Saturday, March 24, 2012

Yana Hawiarifin, Keripik Karuhun-nya Sukses Terjual Puluhan Ribu Bungkus Perhari

Karena selalu memikirkan masa depan keluarganya yang tak jelas karena keterbatasan ekonomi, Yana Hawiarifin terpaksa putar otak untuk dapat membantu mereka. Sempat jaya dalam bisnis properti tahun 1994, omzet properti secara mendadak anjlok saat krisis ekonomi 1997-1999. Kejadian ini membuat Yana terpaksa meninggalkan bisnis properti.

Setelah diskusi dengan salah seorang keponakannya, lahirlah ide untuk menjual keripik pedas. "Tapi saya pikir harus ada pembeda karena yang jual keripik sudah banyak sekali. Setelah pikir sana-sini kami putuskan bahwa Keripik Karuhun identik dengan renyah dan aroma daun jeruk," jelas Yana saat menceritakan kisah lahirnya keripik Karuhun kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Depok, Jawa Barat, kemarin.

Yana mengaku pada awalnya sulit untuk memperkenalkan Keripik karuhun kepada masyarakat luas. Awalnya Ia menggunakan sanak saudaranya untuk memperkenalkan produknya ke semua teman-teman.

"Saya suruh keponakan-keponakan untuk bawa keripik ke sekolah, bagi-bagi saja ke teman mereka. Tujuannya untuk mengetes pasar," ungkapnya.

Setelah itu ia menggunakan mobilnya yang ditempeli stiker keripik Karuhun berputar-putar keliling Bandung tanpa arah. "Supir sampai bingung mau ngapain sebenarnya, tapi saya bilang jalan saja pokoknya," tambah Yana.

Setelah seminggu berputar-putar tanpa arah akhirnya Yana menentukan titik-titik jualan di Bandung. Namun setelah dua minggu Keripik Karuhun dijajakan di titik-titik yang telah ditentukan, tim penjualan Yana stres. Dua minggu pertama rata-rata penjualan tiap orang hanya 5-6 bungkus. Jika digabungkan penjualan keseluruhan keripik Karuhun hanya 32 bungkus.

"Saat-saat kritis inilah mental seorang pengusaha diuji. Pilihannya hanya dua, mau lanjut atau alih haluan ke bisnis lain. Dan saya pilih lanjut, saya yakinkan mereka bahwa produk kita unik dan pasti akan besar," ujar pria yang memberdayakan semua keponakannya saat pertama kali menjual keripik Karuhun.

Dengan mental pemenang itu, akhirnya keripik Karuhun semakin kesohor di masyarakat. Saat ini penjualan per hari keripik Karuhun dapat mencapai 20 ribu bungkus dengan omzet per bulan mencapai puluhan juta rupiah.

Kesuksesan ini tak lepas dari kreatifitas strategi marketing Yana. Dengan sistem penjualan langsung yang mengadopsi sistem multilevel marketing, Yana memberdayakan mahasiswa dan kaum muda lainnya untuk ikut berjualan.

Dalam seminar "Entrepreneur In Action, Road to Success Entrepreneur" ini Yana juga menuturkan bahwa tiap pengusaha harus punya mimpi, ide-ide, dan aksi. Tanpa mimpi semuanya akan sia-sia karena kita tidak bisa berbuat apa-apa.

"Mengenai ide, tidak perlu repot mencari ide baru, lihat saja sekeliling kita. Nah masalahnya mampu tidak ide tersebut kita lakukan," ujar pria yang biasa dipanggil Abah ini.

Selain itu, Yana pun berpesan kepada para mahasiswa yang ingin serius di dunia entrepreneurship agar konsisten dalam tiap bisnis yang dijalankan. Kuncinya adalah evaluasi dan inovasi.

"Masa awal itu merupakan masa kritis, tapi jangan kemudian meninggalkan begitu saja usaha yang kita bangun. Yakinkan diri kita bahwa kita bisa sukses dengan bisnis ini," nasihat pria kelahiran 6 Agustus 1968 ini. (*/ian)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15008-kisah-sukses-yana-hawiarifin-berbisnis-keripik-karuhun.html

Jovinus dan Angely, Suami Istri yang Merintis dari Nol Usaha Restonya, Kini Punya Ratusan Karyawan

Orang boleh bermimpi menjadi pengusaha sukses dan kaya. Tapi, jika tidak dibarengi keuletan, kerja keras, berdoa, serta keyakinan mimpi itu tak bakal menjadi kenyataan. Cerita pasangan suami-istri Jovinus Kusumadi dan Angely Chaery bisa jadi referensi bagaimana merintis usaha dari bawah, dan mewujudkan mimpi itu.

Pemilik restoran terkenal Oceans Resto, Kedai Mamad, Selat Makasar, Sop Konro, dan Waroeng Ijo ini baik di Balikpapan maupun kota-kota besar lain di Kalimantan, benar-benar merintis usaha dari nol besar. Keduanya merasakan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Jovinus berperan sebagai pemilik mimpi, istri tercintanya mendampingi, memberi semangat, serta membantu mewujudkannya bersama-sama. Pasangan ini pertama kali merantau ke Balikpapan 2002 silam dari Makassar. Jovinus merupakan warga keturunan Hongkong yang sudah lama menetap di Makasar, begitu pun pula Angely.

Jovinus yang selama ini bekerja sebagai penyortir ikan laut, rela sehari semalam duduk di tepi pantai Losari Makassar, menunggu ikan segar kemudian dibawa ke tempat dia bekerja. Setelah itu, perusahaan tempatnya mencari nafkah mengekspor ke Hongkong. Selama bekerja di perusahaan itu, dia punya mimpi, suatu saat akan membuka restoran dengan menu ikan segar.

“Suami saya bercerita punya mimpi ingin buka restoran di Balikpapan. Padahal, bagi kami berdua itu merupakan hal yang baru. Membuka restoran dengan ikan-ikan segar. Setelah dipikirkan, kami berdua pun merantau ke Balikpapan tanpa memiliki keluarga dan teman. Suami berhenti bekerja di perusahaan tadi,” katanya, mengenang.

Dengan usaha tekad, keuletan serta tak pernah mengeluh, restoran akhirnya bisa berdiri. “Suami saya bertugas di lapangan, saya lebih banyak adminitrasi serta urusan di rumah tangga saya sendiri,” tuturnya saat ditemui di Ocean Resto, ruko Bandar, Jalan Jendral Sudirman, Balikpapan.

Jovinus menceritakan, ide membuka restoran, awalnya  selain keluarganya ga ada yang setuju juga sang istri. “Semua tidak setuju karena saya tidak ada back ground bidang kuliner. Tapi saya tetap menjalani visi saya,” imbuhnya.

Angley yang pernah dua tahun bekerja di salah satu bank swasta di Makassar dan melanjutkan studinya di Curtin University di Australia ini, ilmunya dimanfaatkan untuk mendukung usaha suaminya. Sebab, untuk seukuran restoran beromzet puluhan juta setiap hari, dibutuhkan ketelitian serta manajemen pengelohan yang baik dan profesional.

Tahun-demi tahun kemajuan pun tak terduga, Angley dan suami bisa membuka empat cabang lagi dan memiliki ratusan karyawan serta manajer-manajer handal. Dia pun setiap harinya harus mampu mengatur waktu mengurus seluruh kebutuhan hingga mengawasi karyawan.  Tak kalah penting, dia juga menjalankan peran sebagai istri dan ibu ketiga anak-anaknya.

“Inspirasi dari suami saya, jangan pernah mengeluh capek saat bekerja dan punya keyakinan pasti bisa berhasil. Ini juga saya terapkan pada ketiga anak saya,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Seiring waktu berjalan membangun  usaha, banyak suka dan dukanya. Dukanya, waktu untuk berdua menjadi bekurang. Sebab, Angley punya aktivitas sendiri, berbelanja memenuhi kebutuhan restoran, mengantar anak sekolah serta menemani belajar. (*/Kaltimpost.co.id)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15416-dari-nol-bangun-bisnis-kuliner.html

Sribudiawan, Pebisnis Muda di Balik Usaha Kopi Juleha, Rasa Coffee Shop, Harga Kaki Lima

Indonesia adalah negeri yang jumlah penduduknya begitu besar. Dan penduduk usia produktifnya juga tinggi. Maka dari itu, diperlukan banyak sekali lapangan pekerjaan agar semua generasi muda yang produktif ini bisa bekerja untuk Mandiri dan menggerakkan perekonomian bangsa.

Untuk itulah, muncul berbagai konsep bisnis yang berusaha menjawab tantangan ini: memberikan sebanyak mungkin lapangan pekerjaan bagi siapa saja. Salah satu yang paling memungkinkan untuk diakses oleh rakyat dari berbagai kalangan ialah bisnis yang berkonsep kemitraan mikro. Investasi yang diperlukan tidak terlalu tinggi, biaya pemeliharaannya juga tak membebani, namun menghasilkan laba yang relatif setimpal.

Konsep bisnis kemitraan mikro seperti inilah yang dicoba untuk diterapkan Sribudiawan, salah satu pebisnis muda di balik usaha Kopi Juleha. CiputraEntrepreneurship.com berkesempatan untuk mewawancarai Sribudiawan via surel dan berikut adalah petikan wawancaranya.

1. Dari mana datangnya ide Kopi Juleha ini?

Ide awalnya muncul karena seringnya saya nongkrong di warung kopi/coffee shop yang salah satunya adalah Starbucks Coffee. Hampir tiap hari saya menghabiskan waktu saya di sana. Karena seringnya nongkrong di Starbucks akhirnya saya kenal akrab dengan para barista-barista dan coffee master yang ada di sana. Saya sebetulnya bukan peminum kopi, saya berhenti minum kopi sejak 2 tahun yang lalu. Karena seringnya ngobrol dengan para barista dan coffee master di Starbucks secara tidak langsung menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang minuman khususnya Kopi. Tiba suatu hari (Mei 2011) karena Starbucks Coffee lagi ramai banget dan saya pun tidak  kebagian tempat duduk akhirnya saya nongkrongnya di taman yang kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari Starbucks Coffee.


Tidak seberapa lama duduk di taman, saya melihat segerombolan karyawan yang waktu itu mungkin lagi istirahat yang sedang memanggil seseorang yang berada di luar area taman. Karena penasaran saya pun mencoba mencari tahu. Ternyata mereka memanggil mas-mas penjual kopi seduh yang menggunakan sepeda. Karena penasaran kok banyak banget yang beli akhirnya saya pun ikut membeli 1 cup kopi panas dengan harga Rp 3000,- walaupun tau kalau saya sebetulnya gak minum kopi karena sering pusing kalau habis minum kopi.  Saya pun memandangi sekeliling saya dan cukup terkejut karena 90% orang yang ada di area taman tersebut rata-rata memegang cup minuman kopi dengan berbagai varian rasanya. Dari sinilah awal munculnya ide untuk menjual kopi. Saya pun mencoba melakukan riset kecil-kecilan dengan melakukan survey di beberapa tempat dan hasilnya menakjubkan. Pangsa pasar penikmat kopi di luar sana sangat besar khususnya pasar kaki lima.


Analisis bisnis pun saya lakukan dengan menghitung perkiraan modal, potensi penjualan perhari dan sebagainya. Akhirnya saya pun membulatkan tekad untuk buka usaha minuman kopi juga. Awalnya kepikiran untuk menjual kopi sepedaan tapi dikemas dengan konsep yang lebih higienis, profesional dan dengan harga terjangkau. Tapi karena jualan menggunakan sepeda kapasitas jualnya sangat sedikit akhirnya saya pun mengganti konsepnya dengan menggunakan Kopi gerobakan tapi dengan konsep gerobak yang berbeda dari yang lainnya. Resep, teknik penyajian dan bahan baku yang digunakan pun saya buat berbeda berdasarkan pengetahuan yang saya dapat selama ini dari teman-teman barista dan coffee master yang saya kenal. Saya mencoba mengadopsi bahan baku dan teknik penyajian minuman dari beberapa coffee shop ternama di Jakarta. Jadi boleh dibilang saya memindahkan konsep coffee shop ke pasar kaki lima. Tujuannya agar pasar kaki lima pun bisa menikmati kopi yang enak dan higienis tapi dengan harga terjangkau (di level Rp. 5000 sd 7000 per cup). Maka terciptalah usaha kecil yang bernama “Kopi Juleha”. Kenapa saya memilih nama "Juleha" karena beberapa pertimbangan yaitu menyesuaikan dengan target pasarnya yang kaki lima, mencari nama yang terkesan seksi, gampang dilafalkan dan mudah untuk diingat.


2. Bisakah digambarkan bagaimana kegiatan sehari-hari di kopi Juleha?
Kegiatan saya sehari-hari di Kopi Juleha adalah mulai dengan mempersiapkan bahan baku yang akan digunakan, meracik bahan baku, mempersiapkan peralatan  dan perlengkapan yang akan digunakan dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis. Kami pun biasanya berjualan di atas jam 5 sore sampai dengan jam 11 atau jam 12 malam. Pada saat selesai berjualan, peralatan dan perlengkapan biasanya kami bersihkan untuk kami pakai lagi keesokan harinya. Hasil penjualan pun kami coba bukukan per hari. Menu minuman yang kami jual saat ini ada beberapa varian yaitu Kopi Tarik, Teh Tarik dan Cokelat Tarik Juleha. Sehari-harinya pun kami berkoordinasi dengan para supplier untuk ketersediaan bahan baku dan yang lainnya. Saya pun saat ini akhirnya fokus diusaha ini dan meninggalkan aktivitas saya sebagai karyawan perusahaan.

3. Berapakah teman-teman yang bekerja untuk Kopi Juleha?
Ada 3 orang, semuanya mantan anak Coffee Master Jakarta.

4. Apa yang biasa dilakukan untuk memperoleh ide kreatif di sela-sela kesibukan?
Yang biasa saya lakukan adalah mengusahakan untuk selalu bangun pagi, keluar rumah untuk melihat dunia luar, menjalankan ajaran agama (sholat, sedekah, selalu berusaha berbuat baik kepada sesama dan sebagainya), selalu meminta restu dari orang tua utamanya Ibu dalam melakukan apapun. Semua hal di atas yang bisa membuat pikiran kita terbuka dan terciptalah ide-ide kreatif.

5. Apa yang mendorong untuk menekuni dunia kuliner?
Saya dibesarkan pada kehidupan yang memang sudah dekat dengan dunia kuliner. Eyang saya mantan koki, Ibu saya yang single parent dulunya memang usaha warung/kantin/catering.

6. Menurut Anda, apakah itu entrepreneur?
Menurut saya enterpreneur itu adalah orang memiliki keberanian bertindak untuk menciptakan lapangan kerja baru, keluar dari zona nyaman, berani menghadapi risiko, menjalankan usaha dengan berorientasi pada keberhasilan/keuntungan tapi dengan tetap mematuhi aturan-aturan atau kaidah yang ada.

7. Menurut Anda, bagaimana Kopi Juleha dalam 5 tahun ke depan?
Dengan modal konsep usaha yang berbeda, kreativitas, motivasi dan modal network relationship yang saya miliki saat ini, saya yakin bisa mengembangkan usaha saya ini ke arah konsep Waralaba dengan target outlet yang cukup besar (target 500 outlet).

Sribudiawan dengan Kopi Juleha-nya ini juga tak hanya ingin mencetak lebih banyak lapangan pekerjaan untuk sesamanya tetapi juga berniat membantu anak yatim dan anak usia sekolah yang tidak mampu meneruskan pendidikan karena berbagai alasan. Sebagian penerimaan dari penjualan kopi per cangkir akan disumbangkan kepada anak-anak yang kurang beruntung tersebut.(*AP)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/kuliner/15420-kopi-juleha-rasa-coffee-shop-harga-kaki-lima.html

Friday, March 23, 2012

Prayitno, Raup Puluhan Juta dari Aneka Olahan Berbahan Dasar Lele

Setiap bagian tubuh ikan lele ternyata bisa diolah menjadi aneka pangan yang enak dan bergizi. Produk olahan ini diharapkan mampu meningkatkan citra ikan lele hingga setara nila dan ikan konsumsi harian lainnya. Pecel lele, siapa tak kenal? Harga ikan lele yang murah dibanding ikan konsumsi lainnya membuat pecel lele menjadi santapan populer yang mudah ditemui di warung-warung tenda pinggir jalan di seluruh Indonesia.

Namun, apa yang kami temui di pameran Adikriya Indonesia 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) belum lama ini, sungguh berbeda. Dalam pameran tersebut, ikan lele tersaji dalam bentuk aneka camilan gurih dan renyah. Sebut saja keripik lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele (crispy fin), dan abon lele dengan pilihan rasa pedas, manis atau gurih. Aneka olahan serba lele ini dapat ditemui di stan Usaha Kecil Menengah (UKM) bernama ”alang-alang 37”.

”Kami asalnya dari Desa Tegalrejo, Boyolali,” ujar Prayitno, sang pemilik stan yang juga pembudidaya lele di Boyolali, Jawa Tengah.

Menurut Prayitno, di Tegalrejo banyak terdapat tambak atau kolam ikan lele lantaran sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pembudidaya lele. Tak heran, tahun 2006 desa ini dinamai Kampung Lele oleh Mardiyanto, gubernur Jawa Tengah saat itu.

Setahun kemudian, Kampung Lele juga mendapat kunjungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Prayitno yang memulai budidaya lele sejak 1994 mengaku sulit menghilangkan citra lele sebagai ikan kotor yang senang hidup di air kotor atau berlumpur. Dengan citra itu, sulit bagi ikan berpatil ini untuk menembus konsumen pasar modern, restoran besar, apalagi hotel.

Karena itu, salah satu cara agar pamor lele bisa naik kelas adalah melalui produk olahan berbahan dasar ikan lele. ”Pameran seperti Adikriya ini sangat bermanfaat agar aneka produk olahan lele lebih dikenal luas, sehingga citra lele sebagai ikan kotor pelan-pelan hilang. Intinya, kami ingin supaya lele naik kelas seperti nila dan ikan lainnya,” tandasnya.

Menurut Prayitno, produk olahan lele lebih menguntungkan karena harganya lebih stabil dibanding harga lele segar yang naik-turun.

Pihaknya selaku produsen lele olahan juga turut membantu para pembudidaya lele dengan menampung lele-lele segar yang tidak bisa dijual ke agen lantaran ukurannya tidak sesuai untuk konsumsi. ”Lele segar yang ditujukan untuk konsumsi langsung, misalnya untuk pecel lele, biasanya ukurannya tertentu. Jadi, ikan lele yang ukurannya terlalu besar atau kecil kami tampung untuk diolah menjadi berbagai macam produk,” beber Prayitno yang bersama keluarga besarnya mengelola 600 kolam ikan lele.

Prayitno juga tidak sendirian dalam menjalankan roda bisnis ”alang-alang 37”. Sang istri, Tri Wahyuni, yang justru sejak awal membidani aneka produk olahan lele, sementara dirinya berfokus pada budi daya ikan lele. Tri Wahyuni mengungkapkan, awal mula ia menggeluti produksi makanan olahan serbalele pada Maret 2007. Produk perdananya adalah abon ikan lele. ”Kami ingin membuat abon yang tanpa meninggalkan citra ikan itu sendiri. Kami pelajari proses pembuatannya secara autodidak, lalu dipraktikkan. Jadilah abon lele dengan citarasa enak,” ujarnya.

Sukses dengan abon dari lele, Tri mengembangkan produknya dengan memanfaatkan semua bagian tubuh lele. Mulai daging, kulit, dan sirip lele yang diolah menjadi keripik renyah hingga duri lele yang dijadikan tepung ikan. Ada pula produk terbaru, yakni ikan lele asap. Selain penambahan produk, kemasan produk pun terus berkembang. Bermula dari kemasan plastik polos, meningkat menjadi plastik tebal yang disablon, lalu berkembang menjadi kemasan karton dan aluminium foil.

Persyaratan seperti nomor izin produksi, POM, label halal, hingga komposisi dan informasi nilai gizi juga tercantum lengkap di kemasan. ”Saya bersama kelompok perajin wanita yang menekuni usaha pengolahan ikan selama ini banyak mendapat penyuluhan dari dinas terkait setempat, termasuk soal pengemasan produk. Dari LIPI juga pernah melakukan uji kandungan gizi produk olahan lele kami,” tuturnya.

Perbaikan kemasan produk lele olahan itu juga sebagai upaya menarik konsumen menengah ke atas. Alhasil, jika awalnya Tri hanya memasarkan produknya dengan cara menitipkan di warung dan toko terdekat, kini produk olahan lele ”alang-alang 37” sudah bisa ditemui di supermarket modern seperti Carrefour dan Hypermart di berbagai kota, mal besar seperti Grand Indonesia di Jakarta, hingga toko oleh-oleh di Bandara Adisumarmo, Solo.

Dengan dibantu 12 karyawan, saat ini ”alang-alang 37” mampu memproduksi olahan lele hingga 1,6 ton per bulan. Proses produksi dilakukan di dua lokasi workshop, yakni di Desa Tegalrejo dan Ringinsari, Boyolali. Omzet pun perlahan meningkat menjadi sekitar Rp30 juta–40 juta per bulan. (*/Harian Seputar Indonesia)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis/makanan.html

Dede Suleiman, Pengusaha Muda Sukses Lewat Bisnis Kuliner 'My Bento' yang Kini Punya Puluhan Gerai

Dalam menghadapi persaingan bisnis, seorang entrepreneur harus cermat dalam membidik pasar yang sesuai dengan produk yang ditawarkannya. Dengan konsisten dalam menggali pasar yang telah ditentukan, sebuah bisnis bisa bertahan untuk bersaing dengan kompetitor bisnis sejenis yang telah mapan. Hal itulah yang menjadi startegi My Bento, untuk bersaing di ketatnya kompetisi bisnis kuliner di Indoensia. Dengan mengusung produk makanan Jepang, My Bento memilih untuk fokus menggarap pasar menengah ke bawah sebagai sasaran pembeli potensial.

Dengan jargon usaha “makan hemat makin dekat”, My Bento berharap agar produknya bisa tersebar hingga ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Selain itu, dengan mematok harga jual yang tidak terlalu mahal, My Bento ingin agar masakan Jepang bisa menjadi salah satu makanan rakyat, yang terjangkau oleh semua golongan dan bisa diperoleh di mana saja. Selain harga yang murah meriah, My Bento pun ingin mengkampanyekan menu masakan Jepang yang menggunakan bahan baku 100% halal.

Kini, My Bento telah memiliki lebih dari 50 gerai di seluruh Indonesia. My Bento pun makin dikenal sebagai salah makanan cepat saji yang ramah dalam harga dan digemari dari segi rasa, khususnya di kalangan anak muda. Namun, siapa sangka jika bisnis ini awalnya lahir dari sebuah praktikum matakuliah yang diarsiteki oleh 4 orang mahasiswa?

Bermula saat Dede Suleiman dan empat orang rekannya mendapatkan sebuah tugas kuliah untuk membuka dan menjalankan sebuah usaha, tahun 2006. Pria yang kini baru berusia 26 tahun ini mengaku ingin total dalam menciptakan sebuah peluang bisnis baru, dan ingin sungguh-sungguh meneruskan bisnis tersebut. Ia pun melihat bahwa bisnis makanan Jepang cukup potensial untuk serius digarap.

“Awalnya memang tugas mata kuliah kewirausahaan yang mengharuskan kami untuk membuat suatu bisnis. Namun, kami harus mencari modal sendiri untuk usaha tersebut. Karena sudah mengeluarkan modal yang buat saya tidak sedikit, maka saya rasa sayang jika usaha ini tidak kami seriusi. Karena satu dari kami bisa memasak, maka kami memilih untuk mencoba bisnis kuliner, khususnya masakan Jepang. Apalagi saat itu tidak banyak bisnis kuliner Jepang yang ada,” Ungkap Dede saat berbincang dengan Ciputraentrepreneurship.com, di salah satu gerainya di Bintaro, Tangerang Selatan.

Nama My Bento dipilih karena memiliki arti “bekal saya”. Dengan demikian, Dede dan teman-temannya berharap suatu saat nanti bisnis ini bisa menjadi bekal dan rezeki yang baik di masa depan. Sadar bahwa sudah ada kompetitor produk sejenis yang telah jauh mapan, My Bento pun merancang strategi pasar dengan membidik golongan menengah ke bawah sebagai calon konsumen potensial. Dede berpendapat, saat itu restoran makanan Jepang hanya bisa ditemui di kota-kota besar saja, dan dibeli oleh orang-orang tertentu saja. Melihat peluang tersebut, My Bento pun ingin menciptakan citra makanan Jepang yang merakyat.

”Saat ini bisnis makanan Jepang yang ada, selalu memfokuskan pada pasar menengah ke atas dan ke kota-kota besar. Nah kami lalu melihat pasar masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil, ternyata juga menyukai jenis makanan Jepang. Dari saya saya melihat sangat potensial jika kami mendekatkan produk kami ke mereka, terjangkau, dari segi tempat dan harga,” jelas Dede.

Sebagai sebuah proyek perkuliahan, Dede dan ketiga rekannya memang tidak memiliki modal yang besar saat memulai usaha. Dengan modal Rp 15 juta, Dede pun mulai usahanya dengan sangat sederhana, di daerah Lampung. Itupun dengan menggunakan ruko milik kerabat salah satu rekannya. Pada tahun pertama menjalankan bisnisnya, Dede pun hampir mengalami kebangkrutan, dan akhirnya dua orang rekannya mundur dari usaha My Bento, dengan alasan ingin berkarier sebagai karyawan. Menghadapi kondisi tersebut, Dede mengaku tak patah arang. Ia merasa bisnis yang dijalaninya adalah sebuah pertaruhan karier dan masa depannya. Ia pun memilih untuk tetap berjuang menjalankan bisnisnya.

“Ketakutan-ketakutan muncul ketika mulai sepi. Seandainya saya tidak bisa mengganti uang modal yang saya pinjam dari orangtua, pasti orangtua saya tidak akan mendukung langkah saya sebagai pebisnis. Karena dari awal memang orangtua saya sudah tidak setuju bila saya terjun ke dunia bisnis. Sebuah pertaruhan harga diri. Toh saat itu saya belum mempunyai tanggungan apapun, dan saya masih berstatus mahasiswa. Jika sampai saya lulus, bisnis saya belum berhasil, saya siap banting stir menjadi pegawai. Namun saya dan teman saya sampai sejauh ini bisa membuktikan bahwa kami bisa bertahan menjalankan bisnis My Bento,” sambung Dede.

Demi memajukan usahanya, My Bento pun kini memilih jalur waralaba dengan sasaran mitra di daerah. Dengan pilihan paket mulai dari Rp 21 juta sampai dengan Rp 250 juta, calon mitra bisa memilih untuk menjalankan usaha My Bento mulai dari paket sederhana hingga premium. Selain itu, My Bento pun menstandarkan gerai mereka dalam bentuk permanen, agar bisa memberikan kenyamanan pada konsumen. Dari segi menu, My Bento juga menawarkan menu Jepang yang otentik dan memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Unilever, untuk menstandarkan racikan bumbu yang dipakai. Dengan cara tersebut, My Bento pun mulai dikenal sebagai makanan murah namun berkualitas.

Dengan bisnis yang terus berkembang, kedepannya My Bento menargetkan bisa membuka 10 gerai per tahunnya. Selain itu dalam waktu dekat ini, My Bento juga membidik pasar di wilayah Indonesia bagian timur sebagai target ekspansi usaha.

“Kami ingin agar My Bento bisa sampai ke tiap provinsi di Indonesia. Khususnya untuk daerah seperti Ambon, Sulawesi, dan Papua, yang rencananya akan segera kami dekati berikutnya. Setelah ambisi kami tercapai, selanjutnya bukan tidak mungkin kalau brand kami bisa menembus pasar Mancanegara, khususnya Negara-negara tetangga kita,” ujar Dede.

Di usianya yang masih sangat muda, Dede telah membuktikan bahwa seorang entrepreneur bisa bertahan menjalankan bisnisnya jika ada dedikasi dan konsisten menjalankan bisnisnya. Terlebih bagi anak muda yang memilih jalan hidup menjadi seorang wirausahawan, yang seringkali patah arang dalam menghadapi cobaan dalam bisnisnya.

“Secara umum, bila kita telah memilih sebuah usaha untuk dijalankan, kita harus bisa konsisten dalam mengembangkan usaha tersebut. Seorang wirausahawan harus memiliki dedikasi tinggi terhadap bisnis yang ia telah jalankan. Jangan pernah takut terhadap halangan, karena tidak ada bisnis yang tampa halangan. Masalahnya hanyalah bagaimana kita bisa menghadapi halangan tersebut,” ucap Dede dengan yakin. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=8

Syahrial Yusuf, Sukses Lewat Lembaga Pendidikan LP3I dengan Puluhan Cabang Kampus

Menjalani panggilan hidup sebagai seorang entrepreneur, seringkali merupakan bentuk dari tanggung jawab moral seorang pengusaha di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Terlebih lagi bagi entrepreneur yang bergerak di bidang pendidikan. Selain faktor bisnis, tentu saja mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan tenaga kerja yang siap diserap oleh beragam industri, atau mendidik calon-calon entrepreneur muda untuk siap berbisnis.

Hal itulah yang kemudian mendorong Syahrial Yusuf untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan LP3I, yang menfokuskan diri untuk menciptakan lulusan yang terampil, siap kerja, atau siap menjadi seorang entrepreneur. Kini, LP3I telah melebarkan sayap dengan memiliki 48 lokasi kampus di seluruh Indonesia. Pencapaiannya pun terbilang sangat baik, yaitu dengan mencetak 95% lulusan yang langsung mendapatkan tempat untuk bekerja. LP3I pun makin mengukuhkan diri sebagai lembaga pendidikan yang sejak tahun 1995, konsisten menjaminkan lapangan pekerjaan kepada para siswanya.

Sebagai seorang entrepreneur yang kini telah sukses, Syahrial Yusuf banyak belajar dari pengalaman hidupnya sebagai mahasiswa rantau yang harus mencari biaya kuliahnya sendiri. Pria asal Medan, Sumatra Utara, yang merupakan alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran, ini mengaku harus kuliah sambil kerja demi memenuhi kebutuhannya di Bandung. Dari sanalah, Syahrial mulai mengenal sistem manajemen dalam sebuah perusahaan.

“Saya memulai bekerja saat kuliah, sebagai tenaga serabutan di sebuah bengkel. Lalu karena potensi saya, karir saya disana cukup baik. Dua bulan saya jadi staf pembukuan, lalu kabag pembukuan, dan tak lama saya jadi direktur keuangan. Jadi dalam waktu 8 bulan, saya sudah menjadi wakil direktur yang membawahi 40-an karyawan. Itu membuat saya percaya diri karena waktu itu usia saya baru 19 tahun,” kenang Syahrial saat berbincang dengan Ciputraentrepreneurship.com, di kantornya di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Setelah satu tahun bekerja, Syahrial mulai tertarik untuk mengembangkan relasi di dunia kemahasiswaan dengan terjun menjadi seorang aktifis di salah satu badan kemahasiswaan. Di sanalah Syahrial mulai menemukan jati diri dan idealismenya, khususnya di bidang pendidikan. Ia melihat, potensi besar mahasiswa saat itu kurang bisa diwadahi oleh pemerintah, sehingga munculah pengangguran dalam jumlah yang signifikan. Dari sanalah ia mulai bertekad untuk menjadi seorang entrepreneur.

Langkah awal yang dipilih Syahrial untuk menjadi seorang entrepreneur adalah dengan mengelola unit koperasi mahasiswa (Kopma) yang ada di kampusnya. Dengan berstatus mahasiswa UNPAD, Syahrial pun mulai mengembangkan potensi ekonomi Mandiri di lingkungan kampus.

“Saat mengurusi Kopma Unpad, saya memperbaiki system yang ada saat itu hingga akhirnya sedikit demi sedikit, Kopma Unpad mulai menghasilkan untung. Dengan lobi yang saya lakukan saat itu, sayapun menjalankan berbagai bisnis, mulai dari penyediaan toga untuk wisudawan, fotocopy, jaket Unpad, hingga mendirikan lembaga pendidikan komputer. Jumlah karyawan yang saya rekrut pun hingga 30-an orang. Dalam waktu 1 tahun, waktu itu Kopma Unpad menghasilkan keuntungan hingga Rp 25 juta,” ujar Syahrial.

Sebagai seorang mahasiswa, Syahrial melihat bisnis yang ia jalankan adalah bentuk dari protesnya terhadap pemerintah yang ia anggap tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi sarjana. Ia pun menilai bahwa kurikulum yang ada saat itu tidak dilengkapi dengan soft skill, atau juga ilmu kewirausahaan yang bisa membuat para calon sarjana bisa Mandiri berusaha.

Yakin dengan jalan hidupnya sebagai seorang entrepreneur, Syahrial pun memilih jalur bisnis pendidikan sebagai peluang usaha. Dengan mengusung idealisme yang tinggi dalam mengurangi pengangguran, Syahrial pun fokus untuk mendidik SDM yang terampil dan siap bekerja. Pada tahun 1989 ia pun mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), dan mengandalkan kurikulum yang disesuaikan dengan lapangan kerja (link and match antara dunia pendidikan dan usaha di Indonesia).

Di tiga tahun awal berdirinya LP3I, Syahrial melewati jalan terjal dalam membangun usaha pendidikannya. Ia mengaku terlalu fokus menjalankan idialismenya dalam mencetak lulusan yang berkwalitas, dan melupakan faktor bisnis yang merupakan tulang punggung penyangga idealismenya.

“Awalnya saya terlalu idealis menjalankan bisnis saya. Saya tak terlalu mengejar profit. Hal itu membuat saya kadang kesulitan untuk membayar karyawan saya. Tak jarang saya pun harus meminjam uang dari kerabat saya, agar bisa mempertahankan lembaga pendidikan ini. Setelah memasuki tahun ke-4, saya pun sadar jika bisnis pendidikan ini harus juga mendatangkan profit yang baik agar kualitas pendidikan yang kami berikan juga baik. Saya pun mulai dengan membangun cabang, dan cari mitra yang bisa memberikan modal,” jelas Syahrial.

Setelah lebih dari 20 tahun terkenal sebagai lembaga pendidikan penyedia tenaga terampil yang siap kerja, kini LP3I mulai serius membidik sektor entrepreneurship dengan proporsi target lulusan, 30% menjadi pengusaha dan 70% menjadi tenaga terampil. Untuk mencapai target tersebut, LP3I kini mulai mengembangkan beragam laboratorium (inkubator) usaha dan mempererat relasi di dunia kewirausahaan.

Atas pencapaiannya, beragam penghargaan pun telah diperoleh. Namun, bagi Syahrial kebanggaan terbesar adalah saat ia melihat anak didiknya menjadi orang yang sukses, baik sebagai pengusaha atau sebagai karyawan. Sebuah ibadah, yang tulus dijalankan lewat pengabdiannya sebagai seorang pendidik.

“Saya pernah punya murid, dia sarjan kami, yang lulus dan menjadi pegawai di Bank Indonesia. Dari ratusan pelamar dari beragam universitas yang terkenal, murid saya bisa lolos menjadi pegawai. Yang membuat saya terkesan adalah latar belakang murid saya yang datang dari keluarga yang kurang mampu. Dari enam ribu pelamar, hanya enam puluh yang diterima,” ujar Syahrial sambil tersenyum. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=7

Donny Pramono, Entrepreneur Muda Pendiri Sour Sally yang Cabangnya Sudah di Singapura

Ini dia Sally, gadis manis berkepang dua yang terpampang di semua produk Sour Sally. Seiring bertambahnya penggila froyo, Sally semakin terkenal

Yoghurt kini tampil lebih cantik dan sehat dalam kemasan froyo alias frozen yoghurt. Tak ayal, ia digemari banyak orang dan bisnisnya makin digandrungi.

Dari Hobi Lahirlah Sally
Gadis itu berkepang dua dengan dress mini berwarna hitam. Matanya melirik, menggoda siapa pun yang melewatinya. Namanya Sally. Dialah ikon dari butik frozen yoghurt (froyo) Sour Sally yang belakangan ini sedang naik daun. Bisnis yang dimulai dari hobi pemiliknya, Donny Pramono. “Saya memang hobi makan yogurt. Seminggu bisa makan lima kali.”

Kegemaran Donny makin tersalurkan saat ia kuliah di Los Angeles (LA), Amerika Serikat. Maklum, di sana banyak gerai penjual yogurt, Tempat itu kerap dijadikan tempat ngumpul Donny dan teman-temannya. “Akhirnya terinspirasi membuat brand yang bisa go international, dimulai di Indonesia,” urainya.

Untuk mewujudkan itu, selama di LA, Donny rajin mencoba membuat froyo. Apartemen adiknya, Darwis Pramono pun dijadikan tempat eksperimen. Mesin pembuat froyo yang disewanya, disimpan di sana. Lantaran listrik tak mencukupi, ia harus menyewa genset. Tapi, untuk menghidupkan genset, Donny harus main kucing-kucingan dengan tetangganya. “Sebelum jam 5, kami harus sudah selesai, karena tetangga sudah pulang kantor,” kata pria kelahiran 30 September 1982 ini.

Lewat riset itu, penggemar futsal ini menemukan citarasa froyo yang diinginkan. “Rasa harus disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Di Amerika, lebih milky (kental susunya) dan kecut. Kalau di sini, seimbang antara kecut dan manis.” Formula itu yang akhirnya dibawa pulang ke Indonesia di akhir 2007.

Lantas anak pasangan Suwitno Pramono dan Elien Limuwa ini mengajak sepupunya yang sudah malang melintang di dunia bisnis kuliner, Telly Limbara. Telly sepaham lantaran konsep bisnis Donny dinilai menarik. Modal awal pun mereka gelontorkan.

Donny dan Telly tak main-main. Untuk memulai bisnis ini, mereka juga menyewa konsultan brand profesional. Dari situ lahirlah Sour Sally. “Sour itu artinya kecut dan Sally itu nama cewek manis,” kata Donny. Desain interiornya pun sengaja dibuat kental dengan warna khas perempuan. Tengok saja dominasi warna hijau muda yang segar dan kursi-kursi empuk dengan warna pastel pada gerainya. Begitu pula dengan pegawainya, terutama yang perempuan, mereka tampil persis dengan Sally yang chic.

Gerai pertama Sour Sally dibuka di Senayan City, pada 15 Mei 2008. Dalam dua bulan, Sour Sally menjadi buah bibir. Antreannya bahkan pernah meluber hingga ke luar gerai. Sekarang ini sudah ada sepuluh gerai di ibu kota. “Hari biasa, pengunjung bisa ratusan. Kalau akhir pekan, beberapa outlet bisa dikunjungi ribuan pembeli,” urai alumni Penn State University.

Di Sour Sally tersedia tiga rasa yaitu plain yang seimbang manis dan kecutnya, green tea yang lebih kecut, pinklicious yang lebih manis. Topping-nya beragam, dari buah-buahan, hing­ga mochi, kenari, atau sereal. “Sampai sekarang ada 20 topping tapi masih banyak Sour Sally Lovers (sebutan konsumen) yang belum mencoba,” ucapnya yang bisnisnya sempat dikira franchise.

Sekarang, malah sudah tersedia waffle yang dibubuhi froyo dan topping bernama Pinklicious Waffle. Celah inilah yang sekarang sedang digali oleh Sour Sally. Karena bagi Donny, “Setiap orang mempunyai selera sendiri dan kami ingin memuaskan semuanya.” Dengan aneka macam froyo, topping, hingga menu yang beragam, tak heran jika Sour Sally selalu dipenuhi tua muda pria wanita setiap harinya.

Pada tahun 2010 dibuka cabang Sour Sally pertama di luar negeri, yaitu di Singapura, tepatnya di Wisma Atria Shopping Center, #B1-47, kini ada dua cabang di Singapura. Sedangkan di Indonesia cabangnya tersebar di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Bali, Semarang. Omset tahunannya kini mencapai puluhan miliar. (Astrid Isnawati)

sumber: http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Peristiwa/Si-Manis-Kecut-Yang-Bikin-Kepincut-1

Subagio, Dalam Tiga Tahun Gerai Donat dan Kopi 'Double Dipps'-nya Sudah Seratus Gerai

Menjalankan sebuah bisnis, apapun jenis bisnisnya, memang memerlukan perencanaan yang sangat matang. Dengan perencanaan yang matang pula, seorang entrepreneur bisa mengolah sebuah peluang bisnis yang ada, menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Konsep itulah yang selalu dipegang oleh B. Subagio Hadiwidjojo, seorang entrepreneur yang bergerak di bidang food and beverages untuk kategori Donuts and Coffee, dengan brand Double Dipps. Kini dengan sistem waralaba yang dikembangkannya, Double Dipps telah memiliki lebih dari 100 gerai diseluruh Indonesia, hanya dalam waktu tiga tahun saja!

 

Jalan hidup menjadi seorang entrepreneur memang sudah menjadi cita-cita pria yang lahir di Tulung Agung, Jawa Timur, tahun 1964. Menjadi anak laki-laki pertama dikeluarganya, membuat Subagio sudah merasakan tanggung jawab yang besar untuk menghidupi keluarga, terutama dua orang adiknya. Terlebih lagi saat ia harus kehilangan sang ayah saat ia menginjak kelas dua SMP.

 

“Saya harus berfikir tidak untuk diri saya saja, tetapi bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya. Kalau saya dulu kerja ikut orang, saya mungkin bisa menghidupi diri saya sendiri. Tapi kenyataannya, saya harus menghidupi juga adik-adik saya. Jadi tekat saya bulat untuk menjadi seorang entrepreneur. Lalu setelah SMA, saya ambil S1 tehnik sipil dan bekerja sebagai seorang kontraktor,” kenang Subagio, saat menceritakan masa mudanya.

 

Sebagai seorang kontraktor, Subagiopun sudah terbiasa bekerja dengan konsep dan perencanaan yang matang. Pria yang mengidolakan Ir. Ciputra inipun mulai merancang mimpinya menjadi seorang wirausahawan dengan memulai bisnis kecil kecilan dibidang property. Baginya, konsep yang matang dalam berbisnis adalah kunci sukses seorang enterepreneur dalam menjalankan bisnisnya, terlepas bisnis apapun yang ia jalankan.

 

“Saya melihat ini suatu peluang, kalau peluangkan tidak harus sama dengan latar belakang yang kita punya. Yang penting kita punya konsep yang tepat untuk menjalankannya. Dengan konsep yang kuat, kita bisa mempekerjakan tim yang tepat, agar bisnis kita bisa berjalan baik. Itu mengapa saya awalnya terjun di bisnis donat dan kopi, yang memang jauh dari latar belakang saya sebagai seorang kontraktor,” lanjut Subagio.

 

Dalam menjalankan bisnisnya, Subagio pun tak lepas dari sebuah kegagalan. Baginya bisnis memang perlu melewati prosestrial and error, sebelum akhirnya mencapai kesuksesan. “Kalau bicara kegagalan, itu sudah merupakan makanan sehari-hari. Untuk sukses, kita harus terlebih dahulu melalui beberapa fase yang bisa membuat diri kita lebih dewasa. kalau diawal, karena kita ga punya modal, kita harus tunjukan kepada orang bahwa kita punya keahlian dan kejujuran. dari kejujuran itu, orang akan mulai percaya kepada kita. dari sana kita harus bina networking kita agar makin banyak relasi yang mempercayai kita untuk bekerjasama,” ujarnya.

 

Dalam menjalani bisnis donatnya, Subagio tergolong cukup senior, karena ia memulai bisnis ini disaat telah menginjak usia 40 tahun. Namun, hal itu tak membuatnya merasa kalah dari pebisnis lain yang usianya jauh lebih muda darinya. Justru sebaliknya, ia merasa usianya adalah usia yang tepat baginya untuk bersaing di bisnis food and beverages.

 

Diusianya yang telah matang dan pengalaman 20 tahun dibisnis property, ia pun sudah siap secara mental dan jam terbang, sebagai seorang enterepreneur. Baginya, pengalmanannya sebagai kontraktor telah menempa mentalnya, dan memberinya networking yang luas dikalangan pebisnis. Baginya, sebagai wirausahawan, seseorang harus bisa menjadi orang yang bisa dipercaya baik secara kemampuannya berbisnis maupun kejujurannya dalam menjalankan usaha. Hal itu nantinya akan memudahkannya untuk bisa menjalankan bisnis apapun, dan melewati kesulitan yang beragam dalam menjaga kelangsungan bisnisnya.

 

“Saya bangga memulai usaha di atas kepala empat, karena track record saya sudah kelihatan di luar, nama baik saya sudah cukup dipercaya. Bagi saya itu faktor kunci yang tidak bisa ditukar dengan apapun,” ungkap Subagio.

 

Sebagai enterepreneur yang cukup senior, pria yang juga sedang mengembangkan waralaba dibidang property inipun ingin agar bisnisnya bisa memotifasi orang lain untuk bisa terjun menjadi wirausahawan. Diapun yakin, dengan makin berkembangnya bisnis waralaba di Indonesia, akan membuka mata banyak orang tentang peluang bisnis dibidang kewirausahaan. Baginya, sebagai seorang wirausahawan, tantangan terbesar adalah bagaimana dirinya bisa menciptakan entrepreneur-enterepreneur baru. Jadi bukan hanya fokus terhadap bisnis yang digeluti saja, tapi seorangentrepreneur pun harus bisa menumbuhkan jiwa kewirausahaan lewat produk yang ia pasarkan.

 

Bagi Subagio, menjadi pengusaha adalah sebuah mimpi yang harus diraih. “Untuk jadi pengusaha itu kita harus punya impian. Seorang pengusaha akan sukses jika memiliki visi yang jelas dari bisnisnya. Lalu kita harus punya hasrat, itulah yang akan membuat kita semangat untuk mengejar mimpi kita. Selanjutnya, kita harus kerja keras dengan semangat yang juga tinggi. Terakhir, jangan lupa berdoa karena bagaimanapun Tuhanlah yang memberi kita jalan yang terbaik,” ujarnya, menutup perbincangan. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=6

Soegianto Pendiri Sedapur.com, Keluar Dari Zona Nyaman Sebagai Karyawan Demi Mengejar Impian Menjadi Social Entrepreneur

Berbekal keinginan untuk memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang di sekitarnya, Soegianto meninggalkan zona nyamannya sebagai seorang karyawan menuju ranah baru yang lebih sesuai panggilan hatinya: entrepreneurship sosial.

Saat Anda pertama kali menemui Soegianto, yang akrab disapa Soegia, tampak seseorang yang berperangai tenang, tipikal seseorang dengan kepribadian  pendiam. Namun jangan salah sangka, saat Anda terus berinteraksi dengannya, Anda akan tahu bahwa anak muda pendiam ini bisa berubah begitu antusias dan banyak bicara bahkan hingga menggebu-gebu saat diajak berbicara mengenai dunia entrepreneurship sosial dan bisnis barunya, Sedapur.com.

Sedapur merupakan bisnis baru yang digagas Soetrisno (kakak) dan Soegianto yang baru saja berdiri tahun lalu. Bisnis ini bergerak dalam bidang e-commerce dalam bidang makanan. Menurutnya, e-commerce dalam dunia kuliner memiliki kekhasan sendiri karena Indonesia menyimpan potensi kekayaan kuliner yang begitu tinggi.

Ditemui CiputraEntrepreneurship.com dalam sebuah wawancara kemarin siang (26/10/2011) di kawasan Casablanca, pendiri Sedapur.com ini tampak asyik dengan ponsel pintar dan tablet PC-nya. Tak heran karena selain memiliki passion dalam dunia kuliner, ia juga mengakrabi teknopreneurship. Berikut adalah cuplikan wawancara yang berlangsung hangat  kemarin.

Sedang sibuk dengan kegiatan apa sekarang?
Baru-baru ini kami mengikuti dan menang di Nokia Entrepreneur Fellowship. Kami sebagai pemenang akan mendapatkan peluang untuk berkunjung ke Inggris, untuk mengikuti semacam bootcamp yang diadakan bersamaan dengan “Entrepreneurs Day” di sana. Ini kesempatan bagus karena sejumlah peserta dari Silicon Valley juga akan hadir.

Entrepreneurship sosial (social entrepreneurship) adalah bidang yang Soegia geluti. Menurut Soegia apa itu entrepreneurship sosial?
Pertumbuhan bisnis yang juga membawa ekosistemnya bertumbuh. Jadi tidak hanya tumbuh sendiri menjulang tetapi ekosistemnya juga tumbuh bersamaan. Dan yang paling saya sukai dalam entrepreneurship sosial adalah bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) sudah menyatu dan menjadi urat nadi perusahaan, bukan hanya sebuah bagian kecil dari upaya pemenuhan kewajiban pemerintah dalam bidang sosial. Pertumbuhan bisnis dengan begitu tidak hanya diukur dari jumlah uang yang masuk saja tetapi juga seberapa besar perusahaan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya.

Apa yang membuat mas tertarik menekuni entrepreneurship sosial?
Awalnya saya membaca koran dan saya baca bahwa ada ratusan anak kurang gizi di Jakarta Utara. Saya yang tumbuh dan tinggal di Jakarta merasa hal ini merupakan sebuah tamparan. Bagaimana saya yang tinggal di Jakarta selama bertahun-tahun sejak lahir tidak mengetahui kenyataan menyedihkan yang terjadi di sekitar saya? Saya terpikir untuk memberi makanan pada mereka. Saya terinspirasi oleh ajaran dalam agama saya, bahwa untuk memberikan kontribusi yang nyata dalam masyarakat hanya perlu dilakukan dengan memberdayakan apa yang kita miliki semaksimal mungkin. Meskipun secara logika kita tidak mungkin membantu menyelesaikan masalah orang lain, dengan bantuan Tuhan semua bisa terjadi jika dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Bisa Soegia jelaskan apa yang harus dilakukan seorang ibu rumah tangga untuk bergabung dengan Sedapur.com?

Mereka bisa mendaftar di situs sedapur.com atau menghubungi kami via telepon. Kami juga bertindak sebagai konsultan yang berusaha memahami masalah-masalah yang mereka hadapi. Kebanyakan mereka merasa kesulitan dengan pengantaran, produk yang tidak terfoto dengan baik, dan sebagainya. Jika mereka memberikan foto produk yang seadanya, kami akan bantu dengan melakukan foto ulang dengan hasil yang lebih profesional sehingga akan lebih menarik konsumen.

Berapa orang yang ada dalam tim Sedapur.com sekarang ini?
Kami satu admin, 2 marketing consultant, 2 pengembang situs. Setiap industri rumah tangga akan memiliki toko/ gerai di Sedapur.com tetapi sebelum itu akan dibantu agar produknya lebih layak jual di Sedapur. Pendiri Sedapur adalah Soetrisno, saya, Hadiyanto, Jacky Lokan, Adam Jaya Putra dan Didik Wicakasono.

Tentang perpindahan dari fase karyawan menuju entrepreneur, bagaimana Soegia dulu menjalani transisi tersebut?
Sebelum saya menjalankan Sedapur, saya bekerja selama 6 tahun di perusahaan lain. Beberapa tahun lalu saat saya berusia 29 tahun, saya  merasa terpanggil untuk mewujudkan impian yang bisa membantu saya di luar dunia pekerjaan sebagai karyawan, saya tidak mau menyesal suatu hari nanti karena tidak sempat mengejar impian itu. Saya saat itu tertarik untuk mengerjakan sebuah proyek sosial, membuat SOP pipa air untuk sebuah daerah di Gunung Kidul. Di sana, di luar tembok kantor saya berusaha memahami apa yang ingin saya kejar dalam hidup.

Yang menarik adalah saya dulu menabung untuk biaya pendidikan S2 saya. Dan kemudian karena saya ingin menekuni usaha ini, saya curahkan semua tabungan itu ke Sedapur. Jadi bisa dikatakan dua tahun saya selama ini di Sedapur setara dengan dua tahun menempuh pendidikan di bangku kuliah formal. Bedanya, saya tidak memiliki gelar akademis layaknya lulusan S2 tetapi saya memiliki sebuah usaha dan saya berhak disebut entrepreneur.

Selain dalam bisnis kuliner, ada bidang lain yang ditekuni?
Selama ini saya suka dengan dunia teknologi bahkan sejak sekolah dasar. Sayang saya tidak bisa mengikuti pendidikan di bidang itu saat kuliah.
Tetapi  pada suatu hari kakak saya memberikan sebuah modal usaha. Saya pikir saya akan diberi modal uang, ternyata saya diberi sebuah blog. Kata kakak saya, “Kamu punya visi, tulis di blog agar tidak hilang, dan bisa tersampaikan dan tersebar ke orang lain.” Saya yang saat itu belum tahu apa itu blog dan Wordpress, akhirnya terpaksa belajar mengenai dunia blogging. Hal ini pada gilirannya mendorong saya untuk menjadi seorang teknopreneur.

Pesan untuk mereka yang ingin memulai usaha sendiri?
Yang selama ini saya telah pelajari, saya tahu bahwa ide itu murah. Yang mahal adalah eksekusinya. Teruslah bermimpi. Dan beranikan diri untuk menjadi pengeksekusi, bukan pemimpi.
Buktinya ide Sedapur ini saya pikir adalah ide yang localized, hanya ada di sini. Tetapi setelah saya  baca, di luar negeri juga ada usaha semacam ini. Hanya bedanya mereka lebih menjurus ke hasil pertanian, sementara Sedapur lebih fokus  ke masakan jadi.
Jadi meskipun kami dan mereka berada di tempat yang berbeda dan memiliki budaya yang berbeda, ide itu bisa sama persis. Yang membedakan hanyalah bagaimana realisasinya. Tidak ada ide yang 100% baru, yang ada hanyalah seberapa maksimal kita mampu mengeksekusinya.

Punyakah Soegia figur entrepreneur yang menginspirasi?
Sosok yang paling dekat yang paling menginspirasi saya adalah ayah dan kakak saya, Soetrisno. Ayah saya adalah wirausahawan yang tangguh, mengalami jatuh bangun beberapa kali dalam krisis-krisis, toh masih terus bangkit. “Kerja bagus saja tidak cukup!” begitu ayah saya selalu katakan. Meski bangga dengan apa yang saya kerjakan sekarang (menjadi entrepreneur), ayah saya awalnya kurang setuju dengan Sedapur karena terlalu idealis dan memikirkan orang lain. Kakak saya sendiri ialah orang yang mencetuskan dan mengajak saya untuk menggarap ide Sedapur ini. Figur entrepreneur inspiratif lainnya ialah Ir. Ciputra.

Apa yang membuat Anda menikmati dunia entrepreneurship?
Dahulu semasa menjadi karyawan, saya tidak pernah atau jarang sekali bertemu dan berbincang-bincang dengan banyak pebisnis hebat. Mereka kemungkinan kecil bisa saya temui karena kesibukan yang begitu menyita waktu. Tetapi justru setelah saya menjadi entrepreneur seperti sekarang, saya menyadari saya justru bisa berkomunikasi dengan mereka lebih leluasa. Saya seperti diantarkan menuju sebuah cakrawala baru dalam hidup. (*/Akhlis)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=4

Wahyu Aditya, Memutuskan Berhenti Jadi Karyawan dan Kini Sukses di Bisnis Multimedia Lewat HelloMotion

Industri kreatif, khususnya animasi, saat ini memang belum terlalu populer sebagai sebuah peluang bisnis di Indonesia. Namun, bukan berarti industri keratif kurang diminati oleh masyarakat, khususnya kaum muda. Dengan makin berkembangnya teknologi yang ada, maka makin tinggi pula minat dan peluang bisnis yang bisa ditawarkan oleh industri kreatif.

Hal itulah yang coba digarap oleh Wahyu Aditya, seorang entrepreneur muda yang bergerak dibidang bisnis kreatif, khususnya animasi. Melalui ranah multimedia, Adit, begitu ia biasa disapa, mencoba untuk memopulerkan animasi dan mengembangkan potensi diri kaum muda yang tertarik menjadi seorang animator. Dengan ketekunannya, Adit yang juga pemilik dan pendiri HelloMotion Academy telah menularkan “virus” kreatif kepada para siswa didiknya, yang bisa menjadi bekal sang siswa berkarir di industri kreatif.

Sejak kecil, Adit memang telah jatuh cinta terhadap dunia menggambar dan desain. Ia pun makin serius mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer dengan mengambil jurusan desain dan multimedia, di salah satu universitas di Australia. Pulang ke Indonesia dengan membawa predikat mahasiswa terbaik, Adit lantas memilih untuk berkarier di Trans TV sebagai salah satu staf marketing promosi, yang menvisualisasikan ide dalam bentuk cetak maupun broadcast.

Saat bekerja di stasiun televisi itulah Adit melihat besarnya peluang untuk mengembangkan industri animasi di Indonesia. Menurutnya, saat itu tidak terlalu banyak institusi pendidikan kreatif yang sesuai dengan jiwa anak muda, seperti dirinya. Padahal, peluang untuk berkarier di bidang animasi masih cukup besar dan itu bisa menjadi peluang bisnis yang baru.

“Ambisi saya ingin mengembangkan industri kreatif, khususnya animasi di Indoensia. Ketika saya bekerja di stasiun TV, saya melihat namimasi Indonesia di layar kaca kurang banyak. Jadi saya harus memperbanyak orang yang paham animasi. Semakin banyak yang mengerti, akan semakin banyak lagi karya animasi di Indonesia. Saya punya imajinasi dan khayalan, yang jika saya kerja di kantoran akan terbentur dengan kepentingan perusahaan,” ucap Aditya saat dijumpai Ciputraentrepreneurship.com di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Dengan bermodal tekad yang bulat, pada tahun 2004, Adit pun berhenti bekerja dan fokus menjalankan sekolah animasinya HelloMotion Academy. Sebagai seorang pekerja seni yang masih berusia sangat muda saat itu (24 tahun), Adit mengaku nekat saat awal membuka bisnisnya. Hal itu karena ia sama sekali tidak mempunyai pengalaman berbisnis, dan ia juga harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit, Rp. 400 juta, untuk memulai usahanya.

“Awalnya, saya kelola sendiri usaha saya. Usia saya yang masih muda dan status saya yang masih lajang, membuat saya berani untuk terjun ke bisnis ini. Setelah saya menjadi seorang wirausahawan, saya pun harus melahap ilmu-ilmu yang dulu saya benci seperti ekonomi, akutansi dan manajemen. Bagi saya, itu juga salah satu bentuk kenekatan saya waktu itu,” jelas Adit, sambil tersenyum.

Nama HelloMotion sengaja dipilih karena Adit ingin bisnisnya menjadi gampang diingat, simple, dan tak terkesan formal. Selain itu, nama “motion” atau gerakan, melambangkan ide kreatif yang selalu bergerak dan terus berinovasi. Sebagai seorang yang pernah terjun dalam industri bisnis multimedia, Adit merasa ilmu dan pengalaman ia dapatkan akan sangat berguna untuk dibagi. Dari sana juga, Adit mengkonsep sebuah kurikulum yang aplikatif dan siap dipakai di industri multimedia. Tidak hanya untuk bekerja di dalam perusahaan saja, banyak juga dari lulusan HelloMotion Academy yang kini membuka usahanya sendiri dibidang multimedia. Kini, HelloMotion Academy menjadi sebuah nama yang cukup disegani dan terkenal sebagai penyalur tenaga kretif untuk industri televisi dan film.

Dalam menjalani bisnisnya, Adit banyak belajar tentang bagaimana cara mengelola sebuah lembaga pendidikan agar bisa berjalan dengan professional. Hal ini menjadi tantangan baginya, karena sebagai seorang entrepreneur ia pun ingin agar bisnis yang dikelolanya bisa mendapatkan profit yang baik. Salah satu langkah yang dipakainya adalah dengan terus memperbaiki kualitas kurikulum dan manajemen usahanya.

“Selain itu saya juga tak ragu untuk minta masukan dari murid-murud saya. Saya percaya, seorang wirausahawan harus bisa mengetahui apa yang dibutuhakan pelanggan dan apa yang bisa membuat mereka nyaman,” ujar Adit.

Untuk memperkuat image HelloMotion, Adit pun mengembangkan sejumlah inovasi dan strategi, yang salah satunya adalah melalui event. Sebuah festival animasi yang diberi nama Hellofest, rutin diselenggaran tiap tahunnya. Dari delapan perhelatan yang telah digelar, animo pesertanyapun terus bertambah tiap tahunnya. pada event terakhir, jumlah peserta yang datang bahkan mencapai 9.000 peserta.

Beragam penghargaan pun telah menghiasi portofolio pria kelahiran Malang, 30 tahun silam ini. Salah satunya adalah penghargaan International Young Creative Entrepreneur of The Year 2007 untuk kategori Screen. Dengan terus berkarya, Adit berharap bahwa karyanya dan siswa-siswa didiknya bisa menembus pasar global, sehingga Indonesia bisa dikenal sebagai salah satu negara pencetak animator kelas dunia.

Untuk mengejar ambisinya, Aditpun berencana untuk melebarkan sayap dengan mendirikan beberapa cabang di sejumlah kota besar di Indonesia. Baginya, bukan hal yang mustahil, suatu saat nanti, Jakarta bisa menjadi barometer industry kreatif dunia. Untuk melebarkan bisnisnya ke depan, Adit tak menutup adanya peluang kerjasama dengan investor yang ingin bergabung. Namun, Penting baginya sebuah kesamaan visi dan misi, sebelum memulai kerjasama.

“Bagi saya kerja sama bisnis itu sama seperti menikah. Artinya, tidak segampang kita membuka pameran waralaba lalu menawarkan bisnis kita ke siapa saja yang tertarik. Saya harus mengenal betul investor saya, dan harus yakin bahwa dia memiliki visi yang sama seperti saya. Mungkin, saat ini saya belum bertemu dengan jodoh yang cocok,” jelas Adit.

Sebagai wirausahawan penggiat seni kreatif, Adit mencoba untuk menawarkan sebuah jalan lain bagi mereka yang juga jatuh cinta kepada dunia animasi. Dan dari animasi juga, Adit pun mulai merintis jalan suksesnya sebagai seorang entrepreneur. “Kita harus bekerja sesuai lentera jiwa kita. Karir itu seperti berjalan di kegelapan, jadi kita harus punya pegangan yang jelas akan hidup kita. Bagi saya, lentera yang saya miliki adalah gairah saya terhadap desain dan seni. Itulah yang menuntun saya untuk keluar dari kegelapan, dan semakin lentera kita makin diasah dan makin terang, kita akan bisa melihat banyak peluang. Itu filosofi yang saya pakai untuk karier saya,” ucap Adit dengan yakin. (*/Gentur)

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/exclusive-interview.html?start=3

Wednesday, March 14, 2012

Jeli Melihat Peluang, Jalal Sukses Rambah Pasar Eropa Lewat Eceng Gondok

PEKALONGAN (Berita SuaraMedia) - Eceng gondok dikenal sebagai tanaman pengganggu. Bagi nelayan, tumbuhan bernama latin Eichhornia crassipes itu menyulitkan mereka mencari ikan. Petani pun mengeluh. Karena eceng gondok menjadi sarang bagi tikus-tikus di sawah.

Bagi sebagian besar orang eceng gondok dianggap sebagai tanaman tak berguna dan hanya menjadi biang terjadinya banjir karena selalu mengotori sungai. Namun bagi orang yang kreatif, eceng gondok dapat diolah menjadi berbagai barang kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Kerajinan eceng gondok ini bahkan telah menembus pasar ekspor.

Eceng gondok selama ini hanya dianggap sebagai tanaman sampah yang mengotori sungai. Namun di tangan Abdul Jalal, warga Kelurahan Klego, Pekalongan, Jawa Tengah, tanaman eceng gondok dapat menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Kerajinan dari bahan dasar eceng gondok buatan Abdul Jalal antara lain berupa hiasan dinding, sandal, taplak meja, bantal kursi dan dompet. Jika sudah berbentuk barang kerajinan ini, kesan eceng gondok sebagai tanaman tak bernilai pun sirna.

Harga barang kerajinan eceng gondok berkisar antara 20 ribu hingga 200 ribu rupiah, tergantung modelnya. Jalal mulai menekuni kerajinan eceng gondok ini sekitar 5 tahun silam.

Kreativitasnya muncul berawal saat dirinya melihat hamparan tanaman eceng gondok di sebuah sungai di Pekalongan. Lalu timbul keinginannya untuk mencoba membuat kerajinan dari beberapa tanaman eceng gondok yang dipungut dari sungai. Tak disangka, kerajinan eceng gondoknya diminati orang.

Kini usahanya terus berkembang dan kerajinan eceng gondok buatannya tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, namun telah merambah ke pasar ekspor di Eropa dan Timur Tengah seperti Belgia dan Arab Saudi.

Untuk mendapatkan bahan eceng gondok, Abdul Jalal kini mengaku tak kesulitan. Pasalnya, dirinya banyak menerima pasokan dari para pencari eceng gondok dari Pekalongan dan sekitarnya.

"Awalnya saya bisa membuat kerajinan eceng gondok itu belajar dari orang, setelah itu saya belajar dan mencoba mandiri, sementara produknya sendiri saya ekspor ke luar negeri antara lain Amerika, Australia, Inggris dan terakhir Arab Saudi" tutur Abdul Jalal.

Pembuatan kerajinan eceng gondok melalui beberapa proses sederhana. Pertama, eceng gondok yang baru diambil dari sungai dijemur hingga kering. Kemudian batang eceng gondok yang telah kering dibentuk lembaran-lembaran kecil. Lembaran batang eceng gondok yang telah mengering inilah yang nantinya dianyam dan dibentuk menjadi kerajinan sesuai yang dikehendaki.

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/39552-sulap-hamparan-tanaman-pengganggu-jadi-ladang-uang.html

Modal Awal 2,5 Juta, Berkat Inovasi Ika Kini Raup Ratusan Juta Lewat Vannara dan Tanisha

Berani berinovasi untuk memenuhi keinginan pasar merupakan kunci kesuksesan bisnis Ika Sufariyanti. Lewat merek Vannara dan Tanisha, perempuan berusia 27 tahun ini sukses mengembangkan pakaian muslim dan baju hamil desain sendiri.

Kalau bingung hendak memulai bisnis apa, coba saja cari tahu apa yang Anda butuhkan. Cara yang sama pernah dilakukan Ika Sufariyanti ketika mulai menggeluti bisnis baju muslim. Saat ini, usahanya telah besar dan mendatangkan omzet lebih dari
Rp 200 juta per bulan. Baju muslim bermerek Vannara serta baju ibu hamil dan menyusui bermerek Tanisha sudah dia pasarkan melalui 50 agen di seluruh Indonesia.

Keunggulan baju muslim Vannara adalah model yang simpel dan bahannya berkualitas. Tidak seperti baju muslim lain yang kerap terlihat ramai oleh hiasan berupa mote dan manik-manik, model baju muslim Vannara tampak lebih polos, namun tetap trendi. Target pasarnya memang anak-anak kuliahan dan ibu-ibu muda.

Adapun Tanisha lebih unggul karena inovasi terhadap bukaan pada baju untuk menyusui. Maklum, di pasar, belum banyak baju hamil dan menyusui yang nyaman digunakan untuk sehari-hari.

Sejatinya, ide Ika membuat usaha baju berasal dari kesulitannya menemukan baju muslim yang nyaman. Demikian pula ketika ia hamil dan harus menyusui putra pertama. “Saya sulit menemukan desain baju yang simpel, nyaman, namun sopan,” kata istri dari Ferry Andriyanto ini. Tak disangka, banyak juga orang menemui kesulitan serupa.

Kesempatan Ika memulai usaha datang pada awal tahun 2009. Kala itu Ika yang lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini sudah memiliki pekerjaan sebagai distributor baju muslim dari sebuah pabrik. Namun, bermodal uang tabungannya sebesar Rp 2,5 juta, ia nekat memulai usahanya dengan menjual baju muslim buatannya sendiri. Ia menggunakan uang sebesar itu untuk membeli kain warna-warni dasar seperti hitam, biru, merah, dan putih.

Ika membuka kembali 50 coretan desain baju muslim miliknya selepas kuliah dulu. Setelah menemukan empat desain yang paling pas, ia mulai mencari tukang jahit dan menjahitkan pakaiannya. “Perlu waktu sebulan untuk mendapat tukang jahit yang pas dan mengerti keinginan saya,” jelas perempuan kelahiran Padang, 4 Juli 1984 ini.


Kreatif sejak kecil

Benih kejelian Ika melihat peluang sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil. Ia terkenal kreatif. Ketika SMP ia sering membuat sendiri kartu lebaran untuk dikirimkan ke teman-temannya lewat pos. Bersama ibunya, ia mengumpulkan daun-daun kering dan berkreasi membuat kartu lebaran dari kertas daur ulang. Ayahnya yang bekerja di PT Semen Padang membawakan kertas-kertas bungkus semen untuk bahan materialnya. Meski tidak dijual, Ika mengaku puas karena bisa membuat teman-temannya senang.

Kendati berasal dari keluarga berkecukupan, Ika tidak dimanja oleh kedua orangtuanya. Sejak kecil, ia terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan berusaha. Ketika menimba ilmu di bangku kuliah, ia baru tergelitik berbisnis kecil-kecilan. Lantaran sering bolak-balik ke Jakarta bersama sang ibu, Ika kerap mendapat aksesori unik dari Tanahabang. Teman-teman kuliahnya suka dan mulai memesan. “Waktu itu, saya dapat untung Rp 100.000 dan langsung dipakai jalan-jalan ke mal,” ujarnya sambil tertawa.

Ika mengaku, kesuksesannya berbisnis baju Vannara diga-wangi oleh pameran yang digelar Komunitas Tangan di Atas (TDA) pada Februari 2009. Itulah babak awal bisnis bajunya. Mewakili dirinya yang sedang hamil besar, suami Ika mengikuti pameran TDA di Jakarta. Tak disangka, empat baju contoh yang dibawakan Ika ludes terjual. Bahkan, permintaan menjadi agen Vannara berdatangan. Dari yang tadinya hanya satu agen, saat ini, Ika sudah memiliki 50 agen lepas di seluruh Indonesia.

Ika sempat kewalahan menangani pesanan. Ia meminta suaminya mengundurkan diri dari perusahaan perkapalan. Maklum, saat itu, Ika yang sedang hamil tua pernah sampai harus mengangkat dua kardus besar berisi 50 potong baju untuk dikirim ke beberapa agen. “Saya sampai menangis karena saat itu justru tak ada yang membantu,” kenangnya.

Setelah sang suami mengundurkan diri dari tempat kerjanya, Ika lebih fokus mengurusi produksi pakaian muslim dan ibu hamil. Suaminya lebih mengurus bagian pemasaran dan promosi. Dari yang semula hanya memiliki dua karyawan dan satu tukang jahit, saat ini, Ika memiliki 20 tukang jahit dan tujuh karyawan.

Untuk menguatkan distribusi, Ika membuat sistem keagenan berkala, yaitu agen silver dengan maksimal pembelian 25 potong, agen gold maksimal 50 potong, dan agen platinum dengan maksimal pesanan sebanyak 100 potong baju.

Semua model baju hamil dan melahirkan buatan Ika tersedia lewat bukaan kancing, bukaan ritsleting, dan bukaan tarik samping, sekaligus memudahkan saat menyusui bayi. Rata-rata baju Vannara dan Tanisha dibanderol seharga Rp 150.000– Rp 200.000 per potong. (Kontan.co.id)

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/39722-inovasi-buat-ibu-muda-satu-ini-raup-omzet-ratusan-juta-per-bulan.html

Bermodal Gedebok Pisang, Supartini Sukses Ekspor Kerajinan Ke Jepang dan Eropa

SURABAYA (Berita SuaraMedia) - Bersama rekan-rekannya, ibu yang enerjik ini menyulap barang tak berharga menjadi kerajinan yang indah dan sedap dipandang mata. Ada lho boneka pelepah yang begitu cantik dengan beragam bentuk. Mau lihat karyanya?

Bagi Supartini atau yang biasa disapa dengan Tien Soebandiri (61), aneka limbah kertas dan dedaunan kering bukan sampah tak berguna. Di tangan terampilnya, barang-barang tak berharga itu disulap menjadi kerajinan cantik dan menarik. Banyak ragam karya yang dibuat. Salah satu yang terlihat paling unik adalah kerajinan boneka berbahan pelepah pisang yang tingginya sekitar 25 cm ini, selain lucu juga tampak unik sekali.

Boneka dan ratusan macam kerajinan karyanya, oleh Tien ditata rapi di atas bufet di ruang tamu rumahnya yang luas di Jalan Ciliwung 15 Surabaya. Lebih menarik lagi, bentuk boneka pelepah pisang itu begitu beragam. Ada lelaki tengah menunggang gang kuda lumping, seorang ibu membatik, wanita desa mengenakan baju mirip kimono, seorang bidadari lengkap dengan sayapnya, pak tani yang meniup seruling dan masih banyak lagi.

Di tangan Supartini atau lebih dikenal dengan nama Tien Soebandiri, limbah pelepah pisang bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.

”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering rasanya sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.

Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 66 tahun ini.

Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung.

”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Order terbanyak ekspor ke Jepang dan Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien saat ditemui di rumahnya di Jalan Ciliwung, Surabaya.

Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Harga bisa menyesuaikan sesuai order dan tingkat kerumitan pembuatan baju. ”Saya tidak ready stock, hanya by order. Stok yang ada ini hanya untuk contoh. Tiap bulan tak selalu ada order karena kerajinan saya tak hanya boneka, tapi ada bunga kering dan kerajinan lainnya. Kalau order boneka sepi, omzet di-cover dari kerajinan yang lain,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya ini.

Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Yogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.

”Kalau pas musim kemarau, saya beli gedebok banyak untuk stok saat musim hujan karena susah dapat gedebok bagus, rata-rata gampang busuk dan rusak,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 14 Maret ini.

Sekali mengirim gedebok kering sampai 10 kg dengan harga Rp 175.000–Rp 200.000. Ia sengaja tidak memesan gedebok basah karena proses pengeringannya harus secara manual dan itu memakan waktu lama. ”Tak semua gedebok kering itu bisa dipakai, saya pilih serat yang bagus, yang cacat dibuang. Jadi 10 kg gedebok kering bisa menghasilkan 50 boneka kalau ukurannya besar, tapi untuk boneka ukuran kecil bisa 100 boneka. Itu jatah sebulan,” kata Tien yang melibatkan puluhan ibu-ibu perajin untuk pembuatannya.

Proses pembuatan boneka pelepah pisang tidak terlalu rumit. Gedebok kering direndam 60 menit dengan cairan H2O2 (hidrogen peroksida). Harga cairan ini Rp 350.000 per galon. Jangan terlalu lama direndam karena bisa getas. Angkat, lalu cuci bersih, diangin-angin sebentar, jangan dijemur di bawah terik matahari. Masuk proses pewarnaan dengan sitrun selama 20 menit. Angkat, lalu keringkan secara manual. Setelah itu baru disetrika, lalu digunting sesuai kebutuhan.

”Dari unsur kepompong kering dan daun kering, seperti daun sirsak, saya buat untuk aksesori boneka berupa bros cantik. Proses pengeringannya hampir sama, cuma harus lebih telaten karena gampang rusak,” kata wanita yang tiap bulannya bisa meraup omzet Rp 5 juta dari usaha ini.

LEMBUT DAN CERAH
Lebih lanjut Tien mengungkapkan, sebenarnya membuat boneka pelepah pisang prosesnya sederhana saja. Namun, dalam pengerjaannya dibutuhkan keterampilan untuk menghasilkan boneka yang bagus. Yang jelas harus telaten. Kalau tidak, hasilnya kelihatan kasar," imbuh istri Prof. Dr. Soebandiri, SpPD, KHOM tersebut.

Langkah awal membuat boneka ini, tutur Tien, adalah membuat kerangka yang terbuat dari kawat. Setelah dibentuk sesuai dengan keinginan, kerangka dibalut dengan kertas koran dan dilem. "Selanjutnya barulah dilapisi dengan pelepah pisang yang sudah diproses," kata Tien.

Bagaimana cara memproses pelepah pisang agar hasilnya bagus? Prosesnya juga tidak sulit. Agar lebih bersih, pelepah pisang direndam beberapa saat dengan bahan kimia H2o2 atau peroxid. "Tak boleh merendam terlalu lama, nanti malah merusak pelepah itu. Usai direndam, dijemur sampai kering. Hasilnya, selain pelepah jadi lembut, warnanya juga tampak lebih cerah. Teksturnya pun begitu indah.

Menurut ibu empat anak ini, ide membuat kerajinan berbahan pelepah pisang, sebenarnya hanya sekadar coba-coba. Sebelumnya, ia membuat boneka dari kulit jagung yang sudah dikeringkan. Ide ini disampaikan kepada Nanik, salah seorang mantan murid yang kini jadi rekan kerjanya.

"Ketika sama-sama kami praktikkan, hasilnya ternyata memang bagus. Sejak itu, kami mengembangkan kerajinan ini," papar Tien yang menjalankan aktivitasnya karena hobi. "Berdagang bukan tujuan saya satu-satunya. Tapi, kalau ada pameran, kami selalu tampil."

Ternyata, karya-karya Tien begitu diminati masyarakat. Lewat informasi dari mulut ke mulut, banyak pembeli datang ke rumahnya. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Mereka tertarik dengan boneka yang bentuknya beragam itu.

"Yang disukai turis asing justru boneka bentuk tradisional, misalnya boneka pak tani. Boneka yang bentuknya kebarat-baratan, mereka malah tak seberapa suka," ujar Tien yang karyanya sudah merambah berbagai negara. "Ekspornya tidak besar-besaran kok. Saya mengirim ke Spanyol maupun Brunei dalam jumlah terbatas," lanjutnya merendah. (fn/km/tn)

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/40062-omzet-menggoda-dari-ekspor-boneka-limbah-hingga-jepang-a-eropa.html

Dari Limbah Cangkang Kerang, Mulyadi Hasilkan Kerajinan Yang Diekspor Ke Eropa dan AS

Apa itu Kerang?

Bahasa latin kerang : molusca, yakni hewan air bertubuh lunak. Pengertian umumnya adalah semua moluska lengkap dengan sepasang cangkangnya. Orang Amerika menyebutnya dengan clam. Hidupnya menempel pada satu obyek sebagai media.

Semua kerang-kerangan yang dipakai pada home industry adalah cangkangnya. Contohnya lokan dan remis, jenis kerang-kerangan yang biasa terdampar di pantai Bbukan yang dibudidayakan untuk konsumsi pangan seperti kerang darah dan kerang hijau.

Cangkang kerang bisa menjadi pemanis yang menarik jika digabungkan dengan furnitur. Inilah yang dilakukan oleh Mulyadi yang menyulap limbah cangkang kerang yang tak berharga untuk menaikkan penjualan furniturnya. Tak hanya laku di dalam negeri, furnitur kerangnya juga digemari pasar luar negeri.

Limbah kerang menjadi sesuatu yang berharga jika dimanfaatkan dengan baik. Seperti yang dilakukan Mulyadi dengan menyulap limbah cangkang kerang menjadi bahan baku furnitur. Mulyadi mengatakan, ide memanfaatkan cangkang berawal di tahun 2005. "Awalnya tak sengaja," katanya.

Ia bercerita, saat berkendara melewati ruas jalan di kota Jepara, Jawa Tengah, ia melihat banyak sekali tumpukan cangkang kerang yang dibuang begitu saja oleh warga setempat. Mulyadi yang saat itu berprofesi sebagai perajin furnitur kemudian berfikir untuk menjadikan limbah kerang sebagai pemanis dalam produk furniturnya. Ia lalu mencoba membuat tutup lampu kotak dari limbah cangkang kerang tersebut. Setelah jadi, tutup lampu itu dititipkan ke satu perusahaan furnitur di Jepara.

Tak dinyana, setelah sebulan, Mulyadi dihubungi dengan order 700 tutup lampu kerang. Dari situlah Mulyadi kemudian mengembangkan desain-desain baru dari cangkang kerang. Ia mengombinasikan cangkang kerang di kerangka furnitur seperti meja. Pekerjaan sebagai pembuat furnitur dan tukang kayu membuat dirinya memiliki kebebasan dalam berkreasi.

Ia memutuskan untuk menekuni pembuatan furnitur dengan cangkang kerang sebagai aksesori. Meningkatnya kebutuhan cangkang kerang, membuatnya harus mendatangkan limbah kerang dari Jepara, Surabaya, Madura, dan Lampung. Dalam satu bulan ia membutuhkan sekitar 3 ton cangkang kerang untuk workshop miliknya, Antika Lightnings di Jepara.

Ia membeli cangkang-cangkang kerang tersebut dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 60.000 per kilogram. Harga cangkang kerang tergantung dari jenis kerang. Setelah kerang datang, ia lalu
mencucinya sampai bersih. Kemudian kerang-kerang itu dipisahkan sesuai ukuran dan bentuk. "Dipisah besar dan kecil, bulat dan kotak," katanya.

Cangkang kerang yang akan dipakai, tidak langsung ditempel. Mulyadi harus memotong dengan gergaji sesuai bentuk yang diinginkan. Setelah itu, cangkang dilapisi powder coating agar terlihat mengkilap dan bertekstur keras. Setelah kering, kerang-kerang itu kemudian direkatkan di kaki dan badan meja. Selain meja, kerang juga dipasang di kursi, lemari, dan cermin, termasuk dibuat tutup lampu. "Banyak konsumen yang bilang kalau furnitur tambah manis dengan tambahan kerang," ujar Mulyadi.

Tak hanya sebagai pemanis, kerang pun bisa dijadikan bahan utama furnitur. Hanya, tetap dibutuhkan kayu atau triplek sebagai penyangga agar furnitur berdiri kuat. Mulyadi menggunakan kayu jati, mahoni, dan mangga untuk furniturnya. Kayu-kayu tersebut didatangkan dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Menurutnya, masyarakat menyukai furnitur yang terkesan simpel. Jika porsi kerang yang ditempel lebih besar dibandingkan dengan kayu, tidak banyak yang memesan karena kesannya terlalu mewah.
Saat ini, Mulyadi bersama 30 pegawai Antika Lightnings mampu memenuhi pesanan pembuatan furnitur ruang tamu, ruang makan, dan kamar tidur. "Semuanya dengan aksesori kerang," katanya. Mulyadi bahkan meluncurkan rancangan baru berupa sofa, coffee table, lemari dapur, dan lemari teve.

Sebuah furnitur kerang dibanderol dengan harga Rp 500.000 - Rp 2 juta. Jika pelanggan membeli satu set furnitur ruang tamu, maka harganya mulai Rp 15 juta. Dengan satu set itu, pembeli mendapatkan sofa, meja, lemari TV, tutup atau kap lampu sampai cermin.

Kesan antik dan menarik dari kerang, membuat pesanan furnitur yang diterima Mulyadi melonjak. "Kadang ada pemesan yang minta dibuatkan 50 biji. Ada pesanan yang harganya Rp 5 juta, ada Rp 50 juta, juga ada Rp 300 juta," tuturnya. Dalam sebulan Mulyani mampu mengirim tiga kontainer furnitur kerang. Satu kontainer memuat 400 kap lampu.

Selain dari dalam negeri seperti Jakarta dan Bali, pembelian juga datang dari luar negeri seperti Spanyol, Amerika Serikat, Inggris dan Australia. "Pesanan dalam dan luar negeri seimbang, 50-50," katanya. Melonjaknya jumlah pesanan ini juga yang membuat Mulyadi membuka cabang Antika Lightnings di Cirebon, Jawa Barat.

Berbagai promosi dilakukan Mulyadi, salah satunya dengan mengikuti pameran furnitur, International Furniture & Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2011 di Jakarta International Expo, Kemayoran. Ia mengatakan, peluang bisnis furnitur kerang sangat menjanjikan apalagi bisnis ini belum banyak dilirik orang. "Limbahnya murah, omzetnya besar," katanya optimis. Untuk meningkatkan penjualan, rencananya Mulyadi juga bakal menawarkan produknya ke hotel.

Selain Mulyadi, Anda pernah ke pertokoan souvenir di jalan Cilinaya-Lombok? Lorong pertokoan Malioboro di Yogyakarta, serta souvenir corner di Bali. Maka mungkin pernah menemui benda souvenir hasil pernak pernik kerajinan tangan yang unik terbuat dari kulit kerang.

Kerang Bahan Kerajinan Tangan Yang Unik

Bagian kerang yang digunakan sebagai bahan kerajinan tangan yang unik adalah cangkangnya. Yaitu cangkang kerang betina dewasa yang memiliki tekstur unik untuk dibentuk berbagai pola. Pola-pola tersebut disusun menjadikerajinan tangan yang unik.

Jenis kerang yang biasa digunakan adalah kerang simping. Sebelumnya cangkangnya dibersihkan, kemudian dicuci dengan pembilasan dan ditambahkan bubuk natrium soda untuk menghilangkan bau amisnya. Setelah itu dijemur dengan sinar matahari yang teduh agar tidak terpapar panas secara langsung. Tujuannya agar cangkang simping tidak retak-retak atau hancur.

Proses Produksi

Proses produksinya berikut ini: Poses pemilahan, pencucian, pengeringan, persiapan dan pembuatan

  • Proses Pemilahan


Mengandalkan ketelitian untuk memilih cangkang kerang betina dewasa yang telah mati. Cangkang betina dewasa menjadi pilihan karena lebar, tebal dan kokoh. Tidak serapuh cangkangjantan.

  • Proses Pencucian


Dilakukan bertahap. Pertama  pencucian cangkang di bawah air mengalir atau wadah berisi air. Berguna untuk menghilangkan lumpur atautanah yang melekat. Kemudian dilakukan pembilasan menggunakan bubuk natrium soda berfungsi untuk menghilangkan amis.

  • Proses Pengeringan


Setelah pencucian selesai, cangkang-cangkang tersebut dijemur dengan menggunakan screen. Agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Dijemur pada ruang terbuka agar kandungan air yang tersimpan cepat menguap..

  • Proses Persiapan


Proses persiapan mencakup segala hal produksi, seperti mendisain pola-pola yang akan dibentuk. Contohnya pola kelopak bunga, pola daun,kura-kura , sandal jepit, dan dolpin. Dengan memotong sesuai bentuk yang diinginkan, mengikir halus tepinya, dan kadang perlu mengamplas. Juga menyiapkan wadah atau media dasar seperti pada vas bunga, tempat tissue, jam dinding, dan sebagainya.

  • Proses Pembuatan


Setelah semua siap, Anda mulai membentuk sesuai pola dan model yang diinginkan. Biasanya sesuai gambar ataupun desain pada komputer. Anda tinggal ikuti contohnya. Kadang hanya perlu menggabungan berbagai bentuk pola kelopak bunga, Menyusun bentuk-bentuk karang atau keong kecil pada sebuah botol mungil. Semua hasil tergantung kreatifitas Anda.

Berbagai Hasil Kerajinan Tangan Yang Unik

Hasilnya adalah bermacam kerajinan tangan yang unik. Unik dan klasik. Artinya tidak lekang terhadap jaman. Karena kerajinan tangan yang unik sepertikulit kerang ini, tidak mengacu suatu periode atau kalangan tertentu saja.

Disukai semua orang dari kalangan biasa hingga kaum elit. Semua menyenangi kerajinan ini. Anda dapat mengintip beberapa hasilnya :

  • Cangkang dibuat pelapis tempat sabun, tempat tissue, vas bunga, kap lampu, kotak perhiasan, hiasan kaligrafi, gantungan kunci bingkai foto.

  • Keong-keong kecil dibuat : tirai pintu/jendela, bunga kering minimalis. Replika dinosaurus, anjing pudel, bunga dalam pigura, tupai, angsa, dan replika orang-orangan.

  • Campuran keong, lokan dan remis berukuran sedang, membentuk : hiasan dinding pada ruang makan/keluarga. Pembentuk miniatur kapal. Sebagai pengisi jam dinding, atau sebagaihiasan dinding minimalis.

  • Lokan dewasa menjadi : hiasan pengganjal pintu. Kadang-kadang menjadi asbak rokok, atau pen holder.


Kelompok Pengrajin

Nelayan adalah promotor kelompok pengrajin kerang yang unik ini. Contohnya nelayan Sidoarjo yang membentuk kelompok mandiri sebagai pengrajin kerang. Penggerak kelompok nelayan ini kemudian mengikuti pameranhandycraft untuk mempromosikan hingga dikenal oleh masyarakat.

Di Brebes, para nelayan menyuplai hasil kerajinan tangan ini di koperasi-koperasi. Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Daerah.

Harga dan Pangsa Pasar

Harganya bervariasi, dari Rp 500,- hingga jutaan. Tergantung waktu pembuatan dan tingkat kesulitannya. Contohnya replika perahu yang disusun dari ratusan lempeng kulit kerang selama sebulan. Seharga lima jutaan.

Gantungan kunci bila Anda membeli lusinan/kodian bisa lebih murah. Kemudian kap lampu dihargai lebih mahal lagi, karena memerlukan seribuan lempeng cangkang divariasikan dengan keong kecil. Ditempelkan satu persatu hingga rapi. Harganya mencapai sepuluh jutaan.

Meski harganya melambung setelah dipasarkan, namun pangsa pasarnya jelas.

Jika berminat untuk menjadi distributor kerajinan tangan yang unik dari kerang, Anda bisa menghubungi kelompok-kelompok nelayan pengusaha di Medan, Koperasi KelompokNelayan Gresik Greges Barat, UD Art Shop Mutiara, serta Faiz Shell and Handycraft di Lombok. (fn/kn/aa)

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/40469-menggiurkan-kerajinan-cangkang-kerang-jadikan-mulyadi-jutawan.html

Riyanto, Berkat Inovasi Serabi Kraton Aneka Rasa, Kini Punya Puluhan Gerai

Kue serabi menjadi makanan lokal yang banyak digemari masyarakat. Kue khas masyarakat Jawa yang dibuat dari tepung beras ini memiliki rasa gurih manis dan sudah merambah beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta. Peluang bisnis ini tentu tidak disia-siakan oleh Riyanto.

Riyanto mendirikan usaha kue serabi dengan merek Serabi Keraton. Dengan usaha Serabi Keraton, dia berharap mampu mempopulerkan serabi ke seluruh Indonesia. "Meski banyak makanan dari luar negeri namun serabi tetap menjadi makanan camilan yang populer," kata Riyanto.

Selain memiliki rasa khas, kue serabi juga bisa menjadi pelepas rindu pada kampung halaman. Alasan Riyanto ini bisa jadi masuk akal, sebab kue serabi memang kental dengan budaya Jawa. "Serabi bisa menjadi pengobat rindu kampung," katanya.

Agar pasar semakin membesar, Riyanto memberikan sentuhan modern pada kue serabi buatannya. Ia membuat rasa Serabi Kraton dengan campuran seperti keju, coklat, stroberi hingga pisang. Sampai saat ini, sudah ada 13 rasa serabi hasil karya Riyanto.

Walau memberikan sentuhan rasa yang beraneka macam, ia tetap mempertahankan bentuk kue serabi termasuk cara pembuatannya. Riyanto berusaha mempertahankan aroma khas serabi yang dibakar di atas tungku, termasuk rasa khas serabi yang manis di tengah namun agak pahit di pinggir-pinggir badan serabi. Makanya, dia tetap mempertahankan bentuk dan cara pembuatan serabi yang ala tradisional.


Mendekati Pasar, Serabi Pun Kini Difranchiseskan

Punya 150 mitra
Inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Riyanto berbuah manis. Setelah setahun mendirikan usaha Serabi Keraton, ia menjajal peruntungan baru. Dia menawarkan usahanya kepada mitra dengan sistem waralaba. Sejak ditawarkan pada tahun 2008 sampai saat ini Serabi Keraton telah mempunyai 150 mitra. Mitra-mitra tersebut tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

“Kami berpikir, serabi ini adalah makanan semua orang. Tidak peduli suku, ras, dan agamanya apa. Juga usia, tua, muda, anak-anak pun suka. Serabi bisa  dimakan dimana saja, di rumah, kantor, acara resmi maupun keluarga, sebagai suguhan serabi tetap bisa menjadi camilan favorit. Artinya, pangsa pasar jajanan ini sangat luas dan tak terbatas. Apalagi dipastikan halal. Dan yang jelas, tidak mengenal musim. Cocok dimakan kapan saja dan di mana saja,” jelas Among Kurnia Ebo, Riyanto Coriel, dan Usman Widodo, trio pemilik waralaba Serabi Kraton.

Sebagai makanan rakyat, sudah selayaknya Serabi juga dekat dan mendekati rakyat. Lebih gampang didapatkan dimana-mana. Itu yang mendasari kenapa serabi ini kemudian dikonsep dalam bentuk waralaba. Cara jualannya dengan gerai-gerai mungil ukuran 150 cm x 60cm yang bisa ditempatkan secara fleksibel di tempat-tempat yang ramai pengunjung dengan kosntruksi  gerai knock down.

“Kami sudah sukses dengan 9 gerai di Yogya. Karenanya ingin kami kembangkan ke kota-kota lain dengan mengajak masyarakat yang mau bergabung untuk mengembangkan Serabi Kraton di berbagai kota.

Kelebihan Serabi Kraton adalah mempunyai 13 varian rasa. Ada rasa original, keju, coklat, pisang, nangka, abon, pandan, nano-nano, tape ketan dan sebagainya. Dengan banyaknya varian itu serabi Kraton memungkinkan untuk memanjakan lidah konsumen semaksimal mungkin. harganya juga terjangkau semua lapisan masyarakat, karena hanya Rp 1.000 – 1.500 per biji sehingga anak-anak pun bisa membelinya,” jelas Among.

Riyanto mengklaim, tingginya minat masyarakat akan Serabi Keraton karena biaya investasi murah namun memberikan imbal hasil lumayan. "Kami telah mengelola manajemen Serabi Keraton secara profesional," tutur dia berpromosi. Lantaran banyak peminatnya, Riyanto kemudian menaikkan biaya investasi Serabi Keraton, dari Rp 7 juta menjadi Rp 20 juta.

Riyanto mengklaim bahwa kenaikan biaya investasi itu sekadar mengimbangi penambahan fasilitas. Sebab, jika dulu dengan Rp 7 juta hanya mendapatkan satu outlet, sekarang dengan Rp 20 juta langsung mendapatkan tiga outlet sekaligus. "Saya sesuaikan, sebab kebanyakan calon mitra memang langsung memesan tiga outlet," katanya.

Dengan nilai investasi itu, mitra Serabi Keraton mampu mengantongi omzet sebesar Rp 300.000 - Rp 1 juta per outlet. Tanpa ada beban royalty fee, mitra hanya perlu membeli bahan baku serabi dari pusat seperlunya.

Salah satu mitra Serabi Keraton adalah Agus Isyanto di Sragen, Jawa Tengah. Agus mengaku tiap hari mampu mengantongi omzet hingga Rp 300.000 dari menjual 1.000 serabi seharga Rp 1.000 per satuan. "Pembelinya justru banyak datang dari kalangan muda," katanya. Karena itu, Agus berniat menambah outlet Serabi Keraton.

Yang menarik adalah masa BEP (Break Event Point) dari usaha gerai Serabi Kraton ini terhitung sangat singkat. Paling cepat 3 bulan, paling lama 6 bulan. Perhitungannya diambil dari omset gerai setengah hari rata-rata 2,5 kg menghasilkan omset 250 ribu, sehingga satu bulan mencapai Rp 7.5 juta, dari omset tersebut, keuntungan bersihnya mencapai 1,8 juta. Sehingga dalam rata-rata empat bulan saja, modal sudah kembali utuh.

Artinya, sebagai sebuah jenis usaha atau bisnis, Serabi Kraton sudah punya merek terdaftar di Dephukham RI,  sehingga selain dapat dijalankan dengan nyaman dan aman karena secara payung hukumnya kuat, ini juga merupakan ladang bisnis yang cukup prospektif serta aman. Modalnya tidak terlalu besar, apalikasinya mudah, mendapatkan training dan supervise rutin dari pemilik waralaba, bisnisnya tidak mengenal musim, sementara keuntungannya cukup menggiurkan.

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang Serabi Kraton dan prospeknya sebagai sebuah usaha bisnis, tidak perlu bingung mendapatkannya. Mereka pun sudah mempunyai website sendiri. Anda bisa buka diwww.serabikraton.com . Bisa juga datang langsung ke dapur produksinya di Jl Waringin 6 Geplakan, Banyuraden, Gamping,  Sleman, Jogjakarta. atau telepon saja ke hotlinenya (0274) 7167070 dan 0819 0424 0282

“Lewat Serabi Kraton ini, kami juga ingin berperan dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat bawah lewat bisnis kuliner tradisional yang keberadaannya juga harus kita lestarikan. Jadi, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampau. Ya bisnisnya, ya misi sosialnya, ya melestarikan tradisinya. Apalagi modal awalnya sangat terjangkau. target kami, nantinya di semua kota di Indonesia akan ada gerai Serabi Kraton. Sekarang sudah ada di 16 kota. Oke bukan?,”  tandas Among Kurnia Ebo.(fn/knt/kw)

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/40872-bisnis-serabi-makanan-rakyat-dengan-omzet-jutaan-menggeliat.html

Kakak Beradik yang Sukses Berbisnis Ikan Hias dengan Omset Puluhan Juta

Bisnis penjualan ikan hias ternyata tidak dapat dipandang sebelah mata. Pasalnya, bisnis tersebut memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Beni (25) dan Mardiah (55) untuk terus eksis menggeluti bisnis tersebut. Beni dan Mardiah adalah penjual ikan hias di kawasan kios penjualan ikan hias yang berada di Kompleks Perikanan Balai Budi Daya Perikanan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta, yang berlokasi di Jalan Mohammad Kahfi I, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Di kawasan tersebut terdapat 11 kios penjual ikan hias. Berbagai jenis ikan hias dari harga termurah hingga harga termahal pun dapat ditemui di sana. Misalnya ikan hias jenis maskoki, manvis, komet, neo tetra, cupang, aligator, yuppy, kura-kura, hingga ikan hias jenis arwana. Selain itu, kawasan tersebut juga turut menjual berbagai macam obat-obatan, makanan, dan aksesori untuk ikan hias, seperti blitz-icht, obat untuk penyakit jamur bagi ikan, cacing beku, pelet, akuarium, dan batu karang.

Sebelum dirinya menekuni bisnis penjualan ikan hias, Beni mengaku sempat beternak lobster air tawar, tetapi dikarenakan harga lobster yang semakin lama semakin murah, Beni pun akhirnya memutuskan beralih ke bisnis penjualan ikan hias di kawasan penjualan ikan hias di Kompleks Perikanan Ciganjur pada tahun 2006.

Sedangkan Mardiah mengaku berjualan ikan hias sejak tahun 2003 semenjak sang suami, Didi, pensiun dari pekerjaannya. Saat itu kawasan penjualan ikan hias di Kompleks Perikanan Ciganjur baru didirikan. "Saya jualan ikan hias dari semenjak suami saya pensiun, dari tahun 2003. Dari pas tempat ini pertama kali dibuka," kata ibu tiga orang anak ini saat berbincang di kios ikan hias yang dimilikinya.

Saat pertama kali menggeluti bisnis tersebut, Beni, yang merupakan sarjana lulusan tahun 2009 Jurusan Ilmu Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor, itu mengaku mengeluarkan modal awal sebesar Rp 23 juta. Sedangkan ibu Mardiah mengaku mengeluarkan modal awal sebesar Rp 20 juta. Namun, dalam jangka waktu satu tahun berjualan, modal awal yang dikeluarkan kedua orang tersebut, diakui mereka berdua, sudah dapat kembali.

"Salah satu alasan saya jualan ikan hias karena prospek penjualan ikan hias ke depan bagus, dilihat dari jumlah pendapatannya yang lumayan bagus dan pertama kali buka tahun 2006 modal awalnya Rp 23 juta, tapi dalam waktu setahun modal sudah balik," kata Beni.

Dari hasil berjualan ikan hias tersebut, Beni mengaku dapat memperoleh keuntungan bersih per bulan sekitar Rp 5 juta. Sementara Mardiah mengaku dalam satu bulan dapat memperoleh pendapatan kotor sebesar Rp 9 sampai Rp 10 juta. Namun, keduanya mengaku, keuntungan tersebut tidak secara langsung didapatkannya dalam waktu yang singkat. Keuntungan tersebut baru didapatkannya setelah mereka berdua berjualan selama hampir dua hingga tiga tahun.

"Dulu pertama kali dagang (ikan hias) sehari saya cuma dapat Rp 30.000 dan itu kotor (bukan keuntungan bersih), dan sebulan paling dapat untung Rp 300.000, malahan kadang cuma balik modal saja, baru sekitar dua tahun jualan pendapatan meningkat menjadi Rp 3 sampai Rp 5 juta-an per bulan," ujar Beni.

Salah satu faktor yang memengaruhi jumlah pendapatan kedua orang tersebut adalah jumlah pengunjung yang datang ke kawasan penjualan ikan hias tersebut. Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung yang datang ke kawasan tersebut hanya sekitar 100-an, pendapatan kotor yang didapatkan kedua orang tersebut pun hanya sekitar Rp 500.000 per hari.

Namun pada akhir pekan, Sabtu, Minggu, dan pada hari-hari libur nasional dan libur anak sekolah, jumlah pengunjung ke kawasan tersebut meningkat drastis, bisa mencapai 1.000 orang per harinya. Omset yang didapatkan Beni dan Mardiah pun bertambah beberapa kali lipat dibanding pendapatan di hari-hari biasa. Bahkan, Beni mengaku sempat mendapatkan Rp 20 juta dalam satu hari (pendapatan kotor). "Saya sempat mendapatkan Rp 20 juta dalam sehari. Waktu itu hari libur nasional," kata Beni.

Meski begitu, keduanya mengaku, krisis ekonomi global yang memengaruhi kondisi perekonomian dunia internasional termasuk Indonesia cukup membawa pengaruh yang besar bagi pendapatannya. Pasalnya, sejak tiga bulan terakhir, April hingga Juni, pendapatan yang diperolehnya cenderung menyusut, bahkan bisa mencapai 50 persen, atau sekitar Rp 2 juta. Hal itu dikarenakan menyusutnya jumlah pembeli yang datang ke kiosnya. "Tapi bulan Juli ini sudah mulai membaik. Hari hari biasa dapat Rp 300 sampai Rp 400.000. Hari Sabtu dan Minggu dapat Rp 3 juta-an. Kalau sebelum krisis, hari biasa dapat Rp 500.000 dan Sabtu, Minggu Rp 5 sampai Rp 10 juta," ujar Beni.

Ke depan, Beni dan Mardiah mengaku akan terus menggeluti bisnis yang ditekuni tersebut. Sebab, selain mendapatkan untung yang relatif besar, kesulitan yang dialami mereka berdua dalam berjualan ikan hias dinilai keduanya tidak terlalu besar. Selain itu, mereka berdua juga merasa optimistis profesi yang dijalaninya tersebut memiliki prospek yang cerah. "Terus jualan ikan hias dong. Soalnya prospek ke depannya lumayan bagus, soalnya sekarang orang makin banyak yang suka sama ikan hias. Kalau masalah susah (kesulitan dalam bisnis ikan hias) semua usaha juga ada susahnya, tapi ketutup sama rasa senang karena kan kita juga hobi pelihara ikan hias. Yah jualan mah enak-enak ajalah," ujar Mardiah.

Sementara itu, dengan modal semangat, dua kakak-beradik Dadang Hamdan Ghofur dan Budi Nurjaman sukses mengembangkan bisnis ikan hias di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kecamatan Ciparay selama ini dikenal sebagai sentra produksi ikan konsumsi di Kabupaten Bandung, bahkan di Jawa Barat. Namun, karena menjamurnya kelompok petani ikan konsumsi, usaha itu mengalami kejenuhan dan stagnasi.

Di tengah situasi tersebut, Dadang dan Budi tampil dengan ide dan terobosan. Kakak-beradik ini memutuskan untuk mengembangkan usaha ikan hias. Mereka berdua memulai usaha pada 2005. Beberapa ikan hias yang mereka budidayakan antara lain ikan koi dan koki. Dadang bersama adiknya mulai menjalani usaha ikan hias ini sejak 2005 dengan nama Alvira Family. Usaha yang baru berjalan lima tahun tersebut makin menunjukkan eksistensinya ketika bantuan usaha dari Bank Mandiri mereka dapatkan. Pada 2009, Dadang mengajukan kredit ke bank untuk tambahan modal demi membuat semacam showroom di tempat usahanya. ”Showroom diperlukan agar lebih menarik minat pembeli langsung yang datang ke tempat kami,” kata Dadang.

Mereka bercerita, usaha yang mereka geluti awalnya merupakan bisnis keluarga. ”Keluarga kami juga mulanya peternak ikan konsumsi. Kemudian ketika hendak beralih ke ternak ikan hias, kami pun patungan modal, termasuk modal dari orangtua,” terang Dadang.

Hingga akhirnya mereka bisa membeli lahan berupa kolam sekaligus membeli bibit ikan hias yang sekarang menjadi tempat usahanya di Jalan Raya Pacet No 219, Desa Sagaracipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Berbagai benih ikan hias seperti koi dan koki, manfish, botia lantas ditebar ke dalam beberapa petak kolam di atas lahan satu hektare.

Namun kakak-beradik ini mengaku lebih fokus pada ikan koi, koki, dan komet karena lebih cocok untuk daerah tropis. Dari tahun ke tahun, usaha mereka terus berkembang. Dari yang semula hanya membuka toko ikan hias di Pasar Ciparay hingga akhirnya mereka berinisiatif untuk membudidayakan berbagai jenis ikan hias. ”Dalam tahun pertama hingga tahun ketiga kami menjalankan usaha, memang masih banyak kendala mengembangkan ikan hias. Misalnya dari kualitas ikan yang masih kurang diakui di pasaran. Tapi dari situ kami terus memperbaiki kualitas hingga pasar pun lebih banyak yang menerima produk ikan kami,” tutur Dadang.

Usaha mereka kini dalam sebulan menghasilkan 20.000 ekor ikan koi. Namun biasanya terjual hanya 10.000 ekor, yang tergolong kelas 1, 2, dan 3. Omzet usaha ini dalam sebulan bisa mencapai puluhan juta rupiah. ”Kalau semua digabung, omzetnya memang mencapai puluhan juta rupiah. Rata-rata sebulan bisa menghasilkan Rp80 juta, bahkan lebih,” ucapnya.

Dadang mengaku memasarkan ikan hias tersebut secara rutin ke kawasan Jalan Karapitan dan Terusan Pasirkoja, Kota Bandung. Ada juga pembeli dari Kabupaten Sumedang dan Garut yang langsung mengambilnya di Ciparay. Bahkan usahanya ini sudah dikenal ke pemasar ikan hias di daerah lain seperti Sukabumi, Blitar, dan Tulung Agung.

Sementara itu sang adik Budi mengaku dirinya agak pesimistis pada awal merintis usaha ikan hias ini. Namun setelah berkonsultasi dengan para pelaku usaha ikan hias lainnya, Budi merasa yakin bahwa usaha ini memiliki prospek yang baik. Usaha ini akan terus berkembang mengingat masih terbatasnya jumlah peternak ikan hias. Disinggung soal kendala menjalankan usaha ini, Budi mengisahkan dirinya sempat beberapa kali merugi dan tertipu orang lain yang menjadi rekan bisnis. Karena itu, dia kini harus pandai-pandai memilih rekan bisnis. ”Makanya saya lebih banyak melibatkan anggota keluarga saja,” ucapnya.

Kerugian paling parah, tutur Budi, jika ikan terkena penyakit koi harvest virus (KHV). Seekor saja ikan terkena KHV, lebih dari 80% ikan lain pasti terjangkit pula. ”Kalau sudah begitu, kami harus menyelamatkan induk ikan agar jangan sampai terjangkit virus,” kata ayah dari dua anak ini.

Proses pengembangbiakan ikan koi bisa berlangsung tiga sampai enam bulan hingga menghasilkan produk yang siap jual. Setelah induk bertelur, lantas telurnya dipindahkan ke kolam khusus hingga 15 hari kemudian menetas dan jadi bibit. Dari kolam pembibitan dialihkan lagi ke kolam pengembangan hingga cukup dewasa.

Harga satu ekor ikan hias bervariasi, tergantung kualitasnya yang biasa terbagi menjadi kelas 1,2,dan 3. Kualitas ini dilihat dari pola warna serta pola dasar antara lain bentuk, berat, dan panjang badan. ”Yang paling mahal itu ikan dengan kualitas hampir sama kualitas ikan impor. Misalnya harga ikan koi dengan panjang 30 cm itu minimal bisa mencapai Rp100.000 per ekor,” terangnya.

Ke depan, Budi ingin memasarkan ikannya melalui internet. Dia juga ingin ikut kontes atau pameran. "Kami juga masih membutuhkan ekspose ke luar agar usaha kami lebih banyak dikenal orang. Dengan demikian, pasar kami pun bisa berkembang,” ujarnya.

Tak jauh beda dengan sekelumit kisah pengusaha ikan hias di atas, menjalani bisnis ikan hias selama 6 bulan diakui oleh Denny distributor ikan hias yang bertempat di jalan Argapura-Hamadi, sangat menguntungkan apalagi sekarang di Jayapura penjual ikan hias masih minim. Saat didatangi di tempat penjualannya, Denny mengaku keuntungan perbulan dari hasil menjual ikan hias adalah Rp.30 juta. “Bisnis ikan hias sangat menguntungkan dalam satu bulan keuntungan bersih saya saja rata-rata Rp.30 juta,” kata Denny.

Dikatakannya, modal awal untuk memulai bisnis ikan hias, dia mengumpulkan dana sebesar Rp.45 juta dan setelah dua bulan beroperasi dia sudah bisa mendapatkan modal awalnya kembali. “Modal awal saya Rp.45 juta tapi setelah dua bulan berikutnya saya sudah mendapatkan modal saya kembali, yang pasti bisnis ikan ini tidak akan rugi, kita selalu untung menjual ikan hias,” kata dia.

Menjadi penjual ikan hias tidaklah sulit yang pasti untuk menjalani bisnis ini dibutuhkan orang yang sabar dan yang terpenting adalah orang tersebut hoby dan menyukai ikan hias. Menurutnya ikan hias yang paling laris dan diburu oleh masyarakat adalah ikan mas koki karena selain murah dan bentuknya unik ini ikan ini sangat cocok untuk pemula yang ingin memelihara ikan. (fn/km/cp/pp)

sumber: http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/25708-kakak-beradik-lancar-berbisnis-ikan-hias-bermodal-semangat.html