda dalam berbisnis jus. Namun bagi Hendrik, pesan antar ini menunjukkan kepedulian dia terhadap pelanggan. Selain itu, dengan pesan antar ini merek Mama Roz menjadi semakin dikenal. "Aset terbesar dan terpenting dari sebuah perusahaan adalah brand. Dan bagi kami, brand itu tercipta dari tiga hal penting yaitu kenyamanan, kemudahan, dan layanan Mama Roz jus," imbuhnya.
Dengan brand yang sudah kuat inilah, Mama Roz pun mulai mengembangkan pemasaran dengan cara menjajaki kerja sama atau co-branding dengan vendor-vendor yang memiliki pelanggan luas. Kerja sama tersebut dapat berupa pemberian gratis satu botol jus buah segar Mama Roz dalam transaksi tertentu. Hal ini ditempuh Hendrik agar dapat meraih pelanggan yang lebih luas lagi.
Untuk mendukung pengembangan pasar itu, ia pun tengah membangun pabrik jus buah segar Mama Roz di kawasan Cikupa, Tangerang. Hendrik perlu membangun pabrik karena permintaan jus Mama Roz ini terus meningkat dari hari ke hari.
Rencananya, pabrik jus tersebut akan mulai beroperasi pada pertengahan 2012 mendatang. Pabrik ini nanti akan dilengkapi dengan mesin pembuat jus yang modern dan higienis dengan kapasitas produksi tinggi.
Faktor lain agar brand Mama Roz tetap melekat di hati penikmat jus buah segar karena Hendrik rajin mengeluarkan produk jus buah rasa baru.
Hendrik menyatakan, penyegaran pasar melalui produk baru ini dapat mendongkrak omzet hingga 50% sampai 100%. "Karena bersaing di industri minuman, kami harus kreatif dan rutin memperkenalkan rasa baru secara berkala," tandas Hendrik.
Pengembangan dan perluasan pasar jus buah segar Mama Roz juga akan dilakukan dengan memperkenalkan brand kedua atau second brand dari produk jus selain Mama Roz. Ekspansi peluncuran produk baru ini dilakukan agar jus buah segar dapat dinikmati oleh seluruh kalangan dan tidak terbatas pada kalangan kelas menengah atas saja, Lihat saja, produk jus baru ini harganya lebih murah 30% dari harga jual jus Mama Roz.
Meski harga lebih murah, tak berarti menurunkan standar mutu dan kualitas. Hendrik menegaskan, jus buah ini tetap terbuat dari buah segar tanpa menggunakan konsentrat dan pengawet. "Kami ingin menjangkau pasar anak muda yang lebih luas dan tetap berusaha mengampanyekan hidup sehat," jelas Hendrik.
Hendrik juga mulai melirik pasar ekspor ke Malaysia. Hendrik mengaku kini tengah mematangkan konsep ekspor tersebut agar lebih efisien. Dia punya dua pilihan, apakah dengan membangun pabrik di Malaysia atau langsung mengirim jus dari Tanah Air.
Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1323671452/84986/Hendrik-Setiawan-bikin-jus-lebih-murah-dan-tetap-bermutu-3
Berawal dari Iseng, Lahirlah Bisnis Tas Bernilai Miliaran Rupiah
Sekilas, rumah yang berlokasi di tepi Jalan Ring Road Barat Yogyakarta ini terlihat seperti bangunan rumah tinggal biasa. Tidak ada yang istimewa, bentuk bangunannya pun terbilang sederhana, laiknya rumah tinggal lainnya. Namun, siapa yang menyangka bahwa dari rumah tersebut setiap hari dihasilkan ratusan tas buatan tangan yang dipasarkan dengan harga yang relatif mahal.
Rumah di kawasan Gamping, Sleman, DIY itu memang difungsikan sebagai pabrik tas berbahan alami dengan merek Gendhis. Tas Gendhis tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga sudah merambah pasar mancanegara – meski di luar negeri tidak menggunakan merek Gendhis.
Adalah pasangan suami-istri Indro Pranomo dan drg.Ferry Yuliana yang berada di balik kesuksesan Gendhis. Ketekunan mereka dalam membangun bisnis tas sejak 2002 kini telah menunjukkan hasil yang sangat positif.
Tas Gendhis awalnya merupakan hasil kreasi Ferry yang berusaha mengisi waktu sambil menunggu kelahiran buah hatinya. Ferry sebelumnya bekerja di perusahaan tas yang cukup dikenal di Yogya. Karena hamil, ia memutuskan berhenti bekerja. Iseng-iseng ia membuat tas dari bahan-bahan alami. Ferry membuat desain yang selanjutnya diteruskan kepada para perajin untuk mengerjakannya.
Melihat hasil produknya cukup bagus, Ferry merasa sayang bila hanya dikoleksi sendiri. Ia pun mencoba menawarkan ke beberapa koleganya. Ternyata, sambutannya cukup bagus. Para kolega tertarik membeli produk tas Ferry. “Mereka menilai produk istri saya layak jual,” kata Indro.
Dari situlah, Ferry kemudian memulai serius menangani bisnis pembuatan tas tersebut. Nasib baik agaknya sedang berpihak kepadanya. Ketika pada masa awal menekuni pembuatan tas tersebut, ia telah memberanikan diri mengikuti pameran Inacraft. Karena merasa yakin bahwa produknya akan diminati, ia memproduksi dalam jumlah yang lumayan banyak.
Menjelang pameran, Indro masih kebingunan menentukan merek yang akan digunakan pada pameran tersebut. Mereka memutar otak untuk mencari ide. Nama itu baru didapat ketika Indro dan istrinya sedang duduk di kafe sebuah hotel. Ide itu tiba-tiba muncul tatkala melihat kemasan gula pasir yang dibungkus kertas kecil dengan tulisan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. “Tiba-tiba saya teringat istilah bahasa Jawa dari gula, yakni gendhis,” ujar Indro.
Setelah diucapkan beberapa kali ternyata kata “gendhis” terasa akrab. Selain dari pengucapan yang dirasa enak, gendhis memiliki makna filosofis tersendiri. Mereka berharap, dengan menggunakan nama Gendhis akan membuahkan hasil yang manis. “Kami akhirnya sepakat menggunakan merek Gendhis,” ucap Indro.
Ternyata, mereka memang tidak salah memilih nama merek. Dengan merek Gendhis, usaha mereka terus merangkak naik. Perkembangan cukup signifikan mulai dirasakan setelah mereka mengikuti Inacraft di Jakarta, meskipun untuk mengikuti pameran tersebut mereka sampai menggadaikan sebuah sepeda motor untuk membayar biaya stand. “Waktu itu saya menggadaikan motor senilai Rp 5 juta,” ungkap Indro.
Hasil pameran berbuah manis. 400 item produk tas yang disiapkan habis dalam waktu beberapa hari pameran. Dari pameran ini, Ferry mengaku mendapat uang Rp 50 juta yang dia gunakan untuk mengambil motor ke pegadaian dan membayar utang. Selebihnya dia gunakan untuk modal kerja.
Selama dua tahun pertama, Ferry nyaris kerja sendiri. Maklum sang suami juga memiliki usaha sendiri sebagai dealer komputer. Baru pada 2004 Indro total bergabung untuk membesarkan bisnis yang dirintis sang istri. Setelah ditangani berdua, perkembangan Gendhis semakin bagus.
Suami-istri ini berbagi peran. Sang istri konsentrasi pada pengembangan produksi, sedangkan sang suami lebih fokus ke pemasaran. Selain rajin mengikuti pameran, Indro juga mulai mem-branding produknya lewat Internet. Ketika jejaring sosial mulai berkembang di dunia maya, ia tak mau ketinggalan. Segala lini jejaring dia masuki, mulai dari Multiply, Facebook hingga Twitter.
Perjalanan pasangan suami-istri tersebut dalam menekuni bisnis tas mirip dengan yang dialami Novita Yunus. Wanita berusia 39 tahun ini pada November 2009 memutuskan lebih banyak di rumah mengurus anak-anaknya. Dunia perbankan yang telah 12 tahun ia geluti ia tinggalkan. Ia mundur dari posisinya sebagai Kepala Cabang Bank DBS Pondok Indah. “Saya ingin lebih banyak di rumah, jadi terpikir akan buka konsultan atau jadi agen asuransi,” ujar Novita.
Setelah mendapat uang pesangon, ibu tiga anak ini ingin menghadiahi dirinya karena telah bekerja keras selama 12 tahun dengan sebuah tas. Saat sedang berbelanja, ia tertarik melihat sebuah tas seharga Rp 25 juta. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya membeli tas tersebut karena sadar bahwa ia tidak punya penghasilan seperti dulu lagi. Lalu terpikir olehnya, “Mengapa tidak buat tas sendiri saja,” gumannya dalam hati.
Iseng-iseng Novita membuat sebuah tas batik. Kebetulan, ia punya saudara yang mempunyai pabrik pembuatan tas. Ia lalu meminta dibuatkan tas dari kain batik yang ia miliki. “Batik cari sendiri, kulit juga aku yang paduin, totally my design,” katanya mengenang. Tas idaman jadi, ia pakai, lalu fotonya iseng-iseng ia pajang di Facebook. Tak dinyana, banyak temannya yang tertarik. Mereka minta dibuatkan juga. “Di bulan pertama itu terima pesanan teman-teman yang minta dibuatkan sampai sekitar 50 tas, dari situ saya pikir, oh ini something serious,” ungkapnya.
Novita begerak cepat. Januari 2010 ia mulai berburu bahan batik, kulit, dan tukang yang akan membantunya membuat tas batik. Februari ia punya dua tukang. April 2010, ia buka toko di Plaza Kemang 88, Jl. Kemang Raya, Jakarta Selatan.
Kendati tidak punya latar belakang desain dan tidak pandai menggambar, sampai sekarang Novita sendiri yang mendesain produknya. Pada setiap koleksi yang ia keluarkan, ia mencoba tematik berdasarkan jenis batiknya. Misalnya, mengangkat batik Tuban, maka semua koleksi yang ia keluarkan dalam periode itu menggunakan bahan dasar batik Tuban. Selain batik Tuban, beberapa batik yang pernah angkat adalah batik Lasem, batik Bakaran, batik Sidoarjo, batik Solo, batik Yogya, batik Indramayu, batik Cirebon, batik Jambi, batik Madura, batik Garut dan batik Papua.
Dalam mendesain tasnya, ia berusaha modelnya sesederhana mungkin. “Saya ingin menonjolkan batiknya,” ujar sarjana Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini. Ia putuskan menyasar segmen menengah-atas. Harga tas dibanderol Rp 600-800 ribu per buah. Nama mereknya Batik Chic – yang belakangan disebut dengan BC (baca: bi-si). Kata “Chic” dipilih untuk menunjukkan batik bisa gaya dikenakan ke mana saja.
Awalnya, Novita memasarkan produknya dengan menggunakan media jejaring sosial Facebook. Namun, ia sadar bahwa tak banyak temannya yang online. Karena itu, ia berpikiran menggunakan reseller yang membantunya menjual produk. Februari 2010, ia punya dua reseller yang notabene adalah teman-temannya.
Kini ia punya sekitar 10 reseller di Jakarta, juga di Bandung, Balikpapan dan Bandung. Di luar negeri, ia punya reseller di Sydney, Kuala Lumpur dan Brunei Darussalam. Jika dirata-rata, tiap reseller di dalam negeri bisa menjual 20 tas/bulan. Di luar negeri, penjualan di Brunei yang terbesar bisa 30 tas/bulan.
Selain di gerainya di Kemang, ia juga menitipkan sejumlah barangnya di beberapa tempat: Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, Central Park, Nusa Dua Bali, JW Marriot, Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan Jakarta, dan tiga butik personal milik temannya.
Gendhis juga menempuh strategi yang sama. Selain membuka gerai khusus di mal dan hotel, mereka juga memiliki gerai independen dan jaringan dealer di berbagai kota besar di Indonesia. Gerai-gerai tas Gendhis saat ini bisa ditemukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Balikpapan, Solo dan Bali. Kecuali yang di Semarang, semua gerai yang dimiliki secara eksklusif hanya memajang produk Gendhis. “Yang di Semarang memang perkecualian karena mereka juga menjual produk fashion lain, tapi bukan tas,” kata Indro.
Indro dan istrinya saat ini tengah menikmati manisnya rezeki dari produksi tas Gendhis. Saat ini, setiap bulan mereka bisa memproduksi ribuan tas dengan aneka model dan bentuk. Hasil produk mereka terbilang bukan barang murahan lagi. Sebelumnya hasil produk mereka dijual Rp 100-400 ribu, tahun ini mereka memperkenalkan produk yang harganya di atas Rp 1 juta. “Kami memang sengaja memilih konsumen middle-up yang mengutamakan kualitas,” ujar Ferry yang menggunakan berbagai bahan alami seperti rotan, pandan, mendong, enceng gondok, agel, kain batik dan benang nilon untuk tas buatannya.
Seperti dituturkan Ferry, sekarang memang muncul kecenderungan perempuan mapan justru memilih produk asli Indonesia. Bukan sekadar peduli produk dalam negeri, tetapi karena banyaknya kasus pembajakan merek tas-tas branded. “Daripada memakai produk bermerek yang belum tentu asli, mereka memilih tas dalam negeri yang benar-benar jelas produsennya,” kata perempuan yang selalu mengenakan busana muslim itu.
Menurut Ferry, ceruk tas wanita untuk kalangan menengah-atas di Indonesia masih terbuka lebar. Untuk membidik pasar ini, selain menyediakan produk yang berkualitas, ia juga hanya menjual di tempat-tempat khusus. Untuk pasar modern, yang dia incar hanya pasar modern yang memang dikenal untuk kalangan menangah-atas, seperti Sogo, Sarinah, Centro dan Alun-Alun Indonesia, “Karena itulah, kami tidak membuka outlet di sembarang pusat perbelanjaan modern,” imbuh ibu dua anak kelahiran 18 Juli 1974 ini.
Untuk tetap memikat selera konsumen, pasangan suami-istri ini menerapkan prinsip inovasi setiap hari. Artinya, setiap hari mereka selalu melakukan ekplorasi untuk menemukan desain baru yang diprediksi meledak di pasaran. Mereka juga bertekad menjadi trendsetter dengan melahirkan motif-motif baru.
Bagi mereka, membuat tas bukan sekadar merangkai bahan-bahan tertentu untuk kemudian terbentuk menjadi benda yang berfungsi sebagai tas semata. Akan tetapi, setiap tas yang diproduksi harus “bernyawa”. Di dalamnya mengandung sesuatu yang mengesankan bagi pecintanya. Karena itulah, setiap desain memiliki tema tertentu. Dan demi menjaga eksistensi, setiap bulan minimal ada dua motif baru yang diluncurkan. Jika ada event akbar seperti Inacraft, dimunculkan puluhan motif baru ke pasar.
Indro mengatakan, untuk menimbulkan kesan eksklusif, setiap desain baru yang diluncurkan hanya diproduksi dalam jumlah tertentu, maksimal 25 buah, terkadang lima buah saja. “Kami juga melayani konsumen yang minta dibuatkan tas dengan desain khusus,” ujar pria kelahiran 1 Agustus 1973 itu.
Meski terbilang produktif melahirkan desain baru, ternyata Gendhis belum memiliki SDM yang memadai. Sampai kini tugas mendesain tas hingga memili bahan, motif dan aksesori masih dilakukan Ferry sendiri, sementara proses pengerjaannya diserahkan kepada para perajin yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY dan Kalimantan. Tahap finishing kembali dilakukan di dua rumah produksi yang ada Yogya. “Kini, jumlah tenaga kerja di bagian finishing mencapai 80-an orang,” ujar Indro yang bertekad akan terus meningkatkan kualitas SDM dan manajemen produksi agar tas Gendhis makin berkibar di pasar internasional. (oleh : Taufik Hidayat)
Reportase: Gigin W. Utomo dan Wini Angraeni
sumber: http://swa.co.id/2011/07/gairah-bisnis-tas-etnik-yang-menjanjikan/
Kegigihan Pelopor Bisnis Ayam Organik
Christopher Emille Jayanata sejatinya seorang arsitek lulusan Universitas Parahyangan, Bandung. Begitu pula ketika merintis jalan entrepreneurship di tahun kedua kuliah, ia bergerak di bidang arsitektur dengan mendirikan perusahaan kontraktor dan konsultan arsitektur lanskap PT Essi Cipta Lestari. Namun, perjalanan hidup akhirnya membawa Emil – sapaan akrabnya — menjadi pengusaha ayam organik bermerek Probio Chicken.
Perkenalan dengan bisnis unggas tersebut berawal dari persinggungannya dengan dunia tanaman. Tahun 2000, ayah dua anak kelahiran Bogor, 17 Oktober 1972, ini mulai merintis bisnis sampingan, pupuk cair. Deraan krisis ekonomi 1997 membuat sektor properti — yang menjadi andalan biro arsiteknya — limbung.
Berbekal kecintaannya pada tanaman yang diperoleh dari kedua orang tuanya yang lulusan Institut Pertanian Bogor, Emil mulai bergerak di industri agrokimia itu. Nasib pun membawanya pada perkenalan dengan I Putu Kompyang, seorang Ph.D. yang berstatus Ahli Peneliti Utama di Balai Penelitian Ciawi. “Dia mengembangkan probiotik untuk sapi,” ujarnya.
Probiotik yang sebenarnya merupakan mikroorganisme hidup yang disebut-sebut berefek baik jika dikonsumsi itu telah diuji oleh Kompiang. Dan memang, hasilnya ternyata bisa diaplikasikan tidak hanya untuk hewan, tetapi juga untuk tanaman. Penelitian Kompiang yang diuji lapangan di Dinas Pertanian Garut dan Laboratorium Agroindustri Bogor membuktikan probiotik mampu memperbaiki performa tumbuh tanaman padi dan tomat, serta hewan sapi, kambing, ikan dan ayam.
Tanpa ba-bi-bu, Emil langsung menyambar peluang itu dan melabeli produknya Tumbuh di bawah payung PT Essicipta Lestari. Dari 2001 hingga 2004, dijualnya produk buatan Kompiang itu kepada para petani, petambak dan peternak di Bogor, Jawa Tengah dan Jawa Timur, sampai Lampung. Sambil jualan, Emil mengaplikasikan barang dagangannya agar konsumen percaya. “Saya terapkan juga di semua sektor pertanian. Di Wonosobo, Malang. Saya terapkan aqua culture di tambak udang dan ikan.”
Emil yakin lidahnya akan pegal-pegal jika mengomunikasikan produknya dengan sebutan probiotik kepada para petani dan pembudidaya. Maka, ia mencari gampangnya. Produknya yang diproduksi 5.000 liter per bulan di rumah Kompiang di Ciawi, Bogor, disebut vitamin untuk tanaman. Kata Emil, Tumbuh mampu mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh dan menihilkan penggunaan antibiotik. Hasilnya, peningkatan produksi konsumennya yang telah diujicoba diklaim meningkat 30% dengan kualitas panenan yang lebih baik.
Sayang, manuver Emil membangkitkan macan tidur. Produsen pupuk dan antibiotik kegerahan melihat aksinya. Apalagi, hal itu berdampak pada menurunnya penjualan produk mereka. Para produsen pun membanting harga pupuk dengan cukup signifikan. Emil tersungkur. Maka, pada 2004, ia banting setir. Berbekal modal Rp 10 juta dan hasil ujicoba lapangan selama masa praproduksi ataupun ketika berjualan probiotik, ia memilih fokus di sektor perunggasan, tepatnya ayam, dengan merek Probio Food. Pikirannya simpel: di Jakarta saja warganya mengonsumsi ratusan ribu ekor ayam per hari, yang kini angkanya menurut Emil melonjak hingga 1,2 juta-1,3 juta ekor per hari.
Untuk produksi, ia bekerja sama dengan Hendi Hermawan, sarjana lulusan IPB yang hingga kini masih menjadi mitranya dalam urusan pembudidayaan ayam. Emil fokus di pemasaran sekaligus sebagai pemegang merek. “Pak Hendi mantan profesional 13 tahun di Charoen Phokpand. Selain itu, ada Pak Rio Kunjung juga, yang dulu turut memiliki saham awal kami,” ujar Emil seraya menyebut pada 2007 Rio melepas sahamnya.
Hendi memproduksi ayam dengan nutrisi probiotik dan menggunakan sistem plasma
dengan para peternak, di antaranya di Parung dan Cimanggu, Bogor. Hendi menjadikan rumahnya di Cimanggu sebagai rumah potong hewan berkapasitas 20-30 ekor ayam per hari dengan standar yang baik. “Organik itu tidak cuma di proses pembudidayaannya,” kata Emil. “Tapi juga pemotongannya harus bebas desinfektan, bebas kaporit, air difilter jernih, plus, kami juga pakai standar halal.”
Urusan produksi beres, Emil lantas bergerilya di pasar Jakarta dengan hanya dibantu dua karyawan. Produknya kala itu dilabeli Probio Chicken, merek yang dipakainya hingga sekarang yang diambil dari potongan kata probiotik. Kebetulan ada temannya yang memiliki akses ke supermarket kelas atas Ranch Market di Pejaten, Pasar Minggu. “Saya pilih Ranch Market karena memang yang mampu membeli dengan harga ini hanya kalangan menengah-atas. Waktu itu, hanya bule yang membeli Probio Chicken,” tuturnya. Kala itu, ia bisa memasok hingga 300-400 ekor ayam negeri per bulan ke Ranch Market. Uji coba ini sukses, akhir 2004 jumlah pasokannya meningkat mencapai 500-600 potong.
Namun, Emil mengaku, kala itu bisnisnya hanya mampu mendekati titik impas saja. “Ini produk masa depan. Tidak dipaksakan,” katanya. Prediksinya tepat. Penjualannya kian berkembang. Penyaluran ke Ranch Market selanjutnya tumbuh ke dua toko. Tahun 2007 jumlah ayam yang disalurkan Emil mencapai 800-1.000 potong per bulan.
Tahun 2007, Emil menuturkan, tren makanan sehat dimulai di Jakarta. Sayur organik mulai banyak bermunculan. Tahun itu juga ada Pameran Slow Food di Karawaci, Tangerang. Slow food merupakan konsep tandingan fast food. Dari pameran itu Emil mengetahui produknya ternyata diminati pula oleh para ibu yang anaknya menyandang autisme. Terbuka lagi satu potensi pemasaran.
Selain itu, sejak 2007 pemasarannya menjangkau sebagian gerai Hero, Carrefour, Sogo dan Hypermart.
Probio Chicken yang kini dijual seharga Rp 45 ribu untuk konsumen akhir dan Rp 33 ribu-34 ribu untuk reseller diakuinya memakan biaya produksi yang besar. “Bahkan, untuk pemotongan pun memakan cost Rp 2.000-3.000. Belum lagi, sistem quality control yang kami terapkan dengan membuang ayam tidak layak menjadikan ongkos produksi kian membengkak,” kata Emil.
Dengan meningkatnya permintaan, jumlah peternak yang menjadi plasma otomatis berbiak. Awalnya hanya dua peternak, pada 2007 menjadi lima peternak, pada 2008 meningkat lagi menjadi 15 peternak, dan kini 60 peternak di Parung, Sukabumi, Cianjur, Bandung dan Lampung.
Tahun 2007, investor baru bermunculan untuk memperkuat permodalan. Yakni, Janny Lim, Lim Tjun Ijoeng, Yuke dan Dadang. Emil pun melepas Probio Chicken dari Essicipta Lestari dan menjualnya ke PT Jesshly Mitra Probiotic Organic Indonesia. “Jesshly itu nama para pendiri. Setelah dipikir, nama perusahaan kepanjangan, diubah tahun 2008 jadi PT Pronic Indonesia, he-he-he,” ungkap Emil yang masih menjadi pemegang saham sekaligus Presiden Direktur PT Pronic Indonesia.
Permasalahan lain muncul seiring dengan membengkaknya produksi. Bahkan, akibat tak layak jual maupun salah penanganan, Emil pernah memakamkan massal 1.000 ekor ayamnya di kantor sebelumnya di Pos Pengumben, Jakarta Barat. “Itu benar-benar masa belajar kami. Dengan biaya belajar yang mahal pula,” ujar Emil di kantor barunya di Kebon Jeruk Baru, Jak-Bar, yang ditempatinya sejak April 2010.
Dengan pembenahan manajemen yang lebih fokus, pembagian kerja yang jelas dan pola pemasaran yang terarah, kini Emil merasa perusahaannya telah berada di jalur yang benar. “Kami set up divisi produksi, distribusi, pemasaran dan corporate secretary. Kami juga terapkan pembagian kerja yang pasti. Ada karyawan khusus gudang, karyawan pemasaran supermarket, pemasaran reseller, finance, dan sebagainya,” ujarnya. Total karyawan Pronic kini sekitar 40 orang.
Untuk mengatasi persoalan produk tak terjual atau tak layak jual utuh, sejak 2009 Pronic mengolahnya menjadi nugget, chicken katsu dan karage. Kini penjualan produk olahan mencapai 200 pak seminggu dengan bobot seperempat kilogram per pak.
Selain itu, Pronic juga bekerja sama dengan perusahaan Green Line Care (GLC). “Mereka membuka jalur pemasaran khusus untuk produk hijau,” ujar Emil.
Bimantoro Abimanyu, Direktur Operasional GLC, memaparkan, perusahaannya mulai memasarkan Probio Chicken pada 2009. Targetnya adalah jaringan GLC di industri hotel, restoran dan kafe (horeka) serta 10 ribu alumni pelatihan kewirausahaan GLC di seantero Nusantara. Hingga kini, sekitar 25% produksi ayam Pronic diserap GLC. “Kami punya captive market industri horeka di Bali yang menyerap sampai 20% produksi Probio Chicken,” ungkap Bimantoro yang juga menjadi reseller pribadi Probio Chicken di perumahannya di Vila Cinere Mas dan mampu menjual 90 ekor ayam per minggu.
Selain lewat GLC, pasar dikembangkan dengan mengusung konsep reseller. Namun, Emil menolak sistem waralaba. “Mahal jadinya, kasihan pembeli franchise,” ujarnya. Dengan konsep reseller, pembeli bisa membeli produk Pronic saja atau sekalian dilengkapi dengan pernak-perniknya seperti banner, brosur, seragam dan freezer.
Nunky Koestoer, salah satu reseller Probio Chicken sejak tiga bulan lalu, mengaku tertarik memasarkan setelah membaca di media massa. Hingga kini, Nunky bisa memasarkan 50 ekor ayam Probio per minggu dari rumahnya di kawasan Bintaro Sektor 3, Jakarta Selatan. “Saya yakin bisa menjual karena benar-benar ayam sehat, tanpa antibiotik, tanpa kolesterol,” ujar pensiunan pegawai pemasaran pakan ternak di PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk. itu. Nunky juga konsumen rutin produk Pronic. Dia bersama istri dan keempat anaknya mengonsumsi total dua ekor Probio Chicken setiap hari.
Nunky awalnya kesulitan memasarkan Probio Chicken. Dia memulainya dengan hanya 10 ekor per minggu. Akan tetapi, kegigihan Nunky menelepon kenalan dan teman menghasilkan peningkatan bisnis yang cukup signifikan dalam waktu tiga bulan.
Nunky bukan satu-satunya reseller Probio Chicken. Berkat pelebaran bisnis itu, kini
Pronic sudah memiliki sekitar 30 reseller. Katering pun sudah ada yang menggunakan Probio Chicken, yakni My Meal Catering di Gading Serpong. Ada pula resto yang menggunakannya, yaitu Healthy Choice dan Stevan Shop di Serpong, Tangerang Selatan. Tak ketinggalan, ada sekolah internasional yang menjadi pelanggannya seperti sekolah Prancis Lychee International Francois di Cipete, Jak-Sel.
Kini, total penyaluran ayam Probio mencapai 12 ribu ekor per bulan dan menjangkau wilayah Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Lampung dan Balikpapan. Rumah potongnya di Cimanggu pun kini berkapasitas 1.000 potong per hari. Meski demikian, Emil, yang perusahaan arsitekturnya kembali moncer dengan 60 pegawai dan jumlah proyek mencapai 600 buah, hingga kini belum beriklan. Ia lebih banyak bergerak melalui jalur kehumasan dan memasarkan melalui komunitas di Komunitas Organik Indonesia yang terdiri dari 8.000 anggota lepas dan 40 pebisnis.
Andre Vincent Wenas, pengamat dan praktisi bisnis, memaparkan bahwa bisnis Emil berpeluang sangat besar di tengah tumbuhnya kesadaran hidup sehat. Bahkan, Andre mengaku kini keluarganya telah memakai beras merah dan sayur organik. “Orang yang mampu secara ekonomis akan menjadikan hidup sehat sebagai prioritas dan mereka tidak akan berpikir panjang.”
Menurut Andre, pemasaran produk Emil harus disertai chanelling dan penjelasan yang tepat agar terjadi referral. “Dia bisa bekerja sama dengan komunitas yang akan memberikan referral ke lingkungannya. Selain itu, dia bisa membuat komunitas sendiri atau mendompleng komunitas yang sudah ada. Dia juga bisa membangun brand ambassador berpengaruh,” Andre memberi saran.
Emil tak berniat menghentikan langkahnya di kawasan Indonesia saja. “Target kami, 2012 ke Singapura,” ujarnya optimistis.
BOKS
Tonggak Sukses
Christopher Emille Jayanata
Meyakini visinya
Giat mencari lahan bisnis baru kala krisis
Gigih mencari alternatif pemanfaatan produk
Fokus membesarkan merek
Tidak mengincar untung di awal berbisnis
Bersedia merestrukturisasi perusahaan saat kesulitan manajemen
- Tak segan berbagi rezeki dengan mencari investor dan reseller untuk mendukung bisnisnya
Terus berekspansi
oleh : Eddy Dwinanto Iskandar
Eddy Dwinanto Iskandar
Riset: Siti Sumariyati
sumber: http://swa.co.id/2011/11/kegigihan-pelopor-bisnis-ayam-organik/
Friday, October 21, 2011
Fokus Kunci Sukses Susan Spa Resort
Bisnis salon dan album foto yang dibangun Freddy dan Lanny sejak lebih dari 30 tahun lalu, terus berkembang. Bahkan, sejoli ini kian ekspansif dengan mengibarkan Susan Spa Resort yang kini amat kondang di kawasan wisata Bandungan, Semarang.
Dari jendela kamar di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, gugusan gunung bak permadani hijau di antara biru langit terhampar memaku mata. Cahaya semburat dan sepoi angin menerbangkan semua keletihan. Sejauh mata memandang, pahatan alam terbentang, membingkai alam Bandungan bak negeri khayangan.
“Selamat datang di Susan Spa Resort, selamat menikmati pemandangan alam nan cantik,” sapa Freddy Sinatra, sang pemilik resor. Dibalut celana hitam dan kemeja bergaris, lelaki ramah ini mengajak SWAberkeliling melihat berbagai fasilitas yang ditawarkan. Mulai dari tempat spa, kolam renang, jacuzzi, sauna, studio kebugaran, arena bermain anak, restoran, Eden Park, ruang pertemuan, ballroom, dan La Kana Chafel. “Ini satu-satunya kapel di dunia yang berada di atas awan,” ungkapnya berseloroh. Sepertinya Freddy tidak bercanda. La Kana berdiri megah di lereng Gunung Ungaran dengan arakan awan putih yang menjuntai bak selendang bidadari.
Sejak dibangun tahun lalu, kapel berkapasitas 48 orang ini banyak diminati pasangan pengantin yang ingin menyelenggarakan pemberkatan pernikahan dalam suasana yang sangat berbeda. “La Kana menawarkan konsep baru sebuah pernikahan modern, standing garden party, live cooking, dengan udara yang sangat sejuk dan pemandangan alam yang menakjubkan,” tutur Freddy. Meski diakuinya, sejatinya, La Kana tak semata bisa digunakan untuk kalangan pemeluk agama Nasrani. Taman dan halaman yang mengelilingi kapel yang mampu menampung 500-an orang bisa dijadikan tempat perhelatan pesta. “Bisa resepsi pernikahan atau gatheringlainnya,” katanya. Bahkan, ballroomdi bawah kapel yang tengah dalam pembangunan ini bisa menampung lebih dari 1.000 orang. “Ini juga satu-satunya ballroomdi dunia yang berada di bawah kapel,” tambah Freddy. Seiring pembangunan ballroom, Freddy akan menambah 10 kamar dari 22 kamar yang saat ini sudah tersedia. Ditargetkan, pertengahan tahun ini ballroombisa beroperasi dan akhir tahun penambahan kamar sudah rampung. “Setelah itu, saya rasa sudah selesai, sudah mentok, sudah capek, ora enek duite(tidak ada uangnya – Red.),” katanya sambil tertawa.
Meski tak mau menyebut angka investasi, membangun Susan Spa Resort pastinya menghabiskan dana yang tidak sedikit. Berdiri di atas lahan puluhan ribu meter persegi, bahan material yang digunakan mencerminkan resor bintang lima. Mulai dari pernak-pernik interior lobi, kamar, spa, kolam renang dan jacuzzi. “Kalau ada yang berani membangun resor melebihi Susan di Bandungan sini, pasti dia orang gila,” ungkap Jusuf, arsitek yang merancang ballroomSusan. Dengan bahasa lain, ia mau menegaskan bahwa diperlukan dana besar untuk bisa menyaingi Susan. “Di Bandungan, Susan yang paling top. Dari fisik bangunan dan fasilitas, belum ada yang menandingi,” tambahnya.
Senada Jusuf, Manajer Penjualan & Pemasaran Susan Spa Resort, Rengga Bayu Inggil, mengatakan, resor yang bermunculan di Bandungan hampir semuanya menjual pemandangan alam. “Untuk itu, kami harus punya diferensiasi yang unik, yang tidak dimiliki resor lain,” ungkapnya. Selain fasilitas La Kana Chafel, spa, dan paket bulan madu, pihaknya juga menawarkan fasilitas meeting, incentive, convention, and exhibition(MICE). “Ini juga kami genjot dan ternyata direspons sangat bagus oleh banyak korporat,” ujar Rengga.
Untuk pasar MICE, tersedia berbagai ruangan mulai dari yang berkapasitas 50 sampai 150 tamu. Eden Park juga kerap dipakai untuk gatheringyang menampung sampai 800 tamu. Perusahaan besar di Jawa Tengah, bahkan dari Jakarta, kerap mengadakan gatheringdan rapat kerja di Susan, seperti Gudang Garam, Telkom, PLN, Unika, dan lainnya. Ketika syuting film kolosal Merah Putih, produser, sutradara dan para pemain utama menginap di Susan selama hampir satu setengah bulan. Menurut Rengga, selama ini aktivitas pemasaran yang dilakukan lebih mengandalkan jurus getok tular. “Untuk wilayah Ja-Teng, kami melakukan sales callke perusahaan-perusahaan besar sedangkan di luar Ja-Teng sampai Singapura, kami menggunakan website, BlackBerry Messenger, Facebook dan Twitter,” tuturnya. Ia menambahkan, hampir setiap hari ada kegiatan MICE. “Kalau weekendmalah penuh.”
Resor yang berlokasi di Dusun Piyoto, Bandungan, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang ini diakui Freddy dibangun secara tidak sengaja. “Awalnya, kami hanya mau buat vila untuk pribadi, ya untuk istirahat menghabiskan masa tua,” katanya.
Ketika itu, tahun 1997, diceritakan sang istri, Lanny Riana Dewi, ada seorang kawannya yang menawarkan tanah di Bandungan. “Saya pikir buat investasi saja. Waktu itu kami beli hanya ratusan meter.” Karena krisis, vila dengan empat kamar tidur itu baru dibangun tahun 2000.
Setelah dibangun, Freddy justru berubah pikiran. Ia merasa dirinya dan istri biasa dikelilingi teman-teman. “Kalau hanya vila, kami akan kesepian karena tidak ada teman, kami akan bosan,” tutur Freddy. Terbersit ide membangun tempat spa. “Kalau ada tempat spa, ada orang-orang yang mengunjungi kami, jadi kami ada teman,” imbuhnya. Dipilihnya spa karena di sekitar Bandungan, meski vila mulai menjamur, belum ada yang menyediakan fasilitas spa. “Kami yang pertama membuat spa di sini,” katanya.
Tak hanya di Bandungan, pasangan Freddy dan Lanny pun tercatat sebagai pionir bisnis spa di Semarang. Lewat Susan Salon Spa yang berlokasi di Jl. Seroja Timur, Semarang, lebih dari empat windu, pasangan ini menggelindingkan bisnis spa. Bermula dari Seroja, denyut bisnis Freddy dan Susan kemudian merambah dunia hospitality. “Resor, wedding, spa, kecantikan masih saling bersentuhan,” tutur Lanny.
Spa dengan nuansa alam, sentuhan etnik, produk natural, dilengkapi dengan sauna, jacuzzi, dan kolam renang yang memanjakan tubuh ternyata mampu menyedot pengunjung Susan Spa Bandungan. “Di sini tamu dimanjakan dan dibuat nyaman sejak mereka datang sampai pulang,” ungkap Lanny. Meski harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Semarang, banyak orang berkunjung ke Susan hanya untuk spa. Bahkan, untuk bisa menikmati Spa On The Sky, harus memesan jauh hari sebelumnya. Perawatan spa di kamar yang menjorok dengan pemandangan hamparan gunung dan bentangan langit biru ini memang menjadi favorit. “Sembari relaksasi, mata dimanjakan dengan pemandangan alam, makanya Spa On The Skyini jadi rebutan,” ujar Vonny Evelyn Jingga, Konsultan Pengembangan Susan Spa Resort, yang siang itu menemani SWAberkeliling. Dijelaskan Vonny, sebelumnya malah Spa On The Skyini dibiarkan terbuka sehingga semilir angin semakin menyejukkan. “Ini kan di atas sekali, angin terlalu kencang, jadi dibuat berkaca seperti ini biar gakmasuk angin,” katanya setengah bercanda.
Diakui Freddy dan Lanny, keberadaan Susan Spa Resort seperti sekarang ini sangat di luar dugaan dan rencana. Rencana semula, mereka berdua hanya ingin membangun spa dengan konsep alam. “Basisnya spa, terus bikin kafe untuk kongko, terus berkembang ada resto, terus katering karena ada event, terus berkembang lagi bikin kapel, terus bikin ruang serba guna,” paparnya. Semua tahapan perkembangan fasilitas dilakukan karena dorongan permintaan pasar dan melihat peluang. “Awalnya, kami tidak pernah terpikir membangun resor, ternyata banyak yang minta menginap, ya sudah vila pribadi itu akhirnya disewakan,” ujarnya. Yang semula vila itu kini menjadi guest house. Dari hanya empat kamar, permintaan makin banyak kemudian ditambah menjadi 22 kamar. “Akhir tahun ini akan ada penambahan 10 kamar,” ujarnya.
Ditegaskan Freddy, Susan Spa Resort tidak dirancang dari awal seperti sekarang. “Tidak ada blue printdari awal akan menjadi seperti sekarang ini, ide itu timbul seiring berjalannya waktu,” ujarnya. Seperti kapel, ia mengaku terinspirasi melihat kapel di Uluwatu, Bali. Mereka juga mengombinasikan dengan kapel yang mereka lihat di berbagai belahan bumi lainnya. “Masakmau pemberkatan mesti terbang ke Bali, kami mencoba membangun di sini, dan ternyata responsnya bagus,” ungkapnya. Ballroomdengan kapasitas 1.000 tamu pun dibangun karena melihat animo pasar. Sering kali tak sekadar pemberkatan tetapi sekaligus pesta sehingga membutuhkan ruangan yang lebih luas. “Peluang tersebut yang coba kami tangkap dan kami kembangkan,” ucap Freddy yang terlihat bugar di usia yang sudah melewati 60.
Bagi mereka, Susan Spa Resort adalah aset dan investasi. “Kami membangun bertahap, punya uang sedikit ditempelkan. Beli tanahnya juga gaksekaligus ribuan meter, sedikit-sedikit,” ujarnya. Ditambahkan Lanny, dengan cara mencicil itu justru mereka merasa puas karena sama sekali tidak bersentuhan dengan bank. “Ya ada uang, kami tempelkan, ada uang kami tempelkan, begitu terus,” timpal Lanny. Karena juga menjadi aset, mereka benar-benar membangun sesuai dengan keinginannya. Tak pelak, atmosfer yang dibangun di Susan Spa Resort mencerminkan jiwa Lanny dan Freddy yang penuh kecintaan dalam bekerja.
Menurut Lanny, pengembangan bisnis yang dilakukan mereka sejatinya tidak lepas dari cikal bakal bisnis awal. Lanny memulai bisnis dengan salon, 36 tahun lalu. Salon Susan di Semarang sampai saat ini tercatat sebagai satu-satunya salon terlengkap dan terbesar. Lanny terjun di dunia kecantikan dengan membuka salon sejak 1975. Ketika itu ia masih lajang berusia 21 tahun. “Waktu itu saya sudah berpacaran dengan Bapak, ya sudah saya beri nama salon saya dengan nama Susan,” ceritanya. Freddy sendiri, ketika itu tengah membangun bisnis album foto. Freddy memulai bisnis saat masih berusia 17 tahun. Ia mengikuti jejak sang ayah yang memang membuka usaha pembuatan album foto kecil-kecilan di Semarang.
Tahun 1977, Lanny dan Freddy menikah. Mereka fokus mengembangkan bisnis masing-masing. Dewi Fortuna menghinggapi mereka. Susan Photo Album berkembang pesat. Bahkan, pada 1976, Susan Photo Album sudah merambah pasar luar negeri. Menurutnya, keberhasilannya menjaring pasar karena album foto hasil karyanya berbeda dari album yang beredar di pasaran. “Lukisan dan desain menjadi ciri khas album foto Susan,” katanya.
Perkembangan Susan Photo Album bahkan makin ekspansif. Tahun 1987, bisnis rumahan pun berganti dengan pabrik seluas 8.000 m2, masih di Semarang. Tahun 2002, Freddy mulai melibatkan anak sulungnya, Lio Adrian, pertumbuhan Susan Photo Album semakin tak terbendung. Di tangan Lio, menggurita dengan berbagai produk: Susan Album, Susan Pro, Evita, dan E-Pro. Pasar ekspor pun makin membesar. Saat ini, menurut Lio, pasar ekspor menyerap lebih dari 50% produksi Susan Album. Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan negara-negara Timur Tengah adalah sebagian pasar luar negeri yang digarap Susan Album.
Bagaimana dengan bisnis Lanny? Sami mawon. Salon yang dikembangkannya laris manis. Bermula dari salon konvensional yang menyediakan jasa gunting rambut, rias wajah, dan facial, sejak 1996 dilengkapi perawatan wajah dengan alat teknologi canggih dan spa. Sejak 6 tahun lalu, Lanny juga merambah jasa bridal. Sejak 15 tahun lalu pula, salonnya yang semula hanya menempati ruang kecil di rumah peninggalan orang tuanya, berkembang menjadi tiga lantai. Lantai bawah khusus untuk perawatan rambut, tata rias dan perawatan wajah. Lantai dua untuk spa dan bridal. Lantai tiga untuk fasilitas kebugaran. Salon yang mengkhususkan segmen perempuan ini akan dikembangkan dengan menambah pasar remaja perempuan. “Dalam waktu dekat, kami akan merenovasi salon ini mengikuti tren yang tengah berkembang, mungkin dari sisi desain lebih mengarah ke minimalis dengan sentuhan klasik dan etnik,” ujar perempuan yang terlihat awet muda di usianya yang kini 56 tahun.
Sejak kecil Lanny memang sudah akrab dengan dunia kecantikan. Sebagai anak tunggal, ia sering menemani ibunya ke salon. “Saya waktu kecil ngintilterus Ibu, lagi di-facial, keriting rambut, ya saya tungguin,” katanya. Umur 15 tahun, ia kemudian belajar merias wajah untuk diri sendiri di salon langganan ibunya itu. Lulus SMA, ia sempat masuk Universitas Diponegoro mengambil jurusan Sastra Sejarah. Karena jadwal kuliah yang saat itu belum teratur, ia dilanda kejenuhan. Akhirnya, ia memutuskan keluar di tingkat dua.
Karena sudah jatuh cinta pada dunia kecantikan, ia pun terbang ke Singapura untuk memperdalam bidang ini. Setelah menikah dengan Freddy, sembari mengembangkan salon, ia tak kenal lelah menuntaskan dahaganya akan ilmu kecantikan. Berbagai pameran kecantikan dan spa di Jepang, AS, Eropa, Hong Kong disambangi. “Ke ujung dunia pun dikejar saking ia suka dan ingin terus belajar,” ungkap Freddy. “Saya tidak pernah sendiri, Pak Freddy selalu menemani saya sehingga kami belajar bersama-sama,” imbuh Lanny.
Mengunjungi berbagai pameran membuat mereka up-to-dateterhadap dunia bisnis yang mereka geluti. Tak heran, mereka beberapa langkah lebih maju, baik dari sisi inovasi produk maupun pelayanan. Sampai saat ini pun mereka berdua tak pernah melewatkan kesempatan melihat berbagai pameran kecantikan. Beberapa tahun terakhir ini mereka berdua pun rajin mendatangi pameran perhotelan dan food & beverages.
Lanny dan Freddy mengaku selama ini mereka selalu fokus pada bidang yang digeluti. “Kami juga sampai sekarang tetap terjun bekerja,” tutur Lanny. Berbeda dari pemilik salon dan spa kebanyakan yang hanya sebagai investor, Lanny sampai saat ini masih terjun. “Biasanya orang hanya punya modal kemudian diserahkan ke asistennya,” tambahnya. Untuk perawatan wajah yang menggunakan alat, sampai sekarang masih dipegang Lanny. Bahkan, sesekali Lanny masih memotong rambut dan merias kalau pelanggan memintanya. “Kalau pelanggan ada yang minta, ya saya penuhi,” katanya.
Dari dulu, Lanny memang suka menunggui salon, ada tamu atau tidak. “Mungkin itu yang membuat tamu menjadi senang karena setiap mereka membutuhkan saya, saya selalu siap di tempat,” katanya. Selain menghadirkan produk berkualitas, pelayanan dengan hati, diakui Lanny, adalah kunci keberhasilan salonnya sampai saat ini. “Kami harus memberikan yang terbaik dan dengan hati,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Freddy. Menurut sulung dari lima bersaudara kelahiran Jawa Timur 23 Agustus 1946 ini, sejak awal menggeluti bisnis, ia memang menunaikan filosofi memberikan yang terbaik dan bekerja dengan hati. “Apa pun pekerjaan itu, kami harus mencintai pekerjaan yang kami lakoni, kalau mau berhasil ya harus dengan hati,” ujar Freddy yang menularkan filosofi itu kepada dua anaknya.
Keberhasilan bisnis, menurutnya, juga harus ditopang dengan fokus, konsistensi dan ketekunan. “Kalau gagal, jangan langsung menyerah tapi harus dicoba lagi dan tetap fokus hingga meraih keberhasilan,” katanya menasihatkan. Untuk memberikan yang terbaik, Freddy yang memang dasarnya senang memasak menjadwalkan seminggu dua kali ke pasar berbelanja bahan masakan untuk Susan Spa Resort. “Saya bisa memilih sendiri mana yang kualitasnya nomor satu, kalau nomor dua, aku emoh,” katanya. Menjaga kualitas produk, ditandaskannya, sudah harga mati. “Jangan menurunkan kualitas dan selalu mencari yang terbagus buat pelanggan, kepuasan pelanggan itu kunci agar bisa tetap bersaing.”
Ditambahkan Lanny, dalam berbisnis, jangan selalu hitungannya uang dan untung. “Kalau selalu berpikir untung sehingga dikejar terus, akhirnya lupa pada kualitas,” ujarnya. Meski ia tidak menafikan uang. “Selama kami memberikan yang terbaik, uang akan mengikuti.” Mereka pun sepakat untuk terus mengasah kemampuan meski sebagian bisnis sudah diserahkan kepada anak-anak. “Harus terus belajar kalau mau pintar, jangan pernah berhenti belajar,” timpal Freddy.
Dengan belajar, mereka saling melengkapi dan mendukung. Untuk urusan bisnis kecantikan, Lanny yang pegang peranan. Sementara pengembangan bisnis Susan Spa Resort di tangan Freddy. “Kami juga harus semeleh, jangan memikirkan sesuatu di luar jangkauan. Kalau kuat ya dipikir, kalau tidak ya ditaruh saja. Saya kalau ketemu bantal langsung tidur, saya tidak mau mikir yang berat-berat,” tutur Freddy yang piawai memasak.
Bagi Lanny, pencapaian bisnisnya saat ini adalah berkah dari Tuhan. “Puji Tuhan, semua ini berkah dari Tuhan,” katanya. Sebagai rasa syukur atas keberkahan itu, Lanny dan Freddy tak pernah pelit membagi ilmu kepada anak buahnya. “Saya suka mengajari masak, kalau mereka pintar saya ikut senang,” katanya. Begitu pula Lanny, ia dengan telaten mengajari anak buahnya seluk-beluk dunia kecantikan. Bagi Lanny, keterampilan tangan karyawan menjadi salah satu pemicu kepuasan pelanggan. “Di sini orang dimanjakan betul, produk disesuaikan, lebih teliti, alat estetika terbaru,” ujarnya. Sejak awal dibangun, Susan Salon memang menyasar segmen menengah-atas, begitu pun Susan Spa Resort.
Bagi mereka, Susan adalah berkah. Meski tak ada satu pun anggota keluarga yang bernama Susan. “Memilih nama Susan karena simpel dan mudah diingat, dilafalkan,” kata Freddy. Kini, Susan telah menjadi ikon bisnis Freddy dan Lanny.
Tonggak Sukses Freddy dan Lanny
1964: Freddy memutuskan mengikuti jejak sang ayah membuat album foto dengan nama Susan Album di Semarang. Ia mengawali dengan membuat 20 eksemplar album dari bahan karton, desain simpel, dan handmade.
1966: Freddy menjajal pasar Jakarta.
1975: Lanny mendirikan Susan Salon di Jl. Seroja Timur, Semarang.
1976: Susan Album ekspansi dengan merambah pasar luar negeri.
1987: Susan Album makin ekspansif dengan pembangunan pabrik seluas 8.000 m2 di Semarang.
1996: Susan Salon mengembangkan layanan spa pertama kalinya di Semarang, dilengkapi perawatan tubuh dan wajah dengan peralatan dan teknologi canggih.
2001: Masuk bisnis bridal dengan mengibarkan Susan Bridal.
2002: Di bawah komanda Lio Ardian, anak sulung Freddy dan Lanny, Susan Album makin moncer dengan mengembangkan berbagai lini: Susan Pro, Evita, dan E Pro.
2004: Membangun Susan Spa Resort di Dusun Piyoto, Bandungan, Semarang, yang rencana awalnya hanya untuk peristirahatan keluarga. Karena permintaan pasar berkembang menjadi resor dan layanan spa pertama di Bandungan.
2010: Membangun La Kana Chafel.
(oleh : Henni T. Soelaeman)
sumber: http://swa.co.id/2011/05/aset-investasi-dan-cinta-bermuara-di-susan-spa-resort/
Saturday, October 1, 2011
Keuletan di Balik Sukses La Tulipe
Pertengahan Juni 2011. Suasana di Grand Ballroom Hotel Mulia, Senayan, malam itu begitu semarak. Di ruang tengah dilangsungkan peragaan tata rias komestik menampilkan berbagai tren warna terkini. Setidaknya ada 26 ahli tata rias yang memamerkan kreasi mereka menggunakan tren kosmetik terbaru. Di antara mereka ada ahli tata rias avant garde, pengantin internasional, fancy, modifikasi serta lukis tubuh yang sudah dikenal secara nasional. Mereka mengusung tema untuk musim semi/panas 2011 yang berkisar pada warna-warna oranye, merah muda, emas, cokelat ungu, dan koral pada eyeshadow, blush on dan lipstik. Semua ahli tata rias malam itu menggunakan kosmetik yang sama: La Tulipe dan LT Pro.
Kemeriahan acara peragaan tata rias komestik itu tak lain merupakan bagian dari event PT Rembaka untuk memberikan apresiasi kepada para ahli tata rias yang telah menggunakan produknya secara terus-menerus. Selain itu, ajang tersebut juga menjadi manifesto sukses perjalanan produsen kosmetik asal Surabaya itu dalam mengarungi bisnis kosmetik yang begitu ketat persaingannya. Mereka berhasil membesarkan nama La Tulipe di kalangan konsumen, khususnya pengguna produk make-up dan skin care.
Dalam konteks ilmu pemasaran, mungkin La Tulipe bisa dirujuk sebagai contoh tepat sebuah merek yang sukses menasional dengan model penetrasi flanking strategy: dimulai dari daerah pinggiran, kemudian merangsek ke pusat. Ia dimulai dari sebuah home industry kecil di Surabaya, lalu pelan-pelan melebarkan pasar dari daerah ke daerah hingga kemudian berkembang, dan kini sudah menjadi merek nasional yang total melibatkan 5.000 karyawan.
Usaha kosmetik berbendera PT Rembaka ini dirintis Indro Handojo (almarhum), seorang dokter bidang patologi klinik yang belajar autodidak tentang ilmu dermatologi di Surabaya. “Papa suka mencoba hal-hal baru, selain tekun dan rajin. Beliau ingin mendirikan perusahaan kosmetik sendiri, makanya tahun 1980-an memulai dari home industry. Ngracik sendiri,” tutur Anthonius Prabowo Handojo (33 tahun), putra Indro yang kini didapuk menjadi Manajer Operasional PT Rembaka.
Produk kosmetik yang pertama dibuat adalah pembersih dan penyegar. Setelah itu, menyusul produk pelembab. Proses produksinya belum memakai mesin alias manual. Indro – wafat awal 2011 – dibantu lima anak buah yang bekerja dengan peralatan seadanya, yang penting higienis. “Papa mengulek dan meracik sendiri resep agar sesuai dengan kulit orang Indonesia,” Anthonius yang lulusan University of Wollongong Australia ini menceritakan kiprah ayahnya. Untuk itu, ayahnya rajin membaca literatur tentang kosmetik dan sering mengikuti seminar dan kongres tentang kulit. Pada tahap awal, produksinya tidak banyak. Sebulan kira-kira memproduksi 1 boks (50 botol).
Dalam memasarkan produknya, sejak awal Indro sudah menggunakan merek La Tulipe. Tulip adalah nama bunga dari Belanda, sebagai penanda kecantikan wanita negeri itu. Sementara kata “La” berasal dari bahasa Prancis yang artinya sama dengan “the” dalam bahasa Inggris. “Pakai bahasa Prancis, karena Prancis merupakan barometer kecantikan dunia,” Anthonius, yang biasa dipanggil Thoni, menjelaskan sejarah merek perusahaan keluarganya.
Cara komunikasi pemasaran saat itu masih sederhana. Di sela-selah praktik dokter di rumah — Jl. Raya Gubeng 61, Surabaya — Indro memperkenalkan produknya ke calon pelanggan yang datang. Rupanya, cara promosi dari mulut ke mulut itu cukup manjur. Terbukti, tak sedikit kaum Hawa yang mengonsultasikan masalah kulit wajah kepadanya. Tidak hanya itu, kebanyakan dari mereka ternyata juga cocok dengan produk hasil racikannya. Tak mengherankan, pelanggan makin banyak, juga jumlah produksinya. Karyawan bertambah menjadi 10-an orang pada 1982-an. Bahkan pada 1985, berhasil memindah tempat produksi ke lahan yang lebih layak di daerah Prapen (Surabaya). Meski demikian, status tanahnya belum hak milik, masih sewa.
Russy Nikawati, karyawan yang bekerja di PT Rembaka sejak 1985, menjelaskan, meski pindah ke Prapen, lokasinya tetap masih kecil. Produksi menempati rumah tipe 120 dengan 10-an karyawan. Di Prapen, awalnya belum memproduksi menggunakan mesin. “Kami akrab semua di sana. Kalau ada bahan baku timun datang, ya kami makan sebagian ha-ha-ha…. Begitu pula kalau ada tomat atau bengkuang. Kami sering rujakan bersama-sama,” Russy menceritakan suasana sederhana di awal perintisan bisnis. Untuk pemasaran, waktu itu mengandalkan toko di Pasar Atom Surabaya dan dua tenaga beautycian yang melakukan demo promosi.
Setelah beberapa tahun melakukan produksi di Prapen, Indro akhirnya bisa membeli mesin sendiri walau bukan mesin baru. “Kami beli mesin kosmetik second dari Taiwan dan Jerman, dari salah seorang pengusaha di Surabaya,” kata Thoni. Dari situ produksi juga mulai bisa ditingkatkan untuk memenuhi permintaan. Rata-rata per bulan bisa memproduksi sebanyak 1 mobil boks. Selain itu, juga menambah 1-2 varian produk baru, yakni skin care, produk tata rias panggung, tata rias wajah dan tata rias fantasi.
Cara promosi juga mulai ditingkatkan dengan merambah program yang belum dilakukan. Antara lain, mengikuti lomba tata rias, baik taraf nasional maupun internasional. “Kami pernah meraih gelar sebagai Juara Umum Lomba Tata Rias Tingkat Nasional 1987 dan Juara Tingkat ASEAN 1987,” ujar Thoni. Promosi juga dilakukan dengan demo produk di instansi pemerintah, ibu-ibu Dharma Wanita dan Bhayangkari, serta organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Cakupan pasarnya masih mayoritas di Surabaya dan sekitarnya.
Yang membuat segenap pengelola optimistis usahanya bisa berkembang, mereka melihat respons pasar cukup baik. “Terus terang kami sendiri tidak tahu apa penyebab produk buatan Papa kok begitu diserap pasar. Yang saya dengar, produk-produknya cocok untuk kulit di daerah tropis. Inilah yang menjadikan permintaan terus meningkat. Produk kami benar-benar bermanfaat sehingga makin lama makin dicari orang,” ungkap Thoni.
Karena penjualan terus meningkat, akhirnya tempat produksi di Prapen tidak mencukupi lagi. Lebih-lebih, saat itu Indro sudah berencana mendatangkan mesin langsung dari Jerman dan Inggris. Lokasi produksi di Prapen menjadi terlalu sempit, tak mencukupi untuk ukuran mesin baru. Karena itu, pada 1990-an, pabrik beralih ke tempat baru, yakni di Jl. Rungkut Industri VIII/26-28, Surabaya (Kawasan Industri), dengan menyewa. Pada waktu itu juga mulai dipakai nama PT Rembaka. Kata Rembaka diambil dari bahasa jawa yang berarti “berkembang bersama”.
Sejak berproduksi di Jl. Rungkut Industri, boleh disebut usaha ini sudah mulai bergeser dari skala industri rumahan menjadi industri menengah. Sejak itu, skala usahanya terus berkembang. Otomatis, dari hasil penjualan bisa menabung untuk menambah kapasitas produksi dan menyiapkan memiliki pabrik sendiri, bukan sewa. Tahun 1995 sudah bisa membeli tanah sendiri untuk mendirikan pabrik, di Jl. Berbek Industri VII/4, Surabaya.
Dewi Fortuna rupanya mendekat. Pada waktu krisis moneter 1998, bisnis La Tulipe justru mendapatkan keuntungan. “Kami blessing. Kenapa? Karena, sebelum krismon orang kelas atas membeli kosmetik dari luar, namun begitu nilai rupiah goyang, mereka ramai-ramai membeli La Tulipe. Akhirnya, produk kami malah laku keras. Penjualan kami naik sampai 100% lebih. Ini benar-benar di luar dugaan,” Russy mengenang. Karena itu pula, Rembaka bisa mendirikan pabrik sendiri yang mulai dipakai sejak tahun 2000. Pada tahun itu pusat produksi diboyong dari Rungkut ke lokasi sekarang, di Jl. Berbek.
Sejak di Berbek, modernisasi produksi dilakukan hampir di semua proses produksi. Mulai dari mixer sampai filling. Filling, misalnya, dulu dilakukan satu demi satu, kini sekali produksi bisa langsung lima unit selesai. “Kebanyakan mesin berasal dari Jerman, namun juga yang dari Inggris (lipstik) dan Korea (proses penyaringan). Dalam keadaan tertentu, kalau memungkinkan, kami modifikasi mesin agar hasil produksi lebih optimal,” Thoni menerangkan.
Cakupan pasarnya juga bukan semata-mata di Jawa Timur, tetapi terus diperluas menjadi wilayah nasional, termasuk ke kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, bahkan kota-kota di Sulawesi, Kalimantan dan Papua.
Salah satu fondasi penting yang dibangun Indro, membentuk bagian riset dan pengembangan (R&D) agar bisa menelurkan produk-produk yang bukan hanya sesuai dengan tren, tetapi menciptakan tren. Karena itu, meski Indro telah wafat, tim R&D tetap dikembangkan. Mereka siap meluncurkan produk untuk melayani pasar pada masa mendatang kalau-kalau ada perubahan. “Kami memiliki list produk untuk masa mendatang, yang kalau pasar sudah siap, kami akan luncurkan,” kata Thoni. Soal cara kerja tim R&D, pihaknya tidak memasang target tertentu, misalnya sebulan harus menciptakan satu produk baru. “Tidak begitu. Kami biarkan mereka berkreasi seoptimal mungkin supaya hasil benar-benar bagus,” dia menjelaskan kiatnya.
Distribusi Rembaka saat ini sudah mencakup seluruh wilayah Indonesia, menggandeng tiga distributor. Berdasarkan penelusuran SWA, salah satu distributor yang digandeng adalah PT Dos Ni Roha, salah satu distributor besar Indonesia. Guna memudahkan pengelolaan distribusi, Rembaka kemudian membagi area dalam dua wilayah: barat dan timur. Barat meliputi Sumatera, Jawa Barat, Jakarta dan Pontianak. Adapun timur, dari Jawa Tengah hingga Papua. Para distributor itu dikelola terus-menerus. “Kami jaga mereka, bisa melalui berbagai bonus, penghargaan, gathering-gathering, ataupun tour-tour,” katanya.
“Kami juga memiliki konter-konter sendiri di beberapa kota. Atau, bekerja sama dengan toko kosmetik tertentu untuk memasarkan produk,” lanjut Thoni. Kalau ditotal, gerai sendiri mencapai 30-an. Rembaka juga memasok serta melatih tenaga pemasar dan tenaga kecantikan sendiri guna ditempatkan pada konter dan toko-toko tertentu yang memiliki potensi penjualan. Sementara itu, untuk mengendalikan harga, Rembaka mengatur dengan pola Harga Eceran Tertinggi (HET). Dengan cara itu, para distributor dan peritel hanya diberi kesempatan bermain di diskon. “Mereka mau melempar produk ke pasar pada harga berapa, itu terserah mereka, yang penting tak melebihi HET,” ujar Thoni.
Pekerjaan promosi juga digenjot, tak semata-mata getok tular. Saat ini promosi dilakukan terintegrasi, dari below the line (BTL) hingga above the line (ATL). Untuk ATL, sebagian besar dilakukan melalui majalah dan media elektronik. “Tapi itu hanya sebagian kecil promosi kami sehingga cenderung tidak kelihatan. Bagi kami, yang terutama adalah dengan cara BTL, seperti bekerja sama dengan berbagai instansi dan organisasi,” tutur Thoni. Selain itu, melakukan pendekatan dengan para ahli tata rias. “Kami tidak ada kontrak eksklusif dengan mereka. Mereka percaya kami. Dari situ kami support kebutuhan mereka,” katanya lagi. Selain itu, cara lama seperti menggarap ibu-ibu PKK, melakukan demo dan mengikuti pameran juga terus dilakukan. “Pokoknya, semua sisi kami garap.”
Pada posisi saat ini, omset terbesar disumbang produk-produk skin care dan dekoratif. Untuk merek, jelas La Tulipe menjadi tulang punggung, menyumbang 75% penjualan, sisanya dari penjualan second brand, LT Pro. Menariknya, perusahaan ini sekarang juga mulai masuk ke pasar Singapura dan Brunei, tepatnya pada akhir 2009. Ceritanya, ada salah seorang karyawan yang menikah dengan warga Singapura dan kemudian menetap di sana. Dia lalu melakukan order sekaligus memasarkan untuk area Singapura. Untuk pasar Brunei, Rembaka bahkan punya salon sendiri untuk mulai menggarap pasar di sana. “Tahun 2010 kami dipercaya menjadi sponsor acara Kementerian Kebudayaan Belia dan Suka Brunei untuk pemilihan penyanyi dan penari cilik,” cerita Thoni.
Bambang Irawan, pengamat bisnis dari Surabaya, melihat perjalanan La Tulipe banyak
diwarnai sikap pemilik yang benar-benar sabar dan bermental ulet. Sabar dalam arti melakukan strategi disesuaikan dengan kondisi perusahaan. “Kalau masih kecil, dia bersabar untuk bersikap sebagai perusahaan kecil dan terus-menerus melakukan inovasi, guna memanfaatkan peluang yang ada. Quality yang cukup bisa diandalkan, walaupun melalui proses improvement ‘learning by doing’,” kata Bambang.
Dalam pandangan Bambang, La Tulipe adalah buah kesabaran dan ketekunan sehingga jadilah sebuah produk yang matang baik dari segi produksi maupun pemasaran. Dari sisi perubahan manajemen, Rembaka pun bisa melakukannya dengan baik. Termasuk, dengan membentuk tim profesional dalam R&D. “Saya kira mereka sudah masuk dalam era matang dan kepercayaan konsumen tidak goyah walau pendiri telah tiada. Brand sudah terbentuk,” Bambang menyimpulkan.
Russy yang kini menjabat sebagai Manajer General Affairs & HRD mengakui kini perusahaan tempatnya bekerja telah berkembang dengan baik. “Dulu agak berat karena tidak memakai media komunikasi apa pun. Kami masih kecil sehingga belum memiliki dana. Kami kenalkan produk melalui getok tular,” ujarnya mengenang. Dia pernah mengalami hal tidak enak ketika mendapat tugas membuka gerai Melawai Plaza Blok M Jakarta. Waktu mencoba mengajak kerja sama dengan menawarkan model in store (titip jual), pemilik toko meragukan. “’Ini produk dari mana ini? Cocok nggak dengan kulit orang Indonesia?’, tentu saja kami sempat down. Tapi kami tetap meyakinkan bahwa produk kami bukan sembarang produk,” katanya.
Russy juga melihat, pendiri perusahaan ini, Indro, sangat pandai mengelola anak buah, menjaga kedekatan, serta memberi penghargaan kepada karyawan. “Ya, kami membangun bisnis ini dengan prinsip kekeluargaan. Baik kepada karyawan, distributor, outlet, maupun karyawan. Kalau ada senang, kami rasakan bersama. Begitu pula kalau lagi susah,” Thoni menyambung. Selain kesabaran, sesungguhnya inilah values yang menjadi tulang punggung membesarnya La Tulipe.(*) (oleh : Sudarmadi)
Reporter: Suhariyanto (Surabaya)
sumber: http://swa.co.id/2011/09/keuletan-di-balik-sukses-la-tulipe/
Dari Karyawan, Arnawa Kini Sukses Menjadi Entrepreneur Dengan 500 Karyawan
Langit kemerahan dengan sapuan arakan awan merona jingga ditelan ufuk barat saat kaki menjejak di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Menyusuri selasar yang dipenuhi deretan gerai handycraft dan riuh orang-orang berkulit putih dengan mata biru dan rambut pirang kemerahan, pandangan mata menangkap beberapa gerai dengan nama yang sama. Prada Reflexology dan Prada Priority Restaurant dijumpai di hampir setiap gate, mulai dari Gate 1, 2, 3, sampai Gate 10 area kedatangan internasional Ngurah Rai. “Tujuh gerai Prada Reflexology, 6 restoran Prada, dan dua executive lounge.” Mengeja dan menyimpan dalam hati temuan mata yang membersitkan tanya, siapa pemiliknya?
Sosok bertubuh tegap dengan penampilan yang cukup kasual itu menjabat erat tangan kami. “Putu Arnawa,” katanya. Senyum hangatnya menebarkan keramahan. Sore itu, di Prada Priority Lounge, salah satu ruang tunggu eksklusif miliknya yang terletak di lantai bawah Bandara Ngurah Rai, Putu Arnawa yang akrab disapa Arnawa membagi cerita pergulatannya membangun bisnis. Di bawah payung PT Nu Prasada, saat ini ia memiliki puluhan gerai refleksologi, executive lounge, resto, spa, minimarket, ruko, vila butik, sampai hotel.
Bisnisnya tak hanya berserak di Bandara Internasional Ngurah Rai, tetapi tersebar di kawasan Kuta dan Nusa Dua. Di kawasan bergengsi Bali Collection Nusa Dua, jejak bisnis Arnawa terpancak megah. Selain ada empat resto dan empat gerai refleksologi, yang paling mencolok pandangan adalah keberadaan Prada Concept Store yang menyediakan aneka wine, cokelat, rokok dan camilan.
Arnawa juga ikut menggerakkan bisnis di Sanur. Di pusat bisnis Pulau Dewata ini, Arnawa merambah bidang properti dengan ruko dan vila. Prada Executive Villa yang mengusung konsep vila butik, baru diluncurkan awal tahun ini. Ada 10 unit dengan masing-masing luas 500 m2. Di setiap unit terdiri dari empat kamar utama, ruang tamu, dapur, dan kolam renang dengan full furnishing. “Seperti layaknya hunian, penyewa tinggal masuk,” kata Arnawa. Setiap unit vila disewakan minimum dua tahun dengan harga Rp 500 juta/tahun/unit. “Yang menyewa para ekspatriat dan sudah terisi semua,” kata Arnawa semringah. Setali tiga uang, 9 ruko yang dimiliki Arnawa di Sunset Road sudah terisi penyewa yang rata-rata perusahaan besar, seperti bank dan biro travel.
Bisnis supermarket dijalankan Arnawa di Kuta. Ia juga tengah ancang-ancang membangun hotel dengan 100-an kamar di Kuta, kawasan yang menjadi poros wisatawan domestik dan mancanegara. “Sedang mengurus perizinannya. Targetnya akhir tahun ini sudah mulai pembangunan,” kata Arnawa seraya menambahkan, hotel dengan konsep sama juga akan dibangun di Nusa Dua. “Konsepnya hotel butik, jadi lumayan mewah.”
Sejatinya, di panggung bisnis Pulau Dewata, Arnawa boleh dibilang pemain baru. Tahun 2001, Arnawa menceburkan diri ke gelanggang bisnis. Debut awalnya adalah gerai refleksologi di area kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai. Waktu itu, ia masih tercatat sebagai manajer di sebuah lounge – satu-satunya ketika itu – di Bandara Ngurah Rai. Saat Arnawa bergabung, lounge tersebut tengah limbung. Tugas Arnawa menggeliatkan kembali bisnis lounge yang salah satu pemiliknya adalah Aerowisata. Sebelumnya, ia bekerja sebagai staf ground handling di Singapore Airlines dan Cathay Pacific.
Berbagai terobosan kemudian dilakukan Arnawa yang sempat mengikuti pelatihan bisnis lounge di berbagai bandara di belahan bumi lain. Salah satu terobosannya, menghadirkan fasilitas refleksologi untuk para tamu lounge yang kemudian disusul dengan layanan massage. “Kami yang pertama menawarkan fasilitas layanan refleksologi ini,” ungkapnya. Fasilitas anyar itu disambut antusias para tamu, terutama tamu dari Jepang. Standar higienitas di lounge, termasuk prosedur dan penyiapan makanan, ditingkatkan sesuai dengan standar internasional. Kerja sama dengan maskapai pun ditingkatkan. Berbagai upaya tersebut mampu menaikkan kembali pamor ruang tunggu eksklusif itu.
Seiring lounge yang dikomandaninya menggeliat kembali, ia tergelitik untuk membuka refleksologi di luar lounge tetapi masih di area bandara. Pertimbangannya, pasar yang dibidik lebih luas, tidak terbatas seperti di lounge yang hanya mengandalkan penumpang kelas bisnis. Waktu itu, dengan modal tabungan seadanya, ia memberanikan diri membuka gerai refleksologi pertama di bandara. Ia memulai dengan tempat yang kecil, sekitar 4 x 6 m2 dengan empat kursi dan lima karyawan. Prada Reflexology yang dibesut Arnawa ternyata dibanjiri pengunjung. Padahal, harga yang dibanderol cukup mahal, Rp 100 ribu untuk 30 menit.
Bagi Arnawa, keberhasilan itu sebuah awal yang bagus. Ia kemudian tergerak untuk menambah gerai lagi. Di bawah bendera UD Prasada, ia menambah gerai refleksologi di kawasan yang sama. Lagi, Dewi Fortuna memeluknya. Penambahan gerai justru makin memperbesar pasar. Gerai refleksologinya selalu penuh.
Intuisi bisnisnya kemudian mengendus peluang di bisnis food & beverages. Dari perbincanagn dengan tamu-tamu di gerai refleksologi, ia melihat ada peluang mengembangkan usaha resto dengan suguhan menu internasional. “Waktu itu memang belum ada restoran dengan konsep internasional,” katanya. Lagi-lagi, dengan modal yang dikumpulkan dari usaha refleksologi, ia membangun Prada Priority Restaurant di Gate 1 dan 2. Kapasitas resto yang mampu menampung 40-50 kursi itu juga mendapat respons positif dari pengunjung, terutama para ekspat.
Keberhasilan itu melecut Arnawa untuk fokus mengembangkan bisnis. Ia kemudian memilih keluar dari tempatnya bekerja. “Tidak enak juga mengurusi bisnis tapi masih bekerja di tempat lain,” katanya. Keberanian untuk keluar dari comfort zone, bagi Arnawa, adalah pilihan yang bukan tanpa risiko. Toh, itu harus diambilnya. “Waktu itu saya sudah mantap melangkah memasuki dunia usaha,” katanya. Bagi Arnawa, keberhasilan tidak akan bisa diraih kalau tidak berani melakukan perubahan.
Pilihannya tidak keliru. Dengan fokus pada usaha refleksologi dan resto, bisnisnya terus berkembang. Tahun 2005, status hukum usahanya ditingkatkan menjadi PT dengan nama PT Nu Prasada. Seiring perubahan status hukum, gerai refleksologinya terus bertambah. Ia juga membuka lagi resto di pintu keberangkatan 7 dan 8. Setiap ada peluang, ia menambah lagi gerai refleksologi dan resto. Padahal, mencari tempat di area tunggu keberangkatan internasional itu tidak gampang. “Hunting tempat di bandara itu tidak gampang. Apalagi, kami pemain baru,” ungkapnya.
Toh, kendala tersebut tak menyurutkan langkah Arnawa untuk “menguasai” setiap jengkal tempat di bandara. Bahkan, ketika pihak Angkasa Pura menawarkan pengelolaan lounge yang ditinggalkan pemiliknya karena pindah lokasi, Arnawa tak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Awalnya, jujur saya tidak berani karena tempatnya luas sekali, lebih dari 350 m2,” ceritanya. Namun, setelah dipertimbangkan dengan saksama, ia pun menerima tawaran Angkasa Pura untuk mengelola lounge yang notabene tempat dulu ia merentas karier. “Saya sudah pernah mengelola lounge dan berhasil. Sebelum saya ambil, saya beri tahu teman-teman di airlines kalau saya akan punya lounge sendiri,” katanya sambil tertawa.
Diakui Arnawa, ketika memasuki bisnis lounge, tantangannya luar biasa. Meski ia sudah paham seluk-beluk dunia lounge, ia tetap nervous. Pasalnya, saat ini ia adalah pemilik. Investasi yang dikucurkan pun tidak sedikit. Waktu itu sekitar Rp 200 juta untuk membenahi interior saja. “Belum termasuk sewa tempat karena waktu itu saya dapat keringanan bisa dicicil. Ini juga yang jadi pertimbangan saya akhirnya bersedia mengambil lounge ini,” ungkapnya.
Tahun 1998-2001, di lounge itu ia sebagai manajer dan tahun 2005, ia sebagai pemilik. Tahun-tahun berikutnya, bisnisnya terus menggelinding, bahkan keluar bandara. Selain mengembangkan gerai refleksologi dan resto, ia merambah bisnis spa, supermarket dan properti. Perjalanan metamorfosis dari seorang karyawan menjadi entrepreneur sukses di genggamannya. “Saya selalu meyakinkan diri saya bahwa setiap usaha kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh akan berhasil. Tentu keberhasilan ini juga berkat campur tangan Tuhan,” tuturnya.
Bagaimana bisnisnya bisa menggelembung? Arnawa adalah pengusaha yang sangat memahami bahwa bisnis adalah dunia kompetisi. Menurutnya, persaingan di dunia bisnis tidak bisa dielakkan. “Jangan takut terhadap persaingan bisnis, jalani bisnis dengan baik dan penuh perhitungan,” imbuhnya. Untuk menjadi pemenang, jurus yang dilakukannya adalah memberikan yang terbaik. A small step is part of a giant step, so do what ever you can do and give it your best. “Lakukan yang terbaik dan harus lebih setingkat bahkan beberapa tingkat dari yang sudah ada,” kelahiran Mengwi, Kabupaten Badung 14 Juli 1972 ini menandaskan.
Arnawa memang tidak mau setengah-setengah dalam menjalankan setiap ladang bisnis yang dimasukinya. “Harus something different. Kalau mau bikin yang besar ya besar sekalian, jangan tanggung-tanggung atau jangan sekalian,” ungkapnya. Dalam menjalankan setiap unit bisnisnya, lanjutnya, harus memberi pembeda dari pemain yang sudah lebih dulu hadir.
Berbekal prinsip tersebut, Arnawa memasuki setiap bisnisnya dengan menawarkan nuansa berbeda, yang pastinya tidak dimiliki pesaingnya. Refleksologi, misalnya. Sebagai pionir, ia tahu langkahnya akan banyak ditiru orang. Terbukti, di bandara sekarang ini puluhan gerai yang menawarkan refleksi dan pijat menjamur. Toh, Prada masih yang terdepan. Dengan keluwesan dan keramahan para terapis yang siap memanjakan tubuh, ditambah interior yang dibuat nyaman, membuat Prada Reflexology dengan tarif di kisaran Rp 80-140 ribu itu tak pernah sepi pengunjung. Apalagi, layanannya ditambah manikur dan pedikur.
Untuk resto pun begitu. Paduan menu, interior, dan pelayanan yang prima mengantarkan Prada Priority Restaurant selalu dijadikan pilihan bersantap, seperti restonya di Nusa Dua. Resto-resto milik Arnawa menyuguhkan atmosfer yang berbeda. Ada live music dengan jenis musik yang berbeda disuguhkan menemani para tamu bersantap. Ini tak ada di resto lain di kawaasan tersebut. Bagaimana dengan lounge? Tak seperti dua lounge lainnya di Bandara Ngurah Rai, Prada Lounge menjalin kerja sama dengan semua airlines. Bukan hanya penumpang kelas bisnis, semua segmen mendapat tempat di Prada Lounge. “Tinggal menunjukkan kartu kredit Gold saja,” katanya. Dengan membuka pintu lebar-lebar, pasar Prada Lounge otomatis semakin terbuka lebar.
Menurut Sumber SWA di Premier Lounge Bandara Ngurah Rai, meski boleh dibilang pemain baru, Prada Lounge cepat berkembang dan berhasil menarik pengunjung. Keberhasilan Prada Lounge, menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu, karena Arnawa sebagai pemilik menguasai detail bisnis lounge. “Beliau lama bekerja di lounge sehingga sangat paham bagaimana menjalankan bisnis lounge,” ungkapnya. Ia juga melihat Prada Reflexology tetap merajai di bisnisnya meski saat ini bermunculan pemain baru di bisnis refleksologi di bandara. “Karena dia pionir, mereknya sudah kuat, jadi tetap yang terdepan,” katanya.
Sementara di mata Nakrowi dari Garuda Indonesia (Bali), keberhasilan Arnawa karena ia fokus dalam mengembangkan bisnis. “Ia fokus di bisnis yang digelutinya,” ungkap pria yang akrab disapa Rowi ini. Menurutnya, Arnawa juga memiliki relationship yang bagus dengan semua maskapai yang singgah di Ngurah Rai. Karena lama bekerja di ground handling dan lounge, tambahnya, Arnawa memiliki jejaring yang luas di kalangan maskapai.
Keberhasilan Arnawa adalah akumulasi dari semangat, kerja keras, kreativitas, dan jejaring yang luas di ranah airlines. Dalam rentang sedasawarsa, bisnisnya menggurita. Memulai bisnis pada 2001 dengan lima karyawan, sekarang ia mengayomi hampir 500 karyawan. “Tantangannya juga tidak kecil,” kata ayah satu putra dan dua putri, yang aktif di organisasi kemasyarakatan ini.
Sewaktu membangun resto di Gate 7 dan 8, misalnya, restonya sempat terseok-seok. Pasalnya, itu pintu terakhir menuju pesawat. Untunglah, waktu itu ada airlines yang kerap delay sehingga memerlukan layanan untuk para penumpangnya. Awalnya hanya snack, kemudian makan. Sampai akhirnya semua maskapai menjalin kerja sama untuk urusan layanan penumpang karena delay.
Setelah 10 tahun berkiprah di dunia bisnis, Arnawa yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi pramuwisata, dikenal sebagai pengusaha bertangan dingin dengan kepemimpinan yang kuat. “Beliau orangnya tegas, disiplin dalam urusan kerja meski hubungan dengan karyawannya dibangun dengan rasa kekeluargaan,” ungkap seorang karyawan yang tak mau disebut jatidirinya. Di matamya, sang bos yang lulusan Politeknik Pariwisata ini seorang pekerja keras dan taat beribadah. “Beliau orangnya baik dan rajin beribadah,” imbuhnya.
Jalan hidup telah mengantarkan Arnawa pada pencapaiannya saat ini. Ia meraihnya berkat keberaniannya meninggalkan zona amannya sebagai karyawan. “Bisnis ini jiwa saya, banyak mimpi yang ingin saya raih lewat bisnis ini,” ungkap Arnawa.
Ke mana lagi kepak sayap bisnisnya akan mengembang? Akankah ke luar Pulau Dewata? “Saya terlalu sederhana berpikir, saya belum tertarik untuk ekspansi ke luar Bali. Kalau mau, ya sekalian ke luar negeri,” ujarnya. Ia menilai Bali masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. “Saya akan tetap di Bali. Selain masih banyak peluang yang bisa dikembangkan, akan lebih mudah juga memonitornya,” ungkap suami N. L. Parwati ini. “Saya berangkat dari orang operasional. Jadi, kalau tidak lihat operasional, sepertinya ada yang kurang,” imbuhnya.
Ke depan, seiring perluasan Terminal Internasional Ngurah Rai, ia tengah berancang-ancang membuka lounge dan duty free. “Mungkin mengawali dengan wine dulu,” kata Arnawa yang baru saja menggenggam izin sebagai distributor wine untuk area Bali. “Supaya duty free yang sekarang ada lawannya,” katanya sambil tertawa.
BOKS:
Tip Sukses Ala Arnawa
Menguasai best practice bisnis lounge.
Fokus pada bisnis yang digeluti.
Jejaring yang luas dengan semua airlines yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai.
Selalu menjadi yang terdepan di bisnisnya
(oleh : Henni T. Soelaeman)
sumber: http://swa.co.id/2011/12/%e2%80%9cpenguasa%e2%80%9d-ngurah-rai/